Anda di halaman 1dari 42

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan kerja sangatlah penting, karena kesehatan kerja berkaitan erat dengan keefisiensian kerja seorang karyawan. Tingkat produktivitas seorang karyawan akan rendah jika kesehatannya terganggu akibat lingkungan kerja yang buruk. Sebaliknya, seorang karyawan yang bekerja di lingkungan kerja yang bersih, sehat dan tenang akan mampu mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Selain produktivitas, kualitas atau mutu produk juga akan mengalami peningkatan. Gangguan-gangguan terhadap kesehatan kerja yang jika tidak ditanggulangi sesegera mungkin akan menyebabkan timbulnya penyakit yang secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu penyakit umum dan penyakit akibat kerja. Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman merupakan hal yang diinginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi sosial, mental dan fisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan suatu lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan absensi dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang sehat atau tidak sehat (sering terpapar zat berbahaya yang mempengaruhi kesehatan) dapat meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya kualitas kesehatan pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi dampak negatif lainnya. Tempe merupakan makanan yang digemari masyarakat, baik masyarakat kalangan bawah hingga atas. Keberadaannya sudah lama diakui sebagai makanan yang sehat, bergizi dan harganya murah. Hampir seluruh kota di Indonesia dijumpai industri tahu dan tempe. umumnya industri tahu dan tempe termasuk ke dalam industri kecil yang dikelola oleh rakyat dan beberapa di antaranya masuk dalam wadah Koperasi Pengusaha Tahu dan Tempe (KOPTI). Proses pembuatan tempe masih sangat tradisional dan banyak memakai tenaga manusia. Bahan baku utama yang digunakan adalah kedelai (Glycine spp). Konsumsi kedelai Indonesia pada Tahun 1995 telah mencapai 2.287.317 Ton (Sri Utami, 1997). Sarwono
1

(1989) menyatakan bahwa lebih dari separuh konsumsi kedelai Indonesia dipergunakan untuk diolah menjadi tempe dan tahu. Industri rumah tangga merupakan industri kecil yang bergerak di sektor informal yang menjadi dasar industrialisasi di Indonesia. Industri ini tersebar di berbagai sentra usaha kecil di Jakarta, salah satunya adalah sentra industri tempe yang berada di RT 05, 06, 07, dan 08 RW 02 kelurahan pasarminggu. Pekerja di industri pembuatan tempe masih tergolong belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja ataupun jaminan atas kesehatan seperti yang diharapkan, apabila terjadi penyakit akibat kerja. Higiene perseorangan dapat juga disebut dengan kebersihan diri yang merupakan usaha dari individu dengan cara mengendalikan kondisi lingkungan terhadap kesehatan, upaya mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh faktor lingkungan yang merugikan serta membuat kondisi lingkungan sedemikian sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan Penelitian yang dilakukan oleh Louise Ferdinandus didapatkan prevalensi DAK sebesar 35 % pada pekerja industri tempe di cipulir dengan jenis kelainan kulit terbanyak adalah kalus, mikosis (tinea pedis, onikomikosis), dermatitis kontak, miliaria dan paronikia serta lokasi kelainan terutama di tangan dan kaki.1 Adapun penyebab dari terjadinya dermatosis antara lain agen fisik : kelembaban, agen kimia : asam, basa, pelarut lemak, agen biologi : mikroorganisme (mikroba, fungi), parasit kulit dan produk-produknya juga menyebabkan penyakit kulit. Berdasarkan kenyataan tersebut maka perlu dilakukan pengkajian mengenai berbagai faktor yang berhubungan berhubungan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT 05, 06, 07, dan 08 RW 02 Kelurahan Pasarminggu 2. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah, faktor-faktor apa yang berhubungan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08.

1.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan pemakaian APD pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08 b. Mendeskripsikan higiene perorangan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. c. Mendeskripsikan masa kerja pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. d. Mendeskripsikan dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. e. Mendeskripsikan bagian pekerjaan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. f. Mendeskripsikan pengetahuan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. g. Mendeskripsikan jam kerja pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. h. Mendeskripsikan tingkat pendidikan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. i. Mendeskripsikan usia pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. j. Mendeskripsikan jenis kelamin pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08.

k. Menganalisis hubungan antara pemakaian APD dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. l. Menganalisis hubungan antara higiene perorangan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. m. Menganalisis hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. n. Menganalisis hubungan antara jam kerja dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. o. Menganalisis hubungan antara bagian pekerjaan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. p. Menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. q. Menganalisis hubungan antara usia dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. r. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. s. Menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08.

1.4 Hipotesis Berdasarkan variabel yang diteliti maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut 1. ada hubungan antara dermatosis dengan umur, jenis kelamin, higiene perorangan, pengetahuan, jam kerja, masa kerja, tingkat pendidikan, dan bagian pekerjaan pada pekerja industri tempe. 2. ada hubungan antara dermatosis dengan alat pelindung diri pada industri tempe. 3. ada hubungan antara dermatosis dengan air sisa/limbah industri tempe. 4. Pekerja yang bekerja di bagian pencucian, perebusan, dan perendaman mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita DAK dibandingkan dengan pekerja di bagian lain. 1.5 Manfaat Penelitian Bagi peneliti untuk menambah pengalaman belajar serta wawasan tentang ilmu kedokteran komunitas. Manfaat bagi masyarakat sebagai masukan bagi pemilik industri tempe mengenai penyakit dermatosis yang timbul akibat kerja pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. Manfaat bagi instalasi kesehatan kesejatan kerja. 1.6 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada factor keselamatan dan kesehatan kerja, yaitu: pekerja, alat, dan bahan yang berhubungan dengan dermatosis akibat kerja pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08. bagi puskesmas kecamatan pasarminggu untuk

mengetahui adanya hubungan antara kejadian dermatosis dengan pelaksanaan keselamatan

\
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Kulit Akibat Kerja Kulit terdiri atas dua unsur dasar yaitu epidermis dan dermis. Epidermis luar bertindak sebagai pelindung dan tidak bisa basah, sedangkan dermis memberikan kekuatan pada kulit yang sebagian besar karena kandungan kolagennya. Kemampuan epidermis untuk menahan air, merupakan masalah potensial karena permukaan yang berlemak memudahkan penyerapan bahan yang mudah larut, dan ini merupakan jalan masuk banyak bahan-bahan kimia organik. Penyakit kulit dapat ditandai oleh lesi yang timbul dan tersebar, bercak kemerahan yang membentuk gambaran geografik berbatas tegas di daerah yang terkena serangan dari luar, dan iritasi tegas terbatas yang merupakan sisa wilayah cedera. Penyakit kulit akibat kerja atau yang didapat sewaktu melakukan pekerjaan, banyak penyebabnya antara lain agen sebagai penyebab penyakit kulit tersebut antara lain berupa agen-agen fisik, kimia maupun biologis.Dermatosis menurut Joko Suyono bahwa kelainan kulit yang timbul akibat kontak dengan bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan, lingkungan dan tempat kerja.2,3 2.2 Jenis-jenis Penyakit Kulit Akibat Kerja3 a. Dermatitis kontak iritan primer, adalah dermatosis akibat kerja yang paling sering ditemukan. Bentuknya mirip dengan kebanyakan dermatosis yang lain dan penyebabnya tidak mudah dikenali. b. Dermatitis kontak alergi, baik akut maupun kronis, mempunyai ciri-ciri klinis yang sama dengan ekzema bukan akibat kerja. c. Akne (jerawat) akibat kerja. Mirip dengan jerawat pada umumnya, tetapi terutama menyerang bagian yang kontak dengan agen. d. Dermatosis solaris akut. Penyakit kulit yang dianggap sebagai penyakit kulit akibat kerja, yang sangat dipermudah oleh zat-zat fotodinamik yang digunakan dalam pekerjaan tersebut.

2.3 Dermatosis Akibat Kerja3,4 Dermatosis akibat kerja adalah segala kelainan kulit yang timbul pada waktu bekerja atau disebabkan oleh pekerjaan, istilah dermatosis lebih tepat dari pada dermatitis, sebab kelainan kulit akibat kerja tidak usah selalu suatu peradangan, melainkan juga tumor atau alergi. Presentasi dermatosis akibat kerja dari seluruh penyakit-penyakit akibat kerja sekitar 50%-60%, maka dari itu penyakit tersebut pelu mendapatkan perhatian yang cukup. Adapun ciri dari dermatosis itu sendiri adalah kulit mengelupas, berwarna kemerah-merahan disertai rasa gatal pada kulit. 2.4 Agen Penyebab Dermatosis Akibat Kerja3,4 Agen-agen penyebab dermatosis antara lain adalah : 1. Agen fisik. Antara lain tekanan atau gesekan, kondisi cuaca (angin hujan, cuaca beku, matahari), panas, radiasi (ultraviolet, ionisasi), dan serat-serat mineral. 2. Agen-agen kimia. Terbagi menjadi empat kategori : (a) Iritan primer : Asam, basa, pelarut lemak, deterjen, garamgaram logam (arsen, air raksa) (b) Sensitizer : Logam dan garam-garamnya (kromium, nikel, kobalt), senyawa-senyawa yang berasal dari anilin (p-feniloendiamin, pewarna azo) derivat nitro aromatik (trinitrotoluen), resin (khususnya monomer dan aditif seperti epoksiresin, formaldehid, vinil, akrilik, akselerator, platicizer), bahan-bahan kimia karet (vulcanizer seperti dimetil tiuram disulfida, antioksidan), obat-obatan dan antibiotik (misalnya prokain, fenotiazin, klorotiazid, penisilin dan tetrasiklin), kosmetik, terpentin, tanam-tanaman (misalnya primula dan chrysanthemum). (c) Agen-agen aknegenik : Naftalen dan bifenil klor, minyak mineral. (d) Photosensitizer : Antrasen, pitch, devirat asam aminobenzoat, hidrokarbon aromatik klor, pewarna akridin. 3. Agen biologis. Mikroorganisme (mikroba, fungi), parasit kulit dan produkproduknya juga menyebabkan penyakit kulit. Dari seluruh penyebab-penyebab ini bahan kimialah yang paling penting, oleh karena bahan-bahan itulah yang banyak digunakan oleh industriindustri.
7

Ada dua cara bahan kimia ini menimbulkan dermatosis, yaitu dengan jalan perangsangan atau pemekaan kulit (sensitisasi), bahan-bahan yang menyebabkan iritasi disebut perangsang primer sedangkan penyebab sensitisasi disebut pemeka. Perangsang primer mengadakan rangsangan kepada kulit, dengan jalan melarutkan lemak kulit, dengan mengambil air dari lapisan kulit dengan oksidasi atau reduksi sehingga kesetimbangan kulit terganggu dan timbullah dermatosis. 2.6 Pencegahan Dermatosis Akibat Kerja3,4 Pencegahan dermatosis akibat kerja dapat dilakukan antara lain sebagai berikut : 1. Penilaian bahan-bahan yang akan digunakan di perusahaan. 2. Mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan yang tidak berbahaya. 3. Pendidikan. 4. Hygine personal dan perusahaan. 5. Alat Pelindung Diri (APD). 6. Pemeriksaan pra kerja. Adapun upaya penanggulangan secara umum untuk mencegah penyakit kulit akibat kerja antara lain sebagai berikut : 1. Bilamana mungkin alergen kuat sensitizer dan karsilogen hendaknya diganti dengan zat-zat yang kurang berbahaya. 2. Kontak kulit dengan agen penyebab hendaknya di batasi dengan pengendalian teknologi. 3. Eliminasi kontak kulit dengan bahan penyebab. 4. Pakaian pelindung (apron, sarung tangan, topeng wajah). 5. Penyediaan fasilitas dasar untuk kebersihan diri, hendaknya di sediakan APD dan penggunaannya diharuskan untuk digunakan selama jam kerja. 2.7 Diagnosa Dermatosis Akibat Kerja2,3,4 Menegakkan suatu diagnosa penyakit akibat kerja tidaklah mudah, keadaan dermatosis sangatlah banyak, untuk itu haruslah diikuti cara diagnosa penyakit-penyakit
8

akibat kerja pada umumnya. Haruslah tenang, kapan dermatosis itu mulai, selanjutnya perlu pengetahuan tentang lingkungan kerja si penderita, apakah benar penyakit tersebut berada dalam lingkungan. Bila ada, bagaimana keterangannya tentang cara penyebab itu menimbulkan penyakit tersebut, apakah secara infeksi, apakah perangsangan primer, ataukah pemekaan. Pertanyaan ini dapat dijawab dengan memperhatikan penyebab-penyebab yang ada dalam lingkungan kerja dan dengan uji laboratorium, ataupun klinis. Sangat penting diketahui ialah patch test yang dapat memastikan adanya bahan yang bekerja sebagai pemeka terhadap si pekerja. Satu cara uji sederhana, apakah dermatosis itu akibat kerja atau tidak, ialah memberi cuti beberapa hari kepada penderita, apabila penyakit itu bersumber kepada pekerjaan, biasanya dengan cuti demikian dermatosis menjadi berkurang, bahkan mungkin menjadi baik sama sekali. 2.8 Umur dan jenis Kelamin Pekerja1 Kerentanan jaringan berubah sesuai dengan umur. Kepekaan terhadap iritan meningkat pada anak-anak dan menurun pada orang yang lebih tua. Di dalam tubuh terus terjadi perubahan fisiologis dan kimiawi, terjadi proses penuaan dari jaringan tubuh termasuk jaringan kulit.Penelitian oleh Fregert dan laporan New house (1992) menunjukkan bahwa prevalensi DAK menurun pada pekerja yang berusia sangat muda dan meningkat pada pekerja berusia 55 tahun keatas. Coenraads, dkk (1985) menemukan bahwa risiko terjadinya DAK meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Dari segi fisik, biologik dan sosiokultural terdapat perbedaan antara pekerja laki-laki dan perempuan. Dermatitis kontak lebih banyak/sering ditemukan pada perempuan daripada laki-laki, hal ini mungkin disebabkan perbedaan lingkungan kerja dan pekerjaan perempuan yang khas dan bersifat gender seperti mencuci, kosmetik (Hjorth, 1987). Meningkatnya kejadian dermatitis kontak iritan mungkin dihubungkan dengan seringnya terpajan terhadap iritan dan suasana kerja yang basah sehingga frekuensi terjadinya DAK berbeda pada pekerjaan tertentu antara laki-laki dan perempuan. 2.9 Keselamatan dan kesehatan kerja2 Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja/masyarakat pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usahausaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit/gangguan - gangguan kesehatan yang
9

diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum. Hiperkes pada dasarnya merupakan penggabungan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu medis dan teknis yang menjadi satu kesatuan sehingga mem`punyai tujuan yang sama yaitu menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. 2.10 Alat Pelindung Diri (APD)2 Bila pengendalian pada sumber atau selama transmisi tidak mungkin dilakukan maka diperlukan perlindungan tambahan, dengan menyediakan pelindung perorangan yang disebut alat pelindung diri (APD). Jenis-jenis alat pelindung diri (APD) Antara lain adalah : 1. Pelindung mata dan muka (kaca mata biasa, kaca mata pelindung, tameng muka). Perlindungan ini diberikan untuk menjaga terhadap dampak pertikelpartikel kecil yang terlempar dengan kecepatan rendah, dampak partikelpartikel berat dengan kecepatan tinggi, percikan cairan panas atau korosif, kontak mata dengan gas atau uap iritan, dan berkas radiasi elektromagnetik dengan berbagai panjang gelombang, termasuk sinar laser. 2. Pelindung kulit dan tubuh (pakaian atau baju pelindung, sarung tangan, sepatu boot) Pelindung ini meliputi perlindungan kaki, tangan, dan tubuh terhadap kerusakan akibat bahan korosif dan yang menimbulkan dermatosis, penyerapan ke dalam tubuh melalui kulit, panas radian, dingin, radiasi pengion dan bukan pengion, kerusakan fisik. 2.11 Masa Kerja dan Jam Kerja3 Lamanya seseorang bekerja sehari secara baik pada umumnya 6-8 jam dan sisanya untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Memperpanjang waktu kerja lebih dari itu biasanya diserta penurunan efisiensi timbulnya kelelahan penyakit dan kelelahan. Dari penelitian-penelitian yang sebelumnya menunjukkan bahwa pengurangan jam kerja dari 8 ke jam 8 disertai meningkatnya efisiensi hasil per waktu dengan kenaikan produktivitas 3 sampai 10%. Absensi meningkat dengan cepat jika jam kerja melebihi 63,2 seminggu untuk pria dan melebihi 57,3 untuk wanita. Jumlah jam kerja tersebut dalam seminggu yang memungkinkan seorang tenaga kerja dapat bekerja dengan baik adalah 40 jam. Lebih dari ini telah diuraikan menunjukan hal-hal yang merugikan. Pengaruh masa kerja terhadap penyakit kulit yang dialami oleh para pekerja industri tahu bila tidak diimbangi dengan kebersihan individu pekerja akan berdampak buruk terhadap kulit pekerja itu
10

dikarenakan adanya kontak langsung dengan bahan kimia (asam cuka) dan air sisa (buangan) pembuatan tempe dalam jangka waktu relatif lama. Makin lama pekerja bekerja maka makin besar peluang terjadinya dermatosis. 2.12 Higiene Perorangan5 Higiene perorangan disebut juga kebersihan diri yang memiliki pengertian yaitu suatu pengetahuan tentang usaha kesehatan perorangan untuk dapat memelihara kesehatan diri sendiri, memperbaiki, mempertinggi nilai kesehatan dan mencegah timbulnya penyakit. Menurut Labensky mendefinisikan sanitasi sebagai penciptaan atau pemeliharaan kondisi yang mampu mencegah terjadinya kontaminasi makanan atau terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh makanan. Higiene perorangan adalah ilmu yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan berbagai usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan. Berkaitan dengan upaya ini higiene perorangan yang terlibat dalam pengolahan makanan perlu diperhatikan untuk menjamin keamanan makanan. Di Amerika Serikat, 25% dari semua penyebaran penyakit melalui makanan disebabkan pengolahan makanan yang terinfeksi dan sanitasi perorangan yang buruk. Suatu sikap yang baik terhadap kebersihan perseorangan saat bekerja belum otomatis terwujud dalam suatu perbuatan diperlukan faktor pendukung, antara lain adalah fasilitas kesehatan. Higiene mencakup juga masalah perawatan kesehatan diri, termasuk ketepatan sikap tubuh, dalam pengertian tersebut juga terkandung makna perlunya perlindungan bagi pekerja yang terlibat dalam proses pengolahan takanan agar terhindar dari sakit, baik yang disebabkan oleh penyakit pada umumnya, penyakit akibat kecelakaan ataupun penyakit akibat prosedur kerja yang tidak memadai. Adapun usaha untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh antara lain sebagai berikut : 1. Pencucian Tangan Tangan yang kotor atau terkontaminasi dapat memindahkan bakteri dan virus patogen dari tubuh, faeces, atau sumber lain ke makanan, oleh karena itu pencucian tangan merupakan hal pokok yang harus dilakukan oleh pekerja yang terlibat dalam penanganan makanan. Langkah-langkah pencucian tangan yang memadai untuk menjamin kebersihan adalah sebagai berikut :

11

a. Membasahi tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun. b. Menggosok tangan secara menyeluruh selama sekurang-kurangnya 20 detik, pada bagianbagian meliputi punggung tangan, telapak tangan, sela-sela jari, dan bagian di bawah kuku. c. Menggunakan sikat kuku untuk membersihkan sekeliling dan bagian di bawah kuku. d. Pembilasan dengan air yang mengalir. e. Pengeringan tangan dengan handuk kertas (tissue) atau dengan alat pengering. f. Menggunakan alas kertas (tissue) untuk mematikan tombol atau kran air dan membuka pintu ruangan. 2. Kebersihan dan Kesehatan Diri Syarat utama pengolah makanan adalah memiliki kesehatan yang baik, ada beberapa kebiasaan yang perlu dikembangkan oleh pengolah makanan, untuk menjamin keamanan makanan yang diolahnya, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : a. Berpakaian dan Berdandan Pakaian pengolah dan penyaji makanan harus selalu bersih, apabila tidak ada ketentuan khusus untuk penggunaan seragam, maka pakaian sebaiknya tidak bermotif dan berwarna terang. b. Rambut Rambut pekerja harus selalu dicuci secara periodik. Selama mengolah atau menyajikan makanan harus dijaga agar rambut tidak terjatuh ke dalam makanan. c. Kondisi Sakit Pekerja yang sedang flu, demam, atau diare sebaiknya tidak dilibatkan terlebih dahulu dalam memproses pengolahan makanan, sampai gejalagejala tersebut hilang. Pekerja yang memiliki luka pada tubuhnya harus menutup luka tersebut dengan pelindung yang kedap air.

Faktor-faktor Yang Berkaitan Dengan Higiene Perorangan: a. Pengendalian Penyakit


12

Pengendalian

penyakit

meliputi

kebersihan

tubuh,

pemeriksaan

kesehatan,

peningkatan gizi dan kesadaran akan arti pentingnya sanitasi perorangan. b. Kebersihan Selama Bekerja Kebersihan selama bekerja penting untuk menghindari dan mencegah terjadinya penyebaran sumber-sumber penyakit. c. Pendidikan dan Penyuluhan Pendidikan dan penyuluhan tentang kebersihan dan kesehatan kerja kepada karyawan tidak saja dapat meningkatkan efisiensi produktivitas tenaga kerja, tetapi juga memberikan dampak yang baik yaitu dihasilkannya produk-produk yang bermutu baik, bersih dan memenuhi persyaratan. 2.12 Proses pengolahan tempe6 Industri Pembuatan Tempe Sesuai dengan perkembangan zaman kondisi lingkungan untuk usaha pengolahan tempe perlu beberapa pertimbangan untuk menjaga kelangsungan produksi, keamanan, dan kebersihan, adapun proses yang dilakukan dalam pembuatan tempe pertama-tama dilakukan sebagai berikut :
1.

Kedelai dimasak, setelah masak kedelai direndam 1 malam hingga lunak dan terasa berlendir, kemudian kedelai dicuci hingga bersih. Kedelai dipecah dengan mesin pemecah, hingga kedelai terbelah dua dan kulit kedelai terpisah.

2.

3.

Kulit kedelai dipisahkan dengan cara hasil pemecahan kedelai dimasukkan ke dalam air, sehingga kulit kedelai mengambang dan dapat dipisahkan.

4.

Kedelai kupas dicuci kembali hingga bersih, kemudian peragian dengan cara kedelai dicampurkan ragi yang telah dilarutkan dan didiamkan selama lebih kurang 10 menit.

5.

Kedelai yang telah mengandung ragi ditiriskan hingga hampir kering, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Setelah fermentasi selama 2 hari diperoleh tempe.

13

Kerangka Teori
14

Pekerja
Umur Jenis kelamin hygiene perorangan tingkat pendidikan pengetahuan masa kerja jam kerja bagian kerja

Lingkungan kerja
Panas Basah asam

Dermatosis akibat kerja (DAK)

Riwayat penyakit kulit Riwayat alergi

Bahan
Air sisa buangan

Alat
APD (alat pelindung diri)

BAB III
15

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Dermatosis akibat kerja

Bahan
Air sisa buangan

Pekerja
Umur Jenis kelamin hygiene perorangan tingkat pendidikan pengetahuan masa kerja jam kerja bagian kerja

Alat
APD (Alat pelindung diri)

3.2 Variabel dan Definisi Operasional


16

Variabel Variabel dependent Dermatosis akibat kerja

Definisi operasional

Cara ukur dan alat ukur

Hasil ukur

Skala

Kelainan kulit akibat bekerja di industri tempe. Dengan gambaran klinis berupa dermatitis kontak, dermatomikosis, infeksi kulit, miliaria, callus dengan penyebab utama adalah pajanan di tempat kerja. Diagnosis berdasarkan kelainan kulit diatas.

Cara ukur: anamnesa dan pemeriksaan fisik Alat ukur: -

1. Sakit 2. Tidak sakit

Nominal

Variabel independent Masa kerja Lamanya pekerja telah bekerja di inustri tempe saat penelitian maupun sebelumnya. Dikategorikan berdasarkan lamanya waktu yang Higiene perorangan memungkinkan munculnya DAK Kebiasaan pekerja untuk cuci tangan dan kaki dengan air bersih serta mengganti pakaian setelah selesai bekerja. Penilaian: Baik bila selalu mencuci tangan dan kaki serta mengganti pakaian setelah bekerja kurang bila kadang-kadang atau tidak pernah Alat ukur: kuesioner Alat ukur: kuesioner Cara ukur: wawancara 1. Kurang 2. Baik Nominal Cara ukur: wawancara 1. > 5 tahun 2. <= tahun Nominal

Umur

Umur pekerja dalam tahun menurut ulang tahun terakhir pada waktu dilakukan pengumpulan data

Cara ukur: wawancara

1. > 40 tahun 2. <=40 tahun

Nominal

17

penelitian. Dikategorikan berdasarkan umur dimana risiko terjadinya DAK Bagian kerja meningkat. Tempat dimana pekerja paling lama melaksanakan pekerjaannya setiap hari. Dikategorikan berdasarkan ada atau tidaknya hazard di bagian kerja tersebut.

Alat ukur: kuesioner

Cara ukur: Wawancara Alat ukur: Kuesioner

1. Pencucian, perebusan, dan perendaman 2. Bukan pencucian, perebusan, dan perendaman 1. Terpajan 2. Tidak terpajan

Nominal

Air sisa buangan

Seluruh buangan cair yang berasal dari proses seluruh kegiatan yang meliputi limbah domestik cair yakni buangan kamar mandi, dapur, limbah industri tempe. Terpajan bila pekerja selalu terpajan air sisa/limbah Tidak terpajan bila pekerja kadang-kadang atau tidak pernah

Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

Nominal

APD

Alat yang digunakan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja, seperti sarung tangan dan sepatu. Baik bila pekerja selalu

Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

1. Kurang baik 2. Baik

Nominal

18

pakai, jenis sesuai dengan kebutuhan, saat pengamatan pekerja memakai APD Kurang baik bila pekerja kadang-kadang pakai/ tidak pakai, jenis tidak sesuai, dan tidak memakai APD saat Jenis kelamin pengamatan Sifat kelamin dari pekerja Cara ukur: wawancara Alat ukur: Tingkat Pendidikan Jenjang pendidikan formal tertinggi yang telah ditempuh dan berijazah - rendah bila belum pernah sekolah, SD tidak tamat/tamat - sedang bila SMP tidak tamat/tamat, SMA tidak tamat - tinggi bila SMA tamat, kuliah tidak tamat/tamat Waktu kerja (dari mulai sampai selesai) dalam satu hari tidak termasuk waktu istirahat. Dikategorikan berdasarkan ratarata jam kerja perhari, yaitu: Lebih dari 8 jam perhari Kurang dari sama dengan 8 jam perhari Pengetahuan Segala sesuatu yg diketahui; kepandaian: atau segala sesuatu yg diketahui pekerja berkaitan dengan DAK dan pekerjaannya. Baik bila mengerti tentang pekerjaannya dan DAK 19 Alat ukur: Kuesioner Cara ukur: Wawancara 1. Kurang 2. Baik Nominal Alat ukur: kuesioner kuesioner Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner 1. Rendah 2. Sedang 3. Tinggi Ordinal 1. Laki-laki 2. perempuan Nominal

Jam kerja

Cara ukur: wawancara

1. > 8 jam 2. <= 8 jam

Nominal

atau penyakit akibat kerja Kurang bila tidak mengerti tentang hubungan DAK dan pekerjaannya

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis penelitian

20

Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan desain Cross sectional. 4.2 Lokasi dan waktu penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08, Jakarta Selatan karena Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti memiliki kerjasama dengan Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dan saat ini peneliti sedang sedang ditugaskan ditempat tersebut. Penelitian dilakukan pada tanggal 25 Februari 2013 20 Maret 2013. 4.3 Subyek penelitian 1. Populasi Populasi penelitian ini adalah 75 orang pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Tahun 2013. 2. Sampel Sampel penelitian ini adalah seluruh pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08, Kecamatan Pasar Minggu. Adapun kriteria inklusi dari sampel dalam penelitian ini sebagai berikut: a) Seluruh pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RW02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. b) Bersedia menjadi responden c) Responden yang komunikatif Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Seluruh warga RW 02 Kelurahan Pasar minggu 2, yaitu di RT 05, 06, 07, dan 08, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang bukan pekerja industri rumah tangga tempe.
21

b) Tidak bersedia untuk menjadi responden c) Responden yang tidak komunikatif 4.4 Teknik sampling Sampel diambil dengan menggunakan metode judgmental sampling atau purposive sampling. Peneliti memilih responden berdasarkan pada pertimbangan subjektif dan praktis,bahwa responden tersebut dapat memberikan informasi yang memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian. Proses pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah secara bertahap. Tahap pertama dengan menentukan wilayahnya yaitu Kelurahan Pasar Minggu II Kecamatan Pasar Minggu. Jumlah sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebanyak 75 responden. Jumlah sampel ini didapat dengan menggunakan rumus sebagai berikut (S.Sudigdo, 2008): n = (Za)2 PQ (d)2 Keterangan : n a Za P = besarnya sampel = batas kemaknaan, yang digunakan adalah 0,05 = untuk a sebesar 0,05 dari tabel dua arah didapatkan nilai 1,96 = proporsi penyakit kejadian dermatosis (35% dari penelitian Louis Ferdinandus tentang

DAK pada pekerja tempe di Cipulir, Jakarta Selatan) Q d = 1-P = Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p > 10% adalah 0,05 Proporsi yang digunakan berdasarkan angka proporsi kejadian dermatosis di Kelurahan Pasar Minggu 2, Kecamatan Pasar minggu, Jakarta Selatan tahun 2013 sebesar 35%. berdasarkan rumus di atas didapatkan sampel:
22

(1,96) 2 x 0,35 x (1-0,35) (0,05) 2

= n =

349,58 dibulatkan menjadi 349 349 responden

Rumus Populasi finit:

n No N

= Besar sample yang di butuhkan untuk populasi finit = Besar sample dari populasi infinit = 349 responden = Besar sample populasi finit (seluruh pekerja industri tempe di Kelurahan Pasar

Minggu 2) n = 349 (1+349/75) n = 61,77 dibulatkan menjadi 62 Sample akhir, N1 N1 N1 = n + n (10%) = 62 + 62 (0.1) = 68,2 = 61,77

Jadi besar sampel penelitian 68 sampel

4.5 Identifikasi variable penelitian Variabel independent


23

1. Umur 2. Jenis kelamin 3. higiene perorangan 4. tingkat pendidikan 5. pengetahuan 6. masa kerja 7. jam kerja 8. bagian kerja 9. air sisa buangan 10. alat pelindung diri

Variabel dependen 4.6 Dermatosis akibat kerja Instrumen penelitian

Instrumen penelitian ini diambil dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan terbuka tentang variabel-variabel penelitian yang diberikan langsung kepada responden untuk diisi, dan melalui proses wawancara.

24

4.7 4.7.1

Cara Pengumpulan Data Alur Pengumpulan Data

Gambar 4.8. Alur Pengumpulan Data


Proposal disetujui

Saringan populasi

Mengumpulkan sampel

Peneliti melakukan wawancara dan kuesioner

Peneliti mengumpulkan data Peneliti mengolah dan menganalisis data dalam bentuk tabular, tekstular dan grafik dengan menggunakan Microsoft Word dan SPSS 17,0 Penyajian data dalam bentuk presentasi

4.7.2

Pengumpulan Data Primer

Data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dan kuesioner pada responden yang dilakukan di industri rumah tangga pembuatan tempe di RT 05, 06, 07, dan 08 RW 02 Kelurahan Pasarminggu 2.
25

4.7.3

Pengumpulan Data Sekunder Data yang diperoleh dari pencatatan kejadian Dermatosis yang didapatkan dari

laporan surveillance Puskesmas Kelurahan Pasar Minggu II.

4.7.4 Pengumpulan Data Tersier Data diperoleh dari buku teks, jurnal, dan penelitian yang ada sebelumnya.

4.8 Rencana pengolahan dan analisis data Data yang telah berhasil diperoleh diolah secara elektronik setelah melalui proses penyuntingan, pemindahan data ke komputer dan tabulasi. Data yang terkumpul dari hasil kuesioner diolah, dianalisis dan dimasukkan dalam program computer Microsoft office excel 2007 dan SPSS 17.0. Adapun langkah-langkah pengolahan data dilakukan seperti tahap-tahap dibawah ini : 1. Entry Pemasukan data (data entry) yaitu memasukkan data kedalam program computer yaitu SPSS untuk kemudian dianalisa. 2. Coding Pengkodean data (data coding) yaitu mengklasifikasikan data dan memberi kode atau simbol tertentu, misal berupa angka untuk setiap jawaban. 3. Editing Pengeditan data (editing) yaitu mengeluarkan data yang dianggap janggal, yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel dan melihat kelogisannya. Setelah dicek kembali untuk memastikan data tersebut telah bersih dari kesalahan, maka data tersebut siap untuk dianalisa. 4. Cleaning Memeriksa kelengkapan data, kelengkapan kuesioner, apakah semua pertanyaan telah dijawab dengan lengkap dan benar.

26

Memeriksa kesinambungan data, dalam arti tidak ditemukannya data atau keterangan antara satu dengan yang lainnya. Memeriksa keseragaman data, apakah ukuran yang digunakan dalam mengumpulkan data sudah seragam atau tidak.

4.9 Analisis Data 4.9.1 Analisis Univariat Analisis menggunakan distribusi frekuensi data berdasarkan nilai rata-rata (mean) terhadap variabel-variabel yang diteliti. 4.9.2 Analisis Bivariat Analisis bivariat yang digunakan adalah uji statistik chi-square, untuk mencari hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel dependen dengan variabel independen yang mengacu pada nilai p-value <0,05. 4.10 Penyajian Data Tekstural, hasil penelitian disajikan dalam bentuk kalimat. Tabulasi, hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel. Grafik, hasil penelitian disajikan dalam bentuk diagram pie dan diagram batang

4.11 Jadwal Kegiatan Penelitian Tahapan Kegiatan A Perencanaan 1 Orientasi dan Identifikasi Masalah 2 Pemilihan Topik 3 Penelurusan kepustakaan 4 Pembuatan Proposal 5 Konsultasi dengan pembimbing 6 Pembuatan questionnaire 7 Presentasi Proposal B Pelaksanaan 1 Ujicoba questionnaire 2 Pengumpulan data dan Survey 3 Pengolahan data
27

Waktu Dalam Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

4 Analisis data 5 Konsultasi dengan Pembimbing C Pelaporan Hasil 1 Penulisan laporan sementara 2 Diskusi 3 Presentasi hasil laporan sementara 4 Revisi Presentasi Hasil akhir 5 (puskesmas dan trisakti) 6 Penulisan laporan akhir Tabel 2. Jadwal kegiatan 4.12 Perkiraan Biaya Penelitian Penggandaan Kuesioner Transportasi Kertas A4 Tinta Printer Cenderamata Biaya tak terduga: Rp. 150.000,Rp. 200.000,Rp 20,000,Rp. 220.000,Rp 100,000,Rp. 300.000,Rp. 980.000,-

28

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Univariat Analisa univariat ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik dari masingmasing variabel yang diteliti di Kelurahan Pasar Minggu dua, Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan dengan responden yang berjumlah 70 perajin tempe. Tabel 1. Distribusi Frekuensi kejadian DAK dan karakteristik responden pada perajin tempe Karakteristik Kejadian dermatosis akibat kerja - Sakit - Tidak sakit Usia - <=40 tahun - > 40 tahun Jenis kelamin - Laki-laki - Perempuan Tingkat pendidikan - Rendah - Sedang Masa kerja - > 5 tahun - <= 5 tahun Lama kerja - > 8 jam perhari - <= 8 jam perhari Alat pelindung diri - Kurang baik - Baik Air sisa buangan - Terpapar - Tidak terpapar Higiene perajin - Kurang - Baik Pengetahuan - Kurang - Baik Bagian kerja - Pencucian, perendaman, dan perebusan - Bukan pencucian, perendaman, dan perebusan Responden jumlah Persentase 14 56 44 26 43 27 34 36 42 28 32 38 42 28 39 31 25 45 43 27 34 36 20 80 62,9 37,1 61,4 38,6 48,6 51,4 60 40 45,7 54,3 60 40 55,7 44,3 35,7 64,3 61,4 38,6 48,6 51,4
29

5.1.1

Karakteristik Responden

5.1.1.1 Dermatosis Akibat Kerja (DAK) pada perajin tempe Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, diperoleh data tentang tentang Dermatosis Akibat Kerja (DAK) pada perajin tempe. DAK pada perajin tempe sebanyak 14 orang (20%) , tidak terkena DAK sebanyak 56 orang (80%)

5.1.1.2 Usia perajin tempe Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin tempe berusia kurang dari sama dengan 40 tahun sebanyak 44 orang (62,9%), perajin dengan usia lebih dari 40 tahun sebanyak 26 orang (37,1%).

5.1.1.3 Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin laki-laki sebanyak 43 orang (61,4%), perajin perempuan sebanyak 27 orang (38,6%)

5.1.1.4 Tingkat Pendidikan Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang berpendidikan rendah yaitu perajin yang tidak bersekolah, SD/tamat SD sebanyak 34 orang (48,6%), dan berpendidikan sedang yaitu SMP/tamat SMP sebanyak 36 orang (51,4%).

5.1.1.5 Masa kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang masa kerja lebih dari 5 tahun sebanyak 42 orang (60%) , dan perajin yang masa kerja kurang dari sama dengan 5 tahun sebanyak 28 orang (40%).

5.1.1.6 Lama kerja


30

Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang lama kerja lebih dari 8 jam perhari sebanyak 32 orang (45,7%), dan perajin yang masa kerja kurang dari sama dengan 8 jam perhari sebanyak 38 orang (54,3%).

5.1.1.7 Alat pelindung diri Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang tidak

memakai/memakai APD dengan kurang baik sebanyak 42 orang (60%), dan perajin yang memakai APD dengan baik sebanyak 28 orang (40%).

5.1.1.8 Air sisa buangan/limbah Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang terpapar air sisa buangan sebanyak 39 orang (55,7%) ,dan perajin yang tidak terpapar/ kadang-kadang terpapar sebanyak 31 orang (44,3%).

5.1.1.9 Higiene perorangan Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang kurang higienenya sebanyak 25 orang (35,7%) , dan perajin yang baik higienenya sebanyak 45 orang (64,3%).

5.1.1.10 Pengetahuan Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang pengetahuannya kurang mengenai DAK serta risiko-risiko yang dapat timbul dari pekerjaannya sebanyak 43 orang (61,4%) , dan perajin yang baik sebanyak 27 orang (38,6%).

5.1.1.11 Bagian kerja

31

Berdasarkan hasil penelitian dari 70 perajin tempe, perajin yang bekerja di bagian pencucian, perendaman, dan perebusan sebanyak 34 orang (48,6%) , dan perajin yang bekerja di bagian lain sebanyak 36 orang (51,4%).

5.2 Analisis Bivariat 5.2.1 Hubungan Usia Perajin dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara usia perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara usia perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 2 kejadian dermatosis Sakit tidak sakit <=40 usia perajin > 40 4 (15,4%) 22 (84,6%) 26 10 (22,7%) 34 (77,3%) Total

44

Total

14

56

70

p = 0,458

0,451<OR<5,804

32

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin dengan usia kurang dari 40 tahun yang menderita dermatosis 10 orang atau 22,7%, dan perajin yang usia lebih dari 40 tahun yang menderita dermatosis 4 orang atau 15,4%. Dengan nilai p = 0,458 maka Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara usia perajin dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

5.2.2 Hubungan jenis kelamin dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara jenis kelamin perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara jenis kelamin perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 3 kejadian dermatosis Sakit jenis kelamin laki-laki perempuan Total p = 0, 141 11 (25,6%) 3 (11,1%) 14 0, 690<OR<10,952 tidak sakit 32 (74,4%) 24 (88,9%) 56 43 27 70 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajing dengan jenis kelamin laki-laki yang menderita dermatosis 11 orang atau 25,6%, dan perajin dengan jenis kelamin perempuan yang menderita dermatosis 3 orang atau 11,1%. Dengan nilai p = 0,141 maka Ho

33

diterima, berarti tidak ada hubungan jenis kelamin perajin dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

5.2.3 Hubungan tingkat pendidikan dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara tingkat pendidikan perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara tingkat pendidikan perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 4 kejadian dermatosis sakit tingkat pendidikan Total p = 0, 000 rendah sedang 13 (38,2%) 1 (2,8%) 14 2,641<OR<177,762 tidak sakit 21 (61,8%) 35 (97,2%) 56 34 36 70 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin dengan tingkat pendidikan rendah yang menderita dermatosis 13 orang atau 38,2%, dan perajin dengan pendidikan sedang yang menderita dermatosis 1 orang atau 2,8%. Dengan nilai p = 0,000

34

maka Ho ditolak, berarti ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

5.2.4 Hubungan masa kerja dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara masa kerja dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara masa kerja perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 5 kejadian dermatosis sakit masa kerja Total p = 0, 714 >5 tahun <=5 tahun 9 (21,4%) 5 (17,9%) 14 0, 372<OR<4,232 tidak sakit 33 (78,6%) 23 (82,1%) 56 42 28 70 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin dengan masa kerja lebih dari 5 tahun yang menderita dermatosis 9 orang atau 21,4%, dan perajin dengan masa kerja kurang dari 5 tahun yang menderita dermatosis 5 orang atau 17,9%. Dengan nilai p =

35

0,714 maka Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

5.2.5 Hubungan lama kerja dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara lama kerja dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara lama kerja perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 6 kejadian dermatosis sakit lama kerja Total p = 0, 006 1,527<OR<24,450 >8 jam <=8 jam 11 (34,4%) 3 (7,9%) 14 tidak sakit 21 (65,6%) 35 (92,1%) 56 32 38 70 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin dengan lama kerja lebih dari 8 jam yang menderita dermatosis 11 orang atau dan perajin dengan lama kerja kurang dari 8 jam yang menderita dermatosis 3 orang atau dengan nilai p = 0,006 maka Ho ditolak, berarti ada hubungan antara lama kerja dengan kejadian dermatosis akibat kerja.
36

5.2.6 Hubungan alat pelindung diri dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara penggunaan APD dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara penggunaan APD dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 7 kejadian dermatosis sakit Alat pelindung diri Total p = 0, 714 0, 372<OR<4,232 Kurang baik Baik 9 (21,4%) 5 (17,9%) 14 tidak sakit 33 (78,6%) 23 (82,1%) 56 42 28 70 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin yang tidak menggunakan APD menderita dermatosis 9 orang atau 21,4% dan perajin yang menggunakan APD yang menderita dermatosis 5 orang atau 17,9% Dengan nilai p = 0,714 maka Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara lama kerja dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

37

5.2.7 Hubungan terpapar air limbah dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara terpapar air limbah dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara terpapar air limbah perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 8 kejadian dermatosis sakit air buangan terpapar tidak terpapar 12 (30,8%) 2 (6,4%) 14 1,319<OR<31,478 tidak sakit 27 (69,2%) 29 (93,6%) 56 39 31 70 Total

Total p = 0.012

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin yang terpapar air buangan menderita dermatosis 12 orang atau 30,8% dan perajin yang tidak terpapar air buangan menderita dermatosis 2 orang atau 6,4% Dengan nilai p = 0,012 maka Ho ditolak, berarti ada hubungan antara pekerja yang terpapar air buangan dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

38

5.2.8 Hubungan higiene dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara higiene dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara hygine perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 9 kejadian dermatosis sakit higiene perajin Total p = 0, 212 0, 106<OR<1,683 kurang baik 3 (12%) 11 (24,4%) 14 tidak sakit 22 (88%) 34 (75,6%) 56 25 45 70 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin dengan higiene kurang menderita dermatosis 3 orang atau 12% dan perajin dengan higiene baik menderita dermatosis 11 orang atau 24,4% Dengan nilai p = 0,212 maka Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara higiene dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

39

5.2.9 Hubungan pengetahuan dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara pengetahuan dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara pengetahuan perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 10 kejadian dermatosis sakit Pengetahuan Total p = 0, 390 kurang baik 10 (23,3%) 4 (14,8%) 14 0, 486<OR<6,241 tidak sakit 33 (76,7%) 23 (85,2%) 56 43 27 70 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin dengan pengetahuan yang kurang menderita dermatosis 10 orang atau 23,3% dan perajin dengan pengetahuan baik menderita dermatosis 4 orang atau 14,8% Dengan nilai p = 0,390 maka Ho diterima, berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

40

5.2.10 Hubungan bagian kerja dengan Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara bagian kerja dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Adapun secara lengkap deskripsi hubungan antara bagian kerja perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja distribusi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

TABEL 11 kejadian dermatosis sakit Pencucian, perendaman, dan bagian kerja perebusan Bukan pencucian, perendaman, dan perebusan Total p = 0, 012 1,319<OR<20,978 14 56 70 3(8,3%) 33(91,7%) 36 11(32,3%) tidak sakit 23(67,7%) 34 Total

Hasil analisis dengan Chi-Square menunjukkan bahwa perajin di bagian pencucian, perendaman, dan perebusan menderita dermatosis 11 orang atau 32,3% dan perajin di bagian lain menderita dermatosis 3 orang atau 8,3% Dengan nilai p = 0,012 maka Ho ditolak, berarti ada hubungan antara bagian kerja di pencucian, perendaman, dan perebusan dengan kejadian dermatosis akibat kerja.

BAB VI PEMBAHASAN
41

6.1 Hubungan Usia Pekerja dengan Kejadian Dermatosis Akibat Kerja Berdasarkan hasil penelitian dari 70 responden, diperoleh data tentang hubungan antara usia perajin dengan angka kejadian Dermatosis akibat kerja. Hasil penelitian kami dengan Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia perajin dengan kejadian dermatosis akibat kerja. Hasil ini sesuai dengan penilitian yang dilakukan oleh Adilah Afifah 31 juli 2012 tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis kontak akibat kerja pada karyawan binatu di ungaran timur dan ungaran barat kabupaten semarang.

42