Anda di halaman 1dari 26

TAJAM PENGLIHATAN (VISUAL ACUITY) FISIOLOGI TAJAM PENGLIHATAN mikrometer walaupun system optiknya masih sangat baik.

Bintik ini paling terang di bagian tengah dan mengabur ke arah tepi. (Guyton & Hall, 2007). Bintik di retina biasanya mempunyai diameter total kira-kira 11

Diameter rata-rata konus yang terdapat di kerucut retina, yang merupakan bagian tengah retina tempat terbentuknya penglihatan yang paling tajam, besarnya kira-kira 1,5 mikrometer, yakni 1/7 diameter titik cahaya. Namun karena titik cahaya itu mempunyai bagian tengah yang terang dan tepi yang gelap, maka kita baru dapat membedakan dua titik pada retina sebesar kira-kira 2 mikrometer (Guyton & Hall, 2007).. yang terpisah bila bagian tengah dari kedua titik itu mempunyai jarak

Fovea mempunyai diameter kurang dari 0,5 mm yang berarti ketajaman penglihatan maksimal dapat terjadi pada hanya 2 derajat lapang pandangan. Di luar fovea, tajam penglihatan akan berkurang

secara progresif sampai 10 kali lipat, dan semakin kea rah perifer akan semakin memburuk (Guyton & Hall, 2007).. Orang yang normal sewaktu melihat dua titik terang yang diletakkan

10 meter darinya, maka ia sulit membedakan kedua titik itu sebagai dua titik yang terpisah bila terpisah 1,5 sampai 2 mm. Tajam penglihatan normal rata-rata bervariasi antara 6/4 hingga 6/6. Tajam penglihatan maksimum berada di daerah fovea, sedangkan beberapa factor seperti kelainan refraksi mata dapat merubah tajam penglihatan. Dikenal tajam pengihatan perifer merupakan penglihatan tepi yang dilaksanakan oeh sel batang yang menempati bagian perifer retina untuk menangkap adanya (Guyton & Hall, 2007), (Sidartha, 2005). Dikenal juga tajam penglihatan binocular tunggal yang yang

penerangan umum, kontras, berbagai uji warna, waktu papar, dan

benda, gerakan, atau warna objek di luar garis langsung penglihatan

memungkinkan

untuk

penentuan

kedalaman

benda

diihat.

Penglihatan binocular dapat dilihat bagian benda yang tertutup pada satu mata tetapi akan dapat dilihat oeh mata lain sehingga terdapat kesan penglihatan stereoskopik. Penglihatan malam merupakan kemampuan merupakan hsil fungsi mata beradaptasi gelap dengan melakukan dilatasi (Guyton & Hall, 2007), (Ganong, 2003).

melihat di malam hari dengan penerangan kurang. Penglihatan malam pupil, bertambahnya visual purple dan menurunnya ambang intensitas

ADAPTASI GELAP-TERANG mengandung sekitar 40 persen pigmen peka cahaya yang disebut rodopsin/ visual purple. Substansi ini merupakan kombinasi protein retinal, karena hanya tipe inilah yang dapat berikatan dengan rhodopsin (Guyton & Hall, 2007). skotopsin dengan senyawa protein retinal, lebih khusus lagi tipe 11-cis Segmen luar sel batang yang menonol ke lapisan pigmen retina

Bila rodopsin sudah mengabsorbsi energi cahaya, maka rodopsin akan terurai dalam sepertriliun detik. Penyebabnya dalah fotoaktifasi elektron pada bagian retinal dari rodopsin, yang menyebabkan perubahan segera pada bentuk cis dari retinal menjadi bentuk all-trans retinal, yang tetap mempunyai struktur yang sama dengan cis namun fisiknya berbeda. Hal ini menyebabkan ketidak cocokan perlekatan skotopsin dengan retinal, sehingga ikatran tersebut menjadi terlepas. Produk yang segera

(siklus rodopsin)

terbentuk adalah batorodopsin, kemudian dalam waktu sekian nanodetik akan rusak menjadi lumirodopsin, dalam waktu sekian mikrodetik akan berubah menjadi metarodopsin I, yang selanjutnya dalam waktu kira-kira 1 milidetik akan berubah menjadi metarodopsin II (rodopsin teraktivasi).

Rodopsin akan kembali terbentuk ketika all trans retinal di katalis oleh otomatis akan bergabung kembali dengan skotopsin untuk membentuk kembali rhodopsin (Guyton & Hall, 2007).

enzim retinal isomerase, sehingga terbentuk 11-cis retinal dan secara

Adapatasi Gelap dan Terang. Bila seseorang berada di tempat yang

sangat terang untuk waktu yang lama, maka banyak sekali fotokimiawi yang terdapat pada sel batang dan kerucut menjadi berkurang karena diubah menjadi retina dan opsin. Selanjutnya, sebagian besar retinal dalam sel batang dan kerucut akan diubah menjadi vitaminA. Oleh karena kedua efek ini, maka konsentrasi bahan kimiawi fotosensitif yang menetap

dalam sel batang dan kerucut akan banyak sekali berkurang, akibatnya sensitifitas mata terhadap cahaya juga berkurang. Keadaan inilah yang disebut adaptasi terang (Guyton & Hall, 2007). Sebaliknya, bila seseorang tersbeut terus berada di tempat gelap

untuk waktu yang lama, maka retinal dan opsin yang ada di dlaam sel batang dan sel kerucut diubah kembali menjadi pigmen yang peka terhadap cahaya. Selanjutnya, vitamin A diubah kembali menjadi retinal untuk terus menyediakan oigmen peka cahaya tambahan, di mana batas akhirnya ditentukan oleh jumlah opsin yang ada dalam sel batang dan

kerucut. Keadaan ini disebut sebagau adaptasi gelap (Guyton & Hall, 2007). Metode klinis yang dipakai untuk menyatakan besarnya tajam

penglihatan dapat menggunakan angka pecahan yang menyatakan rasio

antara kedua jarak, yang juga merupakan rasio tajam penglihatan seseorang dibandingkan dengan tajam penglihatan pada orang normal (Guyton & Hall, 2007).. Dengan kartu snellen dapat ditentukan tajam penglihatan

seseorang, misalnya :

Tajam penglihatan 6/6 berarti pasien dapat melihat huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.

Bia pasien hanya dapat membaca huruf pada baris yang menunjukkan Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu snellen maka dilakukan uji hitung jari. Dari dapat terlihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter. Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien yang lebih buruk daripada 1/60. Orang normal dapat melihat lambaian tangan pada jarak 300 meter. angka 50, maka tajam penglihatan orang tersebut 6/50.

Kadang-kadang mata hanya mengenal adanya sonar saja dan tidak dapat melihat lambaian tangan. Keadaan ini disebut tajam penglihatan

1/~. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tak Bila penglihatan sama sekali tidak mengena adanya sinar maka dikatakan penglihtannya adalah 0 atau buta total. (Sidartha, 2005) . Persentase efisiensi penglihatan dua mata dapat dihitung dengan rumus : % efisiensi penglihatan binocular. terhingga.

(3x% tajam penglihatan mata terbaik) + % efisiensi mata terburuk > : 4 =

PERSEPSI KEDALAMAN Secara normal, seseorang dapat merasakan jarak melalui tiga cara: (Guyton & Hall, 2007). 1. Ukuran bayangan dari objek yang telah dikenali pada retina

Bila seseorang sudah mengetahui bahwa seseorang yang dilihatnya mempunyai tinggi 6 kaki, ia dapat menentukkan jaraknya melalui besar bayangan orang tersebut pada retina. Ia tidak secara sadar memikirkan ukuran orang itu, namun otaknya telah belajar

menghitung secara otomatis jarak objek melalui ukuran bayangan 2. Fenomena pergerakan paralaks Cara penting lain yang dipakai mata untuk menentukan jarak adalah bila dimensi telah diketahui.

pergerakan paralaks. Bila melihat dari kejauhan dengan kedua matanya dalam keadaan benar-benar diam, seseorang tidak

merasakan pergerakan paralaks, namun bila orang itu menggerakan kepalanya ke salah satu sisi, bayangan objek yang dekat dengannya akan cepat bergerak menyilang retina, sedangkan menggerakkan kepalanya 1 inci ke samping ketika jarak suatu objek melewati retina, sedangkan bayangan objek yang letaknya 200 kaki dari mata tampaknya seperti tak bergerak. Jadi, bayangan objek yang jauh cenderung menetap. Contoh, dengan hanya 1 inci di depan matanya, bayangan itu seakan bergerak dengan

menggunakan mekanisme pergerakan paralaks ini, kita dapat mengetahui jarak relative dari berbagai objek, meskipun hanya dengan menggunakan satu mata. 3. Fenomena stereopsis

Cara lain yang dapat dipakai untuk merasakan paralaks adalah dengan penglihatan binokuler. Karena mata yang satu berjarak kurang lebih 2 inci dari mata yang lain, maka bayangan di kedua retina berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, sebuah objek yang letaknya 1 inci di depan hidung akan membentuk suatu bayangan di sisi kiri dari retina mata kiri tetapi di sisi kanan dari retina mata kanan, sedangkan suatu objek kecil yang berjarak 20 kaki di depan hidung akan membentuk bayangan pada titik korespondensi di bagian tengah kedua retina. Paralaks macam ini memperlihatkan adanya bayangan suatu bulatan merah dan bujur sangkar kuning yang sebenarnya terbalik di kedua retina karena jarak kedua bentuk tersebut berbeda di depan mata. Keadaan ini akan menghasilkan

suatu macam paralaks yang akan muncul pada setiap kali kedua mata digunakan. Paralaks binokuler (atau stereopsis) inilah yang merupakan sebab utama kedua mata seseorang itu lebih mampu menentukan jarak relative objek yang dekat daripada orang yang hanya mempunyai satu mata. Namun, stereopsis ini sebenarnya tak berguna pada persepsi kedalaman yang berjarak lebih dari 50 hingga 200 kaki.

Kemampuan menentukan jarak ini disebut persepsi kedalaman. Alat yang dipakai pemeriksa untuk melihat mata pasien dan melihat retina dengan jelas adalah oftalmoskop. PERKEMBANGAN TAJAM PENGLIHATAN Bayi akan dapat berfiksasi pada usia 6 minggu, sedang mempunyai mengetahui sama atau tidaknya ketajaman penglihatan kedua maka akan Pada bayi dapat dinilai penglihatannya dengan melihat reflek fiksasi.

kemampuan untuk dapat mengikuti sinar pada usia 2 bulan. Untuk dapat dilakukan dengan uji menutup salah satu mata. Bila satu mata ditutup akan menimbulkan reaksi berbeda pada sikap anak, yang berarti

ia sedang memakai mata yang tidak disenangi atau kurang baik dibandingkan mata lainnya (Sidartha, 2005).. Tajam penglihatan anak baru dapat diukur secara kuantitatif pada

suia 2 tahun. Tajam penglihatan bayi berkembang sebagai berikut :

1. Baru lahir dengan menggerakkan kepala ke sumber cahaya besar arah sinar

2. 6 minggu mulai melakukan fiksasi, gerakan mata tidak teratur ke 3. Usia 3 bulan dapat menggerakkan mata ke arah benda bergerak 4. Usia 4-6 bulan koordinasi penglihatan dengan gerakan mata, dapat melihat dan mengambil objek 5. Usia 9 bulan tajam penglihatan 20/200 7. Usia 2 tahun tajam penglihatan 20/40 8. Usia 3 tahun tajam pengliahan 20/30 9. Usia 5 tahun tajam penglihatan 20/20 Buta dinyatakan dalam penilaian yang berbeda pada setiap Negara,

6. Usia 1 tahun tajam penglihatan 20/100

sperti di Inggris buta bila tajam penglihatan kurang dari 3/60, di Amerika tajam penglihatan kurang dari 20/200. Sedangkan menurut WHO : 1. Kategori 1 adalah rabun atau penglihatan < 6/18 2. Kategori 2 adalah rabun, tajam penglihatan <6/60 < 10 derajat

3. Kategori 3 adalah buta, tajam pengliahtan <3/60, lapang pandangan

4. Kategori 4 adalah buta, tajam penglihatan <1/60, lapang pandangan 5. Kategori 5 adalah buta dan tidak ada persepsi sinar PEMERIKSAAN GANGGUAN TAJAM PENGLIHATAN istirahat/tanpa akomodasi) dari depan pasien dengan cahaya yang cukup digunakan kartu snelen berbentuk huruf E atau Dipakai kartu snellen dengan jarak 6 meter (mata dalam keadaan < 5 derajat

dan tidak menyilaukan. Untuk anak kecil yang belum bisa membaca gambar-gambar benda/binatang yang mudah dikenal. Bila pada uji snellen pengihatan kurang maka tajam penglihatan diukur dengan menentukan kemampuan melihat jumlah jari (hitung jari) ataupun proyeksi sinar (Sidartha, 2002).

Uji Snellen Chart

Uji lubang kecil (pin-hole test). Tujuannya untuk mengetahui apakah tajam penglihatan yang kurang disebabkan oleh kelainan refraksi atau bukan. Bila terdapat perbaikan tajam penglihatan dengan menggunakan pin-hole berarti ada kelainan refraksi, sebaliknya bila terjadi kemunduran penglihatan berarti ada gangguan pada media penglihatan. (Sidartha, 2003).

Uji pengkabutan (fogging test). Digunakan untuk pemeriksaan astigmat dengan menggunakan lensa positif untuk mengistirahatkan akomodasi. Dengan mata istirahat, pasien melihat kea rah juring astigmat (gambar ruji), bila garis vertical terlihat jelas berarti garis ini terproyeksi dengan silinder negative dengan sumbu 180 ,
0

baik di retina dan diperlukan koreksi bidang vertical menggunakan lensa ditambahkan hingga garis-garis pada juring astigmat tampak sama jelas (Sidartha, 2003).. kekuatan lensa silinder

Uji celah stenopik. Celah selebar 1mm yang terdapat pada lempeng uji dipergunakan untuk mengetahui adanya astigmat, sumbu koreksi serta ukuran astigmat (Sidartha, 2003).. Uji silinder silang (cross-cylinder Jackson). Dua lensa silinder yang sama tetapi dengan kekuatan berlawanan diletakkan dengan sumbu saling tegak lurus sehingga ekivalen sferisnya nihil. Digunakan untuk melihat (Sidartha, 2003)..

koreksi silinder pada kelainan astigmat sudah cukup atau belum Uji keseimbangan merah-hijau. Diperiksa 1 per satu mata dengan melihat kartu merah-hijau yang ada huruf diatasnya, bila huruf di atas warna tampak lebih jelas berarti mata dalam kondisi myopia (Sidartha, 2003).. Uji dominan mata. Untuk mengetahui mata dominan pada anak. Satu mata ditutup kemudian mata yang lainnya. Bila mata yang dominan ditutup maka anak akan menggerakkan kepalanya untuk melihat benda dengan mata yang dominan (Sidartha, 2003)..

Uji crowding phenomena. Untuk mengetahui adanya amblyopia. Pasien diminta membaca huruf kartu snellen sampai huruf terkecil yang dibuka satu persatu atau yang di isolasi, kemudian isolasi huruf dibuka sehingga tampak sebaris huruf. Bila terjadi penurunan tajam penglihatan dari satu (Sidartha, 2003)..

huruf ke satu baris, maka crowding phenomena positif, ada amblyopia

BUTA DAN PENGLIHATAN KURANG (LOW VISION)


PENGLIH ATAN NORMAL PENGLIH ATAN HAMPIR LOW VISION LOW VISION BERAT Visus 6/60, 6/90, 6/120 LOW VISION NYATA Visus HAMPIR BUTA BUTA TOTAL

NORMAL

SEDANG

Visus 6/3, Visus 6/9, Visus 6/5, 6/7,5 6/6, 5/9, 6/12, 6/24, 6/21 6/15, 6/18, 6/30, 6/38

6/240

Penglihata n

dari 4 kaki rangsanga untuk menghitun g jari n sama sekali 0 sinar

kurang mengenal

Tidak

Efisiensi penglihata n % Mata normal dan sehat

Efisiensi penglihata

Efisiensi penglihata n 40-60% Dengan kaca-mata kaca perbesar masih dapat membaca dengan cepat.

Efisiensi penglihata n 10-20% Masih mungkin dan mobilitas umum, tetapi mendapat kesukaran

Efisiensi penglihata n 5% Diperluka putih untuk mengenal lingkunga n, minat

<5%

95-100 n 75-90 % Tidak menimbul kan masalah yang gawat, akan tetapi perlu diketahui penyebab mungkin

kuat atau orientasi

n tongkat n t,

Penglihata bermanfaa pada keadaan Harus nakan alat non-visual

tidak ya kecuali pada alat indera lainnya atau tidak mata. tergantung

Selurunhn

hanya tertentu.

pada lalu masih lintas dan mungkin melihat membaca

yang kuat mempergu

suatu penyakit yang masih dapat diperbaiki.

nomor mobil. Untuk

dengan kaca pembesar.

membaca lensa kuat. jadi lambat.

diperlukan pembesar Membaca

(Sidartha, 2003)

KELAINAN TAJAM PENGLIHATAN 1. BUTA Definisi dan klasifikasi seseorang tidak

Secara fungsional adalah berkurangnya penglihatan sehingga mampu mandiri dalam pekerjaan, menyebabkan

seseorang tergantung pada orang lain, badan, atau alat bantu agar dapat hidup. WHO mengkategorikan gangguan penglihatan seperti pada tabel di bawah : (Witcher, 2007)

Kebutaan dikategorikan bila didapatkan hasil koreksi visus terbaik hanya 3/60, 1/60, ataupun tidak adanya persepsi cahaya. Jadi menurut klasifikasi menurut WHO terbagi atas 5 kategori: 1. Kategori 1 adalah rabun atau penglihatan < 6/18

2. Kategori 2 adalah rabun, tajam penglihatan <6/60

3. Kategori 3 adalah buta, tajam pengliahtan <3/60, lapang pandangan 4. Kategori 4 adalah buta, tajam penglihatan <1/60, lapang pandangan 5. Kategori 5 adalah buta dan tidak ada persepsi sinar Epidemiologi di seluruh dunia saat ini, dan sedikitnya terdapat 135 juta orang yang mengalami disabilitas penglihatan yang signifikan. Sembilan puluh persen orang buta hidup di Negara-negara yang sedang berkembang, umumnya di Asia (sekitar 20 juta) dan Afrika (sekitar 6 juta), sebagian besar berkumpul di daerah yang kurang berkembang di desa dan bagian kumuh lebih tinggi dibandingkan dengan resiko di daerah industry maju di Amerika dan Eropa (Witcher, 2007). perkotaan. Resiko kebutuhan di komunitas yang terabaikan ini 10-40 kali WHO memperkirakan bahwa terdapat lebih dari 50 juta orang buta < 5 derajat < 10 derajat

Etiopatogenesis lainnya adalah trakoma, lepra, onkosersiasis, dan xeroftamia. Selain itu Katarak menjadi penyebab utama kebutaan. Penyebab penting

ukus kornea juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kebutaan. ablation retina, galukoma dan gangguan degenerasi retina herediter.

Penyebab lainnya adalah retinopati diabetic, keratitis herpes simpleks, Katarak. Seiring dengan peningkatan usia harapan hidup, jumlah orang yang terkena semakin bertambah. Katarak menyebabkan kekeruhan pada seseorang bahkan dapat menyebabkan kebutaan. lensa yang semakin lama menyebabkan penurunan tajam penglihatan Trakoma. Trakoma menyebabkan keratokonjungtivitis bilateral, biasanya pada masa kanak-kanak dan menyebabkan pembentukan jaringan parut kornea pada masa dewasa, yang apabila parah menyebabkan kebutaan. Onkosersiasis. Ditularkan melalui gigitan blackfly, yang berkembang di aliran sungai yang jernih (river blindless). Manifestasi utama pada mata adalah keratitis, uveitis, retinokoroiditis, dan atrofi optic. Penyakit ini dapat menimbulkan kebutaan. Xeroftalmia. Timbul akibat hipovitaminosis A yang secara klinis terjadi

xerosis konjungtiva dengan bercak bitot yang khas dan perlunakan kornea (keratomalasia) yang dapat menyebabkan perforasi kornea (Witcher, 2007). Pencegahan

Tergantung dari etiologi kebutaan itu sendiri. Misalnya pada katarak mencegah eksposure/pajanan sinar ultraviolet secara berlebihan, pada trakoma dengan perbaikan higinitas, onkosersiasis dengan eradikasi serangga dan melindungi diri dengan melakukan skrining. Xeroftalmia dicegah dengan mencukupi kebutuhan vitamin A terutama pada bayi dan anak yang lebih sering terkena (Witcher, 2007).

Pengobatan 1. Implantasi lensa intraocular pada katarak. 2. Pemakaian kacamata pada gangguan refraksi 3. Pada trakoma dengan pembedahan, pemberian antibitotik xeroftamia Rehabilitasi 4. Pemberian vitamin A dan perbaikan gizi secara umum pada kasus

1. Didirikan sekolah-sekolah khusus untuk orang buta, dilakukan latihan-latihan sebelum bersekolah oleh tenaga-tenaga yang terlatih, latihan pada anaknya yang menderita. dan orang tua penderita di didik untuk memberikan petunjuk serta 2. Keikutsertaan orang-tua dalam mendukung perkembangan anaknya yang mengalami kebutaan seperti mengusahakan agar si anak dapat berjalan, bermain, menyanyi, dan bercerita. 3. Untuk tuna netra dididik untuk pekerjaan pekerjaan tertentu di samping pekerjaan sehari-hari dalam pendidikan khusus untuk orang buta.

4. Latihan mobilitas 5. Penerapan system membaca untuk orang buta dengan braille 6. Penggunaan perangkat eektronik seperti optakon untuk mengubah bayangan visual huruf-huruf menjadi bentuk taktil (Witcher, 2007) 2. LOW VISION

Adalah kebutaan yang tidak ireversibel dan tidak dapat diperbaiki secara medis. Keadaan ini terjadi bila terdapat kerusakan pada retina ataupun saraf penglihatan. Low vision memerlukan alat bantu yang penglihatan. Terdapat 2 tipe alat yang dikenal yaitu optikal dan nonoptikal (Sidartha, 2005). Alat bantu penglihatan (Sidartha, 2005). berbeda. Alat bantu low vision adalah alat bantu yang memperbaiki

Alat Optik. Mempergunakan lensa atau gabungan lensa untuk membuat pembesaran dari benda yang dilihat. Bentuk ini sangat berbeda dalam sistemnya dengan kaca mata biasa. Lensa kontak. Gangguan penglihatan akibat kornea yang ireguler seperti

astigmat ireguler pada jaringan parut kornea dapat diperbaiki dengan lensa kontak. Dengan lensa kontak dapat diperbaiki tajam penglihatan dapat pula diperbaiki lapang pandangan yaitu terganggu pada afakia dan myopia.

Lensa kontak teleskopik. Pemakaian lensa teleskopik dengan memakai lensa kontak sebagai ocular akan memperbesar lapang pandangan, ringan, dan secara kosmetik tidak nyata memakai lensa teleskopik. memakai lensa objektif dan ocular yang tebal. Namun memiliki kerugian karena sulit mengukur kekuatannya karena Lensa kontak dengan lubang kecil. Berguna pada astigmat ireguler, kekeruhan pada kornea, pupil yang melebar terus, pupil distorsi, koloboma iris, dan aniridia

Kacamata pembesar. Diciptakan untuk pekerjaan dekat, dan dapat dibuat sebagai kacamata. Pemakaianya terutama pada pasien dengan lapang pandang sempit, 10 derajat atau lebih kecil. Teleskop. Untuk pembesaran pada penglihatan jauh. memberikan pembesaran bayangan benda. Lensa pembesar dapat dilihat.

Loupe. Diapakai dengan memakai lensa-lensa sferis positif yang akan binocular. Kacamata pembesar diberikan dengan

mengingat tajam penglihatan dan huruf yang diinginkan pasien untuk Kacamata berubang kecil. Lensa ini akan memperbaiki penglihatan mata dengan fungsi macula yang masih baik. Dengan memakai kacamata ini maka mata melatih diri dengan membaca terus tanpa terputus-putus baris demi baris.

Pembesaran melihat dekat dengan system non-optik Mendekatkan benda. Makin dekat benda makin besar bayangannya dengan jarak 20 kaki didekatkan sampai 10 kaki. pada retina. Pembesaran akan menjadi 2 kali lipat bila benda

Huruf diperbesar. Biasanya dipakai cetakan huruf 18 titik. Pembesaran melihat jauh dengan system optic Kacamata teleskopik. Pinhole. System proyeksi. Misalnya CCTV.

Clip on. Lensa yang dijepitkan merupakan kacamata teleskopik atau Lensa kontak. pinhole yang dijepitkan pada kacamata biasa.

Alat penolong lain. Membaca dan steno dengan huruf braille. Alat low vision non-optik. Alat bantu tulis Cetak huruf besar buku, Koran, dan majalah Kartu main besar Jam kontras kuat

Alat dial telepon besar Alat yang dapat bicara (jam dan computer) Alat scan yang dapat membaca dan mencetak disertai pembesaran Tehnik non optic yang paling sederhana adalah dengan mendekatkan benda yang dilihat. Meletakkan dekat sekali ke mata benda yang akan dilihat atau duduk dekat sekali (1 meter) pada layar televise. PATOLOGI LOW VISION 1. Pandangan kabur. Dapat ditimbulkan oleh kelainan di media optic. Silau dan fotofobia dapat juga menjadi penyebab. Setiap penyakit kornea, katarak, pengeruhan kapsul lensa, atau kekeruhan vitreus

mempengaruhi refraksi berkas cahaya yang masuk ke mata.

Refraksi yang serampangan tersebut menyebabkan berkurangnya 2. Skotoma sentral. Penglihatan sentral penting untuk detil, penglihatan warna, dan penglihatan siang hari. Dua penyebab tersering penyakit macula adalah degenrasi macula terkait-usia atrofik dan eksudatif. Penyebab lainnya adalah ubang macula, degenerasi macula miopik, penyakit nervus optikus (skotoma sekosentral) dan kelainan macula kongenital. pada stadium awal degenerasi macula terkait usia atrofik, pasien sering mengeluhkan penglihatan sentral kabur atau terdapat katarak yang memperburuk gambaran. terdistorsi. Penglihatan perifer tidak terpengaruh kecuali bila penglihatan sentral menimbulkan kesulitan membaca, mengenali wajah, dan detil-detil lain. Skotoma padat tidak ada pada degenrasi macula atrofik dan biasanya tidak ada pada penyakit eksudatif, subretina atau koroid. kecuali bila terjadi fibrosis retina yang mengikuti perdarahan 3. Skotoma perifer. Skotoma di lapang pandang perifer khas untuk glaucoma stadium-akhir, retinitis pigmentosa, retinopati diabetic yang diterapi dengan fotokoagulasi, serta kelainan dan penyakit pandang perifer penting untuk menentukan lokasi diri dalam ruang, potensi bahaya di lingkungan sekitar (Witcher, 2007). system saraf pusat, seperti tumor, stroke, atau trauma. Lapang mendeteksi pergerakan dan untuk kewaspadaan akan adanya ketajaman penglihatan, silau, dan penurunan kontras.

Kehilangan

Visus mata merah 1. Keratitis

turun Visus mata merah

turun Visus

turun Visus

menurun

mendadak dengan mendadak

tanpa perlahan tanpa lainnya mata merah 1. Katarak 1. Trauma mata 2. Gangguan refraksi

2. Keratokonjungti 3. Keratokonjungti 4. Keratitis vitis sika sklerotikan vitis epidemi

1. Neuritis optic 2. Ablasi retina 3. Obstruksi vena retina sentral retina sentral 4. Oklusi arteri

2. Glaucoma 3. Retinopati, etc

5. Keratitis dimer 6. Keratitis filamentosa

5. Amblyopia toksik 6. Migren fugaks 7. Amaurosis 8. Uveitis is

7. Ulkus mooren 8. Ulkus sentral 9. Ulkus 10. 11. 12.

posterior/koroidit

neruoparalitik serpens akut ateromatosis vogt KoyanagiHarada Keratitis Tukak Tukak Sindrom Ulkus Ulkus

9. Thrombosis arteri koroid interna 10. 11. 12. 13. Retinopati

serosa sentral malingering iskemik Hysteria dan Okulopati Buta sentral

13. 14. 15.

neuroparalitik kornea

bilateral, etc

marginal

PENYAKIT DENGAN VISUS MENURUN (Sidartha, 2005)

REFERENSI 1. Guyton & Hall. 2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11. 2. Ganong, W.F. 2003.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 20. Jakarta 3. Sidartha, I dkk. 2003. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI 4. Sidartha, I dkk. 2005. Ilmu Penyakit Mata. FKUI 5. Whitcher J.P & Riordan, P. Oftalmologi Umum. Jakarta : EGC : EGC Jakarta : EGC