Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN Setelah otonomi Daerah berjalan hampir menginjak usia sembilan tahun, masih dipandang perlu untuk bekerja

lebih keras untuk menuju keberhasilannya. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa konsepsi otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab dengan meletakkan otonomi sepenuhnya pada kabupaten dan kota sebagai tingkatan Daerah yang paling dekat dengan masyarakat, bertujuan untuk lebih memberdayakan Daerah, mendorong prakarsa dan peranserta masyarakat dalam proses pemerintahan dan pembangunan, di samping untuk lebih meningkatkan efisiensi, efektivitas dan akuntabilitas penyelenggaraan fungsi-fungsi pemerintahan, seperti pelayanan, pengembangan dan perlindungan terhadap masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perubahan landasan otonomi Daerah dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 terutama dikaitkan dengan format kewenangan pemerintahan, baik Pemerintah, Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota berpengaruh kepada konsepsi kelembagaan yang harus dibentuk dengan panduan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian landasan Negara, yang merupakan lebih kuat upaya bagi lebih meningkatkan dalam efektivitas membentuk penyelenggaraan pemerintahan, karena dengan undang-undang tersebut ada hukum Pemerintah Kementerian Negara seiring dengan telah diserahkannya sebagian urusan pemerintahan kepada Daerah. Sebagaimana kita ketahui bahwa dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota telah diatur dan ditetapkan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintahan, dengan memberikan porsi urusan yang lebih luas dan lebih banyak pada Kabupaten/Kota.

Pembagian urusan pemerintahan sebagaimana diatur dalam undang-undang tersebut jauh lebih jelas, lebih tegas dan lebih lengkap dibandingkan dengan apa yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom, yang hanya mengatur kewenangan Pemerintah dan Provinsi tanpa mengatur kewenangan kabupaten dan kota sehingga masing-masing kabupaten dan kota menetetapkan sendiri kewenangannya berdasarkan residu kewenangan yang tidak ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. Penetapan urusan sebagai kewenangan masing-masing tingkat pemerintahan, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 didasarkan pada tiga kriteria, yaitu ekternalitas, akuntabilitas dan efisiensi. Dengan ditetapkannya kewenangan tersebut memberi kejelasan dan ketegasan batas kewenangan masing-masing tingkat pemerintahan, sehingga dapat dihindarkan terjadinya overlapping, benturan kewenangan dan ketidakserasian hubungan antar tingkat pemerintahan, terutama antara pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota sebagaimana yang pernah terjadi di masa lalu. Penyempurnaan format dan pengaturan kewenangan masing-masing

pemerintahan daerah merupakan hal yang mendasar bagi kehidupan otonomi daerah, karena pada dasarnya untuk menunjang efektivitas penyelenggaraan otonomi daerah adalah di awali dengan adanya penyerahan sebagian urusan pemerintahan kepada daerah berdasarkan asas otonomi. Berdasarkan penyerahan sebagian urusan tersebut langkah-langkah penyelenggaraan otonmi daerah selanjutnya dilaksanakan, antara lain penataan kelembagaan perangkat daerah, penempatan pegawai, penganggaran dan sebagainya.

KESERASIAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH A. Gambaran Hubungan Pusat dan Daerah. Sebagaimana diketahui bersama bahwa pelaksanaan otonomi Daerah adalah dalam upaya melaksanakan amanat konsitusi sebagai upaya mewujudkan tujuan pemerintahan negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Oleh karena itu, untuk memperoleh gambaran hubungan Pusat dan Daerah dapat ditinjau dari berbagai aspek sebagaimana diuraian sebagai berikut : 1. Aspek konsepsi dasar tentang otonomi Daerah yaitu dengan

diterapkannya prinsip otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab. Dengan prinsip otonomi seluas-luasnya Daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan yang telah diserahkan di luar urusan yang tetap menjadi kewenangan Pemerintah. Daerah memiliki kewenangan masyarakat untuk membuat kebijakan untuk memberikan pelayanan dan peningkatan peranserta, pemberdayaan yang bertujuan pada prakarsa dan peningkatan

kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab yaitu bahwa untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan didasarkan pada tugas, wewenang dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan masing-masing Daerah. Selanjutnya peenyelenggaraan otonomi daerah harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian

otonomi yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Berdasarkan konsepsi tersebut maka Pemerintah telah menyerahkan sepenuhnya penyelenggaraan otonomi daerah dengan mempedomani dan mengacu kepada ketentuan-ketentuan dan rambu-rambu penyelenggaraan pemerintahan Daerah yang berlaku. Namun demikian meskipun sebagian urusan pemerintahan telah diserahkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Daerah, bukan berarti hubungan antara Pemerintah dan Pemerintah tidak terjalin lagi. Perlu disadari bahwa penyelenggaraan otonomi Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga meskipun sebagian urusan pemerintahan telah diserahkan kepada Daerah tanggung jawab akhir penyelenggaraan pemerintahan negara tetap berada pada Pemerintah. Oleh karena itu dalam kerangka otonomi Daerah peran Pemerintah banyak bersifat pengaturan dan penetapan kebijakan makro, pelaksanaan supervisi, monitoring dan evaluasi serta pemberdayaan kapasitas Daerah agar Daerah benar-benar mampu menyelenggarakan otonominya secara optimal. Daerah dalam penyelenggaraan otonomi lebih banyak pada penetapan kebijakan Daerah dan pelaksanaan kegiatan operasional otonomi Daerah dengan tetap mengacu kepada kebijakan makro dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 2. Aspek wewenang untuk mengelola urusan pemerintahan yang telah diserahkan kepada Daerah. Urusan pemerintah yang telah diserahkan kepada Daerah merupakan isi otonomi dan menjadi dasar dan langkah awal dalam penyelenggaraan kewenangan Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangga Daerah. Perubahan format kewenangan Daerah sebagaimana tertuang dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan dampak perubahan yang sangat mendasar pada penyelenggaraan pemerintahan Daerah selanjutnya.

Sebagaimana

diketahui

bahwa

penyelenggaraan

otonomi

daerah

disyaratkan adanya pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Urusan pemerintahan terdiri dari urusan pemerintahan yang bersifat absolut dan urusan pemerintahan yang bersifat konkuren. Urusan pemerintahan yang bersifat absolut hanya diselenggarakan oleh Pemerintah yang meliputi urusan luar negeri, urusan pertahanan dan keamanan, urusan keuangan dan moneter, urusan yustisi dan urusan keagamaan. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat konkuren adalah urusan pemerintahan yang pengelolaannya dalam bagian dan bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah dan pemerintah Daerah. Dengan demikian setiap urusan pemerintahan yang bersifat konkuren senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah, ada bagian urusan yang menjadi kewenangan provinsi dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/kota. Sedangkan untuk menentukan pembagian kewenangan secara proporsional antara Pemerintah, Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten dan Kota maka disusunlah kriteria yang meliputi : eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi dengan mempertimbangkan ketiga kriteria keserasian tersebut hubungan ditetapkan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. Berdasarkan pertimbangan kewenangan Pemerintah, kewenangan Provinsi dan kewenangan Kabupaten/Kota. Kewenangan pemerintah Daerah sebagaimana tercantum dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terdiri dari urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang terkait dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yang terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. Untuk menghindarkan pengalaman masa lalu terkait dengan kewenangan pemerintahan, maka ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota antara lain

menetapkan penjabaran urusan yang menjadi kewenangan Daerah yaitu : a. Urusan pemerintahan yang bersifat wajib yang meliputi : 1) Urusan pendidikan; 2) Urusan kesehatan; 3) Urusan lingkungan hidup; 4) Urusan pekerjaan umum; 5) Urusan penataan ruang; 6) Urusan perencanaan pembangunan; 7) Urusan perumahan; 8) Urusan kepemudaan dan olahraga; 9) Urusan penanaman modal; 10) Urusan koperasi dan usaha kecil dan menengah; 11) Urusan kependudukan dan catatan sipil; 12) Urusan ketenagakerjaan; 13) Urusan ketahanan pangan; 14) Urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; 15) Urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera; 16) Urusan perhubungan; 17) Urusan komunikasi dan informatika; 18) Urusan pertanahan; 19) Urusan kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; 20) Urusan otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan persandian; 21) Urusan pemberdayaan masyarakat dan desa; 22) Urusan sosial; 23) Urusan kebudayaan; 24) Urusan statistik; 25) Urusan kearsipan; dan 26) Urusan perpustakaan. daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan

b.

Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Urusan kelautan dan perikanan; Urusan pertanian; Urusan kehutanan; Urusan energi dan sumber daya mineral; Urusan pariwisata; Urusan industri; Urusan perdagangan; dan Urusan ketransmigrasian,

yang dijabarkan secara terperinci kegiatan-kegiatan pada masingmasing tingkat pemerintahan sehingga memberikan batasan yang jelas dan tegas cakupan kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing tingkat pemerintahan dan dapat dihindarkan terjadinya overlapping, friksi dan benturan kegiatan sebagaimana pernah terjadi sebelumnya. Hubungan kewenangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah bersifat inter-relasi, interkoneksi dan interdependensi, walaupun tidak ada hierarkhi. Keserasian hubungan Pemerintah dan Pemerintah Daerah meliputi penetapan norma, standar, pedoman dan kriteria, penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM), fasilitasi dan pemberdayaan kapasitas Daerah agar Pemerintah Daerah mampu menyelenggarakan setiap urusan dengan sebaik-baiknya sehingga otonomi Daerah berjalan sebagaimana mestinya. . 3. Aspek kelembagaan yang merupakan pewadahan urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. Berdasarkan Pasal 120 sampai dengan 128 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2002 telah diatur dan ditetapkan Perangkat Daerah, yaitu : a. Perangkat Daerah Provinsi terdiri dari Sekretariat Daerah,

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dinas

Daerah dan Lembaga Teknis Daerah (berbentuk Badan, Kantor dan RSD) ; b. Perangkat Daerah Kabupaten/Kota terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah (berbentuk Badan, Kantor dan RSD), Kecamatan dan Kelurahan. Guna memberikan panduan dalam penataan kelembagaan perangkat Daerah, ditetapkan tentang Organisasi Peraturan Perangkat Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Daerah yang memberikan acuan

mengenai pembentukan, tugas pokok, fungsi, susunan organisasi dan eselonisasii masing-masing Perangkat Daerah. Selanjutnya dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Kelembagaan Perangkat Daerah, telah diberikan petunjuk lebih lanjut mengenai tatacara penataan, penyusunan organisasi, pengelompokan Perangkat Daerah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan upaya penataan perangkat Daerah yang rasional, proporsional dan efektif. Organisasi Perangkat Daerah yang rasional dengan dapat diwujudkannya besaran organisasi Perangkat Daerah yang seimbang dengan bobot urusan yang ditanganinya. Organisasi Perangkat Daerah yang proporsional dengan mewujudkan organisasi perangkat daerah dengan unsur-unsur organisasi yang tepat dengan bobot kegiatan yang dilaksanakan. Organisasi Perangkat Daerah yang efektif dengan mewujudkan perangkat Daerah yang benar-benar mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya secara efektif. Hubungan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dikaitkan dengan penataan kelembagaan adalah dalam pembinaan dan pengendalian organisasi yang dilaksanakan melalui : a. koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi dalam penataan organisasi perangkat Daerah ;

b.

fasilitasi terhadap rancangan peraturan daerah tentang Perangkat Daerah yang telah dibahas bersama antara Pemerintah Daerah dengan DPRD. Keserasian hubungan dengan Pemerintah senantiasa dilaksanakan

melalui komunikasi dan konsultasi dalam penataan kelembagaan Perangkat Daerah, sehingga sasaran pembentukan organisasi Perangkat Daerah yang rasional, proporsional dan efektif benar-benar dapat terwujud. 4. Aspek kepegawaian Daerah. Dalam sistem kepegawaian secara nasional, Pegawai Negeri Sipil memiliki posisi penting untuk menyelenggarakan pemerintahan dan berperan sebagai alat pemersatu bangsa. Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, ada sebagian urusan bidang kepegawaian telah diserahkan kepada Daerah yang dikelola dalam sistem kepegawaian Daerah. Hal ini adalah sesuai dengan sistem manajemen kepegawaian yang sesuai dengan kondisi pada saat ini, yang tidak lagi murni menggunakan unified system sebagai konsekuensi diterapkannya kebijakan otonomi daerah maka diterapkan sistem penggabungan antara unified system dengan sparated system yang berarti ada sebagian urusan kepegawaian yang tetap menjadi kewenangan Pemerintah dan sebagian lagi diserahkan menjadi kewenangan Pemerintah Daerah. Oleh karena itu dan sejalan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokokpokok Kepegawaian yang antara lain mengatur bahwa manajemen kepegawaian masih menjadi tanggung jawab Pemerintah, maka pembinaan kepegawaian Daerah secara umum masih menjadi satu kesatuan dengan pembinaan kepegawaian nasional, Daerah. sedangkan permanfaatan Pegawai Negeri Sipil Daerah menjadi kewenangan

Sejalan dengan adanya pemisahan pejabat politik dan pejabat karier, maka pembina kepegawaian daerah adalah pejabat karier tertinggi pada Pemerintah Daerah yang ditegaskan dalam Pasal 22 ayat (4) Undangundang Nomor 32 Tahun 2004. Meskipun demikian secara umum pembinaan Pegawai Negeri Sipil tetap berada dalam pengendalian Pemerintah melalui pengaturan dan penetapan berbagai peraturan perundang-undangan kepegawaian. Hubungan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam hal kepegawaian samapi saat ini cukup harmonis terutama dengan penetapan kebijakan rekruitmen kepegawaian baik untuk pegawai honorer dengan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2005 Juncto Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007, maupun pegawai baru yang senantiasa permasalahan kepegawaian di lingkungan Pemerintah Daerah. 5. Aspek Keuangan Daerah, Penyelenggaraan pemerintahan Daerah akan terlaksana secara optimal jika penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber keuangan yang cukup kepada Daerah, dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintahan Daerah yang besarnya disesuaikan dan diselaraskan dengan pembagian kewenangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Oleh karena itu semua sumber keuangan yang melekat pada setiap urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah akan menjadi sumber keuangan Daerah. Ditetapkannya peraturan perundang-undangan di bidang keuangan, merupakan upaya menyelaraskan hubungan Pemerintah dan Daerah dalam pembiayaan otonomi Daerah. dilakukan koordinasi, konsultasi dan fasilitasi sehingga mampu menyelesaikan

Berdasarkan aspek-aspek yang yang menjadi pilar utama otonomi Daerah sebagaimana tersebut di atas maka hubungan Pusat dan Daerah pada

umumnya berjalan harmonis dan serasi tanpa terjadi kendala dan hambatan yang berarti.

B. Permasalahan aktual. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya bahwa pada umumnya hubungan Pusat dan Daerah berjalan serasi dan harmonis. Namun demikian bukan berarti sama sekali tidak ada permasalahan yang menjadi kerikil permasalahan yang jika tidak dipecahkan akan menimbulkan permasalahan yang akan menghambat otonomi Daerah. Adapun permasalah yang masih perlu penuntasan antara lain adalah : 1. Masih belum ditetapkan Standar Pelayanan Minimal untuk seluruh urusan pemerintahan yang bersifat wajib. Walaupun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 dinyatakan bahwa penetapan Standar Pelayanan Minimal dilaksanakan secara bertahap, namun hendaknya ada keseriusan Departemen yang berkaitan dengan urusan wajib untuk mempercepat penyelesaian Standar Pelayanan Minimal. 2. Masih belum ditetapkannya norma, standar, prosedur dan kriteria bagi urusan wajib dan urusan pilihan perlu mendapat penyelesian sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, yaitu selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sejak peraturan pemrintah tersebut ditetapkan. 3. Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Departemen yang ada di daerah hendaknya dipertimbangkan secara matang agar tidak terjadi friksi dan overlapping tugas antara Unit Pelaksana Teknis Departemen dengan Dinas Daerah (terutama tingkat Provinsi). Jika dimungkinkan kiranya tugas-tugas Unit Pelaksana Teknis Departemen yang cakupan tugasnya hanya 1 (satu) provinsi, didekonsentrasikan kepada Guberrnur.

4.

Sesuai dengan konsepsi otonomi luas dan bertanggungjawab dengan penyerahan urusan pemerintahan yang semakin besar kepada Daerah, kiranya perlu dipertimbangkan agar setiap urusan yang telah diserahkan kepada Daerah benar-benar dapat diselenggarakan dengan sebaikbaiknya dengan ditunjang oleh dana yang memadai. Penjelasan umum Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 antara lain menyatakan bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi Daerah, penyerahan, pelimpahan dan penugasan urusan pemerintahan kepada Daerah secara nyata dan bertanggungjawab harus diikuti dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumberdaya nasional secara adil, termasuk perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Mengacu kepada prinsip money follow function, maka perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah juga yang memperhatikan bobot dan volume kegiatan yang harus dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan setiap urusan pemerintahan menjadi kewenangan Daerah.

C.

Pola Hubungan Pusat dan Daerah Sejalan dengan konsepsi otonomi Daerah sebagai upaya meningkatkan pembinaan dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, pola hubungan Pusat dan Daerah lebih diarahkan kepada upaya lebih memberdayakan Daerah agar masingmasing Daerah lebih mampu menggali, mengembangkan dan mengaktualisasikan seluruh potensi Daerahnya. Sudah barang tentu penggalian, pengembangan dan aktualisasi potensi Daerah tersebut perlu ditunjang oleh sumberdaya manusia yang berkualitas, dana yang memadai dan sarana dan prasarana yang sesuai dengan yang diperlukan. Dikaitkan dengan Pasal 26 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara yang menyatakan bahwa hubungan antara Kementerian dan Pemerintah Daerah dilaksanakan dalam kerangka sistem

pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan prinsip-prinsip penyelenggaraan otonomi dalam daerah sesuai peraturan perundang-undangan, maka diharapkan bahwa hubungan Kementerian Negara dan Pemerintah Daerah Governance. kerangka lebih meningkatkan pemberdayaan Pemerintah Daerah yang mampu mewujudkan Good Local

PE N U T U P Demikian uraian mengenai gambaran umum keserasian hubungan Pusat dan Daerah, yang walaupun dapat dikatakan cukup serasi dan harmonis namun masih perlu pemantapan sehingga penyelenggaraan otonomi Daerah benarbenar berjalan optimal dalam rangka meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian otonomi Negara yang mengatur mengenai kelembagaan perangkat karena dengan undang-undang tersebut kelembagaan Pemerintah, diharapkan dapat meningkatkan optimalisasi penyelenggaraan Daerah pemerintah memperoleh landasan hukum yang lebih kokoh dan pembentukan perangkat Pemerintah lebih terarah. Diharapkan dengan format organisasi perangkat Pemerintah yang lebih rasional, lebih proporsional dan lebih efektif dengan ditunjang oleh komitmen dan konsistensi yang tinggi untuk mewujudkan Good Governance dan Clean Government yang dicanangkan melalui Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, maka pewujudan Pemerintah Negara Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi kenyataan.

. OLEH ;

GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN


PADA ACARA SOSIALISASI UNDANG-UNDANG NOMOR 39 TAHUN 2008

TENTANG KEMENTERIAN NEGARA DI BANJARMASIN TANGGAL 23 MARET SOO9