Anda di halaman 1dari 40

DEPRESI PASCA STROKE

dr. Rudi Indrawan, SpKJ


RSSN Bukittinggi

PENDAHULUAN

Stroke adalah kumpulan dari gejala klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi serebral fokal atau global yang berlangsung lebih dari 24 jam atau yang mengarah ke kematian, tanpa penyebab lain selain dari faktor vaskuler Penyakit ini berhubungan dengan usia, angka kejadiannya meningkat seiring dengan peningkatan kemakmuran pada suatu masyarakat Hubungan antara peningkatan kasus ini merupakan akibat langsung dari bertambahnya umur harapan hidup

PENDAHULUAN

Pada saat ini stroke merupakan penyebab kematian ketiga tersering setelah jantung koroner dan kanker Sekitar 70% penderita pasca stroke memiliki disabilitas permanen secara okupasional, dan sekitar 25% akan mengalami demensia vaskuler kejadian klinis depresi pasca stroke bervariasi antara 20-50 % diantara pasien yang dirawat dengan serangan stroke selama fase akut dan sub akut

PENDAHULUAN

Depresi pasca stroke dilaporkan memiliki efek yang negatif terhadap fungsi afek, kognitif, penarikan diri dan meningkatnya angka kematian Masalah psikologis yang timbul akibat ketidakmampuan bekerja, ketergantungan pada orang lain menjadi masalah yang pelik baik bagi pasien maupun keluarganya

STROKE

Hippocrates (460-370 SM) pertama kali menggambarkan fenomena paralisis tiba-tiba yang disebutnya sebagai apopleksi (dalam bahasa Yunani berarti terjatuh tak berdaya ) Johan Jacob Wepfer ( 1620-1695) mengidentifikasi penyebab stroke hemoragik dan dia berpendapat bahwa penyebab kematian stroke hemoragik adalah akibat perdarahan di dalam otak Stroke diklasifikasikan ke dalam 2 tipe utama yaitu : iskemik dan hemoragik

Stroke Iskemik

Berdasarkan penyebabnya, stroke iskemik dibagi menjadi 2, yaitu trombosis dan embolik Pada stroke embolik, suatu emboli akan mengalir mengikuti aliran darah dan kemudian akan menyumbat aliran darah ke otak secara parsial ataupun total Pada stroke trombosis, sumbatan tidak berasal dari tempat lain, namun terbentuk sendiri dan akhirnya menyumbat di pembuluh darah tempat terbentuknya

Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik atau perdarahan intrakranial terjadi hanya pada 10% kasus stroke Pembuluh darah dalam otak pada kejadian ini pecah dan darah menyebar ke seluruh rongga di antara sel otak Stroke hemoragik memiliki angka kematian dan kecacatan yang lebih tinggi daripada stroke iskemik

Faktor Risiko

Faktor risiko terpenting stroke adalah hipertensi Faktor lainnya adalah tingginya lemak darah, merokok, diabetes, kegemukan/obesitas dan tingginya hematokrit Emboli serebral dapat disebabkan oleh penyakit katup, infark miokard dengan trombus mural, aritmia kardial, dan operasi jantung Pada pasien lebih muda, riwayat migrain dan penggunaan kontrasepsi oral juga merupakan faktor risiko terjadinya stroke

Etiologi

Penyebab stroke iskemik antara lain aterosklerosis, embolisme, mikroangiopati, fibrilasi atrium dan aritmia jantung, trombofilia (termasuk polisitemia vera dan paroksismal nokturnal hemoglobinuria) Penyebab stroke hemoragik adalah hipertensi, cerebral Arterio Venous Malformation (AVM), aneurisma serebral, arteriosklerosis otak, trauma kepala, dan congenital artery defects

Gejala dan Tanda

Gejala stroke yaitu kesemutan tiba-tiba atau lumpuh tiba-tiba, khususnya pada satu sisi tubuh Kesadaran tiba-tiba berubah, afasia, gangguan pada penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba, ukuran pupil tidak sesuai, gangguan reflek swallowing, gangguan berjalan tiba-tiba, pusing, kehilangan keseimbangan atau koordinasi

Gejala dan Tanda

Pada stroke hemoragik, beberapa pasien kehilangan kesadaran pada fase awal Sakit kepala berat tiba-tiba dapat merupakan gambaran stroke Jika gejala menghilang dalam 24 jam maka diagnosisnya adalah TIA bukan stroke. Gejala ini merupakan tanda peringatan dan dapat menjadi stroke dikemudian hari

Diagnosis

1. 2.

3.

Stroke dapat didiagnosis dengan beberapa teknik yaitu pemeriksaan neurologis, CT Scan (dengan atau tanpa kontras), MRI, USG doppler dan arteriografi Jika stroke diduga akibat emboli maka pemeriksaan anjuran lainnya perlu dilaksanakan untuk mencari asal emboli tersebut seperti : USG arteri karotis untuk mendeteksi stenosis pada arteri tersebut. EKG dan echocardiography untuk mendeteksi adanya aritmia. Angiography untuk mendeteksi kelainan anatomis pembuluh darah otak

Penatalaksanaan Stroke

Identifikasi stroke harus dilakukan secepatnya karena pasien yang cepat diobati dapat lebih bertahan dan lebih cepat pemulihannya Tindakan emergensi harus dilakukan seperti membawa pasien ke rumah sakit terdekat agar dapat dievaluasi dan diterapi secepatnya

Prognosis

Dari penderita stroke yang selamat, 75% diantaranya menderita kecacatan sehingga sulit untuk bekerja Stroke mempengaruhi secara fisik, mental dan emosional pasien atau kombinasi ketiganya Juga didapatkan problem emosional karena akibat langsung dari kerusakan pada pusat emosi di otak, atau karena frustasi dan kesulitan beradaptasi Meliputi ansietas, serangan panik, afek yang datar , mania, apati dan psikosis

Prognosis

Sekitar 30-50% dari pasien stroke menderita depresi pasca stroke Depresi dapat mengurangi motivasi dan memperburuk prognosis, tetapi dapat diterapi dengan antidepresan Ditandai dengan letargi, iritabel, gangguan tidur, kepercayaan diri berkurang

Stroke complications

DEPRESI PASCA STROKE

Juga dikenal dengan istilah PSD (post stroke depression) Gejala ini dapat terjadi kapan saja setelah kejadian stroke dengan angka prevalensi bervariasi berkisar antara 20-50% PSD memiliki efek yang negatif terhadap pasien jika dihubungkan dengan keberhasilan fungsional penderita serta masalah biaya

DEPRESI PASCA STROKE

Depresi pasca stroke dilaporkan memiliki efek yang jelek terhadap fungsi afek, kognitif, penarikan diri setelah serangan dan meningkatnya angka kematian Terdapat 2 teori tentang terjadinya depresi pasca stroke :
1.

2.

Depresi merupakan reaksi psikologis sebagai konsekuensi klinis akibat stroke. Depresi timbul sebagai akibat lesi pada daerah otak tertentu yang menyebabkan terjadinya perubahan neurotransmiter

DEPRESI PASCA STROKE

Insiden terjadinya PSD hampir tidak berbeda pada perbedaan usia dan jender Depresi mayor pada wanita berkaitan dengan tingkat edukasi yang tinggi, gangguan kognitif yang terjadi, dan kelainan psikiatris sebelumnya Pada laki-laki lebih tergantung kepada kecacatan fisik Depresi minor sering terjadi pada lakilaki dengan dukungan keluarga dan sosial yang kurang

Hubungan Lokasi Lesi dan PSD

Hipoperfusi pada lobus temporal diduga memiliki hubungan dengan PSD Ganglia basalis juga memiliki peran dalam jaras neural yang mendasari respons perilaku Ganglia basalis berperanan dalam emosi, mood, spontanitas dan proses motorik dasar dari perilaku Beberapa penelitian membuktikan bahwa sistem limbik dan ganglia basalis memiliki peranan dalam terjadinya PSD

Hubungan Lokasi Lesi dan PSD

Penelitian yang dilakukan oleh Robinson dkk menyokong peranan lesi pada frontal, subkortikal dan ganglia basalis dalam terjadinya PSD Lesi di hemisfer kiri dan batas anterior frontal merupakan faktor utama timbulnya PSD Diduga senyawa amin biogenik (norepinefrin, serotonin, dan dopamin) memegang peranan penting pada depresi pasca stroke Lesi anterior yang dekat dengan lobus frontal dapat lebih memutus aliran jalur tersebut dibandingkan dengan lesi posterior

Hubungan Regio Otak dengan Depresi


Striatum
Memori emosional, dorongan

Hipotalamus
Tidur, selera makan, energi, libido

Korteks prefrontal
Aspek emosi & kognitif depresi

Ventral tegmental area


Rasa senang, ketakutan, motivasi

Amigdala
pengolahan emosi

Hipokampus
Memori jangka panjang

Diagnosis PSD
Minimal didapatkan 5 dari gejala-gejala berikut di bawah ini yang telah berlangsung selama periode 2 minggu dan menggambarkan suatu perubahan nyata dari fungsi sebelumnya (DSM-IV TR) 1. Mood yang depresif sepanjang hari, hampir setiap hari 2. Kehilangan minat/kesenangan dalam segala hal/aktivitas 3. Penurunan berat badan ketika tidak sedang diet atau penurunan atau peningkatan dalam selera makan hampir setiap hari 4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari 5. Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari 6. Lelah atau kehilangan energi hampir setiap hari 7. Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan 8. Kehilangan kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi 9. Pikiran berulang tentang kematian, ide bunuh diri yang berulang atau usaha bunuh diri atau rencana spesifik untuk melakukan bunuh diri

Gejala Depresi
AFEK
Sedih Hilangnya minat Iritabilitas Apatis Anhedonia Tak bertenaga KOGNISI Rendah diri Konsentrasi Daya ingat FISIK Simtom vegetatif:

Ragu-ragu
Rasa bersalah Ide bunuh diri

1. 2. 3. 4.

Psikomotor
Fatig Gangguan tidur Gangguan nafsu makan

Tak bersemangat
Isolasi sosial Ansietas

5. Seksual

Dampak Depresi Pasca Stroke

Gangguan Kognitif Kecacatan Faktor Psikiatrik dan Psikososial Sebelumnya Bunuh diri

Gangguan Kognitif

Hubungan yang signifikan antara PSD dan gangguan kognitif dilaporkan oleh beberapa peneliti Yang jadi pertanyaan apakah depresi menimbulkan gangguan kognitif ( dementia on depression ) atau gangguan kognitif menimbulkan depresi ( depression on dementia ) Hubungan keduanya mungkin timbal balik

Kecacatan

Perkembangan beratnya depresi tergantung pada beratnya kecacatan yang terjadi pada fase akut sampai 6 bulan pertama setelah onset stroke Risiko ini bersifat independen terhadap risiko penyakit kardiovaskular, usia, seks, kelas sosial, tipe stroke, lokasi lesi , tapi memiliki hubungan dengan isolasi sosial

Faktor Psikiatrik dan Psikososial Sebelumnya

Kelainan kelainan psikiatrik dan psikososial yang terdapat pada pasien sebelum mendapat serangan stroke memiliki hubungan dengan terjadinya PSD Kegagalan menjalin hubungan dengan orang lain sebelum stroke dan terbatasnya aktivitas sosial berhubungan dengan timbulnya depresi Faktor lainnya yang juga berperanan adalah kehilangan pekerjaan yang disenangi, kurangnya kontak sosial, jaminan finansial, penurunan aktivitas sosial

Bunuh diri

Bunuh diri pada pasien stroke sangat jarang sekali Namun demikian ide untuk bunuh diri sering terjadi ( 25 %) Faktor risikonya adalah depresi, insomnia berat, penyakit kronis dan sindroma otak organik Faktor determinan lainnya adalah cacat fisik, dukungan sosial yang kurang, pikiran kalut, rasa bersalah

Terapi PSD

Terapi PSD dikatakan berhasil jika terdapat penurunan nilai HDRS lebih dari 50 % setelah terapi Terapi yang diberikan untuk kasus PSD meliputi psikofarmaka dan psikoterapi Dalam pemilihan obat, Ulrik Fredrik Malt mengajukan beberapa prinsip yaitu: 1. Mengetahui efek pada masalah klinis. 2. Mengetahui efek pada penyakit dasarnya. 3. Mengetahui implikasi akibat efek samping obat. 4. Mengetahui interaksi dengan obat somatik lainnya. 5. Pemakaian obat oral / parenteral. 6. Mengetahui fungsi hati / ginjal dan dosis yang diberikan. 7. Mengetahui masalah ilmu dasar yang mendasarinya

Terapi PSD (anti depresan)


Tricyclics and Tetracyclics (TCA) Serotonin Selective Reuptake Inhibitors (SSRIs) Dual Serotonin -Norepinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI) Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs) Norepinephrine and Dopamine Reuptake Inhibitor (NDRI)

Antidepresan trisiklik Bukan merupakan pilihan utama Terdapat efek samping berupa hipotensi ortostatik, blok av, aritmia jantung yang mengancam nyawa, delirium atau confusion, pusing, agitasi, blok jantung, urinary outlet obstruction, narrow angle glaucoma.

Terapi PSD
SSRI Merupakan pilihan utama karena lebih efektif dari pada plasebo dan obat trisiklik dan memiliki efek samping yang rendah. Sertralin dan citalopram memiliki efek yang lebih baik dalam pengobatan labilitas mood pasca stroke Trazodone dan lisuride maleat Keduanya dapat merupakan alternatif yang baik jika dibandingkan dengan SSRI Obat psikostimulan Pilihan yang menarik mengingat kemampuannya dalam mengatasi gejala apatis dan fatique Namun demikian efek samping adrenergik dari obat ini seperti takikardi dan hipertensi sering membuat pasien harus menghentikan pemakaian obat ini

Psikoterapi

Terapi kombinasi dengan menggunakan psikofarmaka antidepresan dan psikoterapi adalah pengobatan terpilih bagi suatu gangguan depresi, tidak terkecuali depresi pasca stroke Fokus utama dalam psikoterapi yang akan dilakukan adalah membantu pasien untuk dapat menerima keadaan yang terjadi setelah ia mengalami stroke

Terapi Kognitif

Penderita depresi belajar menjadi tak berdaya Memperbaiki kognisi yang salah (pikiranpikiran otomatis) dan pengaruhnya terhadap emosi dan fisik Bantu pasien meningkatkan kepercayaan dirinya Responsnya terhadap hal-hal yang bersifat depresogenik harus dimodifikasi

Terapi Perilaku
Efektif untuk pasien yang menarik diri dari lingkungan sosial dan anhedonia Tujuannya meningkatkan aktivitas pasien, mengikutkan pasien dalam tugas-tugas menyenangkan Latihan ketrampilan sosial hubungan interpersonal dan interaksi submisif Latihan pemecahan masalah dan mengontrol diri

Psikoterapi Suportif

Hampir selalu diindikasikan Memberikan kehangatan, empati, pengertian, dan optimisme Membantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya dan membantu ventilasi Mengidentifikasi faktor-faktor presipitasi dan mengoreksinya Membantu pasien memecahkan masalahnya Bantu pasien mengenal tanda-tanda dekompensasi Ada pasien yang memprovokasi kemarahan terapisnya

Terapi Kelompok

Efektif untuk pasien rawat jalan Beberapa keuntungan terapi kelompok : Biaya lebih murah

Ada destigmatisasi memandang masalah yang sama Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan dirinya

Terapi Perkawinan
o

Masalah keluarga dan perkawinan sering terjadi pada pasien dengan DPS Masalah ini dapat mempengaruhi penyembuhan Perbaikan hubungan perkawinan penting sekali

TERIMA KASIH