Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

I. DEFINISI
Glomerulonefritis Akut (GNA) ialah suatu reaksi imunologis pada ginjal terhadap bakteri atau virus tertentu.Yang sering ialah infeksi karena kuman sterptokokus.Penyakit ini sering ditemukan pada anak berumur antar 3-7 tahun dan lebih sering mengenai anak pria dibandingkan anak perempuan. GNA biasanya didahului oleh adanya infeksi ekstrarenal terutama di traktus respiratorus bagian atas atau kulit oleh kuman Steptococus beta hemolyticus golongan A, tipe 12, 4,16, 25, dan 40. Hubungan antara GNA dan infeksi Streptococus ini ditemukan pertama kali oleh Lohlein pada tahun 1907 dengan alasan bahwa : 1. Timbulnya GNA setelah terjadinya infeksi skarlatina. 2. Diisolasinya kuman Streptococus beta hemolyticus golongan A. 3. Meningkatnya titer anti-streptolisin pada serum pasien.

Antara infeksi bakteri dan timbulnya GNA terdapat masa laten selama lebih kurang 10 hari. Dari tipe-tipe tersebut di atas tipe 12 dan 25 lebih bersifat nefritrogen dari pada yang lain. Mengapa tipe yang satu lebih bersifat nefritrogendaripada yang lainnya belum diketahui dengan jelas.

II. ETIOLOGI
Faktor etiologinya banyak dan bervariasi : Reaksi imunologi : infeksi lupus erythematosus, streptococus. Sifilis, keracunan (timah hitam tridion), penyakit amyloid, thrombosis vena renalis, purpura anafilaktoid. Hipertensi. Mungkin faktor iklim atau alergi juga dapat mempengaruhi terjadinya GNA setelah infeksi dengan kuman Streptococus.

III. TANDA DAN GEJALA


1. Hematuria (urine berwarna merah kecoklat-coklatan) 2. Proteinuria (protein dalam urine) 3. Oliguria (keluaran urine berkurang) 4. Nyeri panggul 5. Edema, ini cenderung lebih nyata pada wajah dipagi hari, kemudian menyebar ke abdomen dan ekstremitas di siang hari (edema sedang mungkin tidak terlihat oleh seorang yang tidak mengenal anak dengan baik). 6. Suhu badan umumnya tidak seberapa tinggi, tetapi dapat terjadi tinggi sekali pada hari pertama. 7. Hipertensi terdapat pada 60-70 % anak dengan GNA pada hari pertama dan akan kembali normal pada akhir minggu pertama juga. Namun jika terdapat kerusakan jaringan ginjaltekanan darah akan tetap tinggi selama beberapa minggu dan menjadi permanen jika keadaan penyakitnya menjadi kronik. 8. Dapat timbul gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan, dan diare. 9. Bila terdapat ensefalopati hipertensif dapat timbul sakit kepala, kejang dan kesadaran menurun. 10. Fatigue (keletihan atau kelelahan) IV. PATOFISIOLOGI Suatu reaksi radang pada glomerulus dengan sebukan lekosit dan proliferasi sel, serta eksudasi eritrosit, lekosit dan protein plasma dalam ruang Bowman.Gangguan pada glomerulus ginjal dipertimbangkan sebagai suatu respon imunologi yang terjadi dengan adanya perlawanan antibodi dengan mikroorganisme yaitu streptokokus A. Reaksi antigen dan antibodi tersebut membentuk imun kompleks yang menimbulkan respon peradangan yang menyebabkan kerusakan dinding kapiler dan menjadikan lumen pembuluh darah menjadi mengecil yang mana akan menurunkan filtrasi glomerulus, insuffisiensi renal dan perubahan permeabilitas kapiler sehingga molekul yang besar seperti protein dieskresikan dalam urine (proteinuria). Skema Proses: Infeksi (Streptokokus A) Migrasi sel-sel radang ke dalam glomerular Pembentukan kompleks antigen-antibodi dalam dinding kapiler. Deposit complement dan anttracs netrofil dan monosit Enzim lysosomal merusak Fibrinogen

dan plasma protein lain membran dasar glomerular Meningkatkan permeabilitas

bermigrasi melalui dinding sel,

manifestasi klinis: proteinuria dinding glomerular

Eritrosit bermigrasi melalui dinding sel yang rusak Manifestasi: hematuria Proliferasi sel dan fibrin yang terakumulasi dalam kapsula bawmans. Menurunnya perfusi kapiler glomerular Manifestasi klinis: retensi cairan dan meningkatnya BUN dan kreatinin

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laju Endap Darah (LED) meningkat Kadar Hb menurun sebagai akibat hipervolemia (retensi garam dan air) Nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin darah meningkat bila fungsi ginjal mulai menurun Jumlah urine berkurang Berat jenis meninggi Hematuria makroskopis ditemukan pada 50 % pasien Ditemukan pula albumin (+), eritrosit (++), leukosit (+), silinder leukosit dan hialin Titer antistreptolisin O (ASO) umumnya meningkat jika ditemukan infeksi tenggorok, kecuali kalau infeksi streptokokus yang mendahului hanya mengenai kulit saja Kultur sampel atau asupan alat pernapasan bagian atas untuk identifikasi mikroorganisme Biopsi ginjal dapat diindikasikan jika dilakukan kemungkinan temuan adalah meningkatnya jumlah sel dalam setiap glomerulus dan tonjolan subepitel yang mengandung imunoglobulin dan komplemen.

VI. KOMPLIKASI Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi sebagai akibat berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti insufisiensi ginjal akut denag uremia, hiperfosfatemia, hyperkalemia dan hidremia. Walaupun oliguria atau anuria yang lama jarang terdapat pada anak, jika hal ini terjadi diperlukan peritoneum dialysis (bila perlu). Ensefalopati hipertensi merupakan gejala serebrum karena hipertensi. Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah, dan kejang-kejang. Hal inni disebabkan karena spasme pembuluh darah lokal dengan anoksia dan edema otak.

Gangguan Sirkulasi berupa dyspnea, ortopnea, terdapatnya ronki basah, pembesaran jantung dan meningginya tekanan darah yang bukan saja disebabkan spasme pembuluhan darah, tetapi juga disebabkan oleh bertambahnya volume plasma. Jantung dapat membesar dan terjadi gagal jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan di miokardium. Anemia yang timbul karena adanya hypervolemia di samping sintesisi eritropoietik yang menurun.

VII. PENATALAKSANAAN

a. Penatalaksaan Medis Tidak ada pengobatan yang khusus yang memengaruhi penyembuhan kelainan di glomerulus. Istirahat mutlak selama 3-4 minggu. Dahulu dianjurkan selama 6-8 minggu. Tetapi penyelidikan terakhir dengan hanya istirahat 3-4 minggu tidak berakibat buruk bagi perjalanan penyakitnya. Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotik ini tidak memengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan mengurangi menyebarnya infeksi

Streptococcus yang mungkin masih ada. Pemberian penisilin dianjurkan hanya untuk 10 hari. Pemberian profilaksis yang lama sesudah nefritisnya sembuh terhadap kuman penyebab tidak dianjurkan karenma terdapat imunitas yang menetap. Secara teoritis anak dapat terinfeksi lagi dengan kuman nefritogen lain, tetapi kemungkinan ini sangat kecil. Makanan pada faseakut diberikan makanan rendah protein (1 g/kg BB/hari) dan rendah garam (1g/hari). Makanan lunak diberikan pada pasien dengan suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu normal kembali. Bila ada anuria atau muntah, diberikan IVFD dengan larutan glukosa 10%. Pada pasien dengan tanpa kompliksi pemberian cairan disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan bila ada komplikasi seperti ada gagal jantung, edema, hipertensi dan oliguria, maka jumlah cairan yang diberikan harus dibatasi. Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian cairan dikurangi, pemberian sedative untuk menenagkan pasien sehingga dapat cukup beristirahat.Pada hipertensi dengan gejala serebral diberikan reserpine dan hidralazin. Mula-mula diberikan reserpin sebanyak 0,07 mg/kg BB secara intramuscular. Bila terjadi diuresis 5-10 jam

kemudian, selanjutmnya pemberian resepin per oral dengan dosis rumat 0,03 mg/kg berat badan/hari. Magnesium sulfat parenteral tidak dianjurkan lagi memberikan efek toksik. Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari), maka ureum harus dikeluarkan dari dalam darah. Dapat dengan cara peritoneum dialysis, hemodialisis transfuse tukar dan sebagainya. Diuretikum dulu tidak diberikan pada GNA, tetapi akhir-akhir ini pemberian furosamid (Lasix) secara intavena (1mg/kg/BB/kali/) dalam 5-10 menit tidak berakibat buruk pada hemodinamika ginjal fan filtrasi glomerulus. Bila timbul gagal jantung, diberikan digitali, sedativum dan oksigen.

b. Penatalaksanaan Keperawatan Istirahat Karena adanya kelainan jantung dan tekanan darah yang meninggi, pasien perlu

istirahat muthlak selama 2 minggu. Selam istirahat muthlak semua keperluan pasien harus ditolong di atas tempat tidur.Jika tekanan sudah normal selama 1 minggu pasien boleh duduk, kemudian berjalan di dalam ruangan secara bertahap. Beritahukan pada pasien apa yang boleh dilakukan. Pengawasan tanda vital Pengawasan tanda vital secara rutin dilakukan secara rutin 3 kali sehari. Jika terdapat suhu tinggi yang mendadak perlu dilakukan pengukuran suhu ekstra 1 jam kemudian setelah dilakukan usaha menurunkannya misalnya dengan mengompres. Bila perlu konsultasi ke dokter.Tekanan darah normal diukur setiap pagi. Jika terdapat tekanan diastole diatas 90 dan sistol diatas 140 mmHg tetapi masih dibawah 160 mmHg, tekanan darah diukur 3 kali sehari. Jika tekanan darah sampai 160 mmHg atau lebih diukur setiap jam sambil diperhatikan keadaan umumnya. Catatlah pada catatan khusus, dan hubungi dokter di setiap perkembangan pasien.Jika terdapat gejala dyspnea atau ortopnea, dan pasien terlihat lemah adanya kemungkinan gejala payah jantung, segera berikan posisi setengah duduk, berikan O2, dan hubungi dokter.Siapkan alat-alat untuk infus. Bila terdapat keluhan pusing Jika terdapat keluhan pusing, muntah-muntah, dan kesadaran menurun, ukur tekanan darah, periksakan ureum darah, dan hubungi dokter(atau terdapat keluhan pusing persiapkan saja alat-alat untuk periksa kimia darah).

Jika mendadak terjadi penurunan haluaran urin Periksalah dahulu apakah pasien tidak berkemih di tempatr lain dan perhatikan keadaan umumnya. Jika pasien makin lemah dan merupakan gejala gagal ginjal akut segera hubungi dokter, persiapkan infus, hentikan pemberian makanan yang mengandung protein dan mineral. Periksakan darah faal ginjal dan ukur tekanan darahnya.. Jika pasien mendapat obat-obatan Berikanlah pada waktunya dan tunggu sampai obat-obat tersebut betul-betul telah diminum(sering terjadi obat tidak diminum dan disimpan dibawah bantal pasien).Jika hal itu terjadi penyembuhan tidak seperti yang diharapakn.Selain pengawasan tanda vital dan istirahat pasien, perlu ditimbang berat badannya, setiap hari jika keadaannya mencurigakan. Jika tidak, ditimbang 2 kali seminggu: tetapi dapat sewaktu-waktu misalnya jika anak terlihat sembab atau diperlukan untuk dosis pengobatan maupun untuk pemeriksaan CCT atau UCT. Jika berat badan naik berlebihan dapat dicurigai pasien akan beralih menjadi sindrom nefrotik, karena ini juga merupakan salah satu komplikasi dari GNA kronik.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian 1. Identitas Klien GNA adalah suatu reaksi imunologi yang sering ditemukan pada anak umur 3-7 tahun lebih sering pada pria 2. Riwayat penyakit sebelumnya Adanya riwayat infeksi streptokokus beta hemolitik dan riwayat lupus eritematosus atau penyakit autoimun lain. 3. Riwayat penyakit sekarang Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging, bengkak sekitar mata dan seluruh tubuh. Tidak nafsu makan, mual , muntah dan diare. Badan panas hanya satuhari pertama sakit. 4. Pertumbuhan dan perkembangan Pertumbuhan : BB = 9x7-5/2=29 kg [ Behrman ], menurut anak umur 9 tahun Bbnya adalah BB umur 6 tahun = 20 kg ditambah 5-7 lb pertahun = 26 - 29 kg, tinggi badan anak 138 cm. Nadi 80100x/menit, dan RR 18-20x/menit,, tekanan darah 65-108/60-68 mm Hg. Kebutuhan kalori 70-80 kal/kgBB/hari. Gigi pemanen pertama /molar ,umur 6-7 tahun gigi susu mulai lepas, pada umur 1011 tahun jumlah gigi permanen 10-11 buah. Perkembangan : Psikososial : Anak pada tugas perkembangan industri X inferioritas, dapat menyelesaikan tugas menghasilkan sesuatu. 5. Pengkajian Perpola Pola nutrisi dan metabolik

Suhu badan normal hanya panas hari pertama sakit.Dapat terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya retensi natrium dan air, edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh.Klien mudah mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun. Adanya mual, muntah dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak adekuat. BB meningkat karena adanya edema.Perlukaan pada kulit dapat terjadi karena uremia. Pola eliminasi : Eliminasi alvi tidak ada gangguan, eliminasi urin : gangguan pada glomerulus menyebabkan sisa-sisa metabolisme tidak dapat diekskresi dan terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus yang tidak mengalami gangguan yang menyebabkan oliguria sampai anuria,proteinuria, dan hematuria. Pola Aktifitas dan latihan : Kelemahan/malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus karena adanya

hiperkalemia. Adanya edema paru maka pada inspeksi terlihat retraksi dada, pengggunaan otot bantu napas, teraba , auskultasi terdengar rales dan krekels , pasien mengeluh sesak, frekuensi napas. Kelebihan beban sirkulasi dapat menyebabkan pembesaran jantung (Dispnea, ortopnea dan pasien terlihat lemah) , anemia dan hipertensi yang juga disebabkan oleh spasme pembuluh darah. Hipertensi yang menetap dapat menyebabkan gagal jantung. Hipertensi ensefalopati merupakan

gejala serebrum karena hipertensi dengan gejala penglihatan kabur, pusing, muntah, dan kejang-kejang. GNA munculnya tiba-tiba orang tua tidak mengetahui penyebab dan penanganan penyakit ini. Pola tidur dan istirahat Klien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena adanya uremia, keletihan, kelemahan malaise, kelemahan otot, dan kehilangan tonus. Kognitif & perseptual Peningkatan ureum darah menyebabkan kulit bersisik kasar dan rasa gatal.Gangguan penglihatan dapat terjadi apabila terjadi ensefalopati, hipertensi. Hipertemi terjadi pada hari pertama sakit dan ditemukan bila ada infeksi karena imunitas yang menurun. Persepsi diri

Klien cemas dan takut karena urinenya berwarna merah dan edema dan perawatan yang lama. Anak berharap dapat sembuh kembali seperti semula. Hubungan peran Anak tidak dibesuk oleh teman temannya karena jauh dan lingkungan perawatann yang baru serta kondisi kritis menyebabkan anak banyak diam. B. Diagnosa keperawatan 1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kekurangan protein dan disfungsi ginjal. 2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi air dan natrium serta disfungsi ginjal. 3. Potensial terjadi infeksi [ ISK, lokal, sistemik ] berhubungan dengan depresi sistem imun 4. Potensial gangguan perfusi jaringan serebral/kardiopulmonal berhubungan dengan risiko krisis hipertensi. 5. Perubahan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi, uremia, kerapuhan kapiler dan edema. C. Rencana keperawatan 1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kekurangan protein dan disfungsi ginjal. Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan selama x24 jam diharapkan klien mampu beraktivitas seperti biasa. Kriteria Hasil: Klien tidak tampak lemah, klien tidak mengalami gangguan yang menyebabkan oliguria sampai anuria,proteinuria, dan hematuria.

INTERVENSI 1. Pantau kekurangan protein yang berlebihan albuminuria ] [proteinuri,

RASIONAL 1. Kekurangan protein berlebihan dapat menimbulkan kelelahan. 2. Diet yang adekuat dapat mengembalikan

2. Gunakan

diet

protein

untuk

kehilangan protein. 3. TKTP berfungsi menggantikan kadar protein dalam tubuh. 4. Tirah baring meningkatkan mengurangi penggunaan energi. 5. Latihan penting untukmempertahankan tunos otot 6. Keseimbangan aktifitas dan istirahat mempertahankan kesegaran. 7. Aktifitas yang bertahap menjaga

mengganti protein yang hilang. 3. Beri diet tinggi protein tinggi karbohidrat. 4. Tirah baring 5. Berikan latihan selama pembatasan aktifitas 6. Rencana aktifitas dengan waktu istirahat. 7. Rencanakan cara progresif untuk kembali evaluasi beraktifitas tekanan normal darah ;

kesembangan dan tidak mmemperparah proses penyakit

dan

haluaran protein urin.

2. Diagnosa :Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi air dan natrium serta disfungsi ginjal. Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan selama x24 jam diharapkan klien tidak menunjukan kelebihan volume cairan. Kriteria Hasil: Klien tidak menunjukkan edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh, kadar natrium dalam sirkulasi darah dalam batas normal.

INTERVENSI 1. Pantau dan laporkan tanda dan gejala 1,2. kelebihan cairan

RASIONAL Memonitor dapat kelebihan dilakukan cairan tindakan

sehingga

2. Ukur dan catat intak dan output setiap penanganan 4-8 jam 3. Catat jumlah dan karakteristik urine 3,4.Jumlah , karakteristik urin dan BB

4. Ukur berat jenis urine tiap jam dan dapat timbang BB tiap hari 5. Kolaborasi dengan gizi dalam

menunjukan

adanya

ketidak

seimbangan cairan. 5.Natrium dan protein meningkatkan osmolaritas sehingga tidak terjadi retriksi cairan. 6. Rangsangan dingin dapat merangsang tubuh dan pusat haus 7. Memonitor adanya ketidakseimba nangan elektrolit dan menentukan : kram tindakan penanganan yang tepat. elektrolit ketidak yang tepat

pembatasan diet natrium dan protein 6. Berikan es batu untuk mengontrol rasa haus dan masukan dalam

perhitungan intak 7. Pantau elektrolit

observasi adanya tanda kekurangan elektrolit tubuh a. Hipokalemia abd,letargi,aritmia

b. Hiperkalemia : kram otot, 8.Pemberian kelemahan c. Hipokalsemia:peka rangsang pada neuromuskuler d. Hiperfosfatemia: hiperefleksi, parestesia, kram otot, gatal, kejang e. Uremia : kacau mental, mencegah elektrolit.

seimbangan

letargi,gelisah 8. Kaji efektifitas pemberian elektrolit parenteral dan oral

3. Diagnosa Tujuan

:Potensial terjadi infeksi [ ISK, lokal, sistemik ] b.d. depresi sistem imun : setelah diberikan tindakan keperawatan selama x24 jam diharapkan klien

tidak mengalami infeksi setelah diberikan asuhan keperawatan. Kriteria Hasil: Klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi pada saluran kencing baik local maupun sistemik.

INTERVENSI 1. Kaji efektifitas pemberian

RASIONAL 1. Imunosupresan berfunsi menekan sistem imun bila pemberiannya tidak ekeftif maka tubuh akan sangat rentan terhadap infeksi

imunosupresan

2. Pantau leukosit 3. Pantau suhu tiap 4 jam 4. Perhatikan karakteristik urine,

2. Indikator adanya infeksi 3. Memonitor suhu & mengantipasi infeksi 4. Urine keruh menunjukan adanya infeksi saluran kemiih 5. Kateter dapat menjadi ke media saluran

kolaborasi jika keruh dan berbau 5. Hindari pemakaian alat/kateter pada saluran urine

masuknya kemih 6. Pantau tanda dan gejala ISK dan lakukan ISK. 7. Gunakan dan anjurkan tehnik cuci tangan yang baik. 8. Anjurkan pada klien untuk tindakan pencegahan 6. Memonitor sehingga

kuman

adanya dapat

infeksi dilakukan

tindakan dengan cepat 7. Tehnik cuci tangan yang baik dapat memutus rantai penularan. 8. Sistem imun yang terganggu

menghindari orang terinfeksi 9. Lakukan pencegahan kerusakan integritas kulit 10. Anjurkan pasien ambulasi dini.

memudahkan untuk terinfeksi. 9. Kerusakan merupakan pertama tubuh 10. Mencegah terjadinya cedera. integritas hilangnya kulit barrier

4. Diagnosa :Potensial gangguan perfusi jaringan: serebral/kardiopulmonal b.d. resiko krisis hipertensi. Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan selama x24 jam klien tidak

mengalami perubahan perfusi jaringan.

Kriteria Hasil : Tekanan darah dan nadi klien dalam batas normal, Klien tidak mengalami penurunan kesadaran. INTERVENSI 1. Pantau tanda dan gejala krisis 1. Krisis suplay RASIONAL hipertensi darah ke menyebabkan organ tubuh

hipertensi [ Hipertensi, takikardi, bradikardi, kacau mental,

berkurang. 2. Tekanan darah yang suplay tinggi darah

penurunan tingkat kesadaran, sakit kepala, tinitus, mual, muntuh,

menyebabkan berkurang.

kejang dan disritmia]. 2. Pantau tekanan darah tiap jam dan kolaborasi bila ada peningkatan TD sistole >160 dan diastole > 90 mm Hg 3. Kaji keefektifan obat anti

3. Efektifitas

obat

anti

hipertensi

penting untuk menjaga adekuatnya perfusi jaringan.

hipertensi 4. Pertahankan rendah TT dalam posisi

4. Posisi tidur yang rendah menjaga suplay darah yang cukup ke daerah cerebral

5. Diagnosa :Perubahan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi, uremia, kerapuhan kapiler dan edema. Tujuan : Setelah diberiokan tindakan keperawatan selama x24 jam diharapkan klien tidak menunjukan adanya perubahan integritas kulit selama menjalani perawatan. Kriteria Hasil: Turgor kulit < 2 detik, kadar ureum dalam darah dalam batas normal, tidak adanya penumpukan cairan (edema).

INTERVENSI 1. Kaji kulit dari kemerahan, 1.

RASIONAL Mengantisipasi adanya kerusakan kulit

kerusakan, memar, turgor dan suhu. 2. Jaga kulit tetap kering dan bersih 3. Bersihkan & keringkan daerah

sehingga dapat diberikan penangan dini. 2,3. Kulit yang kering dan bersih tidak mudah terjadi iritasi dan mengurangi media pertumbuhan kuman.

perineal setelah defikasi 4. Rawat kulit dengan menggunakan

lotion untuk mencegah kekeringan 4. Lotion dapat melenturkan kulit sehingga untuk daerah pruritus. 5. Hindari penggunaan sabun yang keras dan kasar pada kulit klien 6. Instruksikan klien untuk menggaruk daerah pruritus. 7. Anjurkan ambulasi semampu klien. 6. Menggaruk menimbulkan kerusakan 8. Bantu klien untuk mengubah posisi kulit. setiap 2 jam jika klien tirah baring. 9. Pertahankan linen bebas lipatan 10. Beri pelindung pada tumit dan siku. 11. Lepaskan pakaian, perhiasan yang dapat menyebabkan sirkulasi 10. Lipatan menimbulkan tekanan pada kulit. 11. Sirkulasi yang terhambat memudahkan terjadinya kerusakan kulit. 12. Elastisitas kulit daerah edema sangat kurang sehingga mudah rusak 13.Nutrisi yang adekuat meningkatkan pertahanan kulit 7,8.Ambulasi dan perubahan posisi tidak tidak mudah pecah/rusak. 5.Sabun yang keras dapat menimbulkan kekeringan kulit dan sabun yang kasar dapat menggores kulit.

meningkatkan sirkulasi penekanan pada satu sisi.

dan mencegah

terhambat. 12. Tangani area edema dengan hati hati. 13. Pertahankan nutrisi adekuat.

D. Evaluasi 1. Klien mampu melakukan aktivitas seperti biasa. 2. Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda edema (penumpukan cairan) dan Turgor kulit <2 detik. 3. Klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. 4. Kadar ureum dalam darah dalam batas normal 5. TTV pasien dalam batas normal.