Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Definisi Hematemesis adalah muntah darah berwarna merah kehitaman menyerupai endapan bubuk air kopi atau bisa juga berwarna merah terang jika belum tercampur dengan asam lambung. Sedangkan melena adalah buang air besar dengan kotoran seperti ter atau aspal, lengket bercampur dengan darah. Keduanya ini sebagai akibat perdarahan saluran cerna bagian atas. Melena menunjukkan bahwa darah telah berada di saluran cerna untuk kurun waktu setidak-tidaknya 14 jam, dan biasanya berasal dari saluran cerna bagian atas, tetapi melena juga dapat terjadi akibat perdarahan dari usus halus atau kolon. 2.2. Epidemiologi Penyebab tersering dari hematemesis melena berturut-turut adalah ulkus duodenum, gastric erosif, ulkus gaster, dan varises esofagus. Hematemesis masif merupakan suatu keadaan gawat darurat dimana prevalensi kematian akibat hal ini berkisar antara 8 -14 %. Hal ini tentu bervariasi dengan perbedaan umur, dan ada atau tidaknya penyakit penyerta yang berhubungan dengan jantung, paru, hati, ginjal, dan keganasan. Mayoritas kematian terjadi pada pasien uang berumur diatas 60 tahun. Pasien yang sudah tua akan lebih sulit untuk dapat bertahan dengan perdarahan yang masif dan intervesi pembedahan. Pada orang dewasa, perdarahan dari gaster atau ulkus duodenum, dan varises esofagus merupakan penyebab tersering dari hematemesis melena. Pada anak-anak, lesi mukosa dan perdarahan variseal (biasanya sekunder terhadap obstruksi vena portal ekstra hepatika) sering terjadi, dan dalam perawatan intensif, pemakaian ventilator, infeksi dan penggunaan obat-obatan merupakan penyebab dari stress ulceration. 2.3. Etiologi 1. Kelainan Esofagus a. Varises esofagus

Disamping mengeluh disfagia. Pada umumnya sifat perdarahan timbul spontan dan masif. Disamping muntah darah penderita juga mengeluh rasa nyeri dan panas seperti terbakar di mulut. . badan mengurus dan anemis. Esofagitis korosiva Dari hasil analisis air keras tersebut ternyata mengandung asam sitrat dan asam HCI. misalnya pada peminum alkohol atau pada hamil muda. Esofagitis dan tukak esofagus Esofagitis bila sampai menimbulkan perdarahan lebih sering bersifat intermittem atau kronis dan biasanya ringan. e. Dada dan epigastrum. yang bersifat korosif untuk mukosa mulut. Biasanya disebabkan oleh karena terlalu sering muntah-muntah hebat dan terus menerus. Pada pemeriksaan endoskopi jelas terlihat gambaran karsinoma yang hampir menutup esofagus dan mudah berdaharah yang terletak di sepertiga bawah esofagus. b. Sindroma Mallory-Weiss Sebelum timbul hematemesis didahului muntah–muntah hebat yang pada akhirnya baru timbul perdarahan. sehingga lebih sering timbul melena daripada hematemesis.Penderita dengan hematemesis melena yang disebabkan pecahnya varises esofagus. Tukak di esofagus jarang sekali mengakibatkan perdarahan jika dibandingkan dengan tukak lambung dan duodenum. c. esofagus dan lambung. hanya sesekali penderita muntah darah dan itupun tidak masif. tidak pernah mengeluh rasa nyeri atau pedih di epigastrum. Karsinoma esofagus Karsinoma esofagus sering memberikan keluhan melena daripada hematemesis. d. Bila penderita mengalami disfagia kemungkinan disebabkan oleh karsinoma esofagus. Darah yang dimuntahkan berwarna kehitam-hitaman dan tidak membeku karena sudah bercampur dengan asam lambung.

Tukak lambung Penderita mengalami dispepsi berupa mual. akan tetapi lebih sering karena penyakit penyerta dan komplikasi. Perlu ditanyakan juga apakah penderita sedang atau sering menggunakan obat rematik (NSAID + steroid) ataukah sering minum alkohol atau jamu-jamuan. nadi. Sesaat sebelum timbul hematemesis karena rasa nyeri dan pedih dirasakan semakin hebat. Gastritis erisova hemoragika Hematemesis bersifat tidak masif dan timbul setelah penderita minum obatobatan yang menyebabkan iritasi lambung. Sebelum muntah penderita mengeluh nyeri ulu hati. riwayat penyakit sangatlah penting dalam penegakan diagnosa. Penurunan hematokrit dan level hemoglobin harus dapat mengambarkan . tetapi riwayat penyakit juga sangat menentukan prognosa karena pasien jarang meninggal karena kehabisan darah. Lebih sering mengeluh karena melena. dan sering mengeluh rasa pedih. b. Karsinoma lambung Insidensi karsinoma lambung di negara kita tergolong sangat jarang dan pada umumnya datang berobat sudah dalam fase lanjut. tekanan darah. c. Hal yang paling penting dari pemeriksaan fisik adalah vital sign. Diagnosa Pada perdarahan akut saluran cerna. muntah. 2. nyeri ulu hati dan sebelum hematemesis didahului rasa nyeri atau pedih di epigastrum yang berhubungan dengan makanan. Kelainan Pada Lambung a. nyeri di daerah ulu hati sering mengeluh merasa lekas kenyang dan badan menjadi lemah. Tidak hanya sebagai poin dignostik. dan suhu tubuh. Sifat hematemesis tidak begitu masif dan melena lebih dominan dari hematemesis.2.4. frekuensi nafas. Setelah muntah darah rasa nyeri dan pedih berkurang.

dokter harus dapat memperkirakan jumlah dan kecepatan perdarahan. juga menunjukkan adanya perdrahan yang banyak. gastritis. dinataranya : Memastikan adanya perdarahan Pada pasien dengan perdarahan masif dan yang membutuhkan penanganan segera. . Tanyakan pada pasien berapa kali muntah darah atau berak darah.keadaan pasien dalam waktu sekurang-kurangnya 24 jam pada kasus perdarahan yang sangat cepat. tidak akan dapat mengenalinya tanpa anamnesa yang baik. esofagitis. frekuensinya. Kombinasi hematemesis melena. Jika muntahannya disertai dengan darah. Dalam hal ini. Sedangkan pasien dengan epistaksis masif selalu sadar akan keadaanya tersebut. akan tetapi jika muntahan seperti endapan kopi. Riwayat penyakit haruslah dtujukan pada beberapa poin. sirosis dengan varises esofagus atau gaster. Menilai jumlah dan kecepatan perdarahan Sementara mengkonfirmasi adanya perdarahan. jika perlu dapat langsung dilakukan resusitasi. pertanyaan tertutup lebih dianjurkan daripada menggunakan pertanyaan terbuka. Mengidentifikasi sumber dan penyebab spesifik yang potensial Hematemesis dan melena sangat erat kaitannya dengan perdarahan saluran cerna bagian atas. Apabila gejala dan tanda hipovolemi telah tampak. sindrom mallory-weiss.Jika terdapat darah atau sisa makanan pada muntahan. Anamnesa yang baik dapat menyelesaikan permasalahan ini. atau hematemesis dengan warna darah segar. hal ini tentu sangat membantu dalam menunjukkan bahwa ini adalah hematemesis. dan jumlah setiap kali terjadi. dokter harus dapat menemukan bukti dari anamnesa tentang penyebab yang sering terjadi diantaranya ulkus peptik. dan keganasan. dan jika muntahan berwarna coklat seperti endapan bubuk kopi. Hemoptoe biasanya disertai dengan batuk dan berwarna merah yang berbusa. menunjukkan kemungkinan adanya perdarahan. Seorang dokter harus dapat membedakan antara hematemesis dengan hemaptoe atau pun dengan muntahan dari darah yang tertelan pada epistaxis. maka itu dapat mengindikasikan adanya perdarahan yang hebat.

penyakit ginjal dapat meningkatkan resiko terjadi perdarahan saluran cerna yang hebat. penyakit paru obstruktif konis. Sindrom mallory weiss biasanya terjadi setelah muntah. penyakit jantung. dan keberadaanya dapat merubah keputusan apakah operasi dapat dilakukan jika perdarahan terus berlangsung. adanya hubungan gejala dengan asupan makanan. Penurunan berat badan dan anoreksia kemungkinan disebabkan oleh keganasan pada gaster ketika disertai dengan perdarahan saluran cerna. dan berbagai penyakit serius lainnya juga merupakan predisposisi terhadap gatritis yang berujung pada perdarahan.Ulkus peptik. sirosis. dan sering dihubungkan dengan konsumsi alkohol berat. alkoholisme. Adanya kelainan pada sistem pembekuan darah juga harus dicari. Konsumsi alkohol yang berat. ginjal. dan adanya riwayat penyakit ulkus peptik sebelumnya. . kerusakan SSP yang luas. Faktor umur juga penting untuk dipertimbangkan karena kebanyakan kematian terjadi pada pasien berumur diatas 60 tahun. walaupun gejala serupa juga dapat ditemui pada ulkus peptikum. Riwayat infark miokard. sebagai sumber perdrahan. yang merupakan penyebab yang paling sering perdarahan saluran cerna. dan penyakit hepatitis sebelumnya sangatlah penting. Aspirin dan agen NSAID dapat merusak mukosa lambung dan menjadi predisposisi untuk terjadinya perdarahan karena efeknya terhadap agregasi platelet. luka bakar yang hebat. Kecendrungan untuk berdarah akan menjadi faktor yang tidka menguntungkan pada masien dengan perdarahan saluran cerna. Mencari adanya penyakit serius lainnya yang bisa memiliki efek yang tidak diinginkan berkaitan dengan perdrahan saluran cerna Tanyakan kepada pasien tentang riwayat keganasan. dan paru karena keberadaannya dapat merubah terapi dan berefek pada pasien dengan perdarahan yang sangat cepat. Pasien dengan perdrahan yang diakibatkan esofagitis dan ulkus esofagus biasanya mempunyai riwayat heartburn yang lama. gagal jantung kongestif. Menanyakan seputar varises. Pasien dengan penyakit hati mempunyai varises. hati. dapat ditegakan dengan pertanyaan tentang adanya nyeri epigastrium. sirosis.

Terapi Pengobatan penderita perdarahan saluran cerna bagian atas harus sedini mungkin dan sebaiknya diraat di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan yang teliti dan pertolongan yang lebih baik. Pada perdarahan saluran cerna bagian atas yang sedang berlangsung. aspirasi cairan. meperidin dan paraldehid sebaiknya dihindarkan. kardia dan fundus lambung untuk mencari ada/tidaknya varises. Pemeriksaan endoskopik Dengan adanya berbagai macam tipe fiberendoskop. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. pemeriksaan endoskopik dapat dilakukan secara darurat atau sedini mungkin setelah hematemesis berhenti. Pengobatan penderita perdarahan saluran cerna bagian atas meliputi : 1. maka pemeriksaan secara endoskopik menjadi sangat penting untuk menentukan dengan tepat tempat asal dan sumber perdarahan. Keuntungan lain dari pemeriksaan endoskopik adalah dapat dilakukan pengambilan foto untuk dokumentasi.Pemeriksaan Radiologik Pemeriksaan radiologik dilakukan dengan pemeriksaan esofagogram untuk daerah esofagus dan diteruskan dengan pemeriksaan double contrast pada lambung dan duodenum. Pemeriksaan ultrasonografi dan scanning hati Pemeriksaan dengan ultrasonografi atau scanning hati dapat mendeteksi penyakit hati kronik seperti sirosis hati yang mungkin sebagai penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas. Pengawasan dan pengobatan umum o Penderita harus diistirahatkan mutlak. obat-obat yang menimbulkan efek sedatif morfin. 2.5. dan sebaiknya segera setelah hematemesis berhenti. emeriksaan tersebut dilakukan pada berbagai posisi terutama pada daerah 1/3 distal esofagus. . Pemeriksaan ini memerlukan peralatan dan tenaga khusus yang sampai sekarang hanya terdapat dikota besar saja. dianjurkan pemeriksaan radiologik ini sedini mungkin. dan biopsi untuk pemeriksaan sitopatologik.

Pemberian air pada kumbah lambung akan menyebabkan vasokontriksi lokal sehingga diharapkan terjadi penurunan aliran darah di mukosa lambung. lavage (kumbah lambung) dengan air . Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu dilakukan untuk mengikuti keadaan perdarahan.150 ml sampai cairan aspirasi berwarna jernih dan bila perlu tindakan ini dapat diulang setiap 1-2 jam. pada pemberian pitresin per infus akan mengakibatkan kontriksi pembuluh darah dan splanknikus sehingga menurunkan tekanan vena porta. dan ini dapat menimbulkan ensefalopati hepatik. kesadaran penderita dan bila perlu dipasang CVP monitor. nadi. dengan demikian perdarahan akan berhenti. Pemberian obat-obatan hemostatik seperti vitamin K. antasida dan golongan H2 reseptor antagonis (simetidin atau ranitidin) berguna untuk menanggulangi perdarahan. dan pemberian obat-obatan. o o o o o o 2. Pengawasan terhadap tekanan darah. 4 x 10 mg/hari. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan produksi amoniak oleh bakteri usus. Pemberian pitresin (vasopresin) Pitresin mempunyai efek vasokoktriksi. Infus cairan langsung dipasang dan diberilan larutan garam fisiologis selama belum tersedia darah. sebagai tindadakan sterilisasi usus.o Penderita dipuasakan selama perdarahan masih berlangsung dan bila perdarahan berhenti dapat diberikan makanan cair. Pemeriksaan endoskopi dapat segera dilakukan setelah cairan aspirasi lambung sudah jernih. Dilakukan klisma atau lavemen dengan air biasa disertai pemberian antibiotika yang tidak diserap oleh usus. Transfusi darah diperlukan untuk menggati darah yang hilang dan mempertahankan kadar hemoglobin 50-70 % harga normal. dengan demikian diharapkan perdarahan varises dapat . Kumbah lambung ini akan dilakukan berulang kali memakai air sebanyak 100. karbasokrom (Adona AC). 3. Pemasangan pipa naso-gastrik Tujuan pemasangan pipa naso gastrik adalah untuk aspirasi cairan lambung.

6. Pemasangan balon SB Tube Dilakukan pemasangan balon SB tube untuk penderita perdarahan akibat pecahnya varises. maka dapat dipikirkan tindakan operasi . Perlu diingat bahwa pitresin dapat menrangsang otot polos sehingga dapat terjadi vasokontriksi koroner. karena itu harus berhati-hati dengan pemakaian obat tersebut terutama pada penderita penyakit jantung iskemik. . Tindakan operasi Bila usaha-usaha penanggulangan perdarahan diatas mengalami kegagalan dan perdarahan tetap berlangsung. Beberapa peneliti mendapatkan hasil yang baik dengan pemakaian SB tube ini dalam menanggulangi perdarahan saluran cerna bagian atas akibat pecahnya varises esofagus. Pemakaian bahan sklerotik Bahan sklerotik sodium morrhuate 5 % sebanyak 5 ml atau sotrdecol 3 % sebanyak 3 ml dengan bantuan fiberendoskop yang fleksibel disuntikan dipermukaan varises kemudian ditekan dengan balon SB tube. pintasan porto-kaval. Operasi efektif dianjurkan setelah 6 minggu perdarahan berhenti dan fungsi hari membaik. 5. obstruksi jalan napas tidak pernah dijumpai. sehingga penderita dapat diberitahu dan dijelaskan makna pemakaian alat tersebut. cara pemasangannya dan kemungkinan kerja ikutan yang dapat timbul pada waktu dan selama pemasangan. Sebaiknya pemasangan SB tube dilakukan sesudah penderita tenang dan kooperatif. Tindakan ini tidak memerlukan narkose umum dan dapat diulang beberapa kali. 4. Komplikasi pemasangan SB tube yang berat seperti laserasi dan ruptur esofagus. Karena itu perlu pemeriksaan elektrokardiogram dan anamnesis terhadap kemungkinan adanya penyakit jantung koroner/iskemik. transeksi esofagus. Tindakan operasi yang basa dilakukan adalah : ligasi varises esofagus.berhenti. Cara pengobatan ini sudah mulai populer dan merupakan salah satu pengobatan yang baru dalam menanggulangi perdarahan saluran cerna bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus.

kadar Hb. tekanan darah selama perawatan.terganggu sehingga setiap perdarahan baik besar maupun kecil mengakibatkan kegagalan hati yang berat. .2. keadaan hati. seperti ikterus.6. Mengingat tingginya angka kematian dan sukarnya dalam menanggulangi perdarahan sakuran cerna bagian atas maka perlu dipertimbangkan tindakan yang bersifat preventif terutama untuk mencegah terjadinya sirosis hati. Prognosis Pada umumnya penderita dengan perdarahan saluran cerna bagian atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus mempunyai faal hati yang buruk/. terjadi/tidaknya perdarahan ulang. Hasil penelitian Hernomo menunjukan bahwa angka kematian penderita dengan perdarahan saluran cerna bagian atas dipengaruhi oleh faktor kadar Hb waktu dirawat. encefalopati dan golongan menurut kriteria Child. dan lain-lain. Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis penderita seperti faktor umur.