P. 1
Kejang Demam Kompleks

Kejang Demam Kompleks

|Views: 101|Likes:
Dipublikasikan oleh Puti Leviana
Kejang Demam Kompleks
Kejang Demam Kompleks

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: Puti Leviana on Aug 22, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/18/2014

pdf

text

original

Case Report Session

KEJANG DEMAM KOMPLEKS
Disusun Oleh : Puti Leviana 0810312041 Preseptor : Dr. Didik Hariyanto, Sp.A (K)

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi


Kejang demam  bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Terjadi pada usia antara 6 bulan dan 5 tahun Tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.

.Klasifikasi  Kejang demam  kejang demam sederhana  kejang demam kompleks.

Kejang berbentuk umum.Kejang Demam Sederhana (Simpeks)     Berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) Umumnya akan berhenti sendiri. tonik atau klonik. tanpa gerakan fokal Tidak berulang dalam waktu 24 jam .

atau kejang umum didahului kejang parsial Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam . Atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar.Kejang Demam Kompleks     Kejang lama > 15 menit. Kejang fokal atau parsial satu sisi.

Kejang demam terjadi pada semua ras Sedikit lebih predominan pada anak lelaki. 8.35 % di Hongkong dan 0.5 % di Cina. 14 % di Guam.8 % di Jepang. 0.5 – 1. 5 – 10 % di India.Epidemiologi        Paling sering terjadi pada anak Sekitar 2 – 5 % dari populasi Terjadi pada usia antara 6 bulan dan 5 tahun dengan manifestasi paling sering pada usia 2 tahun Insiden di seluruh dunia bervariasi. Kejang demam kompleks terjadi rata-rata 25 – 50 % dari seluruh kasus kejang demam .

dan influenza A Penyakit yang mendasari demam berupa infeksi saluran pernapasan atas.Etiologi dan Faktor Risiko     Sering berhubungan dengan infeksi virus penyebab demam pada anak : herpes simpleks-6 (HHSV-6). gastroenteritis. otitis media. . Shigella. dan infeksi saluran kemih Risiko berulangnya kejang demam akan meningkat pada anak dengan riwayat orangtua dan saudara kandungnya juga pernah menderita kejang demam Kejang demam diturunkan secara autosomal dominan sederhana.

infeksi virus. seperti gejala klinisnya.Etiologi dan Faktor Risiko    Kejang demam kompleks berhubungan dengan banyak faktor. Gurner et al : lokus genetik di kromosom 12 yang berhubungan dengan peningkatan risiko kejang demam kompleks Kejang demam kompleks juga memiliki kemungkinan untuk menjadi salah satu gejala adanya infeksi meningitis bakterial akut. faktor genetik dan metabolik. . serta kemungkinan adanya abnormalitas struktur otak.

kadang-kadang beberapa hari) . dengan atau tanpa generalisasi sekunder Gerakan kepala atau mata ke salah satu sisi Kejang diikuti paralisis unilateral transien (dalam beberapa menit atau jam.Manifestasi Klinis KDK     Dapat memiliki durasi yang lebih lama (hingga > 15 menit) Dapat muncul dengan beberapa kali kejang dalam 24 jam Dapat terjadi kejang lagi pada 24 jam berikutnya Kejang bersifat fokal. dengan kemungkinan tampilan :      Klonik dan atau tonik Kehilangan tonus otot sesaat Dimulai pada salah satu sisi tubuh.

masalah neurologik. atau penyebab lain dari kejang seperti trauma. dan berapa lama durasi kejangnya Riwayat demam dan penyakit lain yang diderita oleh anak Riwayat penyebab demam.Diagnosis Anamnesis :       Tampilan kejang. keterlambatan tumbuh kembang. Tanyakan faktor risiko terjadinya kejang demam. umum atau fokal. misalnya penyakit virus dan gastroenteritis Riwayat penggunaan obat pada anak Riwayat kejang pada anak sebelumnya. seperti :      Riwayat keluarga yang pernah atau tidak menderita kejang demam Suhu tubuh yang tinggi Riwayat prenatal dan keterlambatan perkembangan Penyakit perinatal (saat usia 28 hari pertama) Riwayat konsumsi alkohol dan rokok saat kehamilan ibu. karena dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang demam sebanyak 2 kali lipat .

faringitis. atau penyakit virus lain  Pemeriksaan neurologis  Tanda rangsangan meningeal  Tanda-tanda trauma atau keracunan . misalnya otitis media.Diagnosis Pemeriksaan fisik :  Pemeriksaan sistem untuk mencari penyebab demam.

Diagnosis Banding    Bakteremia dan sepsis Meningitis dan ensefalitis Status epileptikus .

elektrolit. tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam  darah perifer. dan gula darah   Pungsi Lumbal  untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan terjadinya meningitis   Elektroensefalografi (EEG) Pencitraan .Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan Laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam.

kalau perlu dilakukan intubasi.Penatalaksanaan  Pengobatan fase akut saat anak kejang  semua pakaian yang ketat dibuka  anak dimiringkan apabila muntah untuk mencegah aspirasi  Bebaskan jalan napas untuk menjamin oksigenasi  Pengisapan lendir dapat dilakukan secara teratur. dan fungsi jantung . suhu tubuh. berikan oksigen. sperti kesadran. tekanan darah.  Tanda vital mesti dipantau dan diawasi. pernafasan.

 Diazepam rektal dengan dosis 0.5 – 0.5 mg  usia > 3 tahun.3 – 0.  diazepam .75 mg/kgBB rektal 5 mg  BB < 10 kg  diazepam rektal 10 mg  BB > 10 k  diazepam rektal 5 mg  usia < 3 tahun  Diazepam rektal 7. Saat pasien kejang  Diazepam IV  dosis 0.5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan kecepatan 1 – 2 mg/ menit atau dalam waktu 3 – 5 menit dengan dosis maksimal 20 mg.

Kejang belum berhenti  dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit Bila setelah 2 kali pemberian masih kejang  fenitoin intravena dengan dosis awal 10 – 20 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit Bila kejang berhenti  fenitoin dengan dosis selanjutnya 4 – 8 mg/kgBB/hari dimulai 12 jam setelah dosis awal

Kejang berhenti dengan pemberian diazepam,  fenobarbital loading dose secara intramuskular dengan dosis awal 10 – 20 mg/kgBB, lalu dilanjutkan setelah 24 jam dosis awal dengan 4 – 8 mg/kgBB/hari

Pemberian obat saat demam dan mencari penyebab demam

Antipiretik
dengan dosis 10 – 15 mg/kgBB/kali sebanyak 4 kali dan tidak lebih dari 5 kali.  ibuprofen 5 – 10 mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari
 parasetamol

Antibiotik bila ada indikasi, misalnya otitis media dan pneumonia

serebral palsi. hidrosefalus  Kejang fokal  Dipertimbangkan bila :  kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam  terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan  kejang demam terjadi > 4 kali per tahun.Terapi Profilaksis  Indikasi  Kejang lama > 15 menit  Ada kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang. misalnya hemiparesis. paresis Todd. . retardasi mental.

  Profilaksis terus menerus pemberian antikonvulsan setiap hari.5°C. .  Asam valproat dengan dosis 15 – 40 mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis  Fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dalam 1-2 dosis   Pengobatan ini diberikan selama 1 tahun bebas kejang.Jenis Profilaksis  Profilaksis intermittent hanya diberikan pada saat pasien demam  diazepam rektal dengan dosis 5 mg (untuk anak dengan berat badan < 10 kg) atau 10 mg ( anak dengan berat badan >10 kg). bila anak menunjukkan suhu ≥ 38. kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

Kejang demam lebih besar kemungkinan berulangnya pada tahun pertama kehidupan .Prognosis  Kejang demam kemungkinan akan berulang bila ada faktor risiko berikut : 1     Ada riwayat kejang demam dalam keluarga Usia terjadinya kejang demam kurang dari 12 bulan Suhu tubuh yang rendah saat kejang Cepatnya terjadi kejang setelah demam   Bila seluruh faktor risiko ada. sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya sekitar 10 – 15 %. maka kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80 %.

Kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks. yang terjadi sebelum usia 1 tahun. . dan keterlambatan tumbuh kembang dapat menjadi faktor risiko terjadinya epilepsi.   Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. atau dipicu oleh suhu <39°C dihubungkan dengan peningkatan mortalitas 2 kali lipat pada 2 tahun pertama setelah kejang terjadi. riwayat epilepsi atau abnormalitas neurologis pada keluarga.

ILUSTRASI KASUS .

IDENTITAS PASIEN     Nama Umur Jenis Kelamin Alamat : FA : 2 tahun 11 bulan : Perempuan : Simp. Ikal Rawang .

 Seorang anak perempuan umur 2 tahun 11 bulan dirawat di Bangsal Anak RSUP. M. Dr. Djamil Padang sejak 28 Juli 2013 dengan :  Keluhan Utama : Kejang berulang 3 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit .

tidak menggigil dan tidak berkeringat Muntah sejak 10 jam yang lalu. isi sisa makanan dan minuman. tinggi. tidak berlendir.Riwayat Penyakit Sekarang    Demam sejak 12 jam yang lalu. tidak menyemprot Berak-berak encer sejak 6 jam yang lalu. jumlah ± ¼ gelas / kali. frekuensi ± 3 kali. frekuensi ± 4 kali. tidak berdarah . terusmenerus. jumlah ± 4-6 sendok makan perkali.

Ini merupakan episode kejang yang pertama. frekuensi 4 kali. lama kira-kira 2-5 menit per kali. kejang seluruh tubuh dengan mata melihat ke atas. jarak antara kejang sekitar 15 sampai 30 menit. oralit belum dicoba. berat badan terakhir 9 kg (ditimbang 1 bulan yang lalu) . Anak kurang mau makan sejak sakit. anak tidak sadar setelah kejang yang terakhir.Riwayat Penyakit Sekarang • • Kejang berulang 3 jam yang lalu. minum masih mau.

Riwayat Penyakit Sekarang      Batuk pilek tidak ada. gusi dan saluran cerna tidak ada . terakhir 3 jam yang lalu Riwayat perdarahan dari hidung. sesak nafas tidak ada Riwayat kontak dengan penderita batuk-batuk lama tidak ada Riwayat nyeri telinga dan keluar cairan dari telinga tidak ada Riwayat nyeri saat buang air kecil tidak ada. buang air kecil warna dan jumlah biasa.

dumin supp. tleah diberi oksigen 2 liter / menit. stesolit supp. IVFD KaEN 1B 10 tetes/ menit (makro). anak telah dikonsulkan ke bagian mata dengan hasil konsul saat ini tidak ditemukan tanda-tanda papil udem Anak sudah dikonsulkan ke supervisor neurologi anak dan dianjurkan untuk pemeriksaan CT Scan Kepala . diazepam IV 3 mg (2kali). Djamil Padang. anak kemudian dirujuk dengan keterangan infeksi SSP + GEA derajat ringan – sedang Di IGD RSUP M. fenobarbital IM 75 mg.Riwayat Penyakit Sekarang    Anak telah dibawa ke RS Reksodiwiryo.

dan gestasi cukup bulan   . tidak mengkonsumsi obat-obatan atau jamu. Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah menderita kejang dengan atau tanpa demam sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita kejang dengan atau tanpa demam Riwayat Kehamilan Ibu : Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat. riwayat imunisasi TT tidak diketahui. tidak pernah mendapat penyinaran selama hamil. kontrol teratur ke bidan.

sekarang. sayur 4 kali seminggu .6 bulan Nasi Tim : 6 bulan – 8 bulan Nasi Lunak : 9 bulan – 12 bulan Nasi Biasa : 12 bulan . daging ayam 2 kali seminggu. tetapi panjang badan lupa. Riwayat Kelahiran : Lahir spontan ditolong bidan. Berat badan lahir 2500 gram. Riwayat Makanan dan Minuman : ASI : 0 bulan – 18 bulan Bubur susu : 2 bulan . telur 4 kali seminggu.Kesan : kualitas dan kuantitas cukup  . langsung menangis kuat. 3x 1 porsi perhari.

4 bulan. 6 bulan Campak : 9 bulan Kesan : imunisasi dasar lengkap Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien merupakan anak kedua. Riwayat Imunisasi : BCG : umur 1 bulan (scar +) DPT : umur 2 bulan. 4 bulan. tidak bekerja. Ibu tamat SMP. 6 bulan Hepatitis B : umur 0 bulan. Penghasilan keluarga ± Rp 2. ayah tamat SMA.000. 4 bulan.000 sebulan. 6 bulan Polio : umur 2 bulan. pekerjaan buruh.  .

Kesan : higiene dan sanitasi kurang baik . buang air besar di WC dalam rumah. Riwayat Lingkungan dan Perumahan : Tinggal di rumah semi permanen. pekarangan luas. sumber air minum dari sumur gali. sampah dibakar.

2 oC : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada . GCS : 90 / 50 mmhg : 140 x /menit : 28 x/ menit : 39.Pemeriksaan Fisik           Keadaan umum Kesadaran E1M4V1 = 6 Tekanan Darah Frekuensi denyut nadi Frekuensi nafas Suhu Sianosis Edema Anemis Ikterus : sakit berat : tidak sadar.

5 %  Tinggi Badan menurut Umur : 93.   Panjang badan : 88 cm Berat badan : 10 kg Status gizi :  Badan menurut Umur : 72.3 % Kesan : Gizi Kurang .7%  Berat Badan menurut Tinggi Badan : 79.

kuning tidak ada. lingkar kepala 48 cm (normal standar Nellhaus) Mata : Tidak cekung. simetris. Konjungtiva tidak anemis. reflek cahaya +/+ normal Telinga : Tidak ditemukan kelainan : Tidak ditemukan kelainan Hidung . diameter pupil 1 mm/ 1mm. turgor kembali cepat Kelenjar Getah Bening Kepala : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening : Bentuk bulat. pupil isokor. air mata ada. sklera tidak ikterik.Kulit : Teraba hangat. pucat tidak ada. sianosis tidak ada.

ronkhi tidak ada . Oral trush tidak ada Leher Dada : : JVP 5-2 cmH20. simetris kiri dan kanan.Auskultasi : suara nafas vesikuler.Tenggorokan : Tonsil T1-T1 tidak hiperemis. retraksi tidak ada . wheezing tidak ada .Perkusi : Sonor . kaku kuduk tidak ada Paru .Palpasi : Fremitus sukar dinilai . faring tidak hiperemis Mulut : Mukosa bibir dan mulut basah.Inspeksi : Normochest.

irama teratur. turgor kembali cepat : Timpani Auskultasi : Bising usus (+) normal . bising tidak ada Perut : Inspeksi : Distensi tidak ada Palpasi Perkusi : Supel. hepar dan lien tidak teraba.Dada : Jantung Inspeksi: Iktus tidak terlihat - Palpasi : Iktus teraba 1 jari medial linea mid clavicularis sinistra RIC V Perkusi :  Batas kanan : Linea Sternalis dextra  Batas kiri : 1 jari medial linea mid clavicularis sinistra RIC V  Batas atas : RIC II - Auskultasi : Bunyi jantung normal.

Status pubertas A1.P1 Anus : Colok dubur tidak dilakukan Anggota gerak : Akral hangat.Punggung : Tidak ditemukan kelainan Alat kelamin : Tidak ditemukan kelainan. Reflek chaddock (-/-). perfusi baik Reflek fisiologis : +/+ normal Reflek patologis : Reflek babinsky (-/-). Reflek openheim (-/- ). M1. Reflek scaefer (-/-). Reflek Gordon (-/-) Tanda Rangsangan Meningeal : Kaku kuduk tidak ada Brudzinsky I (-) Brudzinsky II (-) Kernig Sign (-) .

Pemeriksaan Laboratorium Darah :  Hemoglobin : 12 gr%  Leukosit : 12.000/mm3 .100/ mm3  Hitung jenis leukosit : 0/ 0/ 25/ 42/26/3  Hematokrit : 29 %  Trombosit : 251.

Pemeriksaan Laboratorium Urin :  Protein : (-)  Reduksi : (-)  Bilirubin : (-)  Eritrosit : (-)  Bilirubin : (-)  Urobilin : (+) Kesan : urin dalam batas normal .

telur cacing (-) . eritrosit (-).Pemeriksaan Laboratorium Feses :  PH netral  Makroskopis : warna kuning  Mikroskopis : leukosit (-).

Diagnosa Kerja     Kejang Demam Kompleks Diare Akut Tanpa Deidrasi Suspek Sepsis Gizi kurang .

O  Zinc 1 x 20 mg P.O  Luminal 2 x 40 mg P.Terapi  O2 1 liter / menit  IVFD 2A 85 cc/kgBB/hari = 850 cc/ hari = 12 tetes / menit (makro)  Sementara puasa  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Paracetamol 4 x 100 mg P.O .

GDR PT / APTT Kultur Darah CT Scan Kepala Lumbal Pungsi . Ca. K.Rencana      Na.

Follow Up Tanggal 28 Juli 2013 pukul 19. tidak tinggi  Sesak nafas tidak ada  Muntah tidak ada  Berak-berak encer tidak ada  BAK warna dan jumlah biasa  Keluarga pasien masih menyiapkan dana untuk CT-Scan .00 WIB S/  Anak mulai bangun  Kejang tidak ada  Demam masih ada.

rhonkhi -/-.O/  Tampak sakit berat. bising (-)  Pulmo : Vesikuler. GCS E4 M5 V3 = 12  Tekanan Darah : 90 / 60 mmhg  Frekuensi denyut nadi : 132 x /menit  Frekuensi nafas : 28 x/ menit  Suhu : 37. turgor kembali cepat  Ekstremitas : Akral hangat. sklera tidak ikterik  Thorax : Retraksi (-)  Cor : Irama teratur. BU (+) normal. wheezing-/ Abdomen : Distensi (-).8 0C  Mata : konjungtiva tidak anemis. perfusi baik .

4 mmol/l  GDR : 185 mg/dl  Calcium : 9 mg/dl  Kesan : perbaikan kesadaran Konsul dr. Laboratorium  Na : 125 mmol/l  K : 3.A (K). advise :  Setuju  untuk penundaan CT Scan kepala  Observasi klinis pasien . Iskandar Syarif. Sp.

O  Zink 1 x 20 mg   Rencana :  Tunda CT Scan dan Lumbal Pungs . Terapi : O2 1liter/menit  IVFD 2A 12 tetes/menit (makro)  Makanan Cair 8 x 25 cc / NGT  Oralit 100 cc / BAB encer / muntah  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Luminal 2 x 40 mg P.O  Paracetamol 4 x 100 mg P.

Follow Up Tanggal 29 Juli 2013 pukul 06. jumlah ±2-3 sdm/kali. tidak berdarah  Anak sudah menangis minta minum  BAK warna dan jumlah biasa .00 WIB S/  Demam masih ada. frekuensi 4 x. tidak berlendir. tidak tinggi  Kejang tidak ada  Sesak nafas tidak ada  Muntah tidak ada  Berak-berak encer ada.

rhonkhi -/-.O/  Tampak sakit sedang.6 0C  Mata : konjungtiva tidak anemis. bising (-)  Pulmo : Vesikuler. sklera tidak ikterik  Thorax : Retraksi (-)  Cor : Irama teratur. perfusi baik . Sadar  Tekanan Darah : 100 / 70 mmhg  Frekuensi denyut nadi : 112 x /menit  Frekuensi nafas : 24 x/ menit  Suhu : 37. wheezing -/ Abdomen : Distensi (-). BU (+) normal. turgor kembali cepat  Ekstremitas : Akral hangat.

O  Paracetamol 4 x 100 mg P.O  Zink 1 x 20 mg  . Kesan : Masih febris  Diare akut tanpa dehidrasi   Terapi : O2 1liter/menit  IVFD 2A 6 tetes/menit (makro)  Makanan Cair 8 x 50 cc / NGT  Oralit 100 cc / BAB encer / muntah  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Luminal 2 x 40 mg P.

Follow Up Tanggal 30 Juli 2013 S/  Demam tidak ada  Kejang tidak ada  Sesak nafas tidak ada  Muntah tidak ada  BAK dan BAB biasa .

BU (+) normal. turgor kembali cepat  Ekstremitas : Akral hangat. Sadar  Tekanan Darah : 100 / 70 mmhg  Frekuensi denyut nadi : 100 x /menit  Frekuensi nafas : 20 x/ menit  Suhu : 37 0C  Mata : konjungtiva tidak anemis. wheezing -/ Abdomen : Distensi (-). bising (-)  Pulmo : Vesikuler.O/  Tampak sakit sedang. sklera tidak ikterik  Thorax : Retraksi (-)  Cor : Irama teratur. perfusi baik . rhonkhi -/-.

O  Paracetamol 4 x 100 mg P. Kesan :  Hemodinamik stabil  Terapi :  Makanan Cair 4 x 120 cc  Makanan lunak 500 kkal  Ampicillin 4 x 500 mg IV  Kloramphenicol 4 x 250 mg IV  Luminal 2 x 20 mg P.O  Zink 1 x 20 mg .

DISKUSI .

dengan frekuensi nadi 140 x/ menit.  Kejang berulang yang dialami anak lebih dari 1x dalam 24 jam merupakan salah satu ciri-ciri dari kejang demam kompleks.100 /uL menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi berat yang mengarah pada sepsis .2 serta adanya leukositosis pada pemeriksaan laboratorium pada tanggal 28 Juli 2013 dengan nilai 12. Pasien tidak sadar. frekuensi pernafasan 28 x / menit dan suhu 39.

   Mata tidak cekung. Pemeriksaan rangsangan meningeal dengan hasil negatif menunjukkan tidak terdapat infeksi pada otak dan meningen. air mata ada. dan turgor kulit kembali cepat. Diagnosis banding kejang demam kompleks adalah epilepsi yang diprovokasi demam dan meningoensefalitis . menunjukkan tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi pada pasien ini.

Sebaiknya terapi rumatan yang diberikan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis karena efek samping dari fenobarbital adalah anak dapat mengalami gangguan prilaku dan kesulitan belajar. Terapi rumatan yang diberikan adalah fenobarbital dengan dosis 3-4 mg/kgBB/2 dosis/hari. digunakan sebagai terapi untuk mengatasi suspek sepsis yang didiagnosis pada pasien ini. terapi profilakasis jangka panjang digunakan karena terdapat indikasi kejang berulang lebih dari 2x dalam 24 jam. kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Terapi rumatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang. antibiotik yang digunakan adalah ampicillin dan klorampenicol. .  Pada terapi. Pada pasien ini.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->