Anda di halaman 1dari 12

Deteksi Papilloma Virus: Karakteristik Demografik dan Tingkah Laku yang Mempengaruhi Identifikasi dari Penyakit Serviks

Objektif Penelitian ini dilakukan untuk menilai hubungan antara deteksi Human Papilloma Virus resiko tinggi dengan karakteristik bermacam tingkah laku dan demografik, selanjutnya mengetahui hubungannya dengan penemuan-penemuan histopatologik serviks. Dari total 1007 pasien dengan hasil test Papanicolauo menunjukan lesi high grade squamous intraepitel dan 2 kasus dilaporkan sebagai low grade intraepitel lesion atau atipikal squamous sel yang sekaranmg dapat ditemukan dari klinik kolporapi di kota dan di desa. semua wanita tersebut dilakukan pemeeriksaan smear dan dengan kolposkopi dilakukan biopsi dan kuret serviks, untuk selanjutnya diperiksa adanya asam deoksiribonukleik Human Papilloma Virus sebesar 655 (66%) dari spesimen yang ada. Tipe yang beresiko tinggi Human Papilloma Virus (16,18,31,33 dan 35) didapatkan sebesar 463 (70,7%). Dari semua spesimen prevalensi adanya human papillomavirus (koilositosis) dan neoplasia servikal intraepitelial grade 1 dari hasil biopsi secara signifikasi berkurang serangan dengan umur. Ada hubungan yang signifikan penurunan asam deoksiribonukleik HPV pada wanita yang menderita/terkenai Human Papilloma Virus sesuai dengan perubahan lesi yang ada antara grade 1 neoplasia intraepitelial servik grade 2 dan 3 neoplasia. Prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus dari pasien sejak grade 1 dan grade 2, 3 neoplasia intraepitelial, hampir sama dari kedua-duanya secara signifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa adanya tanda-tanda neoplasia servikal intraepitelial atas disebut juga dengan koilositosis . Faktor resiko yang berhubungan dengan neoplasia grade 2 atau 3 servikal intraepitelial berbeda dengan neoplasia servikal intraepitelial dan juga dengan perubahan Human Papilloma Virus. Untuk semua kategori histologis deteksi/penemuan adanya resiko tinggi Human Papilloma Virus. Sehubungan juga dengan grade 2 atau 3 neoplasia intraepitelial prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus nya sama dengan grade 1 neoplasia intraepitelial akan tetapi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang dari hasil biopsinya menunjukkan tampilan yang normal atau hanya memperlihatkan perubahan kecil akibat pengaruh Human Papilloma Virus (koilositosis) akibatnya ini menimbulkan dugaan bahwa Human Papilloma Virus terkait

Desain Studi

Kesimpulan

1

8% dari kulit putih.4% mereka Hispanik. Semua wanita yang berpartisipasi dalam penelitian ini diminta untukmengisi formulir tersebut secara lengkap dimana didalamnya terdapat data mengenai informasi daerah.Yang mengatakan bahwa CIN 1 dan CIN 2 atau CIN 3 merupakan suatu proses tertentu dimana CIN 1 merupakan manifestasi morfologis dari infeksi STD Human Papilloma Virus sedangkan CIN 2 atau 3 merupakan satu-satunya akibat dari adanya prekursor kanker serviks. maka konsep dasar yang mengatakan bahwa pengaruh ini sebagai suatu proses tunggal dipertanyakan. terapi dan tindakan preventif dari penyakit ini. 37. Setelah dilakukan penelitian molekuler. Perjalanan kanker serviks sebagai singel proses yang secara bertahap bertambah berat dari bentuk neoplasia mild servikal intraepitelial (CIN 1) kebentuk yang lebih progresif (CIN 2 atau 3) dan akhirnya dalam bentuk yang berinvasif telah menjadi dasar diagnosa.2% wanita yang pendidikan 9 tahun atau lebih rendah lagi . 36. 29. Penelitian ini disetujui oleh Institusi Review Board of Baylor. biokimia dan juga studu epidemiologis terhadap seberapa tipe Human Papilloma Virus ini dengan tingkat perubahan CIN yang ada.9 tahun.8% Afrika –Amerika. riwayat reproduktif dan lainnya seperti juga informasi mengenai 2 . Kedua klasifikasi histologis CIN (low grade lesion CIN 1) menggambarkan adanya infeksi Human Papilloma Virus yang produktif.1%) dikirim ke klinik setelah hasil papaniculounya yang dilakukan berulang menunjukkan adanya lesi low grade squqmous intraepitelial (atipikal squamous cell of undetermined signifikan) dan 553 (54. MATERI DAN METODE Populasi dan Penilaian Terhadap pasien Pasien dengan hasil tes papaniculou yang dilaporkan sebagai Tes High Grade Squamous intraepitelial atau dengan dua tes didapatkan atipikal squamous sel yang tidak signifikan (low grade squamous intraepitelial lesion) dari klinik-klinik di daerah perkotaan dan desa pada penduduk asli Harris County. CIN 2 diatas dengan karakteriktikal tingkah laku dan demografi pasien terhadap penemuan/ deteksi asam deoksiribonukleik Human Papilloma Virus melalui reaksi rantai polimerase. Klasifikasi histologis ini dan tes pendukung Human Papilloma Virus lainnya juga akan dibahas. sedangkan dari neoplastik kedua menunjukkan CIN 2 atau 3. riwayat penyakit. Dalam penelitian ini kami mengamati/ menilai hubungan 3 perubahan histologis yang ada CIN 1.7% pendidikannya 10-12 tahun dan 26. dan 21. Dari total 1007 wanita yang telah mengalami tes secara lengkap 454 (45. seperti yang dikatakan oleh Kiviat dan Koutsky dan Wright dan Kurman. Fakultas Kedokteran. Rata-rata usia (±SD) adalah 27.1% pendidikannya lebih dari 13 tahun.6 ± 8.dengan perubahan yang diakibatkannya pada neoplasia grade 1 dapat dijadikan sebagai diagnosis yang tepat (signifikan).9%) menunjukkan hasil sebagai High grade Squamous Epithelial Lesion. Perjalanan lesi CIN kebentuk karsinoma invasif sesungguhnya sangatlah jarang dalam hal ini. 48. Texas yang datang ke klinik kolposkopi Bagian Obstetri dan Ginekologi Sekolah Kedokteran Baylor di Houston.

Semua spesimen biopsi dievaluasi oleh orang yang sama (R. Reaksi Rantai Polimerase Pemeriksaan Human Papilloma Virus DNA dilakukan dengan reaksi rantai polimerase dengan L1 open reading frame consensus primer MY09/MY11 untuk mengidentifikasi tipe Human Papilloma Virus resiko rendah 6.33.sensitifity dan spesificity dari tes Human Papilloma Virus yang secara biopsi terbukti CIN 2 atau 3 dihitung. Setelah dilakukan tes papaniculou. Semua spesimen dengan hasil negatif untuk tipe resiko tinggi diuji lagi untuk tipe resiko rendah guna penentuan tipe 6 dan 11.39.18. CIN 3 invasif squamous karsinoma.K) dan dilaporkan sebagai metaplasia squamosa. Metode Statistik Untuk kalkulasi odd rasio digunakan program statistik SPSS 7.43 dan 57 dan tipe intermediate 16.35.Digunakan juga chi-statistik dengan Yate’s correction atau 2-tailed Fisher exact tes digunakan untuk menghitung perbedaan proporsi. CIN 2.42.33.18.35. Hasil Deteksi tipe Human Papilloma Virus dengan reaksi rantai polimerase pada Tabel I Tabel I.52. Nilai prediksi positif.33.45. Tipe Human Papilloma Virus dihubungkan dengan penemuan Histologis HPV type 16* 18µ 31.31.0. Spesimen dengan hasil positif DNA Human Papilloma Virus ditentukan/diuji tipe spesifiknya untuk penentuan tipe Human Papilloma Virus 16.H. digunakan untuk mendapatkan spesimen endoservikal guna dilakukan pemeriksaan dengan Profil Digene Human Papilloma Virus dan terakhir dengan reaksi rantai polimerase dengan cara kolposkopi servikal biopsi yang diarahkan pada daerah yang abnormal dan didalamnya juga terdapat endoservikal curettase.53 dan 58.31.11.40.penggunaan tembakau dan alkohol.51. dilakukan juga swab polietilen tereptalate(Dacron) yang terdapat pada keterangan pemeriksaan Human Papilloma Virus.Semua spesimen dengan hasil negatif dengan MY09/MY11 diuji lagi dengan reaksi rantai polimerase menggunakan serologis primer GH20 dan PC04.30. Test Diagnostik Baik sebagai referral dan test papaniculou diklasifikasikan menurut sistem Bethesda. perubahan yang berhubungan dengan Human Papilloma Virus (didiagnosa dengan terdapatnya koilositosis)CIN 1. 95% confiden interval digunakan perbedaan-perbedaan variabel diselaraskan dengan logistik regressi.11.or both 6 and 11 Unidentified type Negatif consensus primer Any type high risk 3 .35ø Any high risk type HPV type 6. Kriteria diagnostik Yang membedakan Human Papilloma Virus-associated change dari CIN 1 tidak dilaporkan.

Tipe Human Papilloma Virus tidak dapat ditentukan pada 11. yaitu sebesar 13.Penemuan histologis dihubungkan dengan umur diantara 1007 wanita Prevalensi Human Papilloma Virus atau CIN dari biopsi spesimen memperlihatkan kecenderungan menurun menurut umur.9%.33 dan 35) dari 463 spesimen (46. Tabel II.7% tanpa CIN ke 59.5% menjadi 50. Prevalensi tipe yang tidak teridentifikasi berhubungan dengan kategori histologis dari 5%-9.35 dan 6 atau 11 secara signifikan tidaklah bervariasi dengan grade dari CIN yang bervariasi dari 3.DNA Human Papilloma Virus didapatkan pada 655 (65%) dari spesimen yang ada dan tipe Human Papilloma Virus yang ditentukan /diketahui sebesar 577 (88.4% pada kelompok umur muda dan 38. Sekurang-kurangnya terdapat 1 tipe resiko tinggi Human Papilloma Virus (termasuk didalamnya tipe intermediate 31.7%) atau dengan Human Papilloma Virus associate change (40.4%) secara signifikan lebih tinggi (P<0. Penemuan histologis dihubungkan dengan umur ditunjukkan pada Tabel II.2% sesuai dengan peningkatan keparahan CIN yang ada.5% ke 13.33.3% spesimen dan tidak berhubungan dengan tingkat CIN yang diobservasi.2%) yang didapat dari biopsi.4% dengan CIN 2 atau 3.8%) seperti juga CIN 2 atau 3 (59. 4 .1%) dari spesimen ini.9% spesimen yang terdeteksi DNA Human Papilloma Virus nya. Prevalensi dari Human Papilloma Virus tipe 18.0% diantara wanita umur 35 dan 39 tahun.001) dibandingkan dengan wanita tanpa CIN (32.31.0%) dan diamati terdapatnya gambaran yang meningkat dimana 37. Prevalensi CIN 2 atau 3 dari spesimen biopsi meningkat menurut umur. Prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus pada wanita dengan 1 (57. Prevalensi Human Papilloma Virus tipe 16 meningkat dari 24.

Wanita yang hanya mengalami perubahan kecil (koilositosis) dari biopsi spesimen prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus menunjukkan kecenderungan penurunan menurut umur. merokok. usia saat pertama kali hamil. penggunaan pil kontrasepsi yang sedang atau pernah dipakai dan penggunaan kondom. usia saat pertama kali berhubungan seks. dimana prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus menurun dari 40. Tabel III. yakni sebesar 44. dan secara berangsur-angsur turun dari kelompok umur < 19 tahun ke kelompok umur > 40 tahun dengan kata lain. Terdapat perbedaan yang substansial antara kategori diagnostik histologi dengan hanya merujuk 5 . perkawinan. lama hubungan seksual.1% pada kelompok umur dewasa muda.0% psada kelompok umur >40 tahun . seperti resiko tinggi Human Papilloma Virus. Resiko tinggi DNA Human Papilloma Virus dihubungkan dengan penemuan histologis dan umur pada 1007 wanita Wanita yang dalam biopsi spesimennya tidak ada CIN menunjukkan tidak ada hubungan antara umur dengan tipe resiko tinggi Human Papilloma Virus. prevalensi CIN 2 atau 3 pada biopsi spesimen secara signifikan meningkat sesuai dengan peningkatan umur.8%) dan prevalensi ini secara berangsur-angsur juga terlihat pada wanita dengan hasil biopsinyanCIN 2 dan CIN 3. endidikan. 26. banyaknya melahirkan.9% pada kelompok wanita yang berumur > 40 tahun.Hubungan antara pendeteksian DNA Human Papilloma Virus resiko tinggi menggunakan reaksi rantai polimerase terhadap umur dan diagnosa histologik ditampilkan dalam tabel III. Secara keseluruhan tingginya prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus sehubungan dengan ditamukannyan biopsi yang abnormal yang ditemukan berhubungan dengan umur. Wanita dengan hasil biopsi spesimen menunjukkan CIN 1 mempunyai rata-rata resiko tinggi Human Papilloma Virus nya meningkat pada kelompok usia muda (70. Kami membandingkan wanita dengan tingkat CIN yang berbeda terhadap wanita yang tak ada perbedaan dari hasil biopsinya. Kami mengamati bahwa faktor-faktor resiko yang didapat sehubungan dengan “High Grade CIN”.

Faktor resiko pada wanita dengan CIN 2 atau 3. Merokok dan kehamilan kelihatanya merupakan faktor resiko yang penting terhadap terjadinya keadaan Human Papilloma Virus-associated change pada spessinmen biopsi dibandingkan dengan wanita yang tidak khas ditemukan kelainan dalam spesimen biopsi. Signifikan terhadap tes Human Papilloma Virus untuk penentuan tingkat tinggi penyakit servik (CIN2 atau 3) pada kelompok umur yang berbeda dengan mempertimbangkan tes papaniculou. variaabel dari infeksi resiko tinggi Human Papilloma Virus.CIN 1 dan Human Papilloma Virus (koilositosis) dibandingkan dengan wanita tanpa CIN dari spesimen biopsinya* Faktor resiko tinggi Human Papilloma Virus senddiri merupakan faktor resiko bagi CIN 1. Deteksi resiko tinggi DNA Human Papilloma Virus dalam hubungannya terhadap tingkat CIN terhadap umur 6 . umur.banyaknya kehamilan dan merokok tetap merupakan faktor resiko untuk terjadinya CIN 2 atau 3. Tabel IV. resiko tinggi Human Papilloma Virus. ras . banyaknya kehamilan dan merokok ditunjukkan pada tabel IV. ras. maka faktor-faktor resiko untuk terjadinya CIN 2 atau 3 Adalah : • • • • • • • Infeksi Human Papilloma Virus resiko tinggi pendidikan status perkawinan Lebih dari 3 riwayat kehamilan Lebih dari 2 riwayat melahirkan Pernah merokok Tidak menggunakan kondom Infeksi resiko tinggi Human Papilloma Virus merupakan satu-satunya faktor resiko untuk CIN 1 sementara itu merokok merupakan faktor yang signifikan yang mengakibatkan terjadinya koilositosis (Human Papilloma Virus-associated change) pada biopsi spesimen setelah dilakukan beberapa penyesuaian terhadaap umur.pada hasil tes papaniculou. banyaknya kehamilan dan merokok diperlihatkan pada tabel V. Tabel V.

Sensitfitas dari tes tersebut menurun dari 77.8% pada kelompok umur muda dari 40 % pada kelompok umur ≥ 40 tahun.7%) akan tetapi lebih dari 50 tahun pada kelompok umur yang lebih muda. namun rantai polimerase secara umum dianggap sebagai metode yang paling sensitif. Sebagai tambahan terhadap perbedaan dan disain dari pencitraan. Kesensitifan dari pengukuran ini tergantung dari perbedaan konsesus atau tipe spesifik primer yang digunakan. Spesifisitas tes tersebut meningkat dari 50 % menjadi 74. Masing-masing metode pendeteksi memiliki kesalahan pengukuran terhadap prevalensi dan Human Papilloma Virus. akibat hasil dari penelitian yang berbeda dan kesimpulan mereka tergantung pada tipe pengukuran yang digunakan pada tiap-tiap penelitian.Wanita yang ditemukan DNA Human Papilloma Virus resiko tinggi mempunyai prevalensi CIN 2 atau 3 lebih tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa infeksi resiko tinggi Human Papilloma Virus pada semua kategori umur yang lebih rendah dari 35 tahun tetapi tidak lebih tua dari 35 tahun.2 %. Penemuan DNA Human Papilloma Virus sangat bervariasi pada tiap-tiap individu. Skrining ini sesuai dengan kenyataan bahwa usia menurunkan prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus dan meningkat pada prevalensi CIN 2 atau 3. Regresi dari infeksi Human Papilloma Virus perse dapat dilihat pada proporsi wanita yang besar. 7 . Populasi penelitian kespesifikan dan bermacammacam pengukuran yang digunakan merupakan faktor penting terhadap terjadinya perbedaan yang ada. Karlsen dan kawan-kawan menemukan bahwa penggunaan bermacam konsesus primer dan tipe spesifik primer sangat penting dalam mendeteksi semua hasil DNA Human Papilloma Virus yang ada. Nilai predileksi dari suatu rantai polimerase pada tingkat tinggiCIN (CIN 2 atau 3) sangat rendah pada wanita yang berusia kurang dari 30 tahun (19.4%-38. KOMENTAR Terdapat variasi dari literatur yang ada terhadap fragmen DNA Human Papilloma Virus diantara wanita yang mempunyai tingkat CIN yang lama.

Infeksi Human Papilloma Virus yang persisten diamati lebih tinggi pada wanita yang terinfeksi resiko tinggi Human Papilloma Virus dibandingkan dengan tipe Human Papilloma Virus lainnya. bukan hal yang biasa dalam penelitian yang 8 . karena itu pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini sangat sensitif. Kiviat dan Koutsky dan Wright dan Kurman mendiskusikan perjalanan dari diagnostik histologik CIN dan setelah melihat dan menginterpretasikan bukti-bukti yang ada mereka menyimpulkan bahwa CIN mempunyai 2 perbedaan …………………………………………………………………. dimana kelompok yang lain yang mengandung banyak Human Papilloma Virus atau intermediate Human Papilloma Virus dimasukkan dalam CIN 2 atau 3. Klasifikasi pengelompokkan kategori CIN 1 berhubungan dengan keseragaman kelompok Human Papilloma Virus yang menghasilkan lesi dengan hasil yang tidak dapat di prediksikan atas dasar implikasi klinik dari variasi tipe Human Papilloma Virus ini. Biopsi spesimen dalam penelitian ini dievaluasi oleh orang yang sama berdasarkan standar kriteria histologi terdapat kemungkinan bahwa ahli patologis yang berbeda akan memberikan interprestasi yang berbeda.Diantara wanita dengan spesimen sitologinya yang normal.4% merupakan stadium CIN 2 atau 3. karena itu penemuan Human Papilloma Virus dari spesimen yang diambil …………………… Dalam penelitian ini.. infeksi Human Papilloma Virus yang persisten ditemukan sebesar 16. diperkirakan petanda sebagai lesi prekursor.3% dan itu lebih tinggi pada wanita yang berumur ≥30 tahun dibandingkan wanita ≤ 24 tahun. Perbedaan konsep sehubungan dengan riwayat infeksi Human Papilloma Virus ditampilkan oleh Ponten dan kawan-kawan dalam 2-tier klasifikasi histologi. Pengukuran dengan metode diatas mendapatkan 65% DNA Human Papilloma Virus dari seluruh spesimen yang diuji dan dapat mengidentifikasi tipe DNA Human Papilloma Virus sebanyak 88. Dari wanita yang terdeteksi Human Papilloma Virus DNA sebanyak 77. konsesus primer yang digunakan adalah konsesus primer yang sering digunakan dalam reaksi rantai polimerase.1% dari sebanyak 7 tipe Human Papilloma Virus yang diteliti. Data dari 90. atas dasar nilai prediktif dari tipe Human Papilloma Virus untuk mengantisipasi lesi yang ditemukan.1% dari kelompok ini dapat ditentukan tipe Human Papilloma Virus nya.

Kriteria yang dugunakan termasuk adanya bentuk keabnormalan pembesaran inti hiperkromatik yang dikelilingi oleh kavitas dalam sitoplsma. 67% pada mereka dengan CIN 1 dan 87% pada mereka dengan high grade squamous intraepitelial lesion. Walaupun begitu dibandingkan dengan “Human Papilloma Virus associated change” (koilositosis) secara signifikan. dan seringkali ditemukan kesulitan untuk membandingkan data dengan klasifikasi yang berbeda. Cuzick dan kawan-kawan melaporkan hubungan antara usia dengan penurunan deteksi DNA Human Papilloma Virus resiko tinggi dan hubungan usia terhadap penurunan prevalensi CIN 2 atau 3. Diagnosa 2-tier histologis bukanlah hal yang secara umum dapat diterima. Boon dan Kok memperlihatkan bahwa hubungan morfologik dari epitel yang berubah akibat virus ke epitel neoplasma dan mereka memperkirakan bahwa dalam perubahan yang bersifat neoplastik ekspresi morfologik dan antigen dari Human Papilloma Virus virus ditekan. Penulis mempertanyakan nilai koilosistosis sebagai marker infeksi Human Papilloma Virus. mereka lebih tinggi dan juga bila dibandingkan dengan wanita tanpa tandi CIN. Hasil biopsi yang kami temukan menggambarkan sekurang-kurangnya sebuah konstitusi evaluasi biopsi spesimewn dalam penelitian ini. Lebih dari 40% dari kelompok ini ditemukan DNA tipe high risk atau intermediate. Hasil yang kami dapatkan tidak menunjukkan bahwa prevalensi dari tipe low risk merupakan karakteristik dari low grade CIN ( tipe low risk menunjukkan low grade CIN). Dalam penelitian ini prognosa Human Papilloma Virus tidak begitu tinggi korelasinya dengan deteksi DNA Human Papilloma Virus dengan cara reaksi rantai polimerase. dimana kedua-duanya menyebabkan adanya tingkat hubungan yang kontras dari Human Papilloma Virus resiko tinggi dan tingkat tinggi CIN.8% dari wanita dengan hasil tes papaniculou positif.terkontrol. Rata-rata komulatif dari infeksi high risk Human Papilloma Virus pada wanita dengan CIN 1 yang didapat dari biopsi spesimen sama dengan wanita dengan hasil biopsi CIN 2 atau 3. Atipia koilositosis dianggap sebagai akibat dan infeksi Human Papilloma Virus.Kuhler-Obbarius dan kawan-kawan menemukan Human Papilloma Virus 16 ata18 sebanyak 30. Dalam penelitian ini prevalensi dari DNI|A Human Papilloma Virus resiko tinggi dari wanita 9 . penjelasan yang masuk akal tentang rendahnya korelasi tersebut mungkin akibat adanya overdiagnosa bentuk perubahan morfologik tersebut.

8% pada wanita dibawah 20 tahun menjadi 40% pada wanita yang lebih dari 40 tahun karena adanya keragaman tipe Human Papilloma Virus ini dan juga gambaran epidemiologisnya. dan tetap diam didalam tubuh dan akibat hubungan dengan faktor lain. maka infeksi resiko tinggi Human Papilloma Virus dapat saja terjadi di awal kehidupan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Downey dan kawan-kawan pada wanita dengan CIN 1 yang masuk dalam penelitian tersebut mempunyai kemungkinan berkembang ke CIN 2 atau 3 lebih sering dibandingakan dengan wanita dengan hasil histologik yang normal dan tidak ada hubungan dengan infeksi Human Papilloma Virus tipe 16.Schneider dan kawan-kawan menemukan tipe high risk Human Papilloma Virus dari wanita dengan CIN 2 atau 3 yang sebelumnya dalam setahun belakangan ini tidak ada kelainan sitologi yang abnormal secara bermakna lebih jarang ditemukan dan lebih rendah konsentrasinya dibandingkan dengan yang se4belumnya ………………………………………………… Infeksi resiko tinggi Human Papilloma Virus tidak didapatkan dalam jumlah yang bermakna pada jaringan dengan diagnosa CIN 2 atau 3. dan terdapatnya lesi low grade.dengan CIN 1 dan 2 atau 3 kira-kira dua kali lipat dibandingkan dengan wanita tanpa CIN pada kebanyakan kategori umur umumnya. Hal tersebut dapat dijelaskan oleh kurangnya kesensitifan metode lboratorium dalam mendeteksi DNA Human Papilloma Virus atau oleh kemungkinan bahwa infeksi Human Papilloma Virus pada penyakit ini telah berkurang sehingga DNA Human Papilloma Virus tidak dapat lagi dideteksi atau hal tersebut menunjukkan adanya kesalahan sampel dalam penelitian ini. Hal tersebut juga sesuai dengan penelitian ini. Hal ini kelihatannya dikarenakan adanya hubungan patogenesa antara Human Papilloma Virus dengan CIN. Dengan kata lain. Prevalensi resiko tinggi Human Papilloma Virus berhubungan denan CIN 2 atau 3 turun dari 77. tetapi satu yang harus dicatat bahwa terdapat kemungkinan yang lain seperti jaringan yang memang dari awalnya telah abnormal yang mungkin akan gampang terkena Human Papilloma Virus yang menetap dibandingkan dengan jaringan yang sehat. berhubungan dengan peningkatan penyakit ini. mengakibatkan terjadinya perubahan sel secara bertahap sampai mengakibatkan timbulnya penyakit yang berat. Hal tersebut ini tetap diperdebatkan apakah tingkat tinggi CIN berasal dari tingkat rendah CIN atau apakah infeksi resiko tinggi Human Papilloma Virus secara langsung 10 . resiko terdapatnya tes papaniculou yang abnormal akan meningkat pada infeksi Human Papilloma Virus lebih lama.

merokok berhubungan dengan kerusakan DNA pada epitel servik yang berhubungan dengan infeksi Human Papilloma Virus tipe 16 telah dipelajari oleh Simon dan kawan-kawan.2 11 .Brisson dan kawan-kawan menemukan adanya perbedaan dalam faktor resiko antara tipe 16 DNA low grade CIN dan high grade CIN. Tampaknya merokok merupakan faktor penting kedua dan merupakan faktor resiko bebas terhadap grade CIN yang lebih tinggi. Masih menjadi pertanyaan para akademik sekarang ini apakah hanya dengan faktor infeksi Human Papilloma Virus saja dapat menyebabkan terjadinya kanker invasif. ………………tanpa adanya infeksi Human Papilloma Virus. Merokok merupakan faktor resiko yang bermakna bagi neoplasia servik. akan tetapi tentu saja infeksi tersebut memainkan peranan penting dalam perkembangan kanker serviks.Paritas sebagai faktor resiko kanker servik dilaporkan oleh Brinton dan kawan-kawan. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang berbeda dalam rata-rata kejadian dari faktor resiko terpilih yang ada. Dimana mereka menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara merokok terhadap kerusakan DNA yang terjadi pada seorang perokok dengan atau tanpa adanya Human Papilloma Virus. Dalam hal ini diketahui bahwa faktor resiko untuk CIN yang dianalisa pada pasien dengan CIN dibandingkan dengan kelompok wanita dengan hasil tes papaniculou yang abnormal akan tetapi tanpa adanya CIN dari hasil biopsinya. pemakaian kontrasepsi yang lama yang bermakna terhadap high grade CIN. Karena deteksi pada resiko tinggi DNA Human Papilloma Virus serupa diantara wanita dengan CIN 1. merokok sigaret. Hal ini telah diketahui dan dilaporkan oleh beberapa penulis.Dalam penelitian kami kehamilan multipel merupakan faktor resiko bebas yang bermakna terhadap infeksi Human Papilloma Virus diantara wanita koilositosis pada biopsi spesimen dan antara wanita dengan CIN 2 atau 3. variabel ini ditunjukkan sedikit atau tak ada hubungan dengan low grade CIN. Pada kontras.keduaduanya merupakan yang penting. Variabel yang paling dominan yang membedakan wanita dengan CIN 2 atau 3 dari dari wanita tanpa CIN adalah dengan penemuan dari resiko tinggi Human Papilloma Virus diikuti dengan merokok dan kehamilan yang lebih dari satu pada wanita CIN 1. Infeksi dari resiko tinggi sangatlah bermakna dimana pada wanita dengan koilosistosis rokok dan kehamilan yang……………………….menyebabkan terjadinya CIN 2 atau 3.

. Skrining dari cara tersebut berhubungan dengan prevalensi infeksi resiko tinggi pada kelompok populasi yang berbeda. Dua –tier klasifikasi histologik tersebut berdasarkan pada asumsi bahwa low grade CIN secara umum berhubungan dengan tipe Human Papilloma Virus yang non onkogenik. walaupun begitu klasifikasi tersebut sangatlah praktis dalam pengambilan keputusan. Pada kelompok umur dimana kesensitifan dari tes ini tertinggi.atau 3. sedangkan kesensitifan dari tes ini untuk kelompok umur tersebut kurang dari 50%. nilai prediktif positif dari test ini adalah paling rendah. Nilai prediktif positif tidak akan lebih dari 50% pada kelompok umur yang tinggi. Penelitian kami ini lebih jauh menunjukkan bahwa infeksi Human Papilloma Virus terbanyak terjadi pada usia yang lebih muda dan kebanyakan dari mereka ini terkait dengan tipe kanker yang ada.Karena itu penelitian yang kami lakukan ini tidaklah mendukung pernyataan bahwa 2-tier klasifikasi histologik adalah cocok untuk penelitian dari perjalanan CIN. dan mungkin variabel lain memainkan peranan penting dalam perkembangan lesi tingkat rendah menjadi lesi tingkat tinggi (neoplasia). tetapi prevalensi dari resiko tinggi Human Papilloma Virus pada wanita dengan CIN 1 lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang hanya Human Papilloma Virus-associated change(koilositosis). Dalam penelitian ini kami kami melihat frekuensi yang sama dari resiko tinggi Human Papilloma Virus pada wanita dengan CIN 1 dan pada wanita dengan CIN 2 atau 3. 12 . Skrining dari rantai polimerase tergantung terhadap usia. paritas. karena Human Papilloma Virus-associated change dan CIN 1 kelihatannya berbeda tergantung kepada variabel-variabel yang diuji. perokok.