Anda di halaman 1dari 1

ARTIKEL - DAMARSANTRI EDISI 4 / DESEMBER 2008 VOL 2 | Organisasi Santri Wahid Hasyim

Sedikit Demi Sedikit Lama-lama Menjadi Bukit


Oleh : Iffa Izza

Pepatah ini sederhana saja, "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit". Kita biasa memaknainya bahwa se-
sen demi se- sen lama-lama akan menjadi sepundi. Namun, sesungguhnya pepatah itu tidak hanya sekedar
berbicara tentang hidup hemat dan ketekunan menabung. Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih
berharga dari sekedar sekantung keping uang yaitu bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap
tindakan kecil kita, maka kita akan mendapati kebesaran dalam jiwa kita.(Andi muzaki)

Kita bisa mengambil sebuah pelajaran dan sedikit renungan dari pepatah diatas. Sebuah sapaan, sebuah
senyuman, dan ucapan terima kasih mungkin tindakan yang sepele saja, namun apabila hal itu dilakukan dengan
sepercik kasih sayang dan kebesaran hati, kita akan merasakan bahwa sebenarnya kita mempunyai sebuah
istana kebaikan dan tabungan kebahagiaan yang barang kali tidak ternilai harganya. Hal inilah yang semestinya
kita biasakan dalam kehidupan keseharian kita di pesantren sehingga hidup kita bisa lebih bermakna. Namun,
bagaimana jika pepatah itu di implementasikan dalam bidang kebersihan?

Sungguh ironis andaikan sampah dijadikan variabel dalam memaknai pepatah tersebut. Tak dapat di pungkiri
bahwa di Indonesia, sampah merupakan fenomena yang dari tahun ke tahun tidak kunjung ditemukan
penyelesainnya. Dalam lingkungan pesantren ini misalnya, sampah yang dihasilkan termasuk dalam kategori
banyak bila diperkirakan dari jumlah penghuninya. Seringkali kita berpikir egois bahwa kebersihan adalah
menyingkirkan sampah dari lingkungan tempat tinggal kita, dari lingkungan pondok. Tapi pernahkah anda berpikir
bahwa sampah-sampah tersebut khususnya yang anorganik akan bertahan puluhan tahun mencemari tanah,
sungai dan udara sedikit demi sedikit bila tidak terolah dengan semestinya? hingga kita bisa menuainya dalam
bentuk "bukit" banjir, bencana alam dan polusi yang tiada ujungnya.

Dalam hal ini, kebersihan yang menduduki posisi pertama dalam 9 K-nya Oswah akan lebih bermakna bila
cakupannya diperluas tidak hanya kebersihan lingkungan pesantren saja tetapi juga kebersihan alam ini dari
polutan-polutan yang semakin hari semakin tak terbilang jumlahnya. Jadi, bila dengan "minggu bersih" paradigma
pesantren merupakan lingkungan yang kurang kondusif dari segi kebersihan tidak nampak lagi di pesantren kita,
alangkah baiknya jika kita mulai saat ini juga memikirkan bagaimana nasib sampah-sampah dari lingkungan kita.
Apakah ia akan menjadi salah satu penyumbang berbagai bencana dan polusi di tanah air kita karena tidak
terolah dengan baik? atau akan membantu mempercepat degradasi kesuburan tanah para petani dengan
jumlahnya yang kian tak terkendali.?

Hidup adalah pilihan. Memilih untuk bahagia atau sengasara, memilih untuk membiarkan atau mengatasi, dan
salah satunya adalah memilih menghancurkan ekosistem bumi ini dan membiarkan alam ini terdzalimi atau
menyelamatkannya sebagai bentuk syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Inilah saatnya kita berakhlaqul karimah
pada lingkungan kita, pada bumi kita, pada alam Indonesia kita dengan mengupayakan penanganan dan
pengolahan sampah rumah tangga yang ramah lingkungan.

Buletin Damar Santri diterbitkan oleh Organisasi Santri Wahid Hasyim (OSWAH)Yayasan Pondok Pesantren
Wahid Hasyim.

Sekretariat : Jl. KH. Wahid Hasyim Gaten Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta 55283 Tlp. (0274) 484284.
Email Redaksi Damarsantri: damarsantri@yahoo.com, oswah@journalist.com

ORGANISASI SANTRI WAHID HASYIM (OSWAH)

Organisasi Santri Wahid Hasyim (OSWAH) merupakan lembaga yang bergerak secara praktis dalam bidang
pelayanan, pembinaan dan pengembangan potensi santri. Program utama OSWAH antara lain: pengembangan
intelektual, keterampilan dan kreativitas santri, pembudayaan 9K (Kebersihan, Keindahan, Ketertiban, Kesehatan,
Keamanan, Kedisiplinan, Kekeluargaan dan Kemandirian), olahraga, bakti sosial dan penyelenggaraan UKSH
(Unit Kesehatan Santri Husada) atau poliklinik pesantren.