Anda di halaman 1dari 47

BAB I KONSEP TEORI A.

Pengertian Pneumonia adalah suatu proses peradangan di mana terdapat konsolidasi yang disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat. Pertukaran gas tidak dapat berlangsung pada konsolidasi alveoli dan yang darah tidak daerah yang mengalami dialirkan berfungsi. ke sekitar Hipoksemia

dapat terjadi tergantung paru yang sakit [1]. Istilah pneumonia

banyaknya jaringan parumencakup setiap keadaan

radang paru, dengan beberapa atauseluruh alveoli terisi cairan dan sel-sel darah, seperti yang diperlihatkan gambar 1. Jenis pneumonia yang umum adalah pneumonia bakterial, yang paling sering disebabkan oleh pneumokokus. Penyakit ini dimulai dengan infeksi dalam alveoli, membran paru mengalami peradangan dan berlobang-lobang sehingga cairan bahkan sel darah merah dan sel darah putih keluar dari darah masuk ke dalam alveoli. Dengan demikian, alveoli yang terinfeksi secara progresif terisi dengan cairan dan sel-sel, dan infeksi menyebar melalui perluasan bakteri atau virus dari alveolus ke alveolus. Akhirnya, daerah
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

luas pada paru, kadang-kadang seluruh lobus bahkan seluruh paru menjadi berkonsolidasi, yang berarti bahwa paru terisi cairan dan sisa-sisa sel [2].

Gambar 1. Pneumonia Pada pneumonia, fungsi pertukaran udara paru berubah dalam berbagai stadium penyakit yang berbeda-beda. Pada stadium awal, proses pneumonia dapat dilokalisasikan dengan baik hanya pada satu paru, disertai dengan penurunan ventilasi alveolus, sedangkan aliran darah yang melalui paru tetap normal. Ini mengakibatkan dua kelainan utama paru: (1) penurunan luas permukaan total membran pernapasan dan (2) menurunnya rasio ventilasi-perfusi. Kedua efek ini menyebabkan hipoksemia (oksigen darah rendah) dan hiperkapnia (karbon dioksida darah tinggi) [2]. Pneumonia merupakan bagian dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bawah yang banyak menimbulkan kematian, hingga berperan besar dalam tingginya angka kematian. Pneumonia di negara berkembang disebabkan terutama oleh bakteri. Pneumonia sering terjadi pada anak usia 2 bulan 5 tahun, pada usia
2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

di bawah 2 bulan pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali/menit juga disertai penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam. Pada usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali/menit dan pada usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali/menit. Pneumonia berat ditandai dengan adanya gejala seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu memuntahkan semuanya, kejang, dan terdapat tarikan dinding dada ke dalam dan suara nafas bunyi krekels (suara nafas tambahan pada paru) saat inspirasi [3]. B. Etiologi Jenis Pneumonia Sindroma Tipikal Etiologi
Streptococcus

Faktor Resiko
Sickle cell disease Hipogammaglobulinemia Multiple myeloma

Tanda dan Gejala

Onset

pneumonia jenis pneumonia tanpa penyulit


Streptococcus

mendadak dingin, menggigil, dan demam (39-40 oC)

Nyeri dada

pneumonia dengan penyulit

pleuritis

Batuk

produktif, sputum hijau, purulen, dan mungkin


3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

mengandung bercak darah, serta hidung kemerahan

Retraksi

interkostal, penggunaan otot aksesorius, dan bisa timbul sianosis Sindrom Atipikal
Haemophilus Usia tua COPD Flu Anak-anak Dewasa muda

Onset bertahap dalam 3-5 hari Malaise, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, dan batuk kering Nyeri dada karena batuk

influenzae
Staphylococcus

aureus
Mycoplasma

pneumonia
Virus patogen

Aspirasi

Aspirasi

Kondisi lemah

Anaerobik

basil gram negatif : Klebsiela, Pseudomonas,

karena konsumsi alkohol


4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

campuran: mulanya onset perlahan

Perawatan

(misalnya infeksi

Enterobacter, Escherichia proteus, dan basil gram positif : Staphylococcus

nosokomial)

Demam rendah,

Gangguan

dan batuk
Produksi

kesadaran

sputum/bau busuk
Foto dada:

Aspirasi

asam lambung

jaringan interstitial yang terkena tergantung bagian yang terkena di paruparunya


Infeksi gram

negatif atau positif


Gambaran klinik

mungkin sama dengan pneumonia klasik


Distress respirasi

mendadak,
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

dispnea berat, sianosis, batuk, hipoksemia, dan diikuti tanda infeksi sekunder Hematogen
Terjadi bila Kateter IV yang terinfeksi Gejala pulmonal Endokarditis

kuman patogen menyebar ke aliran darah: Staphylococcus, E.coli, dan anaerob enterik

timbul minimal dibanding gejala septikemia


Batuk

paru-paru melalui Drug abuse


Abses intra abdomen Pyelonefritis Empyema kandung

nonproduktif dan nyeri pleuritik sama dengan yang terjadi pada emboli paru-paru

kemih

6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6

C. Patofisiologi Inhalasi Mikroba dengan jalan Melalui udara Aspirasi organisme dari naso faring Hematogen

Sekresi, Edema, dan prochospasme Partial oclusi Reaksi inflamasi hebat

Nyeri dada Panas dan demam Anoreksia pausea vomit

Nyeri pleuritis Membran paru-paru meradang dan berlubang


7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7

Hepatitis merah Red Blood Count (RBC), White Blood Count (WBC), dan cairan keluar masuk alveoli

Dispanea Sianosis Batuk

Daerah paru menjadi padat (konsolidasi)

Luas permukaan membran respirasi Penurunan ratio ventilasi-perfusi

8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

Kapasitas difusi menurun

Hipoksemia

Hepatitis merah diakibatkan perembesan eritrosit dan beberapa leukosit dari kapiler paru-paru. Perembesan tersebut membuat aliran darah menurun, alveoli dipenuhi dengan leukosit dan eritrosit (jumlah eritrosit relatif sedikit). Leukosit lalu melakukan fagositosis Pneumococcus dan sewaktu resolusi berlangsung makrofag masuk ke dalam alveoli dan menelan leukosit beserta Pneumococcus. Paru-paru masuk ke dalam tahap hepatisasi abu-abu dan tampak berwarna abu-abu kekuningan. Secara perlahan sel darah merah yang mati dan eksudat fibrin dibuang dari alveoli sehingga terjadi pemulihan sempurna. Paruparu kembali menjadi normal tanpa kehilangan kemampuan dalam pertukaran gas [1]. Faktor Predisposisi :
a.

Polusi udara

b. Infeksi saluran nafas bagian atas.

9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9

c.

Immobilitas yang lama

d. Therapy immuno suptesif (kortikosteroid, kemoterapi) e. f.

Malnutrisi, dehidrasi Penyakit kronis :DM, COPD, penyakit jantung

g. Aspirasi h. Tidak imunisasi DPT (difteri dan pertusis) dan measles. (sofyani 2000)

Faktor yang memudahkan :


a.

Fisiologik : morbili, varicella.

b. Imunologik : Hypoanaglobulinemia c.

Anatomik : palatoschisis

d. Umur : umur makin muda banyak.

D. Diagnostik Diagnostik pneumonia ditegakkan dengan pengumpulan riwayat kesehatan (terutama infeksi saluran pernapasan yang baru saja dialami), pemeriksaan dada, rontgen dada, kultur darah (invasi aliran darah, yang disebut bakteremia, sering terjadi), dan pemeriksaan sputum. Diagnosis studi [1]:
10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10

1. Chest X-ray: teridentifikasi adanya penyebaran (misal: lobus dan

bronkhial); dapat juga menunjukkan multipel abses/infiltrat, empiema (Staphylococcus); penyebaran atau lokasi infiltrasi (bakterial); atau penyebaran/extensive nodul infiltrat (sering kali viral), pada pneumonia mycoplasma chest x-ray mungkin bersih.
2. Analisis gas darah (Analysis Blood Gasses-ABGs) dan Pulse

Oximetry:: abnormalitas mungkin timbul tergantung dari luasnya kerusakan paru-paru


3. Pewarnaan Gram/Culture Sputum dan Darah: didapatkan dengan

rieedle biopsy, aspirasi transtrakheal, fiberoptic bronchoscopy, atau biopsi paru-paru terbuka untuk mengeluarkan organisme penyebab. Lebih dari satu tipe organisme yang dapat ditemukan, seperti Diplococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, A. Hemolytic streptococcus, dan Hemophilus influenzae.
4. Periksa Darah Lengkap (Complete Blood Count-CBC): leukositosis

biasanya timbul meskipun nilai pemeriksaan darah putih (white blood count-WBC) rendah pada infeksi virus.
5. Tes

serologi: membantu dalam membedakan diagnosis pada

organisme secara spesifik.


6. LED: meningkat 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11

7. Pemeriksaan Fungsi Paru-paru: volume mungkin menurun (kongesti

dan kolaps alveolar): tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas pemenuhan udara menurun, hipoksemia.
8. Elektrolit: sodium dan klorida mungkin rendah. 9. Bilirubin mungkin meningkat

E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan medis pada klien adalah sebagai berikut [3]: Konsolidasi atau area yang menebal dalam paru-paru yang akan tampak pada rontgen dada mencakup area berbercak atau keseluruhan lobus (pneumonia lobaris). Pada pemeriksaan fisik, temuan akan beragam tergantung pada keparahan pneumonia. Temuan tersebut dapat mencakup bunyi napas bronkovesikular atau bronkial, krekles, peningkatan fremitus, egofoni positif, dan pekak pada perkusi. Pengobatan pneumonia termasuk pemberian antibiotik yang sesuai seperti yang ditetapkan oleh hasil pewarnaan Gram. Penisilin G merupakan antibiotik pilihan untuk infeksi oleh S. pneumonia. Medikasi efektif lainnya termasuk eritromisin, klindamisin, sefalosporin generasi kedua dan ketiga, penisilin lainnya, dan trimetoprimsulfametoksazol (Bactrim).

12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12

Pneumonia mikoplasma memberikan respons terhadap eritromisin, tetrasiklin, dan derivat tertrasiklin (doksisiklin). Pneumonia tipikal lainnya mempunyai penyebab virus, dan kebanyakan tidak memberikan respons terhadap antimikrobial. Pneumocystis carinii memberikan respons terhadap pentamidin dan trimetoprim-sulfametoksazol (Bactrim, TMP-SMZ). Inhalasi lembab, hangat sangat membantu dalam menghilangkan iritasi bronkial.
Penatalaksanaan Keperawatan

Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan pneumonia adalah sebagai berikut:


1. Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal melalui pemberian kompres. 2. Latihan bentuk efektif dan fisiotheraphy paru. 3. Pemberian oksigenasi (oksigen 1-2 liter/menit). 4. Mempertahankan kebutuhan cairan (IVFD dektrose 10% : NaCl 0,9%). 5. Pemberian nutrisi, apabila ringan tidak perlu diberikan antibiotik, tetapi

apabila penyakit berat dapat dirawat inap, maka perlu pemberian antibiotik berdasarkan usia, keadaan umum, kemungkinan penyebab, seperti pemberian Ampisilin dan Kloramfenikol. Asuhan keperawatan dan pengobatan (dengan pengecualian terapi antimikroba) sama dengan yang diberikan untuk pasien yang mengalami pneumonia akibat bakteri.
13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13

Pasien menjalani tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. Jika dirawat di rumah sakit, pasien diamati dengan cermat dan secara kontinu sampai kondisi klinis membaik.

BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian 1) Riwayat Kesehatan :

Kajian berfokus kepada manifestasi klinik keluhan utama, kejadian yang membuat kondisi sekarang ini, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, dan riwayat psikososial. Riwayat kesehatan dimulai dari biografi pasien. Aspek yang sangat erat hubungannya dengan gangguan sistem pernapasan adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan (terutama gambaran kondisi tempat kerja), dan tempat tinggal.
a) Keluhan utama

Keluhan utama yang biasa muncul pada pasien yang mengalami gangguan siklus O2 dan CO2 antara lain batuk, peningkatan produksi sputum, dispnea, hemoptisis, wheezing, stridor, dan nyeri dada.
14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14

Batuk (Cough)

Batuk merupakan gejala utama pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan. Tanyakan berapa lama pasien mengalami batuk (misal: satu minggu, tiga bulan). Tanyakan juga bagaimana hal tersebut timbul dengan waktu yang spesifik (misal: pada malam hari, ketika bangun tidur) atau hubungannya dengan aktivitas fisik. Tentukan batuk tersebut apakah produktif atau nonproduktif dan berdahak atau kering.
Peningkatan produksi sputum

Sputum merupakan suatu substansi yang keluar bersama dengan batuk atau bersihan tenggorokan. Namun produksi sputum akibat batuk adalah tidak normal. Tanyakan dan catat warna, konsistensi, bau, dan jumlah dari sputum karena hal-hal tersebut dapat menunjukkan keadaan dari proses patologik. Jika terjadi infeksi, sputum dapat berwarna kuning atau hijau, putih atau kelabu, dan jernih.
Dispnea

Dispnea merupakan suatu persepsi kesulitan bernapas/napas pendek dan merupakan perasaan subjektif pasien. Perawat mengkaji tentang kemampuan pasien saat melakukan aktivitas.
15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15

Hemoptisis

Hemoptisis adalah darah yang keluar dari mulut saat batuk. Perawat mengkaji apakah darah tersebut berasal dari paru-paru, perdarahan hidung, atau perut. Darah yang berasal dari paru-paru biasanya berwarna merah terang karena darah dalam paru-paru distimulasi segera oleh refleks batuk.
Chest pain

Nyeri dada (Chest pain) dapat berhubungan dengan masalah jantung dan paru-paru. Gambaran yang lengkap dari nyeri dada dapat menolong perawat untuk membedakan nyeri pada pleura, muskuloskeletal, kardik, dan gastrointestinal. Paru-paru tidak mempunyai saraf yang sensitif terhadap nyeri. Oleh karena perasaan nyeri murni bersifat subjektif, maka perawat harus menganalisis nyeri yang ditimbulkan dan berhubungan dengan masalah.
b) Riwayat kesehatan masa lalu

Predileksi penyakit saluran pernapasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita.(anonim)
16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16

2) Kajian Sistem (Head to Toe) 1. Inspeksi

Prosedur inspeksi yang dilakukan oleh perawat adalah sebagai berikut :


1) Pemeriksaan dada dimulai dari dada posterior dan pasien harus

dalam keadaan duduk.


2) Dada diobservasi dengan membandingkan satu sisi dengan yang

lainnya.
3) Tindakan dilakukan dari atas sampai bawah. 4) Inspeksi dada posterior terhadap warna kulit dan kondisinya (skar,

lesi, dan massa) dan gangguan tulang belakang (kifosis, skoliosis, dan lordosis).
5) Catat jumlah, irama, kedalaman pernapasan, dan kesimetrisan

pergerakan dada.
6) Observasi tipe pernapasan seperti: pernapasan hidung atau

pernapasan diafragma serta penggunaan otot bantu pernapasan.

17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17 17

7) Saat mengobservasi respirasi, catat durasi dari fase inspirasi (I)

dan fase ekspirasi (E). Rasio pada fase ini normalnya adalah 1 : 2.
8) Kaji konfigurasi dada dan bandingkan diameter anteroposterior

(AP) dengan diameter lateral/transversal (T). Rasio normal berkisar antara 1 : 2 sampai 5 : 7, tergantung dari kondisi cairan tubuh pasien.
9) Kelainan pada bentuk dada: Barrel chest

Timbul akibat terjadinya overinflation paru-paru. Terdapat peningkatan diameter AP : T (1 : 1), sering terjadi pada pasien emfisema.
Funnel chest (pectus excavatum)

Timbul jika terjadi depresi pada bagian bawah dari sternum. Hal ini akan menekan jantung dan pembuluh darah besar yang mengakibatkan murmur.
Pigeon chest (pectus carinatum)

Timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan sternum yang mengakibatkan terjadi peningkatan diameter AP. Terjadi pada pasien dengan kifoskoliosis berat.
18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18 18

Kyphoscoliosis (kifoskoliosis)

Terlihat dengan adanya elevasi skapula yang akan mengganggu pergerakan paru-paru. Kelainan ini dapat timbul pada pasien dengan osteoporosis dan kelainan muskuloskeletal lain yang mempengaruhi thoraks. Kifosis : meningkatnya kelengkungan normal columna

vertebrae thoracalis menyebabkan pasien tampak bongkok. Skoliosis : melengkungnya vertebrae thoracalis ke samping, disertai rotasi vertebral.
10) Observasi kesimetrisan pergerakan dada. Gangguan pergerakan

atau tidak adekuatnya ekspansi dada mengindikasikan penyakit pada paru-paru atau pleura.
11) Observasi retraksi abnormal ruang interkostal selama inspirasi,

yang dapat mengindikasikan obstruksi jalan napas.

2. Palpasi

Palpasi dilakukan untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan kulit, dan mengetahui vocal/tactile premitus (vibrasi). Perlu dikaji juga
19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19

kelembutan kulit terutama jika pasien mengeluh nyeri. Perhatikan adanya getaran dinding dada yang dihasilkan ketika berbicara (vocal premitus).

3. Perkusi

Perawat melakukan perkusi untuk mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada disekitarnya, dan pengembangan (ekskursi) diafragma. Jenis suara perkusi ada 2 jenis yaitu:
1) Suara perkusi normal Resonan (sonor) : dihasilkan pada jaringan paru-paru, normal

umumnya bergaung dan bernada rendah.


Dullness

: dihasilkan di atas bagian jantung atau paru-

paru.
Tympany

dihasilkan di atas perut yang berisi udara

umumnya bersifat musikal.

2) Suara perkusi abnormal

20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20

Hiperresonan

: bergaung lebih rendah dibandingkan

dengan resonan dan timbul pada bagian paru-paru yang abnormal berisi udara.
Flatness

: nadanya lebih tinggi dari dullness dan

dapat didengar pada perkusi daerah paha, di mana seluruh areanya berisi jaringan.

4. Auskultasi

Auskultasi merupakan pengkajian yang sangat bermakna mencakup mendengarkan suara napas normal dan suara tambahan (abnormal). Suara napas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan napas dari laring ke alveoli dan bersifat bersih.
1) Jenis suara napas normal adalah: Bronkhial : sering juga disebut tubular sound karena suara

ini dihasilkan oleh udara yang melalui tube (pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi dan tidak ada jeda diantara kedua fase tersebut. Normal terdengar keras di atas trakhea atau daerah lekuk suprasternal.

21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21

Bronkovesikular : merupakan

gabungan dari suara napas

bronkhial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dengan intensitas sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah dada di mana bronkhus tertutup oleh dinding dada.
Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi.

Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.

2) Jenis suara napas tambahan adalah:

Wheezing : terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, dengan karakter suiara nyaring, musikal, suara terus-menerus yang disebabkan aliran udara melalui jalan napas yang menyempit.

Ronchi : terdengar selama fase inspirasi dan ekspirasi, karakter suara terdengar perlahan, nyaring, dan suara mengorok terusmenerus. Berhubungan dengan sekresi kental dan peningkatan produksi sputum.

Pleural friction rub : terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Karakter suara kasar, berciut, dan suara seperti gesekan akibat

22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

dari inflamasi pada daerah pleura. Sering kali pasien mengalami nyeri saat bernapas dalam.

Crackles, dibagi menjadi 2 jenis yaitu :


i. Fine crackles

: setiap fase lebih sering terdengar saat

inspirasi. Karakter suara meletup, terpatah-patah akibat udara melewati daerah yang lembab di alveoli atau bronkhiolus. Suara seperti rambut yang digesekkan.
ii. Coarse crackles : lebih menonjol saat ekspirasi. Karakter

suara

lemah,

kasar,

suara

gesekan

terpotong

akibat

terdapatnya cairan atau sekresi pada jalan napas yang besar. Mungkin akan berubah ketika pasien batuk.

3) Pemeriksaan diagnostik : Foto toraks :

Pada foto toraks, broncho pneumonia terdapat bercak-bercak infiltrat pada satu atau beberapa lobus, jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.
Laboratorium :

23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23

o Gambaran darah tepi menunjukan leukositosis, dapat mencapai

15.000-40.000 /mm3 dengan pergeseran ke kiri. Kuman penyebab dapat dibiakan dari usapan tenggorokan, dan mungkin juga dari darah.
o Urin biasa berwarna lebih tua, mungkin terdapat albumia uria

ringan karena suhu yang naik & sedikit torak halin.


o AGD dapat menunjukan asidosis metabolic dengan atau tanpa

retensi CO2.

4) Pengkajian psikososial

Pengkajian psikososial meliputi kajian tentang aspek kebiasaan hidup pasien yang secara signofikan berpengaruh terhadap fungsi respirasi. Beberapa kondisi respiratori timbul akibat stres. Penyakit pernapasan kronis dapat menyebabkan perubahan dalam peran keluarga dan hubungan dengan orang lain, isolasi sosial, masalah keuangan, pekerjaan, atau ketidakmampuan. Dengan mendiskusikan mekanisme pengobatan, perawat dapat mengkaji reaksi pasien terhadap masalah stres psikososial dan mencari jalan keluarnya.

B. Pohon Masalah 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24

Etiologi

Pneumonia

Patofisiologi

Penatalaksanaan

25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25

Keperawatan (Askep) Medis (Pengobatan)

C. Diagnosa Keperawatan 1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: a.

Inflamasi

trakheobronkhial,

pembentukan

udema,

peningkatan

produksi sputum
b. Nyeri pleuritis c. Fatigue

Ditandai oleh:
a. Perubahan jumlah dan kedalaman napas b. Suara napas abnormal, penggunaan otot-napas tambahan c. Dispnea dan sianosis

26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26

d. Batuk dengan atau tanpa produksi sputum

Tujuan : jalan nafas bersih dan efektif setelah..hari perawatan, dengan kriteria:
a. Secara verbal tidak ada keluhan sesak b. Suara napas normal (vesikuker) c. Sianosis (-) d. Batuk (-) e. Jumlah pernapasan dalam batas normal sesuai usia

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan : a. Perubahan membran alveolar kapiler (efek inflamasi) b. Gangguan kapasitas pengangkutan oksigen dalam darah (demam,

perubahan kurva ksihemoglobin) Ditandai oleh:


a. Dispnea b. Takikardia c. Restlestness/perubahan kesadaran 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27 27

d. Hipoksia

Tujuan : Pertukaran gas dapat teratasi setelah.hari perawatan dengan kriteria:


a. Keluhan dispnea berkurang b. Denyut nadi dalam rentang normal dan irama reguler c. Kesadaran penuh d. Hasil nilai analisis gas darah dalam batas normal

3. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan : a.

Tidak adeluatnya mekanisme pertahanan tubuh primer (penurunan aktivitas silia dan sekret statis di saluran napas)

b. Tidak adekuatnya mekanisme pertahanan tubuh sekunder (infeksi dan

imunosupresi), penyakit kronis, dan malnutrisi Tujuan : infeksi tidak terjadi selama perawatan, dengan kriteria :
a. Tidak munculnya tanda-tanda infeksi sekunder b. Pasien dapat mendemonstrasikan kegiatan untuk menghindarkan

infeksi

28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan : a. Tidak seimbangnya persendian dan kebutuhan oksigen kelemahan

umum
b. Kelelahan karena gangguan pola tidur akibat ketidaknyamanan, batuk

produktif, dan dispnea Ditandai oleh :


a. Melaporkan secara verbal adanya kelemahan, fatigue, dan kelelahan

(exhaustion)
b. Dispnea dan takipnea c. Takikardia sebagai respons terhadap aktivitas d. Perkembangan/memburuknya pucat dan sianosis

Tujuan : aktivitas dapat terpenuhi selama perawatan dengan kriteria:


a. Laporan secara verbal, kekuatan otot meningkat dan tidak ada

perasaan kelelahan
b. Tidak ada sesak c. Denyut nadi dalam batas normal d. Tidak muncul sianosis

29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29

5. Nyeri akut berhubungan dengan: a. Inflamasi pada parenkim paru-paru b. Reaksi seluler untuk mengeluarkan toksin c. Batuk persisten

Ditandai oleh :
a. Pleuritic chest pain b. Sakit kepala dan nyeri otot/sendi c. Menahan area yang nyeri d. Perilaku distraksi dan kelemahan

Tujuan : nyeri teratasi setelah . hari perawatan dengan kriteria:


a. Laporan secara verbal, nyeri dada berkurang b. Skala nyeri menurun c. Wajah tampak rileks d. Pasien dapat beristirahat tanpa terganggu rasa nyeri

30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30

6. Resiko

ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan :
a.

Peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder terhadap demam dan proses infeksi

b. Anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri, bau dan rasa

sputum, serta treatment aerosol


c.

Distensi abdomen/udara yang berhubungan dengan tertelannya udara selama periode dispnea

Tujuan : nutrisi dapat seimbang selama perawatan dengan kriteria:


a.

Pasien menunjukkan nafsu makan meningkat

b. Tidak adanya anoreksia c.

Berat badan dalam keadaan stabil

7. Resiko tinggi kurang cairan berhubungan dengan: a. Kehilangan cairan yang banyak (demam, diaphoresis, pernafasan

mulut/hiperventilasi, dan vomiting)


b. Penurunan intake oral

31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31

Tujuan : mendemonstrasikan keseimbangan cairan dengan tanda-tanda normal, misalnya : membran mukosa lembab, turgor baik, tanda vital stabil, dan capilary refill cepat kembali
D. Perencanaan 1. Bersihan jalan napas tidak efektif

Intervensi :
a. Mengkaji jumlah/kedalaman pernapasan dan pergerakan dada

Rasional : melakukan evaluasi awal untuk melihat kemajuan dari hasil intervensi yang telah dilakukan
b. Auskultasi daerah paru-paru, mencatat area yang menurun/tidak adanya

aliran udara serta mencatat adanya suara napas tambahan seperti crackies dan wheezes Rasional : penurunan aliran udara timbul pada area yang konsolidasi dengan cairan. Suara napas bronkhial (normal di atas bronkhus) dapat juga Crackies, ronchi, dan wheezes terdengar pada saat inspirasi dan atau ekspirasi sebagai respon dari akumulasi caira, sekresi kental, dan spasme/pbstruksi saluran napas
c. Elevasi kepala, sering ubah posisi

Rasional : diafragma yang lebih rendah akan membantu dalam meningkatkan ekspansi dada, pengisian udara, mobilisasi dan pengeluaran sekret
32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32

d. Membantu

pasien

dalam

melakukan

latihan

napas

dalam.

Mendemonstrasikan/membantu pasien belajar untuk batuk, misalnya menahan dada dan batuk efektif pada saat posisi tegak lurus Rasional : napas dalam akan memfasilitasi pengembangan maksimum paruparu/saluran udara kecil. Batuk merupakan mekanisme pembersihan diri normal, dibantu silia untuk memelihara kepatenan saluran udara. Menahan dada akan membantu untuk mengurangi ketidaknyamanan, dan posisi tegak lurus akan memberikan tekanan lebih besar untuk batuk
e. Melakukan suction atas indikasi

Rasional : menstimulasi batuk atau pembersihan saluran napas secara mekanis pada pasien yang tidak dapat melakukannya dikarenakan ketidakefektifan batuk atau penurunan kesadaran
f.

Memberikan cairan 2500 ml/hari (jika tidak ada kontraindikasi) dan air hangat

Rasional : cairan (terutama cairan hangat) akan membantu meobilisasi dan mengeluarkan sekret Kolaborasi:
a.

Mengkaji efek dari pemberian nebulizer dan fisioterapi pernapasan lainnya, misal: incentive spirometer, IPPB, perkusi, dan postural drainage.

33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33

Melakukan tindakan selang diantara waktu makan dan membatasi cairan jika cairan sudah mencukupi Rasional : memfasilitasi pencairan dan pengeluaran sekret. Postural drainage mungkin tidak efektif pada pneumonia intertisial atau yang disebakan oleh eksudat atau kerusakan dari alveolar. Pengaturan tatalaksana/jadwal dari intake oral akan mengurangi kemungkinan muntah dan batuk
b. Memberikan

pengobatan

atas

indikasi

mukolitik,

ekspektoran,

bronkodilator, dan analgesik Rasional : Membantu mengurangi bronkospasme dengan mobilisasi dan sekret. Analgesik diberikan untuk meningkatkan usaha batuk dengan mengurangi rasa tidak nyaman, tetapi harus digunakan sesuai penyebabnya.
c. Memberikan cairan suplemen, mislanya IV, humidifikasi oksigen, dan

humidifikasi ruang Rasional : Cairan diberikan untuk mengganti kehilangan (termasuk insesible/IWL) dan membantu mobilisasi sekret
d. Memonitor serial chest X-ray, ABGs, dan pulse oximetry

Rasional : Untuk dapat mengikuti kemajuan dan efek dari proses penyakit serta memfasilitasi kebutuhan untuk perubahan terapi
e. Membantu dengan bronchoscopyl thoracentesis jika diindikasikan

Rasional : Kadang-kadang diperlukan untuk mengeluarkan sumbatan mukus, sekret yang purulen, dan atau mencegah atelektasis
34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34

2. Kerusakan pertukaran gas

Intervensi :
a. Mengobservasi warna kulit, membran mukosa dan kuku, serta mencatat

adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis pusat (circumoral) Rasioanl : sianosis kuku menggambarkan vasokonstriksi atau respon tubuh terhadap demam. Sianosis cuping telinga, membran mulosa, dan kulit sekitar mulut dapat mengindikasikan adanya hipoksemia sistemik
b. Mengkaji status mental

Rasional : Kelemahan, mudah tersinggung, bingung, dan somnolen dapat merefleksikan adanya hipoksemia/penurunan oksigenasi serebral
c. Memonitor denyut/irama jantung

Rasional : takikardia biasanya timbul sebagai hasil dari demam/dehidrasi, tetapi dapat timbul juga sebagai respons terhadap hipoksemia
d. Memonitor suhu tubuh bila ada indikasi. Melakukan tindakan untuk

mengurangi demam dan meggigil, misalnya mengganti posisi, misalnya mengganti posisi, suhu ruangan yang nyaman, dan kompres (tepid or cool water sponge)

35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35

Rasional : demam tinggi (biasanya pada pneumonia bakteri dan influenza) akan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen dan mengubah oksigenasi seluler
e. Mempertahankan bedrest. Menganjurkan untuk penggunaan teknik

relaksasi dan melakukan aktivitas hiburan yang beragam Rasional : mencgah kelelahan dan mengurangi konsumsi oksegen untuk memfasilitasi resolusi infeksi
f.

Meninggikan posisi kepala. Menganjurkan perubahan posisi tubuh, napas dalam, dan batuk efektif

Rasional

tindakan

ini

akan

meningkatkan

inspirasi

maksimal,

mempermudah pengeluaran sekret untuk meningkatkan ventilasi


g. Mengkaji tingkat kecemasan. Menganjurkan untuk menceritakan secara

verbal. Menjawab pertanyaan secara bijaksana. Mengunjungi seseringnya, mengatur pengunjung untuk tinggal bersama pasien atas indikasi Rasional : kecemasan merupakan manifestasi dari psikologis sebagai respons fisiologis terhadap hipoksia. Memberikan ketentraman dan meningkatkan perasaan aman akan mengurangi masalh psiklogis, oleh karena itu akan menurunkan kebutuhan oksigen dan respons psikologis yang merugikan

36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36 36

h. Mengobservasi kondisi yang memburuk. Mencatat adanya hipotensi,

sputum berdarah , pucat, sianosis, perubahan dalam tingkat kesadaran, serta dispnea berat dan kelemahan Rasional : Shock dan edema paru-paru merupakan penyebab yang sering menyebabkan kematian pada pneumonia dan memerlukan intervensi medis secepatnya
i.

Menyiapkan untuk dilakukan tindakan kperawatan kritis jika diindikasikan

Rasional : Intubasi dan ventilasi mekanis dilakukan pada kondisi insufisiensi respirasi berat Kolaborasi :
a. Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan, misalnya nasal prong dan

masker Rasional : Pemberian terapi oksigen untuk menjaga PaO2 di atas 60 mmHg, oksigen yang diberikan sesuai dengan toleransi dari pasien
b. Memonitor ABGs, pulse oximetry

Rasional : Untuk memantau perubahan proses penyakit dan memfasilitasi perubahan dalam terapi oksigen

37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37 37

3. Pola napas tidak efektif

Intervensi :
a. Memonitor tanda vital, terutama selama proses terapi

Rasional : selama periode ini, porensial berkembang menjadi komplikasi yang lebih faal (hipotensi/shock)
b. Mendemonstrasikan teknik mencuci tangan yang benar

Rasional : sangat efektif untuk mengurangi penyebaran infeksi


c. Mengubah posisi dan memfasilitasi jalan napas yang baik

Rasional : meningkatkan pengeluaran dahak, membersihkan dari infeksi


d. Membatasi pengunjung atas indikasi

Rasional : mengurangi terpaparnya dengan organisme patogen lain


e. Melakukan isolasi sesuai dengan kebutuhan individual

Rasional : Isolasi mungkin dapat mencegah penyebaran/memproteksi pasien dari proses infeksi lainnya
f.

Menganjurkan untuk istirahat secara adekuat sebanding dengan aktivitas. Meningkatkan intake nutrisi secara adekuat

Rasional : memfasilitasi proses penyembuhan dan meningkatkan pertahanan tubuh alami


38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38 38

g. Memonitor keefektifan terapi antimikrobial

Rasional : tanda dari perbaikan kondisi seharusnya timbul antara 24-48 jam

Kolaborasi : Memberikan obat antimikroba atas indikasi sebagai hasil dari pemeriksaan kultur sputum/darah, misal : Penicilin, Erithromycin, Etracyline, Amikacine, dan Cephalosporins Rasional : Obat-obat ini digunakan untuk membunuh mikroba penyebab pneumonia. Kombinasi dari antiviral dan antifungal mungkin digunakan ketika peneumonia diakibatkan oleh organisme campuran.
4. Intoleransi aktivitas

Intervensi :
a. Mengevaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Mencatat dan melaporkan

adanya dispnea, peningkatan kelemahan/fatigue, serta perubahan dalam tanda vital selama dan setelah aktivitas Rasional : memberikan kemampuan/kebutuhan pasien dan memfasilitasi dalam pemilihan intervensi
b. Memberikan lingkungan yang nyaman dan membatasi pengunjung selama

fase akut atas indikasi. Menganjurkan untuk menggunakan manajemen sterss dan aktivitas yang beragam
39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39 39

Rasional : mengurangi stres dan stimulasi yang berlebihan, serta meningkatkan istirahat.
c. Menjelaskan pentingnya beristirahat pada rencana tindakan dan perlunya

keseimbangan antara aktivitas dengan istirahat Rasional : bedrest akan memelihara tubuh selama fase akut untuk menurunkan penyembuhan
d. Membantu pasien untuk berada pada posisi yang nyaman untuk

kebutuhan

metabolisme

dan

memelihara

energi

untuk

beristirahat dan atau tidur Rasional : pasien mungkin merasa nyaman dengan kepala dalam keadaan elevasi, tidur di kursi atau istirahat pada meja dengan bantuan bantal
e. Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan self-care. Memberikan

aktivitas yang meningkat selama fase penyembuhan Rasional : meminimalkan kelelahan dan menolong menyeimbangkan suplai oksigen dan kebutuhan

5. Nyeri akut

Intervensi :

40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40

a. Menentukan karakteristik nyeri, misalnya ketajaman dan terus-menerus.

Cari perubahan dalam karakteristik/lokasi/intensitas nyeri Rasional : Chest pain, biasanya timbul dalam beberapa tingkatan, dapat juga menunjukkan dari timbulnya komplilkasi dari pneumonia seperti pericarditis dan endocarditis
b. Memberikan tindakan untuk kenyamanan, misalnya : black rubs,

perubahan posisi, musik lembut, dan latihan relaksasi/napas Rasional : tindakan nonanelgesik dengan sentuhan akan meringankan ketidaknyamanan dan memberikan efek terapi anlgesik
c. Menawarkan untuk oral higienis

Rasional : napas dengan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan membuat kering membran mukosa yang berpotensial terjadinya ketidaknyamanan
d. Menginstruksikan dan membantu pasien untuk melakukan teknik menahan

dada selama batuk Rasional : membantu mengontrol ketidaknyamanan pada dada dengan meningkatkan pelaksanaan batuk efektif Kolaborasi : Memberikan analgesik dan antitusive atas indikasi

41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41

Rasional

obat-obat

ini

digunakan

untuk

menekan

batuk

nonoproduktif/paroksimal atau mereduksi mukus yang berlebihan, dan meningkatkan secara umum
6. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Intervensi :
a. Mengidentifikasi faktor yang menyebabkan nausea/vomiting, misalnya

sputum yang berlebihan, treatment aerosol, dispnea berat, dan nyeri Rasional : untuk dapat memilih intervensi sesuai penyebab
b. Memberikan tempat untuk membuang sputum. Membantu oral higienis

setelah emesis, setelah postural drainase, dan sebelum makan Rasional : mengatasi ketidaknyamnan pandangan, rasa, kecap, dan lingkungan pasien serta dapat mengurangi nausea
c. Menjadwalkan pemberian tindakan respiratori sekurang-kurangnya satu

jam sebelum makan Rasional : mengurangi efek neusea yang berhubungan dengan tindakan tersebut
d. Auskultasi bising usus. Mengobservasi/palpasi adanya distensi abdomen

Rasional : bising usus mungkin berkurang/tidak ada jika proses infeksi menjadi berat/lama. Distensi abdomen dapat timbul sebagai hasil dari tertelannya udara atau reflek dari toksin bakteri pada saluran gastrointestinal
42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42 42

e. Memberikan makanan sedikit dan sering, termasuk makanan kering

(biskuit) dan/atau makanan yang menarik bagi pasien Rasional : hal ini dapat meningkatkan intake meskipun nafsu makan mungkin menurun sekali
f.

Mengevaluasi status nutrisi secara umum, kemudian membandingkan dengan berat normal

Rasional : adanya kondisi kronis (seperti COPD atau pembatasan dana dapat mengkontribusi terjadinya malnutrisi, menurunkan resistensi terhadap infeksi dan/atau memperlambat respons terhadap terapi

7. Resiko tinggi kurang cairan

Intervensi :
a. Mengkaji perubahan tanda vital seperti peningkatan temperatur/demam

yang lama, takikardia, dan hipotensi ortostatik Rasional : peningkatan temperatur/demam yang lama. Peningkatan laju metabolisme dan kehilangan cairan melalui penguapan, tekanan darah ortostatik, dan peningkatan takikardia dapat mengindikasikan adanya kurang cairan sistemik
b. Mengkaji turgor kulit dan kelembaban dari membran mukosa (bibir dan

lidah)
43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43 43

Rasional : indikator langsung terhadapbkeadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut kering karena pernafasan mulut dan oksigen suplemen
c. Mencatat dan melaporkan adanya nausea/vomiting

Rasional : adanya tanda tersebut dapat menyebabkan berkurangnya intake oral


d. Memonitor intakeb dan outout, mencatat warna dan karakter urine.

Menjumlahkan keseimbangan/balance cairan. Memperhatikan insesible losses dan mengukur berat badan atas dasar indikasi Rasional : memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan untuk penggantian
e. Memberikan cairan 2500 ml/hari atau sesuai kebutuhan individu

Rasional : untuk mengembalikan kondisi kepada kebutuhan cairan tubuh normal dan mengurangi risiko dehidrasi

Kolaborasi :
a. Memberikan pengobatan atas indikasi, misal : antipiretik dan antiemetik

Rasional : berguna dalam mengurangi kehilangan cairan


b. Memberikan cairan tambahan melalui IV atas kebutuhan 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44 44

Rasional : adanya kehilangan intake yang berlebihan, gunakan cara parenteral untuk dapat mengoreksi/mencegah defisiensi. BAB III PENUTUP
a.

Kesimpulan Pneumonia adalah suatu proses peradangan di mana terdapat konsolidasi

yang disebabkan pengisian rongga alveoli oleh eksudat. Pneumonia merupakan bagian dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bawah yang banyak menimbulkan kematian, hingga berperan besar dalam tingginya angka kematian. Pneumonia di negara berkembang disebabkan terutama oleh bakteri. Diagnostik pneumonia ditegakkan dengan pengumpulan riwayat kesehatan (terutama infeksi saluran pernapasan yang baru saja dialami), pemeriksaan dada, rontgen dada, kultur darah (invasi aliran darah, yang disebut bakteremia, sering terjadi), dan pemeriksaan sputum.
b. Saran

Pneumonia bukan merupakan penyakit baru yang ada di Indonesia. Pada kasus yang berat bisa menimbulkan kematian. Mengetahui faktor penyebab dan cara penanganan dini sangat penting diketahui agar terhindar dari peneumonia.

45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45 45

DAFTAR PUSTAKA

1. Somantri, irman. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan

Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : salemba medika.


2. Guyton and hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta :

EGC.
3. Brunner and suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah

Brunner& Suddart Vol 1. jakarta : EGC.


46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46 46

47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47