Anda di halaman 1dari 187

CULTURE SHOCK DALAM INTERAKSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA MAHASISWA ASAL MALAYSIA DI MEDAN (Studi Kasus Pada Mahasiswa

Asal Malaysia Di Universitas Sumatera Utara)

SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Diajukan Oleh:

EMMA VIOLITA PINEM 070904064

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Asal Malaysia di Medan (Studi Kasus Pada Mahasiswa Asal Malaysia di Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui culture shock dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa Malaysia di Universitas Sumatera Utara, dalam hal ini juga mengenai reaksi dan upaya mengatasi culture shock tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang memusatkan diri secara intensif terhadap suatu objek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek penelitian adalah mahasiswa asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang masih aktif kuliah dan sudah menetap di Medan selama kurang lebih dua tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa asal Malaysia di Universitas Sumatera Utara memiliki kecenderungan culture shock tergolong sedang. Hal ini berarti mereka sudah bisa menyesuaikan diri, namun untuk beberapa informan masih mengalami beberapa masalah adaptasi seperti merasa diperlakukan berbeda dalam berinteraksi dengan penduduk lokal, tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan masih kurang nyaman dengan perbedaan budaya yang ada. Dalam hal terpaan dan upaya mengatasinya dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, asal fakultas dan lama menetap. Perempuan lebih tinggi culture shocknya dan cenderung lebih lambat dalam beradaptasi, sedangkan lakilaki lebih ringan terpaan culture shock dan lebih cepat dalam beradaptasi. Mahasiswa di Fakultas Kedokteran cenderung lebih berkelompok dan tidak akrab dengan mahasiswa Indonesia, sedangkan di Fakultas Kedokteran Gigi, mahasiswa Malaysia lebih berbaur dengan mahasiswa Indonesia, meskipun ada yang juga masih sering berkumpul dengan sesamanya, tetapi kedekatan dan intensitas interaksi dengan mahasiswa Indonesia baik untuk urusan kampus atau di luar kampus lebih sering terjadi pada mahasiswa asal Malaysia di Fakultas Kedokteran Gigi. Ini mempengaruhi proses adaptasi mereka. Selain itu, faktor lama menetap juga turut mempengaruhi. Mahasiswa yang lebih lama menetap di Medan memiliki penyesuaian yang lebih menyeluruh.

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAKSI .......................................................................................... KATA PENGANTAR ........................................................................... DAFTAR ISI .......................................................................................... DAFTAR TABEL ................................................................................. BAB I I.1 I.2 I.3 I.4 I.5 I.6 I.7 I.8 I.9 BAB II II.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah ................................................... Perumusan Masalah .......................................................... Pembatasan Masalah ......................................................... Tujuan Penelitian .............................................................. Manfaat Penelitian ............................................................ Kerangka Teori ................................................................. Kerangka Konsep ............................................................. Operasionalisasi Konsep ................................................... Definisi Operasional ......................................................... URAIAN TEORITIS Komunikasi Antarbudaya ................................................. II.1.1) Sejarah Komunikasi Antarbudaya ........................ II.1.2) Definisi Komunikasi Antarbudaya ....................... II.1.3) Efektivitas Komunikasi Antarbudaya ................... Bahasa Verbal dan Bahasa Non Verbal ............................ II.2.1) Bahasa Verbal ....................................................... II.2.2) Bahasa Non Verbal................................................ II.2.3) Bahasa Verbal dan Non Verbal dalam Proses Komunikasi Antarbudaya ................................................. Akulturasi .......................................................................... II.3.1) Definisi Akulturasi ................................................ II.3.2) Komunikasi dan Akulturasi ................................... II.3.3) Variabel-variabel Komunikasi ............................... II.3.4) Culture Shock ......................................................... Teori Interaksionisme Simbolik ........................................ II.4.1) Definisi Teori Interaksionisme Simbolik ............... METODOLOGI PENELITIAN Deskripsi Lokasi Penelitian ............................................... III.1.1) Universitas Sumatera Utara ................................... III.1.2) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.. III.1.3) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara ......................................................

i ii vi ix

1 5 6 7 7 8 16 16 18

II.2

20 20 22 24 28 28 29 31 33 33 33 36 38 42 42

II.3

II.4 BAB III III.1

46 46 49 53

III.2

Metodologi Penelitian ...................................................... III.2.1) Metode Kualitatif ................................................. III.2.2) Studi Kasus .......................................................... III.2.3) Lokasi Penelitian .................................................. III.2.4) Subjek Penelitian .................................................. III.2.5) Teknik Pengumpulan Data ................................... III.2.6) Teknik Analisis Data ............................................ HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan dan Wawancara ................................. Pembahasan ...................................................................... PENUTUP Kesimpulan ...................................................................... Saran ................................................................................

58 58 59 62 63 65 66

BAB IV IV.1 IV.2 BAB V V.1 V.2

68 136

149 151 153

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Konsep Operasional dan Operasionalisasi Konsep ............. 2 Jumlah Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU ............... 3 Data Mahasiswa Asal Malaysia yang Menjadi Informan ...

Halaman 17

64 71

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Masalah Komunikasi layaknya nafas kehidupan manusia. Kodratnya sebagai

makhluk sosial membuatnya senantiasa berinteraksi demi pemenuhan kebutuhan dan keberlangsungan hidup. Komunikasi juga menjadi aspek yang paling penting dan sangat mendasar dalam proses belajar manusia. Manusia dibesarkan, diasuh dan berkembang di suatu lingkungan dengan pola-pola budaya setempat, sehingga akhirnya manusia itu menjadi produk dari budaya tersebut. Pada dasarnya seseorang itu adalah gambaran dari budayanya, dimana budaya dirumuskan sebagai seperangkat aturan yang terorganisasikan mengenai cara-cara bagaimana individu dalam masyarakat harus berkomunikasi satu sama lain dan bagaimana cara mereka berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka. Pola-pola budaya ini pada gilirannya juga akan merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang dilakukan mereka yang lahir dan diasuh dalam budaya tersebut. Manusia selama hidupnya mengalami proses sosialisasi dan pendidikan, dalam proses itu individu senantiasa memperoleh aturan-aturan (budaya) komunikasi, hingga akhirnya pola-pola budaya tersebut ditanamkan ke dalam sistem saraf dan menjadi kepribadian dan perilaku individu tersebut. Proses memperoleh pola-pola demikian oleh individu disebut dengan enkulturasi.

Melalui proses enkulturasi, pola budaya diinternalisasikan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari individu tersebut. Hasil internalisasi ini membuat individu mudah berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola budaya yang serupa. Lalu apa yang akan terjadi bila seseorang yang lahir dan terenkulturasi dalam suatu budaya tertentu memasuki suatu budaya lain? Segala bentuk lambang-lambang verbal dan non verbal dan aturan-aturan yang telah dipelajari individu dalam lingkungan budayanya mungkin akan lenyap dan tidak berfungsi lagi dalam lingkungan budaya baru yang ia masuki. Individu/kelompok yang memasuki budaya baru akan mengalami proses enkulturasi yang kedua, yang disebut dengan proses akulturasi. Akulturasi merupakan suatu proses menyesuaikan diri dengan budaya baru, dimana sesuatu nilai masuk ke dalam diri individu tanpa meninggalkan identitas budaya yang lama (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 139). Mayoritas individu tinggal dalam lingkungan yang familiar, tempat dimana individu tumbuh dan berkembang. Orang-orang yang ditemui di lingkungan individu pada saat bekerja, sekolah ataupun bermain cenderung memiliki kesamaan dalam hal latar belakang etnik, kepercayaan atau agama, nilai, bahasa atau setidaknya memiliki dialek yang sama. Ketika manusia memasuki suatu dunia baru dengan segala sesuatu yang terasa asing, maka berbagai kecemasan dan ketidaknyamanan pun akan terjadi. Salah satu kecemasan yang terbesar adalah mengenai bagaimana harus berkomunikasi. Sangat wajar apabila

seseorang yang masuk dalam lingkungan budaya baru mengalami kesulitan bahkan tekanan mental karena telah terbiasa dengan hal-hal yang ada di sekelilingnya. Ketika kita masuk dan mengalami kontak dengan budaya lain serta merasakan ketidaknyamanan psikis dan fisik karena kontak tersebut, maka keadaan ini disebut gegar budaya atau culture shock. Culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang yang familiar dalam hubungan sosial. Tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk itu meliputi seribu satu cara yang kita lakukan dalam mengendalikan diri kita sendiri dalam menghadapi situasi sehari-sehari (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 174). Manusia dalam hidupnya pasti akan menghadapi peristiwa kebudayaan dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda yang turut dibawa serta dalam melangsungkan komunikasi. Individu yang memasuki lingkungan baru berarti melakukan kontak antarbudaya. Individu tersebut juga akan berhadapan dengan orang-orang dalam lingkungan baru yang ia kunjungi, maka komunikasi antarbudaya menjadi tidak terelakkan. Usaha untuk menjalin komunikasi antarbudaya dalam praktiknya bukanlah persoalan yang sederhana. Kita harus menyandi pesan dan menyandi balik pesan dengan cara tertentu sehingga pesanpesan tersebut akan dikenali, diterima dan direspon oleh individu-individu yang berinteraksi dengan kita. Mahasiswa asal Malaysia adalah contoh dari kasus memasuki suatu lingkungan budaya baru. Mereka meninggalkan negara asalnya untuk suatu tujuan, yakni menuntut pendidikan di Universitas Sumatera Utara. Dengan latar belakang budaya yang sudah melekat pada diri mereka, termasuk tata cara

komunikasi yang telah terekam secara baik di saraf individu dan tak terpisahkan dari pribadi individu tersebut, kemudian diharuskan memasuki suatu lingkungan baru dengan variasi latar belakang budaya yang tentunya jauh berbeda membuat mereka menjadi orang asing di lingkungan itu. Dalam kondisi seperti ini, maka akan terjadi culture shock. Meskipun Indonesia dan Malaysia berada dalam satu rumpun, tetapi perlu dipahami bahwa perbedaan-perbedaan budaya itu pasti ada. Hal ini dapat dilihat dari seringnya konflik yang terjadi di antara kedua negara. Kondisi ini membuktikan bahwa kesatuan itu seutuhnya belum ada. Peneliti juga mengamati kondisi mahasiswa Malaysia di Fakultas Kedokteran USU, khususnya yang masih tampak berkelompok. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, mengapa hal ini terjadi? Apakah untuk menanggulangi keterkejutan budaya yang mereka alami? Hal itu pula yang akan peneliti cari tahu melalui penelitian ini. Peneliti memilih USU karena USU merupakan universitas di Kota Medan dengan jumlah mahasiswa asal Malaysia terbanyak. Mahasiswa Malaysia ini secara mayoritas tersebar di dua fakultas, yakni Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Hal ini dikarenakan Kementerian Pendidikan Tinggi di Malaysia baru hanya mengakui dua program studi ini dari 50 program studi yang dimiliki USU, menyusul untuk program studi lainnya, seperti Psikologi dan Farmasi yang tinggal meminta persetujuan Kementerian Pendidikan Tinggi di Malaysia. (http://www.antarasumut.com/pendidikan/usu-terima-40-mahasiswa-

baru-asal-malaysia/). Peneliti ingin melihat bagaimana culture shock yang mereka alami ketika memasuki lingkungan baru dan upaya dalam mengatasinya. Perbedaan antara budaya yang dikenal individu dengan budaya asing dapat menyebabkan individu sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru,

demikian halnya dengan mahasiswa asal Malaysia ini. Bagaimana fenomena yang akan mereka alami ketika keluar dari suatu budaya ke budaya lain sebagai reaksi ketika berpindah dan hidup dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka serta bagaimana upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi culture shock yang dirasakan menuju suatu adaptasi yang baik dan komunikasi antarbudaya yang efektif. Banyak hal yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri , seperti variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi, yakni faktor personal

(intrapersona), seperti karakteristik personal, motivasi individu, pengetahuan individu dan pengalaman sebelumnya, selain itu juga dipengaruhi oleh keterampilan (kecakapan) komunikasi individu dalam komunikasi sosial (antarpersonal) serta suasana lingkungan komunikasi budaya baru tersebut (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 141-144). Manusia yang memasuki suatu lingkungan baru mungkin akan menghadapi banyak hal yang berbeda seperti cara berpakaian, cuaca, makanan, bahasa, orang-orang, sekolah dan nilai-nilai yang berbeda. Tetapi ternyata budaya tidak hanya meliputi cara berpakaian maupun bahasa yang digunakan, namun budaya juga meliputi etika, nilai, konsep keadilan, perilaku, hubungan pria wanita, konsep kebersihan, gaya belajar, gaya hidup, motivasi bekerja, ketertiban lalulintas, kebiasaan dan sebagainya (Mulyana, 2005: 97). Namun dalam penelitian ini, peneliti membatasi culture shock dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa asal Malaysia di Medan, dalam hal ini mahasiswa asal Malaysia yang belajar di USU.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Asal Malaysia di Medan.

I.2

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka

dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut: a. Bagaimana bentuk culture shock yang dialami dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa asal Malaysia di USU? b. Bagaimana upaya yang dilakukan mahasiswa asal Malaysia dalam mengatasi culture shock yang dialami?

I.3

Pembatasan Masalah Agar ruang lingkup penelitian menjadi lebih jelas, terarah dan tidak terlalu

luas maka dilakukan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Penelitian bersifat studi kasus, yakni peneliti akan mengkaji secara mendalam culture shock yang dialami mahasiswa asal Malaysia di USU dan upaya mengatasinya. 2. Subjek penelitian adalah mahasiswa asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU, karena mayoritas

mahasiswa asal Malaysia di USU menempuh pendidikan di dua fakultas ini. Subjek penelitian juga dibatasi pada mahasiswa asal Malaysia yang telah tinggal di Medan selama kurang lebih dua tahun. Pembatasan ini dibuat agar bukan hanya gambaran culture shock saja yang dapat dilihat tetapi juga upaya dalam mengatasinya. 3. Analisis culture shock yang diteliti hanya dalam sorotan interaksi komunikasi antarbudaya.

I.4

Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui culture shock yang dialami mahasiswa asal Malaysia di USU. 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui reaksi culture shock pada mahasiswa asal Malaysia di USU. 3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam mengatasi culture shock pada mahasiswa asal Malaysia di USU demi penyesuaian dengan lingkungan baru.

I.5

Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat melengkapi dan memperkaya khasanah penelitian tentang komunikasi antarbudaya, khususnya culture shock.

2.

Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memperluas dan memperkaya khasanah mengenai culture shock dan penelitian kualitatif dalam bidang ilmu komunikasi, mengingat sangat sedikit penelitian yang meneliti mengenai culture shock di departemen Ilmu Komunikasi USU.

3.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bersama dalam memahami konteks komunikasi antarbudaya yang terjadi di sekitar kita dan masukan dan pembelajaran bagi mahasiswa yang mengalami culture shock sebagai reaksi memasuki budaya baru.

I.6

Kerangka Teori Menurut Nawawi (1995: 41) sebelum melakukan sebuah penelitian lebih

lanjut, seorang peneliti perlu menyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari segi mana peneliti menyoroti masalah yang telah dipilih. Adapun kerangka teori yang relevan dengan penelitian ini adalah Teori Komunikasi Antarbudaya, Bahasa Verbal dan Nonverbal, Akulturasi dan Teori Interaksionisme Simbolik.

I.6.1) Komunikasi Antarbudaya Menurut Samovar dan Porter (dalam Liliweri, 2004: 10), komunikasi antarbudaya terjadi di antara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. Sedangkan menurut Charley H. Dood, komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta

komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi dan kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. Komunikasi antarbudaya lebih menekankan aspek utama yakni

antarpribadi di antara komunikator dan komunikan yang kebudayaannya berbeda. Jika kita berbicara tentang komunikasi antarpribadi, maka yang dimaksud adalah dua atau lebih orang terlibat dalam komunikasi verbal atau non verbal secara langsung. Apabila kita menambahkan dimensi perbedaan kebudayaan ke dalamnya, maka kita berbicara tentang komunikasi antarbudaya. Maka seringkali dikatakan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi antarpribadi dengan perhatian khusus pada faktor-faktor kebudayaan yang mempengaruhinya. Dalam keadaan demikian, kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi di mana suatu pesan disandi dalam suatu budaya dan harus disandi balik dalam budaya lain. Budaya mempengaruhi orang yang berkomunikasi. Budaya bertanggung jawab atas seluruh perbendaharaan perilaku komunikatif dan makna yang dimiliki setiap orang. Konsekuensinya, perbendaharaan-perbendaharaan yang dimiliki dua

orang yang berbeda budaya akan pula berbeda yang dapat menimbulkan berbagai macam kesulitan (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 19). Menurut Kim (dalam Rahardjo, 2005: 53), asumsi yang mendasari batasan tentang komunikasi antarbudaya di atas adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan atau homogenitas dalam keseluruhan latar belakang pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda. Perbedaan-perbedaan kultural bersama-sama dengan perbedaan lain dalam diri orang (seperti kepribadian individu, umur dan penampilan fisik) memberi kontribusi kepada sifat problematik yang melekat dalam proses komunikasi antarmanusia. Studi ini juga memberi penekanan kepada perbedaan-perbedaan kultural yang sesungguhnya maupun perbedaan-perbedaan kultural yang dipersepsikan antara pihak-pihak yang berkomunikasi, maka komunikasi antarbudaya menjadi sebuah perluasan bagi studi komunikasi antarpribadi, komunikasi organisasi dan kawasan-kawasan studi komunikasi antarmanusia lainnya. Berdasarkan pemikiran itu, maka komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para partisipan yang berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan kultural antara pihak-pihak yang terlibat, maka karakteristik-karakteristik kultural dari partisipan bukan merupakan fokus studi. Titik perhatian dari komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok (Rahardjo, 2005: 54).

Komunikasi antarbudaya memiliki dua fungsi utama, yakni fungsi pribadi dan fungsi sosial. Fungsi pribadi dirinci ke dalam fungsi menyatakan identitas sosial, fungsi integrasi sosial, menambah pengetahuan (kognitif) dan fungsi melepaskan diri/jalan keluar. Sedangkan fungsi sosial meliputi fungsi

pengawasan, fungsi menjembatani/menghubungkan, fungsi sosialisasi dan fungsi menghibur (Liliweri, 2004: 35). Dalam komunikasi antarbudaya terdapat beberapa masalah potensial, yaitu pencarian kesamaan, penarikan diri, kecemasan, pengurangan ketidakpastian, stereotip, prasangka, rasisme, kekuasaan, etnosentrisme dan culture shock (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 316). Masalah-masalah tersebut yang sering sekali membuat aktivitas komunikasi antarbudaya tidak berjalan efektif. Schramm mengemukakan komunikasi antarbudaya yang benar-benar efektif harus memperhatikan empat syarat, yaitu: 1. Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia 2. Menghormati budaya lain sebagaimana sebagaimana yang kita kehendaki apa adanya dan bukan

3. Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak 4. Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain (Liliweri, 2001: 171) Sedangkan menurut De Vito, efektivitas komunikasi antarbudaya ditentukan oleh sejauhmana seseorang mempunyai sikap: (1) keterbukaan; (2) empati; (3) merasa positif; (4) memberi dukungan, dan (5) merasa seimbang; terhadap makna pesan yang sama dalam komunikasi antarbudaya atau antaretnik (Liliweri, 2001: 172). I.6.2) Bahasa Verbal dan Nonverbal

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Bahasa juga dapat dianggap sebagai suatu sistem kode verbal. Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Proses-proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana kita berbicara dengan orang lain namun juga kegiatan-kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata-kata yang kita gunakan. Menurut Ray L. Birdwhistell, 65% dari komunikasi tatap muka adalah nonverbal. Ini menunjukkan bahasa nonverbal sangat penting dalam suatu aktivitas komunikasi. Proses-proses nonverbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Fungsi-fungsi bahasa nonverbal antara lain: Repetisi, Komplemen, Substitusi, Regulasi dan Kontradiksi (Mulyana, 2005: 316). Menurut Samovar, pesan-pesan nonverbal dibagi menjadi dua kategori besar, yakni: pertama, perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan dan parabahasa; kedua, ruang, waktu dan diam. Bahasa verbal dan nonverbal tidak dapat terpisahkan dengan konteks budaya. Penggunaan dan gaya bahasa mencerminkan kepribadian budaya seseorang, demikian juga dengan komunikasi nonverbal sering kali menunjukkan ciri-ciri budaya dasar (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 168 dan 201). I.6.3) Akulturasi

Di dalam ilmu sosial dipahami bahwa akulturasi merupakan proses pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda yang diikuti dengan percampuran unsur-unsur tersebut, namun perbedaan di antara unsur-unsur asing dengan yang asli masih tampak. Akulturasi merupakan suatu proses dimana imigran menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi. Proses komunikasi mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 139). Proses akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan

berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. Komunikasi berperan penting dalam proses akulturasi. Variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi, antara lain: komunikasi persona; yang meliputi karakteristik personal, motivasi individu, pengetahuan individu tentang budaya baru, pengalaman sebelumnya; komunikasi sosial yang meliputi komunikasi antarpersonal (verbal dan nonverbal); serta lingkungan komunikasi (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 140). Secara psikologis, dampak dari akulturasi adalah stress pada individu-individu yang berinteraksi dalam pertemuan-pertemuan kultur tersebut. Fenomena ini diistilahkan dengan kejutan budaya (culture shock). Culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 335).

Pembahasan tentang masalah culture shock juga perlu memahami tentang perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dan seseorang yang memutuskan untuk tinggal secara permanen (settlers). Ada perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dengan orang yang mengambil tempat tinggal tetap, misalnya di suatu negara (settler). Seperti yang dikatakan oleh Bochner (dalam Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 334), perhatian mereka terhadap pengalaman kontak dengan budaya lain berbeda, maka reaksi mereka pun berbeda. Reaksi terhadap culture shock bervariasi antara individu yang satu dengan individu lainnya dan dapat muncul pada waktu yang berbeda. Rekasi-reaksi yang mungkin terjadi, antara lain:

1. antagonis/ memusuhi terhadap lingkungan baru. 2. rasa kehilangan arah 3. rasa penolakan 4. gangguan lambung dan sakit kepala 5. homesick / rindu pada rumah/ lingkungan lama

6. rindu pada teman dan keluarga 7. merasa kehilangan status dan pengaruh 8. menarik diri 9. menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah tidak peka (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 335) Meskipun ada berbagai variasi reaksi terhadap culture shock dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri, sebagian besar literatur menyatakan bahwa orang biasanya melewati empat tingkatan culture shock. Keempat

tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva U, sehingga disebut U-curve (dalam Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 336). 1. Fase Optimistik (Optimistic Phase), fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru. 2. Fase Masalah Kultural (Cultural Problems), fase kedua di mana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam culture shock. 3. Fase Kesembuhan (Recovery Phase), fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. 4. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase), fase terakhir dimana orang telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, khusus, keyakinan dan pola komunikasi).

I.6.4) Teori Interaksionisme Simbolik Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung perspektif yang lebih besar lagi, yakni perspektif fenomenologis atau perspektif interpretif. Secara konseptual, fenomenologi merupakan studi tentang

pengetahuan yang berasal dari kesadaran atau cara kita sampai pada pemahaman tentang objek-objek atau kejadian-kejadian yang secara sadar kita alami. Fenomenologi melihat objek-objek dan peristiwa-peristiwa dari perspektif

seseorang sebagai perceiver. Sebuah fenomena adalah penampakan sebuah objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi individu (Rahardjo, 2005: 44). Interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. Bagi perspektif ini, individu itu bukanlah sesorang yang bersifat pasif, yang keseluruhan perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur-struktur lain yang ada di luar dirinya, melainkan bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide tentang individu dan interaksinya dengan masyarakat. Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendiri yang menentukan perilaku manusia. (Mulyana, 2001: 68). Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara ringkas, interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama, individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang terdapat dalam komponenkomponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua, makna adalah produk

interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. I.7 Kerangka Konsep Konsep merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama (Bungin, 2005: 73). Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah: I.8 Culture shock dalam interaksi komunikasi antarbudaya Operasionalisasi Konsep Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas, maka agar konsep operasional tersebut dapat membentuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, maka dioperasionalkan sebagai berikut: Tabel 1 Konsep Operasional dan Operasionalisasi Konsep Konsep Operasional Culture shock Operasionalisasi Konsep A. Faktor-faktor yang mempengaruhi culture shock sesuai dengan variabelvariabel komunikasi dalam akulturasi : 1. Komunikasi Persona/faktor intrapersonal, meliputi: a. b. c. d. Karakteristik personal Motivasi individu Pengetahuan individu Pengalaman sebelumnya Sosial, yakni

2. Komunikasi

komunikasi antarpersona baik verbal maupun non verbal. 3. Lingkungan komunikasi B. Tingkatan culture shock: 1. Fase Optimistik (Optimistic Phase) 2. Fase Masalah Kultural (Cultural Problems) 3. Fase Kesembuhan (Recovery Phase) 4. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase) Karakteristik Informan 1. Usia 2. Jenis Kelamin 3. Asal Fakultas 4. Lama menetap

I.9

Definisi Operasional A. Faktor-faktor yang mempengaruhi culture shock: 1. Komunikasi Persona/Faktor intrapersonal: a. Karakteristik personal, watak dan kepribadian mahasiswa asal Malaysia. b. Motivasi individu, kehendak, kemauan, kebutuhan dan dorongan mahasiswa asal Malaysia untuk belajar tentang dan berpartisipasi serta terlibat komunikasi antarbudaya dengan orang-orang Medan. c. Pengetahuan individu, pengetahuan (kemampuan kognitif) tentang budaya dan pola-pola dan aturan sistem komunikasi budaya baru, yaitu Medan.

d.

Pengalaman sebelumnya, ada tidaknya pengalaman terdahulu dari mahasiswa asal Malaysia tentang Medan.

2. Komunikasi Sosial, yakni komunikasi antarpersona mahasiswa asal Malaysia dengan orang-orang Medan. 3. Lingkungan, suasana lingkungan kota Medan, khususnya USU.

B. Tingkatan culture shock: 1. Fase optimistik (Optimistic Phase), fase berisi kegembiraan, rasa penuh harapan, dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru. Dalam penelitian ini, fase optimistik adalah fase dimana mahasiswa asal Malaysia di USU merasa sangat antusias akan memasuki budaya baru. 2. Masalah Kultural (Cultural Problems), fase kedua di mana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang. Mahasiswa asal Malaysia mengalami gegar budaya ketika memasuki lingkungan baru. 3. Fase Kesembuhan (Recovery Phase), fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Mahasiswa asal Malaysia mulai mengenal budaya baru yang dimasukinya. 4. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase), fase terakhir dimana mahasiswa asal Malaysia telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya.

Karakteristik Informan: 1. Usia: umur dari informan 2. Jenis kelamin: laki laki atau perempuan 3. Asal fakultas: Fakultas Kedokteran atau Fakultas Kedokteran Gigi 4. Lama menetap: lama informan menetap di Medan.

BAB II URAIAN TEORITIS

II.1

Komunikasi Antarbudaya

II.1.1) Sejarah Komunikasi Antarbudaya Tema tentang komunikasi bukanlah suatu hal baru, namun akan menjadi lebih menarik setelah dihubungkan dengan konsep antarbudaya. Istilah antarbudaya pertama kali diperkenalkan oleh seorang antropolog, Edward T. Hall pada tahun 1959 dalam bukunya The Silent Language. Hakikat perbedaan antarbudaya dalam proses komunikasi dijelaskan satu tahun setelahnya, oleh David K. Berlo melalui bukunya The Process of Communication (an introduction to theory and practice). Dalam tulisan itu Berlo menawarkan sebuah model proses komunikasi. Menurutnya, komunikasi akan berhasil jika manusia memperhatikan faktor-faktor SMCR, yaitu: source, messages, channel, receiver (Liliweri, 2001: 1). Semua tindakan komunikasi itu berasal dari konsep kebudayaan. Berlo berasumsi bahwa kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya untuk

melaksanakan tindakan itu. Berarti kontribusi latar belakang kebudayaan sangat penting terhadap perilaku komunikasi seseorang termasuk memahami makna-

makna yang dipersepsi terhadap tindakan komunikasi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2001: 2). Rumusan objek formal komunikasi antarbudaya baru dipikirkan pada tahun 1970-1980-an. Pada saat yang sama, para ahli ilmu sosial sedang sibuk membahas komunikasi internasional yang disponsori oleh Speech Communication Association, sebuah komisi yang merupakan bagian Asosiasi Komunikasi Internasional dan Antarbudaya yang berpusat di Amerika Serikat. Annual tentang komunikasi antarbudaya yang disponsori oleh badan itu terbit pertama kali pada 1974 oleh Fred Casmir dalam The International and Intercultural Communication Annual. Kemudian Dan Landis menguatkan konsep komunikasi antarbudaya dalam International Journal of Intercultural Relations pada tahun 1977. Tahun 1979, Molefi Asante, Cecil Blake dan Eileen Newmark menerbitkan sebuah buku yang khusus membicarakan komunikasi antarbudaya, yakni The Handbook of Intercultural Communication. Sejak saat itu banyak ahli mulai melakukan studi tentang komunikasi antarbudaya. Selanjutnya, 1983 lahir International and Intercultural Communication Annual yang dalam setiap volumenya mulai menempatkan rubrik khusus untuk menampung tulisan tentang komunikasi antarbudaya. Tema pertama tentang Teori Komunikasi

Antarbudaya diluncurkan tahun 1983 oleh Gundykunst. Edisi lain tentang komunikasi, kebudayaan, proses kerja sama antarbudaya ditulis pula oleh Gundykunst, Stewart dan Ting Toomey tahun 1985, komunikasi antaretnik oleh Kim tahun 1986, adaptasi lintasbudaya oleh Kim dan Gundykunst tahun 1988,

dan terakhir komunikasi/bahasa dan kebudayaan oleh Ting Toomey & Korzenny tahun 1988 (Liliweri, 2001: 3).

II.1.2) Definisi Komunikasi Antarbudaya Ada dua konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya (interculture communication), yaitu konsep kebudayaan dan konsep komunikasi. Hubungan antara keduanya sangat kompleks. Budaya mempengaruhi komunikasi dan pada gilirannya komunikasi turut menentukan, menciptakan dan memelihara realitas budaya dari sebuah komunitas/kelompok budaya (Martin dan Thomas, 2007: 92). Dengan kata lain, komunikasi dan budaya ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa dan bagaimana komunikasi berlangsung, tetapi budaya juga turut menentukan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh

perbendaharaan perilaku manusia sangat bergantung pada budaya tempat manusia tersebut dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 20). Dengan memahami kedua konsep utama itu, maka studi komunikasi antarbudaya dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi. Adapun beberapa definisi komunikasi antarbudaya, sebagai berikut:

1. Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa dalam buku Larry A. Samovar dan Richard E. Porter Intercultural Communication, A Reader komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antarsuku bangsa, antaretnik dan ras, antarkelas sosial.

2. Samovar dan Porter juga mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi di antara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. 3. Charley H. Dood mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi dan kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. 4. Guo-Ming Chen dan William J. Starosta mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok (Liliweri, 2004: 10-11). Young Yun Kim mengatakan, tidak seperti studi-studi komunikasi lain, hal yang terpenting dari komunikasi antarbudaya yang membedakannya dari kajian keilmuan lainnya adalah tingkat perbedaan yang relatif tinggi pada latar belakang pengalaman pihak-pihak yang berkomunikasi (the communications) karena adanya perbedaan-perbedaan kultural. Dalam perkembangannya, komunikasi antarbudaya dipahami sebagai proses transaksional, proses simbolik yang melibatkan atribusi makna antara individu-individu dari budaya yang berbeda. Sedangkan Tim-Toomey menjelaskan komunikasi antarbudaya sebagai proses pertukaran simbolik dimana individu-individu dari dua (atau lebih) komunitas kultural yang berbeda menegosiasikan makna yang dipertukarkan dalam sebuah interaksi yang interaktif. Menurut Kim, asumsi yang mendasari batasan tentang komunikasi antarbudaya adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan atau homogenitas dalam keseluruhan

latar belakang pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda (Rahardjo, 2005: 53). Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya, maka ada beberapa asumsi, yaitu: 1. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan 2. Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi 3. Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi 4. Komunikasi antarbudaya ketidakpastian bertujuan mengurangi tingkat

5. Komunikasi berpusat pada kebudayaan 6. Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2004: 15)

II.1.3) Efektivitas Komunikasi Antarbudaya Komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para partisipan yang berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaanperbedaan kultural antara pihak-pihak yang terlibat, maka karakteristikkarakteristik kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus studi dari komunikasi antarbudaya, melainkan proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok (Rahardjo, 2005: 54). Sebagaimana sebuah aktivitas komunikasi yang efektif apabila terdapat persamaan makna pesan antara komunikator dan komunikan, demikian halnya

dengan komunikasi antarbudaya. Tetapi hal ini menjadi lebih sulit mengingat adanya unsur perbedaan kebudayaan antara pelaku-pelaku komunikasinya. Itulah sebabnya, usaha untuk menjalin komunikasi antarbudaya dalam praktiknya bukanlah merupakan suatu persoalan yang sederhana. Terdapat banyak masalahmasalah potensial yang sering terjadi di dalamnya, seperti pencarian kesamaan, penarikan diri, kecemasan, pengurangan ketidakpastian, stereotip, prasangka, rasisme, kekuasaan, etnosentrisme dan culture shock (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 316). Sedangkan Lewis dan Slade menguraikan tiga kawasan yang paling problematik dalam lingkup pertukaran antarbudaya, yaitu kendala bahasa, perbedaan nilai dan perbedaan pola perilaku kultural. Kendala bahasa merupakan sesuatu yang tampak, namun hambatan tersebut lebih mudah untuk ditanggulangi, karena bahasa dapat dipelajari, sedangkan dua hambatan lainnya, yaitu perbedaan nilai dan perbedaan pola-pola perilaku kultural terasa lebih sulit untuk ditanggulangi. Menurut Lewis dan Slade, perbedaan nilai merupakan hambatan yang serius terhadap munculnya kesalahpahaman budaya, sebab ketika dua orang yang berasal dari kultur yang berbeda melakukan interaksi, maka perbedaanperbedaan tersebut akan menghalangi pencapaian kesepakatan yang rasional tentang isu-isu penting. Mengenai kesalahpahaman antarkultural dikarenakan perbedaan pola-pola perilaku kultural lebih diakibatkan oleh ketidakmampuan masing-masing kelompok budaya untuk memberi apresiasi terhadap kebiasaankebiasaan yang dilakukan oleh setiap kelompok budaya tersebut. Usaha untuk mencapai komunikasi antarbudaya yang efektif, di samping dihadapkan pada ketiga hal tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor penghambat, yaitu etnosentrisme, stereotip dan prasangka. Etnosentrisme

merupakan tingkatan dimana individu-individu menilai budaya orang lain sebagai inferior terhadap budaya mereka. Prasangka merupakan sikap yang kaku terhadap suatu kelompok yang didasarkan pada keyakinan atau pra konsepsi yang keliru, juga dapat dipahami sebagai penilaian yang tidak didasari oleh pengetahuan dan pengujian terhadap informasi yang tersedia. Sedangkan stereotip merupakan generalisasi tentang beberapa kelompok orang yang sangat menyederhanakan realitas (Rahardjo, 2005: 54-56). Sarbaugh mengemukakan tiga prinsip penting dalam komunikasi antarbudaya. Pertama, suatu sistem sandi bersama yang tentu saja terdiri dari dua aspek (verbal dan non verbal). Tanpa suatu sistem bersama, komunikasi akan menjadi tidak mungkin. Terdapat berbagai tingkat perbedaan, namun semakin sedikit persamaan sandi itu, semakin sedikit komunikasi yang mungkin terjadi. Kedua, kepercayaan dan perilaku yang berlainan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi merupakan landasan bagi asumsi-asumsi berbeda untuk

memberikan respons. Sebenarnya kepercayaan-kepercayaan dan perilaku-perilaku kita mempengaruhi persepsi kita tentang apa yang dilakukan orang lain. Maka dua orang yang berbeda budaya dapat dengan mudah memberi makna yang berbeda kepada perilaku yang sama. Bila ini terjadi, kedua orang itu berperilaku secara berbeda tanpa dapat meramalkan respon pihak lainnya, padahal kemampuan meramalkan ini merupakan bagian integral dari kemampuan berkomunikasi secara efektif. Ketiga, tingkat mengetahui dan menerima kepercayaan dan perilaku orang lain. Cara kita menilai budaya lain dengan nilai-nilai budaya kita sendiri dan menolak mempertimbangkan norma-norma budaya lain akan menentukan keefektifan komunikasi yang akan terjadi (Tubbs dan Moss, 2005: 240).

Komunikasi antarbudaya yang benar-benar efektif menurut Schramm harus memperhatikan empat syarat, yaitu: 5. Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia 6. Menghormati budaya lain sebagaimana sebagaimana yang kita kehendaki apa adanya dan bukan

7. Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak 8. Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain (Liliweri, 2001: 171) Sedangkan De Vito mengemukakan konsepnya tentang efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh sejauhmana seseorang mempunyai sikap: (1) keterbukaan; (2) empati; (3) merasa positif; (4) memberi dukungan; dan (5) merasa seimbang; terhadap makna pesan yang sama dalam komunikasi antarbudaya. Sikap keterbukaan yang dimaksud De Vito, meliputi: (1) sikap seseorang komunikator yang membuka semua informasi tentang pribadinya kepada komunikan, sebaliknya menerima semua informasi yang relevan tentang dan dari komunikan dalam rangka interaksi antarpribadi; (2) kemauan seseorang sebagai komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap pesan yang datang dari komunikan; dan (3) memikirkan dan merasakan bahwa apa yang dinyatakan seorang komunikator merupakan tanggung jawabnya terhadap komunikan dalam suasana situasi tertentu. Selanjutnya, perasaan empati ialah kemampuan seorang komunikator untuk menerima dan memahami orang lain seperti ia menerima dirinya sendiri; jadi ia berpikir, merasa, berbuat terhadap orang lain sebagaimana ia berpikir, merasa dan berbuat terhadap dirinya sendiri. Perasaan positif ialah perasaan seorang komunikator bahwa pribadinya, komunikannya, serta situasi yang melibatkan keduanya sangat mendukung. Memberi dukungan ialah suatu

situasi kondisi yang dialami komunikator dan komunikan terbebas atmosfir ancaman, tidak dikritik dan ditantang. Memelihara keseimbangan ialah suatu suasana yang adil antara komunikator dan komunikan dalam hal kesempatan yang sama untuk berpikir, merasa dan bertindak (Liliweri, 2001: 171-174). Pihak-pihak yang melakukan komunikasi antarbudaya harus mempunyai keinginan yang jujur dan tulus untuk berkomunikasi dan mengharapkan pengertian timbal balik. Asumsi ini memerlukan sikap-sikap yang positif dari para pelaku komunikasi antarbudaya dan penghilangan hubungan-hubungan superiorinferior yang berdasarkan keanggotaan dalam budaya-budaya, ras-ras atau kelompok-kelompok etnik tertentu (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 37). Komunikasi antarbudaya yang intensif dapat mengubah persepsi dan sikap orang lain bahkan dapat meningkatkan kreativitas manusia. Berbagai pengalaman atas kekeliruan dalam komunikasi antarbudaya sering membuat manusia makin berusaha mengubah kebiasaan berkomunikasi, paling tidak melalui pemahaman terhadap latar belakang budaya orang lain. Banyak masalah komunikasi antarbudaya seringkali timbul hanya karena orang kurang menyadari dan tidak mampu mengusahakan cara efektif dalam berkomunikasi antarbudaya (Liliweri, 2004: 254). Selain itu, seperti yang telah disebutkan Sarbaugh, bahwa dengan penggunaan sistem sandi yang sama, pengakuan atas perbedaan dalam kepercayaan dan perilaku, dan pemupukan sikap toleran terhadap kepercayaan dan perilaku orang lain, semuanya itu membantu terciptanya komunikasi yang efektif (Tubbs dan Moss, 2005: 242). II.2 Bahasa Verbal dan Non Verbal

II.2.1) Bahasa Verbal Bahasa menjadi alat utama yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Bahasa dapat juga dianggap sebagai suatu sistem kode verbal. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud yang ingin disampaikan. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Manusia menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, niat dan keinginan kepada orang lain. Kita belajar tentang orang-orang melalui apa yang mereka katakan dan bagaimana mereka mengatakannya, kita belajar tentang diri kita melalui cara-cara orang lain bereaksi terhadap apa yang kita katakan dan kita belajar tentang hubungan kita dengan orang lain melalui take and give dalam interaksi yang komunikatif (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 164). Menurut Ray L. Birdwhistell, porsi komunikasi verbal dalam komunikasi tatap muka manusia hanyalah 35%. Keadaan ini banyak tidak disadari oleh manusia itu sendiri, bahwa bahasa itu terbatas. Keterbatasan bahasa tersebut, menurut Deddy Mulyana, antara lain keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek, kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual, kata-kata mengandung bias budaya dan pencampuradukan fakta, penafsiran dan penilaian (Mulyana, 2005: 245-254).

II.2.2) Bahasa Nonverbal Manusia dipersepsikan tidak hanya melalui bahasa verbalnya, bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku nonverbalnya. Lewat perilaku nonverbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia sedang bahagia, bingung atau sedih. Kesan awal kita pada seseorang sering didasarkan pada perilaku nonverbalnya yang mendorong kita untuk mengenalnya lebih jauh. Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh bersifat nonverbal. Bahasa verbal dan nonverbal dalam kenyataannya jalin menjalin dalam suatu aktivitas komunikasi tatap muka. Keduanya dapat berlangsung spontan dan serempak. Dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi-fungsi berikut: 1. Fungsi Repetisi; perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal 2. Fungsi Komplemen; perilaku nonverbal memperteguh atau melengkapi perilaku verbal. 3. Fungsi Substitusi; perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal. 4. Fungsi Regulasi; perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. 5. Fungsi Kontradiksi; perilaku nonverbal dapat membantah bertentangan dengan perilaku verbal (Mulyana, 2005: 314). atau

Menurut Samovar, pesan-pesan nonverbal dibagi menjadi dua kategori besar, yakni: pertama, perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian, gerakan dan postur tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, sentuhan, bau-bauan dan parabahasa; kedua, ruang, waktu dan diam (Samovar, Porter dan Mc. Daniel 2007: 168)

II.2.3) Bahasa

Verbal

dan

Nonverbal

dalam

Proses

Komunikasi

Antarbudaya Pada dasarnya, bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas dari konteks budaya. Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. Dalam arti yang paling dasar, Rubin mengatakan, bahasa adalah satu set karakter atau elemen dan aturan yang digunakan dalam hubungan satu sama lain. Karakter atau elemen tersebut adalah simbol bahasa yang beragam secara budaya, mereka berbeda satu dengan yang lain. Tidak hanya kata-kata dan suara untuk simbol-simbol yang berbeda, namun juga aturan untuk menggunakan simbol-simbol dan suara-suara tersebut. Budaya memberi pengaruh yang sangat besar pada bahasa karena budaya tidak hanya mengajarkan simbol dan aturan untuk menggunakannya, tetapi yang lebih penting adalah makna yang terkait dengan simbol tersebut. Kata-kata bersifat ambigu, karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda yang menganut latarbelakang sosialbudaya yang berbeda pula. Oleh karena itu, terdapat berbagai kemungkinan untuk memaknai kata-kata tersebut. Kata-kata adalah abstraksi realitas yang tidak

mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakilkan dari kata-kata itu. Bila budaya disertakan sebagai variabel dalam proses abstraksi tersebut, masalahnya menjadi semakin rumit. Ketika

berkomunikasi dengan seseorang dari budaya yang sama, proses abstraksi untuk merepresentasikan pengalaman jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. Namun, bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda dan konsekuensinya proses abstraksi juga menyulitkan (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 169-170). Sebagaimana bahasa verbal yang tidak terlepas dari budaya, begitu pula dengan bahasa nonverbal. Perilaku nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. Oleh karena itu, posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan sangat dibutuhkan dalam interaksi komunikatif di antara orang dari budaya yang berbeda. Hubungan antara komunikasi verbal dengan kebudayaan jelas adanya, apabila diingat bahwa keduanya dipelajari, diwariskan dan melibatkan pengertianpengertian yang harus dimiliki bersama. Dilihat dari ini, dapat dimengerti mengapa komunikasi nonverbal dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Banyak perilaku nonverbal dipelajari secara kultural. Sebagaimana aspek verbal, komunikasi nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan, yaitu: kebudayaan menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan pemikiran, perasaan, keadaan tertentu dari komunikator dan kebudayaan menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk

mengkomunikasikan pemikiran, perassan, keadaan internal. Jadi, walaupun

perilaku-perilaku yang memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal, tetapi ada perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan bilamana, oleh siapa dan dimana emosi-emosi itu dapat diperlihatkan (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 201).

II.3

Akulturasi

II.3.1) Definisi Akulturasi Istilah akulturasi atau acculturation atau culture contact, adalah konsep mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri (Koentjaraningrat, 1990: 248). Di dalam ilmu sosial dipahami bahwa akulturasi merupakan proses pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda yang diikuti dengan percampuran unsur-unsur tersebut namun perbedaan di antara unsur-unsur asing dengan yang asli masih tampak. II.3.2) Komunikasi dan Akulturasi Manusia adalah makhluk sosio-budaya yang memperoleh perilakunya lewat belajar. Apa yang kita pelajari pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatankekuatan sosial dan budaya. Dari semua aspek belajar manusia, komunikasi

merupakan aspek yang terpenting dan paling mendasar. Kita belajar banyak hal lewat respon-respon komunikasi terhadap rangsangan dari lingkungan. Kita harus menyandi dan menyandi balik pesan-pesan sehingga pesan-pesan tersebut akan dikenali, diterima dan direspons oleh individu-individu yang berinteraksi dengan kita. Kegiatan-kegiatan komunikasi berfungsi sebagai alat untuk menafsirkan lingkungan fisik dan sosial kita (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 137) Budaya sebagai paduan pola-pola yang merefleksikan respon-respon komunikatif terhadap rangsangan dari lingkungan. Pola-pola budaya ini pada gilirannya merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang lahir dan diasuh dalam budaya itu. Budaya sebagai seperangkat aturan yang terorganisasi mengenai cara-cara dimana individu-individu dalam masyarakat harus berkomunikasi satu sama lain dan cara bagaimana mereka berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka. Proses individu-individu memperoleh aturan-aturan budaya komunikasi dimulai pada masa awal kehidupan manusia tersebut. Melalui proses sosialisasi dan pendidikan, pola-pola budaya ditanamkan ke dalam sistem saraf dan menjadi bagian kepribadian dan perilaku individu. Proses belajar yang terinternalisasikan ini memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola komunikasi serupa. Proses memperoleh pola-pola demikian oleh individu-individu itu disebut enkulturasi (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 138). Lalu apa yang akan terjadi bila seseorang yang lahir dan terenkulturasi dalam suatu budaya tertentu memasuki suatu budaya lain?

Banyaknya tata cara komunikasi yang telah diperoleh individu sejak masa kanak-kanak mungkin tidak berfungsi lagi dalam lingkungan barunya. Transaksitransaksi dalam kehidupan sehari-hari saja membutuhkan kemampuan

berkomunikasi yang menggunakan lambang-lambang dan aturan-aturan yang ada dalam sistem komunikasi masyarakat pribumi yang menjadi lingkungan barunya. Tidaklah mudah memahami perilaku-perilaku kehidupan yang sering tidak diharapkan dan tidak diketahui. Sebagai seorang anggota baru dalam budaya pribumi, imigran harus menghadapi banyak aspek kehidupan yang asing. Asumsiasumsi budaya yang tersembunyi dan respon-respon yang telah terkondisikan menyebabkan banyak kesulitan kognitif, afektif dan perilaku dalam penyesuaian diri dengan budaya baru. Schultz mengatakan bahwa bagi orang asing, pola budaya kelompok yang dimasukinya bukanlah merupakan tempat berteduh tetapi merupakan suatu arena petualangan, bukan merupakan hal yang lazim tetapi suatu topik penyelidikan yang meragukan, bukan suatu alat untuk lepas dari situasisituasi problematik tetapi merupakan suatu situasi problematik tersendiri yang sulit dikuasai. Meskipun demikian, hubungan antara budaya dan individu, seperti yang terlihat dalam proses enkulturasi, mampu membangkitkan kemampuan manusia yang besar untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Secara bertahap imigran belajar menciptakan situasi-situasi dan relasi-relasi yang tepat dalam masyarakat pribumi. Proses komunikasi mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan. Sebagaimana orang-orang pribumi memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi seorang imigran pun

memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi. Seorang imigran akan mengatur dirinya untuk mengetahui dan diketahui dalam berhubungan dengan orang lain dan itu dilakukan lewat komunikasi. Proses selama akulturasi sering mengecewakan dan menyakitkan. Dalam banyak kasus, bahasa asli imigran sangat berbeda dengan bahasa asli masyarakat pribumi. Masalah-masalah komunikasi lainnya meliputi masalah komunikasi nonverbal, seperti perbedaan-perbedaan dalam penggunaan dan pengaturan ruang, jarak antarpribadi, ekspresi wajah, gerak mata, gerakan tubuh lainnya dan persepsi tentang penting tidaknya perilaku nonverbal. Oleh karena itu, proses akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 137-140).

II.3.3) Variabel-Variabel Komunikasi dalam Akulturasi Salah satu kerangka konseptual yang paling komprehensif dan bermanfaat dalam menganalisis akulturasi seorang imigran dari perspektif komunikasi terdapat pada perspektif sistem yang dielaborasi oleh Ruben (1975). Dalam perspektif sistem, unsur dasar suatu sistem komunikasi manusia teramati ketika seseorang secara aktif sedang berkomunikasi, berusaha untuk dan mengharapkan berkomunikasi dengan lingkungan. Sebagai suatu sistem komunikasi terbuka, seseorang berinteraksi dengan lingkungan melalui dua proses yang saling berhubungan, yakni komunikasi persona dan komunikasi sosial. Pertama, komunikasi persona atau intrapersona mengacu kepada prosesproses mental yang dilakukan orang untuk mengatur dirinya sendiri dalam dan dengan lingkungan sosio-budayanya, mengembangkan cara-cara melihat,

mendengar, memahami dan merespons lingkungan. Salah satu variabel komunikasi persona terpenting dalam akulturasi adalah kompleksitas struktur kognitif imigran dalam mempersepsi lingkungan pribumi. Faktor yang erat berhubungan dengan kompleksitas kognitif adalah pengetahuan imigran tentang pola-pola dan sistem-sistem komunikasi pribumi. Bukti empiris yang memadai menunjang fungsi penting pengetahuan tersebut, terutama pengetahuan tentang bahasa dalam memudahkan aspek-aspek akulturasi lainnya. Suatu variabel persona lainnya dalam akulturasi adalah citra diri (self image) imigran yang berhubungan dengan citra-citra imigran tentang lingkungannya. Selain itu, motivasi akulturasi seorang imigran juga dapat memudahkan proses akulturasi. Motivasi akulturasi mengacu kepada kemauan imigran untuk belajar tentang, berpartisipasi dalam dan diarahkan menuju sistem sosio-budaya pribumi. Kedua, komunikasi sosial. Komunikasi sosial ditandai ketika individuindividu mengatur perasaan, pikiran dan perilaku antara yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi sosial dilakukan melalui komunikasi antarpersona. Komunikasi antarpersona seorang imigran dapat diamati melalui derajat partisipasinya dalam hubungan-hubungan antarpersona dengan anggota

masyarakat pribumi. Ketiga, lingkungan komunikasi. Komunikasi persona dan komunikasi sosial seorang imigran dan fungsi komunikasi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa dihubungkan dengan lingkungan komunikasi masyarakat pribumi. Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan akulturasi imigran adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat. Derajat pengaruh komunitas etnik atas perilaku imigran sangat bergantung pada derajat

kelengkapan kelembagaan komunitas tersebut dan kekuatannya untuk memelihara budayanya yang khas bagi anggota-anggotanya. Lembaga-lembaga etnik yang ada dapat mengatasi tekanan-tekanan situasi antarbudaya dan memudahkan akulturasi (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 141-144).

II.3.4) Culture shock Orang yang melintasi batas budaya yang disebut sebagai pendatang. Istilah ini mencakup imigran, pengungsi, eksekutif bisnis, pelajar, atau turis. Orangorang memasuki wilayah budaya dengan beragam pengalaman, latar belakang, pengetahuan dan tujuan, tetapi setiap orang asing harus menyesuaikan perilaku komunikasinya dengan pengaturan budaya baru yang individu tersebut datangi. Individu yang memasuki suatu dunia baru yang berbeda dengan lingkungan asalnya, tidak jarang akan menimbulkan kecemasan dan ketegangan. Hal inilah yang menjadi dampak dari proses akulturasi yaitu keadaan gegar budaya (culture shock). Pengalaman-pengalaman komunikasi dengan kontak antarpersona secara langsung seringkali menimbulkan frustasi. Istilah culture shock pertama kali diperkenalkan oleh Antropologis bernama Oberg. Menurutnya, culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial, termasuk di dalamnya seribu satu cara yang

mengarahkan kita dalam situasi keseharian, misalnya bagaimana untuk memberi perintah, bagaimana membeli sesuatu, kapan dan di mana kita tidak perlu merespon (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 335). Mulyana mengemukakan tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk tersebut juga termasuk kapan berjabatan tangan dan apa yang harus kita katakan ketika bertemu dengan orang-orang, kapan menerima dan kapan menolak undangan, kapan membuat pertanyaan dengan sungguh-sungguh dan kapan sebaliknya. Petunjuk-petunjuk ini dapat berupa kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasaan-kebiasaan atau normanorma, kita peroleh sepanjang perjalanan hidup seseorang sejak kecil (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 174). Bila seseorang memasuki suatu budaya asing, semua atau hampir semua petunjuk itu lenyap. Meskipun seseorang tersebut berpikiran luas dan beritikad baik, ia akan kehilangan pegangan, lalu akan mengalami frustasi dan kecemasan. Deddy Mulyana lebih mendasarkan gegar budaya (culture shock) sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan persepsi berdasarkan faktorfaktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami (http://campuslife.suite101.com/article.cfm/understanding_and_coping_with_cult ure_shock ). Dalam membahas tentang masalah culture shock, sebelumnya perlu memahami tentang perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dan seseorang yang memutuskan untuk tinggal secara permanen (settlers). Ada perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dengan orang yang

mengambil tempat tinggal tetap, misalnya di suatu Negara (settler). Seperti yang dikatakan oleh Bochner (dalam Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 334), perhatian mereka terhadap pengalaman kontak dengan budaya lain berbeda, maka reaksi mereka pun berbeda. Settlers berada dalam proses membuat komitmen tetap pada masyarakat barunya, sedangkan sojourners berada dalam landasan sementara, meskipun kesementaraannya bervariasi, seperti turis dalam sehari atau pelajar asing dalam beberapa tahun. Deddy Mulyana dalam bukunya Komunikasi Antarbudaya mengatakan bahwa bagi orang asing, pola budaya kelompok yang dimasuki bukanlah merupakan tempat berteduh, melainkan merupakan suatu arena petualangan, bukan merupakan materi kuliah tapi suatu topik penyelidikan yang meragukan, bukan suatu alat untuk lepas dari situasi-situasi problematik, melainkan suatu situasi problematik tersendiri yang sulit dikuasai. Pengalaman-pengalaman komunikasi dengan kontak interpersonal secara langsung dengan orang-orang yang berbeda latar belakang budaya, seringkali menimbulkan frustasi. Individu bisa jadi merasa kikuk dan terasa asing dalam berhubungan dengan orang-orang dari lingkungan budaya baru yang ia masuki (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 143). Reaksi yang dihasilkan oleh culture shock juga bervariasi antara satu individu dengan individu lainnya dan dapat muncul pada waktu yang berbeda pula. Reasi-reaksi yang mungkin terjadi, antara lain: 1. antagonis/ memusuhi terhadap lingkungan baru. 2. rasa kehilangan arah 3. rasa penolakan 4. gangguan lambung dan sakit kepala

5. homesick/ rindu pada rumah/ lingkungan lama 6. rindu pada teman dan keluarga 7. merasa kehilangan status dan pengaruh 8. menarik diri 9. menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah tidak peka (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 335) Meskipun ada berbagai variasi reaksi terhadap culture shock dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri, Samovar menyatakan bahwa biasanya individu akan melewati 4 (empat) tingkatan culture shock. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva U, sehingga disebut U-curve. 1. Fase optimistik (Optimistic Phase), fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan dan euforia sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru 2. Fase Masalah Kultural (Cultural Problems), fase kedua dimana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, sistem lalu lintas baru, sekolah baru dan lain-lain. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam culture shock. Orang menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap bermusuhan, mudah marah, tidak sabar dan bahkan menjadi tidak kompeten. 3. Fase Kesembuhan (Recovery Phase), fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, individu secara

bertahap membuat penyesuaian dan perubahan untuk menanggulangi budaya baru. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan. 4. Fase penyesuaian (Adjustment Phase), fase terakhir, pada puncak kanan U, individu telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, pola komunikasi, keyakinan dan lain-lain). Kemampuan untuk hidup dalam dua budaya yang berbeda, biasanya juga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Namun beberapa ahli menyatakan bahwa untuk dapat hidup dalam dua budaya berbeda, seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu. II.4 Teori Interaksionisme Simbolik

II.4.1) Definisi Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead merupakan pelopor interaksionisme simbolik, meskipun dalam perintisan teori ini banyak ilmuwan lain yang ikut serta memberikan sumbangsihnya, seperti James Mark Baldwin, William James, Charles H. Cooley, John Dewey dan William I. Thomas. Mead mengembangkan teori interaksionisme simbolik pada tahun 1920-an ketika beliau menjadi profesor filsafat di Universitas Chicago. Namun gagasan-gagasannya mengenai

interaksionisme simbolik berkembang pesat setelah para mahasiswanya menerbitkan catatan dan kuliah-kuliahnya, terutama melalui buku yang menjadi rujukan utama teori interaksionisme simbolik, yakni mind, self and society (Mulyana, 2001: 68).

Karya Mead yang paling terkenal ini menggarisbawahi tiga konsep kritis yang dibutuhkan dalam menyusun sebuah diskusi tentang teori interaksionisme simbolik. Tiga konsep ini saling mempengaruhi satu sama lain dalam term interaksionisme simbolik. Dari itu, pikiran manusia (mind) dan interaksi sosial (diri/self dengan yang lain) digunakan untuk menginterpretasikan dan memediasi masyarakat (society) di mana kita hidup. Makna berasal dari interaksi dan tidak dari cara yang lain. Pada saat yang sama pikiran dan diri timbul dalam konteks sosial masyarakat. Pengaruh timbal balik antara masyarakat, pengalaman individu dan interaksi menjadi bahan bagi penelahaan dalam tradisi

interaksionisme simbolik (Elvinaro, 2007: 136) Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung perspektif yang lebih besar lagi, yakni perspektif fenomenologis atau perspektif interpretif. Secara konseptual, fenomenologi merupakan studi tentang

pengetahuan yang berasal dari kesadaran atau cara kita sampai pada pemahaman tentang objek-objek atau kejadian-kejadian yang secara sadar kita alami. Fenomenologi melihat objek-objek dan peristiwa-peristiwa dari perspektif seseorang sebagai perceiver. Sebuah fenomena adalah penampakan sebuah objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi individu (Rahardjo, 2005: 44). Interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. Bagi perspektif ini, individu itu bukanlah sesorang yang bersifat pasif, yang keseluruhan perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur-struktur lain yang ada di luar dirinya, melainkan bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit

diramalkan. Oleh karena individu akan terus berubah maka masyarakat pun akan berubah melalui interaksi itu. Struktur itu tercipta dan berubah karena interaksi manusia, yakni ketika individu-individu berpikir dan bertindak secara stabil terhadap seperangkat objek yang sama (Mulyana, 2001: 59). Jadi, pada intinya, bukan struktur masyarakat melainkan interaksi lah yang dianggap sebagai variabel penting dalam menentukan perilaku manusia. Melalui percakapan dengan orang lain, kita lebih dapat memahami diri kita sendiri dan juga pengertian yang lebih baik akan pesan-pesan yang kita dan orang lain kirim dan terima (West, 2008: 93) Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide tentang individu dan interaksinya dengan masyarakat. Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendiri yang menentukan perilaku manusia. Sebagaimana ditegaskan Blumer, dalam pandangan interaksi simbolik, proses sosial dalam kehidupan kelompok yang menciptakan dan menegakkan aturanaturan, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini, makna dikonstruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial (Mulyana, 2001: 68-70).

Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara ringkas, interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama, individu merespon suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. Teori ini berpandangan bahwa kenyataan sosial didasarkan kepada definisi dan penilaian subjektif individu. Struktur sosial merupakan definisi bersama yang dimiliki individu yang berhubungan dengan bentuk-bentuk yang cocok, yang menghubungkannya satu sama lain. Tindakan-tindakan individu dan juga pola interaksinya dibimbing oleh definisi bersama yang sedemikian itu dan dikonstruksikan melalui proses interaksi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III.1

Deskripsi Lokasi Penelitian

III.1.1) Gambaran Umum Universitas Sumatera Utara a. Sejarah Universitas Sumatera Utara Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya. Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Pendirian yayasan ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Yayasan ini diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai langsung oleh

Gubernur Sumatera Utara, dengan susunan sebagai berikut: Abdul Hakim (Ketua); Dr. T. Mansoer (Wakil Ketua); Dr. Soemarsono (Sekretaris/Bendahara); Ir. R. S. Danunagoro, Drh. Sahar, Drg. Oh Tjie Lien, Anwar Abubakar, Madong Lubis, Dr. Maas, J. Pohan, Drg. Barlan dan Soetan Pane Paruhum (Anggota). Sebenarnya hasrat untuk mendirikan perguruan tinggi di Medan telah mulai sejak sebelum Perang Dunia-II, tetapi tidak disetujui oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Pada zaman pendudukan Jepang, beberapa orang terkemuka di Medan termasuk Dr. Pirngadi dan Dr. T. Mansoer membuat rancangan perguruan tinggi Kedokteran. Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah mengangkat Dr. Mohd. Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia. Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947, Gubernur Abdul Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini. Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari Dr. Ahmad Sofian, Ir. Danunagoro dan sekretaris Mr. Djaidin Purba. Selain Dewan Pimpinan Yayasan, Organisasi USU pada awal berdirinya terdiri dari: Dewan Kurator, Presiden Universitas, Majelis Presiden dan Asesor, Senat Universitas dan Dewan Fakultas. Sebagai hasil kerja sama dan bantuan moril dan material dari seluruh masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa Aceh, pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang mahasiswa di antaranya dua orang

wanita. Tanggal 20 Agustus 1952 telah ditetapkan sebagai hari jadi atau Dies Natalis USU yang diperingati setiap tahun. Kemudian disusul dengan berdirinya Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1954), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1956) dan Fakultas Pertanian (1956). Pada tanggal 20 November 1957, USU diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia. Pada tahun 1959, dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R.I. Kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960) di Banda Aceh. Sehingga pada waktu itu, USU terdiri dari lima fakultas di Medan dan dua fakultas di Banda Aceh. Dalam perjalanan usianya yang kini mencapai lima puluh tahun, melalui berbagai program pengembangan yang dilaksanakan, banyak kemajuan yang telah dicapai, yang menjadikan USU berkembang hingga seperti keadaan sekarang. Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi (1961), Fakultas Sastra (1965), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1965), Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982), Sekolah Pascasarjana (1992), Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993), Fakultas Farmasi (2007), Fakultas Psikologi (2008) dan Fakultas Keperawatan (2009). Pada tahun 2003, USU berubah status dari suatu perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan yang kelima di Indonesia. Sebelumnya telah berubah status UI, UGM, ITB dan IPB pada tahun 2000. Setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006).

Saat ini, USU mengelola lebih dari seratus program studi yang terdiri dari berbagai jenjang pendidikan tinggi yang tercakup dalam sepuluh fakultas dan satu program pascasarjana. Dalam perkembangannya, beberapa fakultas di lingkungan USU telah menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru, yaitu Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh, yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. Kemudian disusul berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan (1964), yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. Setelah itu, berdiri Politeknik Negeri Medan (1999) yang semula adalah Politeknik USU.

b.

Visi, Misi dan Tujuan Universitas Sumatera Utara Visi Universitas Sumatera Utara memiliki visi menjadi University for Industry. Misi 1. Mempersiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat akademik dan profesional dalam menerapkan, mengembangkan pengetahuan ilmiah, teknologi dan seni serta berdaya saing tinggi. 2. Memperluas partisipasi dalam pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam pembelajaran dan modernisasi cara pembelajaran.

3.

Mengembangkan

dan

menyebarluaskan

pengetahuan

ilmiah,

teknologi, seni dan rancangan penerapannya untuk mendukung produktivitas dan daya saing masyarakat. III.1.2) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara a. Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Maksud untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Medan ini telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat di Medan khususnya, di Sumatera Utara umumnya, sebelum Proklamasi Kemerdekaan R.I, demikian Dr. Achmad Sofian pernah menulis. Untuk itu Dr. Pirngadi, Dr. Tengku Mansoer, Dr. M. Amir dan beberapa orang lainnya telah bekerja ke arah ini, tetapi maksud dan hasrat itu tidak disetujui oleh Pemerintah Belanda pada saat itu, dianggap bahwa satu Perguruan Tinggi Kedokteran yang telah didirikan oleh Pemerintah Belanda di Jakarta telah cukup buat Indonesia. Sewaktu Perang Dunia II berkecamuk di Eropah dan Pemerintah Belanda telah mengungsi ke Inggeris, ada juga maksud Pemerintah Belanda untuk mengubah NIAS (Nederlansch Indische Aartsen School) di Surabaya menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran yang kedua di Indonesia, namun maksud tersebut tidak dapat diwujudkan, karena pada waktu itu Indonesia telah diduduki oleh Jepang. Di zaman pendudukan Jepang beberapa orang terkemuka di Kota Medan, seperti Dr. Pirngadi, Dr. Tengku Mansoer dan lain-lain telah membuat rancangan Perguruan Tinggi Kedokteran sekali lagi, namun maksud ini juga tidak dapat dilanjutkan.

Pada tahun 1946, masih dalam masa pergolakan sesudah kemerdekaan diproklamirkan, maksud ini muncul lagi ke permukaan. Ketika Mr. Teuku Mohd. Hasan menjadi Gubernur Propinsi Sumatera telah pula diangkat Dr. Mohd. Jamil yang berkedudukan di Bukit Tinggi sebagai ketua dari sebuah panitia yang ditugaskan untuk mempelajari kemungkinan didirikannya sebuah perguruan tinggi di Sumatera. Panitia ini antara lain ditugaskan untuk menentukan jenis serta tempat fakultas yang akan didirikan. Panitia tersebut telah mengusulkan untuk mendirikan sebuah Fakultas Kedokteran. Untuk menentukan tempat Fakultas Kedokteran yang akan didirikan, dikirimlah Dr. Mohd. Jamil ke Pematang Siantar guna berembuk dengan beberapa pemuka masyarakat dan dokter-dokter yang ada di daerah Sumatera Utara. Pada waktu itu amat besar kemungkinan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Kota Medan, tetapi malang, hal ini tidak dapat dilaksanakan berhubung dengan terjadinya clash pertama tahun 1947. Setelah peralihan kedaulatan, kiranya hasrat untuk mendirikan Fakultas Kedokteran di kalangan masyarakat di Sumatera Utara tidak pernah hilang. Pada awal 1950, Dr. T. Mansoer, wali Negara Sumatera Timur (Negara Bagian dalam RIS) meminta kepada Inspektur Kesehatan Sumatera Timur untuk mulai melengkapi Rumah Sakit Kota Medan dan kalau perlu menjadikan sebuah Rumah Sakit Umum, guna mendukung rencana tersebut. Setelah itu dibentuklah panitia pembentukan Fakultas Kedokteran. Yayasan itu didirikan pada tanggal 4 Juni 1952 di hadapan Notaris Soetan Pane Paroehoem di Medan diberi nama YAYASAN UNIVERSITAS

SUMATERA UTARA, yang berkedudukan di Medan. Yayasan tersebut diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai oleh Gubernur Propinsi Sumatera Utara. Telah diambil keputusan untuk mendirikan Fakultas Kedokteran dan yayasan telah mengutus Dr. Ahmad Sofian ke Kementerian PP dan K untuk membicarakan segala sesuatunya dengan Menteri pada waktu itu yaitu Prof. Bahder Djohan. Kementerian PP dan K menaruh simpati yang sangat besar akan maksud yayasan dan minat Gubernur Propinsi Sumatera Utara itu dan menjanjikan bantuan yang dapat dan mungkin diberikan oleh Pemerintah. Pemerintah menganggap maksud yayasan itu sebagai suatu eksperimen yang besar namun terlalu banyak kesulitan dan resikonya. Sungguhpun demikian Pemerintah berjanji akan menyokong usaha tersebut. Pada tanggal 30 Juni 1952 Dewan Pimpinan Yayasan USU telah mengangkat Dr. Ahmad Sofian sebagai Presiden Kurator yang diberi tugas mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran. Juga telah diputuskan untuk membuka Fakultas Kedokteran tersebut pada Hari Proklamasi 17 Agustus 1952. Pada tanggal 1 September 1952, Fakultas Kedokteran USU dipimpin oleh Dr. A. Sofian sebagai Dekan, Dr. Maas sebagai Wakil Dekan dan Dr. M. Ildrem. sebagai sekretaris. Beberapa tahun berikutnya (1956) WHO memberikan bantuan alat-alat Fisiologi dan berapa tenaga pengajar dari WHO untuk Fakultas Kedokteran USU.

b.

Visi dan Misi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Visi

Mewujudkan Fakultas Kedokteran USU pada tahun 2010 sebagai lembaga pendidi kan kedokteran terdepan di Indonesia dalam bidang pendidikan dan

pelayanan ilmu serta informasi kesehatan primer dengan pendekatan keluarga terutama untuk penyakit-penyakit tropis.

Misi:
1.

Meningkatkan kualitas dosen dalam bidang pendidikan kesehatan keluarga dan penyakit-penyakit tropis

2.

Mengembangkan kurikulum pendidikan yang berbasis pada pendekatan sistem kedokteran keluarga

3.

Memusatkan pendalaman pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang penyakit tropis

4.

Meningkatkan kemampuan semua sumber daya sehingga mudah digunakan sebagai pusat informasi kesehatan keluarga

5.

Membangun kerjasama dengan institusi lain dalam bidang penyakit tropis.

Kompetensi Lulusan: Dalam KIPDI III (Kurikulim Inti Pendidikan Dokter Indonesia) dituntut terpenuhinya kompetensi tertentu bagi lulusan. Proses pembelajaran diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan standar kompetensi dokter Indonesia yang telah disusun oleh Konsil Kedokteran Indonesia (P3DI).

Pimpinan

Dekan: Prof. dr. Gontar A. Siregar, Sp.PD.KGEH Pembantu Dekan I: Prof. dr. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K) Pembantu Dekan II: dr. Zaimah Z. Tala, M.S. Sp.GK Pembantu Dekan III: dr. Muhammad Rusda, Sp.OG (K)

III.1.3) Fakultas Kedokteran Gigi a. Sejarah Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi USU merupakan Fakultas Kedokteran Gigi pertama yang berada di luar pulau Jawa, didirikan pada tanggal 19 Oktober 1961 berdasarkan SK Menteri PTIP No. 0048/Sek/PU dan diresmikan pada tanggal 3 Nopember 1961. Pada awalnya Fakultas Kedoktearn Gigi USU hanya memiliki satu gedung berupa Dental Clinic yang dibangun atas bantuan Pemerintah Jerman Barat yang berdiri di atas tanah seluas 27.448 m2 dan diserahkan kepada Universitas Sumatera Utara. Seiring dengan berjalannya waktu, Fakultas Kedokteran Gigi USU terus berkembang hingga pada saat ini Fakultas Kedokteran Gigi USU telah memiliki sejumlah gedung meliputi gedung perkuliahan berlantai tiga, laboratorium, Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGM-P), ruang baca, ruang internet, ruang Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS), ruang rapat/pertemuan, ruang Administrasi dan Laboratorium Unit Usaha Jasa dan Industri.

Untuk penyelenggaraan kegiatan akademik, Fakultas Kedokteran Gigi USU menyediakan 8 ruang kuliah dengan kapasitas tempat duduk berkisar antara 60 150 orang. Setiap ruangan kuliah dilengkapi dengan fasilitas media pembelajaran berupa white board, OHP, LCD dan alat pengeras suara. Untuk kenyamanan dalam kegiatan belajar mengajar, maka pada setiap ruangan dilengkapi pula dengan alat pendingin ruangan (AC) dan alat penerangan yang cukup. Di samping ruang kuliah, Fakultas Kedokteran Gigi USU memiliki 3 laboratorium, yaitu: laboratorium Multipurpose, laboratorium Biologi Oral, dan unit Radiologi Dental. Ketiga laboratorium ini digunakan untuk mendukung kegiatan praktikum, khususnya praktikum yang berkaitan dengan bidang ilmu kedokteran gigi, sedangkan untuk penyelenggaraan praktikum bidang ilmu dasar kedokteran dan ilmu kedokteran dasar, Fakultas Kedokteran Gigi USU bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran USU menggunakan laboratorium Ilmu Dasar Kedokteran dan Ilmu Kedokteran Dasar yang ada di Fakultas Kedokteran USU. Untuk pelaksanaan praktikum ilmu kedokteran klinik, khususnya Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Bedah, mahasiswa Program Akademik Fakultas Kedokteran Gigi USU menjalani kegiatan Junior Clerk Ship (JCS) di RSUP H. Adam Malik Medan. Jumlah Dosen Tetap yang dimiliki Fakultas Kedokteran Gigi USU saat ini adalah 82 orang, terdiri dari 11 orang Guru Besar (Profesor/S3), 35 orang (S2/Sp1), dan 36 orang (S1) sedangkan jumlah Dosen Tidak Tetap adalah 168 orang yang berasal dari USU dan luar USU. Empat orang di antara dosen tetap saat ini sedang mengikuti pendidikan program Doktor, 13 orang program Spesialis, dan 1 orang program Magister.

Daya tampung Fakultas Kedokteran Gigi USU setiap tahunnya adalah 120 orang dengan jumlah peminat berkisar antara 1100-1300 orang. Berdasarkan izin Dikti tanggal 15 Juli 2002 (SK No. 1412/D/T/2002) maka sejak tahun ajaran 2002 Fakultas Kedokteran Gigi USU membuka Kelas Reguler Mandiri untuk menampung minat masyarakat yang tidak tertampung pada Kelas Reguler. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU tidak saja berasal dari daerah Sumatera Utara, akan tetapi juga berasal dari propinsi lain di Indonesia seperti NAD, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan dan lain-lain. Disamping itu mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU juga ada yang berasal dari negara tetangga seperti Malaysia. Sampai dengan Tahun Akademik 2008/2009 jumlah mahasiswa asing Fakultas Kedokteran Gigi USU mencapai 154 orang. Pelaksanaan pendidikan dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi USU terdiri dari 2 (dua) tahap, yaitu: Tahap Program Pendidikan Akademik dan Tahap Program Pendidikan Profesi yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Tahap Program Pendidikan Akademik dijadwalkan selama 8 semester dengan beban studi 145 SKS, sedangkan Tahap Program Pendidikan Profesi dijadwalkan 2 semester dengan beban studi 30 SKS. Mahasiswa yang menamatkan program pendidikan akademik berhak menyandang gelar Sarjana Kedokteran Gigi (SKG), sedangkan mahasiswa yang berhasil menamatkan program pendidikan profesi akan mendapat gelar Dokter Gigi (drg). Sampai dengan wisuda sarjana USU Periode III T.A. 2008/2009, Fakultas Kedokteran Gigi USU Medan telah meluluskan sebanyak 888 orang Sarjana Kedokteran Gigi (SKG) dan 2531 orang Dokter Gigi.

Berdasarkan Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) No. 006/BAN-PT/Ak-X/S1/VI/2006 tanggal 15 Juni 2006, Fakultas Kedokteran Gigi USU ditetapkan sebagai salah satu Fakultas Kedokteran Gigi Negeri yang memiliki akreditasi A". b. Visi dan Misi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Visi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara sebagai Fakultas Kedokteran Gigi unggulan dalam menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing global untuk mendukung pencapaian visi Universitas Sumatera Utara, yaitu University for Industry.

Misi : 1. Menyelenggarakan pendidikan bidang kedokteran gigi yang bertumpu pada aktivitas belajar mahasiswa yang berorientasi pada perkembangan IPTEK dan kebutuhan masyarakat dalam bidang kesehatan gigi dan mulut untuk menghasilkan Sarjana Kedokteran Gigi dan Dokter Gigi yang berpengetahuan dan berketerampilan, bersikap demokratis, penuh tanggung jawab dan berbudi pekerti yang luhur sesuai dengan etika profesi kedokteran gigi. 2. Melaksanakan penelitian yang berorientasi pada pengembangan IPTEK untuk dapat menyelesaikan masalah kesehatan gigi dan mulut secara

ilmiah yang merupakan landasan utama untuk menumbuhkan dan membina kemampuan menguasai metode penyelesaian masalah, melalui kemampuan berpikir kritis, penalaran ilmiah, berpikir alternatif dan kemampuan pengambilan keputusan secara benar. 3. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat melalui Pengalaman Belajar Klinik (PBK) dan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) dengan memanfaatkan kemajuan IPTEK secara tepat guna untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat.

Pimpinan: Dekan Pembantu Dekan I Pembantu Dekan II Pembantu Dekan III : Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D : M. Zulkarnain, drg, M.Kes : Dwi Tjahyaning Putranti, drg. M.S. : Zulkarnain, Dr, M.Kes

III.2

Metodologi Penelitian

III.2.1) Metode Penelitian Kualitatif

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati suatu masalah dan mencari jawabannya. Dengan kata lain, metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Metodologi dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoritis yang kita gunakan untuk melakukan penelitian, sementara perspektif teoritis itu sendiri adalah suatu kerangka penjelasan atau interpretasi yang memungkinkan peneliti memahami data dan menghubungkan data yang rumit dengan peristiwa dan situasi lain. Sebagaimana perspektif yang merupakan suatu rentang dari yang sangat objektif hingga sangat subjektif, maka metodologi pun sebenarnya merupakan suatu rentang juga, dari yang sangat kuantitatif (objektif) hingga yang sangat kualitatif (subjektif) (Mulyana, 2001: 145-146). Metodologi diukur berdasarkan kemanfaatannya dan tidak dapat dinilai apakah suatu metode benar atau salah. Untuk menelaah hasil penelitian secara benar, kita tidak cukup sekedar melihat apa yang ditemukan peneliti, tetapi juga bagaimana peneliti sampai pada temuannya berdasarkan kelebihan dan keterbatasan metode yang digunakannya (Mulyana, 2001: 146). Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalamdalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling, bahkan populasi atau samplingnya sangat terbatas. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan dapat menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Di sini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data. Dalam riset kualitatif, periset adalah bagian integral

dari data, artinya periset ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan. Dengan demikian, periset menjadi instrumen riset yang harus terjun langsung di lapangan. Karena itu riset ini bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik bukan untuk digeneralisasikan (Kriyantono, 2006: 56-57). III.2.2) Studi Kasus Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program, atau suatu situasi sosial. Peneliti studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subjek yang diteliti (Mulyana, 2001: 201). Pengertian lain studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti, menguraikan dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu, kelompok, suatu program, organisasi atau peristiwa secara sistematis (Kriyantono, 2006: 66). Seorang peneliti harus mengumpulkan data setepat-tepatnya dan selengkaplengkapnya dari kasus tersebut unuk mengetahui sebab-sebab yang sesungguhnya bilamana terdapat aspek-aspek yang perlu diperbaiki (Nawawi, 1995: 72). Penelitian dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap objek penelitian di lokasi penelitian. Semua hasil pengamatan dituangkan dalam pembahasan. Hasil wawancara nantinya akan dianalisis dan dipilih jawaban yang paling mendekati dan berkaitan dengan tujuan penelitian. Adapun tujuan studi kasus adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa komunikasi yang nyata dalam berbagai konteks. Selain itu, pernyataan tentang

bagaimana dan mengapa hal-hal tertentu terjadi dalam sebuah situasi tertentu, atau apa yang terjadi di sini. Pada hakikatnya, peneliti sedang mencoba menghidupkan nuansa komunikasi dengan menguraikan kenyataan. Peneliti akan melakukannya dengan cara: 1. Melakukan analisis mendetail mengenai kasus dan situasi tertentu. 2. Berusaha memahaminya dari sudut pandang orang-orang yang bekerja di sana 3. Mencatat bermacam-macam komunikasi dan pengalaman pengaruh dan aspek-aspek hubungan

4. Membangkitkan perhatian pada faktor-faktor tersebut berhubungan satu sama lain (Daymon, 2007: 162).

Sebagai suatu metode kualitatif, studi kasus memiliki beberapa keuntungan. Keistimewaan studi kasus meliputi hal-hal berikut: 1. Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti. 2. Studi kasus menyajikan uraian yang menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami orang dalam kehidupan. 3. Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden 4. Studi kasus memberikan uraian tebal yang diperlukan bagi penilaian atas transferabilitas. 5. Studi kasus terbuka bagi penelitian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut. Menurut Mulyana, studi kasus periset berupaya secara saksama dan berbagai cara mengkaji sejumlah besar variabel mengenai suatu kasus khusus. Dengan mempelajari seorang individu, suatu kelompok atau suatu kejadian semaksimal mungkin, periset bertujuan memberikan uraian yang lengkap dan

mendalam mengenai subjek yang diteliti. Karena itu, studi kasus mempunyai ciriciri: 1. Partikularistik. Artinya studi kasus terfokus pada situasi, peristiwa, program atau fenomena tertentu. 2. Deskriptif. Hasil akhir metode ini adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti. 3. Heuristik. Metode studi kasus membantu khalayak memahami apa yang sedang diteliti. 4. Induktif. Studi kasus berangkat dari fakta-fakta di lapangan, kemudian menyimpulkan ke dalam tataran konsep atau teori (Kriyantono, 2006: 66). Setiap analisis kasus mengandung data berdasarkan wawancara, data berdasarkan pengamatan, data dokumenter, kesan dan pernyataan orang lain mengenai kasus tersebut. Pendekatan studi kasus menyediakan peluang untuk menerapkan prinsip umum terhadap situasi-situasi spesifik atau contoh-contoh, yang disebut kasus-kasus. Contoh-contoh dikemukakan berdasarkan isu-isu penting, sering diwujudkan dalam pertanyaan-pertanyaan. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, analisis studi kasus menunjukkan kombinasi pandangan, pengetahuan dan kreativitas dalam mengidentifikasikan dan membahas isu-isu relevan dalam kasus yang dianalisisnya, menganalisis isu-isu ini dari sudut pandang teori dan riset yang relevan serta dalam merancang strategi yang realistik dan layak untuk mengatasi situasi problematik yang teridentifikasi dalam kasus (Mulyana, 2001: 202). Menurut Ragin dalam Mulyana (2001), metode berorientasi kasus bersifat holistik-metode ini menganggap kasus sebagai entitas menyeluruh dan bukan sebagai kumpulan bagian-bagian (atau kumpulan skor mengenai variabel). Jadi, hubungan antara bagian-bagian dalam keseluruhan itu dipahami dalam konteks

keseluruhan, bukan dalam konteks pola-pola umum kovariasi antara variabelvariabel yang menandai anggota-anggota suatu populasi unit-unit yang sebanding. Selain itu, hubungan sebab-akibat dipahami sebagai perkiraan. Akibat dianalisis berdasarkan persimpangan berbagai kondisi dan biasanya diasumsikan bahwa hubungan manapun mungkin menimbulkan suatu akibat. Sifat ini dan sifat lain metode berorientasi kasus memungkinkan peneliti menafsirkan kasus-kasus secara historis dan merumuskan pernyataan mengenai asal-mula perubahan kualitatif yang penting dalam situasi-situasi yang spesifik (Mulyana, 2001: 203). III.2.3) Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Universitas Sumatera Utara, tepatnya di Fakultas Kedokteran yang berada di Jalan dr. T. Mansur No.5, Kampus USU dan Fakultas Kedokteran Gigi, di Jalan Alumni No. 2, Kampus USU. Meskipun demikian, waktu dan tempat penelitian dikondisikan dengan jadwal dan keinginan subjek penelitian.

III.2.4) Subjek penelitian Riset kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi hasil riset. Hasil riset lebih bersifat kontekstual dan kasuistik yang berlaku pada waktu dan tempat tertentu sewaktu riset dilakukan, karena itu pada riset kualitatif tidak dikenal istilah sampel. Sampel pada riset kualitatif disebut informan atau subjek riset, yaitu orang-orang dipilih untuk diwawancarai atau diobservasi sesuai tujuan

riset. Disebut subjek riset bukan objek karena informan dianggap aktif mengkonstruksi realitas, bukan sekedar objek yang hanya mengisi kuesioner (Kriyantono, 2006: 163). Untuk studi kasus, jumlah informan dan individu yang menjadi informan dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian. Orang-orang yang dapat dijadikan informan adalah orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian, orang-orang dengan peran tertentu dan tentu saja yang mudah diakses. Melalui metode kualitatif kita dapat mengenal orang (subjek) secara pribadi dan melihat mereka mengembangkan definisi mereka sendiri tentang dunia dan komunikasi yang mereka lakukan. Kita dapat merasakan apa yang mereka alami dalam pergaulan masyarakat mereka sehari-hari. Melalui metode ini

memungkinkan kita menyelidiki konsep yang dalam pendekatan lainnya akan hilang (Bodgan, 1992: 5) Subjek penelitian ini adalah mahasiswa asal Malaysia di USU yang dibatasi pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Sesuai dengan pembatasan masalah dalam penelitian ini bahwa yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa asal Malaysia di FK dan FKG USU yang minimal sudah menetap selama kurang lebih dua tahun, maka diambil mahasiswa mulai dari angkatan 2009, 2008, 2007 dan 2006. Berdasarkan data yang diperoleh dari masing-masing fakultas, jumlah mahasiswa asal Malaysia di FK dan FKG, baik yang sedang kuliah maupun yang sedang co-ass, maka daftar jumlahnya adalah sebagai berikut: Tabel 2

Jumlah Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU

NO FAKULTAS 1. 2. Kedokteran Kedokteran Gigi

TAHUN ANGKATAN 2006 2007 2008 54 176 132 37 48 35

JUMLAH 2009 117 24 479 144

Sumber : Bagian Pendidikan FK USU dan FKG USU Pengambilan subjek penelitian atau informan ini dilakukan dengan menggunakan teknik penarikan sampel bola salju (snowball sampling). Teknik snowball sampling banyak ditemui dalam riset kualitatif. Sesuai namanya, teknik ini bagaikan bola salju yang turun menggelinding dari puncak gunung ke lembah, semakin lama semakin membesar ukurannya. Jadi, teknik ini merupakan teknik penentuan subjek penelitian yang awalnya berjumlah kecil kemudian berkembang semakin banyak. Orang yang dijadikan informan pertama diminta memilih atau menunjuk orang lain untuk dijadikan informan lagi, begitu seterusnya sampai jumlahnya lebih banyak. Sehingga orang pertama tersebut menjadi titik awal pemilihan informan. Proses ini baru berakhir bila periset merasa data telah jenuh, artinya periset merasa tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dari wawancara (Kriyantono, 2006: 158). Jadi, dengan demikian, peneliti akan menemukan seseorang atau beberapa orang mahasiswa asal Malaysia untuk dijadikan informan, kemudian meminta mereka untuk merekomendasikan orang lain untuk dijadikan informan berikutnya.

III.2.5) Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Ada beberapa teknik atau metode pengumpulan data yang biasanya dilakukan oleh peneliti. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan dari metode yang ada tergantung masalah yang dihadapi (Kriyantono, 2006: 93). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain: a. Penelitian Kepustakaan (Library Research) Yaitu dengan cara mengumpulkan data mengenai permasalahan yang sesuai dengan penelitian dengan membaca literatur yang relevan serta bacaan pendukung, seperti buku, majalah, jurnal dan internet mengenai komunikasi antarbudaya dan culture shock.

b. Penelitian Lapangan (Field Research) 1. Wawancara mendalam (depth interview) Wawancara mendalam (depth interview) merupakan teknik pengumpulan data dimana peneliti melakukan kegiatan wawancara tatap muka secara mendalam dan terus-menerus untuk menggali

informasi dari responden (Kriyantono, 2006: 63). Wawancara mendalam adalah wawancara secara intensif untuk mendapatkan data kualitatif yang mendalam. 2. Observasi, diartikan sebagai kegiatan mengamati secara langsung. Observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan pada riset kualitatif. Yang diobservasi adalah interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadi antara subjek yang diteliti (Kriyantono, 2006: 108). Sedangkan observasi yang digunakan adalah observasi non-partisipan, yang merupakan metode observasi tanpa ikut terjun melakukan aktivitas seperti yang dilakukan kelompok yang diteliti, baik kehadirannya diketahui atau tidak (Kriyantono, 2006: 110). III.2.6) Teknik Analisis Data Bodgan & Biklen (dalam Moleong, 2005: 248) mengemukakan analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Tahap analisis data memegang peranan penting dalam riset kualitatif, yaitu sebagai faktor utama penilaian kualitas riset. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dimana analisis data yang digunakan bila data yang terkumpul dalam riset adalah data kualitatif berupa kata-kata, kalimat-kalimat, atau narasi-narasi, baik yang diperoleh dari wawancara mendalam maupun observasi (Kriyantono, 2006: 194). Melalui data kualitatif, data yang diperoleh

dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum kemudian disajikan dalam bentuk narasi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1

Hasil dan Pengamatan Wawancara

Peneliti melakukan penelitian terhadap mahasiswa asal Malaysia di USU dengan menggunakan teknik snowball sampling. Peneliti berhenti pada informan yang kesebelas karena data yang diperoleh sudah jenuh. Hal ini disebabkan karena peneliti tidak memperoleh data baru karena jawaban yang diberikan informan rata-rata sama. Dengan demikian informan dalam penelitian ini sebanyak 11 orang mahasiswa asal Malaysia. Adapun pelaksanaan dan pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara yang berlangsung dari bulan November hingga Desember 2010. Setelah mendapatkan persetujuan tentang judul skripsi ini, peneliti kemudian mengurus surat permohonan izin penelitian untuk diserahkan ke Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU. Beberapa hari kemudian, peneliti mendapatkan surat balasan yang menyatakan persetujuan melakukan penelitian di dua fakultas itu, kemudian peneliti meminta data tentang jumlah mahasiswa asing di masing-masing fakultas. Setelah itu, peneliti memulai serangkaian pelaksanaan penyusunan skripsi. Sebelum melakukan proses wawancara, peneliti melakukan pengamatan langsung ke dua fakultas. Peneliti memasuki lorong kampus FK, terlihat banyak sekali mahasiswa asal Malaysia yang berkelompok, tetapi ada juga yang berbaur dengan mahasiswa lain. Sedangkan di FKG, peneliti duduk dan mengamati di sekitar kantin, kelompok mahasiswa asal Malaysia lebih sedikit dan lebih berbaur dengan mahasiswa Indonesia. Setelah meminta bantuan dari beberapa teman di FK dan FKG, kemudian peneliti dikenalkan dengan seorang mahasiswa asal Malaysia di FK dan seorang

mahasiswa asal Malaysia di FKG, selanjutnya dari masing-masing informan inilah peneliti dikenalkan dengan beberapa mahasiswa asal Malaysia lainnya. Pencarian informan memang agak sulit dilakukan karena jadwal mereka yang sangat padat. Apalagi pada bulan November dan Desember, mereka disibukan pada persiapan UAS (Ujian Akhir Semester) dan harus mengurus kepulangan mereka di akhir Desember ke pihak imigrasi. Proses wawancara dilakukan di berbagai tempat sesuai dengan keinginan dan jadwal dari informan sendiri. Lokasi wawancara dilakukan di kampus, di kantin, di tempat makan dan juga di rumah kost. Di setiap lokasi, peneliti juga selalu melakukan observasi, khususnya di rumah kost. Melalui wawancara, peneliti mendapatkan pengakuan tentang culture shock yang mereka alami ketika pertama kali sampai di Medan. Kemudian peneliti mendapatkan penguatan dan informasi tambahan melalui observasi langsung. Proses wawancara berlangsung sesuai dengan pedoman wawancara, yaitu dengan membiarkan informan bercerita untuk memperoleh informasi yang lebih banyak. Ketika melakukan wawancara, peneliti tidak hanya mendapatkan informasi tentang culture shock dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya, tetapi juga dalam hal makanan, cuaca, lalu lintas dan sebagainya. Hal ini peneliti jadikan sebagai pelengkap informasi. Tujuan pembuatan karakteristik informan (usia, jenis kelamin, asal fakultas dan lama menetap) adalah untuk membantu peneliti menemukan sejumlah kemungkinan terkait hubungan karakteristik informan dengan culture shock yang dialami dan upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Untuk itu, peneliti harus menemukan temuan yang dapat dijadikan kesimpulan nantinya apa sebenarnya yang berpengaruh pada culture shock yang mereka alami.

Tabel 3 Data Mahasiswa Asal Malaysia yang Menjadi Informan No. 1. 2. 3. 4. Nama Jenis Kelamin (L/P) P Fakultas Kedokteran Kedokteran Gigi Kedokteran Gigi Kedokteran Gigi Angkatan 2008 2007 2008 2007 Lama Menetap 2,5 tahun 4 tahun 3 tahun 3.5 tahun Alamat Jalan Tridarma No.26 Kompleks Tasbi I Kompleks Tasbi II Jalan Dr. Mansur

Hasslinda Binti Hassan Harvinder L pal Singh Govin L Raj Perumal Amirah P Fahirmah

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Binti Ahmad Tarmizi Lavanyah P Rajagopal Amir Hakimi L

Kedokteran Gigi Kedokteran Kedokteran Gigi Kedokteran Kedokteran Kedokteran Kedokteran Gigi

2007 2006 2006 2008 2008 2008 2006

3,5 tahun 4.5 tahun 4,5 tahun 2,5 tahun 2,5 tahun 2,5 tahun 4,5 tahun

Jalan Jamin Ginting No.46 Jalan Dr. Mansur Jalan Dr. Mansur Jalan Tridarma No.26 Jalan Tridarma No.26 Jalan Tridarma No.26 Jalan Dr. Mansur

Jonathan L Lin Chee Hang Asfahana P Asyiqin Girtheeka devy Kaartini Arjunam P P

Lim Rui L Liang

Sumber : Hasil Penelitian

Dan berikut hasil wawancara dan pengamatan terhadap 11 informan: Informan 1 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Hasslinda Binti Hassan : 21 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2,5 tahun : Jalan Tridarma No. 26, Pintu 4 USU : Sabtu, 27 November 2010

Hasslinda adalah informan yang pertama kali peneliti temui dan wawancarai. Melalui salah satu adik teman peneliti yang juga kuliah di Fakultas Kedokteran USU, akhirnya peneliti berkenalan dengan Hasslinda, seorang mahasiswi suku Melayu asal Malaysia. Kesan pertama yang peneliti lihat, secara penampilan, seperti kebanyakan mahasiswi Melayu asal Malaysia, Linda memakai baju kurung panjang dan jilbabnya. Linda adalah orang yang sangat ramah, suka tersenyum, cukup terbuka dan suka berbaur. Keramahannya terlihat ketika menyambut peneliti. Linda menawarkan untuk dipanggil dengan sebutan Linda. saya panggil akak lah ya, stambuk 2007 kan? panggil Linda saja lah kak. Setelah berkenalan lebih dalam, peneliti pun mulai mewawancara Linda tentang pengalamannya selama di Medan, lengkap dengan suka dukanya. Sebelumnya, Linda beranggapan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan budaya yang hampir sama, kemudian peneliti mulai menanyakan tentang bagaimana pendapatnya tentang orang-orang Medan dan bagaimana interaksinya dengan teman-teman orang Medan di fakultasnya. orang-orang sini ramahlah kak, tidak pendiam, meriah, gak rasa sepi lah..cukup baik lah. Linda juga merasakan perbedaan yang sangat signifikan mengenai masalah berpakaian. Perbedaan jelas dirasakannya dalam hal penampilan berpakaian. Dari pakaian jelas beda lah. orang-orang sini kebanyakan pakaian bebas, pakai jeans, tak ada la macam saya ini pakai baju kurung. Jadi pasti orang yang tengok pun langsung tau lah saya ini orang Malaysia. Tapi macam tuh pun saya tak mau la perSoalan, sebab saya pun bukan fashionable punya orang.

Di tahun pertamanya kuliah di FK USU, kesulitan dan kesalahpahaman bahasa sering dialami, tapi tidak sampai menimbulkan konflik. Begitu juga dengan kebiasaan-kebiasaan orang Medan yang dipandang berbeda oleh mahasiswa Malaysia, seperti kebiasaan berjabat tangan. ada beberapa kata disini yang saya tak paham, lepas tu kan, orang sini tuh semua nak salam, tak masalah la tu laki atau perempuan, mulamula saya shock, heran la saya. Kenapa bebas kali macem ni? Kenapa macam ni? Saya pun bingung, takut juga la kalau tolak, tapi cemana mau buat, saya pun tolak jabat tangannya, tapi sedapat mungkin secara elok la. Itu pendapat dan pengalaman Linda tentang interaksinya dengan orang-orang Medan. Di tahun pertama, di awal-awal kedatangannya sebagai mahasiswi di FK USU, ia sangat tidak terbiasa dan terkejut dengan kebiasaan orang Medan yang tidak terlalu mempermasalahkan jabatan tangan antara berbeda jenis kelamin. mungkin awal-awal orang sini pun merasa apa la ni orang, salam aja tak mau. Tapi lama-lama mereka pun paham la kak, tak pernah la marah atau macam mana kan, sebab Indonesia pun ada juga orang macam tu, tapi tak banyak la. Linda juga merasa sedih ketika merasa dipandang sebagai orang asing. Ia mengatakan mungkin penampilannya yang membuat orang-orang melihat dia, Linda terkadang merasa risih dan kecewa. Penampilannya yang menggunakan baju kurung membuat orang mudah mengenali bahwa ia adalah orang Malaysia dan bukan orang Medan. Perasaan sangat merindukan keluarga, teman-teman terdekat, lingkungan familiar yang Linda miliki di negara asalnya pasti selalu muncul, bahkan sampai saat ini, di tahun ketiganya tinggal di Medan. kalo homesick sampai sekarang saya masi rasalah, rindu sama famili. Terkadang kan kak, saya tu nangis seorang di kamar, namanya di negara orang, kan, sedih la kak. Saya butuh motivasi, sebab di sini tuh

kurang. Kurang perhatian la. Orang-orang sini tu, student apa-apa sendirisendiri, saya jenis orang yang suka ramai-ramai lah, jadi mereka kurang la memotivasi kawan, mau belajar pun seorang-seorang, jadi saya butuh support dari famili la kak, mereka saja yang boleh beri dukungan, tapi namanya saya yang datang ke negara orang, saya pulak la yang harus adaptasi kan? Tak maulah saya betingkah. Linda merasa orang-orang Medan, tepatnya teman-temannya di kampus yang bukan orang Malaysia, terlalu individualis, sangat jarang mau memotivasi dan memberi dukungan dengan orang lain, termasuk dalam hal belajar. Jadi, dukungan dan semangat dari keluarga sangat dibutuhkannya, sehingga rasa rindu dan ingin pulang ke kampung halaman selalu Linda rasakan. Tapi semuanya itu secara bertahap mampu diatasi, meskipun belum secara utuh. Kesadaran Linda sebagai pendatang di negeri orang membantu dia untuk mulai beradaptasi. Misalnya dari segi bahasa ketika berkomunikasi dengan teman-temannya orang Indonesia di kampus, Linda mengaku, ketika ada kata-kata yang tidak ia mengerti, ia langsung menanyakan artinya saat itu juga, tidak mau menyimpannya di dalam hati, akhirnya pemahaman pun bisa mereka capai. tahun-tahun pertama, tak paham sama yang kawan cakap tu pasti la. Cuman saya selalu biasakan kalau tak tau saat tu juga saya rujuk teman, yang dicakap tadi apa artinya? Tak mau pendam-pendam, jadi tak pernah la konflik. Sebab kalau konflik tu kita yang rugi kan. Pertemuan pertama, peneliti lakukan di FK USU. Hal ini sangat membatasi Linda untuk menceritakan semua pengalamannya, karena Linda juga terburu-buru untuk masuk kelas mata kuliah selanjutnya. Beberapa hari kemudian, peneliti membuat janji untuk melakukan wawancara berikutnya di kost, dan di kost itu pula Linda mengenalkan Asfahana kepada peneliti, teman kost Linda yang juga mahasiswa asal Malaysia di FK USU. Akhirnya, di pertemuan kedua itu banyak hal lain yang terungkap ketika mereka berdua bercerita.

Hal baru yang terungkap adalah interaksi Linda dengan sesama penghuni kostnya yang tidak baik. Awalnya, ketika pertama kali tinggal di kost itu, seluruh penghuninya adalah mahasiswa asal Malaysia, dan mereka tidak pernah mengalami masalah. Tetapi sejak dua orang pindah dan digantikan dengan dua orang mahasiswa Indonesia, ia merasa tidak nyaman dan selalu berkeluh kesah. Interaksi mereka dengan dua mahasiswa Indonesia itu tidak baik, mereka bahkan sangat jarang bertegur sapa, bisa dihitung dengan jari. Peneliti bisa melihatnya, tepat ketika peneliti mewawancarai Asfahana dan Linda, salah seorang mahasiswa Indonesia yang dimaksud keluar dari kamar, dan memang mereka tidak saling menyapa. sebelum ni pembantu rumah yang duduk. Pertama kali isinya malaysia semua la, lepas tu pembantu pindah dua orang ni masuk la. jadi disini tinggal 4 lagi la orang malaysia, 3 orang indonesia. cemana la kak, hmm..tak taulah macam mana mau cakap. Kakak tengok tadi la, cara pakaian itu orang cemana kan, trus cakapnya pun kasar, macam tadi pergi pun tak ada cakap kan, jadi kami agak macam tercabar, kadang-kadang kami pun macam apa ya, tak respect gitu la dengan kami. Tetap saya juga yang buka mulut, nak tanya mau kemana? Sebab best la kalau bergreetings kepada sesama kan? Tapi dua orang tu gak macam tu la. Linda dan Asfahana merasakan kekesalan yang besar. Dan itu terlihat oleh peneliti dari bahasa verbal dan non verbal mereka ketika bercerita kepada peneliti. Mereka merasa tidak ada kerja sama dan rasa saling menghormati dari pihak mahasiswa Indonesia itu. Hobi Linda memasak tidak pernah lagi dilakukannya karena sudah kehilangan mood melihat dapur yang selalu kotor dan berantakan. Kebiasaan seperti pulang larut malam, ribut sampai tengah malam, apalagi membawa teman pria ke kost membuat mereka sangat terkejut dan merasa terganggu, terutama Linda, sebab sifatnya yang lebih sensitif.

macam ini habis makan tak pernah basuh, jorok macam tu. Dulu saya suka masak kak, tiap minggu tu saya belanja lepas tu masak, tapi ini gak la, gak ada mood buat masak kak, sebab kotor macam tu kan, sebab kami gak suka semak-semak macam tu kak. Mereka pun buat bisingbising, mungkin satu la, cara percakapan tu orang macam kuat sikit. Mungkin tu orang tak niat la, tapi kami macam terganggu, terkadang kami tengah tidurpun jadi terjaga, sebab hentakan kaki aja. Kadang sabar aja la, buat bodoh aja, endah tak endah aja.

Waktu yang paling lama itu adalah ketika Linda dan Asfahana menceritakan hubungan yang tidak baik antara mereka dan dua mahasiswa Indonesia di kostnya. Mereka merasa seperti tidak ada keinginan untuk bersahabat, berbeda dengan satu mahasiswa Indonesia lainnya yang juga tinggal di lantai 2 itu. Mereka lebih sering bertegur sapa. Menurut Linda, mahasiswa Indonesia yang satu ini lebih ramah dan rendah hati. Bukan saya cakap semua, tapi sebahagian. Macam ada seorang, dia tu memang humble la, memang rendah diri, kalo yang dua orang ini macam lain sikit la, jadi kami kadang tegur kadang-kadang gak tegur. Gak tau la pandangan dia orang kan, tapi kami OK aja, tapi ada la yang kami tak suka macam cara tu orang, lepas tu gak ada kerja sama. Linda terkesan seperti benar-benar mencurahkan isi hatinya saat itu kepada peneliti. Linda telah berusaha untuk mendatangi mereka dahulu, memberikan nasihat secara baik, tetapi Linda merasa tidak mendapatkan respon positif, sehingga ia memilih diam. Tetapi, ketika ia merasa sudah keterlaluan, seperti membawa teman pria ke dalam kost, ia memilih melaporkannya kepada ibu kost. Di tengah kekesalannya, Linda berusaha untuk tetap baik, ia menjaga hubungan yang sudah tidak baik agar tidak menjadi parah dan menimbulkan konflik karena ia sadar posisinya sebagai pendatang. kami uda bagi tau kak, bagi tau secara elok la, kalo udah masak basuh la, macam lembut la kami cakap, tak ada la macam marah gitu kan, kalo kami dua orang bole la, tapi mereka gak la, sebab orang lain kan?

Tapi gak paham-paham juga, jadi kami makan dalam juga la, gak elok macam tu kan. Mungkin gak tau la apa salah, sebab selama ini Ok aja. tapi kita coba profesional la, buat tak endah aja, buat apa yang jadi kerja kita aja, asalkan mereka betol-betol tak menggangu kita la, kalo menggangu gitu berol-betol, ah memang susah la ah, kami gak mau berantam la, sebab nanti kami lagi yang susah. Sabar aja la, nanti buat masalah kami la yang kena, sebab ni bukan la negara kami kan. Selain itu, mereka juga menyadari mereka masih harus tinggal di kota Medan selama kurang lebih 2 tahun lagi untuk melanjutkan coass, sehingga mereka tidak ingin mencari masalah yang dapat merugikan diri mereka sendiri. Mereka memilih untuk acuh tak acuh dengan masalah ini selama tidak benarbenar mengganggu mereka. tapi asal gak totally ganggu tak apa la kak, sebab saya pun masi lama di sini, belum coass lagi kan? Banyak benda yang perlu saya pikir daripada pikir dua orang ini kan. Bukan mau musuh, cuman memang udah macam itu adanya kan, mau buat cemana lagi kan.

Kejadian itu memang membuat keduanya sangat terkejut, terutama Linda. Ia terlihat sangat kesal. Ia memang sangat sensitif seperti yang diakuinya, sehingga sedikit saja ada sesuatu yang tidak sesuai dan bertentangan dengan prinsip hidup yang dipegangnya, ia sulit untuk menerima. Linda sangat menjunjung tinggi prinsip hidup saling kerja sama dan hormat-menghormati, sebab menurutnya dengan adanya kedua hal itu kebahagiaan hidup antar sesama dapat dicapai. ambil ini nya aja la, sebab belajar di negara orang, mana ada yang perfect kan? cumannya respect la sikit kan, sebab saya pun mana ada kutuk-kutuk kan. respect, hormat-menghormati, saya berpegang tegas kepada benda tu, sebab cuman benda tu aja yang menyebabkan kita gembira. Jadi memang satu aja la, respect, kalau respect each other, best la, happiness bole dapat la. if buat suka hati, buat macam rumah sendiri kan, tak elok la.

Menurut mereka orang Indonesia terkenal dengan ramah tamahnya, sehingga ketika berhadapan dengan kedua mahasiswa Indonesia itu membuat mereka sangat terkejut. Mereka memberikan pengecualian untuk kedua mahasiswa ini. sebab orang indonesia ramah kan? Yang ini agak lain sikit la, udah nasib la dapat kostmate macam ni. Linda juga menceritakan di kota asalnya, Kuala lumpur, ia menemui banyak sekali orang Indonesia dan ia sudah dapat menerima mereka. Tetapi ketika tiba di Medan, ia merasa bahwa ada pembedaan yang dibuat antara Indonesia dan Malaysia, ia merasa tidak adil. Menurut mereka, konflik antara Indonesia dengan Malaysia tidak perlu mempengaruhi interaksi antarmasyarakatnya. Tetapi mereka merasakan hal yang berbeda. Linda dan Asfahana merasa rakyat terlalu menggembar-gemborkan masalah dua negara ini. kami ini biasa aja dengan orang indonesia, sebab di malaysia banyak kak, lagi-lagi di kampung saya, di kuala lumpur banyak. Jadi saya uda macam ok, uda dapat terima, tapi kenapa macam saya yang datang sini mereka macam unfair la rasa. apalagi macam ada gosip, isu indonesia malaysia tu kan, aduh saya benci la, tak suka, sebab tak ada faedah. Linda juga sempat menceritakan bahwa ia berusaha memposisikan dirinya sebagai orang Indonesia, tetapi tetap saja itu membuatnya heran dan masih bertanya-tanya, mengapa harus ada pembedaan antara dua negara, bukan kah semuanya sama-sama manusia ciptaan Tuhan. Saya coba duduk kak posisi orang indonesia cemana rasanya, tapi tetap tak bisa pikir la, pelik juga la. Secara keseluruhan, meskipun Linda mengatakan ia sudah bisa menerima keadaan di Kota Medan, sesungguhnya banyak pertanyaan yang masih dipendamnya terkait dengan perbedaan-perbedaan yang ia temukan antara Medan

(Indonesia) dan Malaysia. Hal ini sangat terlihat ketika proses wawancara, banyak keheranan yang ia rasakan, bahkan ia beberapa kali mengucapkan kalimat yang menunjukkan keheranannya akan siapa yang harus disalahkan atas masalah pembedaan dan interaksi yang tidak baik. jadi siapa nak salahkan ini kak, orangnya kah? Emak bapak kah? Tetangga kah? Atau siapa? Selain itu, banyak perbedaan yang membuat keduanya terkejut. Merokok dan mencontek adalah dua hal yang membuat mereka heran. Terutama Linda, Ia sangat terganggu dengan asap rokok. Mereka membandingkan dengan negaranya, di Malaysia, merokok dan mencontek sangat dilarang di lingkungan kampus. Apabila dilanggar akan dikenakan sanksi tegas. ahh, rokok!! Itu culture shock sangat bagi saya kak, sebab di FK, FAKULTAS KEDOKTERAN, saya lihat student merokok tu kan, aduh rasa pelik betol la. harusnya gak bisa kan, di kuliah mana-mana pun harusnya tak bisa la ada rokok kan, tak elok la. di malaysia tak bisa macam itu kak, di dalam U tak bisa merokok, kalau merokok perlu didenda. Rasa sesak kak, kadang-kadang saya sampai mau beli yang macam penutup mulut tu kak, sebab tak tahan la. Lepas tu kalau contek memang denda berat kali, berpanjangan dendanya, ada yang kena buang dari U kak. Tapi itu pun saya buat bodoh aja la, sebab saya takut saya jadi terjebak la, takut jadi ikut macam tu kan. Selain dalam hal interaksi dan kebiasaan yang berbeda, Linda juga terkejut dan tidak bisa menerima program acara yang ditayangkan di media TV Indonesia. Menurutnya, tayangan yang didominasi dengan acara infotainment sangat tidak baik. Kembali ia membandingkan dengan negaranya, Malaysia juga memiliki program acara seperti itu, tetapi tidak mendominasi, sedangkan di Indonesia menurutnya terlalu berlebihan. Itu lah yang menyebabkan TV yang ada di ruang kumpul di depan kamar kostnya jarang sekali ia hidupkan, sesekali ia menonoton TV, itu pun ia memilih program acara memasak dan adat budaya.

ah, itu tv memang media yang cemana mau bilang ya. Tv ini letak disini aja kak, sebab kalo tengok tak elok kak, cerita gosip semua kan. Saya tak minat la, cuma tengok acara masak, berita, cerita tentang adatadat macam tu aja la, lainnya macam gosip tu tak dapat terima la. di malaysia bukan gak ada, cuman di sini lebih mengaibkan la, So annoying, macam menjengkelkan la. tapi tak apa la, kita nak salahkan orang media pun tak bisa la kan, cuman ya itu la perbedaannnya, di malaysia pun ada cuman tak macam ini la. rasa dosa aja saya nonton ini. Banyak perbedaan yang dirasakan Linda selama menjalani kehidupan sebagai perantau di Kota Medan, meskipun demikian banyak hal pula yang membantunya menerima dan belajar untuk menyesuaikan diri. Keberadaan Asfahana yang selalu ada bersamanya sangat membantu meredam amarah dan kekesalannya. Asfahana lah yang selalu menyuruhnya untuk tetap bersabar dan bertahan hidup di negeri orang. Dukungan dan rasa senasib sepenanggungan di antara mereka berdua sedikit banyaknya membantu mereka menjalani hidup di lingkungan yang berbeda dengan negara asalnya. dia la yang selalu bagi saya semangat, lebih sabar dia kak, cemana ya, macam gembira-gembira aja la. kalau saya lebih sensitif, sebab saya pikir kalau saya gak buat orang kenapa orang buat macam itu sama saya kan, jadi saya sensitif bila orang buat saya. Sebagai pelengkap, tidak hanya culture shock dalam hal interaksi, Linda juga berbagi tentang pengalamannya tentang hal lain seputar Medan, seperti lalu lintas dan cita rasa makanannya. Ia masuk ke FK USU melalui jalur mandiri dengan biaya sendiri. Tahun 2008, ia datang ke Medan dan itu adalah pengalaman pertamanya. Ketika ditanya, apa yang dirasakan sesampainya di Medan, Linda pun menyampaikan keterkejutannya melihat jalanan Kota Medan. Setibanya di Medan, saya terkejut lah kak, traffic tuh padat sangat, busy betol Kalo Soal cuaca gak lah pala cemana, Soalnya tak pala jauh beda iklim Indonesia sama Malaysia kan, cuman jalan raya aja yang berisik.

Linda juga memberikan komentar dan pengalamannya seputar masakan Medan. Untuk yang satu ini ia cukup mudah beradaptasi. wah, di sini kan akak, nasi tuh dibungkus besar-besar, kalo di Malay tuh kan tak ada yang macem tuh, sikit aja. Jadi kalo disini makan sekali aja saya kenyang betol. Udah tiga tahun di sini udah dapat lah, perut saya bisa adaptasi.

Kesimpulan Kasus Linda mengalami culture shock terhadap karakteristik orang Medan. Meskipun tidak menggeneralisasikan seluruhnya, tetapi menurutnya orang Medan identik dengan suara yang kuat dan kasar. Selain itu, Linda juga tidak terbiasa dengan perbedaan dalam hal nilai-nilai mengenai hubungan laki-laki dan perempuan. Linda juga mengalami kendala dalam bahasa di awal kedatangannya ke Medan. Linda memiliki masalah interaksi dengan mahasiswa Indonesia yang adalah teman satu kostnya. Ia tidak bisa menerima kebiasaan seperti suara yang terlalu kuat, pulang sampai tengah malam, membawa teman pria ke kost dan juga sikap yang membeda-bedakan seperti terkesan memusuhi yang dialaminya dengan dua mahasiswa Indonesia di kostnya. Pribadinya yang sangat sensitif membuatnya peka dan cepat tersinggung dengan kondisi yang berbeda dan bertentangan

dengan apa yang ia yakini. Ini juga mempengaruhi proses adaptasinya, sebab baginya tidak mudah menerima suatu perbedaan. Reaksi culture shock yang dirasakannya antara lain homesick, merasa diasingkan dan ditolak dan menganggap tuan rumah tidak peka. Di luar itu, adanya mahasiswa dan dosen yang merokok di lingkungan kampus, makanan dalam porsi besar dan gaya khas tukang becak juga sempat membuatnya terkejut. Saat ini, Linda mengaku sudah mampu beradaptasi, tetapi perasaan dibeda-bedakan masih ia rasakan.

Informan 2 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Harvinderpal Singh : 23 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2007 : 4 tahun : Kompleks Tasbi I : Rabu, 1 Desember 2010

Harvin merupakan informan yang pertama kali peneliti wawancara di FKG. Harry, seperti itu biasa ia dipanggil. Peneliti mengenalnya dari teman peneliti yang juga berkuliah di tempat yang sama. Peneliti menghampiri Harry, kemudian saling berkenalan. Saat itu ia sedang menikmati segelas teh manis dingin. Kesan pertama yang peneliti dapatkan tentang Harry adalah friendly dan humoris. Selama wawancara berlangsung, ia sering sekali mengeluarkan leluconlelucon lucu. Itu pertemuan pertama peneliti dengan Harry, tetapi keakraban dapat dengan cepat terjalin. Dari segi penampilan ia sangat modis. Saat wawancara pertama, ia menggunakan kaos bola berwarna merah dan jeans serta sepatu kets. Kulit putih, rambutnya pirang bergelombang dan agak gondrong. Ia pria berkacamata dan menggunakan pesawat gigi. Ia berdarah campuran, ayahnya orang Amerika dan ibunya India Punjabi. Ini tahun kelima Harry berada di Indonesia, tepatnya Medan. Dalam pengamatan peneliti, Harry berbeda dengan informan-informan sebelumnya. Jiwa ingin belajar, sangat suka bergaul dan humoris menggambarkan kepribadiannya. Bahkan, ketika peneliti meminta bantuan untuk dikenalkan dengan mahasiswa asal Malaysia di FKG, beberapa

orang langsung merekomendasikan Harry. Ia mempunyai banyak teman, baik itu sesama Malaysia maupun Indonesia dan uniknya, seluruh teman akrabnya di kampus adalah mahasiswa Indonesia. Ini yang menarik peneliti untuk terus mewawancarai dan mengamati Harry. Harry memilih FKG USU karena jarak yang dekat dengan Malaysia dan kualitas pendidikan yang baik. Ia mengaku akreditasi FKG USU sama dengan Malaysia, tetapi ia bisa mendapatkannya dengan biaya yang cukup murah di USU. Sebelum memasuki kampus sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi USU, ia pernah mengecap pengalaman di Medan selama 6 bulan dalam rangka pertukaran pelajar di SMA Raksana. Setibanya Harry di Medan yang paling menjadi kendala baginya dalam berinteraksi adalah masalah bahasa. Dalam pengakuannya, beberapa kata, dialek dan intonasi dalam bahasa Indonesia terasa aneh baginya, demikian sebaliknya dengan orang-orang Indonesia sendiri, merasa bahasa yang digunakan mahasiswa asal Malaysia itu aneh. Harry merasa ia menjadi bahan bercanda karena keanehan bahasanya dan itu menjadi persoalan bagi Harry di awal kedatangannya ke Medan. dari bahasanya lah. Kan ada banyak bahasa di Indonesia. Kalo ngomong dengan mereka, mereka rasa bahasa saya yang aneh, tapi padahal bahasa yang saya guna itu bahasa malaysia. Tapi untuk saya gak aneh. Bila kalian yang cakap bahasa kalian, untuk saya aneh eh kok, apa yang kamu ngomong itu ya? gak ngerti saya. Gitu lah, pertama kali datang itu lah yang jadi persoalan, becanda, orang mengejek-ejek. Berkaitan dengan bahasa, pertama kali setibanya ia di Medan, Harry tinggal di rumah kost bersama 14 orang Malaysia lainnya di Simpang Pos Padang Bulan. Karena itu adalah daerah yang mayoritas penduduknya adalah suku Batak, awalnya Harry terkejut dan kewalahan. Mereka sering sekali menggunakan

bahasa daerah, belum lagi Harry mempunyai persepsi orang Batak makan orang. Selama di Malaysia, ia sering mendengar dari orang-orang cerita bahwa orang Batak itu mengerikan, ini sempat membuatnya takut keluar rumah untuk beberapa waktu. Tapi itu hanya sebentar saja, sebab setibanya di sini teman-temannya menjelaskan bahwa itu hanyalah dongeng lama. pertama, waktu di malaysia kan, persepsi saya tentang orangorang Indonesia mengerikan. Kayak orang Batak, pernah saya dengar dari orang-orang. Dulu kan saya tinggalnya di Padang Bulan, simpang pos... pertama kali ya liat orang batak lah, dengar mereka cakap tu kan, bahasa apa ya mereka? Mereka semua banyak orang Batak, kami anak Malaysia itu 14 orang aja. Jadi waktu di situ kan, saya takut keluar sendiri. Sebab dengar dongeng dari orang, kalo kita gak senyum sama mereka, mereka simpan di hati, satu hari nanti mereka potong kamu. Jadi saya bila jumpa orang Batak, yah (menunjukkan senyuman)..lepas itu, lewat tahun-tahun, dari teman-teman bilang, itu cerita lama, sekarang gak ada kek gitu lagi, sekarang udah modern... Cuman, bila kita lihat orang mukanya ngeringeri, itu memang Batak asli lah ya. Harry adalah tipe orang yang sangat suka belajar sesuatu yang baru dan tidak takut untuk bergaul. Pengalamannya selama 6 bulan di SMA Raksana mengajarinya banyak hal. Permasalahan interaksi karena pertama kali tiba ia rasakan di sana, tetapi di sana pula Harry belajar bahasa dan pergaulan. Semasa dalam pertukaran pelajar itu, ia kursus bahasa dengan guru bahasa Indonesia, tidak hanya sekadar kursus, ia juga senantiasa rajin mempraktikkan dengan teman-temannya orang Indonesia, dengan berbagai cara, salah satunya melalui salah seorang wanita Indonesia sesama pelajar di Raksana yang menyukainya, bersama perempuan itu Harry terus mempelajari bahasa Indonesia. saya punya masalah interaksi itu waktu di sekolah, waktu di Raksana. Gak ngerti sama bahasa, gak ngerti dengan apa yang diajar oleh dosen, kan di sini beda dengan sistem pembelajaran di Malaysia. Saya ambil waktu untuk kursus bahasa dengan guru bahasa indonesia, habis belajar, les lah bahasa indonesia. Kan saya cepat gaul, jadi saya cakap-

cakap indonesia, lepas itu waktu tu ada cewek indonesia yang suka saya, saya belajar dengan dia, dia bantu saya belajar cakap lah. Prinsipnya untuk selalu memulai membantunya beradaptasi. Ia yang memulai untuk mengajak berkenalan, ia yang memulai membuka diri, ia yang memulai untuk berbaur. Ketika pemahaman tidak ia dapatkan dalam berkomunikasi, Harry tak sungkan menanyakan maknanya saat itu juga. Tidak butuh waktu yang lama baginya untuk menyesuaikan diri. Perbedaan, keheranan dan keterkejutan pasti dirasakan dalam rangka memasuki Indonesia, Medan tepatnya yang merupakan lingkungan baru baginya, meskipun serumpun, tetapi perbedaan tidak terelakkan. Kesalahpahaman, masalah interaksi dengan orang luar sseperti tukang becak dan supir angkot juga mewarnai pengalamannya, tetapi kemudian ia mampu mengatasinya. orang Indonesia kayaknya semua baik lah. Semua ramah, mereka approach dengan kita, ada Sopannya. Mereka mesra lah pokoknya. Cuman orang becak aja yang gak mesra. Mau kasi harga lain pun gak bisalah, mereka yang benar lah, inilah, itulah. Angkot pun gitulah, sama aja. waktu di sekolah itu saya belajar dengan orang di situ kan, saya tanya eh, apa maksud itu, gitu. Jadi dalam sebulan itu saya udah tangkap bahasanya. Cuman sebulan aja, saya cepat tangkap bahasa, Soalnya saya emang suka belajar. Saya bisa bahasa cina, bahasa India, bisa bahasa perancis, jadi saya tangkap bahasa cepat. Harry memandang bahwa sebagai pendatang ia harus sadar diri, ia juga harus segera belajar semua hal tentang lingkungan barunya, meskipun bertahap. Karena menurutnya, jika sesuatu hal ditunda-tunda karena tidak siap untuk suatu hal yang baru, maka tidak akan pernah bisa beradaptasi. Ia juga beda dengan mahasiswa asal Malaysia kebanyakan, seperti yang sudah peneliti sebutkan, teman baik Harry adalah mahasiswa asal Indonesia. Selama pengamatan, peneliti melihat, begitu selesai kuliah, keluar dari ruang belajar menuju kantin, Harry tidak

bergabung dengan sesama mahasiswa Malaysia seperti yang kebanyakan mahasiswa lainnya lakukan, ia memilih mendatangi kumpulan 5 orang mahasiswa Indonesia yang ternyata adalah teman baiknya. Selain itu, selama beberapa kali melakukan wawancara, di sela-sela Harry bertegur sapa dan berbicara dengan kebanyakan mahasiswa Indonesia. Ia benar-benar sudah menyesuaikan diri dengan dunia barunya ini. mula saya sampai sini, saya langsung cari teman. Kalo gak ngerti tanya temannya, apa ini maksudnya. Saya langsung cepat belajar. Soalnya kita mau belajar di sini, kalo dari awal aja kita udah rasa sifat seperti gak maulah, nanti aja, saya mau nanti aja belajarnya, ditunda-tunda, nanti sampai kapan ada mau belajar? Jadi saya gak mau buang waktu, saya langsung tangkap. kan ada orang yang sifatnya, kalo saya cina, saya mau sama cina aja, saya India sama orang India aja, tapi saya ini beda, saya mix dengan semua. Saya bisa gaul sama semua, di sini saya ada banyak teman orang Indonesia, yang paling akrab itu teman saya orang Indonesia. Reaksi seperti merindukan Malaysia juga ia rasakan. Sama halnya dengan orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk memasuki dan menetap di lingkungan baru dalam kurun waktu beberapa tahun, Harry juga merindukan keluarga dan teman-temannya di Malaysia. Itupun tidak sampai mempengaruhi kehidupannya. Ia tidak menarik diri atau gejala depresi lainnya. Tetapi akhir tahun ini ia tidak bisa pulang karena harus menyelesaikan sidang komprehensifnya. Setelah itu, Harry akan mencari waktu yang bisa digunakan untuk pulang dan melepas rindu dengan keluarga. Konflik Indonesia-Malaysia yang coba peneliti tanyakan, langsung dijawab dengan tegas oleh Harry. Baginya itu tidak menjadi alasan untuk takut berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang Indonesia. Menurutnya, ini ulah media yang terlalu memperbesar masalah. Ini hanya masalah pemerintah yang

tidak perlu melibatkan masyarakat. Harry juga menyampaikan kekecewaannya terhadap beberapa dosen yang membahas masalah konflik dua negara ini di kelas. Biarlah pemerintah yang selesaikan. itu kan, masalah konflik itu kan sebab media, media yang memprogandakan lagi. Mereka tambahkan api gitu kan, semua gara-gara media. Misalnya, ada dosen juga yang mengungkitkan hal itu. Saya pikir sih, dosen itu tak sepatutnya mengungkitkan hal macam ini, itu hal negara, bukan urusan kita. Itu antara government Indonesia dengan government Malaysia, bukan masyarakat. Media yang mencetuskan itu lebih banyak, biar masyarakat yang naik, panas. Jadi saya kalo ada orang yang bilang saya perSoalan ini, saya akan bilang itu urusan negara saya, bukan saya. Selama wawancara Harry juga berbagi pengalamannya yang kerapkali sakit selama sebulan pertama ia tinggal di Medan. Itu karena tidak cocok dengan makanan dan air di Medan. Tetapi untuk hal ini pun ia mudah beradaptasi. makanannya gak cocoklah, makan nasi padang enak. Pertama waktu saya datang itu kan kita gak cocok dengan makanannya, Soalnya disini kan pake santan banyak, di malaysia gak, santannya kurang. Di sana kari banyak, jadi makan santan itu, seminggu dapat sakit perut. Kita jujur aja kan, mencret. Bulan pertama saya di sini, kerap kali saya sakit.

Kesimpulan Kasus Culture shock yang Harry alami tidak tergolong berat ketika memasuki kampus USU. Gegar budaya yang paling terasa ketika ia mengikuti pertukaran pelajar dalam rangka persiapan studi di Indonesia, yakni di SMA Raksana. Kendala yang paling terasa ketika itu adalah bahasa. Meskipun bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu kurang lebih hampir sama, tetapi tetap saja untuk pertama kali hal ini aneh baginya. Pribadinya yang mau belajar dan suka bergaul membantu proses adaptasi. Selama di SMA Raksana itu, ia kursus bahasa Indonesia dengan salah satu guru. Selain itu, ia juga sangat suka bergaul dengan

siapa saja tanpa perbedaan. Ia sering mempraktikkan bahasa yang sudah dipelajarinya sehingga semakin mudah dipahami. Sebelum ke Medan, ia sering mendengar cerita tentang orang Batak yang suka makan orang. Pernyataan ini sempat membuatnya takut, apalagi tempat tinggalnya pertama kali adalah daerah Simpang Pos Padang Bulan yang mayoritas penduduknya adalah orang Batak. Tetapi, seiring waktu dan juga cerita dari teman-temannya, ia pun mengerti dan tidak merasa takut lagi. Ketika memasuki Kota Medan untuk kuliah di FKG USU, bukan sesuatu yang terlalu sulit baginya, namun meskipun begitu jenis-jenis orang baru ia hadapi di kampusnya. Ia selalu membuka diri untuk perkenalan dan persahabatan. Ia cukup sepat dalam beradaptasi dengan lingkungan kota Medan dan orang-orang di dalamnya. Ia bahkan sudah menggunakan bahasa Medan, seperti kali, kau, dong, jorok. Ia sudah mampu beradaptasi, bahkan intensitasnya berkomunikasi dengan orang Indonesia di kampusnya lebih sering dibanding teman sesama Malaysia.

Informan 3 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Govin Raj Perumal : 21 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2008 : 3 tahun : Kompleks Tasbi II : Rabu, 1 Desember 2010

Govin adalah salah satu mahasiswa FKG yang bersedia menjadi informan dalam penelitian ini. Peneliti mengenalnya dari Harry yang merupakan senior

Govin. Ia adalah President atau Ketua DSC (Dental Student Community) tahun 2010/2011, sebuah organisasi perkumpulan mahasiswa/i asal Malaysia di FKG USU. Organisasi ini berada di bawah organisasi induk PKPMI (Persatuan Kebangsaan Pelajar-Pelajar Malaysia di Indonesia). Pertemuan pertama peneliti dengan Govin di kantin FKG sangat menyenangkan. Awalnya peneliti tidak bermaksud untuk mewawancarai Govin, karena ia sedang sibuk berdiskusi dengan beberapa mahasiswa Malaysia lainnya. Kemudian Harry mencoba membantu memanggilnya dan mengenalkan Govin kepada peneliti. Ia pun bersedia meluangkan waktu untuk wawancara. Secara penampilan, tidak terlalu mencolok, Govin berpakaian sama seperti mahasiswa Indonesia kebanyakan, kemeja lengan panjang dan celana bahan warna hitam. Saat itu ia membawa kotak warna biru berukuran agak besar, tempat alat-alat praktiknya sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi. Selama wawancara berlangsung kotak itu dipangku di pahanya dengan memandang lurus ke depan dan sesekali melihat peneliti ketika peneliti bertanya. Tidak ada penampilan khusus yang menunjukkan ia mahasiswa asal Malaysia, hanya saja wajahnya sebagai orang India Tamil memungkinkan ia berasal dari Malaysia. Ia orang yang sangat ramah, mudah tersenyum, enak diajak berbicara dan sangat terbuka. Hal itu sangat terlihat dari semua informasi dan cerita yang Govin berikan kepada peneliti lengkap dengan keterkejutan, keheranan dan kekecewaannya dengan orang-orang Medan di sekitarnya dalam rangka memasuki dunia baru untuk melanjutkan pendidikan di FKG USU. Sebelum datang ke Medan, sebagaimana seseorang yang akan memasuki lingkungan baru, Govin juga memiliki perasaan tertentu. Ketika peneliti menanyakan itu, Govin mengungkapkan bahwa benar ia mempunyai banyak

pertanyaan di benaknya tentang seperti apa sebenarnya Kota Medan, bagaimana kondisi kota yang akan ditinggalinya selama bertahun-tahun. Ia sempat memikirkan tentang bagaimana kehidupannya kelak dengan lingkungan baru, budaya baru dan orang-orang yang baru. sebelum saya berangkat ke sini, ehm..Medan pasti beda lah kayak Malaysia ya. Saya pikirkan tentang gimana ya makanannya, gimana tempat penginapannya, gimana orang-orangnya. Setibanya di Medan, Govin menemukan perbedaan-perbedaan. Govin bersedia menceritakan semua yang ia alami selama berada di Medan, bahkan Govin juga bersedia berbagi cerita tentang pengalaman pertamanya menginjakkan kaki ke Indonesia, tetapi bukan di Medan, melainkan di Bandung. Kemudian ia menceritakan pengalaman yang berbeda yang ia rasakan antara dua tempat yang berbeda di wilayah Indonesia itu. Ia membandingkan apa yang dia alami selama di Bandung dan kemudian beralih ke Medan, tempat yang saat ini ia tempati dan masih akan ia tempati selama beberapa tahun ke depan. sebelumnya saya pernah kuliah di Bandung setahun, buat kayak pertukaran pelajar SMA di situ, jadi kalo bandingkan Bandung dengan sini, saya rasa orang Bandung lebih lembut, lebih sopan gitu. Di sini bukan mau kata tidak Sopan, tapi bahasanya kasar kali, suaranya besar, jadi gimana ya. Orang-orangnya kayak tidak mementingkan Sosialisasi gitu. Kalo mereka liat kita, mereka tidak mau menegur gitu, walaupun teman sekuliah, ada yang tidak mau ngomong-ngomong sama kita. Mereka buat kayak gak tahu, Sosialisasinya gak adalah di sini. Jadi saya rasa mereka perlu lebih berSosial, lebih ramah. Lebih baik lah berbicaranya gitu. Govin menemukan perbedaan pada kerasnya suara orang-orang Medan. Ia mengatakan orang Medan itu kasar dan cenderung tidak mementingkan sopan santun. Menurut Govin, orang-orang Medan tidak mau bersosialisasi dengan mereka. Itu ia simpulkan dari pengalaman yang ia alami. Meskipun sudah satu kelas, mereka tidak dekat, Govin mengatakan bahwa teman-temannya mahasiswa

Indonesia tidak ramah, tidak mau melemparkan senyum, tidak mau menyapa. Ia merasa seperti tidak ada iktikad baik untuk membuka diri berkenalan dengan mereka. Ketika ingin menyampaikan hal ini Govin sempat berhenti sebentar, ia mencari kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan pendapatnya. Peneliti juga melihat ia seperti takut menyinggung perasaan peneliti sebagai orang Medan. Karena ia terlihat bingung menyampaikannya, Harry ingin membantu. Dengan menggunakan bahasa Inggris, bahasa yang mereka gunakan jika berbicara dengan sesama mahasiswa Malaysia, Harry menanyakan apa yang ingin Govin sampaikan. Govin tersenyum, tampak segan, tetapi peneliti mencoba

meyakinkannya kalau ia boleh menyampaikan apa saja yang jadi pendapatnya, apa yang ia rasakan. Akhirnya Govin menceritakannya tanpa bantuan Harry, karena sebenarnya ia bukan tidak tahu menyampaikannya, tetapi segan. Govin juga menceritakan bahwa kebanyakan teman-temannya itu orang Indonesia yang berasal dari kota lain yang juga merantau untuk kuliah di FKG USU, bukan mahasiswa asli Medan. Ini membuatnya terkejut, mengapa keadaannya seperti ini? Itu pertanyaan yang muncul di benaknya. tapi waktu di Bandung sana saya shock liat orangnya karena terlalu lembut, terlalu Sopan gitu. Kayak seumpamanya kita duduk di sini, ada orang lalu, kita gak tau sapa itu, tapi mereka bilang permisi ya pak, punten ya pak, gitu. Mereka ngomong, kita rasa, kenapa ya mereka harus bilang kek gitu? Terlalu Sopan, jadi terasa pelik. Tapi di sini, ada orang lewat aja, gak ada bilang permisi, kita berdiri pun langgar aja, gitu. Jadi culture shock itu saya merasakan apabila orang-orang itu kek gini. Cara bicara mereka, baru saya tau, mereka ini kasar kali ya. Mereka itu gak friendly gitu ya. Jadi saya rasa bedanya di situ. Sejauh pengalamannya, Govin melihat bahwa mahasiswa Indonesia di FKG yang berasal dari luar kota Medan lebih ramah dan lebih mau berbaur dibandingkan dengan orang asli Medan.

kalo saya rasa ya, kalo orang dari luar kayak Palembang, Surabaya datang ke sini mereka lebih ramah, mereka lebih rapat, tapi orang asli Medan gak gitu, gak ramah, gak rapat. Gak tau kenapa. Memang dari 2008 sampai sekarang, teman-teman yang ada itu bukan asli dari Medan, dari Palembang, Surabaya, ada yang dari Bandung juga kuliah di sini. Mereka yang lebih mau berbicara, lebih dekat. Setelah mendengarkan cerita Govin, berkaitan dengan itu peneliti langsung menanyakan apakah dengan keadaan yang seperti itu ia cenderung mendekatkan diri dan berkumpul dengan sesama mahasiswa asal Malaysia lainnya. Mendengar pertanyaan itu, dengan cepat Govin langsung membela diri. Ia seperti ingin memberikan penjelasan bahwa itu bukan keinginannya. Ia adalah tipe orang yang friendly, sangat ingin berbaur dan bergaul dengan siapa saja. Govin ingin bisa bergaul dan berteman baik dengan semua mahasiswa Indonesia tanpa terkecuali, tidak memandang apakah ia dari luar kota atau asli Medan. Govin menyadari keberadaannya sebagai pendatang, ia yang harus mendekatkan diri dengan lingkungan baru yang ia datangi, tetapi kondisi yang menolak menurutnya, membuat ia pasrah dan menerima keadaan ini sebagai sebuah tradisi. Govin memilih untuk mengikuti keadaan dengan tetap membuka diri untuk berkenalan dengan mahasiswa Indonesia, siapapun itu. Sifatnya yang ingin bergaul itu terlihat ketika peneliti datang ke FKG pada kesempatan berikutnya. Dari kejauhan, peneliti mengamati gerak-gerik Govin. Ia suka berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia. Meskipun ia menyampaikan kekecewaannya mengenai Sosialisasi yang menurutnya kurang, sesungguhnya Govin tetap membuka hati untuk suatu persahabatan dengan mahasiswa Indonesia. saya bukan orang yang mau kan kayak gitu, saya mau lebih rapat dengan orang Medan di sini, cuman kerna Sosialisasinya kurang, saya pun gak tau gimana mau diperbaiki lagi. Jadi saya biasa ajalah, siapa yang mau ngobrol dengan saya, saya ngobrol. Kadang-kadang ada juga teman orang Indonesia yang mau ngobrol, mau senyum, yang kayak gitu seronok

lah. Itupun yang spesifik aja yang mau ngobrol sama kita. Tapi ini gak saya anggap sebagai masalah, ini saya anggap sebagai, apa ya, ini lah hakikat nya, udah jadi tradisi di sini lah gitu. Govin juga mencurahkan isi hatinya bahwa teman-teman satu angkatannya di kelas mandiri kurang mau bergaul dengannya, kebanyakan ia memperoleh teman mahasiswa Indonesia dari kelas reguler. Govin juga tidak tahu mengapa hal itu terjadi, ia hanya merasakan bahwa mahasiswa Indonesia di kelasnya tidak mau menegurnya, terkesan sombong. Sedangkan dari kelas reguler Govin sudah mempunyai beberapa teman baik, ia bahkan dengan cepat menyebutkan nama mereka satu persatu kepada peneliti. Govin bersemangat menceritakan pertemanannya dengan mereka. Mereka tidak hanya akrab di kampus saja, selepas semua aktivitas di kampus diselesaikan, sore hari mereka melepas penat bersama, berolahraga Sore dengan bermain futsal bersama. Ketika ditanya mengapa dan bagaimana ia bisa mendapatkan teman dari kelas reguler, Govin menjawab bahwa ia menangkap iktikad baik dari mereka untuk berkenalan dengannya. Menurutnya, mahasiswa di kelas reguler lebih ramah, mau menyapanya, memberikan senyuman dan diajak berkenalan. Sesungguhnya, Govin ingin sekali bisa diterima di tengah-tengah teman-teman mahasiswa Indonesia, terutama mahasiswa asli Medan baik di kelasnya, di kelas reguler, atau dimana saja. Govin tidak menginginkan adanya perbedaan. tapi itu semua bukan dari kelas saya, kami kan ada 2 kelas, ada mandiri dengan reguler, mereka itu yang reguler. Kalo yang mandiri kuranglah, kurang mau bergaul. apa ya, senang lah gitu kak, sewaktu aku lalu kelas mereka, mereka mau liat aku, mau senyum gitu. Lalu sapa lah, hai, kenalan gitu. Itu waktu semester pertama, kami belajar bersama, praktikum bersama, jadi bisalah, udah rapat gitu. Lepas tu di luar maen futsal bareng-bareng. Itu semua anak reguler, tak ada yang mandiri.

Pengalamannya selama satu tahun di Bandung tahun 2006-2007, memberikan pengetahuan bahasa Indonesia yang baik. Sehingga ketika tiba di Medan dan harus berkomunikasi dengan mahasiswa Indonesia, ia tidak terlalu kesulitan. Itu jelas peneliti rasakan, selama proses wawancara, semua pertanyaan peneliti dapat ditangkap dan dijawab dengan baik oleh Govin. Menurutnya, karena bahasa Indonesia dan Malaysia tidak terlalu banyak perbedaan. Selain itu baginya, bahasa Medan itu tidak terlalu rumit, tidak terlalu asli. Masih banyak kata-kata yang juga sering digunakan di Malaysia, sehingga mudah dimengerti. Govin juga membandingkan pengalamannya tentang masalah bahasa ini selama di Bandung. Menurutnya, bahasa Sunda yang digunakan di kota itu terlalu asli daerah, terlalu rumit untuk dipelajari, bahkan dialek, intonasi dan pergerakan bibir orang-orang Bandung sangat asli daerah. Ketika ia tiba di Medan dan mendapati bahasa yang kurang lebih sama dengan bahasa yang digunakannya di Malaysia, ia tidak mengalami kesulitan. jadi mula di sini kan saya bisa bahasa Indonesia karena pengalaman di Bandung tahun 2006 2007, jadi datang di sini, saya rasa gampang untuk berbicara, lagipun di sini bahasanya gak asli betol. Jadi campur-campur gitu.... saya rasa orang Medan, mereka gak gunakan bahasa yang terlalu asli. Mereka masih gunakan kata macam boleh, tak ada. Lebih kurang sama dengan di Malaysia, jadi saya gak rasa payah untuk ngomong. Kalo dulu disana, di Bandung mereka terlalu asli bahasanya. Contohnya kayak perkataan gimana ya, banget, sih, dong. Terlalu apa ya, terlalu asli gitu. Terlalu pekat, kayak intonasi suara, pergerakan bibir semua terlalu pekat gitu. Memang sebulan di sana tu kayak shock, kayak di planet lain gitu. Lagian mereka pake bahasa Sunda, jadi saya rasa kayak di planet gitu. Selain interaksi dengan mahasiswa Indonesia di kampus, Govin juga berinteraksi dengan orang-orang luar seperti tukang becak dan supir angkot. Ia tidak memiliki kendaraan pribadi, sehingga setiap kali ia harus berinteraksi dengan orang-orang itu, meskipun sesekali Govin menumpang dengan teman

yang membawa kendaraan pribadi. Govin menyampaikan kekesalannya dengan tukang becak dan supir angkot. Ia punya beberapa pengalaman tidak baik dengan mereka, terutama masalah harga yang terlalu tinggi. kadang-kadang orang becak ni lah masalahnya. Satu hari satu harga gitu. Kalo hari ini mereka bilang sepuluh, eSok mereka bilang 20. Ada yang mengeluarkan kata-kata yang gak perlu dikeluarkan, kayak ahh kamu orang Malaysia bayar ajalah lebih? kadang saya pikir, kenapa ya mereka bilang kek gitu? konflik yang besar itu selalu dengan tukang becak, kami pun malas melayani mereka. Kadang naek angkot, sama teman yang ada kereta. Kadang becak kalo terpaksa naek becak. Merindukan lingkungan asalnya akibat tinggal di negeri orang, jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat juga dirasakan Govin, terutama ketika menjelang libur akhir semester, tetapi ia mampu mengatasinya dengan melakukan banyak kegiatan dengan teman-teman Malaysia maupun Indonesia, seperti mengerjakan tugas kuliah bahkan olahraga seperti futsal. Selama wawancara, Govin juga berbagi pendapatnya tentang makanan Medan. Ini juga termasuk masalah yang agak sulit baginya. Seminggu pertama, Ia sering sekali mengalami sakit perut, tetapi lambat laun Govin bisa beradaptasi. Bahkan, ia punya menu favorit, yaitu ayam penyet. makanannya saya rasa susah dikit, karena terlalu pedas. Pertama minggu kadang mencret lah gitu. Jadi, sekarang uda adaptasi, makanannya udah OK. Mengenai konflik Indonesia dan Malaysia, Govin berpendapat bahwa hal itu adalah urusan pemerintah Indonesia dan Kerajaan Malaysia, jadi masyarakat tidak perlu ikut campur dan terpengaruh. Menurutnya, masing-masing negara memiliki kepentingan, keduanya saling membutuhkan, jadi tidak perlu membesarbesarkan masalah yang ada, karena keduanya akan rugi. Bagi Govin, konflik dua

negara itu tidak mempengaruhi interaksinya dengan orang-orang Indonesia, terutama mahasiswa Medan di kampusnya. sebenarnya kalo pandangan saya, konflik itu sebenarnya antara pemerintah dengan pemerintah. Biar mereka yang lunasi semua masalahnya. Kita sebagai masyarakat di sini gak perlu menunjuk perasaan gitu, karena kita saling membutuh satu sama lain. Maksud saya, kami kuliah di sini, haa..kebanyakan pekerja di sini bekerjanya di sana, jadi semua ada kepentingan faktor sendiri yang harus dijaga gitu, jadi kalo mereka besarkan masalah ini, dua ini harus balik ke negara masingmasing. Jadi biar kerajaan, biar pemerintah yang selesaikan. Jadi masyarakat tenang-tenang ajalah. Pertemuan selanjutnya peneliti dengan Govin tetap berlokasi di FKG, ia baru selesai melalukan kegiatan praktikum, masih dengan menggunakan baju praktik, ia duduk di kantin. Peneliti kemudian mendatanginya, kembali bertegur sapa, menanyakan kegiatannya sehari ini, kemudian kembali membuka topik tentang culture shock yang ia rasakan dan pengalaman-pengalaman lain selama di Medan. Dari keseluruhan interaksi yang Govin lakukan dengan orang-orang Medan, ia sangat mengalami kesulitan dan kekecewaan ketika harus berurusan dengan pihak imigrasi. Seluruh mahasiswa asal Malaysia harus mengurus kedatangan dan kepulangan mereka dengan pihak imigrasi. Biasanya menjelang akhir semester seperti ini, mereka berbondong-bondong pergi untuk mengurus kepulangan mereka selama liburan. Setiap kali datang, menurut pendapat Govin, mereka tidak disambut dengan baik. Pihak imigrasi seperti tidak menghendaki kedatangan mereka. Mereka merasa dipersulit untuk urusan yang satu ini. Untuk mendapatkan izin surat balik, mereka harus benar-benar bersikap baik, menjaga hati para pegawai imigrasi, tidak boleh sedikitpun membuat mereka tersinggung. Govin juga menceritakan bahwa ia sungguh tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Hal ini membuat Govin sangat heran dan sekaligus kecewa, Ia

menanyakan mengapa mereka seperti itu. Dengan terang-terangan Govin menceritakan kepada peneliti bahwa ia sangat kesulitan berkomunikasi dengan pihak imigrasi. Selain itu, terkadang Govin juga mengalami masalah ketika berinteraksi dengan dosen. Ada beberapa dosen yang tidak terlalu

mempermasalahkan hubungan antara dosen dan mahasiswa, tetapi ada juga sebagian dosen yang ingin para mahasiswanya hormat, penggunaan bahasa ketika presentasi dan menulis juga harus baik, tidak boleh ada kesalahan. kita kan harus berhubungan dengan imigrasi kan. Jadi kalo kita kesana kan mereka itu terlalu..kayak mana ya..terlalu..terlalu...gak menghendakkan gitu,.mereka itu gak..ahh,kamu apa, gitu..jadi kalo mau berurusan dengan imigrasi itu, harus betol-betol menjaga hati mereka, gitu. Kalo menjadi normal kek gitu gak bisa, harus menjadi lebih kayak berbaik, gitu. Kalo kita bilang,ibu, saya mau.. mereka gak mau, harus yang baik bilang ibu... gak tau apa yang mereka harapkan dari kita. Berbicara dengan mereka itu sulit kali lah. Terpaksa jaga semua. Lagipun mood nya kadang-kadang gak baik. trus kayak dosen-dosen di sini, kadang ada dosen yang gak terlalu pentingkan antara mahasiswa dan dosen, tapi ada juga yang pentingkan itu, mahasiswa dengan dosen itu harus hormat, bahasanya harus benar, tak boleh ada sedikit kesalahan gitu. Sejauh ini Govin sudah mampu berinteraksi dengan baik, terutama dengan mahasiswa Indonesia di kampusnya. Ia juga sempat mengomentari beberapa mahasiswa asal Malaysia yang memilih untuk lebih sering berkelompok dengan sesamanya. Mereka tidak menemui bentrok interaksi dengan orang-orang Indonesia karena mereka memilih untuk tidak berbaur. Menurutnya itu tidak terlalu baik. Prinsip Govin adalah bahwa setiap melakukan sesuatu yang baru, pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Tapi jika kita takut dengan kekurangan, sehingga memilih tidak melakukan apa-apa, maka tidak akan pernah maju. Sebagai orang yang sangat suka bergaul, Govin kerap kali menemukan kesalahan

dan kesulitan komunikasi, tetapi seiring waktu, komunikasi yang terus dilakukan dan keinginan untuk terus belajar, Govin mampu beradaptasi. itulah tadi, kekmana kubilang..di sini ada dua kelompok, ada yang sama anak malaysia aja. jadi mereka tak mungkin bermasalah kan, mereka dengan sesama mereka aja. Sebab mereka kan gak pernah berinteraksi. Kalo saya, saya suka bergaul, suka berinteraksi jadi di situ lah munculnya masalah. Gini kak, perkara yang logikal ya, ketika kita membuat sesuatu yang baru pasti ada kebaikan dan keburukannya. Kalo kita gak mau membuat sesuatu yang baru, kita tetap aja dengan apa yang kita ada, kita kan gak kemana-mana. gini lah kak, aku sampe usu, memang teman aku teman aku, teman malaysia teman malaysia, tapi kalo aku mau tanya, aku tanya dua pihak. Gak ada pilih kasih lebih ke malaysia atau kekmana.

Kesimpulan Kasus Govin terkejut memperoleh suatu keadaan bahwa seperti inilah kota Medan dan orang-orang di dalamnya. Di tahun pertamanya, Govin mengalami kekecewaan dan kesedihan ketika memperoleh perlakuan seperti ditolak oleh teman-teman mahasiswa Indonesia sekelasnya. Menurutnya, sosialisasi orang Medan, terkhusus di kampusnya sangat rendah dan itulah yang menjadi pertanyaan baginya. Pengalamannya selama enam bulan di Bandung sedikit banyaknya membantu adaptasinya, namun hal itu pula yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gegar budaya yang Govin alami. Keadaan kota Bandung, khususnya dalam hal karakteristik orang-orangnya yang berbeda dengan apa yang ia alami di Medan memberikan keterkejutan tersendiri. Contohnya, orang Bandung yang sangat sopan dalam bertutur dan bertingkah laku, sedangkan orang Medan berbicara dengan suara yang kuat dan terkesan

kasar. Selain itu dalam hal bahasa. Bahasa Sunda yang bagi Govin terlalu asli sehingga rumit untuk dipelajari, sedangkan bahasa Medan cenderung hampir sama dengan bahasa Melayu yang biasa digunakannya, sehingga tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Meskipun merasa ditolak, itu tidak membuatnya menyerah dan putus asa. Keadaan itu tidak membuatnya menyerah hidup sebagai perantau di negara orang. Govin pribadi yang berani mencoba hal baru dan membuka diri untuk suatu perubahan. Saat ini Ia mempunyai banyak teman mahasiswa Indonesia dan mereka bergaul akrab, tidak hanya untuk urusan perkuliahan. Govin juga mempunyai keluhan terhadap fasilitas dan birokrasi kampus yang menurutnya perlu ditingkatkan. Selain itu, kendala juga dihadapinya ketika berurusan dengan pihak imigrasi. Sedangkan di luar interaksi komunikasi antarbudaya, makanan Medan juga menjadikesulitan baginya. Gangguan fisik seperti sakit perut selama seminggu pertama kerapkali ia alami.

Informan 4 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Amirah Fahimah Binti Ahmad Tarmizi : 22 Tahun : Perempuan : Kedokteran Gigi : 2007 : 3,5 tahun : Jalan Dr. Mansur : Kamis, 2 Desember 2010

Peneliti mengenal Amirah dari informan sebelumnya. Waktu itu peneliti dibawa menghampiri sekelompok mahasiswa asal Malaysia yang sedang berbincang-bincang dan menunggu pesanan makan siang mereka. Amirah adalah salah satu dari mereka. Kulitnya putih, rambutnya panjang, berpenampilan modern dengan kemeja dari bahan jeans dan juga celana jeans. Peneliti berkenalan selama beberapa saat, kemudian menanyakan pengalamannya selama di Medan. Amirah melanjutkan kuliah di FKG USU karena diberikan beasiswa oleh pemerintah Malaysia. Selama kurang lebih 3 tahun Amirah tinggal di Medan, bahasa adalah masalah yang paling besar baginya. Ketika berbicara dengan peneliti saja, ia banyak sekali diam dan memikirkan pilihan kata yang tepat. Tata bahasa Indonesianya juga belum baik, masih berantakan. PerSoalan yang Amirah alami ini membuatnya lebih banyak berdiam diri dan memilih mendengar. Untuk itulah Amirah cenderung bergabung dengan sesama mahasiswa asal Malaysia, setidaknya itu yang peneliti dapatkan selama observasi. Kesulitan komunikasi dikarenakan perbedaan bahasa membuat intensitas interaksi dalam hal komunikasi antarbudaya dengan mahasiswa Indonesia kecil. Amirah hanya berkomunikasi dengan mahasiswa Indonesia selama berada di lingkungan kampus untuk hal yang berhubungan dengan perkuliahan saja, untuk ranah pribadi dan berbincang panjang lebar sangat jarang Amirah lakukan. Teman sesama Malaysia yang sering bersamanya juga mayoritas yang satu suku dengannya, yaitu Melayu. Hal itu juga semakin diperkuat ketika Amirah sendiri yang mengakuinya kepada peneliti ketika wawancara. Amirah merasa lebih nyaman dengan teman sesama Malaysia karena tidak perlu mengalami masalah

dalam bahasa, sehingga sampai sekarang pun ia hanya sekedar kenal saja dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya, tetapi tidak ada yang dikenal baik dan dijadikan sahabat. Bahasa Indonesia yang tidak fasih juga mempersulit Amirah selama proses belajar-mengajar, seperti ketika harus presentasi, banyak kata yang tidak dipahami sehingga sulit untuk menjelaskannya. Selain itu, Amirah tidak hanya mengalami kesulitan dalam bahasa lisan, bahasa tulisan juga menjadi hambatannya, bahkan lebih besar dibandingkan dengan bahasa lisan. Ia mengeluh karena sangat sering mendapat teguran dan dimarahi oleh dosen karena ketidakmampuan menulis. Itu menjadi lebih terasa di saat Amirah menyusun tugas akhir-nya, yaitu skripsi. Sebagaimana sebuah tulisan karya ilmiah yang harus memenuhi aturan penulisan dan tata bahasa baku, menjadi persoalan besar bagi Amirah, sehingga perbaikan berulang-ulang harus ia alami. Untuk mengatasinya, ia meminta bantuan kepada mahasiswa Indonesia untuk memeriksa skripsinya terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada dosen pembimbingnya. Culture shock dalam komunikasi antarbudaya tidak terlalu terasa bagi Amirah, hal ini karena ia memilih bergabung dengan sesamanya mahasiswa asal Malaysia. Kenyamanan karena persamaan budaya diperolehnya ketika bergabung dengan kelompoknya, sehingga bentrok komunikasi antarbudaya jarang ia alami. Sesungguhnya, berdasarkan pengakuannya tersebut dan juga pengamatan yang peneliti lakukan, Amirah tidak mampu menerima perbedaan-perbedaan yang ada sehingga ia menghindar dari interaksi yang terlalu sering dengan mahasiswa Indonesia.

Amirah juga merasakan perbedaan dengan makanan Medan, terlalu pedas dan porsinya banyak, tetapi itu tidak terlalu bermasalah baginya. Pengalamannya selama kurang lebih 3 tahun tentu dipenuhi keterkejutan diakibatkan perbedaan. Tetapi masalah bahasa inilah yang paling mencolok dan menghambatnya. Keterkejutan juga ia rasakan ketika melihat dan mendengar perempuan Medan yang berbicara dengan suara keras dan suka menjerit, itu pengalamannya terhadap mahasiswi Indonesia di FKG. Selebihnya, ia merasa biasa saja, tidak ada perbedaan dan kesulitan lain yang terlalu besar. suara orang perempuan tu kan keras kan, jerit-jerit. Kalo komunikasi itu mula-mula ada masalah lah kan, kayak kami cakap lain, orang Indonesia pahamnya lain. Jadi mula-mula datang sini tak banyak cakap lah, jadi lebih banyak mendiamkan diri, lebih banyak mendengar. bahasa lagi lah memang masalah yang besar. Kalau ngomong udah sikit bisa lah, kalau penulisan lah, susah. Jadi kami selalu kena marah dosen. Macam waktu skripsi ini kan, jadi perbaikan, perbaikan, perbaikan aja. Minta teman dari indonesia baca dulu baru kasi dosen.

Kesimpulan Kasus Amirah mengalami culture shock dengan karakteristik orang Medan yang berbicara dengan suara kuat, khusunya perempuan. Baginya, perempuan yang berbicara dengan suara yang kuat adalah sesuatu yang aneh dan tidak wajar. Kendala yang paling utama baginya adalah bahasa. Ia mengalami kesulitan besar dalam hal bahasa, baik lisan maupun tulisan. Hal ini terasa ketika perkuliahan dan menyusun skripsi sebagai tugas akhir-nya. Ia bahkan sempat takut karena sering dimarahi oleh dosen. Kendala ini ia atasi dengan meminta bantuan mahasiswa Indonesia untuk memeriksa skripsinya terlebih dahulu sebelum menyerahkan kepada dosen pembimbing. Ketidakmampuannya akan bahasa ini yang membuat

Amirah cenderung berkumpul dengan sesama mahasiswa Malaysia. Ia merasa lebih nyaman dan tidak perlu takut mengalami kesulitan dalam interaksi. Hal ini juga yang menutupi culture shock yang ia rasakan.

Informan 5 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Lavanyah Rajagopal : 24 Tahun : Perempuan : Kedokteran Gigi : 2007 : 3,5 tahun : Jalan Jamin Ginting No. 46 : Jumat, 3 Desember 2010

Lavanyah adalah wanita yang sangat ramah, heboh, ceria dan ekspresif. Ketika sedang mewawancarai Hery, Lavanyah menghampiri Hery, mereka berbincang masalah perkuliahan dan persiapan UAS. Sebelumnya peneliti juga sudah pernah bertegur sapa dengan Lavanyah, tetapi pada pertemuan pertama itu Lavanyah menolak untuk diwawancarai karena ia sangat sibuk. Selesai berbincang, Lavanyah memilih salah satu tempat duduk di kantin FKG.

Dikarenakan peneliti juga sudah selesai melakukan wawancara dengan Hery, peneliti menghampiri Lavanyah. Ia menyambut baik peneliti dengan senyuman ceria di balik wajahnya yang terlihat sangat lelah. Ia baru saja mengurus penelitian untuk penyelesaian skripsinya. Ketika sedang menunggu pesanan makan siangnya, peneliti menyapanya dan menanyakan apakah kali ini ia bersedia untuk diwawancara, akhirnya Lavanyah pun menyetujuinya, bahkan ia menyambut peneliti dengan sangat ramah, mengambil tasnya yang semula diletakkan di kursi sebelah kanannya agar peneliti bisa duduk. Selama wawancara, peneliti berusaha untuk mengenal pribadi Lavanyah dari cara ia berbicara dan menerangkan pengalamannya. Sejauh pengamatan peneliti, secara fisik Lavanyah adalah wanita India dengan kulit gelap, wajahnya manis, ada bindi di dahinya, tidak terlalu tinggi dan agak gemuk. Ia merupakan mahasiswi yang supel, sederhana secara penampilan, saat wawancara ia mengenakan kemeja hitam garis-garis vertikal putih dan celana bahan berwarna hitam dengan rambut dikuncir. Lavanyah tipe orang yang cerewet, suka berbicara, setiap kali menjelaskan sesuatu lengkap dengan ekspresinya. Peneliti menanyakan perasaannya ketika pertama kali tiba di Medan, Lavanyah menjelaskannya secara kronologis mulai dari proses pertimbangan pemilihan universitas sampai kehidupannya selama tiga tahun di Medan. Lavanyah memulainya dengan cerita bahwa ia memilih USU karena telah mendapat informasi bahwa Medan dekat dengan Malaysia dan secara garis besar hampir sama dengan Penang. Hal itu membuat Lavanyah juga setuju untuk melanjutkan kuliah ke FKG USU, ditambah dengan dukungan sang ayah yang semakin memperkuat tekadnya.

Actually mula-mula kan, kita ke education fair, nanti mereka bilang ok kamu mau yang mana?, tapi mereka bilang yang usu, di medan seperti di penang juga. Mereka bilang yang kalau pilih usu lebih gampang karena seperti penang juga. So, mereka bilang lebih baik lah ke usu yang di medan aja. Ayah saya pun kata ok lah ke usu aja, sebab kan dekat aja. So, saya langsung ke medan. Setibanya di Medan, tepatnya di bandara Polonia, Lavanyah masih belum merasakan kesepian atau kehilangan lingkungan familiarnya, karena Lavanyah berangkat dengan 40 mahasiswa asal Malaysia lainnya. Begitu juga ketika tiba di penginapan sementara mereka, Lavanyah dan yang lainnya justru disibukkan dengan kegiatan berbelanja peralatan hidup sehari-hari, karena mereka tidak membawa perlengkapan apapun ketika berangkat dari Malaysia. Lavanyah menceritakannya dengan sangat antusias dan berulang kali tertawa. ooh, sebenarnya gak tau. Semua bahan, semuanya like..hmm, all things that i never bring. Gak bawa semuanya, semua barangnya gak bawa, kayaknya pergi mau vacation, holiday. Lepas itu waktu tiba di bandara, oke tooth brush, apa-apa, semua tak ada bawa. Setelah mengurus semua berkas dan persyaratan, hari pertama Lavanyah ketemu dan berinteraksi dengan orang Indonesia adalah ketika OSPEK di FKG USU. Kejadian OSPEK adalah hal pertama yang membuat Lavanyah terkejut dan merasakan perbedaan antara negaranya dan Indonesia. Menurut Lavanyah, masa orientasi seperti yang FKG lakukan sangat keterlaluan. Sedangkan di Malaysia, kegiatan semacam itu ada, tetapi hanya sebatas perkenalan kuliah saja, tidak ada pelonco seperti yang FKG USU lakukan. Seperti yang sudah peneliti sebutkan sebelumnya bahwa Lavanyah adalah pribadi yang sangat ekspresif, menceritakan bagian ini pun ia sangat antusias, Lavanyah berulang kali membuat peneliti tertawa karena tingkah lakunya, karena selama bercerita ia mengucapkan beberapa kata yang salah, misalnya ketika Lavanyah bermaksud menyebutkan

jengkol, ia mengucapkan kata jempol. Dari ekspresi dan mimik wajahnya serta bahasa nonverbal lainnya, Lavanyah benar-benar menunjukkan

keterkejutannya melihat OSPEK ala kampus FKG USU, bahkan ia hanya mengikuti kegiatan itu satu hari saja, dua hari berikutnya ia memilih diam di kost. pas itu masih belum jumpa indonesians, lepas tu baru hari pertama kita ke FKG, pas itu masuk ospek. Masuk ospek, like aduh, seram kali. Udah masuk aja mereka jerit-jerit, semua disuru pake-pake apa. Di malaysia, actually ada, tapi macam perkenal-perkenal aja, tak bisa macam ini, yang kasar kali, So, terrible lah yang ospeknya. Itu 3 hari, tapi satu hari aja kita pergi, lepas tu gak pergi lagi. Berapa jam aja, sebab seram kali. Senior-senior tu jerit-jerit. Disuruh makan jempol lagi, eh, jengkol, semua muntah-muntah, sebab i never eat before. Esoknya disuru bawa barang-barang itu kan, tapi kami tak ngerti apa yang mereka suruh. Tetapi itu hanya dialami selama OSPEK saja, setelah itu semuanya kembali normal. Lavanyah mencoba menjalin hubungan yang baik dengan para senior. Mereka saling berbagi cerita, pengalaman dan buku selama perkuliahan. sekarang dengan senior udah ok. Lepas ospek aja, semua ok lah, mereka bagi note, everything lah. Hubungan Lavanyah dengan mahasiswa Indonesia di kampusnya juga terjalin dengan cukup baik. Selama wawancara beberapa kali temannya yang orang Indonesia menghampirinya untuk menanyakan seputar perkuliahan. Lavanyah juga memiliki dua teman Indonesia yang menjadi partner-nya dalam melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi. Bersama dua temannya itu, Ayu dan Ulipeh, Lavanyah semakin belajar tentang Indonesia, terutama Medan. Bersama mereka juga ia belajar menghargai dan menerima segala perbedaan yang ada. Mereka melewati suka duka penelitian bersama, bahkan sudah merencanakan liburan untuk melepas penat selama pengerjaan Tugas Akhir. Lavanyah dan kedua

temannya saling membantu ketika ia mengalami kesulitan, khususnya dalam hal bahasa ketika berkomunikasi dengan orang Indonesia lainnya. Bahasa adalah hal yang sampai sekarang masih sulit bagi Lavanyah. Peneliti juga merasakannya, karena dari sekian informan yang peneliti wawancara, Lavanyah adalah satu-satunya informan yang paling sering menggunakan campuran bahasa inggris, bahkan hampir seluruhnya. Bersama Ulipeh dan Ayu, ia saling bertoleransi, ketika keduanya saling tidak memahami, mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai penengah. Meskipun demikian, dalam keseharian, Lavanyah mengaku ia selalu berusaha belajar mengucapkan bahasa Indonesia, terutama karena penelitian yang dilakukannya menuntut Lavanyah untuk menguasai bahasa Indonesia dengan baik. saya buat skripsi juga dengan yang Indonesian, ulipeh sama ayu. Okelah kita buat penelitian, kita bagi sama-sama sebab topiknya sama cuman expect nya beda, So, kita buat sama-sama. ooh, masalah bahasa ada banyak, yang komunikasinya memang Sometimes ulipeh kan understand what im try to say, nanti pun dia bilang yang saya tak erti, lepas tu like kita paham kan sendiri. Kalau tak erti saya tanya, nanti dia coba translate dalam bahasa inggrisnya lah. Saya kan belum tau betol bahasa indonesia tu kan, So,nanti saya bilang sama ulipeh ulipeh ini apa? Ininya apa?, nanti ulipeh bilang, oh ini kek gini, macam tu lah. Gejala culture shock seperti homesick yang berlebihan di awal kedatangannya juga dialami oleh Lavanyah. Ia juga merasakan kehilangan suasana yang biasa ia temukan di negaranya, apalagi ini pertama kalinya ia tinggal sendiri dalam waktu yang lama tanpa orang tua. Lavanyah merindukan keluarga, setiap malam tiba, di kamar kost nya ia menangis. Tetapi itu lambat laun mampu ia atasi kerena Lavanyah mengaku banyak hal yang harus ia lakukan sebagai seorang perantau yang menuntut ilmu di negeri orang. Selain itu, teman-teman

yang selalu bersamanya dan mendukungnya membuat Lavanyah semakin kuat. Ditambah lagi ia mempunyai banyak teman sesama mahasiswa asal Malaysia di kampus dan di kost, sebagai teman senasib sepenanggungan. ini kali pertamanya lepas dari emak bapak. lepas tingkatan enam juga sama emak dan ayah, tak pernah tinggal dimana-mana, rumah nenek juga tak pernah tinggal. Slalunya di rumah sendiri, So, macam like, mereka bilang harus pergi. Sebab ini pertama kali keluar negara, tak pernah berpisah dari emak dan ayah, pertama kali itu. So, rasanya macam... homesick pasti lahh, apalagi pertama kali. 2 minggu awal-awal tu kan asik menangis aja. Sebab itu belom bisa call, sebab sim card-nya pun belom tau kodenya, belum tau apa-apanya lah. Secara keseluruhan, itulah yang membuatnya terkejut ketika menjalani kehidupan di kota Medan. Selain itu, Lavanyah tidak terlalu mengalami kesulitan dalam hal makanan, sebab ia seorang vegetarian, jika di kampus Lavanyah lebih sering memesan mie instan yang digoreng atau direbus dengan sayur dan potongan tahu. Lavanyah sangat menyukai tempe, ini pertama kalinya ia makan tempe dan langsung menyukainya. Bagi Lavanyah budaya Indonesia dan Malaysia kurang lebih hampir sama, banyak hal yang sama antara kedua negara. Lavanyah memberikan contoh penggunaan tangan kiri yang kurang baik dalam budaya Indonesia yang juga sama di Malaysia. Menurutnya, orang-orang Indonesia juga cukup baik dan ramah. Itu ia rasakan selama di kampus dan ketika menjalani praktik JCS di Rumah Sakit Adam Malik. culture shock not really lah, similar, the culture is similar lah, kurang lebih sama. Kan yang macam tangan kirinya di indonesian is bad, right? Even malaysian, especially Indian yang left hand is alSo bad. Sama, kayaknya up and down lah, ada yang sedikit beda lah.

kami ada JCS di hospital adam malik kan, So, di situ juga banyak indonesian, pokoknya they are very friendly lah, kalau kita tanya apa pun, they try to share. And then they dont like, kalau ada isu-isu politik macam tu kan between indonesia and malaysia. They say ah, itu kan masalah politik, dont involve mahasiswa. Interaksi dengan penghuni kost lainnya juga terjalin baik. Pribadinya yang ceria dan ceplas-ceplos membuat orang senang berbicara dengannya. Selain itu, Ia juga tidak malu jika salah mengucapkan kata dan selalu ingin belajar. Lavanyah tinggal di Jalan Jamin Ginting dengan empat orang mahasiswa Malaysia dari FK dan FKG dan dua orang mahasiswa Indonesia. Tidak ada konflik yang terjadi di rumah kost, Lavanyah menyadari dirinya sebagai pendatang dan berusaha membangun hubungan yang baik. saya kost sama malaysian, indonesian dulu ada, tapi sekarang udah pindah, sekarang udah 2 orang aja. Hubungan sama mereka baiklah, sebab mereka junior kan, So mereka macam kalau ada apa-apa yang mereka mau, they come to my room lah. Lavanyah sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan Medan. Ia bahkan tergabung sebagai anggota di salah satu pusat olahraga, seperti tempat fitness dan sauna. Ia berinteraksi dengan anggota lain yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga. Kelihatan sekali ia sangat menikmati harinya di tempat ini, karena ia menceritakannya dengan antusias, tangan Lavanyah tidak berhenti bergerak kesana kemari memperagakan setiap halnya. kalo di luar saya di cleopatra fitness lah. Nanti ibu-ibu itu semua very lucu lah. Mereka bicara trus, im not really understand what they say but i try to understand. Saya juga cerita lah, ibu-ibu tu tanya-tanya.

Kesimpulan Kasus

Lavanyah adalah pribadi yang suka bergaul dan mudah beradaptasi. Culture shock yang ia alami pertama kali tiba di Medan adalah OSPEK ala FKG USU. Menurutnya kegiatan itu terlalu berlebihan. Di Malaysia kegiatan seperti ini juga ada di kalangan mahasiswa baru, tetapi hanya sebatas pengenalan singkat tentang garis-garis besar kampus saja. Hal ini benar-benar membuatnya terkejut. Ini merupakan pengalaman pertamanya meninggalkan negara dan hidup sendiri tanpa orang tua. Di awal kedatangannya, homesick selalu dirasakan. Selain itu, bahasa juga menjadi kendala besar baginya. Kesulitan dalam berkomunikasi sering ia rasakan. Meskipun demikian, Lavanyah merupakan pribadi yang suka bergaul. Kesulitan bahasa yang dialaminya tidak membuat Lavanyah berhenti mencoba untuk berkomunikasi. Penelitian yang sedang ia lakukan bersama dua mahasiswa Indonesia membuat mereka semakin akrab. Ia belajar tentang bahasa dan lainnya bersama kedua temannya tersebut. Saat ini, Lavanyah sudah mampu beradaptasi, bahkan di luar kampus ia sudah memasuki komunitas lain, yakni kelompok fitness bersama anggota lainnya yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga.

Informan 6 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Amir Hakimi : 23 Tahun : laki-laki : Kedokteran : 2006 : 4,5 tahun : Jalan Dr. Mansur : Kamis, 16 Desember 2010

Pertemuan peneliti dengan Amir berlokasi di RSUP Haji Adam Malik Medan. Peneliti mengenalnya dari salah seorang kenalan peneliti. Saat itu Amir sedang istirahat, peneliti menghampirinya dan mulai mewawancarainya. Pertama kali peneliti dikenalkan dengan Amir, peneliti sempat tidak percaya ia mahasiswa asal Malaysia, sebab secara fisik ia sama dengan orang Indonesia. Kulitnya putih, menggunakan kacamata dan saat itu ia menggunakan kemeja yang dibalut dengan jas putih yang merupakan seragam praktik co-assnya. Bagi Amir kedatangannya ke Kota Medan juga hal baru, sebab ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kota ini. Perbedaan pertama yang ia temukan setibanya di Medan adalah keadaan jalanan yang lebih ramai, padat dan tidak teratur dibandingkan dengan Malaysia. Tetapi untuk yang satu ini, keheranan hanya terjadi awal saja, sekarang Amir justru ikut dalam ketidakteraturan itu. Sambil tertawa Amir mengakui kebiasaan menekan klakson ketika berhadapan dengan kemacetan lalu lintas juga dilakukannya. pertama kali sampai medan, memang ada rasa agak beda la dengan malaysia. Kotanya agak padat, jalan gak teratur kali, bising sebab sering tekan horn. Tapi sekarang biasa aja la, malah saya pun ikut tekan horn juga la. Pengetahuannya tentang Medan sebelumnya juga sama dengan yang lainnya. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara dalam satu rumpun, sehingga budayanya juga kurang lebih hampir sama, termasuk bahasa. Ketika memasuki Kota Medan, Amir mulai berinteraksi dengan orang-orang Medan. Interaksi dimulai dengan teman-teman kampusnya. Perbedaan yang paling menyolok dirasakan Amir adalah cara bicara orang Medan yang agak kasar dengan intonasi dan volume suara yang kuat.

kalau orang Medan ngomongnya memang agak kasar, bahasanya gak begitu jauh, Medan dengan Malaysia itu hampir sama la. FK USU memang lingkungan baru baginya, tetapi ia memilih untuk langsung berbaur dan bergabung dengan mahasiswa Indonesia. Berbeda dengan FKG USU yang program co-ass-nya di akukan di klinik yang juga berlokasi di kampus, Amir menjalani coassnya di rumah sakit. Kondisi lingkungan yang dihadapi tentu berbeda. Lingkungan yang lebih ramai, dengan orang yang berlalu lalang, banyak tambahan orang-orang baru yang ditemuinya, seperti dokter, suster perawat dan tentunya pasien di rumah sakit tersebut. Masalah komunikasi juga sempat Amir alami dengan beberapa pasien yang berbicara dengannya dengan menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Batak. saya langsung berbaur la, di FK dulu pun gitu juga. Waktu kuliah dengan co-ass hampir sama aja, cuman tambah pengaruh lingkungan dari suster perawat gitu la. kalau sama pasien kadang ada masalah bahasa sikit, sebab mereka kadang pakai bahasa batak, jadi tak paham. Amir mengaku ketika ia berhadapan dengan pasien yang menggunakan bahasa Batak, ia meminta bantuan teman Indonesia yang juga sedang co-ass bersamanya. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena temannya membantu mengatakan kepada pasien untuk menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa sekiranya tidak menjadi kendala bagi Amir, mulai dari kehidupan kampus di FK USU sampai ketika co-ass di rumah sakit. Kondisi rumah sakit yang menuntut serba cepat dan harus saling kerja sama membuat Amir selalu berkomunikasi dengan teman Indonesia. Hal ini membantu melatih kemampuan berbahasanya dan hubungan yang semakin baik. Dari pengamatan peneliti dan pengakuan Amir sendiri, ia adalah orang yang tidak suka membeda-bedakan antara orang Indonesia dan Malaysia. Amir bergaul dengan siapa saja. Peneliti juga mengamati

kegiatannya selama di rumah sakit, bersama teman-teman sesama co-ass yang mayoritas orang Indonesia, Amir sudah bergaul akrab bahkan di sela waktu istirahat, mereka berkumpul di sebuah ruangan yang memang disediakan untuk para mahasiswa co-ass. Mereka ngobrol santai dan bersenda gurau. Kemampuannya menyesuaikan diri juga disebabkan prinsip hidup orang Malaysia kebanyakan. Menurut pengakuan Amir, mereka sudah terbiasa dengan kehidupan mandiri yang jauh dari keluarga. Perasaan homesick memang dirasakannya, tetapi itu hanya sebentar saja. Secara keseluruhan beradaptasi dengan lingkungan kota Medan dan orang-orangnya tidak terlalu sulit bagi Amir. Ia mengaku hanya membutuhkan waktu kurang lebih 4 bulan. homesick ada la, sebab pasti lebih enak di tempat sendiri kan. Tapi itupun biasa-biasa aja la, sebab kami orang malaysia udah dibiasa hidup mandiri, dari umur 12 tahun. Jadi ya bisa la adaptasi. saya dari masuk tahun 2006, tiga atau empat bulan aja udah bisa adaptasi la.

Kesimpulan Kasus Amir adalah pribadi yang cepat dalam beradaptasi. Ia juga mengalami culture shock, tetapi tidak terlalu sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, yakni Kota Medan. Setibanya di Medan, ia merasa orang-orang Medan itu kasar karena kebiasaan berbicara dengan suara yang kuat. Ia juga merasakan perbedaan akan jalanan Medan yang tidak teratur dan sesuka hati membunyikan klakson. Tetapi, sekarang hal ini sudah menjadi sesuatu hal yang biasa baginya. Ia bahkan ikut menjadi pengguna jalan raya yang seringkali membunyikan klakson. Ia sedang menjalani co-ass di rumah sakit. Lingkungan rumah sakit semakin menuntutnya untuk berbaur dan harus mampu

berkomunikasi. Ia saling bekerja sama dengan mahasiswa co-ass lainnya,

khususnya mahasiswa Indonesia, karena orang-orang yang ada dalam rumah sakit itu hampir semua adalah orang Indonesia. Ia sudah hampir 5 tahun menetap di Kota Medan. Ia sudah mampu beradaptasi saat ini.

Informan 7 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Jonathan Lin Chee Hang : 24 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2006 : 4.5 tahun : Jalan Dr. Mansyur : Senin, 20 Desember 2010

Peneliti menemui Jonathan ketika sedang beristirahat dari kegiatannya sebagai mahasiswa co-ass di FKG USU. Ia berdarah campuran, ibunya orang Filipina dan ayahnya Chinese. Secara fisik, campuran Filipina dan Cinanya jelas terlihat, kulit putih, mata sipit dan juga dialek bahasanya. Ia sering berpindahpindah kota bahkan negara untuk beberapa kepentingan, seperti untuk merencanakan bersekolah dalam bidang kesehatan Filipina, tetapi melihat populasi penduduk Filipina yang terlalu padat, Jonathan membatalkan niatnya. Seperti kebanyakan, ia pun memilih FKG USU karena dekat dengan Malaysia,

kualitas yang baik dengan biaya yang cukup murah bila dibandingkan dengan universitas di negara asalnya. Baginya ini memang pengalaman pertama datang ke Medan, sehingga tidak ada bayangan yang terlalu besar tentang Kota Medan, tetapi sebelumnya ia sudah pernah mengunjungi beberapa kota lain di Indonesia, seperti Kalimantan dan Palembang. ini pertama kali ke medan, jadi gak ada bayangan la. tapi saya memang pernah ke tempat-tempat lain seperti filipina, jadi bagi saya sama aja. selain itu gak terlalu bermasalah la, sebab saya sering pindah-pindah, filipina, jerman, di indonesia itu di medan, palembang, kalimantan juga. sebab sebelumnya saya pernah ke filipina untuk studi, tapi gak jadi sebab di sana populasi lebih negeri. Komunikasi antarbudaya yang tidak efektif karena kendala bahasa juga turut Jonathan alami. Ia mengaku di tahun pertamanya tinggal di Medan, masalah bahasa sempat menjadi persoalan. Apalagi ia baru mengetahui bahwa orang Tionghoa di Medan tidak menggunakan bahasa Mandarin ketika berkomunikasi dengan sesamanya, tetapi dengan bahasa Hokkien, sedangkan di Malaysia orang Tionghoa berkomunikasi dengan bahasa Mandarin. Ini sempat membuatnya bingung karena Jonathan sama sekali tidak bisa berbahasa Hokkien. Tetapi itu tidak terlalu mempengaruhi keinginannya untuk berinteraksi, dengan sesama etnis Tionghoa ia menggunakan campuran bahasa Indonesia atau kadang-kadang bahasa Inggris. Jonathan juga bergaul dengan mahasiswa Indonesia lainnya di kampus FKG USU, bahkan di luar kampus. kalau pertama kali, tahun pertama memang ribet la bahasanya. Apalagi kan saya mix Chinesse, orang Tionghoa di sini kan beda bahasanya. Kalau orang Tionghoa di sana pakai bahasa Mandarin, kalau disini pakai bahasa Hokkien, jadi saya gak bisa Hokkien, jadi terpaksa guna bahasa Inggris aja.

Menurut Jonathan, Indonesia dan Malaysia secara budaya tidak jauh berbeda. Bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang biasa ia gunakan di negaranya hampir sama, sehingga tidak terlalu sulit untuk berkomunikasi. Kondisi yang berlawanan dirasakannya ketika berada di Filipina. Keterkejutan budaya dan kesulitan komunikasi jelas dialaminya. Karena wajahnya yang mirip dengan orang Filipina, ketika berada di sana, orang-orang langsung berbicara dengannya dengan Bahasa Tagalog dan itu benar-benar membuatnya shock. Jadi, ketika masuk ke lingkungan Medan dengan budaya yang hampir sama, termasuk bahasa, tidak terlalu sulit bagi Jonathan untuk berkomunikasi dan menyesuaikan diri. maksudnya kalau saya kan, mamak orang Filipina, jadi saya pernah ke Filipina, jadi gak begitu shock dibanding Filipina, kalau di sini, culture shock, berat kali gak, sedang aja. Kalau yang berat di Filipina, di situ berat la. bahasa juga, karena mereka pikir saya kayak orang Filipin, mereka langsung cakap bahasa mereka, jadi saya sempat diam, sebab terkejut. Jadi di sana dulu saya takut untuk berkomunikasi la, sebab tak paham bahasa mereka. Kalau di Indonesia, sebenarnya bahasa melayu hampir mirip dengan bahasa Indonesia kan, jadi saya agak ngerti. Selain perbedaan keadaan dalam hal komunikasi, di Filipina juga Jonathan mengalami keterkejutan terhadap kemacetan lalu lintas dan kepadatan populasi penduduk Filipina, karena ia tidak bisa berada dalam keramaian kota. Jika seluruh kondisi ini dibandingkan dengan apa yang ia temukan di Medan, tingkatan culture shock di Filipina lebih besar. sebab saya kan di pusat kota, di Manila. Di situ lebih ribet la, lebih banyak, gak bisa saya terima, kayak traffic jam, sebab saya gak bisa ke tempat yang terlalu banyak orang. Interaksi dengan orang-orang di kampus, baik dengan sesama mahasiswa asal Malaysia, mahasiswa Indonesia dan pasien-pasien yang sekarang menjadi bagian hari-hari sejak menjalani co-ass berjalan dengan baik, meskipun dengan

beberapa pasien Jonathan mengaku terkadang mengalami kesulitan. Dari pengamatan peneliti, selama di kampus, Jonathan memang terlihat sangat berbaur. Kondisi lingkungan co-ass yang akan selalu berganti siklusnya, mempertemukan Jonathan banyak mahasiswa Indonesia yang berbeda, dengan suku yang berbeda dan dari angkatan yang berbeda pula. Dengan demikian, kondisi lingkungan yang seperti ini semakin membuatnya harus mampu berkomunikasi dengan baik dan berupaya untuk terus menyesuaikan diri. Jonathan tinggal di sebuah rumah kost bersama mahasiswa asal Malaysia lainnya, tetapi teman-temannya mahasiswa Indonesia juga sering datang ke kostnya untuk urusan kuliah atau sekedar bermain-main. Jonathan juga memiliki sebuah komunitas pecinta hewan reptil dan amphibi, yakni MERCY ( Medan Reptilies And Amphibian Community). Ia bersama 25 member lainnya, yang seluruhnya adalah orang Indonesia sering melakukan program kegiatan dan menghabiskan waktu bersama. saya ada komunitas di sini, jadi maksudnya kalau mereka ajak ya saya mau ikut la dengan orang Medan. Kalau teman kost memang Malaysia semua, tapi banyak juga teman orang Indonesia, sering datang ke kost saya juga, main-main. saya sering kumpul-kumpul sama teman orang Indonesia juga. Kami ada komunitas peliharaan gitu, namanya MERCY Medan Reptilies and Amphibians Community, yang aktif itu sekitar 25 orang, yang dari malaysia saya aja, lainnya Indonesia. Mengenai makanan Medan, ketika baru datang, ia juga mengalami masalah sakit perut karena tidak terbiasa dengan menunya. Tetapi seperti pepatah ala bisa karena biasa, makanan tidak lagi menjadi masalah baginya.

Kesimpulan Kasus

Jonathan sudah beberapa kali datang ke Indonesia, tetapi di Kota yang berbeda-beda. Culture shock tidak terlalu ia rasakan. Pengalamannya tinggal di Filipina lebih mengejutkan bila dibandingkan dengan Kota Medan. Kota Manila lebih padat, sehingga kepadatan kota Medan tidak terlalu mengejutkan baginya. Di awal kedatangan kesulitan bahasa memang sempat dirasakan, apalagi karena orang Tionghoa di Medan tidak menguasai bahasa Mandarin. Mereka menggunakan bahasa Hokkien dalam berkomunikasi, sedangkan ia tidak menguasai bahasa Hokkien. Tetapi, pergaulannya dengan banyak orang Indonesia membantu adaptasinya. Ia bahkan tergabung dalam sebuah komunitas yang seluruh anggotanya adalah orang Indonesia. Hal ini menjadi bukti yang kuat bahwa ia sudah menyesuaikan diri dengan Kota Medan.

Informan 8 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Asfahana : 23 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2,5 tahun : Jalan Tridarma No. 26, Pintu 4 USU : Selasa, 21 Desember 2010

Peneliti mengenal Asfahana dari Linda. Ketika membuat janji pertemuan berikutnya dengan Linda di kostnya, peneliti menanyakan apakah Linda tinggal bersama mahasiswa asal Malaysia lainnya, kemudian Linda mengenalkan dua orang temannya, Asfahana dan Tini, yang sama-sama mahasiswa FK USU angkatan 2008. Peneliti pun mewawancarai Asfahana di kost ditemani Linda karena Ia tidak ingin diwawancara seorang diri.

Asfahana orang yang cukup sederhana secara penampilan. Dijumpai di kost, ia mengenakan kaos lengan dan celana panjang yang longgar. Ia wanita suku Melayu yang juga mengenakan baju kurung ketika kuliah ataupun pergi. Asfahana tinggal di lantai 2 sebuah rumah yang terletak di Jalan Tridarma No.26. Di lantai 2 ini ia tinggal bersama tiga mahasiswa asal Malaysia dan tiga mahasiswa Indonesia. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Linda dan memang mereka berdua adalah teman akrab, sangat dekat. Mereka menjalani hari-hari sebagai pendatang di Kota Medan berdua, kemana pun berdua, mulai dari tiba di Medan, tinggal di kost yang sama, pergi dan pulang kampus bersama, jalan-jalan bersama, sampai pulang ke Malaysia setiap liburan juga bersama. Asfahana dan Linda sangat akrab. Ia ditemani Linda selama wawancara, jadi itu membuatnya tidak canggung bahkan berani mengeluarkan setiap hal yang ia rasakan tentang pengalamannya tinggal di negeri asing. Awalnya memang ia sedikit sungkan, seperti malu dan takut menjawab setiap pertanyaan yang peneliti ajukan, tetapi ketika Linda memberikan sedikit pendapat terhadap pertanyaan yang diberikan, Asfahana langsung menyatakan semuanya. Ini bukan pertama kalinya Asfahana menginjakkan kaki ke Indonesia. Sebelumnya Asfahana pernah berlibur ke Danau Toba bersama keluarga. Tetapi itu sudah sangat lama, ketika ia masih kecil. Untuk hidup mandiri tanpa orang tua dalam waktu bertahun-tahun, ini adalah pengalaman pertamanya. Ia memilih FK USU karena FK USU sudah memiliki nama di Malaysia. Selain itu biaya pendidikan di USU juga murah dan dekat secara jarak dari Malaysia.

Awalnya, ketika peneliti menanyakan persepsi Asfahana sebelumnya tentang Medan, ia hanya mengatakan orang Indonesia sama dengan orang Malaysia, hanya berbeda secara bahasa saja. Ia juga sempat takut dengan lingkungan baru yang akan ia hadapi. Bahkan, ketika sudah tiba di Medan, Ia menemukan berbagai macam perbedaan. Pertama kali tiba di Medan, Ia terkejut melihat jalan raya dan lalu lintas kota Medan yang sangat padat dan jalan yang sempit. begitu sampai saya tekejut dengan laluan jalan rayanya yang bising, jalannya agak sempit. Asfahana mengalami kesulitan ketika pertama kali ingin berkomunikasi dengan orang-orang Medan, khususnya mahasiswa-mahasiswa Indonesia di kampusnya. Ia mengaku sulit untuk berkenalan dan beradaptasi karena masalah bahasa. Ia juga mencontohkan beberapa kata yang berbeda makna antara Indonesia dan Malaysia. Awalnya Ia memilih untuk lebih banyak mendengar dan meminta bantuan teman. orang-orangnya juga, macam mana mau cakap ya, agak susah mau beradaptasi, macam mau kenal dia dengan teman-teman satu USU pun macam susah la mau berkenalan sebab dari bahasanya kan tak bisa lancar. Macam kalo disana, kita maknanya kita semua, macam sini kita artinya saya kan? Di sana kita macam kelompok yang ramai. Kebiasaan bersalaman dengan lawan jenis juga membuat Asfahana terkejut. Baginya itu terlalu bebas, berbeda dengan budaya di negara asalnya, tetapi lambat laun ia sudah tidak merasa heran lagi. Teman-temannya juga sudah memahaminya, untuk yang laki-laki sudah tahu dan tidak bersalaman dengan Asfahana.

Keterbatasan kemampuan berbahasa Indonesia yang ia punya membuat Asfahana lebih sering bergabung dengan teman sesama Malaysia, terutama dengan teman akrabnya, Linda. Itulah alasannya ketika peneliti menanyakan mengapa ia lebih sering bersama teman sesama asal Malaysia. Ia juga memiliki kenalan teman mahasiswa Indonesia, tetapi tidak akrab, hanya sebatas tahu saja. Asfahana juga hanya mengenal teman satu grupnya saja, yaitu grup B di kampus. Apabila mahasiswa dari grup lain apalagi junior, ia mengaku tidak mengenal mereka. Asfahana juga menceritakan bahwa lingkungan kampusnya, yaitu FK USU cenderung berkelompok. lebih sering sama malaysia, tapi ada juga la teman daripada indonesia, tapi gak rapat la. mungkin mereka pun gak mau berkawan dengan kita, sebab mereka pun tak paham dengan apa yang kami cakap dan kami pun gak paham yang dia cakap. ia la, nampak macam berkelompok-kelompok. Kalau yang pandai satu kelompok, yang biasabiasa satu kelompok. Asfahana tidak terlalu sering berinteraksi terlalu lama dengan orang lain. Setelah selesai semua urusan perkuliahan di kampus ia bersama Linda langsug pulang ke kost. Baginya, kamar kost lebih nyaman dan aman, ia bisa melakukan apa saja di kamar itu. Ketika peneliti menanyakan hubungannya dengan sesama penghuni kost itu, ia dan Linda serentak menyampaikan semua unek-unek nya. Rumah kost tersebut terdiri dari dua lantai, lantai bawah dihuni oleh empat mahasiswa asal Malaysia yang suku India, sedangkan lantai atas dihuni oleh empat orang mahasiswa asal Malaysia yang suku Melayu, tiga orang kuliah di FK USU, termasuk Asfahana dan satu orang kuliah di FKG USU, selain itu di lantai dua juga tinggal dua orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Politeknik USU. Hubungan Asfahana dengan sesama Malaysia cukup baik, mereka sering bertegur

sapa dan sesekali bercerita, tetapi dengan dua mahasiswa Indonesia, hubungan mereka memang tidak baik, seperti yang sudah peneliti jabarkan pada hasil wawancara Linda. Menurut Asfahana, tidak perlu ada pembedaan antara Indonesia dan Malaysia, sebab tidak ada manfaat yang dapat diambil dari hal itu. Ia mengharapkan adanya rasa saling menghormati sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan. sebab kita kan manusia dilahirkan Tuhan sama aja kan? Cuman bahasa, budayanya aja yang berbeda. Apa la faedahnya buat begadoh dua negarakan? Tak ada la. Selain interaksi di kampus dan di kost, Asfahana juga berinteraksi dengan supir angkot dan tukang becak, karena mau tidak mau ia harus berurusan dengan mereka, sebab Asfahana tidak memiliki kendaraan pribadi. Cerita dari temanteman tentang maraknya kasus penculikan dan hipnotis di angkutan umum membuat Asfahana dan Linda sangat takut, belum lagi kebiasaan teriak dan makian dari tukang becak yang pernah mereka alami. Untuk hal ini pun membuat mereka terkejut. Karena berusaha menawar tarif ongkos yang terlalu mahal, mereka sering dimarahi. Mereka tidak terbiasa dengan suara yang kuat dan terdengar kasar. Itu lah sebabnya mereka takut ketika harus berhadapan dengan tukang becak dan supir angkot. naik angkot la masalah. Dengar daripada teman-teman ada kena culik handphone, baik duit, hipnotis, jadi macam gak berani, cuma lamalama bisa la. Kalo macam sama-sama, tapi kalo seorang-seorang gak berani la, naik becak aja. Tapi becak pun takut, sebab suka teriak-teriak kan. Selain interaksi, Asfahana juga terkejut dan tidak cocok dengan makanan di Medan, terlalu berat dan pedas. Ia tidak terbiasa sarapan dengan makanan berat,

seperti nasi. Di Malaysia, ia biasa hanya makan beberapa kue sebagai sarapan. Tetapi, akhirnya ia pun bisa beradaptasi, tetapi tetap tidak mengkonsumsi makanan dengan cita rasa yang pedas. makanan pun satu, sebab makanan di sini pedas. Lepas tu di sini makanannya macam sarapan pagi udah nasi terus, kalo di malaysia ada kue-kue. Semua perbedaan dan hal yang baru yang ia temui di Medan membuatnya merindukan lingkungannya, Malaysia. Selama kurang lebih dua bulan Asfahana sering sekali menangis karena sangat merindukan keluarga dan semua familiaritas di negara Malaysia. Tetapi akhirnya setelah menjalani proses selama 1 tahun lebih Asfahana sudah mampu menerima keadaan. masa mula datang homesick lah, sebulan dua bulan tu nangis la, pikirkan keluarga, kalo sakit macam mana mau pulang, macam tu la, tapi lama-lama uda biasa la. tapi sekarang udah bisa, dalam 1 tahun la. Impiannya menjadi perantau yang sukses dan pulang ke negara asal, Malaysia dengan gelar dokter memotivasi Asfahana untuk tetap bertahan hidup, diperkuat dengan dukungan teman-teman senasib dan sepenanggungan, terutama teman akrabnya, Linda. sebab bayar mahalkan, jadi kami harus ada kesanggupan la, tapi kami bangga la kak, sebab kami berdikari di sini, tak ada family kan, nanti nak pulang ke Malaysia pun bangga la.

Kesimpulan Kasus Asfahana memiliki pengalaman yang hampir sama dengan Linda. Ia mengalami culture shock terhadap perbedaan nilai-nilai dan juga bahasa. Selain

dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya, lingkungan Kota Medan yang terlalu padat, jalan raya yang macet dan tidak teratur, makanan yang terlalu pedas dan juga mengejutkan baginya. Pertama kali tiba di Medan, ia mengalami kecemasan dalam berkomunikasi. Ia merasa sulit untuk berkomunikasi karena masalah bahasa yang belum dipahami. Ia juga mempunyai masalah interaksi dengan dua mahasiswa Indonesia di kostnya. Ia merasa diperlakukan berbeda dengan tuan rumah, yakni orang-orang Medan. Asfahana juga mengalami homesick berat selama dua bulan pertama kedatangannya. Semua perbedaan dan kecemasan yang dirasakannya membuat Asfahana cenderung berkumpul dengan sesamanya mahasiswa Malaysia, terkhusus dengan sahabat karibnya, Linda. Ia mengaku bersama sesamanya ia merasa lebih nyaman dan tidak perlu mengalami kesalahpahaman komunikasi. Asfahana sudah tinggal selama kurang lebih 2,5 tahun di Medan. Ia mengaku sekiranya tidak ada yang menjadi masalah lagi, tetapi perasaan diperlakukan berbeda masih menjadi pertanyaan baginya.

Informan 9 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Girtheekaadevy : 22 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2,5 tahun : Jalan Tridarma No. 26, Pintu 4 USU : Selasa, 21 Desember 2010

Girtheekaadevy, ia akrab dipanggil Girthee. Ia juga tinggal di rumah kost yang sama dengan Asfahana dan Linda. Ia tinggal bersama tiga mahasiswa suku

Tamil asal Malaysia lainnya di lantai satu. Sejauh pengamatan peneliti, Girthee adalah tipe orang yang ramah dan humoris. Setelah memperkenalkan diri secara singkat, peneliti kemudian menanyakan pengalamannya ketika pertama kali tiba di Medan. Ini juga adalah pertama kalinya Girthee ke Indonesia, tepatnya Medan. Sesampainya di Medan, Girthee terkejut dan terganggu dengan udara di Medan yang penuh polusi, belum lagi cita rasa makanan yang tidak biasa baginya. Dalam hal makanan, sampai sekarang pun Girthee tidak bisa beradaptasi. Di semester pertama, sebelum ada dapur ia hanya makan mie instan saja, kemudian di semester kedua setelah ada dapur di kostnya, setiap harinya Girthee memilih memasak sendiri. mungkin udaranya yang banyak abu. Minggu pertama tu memang saya sakit, sebab tak biasa dengan udara dan makanannya, sampai sekarang pun makanannya gak bisa la. makan di warung-warung gitu gak bisa, semester 2 baru bisa masak sendiri, sebab dulu belum ada dapur, sekarang udah bisa masak la. Berkomunikasi dengan orang-orang Indonesia adalah kesulitan

terbesarnya, sebab ia tidak menguasai bahasa Indonesia. Girthee harus mengulang mata pelajaran bahasa Indonesia karena tidak lulus, bahkan ada mata kuliah yang ia harus mengulang sebanyak lima kali karena kelemahan bahasa. Hal ini juga sangat terasa ketika harus melakukan presentasi di kelas. Girthee sangat sering menggunakan campuran bahasa Melayu dan Inggris. Ia mengaku hal ini menyebabkannya kerapkali ditegur oleh dosen. Teman-teman mahasiswa Indonesia yang sekelasnya juga memberikan pendapat bahwa bahasa

Indonesianya masih belum baik dan sulit dipahami. kalau bahasanya sampai sekarang gak fasih lagi, sebab masih banyak teman yang bilang bahasa saya sukar dipaham gitu. saya ada gagal pelajaran sebab gak bisa bahasanya, sampai gagal 4 sampai 5 sesion.

kadang kalau presentasi di tutorial itu kan kadang gak sadar campur bahasa dengan bahasa malaysia kan, kena marah dosen la macam tu, mereka bilang kenapa kamu campur-campur, kadang campur lagi dengan bahasa Inggris, macam-macam la. Ia tetap berusaha menjalin hubungan yang baik dengan mahasiswa Indonesia di kampusnya. Ia juga memiliki beberapa teman baik yang dari mahasiswa Indonesia karena sering bertemu di kelas lab praktikum. Terkadang untuk memahami perkataan orang lain Girthee menggunakan bahasa signal, sebab menurutnya itu lebih mudah dipahami. interaksinya bole la, komunikasi juga perlahan-lahan bole, saya pun ada teman akrab indonesia, sebab satu lab kan, So ada la yang akrab. interaksi bole la, bagus juga, cuman bahasa tu la, kadang gak bisa dipahami. Jadi kadang saya guna bahasa signal, sebab bahasa signal lebih mudah kak, lebih mudah pahami. Hubungan dengan sesama penghuni rumah kost juga baik. Ia bergaul sangat akrab dengan sesama mahasiswa asal Malaysia di kost itu, apalagi dengan penghuni lantai satu yang sama-sama suku India. Masalah hubungan dengan sesama penghuni kost seperti yang dialami Asfahana, Linda dan Tini tidak terlalu dirasakannya, sebab ia berada di lantai bawah, sehingga tidak terlalu berpengaruh baginya. Interaksi dengan orang lain di luar kampus dan kost sama seperti yang diungkapkan informan-informan sebelumnya, ia shock dengan gaya tukang becak, dengan harga yang tinggi dan suara teriakan mereka jika harganya tidak sesuai. suara yang kuat. kadang kala mereka tanya mau pergi mana kan, bila kami kata mau pergi mana-mana kan, bayarnya mahal, nanti mereka jerit sama kami, mereka bilang kan oh kamu orang malaysia, kamu udah kaya, gak mau bayar lagi. Macam tu la. tapi kami langsung jalan aja, sebab udah biasa la.

Gejala culture shock seperti homesick yang berlebihan juga ia rasakan di awal kedatangannya. Tetapi kehadiran teman sesama Malaysia di kost dan kampus membuatnya mampu menghadapi perbedaan lingkungan. Secara keseluruhan, menurutnya Medan tidak jauh berbeda dengan Kuala Lumpur, kota asalnya. Tetapi, dari semua perbedaan yang Girthee hadapi, bahasa adalah kendala terberatnya. Dalam wawancara, peneliti menangkap Girthee berulang kali menyebutkan kelemahannya itu, bahkan ia mengaku takut berkomunikasi apalagi ketika memasuki dunia coass tahun depan, ia harus bertemu dengan lingkungan baru dan orang-orang baru lagi, seperti suster perawat dan pasien. Tetapi karena Girthee belum berada pada situasi yang sebenarnya, ia masih biasa dan belum banyak yang dapat ia ceritakan pokoknya komunikasi la yang kami paling takut kak, apalagi nanti mau coass kan, sama suster, pasien lagi kan. Itulah yang rasa paling sukar, takut la.

Kesimpulan Kasus Girthee merupakan informan yang juga sudah mampu beradaptasi. Kecemasan yang paling besar ia rasakan adalah bahasa. Hal ini membuatnya takut dalam berkomunikasi. Ia bahkan sering mendapat teguran oleh dosen karena kemampuan bahasa yang sangat lemah. Ia juga mengulang mata kuliah sampai lima kali juga karena masalah bahasa. Interaksinya dengan sesama penghuni kost sejauh ini baik-baik saja, tetapi masalah seperti yang Linda dan Asfahana alami tidak terlalu ia rasakan karena ia tinggal di lantai yang berbeda. Di luar masalah interaksi, udara dan makanan di Medan sampai sekarang tidak cocok baginya. Ia

memilih masak sendiri di kost. Reaksi culture shock seperti homesick juga ia rasakan.

Informan 10 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Kaarthini Arjunam : 21 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2,5 tahun : Jalan Tridarma No. 26, Pintu 4 USU : Selasa, 21 Desember 2010

Tini adalah mahasiswi Melayu asal Malaysia yang mengecap pendidikan di FK USU. Peneliti mengenalnya dari Linda. Secara penampilan, Tini juga mengenakan jilbab dan baju kurung. Berbeda dengan Linda dan Asfahana yang peneliti wawancarai di ruang TV, proses wawancara dilakukan di kamar Tini, sehingga peneliti dapat mengamati kehidupan dan kepribadiannya melalui isi kamarnya. Peneliti mengamati setiap sudut kamar Tini, terlihat Ia adalah muslimah yang taat. Tini menempel kertas-kertas yang berisi ayat-ayat Al-Quran dan penggalan doa. Masih dari pengamatan peneliti, Tini tergolong mahasiswi

yang rajin belajar. Ia juga sangat senang memotivasi diri, tulisan semangat tertempel di dinding kamarnya. Ia melepas lelah sebentar, kemudian peneliti mulai menanyakan pengalamannya. Sama seperti kebanyakan informan, ini adalah pengalaman pertama Tini datang ke Medan. Persepsi dan pendapat tentang Indonesia, tepatnya Medan juga ada. Di Malaysia, Ia sering mendengar negatif tentang Indonesia, akibat konflik yang sering terjadi antara kedua negara ini. Apalagi cerita tentang orang Batak, makan orang juga sampai ke telinganya. Tini juga mendapat nasihat untuk selalu berhati-hati selama tinggal di negeri orang. persepsi mungkin orang ramai pun bilang macam hati-hati la, takut nanti banyak orang jahat kan. Karena di Indonesia ini kan banyak konflik antar indonesia dengan malaysia kan, jadi harus hati-hati. Lepas tu ke medan lagi, di sana kan banyak orang batak, mereka bilang gitu jadi hati-hati nanti ada yang makan orang, macam tu la orang ramai bilang. Persepsi awalnya tentang Indonesia adalah budaya yang sama dengan Malaysia, jadi Tini tidak terlalu mengkhawatirkan kehidupannya nanti di Kota Medan. Tetapi setelah tiba di Medan, di kampusnya dan melihat orang-orang Medan dengan segala kebiasaan dalam berinteraksi, Tini juga terkejut. Ia memberikan contoh tentang perbedaan dalam hal hubungan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia dan di negaranya. Berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terlalu dipermasalahkan di Indonesia, baginya tidak biasa dan terlalu bebas. Tini pernah mengalaminya sendiri, ketika salah seorang teman prianya ingin menjabat tangannya untuk mengucapkan selamat ulang tahun dengan cara yang tetap sopan Tini menolak. awalnya tini kira budaya tu semua sama aja kan, malaysia indonesia pun budayanya sama la, tapi bila datang sini beda la. dia

bedanya kalau di sini kan sosialnya lebih tinggi la, maksudnya lebih tinggi tu, contohnya macam pergaulan antar perempuan dan laki kan, lebih bebas dibandingkan malaysia. Kita pun bebas juga, tapi terkadang kalau di depan umum tertutup gitu, ada batas la, itu kalau di umum, agak malu macam tu la, kalau di belakang kita pun gak tau kan. kalau di medan, yang berjilbab aja pun kadang pegang-pegang gitu, rangkul, macam udah biasa gitu kan, disana, di malaysia gak biasa macam tu. Beberapa bulan pertama Tini juga mengalami kesulitan bahasa. Ia bahkan selalu meminta salah satu mahasiswa Indonesia untuk duduk di sebelahnya selama perkuliahan berlangsung untuk membantunya memahami materi kuliah dan juga interaksi dengan mahasiswa Indonesia lainnya. interaksi gak terlalu macam mana, cuman bahasanya aja yang sukar dipahami. Dulu mulanya tu selalu di sebelah saya tu harus ada orang indonesia, sebab mau tanya apa maksud ini itu kan, karena memang jauh kali la beda bahasa, hampir sama memang kak, tapi tetap aja sukar. Kadang ada satu kata yang sama ucap tapi maknanya beda, lepas tu ada kata yang asing, memang tak paham sama sekali la. Tini juga mengaku lingkungan FK USU masih cenderung berkelompok, tidak hanya mahasiswa Indonesia tetapi juga mahasiswa Malaysia. Meskipun demikian, Tini lebih memilih untuk berbaur dengan keduanya. FK masi ada kelompok-kelompok la, kurang berbaur, bukan indonesia aja, malaysia pun berkelompok-kelompok juga. Tapi tini ada teman akrab indonesia juga la, kiranya macam pernah tidur sama di rumahnya gitu kan. Bahasa yang tidak terlalu fasih tidak membatasi Tini berinteraksi dengan orang-orang Indonesia. Ia selalu ingin belajar. Bersama teman-teman mahasiswa Indonesia, Tini terus berupaya mempelajari bahasa Indonesia. Ia suka membuka diri dan pandai bergaul. Tini memiliki banyak teman yang merupakan mahasiswa Indonesia, bahkan ia mengaku ia lebih sering melewati waktu dengan mereka. Tini memiliki sepuluh orang teman mahasiswa Indonesia yang sering bersamanya. Mereka memiliki program belajar bahasa Arab bersama, bahkan sesekali ia

menginap di rumah temannya yang mahasiswa Indonesia tersebut. Keseringannya berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia, lambat laun bahasa tidak lagi menjadi masalah. sebenarnya kalau ikutkan, tini lebih sering sama yang orang indonesia. Sebab kami ada kayak belajar bahasa arab bersama gitu kan, jadi terkadang tidur rumah mereka, macam ada program gitu la. temanteman tini yang indonesia itu memang baik-baik la, saya suka kali teman dengan mereka. Banyak juga la, ada 10 orang la kami. Hubungan dengan teman sesama penghuni kost cukup baik. Pribadinya yang berusaha untuk menerima, sabar dan tidak terlalu ambil pusing membuatnya tetap mampu menerima keadaan, berbeda dengan Linda yang lebih sensitif. Sesungguhnya ia juga merasa terganggu tetapi Tini memilih untuk tidak memperdulikan karena banyak hal lain yang lebih penting untuk ia pikirkan dan kerjakan. Tini berupaya menjaga hubungan tetap baik sehingga tidak sampai menimbulkan konflik. kalau di kost biasa-biasa aja la, sama yang di atas dekat juga. Kalau di bawah malaysia juga, cuman india, tegur-tegur gitu aja la, biasa aja. ada rasa macam tu juga kadang-kadang, sebab mereka kan udah biasa macam tu, jadi kami pun lain, tapi memang lain la, kami memang lain sama mereka. Jadi ya sabar aja la, diam-diam aja, cuman tegur gitu aja. Perbedaan seperti keadaan jalanan kota Medan juga dirasakan Tini. Ia bahkan terkejut dengan keadaan lalu lintas yang tidak teratur, pengendara yang sering menekan klakson dan melanggar lalu lintas. Di Malaysia, macet juga ada, tetapi lebih teratur dan seluruh kendaraan tersusun. Selain itu, pengendara yang menekan klakson menandakan bahwa ia sudah sangat marah. Jadi, keadaan ini sempat membuat Tini shock. kalau lingkungannya itu memang beda dengan malaysia, kalau di sini kan gak teratur, disana pun macet juga, tapi tersusun, disini kan tekan horn yang berkali-kali kan, kalau disini horn tu biasa kan, kalau di sana

tekan horn itu udah macam marah gitu la. lepas tu main jalan aja kalau lampu merah. Masalah ketika berhadapan dengan supir angkot dan tukang becak seperti yang kebanyakan informan sampaikan tidak terlalu dirasakan Tini, sebab Ia memiliki kendaraan pribadi, setiap harinya Tini menggunakan sepeda motor kemana pun ia pergi. Homesick juga dialami Tini sebagai perantau di negeri orang, bahkan sampai sekarang. Tetapi untuk yang berlebihan sampai menangis hanya di awal kedatangannya saja. homesick memang selalu la, banyak kali nangis, sering la, tapi mula-mula aja, sekarang ada rindu juga tapi tak pala la. Secara keseluruhan, sudah tiga tahun ia menjalani kehidupan di Kota Medan dan Tini sudah mampu menyesuaikan diri. Motivasi dari diri sendiri untuk tetap berjuang hidup di negara orang untuk membawa cerita kesuksesan kepada keluarga di Malaysia memberikan semangat bagi Tini. Selain itu, seperti yang sudah peneliti jelaskan sebelumnya, Tini adalah pribadi yang sangat suka memotivasi diri sendiri, dari hal-hal kecil, seperti menempelkan kata-kata semangat di setiap sudut dinding kamar kostnya, salah satu contoh kalimat yang ditempel adalah Kau harus semangat belajar, survive! Nanti kau menyesal!

Kesimpulan kasus Tini mengalami culture shock karena perbedaan nilai-nilai dalam hal hubungan laki-laki dan perempuan. Hal ini yang paling mencolok baginya. Awalnya ia sangat terkejut, karena baginya itu sangat tidak wajar. Kesulitan bahasa juga sempat ia alami di awal kedatangannya. Meskipun bahasa Indonesia dan Melayu yang biasa digunakannya hampir sama, tetapi tetap saja terasa sukar.

Pribadinya sangat ramah dan suka bergaul. Ia mempunyai banyak teman mahasiswa Indonesia, bahkan ia mengaku ia lebih sering berkumpul dengan mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan sesama mahasiswa Malaysia. Ia belajar tentang Medan lebih banyak lagi bersama teman-temannya itu.

Informan 11 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Lim Rui Liang : 24 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2006 : 4,5 tahun : Jalan Dr. Mansyur : Rabu, 22 Desember 2010

Lim merupakan mahasiswa co-ass di FKG USU. Sejak tahun 2006 tiba di Medan, berarti sudah kurang lebih 4,5 tahun ia melalui hidup di Kota Medan. Ia suku Tionghoa. Dari pengamalatan peneliti, ia tergolong pribadi yang ramah dan suka bergaul. Merantau ke Medan juga hal perdana baginya. Lim datang ke Medan untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi USU. Lim ingin menjadi seorang dokter gigi, itu yang menjadi alasannya memilih USU. Seperti informan kebanyakan, Lim memilih USU karena biaya yang murah, jarak yang dekat dan besar kesempatan untuk diterima. Dan yang terpenting, sesuai dengan

impiannya, Lim memilih USU karena ada program studi Kedokteran Gigi, sebab FKG USU memiliki nama baik di negaranya. Sebab awalnya mau sekolah di university di malaysia, cuman karena sukar masuk, lepas itu mahal juga, jadi pilih usu aja, sebab ada dentistry, murah juga gitu, dan terkenal juga di Malaysia. Perbedaan yang dirasakan Lim secara keseluruhan hampir sama dengan informan lainnya, seperti makanan Medan yang terlalu pedas dan masalah perbedaan bahasa. Lim juga mengalami kesulitan ketika berkomunikasi karena kemampuan bahasa Indonesia yang kurang baik, itu sangat terasa di awal kedatangannya. Lim bingung dan tidak paham dengan beberapa kata yang sering digunakan di Kota Medan. pertama kali memang sukar la, apalagi bahasa, nanti ada bahasa yang sama tapi artinya berbeda. Misalnya bisa gitu kan, disini bisa berarti boleh, tapi di sana bisa cuman berarti racun aja. Tapi udah beberapa bulan perlahan-lahan la udah bisa mengerti. Pada masa awal kepindahannya, sebagai pendatang yang baru memasuki lingkungan yang berbeda dan orang-orang yang juga berbeda, Lim kurang berbaur dengan mahasiswa Indonesia yang ada di kampusnya. Tetapi karena ditempatkan pada kelas yang sama, laboratorium praktikum yang sama dan juga harus terlibat dalam pengerjaan kelompok dengan beberapa mahasiswa Indonesia, menuntutnya untuk berbaur dan berinteraksi dengan mereka. pertama kali memang belum berbaur la, tapi udah setengah tahun gitu ada la, berbaur, karena ada tugas bersama juga, atau lab praktikum gitu kan, jadi mulai bergaul-gaul. Merindukan lingkungan asal yang familiar baginya juga dirasakan pada awal kepindahannya, tetapi perasaan itu tidak mendominasi. Lim pribadi yang supel dan mudah beradaptasi. Ia tidak terlalu membatasi diri untuk bergaul dengan

orang lain, baik itu mahasiswa Malaysia maupun Indonesia. Untuk saat ini, Lim sedang menjalani co-ass di FKG USU. Orang-orang dengan karakter berbeda juga Ia jumpai, seperti pasien-pasien yang harus ia tangani. Masalah komunikasi juga ia rasakan, tetapi Lim mengaku itu tidak terlalu menjadi perSoalan besar untuk saat ini, sebab pengalaman 4,5 tahun dengan orang-orang Indonesia membuatnya sudah terbiasa. Lim juga memiliki banyak teman mahasiswa Indonesia, dan ikut juga banyak membantu proses adaptasinya. saya orangnya ok ok aja, bergaul aja sama semau, kalau diajak ikut la. homesick mula-mula ada la. kalau waktu coass sekarang masih ada sedikit komunikasi yang sulit la, tapi masih ok juga, banyak teman bantu juga kan.

Kesimpulan Kasus Lim mengalami culture shock terhadap perbedaan bahasa. Di luar maslah komunikasi, ia tidak terbiasa dengan makanan Medan yang pedas, tetapi itu dirasakan di awal kedatangannya. Ia merasa aneh untuk istilah-istilah tertentu yang digunakan di Medan. Kondisinya yang sedang menjalani co-ass di FKG USU menuntutnya untuk mampu berkomunikasi dan bergaul dengan orang-orang Indonesia, sebab ia mendapatkan orang-orang tambahan, yakni pasien-pasien yang ditanganinya adalah orang Indonesia. Seiring berjalannya waktu sembari belajar dari pengalaman praktik komunikasi bersama orang-orang Indonesia, Lim sudah mampu beradaptasi dan menikmati setiap kegiatannya di Kota Medan, khususnya kampus.

IV.2

PEMBAHASAN

Dari pengamatan peneliti, maka dapat dibuat pembahasan sebagai berikut: Peneliti hanya mengambil 11 informan dengan metode penarikan sampel bola salju (snowball sampling). Peneliti mendapatkan jawaban yang rata-rata sama mengenai culture shock yang dialami dan tidak mendapatkan data baru, sehingga peneliti menghentikan pencarian informan. Dari 11 informan tersebut maka peneliti membuat pembahasan yang dikaitkan dengan tujuan dari penelitian ini sendiri, yakni untuk mengetahui proses culture shock, reaksi culture shock dan upaya mengatasi culture shock pada Mahasiswa Malaysia di USU, sebagai berikut: 1. Proses culture shock Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam uraian teoritis bahwa culture shock adalah kecemasan yang timbul dan disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan Sosial dalam rangka perpindahan dari lingkungan familiar ke lingkungan baru (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 174), demikian pula yang dialami oleh informan, yakni mahasiswa Malaysia yang menempuh pendidikan di USU. Sebagai individu yang berasal dari negara yang berbeda dengan membawa segala bentuk budaya yang sudah tertanam dan melekat dalam diri individu tersebut, maka ketika memasuki kota Medan pada umumnya dan USU pada khususnya merupakan suatu pengalaman baru dan mereka pun turut mengalami gegar budaya (culture shock). Dikaitkan dengan tingkat-tingkat culture shock yang dikemukakan dalam Intercultural Communication Between Cultures (Samovar, Porter

dan Mc. Daniel, 2007: 335-336), maka dalam penelitian ini dibuat pembahasan sebagai berikut: a. Fase Optimistik (Optimistic Phase) Dari hasil wawancara dan pengamatan, kebanyakan informan melalui fase ini dimana mereka merasakan euforia dan semangat dalam menyambut suatu kehidupan yang baru. Kebanyakan informan memilih FK dan FKG USU selain karena biaya yang lebih murah, salah satu alasan utama mereka adalah kerena kedua fakultas ini memiliki mutu dan akreditasi yang sama dengan universitas terkenal di Malaysia. Dengan melewati proses seleksi melalui ujian akhirnya mereka lulus dan tercatat sebagai mahasiswa di FK dan FKG USU. Ini merupakan suatu kebanggaan yang memotivasi semangat mereka menempuh pendidikan di negara orang. Harapan untuk menjadi seorang perantau yang sukses dengan membawa gelar sebagai dokter tertanam dalam diri informan, seperti yang dikemukakan secara terang-terangan oleh Linda, Asfahana dan Kartini. Gambaran dan informasi yang diperoleh bahwa USU (kota Medan) adalah tempat yang secara umum tidak jauh berbeda dengan Malaysia juga mengiringi keberangkatan mereka, setidaknya menjadi harapan akan sesuatu yang akan baik. Penjabaran ini sesuai dengan definisinya bahwa fase optimistik ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan dan euforia sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru.

b.

Fase Masalah Kultural (Cultural Problems Phase) Fase ini adalah fase kritis dalam culture shock. Informan merasakan berbagai perbedaan yang menimbulkan keterkejutan dan kecemasan dalam berinteraksi dan kontak langsung dengan lingkungan barunya. Rata-rata informan merasakan perbedaan akan hal yang sama, seperti ketika berkomunikasi, kendala bahasa, perbedaan nilai-nilai dan pola perilaku kultural (Rahardjo, 2005). Seperti yang dialami Linda dan Asfahana, mereka melalui masa dimana mereka dianggap asing, tertolak dan dimusuhi. Mereka juga merasa bingung dan sangat tidak terbiasa dengan perbedaan-perbedaan yang ada, seperti bahasa, yakni pengalaman Amirah yang mengalami kesulitan dalam bahasa, baik lisan maupun tulisan. Ia bahkan takut karena harus dimarahi dosen setiap kali melakukan kesalahan bahasa, misalnya ketika presentasi materi di kelas apalagi ketika saat ini Amirah sedang menyusun skripsi sebagai suatu karya ilmiah. Kemudian perbedaan lain akan cara pengucapan yang kuat dan terdengar kasar, perbedaan nilai seperti kapan dan dengan siapa boleh berjabat tangan, misalnya jabat tangan antara laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang tidak biasa bagi orang Melayu Malaysia khususnya. Mereka juga menemukan perbedaan yang mencengangkan seperti merokok dan mencontek di lingkungan kampus. Govin dan Harry terus terang dengan fasilitas dan birokrasi kampus yang kurang memuaskan dan terkesan menyulitkan mahasiswa. Pengalaman culture shock informan bukan hanya dengan orang-orang dan lingkungan kampus,

tetapi juga di luar itu, misalnya ketika berurusan dengan tukang becak dan supir angkot. Rata-rata bahkan hampir semua informan mengeluh dan mengaku shock dengan kasarnya mereka bicara dan tarif yang dibuat sesuka hati. Peneliti mendapatkan data gegar budaya (culture shock) tidak hanya ketika berkomunikasi, tetapi terhadap lingkungan kota Medan yang terlalu padat, sempit dan traffic jam di lalu lintas Medan, juga cita rasa makanan Medan. c. Fase Kesembuhan (Recovery Phase) Setelah melewati beberapa tahun di Kota Medan, akhirnya informan mulai mengenali lingkungan barunya. Rata-rata informan mengaku tidak lagi mengalami sesuatu yang terlalu dicemaskan, hanya saja mereka masih terus belajar tentang budaya baru tersebut, terutama mengenai bahasa. Perlahan-lahan informan menemukan kenyamanan dan menghargai segala perbedaan sebagai bentuk budaya yang lain yang patut dihormati. Merasa dibeda-bedakan dalam berinteraksi sedikit banyak juga masih dirasakan, seperti Linda dan Asfahana. Tetapi, kebanyakan informan mengaku sudah mulai menganggap itu biasa dan mampu beradaptasi. d. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase) Dalam fase ini pendatang sudah mengetahui elemen kunci budaya barunya, termasuk pola komunikasi dan sebagainya. Pada fase ini pula ada rasa puas dan menikmati kondisi yang dihadapi. Para

informan rata-rata mengaku sudah mampu beradaptasi. Meskipun demikian masih terus berada dalam proses belajar akan budaya itu, khususnya bahasa. Informan juga melakukan hal-hal baru yang membuat mereka menikmati hidup di lingkungan yang berbeda dengan mereka.

2. Reaksi terhadap culture shock Perbedaan dan gegar budaya yang dirasakan menimbulkan kecemasan dan gangguan secara fisik dan psikis seperti dikemukakan (dalam Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 335) mengenai beberapa reaksi terhadap culture shock. Dari penelitian ini ditemukan bahwa berbagai reaksi yang dirasakan informan adalah merasa ditolak, merindukan lingkungan lama dan keluarga (homesick) yang

mengakibatkan kesedihan yang mendalam selama beberapa waktu, menganggap tuan rumah tidak peka, gangguan fisik karena makanan dan udara yang tidak cocok. Tetapi secara keseluruhan, kebanyakan informan mengalami reaksi homesick. 3. Upaya mengatasi culture shock Dari penelitian ini, peneliti mendapatkan hasil bahwa informan mengatasi culture shock yang timbul karena perbedaan-perbedaan yang

dirasakan dengan belajar dari si pemilik budaya, yakni tuan rumah, orang Medan itu sendiri. Informan membuka diri untuk berbaur dan bergabung dengan mahasiswa Medan (Indonesia) di kampus atau bahkan di luar kampus. Ini juga dimotivasi dengan kesadaran sebagai pendatang yang harus berinteraksi dan juga kebutuhan akan hal itu demi kelangsungan hidup. Seperti yang dilakukan Harry, Govin, Lavanyah, Tini dan Jonatan. Mereka bergaul dengan orang Medan (Indonesia) tidak hanya untuk urusan kampus saja, tetapi juga hang-out seperti belajar kelompok bersama, futsal, main billyard, bahkan menghilangkan stress skripsi dengan rencana berlibur ke luar kota seperti yang akan dilakukan Lavanyah dengan teman-temannya, serta Jonathan yang memiliki komunitas pencinta reptil dan amphibi. Di tengah-tengah itu semua, ternyata Linda, Asfahana dan Amirah memilih mengatasi culture shock mereka dengan cara bergabung dengan sesamanya mahasiswa Malaysia. Linda dan Asfahana mengaku untuk semua hal, pergi kemana saja dan melakukan apapun mereka selalu bersama. Begitu pula dengan Amirah yang selalu berkelompok dengan teman-teman sesama mahasiswa Malaysia untuk sebuah kenyamanan dan menghindari masalah interaksi dalam hal apapun. Mengenai karakteristik informan, dari penelitian ini juga ditemukan bahwa culture shock pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa perempuan lebih sensitif dan lebih lambat beradaptasi dengan lingkungan baru. Perbedaan yang ada sedikit banyaknya mempengaruhi perasaan dan kondisi mereka. Reaksi culture shock juga lebih

terasa oleh perempuan, seperti homesick yang berbulan-bulan, menangis karena merindukan lingkungan asalnya, merasa ditolak, cepat tersinggung dan menganggap tuan rumah tidak peka. Proses penyesuaian diri juga lebih lambat. Sedangkan laki-laki, perbedaan yang ada tidak terlalu ditanggapi serius, dan hanya membutuhkan waktu yang cukup singkat untuk menerimanya dan beradaptasi. Selain itu, laki-laki juga lebih cepat berbaur dan menguasai lingkungan. Asal fakultas informan juga berpengaruh dalam proses penyesuaian diri. Mahasiswa FK USU cenderung berkelompok dibanding mahasiswa FKG USU, sehingga ini mempengaruhi intensitas interaksi mereka dengan mahasiswa Indonesia. Kedekatan dan keakraban dengan mahasiswa Indonesia lebih terasa dan terbangun di FKG USU. Lingkungan FKG USU yang lebih sempit dibanding FK juga membantu kedekatan mereka. Adanya kerja sama antara mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Malaysia juga lebih terjalin di FKG USU. Jadi, dikarenakan intensitas kontak dengan mahasiswa Indonesia lebih tinggi di FKG, maka proses penyesuaian diri juga lebih cepat. Dalam penelitian ini, mahasiswa FKG lah yang lebih dekat dengan mahasiswa Indonesia, memiliki komunitas dengan orang Indonesia, sering bergabung baik di kampus maupun di luar kampus. Kegiatan santai dan hang-out dengan orang Indonesia juga lebih sering dilakukan oleh mahasiswa asal Malaysia di FKG USU. Sedangkan mahasiswa asal Malaysia di FK USU hanya berinteraksi untuk urusan kuliah saja, sangat jarang yang bergaul dengan orang Indonesia di luar kampus. Lama menetap juga menjadi faktor yang mempengaruhi pemulihan keterkejutan budaya dan mencapai tahap penyesuaian. Terbukti dalam penelitian

ini, informan yang sudah tinggal lebih lama di Medan, sudah lebih menerima dan beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Perbedaan yang ada di Medan diterima sebagai sesuatu budaya baru dan berupaya untuk menyesuaikan diri. Lavanyah, Harry, Lim, Jonathan dan Amir yang sudah menetap selama lebih dari tiga tahun mengaku seiring berjalannya waktu mereka sudah mampu beradaptasi dengan orang-orang Medan. Adaptasi mereka juga sudah lebih menyeluruh dibandingkan dengan Linda, Asfahana, Tini, Girthee dan Govin yang tinggal selama kurang dari tiga tahun. Perbedaan yang dirasakan dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya juga lambat laun diterima dan dihargai sebagai suatu budaya lain. Sedangkan faktor usia tidak berpengaruh, seseorang yang lebih tua tidak menjamin proses penyesuaian yang lebih cepat, demikian sebaliknya, mahasiswa yang berusia lebih muda juga tidak menjamin ia lebih cepat beradaptasi. Asfahana yang berusia 23 tahun lebih lambat beradaptasi dibanding Tini yang berusia 21 tahun. Begitu pula sebaiknya, Harry yang berusia 23 tahun merasakan culture shock yang lebih ringan dan juga lebih cepat beradaptasi dibanding dengan Govin yang berusia 21 tahun. Selain faktor-faktor yang tertera dalam karakteristik informan, sesuai dengan variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi (dalam Mulyana dan Rakhmat, 1993: 142), faktor komunikasi perSonal, komunikasi sosial dan lingkungan juga turut mempengaruhi. Komunikasi personal seperti struktur kognitif, meliputi pengetahuan tentang budaya yang dimasuki, self image si informan sebagai individu dan juga motivasi yang mengacu kepada kemauan imigran untuk belajar tentang dan berpartisipasi dalam lingkungan budaya baru. Kemudian, komunikasi sosial yang meliputi komunikasi interpersonal dengan

orang-orang Medan (Indonesia) dan juga lingkungan kota Medan, dalam hal ini kampus FK dan FKG. Dalam penelitian ini, ketiga faktor itu turut mempengaruhi dalam mengatasi culture shock dan penyesuaian diri. Pengetahuan Harry, Govin dan Jonathan yang lebih luas tentang Indonesia melalui pengalaman mereka yang pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya sedikit banyaknya membantu penguasaan budaya dan interaksi dengan orang-orang Medan (Indonesia). Selain itu, watak/kepribadian sebagai seorang individu juga berpengaruh. Linda yang sangat sensitif merasakan terpaan culture shock yang lebih berat dibandingkan dengan Tini yang lebih cuek, padahal mereka tinggal dalam fakultas yang sama dan juga rumah kost yang sama. Motivasi diri untuk bergabung dengan orangorang Medan (Indonesia) juga mempengaruhi. Informan yang sadar bahwa dirinya adalah pendatang sehingga sewajibnya mereka harus beradaptasi dan termotivasi untuk belajar tentang bahasa Indonesia dan segala sesuatu tentang Medan, juga termotivasi untuk lebih membuka diri, bergaul dan bergabung dengan tuan rumah akan lebih cepat beradaptasi dan keterkejutan budaya yang dirasakan pun sembuh. Harry dan Govin mengungkap hal ini secara terang-terangan. Motivasinya untuk bergabung dan bergaul dengan orang-orang Medan (Indonesia), khususnya mahasiswa Indonesia di kampus mereka membantu penyesuaian diri mereka. Mereka berpegang pada kesadaran akan adanya perbedaan dan kebutuhan akan interaksi. Sekiranya, dari penelitian ini benar apa yang dikemukakan oleh Schramm (dalam Liliweri, 2001: 171) bahwa dalam membantu suatu komunikasi antarbudaya yang efektif, partisipan komunikasi harus memperhatikan empat

syarat, yakni (1) menghormati anggota budaya lain sebagai manusia; (2) menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki; (3) menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak; dan (4) komunikator antarbudaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya lain. Apa yang dikemukakan Schramm jelas terbukti dalam penelitian ini. Informan yang menyadari kondisinya sebagai pendatang berupaya untuk menerima perbedaan yang ada dan menghargai itu sebagai suatu budaya lain yang juga harus dihormati akan lebih cepat beradaptasi dan berinteraksi dengan lebih baik. Demikian pula sebaliknya, pihak tuan rumah, yakni mahasiswa Indonesia di FK dan FKG pada khususnya berupaya untuk menerima mereka dengan perbedaan yang ada, seperti kebiasaan untuk tidak berjabat tangan antara perempuan dan laki-laki yang diterima dan dipahami oleh orang Indonesia. Dikaitkan dengan teori interaksionisme simbolik, maka dapat disimpulkan bahwa memang benar individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, serta menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan (Mulyana, 2001: 59). Meskipun secara umum, hampir seluruhnya informan yang merupakan mahasiswa asal Malaysia di FKG USU lebih cepat berdaptasi dan memiliki intensitas komunikasi antarbudaya yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa asal Malaysia di FK USU, tetapi ada informan yang tetap berkelompok dengan sesamanya, bahkan dengan yang satu etnis dengannya, seperti Amirah yang dalam kesehariannya sering berkelompok dengan sesama mahasiswa Melayu Malaysia. Peneliti menyakini perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif yang menyarankan bahwa

perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendiri yang menentukan perilaku manusia (Mulyana, 2001: 68-69). Artinya, bisa jadi informan yang lebih cepat beradaptasi seperti Harry, Govin, Amir, Kartini, Lavanyah, Lim dan Jonathan memaknai lingkungan Kota Medan dan orang-orang di dalamnya sebagai sesuatu yang positif, sehingga akhirnya mendorong mereka untuk mau berinteraksi, melakukan komunikasi antarbudaya, meskipun dengan berbagai kendala dan perbedaan yang dirasakan tetapi memperoleh pembelajaran tentang budaya Medan (Indonesia). Mereka memberikan definisi yang lebih baik tentang orang Medan (Indonesia) dan menghargai perbedaan yang ada dibandingkan informan yang memilih berkelompok dan hanya berinteraksi untuk urusan kuliah saja. Sedangkan informan yang memberikan definisi yang cenderung negatif tentang lingkungan Medan dan orang-orang di dalamnya seperti Linda dan Asfahana yang memaknai situasi dan perilaku orang Indonesia yang tidak ingin berteman dengan orang Malaysia, maka Linda dan Asfahana cenderung berkelompok dengan sesama mahasiswa Malaysia dengan segala bentuk kenyamanannya. Tidak hanya memberikan definisi terhadap orang lain, definisi yang mereka berikan terhadap diri mereka sendiri juga mempengaruhi perilaku mereka. Informan yang lebih cepat dalam beradaptasi dan mengatasi culture shock yang dialami, mendefinisikan dirinya sebagai pendatang yang seharusnya belajar budaya tempat yang Ia datangi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang ada

didalamnya, sedangkan informan yang mendefinisikan dirinya sebagai pendatang yang diasingkan, ditolak dan berbeda, maka perilaku mereka cenderung lebih sering berkelompok dan hanya berkomunikasi seadanya untuk urusan

perkuliahan. Hal ini dijadikan sebagai perlindungan bagi culture shock yang mereka alami. Lingkungan yang berisi sesama pendatang dengan asal yang sama memang dapat membantu proses penyesuaian dan penerimaan terhadap budaya lingkungan baru, tetapi alangkah baiknya upaya menanggulangi culture shock dengan belajar dan berkomunikasi dengan tuan rumah langsung demi penyesuaian diri. Jadi, dalam perspektif interaksionisme simbolik, perilaku individu berdasarkan pada makna/definisi/penafsiran itu. Makna-makna yang ada bukan melekat pada objek, melainkan diperoleh dan dikonstruksikan melalui interaksi. Dengan berinteraksi, mahasiswa Malaysia memperoleh makna dan kenyataan sosial yang ada didasarkan pada definisi dan penilaian subjektif individu, dalam hal ini mahasiswa asal Malaysia. Bagaimana penilaian/definisi yang diberikan mahasiswa Malaysia tentang lingkungan Kota Medan, orang-orang Medan, situasi yang ada di Kota Medan, bahkan tentang dirinya sendiri, maka berdasarkan itulah ia berperilaku.

BAB V PENUTUP

V.1

Kesimpulan Dari hasil penelitian tentang culture shock pada mahasiswa asal Malaysia

di Universitas Sumatera Utara, maka dapat ditarik kesimpulan: 1. Para mahasiswa asal Malaysia memiliki kecenderungan culture shock tergolong sedang. Hal ini berarti mereka sudah bisa menyesuaikan diri, namun untuk beberapa informan masih mengalami beberapa masalah adaptasi seperti merasa diperlakukan berbeda dalam berinteraksi dengan penduduk lokal, tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan masih kurang nyaman dengan perbedaan budaya yang ada.

2. Culture shock yang dirasakan dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya ialah terhadap bahasa, kuat dan kasarnya cara orang Medan berbicara, karakteristik orang Medan dan juga beberapa perbedaan nilai-nilai. Dari seluruh perbedaan, bahasa yang dianggap menjadi persoalan dalam berkomunikasi. 3. Dari penelitian ini, peneliti memperoleh temuan mengenai culture shock yang dialami informan di luar interaksi komunikasi antarbudaya, yakni makanan, keadaan lalu lintas, kegiatan merokok dan mencontek di lingkungan kampus dan fasilitas dan birokrasi kampus yang masih belum memadai, tetapi kebanyakan informan mengaku mengalami culture shock terhadap makanan dan lalu lintas kota Medan yang padat dan tidak teratur. 4. Rata-rata reaksi terhadap culture shock yang dialami adalah rindu pada rumah/lingkungan lama (homesick) dan gangguan fisik, seperti sakit perut karena tidak cocok dengan makanan yang ada. 5. Jenis kelamin, lama menetap dan asal fakultas cukup berpengaruh terhadap culture shock yang dirasakan dan upaya dalam

menanggulanginya menuju suatu penyesuaian diri. 6. Faktor personal seperti watak/kepribadian, pengalaman sebelumnya, pengetahuan dan juga motivasi, serta komunikasi sosial yaitu intensitas interaksi dengan tuan rumah dan lingkungan juga mempengaruhi proses adaptasi.

7. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa upaya dalam menanggulangi culture shock menuju suatu penyesuaian diri, yakni memegang prinsip sebagai pendatang harus bersedia untuk beradaptasi dengan lingkungan yang didatangi, memperbanyak teman orang-orang Medan (Indonesia) dan meningkatkan intensitas keterlibatan dengan orang-orang Medan

(Indonesia), baik di kampus maupun di luar kampus. Upaya lainnya adalah dengan tetap memilih berkelompok dengan sesama mahasiswa asal Malaysia dan berlindung di balik kenyamanan yang dirasakan selama berada denngan sesama. Tetapi, mayoritas informan melakukan upaya yang pertama, yakni beradaptasi dan memperbanyak teman orang-orang Medan (Indonesia). V.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti perlu mengajukan beberapa saran: 1. Hendaknya mahasiswa asal Malaysia mau belajar memahami budaya Indonesia pada umumnya dan Medan pada khususnya. 2. Hendaknya perbedaan dan keterkejutan budaya/culture shock yang dirasakan memotivasi mahasiswa asal Malaysia untuk terus belajar mengenal dan memahami budaya Medan yang merupakan lingkungan baru yang mereka datangi. 3. Hendaknya mahasiswa asal Malaysia yang masih memilih untuk hidup berkelompok dengan sesamanya karena kenyamanan yang dirasakan mulai

berupaya membuka diri untuk melakukan interaksi dan komunikasi antarbudaya dengan orang-orang Medan (Indonesia), karena hal ini juga akan membantu menanggulangi culture shock yang dialami menuju suatu penyesuaian diri. 4. Hendaknya mahasiswa asal Malaysia, khususnya asal Fakultas Kedokteran USU meningkatkan sosialisasi dan toleransi dengan orang-orang Medan (Indonesia) 5. Hendaknya mahasiswa Medan (Indonesia) juga menerima mahasiswa Malaysia dengan baik, membantu dan menghargai perbedaan budaya yang ada untuk membantu proses adaptasi mereka juga. 6. Penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan dalam melihat culture shock yang dialami etnis pendatang dan minoritas, serta membantu memberikan masukan mengenai upaya lain dalam menanggulanginya dan dalam mempercepat proses adaptasi mereka. Penelitian ini juga dapat dijadikan referensi untuk penelitian lain yang sejenis pada kondisi atau subjek yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Bodgan, Robert dan Steven J. Taylor. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional Bungin, Burhan. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Daymond, Christine dan Immy Holloway. 2007. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations & Marketing Communications . Yogyakarta: Bentang Elvinaro, Ardianto dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media Koentjaraningrat, 1990. Pengantar Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana

Liliweri, Alo. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

___________ 2004. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Marthin, Judith dan Thomas K. Nakayama. 2007. Intercultural Communication in Context. New York: Mc. Graw Hill International

Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyana, Deddy. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

___________ 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyana, Deddy dan Jalaludin Rakhmat. 2005. Komunikasi Antarbudaya Panduan Berkomunikasi Dengan Orang Orang Berbeda Budaya . Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Nawawi, Hadari. 1995. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: UGM Press Rahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Jakarta: PT. Ripteka Samovar, Larry, Richard E. Porter dan Edwin R. Mc. Daniel. 2007. Communication Between Cultures. USA: Thomson Higher Education

Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3S Tubbs, Stewart dan Sylvia Moss, 2005. Human Communication Konteks-Konteks Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika

Sumber lain: http://www.usu.ac.id/ http://dossuwanda.wordpress.com/2008/04/04/gegar-budaya-sebagai-proseskomunikasi-antar-budaya/#more-156 (diakses pada tanggal 7 November 2010) http://campuslife.suite101.com/article.cfm/understanding_and_coping_with_cultu re_shock (diakses pada tanggal 8 November 2010) http://www.antarasumut.com/pendidikan/usu-terima-40-mahasiswa-baru-asalmalaysia/)

LAMPIRAN HASIL WAWANCARA

P I

: Peneliti : Informan

1.

Hasslinda Binti Hassan P I P I : Apakah ini pengalaman pertama datang ke Kota Medan? : Ya kak, ini pertama kali datang ke Medan : Mengapa memilih USU untuk melanjutkan kuliah? : sebab USU cukup famous di Malaysia, mutunya pun baik. Lepas tu sebab Medan pun budayanya tak jauh beda dengan Malaysia. Kita pun macam bangga sekolah kak sini. : Apa yang dirasakan ketika akan pindah ke Medan? : Senang lah karena mau kuliah, tapi ada rasa cemas juga la mau hidup di negara orang. : Apa yang Linda tahu tentang Medan sebelumnya? : Sering dapat cerita di sini banyak orang Batak, lepas tu budaya pun tak pala beda. : Ada rasa takut ketika ingin pindah ke Medan? : Cemas sikit ada la, tapi tak besar, sebab di sana pun, apalagi tempat saya Kuala Lumpur banyak kali orang Indonesia,jadi udah OK la. : Ketika pertama kali tiba di Medan apa yang Linda rasakan? : Pertama pasti langsung rasa ada beda la. : Perbedaan apa aja yang dirasakan? : Terkejut la kak, traffic tuh padat sangat, busy betol Kalo soal cuaca gak la pala cemana, soalnya tak pala jauh beda iklim Indonesia sama Malaysia kan, cuman jalan raya aja yang bising. : Kemudian perbedaan apa lagi? : Makanannya la, nasi tuh dibungkus besar-besar, kalo di Malay tuh kan tak ada yang macem tuh, sikit aja. Jadi kalo disini makan sekali aja saya kenyang betol. : Kalau dengan orang-orangnya? : orang-orang sini ramahlah kak, tidak pendiam, meriah, gak rasa sunyi lah..cukup baik lah

P I P I P I

P I P I

P I

P I

P I P I

: Pernah mengalami kesulitan dalam berkomunikasi? : Pernah la, sebab bahasa pun beda kan. : Apakah pernah mengalami kendala bahasa dan salah paham dalam komunikasi? : Awal-awal itu jelas la, tahun-tahun pertama, tak paham sama yang kawan cakap tu pasti la. Cuman saya selalu biasakan kalau tak tau langsung saya rujuk kawan, yang dicakap tadi apa artinya. Kadang juga kan bahasa di sini beda-beda. : Pernah mengalami konflik karena kesalahpahaman itu? : Oh, tak pernah la. Kalau sama kawan kampus tak pernah konflik la. Kalau ada salah paham pun tak ada saya anggap secara serius sampai sebabkan konflik macam tu. Sebab saya yang datang sini, negara orang jadi jangan la buat masalah kan. : Ada merasa perbedaan dari segi penampilan dengan orang-orang di sini? : Pakaian jelas beda la. orang pun bisa kenal pasti orang ini Indonesia atau orang Malaysia kan. Tapi tak permasalahkan, sebab saya pun bukan fashionable punya orang. Tapi pakaian memang totally different la, macam bebas gitu la. kalau di Malaysia ada pakaian formak khusus kalau mau ke Universitas. : Apa pendapat Anda dengan konflik Indonesia-Malaysia? : Dulu konflik Indonesia-Malaysia kurang, tapi tahun sekarang ramai kan. Terkadang saya pun takut kan, sebab pakai baju kurung orang dapat tau saya ini orang Malaysia, agak aware la, macam agak hati-hati. Pertama kali saya nak bertolak ke sini saya tak pikirkan itu, sebab saya pilih USU sebab dekat dengan Malaysia, tak terlalu banyak perbedaan, jadi saya tak pikir la konflik tu. : Apakah konflik itu mempengaruhi interaksi Anda atau kehidupan Anda di Medan? : Ya macam tadi la, pergi seorang-seorang berani la, tapi kadang hati-hati la, sebab saya rasa orang kadang pandang saya kalau lagi jalan. Padahal di Malaysia pun ramai orang Indonesia, jadi saya pun heran, kenapa mereka pandang saya macam tu kan. Misalnya pagi-pagi kan, saya mau pergi kuliah kan, jalan seorang-seorang, mereka kan berkumpul kan, lepas tu macam dari sana mereka pandang. Saya pun pelik juga, kenapa mereka pandang? Kita buat apa rupanya kan? Macam tu la. : Linda tinggal dimana? : Kost di jalan Tri darma.

P I

P I

P I

P I

P I

P I P I

: Kost sama teman-teman Malaysia juga? : Campur ada orang Indonesia juga la. : Bagaimana interaksi dengan sesama penghuni kost? : Ah, itu la. cemana mau bilang ya, macam lain. Macam kakak tengok tadi, cara pakaian tu orang macam mana kan? Cara mereka bercakap pun agak kasar, jadi kami macam agak tercabar, kadangkadang macam ganggu, tak respect la. bukan saya cakap semua, tapi sebahagian. Ada yang seorang,dia memang humble la, memang rendah diri, tapi kalau yang dua orang ini macam lain sikit. Jadi kami kadan tegur kadang-kadang gak tegur, macam tu aja. Gak tau la pandangan mereka orang cemana kan, tapi kami OK aja. Tapi ada la kami yang tak suka, macam cara tu orang, gak ada kerja sama la. : Jadi hubungan Linda dengan mereka memang tidak baik ya? : Kita pun bukan mau macam tu kan, cuman mereka pun tak respect la. Mereka baru masuk, sebenarnya kami yang pindah sini duluan, mereka baru aja, tapi udah tunjuk belang, jadi kami pun, ah..jangan la gitu kan. Gak ada kerja sama la, macam lepas makan tak basuh, buat bising-bising, cara percakapan tu orang macam kuat kali la. jadi kami pun rasa terganggu, terkadang tengah tidur pun macam terjaga sebab bising tadi tu kan. Mereka bawa kawan laki-laki lagi ke rumah, jadi kan saya rasa aduh, kenapa macam tu kan? : Jadi itu benar-benar buat Linda terganggu ya? : Iya kak, saya terganggu, tak bisa tidur nyenyak, terkejut juga la liat tingkah itu orang. : Pernah sampai bertengkar atau ada konflik? : Gak la, saya gak mau begadoh macam tu. Asal gak totally ganggu tak apa la kak, sebab saya pun masi lama disini, belum coass lagi kan? Banyak benda yang perlu saya pikir daripada pikir dua orang ini kan. Tapi coass nanti kak adam malik aja, tak ada di sini. Adam Malik pun tak tau macam mana lagi, orang-orangnya, dokternya, semuanya, kan jadi tercabar. Bukan mau musuh, cuman memang udah macam itu adanya kan, mau buat cemana lagi kan. Sabar aja la, sebab kalau bertengkar kami juga yang rugi kan? sebab ini bukan negara saya. : Apakah ada usaha untuk memperbaikinya? : Kita uda bagi secara elok kak, tapi ini orang macam keras sikit la. Saya coba duduk kak posisi orang indonesia cemana rasanya, tapi tetap tak bisa pikir la. Pelik juga kalau orang macam tu kan?

P I

P I P I

P I

Pertama saya juga yang buka mulut kak, mereka tak pernah la cakap duluan. Jadi ya gini-gini aja. Saya rasa sedih juga la, saya udah rasa OK la sebab di kampung saya banyak orang Indonesia, tapi kenapa tiba saya yang datang sini mereka macam ada beda gitu kan?macam rasa unfair la. Sebab orang indonesia ramah kan? Yang ini agak lain sikit la, udah nasib la dapat kostmate macam ni. P I : Jadi bagaimana cara Linda mengatasi masalah ini? : Ya kita pun harus profesional kan? Endah tak endah aja, buat apa yang kita buat aja, asal tak betol-betol mengganggu tak apa la. Maybe ambil sebagai dugaan la, belajar di negara orang gini, mana ada yang perfect kan? Saya rasa satu aja la, respect, hormat, kalau respect each other memang best la, happiness boleh dapat la. : Linda lebih sering dengan sesama Malaysia atau bergabung dengan Indonesia? : Lebih malaysia, ada juga teman Indonesia, mereka friendly, mereka sendiri yang datang kak kita, tapi memang tak gitu rapat la. : Linda merasa dibeda-bedakan/ditolak? : Ada la, bedakan orang Malaysia dengan Indonesia. Sebab kami pun disini apa salahnya kan? Agak respect la sikit kan.Sebab saya pun mana ada nak kutuk-kutuk kan? Saya konflik-konflik macam tu benci la. kenapa harus beda-beda kan? Sebab perdana menteri atau pemerintah sekalipun tak ada cemana kali kan? Rakyat aja yang terlalu menggembar-gemborkan, media apalagi kan? : Linda sering nonton berita tentang konflik itu di TV ya? : Ah, TV ini letak di situ aja kak. Jarang kali dibuka, sebab saya tak mau nonton la. sebab saya gak minat la, kadang macam tengok aja acara adat-adat kah, masak-masak kue kah, kalau yang gosip macam itu saya tak minat la, tak dapat terima saya. : Bagaimana dengan media di Malaysia? : Di Malaysia pun ada, cuman tak banyak kali macam sini. Mau nonton apa-apa semua gosip. : Selain itu, perbedaan-perbedaan apa lagi yang Linda alami dan membuat terkejut? : Satu ini la kak, rokok. Itu culture shock sangat bagi saya, sebab di lingkungan kampus kak, apalagi FK, kampus kedokteran harusnya tau kesehatan kan, tapi ini tak. Aduh, rasa pelik betol la. dosennya pun merokok pula, cemana la, merokok kan tak elok kan. Kalau di Malaysia memang tak bisa la kak. Kalau di dalam U tak boleh ada merokok. Kalau ada merokok ada sanksi,macam denda gitu. Saya

P I P I

P I

P I P I

shock betol la, sebab saya pun tak tahan la, kadang mau beli yang tutup mulut tu la biar gak ikut kena kan. Sama satu lagi nyontek kak. Kenapa di kampus pun boleh macam tu? Kalau di Malaysia tak boleh kak, bisa kena buang dari U. P : Itu kan pengalaman interaksi dengan orang-orang di dalam kampus, bagaimana dengan interaksi dengan orang-orang di luar kampus? : Tukang becak la kak sama supir angkot. Kadang suara mereka agak kuat sikit, tapi udah OK la, kemana-mana pun naek angkot sama becak juga sekarang. : Kalau di kampus, Linda lebih sering bergabung dengan teman sesama Malaysia atau berbaur dengan yang Indonesia juga? : Dengan yang benar-benar friendly la, tapi lebih sering sama Malaysia, tapi ada juga kawan daripada orang Indonesia, tapi tak rapat la. : Ada perkumpulan mahasiswa Malaysia di kampus? :Ada kak. PKPMI (Persatuan Kebangsaan Pelajar-Pelajar Malaysia di Indonesia) : Pernah merasakan homesick? : kalo homesick sampai sekarang saya masi rasalah, rindu sama famili. Terkadang kan kak, saya tu nangis seorang di kamar, namanya di negara orang kan, sedih la kak. Saya butuh motivasi, sebab di sini tu kurang. Kurang perhatian la. Orang-orang sini tu, student apa-apa sendiri-sendiri, saya jenis orang yang suka ramairamai la, jadi mereka kurang la memotivasi kawan, mau belajar pun seorang-seorang, jadi saya butuh support dari famili la kak, mereka saja yang boleh beri dukungan, tapi namanya saya yang datang ke negara orang, saya pulak la yang harus adaptasi kan? Tak mau la saya betingkah. : Dengan semua pengalaman perbedaan itu, bagaimana Linda mengatasinya? : Saya kemana-mana berdua sama Asfahana kak, mau ke kampus, pulangnya, jalan ke luar, pulang ke malaysia nanti pun sama. Jadi, karena ada dia saya pun bisa terbantu la. : Sampai saat ini apakah masih ada masalah yang belum bisa diatasi? : Sekiranya tak ada masalah betol, hanya saja yang tadi itu la. respect each other, pasti baikla, sebab saya pun masi lama juga di

P I

P I P I

P I

P I

sini kan, mau coass lagi., masih banyak benda yang perlu dipikir, jadi buat baik aja la.

2.

Govin Raj Perumal P I : Apakah ini pengalaman pertama ke Medan? : Kalau Medan iya, tapi kalau Indonesia gak. Sebelumnya saya pernah kuliah di Bandung selama setahun buat kayak pertukaran pelajar SMA gitu. : Sebelum pindah ke Medan, bagaimana persepsi Govin tentang Medan, lingkungannya, orang-orangnya? : Sebelum saya datang ke sini, pun ada pikir juga la, Medan pasti beda la dengan Malaysia. Saya pikirkan gimana tentang makanannya, gimana tempat penginapannya, gimana orangorangnya. : Setibanya di Medan, mengalami kontak langsung dengan semua yang ada di sini, apa yang Govin rasakan? : Jadi, kalau bandingkan Medan sama Bandung, orang-orang sana lebih lembut, lebih sopan gitu la. di sini bukan mau kata gak sopan, tapi bahasanya kayak kasar kali. Tapi di sini lebih dekat dengan Malaysia la gitu. P : Apakah peralihan dari Bandung ke Medan membuat Govin shock? I : Iya, sebab beda la, orang di sana lembut-lembut, tapi disini gak. Tapi saya lebih shock di sana, sebab orang-orangnya terlalu lembut. Contohnya kita sedang duduk di sini, ada orang yang lalu gitu, kita gak kenal siapa dia, tapi mereka bilang permisi ya pak, punten ya pak gitu, padahal kita gak tau dia siapa, terlalu sopan. Saya kadang pikir, kenapa ya dia harus buat gitu? Terasa pelik, tapi di sini gak ada kayak gitu, jalan aja. Kita berdiri, gak ada bilang permisi, langgar aja. Jadi culture shock itu saya rasakan apabila tau orang-orang itu kayak gini. Cara bicara mereka, baru saya tahu, oh, ternyata mereka kasar kali ya, kok mereka gak friendly ya, jadi saya rasa bedanya di situ. : Jadi cara bicara yang terdengar kuat dan kasar, tidak friendly itu sesuatu yang membuat Govin terkejut? : Iya, sebab saya pikir kenapa kasar gitu ya. : Bagaimana interaksi dengan teman-teman mahasiswa Indonesia di kampus? Menurut Anda bagaimana orang-orang Medan?

P I

P I

P I P

: Orang-orang sini kan kayak gak mementingkan sosialisasi gitu. Kalau mereka lihat kita, mereka gak mau menegur gitu. Walaupun teman satu kuliah, ada yang gak mau ngomong-ngomong sama kita. Mereka buat kayak pura-pura gak tau, sosialisasinya macam gak ada gitu la di sini. Kalau orang yang datang dari luar, macam Palembang, Jambi, Surabaya mereka lebih ramah, lebih rapat. Tapi orang asli Medan gitu gak ramah, gak rapat, gak tau kenapa. Memang dari tahun 2008, tetap saya yang rapat tu banyakan dari luuar, Palembang, Surabaya, ada dari Bandung juga. : Apakah Govin berbaur dengan teman-teman Indonesia atau berkelompok dengan sesama Malaysia saja? : Saya bukan orang yang mau macam itu. Saya mau lebih rapat dengan orang-orang Medan sini, sama semuanya la gitu, tapi karena mereka pun sosialisasinya kurang, saya pun gak tau gimana mau diperbaiki lagi. Jadi saya biasa aja la, siapa yang mau ngobrol dengan saya, ayo, kalau gak ya gimana mau buat lagi kan. Kadang ada juga mereka yang mau tegur saya macam gitu kan, mau ngomong sama kita, kalau yang gitu seronok la. : Selama berkomunikasi dengan orang Medan di sini, apakah Govin pernah mengalami masalah, mungkin dalam hal bahasa atau yang lainnya? : Kalau bahasa, saya rasa orang Medan, mereka gak gunakan bahasa yang terlalu asli. Mereka masih pergunakan kata seperti boleh, tak ada, jadi lebih kurang sama kayak dengan Malaysia. Tapi kalau di Bandung dulu mereka terlalu asli bahasanya. Contohnya kayak perkataan gimana ya, banget, sih, dong, terlalu pekat. Intonasi suara, pergerakan bibir, semuanya pekat gitu. Jadi, memang sebulan pertama di sana itu saya rasa kayak di planet lain. : Kalau dengan bahasa Medan sendiri, Govin tidak ada masalah? Apakah sudah mampu berkomunikasi dengan baik? : Karena pengalaman di Bandung itu, saya udah bisa la bahasa, jadi gak pala masalah lagi. : Apakah Govin sering rindu dengan Malaysia? : Rindu pasti ada la, apalagi kalau uda dekat libur akhir semester. : Disini tinggal dimana? : Di Komplek Tasbi 2 : Bersama teman-teman sesama Malaysia atau campur dengan non Malaysia? : Kita kontrak rumah sama anak Malaysia.

P I

P I P I P I P I

P I

: Selama ini pernah mengalami konflik dengan orang-orang Medan (Indonesia) : oh, gak pernah. Kami sering main sama, macam main futsal gitu. Jadi gak ada konflik la. konfliknya itu selalu sama tukang becak la. mereka itu lah masalahnya. Satu hari satu harga gitu, hari ini kalo mereka bilang sepuluh, besok mereka bilang dua puluh. Ada lagi yang mengeluarkan kata-kata yang gak perlu dikeluarkan gitu ah kamu Malaysia bayar aja la lebih gitu, kita pun rasa kenapa ya mereka bilang kek gini? Jadi kami pun malas melayani mereka gitu. : Jadi kalau mau kemana-mana Govin menggunakan apa? : Naik angkot, atau sama teman naik kereta. Kalau becak, kadang kalau terpaksa naik, ya naik la. : Apakah ada perbedaan lainnya yang Govin rasakan selama tinggal di Medan? : Itu tadi la, becak, lepas itu makanannya saya rasa susah dikit. Seminggu pertama itu dapat mencret, sakit perut terus. Tapi udah lama-lama makanan pun udah bisa adaptasi la. : Govin pernah merasa diasingkan, dibeda-bedakan atau ditolak orang-orang Medan (Indonesia)? : Awalnya macam saya bilang tadi, ada yang gak mau tegur, tapi ada juga yang mau tegur, main futsal sama. Tapi itu tak saya anggap sebagai masalah la, macam udah ini la hakikatnya, sudah tradisinya disini. : Kemudian ada perbedaan lainnya? : Fasilitasnya la, saya rasa harus ditambahi lagi, kayak misalnya kelas praktikum di kuliah gitu. Kalau bisa sistemnya yang lebih gampang la, maksud saya gak usah susahkan mahasiswa gitu. Kalau di sana, di Malaysia, mereka udah tetapkan sistemnya, jadi gak berubah-ubah gitu. Kalau di sini ganti, waktu saya masuk sistem semester, sekarang udah robah jadi sistem blok atau KBK. Kemudian lagi itu dengan orang imigrasi la kak. Saya rasa susah kali, sebab mereka itu terlalu tidak mengendahkan gitu. Kalau mau ke imigrasi itu, kita harus benar-benar menjaga hatimereka gitu. Kalau kita mau jadi normal gak bisa gitu, harus jadi lebih berbaik la. kita udah ngomong baik pun kadang gak mau, harus lembut kali. Saya pun gak tau apa yang mereka harapkan dari kita. Berbicara dengan mereka itu sulit kali la. : Jadi Govin selalu mengalami kesulitan kalau berurusan dengan imigrasi?

P I P I

P I

P I

I P I

: Iya kak, karena mereka pun kadang mood nya gak baik. : Apakah pernah ada masalah interaksi lainnya dengan orang-orang Medan (Indonesia)? : gak pala juga la, mungkin macam dosen. Ada yang gak terlalu pentingkan hubungan antara dosen dengan mahasiswa. Tapi ada juga yang harus hormat gitu, banyak la, macam bahasa pun harus benar, gak bisa dikit pun ada kesalahan bahasa gitu. Lainnya itu OK la kak. : Selama ini, apakah Govin sering bergabung dengan teman-teman Indonesia? : Iya kak, macam tadi itu la. kalau disini ada dua kelompok, ada yang sama anak Malaysia aja, ada yang mau gabung. Kalau saya, saya suka bergaul, suka kali berinteraksi. Biasa ya kak, perkara logika, kalau kita buat suatu yang baru, pasti ada kebaikan dan keburukannya. Kalau kita gak mau buat suatu yang baru, kita mau tetap aja dengan apa yang kita ada, kita kan gak kemana-mana, gak maju. : Di antara keduanya, Govin lebih sering berkumpul dengan sesama mahasiswa Malaysia atau berbaur dengan mahasiswa Indonesia? : Saya gini la kak, kalau di kampus itu kan, memang teman aku teman aku, teman Malaysia itu teman aku, tapi kalau ada apa-apa mau tanya gitu kan, saya tanya dua pihak, gak ada la pilih kasih sebab sama Malaysia gitu. : Apakah Govin punya teman baik (best friend) orang Indonesia? : Banyak kak, bukan waktu di kampus aja, di luar pun main sama. Kayak Putra,Viktor, Fengsini. Senang aja kak, pas aku lalu kelas mereka, mereka liat aku, lepas itu mereka tanya, kami kenalan gitu. Pertama semester 1 itu, praktikum sama, lab sama, main futsal sampe sekarang pun sama. : Jadi, secara keseluruhan Govin sudah mampu beradaptasi? : udah la kak, udah 3 tahun di sini, tambah pengalaman di Bandung pun kan, jadi udah bisa la. : Apakah masih ada masalah yang sampai sekarang belum bisa diatasi? : gak la kak, kayak yang saya bilang itu la, kalau semua mau elok bergabung, berkenalan gitu, pasti bisa semua la, jadi gak akan ada masalah.

P I

P I

P I

P I P I

3. Harvinderpal Singh P I : Apakah sebelumnya Harry pernah ke Medan, atau ini yang pertama kali? : Pernah, waktu di SMA Raksana. Ada pertukaran pelajar malaysia. Jadi sebelum kita mau studi di Indonesia, kita dtang untukmenyesuaikan diri dulu 6 bulan pertama. : Mengapa Harry memilih USU? : Karena dekat dengan Malaysia, murah, akreditasinya sama dengan Malayia. : Sebelum ke Medan, apa persepsi Harry tentang kota Medan atau orang-orangnya? : pertama waktu di Malaysia kan, persepsi saya tentang orang Medan itu mengerikan, apalagi orang Batak kan? Saya kan pertama kali sebelum tinggal di Komplek Tasbi tinggal di Padang Bulan, daerah simpang pos. Jadi disitu kan banyak orang Batak, jadi waktu di situ saya takut keluar sendiri. Saya dengar cerita kalau mereka senyum sama kita, kita gak senyum sama mereka,mereka simpan di hati, suatu hari nanti mereka akan potong kamu. Habis beberapa tahun, dai teman-teman bilang itu cerita lama, udah gak ada kayak gitu lagi, ini udah modern. Cuman memang kalau kita liat orang yang mukanya ngeri-ngeri itu memang Batak asli lah kan. : Pertama kali tiba di Medan, apa yang Harry rasakan? : Walaupun agak sama dan dekat tapi juga ada beda lah. : Perbedaan apa saja yang dirasakan? : Makanannya susah la. Pertama kita sampai itu, kita kan gak cocok sama makanannya, karena di sini banyak pake santan, di Malaysia gak, di sana kari yang banyak. Jadi kalau makan santan itu dapat sakit perut, mencret. Bulan pertama saya sampai sini, saya kerapkali sakit, gara-gara gak cocok juga dengan airnya di sini, macam kotor gitu la. kan kalau disana sumber airnya satu, sebelum airnya sampai ke rumah-rumah, mereka melalui proses penyaringan dulu, jadi bersih, minum pun bisa, gak usah khawatir. Tapi sekarang makanan udah bisa lah. : Bagaimana dengan orang-orangnya, apakah Harry mengalami masalah dalam berinteraksi? : orang Indonesia semuanya baik la, ramah tamah kan. Mereka approach, ada sopannya, mesra la pokoknya. cuman orang becak aja la yang gak mesra. Kita mau bilang harga lain gak bisa,mereka yang benar la, ini la, itu la, angkot pun gitu la, sama aja.

P I P I

P I P I

P I

P I

: Jadi kalau ke kampus atau pergi kemana-mana menggunakan apa? : Saya udah beli kereta, smenjak saya udah punya kereta, saya gak pernah naik lagi. Tapi dulu, sebelum saya beli kereta, kadangkadang saya rasa putus asa lah berurusan sama orang becak itu. : Setibanya di Medan, perbedaan apa yang paling terasa? : Bahasanya la, kan ada banyak bahasa di Indonesia. Pertama kalau ngomong sama mereka, mereka merasa bahasa saya yang aneh, tapi bahasa yang saya gunakan itu bahasa Malaysia, untuk saya gak anaeh, untuk kalian aneh. Bila kalian, orang Indonesia yang cakap bahasa kalian saya yang rasa aneh, kok gitu, apa yang kamu ngomong itu ya, gak ngerti saya, ya kayak gitu la. pertama kali datang itu yang menjadi persoalan, becanda, orang mengejek-ejek gitu la. : Berapa lama akhirnya Harry bisa menguasai bahasa Indonesia dan berkomunikasi dengan baik? : Saya sebentar aja, sebulan dua bulan udah tangkap bahasanya. Waktu di sekolah itu saya belajar bahasa dengan orang disitu kan, jadi udah bisa tangkap la. Saya suka belajar bahasa, saya cepat tangkap, saya bisa banyak bahasa, Cina, India, Inggris, Perancis. : Setibanya di lingkungan USU, apa ada masalah baru atau sesuatu yang membuat Harry shock? : Sebenarnya, pertama kali saya ada masalah interaksi itu waktu SMA di Raksana itu. Gak ngerti dengan bahasa, lepas itu gak ngerti dengan apa yang diajar oleh dosen pengajarnya. : Jadi bagaimana cara Harry mengatasinya? : Jadi saya ambil waktu belajar les dengan guru bahasa Indonesia. Seminggu dua kali, sehabis pulang sekolah, lanjut les bahasa, gitu lah. Saya langsung praktekkan, saya kan cepat gaul, jadi saya ngomong-ngomong dengan orang sekitar. Waktu itu ada cewek yang suka dengan saya, jadi saya belajar, diajarkan bahasa dengan cewek itu. : Kalau di kampus Harry lebih sering berkumpul dengan teman sesama Malaysia atau berbaur dengan yang Indonesia? : Kan ada orang yang sifatnya kalau saya Cina saya mau teman sama orang Cina aja, saya India sama orang India aja, tapi kalau saya gak, saya mix dengan semua. Saya gak mau pandang orang hina. Saya gaul dengan semua, di sini saya punya banyak teman Indonesia. Yang paling akrab dengan saya orang Indonesia yang ada.

P I

P I

P I

P I

P I

P I

: Jadi, selama ini Harry mengatasi semua perbedaan dengan cara bergaul dengan orang Indonesia? : Pertama kali sampai USU, saya usaha langsung cari teman, karena kita pun mau belajar kan, butuh bantuan la, kalau gak ngerti tanya teman, gitu la. Soalnya kita mau belajar di sini, kalau dari awal aja kita udah rasa sifat seperti gak mau lah, nanti aja lah, ditundatunda, nanti sampai kapan mau ada kan, jadi saya gak buang waktu, langsung belajar, tangkap semua lah. : Harry tinggal dimana? : saya tinggal 4 orang, di Kompleks Tasbi 2. Malaysia semua, 3 cewek, saya seorang aja yang cowok. : Bagaimana pendapat harry tentang konflik antara Indonesia dan Malaysia? Apakah mempengaruhi interaksi Harry dengan orang Medan (Indonesia) di sini? : kalau itu sebab media la, media yang memprogandakan lagi. Mereka lah yang tambahkan api-apinya, jadi sepatutnya jangan diungkit, sebab itu urusan negara. Itu antara government Malaysia dan Indonesia. Media yang angkat itu lebih banyak biar rakyat yang naik, panas gitu kan. Gak lah, gak ada rasa takut, sebab kita kan ke sini maksud mau belajar. Bilang serumpun tapi masih juga mau ada masalah kan? Jadi saya rasa gak perlu ada masalahmasalah lah. : Apakah pernah merasakan homesick? : Adalah, tapi sebentar aja. Lepas tu udah biasa, kalau ada waktu saya pulang. Tapi semester ini gak pulang, sebab skripsi. : Sejauh ini apakah masih ada masalah yang belum diatasi? : Gak lah, semua udah lancar. Udah hampir 5 tahun, jadi ok lah.

P I P

P I P I

4. Amirah Fahimah Binti Ahmad Tarmizi P I P I P : Apakah ini pengalaman pertama datang ke Medan? : Ya, pertama kali ke Medan : Mengapa memilih USU untuk kuliah? : Sebab pemerintah yang hantar ke sini. : Pertama kali tiba di Medan, apakah mengalami culture shock? Perbedaan apa yang dialami?

: Lebih ke bahasa ya, kalau perkataan itu kan, satu-satu huruf, ayat itu kan ada lah juga salah interpretasi, tapi kira gitu masih dapat lah yang nak disampaikan. : Selain bahasa, ada perbedaan apa lagi? : First time datang dekat Medan, culture shock nya itu, lagi sampai Polonia terkejut tengok macetnya itu lain, lepas tu, mobil-mobil banyak tekan horn. Makanan juga lah, disini lauknya sikit, nasinya banyak. : Bagaimana dengan orang-orangnya? Karakteristiknya mungkin, budayanya? : Di sini itu suara perempuan itu keras-keras, jerit-jerit gitu kan. Jadi saya rasa terkejut la liat perempuan gitu. : Selama ini, dari pertama tiba, apakah pernah mengalami masalah dalam berkomunikasi? : Komunikasi itu mula-mula ada maslah juga la, kami cakap lain, mereka pun cakap lain, pahamnyapun lain,macam gitu lah. : Jadi, dengan kondisi yang seperti itu, bagaimana Amirah mengatasinya? : Mula-mula datang sini tak banyak cakap lah, jadi lebih banyak mendiamkan diri, banyak mendengar gitu la. : Apakah Amirah juga berbaur denngan orang-orang Indonesia atau teman-teman mahasiswa Indonesia? : Awal mula semester 1 itu sering campur lah, tapi sekarang sebab skripsi udah jarang, semua pisah, karena jadwalnya lain. Teman kenal gitu aja, kalau kuliah, tapi gak rapat macam ini. Lebih sama Malaysia lah, sebab gak biasa kan, bahasa pun beda. : Amirah punya teman baik orang Indonesia? : Kalau teman yang best friend gitu gak la, kenal gitu aja, gak rapat macam yang sama Malaysia? : Jadi, sampai sekarang Amirah lebih sering berkumpul dengan teman-teman sesama Malaysia saja? : Iya, sebab lebih biasa, lebih paham kan. : Dengan segala keadaan di sini, apakah Amirah sering merasakan homesick atau rindu keluarga di Malaysia? : Homesick pasti la, sebab jauh kan, tapi udah bisa lah. Kalau ada holiday pun pulang ke sana.

P I

P I P I P I P I

P I P I P I

P I

: Sampai saat ini, apakah ada masalah yang belum bisa Amirah atasi? : Bahasa lagi lah masalah juga, kalau ngomong kan kita bisa rujuk, bisa kasi mengerti gitu kan. Kalau penulisan lah yang susah, agak payah. Kami selalu kena marah dosen, dimarahi lah karena penulisannya salah, gak betol gitu. : Jadi bagaimana dengan skripsi Amirah? : Ya itu lah yang agak sukar, jadi perbaikan-perbaikan, kemudian minta teman dari Indonesia baca dulu, baru kasi dosen pembimbing. Jadi untuk tulisan itu memang sukar kali la.

P I

5. Lavanyah Rajagopal P I P I : Apakah sebelumnya pernah ke Medan? : oh iya la, ini pertama kali datang dekat sini. : Mengapa memilih USU untuk kuliah? : Ok, actually, mula-mula kan kita ke education fair. Nanti mereka bilang kamu mau yang mana? Mereka bilang USU, Medan itu seperti Penang. Mereka explain, makanannya, culturenya kayak Penang. Mereka bilang kalau pilih USU lebih gampang sebab seperti Penang juga. So, karena mereka kata macam Penang, ayah saya kata pun ok la ke Medan aja. : Setibanya di Medan, apa yang Lavanyah rasakan? Apakah merasakan perbedaan-perbedaan yang membuat Lavanyah terkejut? : Hari pertama kita ke FKG, waktu itu masuk OSPEK. Aduh, pas OSPEK itu, like seram kali. Udah pertama kali masuk aja mereka jerit-jerit. Di Malaysia, actually ada like this, but macam perkenalperkenal aja, tak bisa macam ini. So, terrible la yang OSPEKnya. Itu sebenarnya 3 hari, tapi 1 hari aja kita pergi, lepas tu gak pergi lagi. Berapa jam aja, itu udah rasa seram kali. Senior itu semua jerit-jerit. Lepas itu kita disuruh makan jempol, apa? : Jempol? Jengkol ya maksudnya? : Hah, jengkol, ok sorry. Lepas itu semua orang muntah-muntah, because like i never eat la. Lepas itu hari yang keesoknya kami disuruh bawa barang-barang itu kan, kami pun gak tau apanya yang dibilang, sebab waktu itu kan gak erti kan? Tapi sekarang dengan senior udah ok la, sekarang kan mereka bagi note, everything la.

P I

P I P

: Selama di Medan, apakah ada masalah dalam berinteraksi dengan orang-orang Medan (Indonesia)? : Kalau masalah kali gak ada la. : Kalau di kampus atau di luar pun, apakah Lavanyah lebih sering berkumpul dengan sesama Malaysia atau bergabung sama orang Indonesia juga? : Saya gabung sama semuanya juga la. : Lavanyah punya teman baik orang Indonesia? : Saya buat skripsi juga dengan yang Indonesian, Ulipeh sama Ayu. So, kiat ok la, kita bagi penelitian sama-sama, sebab kita topiknya sama, tapi expectnya beda, so, kita buat sama-sama la. : Lavanyah berkomunikasi/berinteraksi dengan orang Indonesia hanya untuk urusan kampus saja atau juga untuk urusan luar kampus? : Ya la, kita buat penelitian sama-sama kan. She wants comes to KL, and kita bertiga lepas skripsi ini, mau ke Jogja, mau shopping di sana, sebab really stres skripsi. Jadi kita rapat lah, best friend, rencana buat holiday and shopping. : Apakah ada masalah dalam bahasa? : Bahasa Indonesia sebenarnya sama kayak bahasa Melayu juga. So, we can adapt lah, we can understand. Tapi gitu pun Oh, masalah bahasa ada banyak, yang komunikasinya memang sometimes ulipeh kan understand what im try to say , nanti pun dia bilang yang saya tak erti, lepas tu like kita paham kan sendiri. Kalau tak erti saya tanya, nanti dia coba translate dalam bahasa inggrisnya lah. Saya kan bahasanya belum fasih lagi, so, nanti saya bilang sama ulipeh, ulipeh ini apa? Ininya apa? nanti ulipeh bilang, oh ini kek gini, macam tu lah. : Jadi, selama ini dari pertama tiba, apakah Lavanyah mengalami terpaan culture shock yang berarti? : Culture shock is not really la, similar, the culture is similar. Macam tangan kirinya di Indonesia is bad, right? Even Malaysian, especially Indian, left hand is also bad. A bit la, up and down la, ada sedikit yang beda pasti kan. : Dengan kondisi yang seperti itu, apakah Lavanyah sering mengalami homesick? : Homesick pasti ada la. Saya pertama kali ke luar negara. Tak pernah berpisah dari emak dan ayah. Itu pertama kali, so, rasanya cemana ya. Dari dulu sama orang tua, tak pernah tinggal dimana-

I P I

P I

P I

P I

mana, rumah nenek pun tak pernah tinggal, biasa di rumah sendiri.Mula-mula itu 2 minggu asik menangis aja, sebab dari kecil baru ini pergi pertama keluar negara, gak pernah jauh dari family. Pertama kan sim cardnya pun gak tau, lepas dua hari udah bisa call. P I : Apakah Lavanyah punya pengalaman lain ketika berkomunikasi dengan orang Indonesia baik di kampus atau di luar kampus? : Kami ada JCS di hospital adam malik kan, so, di situ juga banyak indonesian, pokoknya they are very friendly lah, kalau kita tanya apa pun, they try to share. And then they dont like, kalau ada isuisu politik macam tu kan between indonesia and malaysia. They say ah, itu kan masalah politik, dont involve mahasiswa. : Lavanyah tinggal dimana? : Saya tinggal di Jalan Jamin Ginting. : Bagaimana hubungan/interaksi Lavanyah dengan sesama penghuni kost? : Saya tinggal dengan Malaysian, Indonesian dulu ada, tapi sekarang udah pindah, sekarang udah 2 orang aja. Hubungan sama mereka baiklah, sebab mereka junior kan, so mereka macam kalau ada apa-apa yang mereka mau, they come to my room lah. : Apakah Lavanyah juga ada pengalaman dengan orang Indonesia di luar kost dan kampus? : kalo di luar saya di cleopatra fitness lah. Nanti ibu-ibu itu semua very lucu lah. Mereka bicara trus, im not really what they say but i try to understand. Saya juga cerita lah, ibu-ibu tu tanya-tanya. : Sejauh ini apakah Lavanyah sudah mampu beradaptasi? : Udah bisa la, banyak teman yang bantu bahasanya juga kan. : Selain semua itu, apakah ada perbedaan lain? : Mungkin makanannya, teman-teman bilang gitu, But, actually im vegetarian. So, saya makan sayur gak makan daging. Kalau di sini saya sering makan indomie pake sayur, i like tahu and tempe.

P I P I

P I

P I P I

6. Asfahana P I : Sebelum kuliah di USU, apakah Asfahana pernah ke Medan sebelulmnya? : Pernah holiday ke Indonesia, ke Danau Toba dengan family. Tapi udah lama, tak ingat lagi kapan, waktu masih kecil.

P I P I P I

: Mengapa Asfahana memilih USU? : Sebab dengar-dengar daripada kawan FK USU itu famous kak sini. : Sebelum datang ke Medan, apa yang Asfahana tahu tentang Medan (Indonesia)? : Kayak macam Malaysia juga la, cuman cara percakapannya yang agak berbeda. : Sampai akhirnya tiba di Medan, apa yang Asfahana rasakan? : Terkejut! Terkejut dengan laluan jalan rayanya, agak bising, lepas tu jalannya agak sempit juga, lepas tu dengan orang-orangnya. Susah macam mau beradaptasi dulu, macam mau kenal, dengan teman-teman satu USU pun sukar juga mau berkenalan sebab dari bahasanya kan gak bisa fasih lagi. : Apakah Asfahana merasakan/menemukan perbedaan-perbedaan antara Malaysia dan Medan? : Iya la, beda. : Perbedaan apa saja yang Asfahana temukan? : tadi tu la, padat jalanannya, lepas tu makanan pun satu, sebab di sini makanan pedas. Lepas tu disini makanannya itu, sarapan pagi macam udah nasi terus, kalau di Malaysia dia ada kue-kue, jadi macam makanan pun ada masalah lah di sini. Lepas tu ada masalah juga la, terutama tu masalah imigrasi la, selalunya yang buat masalah dengan fakultasnya. Surat-surat keterangan yang mau dibuat kadang gak siap waktunya, jadi kami pun risau. Kalau surat itu lambat kami susah pulang. : Bagaimana dengan orang-orangnya? : Orang-orangnya, baek la, ramah juga tapi itu la, apa ya? Ada juga orangnya nampak yang berkelompok-kelompok. Macam di kampus kan, kalau yang pandai satu kelompok, yang biasa-biasa satu kelompok. Lepas tu, cara bersalaman la, sebab kami kalau laki gak bisa salam dengan perempuan kan? tapi kalau sini bisa. pertama terkejut juga, bilang minta maaf la dengan laki yang mau salam. Tapi sekarang mereka udah paham juga la dengan kami yang gak bisa salam. : Dengan semua perbedaan itu dan juga baru memasuki lingkungan yang baru, apakah Asfahana merasa takut untuk berkomunikasi atau berinteraksi? : Memang first time datang sini memang agak takut, sebab tak biasa dengan bahasanya. Awal-awal takut la memang mau komunikasi,

P I P I

P I

sebab saya bilang tadi, bahasanya pun beda kan, lepas tu orangorangnya, terutama kali tu becak. Becak itu memang amat takut la. tapi sekarang udah bisa la. Paling takut lagi naik angkot la, kalau seorang-seorang gak bisa. P I : Mengapa Asfahana takut naik angkot? Apa pernah ada masalah atau pengalaman dengan supir angkot atau becak? : Saya dengar daripada teman-teman ada kena culik handphone, baik duit, hipnotis gitu, jadi macam gak berani. Kalau ramai-ramai bisa la, tapi kalau seorang-seorang gak bisa, jadi baik naik becak aja, itupun berdua juga, tak berani seorang. : Kalau dengan teman-teman kampus, apakah Asfahana pernah takut untuk berkomunikasi? : Iya, takut. Setahun dua tahun pertama dulu sukar mau cakap la, tapi Sekarang udah bisa la. : Ketika berkomunikasi dengan orang-orang Medan (Indonesia), apakah pernah mengalami kesulitan atau salah paham dalam bahasa? : oh, salah paham, masalah komunikasi adalah. Misalnya kata kita, kalau kami kita di sana maknanya kita semua, macam kelompok yang ramai, banyak gitu. Kalau di sini kita saya kan? Banyak lagi la, pasti ada la salah makna, apalagi mula-mula sampai dekat sini. : Apakah Asfahana pernah merasa sangat rindu dengan keluarga atau Malaysia? : Masa mula datang homesick la, sebulan dua bulan itu nangis di kamar macam gitu kan, pikirkan rumah aja, keluarga jauh, sebab susah mau beradaptasi, tapi lama-lama udah biasa la. : Butuh waktu berapa lama Asfahana bisa beradaptasi? : Dalam satu lewat gitu la. : Bagaimana cara Asfahana mengatasi masalah komunikasi ini? : Belajar sikit-sikit lah dengan teman. : Kalau di kampus, Asfahana lebih sering berkumpul dengan teman sesama Malaysia atau berbaur juga dengan yang Indonesia? : Lebih dengan sama Malaysia. Cuman ada juga la teman yang daripada Indonesia, cuman gak rapat macam dengan Malaysia. : Mengapa Asfahana lebih cenderung dengan sama-sama Malaysia?

P I P

P I

P I P I P I P

: Mungkin merekapun gak mau berkawan dengan kami, sebab mereka pun gak paham dengan yang kami cakap, kami pun gak paham yang dia cakap, jadi ya lebih ke Malaysia aja la. : Asfahana pernah merasa ditolak, diasingkan atau dibeda-bedakan? : Iya, ada juga la. Apalagi sebab isu-isu politik macam tu kan. Sebab kita kan manusia, manusia diciptakan Tuhan sama aja, cuman bahasanya dengan budayanya aja yang berbeda. Sebab bukannya salah kami belajar kak sini kan. Apa faedahnya begadoh antar dua negara kan?

P I

7. Girtheekadevy P I P I P I : Apakah ini pertama kali Girthee ke Medan? : Iya, baru ini. : Pertama kali tiba di Medan, apa yang Girthee rasakan? : Situasi di sini sama kayak di Kualalumpur. : Tapi, apakah perbedaan? Girthee merasakan/menemukan perbedaan-

: perbedaan pasti ada la. mungkin udaranya yang banyak abu. Minggu pertama tu memang saya jatuh sakit, sebab tak bisa dengan udara. : Selain itu? : makanannya memang gak bisa saya makan, sampai sekarang pun makanannya gak bisa la. makan di warung-warung gitu gak bisa, biasa makan indomie aja, tak beli, karena kalau masak-masak di warung itu gak bisa. semester 2 baru bisa masak sendiri, sebab dulu belum ada dapur, sekarang udah bisa masak la. : Kalau dengan orang-orangnya? : baik kak, banyak yang baik. Kebanyakan teman kampus, hampir semuanya lebih muda dari saya. : Bagaimana interaksi Girthee dengan orang-orang di sini? : interaksinya bole la, komunikasi juga perlahan-lahan bole, saya pun ada teman akrab indonesia, sebab satu lab kan, so ada la yang akrab. interaksi bole la, bagus juga, cuman bahasa tu la, kadang gak bisa dipahami.

P I

P I P I

P I

: Apakah Girthee berkomunikasi?

mengalami

masalah

bahasa

dalam

: kalau bahasanya sampai sekarang gak fasih lagi, sebab masih banyak teman yang bilang bahasa saya sukar dipaham gitu. saya ada gagal pelajaran sebab gak bisa bahasanya, sampai gagal 4 sampai 5 sesion, sebab ngomongnya gak betol. kadang kalau presentasi di tutorial itu kan kadang gak sadar campur bahasa dengan bahasa malaysia kan, kena marah dosen la macam tu, mereka bilang kenapa kamu campur-campur, kadang campur lagi dengan bahasa inggris, macam-macam la. : Bagaimana Girthee mengatasi kesulitan itu? : teman banyak bantu juga la, kadang mereka translate dalam bahasa Inggris supaya saya ngerti. Jadi kadang saya guna bahasa signal, sebab bahasa signal lebih mudah kak, lebih mudah pahami. : Kalau dengan orang-orang Medan (Indonesia) yang di luar kampus, bagaimana interaksi Girthee? Apakah pernah menemukan masalah atau sesuatu yang berbeda dengan membuat shock? : tukang becak la, suara yang kuat. kadang kala mereka tanya mau pergi mana kan, bila kami kata mau pergi mana-mana kan, bayarnya mahal, nanti mereka jerit sama kami, mereka bilang kan oh kamu orang malaysia, kamu udah kaya, gak mau bayar lagi. Macam tu la. tapi kami langsung jalan aja, sebab udah biasa la. Kadang mereka jerit-jerit bilang apa pun kami tak ngerti, jadi lalu aja la. : Girthee pernah merasakan homesick? : pernah la, pasti pas waktu mula-mula tiba. : Sampai saat ini, masih ada masalah yang belum bisa Girthee atasi? Masih ada yang belum bisa diadaptasi/ : udah bisa la, cuman bahasa masih belajar lagi. pokoknya komunikasi la yang kami paling takut kak,apalagi nanti mau coass kan, sama suster, pasien lagi kan. Itulah yang rasa paling sukar, takut la.

P I

P I P I

8. Kaartini

P I P I

: Tini sebelumnya pernah ke Medan untuk sekedar holiday atau urusan apapun gitu? : Tak pernah, ini kali pertama datang. : Sebelum Tini ke Medan, persepsi Tini tentang Medan itu seperti apa? : persepsi mungkin orang ramai pun bilang gitulah kan, hati-hati la, takut nanti banyak orang jahat kan. Karena di Indonesia ini kan banyak konflik antar indonesia dengan malaysia kan, jadi harus hati-hati. Lepas tu ke medan lagi, disana kan banyak orang batak, mereka bilang gitu jadi hati-hati nanti ada yang makan orang, macam tu la orang ramai bilang. : Ketika tiba di Medan, apa yang Tini rasakan? Merasakan perbedaan kah? Mungkin dari segi budayanya, apakah Tini merasakan perbedaan budaya yang membuat Tini terkejut? : awalnya Tini kira budaya tu semua sama aja kan, malaysia indonesia pun budayanya sama la, tapi bila datang sini beda la. dia bedanya kalau disini kan sosialnya lebih tinggi la, maksudnya lebih tinggi tu, contohnya macam pergaulan antar perempuan dan laki kan, lebih bebas dibandingkan malaysia. Kita pun bebas juga, tapi terkadang kalau di depan umum tertutup gitu, ada batas la, itu kalau di umum, agak malu macam tu la, kalau di belakang kita pun gak tau kan. : Itu sesuatu yang tidak wajar dan pernah membuat Tini tidak nyaman? : Ada la, sebab tak biasa. Kalau di medan, yang berjilbab aja pun kadang pegang-pegang gitu, rangkul, macam udah biasa gitu kan, disana, di malaysia gak biasa macam tu. : Bagaimana interaksi Tini dengan orang-orang Medan (Indonesia), baik di kampus atau di luar? : interaksi gak terlalu macam mana, cuman bahasanya aja yang sukar dipahami. : Tini pernah mengalami kesulitan bahasa dalam berkomunikasi? : Kadang ada satu kata yang sama ucap tapi maknanya beda, lepas tu ada kata yang asing, memang tak paham sama sekali la. : Kalau gitu, bagaimana cara Tini mengatasinya? : Dulu mulanya tu selalu kalau kuliah tu kan, selalu di sebelah saya tu harus ada orang indonesia, sebab mau tanya apa maksud ini itu kan, karena memang jauh kali la beda bahasa, hampir sama memang kak, tapi ada bahasa yang beda juga, saya tak ngerti,

P I

P I P I P I

kayak encer. Saya tak tau, encer itu apa? Oh, cair maknanya, ya macam-macam tu lah, sukar juga. P I : Menurut Tini bagaimana orang-orang Medan, teman-teman di kampus atau di luar? : FK masi ada kelompok-kelompok la, kurang berbaur, bukan indonesia aja, malaysia pun berkelompok-kelompok juga. Tapi tini ada teman akrab indonesia juga la, kiranya macam pernah tidur sama di rumahnya gitu kan. : Kalau di kampus, Tini lebih sering berkumpul dengan teman yang sesama Malaysia atau bergabung juga dengan Indonesia? : sebenarnya kalau ikutkan, tini lebih sering sama yang orang indonesia. Sebab kami ada kayak belajar bahasa arab bersama gitu kan, jadi terkadang tidur rumah mereka, macam ada program gitu la. : Berarti Tini punya banyak best friend orang Indonesia? : teman-teman Tini yang indonesia itu memang baik-baik la, saya suka kali teman dengan mereka. Banyak juga la, ada 10 orang la kami. : Kalau dengan sesama penghuni kost di rumah ini, Bagaimana hubungan atau interaksi Tini? : kalau di kost biasa-biasa aja la, sama yang di atas dekat juga. Kalau di bawah malaysia juga, cuman india, tegur-tegur gitu aja la, biasa aja. ada rasa macam tu juga kadang-kadang, agak lain sikit. sebab mereka kan udah biasa macam tu, jadi kami pun lain, tapi memang lain la, kami memang lain sama mereka. Jadi ya sabar aja la, diam-diam aja, cuman tegur gitu aja. : Selain semua perbedaan ya Tini sebutkan tadi, apakah ada perbedaan lain yang Tini rasakan? : kalau lingkungannya itu memang beda dengan malaysia, kalau disini kan gak teratur, disana pun macet juga, tapi tersusun, disini kan tekan horn yang berkali-kali kan, kalau disini horn tu biasa kan, kalau disana tekan horn itu udah macam marah gitu la. lepas tu main jalan aja kalau lampu merah. : Tini pernah merasa sangat rindu Malaysia? : homesick memang selalu la, banyak kali nangis, sering la, tapi mula-mula aja, sekarang ada rindu juga tapi tak pala la. : Jadi, apakah sekarang Tini udah merasa nyaman di Medan : Udah la, udah biasa, udah bisa adaptasi.

P I

P I

P I

P I

P I P I

9. Lim Rui Liang P I P I : Ini pengalaman pertama Lim ke Medan atau sudah pernah sebelumnya? : Gak, ini kali pertama. : Apa yang Lim rasakan sebelum datang ke Medan? Ada perasaan takut atau ada persepsi apa sebelumnya tentang orang Medan? : Belum ada rasa apa la, sebab awalnya mau sekolah di university di malaysia, cuman karena sukar masuk, lepas itu mahal juga, jadi pilih usu aja, sebab ada dentistry, murah juga gitu, dan terkenal juga di Malaysia, bagus juga. : Ketika sampai di Medan, apa yang Lim rasakan? : Ada beda la. Pertama-tama makanannya lho, makanannya yang pedas kali, gak tahan la itu makanannya. : Kalau dengan orang-orangnnya? : Orang-orangnya agak ramah la gitu, friendly. : Gimana komunikasi Lim, apakah ada kendala bahasa? : pertama kali memang sukar la, apalagi bahasa, nanti ada bahasa yang sama tapi artinya beda. Misalnya bisa gitu kan, disini bisa berarti boleh, tapi disana bisa cuman berarti racun aja. Tapi udah beberapa bulan perlahan-lahan la udah bisa mengerti. : Kalau Lim sering bergabung dengan orang Indonesia di kampus atau di luar? : pertama kali memang belum berbaur la, tapi udah setengah tahun gitu ada la, berbaur, karena ada tugas bersama juga, atau lab praktikum gitu kan, jadi mulai bergaul-gaul. : Lim lebih sering gabung dengan sesama Malaysia atau Indonesia? : saya orangnya ok ok aja, bergaul aja sama semau, kalau diajak ikut la. : Pernah merasa homesick? : homesick mula-mula ada la. tapi gak pernah besar lagi, udah biasa aja, enjoy dengan kawan semua. : Sampai sekarang masih ada masalah yang belum bisa Lim atasi?

P I P I P I

P I

P I P I P

: kalau waktu coass sekarang masih ada sedikit komunikasi yang sulit la, tapi masih ok juga, banyak teman bantu juga kan.

10. Jonathan Lin Chee Hang P I P I : Apakah pernah ke Medan sebelumnya? : Gak, baru pertama. : Apa yang Jonathan rasakan ketika tiba di Medan? : ini pertama kali ke medan, jadi gak ada bayangan la. tapi saya memang pernah ke tempat-tempat lain seperti filipina, jadi bagi saya sama aja. selain itu gak terlalu bermasalah la, sebab saya sering pindah-pindah, filipina, jerman, di indonesia itu di medan, palembang, kalimantan juga. sebab sebelumnya saya pernah ke filipina untuk studi, tapi gak jadi sebab disana populasi lebih ngeri. : Jonathan pernah mengalami masalah dalam komunikasi? : kalau pertama kali, tahun pertama memang ribet la bahasanya. Apalagi kan saya mix chinesse, orang tionghoa disini kan beda bahasanya. Kalau orang tionghoa disana pakai bahasa mandarin, kalau disini pakai bahasa Hokkein, jadi saya gak bisa hokkein, jadi terpaksa guna bahasa inggris aja. : Apakah ada perasaan takut atau cemas dalam berinteraksi dengan orang-orang Medan? : maksudnya kalau saya kan, mamak orang filipina, jadi saya pernah ke filipina, jadi gak begitu shock dibanding filipina, kalau di sini, culture shock, berat kali gak, sedang aja. Kalau yang berat di filipina, disitu berat la. bahasa juga, karena mereka pikir saya kayak orang filipin, mereka langsung cakap bahasa mereka, jadi saya sempat diam, sebab terkejut. Jadi disana dulu saya takut untuk berkomunikasi la, sebab tak paham bahasa mereka. Kalau di indonesia, sebenarnya bahasa melayu hampir mirip dengan bahasa indonesia kan, jadi saya agak ngerti. Kemudian, sebab saya kan di pusat kota, di Manila. Disitu lebih ribet la, lebih banyak, gak bisa saya terima, kayak traffic jam, sebab saya gak bisa ke tempat yang terlalu banyak orang. : Jonathan ada merasa perbedaan ketika tiba di Medan? : Ada juga la, makanan gitu ka, bahasa juga ada. Tapi paling besar itu fasilitasnya, kalau mau kemana-mana susah gitu, gak tau lokasinya. : Jonathan lebih sering kumpul dengan sesama Malaysia atau Indonesia?

P I

P I

P I

I P I

: Kalau teman kost memang malaysia semua, tapi banyak juga teman orang indonesia, sering datang ke kost saya juga, main-main. : Lebih sering dengan yang mana? : saya ada komunitas disini, jadi maksudnya kalau mereka ajak ya saya mau ikut la dengan orang Medan. saya sering kumpul-kumpul sama teman orang indonesia juga. Kami ada komunitas peliharaan gitu, namanya MERCY Medan Reptilies and Amphibians Community, yang aktif itu sekitar 25 orang, ada dari Aceh, batak, yang dari malaysia saya aja, lainnya indonesia. : Berarti Jonathan punya banyak teman Indonesia? : Iya, banyak, sebab komunitas tadi itu, kita sering kumpul> dari situ juga la belajar kan. : Sampai sekarang masih ada masalah dalam interaksi? : Gak ada la, paling coass aja, masalah komunikasinya, tapi sekiranya gak masalah, mesra juga la, yang penting mereka ngerti saya dan dan saya ngerti mereka ya udah. : Jonathan udah merasa nyaman? : Udah bisa la, adaptasi bisa, sebab saya udah sering-sering pindah tadi, jadi udah biasa.

P I P I

P I

11. Amir P I P I

P I P I P I P I

: Pertama kali ke Medan atau sudah pernah sebelumnya? : Pertama kali untuk kuliah. : Ketika sampai di Medan, apa yang Amir rasakan? : pertama kali sampai medan, memang ada rasa agak beda la dengan malaysia. Kotanya agak padat, jalan gak teratur kali, bising sebab sering tekan horn. Tapi sekarang biasa aja la, malah saya pun ikut tekan horn juga la. : Dengan perbedaan itu, bagaimana kondisi Amir? : Ya, untuk itu ada tenang kan diri juga la selama sebulan. Tapi cepat aja, udah bisa sekarang. : Kalau interaksi dengan orang-orang Medan di kampus? : Kalau di USU pun beda la dengan di Malaysia. : Bagaimana dengan orang-orangnya? : kalau orang Medan ngomongnya memang agak kasar, bahasanya gak begitu jauh, medan dengan malaysia itu hampir sama la. : Bagaimana hubungan Amir dengan orang-orang Medan (Indonesia) di kampus atau di luar? : Iya tadi itu, memang kasar orangnya, tapi hubungan dengan teman kampus baik-baik aja.

P I P I P I

: Gimana dengan bahasanya? Amir pernah mengalami masalah bahasa dalam komunikasi? : Bahasanya gak begitu jauh beda dengan Malaysia agak sama. : Kalau Amir lebih sering kumpul dengan teman sesama Malaysia atau Indonesia? : Baur sama semua. Saya langsung berbaur la, di FK dulu pun gitu juga. : Apa perbedaan waktu di kampus FK dengan rumah sakit sekarang? : Waktu kuliah dengan coass hampir sama aja, cuman tambah pengaruh lingkungan dari suster perawat gitu la. kalau sama pasien kadang ada masalah bahasa sikit, sebab mereka kadang pakai bahasa batak, jadi tak paham. Kalau dengan teman-teman coass baik la. : Pernah mengalami masalah komunikasi juga di coass ya? : Iya, sebab lingkungannya baru lagi kan, lebih ramai lagi. : Gimana Amir mengatasinya? : Belajar dari kawan-kawan la, semua bantu. : Amir pernah merasa homesick? : homesick ada la, sebab pasti lebih enak di tempat sendiri kan. Tapi itupun biasa-biasa aja la, sebab kami orang malaysia udah dibiasa hidup mandiri, dari umur 12 tahun. Jadi ya bisa la adaptasi. saya dari masuk tahun 2006, tiga atau empat bulan aja udah bisa adaptasi la.

P I P I P I

Anda mungkin juga menyukai