P. 1
Demam Rematik Akut

Demam Rematik Akut

|Views: 147|Likes:
Dipublikasikan oleh Tia Astriana
Presentasi Kasus Internsip....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Presentasi Kasus Internsip....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

More info:

Published by: Tia Astriana on Aug 23, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2014

pdf

text

original

INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON

TIA ASTRIANA

PRESENTASI / LAPORAN KASUS

Demam Rematik Akut
No. ID Peserta Nama Peserta No. ID Wahana Nama Wahana Topik Tanggal Kasus Nama Pasien Tanggal Presentasi Tempat Presentasi Obyektif Presentasi □ Keilmuan □ Diagnostik □ Neonatus □ Deskripsi □ Tujuan Bahan Bahasan : : : dr. Tia Astriana : : RSUD Cilegon : Demam Rematik Akut : 9 Juli 2013 : An. A : : RSUD Cilegon : □ Keterampilan □ Manajemen □ Bayi □ Anak □ Penyegaran □ Masalah □ Remaja □ Dewasa □ Tinjauan Pustaka □ Istimewa □ Lansia □ Bumil No. Rekam Medis Nama Pendamping : 277925 : dr. Lendy Delyanto

: Membahas manajemen pada kasus demam rematik akut : Mengetahui prinsip penanganan demam rematik akut □ Tinjauan Pustaka □ Diskusi □ Riset □ Presentasi dan Diskusi DATA PASIEN □ Kasus □ E-mail □ Audit □ Pos

Cara Membahas

:

Nama : An. A

Umur : 15 tahun Telp :

No RM : 277925 Terdaftar Sejak :

Nama Klinik : RSUD Cilegon Data Utama Untuk Bahan Diskusi: Keluhan Utama : Sesak nafas

Pasien anak laki-laki berusia 15 tahun tahun datang ke IGD RSUD Cilegon dengan keluhan sesak nafas sejak 1 minggu yang dirasakan semakin memberat. Keluhan disertai dengan demam yang dirasa naik turun sejak 3 minggu SMRS, batuk berdahak disetai bercak darah dan perut semakin membesar. Riwayat nyeri tenggorok ada ± 3 minggu yang lalu, disertai demam tinggi. Sudah berobat namun tidak ada perubahan. Pada hasil pemeriksaaan fisik ditemukan keadaan umum tampak sesak, Laju respirasi meningkat, Denyut Nadi cepat, terdapat retraksi interkosta dan epigastrik, Pada pemeriksaan 1

INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON

TIA ASTRIANA

Cor didapatkan tanda tanda pembesaran jantung disertai bising jantung yag terdengar pada apeks serta friction rubs yang menandakan adanya perikarditis. Serta pada pemeriksaan abdomen didapatkan pembesaran hepar akibat adanya suatukongesti jantung. Pada hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan leukositosis, CRP meningkat dan ASTO positif. Pada hasil pemeriksaan foto Thorax didapatkan gambaran kardiomegali efusi pleura kanan, dan diafragma kanan letak tinggi akibat hepato megali. USG abdomen didapatkan gambaran hepatomegali dengan pembesaran vena porta hepatika dan vena cava inferior. Dari pemeriksaan EKG didapatkan gambaran low voltage dengan sinus takikardia Daftar Pustaka: 1. Sastroasmoro S, Madiyono B. Buku Ajar Kardiologi Anak. Jakarta: Binarupa Aksara, 1994. Hal 279-314 2. Hasan, Rusepro. Buku Kuliah Ilmu kesehatan anak jilid dua edisi keempat. Jakarta: Bagian ilmu kesehatan anak FK UI, 1985. Hal. 734-752 3. Pusponegoro HD. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi 1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2004. hal 149-153 4. Fayler, DC. Kardiologi Anak Nadas. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996. Hal 354-366 5. Behrman, R.E. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak vol. 2 Ed. 15. Jakarta: EGC; 1999. hal 929-935 Hasil Pembelajaran: 1. Definisi Demam Rematik akut 2. Epidemiologi Demam Rematik Akut 3. Etiologi Demam Rematik Akut 4. Patofisiologi Demam Rematik Akut 5. Diagnosis Demam Rematik Akut 6. Penatalaksanaan Demam Rematik Akut 7. Pencegahan Demam Rematik Akut 8. Prognosis Demam Rematik Akut Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio: 1. Subyektif: Keluhan Utama: Sesak nafas

2

BAB dan BAK tidak ada kelainan. Keluahan nyeri sendi. Pasien memiliki kebiasaan buruk seperti merokok dan minum-minuman keras (anggur) sejak 1 tahun terakhir. pasien merasa sesak nafas yang dirasakan makin memberat. bercak kemerahan pada kulit. Selama hamil Ibu penderita tidak menderita sakit dan hanya minum multivitamin dari bidan. batuk berdahak disertai bercak-bercak darah dan perut terasa membesar sejak 2 minggu SMRS.9 kg. gerakan-gerakan yang tidak terkendali. Sesak nafas juga dirasakan pasien saat pasien beristirahat. Pasien belum pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat nyeri tenggorok ada ± 3 minggu yang lalu. Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini. panjang badan tidak diukur. berat badan lahir 2. Keluhan juga disertai dengan tidak nafsu makan dan mual. bengkak pada sendi. Anamnesa imunisasi : BCG : + DPT :+++ Polio : + + + Hep B : + Morbili: Anamnesa makanan : 0-4 bulan 4-8 bulan 8-12 bulan > 12 bulan : ASI : ASI + bubur susu : ASI + bubur nasi : menu keluarga Anamnesa tumbuh kembang : Gigi pertama tumbuh : 6 bulan Berbalik : 4 bulan 3 . kulit terlihat kuning tidak ada.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON Anamnesis Khusus: TIA ASTRIANA Sejak 1 minggu SMRS. Sebelumnya pasien berobat ke Puskesmas diberikan obat namun pasien lupa nama obatnya namun tidak membaik. Anamnesis Tambahan : Penderita dikandung selama 9 bulan. lahir ditolong oleh bidan. mata terlihat kuning. disertai demam tinggi. benjolan di kulit. Keluhan juga disertai dengan demam yang dirasakan naik turun sejak 3 minggu SMRS. langsung menangis.

S2 ( + ) normal.5o C : 45 kg Status Generalis Kepala Mata THT Leher Dada Paru  Inspeksi : Bentuk gerak simetris. suara nafas tambahan (-) Jantung  Inspeksi : Iktus kordis tampak pada ICS IV linea midclavicularis sinistra. Objektif: Keadaan Umum Kesadaran Nadi Pernafasan Suhu Berat Badan : Tampak sakit berat : Compos Mentis : 130x/ menit : 32x/ menit : 37. friction rub (+) Abdomen 4 . thrill (+) : Batas atas ICS II linea midclavicularis sinistra. KGB tidak teraba membesar : Bentuk dan gerak simetris  Auskultasi: VR kiri=kanan. reguler.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON Duduk Berdiri Berjalan Bicara : 7 bulan : 12 bulan : 16 bulan : 12 bulan TIA ASTRIANA Gigi sekarang : lengkap 2. kiri=kanan : Normocephal. Sklera tidak ikterik : dalam batas normal : JVP meningkat. batas kiri 2cm lateral linea midclavicularis sinistra  Auskultasi: Bunyi jantung S1.  Palpasi  Perkusi : Iktus kordis kuat angkat. rambut hitam tidak mudah dicabut : Konjungtiva tidak anemis. retraksi interkostal (+/+)  Palpasi  Perkusi : VF kiri = kanan : Sonor. batas kanan linea sternalis dextra. VBS kiri=kanan. holosistolik murmur grade 4/6 di terjelas di apeks.

02 mmol/l 91.4 34. Edema (-) Turgor cukup. HR :120x/ menit. 56 (↑↑) negatif negatif EKG : irama reguler.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON   Inspeksi : cembung Palpasi : Hepar TIA ASTRIANA : Teraba membesar. gambaran low voltage 5 .3 2. eritema marginatum (-) Laboratorium DARAH Hb Ht Leukosit Trombosit GDS Natrium Kalium Chlorida BTA Sputum 13. ±3cm BPX tepi rata.8 mmol/l 5. batas bawah ±5 cm BACD.9 mmol/l negatif SGOT SGPT Protein Total Albumin Globulin CRP HbsAg AntiHIV 43 16 6.1 % 13. clubbing fingers (-) : nodul subkutan (-). kosistensi kenyal   Lien : Tidak teraba.000 /µL 129 mg/dL 127.200 /µL 238. ruang traube : kosong : Pekak samping pekak pindah (+) : Bising usus ( + ) normal Perkusi Auskultasi Extremitas Kulit : Sianosis (-). sinus takikardi.6 g/dL 40.9 3.

INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA 6 .

Effusi Pleura Bilateral Diagnosis : Demam Rematik Akut + Decomp.4ºC Bising + Dyspnea 22/7 + 110/70 106 34 36.4ºC Bising + Dyspnea 7 . Diafragma kanan letak tinggi e. Ascites. Efusi pleura dextra. Cordis Follow up Demam Nyeri sendi Sesak Gerakan involunter TD Nadi Nafas Suhu Cor KU 20/7 + + 110/70 120 40 38ºC Bising + Dyspnea 21/7 + 100/70 100 34 37.c hepatomegali USG Abdomen : Hepatomegali disertai dilatasi Vena Cava Inferior dan Vena Hepatica cenderung suatu Kongestive Liver ( e.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON Foto Thoraks: TIA ASTRIANA Kesan: Kardiomegali.c Kongestive Jantung).6ºC Bising + Dyspnea 23/7 + 110/70 104 30 37.

27/7 110/70 104 24 36.5ºC + Bising berkurang Stabil Terapi Lanjut + Digoxin 2x 125 Terapi Lanjut mg Terapi lanjut lain 8 .INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON Th/  Tirah baring  O2 2-3 L/menit  Cefotaxim 2x1 gr  Ranitidin 2x 50 mg IV  Paracetamol drip 3x500mg (bila demam) Salbutamol 3x 2mg p.5 micro gram  Lasix 2x 20 mg  Eritromicyn 3x 500 mg  Prednison 5mg (4-44)  Ambroxol 3x1 tab  Vit K3 3x1 tab  Dulcolax 1x1 (pagi)  (R/ Acetosal 3x 500 mg pd minggu ke 3) lain Terapi lanjut Follow up Demam Nyeri sendi Sesak Gerakan involunter TD Nadi Nafas Suhu Cor Kesan Th/ 24/7 +↓ 110/70 120 28 37.o Terapi lanjut Garamycin 1x 80 mg TIA ASTRIANA  O2 3-5 L/ menit  Tirah Baring  IVFD KAEN 1B 16 lain tpm  Digoxin 2x 62.4ºC Bising + Dyspnea 25/7 +↓ 110/70 120 26 36ºC Bising berkurang Stabil 26/7 +↓ 120/80 98 26 36ºC + Bising berkurang Stabil Terapi Lanjut.

kuat angkat.)( kriteria minor ) Dari 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor disertai adanya buktiinfeksi Streptoccus Beta hemolyticus goup A berupa peningkatan ASTO pada pasien ini 9 .INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON 3. disertai demam yang dirasa naik turun sejak 3 minggu SMRS. iktus teraba di 2 cm lateral LMCS RIC VI.200/mm3. 2. Karna ada beberapa kriteria Jones yang dipenuhi pada pasien ini yaitu :  Karditis : ditandai dengan adanya bising pansistolik yang kemungkinan disebabkan oleh mitral insufisiensi. batuk berdahak bercampur darah dan perut semakin membesar juga dirasakan pasien sejak 2 minggu SMRS. Subjektif TIA ASTRIANA Dari anamnesis didapatkan keluhan pada pasien berupa sesak nafas sejak 1 minggu SMRS. friction rub dan nyeri dada yang kemungkinan disebabkan adanya perikarditis dan kardiomegali dari pemeriksaan rongten foto thorak.c hepatomegali USG Abdomen : Hepatomegali dengan pembesaran vena cava inferior dan vena porta hepatia e.5oC. sinus takikardi dan gambaran low voltage Rontgen thorak : Kardiomegali. Saat itu pasien berobat ke Puskesmas namun tidak membaik. ( kriteria mayor )   • Demam ( kriteria minor ) CRP meningkat.c kongesti liver akibat kongesti jantung. Pada auskultasi terdengar holosistolik murmur grade 4/6 terjelas di apeks disertai friction rubs. efusi pleura kanan dan diafragma kanan letak tinggi e. efusi pleura bilateral Dari data – data di atas tersebut penulis mengarahkan diagnosis suspek demam rematik akut. disertai demam tinggi. Pada pemeriksaan Jantung didapatkan iktus terlihat. Riwayat nyeri tenggorok ada ± 3 minggu yang lalu. Objektif Dari pemeriksaan fisik pada awal pasien masuk ditemukan KU tampak sakit berat serta sesak nafas. Pemeriksaan laboratorium : Leukosit: 13. Nadi 130 kali/menit (takikardi) RR 32x/menit dan suhu 37. kesadaran komposmentis. dan gelisah.200/mm3 CRP ASTO : 34. Leukositosis ( leukosit 13. Assesstment : 1.56 : Positif EKG : Irama reguler.

Statistik rumah sakit di negara sedang berkembang menunjukkan sekitar 10 – 35 persen dari penderita penyakit jantung yang masuk kerumah sakit adalah penderita DR dan PJR.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON maka dapat didiagnosis pasien ini mengalami demam rematik akut. korea sydenham. TIA ASTRIANA Sedangkan hal yang mendukung ke arah decompensatio cordis didapatkan dari adanya keluhan sesak nafas. 4.3-0. Plan : O2 3-5 L/ menit Tirah Baring IVFD KAEN 1B 16 tpm Digoxin 2x 125 micro gram Lasix 2x 20 mg Eritromicyn 3x 500 mg Prednison 5mg (4-4-4) Ambroxol 3x1 tab Vit K3 3x1 tab Dulcolax 1x1 (pagi) Acetosal 3x 500 mg pd minggu ke 3 Paracetamol 3 x 500 mg (bila demam) DEMAM REMATIK AKUT si Demam rematik adalah suatu sindroma klinik penyakit akibat infeksi kuman Streptokokus β hemolitik grup A pada tenggorokan yang terjadi secara akut ataupun berulang dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu poliartritis migrans akut. hepatomegali dan kardiomegali dari hasil pemeriksaan radiologi dan gambaran low voltage dari hasil EKG. Epidemiologi Demam rematik masih sering didapati pada anak di Negara sedang berkembang dan inseden tertinggi kejadian demam rematik mengenai anak usia antara 5 – 15 tahun. karditis. Data terakhir mengenai prevalensi demam rematik di Indonesia untuk tahun 1981 – 1990 didapati 0. nodul subkutan dan eritema marginatum.13. Data yang berasal dari negara berkembang memperlihatkan mortalitas karena DR 10 .8 diantara 1000 anak sekolah dan jauh lebih rendah dibanding negara berkembang lainnya 5.

sendi dan jaringan lain. sel kuman streptokokus berbentuk suatu fimbriae yang terdiri dari mukopeptid. Kenyataannya bahwa gejala biasanya belum muncul sampai 2 – 3 minggu 11 . Diperkiarakan antibody yang ditujukan untuk menetralisir M – protein dari kuman streptokokus bereaksi silan dengan protein normal yang terdapat di jantung.di perantarai secara imunologis. karbohidrat grup C dan M-protein. M protein dan sebagainya. mungkin karena adanya kapsul sempurna yang sangat antigenik. Apabila terjadi infeksi kuman streptokokus pada jaringan tubuh. yang terjadi setelah suatu episode faringitis streptokokus grup A setelah interval beberapa minggu yang biasanya selama 1 – 3 minggu. Faringitis itu terkadang hampir asimtomatik. streptodornase. Semua bahan – bahan itu ternyata mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan virulensi kuman dan sifat antigeniknya . Karena komponen tersebut bersifat antigenic maka tubuh pun akan membentuk banyak antibody untuk menetralisirnya.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA dan PJR masih merupakan problem dan kematian karena DR akut terdapat pada anak dan dewasa muda. streptokinase. Bagian luar fimbriae sendiri diselaputi oleh kapsul asam hialuronik. maka sel – sel kuman streptokokus akan mengeluarkan komponen – komponen yang bersifat antigenik seperti hialuronidase. Patogenesis Demam Rematik Demam rematik adalah suatu penyakit peradangan multisitem akut. Beberapa strain reumatogenik streptokokus grup A tampaknya berkaitan erat dengan peningkatan resiko demam rematik. Seperti diketahui.

Tampaknya komplikasi ini ditentukan oleh beratnya infeksi demam rematik yang pertama kali dan seringnya terjadi reaktivasi rema. 12 . Secara histopatologis. yang biasanya terjadi jika demam rernatik baru muncul setelah masa laten yang lama dan infeksi strepthkokus. tidak semua penyakit jantung rematik mempunyai riwayat demam rematik yang jelas sebelumnya. Kriteria Jones memuat kelompok kriteria mayor dan minor yang pada dasarnya merupakan manifestasi klinik dan laboratorik demam rematik. tanpa disertai gejala klinis yang nyata. Diagnosis Diagnosis demam rematik lazim didasarkan pada suatu kriteria yang untuk pertama kali diajukan oleh T. tidak semua demam rematik akan berkembang menjadi penyakit jantung rematik. Hal ini mungkin karena gejala – gejala demam rematik pada fase dini memang tidak mudah dikenali. kriteria ini kemudian diperbaiki oleh American Heart Association dengan menambahkan bukti adanya infeksi streptokokus sebelumnya. terutama pada katup mitral dan katup aorta. atau 1 kriterium mayor dan 2 kriteria minor. Duchett Jones dan. kecuali pada kasus demam rematik dengan manifestasi mayor tunggal berupa korea Syndenham atau karditis derajat ringan. penebalan. Itu sebabnya.Apabila ditemukan 2 kriteria mayor. vegetasi – vegetasi dan mungkin kalsifikasi. Daun katup dan korda tendinae akan mengalami edema. maka diagnosis demam rematik harus selalu diragukan. infeksi demam rematik ditandai dengan adanya proses Aschoff bodies yang khas. walaupun secara klinis tidak ada tanda – tanda reaktivasi rema yang jelas. Tanpa didukung bukti adanya infeksi streptokokus. tetapi penyakit jantung rematik meruapakan satu – satunya komplikasi demam rematik yang paling permanen sifatnya.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA setelah infeksi dan bahwa streptokokus tidak ditemukan pada lesi mendukung konsep bahwa demam reumatik terjadi akibat respon imun terhadap bakteri penyebab. kemungkinan besar menandakan adanya demam rematik. ditambah dengan bukti adanya infeksi streptokokus sebelumnya. Pada perkembangan selanjutnya. Infeksi demam rematik sering terjadi secara berulang dan dikenal sebagai reaktivasi rema. proses fibrosis. Walaupun penyakit ini merupakan suatu inflamasi sistemik. Sebaliknya. atau demam rematik memang tak jarang hanya bersifat silent attack. Demam rematik biasanya menyerang jaringan otot miokard. oleh karena itu kemudian dikenal sebagai kriteria Jones. Kelainan pada katup trikuspid sangat jarang disebabkan oleh infeksi rema. endokard dan perikard.

1992 update. baik berupa overdiagnosis maupun underdiagnosis. WHO merekomendasikan untuk menggunakan 2 kriteria minor dengan diertai bukti infeksi SGA sebelumnya. Untuk serangan rekuren DR pada pasien yang sudah mengalami penyakit jantung rematik. Kriteria diagnostic PJR ditujukan untuk pasien yang datang pertama kali denga mitral stenosis murni atau kombinasi stenosis mitral dan insufisiensi mitral dan atau penyakit katup aorta. WHO merekomendasikan untuk melanjutkan penggunaan criteria Jones yang diperbaharui (1992) untuk demam rematik serangan pertama dan serangan rekuren DR pada pasien yang diketahui tidak mengalami PJR. tetapi hanya sebagai suatu pedoman dalam menentukan diagnosis demam rematik. Pada tahun 2003. Kriteria ini bermanfaat untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan diagnosis. Guidelines for the diagnosis of Rheumatic fever according to Jones criteria. Kriteria DR menurut WHO tahun 2002 – 2003 dapat dilihat pada tabel 2 berikut : Kriteria diagnostik DR serangan pertama DR serangan rekuren tanpa DR Kriteria 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor + bukti infeksi streptokokus 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor + bukti infeksi streptokokus 13 .INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA Perlu diingat bahwa kriteria Jones tidak bersifat mutlak.

Kardiomegali pada foto thorak 4. Penderita tanpa keterlibatan jantung pada pemeriksaan awal harus dipantau dengan ketat untuk mendeteksi adanya karditis sampai tiga minggu berikutnya.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA DR serangan rekuren dengan DR Korea Sydenham PJR ( stenosis mitral murni atau kombinasi dengan insufisiensi mitral dan/atau gangguan katup aorta ) 2 minor + bukti infeksi streptokokus Tidak diperlukan kriteria mayor lainnya atau bukti streptokokus Tidak diperlukan kriteria lainnya untuk mendiagnosis sebagai PJR Kriteria Mayor 1. efusi pericardium. sementara tanda-tanda radang mereda pada satu sendi. kemerahan. Perikarditis ( friction rub. 2. nyeri dada. teraba panas. Jika karditis tidak muncul dalam 2 – 3 minggu biasanya jarang akan muncul selanjutnya. agar dapat digunakan sebagai suatu kriterium mayor. Kelainan ini hanya berlangsung beberapa hari sampai seminggu pada satu sendi dan kemudian berpindah. Gagal jantung kongestif 2. sendi yang lain mulai terlibat. dan keterbatasan gerak aktif pada dua sendi atau lebih. Selain itu. Diagnosis karditis rematik dapat ditegakkan secara klinik berdasarkan adanya salah satu tanda berikut: 1. Poliartritis Migrans Ditandai oleh adanya nyeri. Pemeriksaan ekokardiografi yang menunjukan adanya AI atau MI saja tanpa adanya bising jantung organic tidak dapat disebut sebagai karditis. perubahan EKG) 3. Perlu diingat bahwa artritis yang hanya mengenai satu sendi (monoartritis) tidak dapat dijadikan sebagai suatu kriterium mayor. Karditis Merupakan manifestasi klinik demam rematik yang paling berat karena merupakan satu-satunya manifestasi yang dapat mengakibatkan kematian penderita pada fase akut dan dapat menyebabkan kelainan katup sehingga terjadi penyakit jantung rematik. Bising jantung organik. pembengkakan. poliartritis harus 14 . Artritis pada demam rematik paling sering mengenai sendi-sendi besar. sehingga dapat ditemukan artritis yang saling tumpang tindih pada beberapa sendi pada waktu yang sama.

Arthritis ini mempunyai respon yang cepat dengan pemberian salisilat. Tanpa pengobatan gejala korea ini menghilang dalam 1 – 2 minggu. 4. 3. Pada kasus yang berat meskipun denga terapi gejala ini dapat menetap selama 3 . Tanda ini pada umumnya tidak akan ditemukan jika tidak terdapat karditis. Akan tetapi. Nodulus subkutan Pada umumnya hanya dijumpai pada kasus yang berat dan terdapat di daerah ekstensor persendian. terjadi pada 5 % kasus. Pada penderita kulit hitam sukar ditemukan. Manifestasi ini lebih nyata bila penderita bangun dan dalam keadaan tertekan. riwayat demam rematik atau penyakit jantung rematik inaktif yang pernah diidap seorang 15 . Nodul ini berupa massa yang padat. Kriteria Minor 1.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA disertai sekurang-kurangnya dua kriteria minor. walupun jarang. Korea Sydenham Secara khas ditandai oleh adanya gerakan tidak disadari dan tidak bertujuan yang berlangsung cepat dan umumnya bersifat bilateral. Riwayar demam rematik sebelumnya Dapat digunakan sebagai salah satu kriteria minor apabila tercatat dengan baik sebagai suatu diagnosis yang didasarkan pada kriteria obyektif yang sama.4 minggu dan bahakan sampai 2 tahun. mudah digerakkan dari kulit di atasnya. 3. serta harus didukung oleh adanya titer ASTO atau antibodi antistreptokokus lainnya yang tinggi. meskipun dapat juga hanya mengenai satu sisi tubuh. bahkan pada dosis rendah. macular dan tepi eritema yang menjalar dari bagian satu ke bagian lain mengelilingi kulit yang tampak normal. tungkai proksimal dan tidak melibatkan muka. dengan diameter dan beberapa milimeter sampai sekitar 2 cm. berupa ruam yang tidak gatal.5 cm dan paling sering ditemukan pada tubuh. Manifestasi demam rematik ini lazim disertai kelemahan otot dan ketidak-stabilan emosi. pada kulit kepala serta kolumna vertebralis. Lesi ini berdiameter 2. seperti demam dan kenaikan laju endap darah. tidak terasa nyeri. Eritema marginatum Merupakan ruam yang khas pada demam rematik.

kadar protein C reaktif. Adapun protein C reaktif tidak meningkat pada anemia. Laju endap darah dan kadar protein C reaktif dapat meningkat pada semua kasus. sebagai salah satu bukti yang mendukung adanya infeksi streptokokus. Peningkatan kadar reaktan fase akut Perupa kenaikan laju endap darah. Demam Pada demam rematik biasanya ringan. dan dapat dijumpai pada sekitar 70% sampai 80% kasus demam rematik akutInfeksi streptokokus juga dapat dibuktikan dengan melakukan biakan usapan tenggorokan. Biakan positif pada sekitar 50% kasus demam rematik akut. serta leukositosis merupakan indikator nonspesifik dan peradangan atau infeksi.9. atau bahkan tidak terdiagnosis. Ketiga tanda reaksi fase akut ini hampir selalu ditemukan pada demam rematik. Demam merupakan pertanda infeksi yang tidak spesifik. Bukti yang Mendukung Titer antistreptolisin O (ASTO) merupakan pemeriksaan diagnostik standar untuk demam rematik. atau dengan nyeri sendi malam hari yang lazim terjadi pada anak-anak normal.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA penderita seringkali tidak tercatat secara baik sehingga sulit dipastikan kebenarannya. kriteria minor ini tidak meiliki arti diagnosis banding yang bermakna. terutama jika terdapat karditis. Artralgia Merupakan rasa nyeri pada satu sendi atau lebih tanpa disertai peradangan atau keterbatasan gerak sendi. Gejala minor ini harus dibedakan dengan nyeri pada otot atau jaringan periartikular lainnya. Artralgia tidak dapat digunakan sebagai kriteria minor apabila poliartritis sudah dipakai sebagai kriteria mayor. Perlu diingat bahwa laju endap darah juga meningkat pada kasus anemia dan gagal jantung kongestif. 4. biakan yang negatif tidak dapat mengesampingkan kemungkinan 16 . Bagaimanapun. Titer ASTO dianggap meningkat apabila mencapai 250 unit Todd pada orang dewasa atau 333 unit Todd pada anak-anak di atas usia 5 tahun. kecuali jika korea merupakan satu-satunya manifestasi mayor yang ditemukan. dan karena dapat dijumpai pada begitu banyak penyakit lain.11). 3. akan tetapi mengalami kenaikan pada gagal jantung kongestif. Manifestasi ini lazim berlangsung sebagai suatu demam derajat ringan selama beberapa minggu(1.meskipun adakalanya mencapai 39°C. . 2.

Dasar Diagnosis  Highly probable (sangat mungkin) 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor Disertai bukti infeksi streptococcus β hemolyticus group A ASTO Kultur (+)  Doubtful diagnosis (meragukan) 2 mayor 1 mayor + 2 minor Tidak terdapat bukti infeksi streptococcus β hemolyticus group A ASTO Kultur (+)  Exception (pengecualian) Diagnosa DRA dapat ditegakkan bila hanya ditemukan Korea saja atau Karditis indolen saja Penatalaksanaan 1. Pemanjangan interval PR terjadi pada 28 – 40 % penderita. 2. Eradikasi kuman Streptococcus beta hemolyticus grup A Pengobatan yang adekuat terhadap infeksi Streptococcus harus segera dilaksanakan setelah diagnosis ditegakkan. Cara pemusnahan streptococcus dari tonsil dan faring sama 17 .INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON adasnya infeksi streptokokus akut Bukti adanya keterlibatan jantung 1. Gambaran radiologis TIA ASTRIANA Berguna untuk menilai besar jantung. Gambaran elektrokardiografi Pemeriksaan EKG awal secara seri berguna dalam mendiagnosis dan tatalaksana DRA walaupun pemeriksaan ini kadang – kadang mungkin normal kecuali adanya sinus takikardi. jauh lebih sering daripada penyakit demam yang lain. Tetapi gambaran radiologis mormal tidak mengesampingkan adnya karditis. Pemeriksaan radiologis secara berseri berguna untuk menentukan prognosis dan kemungkinan adanya perikarditis.

Kadang diperlukan dosis yang lebih besar. sedemikian baiknya sehingga respons yang cepat dari artritis terhadap salisitas dapat membantu diagnosis. Pada kasus yang sangat akut dan parah. Steroid dianjurkan untuk pasien dengan karditis karena kesan klinis bahwa pasien berespons lebih baik. Penisilin oral. maximum 6 g per hari dosis terbagi selama 2 minggu. Penisilin benzatin yang berdaya lama lebih disukai dokter karena reliabilitasnya serta efektifitasnya untuk profilaksis infeksi streptokokus. 18 . dan 75 mg/kgBB/ hari selama 2-6 minggu berikutnya. terutama jika ada kardiomegali atau gagal jantung aspirin seringkali tidak cukup untuk mengendalikan demam.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA dengan cara untuk pengobatan faringitis streptococcus yakni pemberian penisilin benzatin intramuskular dengan dosis 1. prednison adalah steroid terpilih. Pasien ini harus ditangani dengan steroid. Pasien dengan artritis yang pasti harus diobati dengan aspirin dalam dosis total 100 mg/kgBB/ hari. mulai dengan dosis 2 mg/kgBB/hari dengan dosis terbagi. Obat lain seperti sefalosporin yang diberikan dua kali sehari selama 10 hari juga efektif untuk pengobatan faringitis streptokokus. rasa tidak enak serta takikardia. Terapi ’tumpang tindih’ ini dapat mengurangi insidens rebound klinis pascaterapi. Eritromisin. 400 000 unit (250 mg) diberikan empat kali sehari selama 10 hari dapat digunakan sebagai alternatif. 50 mg/kg BB sehari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari dianjurkan untuk pasien yang alergi penisilin. tanpa infeksi streptokokus baru.2 juta unit untuk pasien dengan berat badan > 30 kg atau 600 000-900 000 unit untuk pasien dengan berat badan < 30 kg. demikian pula gagal jantung pun berespons lebih cepat daripada dengan salisilat. Pada pasien karditis. Sesudah 2-3 minggu prednison dapat dikurangi terhadap dengan pengurangan dosis harian sebanyak 5 mg setiap 2-3 hari. aspirin dengan dosis 75 mg/kgBB/hari harus ditambahkan dan dilanjutkan selama 6 minggu setelah prednison dihentikan. 2. Bila penurunan ini dimulai. terapi harus dimulai dengan metilprednisolon intravena (10-40 mg). yaitu munculnya kembali manifestasi klinis segera sesudah terapi dihentikan. atau sementara prednison diturunkan. yang ditandai dengan tinitus dan hiperpne. maximum 80 mg per hari. diikuti dengan prednison oral. Obat analgesik dan anti-inflamasi Pengobatan anti-radang amat efektif dalam menekan manifestasi radang akut demam reumatik. Harus diingatkan kemungkinan keracunan salisilat. kecuali dengan dosis toksik atau mendekati toksik.

hingga pengamatan yang ketat harus dilakukan selama masa tersebut. Penderita dengan demam kardiomegali 19 . Hal penting adalah bahwa tata laksana harus disesuaikan dengan manifestasi penyakit. Tambahan vitamin dapat dibenarkan.lanjut aspirin 100 mg/kgBB selama 4 minggu. Selama terdapat tanda-tanda radang akut.5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis selama 2 minggu. Karditis hampir selalu terjadi dalam 2-3 minggu sejak dari awal serangan. penderita harus istirahat di tempat tidur. Pada sebagian besar kasus cukup diberikan makanan biasa. selama di tapering . Mobilisasi dilakukan secara bertahap. Penderita demam reumatik tanpa karditis atau penderita karditis tanpa gejala sisa atau penderita karditis dengan gejala sisa kelainan katup tanpa kardiomegali. Bila terdapat gagal jantung. Istirahat mutlak yang berkepanjangan tidak diperlukan mengingat efek psikologis serta keperluan sekolah. TIA ASTRIANA Salisilat 75-100 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis (selama 6 minggu) Prednisone 2-2. sedangkan untuk karditis berat dengan gagal jantung dapat sampai 6 bulan.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON Obat antiradang yang dianjurkan pada Demam reumatik Manifestasi klinis Artralgia Artritis Pengobatan Hanya analgesik (misal asetaminofen). 4. cukup kalori dan protein. Untuk artritis cukup dalam waktu lebih kurang 2 minggu. diet disesuaikan dengan diet untuk gagal jantung yaitu cairan dan garam sebaiknya dibatasi. Tirah Baring dan mobilisasi Semua pasien demam reumatik akut harus tirah baring. taper over selama 2 minggu. Sesudah itu lama dan tingkat tirah baring bervariasi. jika mungkin di rumah sakit. Pasien harus diperiksa tiap hari untuk menemukan valvulitis dan untuk mulai pengobatan dini bila terdapat gagal jantung. setelah sembuh tidak perlu pembatasan aktivitas. Artritis + karditis 3. Diet Bentuk dan jenis makanan disesuaikan dengan keadaan penderita. sedang pembatasan aktivitas fisis yang lama harus dihindari. aspirin 75 mg/kgBB/hari selama 2 minggu.

Digitalis diberikan pada pasien dengan karditis yang berat dan dengan gagal jantung. Dosis digitalisasi total adalah 0. 1972) Artritis Tirah baring Mobilisasi bertahap di ruangan Mobilisasi bertahap di luar ruangan Semua kegiatan 2 minggu 2 minggu 3 minggu Sesudah 6-8 minggu Karditis minimal 3 minggu 3 minggu 4 minggu Sesudah 10 minggu Karditis tanpa kardiomegali 6 minggu 6 minggu 3 bulan Sesudah 6 bulan Karditis + kardiomegali 3-6 bulan 3 bulan 3 bulan atau lebih bervariasi 5. Dosis rumatnya adalah antara sepertiga samapai seperlima dosis digitalisasi total.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA menetap perlu dibatasi aktivitasnya dan tidak diperkenankan melakukan olahraga yang bersifat kompetisi fisis. dengan dosis maximum 1.04 sampai 0. Penggunaan obat jantung alternatif atau tambahan dipertimbangkan bila pasien tidak berespons terhadap digitalis.06 mg/kg. Pengobatan lain 5. Karena beberapa pasien miokarditis sensitif terhadap digitalis. penelitian tidak menunjukkan bahwa steroid lebih bermanfaat daripada salisilat pada pasien karditis ringan atau sedang. terutama dalam hal pemilihan pasien untuk diobati dengan aspirin atau harus dengan steroid. diberikan dua kali sehari.5 mg. Pedoman Istirahat Dan Mobilisasi Penderita Demam Reumatik/Penyakit Jantung Reumatik Akut (Markowitz dan Gordis. digoksin lebih disukai dipakai pada anak.2 Pengobatan Korea Sydenham 20 . 5. Rekomendasi untuk menggunakan steroid pada pasien pankarditis berasal dari kesan klinis bahwa terapi ini dapat menyelamatkan pasien.1 Pengobatan Karditis Pengobatan karditis reumatik ini tetap paling kontroversial. Meski banyak dokter secara rutin menggunakan steroid untuk semua pasien dengan kelainan jantung. maka dianjurkan pemberian diitalisasi lambat.

Pasien dengan karditis lebih mungkin kumat daripada pasien tanpa karditis.5 mg). Dengan mengingat faktor-faktor tersebut. setelah pubertas kemungkinan kumat cenderung menurun. bergantung pada pelbagai faktor. terbukti lebih efektif daripada penisilin oral untuk pencegahan sekunder. kecuali pada kasus yang sangat berat. beberapa prinsip umum dapat dikemukakan. dapat diberi steroid. suntikan diberikan setiap 3 minggu. Risiko terjadi kekambuhan paling tinggi dalam 5 tahun pertama.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA Pasien korea yang ringan pada umumnya hanya memerlukan tirah baring. obat antikonvulsan mungkin dapat mengendalikan korea. Sebagian besar kumat terjadi dalam 5 tahun pertama sesudah serangan terakhir. Meskipun nyeri suntikan dapat berlangsung lama. dan keadaan lingkungan. Fenobarbital diberikan dalam dosis 15-30 mg tiap 6 sampai 8 jam. kemudian dinaikkan sampai 2 mg tiap 8 jam. Obat antiradang tidak diperlukan pada korea. sekurangnya sampai umur 18 tahun. Pasien dengan keterlibatan jantung dilakukan pencegahan setidaknya sampai umur 25 tahun. Haloperidol dimulai dengan dosis rendah (0. Evaluasi pengobatan setiap 5 tahun. akan tetapi sebaiknya tidak dipakai sulfadiazin karena mendatangkan risiko terhadap janin. Obat ini sangat bervariasi. pasien yang lebih tua lebih suka cara ini karena dapat dengan mudah teratur melakukanya satu kali setiap 3 atau 4 minggu. atau pada pasien dengan resiko tinggi. Pencegahan Sekunder Cara pencegahan sekunder yang diajukan The American Heart Association dan WHO tertera pada tabel 5. Pencegahan sekunder harus dilanjutkan selama pasien hamil. Pemberian suntikan penisilin berdaya lama setiap bulan adalah cara yang paling dapat dipercaya. maka lama pencegahan sekunder disesuaikan secara individual. umur pasien. Pada keadaan-keadaan khusus. Pada kasus yang lebih berat. Lama pemberian pencegahan sekunder sangat bervariasi. Makin muda saat serangan makin besar kemungkinan kumat. Remaja biasanya 21 . Pasien tanpa karditis pada serangan sebelumnya diberikan profilaksis minimum 5 tahun sesudah serangan terakhir. Preparat sulfa yang tidak efektif untuk pencegahan primer (terapi faringitis). dibanding dengan tablet penisilin oral yang harus setiap hari. termasuk waktu serangan atau serangan ulang. Sulfadiazin juga jauh lebih murah daripada eritromisin. dan dapat lebih lama jika lingkungan atau faktor risiko lain mendukungnya.

600 000-900 000 unit untuk pasien < 30 kg a. Eritromisin: 40 mg/kg/hari dibagi dalam 2-4 kali dosis 3. dua kali sehari 3. Sebelum penisilin. 1 200 00 unit pasien > 30 kg setiap 3-4 minggu b.INTERNSIP RSUD KOTA CILEGON TIA ASTRIANA mempunyai masalah khusus terutama dalam ketaatannya minum obat. pencegahan sekunder untuk masa yang lama. Jadwal yang dianjurkan untuk pengobatan daan untuk pencegahan infeksi streptokokus Pengobatan faringitis (pencegahan primer) Pencegahan infeksi (pencegahan sekunder) 1. Penisilin V oral: minggu 250 mg. Penisilin benzatin G IM a. 22 . Penisilin benzatin G IM 1. sehingga perlu upaya khusus mengingat resiko terjadinya kumat cukup besar. Eritromisin: sehari selama 10 hari 250 mg. Selain menurunkan mortalitas. 1 200 00 unit pasien > 30 kg setiap 3-4 2. perkembangan penisilin juga mempengaruhi kemungkinan berkembangnya menjadi penyakit valvular kronik setelah serangan demam reumatik aku. persentase pasien berkembang menjadi penyakit valvular yaitu sebesar 60-70% dibandingkan dengan setelah penisilin yaitu hanya sebesar 9-39%. bahkan seumur hidup kadang diperlukan. Untuk pasien penyakit jantung reumatik kronik. Penisilin V oral: 250 mg. komplikasi yang sekarang sudah jarang terlihat di negara maju (hampir 0%) namun masih sering ditemukan di negara berkembang (1-10%). 3 atau 4 kali sehari selama 10 hari 2. 600 000-900 000 unit untuk pasien < 30 kg b. terutama pada kasus yang berat. dua kali sehari Prognosis Morbiditas demam reumatik akut berhubungan erat dengan derajat keterlibatan jantung. Mortalitas sebagian besar juga akibat karditis berat.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->