Anda di halaman 1dari 24

Pro Kontra Rekayasa Genetika

Date: 2010.09.06 | Category: Article | Tags: Publikasi penemuan bidang sains dan teknologi sering menimbulkan polemik di kalangan masyarakat dunia. Sejak jaman pra-sejarah hingga renaissance, sejak jaman renaissance hingga periode post-modern, polemik seputar penemuan bidang sains dan teknologi selalu memancing perdebatan sengit, dus, suara pro dan kontra yang keras dan meluas, terutama di negara-negara tempat penelitian ilmiah tersebut dilakukan.

Pada awal abad 16, para pendeta Protestan mengecam keras Nicholas Copernicus, yang meyakini bahwasanya bumi dan planet-planet lainnya mengelilingi matahari -bukan sebaliknya, sebagaimana bunyi teori Ptolemaic yang berlaku umum ketika itu. Di awal abad 17, ketika Gereja Katholik mencanangkan gerakan Kontra Reformasi (gerakan kembali kepada kitab suci), semua karya tulis Copernicus diberangus, dimasukkan ke dalam daftar hitam, orang dilarang untuk membacanya. Dan jauh setelah Copernicus tiada, tepatnya tahun 1839, saat patungnya diresmikan di salah satu pojok utama kota Warsawa, Polandia, tak satupun dari pendeta Katholik yang sudi memberikan pemberkatan. Menguatkan pendapat Copernicus, pada tahun 1632, Galilei Galileo mengumumkan kesimpulan serupa : bumi hanya salah satu diantara banyak planet yang mengitari matahari. Ensiklopedi 1001 Tokoh Penemu Paling Berjasa Bagi Umat Manusia suntingan Iwan Gayo mengemukakan bahwa pendapat Galileo tersebut, bertentangan dengan kaidah Benda Langit Yang Sempurna dari Aristotles, yang berlaku umum di Eropa pada abad ke 17, semasa Galileo hidup. Vatikanpun bereaksi. Paus menuduh scientist kelahiran Pisa, Italia itu telah menyerangnya secara pribadi lewat karya tulisnya : Dialogue Concerning the Two Chief World Systems: Ptolemaic and Copernican. Pasca pernyataan Imam Besar Katholik sedunia itu, Galileo kemudian dikenai hukuman tahanan rumah seumur hidup. Menjelang New Millenium, dunia dikejutkan oleh ditemukannya sebuah cara baru dalam hal proses berkembangbiaknya mahluk hidup. Proses kembang biak yang dikenal dengan istilah Kloning itu dinyatakan bisa menghasilkan anakan yang persis sama dengan induknya secara a-seksual (tanpa melalui pembuahan). Adalah Professor Jerry L. Hall, yang pertama berhasil melakukan percobaan Kloning. Konon, peneliti dari Washington University ini pernah

membelah embrio manusia menjadi beberapa bagian, sampai masing-masing bagian tersebut berhasil dibiakkan menjadi embrio yang sama. Menyusul kemudian : Dr. Tim Cohen dari Inggris. Ia ditengarai berhasil membantu Maureen Ott melahirkan seorang anak perempuan yang dinamai Emma Ott, setelah sebelumnya melalui proses pengkloningan. Disaat Dr. Ian Walmut, Direktur Tim Roslin Institute, mempublikasikan keberhasilannya dalam mengkloning sel kelenjar susu domba ras dorset asal Finlandia menjadi seekor domba normal, polemik yang sebelumnya hanya riakriak kecil saja, berubah meluap ke permukaan. Polemik mengenai teknologi kloning itu semakin bertambah panas, ketika Dr. Martine Nijs, peneliti medik asal Belgia, mengaku telah berhasil mengkloning bocah kembar sejak tahun 1993. Menurut Nijs, ketika ia mempublikasikan hal tersebut, tepat pada 9 Maret 1997, klon bocah kembar itu masih terus mengalami masa pertumbuhan. Seperti yang terjadi pada Copernicus dan Galileo, reaksi masyarakat dunia begitu keras menyoroti dampak, serta mempertanyakan etika teknologi rekayasa genetika. Mayoritas masyarakat dunia memandang ide tersebut sebagai sesuatu yang buruk, rubbish, dan mencampuri wilayah otoritas Tuhan. Teknologi kloning memperlihatkan betapa kita sudah kehilangan rasa hormat kepada makhluk hidup,ujar Paus Yohannes Paulus II dalam The Washington Post. Ada banyak makhluk hidup yang perlu dihormati, bukan hanya digunakan untuk memuaskan nafsu tertentu saja, tambah Douglas Bruce, direktur Church Of Scotland, yang berlokasi di propinsi tempat diumumkannya penemuan domba kloning Dolly. Dan di Amerika Serikat, Gereja Katholik Detroit, mengeluarkan press release dalam The Detroit News. Manusia diciptakan dari citra Tuhan. Dan kloning hendak mengotorinya, tulis pernyataan itu. Sesaat setelah Gereja Vatikan Roma mengeluarkan kecaman atas upaya pengkloningan manusia yang marak dilakukan di negara-negara maju pasca publikasi Dr. Ian Walmut, opini masyarakat barat, khususnya Amerika dan Eropa, menunjukkan sentimen negatif. Hampir 90 % responden majalah Time, Newsweek, BBC, atau CNN Television, menabukan rekayasa genetika. Masyarakat duniapun masih tetap apriori terhadap teknologi kloning ini, kendati Advanced Cell Tecnology (ACT) Inc. dari Worcester, Massachusetts, Amerika Serikat, dalam percobaannya berhasil membiakkan sel tunas (sel stem) menjadi sel tertentu pengganti jaringan tubuh yang rusak sebab penyakit kronis. Meskipun pihak perusahaan bioteknologi itu berusaha meyakinkan masyarakat luas bahwasanya teknologi kloning bisa berguna untuk theurapeutic ( proses penyembuhan penyakit), dunia tetap memandang sinis terhadap ide rekayasa genetika tersebut. ** Dari kalangan cendekiawan ataupun ulama-ulama dunia Islam, sikap kontra terhadap teknologi kloning inipun sempat mengemuka. Rata-rata mereka mengkhawatirkan keruntuhan institusi perkawinan dan putusnya rantai keturunan, jika teknologi kloning ini dinyatakan halal untuk diterapkan. Keberhasilan kloning manusia akan mengakibatkan sendi kehidupan keluarga menjadi terancam hilang atau hancur. Oleh karena manusia yang lahir melalui proses kloning tidak dikenal siapa ibu dan bapaknya, atau dia adalah percampuran antara dua wanita atau lebih. Sehingga, tak diketahui siapa ibunya, dan akan sulit dilacak keberadaan bapaknya, ketika anak hasil pengkloningan itu membutuhkan salah satu dari figur ayah atau ibu, ataupun figur keduanya. Dan kalau itu berulang terus, maka bagaimana kita dapat membedakan seseorang dari yang lain, yang juga mengambil bentuk dan rupa yang sama ? ujar Syaikh Muhammad Ali al-Juzu, seorang Mufti kelahiran Lebanon yang beraliran Islam Sunni. Syaikh Farid Washil yang kini bermukim di Kairo, Mesir, memang mendukung ide kloning untuk penyediaan organ tubuh bagi mereka yang membutuhkan. Namun, ia juga menegaskan bahwa : Kloning sebagai jalan keluar dari

kemandulan jelas tidak bisa dibenarkan. Lagipula, kloning reproduksi manusia bertentangan dengan empat dari lima Maqashid asy-Syariah, yaitu : pemeliharaan jiwa, akal, keturunan, dan agama. Disamping pendapat yang menentang, ada juga sebagian ulama dan kaum cendekiawan yang sangat antusias mendukung diterapkannya teknologi kloning. Salah satunya adalah Sayyid Muhammad Hasan Al-Amin. Kalau kita berandai kloning diterapkan pada manusia, maka menurut hemat saya ia merupakan suatu keberhasilan yang besar dan agung untuk kemaslahatan manusia. Pandangan agama secara umum dalam hal ini sejalan dengan pandangan agama terhadap semua keberhasilan ilmiah yang besar dan yang dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Kita harus membedakan sisi moral, sosial, dan kemanusiaan dengan pandangan agama menyangkut teori ilmiah tentang kloning.ujarnya. Agama tidak mungkin mengharamkan atau melarang ditemukannya satu teori ilmiah baru yang dapat mengantar kepada pengungkapan rahasia dari sekian banyak rahasia kehidupan, manusia, dan alam raya. Sebaliknya pun demikian. Karena, agama mengundang manusia untuk berpikir, mengamati, menganalisis, dan mengambil kesimpulan. tambah ulama yang juga Hakim Agung di Mahkamah Tinggi al-Jafariyah Lebanon itu. *** Hampir sepuluh tahun dunia berpolemik soal teknologi kloning. Sampai dengan Oktober 2008 tahun lalu, sidang Komite VI Majelis Umum PBB belum juga menetapkan larangan terhadap pencangkokan sel pada manusia. Ada dua draft resolusi yang satu sama lain memiliki perbedaan yang sangat signifikan, berkenaan dengan batasan larangan pengembangan kloning. Delegasi Costa Rica mengajukan draft resolusi yang melarang seluruh bentuk kloning, baik untuk tujuan reproduksi atau untuk maksud kesehatan. Menurut delegasi-delegasi negara pendukung draft resolusi tersebut, therapeutic cloning tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara etika. Prediksi mereka : akan ada penyimpangan dalam pengembangan kloning yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Lagipula, proses kloning tersebut hanya akan menguntungkan negara-negara besar saja. Bertolak belakang dengan draft resolusi yang diajukan oleh delegasi Costa Rica, delegasi Belgia mengajukan draft resolusi yang mengijinkan kloning untuk maksud penelitian yang bakal berkontribusi untuk kesehatan (therapeutic cloning). Dengan pengawasan yang ketat, therapeutic cloning bisa dikembangkan demi menyelamatkan kehidupan manusia. Para penderita kanker, AIDS, parkinson, alzheimer bisa berharap banyak dari pengembangan kloning untuk maksud kesehatan. demikian pendapat Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan. Secara pribadi saya mendukung pengembangan therapeutic cloning.ujarnya pula. Menyimak berbagai polemik seputar teknologi kloning, ada kecenderungan mayoritas opini memberi dukungan pada pengembangan kloning untuk kesehatan (therapeutic cloning). Fatwa dari Majma Buhus Islamiyah Al-Azhar, yang berkedudukan di Kairo, Mesir, memberikan pengecualian untuk therapeutic cloning. Kendati fatwa yang ditandatangani oleh Syaikh Tanthawi itu kurang lebih berbunyi : kloning manusia itu haram dan harus diperangi serta dihalangi dengan berbagai cara., namun fatwa tersebut membedakan antara pengembangan kloning untuk maksud reproduksi pada manusia dengan pengembangan kloning untuk maksud pembaharuan terhadap organ tubuh manusia yang rusak. Jika kerusakan organ tubuh bisa diatasi dengan kloning, maka dipersilahkan untuk menempuh prosedur tersebut. Sebab, fatwa itu menimbang : manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya. Terlepas dari pro dan kontra seputar rekayasa genetik pada manusia yang populer dengan istilah kloning itu, sampai saat ini, belum ada ilmuwan yang berhasil mengkloning primata -kloning yang dianggap bisa menjadi jembatan menuju kloning manusia- yang paling dekat susunan genetiknya dengan manusia. Prof. Gerald Schatten dari

Pittsburgh University mengemukakan bahwasanya belum terdapat kemajuan berarti dalam proses kloning primata, kendati upaya kloning primata ini telah diujikan pada 700 sel telur monyet selama periode enam tahun ini. Teknik kloning yang digunakan saat ini memusnahkan unsur protein dalam sel telur primata. Waktu nukleus sel telur diangkat untuk diganti dengan DNA sel lain, protein kunci malah ikut terangkat. Padahal protein tersebut sangat dibutuhkan demi keberlangsungan hidup embrio. ucap Prof. Gerald Schatten, seperti dikutip oleh Harian Kompas. Keterangan itu menjelaskan kematian domba Dolly- yang dianggap monumental dalam Today History Of Sciencepada 14 Februari 2003, karena Lung Disease yang parah. Metode kloning yang diterapkan oleh Dr. Ian Walnut ketika mengkloning Dolly, domba ras dorset Finlandia itu, ternyata malah membuat sel telur primata cacat. Itulah sebabnya, tidak ada hasil kloning yang berumur panjang, yang sehat seratus persen, dan tidak mengalami kerusakan genetik. (red/aea)

ETIKA REKAYASA GENETIKA Sebagaimana abad 12 adalah abad keemasan bagi perkembangan komputer, awal abad 12 adalah perkembangan DNA. Perkembangan silikon membuat perubahan yang dramatis mengenai bagaimana kita sebagai spesies bekerja, berpikir, berkomunikasi dan bermain. Inovasi dari revolusi komputer membantu revolusi penting genetika, dimana menjanjikan apa yang dikerjakan untuk hidup dengan komputer untuk informasi. Kita sampai pada ambang dari transformasi, manipulasi dan membuat organisme untuk banyak kepentingan jumlah produktif. Untuk pengobatan, untuk pertanian, untuk pembangunan dan juga komputer, kita diluar jangkauan dari perkembangan ketika manipulasi dari kode genetik dari bermacam organisme, atau tehnik organisme baru, menjanjikan perubahan jalan kita yang menghubungkan dangan dunia alam. Bioteknologi, khususnya rekayasa genetik, merupakan suatu sumber daya yang bermanfaat, yang terkait dengan pengobatan, pabrik, dan pertanian. Dimulai untuk mendapatkan hasil yang praktis dari rekayasa genetik seperti terapi pengobatan baru dan penamahan hasil dari tanaman pangan dan sejauh ini hanya sedikit hal dari kerugian yang ditimbulkan. Rekayasa genetika berpotensi untuk memperbaiki kesehatan kita dan menjadi sesuatu yang lebih baik, revolusi cara hidup, membantu untuk menjaa sumber daya yang terbatas, dan hasil kekayaan yang baru. Ketersediaan ini adalah pengaturan yang tepat, sikap yang berfokus dengan pertimbangan etika untuk martabat, onsekuensi bahaya, dan hukum, potensi manfaat lebih besar dari keruguan rekayasa genetik.Penolakan terhadap rekayasa genetik tnpa alasan yang pastimerpakan kebohongan yang tidak wajar. Ioteknologi apat dimengerti sebagai suatu perpanjangan kombiasi dengan pengetahuan tentang evolusi dan teknik genetika. Sebagaimana revolusi teknologi, kegelisahan, ketakutan, dan keberatan moral untuk produk rekyasa genetik. Orang ahli yang berpengalaman meberi kesan hati-hati, sedankan pihak lainnya menentukan sikap berdasarkan dari informasi, prasangka agama, atau ketakutan tanpa ilmu. Kemajuan teknologi untuk memperbaiki kesejahteraan manusia, pertimbangan etika dengan didasari pemahaman mekanisme rekayasa genetik menjamin peningkatan produk teknologi. Sebagai beberapa implikasi mora pentig sebaiknya diambil dalam laporan sebgaai peran utama dalam rekayasa genetik. Beberapa imlikasi moral yang menjadi pertimbangan

hai-hati diskusi yang mengikuti 3 elas. Pertama: berisis etika umum, antara agama da sekler, mengenai kesusilaan dari rekyasa genetika; kedua: potens manfaat dan konsekuensi bahaya reayasa genetik;ketiga isu hukum khuusnya jalan masuk bagi terapi geetik untk pengobatan. Catatan yang diberika pada paper ini yaitu beberapa isu etika lain yang tidak beralasan, sepert hak milik informasi genetika. Fokus tulisan ini beronsentrasi pada penghormatan pada isi etika utama mengenai rekayasa genetik. Pengetahuan dasar DNA adalah molekul yang luar biasa mampu mengembangkan pertumbuhan dan perkembangbiakan organisme. Komponen organisasi dari setiap bentuk kehidupan di bumi melibatkan struktur molekul DNA doble stranded. Organisme dikendalikan metabolismenya oleh perintah DNA, yang terkonformasi dalam nukleus. DNA yang sama pada sel organisme, digunakan dalam reproduksi, sama dengan organisme lain yang terkait sel somatik. Kode genetik pada organisme kompleks dengan sekitar 3 milyar nukleotid dengan sekuen yang berbeda, memiliki sekitar 25000 gen, yang diantaranya bertanggungjawab ada beberapa ciri pembawaan atau rupa organime, ketika dikombinasikan dengan faktor lingkungan. Variasi dari kode-kode gen tersebut menjdi ciri keunikan individu makhluk hidup. Selain menyampaikan informasi mengenai fenotip seperti rambut dan warna mata, gen juga menyampaikan informasi mengenai fungsi biologi yang penting. Mutasi pada sekuen genetik dapat menyebabkan kelainan genetik. Sekitar 4000 kelainan genetik telah diketahui, ada yang degeneratif maupun laten dan kebanyakan resesif serta dipacu ekpresinya oleh faktor lingkungan dan diturunkan dari orang tua pada keturunannya. Pada beberapa kasus kerusakan sekuens DNA memberi ketahanan terhadap lingkungan seperti gen hemoglobin dengan kerusakan sickle cel merupakan imunitas bagi penderita malaria (Leivin and Suzuki, 1993, pp 35-38). Kebanyakan kesalahan pada replikasi DNA menghasilkan kesalahan pada produksi protein. Sel somatik DNA adalah kode penting bagi protein yang dimetabolisme langsung secara seluler seluruhnya pada organisme untuk mengontrol produksi dari protein penting yang langsung terus menerus pada setiap organ tubuh karena mekanisme jaringan yang berbeda, juga bagian dari instruksi set DNA. Perbedaan tipe sel tubuh menghasilkan tipe protein yang berbeda. Beberapa gen pada organ ini ada yang turn on dan yang lain turn off, sehingga jaringan dan organ punya fungsi yang unik. Penyakit genetik berkembang menghilang pada sekuen DNA organisme yang dihasilkan dari kerusakan pada produksi normal pada beberapa protein. (Griffith et al 1997) Kanker merupakan perkembangan kerusakan DNA sel somatik yang merusak reroduksi sel itu sendiri, tidak hanya meabolisme atau produksi protein. Walaupun mekanime dari kelainan genetik adalah kompleks, ilmuwan belajar lebih mengenai penyebab dan bagaimana mendeteksinya. Beberapa berhubungan dengan peubahan DNA paa gen yang menyebabakan penyakit, perubahan lain.

Walaupun mekanisme dari kelainan genetik adalah kompleks, ilmuan belajar lebih mengenai penyebab dan bagaimana mendeteksinya. Beberapa berhubungan dengan perubahan DNA pada gen yang menyebabkan penyakit; perubahan lain, dimana sekarang tidak berhubungan langsung dengan gen, merubah fungsi dari gen; ada 3 tipe perubahan, dimana tidak menyebabkan penyakit tertentu, indikasi bahwa individu dengan sekuen khusus adalah lebih rentan untuk berkembang menjadi penyakit. Banyak dari perubahan sekarang bisa dideteksi dan ilmuan terus menghubungkan antara sekuen DNA khusus dan kelainan genetik. Dengan pengetahuan hubungan ini, ilmuan dapat menguji untuk adanya bagian penyakit, atau kerentanan pada penyakit tersebut, dan didasarkan pada pengetahuan kita dari hubungan kekerabatan (Griffiths et al, 1997). Kita berada pada pengetahuan yang jauh pada kompleksitas dari genom manusia, tapi kita membuat kemajuan dalam pengetahuan bagaimana gen bekerja pada manusia dan spesies lain, termasuk spesies yang berada pada sumber daya makanan dan pengobatan. Dibalik janji dari ciri pembawaan atau pengobatan kelainan genetik, manipulasi DNA dapat memungkinkan ilmuan untuk mengembangkan organisme dengan strain baru, termasuk tikus yang dipakai sebagai model dari penyakit manusia yang dipakai untuk uji farmasi, atau domba yang mengandung pengobatan pada susu mereka (Rebelo 2004). Strain baru pada tanaman pangan dengan suatu rekayasa, dengan memasukkan gen dari binatang atau tanaman lain, menjadikan resistan terhadap dingin, penyakit, atau pestisida (Myskja 2006, p. 228). Dalam hitungan, kita belajar mengenai fungsi khusus dari gen pada variasi spesies, kita dapat membuat pembaharuan, membentuk hidup yang bermanfaat; perusahaan pengobatan baru; dan memperbaiki kehidupan manusia, kesehatan dan lingkungan. Tetapi pengobatan, terapi, dan produk lain dari rekayasa genetika sekarang mendapat tantangan etika. Untuk maksud dari pengetahuan pada tantangan ini, hal ini dipakai untuk membedakan kategori berbeda dari campur tangan genetika (Allhoff 2005, p. 40). Mereka adalah: terapi gen somatik, dimana maksud dari perlakuan atau pencegahan dari penyakit tanpa mempengaruhi generasi mendatang, dan ini sedikit objektifitas moral; peningkatan genetik somatik, dimana dimaksudkan untuk peningkatan fungsi dari individu; dan peningkatan germline genetika, dimana dimaksudkan untuk pencegahan penyakit, tetapi berkembang gen; dan peningkatan germline genetika, dimana untuk meningkatkan fungsi

dari generasi mendatang. peningkatan germline genetika, tidak diduga-duga, kebanyakan bentuk kontroversi dari campur tangan genetika. Bioetika Ronald Green membuat poin yang kuat: Perbaikan selalu lebih kontroversial daripada terapi atau pencegahan, kurang disukai untuk ditemukan oleh masyarakat, dan lebih disukai untuk pelarangan moral dan legal jika kerusakan untuk individu atau masyarakat terlihat diluar jangkauan mereka (Green 2005, p. 104). Sebagaimana tulisan ini yang akan mendiskusikan isu etika yang berkembang keluar dari 4 tipe dari campur tangan genetika, pembaca dapat berpikir tentang perbedaan kategori dari campur tangan. Keprihatinan Etika 1. Pandangan Rekayasa Genetika sebagai Sesuatu yang Salah Beberapa orang berpikir dengan kode genetik manusia, atau paling tidak untuk semua bentuk kehidupan. Beberapa kritik agama menganggap bahwa rekayasa genetika sebagai mempermainkan Tuhan dan objek untuk ini bahwa hidup sakral dan pengubahan oleh maksud manusia. Alasan lain dari prinsip sekuler, secara terang-terangan dan berapi-api Jeremy Rifkin, yang mengklaim bahwa pelanggaran yang melekat martabat manusia dan bentuk kehidupan lain untuk mengubah DNA dibawah beberapa keadaan (Rifkin 1991). Alasan ini, yang memiliki tujuan baik, tidak didukung oleh suara logika atau fakta empiris, akan ditunjukkan disini (Epstein 1999). Asumsi pandangan agama ada beberapa kreator yang akan tersingkir oleh rekayasa genetika, dan asumsi pandangan sekular bahwa hidup pada bagian alam, tidak berubah oleh maksud manusia, adalah tidak terganggu karena derajat yang melekat. a). Pandangan agama pada rekayasa genetik Alasan yang didasarkan pada pandangan suci/sakral bahwa pengubahan bentuk kehidupan akan melanggar pencipta (Ramsey 1966, p. 168), tapi mereka gagal untuk bertindak tepat pada teori internal atau karena mereka berhenti untuk menanyakan asumsi. Jika pencipta tidak keluar, kebanyakan ahli agama dan filosofis setuju bahwa pencipta lainnya akan ada pada setiap segi dari penciptaan ini, atau bahwa konsisten dengan pencipta-pencipta akan bebas diciptakan oleh umat manusia, dimana termasuk kemampuan untuk teknologi mencipta (untuk pandangan kontra, lihat Panther 1988, pp. 138-42). Kemudian, rekayasa genetika lain dapat dilihat dari ekspresi dari keinginan pencipta sejak kreasi dari bagian ini terbentuk atau pada hasil yang kita punya dianugerahi dengan kebebasan keinginan. Sekalipun, ada beberapa yang ingin mengklaim bahwa rekayasa genetika merupakan penyalah gunaan dari kebebasan kita. Jadi, pengertian bahwa hal ini adalah sebuah penyalah gunaan kebebasan dalam tantangan dari kepercayaan petunjuk takdir pada interpretasi pada perkiraan petunjuk takdir. Ini merupakan masalah dengan semua teori dasar moral pada petunjuk Tuhan: bahwa semua percaya untuk petunjuk selalu percaya pada beberapa penafsiran manusia dari petunjuk ini. Menentang Kehendak Tuhan selalu berarti menentang beberapa penafsiran manusia dari penafsiran kehendak Tuhan. Kesulitan dari melihat sebuah anggapan ketuhanan dalam konteks dari rekayasa genetika adalah hal tertutup dengan fakta bahwa tak ada dari sakral agama kebanyakan ditulis pada isu ini. Pada Bibel, sebagai contoh, adalah diam terhadap rekombinan DNA. Lainnya, bahwa ada anggapan bahwa rekayasa genetik melanggar kehendak Tuhan harus juga termasuk dalam persilangan selektif dari hasil pertanian, antara tanaman dan hewan, hal ini akan kontra

dengan kehendak Tuhan. Jika mereka tidak melakukan persilangan selektif sebagai pelanggaran kehidupan sakral, lalu mereka harus menjelaskan bagaimana ini berbeda kualitatif dari rekayasa genetika, dimana hal ini hanya merupakan hal kuantitatif atau proses metodologi. Kecepatan dan kemungkinan dari perubahan yang ada pada rekayasa genetika melebihi kecepatan dan kecepatan dari perubahan dengan menggunakan tehnik persilangan selektif, tetapi hal ini terlihat miskin argumen untuk mengatakan pada petani bahwa ini kontra dengan kehendak Tuhan, dimana hal ini kemudian dapat diterima. Apakah kehendak Tuhan bahwa modifikasi alam dapat diterima, tetapi hanya disediakan proses kita lamban dan sembrono? Pintu budaya kita terbuka dengan kebaikan dari penemuan manusia dan modifikasi dari alam. Sekalipun ada sebagian agama yang menolak tehnologi modern meskipun mencakup beberapa tehnologi; dasar dari teknologi adalah untuk merubah hubungan dengan alam. Busana, pertanian,dan persenjataan telah ada sejak sebelum permulaan peradaban, dan perubahan lain pada hubungan kita dengan alam. Teknologi ini menyatakan penolakan pada alam diantara yang lainnya, dan hasil dari kesadaran dan kesengajaan. Pada kenyataannya, cakupan teknologi ini merubah evolusi manusia, memungkinkan kita untuk berspekulasi keluar savanah, dan hidup pada variasi musim, mempertahankan diri kita darihingga yang kita lihat sekarang, dan akan tetap secara relatif membatasi lingkungan sebaliknya dari enam populasi hinggga menjadi tujuh (dan yang ketujuh merupakan batas). Sebagaimana sebelumnya, sejarah dari pemikiran kita dengan alam sepanjang waktu, dan ini hasil umum yang disuarakan oleh agama dan juga sekuler. Tehnologi seperti antibiotik dan kontrasepsi merupakan campur tangan dengan alam yang menghasilkan evolusi, pencegahan kehamilan dari manusia, dan menjadikannya tetap bertahan dari yang lain yang mungkin mati dikarenakan oleh penyakit. Teknologi ini tidak hanya berakibat pada populasi manusia, tapi juga jumlah spesies dimana manusia berhubungan dengan pengobatan, kontrasepsi, dan persilangan selektif. Ini adalah upaya dari pengubahan dari genom dari manusia dan spesies lain yang didasarkan pada beberapa negara yang merupakan proses alam yang harus sejalan dengan etika hukum yang digunakan pada pengobatan, kontrasepsi, dan persilangan selektif dimana beberapa mungkin bagian dari kesadaran, tujuan lebih dari perubahan pada level genetika. Perbedaan tehnik antara rekayasa genetika dan mekanisme perubahan lain pada evolusi alam dari variasi spesies adalah berbeda antara kesalahan dan latihan. Pengenalan kesalahan kita diambil dari sejarah, dengan menggunakan kontrasepsi, antibiotik, dan persilangan selektif, hasil dari konsekuensi yang tidak terantisipasi: pengobatan dan masalah sosial mungkin hasil dari seleksi untuk menghasilkan percobaan dengan persilangan, atau dengan menjamin ketahanan potensial dari spesies yang menggunakan pengobatan, atau bahkan dengan pencegahan keturunan yang berpotensi untuk menghasilkan spesies baru. Lebih jauh, tehnik ini tidak selamanya menghasilkan seperti yang diharapkan. Sebagai kebalikannya, rekayasa genetika merupakan latihan yang dapat menjadi fokus akurat pada target yang diinginkan. Walaupun terkadang, rekayasa genetika dapat menghasilkan sisi efek yang tidak diinginkan dengan baik, tetapi sebagai indikasi, tehnik ini tidak selamanya merupakan metode yang diterima. b). Pandangan sekuler pada rekayasa genetika Pandangan sekuler pada rekayasa genetika didasarkan pandangan bahwa setiap individu merupakan bagian dari spesies, atau spesies itu sendiri, berhubungan secara tidak

langsung dengan evolusi hingga saat ini (Rolson 2002). Pandangan ini telihat sulit untuk dicari titik terang dikarenakan evolusi merupakan hasil dari banyak kelainan genetik. Dimana ada yang tetap bertahan hidup atau mengalami kerusakan, atau mati muda karena kerusakan genetika. Misalnya pada sindroma Lesch-Nyhan, sebuah kerusakan genetik yang menyebabkan tidak mempunyai kontrol diri (Preston 2007). Ketahanan individu bergantung pada keadaan alam, tapi juga pada mengatasi pendatang atau kesukaran. Alam sendiri berbeda dengan keinginan kita, dan maka perubahan alam tidak akan melanggar harkat kita. Pada kenyataannya, harkat kita dipakai sebagai bakat untuk merubah lingkungan kita dan biologi kita untuk mengatur kehidupan kita dan dari kerusakan. Tehnologi pada semua bentuk adalah merupakan perkembangan dari kemampuan intelektual kita: secara benar, ini mengikuti perkembangan alam. Pemanas ruangan dan AC merubah lingkungan yang sebenernya, dimana bila kita mengikuti iklim maka kita tidak akan bertahan. Alasan yang kecil keluar sebagai perubahan alam sebagaimana yang kita inginkan. Kemudian alasan untuk melukis sebuah garis pada perubahan genom manusia atau organisme lain harus memberi alasan bahwa penghormatan DNA sebagai sesuatu yang spesial dan bagian dari bentuk alami dunia dan untuk memanipulasinya adalah bertentangan dengan moral. Hal itu merupakan beberapa alasan yang mendukung Genetika luarbiasa, titik yang menganggap bahwa DNA adalah unik, tetapi kemudian alasan ini tidak dapat diterapkan lagi: a) bahwa karena keunikan ini maka hal ini tidak dapat dirubah; atau b) bahwa jika hal ini dapat diterima pada pengubahan DNA non-human, sedangkan hal ini tidak dapat diterima pada pengubahan pada manusia. Unik itu sendiri tidak dapat diterapkan pada semua moral. Pada kenyataan, semua manusia adalah unik dengan adanya DNA, lingkungan dan latar belakang, tetapi moral kita tidak selalu berdasarkan pada keunikan. Asumsi lainnya didukung oleh logika dan pemikiran empirik, dan, sebagai indikasi, kita berpikir dengan gen pada tanaman, hewan, dan juga pada manusia, melalui persilangan selektif selama berabad-abad. Kemudian keunikan DNA tidak terlepas dari implikasi atau eksplikasi untuk memodifikasi apa yang sesuai dengan alam (Myskja 2006,228). Persilangan selektif, selama beberapa waktu, merupakan hasil dari percobaan yang diinginkan dan menekan gen (dan kemudian fenotip mereka) yang tidak diinginkan. Persilangan selektif memanipulasi genom sebuah spesies, atau subklas dari spesies. Sebagian telah menjadi familiar dengan variasi persilangan dari hewan domesti atau tanaman, persilangan juga untuk menghasilkan beberapa secara instan baru dan kadang menghasilkan yang lemah. Rekayasa genetik mengikuti lebih banyak seleksi pada percobaan pemilihan dan pada perkawinan diluar atau lemah. Perdebatan ini hanya masalah pada tingkat lebih pada perbedaan kualitatif pada banyak jenis persilangan selektif dan rekayasa genetika. Pertentangan dari rekayasa genetik pada dasar moral harus dipakai pada kasus yang sepadanbahwa ini berbeda kualitatif dari persilangan selektif, atau mereka harus menghubungkan pertentangan persilangan selektif dimana kebanyakan merupakan aspek dari pertanian modern. Satu dari masalah argumen evaluasi didasarkan pada harkat pada konsep ini. Banyak kemenangan pada kata ini tanpa adanya penjelasan dari artinya. Penjelasan panjang dan tepat pada konsep ini adalah yang akan dibahas pada tulisan ini. Hal ini cukup sebagai catatan bahwa dua filosofi dengan pandangan berbeda sistem etika tidak akan

dipahami untuk konsep harkat yang terlihat tidak sama pada rekayasa genetika. Immanuel Kant, mengatakan dengan tegas bahwa moral yang dibawa dari percobaab selain manusia adalah akhir dari mereka sendiri, dan tidak berarti untuk menjadi berakhir. Pernyataan Kant ada pada Fundamental Principles of the Metaphysic of Morals: Pada akhir kerajaan, semua akan dinilai atau dihargai. Apapun nilai yang didapat dapat dirubah oleh sesuatu yang lain dimana ini merupakan ekuivalen: apapun, ada pada tangan lain, semua nilai, akan diakui tidak ekuivalen, adalah dihargai ([1785] 1949,p. 51). John Stuart Mill memberikan teori kebebasan dari prinsip dasar autonomi manusia dan pemilihan sendiri. Autonomi dan hak kita berada pada kita sendiri dan mari berikan kita penghargaan pada manusia, kejelasan dari mahluk yang cakap dari alasan dan maksud dari tindakan (Mill [1859] 1947). Pada yang lainnya pengetahuan ternang menghargai, modifikasi gen kita untuk membersihkan diri kita sendiri dari sesuatu yang lemah atau untuk memperbaiki kita sendiri adalah bukan sesuatu yang salah. Prinsop dari martabat manusia didukung lembaga demokrasi dan Negara dari persamaan (Kurtz 2000). Sebagai dasar prinsip empiris, kebohongan hokum marupakan faktatidak kurang tidak lebih dari persamaan derajat manusia, ketika pemenuhan pendidikan, keluarga, dana dukungan lembaga social, berhubungan dengan hidup mereka dan membagi pada pemerintah sendiri, dukungan material, dan perbaikan. Kita menghargai karena kita memiliki kemampuan hebat untuk kesadaran, kreatifitas, perkembangan, dan pemenuhan emosi. Bangsa dari manusia mempunyai sejarah tradisi yang panjang, dikarang dari filosofi semacam Kant dan Mill, dan pandangan modern dan etika terus berkembang pada konsep penting, sebagai fakta yang dikerjakan oleh John Rawls. Pandangan Rawls pada harkat manusia diterapkan bahwa kita membuka kontrak percobaan social sebagai individu dari posisi yang sama: untuk situasi ini manusia memiliki persamaan pandangan sebagai moral seseorang yang menghargai diri mereka sendiri diakhir dan prinsip mereka akan diterima dengan rasional untuk melindungi diri mereka sendiri (Rawls 1999, p. 157). Kita memiliki martabat pada jalur ini dimana hewan tidak memilikinya, dimana dikatakan bahwa binatang yang lain tidak memiliki martabat. (Setiap mahluk memiliki martabat sendiri, sebagaimana kapasitas dan spesies mereka). Kita merupakan mahluk yang disertai dengan seni, ilmu pengetahuan, kepustakaan, arsitektur, dan mengubah lingkungan kita untuk mengakomodasi keterbatasan fisik kita. Konsep horkat manusia adalah kesempurnaan yang tepat dengan rekayasa genetika. Pengubahan harkat manusia selalu berarti langkah dimana alam menghalangi potensi manusia, potensi semua manusia mungkin dicapai untuk pemenuhannya. Walaupun kerusakan dan kelemahan dapat mungkin terjadi, dan konsisten dengan hasil akhir, untuk mencapai potensial mereka, konsisten dengan prinsip dari menghindari kerusakan pada lainnya. Sesungguhnya, diakui harkat yang melekat pada kitadiikuti oleh sugesti manusia bahwa kita adalah terpaksa untuk mengejar riset rekayasa genetika, untuk tingkat bahwa ini dapat membantu perkembangan terapi dan percobaan dari penderitaan atau perkembangan alam atau kejadian keterbatasan (Bostrom 2003). Maupun mempertinggi harkat manusia. Kemajuan sendiri adalah selalu dipuji, tidak dihukum. Jelasnya, beberapa keterbatasan pada rekayasa genetika juga dapat meningkatkan harkat manusia.Pebudakan adalah contoh yang ekstrim, tapi ektrim pengurangan untuk harkat manusia. Percobaan lainnya berarti akhir dari perorangan, untuk hal ini, daripada akhir pada mereka sendiri (juga kontra pada etika Kantian) pengurangan harkat dari seseorang yang disandang, dan berakibat pada harkat yang dipakai. Rekayasa genetika memerlukan perhatian khusus pada akses keseimbangan dan bahkan beberapa pemutusan pada aplikasi ini dimana mereka dapat mengancam kepentingan dari beberapa manusia.

Beberapa penemuan digunakan untuk mengurangi kritik kapasitas manusia, seperti fungsi sikap, akan menjadi diluar etika. Kemudian, beberapa manusia mungkin dari ras kecil manusia rekayasa genetik akan menjadi budak dengan kapasitas kekurangan mental hal ini akan diperjelas dan melanggar harkat manusia (lihat, umum, Cooley 2007). Bagaimanapun, pandangan ini efektif membangun isu kerusakan dihasilkan dari isu rekayasa genetika, tidak pada moral yang melekat pada rekayasa genetika dan bagian terakhir dari tulisan ini akan dipaparkan masalah hukum yang berhubungan dengan rekayasa genetika. 2. Manfaat dan Kekurangan Rekayasa Genetika a). Manfaat rekayasa genetika akan siap untuk membawa kita dengan hasil yang meringankan penderitaan, membersihkan lingkungan, dan peningkatan hasil tanaman pangan, diantara manfaat praktis lain untuk kemanusiaan dan ekosistem. Sebagai contoh, pertama rekayasa genetik akan membentuk hidup menjadi membolehkan perlindungan paten yang dibangun oleh Ananda Chakrabarty, dimana rekayasa genetika yang berisi bakteri dimasukkan ke dalam Burkholderia cepacia, sebuah varian yang akan memakan hasil minyak. Dia mengamati sebuah bentuk kehidupan baru, dan membantu pabrik Supreme Court sebagai contoh, untuk sekarang, para invetor mempatenkan bentuk kehidupan rekayasa genetika ini (Diamond v. Chakrabarty 1980). Bakteri akan membersihkan tumpahan minyak dan hal ini aman untuk digunakan. Sejak kejadian ini, 10 hingga 1000 dari isu paten dari bentuk kehidupan rekayasa genetika. Rekayasa genetika juga membantu membuat beribu organisme dan proses yang digunakan dalam pengobatan, penelitian, dan perusahaan. Rekayasa genetika bakteri yang dapat memproduksi insulin untuk pengobatan diabetes, produksi ini akan jadi mahal tanpa adanya rekayasa genetika. OncoMouse (U.S. Patent #75797027) adalah tikus pertama dalam rekayasa genetika yang digunakan sebagai model untuk riset kanker. Sejumlah tikus yang lain akan mengikuti untuk dikeluarkan, sebagian kehilangan gen yang penting, atau ekspresi penting dari penyakit genetika, juga pada penelitian medis yang dapat menguji obat dan percobaan lain untuk penyakit genetika tanpa kerusakan hidup pada subjek manusia, dan hasil dari sejumlah percobaan hewan untuk proses kepentingan ilmu pengetahuan. Terapi gen, dimana memanfaatkan virus yang membawa perbaikan pada se somatik dengan kelainan genetik, menjadikan perbaikan pada penyakit genetika atau akibat lam perkembangan penuh manusia. Rekayasa genatika menghasilkan makanan yang tahan terhadap hama dan menjadikan tanamana pangan yang resisten, mengurangi kebutuhan pestisida dan fertilisasi, dan meningkatkan hasil di dunia dengan pertumbuhan yang memerlukan makanan. Kebanyakan disebut revolusi hijau dari pengurangan tehnologi kimia. Pestisida baru dan kendali rasa mengurangi pemakaian bahan kimia yang akan membuka ekosistem, dan diikutu petani yang akan memenuhi kebutuhan pangan pada planet ini. Walaupun, serangga dan jamur, mengikuti dinamika evolusi, menghasilkan resisten pada pestisida. Bagaimanapun, seberapa hebat pestisida modern akan membuka rantai makanan dan ekosistem, kerusakan generasi manusia da hewan misalnya. Bahkan di negara eropa misalnya Nederland, petani akan mengolah tanah dengan hidroponik untuk mengakumulasi garam toksik dari fertilisasi dan pestisida (Levine dan Suzuki 1993, p. 176). Janji dari teknologi rekayasa genetika baru termasuk mengembangkan tanaman pangan yang tahan

terhadap hama sehingga tidak diperlukan pestisida, atau ketahanan resistensi tanaman yang dapat berkembang pada lingkungan tanpa irigasi (Levine dan Suzuki 1993, pp. 18586). Rekayasa genetika juga menjanjikan kreasi baru, strain yang lebih produktif dari hewan ternak untuk produksi daging dan susustrain ini mungkin lebih resisten terhadap infeksi, memenuhi kebutuhan yang besar, yang sehat dengan antibiotik (Mc Creath 2000, pp. 1068-69). Mereka juga dapat menghasilkan daging yang lebih banyak, sehingga kita tidak butuh banyak hewan, atau dapat menghasilkan susu atau hasil lain dengan nutrien penting yang tidak ditemukan pada hasil ini, pemenuhan kesehatan akan nutrisi. Bagaimanapun, pandangan dalam Margaret Atwoods Oryx and Crake (2003), varian hewan sebagai sumber makanan mungkin hasil teknologi tanpa apapun lebih dibanding sistem saraf otonomi, hal yang banyak berkembang mengenai etika dari mamalia untuk makanan. b) Kekurangan Tentu, kita butuh persetujuan dari kegiatan kita dalam kejelasan cepat atau lambat sebagai konsekuensi dari biosfer. Kebanyakan konsensus ilmuan bahwa sikap sedikit pada rekayasa genetika, pada kebanyakan, pengujian pendek pada lingkungan, pengujian panjang, diketahui atau tidak, harus menjadi pertimbangan bagi langkah kita kedepan untuk riset dan tehnologi genetika. Seperti disebutkan pada bagian pendahuluan pada garis besar ilmu pengetahuan rekayasa genetika, somatik sel dan stem sel rekayasa genetika berbeda pada jalur yang penting. Terapi somatik sel digunakan untuk memperbaiki kerusakan sel tanpa adanya sel kelamin. Seseorang dengan penyakit genetik dapat ditolong dengan terapi somatik sel, dan beberapa kemajuan terlihat. Satu prinsip pada proses ini adalah kompleksitas. Perbaikan penuh organisme yang tumbuh berarti merubah genetika dari se hidup. Rekayasa genetika membuat banyak progres dalam sel tunas dimana gamet dari organisme merubah DNA, dan kemudian keturunan organisme membawa hasil perubahan ini. Hal ini merupakan rekayasa dimana dihasilkan dekat dengan pemecahan semua ilmu pengetahuan umum dan merupakan cabang tehnologi dari rekayasa genetika (Myskja 2006). Pengubahan bakteria, menyempurnakan dan model-model hewan penelitian lain, dan tanaman pangan komersial yang bermanfaat merupakan hasil dari sebuah sel tunas rekayasa genetika. Pengubahan sel tunas adalah proses yang memerlukan kehati-hatian. Organisme yang fertil dirubah sel puncaknya sehingga dapat diperbanyak dibawah kontrol kita. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa pengubahan genetik tanaman pangan yang kita punya, pada beberapa hal, persilangan fertilisasi pada tanaman pangan bukan rekayasa dan pengubahan gen mereka. Hal ini terjadi pada jagung Monsanto Terminator, dengan menghasilkan keturunan yang steril: petani yang memakai jagung ini tidak bisa menggunakan biji Monsanto karena memiliki sifat steril pada tanaman pangan dan tidak dapat memakai kembali bijinya tersebut dikarenakan adanya jagung yang mengandung Terminator (U.S. Patent # 5723765, Control of Plant Expression). Biji dari tanaman pangan bukan modifikasi genetika lainnya akan mengalami penyerbukan silang, sehingga memiliki keterbatasan pada keturunan pertama (Ruiz-Marerro 2002). Lebih lanjut, karena kompleksnya dari kebanyakan genom, semua konsekuensi dari pengubahan sebagian gen kadang tidak bisa diprediksi. Pada kenyataannya, bagaimana

modifikasi genetika tanaman atau hewan merupakan interaksi dengan sesuatu kehidupan yang lain tidak dapat diketahui hingga kemudian ditanam, dan, pada titik ini, kontrol efektif diluar interaksi ini menjadi hal yang tak mungkin. Kontroversi pada ilustrasi jagung Bt beberapa memungkinkan bahaya dari organisme hasil modifikasi genetika. Gen jagung Bt dari bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) dimasukkkan ke dalamnya. Pengubahan merupakan hal efektif dari kebosanan jagung Eropa, yang terus memerlukan penggunaan pestisida. Jagung yang dihasilkan akan aman bila dikonsumsi oleh manusia, tetapi harus punya konsekuensi antisipasi dan tujuannya. Pada tahun 1999, sebuah penelitian Cornell yang menghasilkan jagung yang mengandung toksin bagi larva kupu-kupu monarch dan toksin ini dapat ditemukan pada polen jagung (Losey et al. 1999, p. 214). Kemudian, pada beberapa kasus dengan tanaman liar, polen dari jagung Bt menyebar diseluruh bagian tanaman, termasuk bagian akar, dimana merupakan makanan untuk larva kupu-kupu. Untungnya, penelitian ini memperlihatkan bahwa toksin ini harus mempunyai konsentrasi yang cukup untuk memberikan kondisi yang merusak populasi kupu-kupu monarch (Sears et al. 2001). Bagaimanapun, tidak ada antisipasi untuk masalah ini, dimana ilustrasi bagaiman sulitnya mengendalikan penyebaran dari polen, pada beberapa kasus, gen yang telah dirubah menyebar. Kejadian dramatis yang berpotensi merusak lingkungan dari rekayasa genetik, khususnya dalam fase awal dimana kita selalu tidak dapat memprediksi konsekuensi dari pengubahan genetik. Pengubahan sel puncak, sebagai pengubahan somatik, mempengaruhi gamet dan kemudian memperbanyak pengubahan, hal ini tidak dapat diprediksi, untuk keturunan dari spesies yang dirubah. Sewaktu sel yang dirubah dimasukkan pada sebuah spesies, evolusi akan menghasilkan generasi yang sukses. Evolusi, sebagaimana kita ketahui, tidak dapat diprediksi. Kompleksitas dari kalkulasi potensi generasi yang bertahan sekarang dapat diketahui mengenai gen dan interaksinya bukan hanya lingkup genetika, dengan lingkungan, tetapi juga keturunannya, dengan anggota lain pada spesies lain dengan keturunan yang dihasilkan. Harapan dari ilmuan dan hasil komersil dari pengubahan genetika bentuk kehidupan mengambil bagian dengan hati-hati untuk mengeksplorasi dengan semua kemungkinan efek dari hasil tersebut, tidak hanya bagi manusia, tapi juga bagi kehidupan biosfer. Sekarang, kita hanya mempelajari permintaan dan interpolasi dari contoh-contoh diatas dari spesies pengubah genetika. Dalam pada itu, pengubahan sel puncak dapat dikenalkan secara hati-hati untuk komunitas tertentu sehingga efek yang luas dapat diketahui dari bahaya yang ditimbulkan dari perubahan organisme di alam. Contoh dramatis lain dari kerusakan khusus dari rekayasa genetika pada kasus Jesse Gelsinger, yang meninggal setelah penelitian gen terapi untuk penyakit liver (Corzin and Kaiser 2005, p. 1028). Selama kasus tersebut berkembang riset percobaan dari protokol percobaan, hal ini pada masa depan gen terapi akan dikenalkan untuk memperbaiki kerusakan pada gen pool, tidak sedikit menghasilkan kematian, tetapi mempengaruhi generasi mendatang. Pelajaran berharga dari hal ini dan fakta kerusakan lainnya dikarenakan percobaan dan juga rekayasa genetika secara komersil adalah bahwa hubungan antara gen dan fenotip lebih kompleks dibanding yang kita ketahui. Hal ini menjadikan kita melakukan riset yang cukup memadai dan menghitung kerusakan dari pengubahan sel yang mungkin dapat berakibat pada semua suksesi keturunan pada suatu spesies. Bioinformatika baru dan tehnologi model dapat dilakukan dengan kehati-hatian. Uji laboratorium harus sebaik berjalannya percobaan yang dapat memungkinkan terjadinya kerusakan pada biosfer.

Perkiraan dari kerusakan yang nyata dari tehnologi genetika sejauh ini menjadi perhatian utama para ilmuan yang bekerja pada bidang ini: Hal mendasar dari kerusakan umum GMO [genetically modified organism] diketahui berbeda dari kumpulan kimia. Organisme modifikasi genetika merupakan organisme hidup dan oleh karena itu, tidak seperti kimia yang dapat dicairkan, GMO mempunyai potensi dikenalkan pada habitat baru, koloni pada sisi ini, dan yang lainnya. Aktifitas mendatang, termasuk hasil dari produk metabolisme, enzim dan toksin yang akan menjadi penjang pada metabolisme aktif GMO. Sejak berada, kehidupan organisme tidak dapat ditarik kembali (Seidler et al 1998, p. 112).

Satu organisasi sukarela (LSM) penting mengkomplain dan menyebarkan dar mengenai laporan kerusakan pada International Centre for Genetic Engineering and Biotechnology (ICGEB) (www.icgeb.org). Organisasi dengan anggota 55 negara, tidak termasuk US, yang merupakan riset yang berpusat di India, Afrika Selatan dan Italia, dengan berpusat di Trieste. Organisasi yang memiliki databasdari hasil modifikasi genetika yang kita pakai, laporan hasil kerugian, dan statistik yang relevan, pelatihan biosafety yang baik dan laporan kerusakan yang ditimbulkan dari ilmuan yang melakukan riset rekayasa genetika dan aplikasinya. Pekerjaan untuk memperoleh data dan model untuk gen, organisme dan populasi, sehingga dapat dipakai secara praktis terhindar dari kerusakan. Laporan kerusakan yang tepat akan membantu meminimalkan konsekuensi mendatang.

3. Hukum dan Keadilan Prinsip etika dan perhatian dari hukum yang akan mengecek kemajuan tehnologi. Jelasnya dari ilmu pengetahuan, yang akan dengan bebeas dimasukkan dalam semua bidang alam tanpa menimbulkan kerusakan, tehnologi memberi ilmuan untuk memajukan yang menguntungkan manusia dan lingkungan planet untuk kebaikan atau untuk penyakit. Bagian dari hal penting lainnya atau kerusakan yang dihasilkan dari rekayasa genetika, dimana kita siap mengantisipasi, juda masalah bagaimana rekayasa genetika dapat ditimbulkan dari distribusi dari masyarakat yang baik dan politik yang baik. Seperti isu yang selalu didasarkan pada masalah hukum. Tulisan ini tidak dapat mengambil definisi dan pembelaan dari teori hukum yang komprehensif:; bagaimanapun; kita akan mengambil untuk memberikan hal yang berlainan dari keterangan dan kekuatan, seperti hal yang lain untuk menjadi sama, hal yang tak mungkin. Ada hal khusus yang tidak diinginkan jika mereka mempunyai hasil yang berbeda dengan kekuatan politik. Pada awal rekayasa genetika, ada perhatian pada campur tangan genetika, khususnya perbaikan genetika-atau kebalikannya, kelainan genetika sengaja- dapat siap membuat lebih buruk yang membawa ketidakadilan dengan baik pada seseorang. Pada perhatian evaluasi ini, kitabekerja keras pada pemikiran rekayasa genetika yang masih dini. Beberapa diskusi kemungkinan, seperti terbentuknya spesies baru dari manusia super atau subhuman, sering terlihat tidak disukai, yang pada akhirnya dapat diduga. Kita melalui jalan yang panjang dari perkembangan H.G. Wells-style Morlocks yang melayani kita sebagai pelayan (Green 2005, p. 101). Meskipun demikian, selama ketakutan ilmuan pada contoh ekstrim yang

terlihat, mereka memakainya sebagai alasan moral yang digunakan pada rekayasa genetika, dan karena banyak dari contoh ini dengn jangkauan tehnik kemungkinan, mereka dapat memberikan gambaran untuk prinsip yang dipakai. Diantara contoh fiksi ilmu pengetahuan, ada akses isu yang berkembang dan tingkat sosial pada kepentingan negara dari hukum dan dapat dikemukakan pada debat publik, barangkali perundangundangan (Mwase 2005). Dengan sesuatu yang baru dan tehnologi pengobatan yang mahal, masyarakat non medis dimana intervensi genetik membuat hasil yang disukai pada tingkat pelayanan dan manfaat. Akan ada kelas yang akan menerima teknologi baru, dan ada yang tidak. Ini merupakan situasi yang unik, untuk siap dengan sejumlah pilihan dan bahkan prosedur pengobatan penting adalah tidak sesuai untuk segmen dari populasi yang tidak dapat diberikan, atau tidak cukup atau untuk tidak menjamin kesehatan. Perkembangan penerimaan pada masyarakat hukum dimana percobaab atau pelayanan dari pengobatan penting dimana mungkin tidak sesuai untuk semuanya dikareanakan masalah biaya (Alhoff 2005). Sesuai dengan peningkatan kosmetik yang kini sesuai, peningkatan percobaan genetika untuk membuat kelas antara yang punya dan yang tak punya. Bahkan kini, pembedahan kecantikan beberapa pembuktian ekonmoni dan kepentingan masyarakat pada siapa yang dapat melakukannya. Ketika sebuah kelas bawah genetika bekerja keras terlihat sejauh ini, pertimbangan, untuk cepatnya, orang tua yang berharap anak mereka untuk menjadi pemain NBA (National Basketball Association), sehingga mereka akan memilih latihan yang membentuk tinggi, stamina dan atletis. Sebagai mana peningkatan genetika individu akan senang dilakukan bahwa antara latihan harus sesuai dengan motivasi seseorang, meningkatkan seseorang. Pada masa yang akan datang, satu dari arti dimana orang dengan motivasi rendah kini melangkah dari posisi bawah untuk ketahanan ekonomi dengan peningkatan genetika. Skenario yang sama dapat menjadi pandangan yang luas bagi bakat, termasuk inteligensi, bakat musik, aktifitas fisik, dan yang lainnya. Walaupun memiliki latihan sekarang pada beberapa masyarakat dan ekonomi, hasil sekarang untuk kesempatan dan evolusi (dengan besarnya hal yang tidak dapat diprediksi). Pada dunia dimana peningkatan genetik adalah sesuai tetapi tidak siap, hanya yang kaya yang dapat menerikma hal ini bagi anak mereka. Tentunya kita punya kesamaan pada isu sosial dan etika dengan tehnologi lain, tapi dengan adanya kenyataan dari modifikasi genetika, hal ini menjadi kompleks. Peningkatan kecantikan tidak diturunkan, tapi kemungkinan dari aristokrasi adalah dua tehnik kemungkinan dan permasalahan. Bagaimanapun, kita seharusnya juga mengakui bahwa hal ini akan menjadi sulit untuk titik temu dan membuat rasional kekeliruan dan pengaturan dari modifikasi gen pada manusia dimana respek antara otonomi dan keinginan untuk melindungi masyarakat dalam hukum. Ini adalah merupakan pandangan bahwa pengembangan diri adalah dimungkinkan, jika tidak terpuji, hingga ketika seseorang dengan kompetitif yang berkembang untuk dirinya dan keturunanya. Kita menghargai pada penolakan undangundangsehingga seseorang akan kesekolah hukum atau sekolah medis hanya karena berasal dari informasi keluarga dan kemudahan pada hal ini. Jika memakai salah satunya dengan uang untuk menguasai pendidikan adalah dibolehkan, dapatkah kita kemudian mengatakan bahwa uang dapat mengubah gen seseorang yang mempunyai IQ tinggi untuk dirinya sendiri dan juga anaknya dapat diterima? Untuk sekarang, teknologi manapun dekat dengan pasar, sehingga setiap waktu dapat membuat dialog tentang isu hukum masyarakat dengan modifikasi genetika yang kita pilih.

Dan pada pandangan yang lebih luas bahwa kita tidak akan berhenti dan membutuhkan pertimbangan. Beberapa penemu, seperti Mehlman, beralasan melakukan lebih dulu, dijatuhkan dengan kerusakan pada peningkatan sel sebelum mendapat tempat pijakan: Bekerja keras pada pikiran bahwa konsekuensi dari tidak teratur berdasar keterangan mengenai peningkatan genetik dapat berarti kerusakan dari kebebasan, hal ini akan menjadi perang yang lama akan ditunggu hingga akhirnya. konsekuensi didapatkan ditempat (Mehlman 2005, p. 81). Lainnya memberi nasehat pada keputusan yang tergesa-gesa: saya menentang untuk untuk meduduki penghentian pengenalan; hal ini digunakan pada bidang bioteknologi sebagai sebagai masalah pada bidang hubungan internasional (Lindsay 2005, p. 32). Satu titik dimana penemu setuju bahwa penyaluran dari kepentingan sebagai penentangan pada peningkatan alam adalah isu moral. Tehnologi harusnya tidak menjadi malapetaka atau pelarangan, tetapi harusnya diatur sebaik mungkin hingga stabil dan sesuai dengan struktur masyarakat.ini akan menjadi kerja untuk mengawasi antara pengembangan ilmuan dan pemerintahan yang dapat memberi keuntungan pada masyarakat.

Kesimpulan Bioengineering mempunyai potensi untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Penolakan pada tehnologi baru ini didasarkan bahwa hal ini tidak alami atau bertentangan dengan moral tidak dijamin dan terlihat pada dasar yang lebih kecil lebih dari adanya reaksi.

Rekayasa genetika meliputi proses isolasi ddan emurnian gene spesifikm da menyisipkan gen yang diinginkan ke genm lain dan kemudian memasukkan DNA rekombinana yang terbentuk ke sel inang, kemudian dapat kloning gen. Tahapan gen cloning: 1. isolasi sumber DNA yang diinginkan dari: a) total genom organisme yang diinginkan, b) DNA yang dibuat dari mRNA diisolasi dari jaringan tertentu yang kemudian dibuat cDNA dengan enzim reverse transcriptase; c) cDNA dibuat secara invitro dari nukleotida 2. pemotongan dan penyambungan/penyisipan fragmen DNA yang diinginkan ke alat pembawa/cloning vector. Vektor dapat berupa plasmid, bakteriofag, atau kosmid. memasukan DNA rekombinan yang terbentuk ke sel inang menyeleksi sel inang yang membawa DNA rekombinan Deklarasi Helsinki merupakan pedoman etik penelitian biomedis pada subyek anusia yang diterima internasional. Pada tahun 1964, World Medical Association menyusun suatu kode etik mengenai percobaan pada manusia. Kode ini ang dikenal sebagai Deklarasi Helsinki, sebagaimana telah disempurnakan oleh World Medical Assembly ke 29 Tokyo, pada tahun 1995 dan oleh World Medical Assemby ke 35i Venesia, Italia. Dalam bidang riset iomedis perlu diketahui adanya perbedaan yang mendasar antara riset kedokteran yang tujuan utamanya adalah diagnsis atau terapeutik bagi pasien, dan riset kedokteran yang tujuan utamanya adalah ilmiah murni tanpa nilai diagnostik maupun terapeutik untuk orang yang diteliti. Prinsip dasar antara lain: pada dokter tidak boleh terlibat dalam proyek riset yang menggunakan subyek manusia, kecuali jka mereka yakin bahayanya dapat diramalkan, dan harus menghentikan penyelidikan jka diemukan bahanyana mebii manfaat 3. 4.

yang diperoleh, protokol riset harus kalau mencamtumkan pernataan entang pertimbangan etik yang berhubungan dengan riset, dan menyatakan prinsip pada deklarasi telah terpenuhi. Biologi molekuler perkembangan peran dan masalahnya UGM pidato pengukuhan Jabatan guru besar Fakultas Biologi UGM 16 september 2000 Sukarti Moeljoprawiromenyatakan rekayasa genetik diartikan sebagai teknik untuk menghasilkan molekul DNA yang berisi gen baru yang diinginkan atau kombinasi gen-gen baru, atau dapat dikatakan sebagai manipulasi organisme. Fleck Leonard pakar dari Center for Ethics and Humanities in the Life Sciences, MSU, Michigan US pada symposium Advances in Gene Therapy 10 september 1994 menyimpulkan sebaiknya rekayasa germ line genetik jalan terus hanya saja teknologi ini harus dikaji terus menerus sampai sempurna dan hanya diaplikasikan pada situasi tertentu saja. Selama 10 tahun terakhir ini telah banyak dilakukan pengubahan susunan gen embrio kambing, babi, dan tikus dengan gen manusia sehingga dapat diproduksi protein atau obat untuk penyembuhan penyakit kanker dan yang lain. Hal tersebut merupakan contoh manfaat dari manipulasi gen termasuk kloning. Namun disamping itu banyak masalah yang timbul jika kloning yaitu dilakukan secara besar-besaran dalam mempengaruhi keanekaragaman hayati. Seandainya populasi ini memenangkan kompetisi dialam maka populasi tersebut akan mampu menggeser eksistensi organisme lain, sehingga akan membahayakan keanekaragaman hayati. Dipandang dari segi ekologi kloning akan menganggu kemantapan ekosistem. Di dalam ekologi dinyatakan bahwa keanekaragaman menjamin kemantapan ekosistem dengan demikian jika kloning dilakukan besar-besaran maka kemantapan atau kestabilan komunitas menjadi berkurang sehingga komunitas menjadi rentan terhadap perubahan lingkungan, pada dasarnya alam cenderung pada keanekaragaman bukan keseragaman. Moeljoprawiro, 2000 menyatakan dengan prokontra rekayasa genetik maka sebagai biolog hendaknya memacu diri terus meneliti dan mematenkan hasil rekayasa genetik penemuan ktan dengan memperhatikan mayoritas penduduk muslim indonesia serta proses rekayasa genetik yang menghailkan produk tidak bertentangan kemanusiaan, dan tidak bergantung pada negara maju, maka perlu dibentuk undang-undang di indonesia yang mengatur pemasukan hasil rekayasa genetik dari negara luar. Pro dan kontra produk rekayasa genetika masih tetap hangat diperbincangkan. Sebagian besar tulisan masyarakat yang juga didukung lsm menyuarakan nuansa yang sama: produk rekayasa genetik berbahaya. Teknologi rekayasa genetik sebenarnya bukanlah hasil orisinal para ilmuwan biotek, melainkan peniruan proses alamiah yang sudah ada seperti proses sintesis protein antibodi igG dalam sel tubuh mamalia yang merupakan salah satu bentuk pertahanan tubuh dari serangan kuman penyakit. Beratus jenis antibodi dalam tubuh manusia dikodekan oleh berbagai gen DNA yang merupakan hasil potong dan tempel/rekombinasi alamiah berbagai fragmen DNA dalam sel. Proses transfer gen antar kindom seperti bakteri Agrobacterium tumifaciens ke dalam sel inangnya sudah terjadi sejak dulu tanpa campur tangan manusia. Proses inilah yang mengilhami rekayasa genetika tanaman dengan memanfaatkan plasmid Agrobacterium tumifaciens sebagai vektor pembawa gen yang diinginkan untuk dicangkokkan pada suatu tanaman. Penanganan antara yang pro dan kontra terhadap produ rekayasa genetik bisa dikatakan sebagai perang berdasarkan dugaan, informasi berimbang adalah hal penting untuk meluruskan

ketimpangan opini yang ada. Untuk pangan transgenik tidak ada data ilmiah yang merugikan manusia sebagai konsumen sampai saat ini, hanya saja yang sangat hangat pro kontra tentang penelitian rekayasa genetik pada hewan dan manusia, karena ada unsur kemanusiaan dan perikehewanan, dan ketidakalamian hewan manuasia yang masih sulit diterima masyarakat awam, maka ilmuwan perlu memberi penjelasan yang mudah dipahami masyarakat terhadap proses rekayasa genetik keuntungan maupun resikonya, seperti kemungkinan hewan yan mungkin mati pada saat seleksi rekombinan ataupun kesalahan peletakan gen insert sehingga kestabilan genom terganggu dan akhirnya menggangu kesehatannya. Ketimpangan opini akan berpengagruh besar terhadap perkembangan sains dan teknologi di tanah air khususnya bioteknlogi yang sudah terhambat banyak masalah dana. Opini yang bekembang dikhawatirkan akan mengurangi apresiasi masyarakat terpelajar terhadap peneltian ini yang sebelumnya pun sudah rendah sehingga secara tidak langsung akan memuat penelitian bioteknologi khususnya penelitian biomaterial seperti enzim melalui rekayasa genetik menjadi stagnan. Di dalam agenda 21 departemen lingkungan hidup indonesia disebutkan masih sangat kekurangan SDM dalam bidang bioteknologi, apalagi rekayasa genetik. Perangsangan positif untuk menumbuhkan SDM bidang tersebut sangat diperlukan. Indonesia kalah jauh dengan India dan Thailand dalam hal partisipasi intenasional dalam proyek penelitian genome padi Internasional Rice Genoms Sequence Project. Dapat dibayangkan jika peningkatan jumlah SDM rekayasa genetik terhambat padahal kebutuhan akan hal tersebut sangat mendesak. Jadilah Indonesia negara yang konsumtif buta tanpa mengetahui memilah mana produk yang sesuai kondisi masyarakat dan ekosistem Indonesia. jadilah Indonesia negara yang tidak produktif dalam produk dan penelitian rekayasa genetik, dan yang lebih penting Indonesia tidak akan dapat menguasai teknologi tersebut padahal sangat berguna untuk peningkatan kesejahteraan hidup mansia. Sudah saatnya para peneliti dan ilmuwan eksakta khususnya bioteknologi menunjukkan accountability-nya kepada publik memformulasikan pengetahuan dan penelitiannya dalam bahasa yang mudah dimengerti orang awam lewat artikel atau opini di media massa. Sudah saatnya para peneliti turun gunung dari menara gading sehingga peneliti bisa menjadikan sains dan teknologi lebih dekat dan lebih diapresiasi oleh masyarakat melalui pemberitaan yang seimbang is helianti perang terhadap produk rekayasa genetik, haruskah? Peneliti post doktoral pada japan advanced Institute of Science and Technology dan juga peneliti ISTECHS Jepang bidang life ands ciences. Mengantisispasi pangan transgenik kompas 2 mei 2004 anonim produk transgenik masuk indonesia kompas 17 juli 2006.

Diskusi Kasus tentang produk dan proses penelitian rekayasa genetik dapat muncul beberapa pertanyaan yang dapat mengarahkan biolog bagaimana menentukan sikap terhadap rekayasa genetik dan revolusi bioteknologi terutama kaitannya dengan efek positif dan negatif bagi makhluk hidup: 1 produk rekayasa genetik telah masuk ke Indonesia. Bagaimanakah seorang ilmuwan berlatar belakang biologi menyikapi hal ini? Pertimbangan-pertimbangan relevan apa

sajakah yang seharusnya dikemukakan baik sebagai individu berlatar belakang ilmu biolog maupun bagi para pengambil kepuusan? 2. apakah argumen pihak yang pro dan kontra terhadap produk dan proses penelitian rekayasa genetik? 3. Masalah apa sajakah yang mungkin tinmbul dengan masuknya produk transgenik ke Indonesia? 4. Siapa yang paling berwenang atas masalah-masalah yang mungkin timbul terkait masalah tersebut? 5. apakah pengalaman atau hal yang paling menganggu perhatian atau pikiran Anda pada kasus ini?

Dampak Penggunaan Hasil Rekayasa Genetika.?


Posted by agorsiloku pada November 13, 2006
Kamis, 18 April 2002

Dampak Penggunaan Hasil Rekayasa Genetika Telah Menjadi Kenyataan?

* Mangku Sitepoe Domba Dolly yang lahir pada 5 Juli 1996 diumumkan pada 23 Februari 1997 oleh majalah Nature. Pada 4 Januari 2002 di hadapan para wartawan dinyatakan domba itu menderita radang sendi di kaki belakang kiri di dekat pinggul dan lutut atau menderita arthritis. (Kompas, 5/1/02)Kelahiran domba Dolly berkat kemajuan teknologi rekayasa genetika yang disebut kloning dengan mentransplantasikan gen dari sel ambing susu domba ke ovum (sel telur domba) dari induknya sendiri. Sel telur yang sudah ditransplantasi ditumbuhkembangkan di dalam kandungan domba, sesudah masa kebuntingan tercapai maka sang domba lahir yang diberi nama Dolly. Sehingga domba Dolly lahir tanpa kehadiran sang jantan domba, seolah-olah seperti sepotong batang ubi kayu ditanam di tanah yang kemudian tumbuh disebut mencangkok. Sejak lahir si domba Dolly tumbuh dan berkembang dalam keadaan sehat tetapi sesudah hampir enam tahun mulai muncul penyakit arthritis yang dijelaskan di hadapan wartawan.

Menjadi pertanyaan: Mengapa domba Dolly menderita arthritis saja diumumkan ke seluruh muka Bumi? *** Domba Dolly dihasilkan dari hasil transplantasi gen atau gen yang satu dipindahkan ke gen yang lain. Diasosiasikan perpindahan gen. Dapat antarjenis maupun lintas jenis yang kemudian ditumbuhkembangkan. Jenis penyakit yang ditemukan oleh Prusiner SB, 1986 diklasifikasikan sebagai penyakit prion; pada domba disebut penyakit Scrapie pada tahun 1787, dapat menular ke sapi yang disebut penyakit Sapi-gila tahun 1986. Penyakit sapi gila dapat menular ke manusia menjadi penyakit Creutzfeldt-Jakob varian baru (nv CJD) tahun 1996. Sedangkan CJD tradisional dijumpai pada tahun 1922. Ada satu jenis penyakit lagi pada manusia disebut penyakit kuru juga disebabkan oleh prion, tahun 1957. Penyakit prion juga disebut gangguan dari gen, dapat dicetuskan apabila adanya kanibalisme. Kekhawatiran penyakit prion atau penyakit gen sesudah 200 tahun kemudian baru menjadi kenyataan, Yaitu sejak tahun 1787 sampai 1986. Demikian pun halnya dengan kekhawatiran penyakit arthritis yang diderita oleh domba Dolly sesudah enam tahun baru muncul. Masa inkubasi penyakit Scrapie pada domba 1,5 sampai dengan empat tahun, penyakit sapi gila empat sampai dengan delapan tahun, dan penyakit kuru pada manusia delapan sampai dengan 20 tahun. Apakah penyakit arthritis yang dijumpai pada domba Dolly sesudah enam tahun juga merupakan suatu penyakit dari gen atau muncul dari penggunaan rekayasa genetika? Pertanyaan ini muncul sesudah adanya pengalaman pada penyakit prion seperti penyakit sapi gila di Inggris yang dikemukakan oleh Prusiner S B di tahun 1986. Kekhawatiran terhadap penyakit arthritis si domba Dolly disebabkan oleh penggunaan rekayasa genetika didukung pula oleh beberapa hasil hewan percobaan:
Percobaan Guff B L (1985), penggunaan gen pertumbuhan manusia kepada embrio, diharapkan akan muncul keadaan yang baik ternyata muncullah yang buta, immunosupresif, arthritis, gangguan pencernaan, dan lain-lain. Demikian pula penelitian Arfad Putzai (1998) menggunakan kentang transgenik yang mentah diberikan

kepada tikus percobaan memberikan gejala gangguan pencernaan, imunosupresif, kekerdilan, serta adanya arthritis. Apakah arthritis pada domba Dolly sesudah enam tahun dari kelahirannya disebabkan oleh penggunaan teknologi rekayasa genetika? masih diragukan kebenarannya. Walaupun percobaan Arfad Putzai ditentang oleh berbagai pakar di seluruh dunia tentang keakuratan penelitian tersebut, tetapi Perdana Menteri Inggris menyatakan agar meninjau kembali tentang peraturan penggunaan produk-produk biotehnologi di Inggris. Kedua percobaan tersebut merupakan kenyataan dampak negatif yang disebabkan oleh penggunaan GMO. Satu-satunya gangguan kesehatan sebagai dampak negatif atau bentuk nyata penggunaan hasil rekayasa genetika (GMO), pada manusia yang telah dapat dibuktikan ialah reaksi alergis. Tetapi, baik diketahui bahwa gen tersebut menimbulkan reaksi alergis maka seketika itu seluruh gen serta produk dari gen tersebut ditarik dari peredaran, sehingga dikatakan sampai saat ini belum dijumpai lagi adanya dampak negatif gangguan kesehatan yang ditimbulkan dalam penggunaan GMO pada manusia. Seperti dikemukakan oleh Wallase, 2000, bahwa tidak seorang pun di muka Bumi ini ingin menjadi hewan percobaan terhadap penggunaan produk GMO. Sedangkan untuk hewan dan beberapa hewan percobaan ada pula dijumpai di lapangan seperti adanya penggunaan GMO pada tanaman yang digunakan sebagai bahan pakan pokok larva kupu-kupu raja menimbulkan gangguan pencernaan, menjadi kuntet akhirnya larva kupu-kupu mati. Temuan di lapangan mengenai kasus kematian larva kupu-kupu yang memakan bahan pakan produk GMO dan hasil penelitian Arfad Putzai memberikan kekhawatiran terhadap pemberian hasil rekayasa genetika kepada hewan maupun manusia dalam keadaan mentah. Bentuk nyata lainnya penggunaan hasil rekayasa genetika yang telah pernah dijumpai ialah adanya gangguan lingkungan berupa tanaman yang mempergunakan bibit rekayasa genetika menghasilkan pestisida. Sesudah dewasa tanaman transgenik yang tahan hama tanaman menjadi mati dan berguguran ke tanah. Bakteri dan jasat renik lainya yang dijumpai pada tanah tanaman tersebut mengalami kematian. Kenyataan di lapangan bahwa hasil trasngenik akan mematikan jasad renik dalam tanah sehingga dalam jangka panjang dikhawatirkan akan memberikan gangguan terhadap struktur dan tekstur tanah.Di khawatirkan pada areal tanaman transgenetik sesudah bertahun-tahun akan memunculkan gurun pasir. Kenyataan di lapangan adanya sifat GMO yang disebut cross-polination. Gen tanaman transgenetik dapat ber-cross- polination dengan tumbuhan lainnya sehingga mengakibatkan munculnya tumbuhan baru yang dapat resisten terhadap gen yang tahan terhadap hama penyakit. Cross-polination dapat terjadi pada jarak 600 meter sampai satu kilometer dari areal tanaman transgenic. Sehingga bagi areal tanaman transgenik yang sempit dan berbatasan dengan gulma maka dikhawatirkan akan munculnya gulma baru yang juga resisten terhadap hama tanaman tertentu. Penggunaan bovinesomatotropine hormon yang berasal hasil rekayasa genetika dapat meningkatkan produksi susu sapi mencapai 40 persen dari produksi biasanya; demikian pula porcine somatotropin yang

dapat meningkatkan produksi daging babi 25 persen dari daily gain biasanya. Tetapi, kedua ini akan menghasilkan hasil sampingan berupa insulin growth factor I (IGF I) yang banyak dijumpai di dalam darah maupun di dalam daging, hati, serta di dalam susu. Mengonsumsi IGF I akan memberikan kekhawatiran risiko munculnya penyakit diabetes, penyakit AIDS dan resisten terhadap antibiotika pada manusia sedangkan pada sapi akan memberikan risiko munculnya penyakit sapi-gila serta penyakit radang kelenjar susu (mastitis). Kekhawatiran munculnya dampak negatif penggunaan GMO terhadap ekonomi bibit yang dihasilkan dengan rekayasa genetika merupakan final stok bahkan disebut dengan suicide seed sehingga membuat kekhawatiran akan adanya monopoli. Kekhawatiran terhadap efesiensi penggunaan GMO, misalnya, di Meksiko penggunaan bovinesomatothropine kepada sapi meningkatkan produksi susu 25 persen tetapi penggunaan pakan meningkat sehingga tidak adanya efisiensi. Demikian pula kekhawatiran penanaman kapas Bt di Provinsi Sulawesi Selatan dapat meningkatkan produksi tiga kali lipat, tetapi bila subsidi supplier ditarik apakah tetap efisien? Kekhawatiran akan musnahnya komoditas bersaing apabila minyak kanola diproduksi dengan rekayasa genetika dapat meningkatkan produksi minyak goreng beratus kali lipat maka akan punah penanaman tanaman penghasil minyak goreng lainnya seperti kelapa dan kelapa sawit. Demikian pula dengan teknologi rekayasa genetika telah diproduksi gula dengan derajat kemanisan beribu kali dari gula biasanya, maka dikekhawatirkan musnahnya tanaman penghasil gula. Kekhawatiran munculnya dampak negatif penggunaan GMO terhadap sosial bersifat religi, bagi umat Islam penggunaan gen yang ditransplantasikan ke produk makanan maka akan menimbulkan kekhawatiran bagi warga Muslim. Penggunaan gen hewan pada bahan makanan hasil rekayasa genetika yang akan dikonsumsi merupakan kekhawatiran bagi mereka yang vegetarian. *** Kasus Ajinomoto di Indonesia di awal tahun 2001, penyedap rasa Ajinomoto diduga menggunakan unsur babi di dalam memroses pembuatan salah satu enzimnya. Pembuatan enzim ini dapat menggunakan teknologi rekayasa genetika menggunakan gen. Seluruh produk Ajinomoto yang diduga menggunakan unsur babi di dalam proses pembuatan enzimnya ditarik dari peredaran. Kloning manusia seutuhnya merupakan kekhawatiran umat manusia yang akan memusnahkan nilai-nilai kemanusiaan. Gen hewan disilangkan dengan gen manusia yang akan memberikan turunan sebagai hewan, yang jelas-jelas menurunkan nilai-nilai kemanusiaan. Kekhawatiran munculnya dampak negatif penggunaan GMO di Indonesia, Indonesia telah mengimpor berbagai komoditas yang diduga sebagai hasil dari rekayasa genetika maupun yang tercemar dengan GMO, berasal dari negara-negara yang telah menggunakan teknologi rekayasa genetika. Mulai dari tanaman, bahan pangan dan pakan, obat-obatan, hormon, bunga, perkayuan, hasil perkebunan, hasil peternakan dan

sebagainya diduga mengandung GMO atau tercemar GMO. Kebiasaan akan mendorong kekhawatiran munculnya dampak negatif penggunaan hasil rekayasa genetika Gangguan terhadap lingkungan Pola tanam produk pertanian di Indonesia areal kecil dikelilingi oleh berbagai gulma, dengan adanya sifat cross-polination dari GMO maka dikhawatirkan akan bermunculan gulma baru yang lebih resisten. Tanpa membakar sisa tanaman GMO akan memusnahkan jasad renik dalam tanah bekas penanaman tanaman GMO akibat sifat dari sisa GMO yang bersifat toksis. Jangka panjang akan merubah struktur dan tekstur tanah. Sifat tanaman GMO yang dapat membunuh larva kupu-kupu, akan memberikan kekhawatiran punahnya kupu-kupu di Sulawesi Selatan. Seperti diketahui Sulawesi Selatan termasyhur dengan kupu-kupunya. Gangguan terhadap kesehatan. Satu-satunya gangguan kesehatan akibat penggunaan hasil rekayasa genetika ialah reaksi alergis yang sudah dapat dibuktikan. Kebiasaan mengonsumsi daging, di Indonesia memiliki kekhususan tersendiri dalam pola konsumsi daging, tidak ada bagian tubuh sapi yang tidak dikonsumsi. Apabila sapi disuntik dengan bovinesomatotropin, mengakibatkan kadar IGF I meningkat sangat tinggi dalam darah dan hati. Bagi daerah yang menggunakan darah sebagai bahan pangan demikian pula mengonsumsi hati (Indonesia mengimpor hati sejumlah lima juta kg dari negara-negara yang menggunakan GMO) memberikan kekhawatiran munculnya dampak negatif penggunaan GMO. Kebiasaan di Indonesia mengonsumsi lalapan, mulai dari kol, kacang panjang, terong, kemangi, dan sebagainya apabila berasal dari tanaman transgenik maka dikhawatirkan memunculkan dampak negatif seperti larva kupu-kupu. Kebiasaan di Indonesia menggunakan tauge mentah, kemungkinan dipergunakan kedele impor yang diduga kedele transgenik, maka dikhawatirkan munculnya dampak negatif seperti percobaan Arfad Putzai. Kebiasaan pakan ternak, dari gulma, sisa-sisa dari hasil pertanian apabila berasal dari areal penanaman transgenik kemungkinan telah mengandung transgenik akan memberikan kekhawatiran seperti percobaan Arfad Putzai.

Pakan ternak Indonesia didominasi bahan impor, baik bungkil kedele maupun jagung berasal dari negara-negara menggunakan GMO sehingga diduga mengandung bahan GMO. Penyakit ayam kuntet telah dijumpai di Indonesia, dikhawatirkan akibat dari penggunaan jagung dan kedelai transgenik seperti percobaan Arfad Putzai. Gangguan terhadap religi dan etika .

Penggunaan obat insulin yang diproduksi dari transplantasi sel pancreas babi ke sel bakteri, serta xenotransplatation yang menggunakan katup jantung babi ditransplantasikan ke jantung manusia memberikan kekhawatiran terhadap mereka yang beragama Islam. Indonesia telah mengimpor kedelai dua juta ton dan jagung 1,2 juta ton serta berbagai komoditas lainnya pada tahun 2000 yang diduga mengandung GMO, sehingga sudah dapat dipastikan Indonesia telah mengonsumsi hasil rekayasa genetika. Tetapi, hingga saat ini belum pernah dilaporkan adanya dampak negatif dari penggunaan GMO. Jangankan mendeteksi dampak negatif penggunaan GMO, mendeteksi apakah komoditas yang diimpor mengandung GMO saja belum pernah dilakukan di Indonesia. Justru untuk itulah kami memberanikan diri mengemukakan dugaan kekhawatiran munculnya dampak negatif penggunaan dari produk rekayasa genetika di Indonesia dr drh Mangku Sitepoe Mantan Staf Dirjen Peternakan Bagian Pakan Konsentrat Catatan : Soal kematian Dolly, si kambing lahir sebagai rekayasa genetik menarik. Dari sumber lain didapat juga informasi bahwa usia dolly yang lahir itu, sama dengan usia dari sel sebenarnya. Jadi, meski baru terlahir, dia sesungguhnya sudah tua. Rekayasa genetik juga menarik, bahwa sistem informasi dari dalam satu sel bersifat holografis. Maksudnya memberikan informasi terhadap keseluruhan dari wujud keseluruhannya. Sepotong sel daun, memberikan informasi lengkap tentang pohon itu sendiri. Ini fakta pengetahuan yang menarik.