Anda di halaman 1dari 5

ULKUS KORNEA TANPA PENYEMBUHAN SEBAGAI FITUR DIABETES MELITUS TIPE 1 : SEBUAH LAPORAN KASUS ABSTRAK Pendahuluan: Diabetes

keratopathy merupakan komplikasi yang jarang dari diabetes mellitus. Kasus ini menggambarkan pentingnya memeriksa kadar gula darah pasien dengan ulkus kornea tanpa penyembuhan untuk menyingkirkan kemungkinan diabetes mellitus yang tidak terdiagnosis. Presentasi kasus: Kami melaporkan kasus yang tidak biasa dari seorang wanita Asia tenggara 24 tahun yang mempunyai ulkus kornea steril datang ke rumah sakit dan kemudian didiagnosis diabetes setelah tinggal di rumah sakit cukup lama. meskipun dengan semua usaha pengobatan, ulkus kornea telah gagal disembuhkan hingga pengobatan untuk diabetes yang sebelumnya tidak terdiagnosis dimulai. Ulkus kornea mulai sembuh setelah kadar gula darah mulai normal. Kesimpulan: keratopathy diabetik merupakan komplikasi yang jarang terjadi diabetes mellitus dan harus dianggap sebagai diagnosis pada pasien muda dengan ulkus kornea tanpa penyembuhan. Kadar gula darah harus diperiksa pada kasus ini untuk diabetes mellitus yang tak terdiagnosis.

PENGANTAR Kami melaporkan kasus yang tidak biasa dari wanita Asia tenggara berumur 24 tahun yang mempunyai ulkus kornea datang ke rumah sakit dan kemudian didiagnosis menjadi diabetes. Ulkus korneanya telah gagal membaik sampai tingkat gula darahnya mulai normal. Keratopathy diabetes adalah komplikasi yang jarang dari diabetes mellitus dan perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis pada pasien muda dengan ulkus kornea steril yang tidak dapat dipulihkan. Dalam publikasi sebelumnya, seorang pria 44 tahun yang menampilkan hal yang sama, walaupun dalam kasus tersebut kondisinya bilateral [1]. Dalam laporan kasus ini kami menyoroti pentingnya menyelidiki pasien dengan ulserasi kornea yang tidak bisa dijelaskan untuk menyingkirkan diabetes mellitus yang tidak terdiagnosis.

PRESENTASI KASUS Seorang wanita Asia tenggara 24 tahun ini mengaku dengan riwayat bercak putih pada kornea kanan dan peningkatan ketidak nyamanan. Pada pemeriksaan, visusnya 6/36 di sebelah kanan dan 6/9 di sebelah kiri. Dia memiliki ulkus kornea berukuran 5,5 2 mm pada

kornea kanannya. Sebelah lateral dari tempat defect / kerusakannya terdapat Sebuah daerah jaringan parut lokal kecil. (Gambar 1). Ada +1 reaksi sel di bilik kanan anterior nya. Dia memiliki sejarah uveitis anterior bilateral. Sensasi kornea normal di kedua mata. Terdapat stadium awal katarak subcapsular posterior bilateral.

Untuk penemuan, goresan kornea diambil untuk mikroskop, kultur, dan sensitivitas. Dilakukan virologi tes termasuk virus herpes simpleks dan varicella-zoster virus polymerase chain reaction. Pasien ini memiliki protein C-reaktif normal, faktor rheumatoid, antibodi antinuklir, antigen nuklir diekstrak, sifilis, dan hepatitis B dan C serologi. Dia mulai pengobatan dengan g. sefalotin 5% topikal dan g. gentamisin 0,9% per jam selama 48 jam. Terdapat perbaikan awal ringan dan pengobatan diubah menjadi g topikal. kloramfenikol 1% empat kali setiap hari dan g. prednisolon 0,5% empat kali setiap hari, dia melakukan tes mikrobiologi satu kali dan hasil virologi negatif. Sebuah kontak lensa perban dimasukkan untuk memfasilitasi penyembuhan (Gambar 2). Pada minggu ketiga masuk, dia mengeluhkan sakit kepala dan ditemukan sedikit takikardi. Dia tidak demam dan tidak terdapat malaise. Dilakukan analisa urin, dan nilai glukosa urinnya adalah 21 mmol / L. Dlakukan pemeriksaan glukosa darah yang mendesak dan ditemukan kadarnya 23 mmol / L. Pada analisis gas darah menunjukkan pH 7,38, tekanan parsial karbon dioksida (pCO2) yaitu 44,7 mmHg, dan tekanan parsial oksigen (pO2) yaitu 89,5 mmHg. Dia dipindahkan ke ruang perawatan dari tim medis dan di diagnosis diabetes tipe 1. Dia memulai pengobatan dengan insulin. Ulkus korneanya menetap dan punctal plugs dimasukkan untuk meningkatkan penghancuran selaput dan memfasilitasi penyembuhan. Tetes serum autologus dimulai setiap dua jam selama pasien terbangun. Ada pengurangan

cepat dari kerusakan epitel sesuai dengan mulai normalnya kadar glukosa darah (Gambar 3). Empat hari setelah pengobatan insulin dimulai, ulkusnya sudah sembuh dan dia keluar dari rumah sakit dan tindak lanjut/follow up dilakukan pada klinik diabetes setempat. Pada review satu bulan di klinik mata, ulkusnya tetap sembuh, dan meninggalkan suatu area lokal berupa jaringan parut subepitel (Gambar 4).

DISKUSI Fitur okular diabetes mellitus telah dijelaskan dalam laporan lainnya. Metabolisme glukosa terganggu biasanya menghasilkan microangiopathy lokal yang mempengaruhi terutama pembuluh darah retina dan yang menghasilkan lesi klasik di fundus dengan microaneurysms, perdarahan intraretinal, eksudasi, dan pembentukan pembuluh darah baru [2]. Kombinasi mengkontrol kadar glikemik yang baik dan kunjungan rutin ke klinik mata dapat sering memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit. Keratopathy diabetes merupakan komplikasi yang jarang dari kondisi tersebut. Dalam pengaturan ini, gangguan penyembuhan epitel adalah dianggap sebagai konsekuensi dari ketidaknormalan jalur aldosa reduktase dan akumulasi sekunder poliol dalam sel-sel epitel dan endotel dan sehingga mengakibatkan disfungsi seluler [3,4]. Hal ini menghasilkan respon penyembuhan yang tertunda dan hilangnya adhesi epitel ke membran basal, meningkatkan risiko erosi kornea berulang. Trauma ringan dan manipulasi okular dengan lensa kontak juga dapat menghasilkan kerusakan kronis yang tidak dapat disembuhan [5]. Pasien ini tidak memiliki riwayat trauma atau penggunaan lensa kontak. Fitur okular lain yang merupakan manifestasi dari diabetes mellitus yaitu berkurangnya sensasi kornea dan produksi air mata dan penebalan membran basement [5-7].

Hal ini penting ketika mempertimbangkan diagnosis diabetes keratopathy untuk menyingkirkan penyebab yang dapat diobati lainnya untuk defect yang tidak dapat dipulihkan, seperti distrofi membran basal anterior dan sindrom erosi berulang. Pilihan pengobatan pada kasus dari ulserasi persisten yaitu penggunaan pelumasan yang sering, lensa kontak perban, tetes topikal serum autologus, dan patching (penempelan/penambalan). Jika langkah-langkah konservatif gagal, mungkin perlu untuk melakukan tarsorrhaphy sementara untuk proses penyembuhan. Kondisi lain yang menyebabkan penyembuhan epitel tertunda perlu diidentifikasi dan diobati dengan sesuai. Oleh karena itu, keberadaan keratopathy neurotropik perlu dihilangkan dengan penilaian hati-hati terhadap sensasi kornea. Penyakit mata kering juga dapat menunda penyembuhan dan dapat diidentifikasi dengan pewarnaan rosebengal pada kornea dan konjungtiva dan penggunaan uji Schirmer. Lagophthalmos Nocturnal perlu dikelola dengan bantalan nokturnal yang tepat dan pelumasan. Penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa antagonis opioid naltrexone dan insulin digunakan secara topikal dapat memfasilitasi penyembuhan diabetes pada tikus dengan meningkatkan sintesis DNA dan reepithelialization melalui perubahan dalam faktor pertumbuhan opioid lokal [8,9]. Di masa depan, agen ini mungkin disetujui untuk digunakan dalam pengobatan diabetes keratopathy.

KESIMPULAN Empat hari setelah pengobatan insulin dimulai, ulkus pada pasien ini sudah sembuh dan dia bisa keluar dari rumah sakit dan tindak lanjut / follow up diatur pada klinik diabetes setempat. Diagnosis diabetes mellitus tersebut ditegakkan agak kebetulan. Pasien ini tidak mengeluhkan adanya penurunan berat badan, poliuria, polidipsia atau untuk menegakkan diagnosis diabetes, dan satu-satunya keluhan adalah riwayat singkat sakit kepala saat berada di rumah sakit. Kadar glukosa urin diperiksa sebagai bagian dari penyelidikan untuk takikardia sementara dan terdeteksinya peningkatan kadar glukosa. Menggunakan kombinasi dari lensa kontak perban, temporary punctal plugs, dan tetes serum autologus terbukti bermanfaat dalam memfasilitasi penyembuhan ulkus. Meskipun ulkus kornea menunjukkan tanda-tanda awal penyembuhan, namun ulkus sembuh sepenuhnya setelah kadar gula darah mulai dinormalkan,

PERSETUJUAN

Informed consent tertulis diperoleh dari pasien untuk publikasi dari laporan kasus dan penyertaan gambar. Salinan persetujuan tertulis tersedia untuk ditinjau oleh Editor-in-Kepala jurnal ini. Authors contributions ASI analyzed and interpreted the patient data regarding the clinical presentation. SLZ and AWW were major contributors in writing the manuscript. All authors read and approved the final manuscript. Competing interests The authors declare that they have no competing interests. Received: 10 July 2011 Accepted: 4 November 2011 Published: 4 November 2011 REFERENCES 1. Lockwood A, Hope-Ross M, Chell P: Neurotrophic keratopathy and diabetes mellitus. Eye 2006, 20:837-839. 2. Ockrim Z, Yorston D: Managing diabetic retinopathy. BMJ 2010, 341:c5400. 3. Akagi Y, Yajima Y, Kador PF, Kuwabara T, Kinoshita JH: Localization of aldose reductase in the human eye. Diabetes 1984, 33:562-566. 4. Kinoshita JH, Fukushi S, Kador P, Merola LO: Aldose reductase in diabetic complications of the eye. Metabolism 1979, 28:462-469. 5. Kaji Y: Prevention of diabetic keratopathy. Br J Ophthalmol 2005, 89:254-255. 6. Azar DT, Spurr-Michaud SJ, Tisdale AS, Gipson IK: Decreased penetration of anchoring fibrils into the diabetic stroma. A morphometric analysis. Arch Ophthalmol 1989, 107:1520-1523. 7. Sakamoto A, Sasaki H, Kitagawa K: Successful treatment of diabetic keratopathy with punctal occlusion. Acta Ophthalmol Scand 2004, 82:115-117. 8. Klocek MS, Sassani JW, McLaughlin PJ, Zagon IS: Naltrexone and insulin are independently effective but not additive in accelerating corneal epithelial healing in type I diabetic rats. Exp Eye Res 2009, 89:686-692. 9. Zagon IS, Jenkins JB, Sassani JW, Wylie JD, Ruth TB, Fry JL, Lang CM, McLaughlin PJ: Naltrexone, an opioid antagonist, facilitates reepithelialization of the cornea in diabetic rat. Diabetes 2002, 51:3055-3062.