Anda di halaman 1dari 29

Case Report Session

Asma Bronkial
Amelia Fitria Dewi Dilla Putri Ellyssa Nadia Zulfadhila 05120026 05923031 05923038 Preceptor : dr. H. Sadeli Martinus, Sp.Pd

BAB I TINJAUAN PUSTAKA
Menurut GINA (Global Initiative of Asthma) asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran respiratorik dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil dan sel limfosit T. Pengertian kronik dan berulang mengacu pada kesepakatan UKK Pulmonologi pada KONIKA V di Medan tentang Batuk Kronik Berulang yaitu berlangsung lebih dari 14 hari dan atau tiga atau lebih episode dalam waktu 3 bulan berturut-turut.

. status atopi. umur.1. keturunan dan lingkungan. Umumnya prevalensi anak lebih tinggi tinggi daripada dewasa tapi ada juga yang melaporkan prevalensi dewasa lebih tinggi.2 PREVALENSI • Prevalensi asma di pengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis kelamin.

3 FAKTOR RESIKO .1.

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI .II.

.

.

DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI 1. sesak nafas. seringkali reveribel dengan atautanpa pengobatan • Gejala berupa batuk.IV. Riwayat Penyakit atau Gejala : • Bersifat episodik. rasa berat di dada dan berdahak • Gejala timbul/memburuk terutama malam / dini hari • Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu • Respon terhadap pemberian bronkodilatator .

• • • • Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit : Riwayat keluarga (atopi) Riwayat alergi Penyakit lain yang memberatkan Perkembangan penyakit dan pengobatan .

.2. sehingga pemeriksaan jasmani dapat normal. dan hipersekresi dapat menyumbat saluran nafas. Pemeriksaan Jasmani • Gejala asma bervariasi sepanjang hari. edema. Pada keadaan serangan. kontraksi otot polos saluran nafas. maka sebagai kompensasi penderita bernafas pada volume paru yang lebih besar untuk mengatasi sumbatan saluran nafas.

mengi hanya terdengar pada waktu ekspirasi paksa.• Pada serangan ringan. Walaupun demikian mengi dapat tidak terdengar pada serangan yang sangat berat. dan penggunaan otot bantu nafas. sukar bicara. gelisah. . takikardi. tetapi biasanya disertai gejala lain misalnya sianosis. hiperinflasi.

Faal paru digunakan untuk : • Obstruksi jalan nafas • Reversibiliti kelainan faal paru .3. dan parameter untuk menilai berat asma. Faal Paru • Pemeriksaan objektif (faal paru) berguna dalam menyamakan persepsi dokter dan penderita.

sebagai penilaian tidal langsung hiper reponsif jalan nafas • Banyak parameter dan metode untuk menilai faal paru.• Variabiliti faal paru. tetapi yang diterima secra luas (standar) dan mungkin dilakukan adalah pemeriksaan spirometri dan arus puncak ekspirasi (APE) .

dan fibrosis kistik . Pada penderita gejala asma dengan faal paru normal sebaiknya dilakukian uji provokasi bronkus. bronkiektasi. PPOK.4. Asil positif pada uji ini juga dapat terjadi pada penyakit lain seperti rinitis alergik. Peran pemeriksaan lain untuk diagnosis • Uji provokasi bronkus Uji ini untuk membantu menegakkan diagnosa asma.

• Pengukuran status alergi Komponen alergi pada asma dapat diidetifikasikan melalui pemeriksaan uji kulit (prick test) atau pengukuran kadar IgE spesifik serum. Uji ini membantu dalam mengidentifikasi faktor resiko/ pencetus sehingga dapat dilaksanakan kontrol lingkungan dalam penatalaksaan. .

bila dalam dalam serangan akan memberikan gambaran hiperinflasi . misalnya pneumotoraks. atelektasis. Sedangkan asma tidak dalam serangan akan memberikan kesan normal.• Radiologis Pada gambaran radiologis dapat melihat komplikasi yang terjadi.

3.2 KLASIFIKASI 1. Klasifikasi berat / ringan penyakit asma .

DIAGNOSIS BANDING • Bronkitis kronis • Emfisema paru • Gagal jantung kiri akut (asma kardial) • Emboli paru • Penyakit lain : stenosis trakea. . poliarteritis nodosa.IV. karsinoma bronkus.

TATALAKSANAAN Tujuan : • Menghilangkan gejala dan mengendalikan gejala • Mencegah eksaserbasi • Meningkatkan faal paru • Tercapai aktivitas normal • Hindari efek sampingn obat • Mencegah kematian karena asma .• V.

Obat ini dipakai sebagai obat profilaksis pada terapi pemeliharaan. Obat tersebut tidak dapat mengatasi spasme bronkus yang telah terjadi. .PENGOBATAN SECARA UMUM • Mencegah ikatan alergen – menghindari alergen – hiposensitasi • Mencegah pelepasan mediator • Natrium kromolin diduga dapat mencegah lepasnya mediator dari mastosit.

juga digunakan pada serangan asma akut – Kortikosteroid – Antikolinergik (Ipatropium Bromida) • Mengurangi respon dengan jalan meredam inflamasi saluran nafas untuk mengurangi respon ini digunakan kortikosteroid . • Epinefrin diberikan subkutan sebagai pengganti agonis beta 2 pada serangan asma yang berat. – Aminofilin. terbutalin.• Melebarkan saluran nafas dengan bronkodilator – Simpatomimetik • Agonis beta 2 (salbutamol. fenoterol. prokaterol) merupakan obat-obat terpilih untuk mengatasi serangan asma akut.

pertahankan terapi min 3 bulan. lalu turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma tetap terkontrol . tidak atau ekivalennya) + agonis beta-2 melebihi 3-4 kali/hari kerja lama *Kombinasi glukokortikosteroid agonis beta-2 kerja singkat untuk inhalasi (>1000 ug BD/hari atau pelega bila dibutuhkan. tidak ekivalennya) + agonis beta-2 kerja melebihi 3-4 kali/hari lama. + >1 dari  Teofilin lepas lambat : Leukotriene modifiers  Glokokortikosteroid oral Semua tahapan: bila tercapai asma terkontrol.Berat asma Asma intermiten Controller Tidak perlu Asma persisten ringan Asma persisten sedang Asma persisten berat Reliever agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan. tidak melebihi 3-4 kali/hari Kombinasi glukokortikosteroid agonis beta-2 kerja singkat untuk inhalasi (200-1000 ug BD/hari pelega bila dibutuhkan. tidak melebihi 3-4 kali/hari Glokokortikosteroid inhalasi (<500 agonis beta-2 kerja singkat untuk ug BD/hari atau ekivalennya) pelega bila dibutuhkan.

pulangkan • gejala (+)  serangan sedang Serangan sedang (nebulized 2-3x.Algoritma tatalaksana serangan asma Nilai derajat serangan • nebulisasi -agonist 3x. respon parsial) • O2 • nilai kembali sedang  rawat sehari • IV line Serangan berat (nebulized 3x. respon buruk) • O2 • IV line • nilai kembali berat  rawat • Chest X-ray 23 . respon baik) • observasi 1-2 jam. interval 20 min • 3rd nebulisasi + anticholinergic pengobatan Serangan ringan (nebulized 1x.

jika stabil pulangkan • respon buruk dalam 12 jam.  rawat Ruang Rawat • terapi oksigen • atasi dehidrasi dan asidosis • Steroid IV / 6-8 jam • Nebulisasi / 1-2 jam • Initial aminophylline IV.Pulangkan • beri 2-agonist (inhaled/oral) • obat lain • viral infection: oral steroid • rawat jalan 24-48 hours Rawat sehari (ODC) • terapi oksigen • Oral steroid • Nebulisasi /2 jam • Observasi 8-12 jam. lanjutkan maintenance • Nebulisasi 4-6x  respon baik per 4-6 h • Jika stabil dlm 24 jam  pulangkan • Respon buruk  ICU 24 .

BAB II ILUSTRASI KASUS • IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Suku bangsa Tanggal masuk Alamat : Ny. N : 45 tahun : perempuan : Minang : 12 Juli 2010 : Pariaman .

dan obat-obatan tidak ada • BAK jumlah dan warna biasa • BAB warna dan konsistensi biasa . • Batuk berdahak sejak 1 hari yang lalu. berbunyi menciut. cuaca dingin.ANAMNESIS Keluhan Utama : • Sesak nafas sejak 1 hari yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang : • Sesak napas sejak 1 hari yang lalu. saat melakukan aktivitas biasa. • Demam ada • Alergi makanan.

.

. • Riwayat Sosial Ekonomi.Riwayat Penyakit Dahulu • Pasien memiliki riwayat asma sejak ± 4 tahun yang lalu • Riwayat Penyakit Keluarga • Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini . Kejiwaan dan Kebiasaan • Pasien seorang ibu rumah tangga • Higienis dan sanitasi lingkungan cukup.