Anda di halaman 1dari 46

Menurut GINA (Global Initiative of Asthma) asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran respiratorik dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil dan sel limfosit T. Pengertian kronik dan berulang mengacu pada kesepakatan UKK Pulmonologi pada KONIKA V di Medan tentang Batuk Kronik Berulang yaitu berlangsung lebih dari 14 hari dan atau tiga atau lebih episode dalam waktu 3 bulan berturut-turut.

1.2 PREVALENSI
Prevalensi asma di pengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis kelamin, umur, status atopi, keturunan dan lingkungan. Umumnya prevalensi anak lebih tinggi tinggi daripada dewasa tapi ada juga yang melaporkan prevalensi dewasa lebih tinggi.

Bakat yang diturunkan : •Asma •Atopi/alergi •Hiperaktiviti bronkus •Faktor yang memodifikasi •Penyakit genetik

Pengaruh lingkungan : •Alergen •Infeksi pernafasan •Asap rokok/ polusi udara •Diet •Status sosio ekonomi

Asimptomatis atau asma dini

Manifestasi klinis asma ( perubahan pada struktur dan fungsi jalan nafas )

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI .

PAF Sel mast Basofil Eosinofil HIPERESPONSIF SALURAN NAFAS . leukotrien.alergen Liimfosit T Sel dendrit Th 2 Th 1 Ig E IL2. limfotoksin Mediator inflamasi Histamin .IFN7. PG.

• KONTRAKSI OTOT POLS BRONKUS • HIPERSEKRESI MUKUS • PENINGKTSN PERMEABILITAS EPITEL SALURAN NAFAS OBSTRUKSI SLURAN NAFAS .

.

.

.

DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI 1. sesak nafas. Riwayat Penyakit atau Gejala : › Bersifat episodik.IV. rasa berat di dada dan berdahak Gejala timbul/memburuk terutama malam / dini hari Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu Respon terhadap pemberian bronkodilatator . seringkali reveribel dengan › › › › atautanpa pengobatan Gejala berupa batuk.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit : • Riwayat (atopi) Riwayat keluarga keluarga (atopi) • Riwayat Riwayat alergi alergi Penyakit lain lain yang yang memberatkan • Penyakit memberatkan Perkembangan penyakit dan  Perkembangan penyakit dan pengobatan pengobatan .

sehingga pemeriksaan jasmani dapat normal. Pemeriksaan Jasmani  Gejala asma bervariasi sepanjang hari. maka sebagai kompensasi penderita bernafas pada volume paru yang lebih besar untuk mengatasi sumbatan saluran nafas. edema. kontraksi otot polos saluran nafas. dan hipersekresi dapat menyumbat saluran nafas. Pada keadaan serangan.2. .

Walaupun demikian mengi dapat tidak terdengar pada serangan yang sangat berat. . Pada serangan ringan. sukar bicara. mengi hanya terdengar pada waktu ekspirasi paksa. dan penggunaan otot bantu nafas. hiperinflasi. takikardi. gelisah. tetapi biasanya disertai gejala lain misalnya sianosis.

Faal Paru  Pemeriksaan objektif (faal paru) berguna dalam menyamakan persepsi dokter dan penderita. Faal paru digunakan untuk :  Obstruksi jalan nafas  Reversibiliti kelainan faal paru . dan parameter untuk menilai berat asma.3.

 Variabiliti faal paru. sebagai penilaian tidal langsung hiper reponsif jalan nafas Banyak parameter dan metode untuk menilai faal paru. tetapi yang diterima secra luas (standar) dan mungkin dilakukan adalah pemeriksaan spirometri dan arus puncak ekspirasi (APE)  .

bronkiektasi. Asil positif pada uji ini juga dapat terjadi pada penyakit lain seperti rinitis alergik. PPOK.4. Peran pemeriksaan lain untuk diagnosis  Uji provokasi bronkus Uji ini untuk membantu menegakkan diagnosa asma. Pada penderita gejala asma dengan faal paru normal sebaiknya dilakukian uji provokasi bronkus. dan fibrosis kistik .

. Uji ini membantu dalam mengidentifikasi faktor resiko/ pencetus sehingga dapat dilaksanakan kontrol lingkungan dalam penatalaksaan. Pengukuran status alergi Komponen alergi pada asma dapat diidetifikasikan melalui pemeriksaan uji kulit (prick test) atau pengukuran kadar IgE spesifik serum.

bila dalam dalam serangan akan memberikan gambaran hiperinflasi . atelektasis. Sedangkan asma tidak dalam serangan akan memberikan kesan normal. Radiologis Pada gambaran radiologis dapat melihat komplikasi yang terjadi. misalnya pneumotoraks.

KLASIFIKASI .

Derajat asma Asma intermitten Gejala Gejala malam Faal paru APE ≥ 80% •Bulanan ≤ 2 kali sebulan •Gejala . 1x/minggu. 1x /minggu •Tanpa gejala diluar serangan •Serangan singkat •Mingguan •Gejala . tetapi . 1 x/hari •Serangan dapat mengganggu aktiviti dan tidur •Harian •Serangan mengganggu aktiviti dan tidur •Membutuhkan bronkodilator setiap hari •Kontinyu •Gejala terus menerus •Sering kambuh •Aktivitas fisik terbatas >2 kali sebulan Asma persisten ringan Asma prsisten sedang >1 kali seminggu Asma persisten berat Sering .

Gejala dan tanda Sesak nafas Posisis Bicara Kesadaran Ringan Berjalan Dapat tidur telentang Satu kalimat lancar Mungkin gelisah sedang berbicara Duduk Berat Istirahat Ancaman henti nafas Frekuensi nafas Sianosis Otot bantu nafas Wheezing < 20x Tidak ada - Duduk membungkuk Beberapa kata Kata demi terputus-putus kata Gelisah Gelisah Mengantuk. kesadaran ↓ 20-30x/menit Sering >30 menit Tidak ada Ada Nyata + + Torakoabdomi nal paradoksal Silent chest Lemah sampai Keras sedang Keras . gelisah.

Pulsus paradoksus APE Tidak ada( Mungkin ada Sering ada <10mmHg) (10-25 mmHg) (>25 mmHg) kelelahan otot >80% 60-80% < 60% < 45 mmHg >80 mmHg >95% PaCO2 PaO2 SaO2 <45 mmHg 60-80 mmHg 91-95% > 45 mmHg <60 mmHg < 90% .

 .IV. DIAGNOSIS BANDING Bronkitis kronis  Emfisema paru  Gagal jantung kiri akut (asma kardial)  Emboli paru  Penyakit lain : stenosis trakea. karsinoma bronkus. poliarteritis nodosa.

TATALAKSANAAN Tujuan :  Menghilangkan gejala dan mengendalikan gejala  Mencegah eksaserbasi  Meningkatkan faal paru  Tercapai aktivitas normal  Hindari efek sampingn obat  Mencegah kematian karena asma  .V.

PENGOBATAN SECARA UMUM Mencegah ikatan alergen › menghindari alergen › hiposensitasi  Mencegah pelepasan mediator  Natrium kromolin diduga dapat mencegah lepasnya mediator dari mastosit. Obat ini dipakai sebagai obat profilaksis pada terapi pemeliharaan. . Obat tersebut tidak dapat mengatasi spasme bronkus yang telah terjadi.

juga digunakan pada serangan asma akut › Kortikosteroid › Antikolinergik (Ipatropium Bromida) Mengurangi respon dengan jalan meredam inflamasi saluran nafas untuk mengurangi respon ini digunakan kortikosteroid . › Aminofilin. fenoterol.  Melebarkan saluran nafas dengan bronkodilator › Simpatomimetik  Agonis beta 2 (salbutamol. prokaterol) merupakan obat-obat terpilih untuk mengatasi serangan asma akut. terbutalin.  Epinefrin diberikan subkutan sebagai pengganti agonis beta 2 pada serangan asma yang berat.

PENGOBATAN SESUAI DERAJAT PENYAKIT .

tidak melebihi 3-4 kali/hari agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan. tidak melebihi 3-4 kali/hari Asma persisten ringan Glokokortikosteroid inhalasi (<500 ug BD/hari atau ekivalennya) Kombinasi glukokortikosteroid inhalasi (200-1000 ug BD/hari atau ekivalennya) + agonis beta-2 kerja lama *Kombinasi glukokortikosteroid inhalasi (>1000 ug BD/hari atau ekivalennya) + agonis beta-2 kerja lama. + >1 dari  Teofilin lepas lambat : Leukotriene modifiers  Glokokortikosteroid oral Asma persisten sedang Asma persisten berat Semua tahapan: bila tercapai asma terkontrol. tidak melebihi 3-4 kali/hari agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan. pertahankan terapi min 3 bulan. lalu turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma tetap terkontrol . tidak melebihi 3-4 kali/hari agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan.Berat asma Asma intermiten Controller Tidak perlu Reliever agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan.

respon baik) • observasi 1-2 jam. interval 20 min • 3rd nebulisasi + anticholinergic pengobatan Serangan ringan (nebulized 1x.Algoritma tatalaksana serangan asma Nilai derajat serangan • nebulisasi -agonist 3x. pulangkan • gejala (+)  serangan sedang Serangan sedang (nebulized 2-3x. respon parsial) • O2 • nilai kembali sedang  rawat sehari • IV line Serangan berat (nebulized 3x. respon buruk) • O2 • IV line • nilai kembali berat  rawat • Chest X-ray 30 .

 rawat Ruang Rawat • terapi oksigen • atasi dehidrasi dan asidosis • Steroid IV / 6-8 jam • Nebulisasi / 1-2 jam • Initial aminophylline IV. lanjutkan maintenance • Nebulisasi 4-6x  respon baik per 4-6 h • Jika stabil dlm 24 jam  pulangkan • Respon buruk  ICU 31 .Pulangkan • beri 2-agonist (inhaled/oral) • obat lain • viral infection: oral steroid • rawat jalan 24-48 hours Rawat sehari (ODC) • terapi oksigen • Oral steroid • Nebulisasi /2 jam • Observasi 8-12 jam. jika stabil pulangkan • respon buruk dalam 12 jam.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Suku bangsa Tanggal masuk Alamat : Ny. N : 45 tahun : perempuan : Minang : 12 Juli 2010 : Pariaman .

saat melakukan aktivitas biasa. dan obatobatan tidak ada  BAK jumlah dan warna biasa  BAB warna dan konsistensi biasa .Keluhan Utama :  Sesak nafas sejak 1 hari yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang :  Sesak napas sejak 1 hari yang lalu. berbunyi menciut. cuaca dingin.  Batuk berdahak sejak 1 hari yang lalu.  Demam ada  Alergi makanan.

Riwayat Sosial Ekonomi.Riwayat Penyakit Dahulu  Pasien memiliki riwayat asma sejak ± 4 tahun yang lalu Riwayat Penyakit Keluarga  Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini . . Kejiwaan dan Kebiasaan  Pasien seorang ibu rumah tangga  Higienis dan sanitasi lingkungan cukup.

PEMERIKSAAN UMUM  Kesadaran umum  Tekanan darah  Frekuensi nafas  Frekuensi jantung  Suhu  Sianosis  Ikterus  Edema  Anemis : sakit sedang : 120/80 mmHg : 26x/menit : 80x/menit : 37 0C : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada .

Pupil isokor. tidak ikterik. diameter 2 mm  Telinga : tidak ada kelainan  Hidung : tidak ada kelainan  Mulut dan tenggorok : caries dentis (-) . sklera tidak ikterik. turgor baik.  Kepala : simetris.PEMERIKSAAN FISIK  Kulit : Teraba hangat. bentuk normal. reflek cahaya +/+ normal.  Rambut : hitam. tidak mudah dicabut  Mata : konjungtiva tidak anemis. tidak pucat. tidak sianosis.

ronkhi basah halus tidak nyaring(+) .Leher : JVP 5-2 cmH2O  Kelenjar getah bening tidak membesar  Thoraks  Paru : › Inspeksi : normochest. wheezing (+/+). ronkhi (-/-). simetris.retraksi (+) › Palpasi : fremitus kiri = fremitus kanan › Perkusi : sonor kiri = sonor kanan › Auskultasi : bronkhial.

 Jantung : › Inspeksi : iktus tidak terlihat › Palpasi : iktus teraba di 1 jari medial LMCS › Perkusi : batas jantung kiri dan kanan dalam batas normal › Auskultasi : bunyi jantung murni. : timpani : bising usus (+) normal . distensi : supel. hepar dan lien tidak teraba. bising (-)  Abdomen : › Inspeksi tidak ada › Palpasi › Perkusi › Auskultasi : perut tidak membuncit. irama teratur.

reflek patologis -/ . sianosis (-) Reflek fisiologis ++/++. refiling kapiler baik.Punggung : tidak ada kelainan  Alat kelamin : tidak dilakukan pemeriksaan  Ekstremitas : akral hangat.

000/mm3 Hematokrit : 37% DIAGNOSIS : Asma bronkhial persisten sedang .1 gr% Leukosit : 11.200/mm3 Hitung Jenis : 0/0/1/84/15/0 Trombosit : 268..PEMERIKSAAN LABORATORIUM  Darah Hb : 13.

TERAPI › Diet MB › O2 2l/mnt › Nebulisasi dengan combivent 2x1 amp/ 12 › › › › › › › jam Drip aminofilin 1 amp dalam 500 cc RL (20 tetes/mnt makro) Injeksi Dexametason 1 amp/ 8 jam iv Injeks ranitidin 1 amp/12 jam PA 3x1 Ambroxol syr 3x1 cth Salbutamol 3x1 tab PCT 3x1 tab .

13 juli 2010-07  ANAMNESIS :  PEMERIKSAAN FISIK : › › › › › › › Sesak nafas masih ada › Batuk berdahak (+) › Demam (-)  DIAGNOSIS: Asma bronkhial persisten sedang KU kesadaran TD Nadi Nafas Suhu : sedang : CMC : 120/80 mmHg : 78x/i : 20x/i : afb .

TERAPI: › Diet MB › O2 2l/mnt › Nebulisasi dengan combivent 2x1 amp/ 12 › › › › › › › › jam Drip aminofilin 1 amp dalam 500 cc RL (20 tetes/mnt makro) Injeksi Dexametason 1 amp/ 8 jam iv Injeks ranitidin 1 amp/12 jam PA 3x1 Ambroxol syr 3x1 cth Salbutamol 3x1 tab PCT 3x1 tab Ciprofloxacin 2x500mg .

14 juli 2010-07  ANAMNESIS :  PEMERIKSAAN FISIK : › › › › › › › Sesak nafas (-) › Batuk berdahak sudah mulai berkurang › Demam (-)  DIAGNOSIS: Asma bronkhial persisten sedang KU kesadaran TD Nadi Nafas Suhu : sedang : CMC : 130/80 mmHg : 75x/i : 20x/i : afb .

 TERAPI: › Rawat jalan › Ciprofloxacin 2x500mg › PA 3x1 › Ambroxol syr 3x1 cth › Salbutamol 3x1 tab › Metil prednisolon 4mg 2x1 tab .