Anda di halaman 1dari 17

ANAMNESIS

Nama : An. S.

Umur : 11 tahun Ruang : Melati Kelas : III


NO RM :

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Nama Lengkap : An. S.

Tempat dan Tanggal Lahir Nama Ayah Pekerjaan Ayah Nama Ibu Pekerjaan Ibu Alamat Tanggal Masuk RS

ILMU KESEHATAN Jenis Kelamin ANAK Karanganyar, 01/01/2002 Umur


Umur Umur

Jenis Kelamin : Laki-laki

: Laki-laki : 11 tahun : 44 tahun : 38 tahun : SD

001220xx

: Tn.W : Penjaga sekolah : Ny. M : Pedagang : 23 Januari 2012 Jam 17.40

Pendidikan Ayah : SMP Pendidikan Ibu

: Nglanokulon 2/2 Pandean, Ts Madu Diagnosis masuk : Obs. Febris hari ke 7 Ko Asisten : Aditya M. Fathony S. Ked

Dokter yang merawat : dr. A. Septiarko Sp.A

Tanggal : 25 Januari 2013 (Autoanamnesis dan Alloanamnesis) di Bangsal Melati KELUHAN UTAMA KELUHAN TAMBAHAN 1. : Panas : Lemas, Pusing

Riwayat penyakit sekarang 7 HSMRS : Pasien panas sumer-sumer, semakin tinggi pada sore dan malam hari, sudah diberi obat penurun panas tetapi panas hanya turun sebentar kemudian naik lagi. Panas disertai lemas (+), pusing (-), minum (+), mual (+) namun tidak sampai muntah, nyeri perut (-), nafsu makan berkurang (-). Keluhan lain keringat pada malam hari (-), nyeri tenggorokan (-), batuk (-), pilek (-), nyeri telinga (-), nyeri otot (-), nyeri sendi (-), mimisan (-), gusi berdarah (-), bintik merah pada kulit (-), sesek (-), BAB (+), BAK frekuensi 3-4 kali sehari berwarna kuning jernih dan tidak nyeri. 3-6 HSMRS : Pasien masih merasa panas, panas turun pada pagi hari dan meninggi pada sore dan malam hari. Pasien sulit tidur (-), lemas (+), pusing (+), mual (+), muntah (-), nyeri perut (-), nafsu makan berkurang (+), minum (+). Keluhan lain keringat pada malam hari (-), batuk (-), pilek (-), nyeri tenggorokan (-), nyeri telinga (-), nyeri otot (-), nyeri sendi (-), mimisan (-), gusi berdarah (-), bintik merah pada kulit (-), sesek (-), BAB (-), BAK frekuensi 3-4 kali/hari berwarna kuning jernih, tidak nyeri. 1 SMRS : Pasien masih panas, panas turun pada pagi hari dan meninggi pada sore dan malam hari. Pasien sulit tidur (-), lemas (+), pusing (+), minum (+), mual (+), muntah (-), perut kembung (+), nafsu makan berkurang (+), keringat pada malam hari (-), nyeri tenggorokan (-), batuk (-), pilek (-), nyeri telinga (-), nyeri otot (-), nyeri sendi (-), mimisan (-), gusi berdarah (-), bintik merah pada kulit (-), sesek (-), BAB cair (+) 1x, BAK frekuensi 3-4 kali/hari berwarna kuning jernih dan tidak nyeri. HMRS : Pasien dibawa ke IGD RSUD karanganyar dengan keluhan panas (+), lemas (+),
1 (-), nafsu makan berkurang (+), minum (+), pusing (+), mual (+), muntah (-), nyeri perut

bintik merah pada kulit (-), mimisan (-), gusi berdarah (-), batuk (-), pilek (-), nyeri tenggorokan (-), BAB (-) , BAK baik.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

PEMERIKSAAN JASMANI
PEMERIKSAAN OLEH PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Vital Sign TD RR Suhu : 90/60 mmHg : 24/menit : 37,1 C Nadi : 84 /menit

Nama : An. S. Jenis Kelamin : Laki-laki Aditya M. Fathony S.Ked : compos mentis.

Umur : 11 tahun Ruang : Melati Kelas : III Tanggal 25 Januari 2013 Jam 06.00

Status Gizi BB/TB : 24 kg/108cm BMI Z scores BMI//U : gizi baik Kesimpulan : status gizi baik (menurut WHO) PEMERIKSAAN KHUSUS Kulit Kepala Mata : petechie (-) : ukuran normocephal, rambut warna hitam, lurus, jumlah cukup : mata cowong (-/-), ca (-/-), si (-/-), reflek cahaya (+/+), pupil isokor
2

: 20,57 kg/m2

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

Hidung Mulut Leher Kesan Thorax

: sekret (-/-), epistaksis (-/-), nafas cuping hidung (-/-) : mukosa bibir kering (+), sianosis (-), lidah tifoid (+) : pembesaran limfonodi leher (-), massa (-), kaku kuduk (-) : terdapat tanda tifoid : simetris, retraksi (-), ketinggalan gerak (-) Cor Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis kuat angkat : batas kanan atas batas kiri atas batas kiri bawah Auskultasi Paru
Pemeriksaan Inspeksi Depan Palpasi Perkusi Auskultasi Inspeksi Belakang Palpasi Perkusi Auskultasi Kanan Simetris Ketinggalan gerak (-) Retraksi dinding dada (-) Fremitus (n) massa (-) Sonor (+) SDV (+), Rh (-), Wh (-) Simetris Ketinggalan gerak (-) Fremitus (n) massa (-) Sonor (+) SDV (+), Rh (-), Wh (-) Kiri Simetris Ketinggalan gerak (-) Retraksi dinding dada (-) Fremitus (n) massa (-) Sonor (+) SDV (+), Rh (-), Wh (-) Simetris Ketinggalan gerak (-) Fremitus (dan) massa (-) Sonor (+) SDV (+), Rh (-), Wh (-)

: SIC II linea parasternalis dextra : SIC II linea parasternalis sinistra : SIC V linea midclavicula sinistra

batas kanan bawah : SIC IV linea parasternalis dextra

: BJ I-II normal reguler (+), bising jantung (-)

Kesan : Tidak terdapat kelainan pada kepala, leher, jantung, dan kedua lapang paru. Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : distended (-), sikatrik (-), purpura (-) : peristaltik dbn : timpani (+) : turgor kulit baik, nyeri tekan (-)
3

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

Hepar Lien Anogenital

: tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak ada kelainan

Kesan : Tidak terdapat kelainan pada abdomen.

Ekstremitas

: akral hangat (+), deformitas (-), kaku sendi (-), sianosis (-), edema (-) Tungkai Kanan Kiri bebas normal eutrofi (-) Lengan Kanan bebas normal eutrofi (-) Kiri bebas normal eutrofi (-)

Gerakan Tonus Trofi Klonus Tungkai Reflek fisiologis Refleks patologis Meningeal Sign Sensibilitas

: bebas : normal : entrofi : (-)

: biceps (+) normal, triceps (+) normal, reflek brachioradialis (+) normal, reflek patella (+) normal, reflek achiles (+) normal : babinski (-), chaddock (-), oppenheim (-), gordon (-), rosolimo (-) : kaku kuduk (-), brudzinski I (-), brudzinski II (-), brudzinski III (-) brudzinski IV (-) : dalam batas normal

Kesan : extremitas superior et inferior dalam batas normal PEMERIKSAAN LABORATORIUM DARAH RUTIN (23 Januari 2013) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Parameter Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit Limfosit Monosit Jumlah 7.600 4.000.000 10,6 34,0 85,0 26,5 31,2 296.000 40,1 12,3 Satuan uL uL gr/dl % femtoliter pikograms g/dl uL % %
4

Nilai Rujukan 5000-10000 /uL 4,0-5,5 / uL 11,5-13,5 g/dl 40-48% 82-92 fl 27-31 pg 32-36 g/dl 150.000-400.000/uL 20-40% 2-8%

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK


33-60%

NO RM :

001220xx

11.

N. Segmen

47,6

Widal S. thypi Parathypi A Parathypi B Parathypi C

O 1/160 1/80

H -

RINGKASAN ANAMNESIS Pasien laki-laki usia 11 tahun, datang ke IGD RSUD Karanganyar dengan keluhan demam hari ke-7, demam awalnya sumer-sumer kemudian meninggi menjelang sore hingga malam hari kemudian turun pada pagi hari. Keluhan lain lemas (+), pusing (+), mual (+), muntah (-), nyeri perut (-), nafsu makan agak berkurang (+), minum (+), bintik merah pada kulit (-), mimisan (-), gusi berdarah (-), batuk (-), pilek (-), nyeri tenggorokan (-), BAB (-) selama 3 hari, BAK baik. Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit sekarang. Tidak terdapat riwayat penyakit pada keluarga dan lingkungan yang ditularkan pada pasien. Riwayat ANC baik, persalinan spontan, riwayat PNC baik. Pasien mendapatkan ASI eksklusif dan sampai sekarang kualitas dan kuantitas makanan baik. Imunisasi dasar lengkap berdasarkan PPI, sesuai usia pasien saat ini. Perkembangan dan kepandaian baik. Keadaan sosial ekonomi kurang & kondisi lingkungan rumah cukup. RINGKASAN PEMERIKSAAN FISIK KU: CM Vital sign TD : 90/60 mmHg N : 84x/menit RR : 24x/menit S : 37,1C Status gizi baik menurut WHO
5

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

Kulit : petechie (-) Kepala : ca (-/-), si (-/-), lidah tifoid (+), bibir kering (+) Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-) Thorax : cor dan pulmo dalam batas normal Abdomen : nyeri tekan (-), pembesaran hepar (-), pembesaran lien (-) Extremitas superior et inferior dan status neurologis dalam batas normal Status neurologis dalam batas normal LABORATORIUM Tes Widal : Widal (+)

DAFTAR MASALAH AKTIF / INAKTIF AKTIF Demam hari ke 9, demam menurun dari hari sebelumnya Lemas Mual Hasil Lab : Widal (+) INAKTIF Keadaan sosial ekonomi kurang DIAGNOSA KERJA Demam Paratifoid Anemia Ringan RENCANA PENGELOLAAN Rencana Tindakan Obsevasi keadaan umum dan vital sign Pemeliharaan hidrasi dan nutrisi Bed rest Rencana Terapi
6

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

Infus KA-EN3A 16 tpm makro Inj Chloramphenicol 500mg/8jam Inj Ranitidin amp/6jam Ottopan syr 3x1cth Nucral syr 4x1cth Rencana Edukasi Menjelaskan tentang penyakit pasien kepada keluarga Memperhatikan kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi Mengatur ke pola makan Menjaga kebersihan lingkungan Istirahat yang cukup atau tirah baring PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad sanam : ad bonam : dubia ad bonam Quo ad fungsionam : ad bonam

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

DISKUSI Diagnosis pada pasien ini yaitu Demam Paratifoid. Penyakit Demam Paratifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella paratyphi A, B, C terutama menyerang bagian saluran pencernaan. Demam paratifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa. Umur penderita yang terkena di Indonesia (daerah endemis) dilaporkan antara 3-19 tahun mencapai 195 kasus. Angka yang kurang lebih sama juga dilaporkan dari Amerika Selatan. Terjadinya penularan salmonella typhi sebagian besar melalui makanan / minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman, biasanya keluar bersama-sama dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalur oro-fekal). Pada anak- anak penyakit ini cukup sering ditemui, salah satu penyebabnya selain sanitasi adalah system kekebalan atau imunitas yang belum berkembang dengan baik. Komplikasi atau penyulit pun tidak jarang terjadi seperti gangguan SSP (delirium sampai gangguan kesadaran) dan perforasi usus yang menyebabkan peritonitis. Sedangkan pada bayi relative jarang ditemukan karena masih mendapatkan perlindungan dari ASI yang mengandung IgA sekretorik yang memberikan proteksi local khususnya pada saluran cerna. Etiologi Salmonella adalah bakteri Gram-negatif, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora fakultatif anaerob. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri polisakarida. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel da dinamakan endotoksin. Salmonella typhi/paratyphi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik Patofisiologi Bakteri salmonella typhi/paratyphi bersama makanan / minuman masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Pada saat melewati lambung dengan suasana asam (pH < 2) banyak bakteri yang mati. Keadaan-keadaan seperti aklorhidiria, gastrektomi, pengobatan dengan antagonis reseptor histamin H2, inhibitor pompa proton atau antasida dalam jumlah besar, akan mengurangi dosis infeksi. Bakteri
8

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

yang masih hidup akan mencapai usus halus. Di usus halus, bakteri melekat pada sel-sel mukosa dan kemudian menginvasi mukosa dan menembus dinding usus, tepatnya di ileum dan yeyenum. Setelah berada dalam usus halus, kuman mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesentrika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial system (RES) terutama hati dan limfa. Di tempat ini, kuman di fagosit oleh sel-sel fagosit RES dan kuman yang tidak difagosit akan berkembang biak. Pada akhir masa inkubasi, berkisar 5 9 hari, kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder), dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi di usus. Dalam masa baktremia ini, kuman mengeluarkan endotoksin yang susunan kimianya sama dengan antigen somatik (lipopolisakarida), yang semula di duga bertanggung jawab terhadap terjadinya gejala-gejala dari demam tifoid/paratifoid. Pada penelitian lebih lanjut terutama endotoksin hanya mempunyai peranan membantu proses peradangan lokal. Pada keadaan tersebut, kuman ini berkembang. Demam tifoid/paratifoid disebabkan oleh salmonella thyposa dan endotoksinnya yang merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah memengaruhi pusat termuregulator di hipotalamus yang mengekibatkan timbulnya gejala demam. Akhir-akhir ini beberapa peneliti mengajukan patogenesis terjadinya manifestasi klinis sebagai berikut : makrofag pada penderita akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokin, selanjutnya monokin ini dapat menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang sistem imun, instabilasi vaskuler, depresi sumsum tulang dan panas. Perubahan histopatologi pada umumnya ditemukan infiltrasi jaringan oleh makrofag yang mengandung eritrosit, kuman, limfosit yang sudah terdegenerasi yang dikenal sebagai sel tifoid. Bila sel-sel ini beragregasi, terbentuklah nodul. Nodul ini sering didapatkan dalam usus halus, jaringan limfe mesenterium, limpa, hati sumsum tulang dan organ-organ yang terinfeksi. Kelainan utama terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasi (minggu pertama), nekrosis (minggu kedua) dan ulserasi (minggu ketiga) serta bila sembuh tanpa adanya pembentukan
9

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

jaringan parut. Sifat ulkus berbentuk bulat lonjong sejajar dengan sumbu panjang usus dan ulkus ini dapat menyebabkan perdarahan bahkan perforasi. Gambaran tersebut tidak didapatkan pada kasus demam tofoid yang menyerang bayi maupun tifoid kongenital.. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis pada anak umumnya bersifat lebih ringan, lebih bervariasi bila dibandingkan dengan penderita dewasa. Bila hanya berpegang pada gejala atau tanda klinis, akan lebih sulit untuk menegakkan diagnosis demam tifoid/paratifoid pada anak, terutama pada penderita yang lebih muda, seperti pada tifoid kongenital ataupun tifoid pada bayi. Masa inkubasi rata-rata bervariasi antara 7 20 hari, dengan masa inkubasi terpendek 3 hari dan terpanjang 60 hari. Dikatakan bahwa masa inkubasi mempunyai korelasi dengan jumlah kuman yang ditelan, keadaan umum/status gizi serta status imunologis penderita. Walupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi, secara garis besar gejala-gejala yang timbul dapat dikelompokkan : 1. Demam satu minggu atau lebih. 2. Gangguan saluran pencernaan 3. Gangguan kesadaran Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya, seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi. Pada pemeriksaan fisik, hanya didapatkan suhu badan yang meningkat. Setelah minggu kedua, gejala/ tanda klinis menjadi makin jelas, berupa demam remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perut kembung mungkin disertai ganguan kesadaran dari yang ringan sampai berat. Demam yang terjadi pada penderita anak tidak selalu tipikal seperti pada orang dewasa, kadang-kadang mempunyai gambaran klasik berupa stepwise pattern, dapat pula mendadak tinggi dan remiten (39 41o C) serta dapat pula bersifat ireguler terutama pada bayi yang tifoid kongenital. Lidah tifoid/paratifoid biasanya terjadi beberapa hari setelah panas meningkat dengan tandatanda antara lain, lidah tampak kering, diolapisi selaput tebal, di bagian belakang tampak lebih pucat, di bagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Bila penyakit makin progresif, akan terjadi deskuamasi epitel sehingga papila lebih prominen. Roseola lebih sering terjadi pada akhir minggu pertama dan awal minggu kedua. Merupakan suatu nodul kecil sedikit menonjol dengan diameter 2 4 mm, berwarna merah pucat serta hilang pada penekanan.
10

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

Roseola ini merupakan emboli kuman yang didalamnya mengandung kuman salmonella, dan terutama didapatkan di daerah perut, dada, kadang-kadang di bokong, ataupun bagian fleksor lengan atas. Limpa umumnya membesar dan sering ditemukan pada akhir minggu pertama dan harus dibedakan dengan pembesaran karena malaria. Pembesaran limpa pada demam tifoid tidak progresif dengan konsistensi lebih lunak. 4. Rose spot, suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1 5 mm, sering kali dijumpai pada daerah abdomen, toraks, ekstremitas dan punggung pada orang kulit putih, tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak Indonesia. Ruam ini muncul pada hari ke 7 10 dan bertahan selama 2 -3 hari.. Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan hematologi rutin didapatkan leukopeni atau leukopeni relatif, kadangkadang dapat juga terjadi leukositosis, neutropeni, limfositosis, aneosinofilia, dengan atau tanpa penurunan hemoglobin (anemia) bergantung pada komplikasi yang melibatkan perdarahan saluran cerna, dengan hematokrit, trombosit dalam rentangan normal atau dapat terjadi trombositopenia. Uji widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibody terhadap kuman Salmonella typhi. Uji widal dikatakan bernilai bila terdapat kenaikan titer widal 4 kali lipat atau titer widal O > 1/320, titer H > 1/160 (dalam sekali pemeriksaan). Sesuai dengan kemampuan SDM dan tingkat perjalanan penyakit demam tifoid/paratifoid, maka diagnosis klinis demam tifoid diklasifikasikan atas : 1. Possible Case Dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala demam, gangguan saluran cerna, gangguan pola buang air besar dan hepato/splenomegali. Sindrom demam tifoid belum lengkap. Diagnosis ini hanya dibuat pada pelayanan kesehatan dasar. 2. Probable Case Telah didapatkan gejala klinis lengkap atau hampir lengkap, serta didukung oleh gambaran laboratorium yang menyokong demam tifoid (titer widal O > 1/160 atau H > 1/160 satu kali pemeriksaan). 3. Definite Case

11

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

Diagnosis pasti, ditemukan S. Thypi pada pemeriksaan biakan atau positif S.Thypi pada pemeriksaan PCR atau terdapat kenaikan titer Widal 4 kali lipat (pada pemeriksaan ulang 5-7 hari) atau titer widal O > 1/320, H > 1/640 (pada pemeriksaan sekali).

Penatalaksanaan Sebagian besar pasien demam tifoid/paratifoid dapat diobati dirumah dengan tirah baring, isolasi yang memadai, pemenuhan kebutuhan cairan, nutrisi serta pemberian antibiotik. Sedangkan untuk kasus berat harus dirawat dirumah sakit agar pemenuhan kebutuhan cairan, elektrolit serta nutrisi disamping observasi kemungkinan timbul penyulit dapat dilakukan dengan seksama. Pengobatan antibiotik merupakan pengobatan utama karena pada dasarnya patogenesis infeksi Salmonella typhi berhubungan dengan keadaan bakteriemia. Obat-obat antimikroba yang sering digunakan antara lain : 1. Kloramfenikol Meskipun telah dilaporkan adanya resistensi kuman Salmonella terhadap Kloramfenikol di berbagai daerah, Kloramfenikol tetap digunakan sebagai obat pilihan pada kasus demam tifoid. Sejak ditemukannya obat ini oleh Burkoder sampai saat ini belum ada obat antimikroba lain yang dapat menurunkan demam lebih cepat disamping harganya murah dan terjangkau oleh penderita. Kekurangan kloramfenikol antara lain ialah reaksi hipersensitifitas, reaksi toksik, grey syndrome, kolaps, dan tidak bermanfaat untuk pengobatan karier. Dalam pemberian kloramfenikol tidak terdapat keseragaman dosis. Dosis yang dianjurkan ialah 50 100 mg/kgBB/hari, selama 10 14 hari. Untuk neonatus, penggunaan obat ini sebaiknya dihindari, dan bila terpaksa, dosis tidak boleh melebihi 25 mg/kgBB/hari, selama 10 hari. 2. Tiamfenikol Tiamfenikol mempunyai efek yang sama dengan Kloramfenikol karena susunan kimianya hampir sama dan hanya berbeda pada gugusan R-nya. Dengan pemberian Tiamfenikol, demam turun setelah 5 6 hari. Komplikasi hematologi pada penggunaan Tiamfenikol jarang dilaporkan. Dosis oral dianjurkan 50 100 mg/kgBB/hsri, selama 10 14 hari.
12

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

3. Kotrimoksasol Pendapat mengenai Efektifitas kotrimksasol terhadap demam tifoid masih kontroversial. Kelebihan kotrimoksasol antara lain dapat digunakan untuk kasus yang resisten terhadap kloamfenikol, penyerapan di usus cukup baik, dan kemungkinan timbulnya kakambuhan pengobatan pengobatan lebih kecil dibandingkan kloramfenikol. Kelemahannya ialah dapat terjadi skin rash (1 15%), sindrom Steven Johnson, agranulositosis, trombositopenia, anemia megaloblastik, hemolisis eritrosit terutama pada penderita G6PD, Dosis oral yang dianjurkan adalah 30 40 mg/kgBB/hari. Sulfametoksazol dan 6 8 mg/kgBB/hari untuk Trimetoprim, diberikan dalam 2 kali pemberian, selama 10 14 hari. 4. Ampisilin dan Amoksisilin Merupakan derivat Penisilin yang digunakan pada pengobatan demam tifoid, terutama pada kasus yang resisten terhadap Kloramfenikol. Pernah dilaporkan adanya Salmonella yang resisten terhadap Ampisilin di Thailand. Ampisilin umumnya lebih lambat menurunkan demam bila dibandingkan dengan Kloramfenikol, tetapi lebih efektif untuk mengobati karier serta kurang toksik. Kelemahannya dapat terjadi skin rash (3 18%), dan diare (11%). Ampisilin mempunyai daya antibakteri yang sama dengan Ampisilin, terapi penyerapan peroral lebih baik sehingga kadar oabat yang tercapai 2 kali lebih tinggi, dan lebih sedikit timbulnya kekambuhan (2 5%) dan karier (0 5%). Dosis yang dianjurkan adalah : Ampisilin 100 200 mg/kgBB/hari, selama 10 14 hari. Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari, selama 10 14 hari. Pengobatan demam tifoid yang menggunakan obat kombinasi tidak memberikan keuntungan yang lebih baik bila diberikan obat tunggal. 5. Seftriakson Dosis yang dianjurkan adalah 50 100 mg/kgBB/hari, tunggal atau dalam 2 dosis iv. 6. Sefotaksim Dosis yang dianjurkan adalah 150 200 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3- 4 dosis iv.
13

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

7. Siprofloksasin Dosis yang dianjurkan adalah 2 x 200 400 mg oral pada anak berumur lebih dari 10 tahun . Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi adalah perforasi gastrointestinal atau perdarahan hebat, meningitis, endokarditis, dan pneumonia yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Prognosis Prognosis demam tifoid/paratifoid tergantung ketepatan terapi, usia, keadaan kesehatan sebelumnya, dan ada tidaknya komplikasi. Dinegara maju, dengan terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas < 1%. Di negara berkembang, angka mortalitasnya > 10%, biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan, dan pengobatan. Munculnya komplikasi seperti perforasi gastrointestinal atau perdarahan hebat, meningitis, endokarditis dan pneumonia, mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Relaps dapat timbul beberapa kali. Individu yang mengeluarkan S. ser. Typhi 3 bulan setelah infeksi umumnya manjadi karier kronis. Risiko menjadi karier pada anak-anak rendah dan meningkat sesuai usia. Karier kronik terjadi pada 1 5% dari seluruh pasien demam tifoid. Insidens penyakit traktus biliaris lebih tinggi pada karier kronis dibanding dengan populasi umum. Walaupun karier urin kronis juga dapat terjadi, hal ini jarang dan dijumpai terutama pada individu dengan skistosomiasis. Pencegahan Secara umum, untuk memperkecil kemungkinan tercemar S.typhi/paratyphi, maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Salmonella typhi di dalam air akan mati apabila dipanasi setinggi 57C untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi/klorinasi. Untuk makanan, pemanasan sampai suhu 57C beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan kuman Salmonella typhi. Penurunan endemisitas suatu negara/daerah tergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran

14

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

individu terhadap higiene pribadi. Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam tifoid..

15

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

DAFTAR PUSTAKA

Soedarmo, Poorwo, SS, dkk ; penyunting : Buku ajar Infeksi dan Pediatri Tropis; Edisi kedua; Ikatan Dokter Anak Indonesia 2010, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Jakarta : 2010. Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin; edisi bahasa Indonesia: A Samik Wahab; Ilmu Kesehatan Anak Nelson, ed.15- Jakarta: EGC, 1999. Aru W, Sudoyo, dkk ; editor ; Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam; Jilid III, edisi IV; Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI, Jakarta : 2007 Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics Update. Cetakan pertama; Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta : 2003 Rampengan. T H : Penyakit infeksi Tropis pada Anak ; edisi 2. Jakarta : EGC 2007.

16

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

ILMU KESEHATAN ANAK

NO RM :

001220xx

17