Anda di halaman 1dari 17

Kepada YTH. Majelis Hakim Pemeriksa Perkara Nomor : 0362/Pdt.G/2009/PA.

YK di Pengadilan Agama Yogyakarta

PERIHAL : JAWABAN TERMOHON Assalamualaikum Wr.Wb Dengan hormat, Bertandatangan di bawah ini, Dony Hendro Cahyono, S.H., dan Zahru Arqom, S.H., advokat pada Kantor Advokat Arqom, Dony & Co., berkantor di Jl. Nyi Tjondro Lukito No. 149 A, Sinduadi, Mlati, Sleman; yang dalam hal ini berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 5 Oktober 2009 sebagaimana yang aslinya tersimpan pada berkas perkara ini in casu; bertindak untuk dan atas nama .................. Binti ..........................; umur 27 Tahun, beragama Islam, pekerjaan swasta, menurut KTP beralamat di Tuntungan Baru UH 3/1188.A, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta; Selanjutnya mohon disebut sebagai Termohon; Melawan, RM. ............. Bin RM. .................... beragama Islam, pekerjaan swasta, beralamat di Tuntungan Baru UH 3/1188.A, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta; Selanjutnya mohon disebut sebagai Pemohon; Dalam Perkara No. 0362/Pdt.G/2009/PA.YK. di di Pengadilan Agama Yogyakarta

Menunjuk kepada Surat Permohonan Cerai Talak Pemohon tanggal 8 September 2009 dalam Perkara a quo, maka perkenankanlah kami kuasa hukum Termohon menyampaikan Jawaban Termohon, yang terdiri atas Nota Keberatan atau Eksepsi, Jawaban Konpensi serta Rekonpensi, dengan sistematika sebagai berikut : I. NOTA KEBERATAN/EKSEPSI

Eksepsi Permohonan Kabur (Exceptio obscuur libeli) A. Tentang Ketidaksingkronan antara bagian Judul, Posita dan Petitum Pada Surat Permohonan Cerai Talak Pemohon Bahwa antara title atau judul dalam Surat Permohonan Cerai Talak Pemohon tidak singkron serta bertentangan dengan bagian Petitumnya. Pada halaman 1 Surat Permohonan Cerai Talak Pemohon jelas tertera Perihal : Permohonan Cerai Talak, namun apabila dicermati secara seksama pada bagian positanya Pemohon hanya menceritakan peristiwa yang terjadi dalam biduk rumah tangga Pemohon dan Termohon dan sama sekali tidak mencantumkan dasar hukum apa yang mendasari permohonan cerai talak tersebut diajukan. Agama Sedangkan Yogyakarta Petitumnya untuk tiba-tiba meminta hubungan kepada hukum Pengadilan memutuskan

perkawinan antara Pemohon dengan Termohon. Jadi antara Judul dengan Posita dan antara Posita dengan Petitum dalam Surat Permohonan Pemohon tidak connect atau match antara satu dengan lainnya sehingga Surat Permohonan Pemohon menjadi kabur ( obscuur libel). Sedemikian adalah adil dan sesuai hukum apabila permohonan Pemohon dinyatakan niet ontvankelijke verklaard atau tidak diterima. B. Formulasi Permohonan Pemohon Keliru Tegas bahwa formulasi permohonan cerai talak antara lain harus memuat : a. Identitas pemohon (suami) dan termohon (istri);

b. Posita gugat, yakni alasan-alasan yang menjadi dasar cerai talak yang secara limitatif dalam Pasal 19 PP No. 9 Tahun 1975 jo. Penjelasan Pasal 39 UU No. 1 tahun 1974; c. Petitum gugat, yang meminta izin untuk mengucapkan ikrar talak di sidang pengadilan.
1

Nyata dan terang bahwa permohonan Pemohon dalam perkara a quo adalah tidak cermat dan keliru, sedemikian mengakibatkan formulasi permohonan menjadi obscuur libel! Pertama, bahwa posita permohonan cerai talak Pemohon tidak menyebutkan secara jelas dan tegas atas dasar hukum apa yang mendasari permohonan cerai talak tersebut diajukan. Kedua, Petitum permohonan cerai talak Pemohon nyata-nyata tidak meminta kepada Pengadilan ikrar Agama Agama talak Yogyakarta kepada untuk untuk memberi namun izin untuk hukum mengucapkan Pengadilan Termohon, jutru meminta

Yogyakarta

memutuskan

hubungan

perkawinan antara Pemohon dengan Termohon. Hopo tumon! Pemohon dengan gagah menyampaikan Petitum dalam lembar ke-4 Surat Permohonan Cerai Talaknya, yang berbunyi sebagai berikut : Primair : 1. Menerima dan mengabulkan cerai talak pemohon untuk seluruhnya 2. Memutuskan perkawinan antara pemohon dan termohon berdasarkan perceraian 3. Menetapkan seluruh biaya perkara dibebankan kepada termohon (Penebalan oleh Termohon) Sedemikian tegas bahwa kontruksi permohonan Pemohon dalam perkara a quo adalah meminta kepada Pengadilan Agama untuk memutus hubungan hukum perkawinan antara pemohon dengan termohon berdasarkan perceraian.
M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, Sinar Grafika, Cet ke-3, Jakarta, 2005, hlm 217 -218.
1

Menunjuk kepada syariat Islam bahwa seorang suami telah memiliki lembaga khusus atau tersendiri dalam memutuskan hubungan hukum perkawinan dengan istrinya yakni dengan mengucapkan ikrar talak. Berlakunya UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo. Pasal 14 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 jo. Pasal 66 UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama jo. Pasal 129 KHI, maka talak suami untuk menceraikan istri harus dilakukan di Pengadilan Agama setempat. (vide, Putusan MA RI No. 04 K/AG/1979 tanggal 22 Oktober 1979). Oleh karenanya Pengadilan Agama memiliki kewenangan untuk memberikan izin atau tidak memberi izin kepada suami untuk mengucapkan ikrar talak kepada istrinya.2 Sedemikain formulasi permohonan cerai talak secara definitif adalah

berbentuk suatu permintaan izin dari Pemohon yang ditujukan kepada Pengadilan Agama untuk mengucapkan ikrar talak terhadap istri dihadapan sidang Pengadilan Agama. Nyata dalam petitum Permohonan Pemohon dalam perkara a quo, didasarkan pada suatu bentuk permintaan kepada Pengadilan Agama cq. Majelis Hakim pemeriksa perkara untuk memutuskan perkawinan antara Pemohon dan Termohon berdasarkan perceraian. (Mohon periksa Petitum butir ke-2 Surat Permohonan) Sedemikian karena Permohonan Pemohon ternyata tanpa memuat

permohonan pememberian izin kepada Pemohon untuk mengucapkan ikrar talak, maka permohonan tersebut tidak memenuhi formulasi permohonan cerai talak. Menjadi adil apabila Surat Permohonan Cerai Talak Pemohon dalam perkara in casu dinyatakan tidak diterima.

Loc. cit, hlm 215 -216.

C. Petitum Pemohon Melawan / Bertentangan dengan Hukum Tegas bahwa hukum positif menetapkan kontruksi hukum Islam di Indonesia bagi seorang suami yang ingin menceraikan istrinya harus mengajukan permohonan izin mengucapkan ikrar talak di pengadilan Agama. Sedemikian karena Permohonan Pemohon ternyata tanpa memuat

permohonan pemberian izin kepada Pemohon untuk mengucapkan ikrar talak, maka jelas-jelas Permohonan Pemohon tersebut melawan atau bertentangan dengan hukum. Secara awam, akan timbul pertanyaan bagaimana mungkin Pemohon dapat menceraikan Termohon tanpa mengucapkan ikrar talak dihadapan sidang Pengadilan Agama Yogyakarta? Atau bagaimana mungkin PA Yogyakarta memberikan izin bagi Pemohon untuk mengucapkan ikrar talak, tanpa ada permintaan untuk itu. Hukum positif nyata-nyata telah menegaskan konsep permohonan izin cerai talak tersebut antara lain sebagai berikut : a. Pasal 66 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, yang berbunyi : (1) Seorang suami yang beragama Islam yang akan menceraikan istrinya mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk mengadakan sidang guna menyaksikan ikrar talak. b. Pasal 14 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yang berbunyi : Seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut Agama Islam, yang akan menceraikan isterinya, mengajukan surat kepada Pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud menceraikan isterinya disertai dengan alasanalasannya serta meminta kepada Pengadilan agar diadakan sidang untuk keperluan itu. c. Pasal 129 Kompilasi Hukum Islam, yang berbunyi :

Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.

Bahwa permohonan Pemohon sebagaimana kutipan petitum butir ke-2 tersebut di atas adalah salah bin keliru dan tidak sesuai dengan formulasi yang ditetapkan hukum positif dan hukum acara peradilan agama, sedemikian Petitum Pemohon adalah melawan/bertentangan dengan hukum dan bukan merupakan kewenangan dari dan oleh karenanya tidak dapat dan tidak mungkin diputuskan oleh Pengadilan Agama Yogyakarta. Satu dan lain karena bukan merupakan kewenangan PA Yogyakarta untuk memutuskan petitum di atas dan hakim harus tunduk pada peraturan perundangan yang berlaku, mak menjadi adil dan wajar serta sesuai dengan hukum apabila permohonan Pemohon dinyatakan tidak diterima. Sistem hukum perdata kita menganut sistem rule of law sebagai warisan dari Kerajaan Belanda yang bercorak hukum Eropa Kontinental, sedemikian hakim harus tunduk pada peraturan perundangan yang berlaku. Tak dapat lain bahwa Permohonan Pemohon dinyatakan tidak diterima. Namun apabila ternyata PA Yogyakarta tetap memeriksa dan memutus perkara a quo dan memutuskan memberikan izin kepada Pemohon untuk mengucapkan ikrar talak kepada Termohon, maka menjadi nyata bahwa putusan PA Yogyakarta memiliki cacad hukum karena melanggar asas ultra petita atau memutuskan suatu hal yang lebih dari atau tidak diminta oleh pemohonnya. Selain itu, menunjuk kepada asas peradilan yang cepat, sederhana dan biaya yang murah adalah tepat apabila Majelis Hakim berkenan untuk menjatuhkan putusan sela terlebih dahulu. Sedemikian amat nyata dan terang benderang berdasarkan argumentasi di atas bahwa Permohonan Pemohon adalah kabur alias obscuur libel dan oleh karenanya patut dan menjadi adil apabila Permohonan Pemohon dinyatakan tidak diterima.

II. JAWABAN DALAM POKOK PERKARA

1. Bahwa segala hal yang termuat dalam Eksepsi di atas secara proporsional,
mutatis mutandis dianggap termuat lagi dalam Jawaban dalam pokok perkara in casu.

2. Bahwa Termohon menolak dan menyangkal semua dalil-dalil dalam posita yang
termaktub dalam Surat Permohonan Pemohon kecuali yang secara tegas diakui kebenarannya oleh Termohon.

3. Bahwa sama sekali tidak pernah terjadi perkawinan antara Pemohon dengan
Termohon pada Tanggal 30 Juni 2009, sebagaimana dalil Pemohon dalam Posita 1 Surat Permohonannya. Silakan Pemohon buktikan dalil sesatnya tersebut! Kalaupun Pemohon merasa mengawini seorang pada Tanggal 30 Juni 2009, maka mempelai wanitanya pasti bukanlah Termohon.

4. Bahwa Termohon dengan Pemohon terikat hubungan hukum perkawinan yang


sah sejak Tanggal 30 Juni 2006, sebagaimana Kutipan Akta Nikah No. 330/42/VI/2006, yang diterbitkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah; Tanggal 30 Juni 2006.

5. Bahwa terhadap alasan-alasan Pemohon pada Posita 2 dan 3 Lembar ke-1


Surat Permohonan Pemohon, dengan ini Termohon secara tegas menyangkal dalil tersebut. Alasan kebelumsiapan Pemohon untuk menikahi Termohon karena belum memiliki pekerjaan adalah sama sekali tidak benar. Faktanya telah terjadi kesepakatan antara Pemohon dan Termohon mengenai masalah pekerjaan, bahwa pekerjaan tersebut bukan masalah dan bisa dicari setelah pernikahan dilangsungkan. Oleh karena itulah kemudian Orang Tua Termohon membiayai Pemohon untuk menempuh pendidikan profesi di Magister Kenotariatan FH UGM dan selain itu Pemohon diserahi tugas mengurus Hotel milik keluarga Termohon sebagai Operational Manager. Selain itu, alasan kebelumsiapan Pemohon untuk menikahi Termohon karena belum mengenal Termohon adalah semakin mengada-ada. Pemohon dan

Termohon telah melalui proses mengenal secara dekat (pacaran), selama kurang lebih enam (6) tahun. Bahkan Pemohon pernah tinggal di rumah orang tua Termohon selama kurang lebih 1 (satu) tahun dan Termohon juga pernah tinggal di rumah orangtua Pemohon selama selama kurang lebih 1 (satu) tahun juga saat kuliah dahulu.. Jadi tidak benar sama sekali apabila Pemohon menyatakan tidak mengenal secara dekat baik sifat maupun karakter dari Termohon.

6. Kalau Pemohon mendalilkan Pernikahan antara Pemohon dan Termohon terjadi


dikarenakan Pemohon terus didesak oleh ayah Termohon sebagaiman posita 3 Surat Permohonan Cerai Talak adalah tidak benar. Amatlah wajar, lumrah dan dan sesuai dengan akidah apabila seorang ayah menanyakan kepada calon menantunya tentang rencana pernikahan dengan putrinya untuk menghindari zina dan pandangan negatif masyarakat. Apalagi keduanya telah 6 (tahun) berpacaran dan terlebih lagi menikah juga adalah ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Pernikahan antara Pemohon dan Termohon telah disepakati bersama oleh Pemohon, Termohon, kedua orang tua Pemohon serta kedua orang tua Termohon tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Selain itu tegas bahwa peristiwa yang terjadi sebelum perkawinan adalah tidak dapat dijadikan alasan dalam perkara perceraian.

7. Bahwa Termohon membenarkan sejak awal perkawinan, kehidupan rumah


tangga Pemohon dan Termohon berjalan dengan lancar dan harmonis, Pemohon dan termohonpun hidup dengan sangat bahagia, saling mengasihi dan saling menyayangi satu sama lain. Namun keharmonisan rumah tangga dan kebahagiaan inipun justru dengan sengaja ingin dirusak oleh Pemohon karena secara tiba-tiba dan secara mengejutkan, pada akhir bulan Agustus 2009 Pemohon menunjuk kuasa hukum untuk mengurus permohonan cerai talak terhadap Termohon. Hal ini tentu saja bagi Termohon bak petir di siang bolong, karena secara tiba-tiba, tanpa pernah ada pembicaraan atau komunikasi tentang hal perceraian ini

sebelumnya, dan bahkan tanpa diketahui secara pasti apa yang menjadi alasan dan penyebab perkara perceraian. Namun baru terkuak kemudian bahwa keinginan Pemohon untuk bercerai dengan Termohon adalah karena Pemohon ingin bersanding dan hidup dengan wanita lain. Pada gilirannya nanti akan Termohon buktikan tentang rekayasa dan konspirasi apa dibalik permohonan cerai talak Pemohon ini.

8. Benar bahwa karena belum memiliki rumah sendiri, Pemohon dan Termohon
tinggal secara berpindah bergantian di rumah orang tuanya, kadang di rumah orang tua Pemohon maupun kadang di rumah orang tua Termohon, hal tersebut sama sekali tidak menjadi masalah bagi Termohon. Bahkan pada tahun 2007 telah disiapkan rumah kediaman di Puluhdadi, Condongcatur, Depok, Sleman; dimana Termohon dan Pemohon hidup serumah dan Termohon melaksanakan kewajibannya sebagai istri yang baik sambil kuliah, namun Pemohon senantiasa pulang dan tidur ke rumah orangtuanya. Selain itu pada saat ini telah ada rencana dari orang tua Termohon untuk menyediakan rumah di tempat lain bagi tempat tinggal Pemohon dan Termohon, agar Pemohon dan Termohon lebih mandiri dan memiliki tempat tinggal sendiri.

9.

Bahwa tidak benar sama sekali apabila sikap dan perilaku Termohon mulai berubah menginjak pertengahan tahun pertama perkawinan, sebagaimana didalilkan oleh Pemohon dalam posita 7 Surat Permohonan Cerai Talak. Justru yang sebenarnya terjadi adalah Pemohon tidak pernah mau jujur, terbuka dan berterus terang tentang apa yang menjadi keinginannya dan apa yang menjadi ganjalan hatinya kepada Termohon sebagai istrinya. Pemohon lebih sering menceritakan mengenai permasalahan yang dihadapinya (curhat) kepada kedua orang tuanya, sehingga campurtangan orang tua Pemohon amat berpengaruh pada Pemohon, sehinga seringkali hal ini tentu saja menyebabkan sering ada kesalahpahaman dan perbedaan persepsi antara Termohon dan Pemohon berikut orang tuanya, tetapi kesemuanya hanya masalah-masalah sepele dan bukan hal yang prinsipil.

10. Bahwa Termohon menolak dengan tegas dalil Pemohon dalam posita butir ke12 Lembar ke-2 Surat Permohonan Cerai Talak yang mendalilkan bahwa antara

Pemohon dan Termohon telah pisah ranjang selama kurang lebih tiga bulan yaitu sejak bulan November 2007). Yang sebenarnya terjadi adalah Termohon meminta kepada dan diberi ijin oleh Pemohon untuk pulang ke rumah orang tua Termohon di Temanggung untuk menjalani kerja magang sebagai salah satu syarat untuk dapat diangkat menjadi Notaris, yang dilaksanakan di Kantor Notaris / PPAT milik Ibu Termohon sendiri. Walaupun tidak tinggal dalam satu kota namun keduanya saling berkunjung. Pemohon sering datang ke Temanggung untuk sekedar melepas rindu dengan Termohon, begitupun sebaliknya Termohon sering mengunjungi Pemohon ke Yogyakarta. Jadi bukan dan sama sekali amat jauh dari konsep pisah ranjang! Selanjutnya, masih dalam posita yang sama Pemohon mendalilkan pada acara pertunangan saudara Pemohon, Termohon merasa dicuekin dan tidak dihargai. Hal itu jelas salah besar, karena peristiwa itu bukan pada pertunangan saudara Pemohon (di ndalem Ngasem) tetapi pada resepsi perkawinan adik ipar dari saudara sepupu pemohon dan bukan merupakan masalah yang besar karena Termohon hanya kesal dan menggerutu saja. Termohon kesal karena ternyata sebagian besar dari kerabat dan keluarga besar Pemohon tidak tahu bahwa Pemohon telah menikah dengan Pemohon dan saat itu tidak ada upaya yang layak untuk memperkenalkan Termohon sebagai istri Pemohon.

11. Termohon lagi-lagi menolak tegas atas pemutarbalikan fakta sebagaimana


posita butir ke-15 Lembar ke-3 Surat Permohonan Cerai Talak. Faktanya tidak ada pernah sama sekali Termohon mencaci-maki Ayah Pemohon apalagi naudzubillah di hadapan banyak orang dan saudara-saudara pemohon. Fakta yang benar adalah saat itu Termohon berada di Jakarta bersama Pemohon dan orang tuanya untuk menghadiri perkawinan keluarga Pemohon. Waktu untuk acara di Jakarta tersebut direncanakan berangkat dari Yogyakarta hari Selasa dan pulang hari Minggu. Namun ternyata pada hari Minggu rencana pulang tiba-tiba diubah oleh Orang Tua Pemohon, padahal Termohon harus pulang ke Yogyakarta karena pada hari Seninnya adalah hari terakhir pendaftaran ujian PPAT, urusan yang amat penting dibanding ikut jalan-jalan di Jakarta dan mengantar cucu ke Bandara. Secara baik-baik Termohon mengajak

10

Pemohon pulang, namun hal itu malah dicampuri orang tua Pemohon dengan mengatakan kok tidak kompak dan dengan enteng menyampaikan saran untuk menunda kepulangan dan urusan ujian PPAT masih bisa tahun depan. Akhirnya Pemohon mengatakan Rama ndak usah ikut-ikut dan saat itu hanya ada Pemohon, Ayah Pemohon dan Termohon, jadi sama sekali tidak dihadapan orang banyak. Pengaruh orang tua Pemohon terhadap Pemohon amatlah besar, sehingga Pemohon pun tanpa rasa tanggungjawab hanya mengantar Termohon ke Bandara dan akhirnya Termohon pulang sendiri Yogyakarta. Selebihnya atas kesalahpahaman tersebut antara Termohon dengan orang tua pemohon sudah saling memafkan, dan setelah itu segalanya telah berjalan dengan normal lagi.

12. Bahwa terhadap dalil Pemohon dalam Posita 16 dan 17, sekali lagi hal itu
sangat mengada-ada dan amat tidak logis, sejak kapan Pemohon disiksa dan dibuat menderita oleh Termohon? Teganya Pemohon menyebut perkawinan dengan Termohon adalah neraka ataukah karena ada surga baru di Pulau Dewata? Wallahualam. Naudzubillahimindalik! Bukankah justru Termohonlah yang pihak yang teraniaya. Jawab saja pertanyaan ini, siapa diantara Pemohon dan Termohon yang mengaku bujang dan punya pacar lagi dan tidak mengaku sampai keluarganya didatangkan? Siapa yang dibelakang pihak selebihnya mengaku hanya hubungan bisnis tapi ternyata malah berpacaran dan merencanakan hidup bersama. Betapa sakit dan terlukanya hati Termohon, tapi tetap saja Termohon masih mau memaafkan dan membina kembali hubungannya dengan Pemohon. Termohon senantiasa berusaha menjadi istri yang baik, mau memaafkan Pemohon dan sampai saat inipun masih mencintai Pemohon dan masih bersedia memaafkan Pemohon. Perkawinan adalah janji suci dihadapan Allah SWT, suatu hal yang amat tinggi nilainya sehingga patut untuk dipertahankan. Meski halal atau diperbolehkan, perceraian adalah perbuatan yang dibenci Allah SWT.

11

Termohon percaya bahwa ini semua adalah ujian dan cobaan untuk lebih menguatkan bahtera rumah tangga, oleh karenanya dengan ikhlas dan tawakkal Termohon akan berusaha menghadapinya dengan tidak bersedia bercerai dengan Pemohon karena alasan yang tidak jelas dan penuh rekayasa ini. Tegas bahwa Majelis Hakim harus secara seksama dan penuh kehati-hatian dalam memeriksa perkara ini, dan kami percaya bahwa Majelis Hakim yang mulia akan bijaksana dalam menentukan lebih besar mana antara manfaat atau mudharat terhadap masa depan rumah tangga antara Pemohon dengan Termohon.

13. Bahwa Termohon menyangkal dengan keras tatkala Pemohon dalam Posita
butir 18 Surat Permohonan Cerai Talak yang mendalilkan bahwa Pemohon telah 4 (empat) bulan pisah ranjang dengan Termohon. Karena pada kenyataannya sampai Tanggal 21 Agustus 2009 Pemohon masih tinggal di rumah orang tua Pemohon, dan sampai minggu ketiga Bulan Juli 2009, Pemohon dan Termohon masih melakukan hubungan suami istri seperti biasanya. Jadi dihitung dari mana pisah ranjang selama 4 (empat) bulan itu? Bahwa pada akhir Bulan Agustus 2009, karena menyambut Bulan Suci Ramadhan, Termohon meminta ijin kepada Pemohon untuk Nyantri di Pondok Pesantren, dan Pemohonpun mengijinkan. Keberangkatan Termohon untuk Nyantri di Pondok Pesantren itupun diantar oleh orang tua Termohon. Tapi ternyata saat kepergian Termohon untuk nyantri itu dimanfaatkan Pemohon untuk mengajukan perkara cerai talak in casu. Selanjutnya, alasan bahwa Pemohon sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan biologis Termohon akibat tertekan juga amat tidak logis dan mengada-ada. Kalau tertekan maka tertekan oleh siapa ? Ataukah ketidakmampuan itu karena keengganan Pemohon karena sudah ada wanita lain selain Termohon?

12

14. Selanjutnya Termohon menyangkal dan menolak alasan-alasan/dalil Pemohon


dalam segenap posita Surat Permohonan Cerai Talak untuk selain dan selebihnya. Selain itu Petitum butir ke-3 Surat Permohonan Cerai Talak oleh Pemohon juga amat tidak patut dan merendahkan martabat sebagai seorang laki-laki. Termohon tak habis pikir selain jarang memberi nafkah kepada Termohon meski usaha batiknya menghasilkan keuntungan, amit-amit kenapa Pemohon masih juga meminta biaya perkara ini ditanggung oleh Termohon.

15. Bahwa berdasarkan hal-hal di atas maka sama sekali tidak terdapat cukup
alasan menurut hukum untuk menjadi dasar permohonan cerai talak sebagaimana diatur secara limitatif dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Penjelasan Pasal 39, Undang-Undang No. 1 Tahun 1974.

16. Bahwa selain karena segenap alasan-alasan Pemohon yang diajukan dalam
Surat Permohonan Cerai Talak ini tidak sah serta penyebab dari adanya sengketa ini adalah terdapat pada diri Pemohon oleh karenanya tidak ada hak gugat atau hak Pemohon untuk mengajukan permohonan cerai talak pada perkara in casu. Khusus terhadap alasan syiqaq, maka pihak yang menjadi penyebab tidak dapat menjadi pihak yang menuntut perceraian. Hal tersebut sebagaimana Yurisprudensi MA RI No. 2571 K/Pdt./1988. 3 Bahwa putusan MA tersebut sesuai dengan yang digariskan Angka 2 SEMA No. 3 tahun 1981, yang memberi amnat kepada hakim untuk menyelidiki siapa penyebab perselisihan, sebagai hal yang merupakan dasar bagi hakim untuk mengambil keputusan. Mengingat penyebab perselisihan tidak mungkin dapat meminta cerai.
4

3 4

Varia Peradilan, Edisi no. 53 Tahun V, Jakarta, Februari 1990, hlm 52. M Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Cetakan ke-3, Jakarta, 2005, hlm

129.

13

Sedemikian berdasarkan segala hal di atas adalah adil, wajar dan sesuai dengan hukum apabila Permohonan Cerai Talak perkara a quo, dinyatakan ditolak.

III. DALAM REKONPENSI Bagian dalam Rekonpensi berikut permohonan dalam petitumnya ini adalah bersifat aksesoria apabila majelis hakim memutuskan memeriksa pokok perkara dan memberikan izin kepada Pemohon untuk mengucapkan ikrar talak terhadap Termohon. Rekonpensi ini disusun berdasarkan fakta-fakta sebagai berikut : 1. Segala hal yang termuat di dalam Butir II Dalam KONPENSI di atas, secara proporsional, mutatis-mutandis, dengan ini dinyatakan termuat lagi pada bagian REKONPENSI ini; 2. Bahwa pada bagian REKONPENSI ini mohon Termohon KONPENSI disebut sebagai PENGGUGAT REKONPENSI, sedangkan Pemohon KONPENSI disebut sebagai TERGUGAT REKONPENSI. 3. Bahwa sebagaimana akan diupayakan pembuktiannya nanti oleh Penggugat Rekonpensi, penyebab utama dari diajukannya permohonan cerai talak oleh Tergugat Rekonpensi adalah disebabkan karena Termohon Rekonpensi memiliki Wanita Idaman Lain (WIL). Namun karena rasa cinta yang besar dari Penggugat Rekonpensi terhadap Termohon Rekonpensi maka Penggugat Rekonpensi telah memaafkan semua kesalahan yang dilakukan oleh Tergugat Rekonpensi, dan Penggugat Rekonpensi ingin tetap mempertahankan keutuhan rumah tangganya karena ingin membina sebuah rumah tangga yang Sakinah, Mawadah, Warahmah. Amiin ya rabbalalamin. 4. Peristiwa yang terjadi dan disampaikan oleh Tergugat Rekonpensi adalah hal kecil, sepele dan amat wajar terjadi dalam perjalanan bahtera rumah tangga. Tergugat Rekonpensi seperti tidak pernah menghitung jasa keluarga Penggugat Rekonpensi yang telah membantu dan membiayai sekolah S-2 (Magister Kenotariatan), menyediakan tempat magang dan saat ini mengusahakan rumah

14

kediaman untuk Penggugat Rekonpensi dengan Tergugat Rekonpensi. Jadi ibarat pepatah habis manis sepah dibuang atau air susu dibalas air tuba. Bahkan tanpa diberi nafkah lahir oleh Tergugat Rekonpensi pun Penggugat Rekonpensi yakin bahwa rumah tangga masih tetap bisa berjalan baik dan harmonis, meski saat ini usaha batik Tergugat Rekonpensi sudang berkembang baik dan mendapat keuntungan besar. Permasalahan ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila Tergugat Rekonpensi punya prinsip, mandiri dan tidak mau urusan rumahtangganya senantiasa dicampuri dan diatur orang tuanya. 5. Karena permohonan cerai talak tidak mencantumkan hak-hak Penggugat Rekonpensi, maka adalah wajar apabila dalam petitum bagian rekonpensinya nanti Penggugat Rekonpensi mengajukan hak-haknya. Dengan dasar pengeluaran rumah tangga kurang lebih sebesar Rp. 1.000.000,- maka hak-hak Penggugat Rekonpensi diperhitungkan sebagai berikut : a. b. c. Nafkah Madyah (terhutang) 36 bulan x Rp. 1.000.000,- = Rp. 36.000.000,Nafkah iddah 3 bulan x Rp. 1.000.000,- = Rp. 3.000.000,Nafkah Mutah Sebesar Rp. 30.000.000,Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka dengan ini Termohon Konpensi/Penggugat Rekonpensi, bermohon kepada Majelis Hakim Pemeriksa Perkara a quo untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut : I. PRIMAIR A. DALAM EKSEPSI 1. Menerima Eksepsi Termohon untuk seluruhnya; 2. Menyatakan Permohonan Pemohon tidak dapat diterima. B. DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI Menghukum Pemohon untuk menanggung biaya perkara yang timbul;

15

Atau, apabila majelis berpendapat lain, I. PRIMAIR A. DALAM EKSEPSI 1. B. 1. 2. C. Menolak Eksepsi Termohon untuk seluruhnya; DALAM KONPENSI Menerima Jawaban Termohon untuk seluruhnya; Menolak Permohonan Pemohon untuk seluruhnya. DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI Menghukum Pemohon untuk menanggung biaya perkara yang timbul; Atau, apabila majelis berpendapat lain, I. PRIMAIR A. DALAM EKSEPSI 1. Menolak Eksepsi Termohon untuk seluruhnya; B. DALAM KONPENSI 1. Mengabulkan Permohonan Pemohon untuk sebagian. 2. Memberi izin kepada Pemohon untukmengucapkan Ikrar Talak. C. DALAM REKONPENSI 1. 2. Mengabulkan seluruhnya; Menghukum Tergugat Rekonpensi untuk membayar : Nafkah Terutang sebesar Rp. 36.000.000,-, nafkah Iddah sebesar Rp. 3.000.000,- dan Nafkah Mutah sebesar Rp. 30.000.000,- kepada Penggugat Rekonpensi D. DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI Menghukum Pemohon Konpensi/Tergugat Rekonpensi untuk menanggung biaya perkara yang timbul; Gugatan Penggugat Rekonpensi untuk

II.

SUBSIDAIR

Mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)

16

Demikian atas budi baik dan jerih-payah Pengadilan Agama Yogyakarta, kami menyampaikan terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb. Sleman, 19 Oktober 2009. Hormat takzim Termohon/Penggugat Rekonpensi berikut Kuasanya,

Zahru Arqom, S.H.,

Dony Hendrocahyono, S.H.

17