Anda di halaman 1dari 13

Al-’Ilmu (2)

Adab-adab menuntut ilmu

Disusun oleh :
Abu Ahmad Topan Setiadipura M.Si
Ketua Yayasan Islam Nurmadinah
0813 8823 7859
Ikhlas
Ikhlas dalam menuntut ilmu hanya
mengharap ridho Allah ‘azza wa jalla
“Barangsiapa yang menuntut ilmu, yang
seharusnya ia mengharap wajah Allah
dengan ilmu tersebut, namun ia
mempelajarinya untuk mendapatkan
bagian dari dunia maka ia tidak akan
mendapatkan wangi surga” (H.R Ahmad)
Menghilangkan Kebodohan
Berniat untuk menghilangkan kebodohan dari
dirinya dan dari orang lain.
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu
kalian, dalam keadaan tak mengetahui apapun..”
(QS an Nahl a78)
Imam Ahmad berkata :
“Tidak ada yang menyamai keutamaan ilmu, bagi
yang benar niatnya.” ketika ditanyakan
bagaimana niat yang benar beliau berkata
“berniat untuk menghilangkan kebodohan dari
dirinya dan dari orang lain”
Membela Syari’at
Berniat untuk membela syari’at dengan
ilmunya dari penyebaran syubhat yang
menyesatkan.
“Tidak layak bagi orang yang mu’min itu pergi
semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak
pergi beberapa orang dari mereka untuk
memperdalam ilmu agama, dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya jika
mereka telah kembali padanya, agar mereka
dapat menjaga diri.” (QS at Taubah a122).
Lapang Dada
Berlapang dada dalam masalah khilaf. Yaitu khilaf
yang bersumber dari perbedaan ijtihad.

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah


agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa
golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu
terhadap mereka.” (QS al An’aam a159)

“Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan


janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah
beserta orang yang sabar.” (QS al Anfaal a46)
Mengamalkan Ilmu
Mengambil hidayah dari ilmu yang dimilikinya dengan
mengamalkannya, karena amal adalah buah dari ilmu.

“ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan


berdiri, sedang ia takut kepada akhirat dan mengharap rahmat
rabbnya? Katakanlah: “Adakah sama orang yang mengetahui dan
orang yang tidak mengetahui?” ..” (QS az Zumar a9)

sikapnya terhadap ilmu adalah membenarkan berita dan


mengamalkan perintah.

“Dan tidaklah layak bagi lelaki/wanita beriman untuk mengambil


pilihan lain dalam urusannya ketika Allah tela memutuskan urusan
tersebut. Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan
Rasul Nya sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang
nyata.” (QS al Ahzab a36)
Dari abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah, ia berkata: saya mendengar
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
Didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat lalu dimasukkan ke dalam
api neraka, maka terburailah seluruh isi perutnya, lalu dia berputar-putar
di dalam neraka sebagaimana keledai berputar-putar mengelilingi
penggilingan, maka berkumpullah seluruh penduduk neraka dan
bertanya padanya:
“Wahai fulan, apa yang menyebabkan engkau begini?bukankah engkau
dahulu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar?
Maka berkata lelaki ini :”Benar, dulu saya memerintahkan kepada yang
ma’ruf namun saya tidak mengamalkanya, dan mencegah dari yang
mungkar tapi saya mengerjakannya.” (H.R Bukhori dan Muslim)
Mendakwahkan Ilmu
Berdakwah kepada Allah azza wa jalla dengan ilmu yang
dimilikinya

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada


orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal
shaleh, dan berkata ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-
orang yang berserah diri.” (QS Fushilat a33)

“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” (H.R Bukhori)


Hikmah
Menghiasi dirinya dengan sikap hikmah.
Hikmah adalah menempatkan sesuatu sesuai
dengan tempatnya,
Imam Asy Syaukani : “hikmah adalah semua
perkataan atau perbuatan yang mencegah orang
yang mendengarnya dari perbuatan bodoh.”(dinukil
Syekh Abdullah bin Baz dlm bukunya “Wujub ad-
da’wah”)
“Serulah (manusia) kepada jalan Allah dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik.” (QS An Nahl a125)
Sabar dan Tegar
Sabar dan tegar dalam menuntut ilmu.
Imam Syafi’i berkata :
“Wahai saudaraku, engkau tidak akan
perna mendapatkan ilmu kecuali dengan
enam syarat: keserdasan, kerakusan
(akan ilmu), bersungguh-sunguh,
memiliki biaya, bergaul dengan ustadz,
dan menempuh waktu yang lama.”
Menjauhi Kemaksiatan
Berusaha untuk menjauhi kemaksiatan
sebagai pengamalan dari ilmunya juga
sebagai penjagaan dan sebab
berkembangnya ilmu.
“…dan bertaqwalah kepada Allah, niscaya
Allah akan mengajarkan kepadamu ilmu,
dan Allah maha mengetahui segala
sesuatu” (QS Al Baqarah a282)
“Wahai orang-orang beriman, jika engkau
bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan
memberikan kepadamu furqon.” (QS al Anfaal
a29)
Berkata Imam Syafi’i :
“ Saya mengeluh kepada Waqi’ tentang buruknya
hafalanku, lalu dia memberiku petunjuk untuk
meninggalkan kemaksiatan, dan memberitahukan
padaku bahwasanya ilmu adalah cahaya, dan cahaya
Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”
Menjauhi Sifat Pemalu dan
Sombong
Dimana dua sifat ini akan menghalanginya untuk bertanya
mengenai suatu masalah yang tidak dia ketahui, padahal kunci
atau obat kebodohan adalah bertanya.
“Dan bertanyalah kepada orang yang memiliki ilmu jika engkau tidak
mengetahui.” (QS An Nahl a43)
‘Aisyah berkata :
“Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshor, sebab rasa malunya
tidak menghalangi mereka untuk memperdalam agama.”
(diriwayatkan oleh Imam Bukhori)
Berkata Mujahid :
“Tidak akan mendapatkan ilmu orang yang pemalu dan sombong.”