Anda di halaman 1dari 187

CULTURE SHOCK DALAM INTERAKSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA PADA MAHASISWA ASAL MALAYSIA DI MEDAN (Studi Kasus Pada Mahasiswa

Asal Malaysia Di Universitas Sumatera Utara)

SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Diajukan Oleh:

EMMA VIOLITA PINEM 070904064

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Asal Malaysia di Medan (Studi Kasus Pada Mahasiswa Asal Malaysia di Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui culture shock dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa Malaysia di Universitas Sumatera Utara, dalam hal ini juga mengenai reaksi dan upaya mengatasi culture shock tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang memusatkan diri secara intensif terhadap suatu objek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek penelitian adalah mahasiswa asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang masih aktif kuliah dan sudah menetap di Medan selama kurang lebih dua tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa asal Malaysia di Universitas Sumatera Utara memiliki kecenderungan culture shock tergolong sedang. Hal ini berarti mereka sudah bisa menyesuaikan diri, namun untuk beberapa informan masih mengalami beberapa masalah adaptasi seperti merasa diperlakukan berbeda dalam berinteraksi dengan penduduk lokal, tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan masih kurang nyaman dengan perbedaan budaya yang ada. Dalam hal terpaan dan upaya mengatasinya dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, asal fakultas dan lama menetap. Perempuan lebih tinggi culture shocknya dan cenderung lebih lambat dalam beradaptasi, sedangkan lakilaki lebih ringan terpaan culture shock dan lebih cepat dalam beradaptasi. Mahasiswa di Fakultas Kedokteran cenderung lebih berkelompok dan tidak akrab dengan mahasiswa Indonesia, sedangkan di Fakultas Kedokteran Gigi, mahasiswa Malaysia lebih berbaur dengan mahasiswa Indonesia, meskipun ada yang juga masih sering berkumpul dengan sesamanya, tetapi kedekatan dan intensitas interaksi dengan mahasiswa Indonesia baik untuk urusan kampus atau di luar kampus lebih sering terjadi pada mahasiswa asal Malaysia di Fakultas Kedokteran Gigi. Ini mempengaruhi proses adaptasi mereka. Selain itu, faktor lama menetap juga turut mempengaruhi. Mahasiswa yang lebih lama menetap di Medan memiliki penyesuaian yang lebih menyeluruh.

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAKSI .......................................................................................... KATA PENGANTAR ........................................................................... DAFTAR ISI .......................................................................................... DAFTAR TABEL ................................................................................. BAB I I.1 I.2 I.3 I.4 I.5 I.6 I.7 I.8 I.9 BAB II II.1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah ................................................... Perumusan Masalah .......................................................... Pembatasan Masalah ......................................................... Tujuan Penelitian .............................................................. Manfaat Penelitian ............................................................ Kerangka Teori ................................................................. Kerangka Konsep ............................................................. Operasionalisasi Konsep ................................................... Definisi Operasional ......................................................... URAIAN TEORITIS Komunikasi Antarbudaya ................................................. II.1.1) Sejarah Komunikasi Antarbudaya ........................ II.1.2) Definisi Komunikasi Antarbudaya ....................... II.1.3) Efektivitas Komunikasi Antarbudaya ................... Bahasa Verbal dan Bahasa Non Verbal ............................ II.2.1) Bahasa Verbal ....................................................... II.2.2) Bahasa Non Verbal................................................ II.2.3) Bahasa Verbal dan Non Verbal dalam Proses Komunikasi Antarbudaya ................................................. Akulturasi .......................................................................... II.3.1) Definisi Akulturasi ................................................ II.3.2) Komunikasi dan Akulturasi ................................... II.3.3) Variabel-variabel Komunikasi ............................... II.3.4) Culture Shock ......................................................... Teori Interaksionisme Simbolik ........................................ II.4.1) Definisi Teori Interaksionisme Simbolik ............... METODOLOGI PENELITIAN Deskripsi Lokasi Penelitian ............................................... III.1.1) Universitas Sumatera Utara ................................... III.1.2) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.. III.1.3) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara ......................................................

i ii vi ix

1 5 6 7 7 8 16 16 18

II.2

20 20 22 24 28 28 29 31 33 33 33 36 38 42 42

II.3

II.4 BAB III III.1

46 46 49 53

...2.........2 BAB V V..........2) Studi Kasus ................ Saran ................2......................... HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan dan Wawancara ............. 58 58 59 62 63 65 66 BAB IV IV.......2 Metodologi Penelitian ................................ III........................ Pembahasan ...6) Teknik Analisis Data ..... LAMPIRAN ............2...................................................................................................................................................................................................................1 V.......4) Subjek Penelitian ..........................................................................III............2.............. III............................................2.5) Teknik Pengumpulan Data .........3) Lokasi Penelitian ............. PENUTUP Kesimpulan .............1) Metode Kualitatif .......................1 IV.. III.... III....2..................2 68 136 149 151 153 DAFTAR PUSTAKA ...................... III..................................... III..

........ 2 Jumlah Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU . 3 Data Mahasiswa Asal Malaysia yang Menjadi Informan ....DAFTAR TABEL Tabel 1 Konsep Operasional dan Operasionalisasi Konsep ... Halaman 17 64 71 ................

BAB I PENDAHULUAN I. Komunikasi juga menjadi aspek yang paling penting dan sangat mendasar dalam proses belajar manusia. sehingga akhirnya manusia itu menjadi produk dari budaya tersebut. dalam proses itu individu senantiasa memperoleh aturan-aturan (budaya) komunikasi. Manusia selama hidupnya mengalami proses sosialisasi dan pendidikan.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi layaknya nafas kehidupan manusia. Pola-pola budaya ini pada gilirannya juga akan merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang dilakukan mereka yang lahir dan diasuh dalam budaya tersebut. hingga akhirnya pola-pola budaya tersebut ditanamkan ke dalam sistem saraf dan menjadi kepribadian dan perilaku individu tersebut. Proses memperoleh pola-pola demikian oleh individu disebut dengan enkulturasi. Manusia dibesarkan. . Kodratnya sebagai makhluk sosial membuatnya senantiasa berinteraksi demi pemenuhan kebutuhan dan keberlangsungan hidup. dimana budaya dirumuskan sebagai seperangkat aturan yang terorganisasikan mengenai cara-cara bagaimana individu dalam masyarakat harus berkomunikasi satu sama lain dan bagaimana cara mereka berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka. Pada dasarnya seseorang itu adalah gambaran dari budayanya. diasuh dan berkembang di suatu lingkungan dengan pola-pola budaya setempat.

maka berbagai kecemasan dan ketidaknyamanan pun akan terjadi.Melalui proses enkulturasi. Ketika manusia memasuki suatu dunia baru dengan segala sesuatu yang terasa asing. tempat dimana individu tumbuh dan berkembang. pola budaya diinternalisasikan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari individu tersebut. Orang-orang yang ditemui di lingkungan individu pada saat bekerja. Hasil internalisasi ini membuat individu mudah berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola budaya yang serupa. Lalu apa yang akan terjadi bila seseorang yang lahir dan terenkulturasi dalam suatu budaya tertentu memasuki suatu budaya lain? Segala bentuk lambang-lambang verbal dan non verbal dan aturan-aturan yang telah dipelajari individu dalam lingkungan budayanya mungkin akan lenyap dan tidak berfungsi lagi dalam lingkungan budaya baru yang ia masuki. Akulturasi merupakan suatu proses menyesuaikan diri dengan budaya baru. Salah satu kecemasan yang terbesar adalah mengenai bagaimana harus berkomunikasi. sekolah ataupun bermain cenderung memiliki kesamaan dalam hal latar belakang etnik. Mayoritas individu tinggal dalam lingkungan yang familiar. Individu/kelompok yang memasuki budaya baru akan mengalami proses enkulturasi yang kedua. yang disebut dengan proses akulturasi. Sangat wajar apabila . dimana sesuatu nilai masuk ke dalam diri individu tanpa meninggalkan identitas budaya yang lama (Mulyana dan Rakhmat. kepercayaan atau agama. 2005: 139). nilai. bahasa atau setidaknya memiliki dialek yang sama.

Manusia dalam hidupnya pasti akan menghadapi peristiwa kebudayaan dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda yang turut dibawa serta dalam melangsungkan komunikasi. Culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang yang familiar dalam hubungan sosial. Ketika kita masuk dan mengalami kontak dengan budaya lain serta merasakan ketidaknyamanan psikis dan fisik karena kontak tersebut. Usaha untuk menjalin komunikasi antarbudaya dalam praktiknya bukanlah persoalan yang sederhana. Mereka meninggalkan negara asalnya untuk suatu tujuan. maka keadaan ini disebut gegar budaya atau culture shock.seseorang yang masuk dalam lingkungan budaya baru mengalami kesulitan bahkan tekanan mental karena telah terbiasa dengan hal-hal yang ada di sekelilingnya. termasuk tata cara . 2005: 174). Individu tersebut juga akan berhadapan dengan orang-orang dalam lingkungan baru yang ia kunjungi. Kita harus menyandi pesan dan menyandi balik pesan dengan cara tertentu sehingga pesanpesan tersebut akan dikenali. maka komunikasi antarbudaya menjadi tidak terelakkan. Individu yang memasuki lingkungan baru berarti melakukan kontak antarbudaya. yakni menuntut pendidikan di Universitas Sumatera Utara. Tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk itu meliputi seribu satu cara yang kita lakukan dalam mengendalikan diri kita sendiri dalam menghadapi situasi sehari-sehari (Mulyana dan Rakhmat. diterima dan direspon oleh individu-individu yang berinteraksi dengan kita. Mahasiswa asal Malaysia adalah contoh dari kasus memasuki suatu lingkungan budaya baru. Dengan latar belakang budaya yang sudah melekat pada diri mereka.

. mengapa hal ini terjadi? Apakah untuk menanggulangi keterkejutan budaya yang mereka alami? Hal itu pula yang akan peneliti cari tahu melalui penelitian ini. yakni Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. (http://www. Mahasiswa Malaysia ini secara mayoritas tersebar di dua fakultas.com/pendidikan/usu-terima-40-mahasiswa- baru-asal-malaysia/). seperti Psikologi dan Farmasi yang tinggal meminta persetujuan Kementerian Pendidikan Tinggi di Malaysia. tetapi perlu dipahami bahwa perbedaan-perbedaan budaya itu pasti ada. Hal ini dapat dilihat dari seringnya konflik yang terjadi di antara kedua negara. maka akan terjadi culture shock.antarasumut. Peneliti memilih USU karena USU merupakan universitas di Kota Medan dengan jumlah mahasiswa asal Malaysia terbanyak. Hal ini dikarenakan Kementerian Pendidikan Tinggi di Malaysia baru hanya mengakui dua program studi ini dari 50 program studi yang dimiliki USU. khususnya yang masih tampak berkelompok. Peneliti ingin melihat bagaimana culture shock yang mereka alami ketika memasuki lingkungan baru dan upaya dalam mengatasinya. menyusul untuk program studi lainnya.komunikasi yang telah terekam secara baik di saraf individu dan tak terpisahkan dari pribadi individu tersebut. kemudian diharuskan memasuki suatu lingkungan baru dengan variasi latar belakang budaya yang tentunya jauh berbeda membuat mereka menjadi orang asing di lingkungan itu. Dalam kondisi seperti ini. Peneliti juga mengamati kondisi mahasiswa Malaysia di Fakultas Kedokteran USU. Meskipun Indonesia dan Malaysia berada dalam satu rumpun. Perbedaan antara budaya yang dikenal individu dengan budaya asing dapat menyebabkan individu sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan. Kondisi ini membuktikan bahwa kesatuan itu seutuhnya belum ada.

bahasa. hubungan pria wanita. peneliti membatasi culture shock dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa asal Malaysia di Medan. Banyak hal yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri . selain itu juga dipengaruhi oleh keterampilan (kecakapan) komunikasi individu dalam komunikasi sosial (antarpersonal) serta suasana lingkungan komunikasi budaya baru tersebut (Mulyana dan Rakhmat. motivasi bekerja. Manusia yang memasuki suatu lingkungan baru mungkin akan menghadapi banyak hal yang berbeda seperti cara berpakaian. nilai. Namun dalam penelitian ini. seperti variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi. ketertiban lalulintas.demikian halnya dengan mahasiswa asal Malaysia ini. orang-orang. motivasi individu. konsep keadilan. perilaku. Tetapi ternyata budaya tidak hanya meliputi cara berpakaian maupun bahasa yang digunakan. gaya belajar. cuaca. 2005: 141-144). kebiasaan dan sebagainya (Mulyana. namun budaya juga meliputi etika. . sekolah dan nilai-nilai yang berbeda. yakni faktor personal (intrapersona). dalam hal ini mahasiswa asal Malaysia yang belajar di USU. pengetahuan individu dan pengalaman sebelumnya. 2005: 97). gaya hidup. seperti karakteristik personal. Bagaimana fenomena yang akan mereka alami ketika keluar dari suatu budaya ke budaya lain sebagai reaksi ketika berpindah dan hidup dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka serta bagaimana upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi culture shock yang dirasakan menuju suatu adaptasi yang baik dan komunikasi antarbudaya yang efektif. konsep kebersihan. makanan.

maka dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut: a.Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas. 2. Subjek penelitian adalah mahasiswa asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU. “Bagaimana upaya yang dilakukan mahasiswa asal Malaysia dalam mengatasi culture shock yang dialami?” I. “Bagaimana bentuk culture shock yang dialami dalam interaksi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa asal Malaysia di USU?” b. karena mayoritas . Penelitian bersifat studi kasus. maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “Culture Shock dalam Interaksi Komunikasi Antarbudaya Pada Mahasiswa Asal Malaysia di Medan”.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. I. terarah dan tidak terlalu luas maka dilakukan pembatasan masalah. yakni peneliti akan mengkaji secara mendalam culture shock yang dialami mahasiswa asal Malaysia di USU dan upaya mengatasinya.3 Pembatasan Masalah Agar ruang lingkup penelitian menjadi lebih jelas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui culture shock yang dialami mahasiswa asal Malaysia di USU. Analisis culture shock yang diteliti hanya dalam sorotan interaksi komunikasi antarbudaya. 3.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: .mahasiswa asal Malaysia di USU menempuh pendidikan di dua fakultas ini. I. Pembatasan ini dibuat agar bukan hanya gambaran culture shock saja yang dapat dilihat tetapi juga upaya dalam mengatasinya. Subjek penelitian juga dibatasi pada mahasiswa asal Malaysia yang telah tinggal di Medan selama kurang lebih dua tahun. 3. I. 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui reaksi culture shock pada mahasiswa asal Malaysia di USU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam mengatasi culture shock pada mahasiswa asal Malaysia di USU demi penyesuaian dengan lingkungan baru.

2. khususnya culture shock. Bahasa Verbal dan Nonverbal. mengingat sangat sedikit penelitian yang meneliti mengenai culture shock di departemen Ilmu Komunikasi USU. penelitian ini diharapkan mampu memperluas dan memperkaya khasanah mengenai culture shock dan penelitian kualitatif dalam bidang ilmu komunikasi. Secara teoritis. Akulturasi dan Teori Interaksionisme Simbolik. I. penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bersama dalam memahami konteks komunikasi antarbudaya yang terjadi di sekitar kita dan masukan dan pembelajaran bagi mahasiswa yang mengalami culture shock sebagai reaksi memasuki budaya baru. Secara praktis. .6 Kerangka Teori Menurut Nawawi (1995: 41) sebelum melakukan sebuah penelitian lebih lanjut.1. penelitian ini diharapkan dapat melengkapi dan memperkaya khasanah penelitian tentang komunikasi antarbudaya. Adapun kerangka teori yang relevan dengan penelitian ini adalah Teori Komunikasi Antarbudaya. 3. Secara akademis. seorang peneliti perlu menyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari segi mana peneliti menyoroti masalah yang telah dipilih.

Budaya mempengaruhi orang yang berkomunikasi. antarpribadi dan kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. Dalam keadaan demikian.1) Komunikasi Antarbudaya Menurut Samovar dan Porter (dalam Liliweri. Konsekuensinya. 2004: 10). perbendaharaan-perbendaharaan yang dimiliki dua . Komunikasi antarbudaya lebih menekankan aspek utama yakni antarpribadi di antara komunikator dan komunikan yang kebudayaannya berbeda. Sedangkan menurut Charley H. Apabila kita menambahkan dimensi perbedaan kebudayaan ke dalamnya. komunikasi antarbudaya terjadi di antara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. Budaya bertanggung jawab atas seluruh perbendaharaan perilaku komunikatif dan makna yang dimiliki setiap orang. kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi di mana suatu pesan disandi dalam suatu budaya dan harus disandi balik dalam budaya lain. Dood. Maka seringkali dikatakan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan komunikasi antarpribadi dengan perhatian khusus pada faktor-faktor kebudayaan yang mempengaruhinya. maka yang dimaksud adalah dua atau lebih orang terlibat dalam komunikasi verbal atau non verbal secara langsung. maka kita berbicara tentang komunikasi antarbudaya.6.I. Jika kita berbicara tentang komunikasi antarpribadi. komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi.

2005: 19). asumsi yang mendasari batasan tentang komunikasi antarbudaya di atas adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan atau homogenitas dalam keseluruhan latar belakang pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda. Perbedaan-perbedaan kultural bersama-sama dengan perbedaan lain dalam diri orang (seperti kepribadian individu. Studi ini juga memberi penekanan kepada perbedaan-perbedaan kultural yang sesungguhnya maupun perbedaan-perbedaan kultural yang dipersepsikan antara pihak-pihak yang berkomunikasi. umur dan penampilan fisik) memberi kontribusi kepada sifat problematik yang melekat dalam proses komunikasi antarmanusia. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan kultural antara pihak-pihak yang terlibat. 2005: 54). Titik perhatian dari komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok (Rahardjo. maka karakteristik-karakteristik kultural dari partisipan bukan merupakan fokus studi.orang yang berbeda budaya akan pula berbeda yang dapat menimbulkan berbagai macam kesulitan (Mulyana dan Rakhmat. maka komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para partisipan yang berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung. maka komunikasi antarbudaya menjadi sebuah perluasan bagi studi komunikasi antarpribadi. Menurut Kim (dalam Rahardjo. 2005: 53). Berdasarkan pemikiran itu. . komunikasi organisasi dan kawasan-kawasan studi komunikasi antarmanusia lainnya.

Dalam komunikasi antarbudaya terdapat beberapa masalah potensial.2) Bahasa Verbal dan Nonverbal . (3) merasa positif. kecemasan. penarikan diri. 2001: 172). menambah pengetahuan (kognitif) dan fungsi melepaskan diri/jalan keluar.6. yaitu: 1. fungsi integrasi sosial. etnosentrisme dan culture shock (Samovar. Sedangkan fungsi sosial meliputi fungsi pengawasan. stereotip. pengurangan ketidakpastian. Menghormati budaya lain sebagaimana sebagaimana yang kita kehendaki apa adanya dan bukan 3. Schramm mengemukakan komunikasi antarbudaya yang benar-benar efektif harus memperhatikan empat syarat. terhadap makna pesan yang sama dalam komunikasi antarbudaya atau antaretnik (Liliweri. 2001: 171) Sedangkan menurut De Vito. Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak 4. dan (5) merasa seimbang. 2004: 35). yaitu pencarian kesamaan. (4) memberi dukungan. rasisme. Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain (Liliweri. efektivitas komunikasi antarbudaya ditentukan oleh sejauhmana seseorang mempunyai sikap: (1) keterbukaan. Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia 2. (2) empati. fungsi menjembatani/menghubungkan. 2007: 316). fungsi sosialisasi dan fungsi menghibur (Liliweri. Fungsi pribadi dirinci ke dalam fungsi menyatakan identitas sosial.Komunikasi antarbudaya memiliki dua fungsi utama. prasangka. Porter dan Mc. I. Daniel. kekuasaan. Masalah-masalah tersebut yang sering sekali membuat aktivitas komunikasi antarbudaya tidak berjalan efektif. yakni fungsi pribadi dan fungsi sosial.

yakni: pertama. ekspresi wajah. bau-bauan dan parabahasa. Ini menunjukkan bahasa nonverbal sangat penting dalam suatu aktivitas komunikasi. 65% dari komunikasi tatap muka adalah nonverbal.3) Akulturasi . Penggunaan dan gaya bahasa mencerminkan kepribadian budaya seseorang. pesan-pesan nonverbal dibagi menjadi dua kategori besar. sentuhan.6. Birdwhistell. Menurut Ray L. Proses-proses nonverbal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan. perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian. 2007: 168 dan 201). gerakan dan postur tubuh. Bahasa verbal dan nonverbal tidak dapat terpisahkan dengan konteks budaya. ruang. I. demikian juga dengan komunikasi nonverbal sering kali menunjukkan ciri-ciri budaya dasar (Samovar. Regulasi dan Kontradiksi (Mulyana. kontak mata. Proses-proses verbal tidak hanya meliputi bagaimana kita berbicara dengan orang lain namun juga kegiatan-kegiatan internal berpikir dan pengembangan makna bagi kata-kata yang kita gunakan.Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Porter dan Mc. Komplemen. Fungsi-fungsi bahasa nonverbal antara lain: Repetisi. Daniel. waktu dan diam. namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses-proses nonverbal. Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Bahasa juga dapat dianggap sebagai suatu sistem kode verbal. kedua. Substitusi. Menurut Samovar. 2005: 316).

pengalaman sebelumnya. serta lingkungan komunikasi (Mulyana dan Rakhmat. Proses komunikasi mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi merupakan suatu proses dimana imigran menyesuaikan diri dengan dan memperoleh budaya pribumi. namun perbedaan di antara unsur-unsur asing dengan yang asli masih tampak.Di dalam ilmu sosial dipahami bahwa akulturasi merupakan proses pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda yang diikuti dengan percampuran unsur-unsur tersebut. Komunikasi berperan penting dalam proses akulturasi. 2007: 335). Proses akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru. antara lain: komunikasi persona. Variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi. 2005: 140). Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan (Mulyana dan Rakhmat. komunikasi sosial yang meliputi komunikasi antarpersonal (verbal dan nonverbal). 2005: 139). . Culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial (Samovar. yang meliputi karakteristik personal. Fenomena ini diistilahkan dengan kejutan budaya (culture shock). dampak dari akulturasi adalah stress pada individu-individu yang berinteraksi dalam pertemuan-pertemuan kultur tersebut. pengetahuan individu tentang budaya baru. Secara psikologis. Porter dan Mc. Daniel. motivasi individu.

merasa kehilangan status dan pengaruh 8. Reaksi terhadap culture shock bervariasi antara individu yang satu dengan individu lainnya dan dapat muncul pada waktu yang berbeda. Rekasi-reaksi yang mungkin terjadi. menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah tidak peka (Samovar. 2007: 335) Meskipun ada berbagai variasi reaksi terhadap culture shock dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri. Daniel. Ada perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dengan orang yang mengambil tempat tinggal tetap. sebagian besar literatur menyatakan bahwa orang biasanya melewati empat tingkatan culture shock. maka reaksi mereka pun berbeda. menarik diri 9. Porter dan Mc. 2. misalnya di suatu negara (settler). Keempat . Daniel. antara lain: 1. perhatian mereka terhadap pengalaman kontak dengan budaya lain berbeda. homesick / rindu pada rumah/ lingkungan lama 6.Pembahasan tentang masalah culture shock juga perlu memahami tentang perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dan seseorang yang memutuskan untuk tinggal secara permanen (settlers). antagonis/ memusuhi terhadap lingkungan baru. 2007: 334). gangguan lambung dan sakit kepala 5. rasa penolakan 4. Seperti yang dikatakan oleh Bochner (dalam Samovar. rasa kehilangan arah 3. rindu pada teman dan keluarga 7. Porter dan Mc.

tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva U. Fase Masalah Kultural (Cultural Problems). Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. fase ini berisi kegembiraan. sehingga disebut U-curve (dalam Samovar. Porter dan Mc. Secara konseptual. khusus. 3. 1. 4. keyakinan dan pola komunikasi). fenomenologi merupakan studi tentang pengetahuan yang berasal dari kesadaran atau cara kita sampai pada pemahaman tentang objek-objek atau kejadian-kejadian yang secara sadar kita alami. Fase Kesembuhan (Recovery Phase). Fenomenologi melihat objek-objek dan peristiwa-peristiwa dari perspektif . Ini adalah periode krisis dalam culture shock. 2007: 336). Fase Optimistik (Optimistic Phase). fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. I. rasa penuh harapan. yakni perspektif fenomenologis atau perspektif interpretif. 2. Daniel.4) Teori Interaksionisme Simbolik Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung perspektif yang lebih besar lagi. fase kedua di mana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang.6. dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase). fase terakhir dimana orang telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai.

individu itu bukanlah sesorang yang bersifat pasif. menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Secara ringkas. Sebuah fenomena adalah penampakan sebuah objek. Interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. individu merespon suatu situasi simbolik. termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang terdapat dalam komponenkomponen lingkungan tersebut bagi mereka. situasi. makna adalah produk . peristiwa atau kondisi dalam persepsi individu (Rahardjo. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain. interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama. Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide tentang individu dan interaksinya dengan masyarakat. kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. 2005: 44). (Mulyana.seseorang sebagai perceiver. reflektif dan kreatif. Mereka merespon lingkungan. Bagi perspektif ini. Menurut teoritisi interaksi simbolik. 2001: 68). objek dan bahkan diri mereka sendiri yang menentukan perilaku manusia. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. melainkan bersifat aktif. yang keseluruhan perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur-struktur lain yang ada di luar dirinya. Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri manusia. Kedua. yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna.

interaksi sosial. yakni 2.7 Kerangka Konsep Konsep merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama (Bungin. meliputi: a. maka dioperasionalkan sebagai berikut: Tabel 1 Konsep Operasional dan Operasionalisasi Konsep Konsep Operasional Culture shock Operasionalisasi Konsep A. d. Komunikasi Persona/faktor intrapersonal. Komunikasi . makna diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Karakteristik personal Motivasi individu Pengetahuan individu Pengalaman sebelumnya Sosial. Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah: I. c. maka agar konsep operasional tersebut dapat membentuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian.8 Culture shock dalam interaksi komunikasi antarbudaya Operasionalisasi Konsep Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas. Ketiga. I. 2005: 73). Faktor-faktor yang mempengaruhi culture shock sesuai dengan variabelvariabel komunikasi dalam akulturasi : 1. b. karena itu makna tidak melekat pada objek.

pengetahuan (kemampuan kognitif) tentang budaya dan pola-pola dan aturan sistem komunikasi budaya baru. b. kebutuhan dan dorongan mahasiswa asal Malaysia untuk belajar tentang dan berpartisipasi serta terlibat komunikasi antarbudaya dengan orang-orang Medan. watak dan kepribadian mahasiswa asal Malaysia. Komunikasi Persona/Faktor intrapersonal: a. Fase Optimistik (Optimistic Phase) 2. .9 Definisi Operasional A. Usia 2.komunikasi antarpersona baik verbal maupun non verbal. Motivasi individu. Pengetahuan individu. kemauan. kehendak. Karakteristik personal. Jenis Kelamin 3. Tingkatan culture shock: 1. yaitu Medan. Asal Fakultas 4. Lingkungan komunikasi B. Faktor-faktor yang mempengaruhi culture shock: 1. c. Lama menetap I. Fase Kesembuhan (Recovery Phase) 4. Fase Masalah Kultural (Cultural Problems) 3. 3. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase) Karakteristik Informan 1.

fase kedua di mana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang. 3. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase). khususnya USU. 2. . Mahasiswa asal Malaysia mengalami gegar budaya ketika memasuki lingkungan baru. fase berisi kegembiraan. 4. fase optimistik adalah fase dimana mahasiswa asal Malaysia di USU merasa sangat antusias akan memasuki budaya baru. Tingkatan culture shock: 1. Fase optimistik (Optimistic Phase). 3. ada tidaknya pengalaman terdahulu dari mahasiswa asal Malaysia tentang Medan. Dalam penelitian ini. B. fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. suasana lingkungan kota Medan. Komunikasi Sosial. rasa penuh harapan. dan euphoria sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru. Pengalaman sebelumnya. yakni komunikasi antarpersona mahasiswa asal Malaysia dengan orang-orang Medan. Fase Kesembuhan (Recovery Phase). Mahasiswa asal Malaysia mulai mengenal budaya baru yang dimasukinya. fase terakhir dimana mahasiswa asal Malaysia telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya. Lingkungan.d. Masalah Kultural (Cultural Problems). 2.

Jenis kelamin: laki laki atau perempuan 3. Usia: umur dari informan 2. Lama menetap: lama informan menetap di Medan. Asal fakultas: Fakultas Kedokteran atau Fakultas Kedokteran Gigi 4. .Karakteristik Informan: 1.

1 Komunikasi Antarbudaya II. Dalam tulisan itu Berlo menawarkan sebuah model proses komunikasi. Berlo melalui bukunya The Process of Communication (an introduction to theory and practice). komunikasi akan berhasil jika manusia memperhatikan faktor-faktor SMCR. messages.BAB II URAIAN TEORITIS II. 2001: 1).1. oleh David K. receiver (Liliweri. Edward T. Menurutnya. Semua tindakan komunikasi itu berasal dari konsep kebudayaan. namun akan menjadi lebih menarik setelah dihubungkan dengan konsep “antarbudaya”.1) Sejarah Komunikasi Antarbudaya Tema tentang komunikasi bukanlah suatu hal baru. channel. Istilah “antarbudaya” pertama kali diperkenalkan oleh seorang antropolog. Berlo berasumsi bahwa kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya untuk melaksanakan tindakan itu. yaitu: source. Berarti kontribusi latar belakang kebudayaan sangat penting terhadap perilaku komunikasi seseorang termasuk memahami makna- . Hakikat perbedaan antarbudaya dalam proses komunikasi dijelaskan satu tahun setelahnya. Hall pada tahun 1959 dalam bukunya The Silent Language.

Selanjutnya. Rumusan objek formal komunikasi antarbudaya baru dipikirkan pada tahun 1970-1980-an. Tema pertama tentang “Teori Komunikasi Antarbudaya” diluncurkan tahun 1983 oleh Gundykunst. kebudayaan. Pada saat yang sama. para ahli ilmu sosial sedang sibuk membahas komunikasi internasional yang disponsori oleh Speech Communication Association. Molefi Asante. Sejak saat itu banyak ahli mulai melakukan studi tentang komunikasi antarbudaya. .makna yang dipersepsi terhadap tindakan komunikasi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda (Liliweri. yakni The Handbook of Intercultural Communication. “Annual” tentang komunikasi antarbudaya yang disponsori oleh badan itu terbit pertama kali pada 1974 oleh Fred Casmir dalam The International and Intercultural Communication Annual. 1983 lahir International and Intercultural Communication Annual yang dalam setiap volumenya mulai menempatkan rubrik khusus untuk menampung tulisan tentang komunikasi antarbudaya. komunikasi antaretnik oleh Kim tahun 1986. sebuah komisi yang merupakan bagian Asosiasi Komunikasi Internasional dan Antarbudaya yang berpusat di Amerika Serikat. Cecil Blake dan Eileen Newmark menerbitkan sebuah buku yang khusus membicarakan komunikasi antarbudaya. adaptasi lintasbudaya oleh Kim dan Gundykunst tahun 1988. Stewart dan Ting Toomey tahun 1985. Kemudian Dan Landis menguatkan konsep komunikasi antarbudaya dalam International Journal of Intercultural Relations pada tahun 1977. proses kerja sama antarbudaya ditulis pula oleh Gundykunst. Edisi lain tentang komunikasi. 2001: 2). Tahun 1979.

makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi-kondisinya untuk mengirim. Bila budaya beraneka ragam. Budaya mempengaruhi komunikasi dan pada gilirannya komunikasi turut menentukan. Konsekuensinya. Adapun beberapa definisi komunikasi antarbudaya. Hubungan antara keduanya sangat kompleks. menciptakan dan memelihara realitas budaya dari sebuah komunitas/kelompok budaya (Martin dan Thomas. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku manusia sangat bergantung pada budaya tempat manusia tersebut dibesarkan. sebagai berikut: . 2001: 3). 2005: 20). II.dan terakhir komunikasi/bahasa dan kebudayaan oleh Ting Toomey & Korzenny tahun 1988 (Liliweri.1. tentang apa dan bagaimana komunikasi berlangsung. maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi (Mulyana dan Rakhmat. 2007: 92). Budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa. tetapi budaya juga turut menentukan bagaimana orang menyandi pesan. budaya merupakan landasan komunikasi.2) Definisi Komunikasi Antarbudaya Ada dua konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya (interculture communication). maka studi komunikasi antarbudaya dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi. Dengan memahami kedua konsep utama itu. Dengan kata lain. memperhatikan dan menafsirkan pesan. komunikasi dan budaya ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. yaitu konsep kebudayaan dan konsep komunikasi.

Ogawa dalam buku Larry A. Guo-Ming Chen dan William J. Dalam perkembangannya. tidak seperti studi-studi komunikasi lain.1. A Reader – komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan. asumsi yang mendasari batasan tentang komunikasi antarbudaya adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan atau homogenitas dalam keseluruhan . Samovar dan Richard E. Young Yun Kim mengatakan. Porter Intercultural Communication. misalnya antarsuku bangsa. komunikasi antarbudaya dipahami sebagai proses transaksional. antarpribadi dan kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. hal yang terpenting dari komunikasi antarbudaya yang membedakannya dari kajian keilmuan lainnya adalah tingkat perbedaan yang relatif tinggi pada latar belakang pengalaman pihak-pihak yang berkomunikasi (the communications) karena adanya perbedaan-perbedaan kultural. 3. Andrea L. antarkelas sosial. 2004: 10-11). proses simbolik yang melibatkan atribusi makna antara individu-individu dari budaya yang berbeda. antaretnik dan ras. Dood mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi. Charley H. Sedangkan Tim-Toomey menjelaskan komunikasi antarbudaya sebagai proses pertukaran simbolik dimana individu-individu dari dua (atau lebih) komunitas kultural yang berbeda menegosiasikan makna yang dipertukarkan dalam sebuah interaksi yang interaktif. Menurut Kim. 4. 2. Samovar dan Porter juga mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya terjadi di antara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. Rich dan Dennis M. Starosta mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok (Liliweri.

Komunikasi berpusat pada kebudayaan 6. yaitu: 1.latar belakang pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda (Rahardjo. 2004: 15) II. Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan 2. Ketika komunikasi antarbudaya mempersyaratkan dan berkaitan dengan kesamaan-kesamaan dan perbedaanperbedaan kultural antara pihak-pihak yang terlibat. 2005: 53). melainkan proses komunikasi antara individu dengan individu dan kelompok dengan kelompok (Rahardjo. maka karakteristikkarakteristik kultural dari para partisipan bukan merupakan fokus studi dari komunikasi antarbudaya.3) Efektivitas Komunikasi Antarbudaya Komunikasi antarbudaya merujuk pada fenomena komunikasi dimana para partisipan yang berbeda dalam latar belakang kultural menjalin kontak satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung. Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi 3. demikian halnya . Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya (Liliweri. Sebagaimana sebuah aktivitas komunikasi yang efektif apabila terdapat persamaan makna pesan antara komunikator dan komunikan. Komunikasi antarbudaya ketidakpastian bertujuan mengurangi tingkat 5. 2005: 54). Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi 4. Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya. maka ada beberapa asumsi.1.

stereotip dan prasangka. di samping dihadapkan pada ketiga hal tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor penghambat. yaitu perbedaan nilai dan perbedaan pola-pola perilaku kultural terasa lebih sulit untuk ditanggulangi. 2007: 316). seperti pencarian kesamaan. Porter dan Mc. prasangka. pengurangan ketidakpastian. Itulah sebabnya. Kendala bahasa merupakan sesuatu yang tampak. Terdapat banyak masalahmasalah potensial yang sering terjadi di dalamnya. perbedaan nilai merupakan hambatan yang serius terhadap munculnya kesalahpahaman budaya. Usaha untuk mencapai komunikasi antarbudaya yang efektif. Tetapi hal ini menjadi lebih sulit mengingat adanya unsur perbedaan kebudayaan antara pelaku-pelaku komunikasinya. sedangkan dua hambatan lainnya. yaitu kendala bahasa. sebab ketika dua orang yang berasal dari kultur yang berbeda melakukan interaksi. Mengenai kesalahpahaman antarkultural dikarenakan perbedaan pola-pola perilaku kultural lebih diakibatkan oleh ketidakmampuan masing-masing kelompok budaya untuk memberi apresiasi terhadap kebiasaankebiasaan yang dilakukan oleh setiap kelompok budaya tersebut. etnosentrisme dan culture shock (Samovar. rasisme. usaha untuk menjalin komunikasi antarbudaya dalam praktiknya bukanlah merupakan suatu persoalan yang sederhana. penarikan diri. karena bahasa dapat dipelajari. maka perbedaanperbedaan tersebut akan menghalangi pencapaian kesepakatan yang rasional tentang isu-isu penting. yaitu etnosentrisme. Etnosentrisme . stereotip. perbedaan nilai dan perbedaan pola perilaku kultural. namun hambatan tersebut lebih mudah untuk ditanggulangi. kekuasaan. Sedangkan Lewis dan Slade menguraikan tiga kawasan yang paling problematik dalam lingkup pertukaran antarbudaya.dengan komunikasi antarbudaya. Menurut Lewis dan Slade. kecemasan. Daniel.

Prasangka merupakan sikap yang kaku terhadap suatu kelompok yang didasarkan pada keyakinan atau pra konsepsi yang keliru. Sebenarnya kepercayaan-kepercayaan dan perilaku-perilaku kita mempengaruhi persepsi kita tentang apa yang dilakukan orang lain. Sarbaugh mengemukakan tiga prinsip penting dalam komunikasi antarbudaya. Sedangkan stereotip merupakan generalisasi tentang beberapa kelompok orang yang sangat menyederhanakan realitas (Rahardjo. 2005: 240). Bila ini terjadi. semakin sedikit komunikasi yang mungkin terjadi. juga dapat dipahami sebagai penilaian yang tidak didasari oleh pengetahuan dan pengujian terhadap informasi yang tersedia. . kepercayaan dan perilaku yang berlainan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi merupakan landasan bagi asumsi-asumsi berbeda untuk memberikan respons. 2005: 54-56). kedua orang itu berperilaku secara berbeda tanpa dapat meramalkan respon pihak lainnya. Ketiga. Terdapat berbagai tingkat perbedaan. Pertama. suatu sistem sandi bersama yang tentu saja terdiri dari dua aspek (verbal dan non verbal). Cara kita menilai budaya lain dengan nilai-nilai budaya kita sendiri dan menolak mempertimbangkan norma-norma budaya lain akan menentukan keefektifan komunikasi yang akan terjadi (Tubbs dan Moss. komunikasi akan menjadi tidak mungkin. Kedua. tingkat mengetahui dan menerima kepercayaan dan perilaku orang lain. padahal kemampuan meramalkan ini merupakan bagian integral dari kemampuan berkomunikasi secara efektif. Maka dua orang yang berbeda budaya dapat dengan mudah memberi makna yang berbeda kepada perilaku yang sama.merupakan tingkatan dimana individu-individu menilai budaya orang lain sebagai inferior terhadap budaya mereka. Tanpa suatu sistem bersama. namun semakin sedikit persamaan sandi itu.

serta situasi yang melibatkan keduanya sangat mendukung. Sikap keterbukaan yang dimaksud De Vito. sebaliknya menerima semua informasi yang relevan tentang dan dari komunikan dalam rangka interaksi antarpribadi. meliputi: (1) sikap seseorang komunikator yang membuka semua informasi tentang pribadinya kepada komunikan. merasa. terhadap makna pesan yang sama dalam komunikasi antarbudaya. Memberi dukungan ialah suatu . Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain (Liliweri. (2) empati. (3) merasa positif. komunikannya. merasa dan berbuat terhadap dirinya sendiri. Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak 8. Perasaan positif ialah perasaan seorang komunikator bahwa pribadinya. 2001: 171) Sedangkan De Vito mengemukakan konsepnya tentang efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh sejauhmana seseorang mempunyai sikap: (1) keterbukaan. Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia 6. (4) memberi dukungan. perasaan empati ialah kemampuan seorang komunikator untuk menerima dan memahami orang lain seperti ia menerima dirinya sendiri. jadi ia berpikir. Menghormati budaya lain sebagaimana sebagaimana yang kita kehendaki apa adanya dan bukan 7. Selanjutnya. (2) kemauan seseorang sebagai komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap pesan yang datang dari komunikan. dan (5) merasa seimbang. yaitu: 5. dan (3) memikirkan dan merasakan bahwa apa yang dinyatakan seorang komunikator merupakan tanggung jawabnya terhadap komunikan dalam suasana situasi tertentu. berbuat terhadap orang lain sebagaimana ia berpikir.Komunikasi antarbudaya yang benar-benar efektif menurut Schramm harus memperhatikan empat syarat.

situasi kondisi yang dialami komunikator dan komunikan terbebas atmosfir ancaman, tidak dikritik dan ditantang. Memelihara keseimbangan ialah suatu suasana yang adil antara komunikator dan komunikan dalam hal kesempatan yang sama untuk berpikir, merasa dan bertindak (Liliweri, 2001: 171-174). Pihak-pihak yang melakukan komunikasi antarbudaya harus mempunyai keinginan yang jujur dan tulus untuk berkomunikasi dan mengharapkan pengertian timbal balik. Asumsi ini memerlukan sikap-sikap yang positif dari para pelaku komunikasi antarbudaya dan penghilangan hubungan-hubungan superiorinferior yang berdasarkan keanggotaan dalam budaya-budaya, ras-ras atau kelompok-kelompok etnik tertentu (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 37). Komunikasi antarbudaya yang intensif dapat mengubah persepsi dan sikap orang lain bahkan dapat meningkatkan kreativitas manusia. Berbagai pengalaman atas kekeliruan dalam komunikasi antarbudaya sering membuat manusia makin berusaha mengubah kebiasaan berkomunikasi, paling tidak melalui pemahaman terhadap latar belakang budaya orang lain. Banyak masalah komunikasi antarbudaya seringkali timbul hanya karena orang kurang menyadari dan tidak mampu mengusahakan cara efektif dalam berkomunikasi antarbudaya (Liliweri, 2004: 254). Selain itu, seperti yang telah disebutkan Sarbaugh, bahwa dengan penggunaan sistem sandi yang sama, pengakuan atas perbedaan dalam kepercayaan dan perilaku, dan pemupukan sikap toleran terhadap kepercayaan dan perilaku orang lain, semuanya itu membantu terciptanya komunikasi yang efektif (Tubbs dan Moss, 2005: 242). II.2 Bahasa Verbal dan Non Verbal

II.2.1) Bahasa Verbal Bahasa menjadi alat utama yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Bahasa dapat juga dianggap sebagai suatu sistem kode verbal. Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud yang ingin disampaikan. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Manusia menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikiran, perasaan, niat dan keinginan kepada orang lain. Kita belajar tentang orang-orang melalui apa yang mereka katakan dan bagaimana mereka mengatakannya, kita belajar tentang diri kita melalui cara-cara orang lain bereaksi terhadap apa yang kita katakan dan kita belajar tentang hubungan kita dengan orang lain melalui take and give dalam interaksi yang komunikatif (Samovar, Porter dan Mc. Daniel, 2007: 164). Menurut Ray L. Birdwhistell, porsi komunikasi verbal dalam komunikasi tatap muka manusia hanyalah 35%. Keadaan ini banyak tidak disadari oleh manusia itu sendiri, bahwa bahasa itu terbatas. Keterbatasan bahasa tersebut, menurut Deddy Mulyana, antara lain keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek, kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual, kata-kata mengandung bias budaya dan pencampuradukan fakta, penafsiran dan penilaian (Mulyana, 2005: 245-254).

II.2.2) Bahasa Nonverbal Manusia dipersepsikan tidak hanya melalui bahasa verbalnya, bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku nonverbalnya. Lewat perilaku nonverbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia sedang bahagia, bingung atau sedih. Kesan awal kita pada seseorang sering didasarkan pada perilaku nonverbalnya yang mendorong kita untuk mengenalnya lebih jauh. Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh bersifat nonverbal. Bahasa verbal dan nonverbal dalam kenyataannya jalin menjalin dalam suatu aktivitas komunikasi tatap muka. Keduanya dapat berlangsung spontan dan serempak. Dalam hubungannya dengan perilaku verbal, perilaku nonverbal mempunyai fungsi-fungsi berikut: 1. Fungsi Repetisi; perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal 2. Fungsi Komplemen; perilaku nonverbal memperteguh atau melengkapi perilaku verbal. 3. Fungsi Substitusi; perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal. 4. Fungsi Regulasi; perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. 5. Fungsi Kontradiksi; perilaku nonverbal dapat membantah bertentangan dengan perilaku verbal (Mulyana, 2005: 314). atau

terdapat berbagai kemungkinan untuk memaknai kata-kata tersebut. Rubin mengatakan. namun juga aturan untuk menggunakan simbol-simbol dan suara-suara tersebut. ruang. Dalam arti yang paling dasar. yakni: pertama. Tidak mungkin bahasa terpisah dari budaya. bahasa adalah satu set karakter atau elemen dan aturan yang digunakan dalam hubungan satu sama lain. Tidak hanya kata-kata dan suara untuk simbol-simbol yang berbeda. mereka berbeda satu dengan yang lain. karena kata-kata merepresentasikan persepsi dan interpretasi orang-orang yang berbeda yang menganut latarbelakang sosialbudaya yang berbeda pula. Karakter atau elemen tersebut adalah simbol bahasa yang beragam secara budaya. tetapi yang lebih penting adalah makna yang terkait dengan simbol tersebut. Kata-kata bersifat ambigu. Kata-kata adalah abstraksi realitas yang tidak . waktu dan diam (Samovar. kontak mata. gerakan dan postur tubuh. bahasa verbal dan nonverbal tidak terlepas dari konteks budaya. Porter dan Mc. Oleh karena itu.3) Bahasa Verbal dan Nonverbal dalam Proses Komunikasi Antarbudaya Pada dasarnya. kedua. bau-bauan dan parabahasa. pesan-pesan nonverbal dibagi menjadi dua kategori besar. perilaku yang terdiri dari penampilan dan pakaian. ekspresi wajah. Budaya memberi pengaruh yang sangat besar pada bahasa karena budaya tidak hanya mengajarkan simbol dan aturan untuk menggunakannya.Menurut Samovar. Daniel 2007: 168) II.2. sentuhan.

masalahnya menjadi semakin rumit. dapat dimengerti mengapa komunikasi nonverbal dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. begitu pula dengan bahasa nonverbal. Oleh karena itu. banyak pengalaman berbeda dan konsekuensinya proses abstraksi juga menyulitkan (Samovar. perassan. apabila diingat bahwa keduanya dipelajari. Porter dan Mc. yaitu: kebudayaan menentukan perilaku-perilaku nonverbal yang mewakili atau melambangkan pemikiran. bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya. Namun. Perilaku nonverbal seseorang adalah akar budaya seseorang tersebut. karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. posisi komunikasi nonverbal memainkan bagian yang penting dan sangat dibutuhkan dalam interaksi komunikatif di antara orang dari budaya yang berbeda. keadaan tertentu dari komunikator dan kebudayaan menentukan kapan waktu yang tepat atau layak untuk mengkomunikasikan pemikiran. Sebagaimana bahasa verbal yang tidak terlepas dari budaya. proses abstraksi untuk merepresentasikan pengalaman jauh lebih mudah. Sebagaimana aspek verbal. Dilihat dari ini. Ketika berkomunikasi dengan seseorang dari budaya yang sama.mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakilkan dari kata-kata itu. Hubungan antara komunikasi verbal dengan kebudayaan jelas adanya. diwariskan dan melibatkan pengertianpengertian yang harus dimiliki bersama. walaupun . Bila budaya disertakan sebagai variabel dalam proses abstraksi tersebut. Daniel. Banyak perilaku nonverbal dipelajari secara kultural. perasaan. Jadi. komunikasi nonverbal juga tergantung atau ditentukan oleh kebudayaan. 2007: 169-170). keadaan internal.

Di dalam ilmu sosial dipahami bahwa akulturasi merupakan proses pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda yang diikuti dengan percampuran unsur-unsur tersebut namun perbedaan di antara unsur-unsur asing dengan yang asli masih tampak.3. Porter dan Mc.1) Definisi Akulturasi Istilah akulturasi atau acculturation atau culture contact.3.2) Komunikasi dan Akulturasi Manusia adalah makhluk sosio-budaya yang memperoleh perilakunya lewat belajar. Apa yang kita pelajari pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatankekuatan sosial dan budaya. sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri (Koentjaraningrat.perilaku-perilaku yang memperlihatkan emosi ini banyak yang bersifat universal. oleh siapa dan dimana emosi-emosi itu dapat diperlihatkan (Samovar. Dari semua aspek belajar manusia. komunikasi . Daniel. II. tetapi ada perbedaan-perbedaan kebudayaan dalam menentukan bilamana. II. 1990: 248).3 Akulturasi II. adalah konsep mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa. 2007: 201).

Kita harus menyandi dan menyandi balik pesan-pesan sehingga pesan-pesan tersebut akan dikenali. pola-pola budaya ditanamkan ke dalam sistem saraf dan menjadi bagian kepribadian dan perilaku individu. 2005: 138). Proses individu-individu memperoleh aturan-aturan budaya komunikasi dimulai pada masa awal kehidupan manusia tersebut. 2005: 137) Budaya sebagai paduan pola-pola yang merefleksikan respon-respon komunikatif terhadap rangsangan dari lingkungan. Lalu apa yang akan terjadi bila seseorang yang lahir dan terenkulturasi dalam suatu budaya tertentu memasuki suatu budaya lain? . Kegiatan-kegiatan komunikasi berfungsi sebagai alat untuk menafsirkan lingkungan fisik dan sosial kita (Mulyana dan Rakhmat. Proses belajar yang terinternalisasikan ini memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang juga memiliki pola-pola komunikasi serupa. Budaya sebagai seperangkat aturan yang terorganisasi mengenai cara-cara dimana individu-individu dalam masyarakat harus berkomunikasi satu sama lain dan cara bagaimana mereka berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka.merupakan aspek yang terpenting dan paling mendasar. diterima dan direspons oleh individu-individu yang berinteraksi dengan kita. Melalui proses sosialisasi dan pendidikan. Proses memperoleh pola-pola demikian oleh individu-individu itu disebut enkulturasi (Mulyana dan Rakhmat. Pola-pola budaya ini pada gilirannya merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang lahir dan diasuh dalam budaya itu. Kita belajar banyak hal lewat respon-respon komunikasi terhadap rangsangan dari lingkungan.

Secara bertahap imigran belajar menciptakan situasi-situasi dan relasi-relasi yang tepat dalam masyarakat pribumi. hubungan antara budaya dan individu. bukan merupakan hal yang lazim tetapi suatu topik penyelidikan yang meragukan. Proses komunikasi mendasari proses akulturasi seorang imigran. Akulturasi terjadi melalui identifikasi dan internalisasi lambang-lambang masyarakat pribumi yang signifikan. Sebagaimana orang-orang pribumi memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi seorang imigran pun . Sebagai seorang anggota baru dalam budaya pribumi. afektif dan perilaku dalam penyesuaian diri dengan budaya baru. Transaksitransaksi dalam kehidupan sehari-hari saja membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang menggunakan lambang-lambang dan aturan-aturan yang ada dalam sistem komunikasi masyarakat pribumi yang menjadi lingkungan barunya.Banyaknya tata cara komunikasi yang telah diperoleh individu sejak masa kanak-kanak mungkin tidak berfungsi lagi dalam lingkungan barunya. Meskipun demikian. Tidaklah mudah memahami perilaku-perilaku kehidupan yang sering tidak diharapkan dan tidak diketahui. bukan suatu alat untuk lepas dari situasisituasi problematik tetapi merupakan suatu situasi problematik tersendiri yang sulit dikuasai. mampu membangkitkan kemampuan manusia yang besar untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan. seperti yang terlihat dalam proses enkulturasi. imigran harus menghadapi banyak aspek kehidupan yang asing. Asumsiasumsi budaya yang tersembunyi dan respon-respon yang telah terkondisikan menyebabkan banyak kesulitan kognitif. Schultz mengatakan bahwa bagi orang asing. pola budaya kelompok yang dimasukinya bukanlah merupakan tempat berteduh tetapi merupakan suatu arena petualangan.

proses akulturasi adalah suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan lingkungan sosio-budaya yang baru (Mulyana dan Rakhmat. berusaha untuk dan mengharapkan berkomunikasi dengan lingkungan. unsur dasar suatu sistem komunikasi manusia teramati ketika seseorang secara aktif sedang berkomunikasi. seperti perbedaan-perbedaan dalam penggunaan dan pengaturan ruang.memperoleh pola-pola budaya pribumi lewat komunikasi. mengembangkan cara-cara melihat. Seorang imigran akan mengatur dirinya untuk mengetahui dan diketahui dalam berhubungan dengan orang lain dan itu dilakukan lewat komunikasi. jarak antarpribadi. . gerakan tubuh lainnya dan persepsi tentang penting tidaknya perilaku nonverbal. komunikasi persona atau intrapersona mengacu kepada prosesproses mental yang dilakukan orang untuk mengatur dirinya sendiri dalam dan dengan lingkungan sosio-budayanya. 2005: 137-140). Dalam banyak kasus. bahasa asli imigran sangat berbeda dengan bahasa asli masyarakat pribumi. gerak mata. Sebagai suatu sistem komunikasi terbuka.3. yakni komunikasi persona dan komunikasi sosial. Proses selama akulturasi sering mengecewakan dan menyakitkan. II. Dalam perspektif sistem.3) Variabel-Variabel Komunikasi dalam Akulturasi Salah satu kerangka konseptual yang paling komprehensif dan bermanfaat dalam menganalisis akulturasi seorang imigran dari perspektif komunikasi terdapat pada perspektif sistem yang dielaborasi oleh Ruben (1975). seseorang berinteraksi dengan lingkungan melalui dua proses yang saling berhubungan. Pertama. Masalah-masalah komunikasi lainnya meliputi masalah komunikasi nonverbal. Oleh karena itu. ekspresi wajah.

Bukti empiris yang memadai menunjang fungsi penting pengetahuan tersebut. Komunikasi persona dan komunikasi sosial seorang imigran dan fungsi komunikasi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa dihubungkan dengan lingkungan komunikasi masyarakat pribumi.mendengar. Faktor yang erat berhubungan dengan kompleksitas kognitif adalah pengetahuan imigran tentang pola-pola dan sistem-sistem komunikasi pribumi. Selain itu. Derajat pengaruh komunitas etnik atas perilaku imigran sangat bergantung pada derajat . lingkungan komunikasi. terutama pengetahuan tentang bahasa dalam memudahkan aspek-aspek akulturasi lainnya. Komunikasi antarpersona seorang imigran dapat diamati melalui derajat partisipasinya dalam hubungan-hubungan antarpersona dengan anggota masyarakat pribumi. memahami dan merespons lingkungan. motivasi akulturasi seorang imigran juga dapat memudahkan proses akulturasi. Ketiga. Suatu variabel persona lainnya dalam akulturasi adalah citra diri (self image) imigran yang berhubungan dengan citra-citra imigran tentang lingkungannya. pikiran dan perilaku antara yang satu dengan yang lainnya. Salah satu variabel komunikasi persona terpenting dalam akulturasi adalah kompleksitas struktur kognitif imigran dalam mempersepsi lingkungan pribumi. Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan akulturasi imigran adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat. Motivasi akulturasi mengacu kepada kemauan imigran untuk belajar tentang. Komunikasi sosial ditandai ketika individuindividu mengatur perasaan. Kedua. komunikasi sosial. berpartisipasi dalam dan diarahkan menuju sistem sosio-budaya pribumi. Komunikasi sosial dilakukan melalui komunikasi antarpersona.

eksekutif bisnis. Lembaga-lembaga etnik yang ada dapat mengatasi tekanan-tekanan situasi antarbudaya dan memudahkan akulturasi (Mulyana dan Rakhmat. Hal inilah yang menjadi dampak dari proses akulturasi yaitu keadaan gegar budaya (culture shock). culture shock didefinisikan sebagai kegelisahan yang mengendap yang muncul dari kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial. termasuk di dalamnya seribu satu cara yang . Orangorang memasuki wilayah budaya dengan beragam pengalaman.3. Pengalaman-pengalaman komunikasi dengan kontak antarpersona secara langsung seringkali menimbulkan frustasi. pelajar.kelengkapan kelembagaan komunitas tersebut dan kekuatannya untuk memelihara budayanya yang khas bagi anggota-anggotanya. Individu yang memasuki suatu dunia baru yang berbeda dengan lingkungan asalnya.4) Culture shock Orang yang melintasi batas budaya yang disebut sebagai pendatang. latar belakang. Istilah culture shock pertama kali diperkenalkan oleh Antropologis bernama Oberg. tetapi setiap orang asing harus menyesuaikan perilaku komunikasinya dengan pengaturan budaya baru yang individu tersebut datangi. 2005: 141-144). Istilah ini mencakup imigran. pengungsi. pengetahuan dan tujuan. tidak jarang akan menimbulkan kecemasan dan ketegangan. Menurutnya. atau turis. II.

com/article.cfm/understanding_and_coping_with_cult ure_shock ). 2005: 174). Daniel. kapan dan di mana kita tidak perlu merespon (Samovar. semua atau hampir semua petunjuk itu lenyap. isyarat-isyarat. Mulyana mengemukakan tanda-tanda atau petunjuk-petunjuk tersebut juga termasuk kapan berjabatan tangan dan apa yang harus kita katakan ketika bertemu dengan orang-orang. Porter dan Mc.suite101. bagaimana membeli sesuatu. kapan menerima dan kapan menolak undangan. Petunjuk-petunjuk ini dapat berupa kata-kata. sebelumnya perlu memahami tentang perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dan seseorang yang memutuskan untuk tinggal secara permanen (settlers). Ada perbedaan antara pengunjung sementara (sojourners) dengan orang yang . lalu akan mengalami frustasi dan kecemasan. kapan membuat pertanyaan dengan sungguh-sungguh dan kapan sebaliknya. Deddy Mulyana lebih mendasarkan gegar budaya (culture shock) sebagai benturan persepsi yang diakibatkan penggunaan persepsi berdasarkan faktorfaktor internal (nilai-nilai budaya) yang telah dipelajari orang yang bersangkutan dalam lingkungan baru yang nilai-nilai budayanya berbeda dan belum ia pahami (http://campuslife. 2007: 335). misalnya bagaimana untuk memberi perintah. ia akan kehilangan pegangan. kita peroleh sepanjang perjalanan hidup seseorang sejak kecil (Mulyana dan Rakhmat. ekspresi wajah. Meskipun seseorang tersebut berpikiran luas dan beritikad baik.mengarahkan kita dalam situasi keseharian. Bila seseorang memasuki suatu budaya asing. kebiasaan-kebiasaan atau normanorma. Dalam membahas tentang masalah culture shock.

sedangkan sojourners berada dalam landasan sementara. 2007: 334). antara lain: 1. Reaksi yang dihasilkan oleh culture shock juga bervariasi antara satu individu dengan individu lainnya dan dapat muncul pada waktu yang berbeda pula. misalnya di suatu Negara (settler). bukan merupakan materi kuliah tapi suatu topik penyelidikan yang meragukan. seperti turis dalam sehari atau pelajar asing dalam beberapa tahun. Porter dan Mc. Settlers berada dalam proses membuat komitmen tetap pada masyarakat barunya. perhatian mereka terhadap pengalaman kontak dengan budaya lain berbeda. Individu bisa jadi merasa kikuk dan terasa asing dalam berhubungan dengan orang-orang dari lingkungan budaya baru yang ia masuki (Mulyana dan Rakhmat. bukan suatu alat untuk lepas dari situasi-situasi problematik. Daniel. Seperti yang dikatakan oleh Bochner (dalam Samovar. melainkan suatu situasi problematik tersendiri yang sulit dikuasai. pola budaya kelompok yang dimasuki bukanlah merupakan tempat berteduh. Deddy Mulyana dalam bukunya Komunikasi Antarbudaya mengatakan bahwa bagi orang asing. antagonis/ memusuhi terhadap lingkungan baru. Pengalaman-pengalaman komunikasi dengan kontak interpersonal secara langsung dengan orang-orang yang berbeda latar belakang budaya. meskipun kesementaraannya bervariasi. 2005: 143). Reasi-reaksi yang mungkin terjadi. seringkali menimbulkan frustasi. maka reaksi mereka pun berbeda. rasa kehilangan arah 3. 2. gangguan lambung dan sakit kepala . melainkan merupakan suatu arena petualangan. rasa penolakan 4.mengambil tempat tinggal tetap.

Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva U. homesick/ rindu pada rumah/ lingkungan lama 6. Pada tahap ini. menarik diri 9. tidak sabar dan bahkan menjadi tidak kompeten. misalnya karena kesulitan bahasa. Ini adalah periode krisis dalam culture shock. fase ini berisi kegembiraan.5. merasa kehilangan status dan pengaruh 8. 3. bersikap bermusuhan. mudah marah. rasa penuh harapan dan euforia sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru 2. rindu pada teman dan keluarga 7. Porter dan Mc. Daniel. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. fase kedua dimana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang. 1. Fase optimistik (Optimistic Phase). sekolah baru dan lain-lain. menganggap orang-orang dalam budaya tuan rumah tidak peka (Samovar. fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. sistem lalu lintas baru. sehingga disebut U-curve. individu secara . Orang menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung. Samovar menyatakan bahwa biasanya individu akan melewati 4 (empat) tingkatan culture shock. Fase Masalah Kultural (Cultural Problems). Fase Kesembuhan (Recovery Phase). 2007: 335) Meskipun ada berbagai variasi reaksi terhadap culture shock dan perbedaan jangka waktu penyesuaian diri.

2001: 68).4. pada puncak kanan U. II. seperti James Mark Baldwin. Kemampuan untuk hidup dalam dua budaya yang berbeda. Fase penyesuaian (Adjustment Phase). Charles H. individu telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai. . biasanya juga disertai dengan rasa puas dan menikmati. pola komunikasi. Thomas. Namun gagasan-gagasannya mengenai interaksionisme simbolik berkembang pesat setelah para mahasiswanya menerbitkan catatan dan kuliah-kuliahnya. 4. yakni mind.1) Definisi Teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead merupakan pelopor interaksionisme simbolik. John Dewey dan William I. meskipun dalam perintisan teori ini banyak ilmuwan lain yang ikut serta memberikan sumbangsihnya. fase terakhir. keyakinan dan lain-lain). seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan. Namun beberapa ahli menyatakan bahwa untuk dapat hidup dalam dua budaya berbeda.4 Teori Interaksionisme Simbolik II. Cooley. terutama melalui buku yang menjadi rujukan utama teori interaksionisme simbolik.bertahap membuat penyesuaian dan perubahan untuk menanggulangi budaya baru. William James. self and society (Mulyana. Mead mengembangkan teori interaksionisme simbolik pada tahun 1920-an ketika beliau menjadi profesor filsafat di Universitas Chicago.

Sebuah fenomena adalah penampakan sebuah objek. pikiran manusia (mind) dan interaksi sosial (diri/self dengan yang lain) digunakan untuk menginterpretasikan dan memediasi masyarakat (society) di mana kita hidup. Bagi perspektif ini. 2005: 44). Secara konseptual. fenomenologi merupakan studi tentang pengetahuan yang berasal dari kesadaran atau cara kita sampai pada pemahaman tentang objek-objek atau kejadian-kejadian yang secara sadar kita alami. individu itu bukanlah sesorang yang bersifat pasif. menampilkan perilaku yang rumit dan sulit . Makna berasal dari interaksi dan tidak dari cara yang lain. Tiga konsep ini saling mempengaruhi satu sama lain dalam term interaksionisme simbolik.Karya Mead yang paling terkenal ini menggarisbawahi tiga konsep kritis yang dibutuhkan dalam menyusun sebuah diskusi tentang teori interaksionisme simbolik. reflektif dan kreatif. Pada saat yang sama “pikiran” dan “diri” timbul dalam konteks sosial masyarakat. 2007: 136) Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung perspektif yang lebih besar lagi. yakni perspektif fenomenologis atau perspektif interpretif. pengalaman individu dan interaksi menjadi bahan bagi penelahaan dalam tradisi interaksionisme simbolik (Elvinaro. Pengaruh timbal balik antara masyarakat. melainkan bersifat aktif. Interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. Dari itu. yang keseluruhan perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur-struktur lain yang ada di luar dirinya. peristiwa atau kondisi dalam persepsi individu (Rahardjo. Fenomenologi melihat objek-objek dan peristiwa-peristiwa dari perspektif seseorang sebagai perceiver.

yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Struktur itu tercipta dan berubah karena interaksi manusia. 2001: 68-70). Oleh karena individu akan terus berubah maka masyarakat pun akan berubah melalui interaksi itu. Melalui percakapan dengan orang lain. 2008: 93) Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide tentang individu dan interaksinya dengan masyarakat. bukan sebaliknya. 2001: 59). melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial (Mulyana. pada intinya. bukan struktur masyarakat melainkan interaksi lah yang dianggap sebagai variabel penting dalam menentukan perilaku manusia. Dalam konteks ini. Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri manusia. dalam pandangan interaksi simbolik. .diramalkan. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. kita lebih dapat memahami diri kita sendiri dan juga pengertian yang lebih baik akan pesan-pesan yang kita dan orang lain kirim dan terima (West. proses sosial dalam kehidupan kelompok yang menciptakan dan menegakkan aturanaturan. makna dikonstruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya. Sebagaimana ditegaskan Blumer. Jadi. situasi. objek dan bahkan diri mereka sendiri yang menentukan perilaku manusia. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain. yakni ketika individu-individu berpikir dan bertindak secara stabil terhadap seperangkat objek yang sama (Mulyana. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka.

. karena itu makna tidak melekat pada objek. Teori ini berpandangan bahwa kenyataan sosial didasarkan kepada definisi dan penilaian subjektif individu. termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. yang menghubungkannya satu sama lain. melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Struktur sosial merupakan definisi bersama yang dimiliki individu yang berhubungan dengan bentuk-bentuk yang cocok. makna diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu. kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara ringkas. Kedua. Tindakan-tindakan individu dan juga pola interaksinya dibimbing oleh definisi bersama yang sedemikian itu dan dikonstruksikan melalui proses interaksi. individu merespon suatu situasi simbolik. makna adalah produk interaksi sosial. interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama.Menurut teoritisi interaksi simbolik. Mereka merespon lingkungan. Ketiga.

Yayasan Universitet Sumatera Utara pada tanggal 4 Juni 1952. Yayasan ini diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai langsung oleh .1) Gambaran Umum Universitas Sumatera Utara a.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian III. Pendirian yayasan ini dipelopori oleh Gubernur Sumatera Utara untuk memenuhi keinginan masyarakat Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Sejarah Universitas Sumatera Utara Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) dimulai dengan berdirinya.BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.

Pohan. Mohd. Sebagai hasil kerja sama dan bantuan moril dan material dari seluruh masyarakat Sumatera Utara yang pada waktu itu meliputi juga Daerah Istimewa Aceh. Dr. Pada tanggal 31 Desember 1951 dibentuk panitia persiapan pendirian perguruan tinggi yang diketuai oleh Dr. Selain Dewan Pimpinan Yayasan. dengan susunan sebagai berikut: Abdul Hakim (Ketua). Maas. Drg. tetapi tidak disetujui oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Soemarsono yang anggotanya terdiri dari Dr. beberapa orang terkemuka di Medan termasuk Dr. Setelah kemerdekaan Indonesia. Sahar. Djaidin Purba. Ahmad Sofian. Drh. Pirngadi dan Dr. Anwar Abubakar. Dr. Soemarsono (Sekretaris/Bendahara). Ir. Barlan dan Soetan Pane Paruhum (Anggota). Danunagoro.Gubernur Sumatera Utara. T. J. Pada zaman pendudukan Jepang. Senat Universitas dan Dewan Fakultas. Mansoer membuat rancangan perguruan tinggi Kedokteran. R. Oh Tjie Lien. pada tanggal 20 Agustus 1952 berhasil didirikan Fakultas Kedokteran di Jalan Seram dengan dua puluh tujuh orang mahasiswa di antaranya dua orang . Organisasi USU pada awal berdirinya terdiri dari: Dewan Kurator. Djamil di Bukit Tinggi sebagai ketua panitia. pemerintah mengangkat Dr. Mansoer (Wakil Ketua). Gubernur Abdul Hakim mengambil inisiatif menganjurkan kepada rakyat di seluruh Sumatera Utara mengumpulkan uang untuk pendirian sebuah universitas di daerah ini. T. Madong Lubis. Dr. Sebenarnya hasrat untuk mendirikan perguruan tinggi di Medan telah mulai sejak sebelum Perang Dunia-II. S. Danunagoro dan sekretaris Mr. Drg. Presiden Universitas. Majelis Presiden dan Asesor. Setelah pemulihan kedaulatan akibat clash pada tahun 1947. Ir.

wanita. melalui berbagai program pengembangan yang dilaksanakan. Selanjutnya menyusul berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi (1961). Fakultas Sastra (1965). Pada tahun 1959. Fakultas Farmasi (2007). UGM. . Pada tahun 2003. USU diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Dr. Sekolah Pascasarjana (1992). Ir. Kemudian disusul berdirinya Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (1960) di Banda Aceh. Sebelumnya telah berubah status UI. Setelah USU disusul perubahan status UPI (2004) dan UNAIR (2006). Pada tanggal 20 November 1957. Perubahan status USU dari PTN menjadi BMHN merupakan yang kelima di Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (1956) dan Fakultas Pertanian (1956). Soekarno menjadi universitas negeri yang ketujuh di Indonesia. yang menjadikan USU berkembang hingga seperti keadaan sekarang. Kemudian disusul dengan berdirinya Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (1954). Fakultas Kesehatan Masyarakat (1993).I. banyak kemajuan yang telah dicapai. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (1965). dibuka Fakultas Teknik di Medan dan Fakultas Ekonomi di Kutaradja (Banda Aceh) yang diresmikan secara meriah oleh Presiden R. Dalam perjalanan usianya yang kini mencapai lima puluh tahun. ITB dan IPB pada tahun 2000. Sehingga pada waktu itu. Fakultas Psikologi (2008) dan Fakultas Keperawatan (2009). USU terdiri dari lima fakultas di Medan dan dua fakultas di Banda Aceh. Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik (1982). Tanggal 20 Agustus 1952 telah ditetapkan sebagai hari jadi atau Dies Natalis USU yang diperingati setiap tahun. USU berubah status dari suatu perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi suatu perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN).

Setelah itu. 2. mengembangkan pengetahuan ilmiah. beberapa fakultas di lingkungan USU telah menjadi embrio berdirinya tiga perguruan tinggi negeri baru. yang sekarang berubah menjadi Universitas Negeri Medan (UNIMED) yang embrionya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USU. USU mengelola lebih dari seratus program studi yang terdiri dari berbagai jenjang pendidikan tinggi yang tercakup dalam sepuluh fakultas dan satu program pascasarjana. Kemudian disusul berdirinya Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Medan (1964). Dalam perkembangannya. yang embrionya adalah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan USU di Banda Aceh. b. Misi 1. Mempersiapkan mahasiswa menjadi anggota masyarakat akademik dan profesional dalam menerapkan. Memperluas partisipasi dalam pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam pembelajaran dan modernisasi cara pembelajaran. berdiri Politeknik Negeri Medan (1999) yang semula adalah Politeknik USU. Visi. yaitu Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh.Saat ini. . teknologi dan seni serta berdaya saing tinggi. Misi dan Tujuan Universitas Sumatera Utara Visi Universitas Sumatera Utara memiliki visi menjadi University for Industry.

namun maksud tersebut tidak dapat diwujudkan. namun maksud ini juga tidak dapat dilanjutkan. teknologi. Achmad Sofian pernah menulis. Tengku Mansoer dan lain-lain telah membuat rancangan Perguruan Tinggi Kedokteran sekali lagi. demikian Dr. Amir dan beberapa orang lainnya telah bekerja ke arah ini. Tengku Mansoer. Dr.2) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara a.1. Pirngadi. tetapi maksud dan hasrat itu tidak disetujui oleh Pemerintah Belanda pada saat itu. . Dr. seperti Dr. seni dan rancangan penerapannya untuk mendukung produktivitas dan daya saing masyarakat. karena pada waktu itu Indonesia telah diduduki oleh Jepang.I. di Sumatera Utara umumnya. III. Dr. dianggap bahwa satu Perguruan Tinggi Kedokteran yang telah didirikan oleh Pemerintah Belanda di Jakarta telah cukup buat Indonesia. Untuk itu Dr. Mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan ilmiah. Di zaman pendudukan Jepang beberapa orang terkemuka di Kota Medan. Sewaktu Perang Dunia II berkecamuk di Eropah dan Pemerintah Belanda telah mengungsi ke Inggeris.3. Sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Maksud untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Medan ini telah menjadi bahan pembicaraan di kalangan masyarakat di Medan khususnya. ada juga maksud Pemerintah Belanda untuk mengubah NIAS (Nederlansch Indische Aartsen School) di Surabaya menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran yang kedua di Indonesia. sebelum Proklamasi Kemerdekaan R. Pirngadi. M.

hal ini tidak dapat dilaksanakan berhubung dengan terjadinya clash pertama tahun 1947. Teuku Mohd. Mansoer. maksud ini muncul lagi ke permukaan. Jamil ke Pematang Siantar guna berembuk dengan beberapa pemuka masyarakat dan dokter-dokter yang ada di daerah Sumatera Utara. Mohd. wali Negara Sumatera Timur (Negara Bagian dalam RIS) meminta kepada Inspektur Kesehatan Sumatera Timur untuk mulai melengkapi Rumah Sakit Kota Medan dan kalau perlu menjadikan sebuah Rumah Sakit Umum. Yayasan itu didirikan pada tanggal 4 Juni 1952 di hadapan Notaris Soetan Pane Paroehoem di Medan diberi nama YAYASAN UNIVERSITAS . Jamil yang berkedudukan di Bukit Tinggi sebagai ketua dari sebuah panitia yang ditugaskan untuk mempelajari kemungkinan didirikannya sebuah perguruan tinggi di Sumatera. masih dalam masa pergolakan sesudah kemerdekaan diproklamirkan. Panitia ini antara lain ditugaskan untuk menentukan jenis serta tempat fakultas yang akan didirikan. guna mendukung rencana tersebut. kiranya hasrat untuk mendirikan Fakultas Kedokteran di kalangan masyarakat di Sumatera Utara tidak pernah hilang. Pada waktu itu amat besar kemungkinan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran di Kota Medan.Pada tahun 1946. tetapi malang. Dr. Pada awal 1950. Hasan menjadi Gubernur Propinsi Sumatera telah pula diangkat Dr. Mohd. T. Panitia tersebut telah mengusulkan untuk mendirikan sebuah Fakultas Kedokteran. Ketika Mr. Setelah peralihan kedaulatan. dikirimlah Dr. Untuk menentukan tempat Fakultas Kedokteran yang akan didirikan. Setelah itu dibentuklah panitia pembentukan Fakultas Kedokteran.

Beberapa tahun berikutnya (1956) WHO memberikan bantuan alat-alat Fisiologi dan berapa tenaga pengajar dari WHO untuk Fakultas Kedokteran USU. yang berkedudukan di Medan. Pemerintah menganggap maksud yayasan itu sebagai suatu eksperimen yang besar namun terlalu banyak kesulitan dan resikonya. Maas sebagai Wakil Dekan dan Dr. Pada tanggal 1 September 1952. Sungguhpun demikian Pemerintah berjanji akan menyokong usaha tersebut. Kementerian PP dan K menaruh simpati yang sangat besar akan maksud yayasan dan minat Gubernur Propinsi Sumatera Utara itu dan menjanjikan bantuan yang dapat dan mungkin diberikan oleh Pemerintah. Juga telah diputuskan untuk membuka Fakultas Kedokteran tersebut pada Hari Proklamasi 17 Agustus 1952.SUMATERA UTARA. Ildrem. Yayasan tersebut diurus oleh suatu Dewan Pimpinan yang diketuai oleh Gubernur Propinsi Sumatera Utara. Sofian sebagai Dekan. Fakultas Kedokteran USU dipimpin oleh Dr. Visi dan Misi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Visi . A. Telah diambil keputusan untuk mendirikan Fakultas Kedokteran dan yayasan telah mengutus Dr. Dr. Ahmad Sofian ke Kementerian PP dan K untuk membicarakan segala sesuatunya dengan Menteri pada waktu itu yaitu Prof. b. sebagai sekretaris. M. Bahder Djohan. Pada tanggal 30 Juni 1952 Dewan Pimpinan Yayasan USU telah mengangkat Dr. Ahmad Sofian sebagai Presiden Kurator yang diberi tugas mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran.

Pimpinan . Memusatkan pendalaman pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam bidang penyakit tropis 4. Misi: 1. Proses pembelajaran diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan standar kompetensi dokter Indonesia yang telah disusun oleh Konsil Kedokteran Indonesia (P3DI). Kompetensi Lulusan: Dalam KIPDI III (Kurikulim Inti Pendidikan Dokter Indonesia) dituntut terpenuhinya kompetensi tertentu bagi lulusan. Meningkatkan kualitas dosen dalam bidang pendidikan kesehatan keluarga dan penyakit-penyakit tropis 2.Mewujudkan Fakultas Kedokteran USU pada tahun 2010 sebagai lembaga pendidi kan kedokteran terdepan di Indonesia dalam bidang pendidikan dan pelayanan ilmu serta informasi kesehatan primer dengan pendekatan keluarga terutama untuk penyakit-penyakit tropis. Mengembangkan kurikulum pendidikan yang berbasis pada pendekatan sistem kedokteran keluarga 3. Meningkatkan kemampuan semua sumber daya sehingga mudah digunakan sebagai pusat informasi kesehatan keluarga 5. Membangun kerjasama dengan institusi lain dalam bidang penyakit tropis.

Guslihan Dasa Tjipta. 0048/Sek/PU dan diresmikan pada tanggal 3 Nopember 1961. didirikan pada tanggal 19 Oktober 1961 berdasarkan SK Menteri PTIP No.448 m2 dan diserahkan kepada Universitas Sumatera Utara. Siregar. Sp. Fakultas Kedokteran Gigi USU terus berkembang hingga pada saat ini Fakultas Kedokteran Gigi USU telah memiliki sejumlah gedung meliputi gedung perkuliahan berlantai tiga. Seiring dengan berjalannya waktu. Gontar A. Sp.PD. dr.S.KGEH Pembantu Dekan I: Prof. ruang Administrasi dan Laboratorium Unit Usaha Jasa dan Industri. Tala. Sp.OG (K) III. Muhammad Rusda. dr.A (K) Pembantu Dekan II: dr. ruang baca. Zaimah Z. laboratorium. Pada awalnya Fakultas Kedoktearn Gigi USU hanya memiliki satu gedung berupa Dental Clinic yang dibangun atas bantuan Pemerintah Jerman Barat yang berdiri di atas tanah seluas 27. ruang internet. Sp. ruang Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS). ruang rapat/pertemuan. Sejarah Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Fakultas Kedokteran Gigi USU merupakan Fakultas Kedokteran Gigi pertama yang berada di luar pulau Jawa. .GK Pembantu Dekan III: dr. M. Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGM-P).Dekan: Prof.3) Fakultas Kedokteran Gigi a.1.

khususnya praktikum yang berkaitan dengan bidang ilmu kedokteran gigi. 13 orang program Spesialis. Untuk kenyamanan dalam kegiatan belajar mengajar.Untuk penyelenggaraan kegiatan akademik. Adam Malik Medan. . mahasiswa Program Akademik Fakultas Kedokteran Gigi USU menjalani kegiatan Junior Clerk Ship (JCS) di RSUP H. Empat orang di antara dosen tetap saat ini sedang mengikuti pendidikan program Doktor. 35 orang (S2/Sp1). Untuk pelaksanaan praktikum ilmu kedokteran klinik. Ketiga laboratorium ini digunakan untuk mendukung kegiatan praktikum. Di samping ruang kuliah. sedangkan untuk penyelenggaraan praktikum bidang ilmu dasar kedokteran dan ilmu kedokteran dasar. terdiri dari 11 orang Guru Besar (Profesor/S3). LCD dan alat pengeras suara. dan unit Radiologi Dental. OHP. Fakultas Kedokteran Gigi USU menyediakan 8 ruang kuliah dengan kapasitas tempat duduk berkisar antara 60 – 150 orang. Fakultas Kedokteran Gigi USU bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran USU menggunakan laboratorium Ilmu Dasar Kedokteran dan Ilmu Kedokteran Dasar yang ada di Fakultas Kedokteran USU. khususnya Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Bedah. dan 1 orang program Magister. laboratorium Biologi Oral. maka pada setiap ruangan dilengkapi pula dengan alat pendingin ruangan (AC) dan alat penerangan yang cukup. Fakultas Kedokteran Gigi USU memiliki 3 laboratorium. Setiap ruangan kuliah dilengkapi dengan fasilitas media pembelajaran berupa white board. yaitu: laboratorium Multipurpose. dan 36 orang (S1) sedangkan jumlah Dosen Tidak Tetap adalah 168 orang yang berasal dari USU dan luar USU. Jumlah Dosen Tetap yang dimiliki Fakultas Kedokteran Gigi USU saat ini adalah 82 orang.

yaitu: Tahap Program Pendidikan Akademik dan Tahap Program Pendidikan Profesi yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Sampai dengan wisuda sarjana USU Periode III T. Mahasiswa yang menamatkan program pendidikan akademik berhak menyandang gelar Sarjana Kedokteran Gigi (SKG). Berdasarkan izin Dikti tanggal 15 Juli 2002 (SK No. sedangkan Tahap Program Pendidikan Profesi dijadwalkan 2 semester dengan beban studi 30 SKS. akan tetapi juga berasal dari propinsi lain di Indonesia seperti NAD. Sampai dengan Tahun Akademik 2008/2009 jumlah mahasiswa asing Fakultas Kedokteran Gigi USU mencapai 154 orang. Pelaksanaan pendidikan dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi USU terdiri dari 2 (dua) tahap. . Tahap Program Pendidikan Akademik dijadwalkan selama 8 semester dengan beban studi 145 SKS. 2008/2009. Sumatera Selatan dan lain-lain. sedangkan mahasiswa yang berhasil menamatkan program pendidikan profesi akan mendapat gelar Dokter Gigi (drg).Daya tampung Fakultas Kedokteran Gigi USU setiap tahunnya adalah 120 orang dengan jumlah peminat berkisar antara 1100-1300 orang. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU tidak saja berasal dari daerah Sumatera Utara. 1412/D/T/2002) maka sejak tahun ajaran 2002 Fakultas Kedokteran Gigi USU membuka Kelas Reguler Mandiri untuk menampung minat masyarakat yang tidak tertampung pada Kelas Reguler. Fakultas Kedokteran Gigi USU Medan telah meluluskan sebanyak 888 orang Sarjana Kedokteran Gigi (SKG) dan 2531 orang Dokter Gigi. Sumatera Barat.A. Riau. Disamping itu mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU juga ada yang berasal dari negara tetangga seperti Malaysia.

2. Menyelenggarakan pendidikan bidang kedokteran gigi yang bertumpu pada aktivitas belajar mahasiswa yang berorientasi pada perkembangan IPTEK dan kebutuhan masyarakat dalam bidang kesehatan gigi dan mulut untuk menghasilkan Sarjana Kedokteran Gigi dan Dokter Gigi yang berpengetahuan dan berketerampilan. b. Visi dan Misi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Visi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara sebagai Fakultas Kedokteran Gigi unggulan dalam menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing global untuk mendukung pencapaian visi Universitas Sumatera Utara.Berdasarkan Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) No. yaitu “University for Industry”. bersikap demokratis. 006/BAN-PT/Ak-X/S1/VI/2006 tanggal 15 Juni 2006. Misi : 1. Fakultas Kedokteran Gigi USU ditetapkan sebagai salah satu Fakultas Kedokteran Gigi Negeri yang memiliki akreditasi “A". penuh tanggung jawab dan berbudi pekerti yang luhur sesuai dengan etika profesi kedokteran gigi. Melaksanakan penelitian yang berorientasi pada pengembangan IPTEK untuk dapat menyelesaikan masalah kesehatan gigi dan mulut secara .

ilmiah yang merupakan landasan utama untuk menumbuhkan dan membina kemampuan menguasai metode penyelesaian masalah. : Zulkarnain.Ort.S.2 Metodologi Penelitian III. M. Ph. drg. melalui kemampuan berpikir kritis.D : M. C. drg. drg. penalaran ilmiah. M.2... Pimpinan: Dekan Pembantu Dekan I Pembantu Dekan II Pembantu Dekan III : Prof.Kes III. Dr.Kes : Dwi Tjahyaning Putranti. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat melalui Pengalaman Belajar Klinik (PBK) dan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) dengan memanfaatkan kemajuan IPTEK secara tepat guna untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Zulkarnain. M. 3. Nazruddin.1) Metode Penelitian Kualitatif . berpikir alternatif dan kemampuan pengambilan keputusan secara benar.

Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalamdalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Metodologi diukur berdasarkan kemanfaatannya dan tidak dapat dinilai apakah suatu metode benar atau salah. sementara perspektif teoritis itu sendiri adalah suatu kerangka penjelasan atau interpretasi yang memungkinkan peneliti memahami data dan menghubungkan data yang rumit dengan peristiwa dan situasi lain. Metodologi adalah proses. 2001: 145-146). Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan dapat menjelaskan fenomena yang diteliti. Di sini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data. Metodologi dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoritis yang kita gunakan untuk melakukan penelitian. tetapi juga bagaimana peneliti sampai pada temuannya berdasarkan kelebihan dan keterbatasan metode yang digunakannya (Mulyana. Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling. bahkan populasi atau samplingnya sangat terbatas. Untuk menelaah hasil penelitian secara benar. periset adalah bagian integral . metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sebagaimana perspektif yang merupakan suatu rentang dari yang sangat objektif hingga sangat subjektif. Dalam riset kualitatif. maka metodologi pun sebenarnya merupakan suatu rentang juga. prinsip dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati suatu masalah dan mencari jawabannya. kita tidak cukup sekedar melihat apa yang ditemukan peneliti. dari yang sangat kuantitatif (objektif) hingga yang sangat kualitatif (subjektif) (Mulyana. Dengan kata lain. maka tidak perlu mencari sampling lainnya. 2001: 146).

atau suatu situasi sosial. Seorang peneliti harus mengumpulkan data setepat-tepatnya dan selengkaplengkapnya dari kasus tersebut unuk mengetahui sebab-sebab yang sesungguhnya bilamana terdapat aspek-aspek yang perlu diperbaiki (Nawawi.dari data.2. Dengan demikian. kelompok. 1995: 72). menguraikan dan menjelaskan secara komprehensif berbagai aspek individu. Pengertian lain studi kasus adalah metode riset yang menggunakan berbagai sumber data (sebanyak mungkin data) yang bisa digunakan untuk meneliti.2) Studi Kasus Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu. periset menjadi instrumen riset yang harus terjun langsung di lapangan. suatu program. suatu organisasi (komunitas). 2006: 56-57). artinya periset ikut aktif dalam menentukan jenis data yang diinginkan. suatu program. Selain itu. Penelitian dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap objek penelitian di lokasi penelitian. Karena itu riset ini bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik bukan untuk digeneralisasikan (Kriyantono. Semua hasil pengamatan dituangkan dalam pembahasan. Hasil wawancara nantinya akan dianalisis dan dipilih jawaban yang paling mendekati dan berkaitan dengan tujuan penelitian. 2001: 201). 2006: 66). Peneliti studi kasus berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subjek yang diteliti (Mulyana. organisasi atau peristiwa secara sistematis (Kriyantono. III. pernyataan tentang . Adapun tujuan studi kasus adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai peristiwa-peristiwa komunikasi yang nyata dalam berbagai konteks. suatu kelompok.

2. Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik. Keistimewaan studi kasus meliputi hal-hal berikut: 1. atau apa yang terjadi di sini. studi kasus periset berupaya secara saksama dan berbagai cara mengkaji sejumlah besar variabel mengenai suatu kasus khusus. Sebagai suatu metode kualitatif. Studi kasus memberikan uraian tebal yang diperlukan bagi penilaian atas transferabilitas. Membangkitkan perhatian pada faktor-faktor tersebut berhubungan satu sama lain (Daymon. Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden 4. Studi kasus terbuka bagi penelitian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut. 2. 5. peneliti sedang mencoba menghidupkan nuansa komunikasi dengan menguraikan kenyataan. yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti. Melakukan analisis mendetail mengenai kasus dan situasi tertentu. Menurut Mulyana. Dengan mempelajari seorang individu. Studi kasus menyajikan uraian yang menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami orang dalam kehidupan. studi kasus memiliki beberapa keuntungan. 2007: 162). Berusaha memahaminya dari sudut pandang orang-orang yang bekerja di sana 3. Pada hakikatnya. Peneliti akan melakukannya dengan cara: 1. 3. Mencatat bermacam-macam komunikasi dan pengalaman pengaruh dan aspek-aspek hubungan 4.bagaimana dan mengapa hal-hal tertentu terjadi dalam sebuah situasi tertentu. periset bertujuan memberikan uraian yang lengkap dan . suatu kelompok atau suatu kejadian semaksimal mungkin.

Artinya studi kasus terfokus pada situasi. pengetahuan dan kreativitas dalam mengidentifikasikan dan membahas isu-isu relevan dalam kasus yang dianalisisnya. data berdasarkan pengamatan. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Metode studi kasus membantu khalayak memahami apa yang sedang diteliti. Jadi. studi kasus mempunyai ciriciri: 1. menganalisis isu-isu ini dari sudut pandang teori dan riset yang relevan serta dalam merancang strategi yang realistik dan layak untuk mengatasi situasi problematik yang teridentifikasi dalam kasus (Mulyana. data dokumenter. Pendekatan studi kasus menyediakan peluang untuk menerapkan prinsip umum terhadap situasi-situasi spesifik atau contoh-contoh. peristiwa. Karena itu. 2001: 202). Induktif. sering diwujudkan dalam pertanyaan-pertanyaan. program atau fenomena tertentu. Heuristik. Hasil akhir metode ini adalah deskripsi detail dari topik yang diteliti. 3. kesan dan pernyataan orang lain mengenai kasus tersebut.mendalam mengenai subjek yang diteliti. Partikularistik. Contoh-contoh dikemukakan berdasarkan isu-isu penting. 4. hubungan antara bagian-bagian dalam keseluruhan itu dipahami dalam konteks . Menurut Ragin dalam Mulyana (2001). metode berorientasi kasus bersifat holistik-metode ini menganggap kasus sebagai entitas menyeluruh dan bukan sebagai kumpulan bagian-bagian (atau kumpulan skor mengenai variabel). Setiap analisis kasus mengandung data berdasarkan wawancara. 2. 2006: 66). kemudian menyimpulkan ke dalam tataran konsep atau teori (Kriyantono. Studi kasus berangkat dari fakta-fakta di lapangan. Deskriptif. yang disebut kasus-kasus. analisis studi kasus menunjukkan kombinasi pandangan.

tepatnya di Fakultas Kedokteran yang berada di Jalan dr. III.3) Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Universitas Sumatera Utara. Selain itu. Mansur No. karena itu pada riset kualitatif tidak dikenal istilah sampel. Akibat dianalisis berdasarkan persimpangan berbagai kondisi dan biasanya diasumsikan bahwa hubungan manapun mungkin menimbulkan suatu akibat. Kampus USU. T. di Jalan Alumni No.2. III. waktu dan tempat penelitian dikondisikan dengan jadwal dan keinginan subjek penelitian.4) Subjek penelitian Riset kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generalisasi hasil riset. 2.keseluruhan.2. Sampel pada riset kualitatif disebut informan atau subjek riset. Sifat ini dan sifat lain metode berorientasi kasus memungkinkan peneliti menafsirkan kasus-kasus secara historis dan merumuskan pernyataan mengenai asal-mula perubahan kualitatif yang penting dalam situasi-situasi yang spesifik (Mulyana. Meskipun demikian. hubungan sebab-akibat dipahami sebagai perkiraan. Hasil riset lebih bersifat kontekstual dan kasuistik yang berlaku pada waktu dan tempat tertentu sewaktu riset dilakukan. yaitu orang-orang dipilih untuk diwawancarai atau diobservasi sesuai tujuan . Kampus USU dan Fakultas Kedokteran Gigi.5. bukan dalam konteks pola-pola umum kovariasi antara variabelvariabel yang menandai anggota-anggota suatu populasi unit-unit yang sebanding. 2001: 203).

jumlah mahasiswa asal Malaysia di FK dan FKG. jumlah informan dan individu yang menjadi informan dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian. 2006: 163). 2008. maka daftar jumlahnya adalah sebagai berikut: Tabel 2 . Melalui metode kualitatif kita dapat mengenal orang (subjek) secara pribadi dan melihat mereka mengembangkan definisi mereka sendiri tentang dunia dan komunikasi yang mereka lakukan. maka diambil mahasiswa mulai dari angkatan 2009. Berdasarkan data yang diperoleh dari masing-masing fakultas. Kita dapat merasakan apa yang mereka alami dalam pergaulan masyarakat mereka sehari-hari. bukan sekedar objek yang hanya mengisi kuesioner (Kriyantono. orang-orang dengan peran tertentu dan tentu saja yang mudah diakses. Disebut subjek riset bukan objek karena informan dianggap aktif mengkonstruksi realitas. Melalui metode ini memungkinkan kita menyelidiki konsep yang dalam pendekatan lainnya akan hilang (Bodgan. 1992: 5) Subjek penelitian ini adalah mahasiswa asal Malaysia di USU yang dibatasi pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Sesuai dengan pembatasan masalah dalam penelitian ini bahwa yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa asal Malaysia di FK dan FKG USU yang minimal sudah menetap selama kurang lebih dua tahun. Untuk studi kasus. 2007 dan 2006. baik yang sedang kuliah maupun yang sedang co-ass.riset. Orang-orang yang dapat dijadikan informan adalah orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian.

peneliti akan menemukan seseorang atau beberapa orang mahasiswa asal Malaysia untuk dijadikan informan.2. 2. Orang yang dijadikan informan pertama diminta memilih atau menunjuk orang lain untuk dijadikan informan lagi. Kedokteran Kedokteran Gigi TAHUN ANGKATAN 2006 2007 2008 54 176 132 37 48 35 JUMLAH 2009 117 24 479 144 Sumber : Bagian Pendidikan FK USU dan FKG USU Pengambilan subjek penelitian atau informan ini dilakukan dengan menggunakan teknik penarikan sampel bola salju (snowball sampling). artinya periset merasa tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dari wawancara (Kriyantono. Jadi. Sehingga orang pertama tersebut menjadi titik awal pemilihan informan. dengan demikian. teknik ini bagaikan bola salju yang turun menggelinding dari puncak gunung ke lembah. begitu seterusnya sampai jumlahnya lebih banyak. III. Proses ini baru berakhir bila periset merasa data telah jenuh. kemudian meminta mereka untuk merekomendasikan orang lain untuk dijadikan informan berikutnya.5) Teknik Pengumpulan Data . Teknik snowball sampling banyak ditemui dalam riset kualitatif. teknik ini merupakan teknik penentuan subjek penelitian yang awalnya berjumlah kecil kemudian berkembang semakin banyak. 2006: 158). Sesuai namanya. Jadi. semakin lama semakin membesar ukurannya.Jumlah Mahasiswa Asal Malaysia di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU NO FAKULTAS 1.

jurnal dan internet mengenai komunikasi antarbudaya dan culture shock. majalah. seperti buku. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini. Peneliti dapat menggunakan salah satu atau gabungan dari metode yang ada tergantung masalah yang dihadapi (Kriyantono. 2006: 93). Penelitian Kepustakaan (Library Research) Yaitu dengan cara mengumpulkan data mengenai permasalahan yang sesuai dengan penelitian dengan membaca literatur yang relevan serta bacaan pendukung. b. Wawancara mendalam (depth interview) Wawancara mendalam (depth interview) merupakan teknik pengumpulan data dimana peneliti melakukan kegiatan wawancara tatap muka secara mendalam dan terus-menerus untuk menggali . antara lain: a. Penelitian Lapangan (Field Research) 1. Ada beberapa teknik atau metode pengumpulan data yang biasanya dilakukan oleh peneliti.Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data.

memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola.informasi dari responden (Kriyantono. III. baik yang diperoleh dari wawancara mendalam maupun observasi (Kriyantono. Observasi.2. yang merupakan metode observasi tanpa ikut terjun melakukan aktivitas seperti yang dilakukan kelompok yang diteliti. mencari dan menemukan pola. Yang diobservasi adalah interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadi antara subjek yang diteliti (Kriyantono. Observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan pada riset kualitatif. Sedangkan observasi yang digunakan adalah observasi non-partisipan. data yang diperoleh . Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dimana analisis data yang digunakan bila data yang terkumpul dalam riset adalah data kualitatif berupa kata-kata. Melalui data kualitatif. Tahap analisis data memegang peranan penting dalam riset kualitatif. 2006: 63). mensintesiskannya. diartikan sebagai kegiatan mengamati secara langsung. Wawancara mendalam adalah wawancara secara intensif untuk mendapatkan data kualitatif yang mendalam. kalimat-kalimat. 2006: 110). menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. baik kehadirannya diketahui atau tidak (Kriyantono. 2.6) Teknik Analisis Data Bodgan & Biklen (dalam Moleong. atau narasi-narasi. 2006: 194). 2006: 108). 2005: 248) mengemukakan analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data. yaitu sebagai faktor utama penilaian kualitas riset.

1 Hasil dan Pengamatan Wawancara .dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum kemudian disajikan dalam bentuk narasi. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.

peneliti duduk dan mengamati di sekitar kantin. Peneliti memasuki lorong kampus FK. Setelah mendapatkan persetujuan tentang judul skripsi ini. kemudian peneliti meminta data tentang jumlah mahasiswa asing di masing-masing fakultas. Beberapa hari kemudian. terlihat banyak sekali mahasiswa asal Malaysia yang berkelompok. Hal ini disebabkan karena peneliti tidak memperoleh data baru karena jawaban yang diberikan informan rata-rata sama. peneliti mendapatkan surat balasan yang menyatakan persetujuan melakukan penelitian di dua fakultas itu. kemudian peneliti dikenalkan dengan seorang mahasiswa asal Malaysia di FK dan seorang . Dengan demikian informan dalam penelitian ini sebanyak 11 orang mahasiswa asal Malaysia. peneliti kemudian mengurus surat permohonan izin penelitian untuk diserahkan ke Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi USU. Sedangkan di FKG. Peneliti berhenti pada informan yang kesebelas karena data yang diperoleh sudah jenuh.Peneliti melakukan penelitian terhadap mahasiswa asal Malaysia di USU dengan menggunakan teknik snowball sampling. Adapun pelaksanaan dan pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara yang berlangsung dari bulan November hingga Desember 2010. Setelah meminta bantuan dari beberapa teman di FK dan FKG. Sebelum melakukan proses wawancara. peneliti memulai serangkaian pelaksanaan penyusunan skripsi. Setelah itu. kelompok mahasiswa asal Malaysia lebih sedikit dan lebih berbaur dengan mahasiswa Indonesia. peneliti melakukan pengamatan langsung ke dua fakultas. tetapi ada juga yang berbaur dengan mahasiswa lain.

Melalui wawancara. Hal ini peneliti jadikan sebagai pelengkap informasi. peneliti mendapatkan pengakuan tentang culture shock yang mereka alami ketika pertama kali sampai di Medan. Di setiap lokasi. mereka disibukan pada persiapan UAS (Ujian Akhir Semester) dan harus mengurus kepulangan mereka di akhir Desember ke pihak imigrasi. Kemudian peneliti mendapatkan penguatan dan informasi tambahan melalui observasi langsung. peneliti juga selalu melakukan observasi. Apalagi pada bulan November dan Desember. selanjutnya dari masing-masing informan inilah peneliti dikenalkan dengan beberapa mahasiswa asal Malaysia lainnya. Proses wawancara berlangsung sesuai dengan pedoman wawancara. Lokasi wawancara dilakukan di kampus. khususnya di rumah kost. lalu lintas dan sebagainya.mahasiswa asal Malaysia di FKG. Tujuan pembuatan karakteristik informan (usia. Proses wawancara dilakukan di berbagai tempat sesuai dengan keinginan dan jadwal dari informan sendiri. asal fakultas dan lama menetap) adalah untuk membantu peneliti menemukan sejumlah kemungkinan terkait hubungan karakteristik informan dengan culture shock yang dialami dan upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. di tempat makan dan juga di rumah kost. jenis kelamin. yaitu dengan membiarkan informan bercerita untuk memperoleh informasi yang lebih banyak. di kantin. Ketika melakukan wawancara. Untuk itu. cuaca. peneliti harus menemukan temuan yang dapat dijadikan kesimpulan nantinya apa sebenarnya yang berpengaruh pada culture shock yang mereka alami. . peneliti tidak hanya mendapatkan informasi tentang culture shock dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya. Pencarian informan memang agak sulit dilakukan karena jadwal mereka yang sangat padat. tetapi juga dalam hal makanan.

26 Kompleks Tasbi I Kompleks Tasbi II Jalan Dr.5 tahun Alamat Jalan Tridarma No. 4. 2.5 tahun 4 tahun 3 tahun 3. 1. 3. Nama Jenis Kelamin (L/P) P Fakultas Kedokteran Kedokteran Gigi Kedokteran Gigi Kedokteran Gigi Angkatan 2008 2007 2008 2007 Lama Menetap 2. Mansur Hasslinda Binti Hassan Harvinder L pal Singh Govin L Raj Perumal Amirah P Fahirmah .Tabel 3 Data Mahasiswa Asal Malaysia yang Menjadi Informan No.

11.5 tahun 2. Pintu 4 USU : Sabtu.5 tahun 4.26 Jalan Dr. Binti Ahmad Tarmizi Lavanyah P Rajagopal Amir Hakimi L Kedokteran Gigi Kedokteran Kedokteran Gigi Kedokteran Kedokteran Kedokteran Kedokteran Gigi 2007 2006 2006 2008 2008 2008 2006 3.5 tahun 4. 6. 9. 27 November 2010 .5 tahun 4.26 Jalan Tridarma No.5 tahun : Jalan Tridarma No. Mansur Jalan Tridarma No. 8.5 tahun 2.46 Jalan Dr. 7.5 tahun Jalan Jamin Ginting No.5 tahun 2. 10. 26. Mansur Jalan Dr.26 Jalan Tridarma No. Mansur Jonathan L Lin Chee Hang Asfahana P Asyiqin Girtheeka devy Kaartini Arjunam P P Lim Rui L Liang Sumber : Hasil Penelitian Dan berikut hasil wawancara dan pengamatan terhadap 11 informan: Informan 1 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Hasslinda Binti Hassan : 21 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2.5.

gak rasa sepi lah. tak ada la macam saya ini pakai baju kurung.cukup baik lah. Keramahannya terlihat ketika menyambut peneliti. kemudian peneliti mulai menanyakan tentang bagaimana pendapatnya tentang orang-orang Medan dan bagaimana interaksinya dengan teman-teman orang Medan di fakultasnya. “Dari pakaian jelas beda lah. Linda memakai baju kurung panjang dan jilbabnya. akhirnya peneliti berkenalan dengan Hasslinda.” Linda juga merasakan perbedaan yang sangat signifikan mengenai masalah berpakaian. orang-orang sini kebanyakan pakaian bebas. Linda adalah orang yang sangat ramah. seorang mahasiswi suku Melayu asal Malaysia. pakai jeans. sebab saya pun bukan fashionable punya orang. “orang-orang sini ramahlah kak. cukup terbuka dan suka berbaur. Sebelumnya.” . secara penampilan..Hasslinda adalah informan yang pertama kali peneliti temui dan wawancarai. Linda menawarkan untuk dipanggil dengan sebutan Linda. lengkap dengan suka dukanya. ”saya panggil akak lah ya. suka tersenyum. Linda beranggapan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan budaya yang hampir sama. tidak pendiam. Jadi pasti orang yang tengok pun langsung tau lah saya ini orang Malaysia.” Setelah berkenalan lebih dalam. Tapi macam tuh pun saya tak mau la perSoalan. meriah. Kesan pertama yang peneliti lihat. stambuk 2007 kan? panggil Linda saja lah kak. Melalui salah satu adik teman peneliti yang juga kuliah di Fakultas Kedokteran USU. seperti kebanyakan mahasiswi Melayu asal Malaysia. peneliti pun mulai mewawancara Linda tentang pengalamannya selama di Medan. Perbedaan jelas dirasakannya dalam hal penampilan berpakaian.

Terkadang kan kak. tak pernah la marah atau macam mana kan. saya pun tolak jabat tangannya. orang sini tuh semua nak salam. kesulitan dan kesalahpahaman bahasa sering dialami. di tahun ketiganya tinggal di Medan. Perasaan sangat merindukan keluarga. “mungkin awal-awal orang sini pun merasa apa la ni orang. takut juga la kalau tolak. Linda terkadang merasa risih dan kecewa. sebab Indonesia pun ada juga orang macam tu. di awal-awal kedatangannya sebagai mahasiswi di FK USU. sedih la kak. salam aja tak mau. saya tu nangis seorang di kamar. mulamula saya shock. heran la saya.Di tahun pertamanya kuliah di FK USU. Di tahun pertama. tapi tak banyak la. “ada beberapa kata disini yang saya tak paham. Saya butuh motivasi. bahkan sampai saat ini.” Linda juga merasa sedih ketika merasa dipandang sebagai orang asing. sebab di sini tuh . seperti kebiasaan berjabat tangan. Ia mengatakan mungkin penampilannya yang membuat orang-orang melihat dia. teman-teman terdekat. kan. Penampilannya yang menggunakan baju kurung membuat orang mudah mengenali bahwa ia adalah orang Malaysia dan bukan orang Medan. “kalo homesick sampai sekarang saya masi rasalah. tapi cemana mau buat. ia sangat tidak terbiasa dan terkejut dengan kebiasaan orang Medan yang tidak terlalu mempermasalahkan jabatan tangan antara berbeda jenis kelamin. rindu sama famili. lepas tu kan. namanya di negara orang. lingkungan familiar yang Linda miliki di negara asalnya pasti selalu muncul. tak masalah la tu laki atau perempuan. tapi tidak sampai menimbulkan konflik. Tapi lama-lama mereka pun paham la kak. Begitu juga dengan kebiasaan-kebiasaan orang Medan yang dipandang berbeda oleh mahasiswa Malaysia. Kenapa bebas kali macem ni? Kenapa macam ni? Saya pun bingung.” Itu pendapat dan pengalaman Linda tentang interaksinya dengan orang-orang Medan. tapi sedapat mungkin secara elok la.

Linda mengaku. dan di kost itu pula Linda mengenalkan Asfahana kepada peneliti. sangat jarang mau memotivasi dan memberi dukungan dengan orang lain. Misalnya dari segi bahasa ketika berkomunikasi dengan teman-temannya orang Indonesia di kampus. tak paham sama yang kawan cakap tu pasti la. Sebab kalau konflik tu kita yang rugi kan. ia langsung menanyakan artinya saat itu juga. Kurang perhatian la. saya jenis orang yang suka ramai-ramai lah. teman kost Linda yang juga mahasiswa asal Malaysia di FK USU. Jadi. Cuman saya selalu biasakan kalau tak tau saat tu juga saya rujuk teman.” Pertemuan pertama. yang dicakap tadi apa artinya? Tak mau pendam-pendam. akhirnya pemahaman pun bisa mereka capai. termasuk dalam hal belajar. saya pulak la yang harus adaptasi kan? Tak maulah saya betingkah. Beberapa hari kemudian. dukungan dan semangat dari keluarga sangat dibutuhkannya. terlalu individualis. . tapi namanya saya yang datang ke negara orang. mau belajar pun seorang-seorang. jadi saya butuh support dari famili la kak. sehingga rasa rindu dan ingin pulang ke kampung halaman selalu Linda rasakan.” Linda merasa orang-orang Medan. Kesadaran Linda sebagai pendatang di negeri orang membantu dia untuk mulai beradaptasi. mereka saja yang boleh beri dukungan. Akhirnya. Tapi semuanya itu secara bertahap mampu diatasi. ketika ada kata-kata yang tidak ia mengerti. “tahun-tahun pertama. meskipun belum secara utuh. peneliti lakukan di FK USU. jadi tak pernah la konflik. di pertemuan kedua itu banyak hal lain yang terungkap ketika mereka berdua bercerita. tidak mau menyimpannya di dalam hati. student apa-apa sendirisendiri. Hal ini sangat membatasi Linda untuk menceritakan semua pengalamannya. jadi mereka kurang la memotivasi kawan. karena Linda juga terburu-buru untuk masuk kelas mata kuliah selanjutnya. Orang-orang sini tu. tepatnya teman-temannya di kampus yang bukan orang Malaysia.kurang. peneliti membuat janji untuk melakukan wawancara berikutnya di kost.

cemana la kak. hmm. Peneliti bisa melihatnya. lepas tu pembantu pindah dua orang ni masuk la.” Linda dan Asfahana merasakan kekesalan yang besar. sebab sifatnya yang lebih sensitif. tak respect gitu la dengan kami. dan mereka tidak pernah mengalami masalah. ribut sampai tengah malam. apalagi membawa teman pria ke kost membuat mereka sangat terkejut dan merasa terganggu. Hobi Linda memasak tidak pernah lagi dilakukannya karena sudah kehilangan mood melihat dapur yang selalu kotor dan berantakan. trus cakapnya pun kasar. Kebiasaan seperti pulang larut malam. cara pakaian itu orang cemana kan. bisa dihitung dengan jari. jadi disini tinggal 4 lagi la orang malaysia.tak taulah macam mana mau cakap. 3 orang indonesia. seluruh penghuninya adalah mahasiswa asal Malaysia. nak tanya mau kemana? Sebab best la kalau bergreetings kepada sesama kan? Tapi dua orang tu gak macam tu la. salah seorang mahasiswa Indonesia yang dimaksud keluar dari kamar. tepat ketika peneliti mewawancarai Asfahana dan Linda. macam tadi pergi pun tak ada cakap kan. Pertama kali isinya malaysia semua la. ketika pertama kali tinggal di kost itu.Hal baru yang terungkap adalah interaksi Linda dengan sesama penghuni kostnya yang tidak baik. ia merasa tidak nyaman dan selalu berkeluh kesah. mereka bahkan sangat jarang bertegur sapa. Dan itu terlihat oleh peneliti dari bahasa verbal dan non verbal mereka ketika bercerita kepada peneliti. kadang-kadang kami pun macam apa ya. Tetapi sejak dua orang pindah dan digantikan dengan dua orang mahasiswa Indonesia. Interaksi mereka dengan dua mahasiswa Indonesia itu tidak baik. terutama Linda. . dan memang mereka tidak saling menyapa. Awalnya. Kakak tengok tadi la. “sebelum ni pembantu rumah yang duduk. Tetap saya juga yang buka mulut.. Mereka merasa tidak ada kerja sama dan rasa saling menghormati dari pihak mahasiswa Indonesia itu. jadi kami agak macam tercabar.

“macam ini habis makan tak pernah basuh, jorok macam tu. Dulu saya suka masak kak, tiap minggu tu saya belanja lepas tu masak, tapi ini gak la, gak ada mood buat masak kak, sebab kotor macam tu kan, sebab kami gak suka semak-semak macam tu kak. Mereka pun buat bisingbising, mungkin satu la, cara percakapan tu orang macam kuat sikit. Mungkin tu orang tak niat la, tapi kami macam terganggu, terkadang kami tengah tidurpun jadi terjaga, sebab hentakan kaki aja. Kadang sabar aja la, buat bodoh aja, endah tak endah aja.”

Waktu yang paling lama itu adalah ketika Linda dan Asfahana menceritakan hubungan yang tidak baik antara mereka dan dua mahasiswa Indonesia di kostnya. Mereka merasa seperti tidak ada keinginan untuk bersahabat, berbeda dengan satu mahasiswa Indonesia lainnya yang juga tinggal di lantai 2 itu. Mereka lebih sering bertegur sapa. Menurut Linda, mahasiswa Indonesia yang satu ini lebih ramah dan rendah hati. “Bukan saya cakap semua, tapi sebahagian. Macam ada seorang, dia tu memang humble la, memang rendah diri, kalo yang dua orang ini macam lain sikit la, jadi kami kadang tegur kadang-kadang gak tegur. Gak tau la pandangan dia orang kan, tapi kami OK aja, tapi ada la yang kami tak suka macam cara tu orang, lepas tu gak ada kerja sama.” Linda terkesan seperti benar-benar mencurahkan isi hatinya saat itu kepada peneliti. Linda telah berusaha untuk mendatangi mereka dahulu, memberikan nasihat secara baik, tetapi Linda merasa tidak mendapatkan respon positif, sehingga ia memilih diam. Tetapi, ketika ia merasa sudah keterlaluan, seperti membawa teman pria ke dalam kost, ia memilih melaporkannya kepada ibu kost. Di tengah kekesalannya, Linda berusaha untuk tetap baik, ia menjaga hubungan yang sudah tidak baik agar tidak menjadi parah dan menimbulkan konflik karena ia sadar posisinya sebagai pendatang. “kami uda bagi tau kak, bagi tau secara elok la, kalo udah masak basuh la, macam lembut la kami cakap, tak ada la macam marah gitu kan, kalo kami dua orang bole la, tapi mereka gak la, sebab orang lain kan?

Tapi gak paham-paham juga, jadi kami makan dalam juga la, gak elok macam tu kan. Mungkin gak tau la apa salah, sebab selama ini Ok aja. tapi kita coba profesional la, buat tak endah aja, buat apa yang jadi kerja kita aja, asalkan mereka betol-betol tak menggangu kita la, kalo menggangu gitu berol-betol, ah memang susah la ah, kami gak mau berantam la, sebab nanti kami lagi yang susah. Sabar aja la, nanti buat masalah kami la yang kena, sebab ni bukan la negara kami kan.” Selain itu, mereka juga menyadari mereka masih harus tinggal di kota Medan selama kurang lebih 2 tahun lagi untuk melanjutkan coass, sehingga mereka tidak ingin mencari masalah yang dapat merugikan diri mereka sendiri. Mereka memilih untuk acuh tak acuh dengan masalah ini selama tidak benarbenar mengganggu mereka. “tapi asal gak totally ganggu tak apa la kak, sebab saya pun masi lama di sini, belum coass lagi kan? Banyak benda yang perlu saya pikir daripada pikir dua orang ini kan. Bukan mau musuh, cuman memang udah macam itu adanya kan, mau buat cemana lagi kan.”

Kejadian itu memang membuat keduanya sangat terkejut, terutama Linda. Ia terlihat sangat kesal. Ia memang sangat sensitif seperti yang diakuinya, sehingga sedikit saja ada sesuatu yang tidak sesuai dan bertentangan dengan prinsip hidup yang dipegangnya, ia sulit untuk menerima. Linda sangat menjunjung tinggi prinsip hidup saling kerja sama dan hormat-menghormati, sebab menurutnya dengan adanya kedua hal itu kebahagiaan hidup antar sesama dapat dicapai. “ambil ini nya aja la, sebab belajar di negara orang, mana ada yang perfect kan? cumannya respect la sikit kan, sebab saya pun mana ada kutuk-kutuk kan. respect, hormat-menghormati, saya berpegang tegas kepada benda tu, sebab cuman benda tu aja yang menyebabkan kita gembira. Jadi memang satu aja la, respect, kalau respect each other, best la, happiness bole dapat la. if buat suka hati, buat macam rumah sendiri kan, tak elok la.”

Menurut mereka orang Indonesia terkenal dengan ramah tamahnya, sehingga ketika berhadapan dengan kedua mahasiswa Indonesia itu membuat mereka sangat terkejut. Mereka memberikan pengecualian untuk kedua mahasiswa ini. “sebab orang indonesia ramah kan? Yang ini agak lain sikit la, udah nasib la dapat kostmate macam ni.” Linda juga menceritakan di kota asalnya, Kuala lumpur, ia menemui banyak sekali orang Indonesia dan ia sudah dapat menerima mereka. Tetapi ketika tiba di Medan, ia merasa bahwa ada pembedaan yang dibuat antara Indonesia dan Malaysia, ia merasa tidak adil. Menurut mereka, konflik antara Indonesia dengan Malaysia tidak perlu mempengaruhi interaksi antarmasyarakatnya. Tetapi mereka merasakan hal yang berbeda. Linda dan Asfahana merasa rakyat terlalu menggembar-gemborkan masalah dua negara ini. “kami ini biasa aja dengan orang indonesia, sebab di malaysia banyak kak, lagi-lagi di kampung saya, di kuala lumpur banyak. Jadi saya uda macam ok, uda dapat terima, tapi kenapa macam saya yang datang sini mereka macam unfair la rasa. apalagi macam ada gosip, isu indonesia malaysia tu kan, aduh saya benci la, tak suka, sebab tak ada faedah.” Linda juga sempat menceritakan bahwa ia berusaha memposisikan dirinya sebagai orang Indonesia, tetapi tetap saja itu membuatnya heran dan masih bertanya-tanya, mengapa harus ada pembedaan antara dua negara, bukan kah semuanya sama-sama manusia ciptaan Tuhan. “Saya coba duduk kak posisi orang indonesia cemana rasanya, tapi tetap tak bisa pikir la, pelik juga la.” Secara keseluruhan, meskipun Linda mengatakan ia sudah bisa menerima keadaan di Kota Medan, sesungguhnya banyak pertanyaan yang masih dipendamnya terkait dengan perbedaan-perbedaan yang ia temukan antara Medan

Apabila dilanggar akan dikenakan sanksi tegas.” Selain dalam hal interaksi dan kebiasaan yang berbeda. sebab saya takut saya jadi terjebak la. sebab di FK. Rasa sesak kak. Mereka membandingkan dengan negaranya. saya lihat student merokok tu kan. Itu lah yang menyebabkan TV yang ada di ruang kumpul di depan kamar kostnya jarang sekali ia hidupkan.(Indonesia) dan Malaysia. merokok dan mencontek sangat dilarang di lingkungan kampus. kadang-kadang saya sampai mau beli yang macam penutup mulut tu kak. di malaysia tak bisa macam itu kak. Terutama Linda. aduh rasa pelik betol la. tak elok la. Malaysia juga memiliki program acara seperti itu. harusnya gak bisa kan. Linda juga terkejut dan tidak bisa menerima program acara yang ditayangkan di media TV Indonesia. di kuliah mana-mana pun harusnya tak bisa la ada rokok kan. “jadi siapa nak salahkan ini kak. di Malaysia. takut jadi ikut macam tu kan. banyak keheranan yang ia rasakan. rokok!! Itu culture shock sangat bagi saya kak. di dalam U tak bisa merokok. Tapi itu pun saya buat bodoh aja la. sesekali ia menonoton TV. Menurutnya. Ia sangat terganggu dengan asap rokok. Lepas tu kalau contek memang denda berat kali. . tayangan yang didominasi dengan acara infotainment sangat tidak baik. Kembali ia membandingkan dengan negaranya. tetapi tidak mendominasi. sebab tak tahan la. orangnya kah? Emak bapak kah? Tetangga kah? Atau siapa?” Selain itu. ada yang kena buang dari U kak. itu pun ia memilih program acara memasak dan adat budaya. sedangkan di Indonesia menurutnya terlalu berlebihan. Hal ini sangat terlihat ketika proses wawancara. “ahh. kalau merokok perlu didenda. banyak perbedaan yang membuat keduanya terkejut. bahkan ia beberapa kali mengucapkan kalimat yang menunjukkan keheranannya akan siapa yang harus disalahkan atas masalah pembedaan dan interaksi yang tidak baik. Merokok dan mencontek adalah dua hal yang membuat mereka heran. FAKULTAS KEDOKTERAN. berpanjangan dendanya.

Dukungan dan rasa senasib sepenanggungan di antara mereka berdua sedikit banyaknya membantu mereka menjalani hidup di lingkungan yang berbeda dengan negara asalnya. Tahun 2008. rasa dosa aja saya nonton ini. ia datang ke Medan dan itu adalah pengalaman pertamanya. Linda juga berbagi tentang pengalamannya tentang hal lain seputar Medan. “dia la yang selalu bagi saya semangat. cemana ya. Saya tak minat la. apa yang dirasakan sesampainya di Medan. Asfahana lah yang selalu menyuruhnya untuk tetap bersabar dan bertahan hidup di negeri orang. sebab saya pikir kalau saya gak buat orang kenapa orang buat macam itu sama saya kan. lainnya macam gosip tu tak dapat terima la. meskipun demikian banyak hal pula yang membantunya menerima dan belajar untuk menyesuaikan diri. Linda pun menyampaikan keterkejutannya melihat jalanan Kota Medan. Tv ini letak disini aja kak.” Banyak perbedaan yang dirasakan Linda selama menjalani kehidupan sebagai perantau di Kota Medan.” Sebagai pelengkap. Ketika ditanya. macam gembira-gembira aja la. Ia masuk ke FK USU melalui jalur mandiri dengan biaya sendiri. saya terkejut lah kak. So annoying. tidak hanya culture shock dalam hal interaksi. cerita tentang adatadat macam tu aja la. tapi tak apa la. jadi saya sensitif bila orang buat saya. traffic tuh padat sangat. “Setibanya di Medan. itu tv memang media yang cemana mau bilang ya. cuman ya itu la perbedaannnya. macam menjengkelkan la. di malaysia pun ada cuman tak macam ini la. Soalnya tak pala jauh beda iklim Indonesia sama Malaysia kan.“ah.” . cuma tengok acara masak. kalau saya lebih sensitif. seperti lalu lintas dan cita rasa makanannya. di malaysia bukan gak ada. sebab kalo tengok tak elok kak. cerita gosip semua kan. lebih sabar dia kak. cuman di sini lebih mengaibkan la. Keberadaan Asfahana yang selalu ada bersamanya sangat membantu meredam amarah dan kekesalannya. busy betol” Kalo Soal cuaca gak lah pala cemana. kita nak salahkan orang media pun tak bisa la kan. cuman jalan raya aja yang berisik. berita.

Ini juga mempengaruhi proses adaptasinya. Udah tiga tahun di sini udah dapat lah. Linda mengaku sudah mampu beradaptasi.” Kesimpulan Kasus Linda mengalami culture shock terhadap karakteristik orang Medan. membawa teman pria ke kost dan juga sikap yang membeda-bedakan seperti terkesan memusuhi yang dialaminya dengan dua mahasiswa Indonesia di kostnya. pulang sampai tengah malam. adanya mahasiswa dan dosen yang merokok di lingkungan kampus. Untuk yang satu ini ia cukup mudah beradaptasi. .Linda juga memberikan komentar dan pengalamannya seputar masakan Medan. Linda memiliki masalah interaksi dengan mahasiswa Indonesia yang adalah teman satu kostnya. “wah. merasa diasingkan dan ditolak dan menganggap tuan rumah tidak peka. Ia tidak bisa menerima kebiasaan seperti suara yang terlalu kuat. kalo di Malay tuh kan tak ada yang macem tuh. Di luar itu. Saat ini. perut saya bisa adaptasi. tetapi perasaan dibeda-bedakan masih ia rasakan. Selain itu. Linda juga mengalami kendala dalam bahasa di awal kedatangannya ke Medan. Linda juga tidak terbiasa dengan perbedaan dalam hal nilai-nilai mengenai hubungan laki-laki dan perempuan. sikit aja. Meskipun tidak menggeneralisasikan seluruhnya. Pribadinya yang sangat sensitif membuatnya peka dan cepat tersinggung dengan kondisi yang berbeda dan bertentangan dengan apa yang ia yakini. makanan dalam porsi besar dan “gaya” khas tukang becak juga sempat membuatnya terkejut. nasi tuh dibungkus besar-besar. sebab baginya tidak mudah menerima suatu perbedaan. tetapi menurutnya orang Medan identik dengan suara yang kuat dan kasar. di sini kan akak. Jadi kalo disini makan sekali aja saya kenyang betol. Reaksi culture shock yang dirasakannya antara lain homesick.

Peneliti menghampiri Harry. Kulit putih.Informan 2 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Harvinderpal Singh : 23 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2007 : 4 tahun : Kompleks Tasbi I : Rabu. ayahnya orang Amerika dan ibunya India Punjabi. Saat itu ia sedang menikmati segelas teh manis dingin. beberapa . Ia berdarah campuran. Ini tahun kelima Harry berada di Indonesia. 1 Desember 2010 Harvin merupakan informan yang pertama kali peneliti wawancara di FKG. Itu pertemuan pertama peneliti dengan Harry. Peneliti mengenalnya dari teman peneliti yang juga berkuliah di tempat yang sama. Bahkan. seperti itu biasa ia dipanggil. tetapi keakraban dapat dengan cepat terjalin. Dari segi penampilan ia sangat modis. rambutnya pirang bergelombang dan agak gondrong. ketika peneliti meminta bantuan untuk dikenalkan dengan mahasiswa asal Malaysia di FKG. tepatnya Medan. ia sering sekali mengeluarkan leluconlelucon lucu. Dalam pengamatan peneliti. kemudian saling berkenalan. Jiwa ingin belajar. Harry. Harry berbeda dengan informan-informan sebelumnya. ia menggunakan kaos bola berwarna merah dan jeans serta sepatu kets. Kesan pertama yang peneliti dapatkan tentang Harry adalah friendly dan humoris. sangat suka bergaul dan humoris menggambarkan kepribadiannya. Saat wawancara pertama. Ia pria berkacamata dan menggunakan pesawat gigi. Selama wawancara berlangsung.

Sebelum memasuki kampus sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi USU. demikian sebaliknya dengan orang-orang Indonesia sendiri. apa yang kamu ngomong itu ya?” gak ngerti saya. Dalam pengakuannya. Bila kalian yang cakap bahasa kalian. beberapa kata. Karena itu adalah daerah yang mayoritas penduduknya adalah suku Batak. Kan ada banyak bahasa di Indonesia.” Berkaitan dengan bahasa. dialek dan intonasi dalam bahasa Indonesia terasa aneh baginya. orang mengejek-ejek. Harry memilih FKG USU karena jarak yang dekat dengan Malaysia dan kualitas pendidikan yang baik. mereka rasa bahasa saya yang aneh. becanda. Harry merasa ia menjadi bahan bercanda karena keanehan bahasanya dan itu menjadi persoalan bagi Harry di awal kedatangannya ke Medan. “dari bahasanya lah. merasa bahasa yang digunakan mahasiswa asal Malaysia itu aneh.orang langsung merekomendasikan Harry. ia pernah mengecap pengalaman di Medan selama 6 bulan dalam rangka pertukaran pelajar di SMA Raksana. Mereka sering sekali menggunakan . pertama kali datang itu lah yang jadi persoalan. Harry tinggal di rumah kost bersama 14 orang Malaysia lainnya di Simpang Pos Padang Bulan. Ini yang menarik peneliti untuk terus mewawancarai dan mengamati Harry. pertama kali setibanya ia di Medan. seluruh teman akrabnya di kampus adalah mahasiswa Indonesia. untuk saya aneh “eh kok. Setibanya Harry di Medan yang paling menjadi kendala baginya dalam berinteraksi adalah masalah bahasa. Gitu lah. tetapi ia bisa mendapatkannya dengan biaya yang cukup murah di USU. Ia mengaku akreditasi FKG USU sama dengan Malaysia. Ia mempunyai banyak teman. Kalo ngomong dengan mereka. awalnya Harry terkejut dan kewalahan. Tapi untuk saya gak aneh. tapi padahal bahasa yang saya guna itu bahasa malaysia. baik itu sesama Malaysia maupun Indonesia dan uniknya.

lepas itu.. Jadi waktu di situ kan.. Sebab dengar dongeng dari orang. waktu di malaysia kan. Kayak orang Batak. pertama kali ya liat orang batak lah. les lah bahasa indonesia. “saya punya masalah interaksi itu waktu di sekolah. persepsi saya tentang orangorang Indonesia mengerikan. Semasa dalam pertukaran pelajar itu. simpang pos. kami anak Malaysia itu 14 orang aja. bila kita lihat orang mukanya ngeringeri.. Dulu kan saya tinggalnya di Padang Bulan. dengan berbagai cara. sekarang gak ada kek gitu lagi. gak ngerti dengan apa yang diajar oleh dosen. Permasalahan interaksi karena pertama kali tiba ia rasakan di sana. ia juga senantiasa rajin mempraktikkan dengan teman-temannya orang Indonesia. Pengalamannya selama 6 bulan di SMA Raksana mengajarinya banyak hal. sebab setibanya di sini teman-temannya menjelaskan bahwa itu hanyalah dongeng lama. ia kursus bahasa dengan guru bahasa Indonesia. Cuman. kalo kita gak senyum sama mereka. jadi saya cakap- . waktu di Raksana. itu cerita lama..” Harry adalah tipe orang yang sangat suka belajar sesuatu yang baru dan tidak takut untuk bergaul. ia sering mendengar dari orang-orang cerita bahwa orang Batak itu mengerikan. itu memang Batak asli lah ya. dengar mereka cakap tu kan. bahasa apa ya mereka? Mereka semua banyak orang Batak. dari teman-teman bilang. Selama di Malaysia. “pertama. ini sempat membuatnya takut keluar rumah untuk beberapa waktu. Saya ambil waktu untuk kursus bahasa dengan guru bahasa indonesia. Gak ngerti sama bahasa. satu hari nanti mereka potong kamu. belum lagi Harry mempunyai persepsi orang Batak makan orang. kan di sini beda dengan sistem pembelajaran di Malaysia.bahasa daerah. salah satunya melalui salah seorang wanita Indonesia sesama pelajar di Raksana yang menyukainya. bersama perempuan itu Harry terus mempelajari bahasa Indonesia. yah (menunjukkan senyuman). habis belajar. saya takut keluar sendiri. Kan saya cepat gaul.. tidak hanya sekadar kursus. Jadi saya bila jumpa orang Batak. mereka simpan di hati. Tapi itu hanya sebentar saja. tetapi di sana pula Harry belajar bahasa dan pergaulan. pernah saya dengar dari orang-orang. lewat tahun-tahun. sekarang udah modern.

dia bantu saya belajar cakap lah. inilah. bahasa India. Karena menurutnya. tetapi kemudian ia mampu mengatasinya. Harry tak sungkan menanyakan maknanya saat itu juga. masalah interaksi dengan orang luar sseperti tukang becak dan supir angkot juga mewarnai pengalamannya. ia yang memulai untuk berbaur. Soalnya saya emang suka belajar. Mereka mesra lah pokoknya.” Harry memandang bahwa sebagai pendatang ia harus sadar diri. gitu”. ia juga harus segera belajar semua hal tentang lingkungan barunya.” Prinsipnya untuk selalu memulai membantunya beradaptasi. “orang Indonesia kayaknya semua baik lah. teman baik Harry adalah mahasiswa asal Indonesia. begitu selesai kuliah. meskipun serumpun. saya tanya “eh. meskipun bertahap. Kesalahpahaman. itulah. Angkot pun gitulah. Semua ramah. maka tidak akan pernah bisa beradaptasi. apa maksud itu. Medan tepatnya yang merupakan lingkungan baru baginya. Jadi dalam sebulan itu saya udah tangkap bahasanya. Ia yang memulai untuk mengajak berkenalan. keluar dari ruang belajar menuju kantin. peneliti melihat. Ketika pemahaman tidak ia dapatkan dalam berkomunikasi. ia yang memulai membuka diri. Selama pengamatan. tetapi perbedaan tidak terelakkan. Tidak butuh waktu yang lama baginya untuk menyesuaikan diri. Ia juga beda dengan mahasiswa asal Malaysia kebanyakan. lepas itu waktu tu ada cewek indonesia yang suka saya. sama aja. Mau kasi harga lain pun gak bisalah. Cuman sebulan aja.cakap indonesia. mereka yang benar lah. Cuman orang becak aja yang gak mesra. keheranan dan keterkejutan pasti dirasakan dalam rangka memasuki Indonesia. seperti yang sudah peneliti sebutkan.” “waktu di sekolah itu saya belajar dengan orang di situ kan. bisa bahasa perancis. jika sesuatu hal ditunda-tunda karena tidak siap untuk suatu hal yang baru. saya cepat tangkap bahasa. ada Sopannya. Harry tidak . mereka approach dengan kita. Saya bisa bahasa cina. Perbedaan. jadi saya tangkap bahasa cepat. saya belajar dengan dia.

saya India sama orang India aja. saya mix dengan semua. Konflik Indonesia-Malaysia yang coba peneliti tanyakan. apa ini maksudnya. kalo saya cina.bergabung dengan sesama mahasiswa Malaysia seperti yang kebanyakan mahasiswa lainnya lakukan. Sama halnya dengan orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk memasuki dan menetap di lingkungan baru dalam kurun waktu beberapa tahun.” Reaksi seperti merindukan Malaysia juga ia rasakan. Itupun tidak sampai mempengaruhi kehidupannya. selama beberapa kali melakukan wawancara. Kalo gak ngerti tanya temannya. di sini saya ada banyak teman orang Indonesia. Ia benar-benar sudah menyesuaikan diri dengan dunia barunya ini. Setelah itu. nanti sampai kapan ada mau belajar? Jadi saya gak mau buang waktu. ini ulah media yang terlalu memperbesar masalah. Saya bisa gaul sama semua. Harry akan mencari waktu yang bisa digunakan untuk pulang dan melepas rindu dengan keluarga. Saya langsung cepat belajar. ditunda-tunda. tapi saya ini beda.” “kan ada orang yang sifatnya. “mula saya sampai sini. Menurutnya. nanti aja. saya mau sama cina aja. saya langsung tangkap. Baginya itu tidak menjadi alasan untuk takut berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang Indonesia. saya mau nanti aja belajarnya. Tetapi akhir tahun ini ia tidak bisa pulang karena harus menyelesaikan sidang komprehensifnya. Ia tidak menarik diri atau gejala depresi lainnya. saya langsung cari teman. ia memilih mendatangi kumpulan 5 orang mahasiswa Indonesia yang ternyata adalah teman baiknya. Soalnya kita mau belajar di sini. Ini hanya masalah pemerintah yang . di sela-sela Harry bertegur sapa dan berbicara dengan kebanyakan mahasiswa Indonesia. yang paling akrab itu teman saya orang Indonesia. Harry juga merindukan keluarga dan teman-temannya di Malaysia. langsung dijawab dengan tegas oleh Harry. Selain itu. kalo dari awal aja kita udah rasa sifat seperti gak maulah.

Biarlah pemerintah yang selesaikan. santannya kurang. Soalnya disini kan pake santan banyak. Itu antara government Indonesia dengan government Malaysia. ada dosen juga yang mengungkitkan hal itu. Selama di SMA Raksana itu. makan nasi padang enak. Misalnya. Meskipun bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu kurang lebih hampir sama. tetapi tetap saja untuk pertama kali hal ini aneh baginya.tidak perlu melibatkan masyarakat. bukan urusan kita. ia juga sangat suka bergaul dengan . panas. Harry juga menyampaikan kekecewaannya terhadap beberapa dosen yang membahas masalah konflik dua negara ini di kelas. ia kursus bahasa Indonesia dengan salah satu guru. Pribadinya yang mau belajar dan suka bergaul membantu proses adaptasi. Media yang mencetuskan itu lebih banyak. bukan saya. Pertama waktu saya datang itu kan kita gak cocok dengan makanannya. masalah konflik itu kan sebab media. Bulan pertama saya di sini. itu hal negara. Kendala yang paling terasa ketika itu adalah bahasa.” Selama wawancara Harry juga berbagi pengalamannya yang kerapkali sakit selama sebulan pertama ia tinggal di Medan. Selain itu. yakni di SMA Raksana. dosen itu tak sepatutnya mengungkitkan hal macam ini. Mereka tambahkan api gitu kan.” Kesimpulan Kasus Culture shock yang Harry alami tidak tergolong berat ketika memasuki kampus USU. Itu karena tidak cocok dengan makanan dan air di Medan. Gegar budaya yang paling terasa ketika ia mengikuti pertukaran pelajar dalam rangka persiapan studi di Indonesia. “itu kan. seminggu dapat sakit perut. Kita jujur aja kan. Tetapi untuk hal ini pun ia mudah beradaptasi. jadi makan santan itu. biar masyarakat yang naik. saya akan bilang itu urusan negara saya. mencret. semua gara-gara media. Saya pikir sih. Jadi saya kalo ada orang yang bilang saya perSoalan ini. media yang memprogandakan lagi. bukan masyarakat. di malaysia gak. “makanannya gak cocoklah. Di sana kari banyak. kerap kali saya sakit.

Pernyataan ini sempat membuatnya takut. bukan sesuatu yang terlalu sulit baginya. Ia selalu membuka diri untuk perkenalan dan persahabatan.siapa saja tanpa perbedaan. Tetapi. Ia bahkan sudah menggunakan bahasa Medan. seperti “kali. jorok”. Sebelum ke Medan. kau. Peneliti mengenalnya dari Harry yang merupakan senior . Ketika memasuki Kota Medan untuk kuliah di FKG USU. Informan 3 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Govin Raj Perumal : 21 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2008 : 3 tahun : Kompleks Tasbi II : Rabu. Ia sudah mampu beradaptasi. ia sering mendengar cerita tentang orang Batak yang suka makan orang. dong. seiring waktu dan juga cerita dari teman-temannya. Ia cukup sepat dalam beradaptasi dengan lingkungan kota Medan dan orang-orang di dalamnya. apalagi tempat tinggalnya pertama kali adalah daerah Simpang Pos Padang Bulan yang mayoritas penduduknya adalah orang Batak. namun meskipun begitu jenis-jenis orang baru ia hadapi di kampusnya. Ia sering mempraktikkan bahasa yang sudah dipelajarinya sehingga semakin mudah dipahami. ia pun mengerti dan tidak merasa takut lagi. 1 Desember 2010 Govin adalah salah satu mahasiswa FKG yang bersedia menjadi informan dalam penelitian ini. bahkan intensitasnya berkomunikasi dengan orang Indonesia di kampusnya lebih sering dibanding teman sesama Malaysia.

Tidak ada penampilan khusus yang menunjukkan ia mahasiswa asal Malaysia. sebagaimana seseorang yang akan memasuki lingkungan baru. enak diajak berbicara dan sangat terbuka. kemeja lengan panjang dan celana bahan warna hitam. keheranan dan kekecewaannya dengan orang-orang Medan di sekitarnya dalam rangka memasuki dunia baru untuk melanjutkan pendidikan di FKG USU. Organisasi ini berada di bawah organisasi induk PKPMI (Persatuan Kebangsaan Pelajar-Pelajar Malaysia di Indonesia).Govin. Ia adalah President atau Ketua DSC (Dental Student Community) tahun 2010/2011. Govin mengungkapkan bahwa benar ia mempunyai banyak . Kemudian Harry mencoba membantu memanggilnya dan mengenalkan Govin kepada peneliti. Selama wawancara berlangsung kotak itu dipangku di pahanya dengan memandang lurus ke depan dan sesekali melihat peneliti ketika peneliti bertanya. tempat alat-alat praktiknya sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi. karena ia sedang sibuk berdiskusi dengan beberapa mahasiswa Malaysia lainnya. Secara penampilan. mudah tersenyum. Hal itu sangat terlihat dari semua informasi dan cerita yang Govin berikan kepada peneliti lengkap dengan keterkejutan. Govin berpakaian sama seperti mahasiswa Indonesia kebanyakan. Sebelum datang ke Medan. Pertemuan pertama peneliti dengan Govin di kantin FKG sangat menyenangkan. Ia pun bersedia meluangkan waktu untuk wawancara. hanya saja wajahnya sebagai orang India Tamil memungkinkan ia berasal dari Malaysia. Govin juga memiliki perasaan tertentu. sebuah organisasi perkumpulan mahasiswa/i asal Malaysia di FKG USU. Ketika peneliti menanyakan itu. Saat itu ia membawa kotak warna biru berukuran agak besar. Ia orang yang sangat ramah. tidak terlalu mencolok. Awalnya peneliti tidak bermaksud untuk mewawancarai Govin.

Sosialisasinya gak adalah di sini. buat kayak pertukaran pelajar SMA di situ. Menurut Govin. Mereka buat kayak gak tahu. lebih sopan gitu. saya rasa orang Bandung lebih lembut. orang-orang Medan tidak mau bersosialisasi dengan mereka. Di sini bukan mau kata tidak Sopan. gimana tempat penginapannya. ehm. Kalo mereka liat kita. tempat yang saat ini ia tempati dan masih akan ia tempati selama beberapa tahun ke depan.pertanyaan di benaknya tentang seperti apa sebenarnya Kota Medan. Lebih baik lah berbicaranya gitu. Govin bersedia menceritakan semua yang ia alami selama berada di Medan. Saya pikirkan tentang gimana ya makanannya. mereka tidak dekat. bahkan Govin juga bersedia berbagi cerita tentang pengalaman pertamanya menginjakkan kaki ke Indonesia. Govin menemukan perbedaan-perbedaan. gimana orang-orangnya”. lebih ramah. suaranya besar. Itu ia simpulkan dari pengalaman yang ia alami. Setibanya di Medan. “sebelumnya saya pernah kuliah di Bandung setahun. budaya baru dan orang-orang yang baru. Meskipun sudah satu kelas. tapi bahasanya kasar kali.. Ia mengatakan orang Medan itu kasar dan cenderung tidak mementingkan sopan santun. Jadi saya rasa mereka perlu lebih berSosial. melainkan di Bandung.” Govin menemukan perbedaan pada kerasnya suara orang-orang Medan. ada yang tidak mau ngomong-ngomong sama kita. Govin mengatakan bahwa teman-temannya mahasiswa . tetapi bukan di Medan. Ia membandingkan apa yang dia alami selama di Bandung dan kemudian beralih ke Medan. jadi gimana ya. “sebelum saya berangkat ke sini. mereka tidak mau menegur gitu. jadi kalo bandingkan Bandung dengan sini.Medan pasti beda lah kayak Malaysia ya. bagaimana kondisi kota yang akan ditinggalinya selama bertahun-tahun. Orang-orangnya kayak tidak mementingkan Sosialisasi gitu. walaupun teman sekuliah. Ia sempat memikirkan tentang bagaimana kehidupannya kelak dengan lingkungan baru. Kemudian ia menceritakan pengalaman yang berbeda yang ia rasakan antara dua tempat yang berbeda di wilayah Indonesia itu.

terlalu Sopan gitu. Akhirnya Govin menceritakannya tanpa bantuan Harry. tidak mau melemparkan senyum. kita rasa. Harry ingin membantu. Dengan menggunakan bahasa Inggris. gak ada bilang permisi. Jadi culture shock itu saya merasakan apabila orang-orang itu kek gini. Jadi saya rasa bedanya di situ. mengapa keadaannya seperti ini? Itu pertanyaan yang muncul di benaknya. gitu. kenapa ya mereka harus bilang kek gitu? Terlalu Sopan. karena sebenarnya ia bukan tidak tahu menyampaikannya. kita gak tau sapa itu. . apa yang ia rasakan. gitu. Govin juga menceritakan bahwa kebanyakan teman-temannya itu orang Indonesia yang berasal dari kota lain yang juga merantau untuk kuliah di FKG USU. Karena ia terlihat bingung menyampaikannya. Peneliti juga melihat ia seperti takut menyinggung perasaan peneliti sebagai orang Medan. tetapi peneliti mencoba meyakinkannya kalau ia boleh menyampaikan apa saja yang jadi pendapatnya. Mereka ngomong. tapi mereka bilang permisi ya pak. tetapi segan. Ia merasa seperti tidak ada iktikad baik untuk membuka diri berkenalan dengan mereka. Ini membuatnya terkejut. Govin melihat bahwa mahasiswa Indonesia di FKG yang berasal dari luar kota Medan lebih ramah dan lebih mau berbaur dibandingkan dengan orang asli Medan. ada orang lewat aja. Ketika ingin menyampaikan hal ini Govin sempat berhenti sebentar. baru saya tau. bukan mahasiswa asli Medan. punten ya pak. Tapi di sini. mereka ini kasar kali ya. Govin tersenyum.Indonesia tidak ramah. jadi terasa pelik. tidak mau menyapa. ia mencari kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan pendapatnya.” Sejauh pengalamannya. ada orang lalu. Cara bicara mereka. Mereka itu gak friendly gitu ya. Kayak seumpamanya kita duduk di sini. “tapi waktu di Bandung sana saya shock liat orangnya karena terlalu lembut. tampak segan. kita berdiri pun langgar aja. bahasa yang mereka gunakan jika berbicara dengan sesama mahasiswa Malaysia. Harry menanyakan apa yang ingin Govin sampaikan.

yang kayak gitu seronok . Memang dari 2008 sampai sekarang.“kalo saya rasa ya. dari Palembang. Kadang-kadang ada juga teman orang Indonesia yang mau ngobrol. gak ramah. saya ngobrol. membuat ia pasrah dan menerima keadaan ini sebagai sebuah tradisi. “saya bukan orang yang mau kan kayak gitu. Ia seperti ingin memberikan penjelasan bahwa itu bukan keinginannya. Govin ingin bisa bergaul dan berteman baik dengan semua mahasiswa Indonesia tanpa terkecuali. siapapun itu. Mereka yang lebih mau berbicara. Sifatnya yang ingin bergaul itu terlihat ketika peneliti datang ke FKG pada kesempatan berikutnya. siapa yang mau ngobrol dengan saya. ada yang dari Bandung juga kuliah di sini. Mendengar pertanyaan itu. Meskipun ia menyampaikan kekecewaannya mengenai Sosialisasi yang menurutnya kurang. gak rapat. sesungguhnya Govin tetap membuka hati untuk suatu persahabatan dengan mahasiswa Indonesia. ia yang harus mendekatkan diri dengan lingkungan baru yang ia datangi. mereka lebih rapat. sangat ingin berbaur dan bergaul dengan siapa saja. Jadi saya biasa ajalah.” Setelah mendengarkan cerita Govin. tetapi kondisi yang “menolak” menurutnya. saya pun gak tau gimana mau diperbaiki lagi. tidak memandang apakah ia dari luar kota atau asli Medan. Dari kejauhan. Surabaya datang ke sini mereka lebih ramah. dengan cepat Govin langsung membela diri. Ia adalah tipe orang yang friendly. Surabaya. cuman kerna Sosialisasinya kurang. Gak tau kenapa. Govin memilih untuk mengikuti keadaan dengan tetap membuka diri untuk berkenalan dengan mahasiswa Indonesia. kalo orang dari luar kayak Palembang. mau senyum. lebih dekat. berkaitan dengan itu peneliti langsung menanyakan apakah dengan keadaan yang seperti itu ia cenderung mendekatkan diri dan berkumpul dengan sesama mahasiswa asal Malaysia lainnya. saya mau lebih rapat dengan orang Medan di sini. Govin menyadari keberadaannya sebagai pendatang. tapi orang asli Medan gak gitu. teman-teman yang ada itu bukan asli dari Medan. peneliti mengamati gerak-gerik Govin. Ia suka berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia.

Sedangkan dari kelas reguler Govin sudah mempunyai beberapa teman baik. Sesungguhnya. Itu semua anak reguler. ia hanya merasakan bahwa mahasiswa Indonesia di kelasnya tidak mau menegurnya. hai. apa ya. kurang mau bergaul. ia bahkan dengan cepat menyebutkan nama mereka satu persatu kepada peneliti. Govin bersemangat menceritakan pertemanannya dengan mereka. Kalo yang mandiri kuranglah. kenalan gitu. kami kan ada 2 kelas. apa ya. terutama mahasiswa asli Medan baik di kelasnya. di kelas reguler. praktikum bersama. udah rapat gitu. Tapi ini gak saya anggap sebagai masalah. jadi bisalah. Govin menjawab bahwa ia menangkap iktikad baik dari mereka untuk berkenalan dengannya. mau senyum gitu. mau menyapanya. ini lah hakikat nya. Govin tidak menginginkan adanya perbedaan. Govin juga tidak tahu mengapa hal itu terjadi. senang lah gitu kak. selepas semua aktivitas di kampus diselesaikan.lah. atau dimana saja. Mereka tidak hanya akrab di kampus saja. Menurutnya. Lalu sapa lah. tak ada yang mandiri. memberikan senyuman dan diajak berkenalan. terkesan sombong. kebanyakan ia memperoleh teman mahasiswa Indonesia dari kelas reguler. sore hari mereka melepas penat bersama. kami belajar bersama. Itupun yang spesifik aja yang mau ngobrol sama kita. Govin ingin sekali bisa diterima di tengah-tengah teman-teman mahasiswa Indonesia. ini saya anggap sebagai. ada mandiri dengan reguler. Itu waktu semester pertama. “tapi itu semua bukan dari kelas saya.” Govin juga mencurahkan isi hatinya bahwa teman-teman satu angkatannya di kelas mandiri kurang mau bergaul dengannya. mereka itu yang reguler. udah jadi tradisi di sini lah gitu. berolahraga Sore dengan bermain futsal bersama. mereka mau liat aku. Lepas tu di luar maen futsal bareng-bareng.” . sewaktu aku lalu kelas mereka. mahasiswa di kelas reguler lebih ramah. Ketika ditanya mengapa dan bagaimana ia bisa mendapatkan teman dari kelas reguler.

sehingga setiap kali ia harus berinteraksi dengan orang-orang itu. Lagian mereka pake bahasa Sunda. jadi saya gak rasa payah untuk ngomong. Masih banyak kata-kata yang juga sering digunakan di Malaysia. banget. saya rasa orang Medan. mereka gak gunakan bahasa yang terlalu asli. intonasi dan pergerakan bibir orang-orang Bandung sangat asli daerah. Selain itu baginya. dong. pergerakan bibir semua terlalu pekat gitu. bahasa Medan itu tidak terlalu rumit. meskipun sesekali Govin menumpang dengan teman . Mereka masih gunakan kata macam boleh. kayak intonasi suara. Contohnya kayak perkataan gimana ya. sehingga mudah dimengerti. Sehingga ketika tiba di Medan dan harus berkomunikasi dengan mahasiswa Indonesia.Pengalamannya selama satu tahun di Bandung tahun 2006-2007. Terlalu pekat. Lebih kurang sama dengan di Malaysia. karena bahasa Indonesia dan Malaysia tidak terlalu banyak perbedaan. Govin juga berinteraksi dengan orang-orang luar seperti tukang becak dan supir angkot. semua pertanyaan peneliti dapat ditangkap dan dijawab dengan baik oleh Govin. bahkan dialek. tak ada. jadi datang di sini. ia tidak mengalami kesulitan. lagipun di sini bahasanya gak asli betol.. di Bandung mereka terlalu asli bahasanya. sih.. Memang sebulan di sana tu kayak shock. “jadi mula di sini kan saya bisa bahasa Indonesia karena pengalaman di Bandung tahun 2006 2007. memberikan pengetahuan bahasa Indonesia yang baik. Ketika ia tiba di Medan dan mendapati bahasa yang kurang lebih sama dengan bahasa yang digunakannya di Malaysia.” Selain interaksi dengan mahasiswa Indonesia di kampus. selama proses wawancara. saya rasa gampang untuk berbicara.. Kalo dulu disana. terlalu asli gitu. Menurutnya. Menurutnya. Govin juga membandingkan pengalamannya tentang masalah bahasa ini selama di Bandung. ia tidak terlalu kesulitan. terlalu rumit untuk dipelajari. jadi saya rasa kayak di planet gitu. Itu jelas peneliti rasakan. kayak di planet lain gitu. Terlalu apa ya. Jadi campur-campur gitu. tidak terlalu asli. Ia tidak memiliki kendaraan pribadi. bahasa Sunda yang digunakan di kota itu terlalu asli daerah.

makanannya udah OK. Bahkan. terutama ketika menjelang libur akhir semester. Govin berpendapat bahwa hal itu adalah urusan pemerintah Indonesia dan Kerajaan Malaysia. Selama wawancara. Govin juga berbagi pendapatnya tentang makanan Medan. “kadang-kadang orang becak ni lah masalahnya. Bagi Govin. Ini juga termasuk masalah yang agak sulit baginya. “makanannya saya rasa susah dikit. Menurutnya. Kalo hari ini mereka bilang sepuluh. tetapi lambat laun Govin bisa beradaptasi. karena terlalu pedas. Pertama minggu kadang mencret lah gitu. jadi tidak perlu membesarbesarkan masalah yang ada. Kadang naek angkot. sekarang uda adaptasi.yang membawa kendaraan pribadi. eSok mereka bilang 20. ia punya menu favorit. jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat juga dirasakan Govin. tetapi ia mampu mengatasinya dengan melakukan banyak kegiatan dengan teman-teman Malaysia maupun Indonesia. yaitu ayam penyet. masing-masing negara memiliki kepentingan. kami pun malas melayani mereka. Satu hari satu harga gitu. karena keduanya akan rugi. Govin menyampaikan kekesalannya dengan tukang becak dan supir angkot. Ada yang mengeluarkan kata-kata yang gak perlu dikeluarkan. Jadi. Ia sering sekali mengalami sakit perut. seperti mengerjakan tugas kuliah bahkan olahraga seperti futsal.” Mengenai konflik Indonesia dan Malaysia. jadi masyarakat tidak perlu ikut campur dan terpengaruh. konflik dua . kayak “ahh kamu orang Malaysia bayar ajalah lebih?” kadang saya pikir. keduanya saling membutuhkan. Kadang becak kalo terpaksa naek becak. terutama masalah harga yang terlalu tinggi. Seminggu pertama.” Merindukan lingkungan asalnya akibat tinggal di negeri orang. Ia punya beberapa pengalaman tidak baik dengan mereka. kenapa ya mereka bilang kek gitu? “konflik yang besar itu selalu dengan tukang becak. sama teman yang ada kereta.

dua ini harus balik ke negara masingmasing. mereka tidak disambut dengan baik. haa. Biasanya menjelang akhir semester seperti ini. menjaga hati para pegawai imigrasi. Pihak imigrasi seperti tidak menghendaki kedatangan mereka. Govin juga menceritakan bahwa ia sungguh tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Untuk mendapatkan izin surat balik. Peneliti kemudian mendatanginya. menurut pendapat Govin. ia duduk di kantin. Biar mereka yang lunasi semua masalahnya. Dari keseluruhan interaksi yang Govin lakukan dengan orang-orang Medan. tidak boleh sedikitpun membuat mereka tersinggung. kami kuliah di sini. jadi semua ada kepentingan faktor sendiri yang harus dijaga gitu. “sebenarnya kalo pandangan saya.” Pertemuan selanjutnya peneliti dengan Govin tetap berlokasi di FKG. Maksud saya. Jadi masyarakat tenang-tenang ajalah. biar pemerintah yang selesaikan. Hal ini membuat Govin sangat heran dan sekaligus kecewa. mereka harus benar-benar bersikap baik. terutama mahasiswa Medan di kampusnya. Seluruh mahasiswa asal Malaysia harus mengurus kedatangan dan kepulangan mereka dengan pihak imigrasi. mereka berbondong-bondong pergi untuk mengurus kepulangan mereka selama liburan. jadi kalo mereka besarkan masalah ini. ia sangat mengalami kesulitan dan kekecewaan ketika harus berurusan dengan pihak imigrasi. Jadi biar kerajaan. konflik itu sebenarnya antara pemerintah dengan pemerintah.kebanyakan pekerja di sini bekerjanya di sana. menanyakan kegiatannya sehari ini. Setiap kali datang.. Ia . Mereka merasa dipersulit untuk urusan yang satu ini. karena kita saling membutuh satu sama lain.negara itu tidak mempengaruhi interaksinya dengan orang-orang Indonesia. ia baru selesai melalukan kegiatan praktikum. kemudian kembali membuka topik tentang culture shock yang ia rasakan dan pengalaman-pengalaman lain selama di Medan. Kita sebagai masyarakat di sini gak perlu menunjuk perasaan gitu. masih dengan menggunakan baju praktik. kembali bertegur sapa.

” Sejauh ini Govin sudah mampu berinteraksi dengan baik.” gak tau apa yang mereka harapkan dari kita. Prinsip Govin adalah bahwa setiap melakukan sesuatu yang baru. tetapi ada juga sebagian dosen yang ingin para mahasiswanya hormat. Jadi kalo kita kesana kan mereka itu terlalu. Sebagai orang yang sangat suka bergaul. Mereka tidak menemui bentrok interaksi dengan orang-orang Indonesia karena mereka memilih untuk tidak berbaur.. Kalo kita bilang. Selain itu. terutama dengan mahasiswa Indonesia di kampusnya. harus yang baik bilang “ibu. gitu.kayak mana ya. “kita kan harus berhubungan dengan imigrasi kan. Govin kerap kali menemukan kesalahan . harus menjadi lebih kayak berbaik.”ibu.. terkadang Govin juga mengalami masalah ketika berinteraksi dengan dosen. Menurutnya itu tidak terlalu baik. maka tidak akan pernah maju.terlalu. Ia juga sempat mengomentari beberapa mahasiswa asal Malaysia yang memilih untuk lebih sering berkelompok dengan sesamanya. Lagipun mood nya kadang-kadang gak baik. saya mau.”ahh.... Tapi jika kita takut dengan kekurangan.. Dengan terang-terangan Govin menceritakan kepada peneliti bahwa ia sangat kesulitan berkomunikasi dengan pihak imigrasi...” mereka gak mau.kamu apa”. gitu. tapi ada juga yang pentingkan itu. mahasiswa dengan dosen itu harus hormat. tak boleh ada sedikit kesalahan gitu. bahasanya harus benar. Berbicara dengan mereka itu sulit kali lah. gitu.jadi kalo mau berurusan dengan imigrasi itu.menanyakan mengapa mereka seperti itu. tidak boleh ada kesalahan.mereka itu gak. Kalo menjadi normal kek gitu gak bisa. kadang ada dosen yang gak terlalu pentingkan antara mahasiswa dan dosen. harus betol-betol menjaga hati mereka.. pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Ada beberapa dosen yang tidak terlalu mempermasalahkan hubungan antara dosen dan mahasiswa. penggunaan bahasa ketika presentasi dan menulis juga harus baik.terlalu.. sehingga memilih tidak melakukan apa-apa.gak menghendakkan gitu. Terpaksa jaga semua.” “trus kayak dosen-dosen di sini..

aku sampe usu. Kalo saya. namun hal itu pula yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gegar budaya yang Govin alami. Keadaan kota Bandung. perkara yang logikal ya. kekmana kubilang. komunikasi yang terus dilakukan dan keinginan untuk terus belajar. kita tetap aja dengan apa yang kita ada. aku tanya dua pihak. sedangkan orang Medan berbicara dengan suara yang kuat dan terkesan . orang Bandung yang sangat sopan dalam bertutur dan bertingkah laku.. jadi mereka tak mungkin bermasalah kan.di sini ada dua kelompok. teman malaysia teman malaysia.” Kesimpulan Kasus Govin terkejut memperoleh suatu keadaan bahwa seperti inilah kota Medan dan orang-orang di dalamnya. Govin mengalami kekecewaan dan kesedihan ketika memperoleh perlakuan seperti ditolak oleh teman-teman mahasiswa Indonesia sekelasnya. Gini kak. ketika kita membuat sesuatu yang baru pasti ada kebaikan dan keburukannya. Contohnya. tetapi seiring waktu. terkhusus di kampusnya sangat rendah dan itulah yang menjadi pertanyaan baginya. Menurutnya. tapi kalo aku mau tanya. Di tahun pertamanya. khususnya dalam hal karakteristik orang-orangnya yang berbeda dengan apa yang ia alami di Medan memberikan keterkejutan tersendiri. “itulah tadi. sosialisasi orang Medan. Sebab mereka kan gak pernah berinteraksi. saya suka bergaul. Govin mampu beradaptasi.” “gini lah kak.dan kesulitan komunikasi. ada yang sama anak malaysia aja. Kalo kita gak mau membuat sesuatu yang baru. Gak ada pilih kasih lebih ke malaysia atau kekmana. memang teman aku teman aku. mereka dengan sesama mereka aja. suka berinteraksi jadi di situ lah munculnya masalah. kita kan gak kemana-mana. Pengalamannya selama enam bulan di Bandung sedikit banyaknya membantu adaptasinya.

Govin juga mempunyai keluhan terhadap fasilitas dan birokrasi kampus yang menurutnya perlu ditingkatkan. sehingga tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Gangguan fisik seperti sakit perut selama seminggu pertama kerapkali ia alami. Keadaan itu tidak membuatnya menyerah hidup sebagai perantau di negara orang. Saat ini Ia mempunyai banyak teman mahasiswa Indonesia dan mereka bergaul akrab. Informan 4 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Amirah Fahimah Binti Ahmad Tarmizi : 22 Tahun : Perempuan : Kedokteran Gigi : 2007 : 3. sedangkan bahasa Medan cenderung hampir sama dengan bahasa Melayu yang biasa digunakannya. Mansur : Kamis. Meskipun merasa ditolak. itu tidak membuatnya menyerah dan putus asa. kendala juga dihadapinya ketika berurusan dengan pihak imigrasi. makanan Medan juga menjadikesulitan baginya. Selain itu.kasar. Bahasa Sunda yang bagi Govin terlalu asli sehingga rumit untuk dipelajari. Selain itu dalam hal bahasa. Sedangkan di luar interaksi komunikasi antarbudaya. Govin pribadi yang berani mencoba hal baru dan membuka diri untuk suatu perubahan.5 tahun : Jalan Dr. tidak hanya untuk urusan perkuliahan. 2 Desember 2010 .

Amirah merasa lebih nyaman dengan teman sesama Malaysia karena tidak perlu mengalami masalah . Amirah melanjutkan kuliah di FKG USU karena diberikan beasiswa oleh pemerintah Malaysia.Peneliti mengenal Amirah dari informan sebelumnya. untuk ranah pribadi dan berbincang panjang lebar sangat jarang Amirah lakukan. kemudian menanyakan pengalamannya selama di Medan. Untuk itulah Amirah cenderung bergabung dengan sesama mahasiswa asal Malaysia. PerSoalan yang Amirah alami ini membuatnya lebih banyak berdiam diri dan memilih mendengar. Tata bahasa Indonesianya juga belum baik. berpenampilan modern dengan kemeja dari bahan jeans dan juga celana jeans. ia banyak sekali diam dan memikirkan pilihan kata yang tepat. Amirah hanya berkomunikasi dengan mahasiswa Indonesia selama berada di lingkungan kampus untuk hal yang berhubungan dengan perkuliahan saja. yaitu Melayu. Amirah adalah salah satu dari mereka. Selama kurang lebih 3 tahun Amirah tinggal di Medan. Teman sesama Malaysia yang sering bersamanya juga mayoritas yang satu suku dengannya. Waktu itu peneliti dibawa menghampiri sekelompok mahasiswa asal Malaysia yang sedang berbincang-bincang dan menunggu pesanan makan siang mereka. Ketika berbicara dengan peneliti saja. Kesulitan komunikasi dikarenakan perbedaan bahasa membuat intensitas interaksi dalam hal komunikasi antarbudaya dengan mahasiswa Indonesia kecil. Kulitnya putih. Hal itu juga semakin diperkuat ketika Amirah sendiri yang mengakuinya kepada peneliti ketika wawancara. masih berantakan. rambutnya panjang. Peneliti berkenalan selama beberapa saat. bahasa adalah masalah yang paling besar baginya. setidaknya itu yang peneliti dapatkan selama observasi.

Kenyamanan karena persamaan budaya diperolehnya ketika bergabung dengan kelompoknya. Selain itu. . Amirah tidak mampu menerima perbedaan-perbedaan yang ada sehingga ia menghindar dari interaksi yang terlalu sering dengan mahasiswa Indonesia. sehingga bentrok komunikasi antarbudaya jarang ia alami. Bahasa Indonesia yang tidak fasih juga mempersulit Amirah selama proses belajar-mengajar. Ia mengeluh karena sangat sering mendapat teguran dan dimarahi oleh dosen karena ketidakmampuan menulis. tetapi tidak ada yang dikenal baik dan dijadikan sahabat. Sesungguhnya. bahasa tulisan juga menjadi hambatannya. Culture shock dalam komunikasi antarbudaya tidak terlalu terasa bagi Amirah. yaitu skripsi. Untuk mengatasinya. Amirah tidak hanya mengalami kesulitan dalam bahasa lisan. Itu menjadi lebih terasa di saat Amirah menyusun tugas akhir-nya. banyak kata yang tidak dipahami sehingga sulit untuk menjelaskannya. menjadi persoalan besar bagi Amirah. Sebagaimana sebuah tulisan karya ilmiah yang harus memenuhi aturan penulisan dan tata bahasa baku. ia meminta bantuan kepada mahasiswa Indonesia untuk memeriksa skripsinya terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada dosen pembimbingnya. sehingga perbaikan berulang-ulang harus ia alami. sehingga sampai sekarang pun ia hanya sekedar kenal saja dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya. bahkan lebih besar dibandingkan dengan bahasa lisan. hal ini karena ia memilih bergabung dengan sesamanya mahasiswa asal Malaysia.dalam bahasa. berdasarkan pengakuannya tersebut dan juga pengamatan yang peneliti lakukan. seperti ketika harus presentasi.

Baginya. baik lisan maupun tulisan. tetapi itu tidak terlalu bermasalah baginya. Macam waktu skripsi ini kan. Ia bahkan sempat takut karena sering dimarahi oleh dosen. jadi lebih banyak mendiamkan diri. Keterkejutan juga ia rasakan ketika melihat dan mendengar perempuan Medan yang berbicara dengan suara keras dan suka menjerit. perbaikan. Kendala ini ia atasi dengan meminta bantuan mahasiswa Indonesia untuk memeriksa skripsinya terlebih dahulu sebelum menyerahkan kepada dosen pembimbing. kalau penulisan lah. Kalau ngomong udah sikit bisa lah. Tetapi masalah bahasa inilah yang paling mencolok dan menghambatnya. Jadi kami selalu kena marah dosen. Pengalamannya selama kurang lebih 3 tahun tentu dipenuhi keterkejutan diakibatkan perbedaan. Hal ini terasa ketika perkuliahan dan menyusun skripsi sebagai tugas akhir-nya. Jadi mula-mula datang sini tak banyak cakap lah. Ketidakmampuannya akan bahasa ini yang membuat . terlalu pedas dan porsinya banyak. kayak kami cakap lain. Kendala yang paling utama baginya adalah bahasa. susah. tidak ada perbedaan dan kesulitan lain yang terlalu besar.” “bahasa lagi lah memang masalah yang besar. lebih banyak mendengar. Selebihnya. jadi perbaikan.Amirah juga merasakan perbedaan dengan makanan Medan. Minta teman dari indonesia baca dulu baru kasi dosen. ia merasa biasa saja. orang Indonesia pahamnya lain. perempuan yang berbicara dengan suara yang kuat adalah sesuatu yang aneh dan tidak wajar. Kalo komunikasi itu mula-mula ada masalah lah kan. itu pengalamannya terhadap mahasiswi Indonesia di FKG. perbaikan aja. “suara orang perempuan tu kan keras kan.” Kesimpulan Kasus Amirah mengalami culture shock dengan karakteristik orang Medan yang berbicara dengan suara kuat. khusunya perempuan. jerit-jerit. Ia mengalami kesulitan besar dalam hal bahasa.

mereka berbincang masalah perkuliahan dan persiapan UAS. 3 Desember 2010 Lavanyah adalah wanita yang sangat ramah.Amirah cenderung berkumpul dengan sesama mahasiswa Malaysia. Selesai berbincang. Hal ini juga yang menutupi culture shock yang ia rasakan. Informan 5 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Lavanyah Rajagopal : 24 Tahun : Perempuan : Kedokteran Gigi : 2007 : 3. ceria dan ekspresif. Lavanyah menghampiri Hery. Sebelumnya peneliti juga sudah pernah bertegur sapa dengan Lavanyah. tetapi pada pertemuan pertama itu Lavanyah menolak untuk diwawancarai karena ia sangat sibuk. Ia merasa lebih nyaman dan tidak perlu takut mengalami kesulitan dalam interaksi. 46 : Jumat. Lavanyah memilih salah satu tempat duduk di kantin FKG. . Ketika sedang mewawancarai Hery. heboh.5 tahun : Jalan Jamin Ginting No.

Dikarenakan peneliti juga sudah selesai melakukan wawancara dengan Hery, peneliti menghampiri Lavanyah. Ia menyambut baik peneliti dengan senyuman ceria di balik wajahnya yang terlihat sangat lelah. Ia baru saja mengurus penelitian untuk penyelesaian skripsinya. Ketika sedang menunggu pesanan makan siangnya, peneliti menyapanya dan menanyakan apakah kali ini ia bersedia untuk diwawancara, akhirnya Lavanyah pun menyetujuinya, bahkan ia menyambut peneliti dengan sangat ramah, mengambil tasnya yang semula diletakkan di kursi sebelah kanannya agar peneliti bisa duduk. Selama wawancara, peneliti berusaha untuk mengenal pribadi Lavanyah dari cara ia berbicara dan menerangkan pengalamannya. Sejauh pengamatan peneliti, secara fisik Lavanyah adalah wanita India dengan kulit gelap, wajahnya manis, ada bindi di dahinya, tidak terlalu tinggi dan agak gemuk. Ia merupakan mahasiswi yang supel, sederhana secara penampilan, saat wawancara ia mengenakan kemeja hitam garis-garis vertikal putih dan celana bahan berwarna hitam dengan rambut dikuncir. Lavanyah tipe orang yang cerewet, suka berbicara, setiap kali menjelaskan sesuatu lengkap dengan ekspresinya. Peneliti menanyakan perasaannya ketika pertama kali tiba di Medan, Lavanyah menjelaskannya secara kronologis mulai dari proses pertimbangan pemilihan universitas sampai kehidupannya selama tiga tahun di Medan. Lavanyah memulainya dengan cerita bahwa ia memilih USU karena telah mendapat informasi bahwa Medan dekat dengan Malaysia dan secara garis besar hampir sama dengan Penang. Hal itu membuat Lavanyah juga setuju untuk melanjutkan kuliah ke FKG USU, ditambah dengan dukungan sang ayah yang semakin memperkuat tekadnya.

“Actually mula-mula kan, kita ke education fair, nanti mereka bilang “ok kamu mau yang mana?”, tapi mereka bilang yang usu, di medan seperti di penang juga. Mereka bilang yang kalau pilih usu lebih gampang karena seperti penang juga. So, mereka bilang lebih baik lah ke usu yang di medan aja. Ayah saya pun kata ok lah ke usu aja, sebab kan dekat aja. So, saya langsung ke medan.” Setibanya di Medan, tepatnya di bandara Polonia, Lavanyah masih belum merasakan kesepian atau kehilangan lingkungan familiarnya, karena Lavanyah berangkat dengan 40 mahasiswa asal Malaysia lainnya. Begitu juga ketika tiba di penginapan sementara mereka, Lavanyah dan yang lainnya justru disibukkan dengan kegiatan berbelanja peralatan hidup sehari-hari, karena mereka tidak membawa perlengkapan apapun ketika berangkat dari Malaysia. Lavanyah menceritakannya dengan sangat antusias dan berulang kali tertawa. “ooh, sebenarnya gak tau. Semua bahan, semuanya like..hmm, all things that i never bring. Gak bawa semuanya, semua barangnya gak bawa, kayaknya pergi mau vacation, holiday. Lepas itu waktu tiba di bandara, oke tooth brush, apa-apa, semua tak ada bawa.” Setelah mengurus semua berkas dan persyaratan, hari pertama Lavanyah ketemu dan berinteraksi dengan orang Indonesia adalah ketika OSPEK di FKG USU. Kejadian OSPEK adalah hal pertama yang membuat Lavanyah terkejut dan merasakan perbedaan antara negaranya dan Indonesia. Menurut Lavanyah, masa orientasi seperti yang FKG lakukan sangat keterlaluan. Sedangkan di Malaysia, kegiatan semacam itu ada, tetapi hanya sebatas perkenalan kuliah saja, tidak ada pelonco seperti yang FKG USU lakukan. Seperti yang sudah peneliti sebutkan sebelumnya bahwa Lavanyah adalah pribadi yang sangat ekspresif, menceritakan bagian ini pun ia sangat antusias, Lavanyah berulang kali membuat peneliti tertawa karena tingkah lakunya, karena selama bercerita ia mengucapkan beberapa kata yang salah, misalnya ketika Lavanyah bermaksud menyebutkan

“jengkol”, ia mengucapkan kata “jempol”. Dari ekspresi dan mimik wajahnya serta bahasa nonverbal lainnya, Lavanyah benar-benar menunjukkan

keterkejutannya melihat OSPEK ala kampus FKG USU, bahkan ia hanya mengikuti kegiatan itu satu hari saja, dua hari berikutnya ia memilih diam di kost. “pas itu masih belum jumpa indonesians, lepas tu baru hari pertama kita ke FKG, pas itu masuk ospek. Masuk ospek, like aduh, seram kali. Udah masuk aja mereka jerit-jerit, semua disuru pake-pake apa. Di malaysia, actually ada, tapi macam perkenal-perkenal aja, tak bisa macam ini, yang kasar kali, So, terrible lah yang ospeknya. Itu 3 hari, tapi satu hari aja kita pergi, lepas tu gak pergi lagi. Berapa jam aja, sebab seram kali. Senior-senior tu jerit-jerit. Disuruh makan jempol lagi, eh, jengkol, semua muntah-muntah, sebab i never eat before. Esoknya disuru bawa barang-barang itu kan, tapi kami tak ngerti apa yang mereka suruh.” Tetapi itu hanya dialami selama OSPEK saja, setelah itu semuanya kembali normal. Lavanyah mencoba menjalin hubungan yang baik dengan para senior. Mereka saling berbagi cerita, pengalaman dan buku selama perkuliahan. “sekarang dengan senior udah ok. Lepas ospek aja, semua ok lah, mereka bagi note, everything lah.” Hubungan Lavanyah dengan mahasiswa Indonesia di kampusnya juga terjalin dengan cukup baik. Selama wawancara beberapa kali temannya yang orang Indonesia menghampirinya untuk menanyakan seputar perkuliahan. Lavanyah juga memiliki dua teman Indonesia yang menjadi partner-nya dalam melakukan penelitian dalam rangka penulisan skripsi. Bersama dua temannya itu, Ayu dan Ulipeh, Lavanyah semakin belajar tentang Indonesia, terutama Medan. Bersama mereka juga ia belajar menghargai dan menerima segala perbedaan yang ada. Mereka melewati suka duka penelitian bersama, bahkan sudah merencanakan liburan untuk melepas penat selama pengerjaan Tugas Akhir. Lavanyah dan kedua

” “ooh. teman-teman . kita buat sama-sama. So. Kalau tak erti saya tanya. ketika keduanya saling tidak memahami.nanti saya bilang sama ulipeh “ulipeh ini apa? Ininya apa?”. macam tu lah. yang komunikasinya memang Sometimes ulipeh kan understand what i’m try to say.” Gejala culture shock seperti homesick yang berlebihan di awal kedatangannya juga dialami oleh Lavanyah. nanti dia coba translate dalam bahasa inggrisnya lah. Lavanyah mengaku ia selalu berusaha belajar mengucapkan bahasa Indonesia. kita bagi sama-sama sebab topiknya sama cuman expect nya beda. Bersama Ulipeh dan Ayu. “saya buat skripsi juga dengan yang Indonesian. khususnya dalam hal bahasa ketika berkomunikasi dengan orang Indonesia lainnya. Lavanyah merindukan keluarga. Selain itu. dalam keseharian. di kamar kost nya ia menangis. ulipeh sama ayu. So. bahkan hampir seluruhnya. apalagi ini pertama kalinya ia tinggal sendiri dalam waktu yang lama tanpa orang tua. Meskipun demikian. nanti ulipeh bilang. Saya kan belum tau betol bahasa indonesia tu kan. setiap malam tiba. Tetapi itu lambat laun mampu ia atasi kerena Lavanyah mengaku banyak hal yang harus ia lakukan sebagai seorang perantau yang menuntut ilmu di negeri orang. masalah bahasa ada banyak. mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai penengah. “oh ini kek gini”. lepas tu like kita paham kan sendiri. Okelah kita buat penelitian. nanti pun dia bilang yang saya tak erti. terutama karena penelitian yang dilakukannya menuntut Lavanyah untuk menguasai bahasa Indonesia dengan baik. ia saling bertoleransi. Lavanyah adalah satu-satunya informan yang paling sering menggunakan campuran bahasa inggris. karena dari sekian informan yang peneliti wawancara.temannya saling membantu ketika ia mengalami kesulitan. Ia juga merasakan kehilangan suasana yang biasa ia temukan di negaranya. Peneliti juga merasakannya. Bahasa adalah hal yang sampai sekarang masih sulit bagi Lavanyah.

banyak hal yang sama antara kedua negara. apalagi pertama kali. Ditambah lagi ia mempunyai banyak teman sesama mahasiswa asal Malaysia di kampus dan di kost. tak pernah berpisah dari emak dan ayah. sebab sim card-nya pun belom tau kodenya. Sebab itu belom bisa call. rasanya macam. mereka bilang harus pergi. Bagi Lavanyah budaya Indonesia dan Malaysia kurang lebih hampir sama. Kan yang macam tangan kirinya di indonesian is bad.” Secara keseluruhan. tak pernah tinggal dimana-mana. So. Lavanyah sangat menyukai tempe. “culture shock not really lah. Lavanyah tidak terlalu mengalami kesulitan dalam hal makanan. the culture is similar lah.. macam like. belum tau apa-apanya lah. especially Indian yang left hand is alSo bad. ada yang sedikit beda lah. 2 minggu awal-awal tu kan asik menangis aja. orang-orang Indonesia juga cukup baik dan ramah. right? Even malaysian.” “homesick pasti lahh. Selain itu. Sama. itulah yang membuatnya terkejut ketika menjalani kehidupan di kota Medan. “ini kali pertamanya lepas dari emak bapak. Sebab ini pertama kali keluar negara. jika di kampus Lavanyah lebih sering memesan mie instan yang digoreng atau direbus dengan sayur dan potongan tahu. Menurutnya. ini pertama kalinya ia makan tempe dan langsung menyukainya. Lavanyah memberikan contoh penggunaan tangan kiri yang kurang baik dalam budaya Indonesia yang juga sama di Malaysia.” . pertama kali itu. rumah nenek juga tak pernah tinggal. kurang lebih sama. Slalunya di rumah sendiri.yang selalu bersamanya dan mendukungnya membuat Lavanyah semakin kuat. sebagai teman senasib sepenanggungan. Itu ia rasakan selama di kampus dan ketika menjalani praktik JCS di Rumah Sakit Adam Malik. kayaknya up and down lah. sebab ia seorang vegetarian. similar.. So. lepas tingkatan enam juga sama emak dan ayah.

Tidak ada konflik yang terjadi di rumah kost. “kalo di luar saya di cleopatra fitness lah.” Lavanyah sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan Medan. di situ juga banyak indonesian. They say “ah. ibu-ibu tu tanya-tanya. seperti tempat fitness dan sauna. So. pokoknya they are very friendly lah.“kami ada JCS di hospital adam malik kan. kalau kita tanya apa pun. Pribadinya yang ceria dan ceplas-ceplos membuat orang senang berbicara dengannya. Saya juga cerita lah. Ia bahkan tergabung sebagai anggota di salah satu pusat olahraga. “saya kost sama malaysian. Selain itu. sekarang udah 2 orang aja. Lavanyah menyadari dirinya sebagai pendatang dan berusaha membangun hubungan yang baik. don’t involve mahasiswa. Ia berinteraksi dengan anggota lain yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga. So mereka macam kalau ada apa-apa yang mereka mau. Lavanyah tinggal di Jalan Jamin Ginting dengan empat orang mahasiswa Malaysia dari FK dan FKG dan dua orang mahasiswa Indonesia. tapi sekarang udah pindah. Hubungan sama mereka baiklah. And then they don’t like. Kesimpulan Kasus . tangan Lavanyah tidak berhenti bergerak kesana kemari memperagakan setiap halnya. i’m not really understand what they say but i try to understand. kalau ada isu-isu politik macam tu kan between indonesia and malaysia. they try to share. Mereka bicara trus. karena ia menceritakannya dengan antusias. indonesian dulu ada. they come to my room lah. itu kan masalah politik. Nanti ibu-ibu itu semua very lucu lah. Kelihatan sekali ia sangat menikmati harinya di tempat ini.” Interaksi dengan penghuni kost lainnya juga terjalin baik. sebab mereka junior kan. Ia juga tidak malu jika salah mengucapkan kata dan selalu ingin belajar.

Di Malaysia kegiatan seperti ini juga ada di kalangan mahasiswa baru. Informan 6 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Amir Hakimi : 23 Tahun : laki-laki : Kedokteran : 2006 : 4. Menurutnya kegiatan itu terlalu berlebihan. Kesulitan bahasa yang dialaminya tidak membuat Lavanyah berhenti mencoba untuk berkomunikasi. Culture shock yang ia alami pertama kali tiba di Medan adalah OSPEK ala FKG USU. bahasa juga menjadi kendala besar baginya. Lavanyah sudah mampu beradaptasi. Saat ini. bahkan di luar kampus ia sudah memasuki komunitas lain. Mansur : Kamis. Ini merupakan pengalaman pertamanya meninggalkan negara dan hidup sendiri tanpa orang tua. Ia belajar tentang bahasa dan lainnya bersama kedua temannya tersebut. Hal ini benar-benar membuatnya terkejut.Lavanyah adalah pribadi yang suka bergaul dan mudah beradaptasi. tetapi hanya sebatas pengenalan singkat tentang garis-garis besar kampus saja. Kesulitan dalam berkomunikasi sering ia rasakan. Selain itu. Meskipun demikian.5 tahun : Jalan Dr. Penelitian yang sedang ia lakukan bersama dua mahasiswa Indonesia membuat mereka semakin akrab. homesick selalu dirasakan. 16 Desember 2010 . Di awal kedatangannya. Lavanyah merupakan pribadi yang suka bergaul. yakni kelompok fitness bersama anggota lainnya yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga.

peneliti menghampirinya dan mulai mewawancarainya. Sambil tertawa Amir mengakui kebiasaan menekan klakson ketika berhadapan dengan kemacetan lalu lintas juga dilakukannya. Kulitnya putih. Pertama kali peneliti dikenalkan dengan Amir. menggunakan kacamata dan saat itu ia menggunakan kemeja yang dibalut dengan jas putih yang merupakan seragam praktik co-assnya. padat dan tidak teratur dibandingkan dengan Malaysia. jalan gak teratur kali. malah saya pun ikut tekan horn juga la. sebab secara fisik ia sama dengan orang Indonesia.” Pengetahuannya tentang Medan sebelumnya juga sama dengan yang lainnya. Saat itu Amir sedang istirahat. Ketika memasuki Kota Medan. Amir mulai berinteraksi dengan orang-orang Medan. Perbedaan yang paling menyolok dirasakan Amir adalah cara bicara orang Medan yang agak kasar dengan intonasi dan volume suara yang kuat. Tetapi untuk yang satu ini.Pertemuan peneliti dengan Amir berlokasi di RSUP Haji Adam Malik Medan. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara dalam satu rumpun. Tapi sekarang biasa aja la. sehingga budayanya juga kurang lebih hampir sama. memang ada rasa agak beda la dengan malaysia. Interaksi dimulai dengan teman-teman kampusnya. sebab ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kota ini. Peneliti mengenalnya dari salah seorang kenalan peneliti. peneliti sempat tidak percaya ia mahasiswa asal Malaysia. . termasuk bahasa. Perbedaan pertama yang ia temukan setibanya di Medan adalah keadaan jalanan yang lebih ramai. Kotanya agak padat. “pertama kali sampai medan. Bagi Amir kedatangannya ke Kota Medan juga hal baru. sekarang Amir justru ikut dalam ketidakteraturan itu. keheranan hanya terjadi awal saja. bising sebab sering tekan horn.

banyak tambahan orang-orang baru yang ditemuinya. yaitu bahasa Batak. dengan orang yang berlalu lalang. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Dari pengamatan peneliti dan pengakuan Amir sendiri. Medan dengan Malaysia itu hampir sama la. suster perawat dan tentunya pasien di rumah sakit tersebut. Kondisi lingkungan yang dihadapi tentu berbeda. ia meminta bantuan teman Indonesia yang juga sedang co-ass bersamanya. Bahasa sekiranya tidak menjadi kendala bagi Amir. tetapi ia memilih untuk langsung berbaur dan bergabung dengan mahasiswa Indonesia. Waktu kuliah dengan co-ass hampir sama aja. Amir bergaul dengan siapa saja. mulai dari kehidupan kampus di FK USU sampai ketika co-ass di rumah sakit. sebab mereka kadang pakai bahasa batak. kalau sama pasien kadang ada masalah bahasa sikit. jadi tak paham. cuman tambah pengaruh lingkungan dari suster perawat gitu la.” Amir mengaku ketika ia berhadapan dengan pasien yang menggunakan bahasa Batak. karena temannya membantu mengatakan kepada pasien untuk menggunakan bahasa Indonesia. Lingkungan yang lebih ramai. Masalah komunikasi juga sempat Amir alami dengan beberapa pasien yang berbicara dengannya dengan menggunakan bahasa daerah. di FK dulu pun gitu juga. seperti dokter. “saya langsung berbaur la. Kondisi rumah sakit yang menuntut serba cepat dan harus saling kerja sama membuat Amir selalu berkomunikasi dengan teman Indonesia. Peneliti juga mengamati . bahasanya gak begitu jauh. Amir menjalani coassnya di rumah sakit. ia adalah orang yang tidak suka membeda-bedakan antara orang Indonesia dan Malaysia. Berbeda dengan FKG USU yang program co-ass-nya di akukan di klinik yang juga berlokasi di kampus.“kalau orang Medan ngomongnya memang agak kasar. Hal ini membantu melatih kemampuan berbahasanya dan hubungan yang semakin baik.” FK USU memang lingkungan baru baginya.

Ia saling bekerja sama dengan mahasiswa co-ass lainnya. Setibanya di Medan. yakni Kota Medan. saya dari masuk tahun 2006. tiga atau empat bulan aja udah bisa adaptasi la. Ia juga mengalami culture shock. mereka berkumpul di sebuah ruangan yang memang disediakan untuk para mahasiswa co-ass. Menurut pengakuan Amir.kegiatannya selama di rumah sakit. sebab pasti lebih enak di tempat sendiri kan. Jadi ya bisa la adaptasi.” Kesimpulan Kasus Amir adalah pribadi yang cepat dalam beradaptasi. Ia juga merasakan perbedaan akan jalanan Medan yang tidak teratur dan sesuka hati membunyikan klakson. . Ia sedang menjalani co-ass di rumah sakit. sebab kami orang malaysia udah dibiasa hidup mandiri. sekarang hal ini sudah menjadi sesuatu hal yang biasa baginya. Tapi itupun biasa-biasa aja la. mereka sudah terbiasa dengan kehidupan mandiri yang jauh dari keluarga. Kemampuannya menyesuaikan diri juga disebabkan prinsip hidup orang Malaysia kebanyakan. Ia bahkan ikut menjadi pengguna jalan raya yang seringkali membunyikan klakson. Mereka ngobrol santai dan bersenda gurau. dari umur 12 tahun. Amir sudah bergaul akrab bahkan di sela waktu istirahat. tetapi itu hanya sebentar saja. “homesick ada la. Perasaan homesick memang dirasakannya. ia merasa orang-orang Medan itu kasar karena kebiasaan berbicara dengan suara yang kuat. tetapi tidak terlalu sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tetapi. Ia mengaku hanya membutuhkan waktu kurang lebih 4 bulan. Lingkungan rumah sakit semakin menuntutnya untuk berbaur dan harus mampu berkomunikasi. bersama teman-teman sesama co-ass yang mayoritas orang Indonesia. Secara keseluruhan beradaptasi dengan lingkungan kota Medan dan orang-orangnya tidak terlalu sulit bagi Amir.

Ia berdarah campuran. Ia sudah mampu beradaptasi saat ini.khususnya mahasiswa Indonesia. ia pun memilih FKG USU karena dekat dengan Malaysia. mata sipit dan juga dialek bahasanya. 20 Desember 2010 Peneliti menemui Jonathan ketika sedang beristirahat dari kegiatannya sebagai mahasiswa co-ass di FKG USU. karena orang-orang yang ada dalam rumah sakit itu hampir semua adalah orang Indonesia. kulit putih. Seperti kebanyakan. seperti untuk merencanakan bersekolah dalam bidang kesehatan Filipina. ibunya orang Filipina dan ayahnya Chinese. Informan 7 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Jonathan Lin Chee Hang : 24 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2006 : 4. . Mansyur : Senin. Ia sering berpindahpindah kota bahkan negara untuk beberapa kepentingan. campuran Filipina dan Cinanya jelas terlihat. Jonathan membatalkan niatnya. Ia sudah hampir 5 tahun menetap di Kota Medan. Secara fisik. tetapi melihat populasi penduduk Filipina yang terlalu padat.5 tahun : Jalan Dr.

kualitas yang baik dengan biaya yang cukup murah bila dibandingkan dengan universitas di negara asalnya. jadi terpaksa guna bahasa Inggris aja. “ini pertama kali ke medan. selain itu gak terlalu bermasalah la. jadi saya gak bisa Hokkien. Baginya ini memang pengalaman pertama datang ke Medan. Ini sempat membuatnya bingung karena Jonathan sama sekali tidak bisa berbahasa Hokkien. Tetapi itu tidak terlalu mempengaruhi keinginannya untuk berinteraksi. kalau disini pakai bahasa Hokkien.” . filipina. jerman. sebab sebelumnya saya pernah ke filipina untuk studi. Apalagi ia baru mengetahui bahwa orang Tionghoa di Medan tidak menggunakan bahasa Mandarin ketika berkomunikasi dengan sesamanya. kalimantan juga. jadi bagi saya sama aja. masalah bahasa sempat menjadi persoalan. “kalau pertama kali. bahkan di luar kampus. Apalagi kan saya mix Chinesse. palembang. tetapi dengan bahasa Hokkien. jadi gak ada bayangan la.” Komunikasi antarbudaya yang tidak efektif karena kendala bahasa juga turut Jonathan alami. dengan sesama etnis Tionghoa ia menggunakan campuran bahasa Indonesia atau kadang-kadang bahasa Inggris. tahun pertama memang ribet la bahasanya. sehingga tidak ada bayangan yang terlalu besar tentang Kota Medan. Jonathan juga bergaul dengan mahasiswa Indonesia lainnya di kampus FKG USU. seperti Kalimantan dan Palembang. tapi saya memang pernah ke tempat-tempat lain seperti filipina. di indonesia itu di medan. Kalau orang Tionghoa di sana pakai bahasa Mandarin. sebab saya sering pindah-pindah. sedangkan di Malaysia orang Tionghoa berkomunikasi dengan bahasa Mandarin. orang Tionghoa di sini kan beda bahasanya. tapi gak jadi sebab di sana populasi lebih negeri. tetapi sebelumnya ia sudah pernah mengunjungi beberapa kota lain di Indonesia. Ia mengaku di tahun pertamanya tinggal di Medan.

jadi saya agak ngerti. jadi saya sempat diam. Jadi di sana dulu saya takut untuk berkomunikasi la. sehingga tidak terlalu sulit untuk berkomunikasi. sebab saya gak bisa ke tempat yang terlalu banyak orang. sebab terkejut. Bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang biasa ia gunakan di negaranya hampir sama. tingkatan culture shock di Filipina lebih besar. baik dengan sesama mahasiswa asal Malaysia. jadi saya pernah ke Filipina. tidak terlalu sulit bagi Jonathan untuk berkomunikasi dan menyesuaikan diri. lebih banyak. jadi gak begitu shock dibanding Filipina. bahasa juga. mamak orang Filipina. Kalau yang berat di Filipina. termasuk bahasa. “maksudnya kalau saya kan. karena mereka pikir saya kayak orang Filipin. kayak traffic jam. sebenarnya bahasa melayu hampir mirip dengan bahasa Indonesia kan. gak bisa saya terima. Kalau di Indonesia. karena ia tidak bisa berada dalam keramaian kota. ketika masuk ke lingkungan Medan dengan budaya yang hampir sama. Di situ lebih ribet la. Karena wajahnya yang mirip dengan orang Filipina. Jadi. Kondisi yang berlawanan dirasakannya ketika berada di Filipina. sebab tak paham bahasa mereka. di Manila.Menurut Jonathan.” Interaksi dengan orang-orang di kampus. orang-orang langsung berbicara dengannya dengan Bahasa Tagalog dan itu benar-benar membuatnya shock. ketika berada di sana. “sebab saya kan di pusat kota. di Filipina juga Jonathan mengalami keterkejutan terhadap kemacetan lalu lintas dan kepadatan populasi penduduk Filipina. culture shock. Jika seluruh kondisi ini dibandingkan dengan apa yang ia temukan di Medan. meskipun dengan . di situ berat la. Keterkejutan budaya dan kesulitan komunikasi jelas dialaminya. mahasiswa Indonesia dan pasien-pasien yang sekarang menjadi bagian hari-hari sejak menjalani co-ass berjalan dengan baik.” Selain perbedaan keadaan dalam hal komunikasi. kalau di sini. mereka langsung cakap bahasa mereka. sedang aja. berat kali gak. Indonesia dan Malaysia secara budaya tidak jauh berbeda.

Kalau teman kost memang Malaysia semua. “saya ada komunitas di sini. Jonathan juga memiliki sebuah komunitas pecinta hewan reptil dan amphibi. jadi maksudnya kalau mereka ajak ya saya mau ikut la dengan orang Medan. Kondisi lingkungan co-ass yang akan selalu berganti siklusnya. Jonathan memang terlihat sangat berbaur. selama di kampus. Kami ada komunitas peliharaan gitu. Tetapi seperti pepatah “ala bisa karena biasa”. tetapi teman-temannya mahasiswa Indonesia juga sering datang ke kostnya untuk urusan kuliah atau sekedar bermain-main. ketika baru datang. saya sering kumpul-kumpul sama teman orang Indonesia juga. main-main. Dari pengamatan peneliti. yang aktif itu sekitar 25 orang. tapi banyak juga teman orang Indonesia. lainnya Indonesia. Jonathan tinggal di sebuah rumah kost bersama mahasiswa asal Malaysia lainnya. namanya MERCY Medan Reptilies and Amphibians Community. kondisi lingkungan yang seperti ini semakin membuatnya harus mampu berkomunikasi dengan baik dan berupaya untuk terus menyesuaikan diri. yakni MERCY ( Medan Reptilies And Amphibian Community).beberapa pasien Jonathan mengaku terkadang mengalami kesulitan. yang seluruhnya adalah orang Indonesia sering melakukan program kegiatan dan menghabiskan waktu bersama. makanan tidak lagi menjadi masalah baginya. mempertemukan Jonathan banyak mahasiswa Indonesia yang berbeda.” Mengenai makanan Medan. dengan suku yang berbeda dan dari angkatan yang berbeda pula. Ia bersama 25 member lainnya. ia juga mengalami masalah sakit perut karena tidak terbiasa dengan menunya. yang dari malaysia saya aja. sering datang ke kost saya juga. Dengan demikian. Kesimpulan Kasus .

.Jonathan sudah beberapa kali datang ke Indonesia. pergaulannya dengan banyak orang Indonesia membantu adaptasinya. Di awal kedatangan kesulitan bahasa memang sempat dirasakan.5 tahun : Jalan Tridarma No. Kota Manila lebih padat. kemudian Linda mengenalkan dua orang temannya. Asfahana dan Tini. apalagi karena orang Tionghoa di Medan tidak menguasai bahasa Mandarin. peneliti menanyakan apakah Linda tinggal bersama mahasiswa asal Malaysia lainnya. sedangkan ia tidak menguasai bahasa Hokkien. yang sama-sama mahasiswa FK USU angkatan 2008. Hal ini menjadi bukti yang kuat bahwa ia sudah menyesuaikan diri dengan Kota Medan. Culture shock tidak terlalu ia rasakan. Informan 8 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Asfahana : 23 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2. Ia bahkan tergabung dalam sebuah komunitas yang seluruh anggotanya adalah orang Indonesia. Mereka menggunakan bahasa Hokkien dalam berkomunikasi. 21 Desember 2010 Peneliti mengenal Asfahana dari Linda. 26. Peneliti pun mewawancarai Asfahana di kost ditemani Linda karena Ia tidak ingin diwawancara seorang diri. Pintu 4 USU : Selasa. Ketika membuat janji pertemuan berikutnya dengan Linda di kostnya. Pengalamannya tinggal di Filipina lebih mengejutkan bila dibandingkan dengan Kota Medan. sehingga kepadatan kota Medan tidak terlalu mengejutkan baginya. Tetapi. tetapi di Kota yang berbeda-beda.

26. sangat dekat. Sebelumnya Asfahana pernah berlibur ke Danau Toba bersama keluarga. Di lantai 2 ini ia tinggal bersama tiga mahasiswa asal Malaysia dan tiga mahasiswa Indonesia. ini adalah pengalaman pertamanya. Untuk hidup mandiri tanpa orang tua dalam waktu bertahun-tahun. Ia ditemani Linda selama wawancara. ia mengenakan kaos lengan ¾ dan celana panjang yang longgar. Asfahana dan Linda sangat akrab. Awalnya memang ia sedikit sungkan. Mereka menjalani hari-hari sebagai pendatang di Kota Medan berdua. Asfahana tinggal di lantai 2 sebuah rumah yang terletak di Jalan Tridarma No. .Asfahana orang yang cukup sederhana secara penampilan. mulai dari tiba di Medan. ketika ia masih kecil. Dijumpai di kost. sampai pulang ke Malaysia setiap liburan juga bersama. pergi dan pulang kampus bersama. Asfahana langsung menyatakan semuanya. seperti malu dan takut menjawab setiap pertanyaan yang peneliti ajukan. jadi itu membuatnya tidak canggung bahkan berani mengeluarkan setiap hal yang ia rasakan tentang pengalamannya tinggal di negeri asing. Ini bukan pertama kalinya Asfahana menginjakkan kaki ke Indonesia. kemana pun berdua. Tetapi itu sudah sangat lama. Ia wanita suku Melayu yang juga mengenakan baju kurung ketika kuliah ataupun pergi. tinggal di kost yang sama. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Linda dan memang mereka berdua adalah teman akrab. Ia memilih FK USU karena FK USU sudah memiliki nama di Malaysia. jalan-jalan bersama. Selain itu biaya pendidikan di USU juga murah dan dekat secara jarak dari Malaysia. tetapi ketika Linda memberikan sedikit pendapat terhadap pertanyaan yang diberikan.

“begitu sampai saya tekejut dengan laluan jalan rayanya yang bising. khususnya mahasiswa-mahasiswa Indonesia di kampusnya. ketika sudah tiba di Medan. macam sini kita artinya saya kan? Di sana kita macam kelompok yang ramai. “orang-orangnya juga. untuk yang laki-laki sudah tahu dan tidak bersalaman dengan Asfahana. Ia terkejut melihat jalan raya dan lalu lintas kota Medan yang sangat padat dan jalan yang sempit. Macam kalo disana. Baginya itu terlalu bebas. hanya berbeda secara bahasa saja. ia hanya mengatakan orang Indonesia sama dengan orang Malaysia. Ia mengaku sulit untuk berkenalan dan beradaptasi karena masalah bahasa. macam mau kenal dia dengan teman-teman satu USU pun macam susah la mau berkenalan sebab dari bahasanya kan tak bisa lancar. Ia menemukan berbagai macam perbedaan. Bahkan. jalannya agak sempit. ketika peneliti menanyakan persepsi Asfahana sebelumnya tentang Medan. tetapi lambat laun ia sudah tidak merasa heran lagi. Ia juga mencontohkan beberapa kata yang berbeda makna antara Indonesia dan Malaysia. Teman-temannya juga sudah memahaminya. berbeda dengan budaya di negara asalnya. agak susah mau beradaptasi. macam mana mau cakap ya. Pertama kali tiba di Medan. Awalnya Ia memilih untuk lebih banyak mendengar dan meminta bantuan teman.” Asfahana mengalami kesulitan ketika pertama kali ingin berkomunikasi dengan orang-orang Medan. kita maknanya kita semua.Awalnya. .” Kebiasaan bersalaman dengan lawan jenis juga membuat Asfahana terkejut. Ia juga sempat takut dengan lingkungan baru yang akan ia hadapi.

tiga orang kuliah di FK USU. Ketika peneliti menanyakan hubungannya dengan sesama penghuni kost itu. sebab mereka pun tak paham dengan apa yang kami cakap dan kami pun gak paham yang dia cakap. tetapi tidak akrab. Linda. Asfahana juga menceritakan bahwa lingkungan kampusnya. nampak macam berkelompok-kelompok. mungkin mereka pun gak mau berkawan dengan kita. Baginya. Kalau yang pandai satu kelompok. selain itu di lantai dua juga tinggal dua orang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Politeknik USU. kamar kost lebih nyaman dan aman. Rumah kost tersebut terdiri dari dua lantai. ia bisa melakukan apa saja di kamar itu. Hubungan Asfahana dengan sesama Malaysia cukup baik. sedangkan lantai atas dihuni oleh empat orang mahasiswa asal Malaysia yang suku Melayu. Asfahana juga hanya mengenal teman satu grupnya saja. Setelah selesai semua urusan perkuliahan di kampus ia bersama Linda langsug pulang ke kost. lantai bawah dihuni oleh empat mahasiswa asal Malaysia yang suku India. yaitu FK USU cenderung berkelompok. “lebih sering sama malaysia. Itulah alasannya ketika peneliti menanyakan mengapa ia lebih sering bersama teman sesama asal Malaysia.” Asfahana tidak terlalu sering berinteraksi terlalu lama dengan orang lain. terutama dengan teman akrabnya. tapi ada juga la teman daripada indonesia. hanya sebatas tahu saja. yang biasabiasa satu kelompok.Keterbatasan kemampuan berbahasa Indonesia yang ia punya membuat Asfahana lebih sering bergabung dengan teman sesama Malaysia. termasuk Asfahana dan satu orang kuliah di FKG USU. Ia juga memiliki kenalan teman mahasiswa Indonesia. mereka sering bertegur . Apabila mahasiswa dari grup lain apalagi junior. yaitu grup B di kampus. ia dan Linda serentak menyampaikan semua unek-unek nya. tapi gak rapat la. ia mengaku tidak mengenal mereka. ia la.

Untuk hal ini pun membuat mereka terkejut. Mereka tidak terbiasa dengan suara yang kuat dan terdengar kasar. Itu lah sebabnya mereka takut ketika harus berhadapan dengan tukang becak dan supir angkot. Dengar daripada teman-teman ada kena culik handphone. hubungan mereka memang tidak baik. tapi kalo seorang-seorang gak berani la. hipnotis. tetapi dengan dua mahasiswa Indonesia. “naik angkot la masalah. sebab tidak ada manfaat yang dapat diambil dari hal itu.” Selain interaksi. Karena berusaha menawar tarif ongkos yang terlalu mahal. tidak perlu ada pembedaan antara Indonesia dan Malaysia. sebab Asfahana tidak memiliki kendaraan pribadi. Asfahana juga terkejut dan tidak cocok dengan makanan di Medan.” Selain interaksi di kampus dan di kost. belum lagi kebiasaan teriak dan makian dari tukang becak yang pernah mereka alami. karena mau tidak mau ia harus berurusan dengan mereka. Ia mengharapkan adanya rasa saling menghormati sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan. Tapi becak pun takut. sebab suka teriak-teriak kan. Apa la faedahnya buat begadoh dua negarakan? Tak ada la. Ia tidak terbiasa sarapan dengan makanan berat. terlalu berat dan pedas. . cuma lamalama bisa la. Menurut Asfahana. mereka sering dimarahi. Cerita dari temanteman tentang maraknya kasus penculikan dan hipnotis di angkutan umum membuat Asfahana dan Linda sangat takut. jadi macam gak berani. budayanya aja yang berbeda. Kalo macam sama-sama.sapa dan sesekali bercerita. naik becak aja. Asfahana juga berinteraksi dengan supir angkot dan tukang becak. baik duit. seperti yang sudah peneliti jabarkan pada hasil wawancara Linda. “sebab kita kan manusia dilahirkan Tuhan sama aja kan? Cuman bahasa.

sebab makanan di sini pedas. kalo di malaysia ada kue-kue.” Impiannya menjadi perantau yang sukses dan pulang ke negara asal. Tetapi. ia biasa hanya makan beberapa kue sebagai sarapan.seperti nasi. Malaysia. pikirkan keluarga. Selama kurang lebih dua bulan Asfahana sering sekali menangis karena sangat merindukan keluarga dan semua familiaritas di negara Malaysia. Di Malaysia. Linda.” Semua perbedaan dan hal yang baru yang ia temui di Medan membuatnya merindukan lingkungannya.” Kesimpulan Kasus Asfahana memiliki pengalaman yang hampir sama dengan Linda. dalam 1 tahun la. tak ada family kan. “makanan pun satu. Ia mengalami culture shock terhadap perbedaan nilai-nilai dan juga bahasa. tetapi tetap tidak mengkonsumsi makanan dengan cita rasa yang pedas. Selain . Lepas tu di sini makanannya macam sarapan pagi udah nasi terus. diperkuat dengan dukungan teman-teman senasib dan sepenanggungan. jadi kami harus ada kesanggupan la. kalo sakit macam mana mau pulang. tapi sekarang udah bisa. tapi lama-lama uda biasa la. macam tu la. tapi kami bangga la kak. sebulan dua bulan tu nangis la. terutama teman akrabnya. Tetapi akhirnya setelah menjalani proses selama 1 tahun lebih Asfahana sudah mampu menerima keadaan. akhirnya ia pun bisa beradaptasi. sebab kami berdikari di sini. Malaysia dengan gelar dokter memotivasi Asfahana untuk tetap bertahan hidup. nanti nak pulang ke Malaysia pun bangga la. “masa mula datang homesick lah. “sebab bayar mahalkan.

tetapi perasaan diperlakukan berbeda masih menjadi pertanyaan baginya.5 tahun di Medan. Ia mengaku sekiranya tidak ada yang menjadi masalah lagi. jalan raya yang macet dan tidak teratur. Pintu 4 USU : Selasa. Semua perbedaan dan kecemasan yang dirasakannya membuat Asfahana cenderung berkumpul dengan sesamanya mahasiswa Malaysia. Ia merasa sulit untuk berkomunikasi karena masalah bahasa yang belum dipahami. makanan yang terlalu pedas dan juga mengejutkan baginya. Linda. Asfahana sudah tinggal selama kurang lebih 2. yakni orang-orang Medan. terkhusus dengan sahabat karibnya. Ia tinggal bersama tiga mahasiswa suku .dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya. 21 Desember 2010 Girtheekaadevy. Ia mengaku bersama sesamanya ia merasa lebih nyaman dan tidak perlu mengalami kesalahpahaman komunikasi. lingkungan Kota Medan yang terlalu padat.5 tahun : Jalan Tridarma No. 26. Ia juga mempunyai masalah interaksi dengan dua mahasiswa Indonesia di kostnya. Informan 9 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Girtheekaadevy : 22 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2. Ia juga tinggal di rumah kost yang sama dengan Asfahana dan Linda. Asfahana juga mengalami homesick berat selama dua bulan pertama kedatangannya. ia mengalami kecemasan dalam berkomunikasi. ia akrab dipanggil Girthee. Pertama kali tiba di Medan. Ia merasa diperlakukan berbeda dengan tuan rumah.

Ia mengaku hal ini menyebabkannya kerapkali ditegur oleh dosen. Teman-teman mahasiswa Indonesia yang sekelasnya juga memberikan pendapat bahwa bahasa Indonesianya masih belum baik dan sulit dipahami. Setelah memperkenalkan diri secara singkat. Sejauh pengamatan peneliti. sebab dulu belum ada dapur. bahkan ada mata kuliah yang ia harus mengulang sebanyak lima kali karena kelemahan bahasa. Di semester pertama. makan di warung-warung gitu gak bisa. sebab tak biasa dengan udara dan makanannya. sekarang udah bisa masak la. Minggu pertama tu memang saya sakit. saya ada gagal pelajaran sebab gak bisa bahasanya. setiap harinya Girthee memilih memasak sendiri.” Berkomunikasi dengan orang-orang Indonesia adalah kesulitan terbesarnya. Sesampainya di Medan. tepatnya Medan. Dalam hal makanan. Ini juga adalah pertama kalinya Girthee ke Indonesia. sampai sekarang pun Girthee tidak bisa beradaptasi. Girthee adalah tipe orang yang ramah dan humoris. Girthee harus mengulang mata pelajaran bahasa Indonesia karena tidak lulus. sampai sekarang pun makanannya gak bisa la. Hal ini juga sangat terasa ketika harus melakukan presentasi di kelas. sebelum ada dapur ia hanya makan mie instan saja. .Tamil asal Malaysia lainnya di lantai satu. sebab ia tidak menguasai bahasa Indonesia. “kalau bahasanya sampai sekarang gak fasih lagi. belum lagi cita rasa makanan yang tidak biasa baginya. sampai gagal 4 sampai 5 sesion. peneliti kemudian menanyakan pengalamannya ketika pertama kali tiba di Medan. Girthee sangat sering menggunakan campuran bahasa Melayu dan Inggris. semester 2 baru bisa masak sendiri. “mungkin udaranya yang banyak abu. sebab masih banyak teman yang bilang bahasa saya sukar dipaham gitu. kemudian di semester kedua setelah ada dapur di kostnya. Girthee terkejut dan terganggu dengan udara di Medan yang penuh polusi.

interaksi bole la. sebab bahasa signal lebih mudah kak. sebab menurutnya itu lebih mudah dipahami. “suara yang kuat. Interaksi dengan orang lain di luar kampus dan kost sama seperti yang diungkapkan informan-informan sebelumnya. mereka bilang kenapa kamu campur-campur. saya pun ada teman akrab indonesia. Ia bergaul sangat akrab dengan sesama mahasiswa asal Malaysia di kost itu. “interaksinya bole la. kadang kala mereka tanya mau pergi mana kan.” Ia tetap berusaha menjalin hubungan yang baik dengan mahasiswa Indonesia di kampusnya. gak mau bayar lagi. tapi kami langsung jalan aja. kena marah dosen la macam tu. sehingga tidak terlalu berpengaruh baginya. sebab ia berada di lantai bawah. Masalah hubungan dengan sesama penghuni kost seperti yang dialami Asfahana. nanti mereka jerit sama kami. Linda dan Tini tidak terlalu dirasakannya. dengan harga yang tinggi dan suara teriakan mereka jika harganya tidak sesuai. mereka bilang kan “oh kamu orang malaysia. kadang gak bisa dipahami. lebih mudah pahami. Jadi kadang saya guna bahasa signal. sebab udah biasa la. komunikasi juga perlahan-lahan bole. kadang campur lagi dengan bahasa Inggris. Macam tu la. Terkadang untuk memahami perkataan orang lain Girthee menggunakan bahasa signal. ia shock dengan gaya tukang becak. bagus juga.kadang kalau presentasi di tutorial itu kan kadang gak sadar campur bahasa dengan bahasa malaysia kan. bayarnya mahal. apalagi dengan penghuni lantai satu yang sama-sama suku India.” . So ada la yang akrab. bila kami kata mau pergi mana-mana kan. macam-macam la. kamu udah kaya. cuman bahasa tu la. Ia juga memiliki beberapa teman baik yang dari mahasiswa Indonesia karena sering bertemu di kelas lab praktikum. sebab satu lab kan.” Hubungan dengan sesama penghuni rumah kost juga baik.

” Kesimpulan Kasus Girthee merupakan informan yang juga sudah mampu beradaptasi. Hal ini membuatnya takut dalam berkomunikasi. Itulah yang rasa paling sukar. pasien lagi kan. sama suster. Kecemasan yang paling besar ia rasakan adalah bahasa. Secara keseluruhan. ia masih biasa dan belum banyak yang dapat ia ceritakan “pokoknya komunikasi la yang kami paling takut kak. Di luar masalah interaksi. udara dan makanan di Medan sampai sekarang tidak cocok baginya. tetapi masalah seperti yang Linda dan Asfahana alami tidak terlalu ia rasakan karena ia tinggal di lantai yang berbeda. dari semua perbedaan yang Girthee hadapi. Ia bahkan sering mendapat teguran oleh dosen karena kemampuan bahasa yang sangat lemah. Interaksinya dengan sesama penghuni kost sejauh ini baik-baik saja. menurutnya Medan tidak jauh berbeda dengan Kuala Lumpur. bahasa adalah kendala terberatnya. Dalam wawancara. apalagi nanti mau coass kan. Tetapi karena Girthee belum berada pada situasi yang sebenarnya. ia harus bertemu dengan lingkungan baru dan orang-orang baru lagi.Gejala culture shock seperti homesick yang berlebihan juga ia rasakan di awal kedatangannya. peneliti menangkap Girthee berulang kali menyebutkan kelemahannya itu. Tetapi kehadiran teman sesama Malaysia di kost dan kampus membuatnya mampu menghadapi perbedaan lingkungan. Ia . kota asalnya. seperti suster perawat dan pasien. bahkan ia mengaku takut berkomunikasi apalagi ketika memasuki dunia coass tahun depan. takut la. Ia juga mengulang mata kuliah sampai lima kali juga karena masalah bahasa. Tetapi.

Peneliti mengamati setiap sudut kamar Tini. Tini juga mengenakan jilbab dan baju kurung. proses wawancara dilakukan di kamar Tini. Berbeda dengan Linda dan Asfahana yang peneliti wawancarai di ruang TV. 21 Desember 2010 Tini adalah mahasiswi Melayu asal Malaysia yang mengecap pendidikan di FK USU. Masih dari pengamatan peneliti. terlihat Ia adalah muslimah yang taat. Pintu 4 USU : Selasa. Tini menempel kertas-kertas yang berisi ayat-ayat Al-Qur’an dan penggalan doa. Tini tergolong mahasiswi . Informan 10 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Kaarthini Arjunam : 21 Tahun : Perempuan : Kedokteran : 2008 : 2.memilih masak sendiri di kost. Secara penampilan. Peneliti mengenalnya dari Linda. Reaksi culture shock seperti homesick juga ia rasakan. sehingga peneliti dapat mengamati kehidupan dan kepribadiannya melalui isi kamarnya. 26.5 tahun : Jalan Tridarma No.

” Persepsi awalnya tentang Indonesia adalah budaya yang sama dengan Malaysia. malaysia indonesia pun budayanya sama la. Ia sering mendengar negatif tentang Indonesia. tepatnya Medan juga ada. Ia memberikan contoh tentang perbedaan dalam hal hubungan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia dan di negaranya. dia . Sama seperti kebanyakan informan. Berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terlalu dipermasalahkan di Indonesia. Apalagi cerita tentang “orang Batak. Tini juga terkejut. “persepsi mungkin orang ramai pun bilang macam hati-hati la. macam tu la orang ramai bilang. akibat konflik yang sering terjadi antara kedua negara ini. Tini juga mendapat nasihat untuk selalu berhati-hati selama tinggal di negeri orang. jadi Tini tidak terlalu mengkhawatirkan kehidupannya nanti di Kota Medan. baginya tidak biasa dan terlalu bebas. Karena di Indonesia ini kan banyak konflik antar indonesia dengan malaysia kan. Lepas tu ke medan lagi. makan orang” juga sampai ke telinganya. jadi harus hati-hati. Di Malaysia. kemudian peneliti mulai menanyakan pengalamannya. Tetapi setelah tiba di Medan. Ia melepas lelah sebentar. mereka bilang gitu jadi hati-hati nanti ada yang makan orang. tapi bila datang sini beda la. Ia juga sangat senang memotivasi diri. Tini pernah mengalaminya sendiri. ketika salah seorang teman prianya ingin menjabat tangannya untuk mengucapkan selamat ulang tahun dengan cara yang tetap sopan Tini menolak. Persepsi dan pendapat tentang Indonesia. takut nanti banyak orang jahat kan. di kampusnya dan melihat orang-orang Medan dengan segala kebiasaan dalam berinteraksi.yang rajin belajar. “awalnya tini kira budaya tu semua sama aja kan. tulisan semangat tertempel di dinding kamarnya. di sana kan banyak orang batak. ini adalah pengalaman pertama Tini datang ke Medan.

“FK masi ada kelompok-kelompok la. Tini lebih memilih untuk berbaur dengan keduanya. ada batas la. macam udah biasa gitu kan. Mereka memiliki program belajar bahasa Arab bersama. tidak hanya mahasiswa Indonesia tetapi juga mahasiswa Malaysia. malaysia pun berkelompok-kelompok juga. tapi terkadang kalau di depan umum tertutup gitu. kiranya macam pernah tidur sama di rumahnya gitu kan. Ia suka membuka diri dan pandai bergaul. Tini memiliki sepuluh orang teman mahasiswa Indonesia yang sering bersamanya. tapi tetap aja sukar. Tini memiliki banyak teman yang merupakan mahasiswa Indonesia.” Bahasa yang tidak terlalu fasih tidak membatasi Tini berinteraksi dengan orang-orang Indonesia. Tini terus berupaya mempelajari bahasa Indonesia. sebab mau tanya apa maksud ini itu kan. memang tak paham sama sekali la. lepas tu ada kata yang asing. Kadang ada satu kata yang sama ucap tapi maknanya beda. bahkan sesekali ia . Bersama teman-teman mahasiswa Indonesia. yang berjilbab aja pun kadang pegang-pegang gitu. contohnya macam pergaulan antar perempuan dan laki kan. itu kalau di umum. kalau di belakang kita pun gak tau kan. Tapi tini ada teman akrab indonesia juga la. Ia bahkan selalu meminta salah satu mahasiswa Indonesia untuk duduk di sebelahnya selama perkuliahan berlangsung untuk membantunya memahami materi kuliah dan juga interaksi dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Kita pun bebas juga. maksudnya lebih tinggi tu.” Beberapa bulan pertama Tini juga mengalami kesulitan bahasa. kurang berbaur. bukan indonesia aja. hampir sama memang kak. bahkan ia mengaku ia lebih sering melewati waktu dengan mereka. di malaysia gak biasa macam tu. Meskipun demikian. disana. cuman bahasanya aja yang sukar dipahami. agak malu macam tu la.bedanya kalau di sini kan sosialnya lebih tinggi la. lebih bebas dibandingkan malaysia. “interaksi gak terlalu macam mana.” Tini juga mengaku lingkungan FK USU masih cenderung berkelompok. karena memang jauh kali la beda bahasa. rangkul. kalau di medan. Dulu mulanya tu selalu di sebelah saya tu harus ada orang indonesia. Ia selalu ingin belajar.

“kalau di kost biasa-biasa aja la. tini lebih sering sama yang orang indonesia. Jadi ya sabar aja la. diam-diam aja. “sebenarnya kalau ikutkan. macet juga ada. pengendara yang sering menekan klakson dan melanggar lalu lintas. Ia bahkan terkejut dengan keadaan lalu lintas yang tidak teratur. Jadi. saya suka kali teman dengan mereka. sabar dan tidak terlalu ambil pusing membuatnya tetap mampu menerima keadaan.menginap di rumah temannya yang mahasiswa Indonesia tersebut. kalau di sana .” Perbedaan seperti keadaan jalanan kota Medan juga dirasakan Tini. ada 10 orang la kami. pengendara yang menekan klakson menandakan bahwa ia sudah sangat marah. jadi kami pun lain. kalau disini horn tu biasa kan. ada rasa macam tu juga kadang-kadang. Sesungguhnya ia juga merasa terganggu tetapi Tini memilih untuk tidak memperdulikan karena banyak hal lain yang lebih penting untuk ia pikirkan dan kerjakan. Di Malaysia. Kalau di bawah malaysia juga. kalau di sini kan gak teratur. sama yang di atas dekat juga. tegur-tegur gitu aja la. Sebab kami ada kayak belajar bahasa arab bersama gitu kan. “kalau lingkungannya itu memang beda dengan malaysia. jadi terkadang tidur rumah mereka. cuman india. Tini berupaya menjaga hubungan tetap baik sehingga tidak sampai menimbulkan konflik. keadaan ini sempat membuat Tini shock.” Hubungan dengan teman sesama penghuni kost cukup baik. disini kan tekan horn yang berkali-kali kan. berbeda dengan Linda yang lebih sensitif. temanteman tini yang indonesia itu memang baik-baik la. tapi memang lain la. kami memang lain sama mereka. disana pun macet juga. cuman tegur gitu aja. macam ada program gitu la. Selain itu. lambat laun bahasa tidak lagi menjadi masalah. Pribadinya yang berusaha untuk menerima. Banyak juga la. tapi tersusun. Keseringannya berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia. tetapi lebih teratur dan seluruh kendaraan tersusun. sebab mereka kan udah biasa macam tu. biasa aja.

seperti yang sudah peneliti jelaskan sebelumnya. “homesick memang selalu la. setiap harinya Tini menggunakan sepeda motor kemana pun ia pergi. banyak kali nangis. . karena baginya itu sangat tidak wajar. bahkan sampai sekarang. Selain itu. tapi mula-mula aja. dari hal-hal kecil. tetapi tetap saja terasa sukar. sebab Ia memiliki kendaraan pribadi. lepas tu main jalan aja kalau lampu merah.tekan horn itu udah macam marah gitu la. Awalnya ia sangat terkejut. salah satu contoh kalimat yang ditempel adalah “Kau harus semangat belajar.” Secara keseluruhan. Hal ini yang paling mencolok baginya. sudah tiga tahun ia menjalani kehidupan di Kota Medan dan Tini sudah mampu menyesuaikan diri. Tetapi untuk yang berlebihan sampai menangis hanya di awal kedatangannya saja. Homesick juga dialami Tini sebagai perantau di negeri orang. sekarang ada rindu juga tapi tak pala la. Kesulitan bahasa juga sempat ia alami di awal kedatangannya. survive! Nanti kau menyesal!” Kesimpulan kasus Tini mengalami culture shock karena perbedaan nilai-nilai dalam hal hubungan laki-laki dan perempuan. Meskipun bahasa Indonesia dan Melayu yang biasa digunakannya hampir sama. Motivasi dari diri sendiri untuk tetap berjuang hidup di negara orang untuk membawa cerita kesuksesan kepada keluarga di Malaysia memberikan semangat bagi Tini.” Masalah ketika berhadapan dengan supir angkot dan tukang becak seperti yang kebanyakan informan sampaikan tidak terlalu dirasakan Tini. seperti menempelkan kata-kata semangat di setiap sudut dinding kamar kostnya. Tini adalah pribadi yang sangat suka memotivasi diri sendiri. sering la.

Mansyur : Rabu. itu yang menjadi alasannya memilih USU. Informan 11 Nama Usia Jenis Kelamin Fakultas Angkatan Lama Menetap Alamat Tempat Tinggal Tanggal Wawancara : Lim Rui Liang : 24 Tahun : Laki-laki : Kedokteran Gigi : 2006 : 4. Merantau ke Medan juga hal perdana baginya. Ia suku Tionghoa. Lim ingin menjadi seorang dokter gigi. jarak yang dekat dan besar kesempatan untuk diterima. Lim datang ke Medan untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi USU. sesuai dengan . 22 Desember 2010 Lim merupakan mahasiswa co-ass di FKG USU. Dari pengamalatan peneliti. Ia belajar tentang Medan lebih banyak lagi bersama teman-temannya itu. bahkan ia mengaku ia lebih sering berkumpul dengan mahasiswa Indonesia dibandingkan dengan sesama mahasiswa Malaysia. Sejak tahun 2006 tiba di Medan. Lim memilih USU karena biaya yang murah. Dan yang terpenting.5 tahun ia melalui hidup di Kota Medan. Seperti informan kebanyakan. ia tergolong pribadi yang ramah dan suka bergaul. Ia mempunyai banyak teman mahasiswa Indonesia. berarti sudah kurang lebih 4.Pribadinya sangat ramah dan suka bergaul.5 tahun : Jalan Dr.

Lim pribadi yang supel dan mudah beradaptasi. sebab ada dentistry. menuntutnya untuk berbaur dan berinteraksi dengan mereka.” Pada masa awal kepindahannya. Perbedaan yang dirasakan Lim secara keseluruhan hampir sama dengan informan lainnya. “Sebab awalnya mau sekolah di university di malaysia. Tapi udah beberapa bulan perlahan-lahan la udah bisa mengerti. sebab FKG USU memiliki nama baik di negaranya.impiannya. apalagi bahasa. Misalnya bisa gitu kan. Tetapi karena ditempatkan pada kelas yang sama. dan terkenal juga di Malaysia”. itu sangat terasa di awal kedatangannya. atau lab praktikum gitu kan. “pertama kali memang sukar la. jadi mulai bergaul-gaul. Lim juga mengalami kesulitan ketika berkomunikasi karena kemampuan bahasa Indonesia yang kurang baik. cuman karena sukar masuk. lepas itu mahal juga. tapi di sana bisa cuman berarti racun aja. laboratorium praktikum yang sama dan juga harus terlibat dalam pengerjaan kelompok dengan beberapa mahasiswa Indonesia. tetapi perasaan itu tidak mendominasi. disini bisa berarti boleh. Lim memilih USU karena ada program studi Kedokteran Gigi. karena ada tugas bersama juga. jadi pilih usu aja. Lim kurang berbaur dengan mahasiswa Indonesia yang ada di kampusnya. tapi udah setengah tahun gitu ada la. berbaur. seperti makanan Medan yang terlalu pedas dan masalah perbedaan bahasa. sebagai pendatang yang baru memasuki lingkungan yang berbeda dan orang-orang yang juga berbeda. Ia tidak terlalu membatasi diri untuk bergaul dengan . nanti ada bahasa yang sama tapi artinya berbeda. “pertama kali memang belum berbaur la. Lim bingung dan tidak paham dengan beberapa kata yang sering digunakan di Kota Medan.” Merindukan lingkungan asal yang familiar baginya juga dirasakan pada awal kepindahannya. murah juga gitu.

orang lain, baik itu mahasiswa Malaysia maupun Indonesia. Untuk saat ini, Lim sedang menjalani co-ass di FKG USU. Orang-orang dengan karakter berbeda juga Ia jumpai, seperti pasien-pasien yang harus ia tangani. Masalah komunikasi juga ia rasakan, tetapi Lim mengaku itu tidak terlalu menjadi perSoalan besar untuk saat ini, sebab pengalaman 4,5 tahun dengan orang-orang Indonesia membuatnya sudah terbiasa. Lim juga memiliki banyak teman mahasiswa Indonesia, dan ikut juga banyak membantu proses adaptasinya. “saya orangnya ok ok aja, bergaul aja sama semau, kalau diajak ikut la. homesick mula-mula ada la. kalau waktu coass sekarang masih ada sedikit komunikasi yang sulit la, tapi masih ok juga, banyak teman bantu juga kan.”

Kesimpulan Kasus Lim mengalami culture shock terhadap perbedaan bahasa. Di luar maslah komunikasi, ia tidak terbiasa dengan makanan Medan yang pedas, tetapi itu dirasakan di awal kedatangannya. Ia merasa aneh untuk istilah-istilah tertentu yang digunakan di Medan. Kondisinya yang sedang menjalani co-ass di FKG USU menuntutnya untuk mampu berkomunikasi dan bergaul dengan orang-orang Indonesia, sebab ia mendapatkan orang-orang tambahan, yakni pasien-pasien yang ditanganinya adalah orang Indonesia. Seiring berjalannya waktu sembari belajar dari pengalaman praktik komunikasi bersama orang-orang Indonesia, Lim sudah mampu beradaptasi dan menikmati setiap kegiatannya di Kota Medan, khususnya kampus.

IV.2

PEMBAHASAN

Dari pengamatan peneliti, maka dapat dibuat pembahasan sebagai berikut: Peneliti hanya mengambil 11 informan dengan metode penarikan sampel bola salju (snowball sampling). Peneliti mendapatkan jawaban yang rata-rata sama mengenai culture shock yang dialami dan tidak mendapatkan data baru, sehingga peneliti menghentikan pencarian informan. Dari 11 informan tersebut maka peneliti membuat pembahasan yang dikaitkan dengan tujuan dari penelitian ini sendiri, yakni untuk mengetahui proses culture shock, reaksi culture shock dan upaya mengatasi culture shock pada Mahasiswa Malaysia di USU, sebagai berikut: 1. Proses culture shock Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam uraian teoritis bahwa culture shock adalah kecemasan yang timbul dan disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan Sosial dalam rangka perpindahan dari lingkungan familiar ke lingkungan baru (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 174), demikian pula yang dialami oleh informan, yakni mahasiswa Malaysia yang menempuh pendidikan di USU. Sebagai individu yang berasal dari negara yang berbeda dengan membawa segala bentuk budaya yang sudah tertanam dan melekat dalam diri individu tersebut, maka ketika memasuki kota Medan pada umumnya dan USU pada khususnya merupakan suatu pengalaman baru dan mereka pun turut mengalami gegar budaya (culture shock). Dikaitkan dengan tingkat-tingkat culture shock yang dikemukakan dalam Intercultural Communication Between Cultures (Samovar, Porter

dan Mc. Daniel, 2007: 335-336), maka dalam penelitian ini dibuat pembahasan sebagai berikut: a. Fase Optimistik (Optimistic Phase) Dari hasil wawancara dan pengamatan, kebanyakan informan melalui fase ini dimana mereka merasakan euforia dan semangat dalam menyambut suatu kehidupan yang baru. Kebanyakan informan memilih FK dan FKG USU selain karena biaya yang lebih murah, salah satu alasan utama mereka adalah kerena kedua fakultas ini memiliki mutu dan akreditasi yang sama dengan universitas terkenal di Malaysia. Dengan melewati proses seleksi melalui ujian akhirnya mereka lulus dan tercatat sebagai mahasiswa di FK dan FKG USU. Ini merupakan suatu kebanggaan yang memotivasi semangat mereka menempuh pendidikan di negara orang. Harapan untuk menjadi seorang perantau yang sukses dengan membawa gelar sebagai dokter tertanam dalam diri informan, seperti yang dikemukakan secara terang-terangan oleh Linda, Asfahana dan Kartini. Gambaran dan informasi yang diperoleh bahwa USU (kota Medan) adalah tempat yang secara umum tidak jauh berbeda dengan Malaysia juga mengiringi keberangkatan mereka, setidaknya menjadi harapan akan sesuatu yang akan baik. Penjabaran ini sesuai dengan definisinya bahwa fase optimistik ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan dan euforia sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru.

yakni pengalaman Amirah yang mengalami kesulitan dalam bahasa. Seperti yang dialami Linda dan Asfahana.b. . perbedaan nilai-nilai dan pola perilaku kultural (Rahardjo. Rata-rata informan merasakan perbedaan akan hal yang sama. Govin dan Harry terus terang dengan fasilitas dan birokrasi kampus yang kurang memuaskan dan terkesan menyulitkan mahasiswa. 2005). perbedaan nilai seperti kapan dan dengan siapa boleh berjabat tangan. Kemudian perbedaan lain akan cara pengucapan yang kuat dan terdengar kasar. mereka melalui masa dimana mereka dianggap asing. seperti bahasa. Pengalaman culture shock informan bukan hanya dengan orang-orang dan lingkungan kampus. Fase Masalah Kultural (Cultural Problems Phase) Fase ini adalah fase kritis dalam culture shock. misalnya jabat tangan antara laki-laki dan perempuan adalah sesuatu yang tidak biasa bagi orang Melayu Malaysia khususnya. misalnya ketika presentasi materi di kelas apalagi ketika saat ini Amirah sedang menyusun skripsi sebagai suatu karya ilmiah. Ia bahkan takut karena harus dimarahi dosen setiap kali melakukan kesalahan bahasa. kendala bahasa. baik lisan maupun tulisan. seperti ketika berkomunikasi. tertolak dan dimusuhi. Mereka juga menemukan perbedaan yang mencengangkan seperti merokok dan mencontek di lingkungan kampus. Informan merasakan berbagai perbedaan yang menimbulkan keterkejutan dan kecemasan dalam berinteraksi dan kontak langsung dengan lingkungan barunya. Mereka juga merasa bingung dan sangat tidak terbiasa dengan perbedaan-perbedaan yang ada.

sempit dan traffic jam di lalu lintas Medan. terutama mengenai bahasa. Para . Fase Kesembuhan (Recovery Phase) Setelah melewati beberapa tahun di Kota Medan. Pada fase ini pula ada rasa puas dan menikmati kondisi yang dihadapi. c. tetapi terhadap lingkungan kota Medan yang terlalu padat. d. Perlahan-lahan informan menemukan kenyamanan dan menghargai segala perbedaan sebagai bentuk budaya yang lain yang patut dihormati. akhirnya informan mulai mengenali lingkungan barunya. termasuk pola komunikasi dan sebagainya. misalnya ketika berurusan dengan tukang becak dan supir angkot. hanya saja mereka masih terus belajar tentang budaya baru tersebut. Tetapi. Fase Penyesuaian (Adjustment Phase) Dalam fase ini pendatang sudah mengetahui elemen kunci budaya barunya. juga cita rasa makanan Medan. seperti Linda dan Asfahana. Peneliti mendapatkan data gegar budaya (culture shock) tidak hanya ketika berkomunikasi. Rata-rata bahkan hampir semua informan mengeluh dan mengaku shock dengan kasarnya mereka bicara dan tarif yang dibuat sesuka hati. Merasa dibeda-bedakan dalam berinteraksi sedikit banyak juga masih dirasakan. Rata-rata informan mengaku tidak lagi mengalami sesuatu yang terlalu dicemaskan. kebanyakan informan mengaku sudah mulai menganggap itu biasa dan mampu beradaptasi.tetapi juga di luar itu.

Meskipun demikian masih terus berada dalam proses belajar akan budaya itu. merindukan lingkungan lama dan keluarga (homesick) yang mengakibatkan kesedihan yang mendalam selama beberapa waktu. Daniel. Upaya mengatasi culture shock Dari penelitian ini. Tetapi secara keseluruhan. peneliti mendapatkan hasil bahwa informan mengatasi culture shock yang timbul karena perbedaan-perbedaan yang . khususnya bahasa. menganggap tuan rumah tidak peka. gangguan fisik karena makanan dan udara yang tidak cocok. Porter dan Mc. 2. Dari penelitian ini ditemukan bahwa berbagai reaksi yang dirasakan informan adalah merasa ditolak. kebanyakan informan mengalami reaksi homesick. Informan juga melakukan hal-hal baru yang membuat mereka menikmati hidup di lingkungan yang berbeda dengan mereka. 3. Reaksi terhadap culture shock Perbedaan dan gegar budaya yang dirasakan menimbulkan kecemasan dan gangguan secara fisik dan psikis seperti dikemukakan (dalam Samovar. 2007: 335) mengenai beberapa reaksi terhadap culture shock.informan rata-rata mengaku sudah mampu beradaptasi.

Mengenai karakteristik informan. Linda dan Asfahana mengaku untuk semua hal. Asfahana dan Amirah memilih mengatasi culture shock mereka dengan cara bergabung dengan sesamanya mahasiswa Malaysia. Ini juga dimotivasi dengan kesadaran sebagai pendatang yang harus berinteraksi dan juga kebutuhan akan hal itu demi kelangsungan hidup. Govin.dirasakan dengan belajar dari si pemilik budaya. Perbedaan yang ada sedikit banyaknya mempengaruhi perasaan dan kondisi mereka. Reaksi culture shock juga lebih . Mereka bergaul dengan orang Medan (Indonesia) tidak hanya untuk urusan kampus saja. tetapi juga hang-out seperti belajar kelompok bersama. yakni tuan rumah. futsal. Lavanyah. bahkan menghilangkan stress skripsi dengan rencana berlibur ke luar kota seperti yang akan dilakukan Lavanyah dengan teman-temannya. ternyata Linda. Di tengah-tengah itu semua. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa perempuan lebih sensitif dan lebih lambat beradaptasi dengan lingkungan baru. pergi kemana saja dan melakukan apapun mereka selalu bersama. Tini dan Jonatan. serta Jonathan yang memiliki komunitas pencinta reptil dan amphibi. Seperti yang dilakukan Harry. orang Medan itu sendiri. Begitu pula dengan Amirah yang selalu berkelompok dengan teman-teman sesama mahasiswa Malaysia untuk sebuah kenyamanan dan menghindari masalah interaksi dalam hal apapun. Informan membuka diri untuk berbaur dan bergabung dengan mahasiswa Medan (Indonesia) di kampus atau bahkan di luar kampus. main billyard. dari penelitian ini juga ditemukan bahwa culture shock pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.

Sedangkan mahasiswa asal Malaysia di FK USU hanya berinteraksi untuk urusan kuliah saja. Dalam penelitian ini. Proses penyesuaian diri juga lebih lambat. merasa ditolak. Asal fakultas informan juga berpengaruh dalam proses penyesuaian diri. Lingkungan FKG USU yang lebih sempit dibanding FK juga membantu kedekatan mereka. memiliki komunitas dengan orang Indonesia. seperti homesick yang berbulan-bulan. maka proses penyesuaian diri juga lebih cepat. sehingga ini mempengaruhi intensitas interaksi mereka dengan mahasiswa Indonesia. Sedangkan laki-laki. perbedaan yang ada tidak terlalu ditanggapi serius. Jadi. cepat tersinggung dan menganggap tuan rumah tidak peka.terasa oleh perempuan. Lama menetap juga menjadi faktor yang mempengaruhi pemulihan keterkejutan budaya dan mencapai tahap penyesuaian. Kegiatan santai dan hang-out dengan orang Indonesia juga lebih sering dilakukan oleh mahasiswa asal Malaysia di FKG USU. menangis karena merindukan lingkungan asalnya. Adanya kerja sama antara mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Malaysia juga lebih terjalin di FKG USU. dikarenakan intensitas kontak dengan mahasiswa Indonesia lebih tinggi di FKG. Terbukti dalam penelitian . Mahasiswa FK USU cenderung berkelompok dibanding mahasiswa FKG USU. sangat jarang yang bergaul dengan orang Indonesia di luar kampus. dan hanya membutuhkan waktu yang cukup singkat untuk menerimanya dan beradaptasi. Kedekatan dan keakraban dengan mahasiswa Indonesia lebih terasa dan terbangun di FKG USU. mahasiswa FKG lah yang lebih dekat dengan mahasiswa Indonesia. laki-laki juga lebih cepat berbaur dan menguasai lingkungan. Selain itu. sering bergabung baik di kampus maupun di luar kampus.

meliputi pengetahuan tentang budaya yang dimasuki. Sedangkan faktor usia tidak berpengaruh. komunikasi sosial yang meliputi komunikasi interpersonal dengan . Adaptasi mereka juga sudah lebih menyeluruh dibandingkan dengan Linda. Harry. Kemudian. Perbedaan yang dirasakan dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya juga lambat laun diterima dan dihargai sebagai suatu budaya lain.ini. faktor komunikasi perSonal. Lim. Girthee dan Govin yang tinggal selama kurang dari tiga tahun. demikian sebaliknya. Tini. sudah lebih menerima dan beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Asfahana. Asfahana yang berusia 23 tahun lebih lambat beradaptasi dibanding Tini yang berusia 21 tahun. self image si informan sebagai individu dan juga motivasi yang mengacu kepada kemauan imigran untuk belajar tentang dan berpartisipasi dalam lingkungan budaya baru. komunikasi sosial dan lingkungan juga turut mempengaruhi. sesuai dengan variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi (dalam Mulyana dan Rakhmat. Begitu pula sebaiknya. informan yang sudah tinggal lebih lama di Medan. Harry yang berusia 23 tahun merasakan culture shock yang lebih ringan dan juga lebih cepat beradaptasi dibanding dengan Govin yang berusia 21 tahun. seseorang yang lebih tua tidak menjamin proses penyesuaian yang lebih cepat. Selain faktor-faktor yang tertera dalam karakteristik informan. 1993: 142). Perbedaan yang ada di Medan diterima sebagai sesuatu budaya baru dan berupaya untuk menyesuaikan diri. Lavanyah. Komunikasi personal seperti struktur kognitif. Jonathan dan Amir yang sudah menetap selama lebih dari tiga tahun mengaku seiring berjalannya waktu mereka sudah mampu beradaptasi dengan orang-orang Medan. mahasiswa yang berusia lebih muda juga tidak menjamin ia lebih cepat beradaptasi.

khususnya mahasiswa Indonesia di kampus mereka membantu penyesuaian diri mereka. 2001: 171) bahwa dalam membantu suatu komunikasi antarbudaya yang efektif. Pengetahuan Harry. padahal mereka tinggal dalam fakultas yang sama dan juga rumah kost yang sama. partisipan komunikasi harus memperhatikan empat . Mereka berpegang pada kesadaran akan adanya perbedaan dan kebutuhan akan interaksi. Motivasinya untuk bergabung dan bergaul dengan orang-orang Medan (Indonesia). Informan yang sadar bahwa dirinya adalah pendatang sehingga sewajibnya mereka harus beradaptasi dan termotivasi untuk belajar tentang bahasa Indonesia dan segala sesuatu tentang Medan. Dalam penelitian ini. juga termotivasi untuk lebih membuka diri. watak/kepribadian sebagai seorang individu juga berpengaruh. Sekiranya. ketiga faktor itu turut mempengaruhi dalam mengatasi culture shock dan penyesuaian diri. Govin dan Jonathan yang lebih luas tentang Indonesia melalui pengalaman mereka yang pernah berkunjung ke Indonesia sebelumnya sedikit banyaknya membantu penguasaan budaya dan interaksi dengan orang-orang Medan (Indonesia). Harry dan Govin mengungkap hal ini secara terang-terangan.orang-orang Medan (Indonesia) dan juga lingkungan kota Medan. dari penelitian ini benar apa yang dikemukakan oleh Schramm (dalam Liliweri. Motivasi diri untuk bergabung dengan orangorang Medan (Indonesia) juga mempengaruhi. dalam hal ini kampus FK dan FKG. Linda yang sangat sensitif merasakan terpaan culture shock yang lebih berat dibandingkan dengan Tini yang lebih cuek. bergaul dan bergabung dengan tuan rumah akan lebih cepat beradaptasi dan keterkejutan budaya yang dirasakan pun sembuh. Selain itu.

dan (4) komunikator antarbudaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya lain. (2) menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki.syarat. pihak tuan rumah. seperti kebiasaan untuk tidak berjabat tangan antara perempuan dan laki-laki yang diterima dan dipahami oleh orang Indonesia. Perspektif yang menyarankan bahwa . Dikaitkan dengan teori interaksionisme simbolik. yakni (1) menghormati anggota budaya lain sebagai manusia. Apa yang dikemukakan Schramm jelas terbukti dalam penelitian ini. (3) menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak. reflektif dan kreatif. hampir seluruhnya informan yang merupakan mahasiswa asal Malaysia di FKG USU lebih cepat berdaptasi dan memiliki intensitas komunikasi antarbudaya yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa asal Malaysia di FK USU. Peneliti menyakini perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Informan yang menyadari kondisinya sebagai pendatang berupaya untuk menerima perbedaan yang ada dan menghargai itu sebagai suatu budaya lain yang juga harus dihormati akan lebih cepat beradaptasi dan berinteraksi dengan lebih baik. bahkan dengan yang satu etnis dengannya. maka dapat disimpulkan bahwa memang benar individu bersifat aktif. seperti Amirah yang dalam kesehariannya sering berkelompok dengan sesama mahasiswa Melayu Malaysia. Demikian pula sebaliknya. serta menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan (Mulyana. Meskipun secara umum. 2001: 59). tetapi ada informan yang tetap berkelompok dengan sesamanya. yakni mahasiswa Indonesia di FK dan FKG pada khususnya berupaya untuk menerima mereka dengan perbedaan yang ada.

Govin. Mereka memberikan definisi yang lebih baik tentang orang Medan (Indonesia) dan menghargai perbedaan yang ada dibandingkan informan yang memilih berkelompok dan hanya berinteraksi untuk urusan kuliah saja. mendefinisikan dirinya sebagai pendatang yang seharusnya belajar budaya tempat yang Ia datangi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang ada . Sedangkan informan yang memberikan definisi yang cenderung negatif tentang lingkungan Medan dan orang-orang di dalamnya seperti Linda dan Asfahana yang memaknai situasi dan perilaku orang Indonesia yang tidak ingin berteman dengan orang Malaysia. sehingga akhirnya mendorong mereka untuk mau berinteraksi.perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Tidak hanya memberikan definisi terhadap orang lain. situasi. maka Linda dan Asfahana cenderung berkelompok dengan sesama mahasiswa Malaysia dengan segala bentuk kenyamanannya. Artinya. meskipun dengan berbagai kendala dan perbedaan yang dirasakan tetapi memperoleh pembelajaran tentang budaya Medan (Indonesia). melakukan komunikasi antarbudaya. Amir. bisa jadi informan yang lebih cepat beradaptasi seperti Harry. Kartini. Lim dan Jonathan memaknai lingkungan Kota Medan dan orang-orang di dalamnya sebagai sesuatu yang positif. Lavanyah. Informan yang lebih cepat dalam beradaptasi dan mengatasi culture shock yang dialami. definisi yang mereka berikan terhadap diri mereka sendiri juga mempengaruhi perilaku mereka. 2001: 68-69). objek dan bahkan diri mereka sendiri yang menentukan perilaku manusia (Mulyana. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain.

maka perilaku mereka cenderung lebih sering berkelompok dan hanya berkomunikasi seadanya untuk urusan perkuliahan. bahkan tentang dirinya sendiri. Lingkungan yang berisi sesama pendatang dengan asal yang sama memang dapat membantu proses penyesuaian dan penerimaan terhadap budaya lingkungan baru. dalam perspektif interaksionisme simbolik. Makna-makna yang ada bukan melekat pada objek. sedangkan informan yang mendefinisikan dirinya sebagai pendatang yang diasingkan. perilaku individu berdasarkan pada makna/definisi/penafsiran itu. tetapi alangkah baiknya upaya menanggulangi culture shock dengan belajar dan berkomunikasi dengan tuan rumah langsung demi penyesuaian diri. .didalamnya. melainkan diperoleh dan dikonstruksikan melalui interaksi. Jadi. ditolak dan berbeda. Hal ini dijadikan sebagai perlindungan bagi culture shock yang mereka alami. orang-orang Medan. situasi yang ada di Kota Medan. mahasiswa Malaysia memperoleh makna dan kenyataan sosial yang ada didasarkan pada definisi dan penilaian subjektif individu. Bagaimana penilaian/definisi yang diberikan mahasiswa Malaysia tentang lingkungan Kota Medan. Dengan berinteraksi. dalam hal ini mahasiswa asal Malaysia. maka berdasarkan itulah ia berperilaku.

. namun untuk beberapa informan masih mengalami beberapa masalah adaptasi seperti merasa diperlakukan berbeda dalam berinteraksi dengan penduduk lokal. Para mahasiswa asal Malaysia memiliki kecenderungan culture shock tergolong sedang. tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan masih kurang nyaman dengan perbedaan budaya yang ada. maka dapat ditarik kesimpulan: 1.BAB V PENUTUP V. Hal ini berarti mereka sudah bisa menyesuaikan diri.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian tentang culture shock pada mahasiswa asal Malaysia di Universitas Sumatera Utara.

lama menetap dan asal fakultas cukup berpengaruh terhadap culture shock yang dirasakan dan upaya dalam menanggulanginya menuju suatu penyesuaian diri. Dari penelitian ini. Rata-rata reaksi terhadap culture shock yang dialami adalah rindu pada rumah/lingkungan lama (homesick) dan gangguan fisik. pengetahuan dan juga motivasi. keadaan lalu lintas. Dari seluruh perbedaan. karakteristik orang Medan dan juga beberapa perbedaan nilai-nilai. bahasa yang dianggap menjadi persoalan dalam berkomunikasi. seperti sakit perut karena tidak cocok dengan makanan yang ada. kegiatan merokok dan mencontek di lingkungan kampus dan fasilitas dan birokrasi kampus yang masih belum memadai. peneliti memperoleh temuan mengenai culture shock yang dialami informan di luar interaksi komunikasi antarbudaya. Jenis kelamin. Culture shock yang dirasakan dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya ialah terhadap bahasa. . 4. 5.2. 3. 6. kuat dan kasarnya cara orang Medan berbicara. serta komunikasi sosial yaitu intensitas interaksi dengan tuan rumah dan lingkungan juga mempengaruhi proses adaptasi. yakni makanan. pengalaman sebelumnya. tetapi kebanyakan informan mengaku mengalami culture shock terhadap makanan dan lalu lintas kota Medan yang padat dan tidak teratur. Faktor personal seperti watak/kepribadian.

yakni beradaptasi dan memperbanyak teman orang-orang Medan (Indonesia). Hendaknya mahasiswa asal Malaysia mau belajar memahami budaya Indonesia pada umumnya dan Medan pada khususnya. V. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa upaya dalam menanggulangi culture shock menuju suatu penyesuaian diri.7. memperbanyak teman orang-orang Medan (Indonesia) dan meningkatkan intensitas keterlibatan dengan orang-orang Medan (Indonesia). yakni memegang prinsip sebagai pendatang harus bersedia untuk beradaptasi dengan lingkungan yang didatangi. maka peneliti perlu mengajukan beberapa saran: 1. 3. baik di kampus maupun di luar kampus. Hendaknya perbedaan dan keterkejutan budaya/culture shock yang dirasakan memotivasi mahasiswa asal Malaysia untuk terus belajar mengenal dan memahami budaya Medan yang merupakan lingkungan baru yang mereka datangi. 2. Hendaknya mahasiswa asal Malaysia yang masih memilih untuk hidup berkelompok dengan sesamanya karena kenyamanan yang dirasakan mulai . Tetapi.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas. Upaya lainnya adalah dengan tetap memilih berkelompok dengan sesama mahasiswa asal Malaysia dan berlindung di balik kenyamanan yang dirasakan selama berada denngan sesama. mayoritas informan melakukan upaya yang pertama.

karena hal ini juga akan membantu menanggulangi culture shock yang dialami menuju suatu penyesuaian diri. membantu dan menghargai perbedaan budaya yang ada untuk membantu proses adaptasi mereka juga.berupaya membuka diri untuk melakukan interaksi dan komunikasi antarbudaya dengan orang-orang Medan (Indonesia). serta membantu memberikan masukan mengenai upaya lain dalam menanggulanginya dan dalam mempercepat proses adaptasi mereka. 4. khususnya asal Fakultas Kedokteran USU meningkatkan sosialisasi dan toleransi dengan orang-orang Medan (Indonesia) 5. Hendaknya mahasiswa Medan (Indonesia) juga menerima mahasiswa Malaysia dengan baik. Hendaknya mahasiswa asal Malaysia. Penelitian ini juga dapat dijadikan referensi untuk penelitian lain yang sejenis pada kondisi atau subjek yang berbeda. 6. Penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan dalam melihat culture shock yang dialami etnis pendatang dan minoritas. .

Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Pengantar Antropologi. Jakarta: Kencana Daymond. 2006. Ardianto dan Bambang Q-Anees. Surabaya: Usaha Nasional Bungin. 1992. Burhan. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Metode Penelitian Kualitatif. 2007. 1990. 2007. Metode-metode Riset Kualitatif dalam Public Relations & Marketing Communications . Filsafat Ilmu Komunikasi. 2005. Jakarta: Kencana . Bandung: Simbiosa Rekatama Media Koentjaraningrat. Yogyakarta: Bentang Elvinaro. Robert dan Steven J.DAFTAR PUSTAKA Bodgan. Rachmat. Taylor. Christine dan Immy Holloway. Jakarta: PT Rineka Cipta Kriyantono.

New York: Mc. 2005. Bandung: PT Remaja Rosdakarya . Turnomo. Communication Between Cultures. 2007. Richard E. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Bandung: PT. Nakayama. Mc. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Nawawi. Alo. Komunikasi Antarbudaya Panduan Berkomunikasi Dengan Orang – Orang Berbeda Budaya . Jakarta: PT. Metode Penelitian Sosial. 2001. 2005. Remaja Rosdakarya ___________ 2005. Intercultural Communication in Context. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyana. Masri. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Metode Penelitian Kualitatif. Human Communication Konteks-Konteks Komunikasi. Deddy. Yogyakarta: UGM Press Rahardjo. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Jakarta: LP3S Tubbs. Larry. 2007. Judith dan Thomas K. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Marthin. Ripteka Samovar. Hadari. USA: Thomson Higher Education Singarimbun. 1995. Yogyakarta: Pustaka Pelajar ___________ 2004. Deddy dan Jalaludin Rakhmat. Lexy J. Graw Hill International Moleong. Stewart dan Sylvia Moss. 1995. Menghargai Perbedaan Kultural. Daniel. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Mulyana.Liliweri. 2005. Metode Penelitian Survey. Porter dan Edwin R. 2005.

Jakarta: Salemba Humanika Sumber lain: http://www. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi.West.cfm/understanding_and_coping_with_cultu re_shock (diakses pada tanggal 8 November 2010) http://www.com/2008/04/04/gegar-budaya-sebagai-proseskomunikasi-antar-budaya/#more-156 (diakses pada tanggal 7 November 2010) http://campuslife.suite101.antarasumut.usu. Richard dan Lynn H.ac.wordpress.com/pendidikan/usu-terima-40-mahasiswa-baru-asalmalaysia/) LAMPIRAN HASIL WAWANCARA .com/article. Turner. 2008.id/ http://dossuwanda.

apalagi tempat saya Kuala Lumpur banyak kali orang Indonesia.. meriah. : Perbedaan apa aja yang dirasakan? : Terkejut la kak. Hasslinda Binti Hassan P I P I : Apakah ini pengalaman pertama datang ke Kota Medan? : Ya kak. nasi tuh dibungkus besar-besar. busy betol” Kalo soal cuaca gak la pala cemana. kalo di Malay tuh kan tak ada yang macem tuh. gak rasa sunyi lah. mutunya pun baik. tidak pendiam. traffic tuh padat sangat.P I : Peneliti : Informan 1. Kita pun macam bangga sekolah kak sini. sebab di sana pun. : Apa yang Linda tahu tentang Medan sebelumnya? : Sering dapat cerita di sini banyak orang Batak. sikit aja. Lepas tu sebab Medan pun budayanya tak jauh beda dengan Malaysia. cuman jalan raya aja yang bising. : Kemudian perbedaan apa lagi? : Makanannya la. ini pertama kali datang ke Medan : Mengapa memilih USU untuk melanjutkan kuliah? : sebab USU cukup famous di Malaysia. lepas tu budaya pun tak pala beda.cukup baik lah P I P I P I P I P I P I P I . Jadi kalo disini makan sekali aja saya kenyang betol. : Apa yang dirasakan ketika akan pindah ke Medan? : Senang lah karena mau kuliah. tapi tak besar. : Ada rasa takut ketika ingin pindah ke Medan? : Cemas sikit ada la. tapi ada rasa cemas juga la mau hidup di negara orang. soalnya tak pala jauh beda iklim Indonesia sama Malaysia kan.jadi udah OK la. : Ketika pertama kali tiba di Medan apa yang Linda rasakan? : Pertama pasti langsung rasa ada beda la. : Kalau dengan orang-orangnya? : orang-orang sini ramahlah kak.

: Ada merasa perbedaan dari segi penampilan dengan orang-orang di sini? : Pakaian jelas beda la. Kalau ada salah paham pun tak ada saya anggap secara serius sampai sebabkan konflik macam tu. Tapi pakaian memang totally different la. tapi kadang hati-hati la. sebab saya pun bukan fashionable punya orang. : Apakah konflik itu mempengaruhi interaksi Anda atau kehidupan Anda di Medan? : Ya macam tadi la. sebab saya pilih USU sebab dekat dengan Malaysia. tak paham sama yang kawan cakap tu pasti la. kenapa mereka pandang saya macam tu kan. Padahal di Malaysia pun ramai orang Indonesia. Kalau sama kawan kampus tak pernah konflik la. : Linda tinggal dimana? : Kost di jalan Tri darma. jadi saya tak pikir la konflik tu. agak aware la. negara orang jadi jangan la buat masalah kan.P I P I : Pernah mengalami kesulitan dalam berkomunikasi? : Pernah la. Sebab saya yang datang sini. jalan seorang-seorang. Misalnya pagi-pagi kan. Tapi tak permasalahkan. yang dicakap tadi apa artinya. Pertama kali saya nak bertolak ke sini saya tak pikirkan itu. macam bebas gitu la. mereka kan berkumpul kan. Terkadang saya pun takut kan. : Apa pendapat Anda dengan konflik Indonesia-Malaysia? : Dulu konflik Indonesia-Malaysia kurang. sebab saya rasa orang kadang pandang saya kalau lagi jalan. lepas tu macam dari sana mereka pandang. saya mau pergi kuliah kan. kenapa mereka pandang? Kita buat apa rupanya kan? Macam tu la. tak terlalu banyak perbedaan. : Apakah pernah mengalami kendala bahasa dan salah paham dalam komunikasi? : Awal-awal itu jelas la. P I P I P I P I P I . orang pun bisa kenal pasti orang ini Indonesia atau orang Malaysia kan. tahun-tahun pertama. tak pernah la. Saya pun pelik juga. : Pernah mengalami konflik karena kesalahpahaman itu? : Oh. sebab pakai baju kurung orang dapat tau saya ini orang Malaysia. pergi seorang-seorang berani la. Cuman saya selalu biasakan kalau tak tau langsung saya rujuk kawan. tapi tahun sekarang ramai kan. macam agak hati-hati. kalau di Malaysia ada pakaian formak khusus kalau mau ke Universitas. jadi saya pun heran. Kadang juga kan bahasa di sini beda-beda. sebab bahasa pun beda kan.

tapi kami OK aja. macam tu aja. semuanya. kadangkadang macam ganggu. kan jadi tercabar. tak bisa tidur nyenyak. jadi kami macam agak tercabar.dia memang humble la. Macam kakak tengok tadi. Bukan mau musuh. saya gak mau begadoh macam tu. sebab kalau bertengkar kami juga yang rugi kan? sebab ini bukan negara saya. Pelik juga kalau orang macam tu kan? P I P I P I P I . dokternya. macam lepas makan tak basuh. macam cara tu orang.jangan la gitu kan. jadi kan saya rasa aduh. tapi kalau yang dua orang ini macam lain sikit. memang rendah diri. : Bagaimana interaksi dengan sesama penghuni kost? : Ah. jadi kami pun rasa terganggu. : Apakah ada usaha untuk memperbaikinya? : Kita uda bagi secara elok kak. cara percakapan tu orang macam kuat kali la. Adam Malik pun tak tau macam mana lagi. terkadang tengah tidur pun macam terjaga sebab bising tadi tu kan.P I P I : Kost sama teman-teman Malaysia juga? : Campur ada orang Indonesia juga la. gak ada kerja sama la. Tapi coass nanti kak adam malik aja. mereka baru aja. tapi udah tunjuk belang. Mereka baru masuk.. Asal gak totally ganggu tak apa la kak. tapi sebahagian. saya terganggu. : Jadi hubungan Linda dengan mereka memang tidak baik ya? : Kita pun bukan mau macam tu kan. cemana mau bilang ya. Tapi ada la kami yang tak suka. sebenarnya kami yang pindah sini duluan. mau buat cemana lagi kan. itu la. cara pakaian tu orang macam mana kan? Cara mereka bercakap pun agak kasar. belum coass lagi kan? Banyak benda yang perlu saya pikir daripada pikir dua orang ini kan. Mereka bawa kawan laki-laki lagi ke rumah. bukan saya cakap semua. tapi ini orang macam keras sikit la. Gak ada kerja sama la. ah. buat bising-bising. Ada yang seorang. tak respect la. sebab saya pun masi lama disini. tapi tetap tak bisa pikir la. orang-orangnya. kenapa macam tu kan? : Jadi itu benar-benar buat Linda terganggu ya? : Iya kak. terkejut juga la liat tingkah itu orang. macam lain. Jadi kami kadan tegur kadang-kadang gak tegur. Saya coba duduk kak posisi orang indonesia cemana rasanya. Gak tau la pandangan mereka orang cemana kan. cuman memang udah macam itu adanya kan. tak ada di sini. Sabar aja la. cuman mereka pun tak respect la. : Pernah sampai bertengkar atau ada konflik? : Gak la. jadi kami pun.

Jarang kali dibuka. Kalau di Malaysia memang tak bisa la kak. rasa pelik betol la. Kalau ada merokok ada sanksi.Sebab saya pun mana ada nak kutuk-kutuk kan? Saya konflik-konflik macam tu benci la. dosennya pun merokok pula. : Bagaimana dengan media di Malaysia? : Di Malaysia pun ada. Mau nonton apa-apa semua gosip.Pertama saya juga yang buka mulut kak. happiness boleh dapat la. bedakan orang Malaysia dengan Indonesia. TV ini letak di situ aja kak. sebab saya tak mau nonton la. tapi kenapa tiba saya yang datang sini mereka macam ada beda gitu kan?macam rasa unfair la. : Selain itu. hormat. Itu culture shock sangat bagi saya. merokok kan tak elok kan. apalagi FK. media apalagi kan? : Linda sering nonton berita tentang konflik itu di TV ya? : Ah. buat apa yang kita buat aja. ada juga teman Indonesia. Jadi ya gini-gini aja. kalau yang gosip macam itu saya tak minat la. kenapa harus beda-beda kan? Sebab perdana menteri atau pemerintah sekalipun tak ada cemana kali kan? Rakyat aja yang terlalu menggembar-gemborkan. asal tak betol-betol mengganggu tak apa la. perbedaan-perbedaan apa lagi yang Linda alami dan membuat terkejut? : Satu ini la kak. belajar di negara orang gini. tapi ini tak.macam denda gitu. : Linda merasa dibeda-bedakan/ditolak? : Ada la. P I : Jadi bagaimana cara Linda mengatasi masalah ini? : Ya kita pun harus profesional kan? Endah tak endah aja. udah nasib la dapat kostmate macam ni. tak dapat terima saya. Maybe ambil sebagai dugaan la. : Linda lebih sering dengan sesama Malaysia atau bergabung dengan Indonesia? : Lebih malaysia. cuman tak banyak kali macam sini. rokok. sebab saya gak minat la. sebab di lingkungan kampus kak. kadang macam tengok aja acara adat-adat kah. mereka friendly. kalau respect each other memang best la. masak-masak kue kah. kampus kedokteran harusnya tau kesehatan kan. tapi memang tak gitu rapat la. saya udah rasa OK la sebab di kampung saya banyak orang Indonesia. mereka sendiri yang datang kak kita. Sebab orang indonesia ramah kan? Yang ini agak lain sikit la. mereka tak pernah la cakap duluan. Kalau di dalam U tak boleh ada merokok. Sebab kami pun disini apa salahnya kan? Agak respect la sikit kan. mana ada yang perfect kan? Saya rasa satu aja la. Aduh. respect. Saya rasa sedih juga la. Saya P I P I P I P I P I . cemana la.

: Kalau di kampus. rindu sama famili. tapi ada juga kawan daripada orang Indonesia. pulang ke malaysia nanti pun sama. Linda lebih sering bergabung dengan teman sesama Malaysia atau berbaur dengan yang Indonesia juga? : Dengan yang benar-benar friendly la. sebab di sini tu kurang. Jadi. mereka saja yang boleh beri dukungan. jadi mereka kurang la memotivasi kawan. : Ada perkumpulan mahasiswa Malaysia di kampus? :Ada kak. Kadang suara mereka agak kuat sikit. sedih la kak. sebab saya pun masi lama juga di I P I P I P I P I P I . saya pulak la yang harus adaptasi kan? Tak mau la saya betingkah.shock betol la. respect each other. jalan ke luar. Orang-orang sini tu. pasti baikla. mau belajar pun seorang-seorang. Kurang perhatian la. karena ada dia saya pun bisa terbantu la. saya tu nangis seorang di kamar. bagaimana Linda mengatasinya? : Saya kemana-mana berdua sama Asfahana kak. P : Itu kan pengalaman interaksi dengan orang-orang di dalam kampus. tapi lebih sering sama Malaysia. : Sampai saat ini apakah masih ada masalah yang belum bisa diatasi? : Sekiranya tak ada masalah betol. kadang mau beli yang tutup mulut tu la biar gak ikut kena kan. Saya butuh motivasi. pulangnya. PKPMI (Persatuan Kebangsaan Pelajar-Pelajar Malaysia di Indonesia) : Pernah merasakan homesick? : kalo homesick sampai sekarang saya masi rasalah. jadi saya butuh support dari famili la kak. Sama satu lagi nyontek kak. kemana-mana pun naek angkot sama becak juga sekarang. tapi tak rapat la. bisa kena buang dari U. bagaimana dengan interaksi dengan orang-orang di luar kampus? : Tukang becak la kak sama supir angkot. tapi namanya saya yang datang ke negara orang. : Dengan semua pengalaman perbedaan itu. namanya di negara orang kan. mau ke kampus. saya jenis orang yang suka ramairamai la. hanya saja yang tadi itu la. Kenapa di kampus pun boleh macam tu? Kalau di Malaysia tak boleh kak. Terkadang kan kak. student apa-apa sendiri-sendiri. tapi udah OK la. sebab saya pun tak tahan la.

lebih sopan gitu la. padahal kita gak tau dia siapa. Medan pasti beda la dengan Malaysia. lingkungannya. P : Apakah peralihan dari Bandung ke Medan membuat Govin shock? I : Iya. punten ya pak” gitu. gak ada bilang permisi.. sebab beda la. kita gak kenal siapa dia. Saya kadang pikir. tapi kalau Indonesia gak. sebab saya pikir kenapa kasar gitu ya. gimana orangorangnya. 2. bagaimana persepsi Govin tentang Medan. tapi bahasanya kayak kasar kali. di sini bukan mau kata gak sopan. orang di sana lembut-lembut. apa yang Govin rasakan? : Jadi. masih banyak benda yang perlu dipikir. : Setibanya di Medan. kok mereka gak friendly ya. jalan aja. kalau bandingkan Medan sama Bandung. orang-orang sana lebih lembut. oh. baru saya tahu. mau coass lagi. Tapi saya lebih shock di sana. jadi buat baik aja la. langgar aja. tidak friendly itu sesuatu yang membuat Govin terkejut? : Iya. Contohnya kita sedang duduk di sini. tapi mereka bilang “permisi ya pak. mengalami kontak langsung dengan semua yang ada di sini. Cara bicara mereka. jadi saya rasa bedanya di situ. gimana tempat penginapannya. terlalu sopan. ada orang yang lalu gitu. sebab orang-orangnya terlalu lembut. Saya pikirkan gimana tentang makanannya. Kita berdiri. Jadi culture shock itu saya rasakan apabila tau orang-orang itu kayak gini. ternyata mereka kasar kali ya. : Jadi cara bicara yang terdengar kuat dan kasar. Tapi di sini lebih dekat dengan Malaysia la gitu. Govin Raj Perumal P I : Apakah ini pengalaman pertama ke Medan? : Kalau Medan iya. tapi disini gak. kenapa ya dia harus buat gitu? Terasa pelik. : Bagaimana interaksi dengan teman-teman mahasiswa Indonesia di kampus? Menurut Anda bagaimana orang-orang Medan? P I P I P I P .sini kan. Sebelumnya saya pernah kuliah di Bandung selama setahun buat kayak pertukaran pelajar SMA gitu. tapi di sini gak ada kayak gitu. orang-orangnya? : Sebelum saya datang ke sini. : Sebelum pindah ke Medan. pun ada pikir juga la.

macam Palembang. Mereka masih pergunakan kata seperti boleh. ayo. Kadang ada juga mereka yang mau tegur saya macam gitu kan. saya rasa orang Medan. apalagi kalau uda dekat libur akhir semester. Jadi saya biasa aja la. Palembang. gak rapat. mungkin dalam hal bahasa atau yang lainnya? : Kalau bahasa. Surabaya. kalau gak ya gimana mau buat lagi kan. Jadi. terlalu pekat. Memang dari tahun 2008. Kalau orang yang datang dari luar. gak tau kenapa. mereka gak gunakan bahasa yang terlalu asli. ada yang gak mau ngomong-ngomong sama kita. ada dari Bandung juga. Saya mau lebih rapat dengan orang-orang Medan sini. : Apakah Govin sering rindu dengan Malaysia? : Rindu pasti ada la.I : Orang-orang sini kan kayak gak mementingkan sosialisasi gitu. dong. Govin tidak ada masalah? Apakah sudah mampu berkomunikasi dengan baik? : Karena pengalaman di Bandung itu. Tapi orang asli Medan gitu gak ramah. mau ngomong sama kita. Surabaya mereka lebih ramah. sama semuanya la gitu. P I P I P I P I P I P I . : Kalau dengan bahasa Medan sendiri. mereka gak mau menegur gitu. : Apakah Govin berbaur dengan teman-teman Indonesia atau berkelompok dengan sesama Malaysia saja? : Saya bukan orang yang mau macam itu. lebih rapat. Tapi kalau di Bandung dulu mereka terlalu asli bahasanya. tetap saya yang rapat tu banyakan dari luuar. Intonasi suara. tak ada. Jambi. sih. banget. apakah Govin pernah mengalami masalah. saya pun gak tau gimana mau diperbaiki lagi. : Disini tinggal dimana? : Di Komplek Tasbi 2 : Bersama teman-teman sesama Malaysia atau campur dengan non Malaysia? : Kita kontrak rumah sama anak Malaysia. kalau yang gitu seronok la. Contohnya kayak perkataan gimana ya. tapi karena mereka pun sosialisasinya kurang. siapa yang mau ngobrol dengan saya. jadi gak pala masalah lagi. jadi lebih kurang sama kayak dengan Malaysia. pergerakan bibir. memang sebulan pertama di sana itu saya rasa kayak di planet lain. Mereka buat kayak pura-pura gak tau. saya udah bisa la bahasa. Kalau mereka lihat kita. semuanya pekat gitu. sosialisasinya macam gak ada gitu la di sini. : Selama berkomunikasi dengan orang Medan di sini. Walaupun teman satu kuliah.

macam main futsal gitu. sakit perut terus. Berbicara dengan mereka itu sulit kali la. : Jadi Govin selalu mengalami kesulitan kalau berurusan dengan imigrasi? P I P I P I P I P . Kami sering main sama. macam udah ini la hakikatnya. Kalau becak. mereka udah tetapkan sistemnya. ada yang gak mau tegur. lepas itu makanannya saya rasa susah dikit. besok mereka bilang dua puluh. : Apakah ada perbedaan lainnya yang Govin rasakan selama tinggal di Medan? : Itu tadi la. kita harus benar-benar menjaga hatimereka gitu. Kalau di sini ganti. sekarang udah robah jadi sistem blok atau KBK. Kalau bisa sistemnya yang lebih gampang la. Tapi udah lama-lama makanan pun udah bisa adaptasi la. Seminggu pertama itu dapat mencret. dibeda-bedakan atau ditolak orang-orang Medan (Indonesia)? : Awalnya macam saya bilang tadi. Kalau kita mau jadi normal gak bisa gitu. kadang kalau terpaksa naik. Jadi gak ada konflik la. Saya pun gak tau apa yang mereka harapkan dari kita. : Jadi kalau mau kemana-mana Govin menggunakan apa? : Naik angkot. Satu hari satu harga gitu. tapi ada juga yang mau tegur. sudah tradisinya disini. kita udah ngomong baik pun kadang gak mau. Kemudian lagi itu dengan orang imigrasi la kak. konfliknya itu selalu sama tukang becak la. jadi gak berubah-ubah gitu. Ada lagi yang mengeluarkan kata-kata yang gak perlu dikeluarkan gitu “ah kamu Malaysia bayar aja la lebih” gitu. main futsal sama. becak. : Govin pernah merasa diasingkan. kita pun rasa kenapa ya mereka bilang kek gini? Jadi kami pun malas melayani mereka gitu. saya rasa harus ditambahi lagi. harus jadi lebih berbaik la. gak pernah. mereka itu lah masalahnya. maksud saya gak usah susahkan mahasiswa gitu. sebab mereka itu terlalu tidak mengendahkan gitu. Tapi itu tak saya anggap sebagai masalah la. ya naik la. hari ini kalo mereka bilang sepuluh. waktu saya masuk sistem semester. harus lembut kali.P I : Selama ini pernah mengalami konflik dengan orang-orang Medan (Indonesia) : oh. kayak misalnya kelas praktikum di kuliah gitu. atau sama teman naik kereta. : Kemudian ada perbedaan lainnya? : Fasilitasnya la. di Malaysia. Kalau di sana. Kalau mau ke imigrasi itu. Saya rasa susah kali.

tapi kalau ada apa-apa mau tanya gitu kan. Kayak Putra. lab sama. kayak yang saya bilang itu la. : Di antara keduanya. ada yang sama anak Malaysia aja. : Apakah masih ada masalah yang sampai sekarang belum bisa diatasi? : gak la kak. perkara logika. banyak la. saya suka bergaul. Fengsini. apakah Govin sering bergabung dengan teman-teman Indonesia? : Iya kak. Senang aja kak. jadi gak akan ada masalah. bukan waktu di kampus aja. kita kan gak kemana-mana.I P I : Iya kak. berkenalan gitu. kami kenalan gitu. : Selama ini. mereka liat aku. : Apakah pernah ada masalah interaksi lainnya dengan orang-orang Medan (Indonesia)? : gak pala juga la. : Apakah Govin punya teman baik (best friend) orang Indonesia? : Banyak kak. Govin lebih sering berkumpul dengan sesama mahasiswa Malaysia atau berbaur dengan mahasiswa Indonesia? : Saya gini la kak. udah 3 tahun di sini. kalau semua mau elok bergabung. saya tanya dua pihak. memang teman aku teman aku. Lainnya itu OK la kak. pasti ada kebaikan dan keburukannya. jadi udah bisa la. kalau di kampus itu kan. : Jadi. gak bisa dikit pun ada kesalahan bahasa gitu. kalau disini ada dua kelompok. ada yang mau gabung. Biasa ya kak. kalau kita buat suatu yang baru. secara keseluruhan Govin sudah mampu beradaptasi? : udah la kak. main futsal sampe sekarang pun sama. Pertama semester 1 itu. Kalau saya. gak maju. teman Malaysia itu teman aku. macam tadi itu la. praktikum sama. pas aku lalu kelas mereka. P I P I P I P I P I . kita mau tetap aja dengan apa yang kita ada. karena mereka pun kadang mood nya gak baik. mungkin macam dosen.Viktor. macam bahasa pun harus benar. gak ada la pilih kasih sebab sama Malaysia gitu. lepas itu mereka tanya. pasti bisa semua la. suka kali berinteraksi. Kalau kita gak mau buat suatu yang baru. Tapi ada juga yang harus hormat gitu. tambah pengalaman di Bandung pun kan. Ada yang gak terlalu pentingkan hubungan antara dosen dengan mahasiswa. di luar pun main sama.

itu la.mereka yang benar la. : Pertama kali tiba di Medan. : Sebelum ke Medan. Pertama kita sampai itu. Harvinderpal Singh P I : Apakah sebelumnya Harry pernah ke Medan. Jadi disitu kan banyak orang Batak. apa persepsi Harry tentang kota Medan atau orang-orangnya? : pertama waktu di Malaysia kan. daerah simpang pos. mereka melalui proses penyaringan dulu. : Perbedaan apa saja yang dirasakan? : Makanannya susah la. karena di sini banyak pake santan. saya kerapkali sakit. minum pun bisa. dai teman-teman bilang itu cerita lama. gara-gara gak cocok juga dengan airnya di sini. mencret. Habis beberapa tahun. di Malaysia gak. angkot pun gitu la. ini udah modern. : Bagaimana dengan orang-orangnya. Ada pertukaran pelajar malaysia. akreditasinya sama dengan Malayia. persepsi saya tentang orang Medan itu mengerikan. : Mengapa Harry memilih USU? : Karena dekat dengan Malaysia. macam kotor gitu la. kita kan gak cocok sama makanannya. atau ini yang pertama kali? : Pernah. jadi bersih. apalagi orang Batak kan? Saya kan pertama kali sebelum tinggal di Komplek Tasbi tinggal di Padang Bulan. sama aja. cuman orang becak aja la yang gak mesra. Jadi kalau makan santan itu dapat sakit perut. Tapi sekarang makanan udah bisa lah. ada sopannya.3. Jadi sebelum kita mau studi di Indonesia. sebelum airnya sampai ke rumah-rumah. suatu hari nanti mereka akan potong kamu. murah. waktu di SMA Raksana. ramah tamah kan. kita gak senyum sama mereka. P I P I P I P I P I . kan kalau disana sumber airnya satu. udah gak ada kayak gitu lagi. ini la. Cuman memang kalau kita liat orang yang mukanya ngeri-ngeri itu memang Batak asli lah kan. Kita mau bilang harga lain gak bisa. jadi waktu di situ saya takut keluar sendiri. di sana kari yang banyak. Mereka approach. mesra la pokoknya. kita dtang untukmenyesuaikan diri dulu 6 bulan pertama.mereka simpan di hati. Saya dengar cerita kalau mereka senyum sama kita. Bulan pertama saya sampai sini. gak usah khawatir. apa yang Harry rasakan? : Walaupun agak sama dan dekat tapi juga ada beda lah. apakah Harry mengalami masalah dalam berinteraksi? : orang Indonesia semuanya baik la.

: Kalau di kampus Harry lebih sering berkumpul dengan teman sesama Malaysia atau berbaur dengan yang Indonesia? : Kan ada orang yang sifatnya kalau saya Cina saya mau teman sama orang Cina aja. Tapi dulu. apa yang kamu ngomong itu ya. saya mix dengan semua. untuk saya gak anaeh. Bila kalian. Seminggu dua kali. tapi kalau saya gak. tapi bahasa yang saya gunakan itu bahasa Malaysia. di sini saya punya banyak teman Indonesia. orang mengejek-ejek gitu la. pertama kali saya ada masalah interaksi itu waktu SMA di Raksana itu. : Berapa lama akhirnya Harry bisa menguasai bahasa Indonesia dan berkomunikasi dengan baik? : Saya sebentar aja. saya India sama orang India aja. Saya gak mau pandang orang hina. smenjak saya udah punya kereta. pertama kali datang itu yang menjadi persoalan. saya cepat tangkap. Yang paling akrab dengan saya orang Indonesia yang ada. jadi udah bisa tangkap la. lanjut les bahasa. kadangkadang saya rasa putus asa lah berurusan sama orang becak itu. Saya langsung praktekkan.P I : Jadi kalau ke kampus atau pergi kemana-mana menggunakan apa? : Saya udah beli kereta. P I P I P I P I P I . perbedaan apa yang paling terasa? : Bahasanya la. becanda. gak ngerti saya. Inggris. Gak ngerti dengan bahasa. : Setibanya di Medan. Waktu itu ada cewek yang suka dengan saya. saya gak pernah naik lagi. Perancis. Waktu di sekolah itu saya belajar bahasa dengan orang disitu kan. jadi saya ngomong-ngomong dengan orang sekitar. gitu lah. untuk kalian aneh. kan ada banyak bahasa di Indonesia. saya bisa banyak bahasa. saya kan cepat gaul. jadi saya belajar. diajarkan bahasa dengan cewek itu. Saya suka belajar bahasa. India. Cina. orang Indonesia yang cakap bahasa kalian saya yang rasa aneh. : Setibanya di lingkungan USU. apa ada masalah baru atau sesuatu yang membuat Harry shock? : Sebenarnya. kok gitu. Saya gaul dengan semua. sebelum saya beli kereta. lepas itu gak ngerti dengan apa yang diajar oleh dosen pengajarnya. ya kayak gitu la. : Jadi bagaimana cara Harry mengatasinya? : Jadi saya ambil waktu belajar les dengan guru bahasa Indonesia. mereka merasa bahasa saya yang aneh. sebulan dua bulan udah tangkap bahasanya. Pertama kalau ngomong sama mereka. sehabis pulang sekolah.

Lepas tu udah biasa. tangkap semua lah. jadi sepatutnya jangan diungkit. sebab kita kan ke sini maksud mau belajar. : Harry tinggal dimana? : saya tinggal 4 orang. Media yang angkat itu lebih banyak biar rakyat yang naik. jadi saya gak buang waktu. sebab itu urusan negara. langsung belajar. saya usaha langsung cari teman. jadi ok lah. 3 cewek. nanti aja lah. semua udah lancar. tapi sebentar aja. Bilang serumpun tapi masih juga mau ada masalah kan? Jadi saya rasa gak perlu ada masalahmasalah lah. selama ini Harry mengatasi semua perbedaan dengan cara bergaul dengan orang Indonesia? : Pertama kali sampai USU. : Pertama kali tiba di Medan. nanti sampai kapan mau ada kan. kalau dari awal aja kita udah rasa sifat seperti gak mau lah. Tapi semester ini gak pulang. Gak lah. apakah mengalami culture shock? Perbedaan apa yang dialami? .P I : Jadi. Malaysia semua. karena kita pun mau belajar kan. gak ada rasa takut. media yang memprogandakan lagi. : Bagaimana pendapat harry tentang konflik antara Indonesia dan Malaysia? Apakah mempengaruhi interaksi Harry dengan orang Medan (Indonesia) di sini? : kalau itu sebab media la. ditundatunda. Itu antara government Malaysia dan Indonesia. P I P I P I P I 4. butuh bantuan la. kalau ada waktu saya pulang. Udah hampir 5 tahun. Mereka lah yang tambahkan api-apinya. kalau gak ngerti tanya teman. Amirah Fahimah Binti Ahmad Tarmizi P I P I P : Apakah ini pengalaman pertama datang ke Medan? : Ya. di Kompleks Tasbi 2. panas gitu kan. Soalnya kita mau belajar di sini. saya seorang aja yang cowok. : Sejauh ini apakah masih ada masalah yang belum diatasi? : Gak lah. pertama kali ke Medan : Mengapa memilih USU untuk kuliah? : Sebab pemerintah yang hantar ke sini. gitu la. sebab skripsi. : Apakah pernah merasakan homesick? : Adalah.

culture shock nya itu. disini lauknya sikit. karena jadwalnya lain. kenal gitu aja. : Amirah punya teman baik orang Indonesia? : Kalau teman yang best friend gitu gak la. : Dengan segala keadaan di sini. tapi udah bisa lah. kalau perkataan itu kan. Jadi saya rasa terkejut la liat perempuan gitu. bahasa pun beda. P I P I P I P I P I P I P I P I . : Selain bahasa. ada perbedaan apa lagi? : First time datang dekat Medan. sebab gak biasa kan. kalau kuliah. mereka pun cakap lain. kami cakap lain. gak rapat macam yang sama Malaysia? : Jadi.macam gitu lah. Teman kenal gitu aja. satu-satu huruf. Kalau ada holiday pun pulang ke sana. bagaimana Amirah mengatasinya? : Mula-mula datang sini tak banyak cakap lah. tapi kira gitu masih dapat lah yang nak disampaikan. apakah pernah mengalami masalah dalam berkomunikasi? : Komunikasi itu mula-mula ada maslah juga la. jerit-jerit gitu kan. ayat itu kan ada lah juga salah interpretasi. : Apakah Amirah juga berbaur denngan orang-orang Indonesia atau teman-teman mahasiswa Indonesia? : Awal mula semester 1 itu sering campur lah. jadi lebih banyak mendiamkan diri. dari pertama tiba. : Jadi. : Selama ini. : Bagaimana dengan orang-orangnya? Karakteristiknya mungkin.I : Lebih ke bahasa ya. budayanya? : Di sini itu suara perempuan itu keras-keras. lepas tu. mobil-mobil banyak tekan horn. sebab lebih biasa. sampai sekarang Amirah lebih sering berkumpul dengan teman-teman sesama Malaysia saja? : Iya. sebab jauh kan. banyak mendengar gitu la. apakah Amirah sering merasakan homesick atau rindu keluarga di Malaysia? : Homesick pasti la. nasinya banyak. Makanan juga lah. tapi gak rapat macam ini. lebih paham kan. lagi sampai Polonia terkejut tengok macetnya itu lain. dengan kondisi yang seperti itu. Lebih sama Malaysia lah. tapi sekarang sebab skripsi udah jarang. semua pisah. pahamnyapun lain.

bisa kasi mengerti gitu kan. actually. actually ada like this. apa yang Lavanyah rasakan? Apakah merasakan perbedaan-perbedaan yang membuat Lavanyah terkejut? : Hari pertama kita ke FKG. Medan itu seperti Penang. Itu sebenarnya 3 hari. agak payah. Nanti mereka bilang kamu mau yang mana? Mereka bilang USU. karena mereka kata macam Penang. because like i never eat la. but macam perkenalperkenal aja. gak betol gitu. pas OSPEK itu. like seram kali. tapi 1 hari aja kita pergi. terrible la yang OSPEKnya. : Setibanya di Medan. everything la. Mereka explain. makanannya. Jadi untuk tulisan itu memang sukar kali la. Kami selalu kena marah dosen. baru kasi dosen pembimbing. Kalau penulisan lah yang susah. Mereka bilang kalau pilih USU lebih gampang sebab seperti Penang juga. Lepas itu kita disuruh makan “jempol”. Senior itu semua jerit-jerit. Berapa jam aja. apa? : Jempol? Jengkol ya maksudnya? : Hah.P I : Sampai saat ini. ok sorry. kami pun gak tau apanya yang dibilang. sekarang kan mereka bagi note. kemudian minta teman dari Indonesia baca dulu. mula-mula kan kita ke education fair. itu udah rasa seram kali. Lepas itu hari yang keesoknya kami disuruh bawa barang-barang itu kan. sebab waktu itu kan gak erti kan? Tapi sekarang dengan senior udah ok la. jengkol. lepas tu gak pergi lagi. : Mengapa memilih USU untuk kuliah? : Ok. waktu itu masuk OSPEK. Aduh. Lavanyah Rajagopal P I P I : Apakah sebelumnya pernah ke Medan? : oh iya la. Di Malaysia. jadi perbaikan-perbaikan. ayah saya kata pun ok la ke Medan aja. tak bisa macam ini. P I P I . Lepas itu semua orang muntah-muntah. So. culturenya kayak Penang. apakah ada masalah yang belum bisa Amirah atasi? : Bahasa lagi lah masalah juga. dimarahi lah karena penulisannya salah. Udah pertama kali masuk aja mereka jerit-jerit. So. P I 5. kalau ngomong kan kita bisa rujuk. ini pertama kali datang dekat sini. : Jadi bagaimana dengan skripsi Amirah? : Ya itu lah yang agak sukar.

She wants comes to KL. Jadi kita rapat lah. we can adapt lah. apakah Lavanyah sering mengalami homesick? : Homesick pasti ada la. kita bagi penelitian sama-sama. : Lavanyah berkomunikasi/berinteraksi dengan orang Indonesia hanya untuk urusan kampus saja atau juga untuk urusan luar kampus? : Ya la. sebab really stres skripsi. oh ini kek gini. Kalau tak erti saya tanya.P I P : Selama di Medan. ada sedikit yang beda pasti kan. Saya kan bahasanya belum fasih lagi. masalah bahasa ada banyak. Macam tangan kirinya di Indonesia is bad. right? Even Malaysian. yang komunikasinya memang sometimes ulipeh kan understand what i’m try to say . tapi expectnya beda. apakah Lavanyah mengalami terpaan culture shock yang berarti? : Culture shock is not really la. : Jadi. kita buat penelitian sama-sama kan. selama ini dari pertama tiba. so. especially Indian. tak pernah tinggal dimana- I P I P I P I P I P I . nanti saya bilang sama ulipeh. So. up and down la. kita buat sama-sama la. mau shopping di sana. the culture is similar. A bit la. and kita bertiga lepas skripsi ini. apakah Lavanyah lebih sering berkumpul dengan sesama Malaysia atau bergabung sama orang Indonesia juga? : Saya gabung sama semuanya juga la. Saya pertama kali ke luar negara. : Lavanyah punya teman baik orang Indonesia? : Saya buat skripsi juga dengan yang Indonesian. so. Ulipeh sama Ayu. mau ke Jogja. : Apakah ada masalah dalam bahasa? : Bahasa Indonesia sebenarnya sama kayak bahasa Melayu juga. so. lepas tu like kita paham kan sendiri. ulipeh ini apa? Ininya apa? nanti ulipeh bilang. Tak pernah berpisah dari emak dan ayah. rasanya cemana ya. So. kiat ok la. we can understand. rencana buat holiday and shopping. sebab kita topiknya sama. macam tu lah. : Kalau di kampus atau di luar pun. similar. Itu pertama kali. : Dengan kondisi yang seperti itu. Dari dulu sama orang tua. Tapi gitu pun Oh. nanti pun dia bilang yang saya tak erti. best friend. left hand is also bad. apakah ada masalah dalam berinteraksi dengan orang-orang Medan (Indonesia)? : Kalau masalah kali gak ada la. nanti dia coba translate dalam bahasa inggrisnya lah.

Hubungan sama mereka baiklah. itu kan masalah politik. lepas dua hari udah bisa call. Mereka bicara trus. Nanti ibu-ibu itu semua very lucu lah. i like tahu and tempe. sebab mereka junior kan. kalau kita tanya apa pun. Kalau di sini saya sering makan indomie pake sayur. tak ingat lagi kapan. ke Danau Toba dengan family. sebab dari kecil baru ini pergi pertama keluar negara.Mula-mula itu 2 minggu asik menangis aja. . rumah nenek pun tak pernah tinggal. Saya juga cerita lah. ibu-ibu tu tanya-tanya. sekarang udah 2 orang aja. apakah ada perbedaan lain? : Mungkin makanannya. biasa di rumah sendiri. teman-teman bilang gitu. P I P I P I P I P I 6. They say “ah. : Bagaimana hubungan/interaksi Lavanyah dengan sesama penghuni kost? : Saya tinggal dengan Malaysian. : Apakah Lavanyah juga ada pengalaman dengan orang Indonesia di luar kost dan kampus? : kalo di luar saya di cleopatra fitness lah. apakah Asfahana pernah ke Medan sebelulmnya? : Pernah holiday ke Indonesia. they come to my room lah. actually i’m vegetarian. so. Pertama kan sim cardnya pun gak tau. Asfahana P I : Sebelum kuliah di USU. banyak teman yang bantu bahasanya juga kan. And then they don’t like. : Lavanyah tinggal dimana? : Saya tinggal di Jalan Jamin Ginting. Indonesian dulu ada. gak pernah jauh dari family. pokoknya they are very friendly lah.mana. they try to share. But. so mereka macam kalau ada apa-apa yang mereka mau. Tapi udah lama. saya makan sayur gak makan daging. : Selain semua itu. P I : Apakah Lavanyah punya pengalaman lain ketika berkomunikasi dengan orang Indonesia baik di kampus atau di luar kampus? : Kami ada JCS di hospital adam malik kan. So. i’m not really what they say but i try to understand. tapi sekarang udah pindah. : Sejauh ini apakah Lavanyah sudah mampu beradaptasi? : Udah bisa la. don’t involve mahasiswa. di situ juga banyak indonesian. kalau ada isuisu politik macam tu kan between indonesia and malaysia. waktu masih kecil.

: Apakah Asfahana merasakan/menemukan perbedaan-perbedaan antara Malaysia dan Medan? : Iya la. padat jalanannya. macam mau kenal. : Dengan semua perbedaan itu dan juga baru memasuki lingkungan yang baru. sebab di sini makanan pedas. kalau di Malaysia dia ada kue-kue.P I P I P I : Mengapa Asfahana memilih USU? : Sebab dengar-dengar daripada kawan FK USU itu famous kak sini. selalunya yang buat masalah dengan fakultasnya. bilang minta maaf la dengan laki yang mau salam. lepas tu dengan orang-orangnya. apa yang Asfahana rasakan? : Terkejut! Terkejut dengan laluan jalan rayanya. lepas tu makanan pun satu. : Perbedaan apa saja yang Asfahana temukan? : tadi tu la. Lepas tu ada masalah juga la. : Bagaimana dengan orang-orangnya? : Orang-orangnya. pertama terkejut juga. P I P I P I P I . Tapi sekarang mereka udah paham juga la dengan kami yang gak bisa salam. baek la. : Sampai akhirnya tiba di Medan. terutama tu masalah imigrasi la. sebab tak biasa dengan bahasanya. jadi kami pun risau. jadi macam makanan pun ada masalah lah di sini. agak bising. Awal-awal takut la memang mau komunikasi. Macam di kampus kan. Surat-surat keterangan yang mau dibuat kadang gak siap waktunya. sarapan pagi macam udah nasi terus. kalau yang pandai satu kelompok. lepas tu jalannya agak sempit juga. ramah juga tapi itu la. : Sebelum datang ke Medan. yang biasa-biasa satu kelompok. sebab kami kalau laki gak bisa salam dengan perempuan kan? tapi kalau sini bisa. cara bersalaman la. beda. dengan teman-teman satu USU pun sukar juga mau berkenalan sebab dari bahasanya kan gak bisa fasih lagi. Susah macam mau beradaptasi dulu. apa yang Asfahana tahu tentang Medan (Indonesia)? : Kayak macam Malaysia juga la. apakah Asfahana merasa takut untuk berkomunikasi atau berinteraksi? : Memang first time datang sini memang agak takut. Lepas tu disini makanannya itu. apa ya? Ada juga orangnya nampak yang berkelompok-kelompok. cuman cara percakapannya yang agak berbeda. Kalau surat itu lambat kami susah pulang. Lepas tu.

banyak gitu. tak berani seorang. : Ketika berkomunikasi dengan orang-orang Medan (Indonesia). sebab susah mau beradaptasi. apalagi mula-mula sampai dekat sini. Becak itu memang amat takut la. bahasanya pun beda kan. P I : Mengapa Asfahana takut naik angkot? Apa pernah ada masalah atau pengalaman dengan supir angkot atau becak? : Saya dengar daripada teman-teman ada kena culik handphone. Kalau di sini “kita” saya kan? Banyak lagi la. : Kalau di kampus. Asfahana lebih sering berkumpul dengan teman sesama Malaysia atau berbaur juga dengan yang Indonesia? : Lebih dengan sama Malaysia. : Bagaimana cara Asfahana mengatasi masalah komunikasi ini? : Belajar sikit-sikit lah dengan teman. pikirkan rumah aja. tapi sekarang udah bisa la. apakah Asfahana pernah takut untuk berkomunikasi? : Iya. tapi Sekarang udah bisa la. hipnotis gitu. sebulan dua bulan itu nangis di kamar macam gitu kan. kalau seorang-seorang gak bisa. salah paham. Cuman ada juga la teman yang daripada Indonesia. baik duit. macam kelompok yang ramai. : Apakah Asfahana pernah merasa sangat rindu dengan keluarga atau Malaysia? : Masa mula datang homesick la. Paling takut lagi naik angkot la. terutama kali tu becak. tapi kalau seorang-seorang gak bisa. jadi baik naik becak aja. : Butuh waktu berapa lama Asfahana bisa beradaptasi? : Dalam satu lewat gitu la. jadi macam gak berani. takut. : Mengapa Asfahana lebih cenderung dengan sama-sama Malaysia? P I P I P I P I P I P I P . Kalau ramai-ramai bisa la. apakah pernah mengalami kesulitan atau salah paham dalam bahasa? : oh. : Kalau dengan teman-teman kampus. keluarga jauh. itupun berdua juga. masalah komunikasi adalah. pasti ada la salah makna. kalau kami “kita” di sana maknanya kita semua. Misalnya kata “kita”. tapi lama-lama udah biasa la.sebab saya bilang tadi. lepas tu orangorangnya. Setahun dua tahun pertama dulu sukar mau cakap la. cuman gak rapat macam dengan Malaysia.

sebab tak bisa dengan udara. ada juga la. semester 2 baru bisa masak sendiri. : Selain itu? : makanannya memang gak bisa saya makan. : Kalau dengan orang-orangnya? : baik kak. sebab satu lab kan. cuman bahasanya dengan budayanya aja yang berbeda.I : Mungkin merekapun gak mau berkawan dengan kami. : Bagaimana interaksi Girthee dengan orang-orang di sini? : interaksinya bole la. saya pun ada teman akrab indonesia. : Pertama kali tiba di Medan. kadang gak bisa dipahami. sekarang udah bisa masak la. cuman bahasa tu la. Girtheekadevy P I P I P I : Apakah ini pertama kali Girthee ke Medan? : Iya. jadi ya lebih ke Malaysia aja la. interaksi bole la. tak beli. sebab dulu belum ada dapur. makan di warung-warung gitu gak bisa. Sebab kita kan manusia. diasingkan atau dibeda-bedakan? : Iya. Kebanyakan teman kampus. Minggu pertama tu memang saya jatuh sakit. biasa makan indomie aja. sebab mereka pun gak paham dengan yang kami cakap. manusia diciptakan Tuhan sama aja. : Asfahana pernah merasa ditolak. baru ini. banyak yang baik. Sebab bukannya salah kami belajar kak sini kan. kami pun gak paham yang dia cakap. so ada la yang akrab. Apalagi sebab isu-isu politik macam tu kan. karena kalau masak-masak di warung itu gak bisa. komunikasi juga perlahan-lahan bole. apa yang Girthee rasakan? : Situasi di sini sama kayak di Kualalumpur. hampir semuanya lebih muda dari saya. : Tapi. Apa faedahnya begadoh antar dua negara kan? P I 7. apakah perbedaan? Girthee merasakan/menemukan perbedaan- : perbedaan pasti ada la. sampai sekarang pun makanannya gak bisa la. P I P I P I . bagus juga. mungkin udaranya yang banyak abu.

lebih mudah pahami. pokoknya komunikasi la yang kami paling takut kak. tapi kami langsung jalan aja. Itulah yang rasa paling sukar. sama suster. sampai gagal 4 sampai 5 sesion. bayarnya mahal. kadang kalau presentasi di tutorial itu kan kadang gak sadar campur bahasa dengan bahasa malaysia kan. mereka bilang kenapa kamu campur-campur. kena marah dosen la macam tu.P I : Apakah Girthee berkomunikasi? mengalami masalah bahasa dalam : kalau bahasanya sampai sekarang gak fasih lagi. pasti pas waktu mula-mula tiba. saya ada gagal pelajaran sebab gak bisa bahasanya. jadi lalu aja la. cuman bahasa masih belajar lagi. Macam tu la. takut la. kadang campur lagi dengan bahasa inggris. P I P I P I P I 8. : Sampai saat ini. kamu udah kaya. Kadang mereka jerit-jerit bilang apa pun kami tak ngerti. nanti mereka jerit sama kami. Kaartini .apalagi nanti mau coass kan. bila kami kata mau pergi mana-mana kan. pasien lagi kan. kadang kala mereka tanya mau pergi mana kan. sebab ngomongnya gak betol. kadang mereka translate dalam bahasa Inggris supaya saya ngerti. bagaimana interaksi Girthee? Apakah pernah menemukan masalah atau sesuatu yang berbeda dengan membuat shock? : tukang becak la. masih ada masalah yang belum bisa Girthee atasi? Masih ada yang belum bisa diadaptasi/ : udah bisa la. : Kalau dengan orang-orang Medan (Indonesia) yang di luar kampus. suara yang kuat. gak mau bayar lagi. : Girthee pernah merasakan homesick? : pernah la. mereka bilang kan “oh kamu orang malaysia. sebab bahasa signal lebih mudah kak. : Bagaimana Girthee mengatasi kesulitan itu? : teman banyak bantu juga la. macam-macam la. sebab udah biasa la. Jadi kadang saya guna bahasa signal. sebab masih banyak teman yang bilang bahasa saya sukar dipaham gitu.

tapi bila datang sini beda la. disana. saya tak ngerti. Lepas tu ke medan lagi. takut nanti banyak orang jahat kan. Kita pun bebas juga. : Tini pernah mengalami kesulitan bahasa dalam berkomunikasi? : Kadang ada satu kata yang sama ucap tapi maknanya beda. : Bagaimana interaksi Tini dengan orang-orang Medan (Indonesia). ini kali pertama datang. agak malu macam tu la. bagaimana cara Tini mengatasinya? : Dulu mulanya tu selalu kalau kuliah tu kan. : Itu sesuatu yang tidak wajar dan pernah membuat Tini tidak nyaman? : Ada la. di malaysia gak biasa macam tu. jadi harus hati-hati. Karena di Indonesia ini kan banyak konflik antar indonesia dengan malaysia kan. Kalau di medan. cuman bahasanya aja yang sukar dipahami. : Kalau gitu. sebab tak biasa. sebab mau tanya apa maksud ini itu kan. contohnya macam pergaulan antar perempuan dan laki kan. persepsi Tini tentang Medan itu seperti apa? : persepsi mungkin orang ramai pun bilang gitulah kan. karena memang jauh kali la beda bahasa. lebih bebas dibandingkan malaysia. tapi ada bahasa yang beda juga. macam tu la orang ramai bilang. : Ketika tiba di Medan. ada batas la. maksudnya lebih tinggi tu. selalu di sebelah saya tu harus ada orang indonesia. baik di kampus atau di luar? : interaksi gak terlalu macam mana. tapi terkadang kalau di depan umum tertutup gitu. P I P I P I P I P I . hampir sama memang kak. apakah Tini merasakan perbedaan budaya yang membuat Tini terkejut? : awalnya Tini kira budaya tu semua sama aja kan. : Sebelum Tini ke Medan. malaysia indonesia pun budayanya sama la. lepas tu ada kata yang asing. macam udah biasa gitu kan. yang berjilbab aja pun kadang pegang-pegang gitu. rangkul. hati-hati la. memang tak paham sama sekali la. dia bedanya kalau disini kan sosialnya lebih tinggi la. kalau di belakang kita pun gak tau kan. itu kalau di umum.P I P I : Tini sebelumnya pernah ke Medan untuk sekedar holiday atau urusan apapun gitu? : Tak pernah. disana kan banyak orang batak. mereka bilang gitu jadi hati-hati nanti ada yang makan orang. apa yang Tini rasakan? Merasakan perbedaan kah? Mungkin dari segi budayanya.

lepas tu main jalan aja kalau lampu merah. macam ada program gitu la. Tapi tini ada teman akrab indonesia juga la. Banyak juga la. agak lain sikit. tapi memang lain la. kami memang lain sama mereka. P I : Menurut Tini bagaimana orang-orang Medan. jadi kami pun lain. P I P I P I P I P I P I . saya suka kali teman dengan mereka. biasa aja. sekarang ada rindu juga tapi tak pala la. jadi terkadang tidur rumah mereka. : Jadi. bukan indonesia aja. kurang berbaur. : Kalau dengan sesama penghuni kost di rumah ini. udah bisa adaptasi. sering la. cair maknanya. Sebab kami ada kayak belajar bahasa arab bersama gitu kan. ya macam-macam tu lah. sukar juga. tapi tersusun. banyak kali nangis. disana pun macet juga. : Tini pernah merasa sangat rindu Malaysia? : homesick memang selalu la. ada 10 orang la kami. ada rasa macam tu juga kadang-kadang. teman-teman di kampus atau di luar? : FK masi ada kelompok-kelompok la. Bagaimana hubungan atau interaksi Tini? : kalau di kost biasa-biasa aja la. tini lebih sering sama yang orang indonesia. kalau disini horn tu biasa kan. Tini lebih sering berkumpul dengan teman yang sesama Malaysia atau bergabung juga dengan Indonesia? : sebenarnya kalau ikutkan. tapi mula-mula aja. disini kan tekan horn yang berkali-kali kan. kalau disini kan gak teratur. Kalau di bawah malaysia juga. udah biasa. malaysia pun berkelompok-kelompok juga. encer itu apa? Oh. Jadi ya sabar aja la. sebab mereka kan udah biasa macam tu. cuman tegur gitu aja. : Kalau di kampus. apakah ada perbedaan lain yang Tini rasakan? : kalau lingkungannya itu memang beda dengan malaysia. : Selain semua perbedaan ya Tini sebutkan tadi. tegur-tegur gitu aja la. Saya tak tau. diam-diam aja. kiranya macam pernah tidur sama di rumahnya gitu kan.kayak “encer”. cuman india. apakah sekarang Tini udah merasa nyaman di Medan : Udah la. : Berarti Tini punya banyak best friend orang Indonesia? : teman-teman Tini yang indonesia itu memang baik-baik la. sama yang di atas dekat juga. kalau disana tekan horn itu udah macam marah gitu la.

enjoy dengan kawan semua. bergaul aja sama semau. : Pernah merasa homesick? : homesick mula-mula ada la. : Ketika sampai di Medan. Misalnya bisa gitu kan. karena ada tugas bersama juga. makanannya yang pedas kali. tapi udah setengah tahun gitu ada la. berbaur. disini bisa berarti boleh. ini kali pertama. : Apa yang Lim rasakan sebelum datang ke Medan? Ada perasaan takut atau ada persepsi apa sebelumnya tentang orang Medan? : Belum ada rasa apa la. jadi mulai bergaul-gaul. Lim Rui Liang P I P I : Ini pengalaman pertama Lim ke Medan atau sudah pernah sebelumnya? : Gak. murah juga gitu. : Kalau Lim sering bergabung dengan orang Indonesia di kampus atau di luar? : pertama kali memang belum berbaur la. cuman karena sukar masuk.9. apa yang Lim rasakan? : Ada beda la. gak tahan la itu makanannya. : Lim lebih sering gabung dengan sesama Malaysia atau Indonesia? : saya orangnya ok ok aja. sebab awalnya mau sekolah di university di malaysia. kalau diajak ikut la. udah biasa aja. : Sampai sekarang masih ada masalah yang belum bisa Lim atasi? P I P I P I P I P I P I P . jadi pilih usu aja. friendly. nanti ada bahasa yang sama tapi artinya beda. : Kalau dengan orang-orangnnya? : Orang-orangnya agak ramah la gitu. sebab ada dentistry. apalagi bahasa. lepas itu mahal juga. Pertama-tama makanannya lho. dan terkenal juga di Malaysia. atau lab praktikum gitu kan. Tapi udah beberapa bulan perlahan-lahan la udah bisa mengerti. tapi disana bisa cuman berarti racun aja. apakah ada kendala bahasa? : pertama kali memang sukar la. : Gimana komunikasi Lim. tapi gak pernah besar lagi. bagus juga.

Kalau yang berat di filipina. sedang aja. makanan gitu ka. kalau mau kemana-mana susah gitu. kayak traffic jam. jadi saya sempat diam. sebab sebelumnya saya pernah ke filipina untuk studi. : Apa yang Jonathan rasakan ketika tiba di Medan? : ini pertama kali ke medan. sebab saya kan di pusat kota. jadi saya gak bisa hokkein. bahasa juga ada. : Jonathan ada merasa perbedaan ketika tiba di Medan? : Ada juga la. tapi saya memang pernah ke tempat-tempat lain seperti filipina. kalau di sini. tapi masih ok juga. sebab saya sering pindah-pindah. : Jonathan lebih sering kumpul dengan sesama Malaysia atau Indonesia? P I P I P I P . kalau disini pakai bahasa Hokkein. tapi gak jadi sebab disana populasi lebih ngeri. baru pertama. sebenarnya bahasa melayu hampir mirip dengan bahasa indonesia kan. Jonathan Lin Chee Hang P I P I : Apakah pernah ke Medan sebelumnya? : Gak. karena mereka pikir saya kayak orang filipin. Kalau di indonesia. disitu berat la. banyak teman bantu juga kan. Kalau orang tionghoa disana pakai bahasa mandarin. mamak orang filipina. Tapi paling besar itu fasilitasnya. filipina. orang tionghoa disini kan beda bahasanya. di indonesia itu di medan. palembang. selain itu gak terlalu bermasalah la. jadi saya pernah ke filipina. tahun pertama memang ribet la bahasanya. culture shock. Disitu lebih ribet la. jadi terpaksa guna bahasa inggris aja. jadi gak ada bayangan la. berat kali gak.I : kalau waktu coass sekarang masih ada sedikit komunikasi yang sulit la. jadi saya agak ngerti. jadi gak begitu shock dibanding filipina. Kemudian. gak bisa saya terima. Jadi disana dulu saya takut untuk berkomunikasi la. mereka langsung cakap bahasa mereka. di Manila. Apalagi kan saya mix chinesse. sebab saya gak bisa ke tempat yang terlalu banyak orang. gak tau lokasinya. jerman. : Apakah ada perasaan takut atau cemas dalam berinteraksi dengan orang-orang Medan? : maksudnya kalau saya kan. bahasa juga. lebih banyak. sebab terkejut. jadi bagi saya sama aja. 10. sebab tak paham bahasa mereka. kalimantan juga. : Jonathan pernah mengalami masalah dalam komunikasi? : kalau pertama kali.

P I P I P I 11. . jadi udah biasa. Tapi sekarang biasa aja la. medan dengan malaysia itu hampir sama la. sebab komunitas tadi itu. adaptasi bisa. udah bisa sekarang. memang kasar orangnya. Kotanya agak padat. bagaimana kondisi Amir? : Ya. yang aktif itu sekitar 25 orang. tapi hubungan dengan teman kampus baik-baik aja. untuk itu ada tenang kan diri juga la selama sebulan. : Berarti Jonathan punya banyak teman Indonesia? : Iya. bising sebab sering tekan horn. : Ketika sampai di Medan. bahasanya gak begitu jauh. tapi banyak juga teman orang indonesia. memang ada rasa agak beda la dengan malaysia.I P I : Kalau teman kost memang malaysia semua. kita sering kumpul> dari situ juga la belajar kan. : Sampai sekarang masih ada masalah dalam interaksi? : Gak ada la. lainnya indonesia. : Bagaimana hubungan Amir dengan orang-orang Medan (Indonesia) di kampus atau di luar? : Iya tadi itu. jalan gak teratur kali. Kami ada komunitas peliharaan gitu. yang dari malaysia saya aja. paling coass aja. : Bagaimana dengan orang-orangnya? : kalau orang Medan ngomongnya memang agak kasar. yang penting mereka ngerti saya dan dan saya ngerti mereka ya udah. ada dari Aceh. sebab saya udah sering-sering pindah tadi. malah saya pun ikut tekan horn juga la. Tapi cepat aja. Amir P I P I P I P I P I P I : Pertama kali ke Medan atau sudah pernah sebelumnya? : Pertama kali untuk kuliah. batak. sering datang ke kost saya juga. : Jonathan udah merasa nyaman? : Udah bisa la. jadi maksudnya kalau mereka ajak ya saya mau ikut la dengan orang Medan. main-main. : Lebih sering dengan yang mana? : saya ada komunitas disini. namanya MERCY Medan Reptilies and Amphibians Community. tapi sekiranya gak masalah. apa yang Amir rasakan? : pertama kali sampai medan. masalah komunikasinya. mesra juga la. : Dengan perbedaan itu. banyak. saya sering kumpul-kumpul sama teman orang indonesia juga. : Kalau interaksi dengan orang-orang Medan di kampus? : Kalau di USU pun beda la dengan di Malaysia.

: Kalau Amir lebih sering kumpul dengan teman sesama Malaysia atau Indonesia? : Baur sama semua. : Apa perbedaan waktu di kampus FK dengan rumah sakit sekarang? : Waktu kuliah dengan coass hampir sama aja. Kalau dengan teman-teman coass baik la. jadi tak paham. sebab lingkungannya baru lagi kan. dari umur 12 tahun. sebab kami orang malaysia udah dibiasa hidup mandiri. : Amir pernah merasa homesick? : homesick ada la. lebih ramai lagi. semua bantu. cuman tambah pengaruh lingkungan dari suster perawat gitu la. saya dari masuk tahun 2006. sebab mereka kadang pakai bahasa batak. Jadi ya bisa la adaptasi. sebab pasti lebih enak di tempat sendiri kan. Tapi itupun biasa-biasa aja la. kalau sama pasien kadang ada masalah bahasa sikit. P I P I P I .P I P I P I : Gimana dengan bahasanya? Amir pernah mengalami masalah bahasa dalam komunikasi? : Bahasanya gak begitu jauh beda dengan Malaysia agak sama. di FK dulu pun gitu juga. Saya langsung berbaur la. tiga atau empat bulan aja udah bisa adaptasi la. : Pernah mengalami masalah komunikasi juga di coass ya? : Iya. : Gimana Amir mengatasinya? : Belajar dari kawan-kawan la.