Anda di halaman 1dari 17

Bab I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Tekanan darah tinggi atau yang lazimnya sehari-hari disebut sebagai hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi dan angka kematian yang cukup tinggi terutama di negara-negara maju dan didaerah perkotaan/urban untuk negara berkembang seperti halnya di Indonesia. Penyakit Hipertensi ini tergolong dalam klassifikasi penyakit subakut dan kronik yang memerlukan penanganan rutin dan kesadaran dari penderitanya untuk selalu memiliki tekanan darah yang terkontrol dengan cara monitoring pribadi secara rutin. Penderita hipertensi biasanya sangat heterogen itu membuktikan bahwa penyakit ini bagaikan mozaik, diderita oleh orang banyak yang datang dari berbagai sub-kelompok berisiko di dalam masyarakat. Hal tersebut juga berarti bahwa hipertensi dipengaruhi oleh faktor risiko ganda, baik yang bersifat endogen seperti neurotransmitter, hormon, dan genetik, maupun yang bersifat eksogen, seperti rokok, nutrisi, dan stresor. Di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah yang besar dan serius. Di samping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung meningkat di masa yang akan datang, juga karena tingkat keganasannya yang tinggi berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak. Kehadiran hipertensi pada kelompok dewasa muda, akan sangat membebani perekonomian keluarga, karena biaya pengobatan yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, bahkan seumur hidup. Di seluruh dunia, penyakit ini menarik perhatian yang besar, terutama karena

ketidaksesuaian antara perkembangan teknologi intervensinya dengan daya beli masyarakat. Penyakit yang diderita oleh orang banyak ini berkembang ke arah bisnis yang besar dan menawan, seakan mengucilkan halayak ramai yang membutuhkannya. Prevalensi hipertensi di Indonesia yang ditentukan berdasarkan kriteria ambang hipertensi ( bordeline hypertention) yaitu tekanan darah dengan rentang antara 140/90-159/94 mmHg, diperkirakan 4,8-18,8%. Angka ini lebih tinggi dari angka prevalensi yang dilaporkan oleh Cheng dan kawan-kawan di Taipeh, yaitu sekitar 6,2% dan oleh Freis di Amerika Serikat, yaitu 10-15%. Selain prevalensinya yang tinggi, juga angka kematian akibat hipertensi di masyarakat mengalami peningkatan yang sangat pesat. Menurut pengamatan WHO, selama 10 tahun terakhir, terlihat bahwa jumlah penderita hipertensi yang dirawat di berbagai rumah sakit meningkat lebih dari 10 kali lipat. Peningkatan ini tentu saja sangat mencemaskan siapapun yang peduli, karena penemuan kasus yang hanya dilakukan secara pasif pada masyarakat yang tingkat pengetahuannya rendah hanyalah sebongkah gunung es yang muncul di permukaan samudra. Apalagi banyak para ahli yang beranggapan bahwa tidak ada korelasi antara hipertensi dengan keluhan-keluhan subjektif yang sering diutarakan penderita. Bahkan, ada yang beranggapan bahwa keluhan hipertensi tidak ada yang spesifik. Sifatnya yang sangat subjektif memberikan peluang besar untuk diekspresikan secara berbeda oleh setiap penderita yang datang dari subkelompok dalam populasi dengan tingkat pemahaman yang sangat berbeda. Sebagai contoh, di kota Semarang terlihat bahwa hipertensi berhubungan dengan nyeri kepala, tetapi di pedesaan tak satupun keluhan itu yang signifikan.

Itu berarti bahwa penemuan kasus secara pasif akan sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan besar penduduk dan luasnya wilayah yang terkena. Khususnya di negara berkembang, termasuk Indonesia, fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia belum mampu menjangkau seluruh wilayah secara efektif. Pelayanan pasif seperti itu paling tinggi hanya mampu menjangkau sekitar 50% dari penderita hipertensi yang ada di masyarakat, dan hanya sekitar 25% dari penderita yang terdeteksi tersebut mendapat pengobatan. Dari jumlah itu, hanya sekitar 12,5% yang berkesempatan mendapat pengobatan secara baik dan teratur. Sisanya akan terkucil dan dilupakan. Mereka selanjutnya akan mengalami keadaan patologi mengerikan tanpa intervensi yang layak, satu per satu masuk ke dalam perangkap cacat dan kematian yang mengenaskan. Di lain pihak, pemahaman para petugas kesehatan, termasuk dokter, terhadap hipertensi tidaklah menggembirakan. Dari wawancara yang pernah dilakukan terhadap dokter, diketahui bahwa hanya 60,9% dokter yang secara jujur menyatakan melakukan peneraan alat pengukur tekanan darahnya. Hanya sekitar 14% yang mengetahui angka prevalen hipertensi di Indonesia, dan hanya sekitar 7,7% yang menganjurkan pasien hipertensi untuk berolahraga. Hal yang mungkin menggembirakan adalah bahwa obat yang sering digunakan para dokter adalah diuretika, alkaloid rauwalfia, dan obat campuran yang sering digunakan adalah metyldopa serta beta bloker. Di samping mungkin merefleksikan kepedulian dokter Indonesia terhadap kesehatan masyarakat, tetapi tidak tertutup kemungkinan hal tersebut mencerminkan tingkat ketertinggalan mereka dibidang terapi hipertensi. Bagaimanapun, yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa hanya 48% dari dokter yang diwawancarai yang menyatakan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang perlu pengamatan seumur hidup. Kalau ada orang yang paling peduli pada masalah hipertensi dalam masyarakat, mungkin dia adalah Prof. Boedhi Darmojo dari FK Universitas Diponegoro, Semarang. Selama bertahun-tahun, perhatiannya tercurah pada hipertensi dalam masyarakat. Sehubungan dengan tingginya prevalensi hipertensi di Indonesia, menurut Prof. Boedhi Darmojo, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius, antara lain: Pertama, penemuan kasus secara aktif oleh semua petugas yang bekerja di bidang kesehatan, terutama dokter dan dokter perusahaan. Kedua, intensifikasi dan ekstensifikasi upaya penyuluhan tentang tanda atau gejala hipertensi, berbagai faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi, serta berbagai komplikasi hipertensi kepada masyarakat luas. Ketiga, peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan sampai ke tingkat pedesaan. Keempat, peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktik tentang tujuan antar berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut WHO dan hasil penelitian yang dipublikasikan pada American Journal Of Public Health tahun 1994 duapuluh percent ( 20%) dari masyarakat di negara maju dengan usia dewasa menderita hipertensi,dimana kelompok usia ini mempunyai risiko yang tinggi untuk mendapatkan stroke terutama bagi penderita yang tidak terkontrol dan tidak diobati. Penelitian/Screening dilakukan oleh David H Stockwell dkk tahun 1994 dimana dari 1394 karyawan Dinas Kesehatan di New a. York City diperiksa tekananan darahnya dan didapatkan 409 karyawan menderita Hipertensi (29.34%) dan ternyata dari 409 penderita hipertensi tersebut diatas: 120 orang tidak mengetahui menderita hipertensi ( 29.33%) penanganan hipertensi di kalangan tenaga kesehatan, khususnya dokter. Terakhir, peningkatan kerjasama dan sistem rujukan

b. c. d.

289 orang tahu dirinya sebagai penderita ( 70.67%) 88 orang penderita tidak pernah berobat ( 21.50%) 150 orang penderita berobat tapi tekanan darah gagal dikontrol ( 36.67%) Dari gambaran hasil penelitian tersebut dapat dikatakan hipertensi fenomenanya di dalam

masyarakat bila tidak diintervensi dengan monitoring rutin dan kontrol maka dari seluruh kasus hipertensi 358 penderita ( 87.5%) potensial untuk mendapatkan berbagai risiko komplikasi dari hipertensi seperti stroke, kegagalan jantung dan lainnya. Jadi jelas hipertensi merupakan suatu penyakit kronik yang perlu diawasi karena potensial menambah beban permasalahan kesehatan di masyarakat dimana hubungan linier dari hipertensi dengan penyakit penyakit lain yang diakibatkannya . Di Indonesia prevalensi hipertensi secara nasional sampai saat ini angkanya belum pernah ada karena penelitian terhadap prevalensi hipertensi ini secara Nasional & simultan (penelitian multisenter) belum pernah dilakukan. Angka morbiditas hipertensi yang ada hanyalah hasil-hasil penelitian di berbagai Propinsi yang secara terpisah-pisah. Budi Darmojo dalam naskah ilmiahnya mengumpulkan angka-angka mengenai hipertensi dan berkesimpulan 18-28.6% penduduk Indonesia yang berumur di atas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Selain hal hal tersebut diatas pada survei Penyakit Jantung Budi Darmojo menemukan prevalensi hipertensi sebesar 33.3% di mana wanita prevalensinya lebih tinggi dari laki-laki. Dari survei penyakit jantung tersebut distribusi derajat hipertensi ditemukan 68.4% hipertensi ringan; 28% hipertensi sedang dan 3.5% hipertensi berat dan tidak ditemukan hubungan linier antara derajat hipertensi dan umur. Dari pencatatan dan pelaporan Rumah Sakit di 27 propinsi di Indonesia tahun 1985 oleh Dirjen pelayanan medik dari semua penderita berobat jalan 0.8% adalah penderita hipertensi. Ditinjau dari geografik patologi masyarakat yang berdomisili di daerah dikatakan terdapat kecenderungan bahwa masyarakat E. dalam laporannya yang berdomisili di daerah urban/perkotaan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan rural /pedesaan dimana Susalit mendapatkan angka 14.2% untuk masyarakat yang berdomisili di pinggiran kota Jakarta, sedangkan penelitian lain yang dilakukan pada penduduk didaerah sukabumi didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 28.6%, sedangkan penelitian/skrining yang dilaksanakan oleh Sugiri angka 8.6%. Saharman Leman dan kawan kawan mendapatkan angka prevalensi hipertensi 17.8% pada penelitiannya di masyarakat pedesaan di Kangirian Talang, Kabupaten Solok Sumatera Barat. Syakip Baleri dan kawan kawan yang meneliti prevalensi hipertensi pada beberapa kelompok masyarakat di Ujung Pandang mendapatkan angka prevalensi hipertensi 11.75 % pada kelompok industri; 9.75% pada kelompok nelayan dan 7.92% pada kelompok tani. Terlihat dari di setiap geografi/wilayah yang diteliti menunjukkan perbedaan angka yang cukup bermakna sehingga masih perlu diadakan suatu penelitian lebih lanjut dan mendalam. Penelitian prevalensi hipertensi pada pelajar sekolah menengah pertama yang dilaporkan oleh Wasilah Rochmah dkk di Yogjakarta sebanyak 203 pelajar yang berumur 12-17 tahun didapatkan 10 orang pelajar dengan tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan dengan tekanan darah diastolik lebih atau sama dengan 90 mmHg. Penelitian yang sama dilaksanakan oleh Robinson Harahap terhadap 3612 pelajar SMA dengan umur 15 21 tahun didapat angka prevalensi hipertensi 3.3 %. dan kawan kawan pada masyarakat pedesaan daerah Randu Blatung, Kabupaten Blora Jawa Tengah mendapatkan

Penelitian lainnya yang dilaksanakan di Indonesia antara lain

Darmoyo tahun 1986

Mendapatkan 6% sampai 15% orang dewasa mempunyai tekanan darah sistolik diatas 160 mmHg atau tekanan darah diastolik di atas 95 mmHg. Penelitian yang mendapatkan angka prevalensi tertinggi di Silungkang Sumatera Barat yaitu 19.5% dan yang terendah di Lembah Balim Irian Jaya sebesar 0.6%. Tekanan darah meningkat sesuai dengan kenaikan umur baik pada laki-laki maupun wanita dan hal ini terlihat jelas pada wanita setelah berumur 45 tahun. Prevalensi hipertensi pada penduduk yang tinggal di tepi pantai lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di pedalaman dan pegunungan. Tidak terlihat perbedaan antara perkotaan dan pedesaan. Survei kesehatan rumah tangga tahun 1986 melaporkan angka prevalensi hipertensi tertinggi di tujuh daerah yang di survei di Yogjakarta, Bali, Sulawesi Utara, Bengkulu, Kalimantan Barat , Maluku dan Nusa Tenggara Barat didapatkan di daerah Sulawesi Utara yaitu sebesar 816.2 per 100000 penduduk dan Yogjakarta dan Bali prevalensinya agak rendah yakni untuk golongan umur 1524 tahun sebesar 42 per 100000 penduduk, untuk golongan umur 2534 tahun sebesar 207 per 100000 penduduk dan sangat meningkat pada golongan umur 55 tahun ke atas sebesar 2534,3 per 100000 penduduk ( Budiarso dkk 1989). Survei ini juga melaporkan bahwa penyebab kematian kelompok penyakit yakni sebesar 42 per 100000 penduduk dan kardiovaskuler yang menonjol adalah hipertensi

kematian yang disebabkan oleh hipertensi meningkat dengan bertambahnya umur di mana pada kelompok umur 3544 tahun angka kematiannya sebesar 30,7 per 100000 penduduk dan naik menjadi 339,5 per 100000 penduduk pada umur 55 tahun ke atas. Suatu penelitian untuk mengetahui status penderita hipertensi yang berhubungan dengan pengendaliannya pada penduduk di Indonesia dilakukan oleh Darmoyo tahun 1977 pada penduduk kota Semarang berupa survei rumah tangga yang dilaksanakan sesuai dengan Pedoman WHO didapatkan dari 1315 penduduk yang berumur diatas 20 tahun tidak mengetahui mereka menderita hipertensi dan 34,1% diantaranya mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi tetapi tidak diobati. Terdapat sebesar 17,9% penderita hipertensi yang mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi dan diobati akan tetapi hipertensinya tidak terkendali. Sugiri di Jawa Tengah melaporkan didapatkan pervalensi hipertensi sebagai berikut 6,6% kelompok pria dan 11.6% kelompok wanita. Laporan dari Sumatera Barat didapatkan 18.6% pria dan 17,4 % wanita dan di daerah perkotaan Semarang 7,5% pria dan 10.9% wanita, sedangkan di daerah perkotaan Jakarta 14,6% pria dan 13,7% wanita. Menurut laporan Puskesmas tahun 1984 penderita penyakit darah tinggi adalah 0,9% dari seluruh pengunjung dan yang dirawat inap di Rumah Sakit pada tahun yang sama adalah 1,1% penderita hipertensi. Pada tiga survei rumah tangga yang telah dilakukan oleh badan penelitian dan pembangunan kesehatan tahun 1972, 1980 dan 1986 ada tendensi kenaikan prevalensi tekanan darah tinggi dan hampir merata meliputi semua daerah yang disurvei. Pada tahun 1972 tercatat penderita dengan penyakit kardiovaskuler 2,5% dengan urutan ke-2, pada tahun 1980 kejadian kardiovaskuler naik menjadi 5,2% menduduki urutan ke 6 dan didapat kejadian hipertensi 3,3% dari yang sakit. Pada tahun 1986 kardiovaskuler tercatat 9,84% dan hipertensi 5,09% dari yang sakit. Menurut hasil sensus penduduk Indonesia tahun 1980 persentasi golongan orang usia lanjut telah bertambah disebabkan perbaikan dalam kegiatan pencegahan kesehatan masyarakat dan angka harapan hidup meningkat serta umur rata-rata sewaktu meningkat pula. Dari data tersebut di atas memberikan gambaran bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang potensial, hipertensi merupakan faktor risiko yang utama untuk terjadinya stroke di

Indonesia. Mengacu pada data-data hasil survei di atas telah dapat diperkirakan 16 juta sampai dengan 18 juta penduduk di Indonesia memiliki potensi untuk mendapatkan stroke dari derajat ringan sampai berat pada saat awalan milineum ketiga ini. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menanggulangi hipertensi di masyarakat dengan beberapa program intervensi, antara lain pengurangan faktor-faktor risiko dengan perubahan cara hidup, pencegahan melalui integrasi program di puskesmas, pendidikan pada tenaga kesehatan, cara-cara melakukan case finding dan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Dengan kata lain pendekatan komunitas harus segera dilakukan, dan berubah dari pendekatan klinis yang individual. 2. Permasalahan Seperti diketahui dari hasil-hasil penelitian yang lampau prevalensi penyakit darah tinggi/hipertensi berkisar antara 7% sampai dengan 20% dan cenderung meningkat pada kelompok usia lanjut. Dilain pihak angka kematian akibat hipertensi menurut penelitian tahun 1986 mencapai 42,8 per 100000 penduduk dengan distribusi yang meningkat untuk kelompok umur 35 45 tahun sebesar 30,7% dan untuk kelompok umur 55 tahun keatas sebesar 339,5 per 100000 penduduk. Hal lain yang penting adalah tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit hipertensi cukup rendah dimana dari hasil survei menunjukkan 43,9% penderita hipertensi tidak mengetahui bahwa mereka menderita hipertensi di mana angka ini hampir 2 kali lipat dibandingkan dengan penelitian oleh David H.Stockwell di Newyork tahun 1994. Di Kotamadya Palembang dimana penelitianPola kejadian hipertensi dan beberapa faktor risikonya ini dilakukan terdapat beberapa permasalahan yang perlu dijawab antara lain: 1. Dari komposisi demografi kependudukan kotamadya Palembang mempunyai kelompok umur 15 tahun keatas dengan persentase yang cukup tinggi dimana angka absolut menunjukkan 2. jumlah 1017539 jiwa ( >1.000.000 ). Kelompok ini merupakan kelompok yang potensial untuk terkena hipertensi. Sehubungan dengan gambaran demografi diatas sampai saat ini belum pernah dilakukan penelitian berapa besarnya prevalensi hipertensi pada kelompok tersebut baik secara kasar maupun secara spesifik. 3. Berkaitan Pola kejadian hipertensi di Kotamadya Palembang sampai saat ini dari berbagai jenis faktor risiko hipertensi yang ada belum pernah ada penelitian yang menghasilkan angka yang mewakili faktor risiko kejadian hipertensi di Kotamadya Palembang. Dari keseluruhan uraian diatas dapat dibuat suatu kesimpulan bahwa di Kotamadya belum ada data hipertensi. Dalam penelitian ini dicoba menjawab berbagai permasalahan yang diuraikan dengan mencoba mencari distribusi angka prevalensi hipertensi dan jenis hipertensi yang ada pada masyarakat Kotamadya Palembang tahun 2009. 3. Tujuan Penelitian Penelitian pola kejadian hipertensi dan beberapa faktor risikonya di Kotamadya Palembang ini bertujuan : diatas faktor risiko dari data dasar mengenai pola kejadian hipertensi yang meliputi distribusi prevalensi, masyarakat terhadap penyakit distribusi faktor risiko maupun distribusi tingkat kesadaran

1. 1.1. 1.2. 2. Palembang

Tujuan umum : Mencari/menghimpun angka prevalensi hipertensi di Kotamadya

Mencari & membuktikan asosiasi hipertensi dengan beberapa variabel faktor risiko yang dikumpulkan pada penelitian ini

Tujuan Khusus 2.1. a. b. c. d. e. f. g. h. i. 2.2. a. b. c. d. e. f. Menghitung beberapa jenis angka prevalensi hipertensi di Kotamadya Palembang antara lain Menghitung prevalensi umum hipertensi di Kotamadya Palembang Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan kelompok umur Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan jenis kelamin Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan umur Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan status gizi Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan kebiasaan merokok Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan lamanya merokok Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan jumlah batang rokok yang dihisap per hari Menghitung prevalensi hipertensi berdasarkan status pekerjaan Mencari asosiasi faktor risiko dengan kejadian hipertensi Di Kotamadya Palembang : Mencari asosiasi hipertensi dengan faktor kebiasaan merokok Mencari asosiasi hipertensi dengan jumlah rokok yang dihisap per hari Mencari asosiasi hipertensi dengan lamanya merokok Mencari asosiasi hipertensi dengan status gizi Membuktikan perbedaan kejadian hipertensi berdasarkan jenis kelamin Membuktikan pekerjaan perbedaan kejadian hipertensi berdasarkan status

4.

Jadwal pelaksanaan Penelitian NO BULAN KEGIATAN 1.Pembuatan usulan penelitian 2.Pembentukan organisasi penelitian 3.Pelatihan petugas lapangan/surveyor 4.Intrument test 1.Pengumpulan data 2 JANUARI - MARET 2009 2.Data entri 3.Supervisi di lapangan 4.Editing data 1..Menyusun draft laporan 2.Diskusi draft laporan 3 MARET 2009 3.Editing draft laporan 4.Penyusunan laporan akhir

JANUARI 2009

5.Organisasi Penelitian

NO 1 2 3. 4. Peneliti

JABATAN Konsultan & Editor Sekretaris Penanggung Jawab Data Penanggung data Jawab Pengolahan Pengumpulan

NAMA Dr. R.M. Suryadi DTM&H;MPH 1.Dr. M.A. Husnil Farouk MPH 2.Dr. Hendarmin Aulia S.U. Zr . Nurazizah B.SC Zr . Isnawati B.Sc

Dr. Zulkarnain M.Sc

1.Zr. Isnawati B.Sc 2.Zr. Zuhro B.Sc 3.Zr. Dewi Usdiningsih B.Sc 4.Zr. Eliya Sumirah B.Sc 5.Zr. Yuliana B.Sc 6 Pewawancara/surveyor 6.Zr. Betty Yuliana B.Sc 7.Zr. Arniyanti. B.Sc 8.Zr Anisah B.Sc 9.Zr Nurazizah B.Sc 10.Zr Rupiah B.Sc 11.Zr.Kesumawati B.Sc

1.Zr. Nurazizah B.Sc 2. Nurbaiti 7 Pengolah data 3. Dewi Anggraini 4. Maria Muhareni

Bab II TINJAUAN PUSTAKA 1.Definisi Menurut WHO batasan tekanan darah yang masih dianggap normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama atau di atas 140/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Tekanan darah diantara normotensi dan hipertensi disebut borderline hipertensi. Batasan tersebut tidak

membedakan usia dan jenis kelamin sedangkan batasan hipertensi dengan memperhatikan perbedaan usia dan jenis kelamin dianjurkan oleh Kaplan sebagai berikut : 1. 2. 3. Pada usia < 45 tahun dikatakan hipertensi apabila tekanan darah waktu berbaring di atas atau sama dengan 130/90 mmHg. Pria usia 45 tahun dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya di atas 145/95 mmHg. Pada wanita tekanan darah di atas atau sama dengan 160/95 mmHg dinyatakan hipertensi. Batasan lain berdasarkan peningkatan tekanan darah sistolik. Peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti oleh peninggian tekanan diastolik disebut hipertensi sistolik atau hipertensi sistolik terisolasi ( isolated systolic hypertension ).

Kriteria hipertensi sistolik terisolasi adalah bila peninggian tekanan sistolik lebih dari 2 kali tekanan diastolik dikurangi 15 mmHg tanpa diikuti oleh peninggian tekanan diastolik atau tekanan sistolik lebih dari 2 kali tekanan diastolik bila tekanan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. The Joint National Comitte on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, 1984 membagi sistolik, diastolik serta sistolik dan diastolik. Tabel 1. klasifikasi Hipertensi Sistolik No 1 2 3 Tekanan Darah Sisitolik dalam mmHg < 140 140 159 > 160 Kategori / klasifikasi Tekanan darah normal Hipertensi terisolasi border line Hipertensi sistolik terisolasi

Tabel 2. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Tekanan Diastolik No 1 2 3 4 5 Tekanan Darah Diastolikdalam mmHg < 85 85 -89 90 - 104 104 - 114 > 115 Kategori / klasifikasi Tekanan darah normal Tekanan darah normal tinggi Hipertensi ringan Hipertensi sedang Hipertensi berat

Tabel 3. Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan Tekanan Sistolik dan Diastolik Tekanan Darah Sistolik( mmHg) Diatolik( mmHg) < 85 85 89 90 104 105 114 > 115 < 140 Normal Normal Tinggi Hipertensi Ringan Hipertensi Sedang Hipertensi Sedang 140 159 Hipertensi sistolik terisolasi Border Line > 160 Hipertensi sistolik terisolasi

Sebuah komite yang dibentuk oleh Experimental Medical Case Review Organisation ( EMCRO ) di Amerika menentukan bahwa kriteria hipertensi yang menetap adalah sebagai berikut : 1. Apabila tekanan darah tetap tinggi setelah diperiksa 3 kali berturut turut dengan interval tidak kurang dari satu minggu.

2. 3.

Apabila 3 dari 4 kali pengukuran tekanan darah yang dilakukan 2 hari berturut turut, tekanan diastolik lebih dari 100 mmHg. Pada wanita hamil adanya hipertensi menetap ditentukan setelah 6 minggu post partum.

4.

Pada wanita yang memakai oral kontrasepsi obat tersebut harus dihentikan 4 6 bulan dulu sebelum diagnosa hipertensi ditentukan.

Menurut Freis, hipertensi esensial dibagi dalam beberapa tingkatan : 1 Hipertensi ringan dengan diastolik menetap ratarata antara 90104 pada 3 kali kunjungan atau lebih. mmHg

2. Hipertensi sedang dengan diastolik menetap ratarata antara 105114 mmHg pada 3 kali kunjungan atau lebih. 3. Hipertensi berat dengan diastolik menetap antara 115129 mmHg. 4. Hipertensi maligna bila tekanan diastolik 130 mmHg atau lebih. Sebelum hipertensi ringan adapula suatu tingkatan yang disebut hipertensi labil ( borderline hypertension ) dimana tekanan darah berkisar antara 150/90 160/100 mmHg. Pembagian pada saat ini yang terkenal adalah berdasarkan kadar renin dalam darah. 1. Kadar renin rendar lebih kurang 30 % dari penderita hipertensi esensial. 2. Kadar renin normal sekitar 50 % dari penderita hipertensi esensial. 3. Kadar renin tinggi sekitar 20 % dari penderita hipertensi esensial. Pembagian lain berdasarkan patofisiologi yaitu: 1. 2. 3. Hipertensi labil Hipertensi menetap Hipertensi maligna

2. Etiologi Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik dan hipertensi sekunder atau disebut juga hipertensi renal. Berbagai faktor dihubungkan dengan hipertensi esensial akan tetapi belum terdapat keterangan pasti yang dapat menjelaskan penyebabnya. Hipertensi esensial meliputi lebih kurang 90% dari seluruh penderita hipertensi dan 10% sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Dari golongan hipertensi sekunder hanya 50% yang dapat diketahui penyebabnya dari golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya. Oleh karena itu upaya penanganan hipertensi esensial lebih mendapat prioritas. Banyak pendapat yang dikemukakan tentang penyebab tekanan darah tinggi esensial ini diantaranya menyatakan bahwa tekanan darah esensial tidak disebabkan satu macam akan tetapi sebagai akibat komplek faktorfaktor yang satu sama lain saling berkaitan. Ada kemungkinan tekanan darah tinggi esensial sudah dimulai sejak anak anak meskipun sekarang belum ada buktibukti yang meyakinkan. Bila hal tersebut dapat mengadakan pencegahan sejak kanakkanak. dapat dibuktikan betul kita

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Faktor herediter, didapat pada keluarga yang umumnya hidup dalam lingkungan dan kebiasaan makan yang sama. Faktor usia, berkorelasi positif antara umur dan tekanan darah tinggi. Jenis kelamin, pria lebih tinggi dari wanita, tetapi di Indonesia terlihat pada beberapa penelitian lebih tinggi wanita. Konsumsi garam, telah jelas ada hubungan tetapi ada penelitian pada daerah di mana konsumsi garam tinggi tidak selalu mempunyai prevalensi tinggi. Obesitas, telah diketahui adanya korelasi timbal balik antara obesitas dan hipertensi. Faktor geografis dan lingkungan mempunyai peran dalam hubungan dengan terjadinya hipertensi, seperti penduduk di pantai dan pedalaman pegunungan, daerah terisolir. Faktor psikokultural, ada banyak hubungan antara psikokultural dengan hipertensi tetapi belum didapat kesimpulan. Pekerjaan, pendidikan dan lainlain tidak banyak berpengaruh, tetapi stres, psikososial akut menaikkan tekanan darah secara tibatiba.

Menurut WHO penyebab tekanan darah tinggi esensial berkaitan langsung dengan peradaban hidup, makin modern suatu kehidupan dituntut konsentrasi penggunaan waktu yang serba cepat, segala sesuatunya harus cepat sehingga kehidupan selalu tergesagesa. Akibat ketenangan dan ketentraman hidupnya berkurang ini merupakan salah satu faktor yang penting untuk terjadinya penyakit hipertensi tetapi penyebabpenyebab yang pasti sampai sekarang ini belum dapat ditemukan. 3. Patogenesis dan Patofisiologi Hipertensi Esensial Etiologi hipertensi esensial masih belum jelas. Beberapa faktor diduga memegang peranan dalam genesis hipertensi. Faktor psikik, sistem saraf, ginjal, jantung dan pembuluh darah, kortikosteroid, katekolamin, angiotensin, natrium dan air. Hipertensi tidak disebabkan oleh satu faktor tetapi oleh beberapa faktor turut memegang genesis hipertensi, ini dikenal dengan teori Mosaik. Ledingham mengemukakan klasifikasi patofisiologi hipertensi esensial : 1. 2. 3. Stadium labil (labile essential hypertension), Menetap (fixed essential hypertension) Maligna (labile essential hypertension). peranan dan menjalin satu sama lain dalam

1. Stadium Labil ( labile essential hypertension ) Tekanan emosi akan meningkatkan aktifitas saraf otonom dan menyebabkan kenaikan tekanan darah akibat vasokonstriksi arteriole glomerulus. Vasokonstriksi darah ginjal arteriole post glomerulus menimbulkan retensi natrium dengan akibat kenaikan volume plasma (VP) dan volume cairan ekstra seluler (VCES) dan kenaikan tekanan pengisian atrium, akhirnya isi semenit

10

meningkat. Kenaikan isi semenit menyebabkan

vasokonstriksi pembuluh darah tepi (tekanan

perifer) akibatnya terjadi hipertensi. Proses ini akan berlangsung terus walaupun tekanan emosi telah hilang. Menurut beberapa peneliti, tekanan emosi dapat mempertahankan kenaikan darah terutama pada pasien pasien peka. Ginjal memegang peranan penting dalam mengendalikan kelebihan cairan dan homeostasis natrium. Pada hipertensi esensial stadium labil dimana belum terdapat kelainan struktur dinding pembuluh darah ginjal maka kenaikan tekanan darah akan menjadi normal kembali (normotensi) karena ekskresi natrium melalui urine meningkat. Analisa pada stadium labil 1. Renin: sebagian besar pasien dengan PRA (plasmarenin activity) normal, hanya 10 40 % dengan PRA rendah. 2. Isi semenit: labilitas hipertensi paralel dengan labilitas isi semenit terutama pada usia muda.

2. Stadium Menetap (fixed essential hypertension) Pada stadium menetap telah terdapat perubahanperubahan struktur dinding pembuluh darah yang irreversibel berupa hiperplasi, hialinisasi dan fibrionid, mengenai arteriole post glomerulus. Perubahanperubahan dinding ini menyebabkan filtration friction dan renal vascular resistance yang persisten. Pada stadium menetap terjadi tipe renal karena telah terdapat perubahan pada pembuluh darah ginjal. Tekanan darah dipertahankan tinggi akibat kenaikan TPR walaupun isi semenit dan volume cair telah normal kembali. Secara teoritis pada stadium menetap terdapat kenaikan renin plasma tetapi ternyata sebagian pasien mempunyai renin plasma rendah. Mekanisme penurunan renin plasma tidak diketahui, diduga penurunan RBF ( renal blood flow) primer akibat kenaikan TPR pada arteriole post glomerular dan diikuti oleh kenaikan FF ( filtration friction) dan akhirnya terjadi penurunan renin plasma 3. Stadium Maligna (malignant essential hypertension) Hubungan sistem renin angiotensin aldosteron Kenaikan tekanan intravaskuler menyebabkan perubahan struktur dinding pembuluh darah arteriole afferen glomerulus berupa nekrose fibrinoid. Sebenarnya perubahan perubahan ini sudah mulai terjadi pada stadium menetap, hanya pada stadium maligna perubahan perubahan lebih kuat sehingga menyebabkan penyempitan penyempitan lumen diikuti oleh

lumen. Penyempitan lumen pembuluh darah menyebabkan iskemi yang merangsang sel juxta glomerulus untuk melepaskan renin. Kenaikan renin dan angiotensin langsung menyebabkan Sebagian hipertensi. Kenaikan tekanan darah tergantung dari komponen zat pressor dan pasien hipertensi esensial stadium maligna menunjukkan tandatanda komponen volume (aldosteron dan natrium). besar hiperaldosteronisme sekunder: kenaikan plasma renin dan aldosteron, peningkatan tahanan pembuluh darah tepi dan penurunan konsentrasi natrium melalui urine meningkat (natriuresis). Natriuresis ini menyebabkan penurunan volume plasma dan konsentrasi natrium. Pada hipertensi

11

esensial stadium maligna peranan diuretik dan pembatasan garam natrium dalam diet tidak akan menurunkan tekanan darah tetapi meningkatkan konsentrasi plasma renin. 4. Diagnosis Seperti lazimnya pada penyakit lain, diagnosis hipertensi ditegakkan berdasarkan data anamnesis, penunjang. pemeriksaan jasmani dan pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan

Umumnya sebagian besar penderita tidak mengetahui bahwa dirinya menderita tekanan darah tinggi, kadang kadang tekanan darah tinggi ini ditemukan secara kebetulan sewaktu penderita datang ke dokter untuk memeriksakan penyakit lain. Gejala yang dirasakan oleh penderita tekanan darah tinggi sangat individual sekali, kadangkadang terasa : 1. 2. 3. 4. Pusingpusing di seluruh kepala dan kadangkadang sampai muntah. Rasa sakit dan kaku pada kuduk/leher bagian belakang. Penderita mudah tersinggung dan mudah marah. Tetapi kadang-kadang penderita tidak merasa apa apa.

Pada 70-80% kasus hipertensi essensial, didapatkan riwayat hipertensi dalam keluarga, walaupun hal ini belum dapat memastikan diagnostik hipertensi essensial. Apabila riwayat hipertensi didapat pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi esensial lebih besar. Mengenai usia penderita hipertensi, sebagian besar timbul pada usia 25-45 tahun dan hanya 20 % yang timbulnya kenaikan tekanan darah dibawah usia 20 tahun dan di atas 50 tahun. Pengukuran tekanan darah harus dilakukan secara akurat. Berbagai faktor dapat mempengaruhi hasil pengukuran, misalnya faktor pasien, alat dan tempat pengukuran. Pengukuran sebaiknya dilakukan pada penderita dengan cukup istirahat, sedikitnya 5 menit sesudah berbaring dan dilakukan pengukuran pada posisi berbaring, duduk dan berdiri, sebanyak 3 4 kali pengukuran dengan interval antara 5 10 menit. Ukuran manset dapat mempengaruhi hasil. Sebaiknya lebar manset 2/3 kali panjang lengan atas. Balon dipompa sampai diatas tekanan sistolik dan dibuka perlahan-lahan dengan kecepatan 2-3 mmHg per denyut jantung. Tekanan sistolik dicatat pada saat terdengar bunyi yang pertama (Korotkoff I), sedangkan tekanan diastolik dicatat apabila bunyi tidak terdengar lagi (Korotkoff V). Pemeriksaan tekanan darah sebaiknya dilakukan pada kedua lengan pada posisi berbaring, duduk dan berdiri. 5. Pedoman Umum Terapi Hipertensi Keputusan untuk memulai pengobatan hipertensi tidak hanya ditentukan oleh tingginya tekanan darah, tetapi juga oleh adanya faktor risiko kardiovaskuler lainnya dan adanya TOD. Makin tinggi tekanan darah, adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain dan atau sudah adanya TOD makin tinggi risiko terjadinya morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Bagi mereka , manfaat pengobatan hipertensi makin besar. Sebaliknya pada hipertensi ringan tanpa disertai faktor-faktor lain atau TOD, manfaat pengobatan hipertensi kecil sekali, sehingga penderita mungkin lebih dirugikan oleh adanya efek samping yang ditimbulkan oleh anti hipertensi.

12

Berdasarkan perimbangan manfaat dan kerugian ini, maka JNC-V menggunakan rekomendasi berikut untuk memulai pengobatan hipertensi pada orang dewasa. Tekanan darah yang meningkat pada pengukuran pertama harus dipastikan dengan pemeriksaan ulang sedang satu sampai beberapa minggu sebelum diputuskan untuk diobati. Kecuali bila tekanan darah sangat tinggi (diastolik lebih atau sama dengan 120 mmHg atau sistolik lebih atau sama dengan 210 mmHg) atau disertai dengan TDD, maka penderita perlu segera diobati.

Penanggulangan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua (2) : 1. Non farmakologis/modifikasi pola hidup : 2. Pembatasan garam Latihan dan diet kaya kadar kalium Hentikan kebiasaaan merokok Hindarkan dan atasi tekanan mental Hentikan dan hindarkan pemakaian obatobatan kortikosteroid dan kontrasepsi oral

Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) 1. 2. 3. 4. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan pengobatan penyebab hipertensi Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan menggunakan obat anti hipertensi Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang, bahkan kemungkinan seumur hidup

Pengobatan hipertensi dilandasi oleh beberapa prinsip sebagai berikut :

2.1. Jenis-jenis obat anti hipertensi

Diuretik Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obat-obatan yang termasuk golongan diuretik adalah Hidroklorotiazid. Efek samping yang sering dijumpai adalah: hipokalemia (kekurangan kalsium dalam darah) dan hiponatremia (kekurangan natrium dalam darah) yang dapat mengakibatkan gejala lemas, hiperurisemia (peningkatan asam urat dalam darah) dan gangguan lainnya seperti kelemahan otot, muntah dan pusing.

Penghambat simapetik

Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas). Contoh obat yang termasuk dalam golongan penghambat simpatetik adalah: Metildopa, Klonidin dan Reserpin. Efek samping yang dijumpai adalah: anemia hemolitik (kekurangan sel darah merah karena pecahnya sel darah merah), gangguan fungsi hati dan kadang-kadang dapat menimbulkan hepatitis kronis.

13

Betabloker Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obat-obatan yang termasuk dalam golongan betabloker adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati.

Vasodilator Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah: Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.

Penghambat ensim konversi Angiotensin

Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul adalah: batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.

Antagonis kalsium

Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah: Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.

Penghambat Reseptor Angiotensin II

Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah: sakit kepala, pusing, lemas dan mual. BAB III METODOLOGI PENELI'TIAN 1 Lokasi Lokasi penelitian ini adalah di Kotamadya Palembang. 2 Waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 2009 sampai Maret 2009 pelaksanaannva sebagal berikut : NO BULAN KEGIATAN

14

1.Pembuatan usulan penelitian 1 JANUARI 2009 2.Pembentukan organisasi penelitian 3.Pelatihan petugas lapangan/surveyor 4.Intrument test 1.Pengumpulan data 2 JANUARI SAMPAI DENGAN 2.Data entry 3.Supervisi di lapangan 4.Editing data 1.Editing data 2.Menyusun draft laporan 3 MARET 2009 3.Diskusi draft laporan 4.Editing draft laporan 5.Penyusunan laporan akhir 3. Jenis penelitian Penelitian ini adalah studi Cross sectional yang bersifat deskriptif dalam mencari prevalensi hipertensi dan bersifat analitik dalam pengukuran faktor risiko. 4. Populasi dan sampel Populasl penelitian adalah penduduk vang berumur di atas 15 tahun di Kotamadya Palembang . Jumlah sampel adalah 16489 unit dasar sampel yang dihitung memakai sampel cross sectional dengan design effect = 1 p = 0.05 power = 90% dan Jumlah penduduk Kotamadya Palembang tahun 2001 1471443 jiwa dengan jumlah penduduk umur 15 tahun keatas 1017539 jiwa Sampel diperoleh dari populasi dengan metoda Multistage Random Sampling disetiap kampung yang ada di Kotamadya Palembang dengan merujuk pada demografi penduduk Kotamadya Palembang dimana rukun tetangga merupakan tingkatan terakhir dari penarikan sampel. 5. Variabel penelitian Variabel terikat/dependent penelitian ini adalah tekanan darah sistolik dan diastolik Sedangkan variabel bebas/independent terdiri dari umur, jenis kelamin, pekerjaan, status gizi, kebiasaan merokok, jumlah rokok yang dihisap per hari dan lamanya merokok dan jumlah pendapatan rata-rata perbulan. metoda perhitungan MARET 2009

6.

Cara pengumpulan data 1. 2. 3. Tekanan darah, berat badan & tinggi badan didapatkan dengan pengukuran langsung memakai alat dengan metoda yang sudah ditentukan. Data lainnya didapatkan dengan wawancara memakai kuesioner bersamaan pada waktu pemeriksaan. Alat yang digunakan adalah sphygmomanometer air raksa. Tekanan darah diukur dengan cara responden berbaring dengan lengan kanan diletakkan lurus di samping tempat tidur, dan manset dari spygmanometer diikat pada lengan kanan atas kemudian tekanan darah diukur dengan menggunakan stetoskop dengan catatan pengukuran tekanan darah dilakukan setelah objek yang diteliti istirahat selama 5 10 menit.

15

7. Instrument test Perneriksaan tekanan darah menggunakan stetoskop Littmann dan manset merek LPK. Pasien diperiksa dengan posisi berbaring lengan yang diperiksa adalah lengan kanan yang sebelum penelitian personal dan instrument screening test telah dilakukan terlebih dahulu dan hanya direkrut personel yang mempunyai kemampuan yang homogen (p<0.05)

8. Analisis data Data disajikan dalam bentuk teks dan tabulasi kemudian data dianalisis secara deskriptif dan inferensial dengan memakai bantuan program Scansoft Statistik/SPSS/G.Power/Epical/ SxS sesuai dengan kebutuhan analisis. 9. Batasan operasional 1. Hipertensi adalah suatu keadaan tekanan darah dirnana tekanan sistolik 140 mmHg dan tekanan diastolik - 90 mmHg. Tekanan sistolik dicatat pada saat terdengar bunyi pertarna (Korotkoff I), sedangkan tekanan diastolik dicatat apabila bunyi tidak terdengar lagi. (Korotkoff V). 2. 3. 4. 5. Umur dihitung berdasarkan tanggal lahir atau menanyakan ulang tahun terakhir. Jenis kelarnin adalah laki-laki dan perempuan dicatat pada saat interview Pekerjaan adalah semua yang dilakukan individu sehingga dapat menghasilkan uang untuk kebutuhan dapat menghasilkan uang untuk kebutuhan. Status gizi adalah suatu keadaan gizi seseorang berdasarkan TB/BB diklasifikasikan menjadi Normal; Underweight dan Overweight sesuai dengan rumus perhitungan berat badan ideal. 6. 7. 8. Kebiasaan merokok adalah apakah seseorang itu merokok atau tidak. Jumlah batang rokok yang dihisap per hari adalah banyaknya rokok yang dihisap dalam satu hari. Lamanya merokok adalah waktu dari saat pertama kali merokok sampai dengan waktu sekarang. 10. Hipotesis 1. Hipotesis Nul: Tidak terdapat asosiasi prevalensi hipertensi dengan faktor risiko jenis kelamin, status gizi, kebiasaan merokok, jumlah rokok yang dihisap per hari dan lamanya merokok. 2. Hipotesis alternatif (H1) Terdapat asosiasi bermakna prevalensi hipertensi dengan faktor risiko jenis kelamin, status gizi, kebiasaan merokok, jumlah rokok yang dihisap per hari dan lamanya merokok.

3. Hipotesis penelitian : 1. Prevalensi hipertensi di Kotamadya Palembang tidak berbeda dengan prevalensi Nasional

16

2.

Faktor Risiko jenis kelamin, status gizi, kebiasaan merokok, jumlah rokok yang dihisap per hari dan lamanya merokok berasosiasi dengan kejadian hipertensi di Kotamadya Palembang

17