Anda di halaman 1dari 7

Dalam lamunanku

Pada suatu hari , ketika aku masih kelas 2 smp . Setelah aku

menerima pelajaran sejarah tentantg perang dunia ii . Aku duduk

di bawah keteduhan pohon dan hanya melihat rumput dan pohon

lainnya . Tak beberapa lama kemudian beneakku melayang .

Setelah itu yang kulihat adalah sebuah ota yang kumuh, kotor,

bising, dan penuh polusi karena banyak pabrik .

Di sana ada beberapa anak yang mempunyai nasib yang sama.

Mereka mempunyai orang tua yang memepunyai pekerjaan yang

sama yaitu sebagai buruh pabrik. Dan merekapun dididik dengan

keras dan otoriter oleh kedua orang tua mereka masing-masing.

Dan itu membuat mereka merasa menderita. Hanya dengan

beramainlah mereka bisa mendapatkan kesenangan. Ada satu anak

diantara mereka yang kelak mempunyai nasib yang berbeda dari

yang lain. Dia adalah Hitler .

Pada sutu hari dia dan teman-temannya sedang bermain bola. Bola

yang digunakan merka bermain keluar dan jatuh di sekitar rumah

tua yang tampak tidak dihuni. Kemudian Hitler menggambil bola

itu. Tiba-tiba dia mendengar suara yang merdu. Dia mendengarkan

hingga seorang temanya memanggilnya


“ Hitler , kalau bolanya sudah ketemu tolong cepat kemari “ panggil

temannya.

“ baiklah aku menuju kesana “ jawab Hitler.

Jam manunjukkan pukul tujuh lebih seperempat .’brak....” Suara

pintu yang didorong dengan keras dan menabrak tembok.

“sudah kubilang kau tak perlu lakukan itu. “ bentak seorang pria.

“tapi bagaimana hidup kita sebulan kedepan? “tanya seorang

wanita.

“upah kita bekerja dan anak kita bekerja masih cukup untuk

memenuhi kebutuhan kita. “jawab sang pria.

“tapi , karena kau melakukan itu bagaimana kita bisa hidup untuk

sebulan kedepan. “tanyanya.

“terserah kau saja. “tambah pria itu.

Pria dan wanita itu adalah orang tua Hitler. Mereka sedang

bertengkar karena sang wanita membali lotre. Tiba-tiba ayah

Hitler pergi ke kamar Hitler yang sedang belajar. Dia ingin

mengambil uang yang Hitler dapatkan dari menjadi loper koran

setelah pulang sekolah.

Sang ayah bertanya “Hitler mana uang hasil kerjamu “.

Ini yah jawab Hitler.


“ apa cuma segini ? Pasti kau bermain boal lagi ”bentak sang ayah

dan pergi setalah memukul Hitler “bugh.....”. Begitulah yang dia

alami setiap harinya.

Menginjak usia enam belas dia mulai mengenal seorang gadis

di sekolahnya. Gadis itu cantik sekali dia bernama allice. Hitler

mulai melakukan pendekatan kepadanya.

“hai ,apa kabar ?Tanya Hitler

“baik “ jawab gadis itu.

“namaku Hitler ,nama kamu siapa” ucap kenal Hitler.

“namaku allice, allice morgana” jawab gadis situ.

Setelah perknalan itu mereka mulai berkencan dan berpacaran.

Sebulan setelah itu Hitler mendapatkan pesan dari allice .yang

berbunyi

“mafkan aku Hitler mungkin ini menyakitkan bagi kita berdua. Dan

akupun tak bisa menolak untuk ini. Kita harus berpisah karena aku

harus ikut ayahku yang sebagai seorang seniman. Dia harus pergi

keliling dunia untuk dapatkan objek lukisannya. Kuharap kita bisa

bertemu lagi. Kekasihmua allice.”

Kejadian itu membuatnya sedih. Dia pulang ke rumahnya dengan

muka yang murung. Tak sengaja dia lewat di depan rumah tua yang
dia pernah mendengar mendengar suara merdu beberapa tahun

yang lalu. Dia memberanikan diri untuk masuk ke rumah itu.

Kemudian dia ditanya oleh penghuni rumah itu “siapa kau?,apa yang

kau inginkan dari datang kemari ”.

“ aku adalah Hitler dan aku ingin tahu siapa kau dan apa yang kau

baca” Jawab Hitler dengan sedikit gugup.

“Baiklah akan aku jawab “ celoteh orang itu.

“ Namaku muhamad rasyd aku dulu adalah anak seorang saudagar

kaya dari Arab. Aku dan keluargaku tersesat disini karena

pecahnya perang salip. Hanya aku yang masih hidup. Keluargaku

yang lain telah meninggal. Dan yang ku baca tadi adalah Al-Qur’an.

Ini adalah petunjuk untuk hidup dunia dan Akhirat bagi manusia

yang percaya. “jawab orang itu.

“begitu kah ? Kalau begitu boleh kah aku mempelajarinya ? “tanya

Hitler yang tergumam.

“Baiklah aku akan mengajarimu tapi tolong rahasiakan ini. Aku

hanya mampu menyebarkan ilmu bagi mereka yang diberi Hidayah”

jawab orang itu mengijinkan.

Setelah pertemuan itu,Setiap malam Hitler pergi ke rumah itu

untuk belajar Al-Qur’an. Beberapa bulan kemudian Hitler

memutuskan untuk masuk islam.


“Tuan rasyd ,bagaimana pendapatmu jika aku masuk islam ?“tanya

Hitler.

“hmm, apakah kau yakin? Apakah kau bisa menjalankan rukun islam

? Bisakah kau menyempatkan diri untuk solat ?Lebih baik kau

renungkanlah dulu baik-baik.”Nasehat orang itu.

“baiklah, kau benar lebih baik aku menciptakan hidupku untuk bisa

menjalankan rukun islam. “ucap Hitler untuk patuh.

Ketika hampir lulus dari sekolahnya dia ditanya oleh ayahnya

kemana dia akan melanjutkan sekolah.

“Hitler,kemana kau akan melanjutkan sekolah ?”Tanya sang ayah.

“Seni, yah .aku ingin menjadi seniman” jawab Hitler.

“Apakah itu yang terbaik bagimu ?Bukankah lebih baik kau masuk

ke akademi militer saja.” Nasehat sang ayah.

“ya,aku yakin. Aku akan mendapat kehidupan yang lebih baik jika

aku menjadi seniman besar” jawab Hitler.

“Tidak, kau harus masuk akmil. Itu adalah jalan terbaik untuk

keluarga kita. Jika kau jadi seniman itu adalah spekulasi untuk

perubahan keluarga kita “ printah sang ayah dengan nada tinggi.

“Tapi aku yakin yah. Kita akan berubah. “ bantah Hitler.


“keyakinanmu hanyalah bualan. Percayalah pada ayah. Dan

renungkan itu “ kata sang ayah kemudian pergi setelah memukul

Hitler “Bugh.......”.

Setelah perckcokan itu dia merenung di dalam kamarnya.

“Apa yang aku inginkan dari jadi seniman ?”.

“Keliling dunia dan bertemu Allice dan menjadi muslim dan

menjalankan rukun islam. “.

“Itu bisa terjadi jika aku menjadi seniman yang berhasil,

bagaimana jika tidak ?”.

“Mungkin ayah benar. Aku harus masuk akmil, menjadi orang besar

dan mengangkat derajat islam. “. “Mungkin aku bisa menaklukkan

kaum Yahudi dan membunuh kaum homoseks seperti yang orang

Arab itu ajarkan”.

“Aku tahu mungkin itu adalah perbuatan dosa dan akan mendapat

balasan di neraka. Tapi kenapa harus takut dengan neraka ?

penderitaanku di dunia membuatku kebal terhadap hukuman di

neraka. Aku hanya ingin menunjukkan cintaku kepada Allah dengan

tulus. Tanpa mengharap surga. Dan aku yakin inilah jalannya.”

“Seandainya gagal menjadi orang besar. Setidaknya aku bisa

mengangkat derajat keluargaku”.


Itulah hasil renungan Hitler. Kemudian dia menemui ayahnya untuk

mengatakan bahwa dia akan menuruti ayahnya untuk masuk ke

akmil.

“baiklah yah , aku menurut padamu. “kata Hitler.

“Baguslah , berarti kau sudah mengerti. “balas sang ayah.

Akhirnya Hitler masuk di akmil. Disana dia mengikuti pelajaran

dengan baik. Dan mendapatkan prestasi yang baik pula. Hingga

akhirnya dia menjadi presiden jerman. Meskipun merasa

menderita. Dia teringat akan renugannya dia akan menaikan

derajat islam setelah dia menjadi orang besar. kemudian dia

wujudkan dengan fasisme dan membantai satu setengah juta orang

Yahudi dan homoseksual dengan alasan pemurnian ras.

Suatu hari ketika dia sedang berpidato sebelum perang, dia

mendapat telepon dari seseorang .awalnya dia tidak ingin

menerimanya. Tapi ketika dia diberi tahu bahwa itu adalah telepon

dari seorang wanita dia mau menerimanya. Dan akhirnya dia

mengakhiri pidatonya. Tiba-tiba Aku mendegar suara seorang

gadis memanggilku. “hei Yupi, ini bagaimana PR-nya” panggil gadis

itu. Tak beberapa lama kemudian pandanganku kembali seperti

semula yaitu hanya pohon-pohon dan rerumputan.