Anda di halaman 1dari 2

Obat antiemetic Ada beberapa kelas obat yang merupakan andalan terapi antiemetik.

Salah satunya droperidol yang termasuk golongan lama. Metoclopramide dan antagonis 5-HT3, menjadi fokus dari banyak penelitian dan uji klinis di tahun 90an. Penelitian terus dilakukan dan mengalami terus kemajuan untuk menemukan obat yang yang dapat mengurangi efek dari PONV.

Butyrophenones Droperidol adalah butyrophenone yang bekerja sebagai antiemetik. Ini adalah neuroleptik heterosiklik yang menghambat reseptor dopaminergik pada CTZ dari medulla. Efek samping termasuk sedasi, mengantuk (tergantung dosis), dysphoria, gelisah dan terkadang reaksi ekstrapiramidal. Anak-anak mungkin lebih rentan terhadap gejala ekstrapiramidal Kemungkinan efek sedasi atau mengantuk meningkat dengan meningkatnya dosis di atas 0,625 mg, risiko satu dari 24 dengan 1,25 mg, satu dari 8 dengan 2,5 mg. Efek anti-mual yang tidak tergantung dosis akan lebih parah dari anti muntah dalam jangka waktu yang pendek. Efektifitas anti muntah meningkatkan jauh dengan peningkatan dosis tetapi, tidak melampaui 2,5 mg. Droperidol, dalam dosis serendah 0,625 atau 1,25 mg telah terbukti seefektif ondansetron 4 mg tanpa meningkatkan sedasi, agitasi, kegelisahan. Droperidol dan ondansetron sama efektif dalam mencegah PONV pada orang dewasa. Droperidol dalam dosis kecil (misalnya 0,625 mg) sangat efektif pada orang dewasa dan memiliki efek samping minimal.

Benzamides Metoclopramide adalah antiemetik yang paling efektif untuk kelas ini dan telah digunakan selama hampir 40 tahun. Ini adalah antagonis dopamin yang secara struktural mirip dengan procainamide. Artinya efek antiemetik didapat dari efek antagonis dopamin pada CTZ. Pada dosis tinggi, juga sebagai antagonis reseptor 5-HT3. Efek antiemetik terjadi karena kerja dopaminergic dan kolinergik pada saluran cerna terutama meningkat pada spingter esophagus bawah dan terjadi pengosongan gaster menuju usus halus. Dan dimana nantinya berhubungan ke efek peristaltik dari saluran cerna yang berpengaruh ke pengaturan reflek muntah.

Opioid-induced PONV dapat diobati dengan metoclopramide karena mengatasi efek pada gaster yang diinduksi oleh morfin. Tidak ada bukti respon dosis, dengan regimen terbaik pada orang dewasa menjadi intravena (iv) 10 mg dan pada anakanak iv 0,25 mg / kg. Efek samping termasuk kram perut, sedasi, pusing, dan reaksi ekstrapiramidal jarang dystonic (oculogyric crises, opistotonus, trismus, torticollis), dan disaritmia.. Metoclopramide telah terbukti tidak seefektif ondansetron dan droperidol dalam mencegah muntah pasca operasi pada penelitian meta analisis. Namun, tinjauan sistematis menunjukkan bahwa metoklopramid tidak memiliki efek antiemetik klinis yang relevan dan tidak menunjukkan peningkatan risiko efek samping pada dosis yang saat ini digunakan dalam anestesi. Sangat mungkin bahwa dosis yang digunakan dalam praktek klinis sehari-hari terlalu rendah. Oleh karena itu, terus menggunakan metoklopramid pada dosis berkisar diuji dalam studi ini tidak adekuat.

Antagonis reseptor histamine Dalam hal ini yang digunakan dalam PONV adalah antagonis reseptor H1, dimana yang sering digunakan adalah dimenhidrinat. Antagonis reseptor H1 kompetitif dengan antagonis dari histamine dengan