Anda di halaman 1dari 8

Analisa Arsitektural Bangunan yang Ada di Jalan Taman Siswa

Ruth Romaito Sinaga 12/336419/TK/40241 Kelompok 11 / Andrea Palladio

Inti terpenting dalam pembuatan sebuah bangunan adalah analisis dan konsep. Tidak bisa dimungkiri, harga mahal dari seorang arsitek terletak pada idenya. Tidak mudah juga tidak sulit mendalami dunia arsitek, karena sebuah arsitektur bangunan merupakan ciri khas dari sang arsitek. Selama ini, masyarakat pada umumnya menilai bahwa hal terpenting dalam membangun sebuah bangunan terletak pada pondasinya. Tidak sedikit pula yang menyangka, bahan material merupakan satu dari sekian banyak inti pokok penting membangun sebuah gedung.

Pendopo Agung Taman Siswa Sejak diresmikan Ki Hajar Dewantara pada 1938, Pendopo Agung Tamansiswa sering dijadikan sebagai tempat pertemuan atau kegiatan seni budaya. Hal inilah yang membuat keluarga tamansiswa berniat menjadikan Pendopo Agung Tamansiswa sebagai pusat kebudayaan nasional.

http://kihajartamansiswa.files.wordpress.com/2011/12/pict00212.jpg

Museum Dewantara Kirti Griya


Dewantara Kirti Griya adalah rumah bekas kediaman Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa. Dalam konsep pendidikan beliau, lingkungan sekolah harus memilih suasana kekeluargaan dan oleh karenanya beliau

menghendaki untuk bertempat tinggal di dalan lingkungan perguruan yang didirikannya. Suasana kekeluargaan yang hangat ini hingga kini masih terasa dan dapat dihayati oleh para pengunjung kompleks ini. System pendidikan Nasional Taman Siswa menggunakan pendekatan budaya dan oleh karenanya tidaklah mengherankan bilamana dalam kompleks ini terdapat pendopo yang indah, yang dipergunakan untuk kegiatan latihan tari dan karawitan para siswa.

http://www.google.co.id/imgres?hl=en&client=firefox-a&sa=X&rls=org.mozilla:enUS:official&biw=1304&bih=588&tbm=isch&prmd=imvns&tbnid=FCV57ghxb1IL6M:&imgrefurl=http://museum.jogjatogo.co m/photos~museum

Fungsi Museum Kirti Griya Museum sebagai tempat penyimpanan benda-benda dan tulisan-tulisan bersejarah mempunyai nilai kultural yang tinggi dan menyimpan fakta sejarah yang mempunyai arti penting bagi generasi selanjutnya. Dengan melihat museum maka akan terbayang semua peristiwa masa lalu yang terekam di dalamnya. Nilai-nilai kultural dan semangat perjuangan tersebut diharapkan dapat menyentuh jiwa pengunjungnya sehingga tergerak untuk melestarikannya. Sesuai dengan derap kemajuan alam dan jaman, maka Museum Dewantara Kirti Griya juga berusaha meningkatkan diri dalam berbagai aspek antara lain: Peningkatan dibidang fisik, tata pameran, koleksi benda bersejarah dan manuskrip-manuskrip yang tinggi nilainya. Walau peningkatan dilakukan seirama perkembangan alam dan jaman, tetapi Museum Dewantara Kirti Griya berusaha untuk tetap menjaga sifat dan ciri khas yang ada padanya sebagai suatu memorial. Struktur dan konstruksi dalam museum Dewantara Kirti Griya ini masih asli dari arsitektur jaman Belanda terdahulu. Itu terlihat dari bentuknya dan kekuatan bangunannya. Bangunan peninggalan jaman Belanda dulu pasti jauh lebih kuat dibandingkan dengan bangunan-bangunan modern jamansekarang ini. Hal ini dikarenakan bahwa pada jaman

dahulu (termasuk jaman penjajahan), bahan bangunan yang ada masih kuat , yang berasal dari alam,, sedangkan bahan bangunan jaman sekarang ini sudah buatan semua dan cenderung memiliki kelemahan dan batas waktu nya. Struktur Museum Perancangan konstruksi bangunannya pun pasti berbeda antara jaman dahulu dan sekarag. Itu terlihat dari berapa lama bangunan tersebut dapat bertahan. Museum Kirti Griya ini sudah berdiri sejak lama dan konstruksinya masih kuat, bentuk nya masih sama , walaupun ungkin sudah dilakukan brbagai macam perawatan bangunan seperti dicat ulang agar bangunan terlihat tetap indah Bangunan rumah yang berdiri di atas tanah seluas 5.594 m tersebut dibeli atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, Ki Supratolo dari Mas Adjeng Ramsinah pada tanggal 14 Agustus 1935. Konon bangunan rumah tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan gaya klasik Hindia Belanda/kolonial. Bangunan tercatat dalam buku register Kraton Ngayogyakarta tertanggal 26 Mei 1926, dengan nomor Angka 1383/1.H. Penelitian lingkungan, lingkungan yang dimaksud disini adalah bangunan tempat untuk menyimpan arsip. Petugas museum mengadakan penelitian terhadap bangunan yang akan digunakan untuk menyimpan arsip dan bertugas menilai apakah bangunan tersebut cocok digunakan untuk menyimpan arsip. Proses yang dilakukan adalah dengan menguji semua aspek lingkungan fisik yang meliputi : 1) Bangunan itu sendiri - Meneliti kondisi bangunan terhadap kemungkinan serangan api atau mudah terbakar. Oleh karena itu perlu diberikan aturan-aturan tertentu, misalnya larangan merokok atau menyimpan barang-barang yang mudah terbakar (bahan-bahan kimia, bahan bakar ) dalam gedung arsip. - Meneliti kondisi bangunan terhadap kemungkinan serangan banjir. Perlu dibuat saluran air yang tidak melalui bangunan tempat penyimpanan arsip. - Meneliti lokasi bangunan arsip yang hendaknya bebas dari tempat tempat industri, sebab polusi udara sebagai hasil pembakaran minyak sangat berbahaya bagi kertas-kertas arsip.

Sehingga dalam menentukan letak bangunan/pendirian bangunan dipertimbangkan hal-hal tersebut di atas untuk mencegah kemusnahan arsip. 2) Lingkungan dalam bangunan Yang dimaksud lingkungan dalam bangunan adalah ruangan tempat penyimpanan arsip. Perlu diadakan penelitian ruangan terhadap hal-hal sebagai berikut : a). Kelembaban ruangan, ruangan dijaga agar tetap kering dengan mengatur suhu udara dalam ruangan berkisar 65 F 25 F dan kelembaban udara 50% dan 65%. bisa juga dengan pemasangan AC secara terus menerus selama 24 jam yang juga bisa mengurangi banyaknya debu. b) Ruangan harus terang, dengan menggunakan penerangan sinar matahari yang dapat pula membasmi musuh-musuh kertas arsip. Namun diusahakan agar sinar matahari tidak mengenai langsung kertas, karena kertas-kertas arsip menjadi cepat rapuh dan arsip menjadi rusak. c) Ruangan harus diberi ventilasi secukupnya untuk mengatur suhu udara dalam ruangan, sehinggga ruangan tidak terlalu lembab. d) Kebersihan ruangan,diusahakan agar ruangan penyimpanan arsip selalu bersih sehingga tidak mengundang timbulnya serangga pemakan/perusak arsip. Pembersihan dapat dilakukan dengan vacuum cleaner sekurang-kurangnya seminggu sekali. 3) Keamanan bangunan, bangunan arsip hendaknya jauh dari kawasan industri yang mungkin membahayakan bagi keamanan gedung arsip. Misalnya jauh dari pabrik pembuatan bahan kimia untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran yang dapat memusnahkan gedung arsip dan polusi yang diakibatkan adanya pabrik/industri tersebut. 4) Depo penyimpanan, depo sebagai tempat penyimpanan arsip mengutamakan tugas pemeliharaan fisik arsip. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut : a) Menyimpan dan memelihara arsip terhadap kerusakan, kehancuran, kehilangan dan sebagainya.

b) Mengatur koleksi arsip sehingga penemuan kembali dapat terlaksana dengan cepat c) Mengatur tata ruang seefisien mungkin dalam hubungannya dengan volume arsip. d) Mengatur tata kerja yang dapat melayani arus keluar masuk arsip yang baik.

Sumber http://tourism.jogja.com/info/?Rkwvc1ovSVJZOFdiLw%3D%3D= http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/03/20/24753/pentingnya_konsep_arsitektu r_sebuah_bangunan/#.UHslKlFwntQ http://kihajartamansiswa.wordpress.com/