Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MAKALAH AGAMA

RUKUN SHOLAT JENAZAH OLEH: DIDING MANDALA PUTRA KELAS XI IPA II

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un Artinya: "Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah SWT. jualah kami kembali" Lafadz/Bacaan tersebut sebaiknya diucapkan seorang muslim yang apabila tertimpa musibah atau menerima kabar duka cita seseorang (muslim). Umat Islam mempercayai bahwa Allah SWT. adalah Esa yang Maha memberi dan Maha mengambil, oleh karenanya, kita sebagai seorang muslim harus berserah diri dan bersyukur kepada Allah SWT. atas segala apa yang kita terima. Rasullah SWA., Bersabda : " Barang siapa yang menghadiri/melayat jenazah sampai jenazah itu selesai di Shalati, maka ia mendapatkan satu qirath. dan barang siapa yang menghadirinya sampai jenazah itu selesai di makamkan, maka ia mendapatkan dua qirath" (Hr. Abu Hurairah). Hukum Shalat Jenazah Shalat Jenazah termasuk dari macam-macam shalat-shalat sunnah, shalat jenazah dilakukan umat islam jika ada seseorang (muslim) lainnya yang meninggal dunia. Hukum Shalat Jenazah adalah "Fardhu Kifayah" artinya jika tidak ada yang menshalati jenazah yang masih hidup semuanya berdosa. Syarat shalat jenazah

Shalat jenazah sama halnya dengan shalat Fardhu/Sunnah yaitu dalam hal diwajibkan menutupi aurat, suci dari hadats besar/kecil, suci badan, suci pakaian dan tempatnya dan harus menghadap kiblat. Jenazah harus sudah dimandikan/disucikan dan dikafankan, jenazah diletakan sebelah kiblat/didepan orang yang menshalatkan, kecuali kalaushalat dilakukan di kubur/shalat ghaib.

Rukun dan Cara-cara Shalat Jenazah Shalat jenazah berbeda dengan shalat fardhu/sunnah, shalat jenazah tidak dengan adzan/iqamat, ruku', sujud, i'tidal dan tahiyyat. Shalat jenazah dilakukan hanya dengan empat takbir dan dua salam dilakukan dalam keadaan berdiri.

Shalat jenazah itu terdiri dari 8 rukun yaitu: a) Niat

Shalat jenazah sebagaimana shalat dan ibadah lainnya tidak dianggap sah kalau tidak diniatkan.Dan niatnya adalah untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatankepada-Nya dalam agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah : 5). Rasulullah SAW pun telah bersabda dalam haditsnya yang masyhur :Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Setiap orang mendapatkan sesuai niatnya. (HR. Muttafaq Alaihi) Niat itu adanya di dalam hati dan intinya adalah tekad serta menyengaja di dalam hati bahwakita akan melakukan shalat tertentu saat ini. Adapun niat sholat jenazah adalah sebagai berikut: Untuk mayat Laki-laki Ushalli alaa haadzal mayyiti arbaa takbiraatin fardlal kifaayati (mamumam/imamam) lillahi taalaa. Artinya : aku niat shalat atas mayat ini empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah Untuk mayat Perempuan Ushalli alaa haadzihil mayyiti arbaa takbiraatin fardlal kifaayati (mamumam/imamam) lillahi taalaa. Artinya : aku niat shalat atas mayat ini empat takbir fardu kifayah (makmum/imam) karena Allah

b)

Berdiri Bila Mampu

Shalat jenazah sah jika dilakukan dengan berdiri (seseorang mampu untuk berdiri dan gak ada uzurnya). Karena jika sambil duduk atau di atas kendaraan (hewan tunggangan), Shalat jenazah dianggap tidak sah.

c)

Takbir 4 kali

Aturan ini didapat dari hadits Jabir yang menceritakan bagaimana bentuk shalat Nabi ketika menyolatkan jenazah. Dari Jabi ra bahwa Rasulullah SAW menyolatkan jenazah Raja Najasyi (shalat ghaib) dan beliau takbir 4 kali. (HR. Bukhari : 1245, Muslim 952 dan Ahmad 3:355)

d)

Membaca surat Al-Fatihah (pada takbir pertama).

Bismillahir rahmanir rahim alhamdu lillahi rabbil alamin ar-rahmanir rahim maliki yaumid din iyyaka na' budu wa iyyaka nasta'in ihdinas siratal mustaqi siratal lazina an'amta alayhim gayril magdubi alayhim wa laddallin

Artinya:

Dengan menyebut nama allah yang maha pemurah (pengasih, pemberi) lagi maha penyayang. Segala puji bagi allah, tuhan seluruh alam yang maha pemurah lagi maha penyayang. yang memiliki (merajai) hari pembalasan hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan. tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus,

yaitu jalan orang orang yang emgkau beri nikmat atas mereka, bukan jalannya orang orang yang di benci dan bukan pula jalanya orang orang yang tersesat. Membaca Shalawat kepada Rasulullah SAW (pada takbir kedua).

e)

Dari jalan Kaab bin Ujrah


Allaahumma sholli alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad kamaa shollaita alaa ibroohiim wa alaa aali ibroohiim innaka hamiidum majiid, Allaahumma baarik alaa Muhammad wa alaa aali Muhammad kamaa baarokta alaa ibroohiim wa alaa aali ibroohiim innaka hamiidum majiid. Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia

f)

Doa untuk jenazah (pada takbir ketiga).

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW : "Bila kalian menyalati jenazah, maka murnikanlah doa untuknya." (HR. Abu Daud : 3199 dan Ibnu Majah : 1947). Adapun doa buat para jenazah adalah sebagai berikut: " Allahummaghfir lahuu warhamhu waaafihii wafuanhu. " Artinya: Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dab sejahtera, maafkanlah dia.

Untuk lebih lengkap:

" Allahummaghfir lahu (lahaa) warhamhu (haa) waaafihii (haa) wafu anhu (haa) wa akrim nuzulahu (haa) wawassamadkhalahu (haa) waghsilhu (haa) bilmaaI watstsalji wal-baradi wanaqqihi (haa) minal-khathaayaa kamaa yunaqqatats-tsaubul-abyadhu minad-danasi waabdilhu (haa) daaran khairan min daarihi (haa) wa ahlan khairan min ahlihi (haa) wa zaujan khairan min zaujihi (haa) wa adkhilhul jannata wa aiduhu min adabil qabri wa adabin nar. " Artinya: Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan ia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik daripada ahli keluarganya yang dahulu, dan peliharalah ia dari siksa kubur dan azab api neraka. Keterangan: Jika mayit perempuan kata lahu menjadi lahaa.

Jika mayit anak-anak doanya adalah:

Allahummajalhu faratan li abawaihi wa salafan wa dzukhro waidhotaw watibaaraw wa syafiian wa tsaqqil bihii mawaa ziinahuma wa-afri-ghish-shabra alaa quluu bihimaa wa laa taf-tin-humaa badahu wa laa tahrim humaa ajrahu.

Artinya: Ya Allah, jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafaat bagi orangtuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu-bapaknya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepeninggalnya, dan janganlah Tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya.

g)

Selesai takbir keempat, lalu membaca:

Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa badahu waghfir lanaa wa lahu Artinya:

Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami (janganlah Engkau meluputkan kami akan pahalanya), dan janganlah Engkau member kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.

h)

Salam

As-sallamu alaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Artinya: Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian. Adapun syarat shalat jenazah sama seperti ibadah shalat lainnya seperti thaharah, wudhu atau tayamum, menghadap kiblat dan niat. Adapun perbedaan dengan shalat shalat lainnya adalah, bahwa shalat jenazah ini boleh dikerjakan setiap waktu. Diantara syarat sah shalat jenazah, adalah suci dan tertutup aurat, hukum ini disepakati. Sedangkan menurut an-Nakhaiy dan Muhammad Ibn Jarir athThabari boleh mengerjakannya dengan tidak bersuci, karena shalat jenazah hanya sebagai doa untuk mayat agar Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepadanya, sedangkan untuk doa tidak disyaratkan suci dari hadas dan khubts. Selain itu shalat tersebut tidak ada rukuk dan sujud. Mayat diletakkan terlentang dan orang yang menshalatinya berdiri tidak jauh di belakangnya sambil menghadap kiblat. Kepala mayat berada di sebelah kanannya, dan tidak boleh ada penghalang antara dirinya dan mayat. Imam berdiri di sisi kepala jenazah lelaki dan di tengah pinggang jenazah wanita. Shalat jenazah boleh dilaksanakan di rumah ataupun di masjid, baik shalat jamaah maupun sendiri-sendiri. Walaupun demikian, shalat berjamaah lebih dianjurkan agar saf mereka diatur paling sedikit tiga saf atau lebih. Diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk melaksanakan shalat jenazah setelah jenazah dikebumikan (Shalat ghaib), meskipun sebelum dikubur jenazah sudah dishalatkan. Jika menshalatkan dua jenazah lelaki dan perempuan secara bersamasama, kebanyakan ulama berpendapat bahwa jenazah lelaki diletakkan di depan imam langsung, sedangkan jenazah wanita diletakkan di arah kiblat. Makmum muwafiq yang ketinggalan dari imamnya tanpa uzur dan ia tidak bertakbir sehingga imam melakukan takbir yang lain, maka shalatnya dianggap batal. Adapun makmum masbuq hendaklah ia bertakbir dan terus membaca alFatihah meskipun imam dalam shalat jenazah ini sedang membaca shalawat (dalam takbir kedua) atau membaca doa (dalam takbir ketiga).

Jika kita berada di tempat yang jauh dan tidak dapat menyolatkan jenazah, kita dapat melakukan sholat ghaib. Yang dimaksud shalat ghaib adalah menshalati jenazah yang berada di lokasi lain, bukan di hadapan orang-orang yang menshalatinya. Para ulama berselisih pendapat tentang siapa saja yang dibolehkan untuk dishalati jenazahnya dalam bentuk shalat ghaib. Diantara mereka ada yang berpendapat bolehnya shalat ghaib pada setiap yang meninggal baik yang telah dishalati secara langsung (bukan ghaib) maupun tidak, adapula yang berpendapat bahwa shalat ghaib khusus bagi Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dan tidak untuk yang lainnya. Dan adapula yang mengatakan dibolehkannya menshalati orang yang memiliki kedudukan yang terhormat dalam Islam. Dan yang rajih dalam masalah ini adalah disyariatkannya menshalati jenazah seorang muslim yang tidak dishalati dalam bentuk shalat secara langsung di kampung tempat dia meninggal. Adapun bagi jenazah yang telah dishalati secara langsung maka tidak disyariatkan melaksanakan shalat ghaib untuknya. Hal ini berdasarkan hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu anhu bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam -mengumumkan kematian Najasyi (Raja negeri Habasyah) rahimahullaahu taaalaa pada hari beliau meninggal maka beliau keluar ke Mushalla (tanah lapang untuk tempat shalat) bersama para shahabat, lalu Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam mengimami shalat bersama mereka dan beliau bertakbir empat kali. Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam menshalati Najasyi disebabkan karena beliau tidak dishalati di negerinya dan beliau menyembunyikan ke-islamannya hingga wafat, dan Allah mengabarkan berita meninggalnya pada Rasul-Nya shallallaahu alaihi wa sallam -. Dan telah banyak yang meninggal dari kalangan kaum muslimin di masa Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam di berbagai daerah, namun tidak dinukilkan pelaksanaan shalat ghaib atas meninggalnya mereka . Kalaulah shalat ghaib disyariatkan atas setiap yang meninggal tentunya beliau telah menshalati mereka. Demikian pula meninggalnya orang-orang yang terbaik setelah Rasullullah shallallaahu alaihi wa sallam seperti Abu Bakr Ash Shiddiq, Umar bin Al Khathab, Utsman dan Ali radhiyallaahu anhum namun tidak dinukilkan adanya pelaksanaan shalat ghaib terhadap kematian mereka. Dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam satu riwayat, sebagian ahli Tahqiq dari kalangan Syafiiyyah dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Al Albani rahimahumullaah taaalaa -. Wallaahu alam bis shawaab. Asal munculnya istilah sholat Ghoib adalah berdasarkan satu hadits, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam mengumumkan kematian raja Najasyi pada harinya kemudian keluar bersama para sahabatnya menuju lapangan lalu membuat shaf dan bertakbir empat kali. (HR Bukhori Muslim dari sahabat Abu Hurairoh).

Adapun mengenai hukumnya, para ahli ilmu berselisih hingga tiga pendapat yang masyhur. Pertama: bahwa sholat ghoib disyariatkan dan ia adalah sunnah, ini pendapatnya Syafii dan Ahmad, berdalil dengan hadits di atas. Kedua: hukum ini berlaku khusus bagi jenazahnya raja Najasyi, tidak untuk yang lainnya, ini pendapatnya Malik dan Abu Hanifah dengan dalil bahwa peristiwa sholat Ghoib ini tidak pernah ada kecuali pada kejadian meninggalnya raja Najasyi. Ketiga: mengkompromikan / menjamak antara dalil-dalil, yakni apabila seseorang meninggal dunia di suatu daerah ( negeri dan belum ) tidak ada yang mensholatkannya, maka dilakukan sholat Ghoib, seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wassalam atas raja Najasyi karena ia meninggal di lingkungan / tempat orang-orang kafir dan belum disholatkan. Adapun jika telah disholatkan di tempat dia meninggal atau tempat lainnya, maka tidak dilaksanakan sholat Ghoib karena kewajiban untuk mensholatkannya telah gugur dengan sholatnya kaum muslimin atasnya. Ini pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan dirajihkan oleh Al Khattabi, serta Abu Dawud membuat bab tentangnya dalam Sunannya, dikuatkan pula oleh Al Albany dan Muqbil bin Hadi Al Wadii semoga Allah merahmati semuanya. Di antara pendapat-pendapat ini yang kami lihat lebih kuat dan menurut kami lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat yang ketiga. Wal ilmu indallah. Dasar huku Sholat jenazah: Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu:

Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumumkan kematian AnNajasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat shalat lalu beliau membariskan shaf kemudian bertakbir empat kali. (HR. Al-Bukhari no. 1337)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:

Ada seorang laki-laki kulit hitam atau wanita kulit hitam yang menjadi tukang sapu di masjid telah meninggal dunia. Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu bertanya tentang keberadaan orang tersebut. Orang-orang pun menjawab, Dia telah meninggal! Beliaupun bersabda, Kenapa kalian tidak memberi kabar kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya padaku! Beliau kemudian mendatangi kuburan orang itu kemudian menshalatinya. (HR. Al-Bukhari no. 1333 dan Muslim no. 1588)

Penjelasan fiqhiah: Shalat ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap saudaranya yang wafat, sementara jenazahnya tidak ada di depan mereka atau berada di tempat yang lain. Para ulama berbeda pendapat mengenai shalat ghaib, apakah dia disyariatkan atau tidak? Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat tidak disyariatkannya shalat ghaib secara mutlak. Adapun shalatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada An-Najasyi, maka itu merupakan kekhususan beliau shallallahu alaihi wasallam yang tidak boleh diikuti oleh umat. Mereka berdalil dengan sebuah lafazh dalam riwayat lain hadits ini, Bahwasanya bumi ini telah diratakan sehingga beliau dapat melihat tempat An-Najasyi berada. Sehingga keadaan beliau ibarat sedang berdiri di depan jenazah. Ditambah lagi, beliau tidak pernah dinukil melakukan shalat ghaib kepada seorangpun selain kepada An-Najasyi, maka ini menunjukkan itu adalah amalan yang khusus. Sementara ulama lainnya berpendapat bahwa shalat ghaib tetap disyariatkan, walaupun kemudian mereka berbeda pendapat mengenai apakah dia disyariatkan secara mutlak ataukah dengan batasan tertentu? a. Imam Asy-Syaifii dan Ahmad berpendapat disyariatkannya secara mutlak. Mereka menyatakan bahwa hadits Abu Hurairah di atas berlaku mutlak dan umum. b. Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau berpendapat kalau shalat ghaib hanya disyariatkan kepada jenazah yang mempunyai sifat seperti An-Najasyi, yaitu sebagai seorang yang saleh, mempunyai kedudukan, dan berjasa kepada Islam. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah dalam Fatawa beliau (13/159).