Anda di halaman 1dari 22

REFERAT BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah

Surakarta Pembimbing : dr. Haryono Sp.B

Disusun Oleh : Zahrotul aimah, Sked J500 070 048 KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) yang bergejala pada pria berusia 4049 tahun mencapai hampir 15% Meskipun jarang mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Adanya BPH ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi saluran kemih

Tujuan penulisan
Menambah tingkat pengetahuan bagi mahasiswa kedokteran

Memberi gambaran perjalanan penyakit, etiologi, diagnosis dan penatalaksanaan BPH

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Prostat
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli dan membungkus uretra posterior.
Berbentuk seperti pyramid terbalik dan merupakan organ kelenjar fibromuskuler yang mengelilingi uretra pars prostatica. Prostat merupakan kelenjar aksesori terbesar pada pria; tebalnya 2 cm dan panjangnya 3 cm dengan lebarnya 4 cm, dan berat 20 gram.

Definisi BPH
Adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretral prostat mengalami hiperplasia yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer. Merupakan pembesaran kelenjar prostat yang bersifat jinak yang hanya timbul pada laki-laki yang biasanya pada usia pertengahan atau lanjut

Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua)

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat (1) (2) (3) (4) (5) Teori Dihidrotestosteron, Adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron, Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat, Berkurangnya kematian sel (apoptosis), dan Teori Stem sel.

Patofisiologi
Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional, sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer Pertumbuhan kelenjar ini sangat bergantung pada hormon testosteron, yang di dalam sel- sel kelenjar prostat hormon akan dirubah menjadi metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5 reduktase. Dihidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel- sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu pertumbuhan kelenjar prostat

Pembesaran prostat

Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urine

peningkatan tekanan intravesikal

Diteruskan ke seluruh bagian buli- buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter aliran balik urine dari bulibuli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-ureter

Untuk dapat mengeluarkan urine, buli- buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu

Kontraksi yang terus menerus

perubahan anatomik buli- buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli- buli.

berlangsung terus

lower urinary tract symptom

hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal

Manifestasi Klinis Keluhan sal kemih bagian bawah


Obstruksi Hesistansi Pancaran miksi lemah Intermitensi Miksi tidak puas Distensi abdomen Terminal dribbling (menetes) Volume urine menurun Mengejan saat berkemih Iritasi Frekuensi Nokturi Urgensi Disuria Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.

Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (colok dubur) ditemukan penonjolan prostat dan sisa urine kurang dari 50 ml. Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml. Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari 100 ml. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi total.

Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu:

Pemeriksaan Fisik
Buli-buli yang terisi penuh dan teraba massa kistus di daerah supra simfisis akibat retensi urine. Kadang-kadang didapatkan urine yang selalu menetes yang merupakan pertanda dari inkontinensia paradoksa

Pemeriksaan colok dubur / digital rectal examination ( DRE )


Merupakan pemeriksaan yang sangat penting, DRE dapat memberikangambaran tonus sfingter ani, mukosa rektum, adanya kelainan lain sepertibenjolan di dalam rektum dan tentu saja meraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan : - Konsistensi pada pembesaran prostat kenyal - Adakah asimetri - Adakah nodul pada prostat - Apakah batas atas dapat diraba dan apabila batas atas masih dapat diraba biasanya besar prostat diperkirakan <60 gr.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium a. Sedimen urin b. Kultur urin c. Faal ginjal d. Gula darah e. Penanda tumor PSA 2. Pemeriksaan PA 3. Pencitraan a. Foto polos b. Pemeriksaan ultrasonografi transrektal c. Sitoscopi d. Ultra sonografi transabdominal

Retensi urine akut ketidak mampuan untuk mengeluarkan urin, distensi kandung kemih, nyeri suprapubik Retensi urine kronik residu urin > 500ml, pancaran lemah, buli teraba, tidak nyeri Infeksi traktus urinaria Batu buli Hematuri Inkontinensia-urgensi Hidroureter Hidronefrosis - gangguan pada fungsi ginjal

Komplikasi

Penatalaksanaan
Tujuan terapi hyperplasia prostat adalah (1) memperbaiki keluhan miksi, (2) meningkatkan kualitas hidup, (3) mengurangi obstruksi intravesika, (4) mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, (5) mengurangi volume residu urine setelah miksi (6) mencegah progrefitas penyakit.

Penatalaksanaan Benigna Prostat Hiperplasia


Riwayat Pemeriksaan fisik & DRE Urinalisa PSA (meningkat/tidak) Indeks gejala AUA Retensi urinaria+gejala yang berhubungan dg BPH Hematuria persistent Batu buli Infeksi saluran urinaria berulang Insufisiensi renal Operasi

Gejala ringan (AUA7)/ tdk ada gejala

Gejala sedang
Tes diagnostic /berat (AUA8) Uroflow Residu urin postvoid

Pilihan terapi

Terapi non-invasif

Terapi invasif Tes diagnostic Pressure flow Uretrosistoskopi USG prostat

Watchful waiting

Terapi medis

Terapi minimal invasif

Operasi

Penatalaksaan Berdasarkan Nilai Indeks Gejala Benigna Prostat Hiperplasia


Penatalaksanaan Wactfull waiting Penatalaksanaan medis Alpha-blockers Sedang 6-8 Gaster/usus halus-11% Hidung berair-11% Sakit kepala-12% Menggigil-15% 5 alpha-reductase inhibitors Ringan 3-4 Masalah ereksi-8% Kehilangan hasrat sex-5% Nilai indeks gejala BPH Gejala hilang/timbul Efek samping Risiko kecil , dapat terjadi retensi urinaria

Berkurangnya semen-4%
Terapi kombinasi Terapi invasi minimal Transuretral microwave heat Sedang-berat 9-11 Urgensi/frekuensi-28-74% Infeksi-9% Prosedur kedua dibutuhkan-10-16% TUNA Sedang 9 Urgensi/frekuensi-31% Infeksi-17% Prosedur kedua dibutuhkan-23% Operasi TURP, laser & operasi sejenis Berat 14-20 Retensi urinaria-1-21% Urgensi&frekuensi-6-99% Gangguan ereksi-3-13% Sedang 6-7 kombinasi

1. Keparahan obstruksi yang lamanya 7 hari dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Jikakeparahan obstruksi diperiksa dalam dua minggu, maka akan diketahui sejauh mana tingkat keparahannya. Jika obstruksi keparahannya lebih dari tigaminggu maka akan lebih dari 50% fungsi ginjal hilang. 2. Prognosis yang lebih buruk ketika obstruksi komplikasi disertai dengan infeksi

Prognosis

Anda mungkin juga menyukai