KOMA

Dr. Anna Luthfiana SpS Bagian Neurologi F.K. Univ. Yarsi Jakarta

.Tidak dapat menggerakkan ke empat ekstremitas secara berarti.Mata tidak dapat membuka secara spontan.Tidak dapat bicara. .Definisi :   KOMA : suatu kondisi dimana pasien tidak dapat memberikan respons terhadap lingkungannya dimana pasien tersebut tidak dapat dibangunkan KOMA : . . tidak ada komunikasi verbal.

dimana jalur refleks ini melalui medulla spinalis atau batang otak. .Definisi :   Jika dilakukan stimulasi mekanik (stimulasi nyeri) maka dapat tidak timbul respons atau timbul gerakan refleks yang tidak bertujuan . Coma dapat timbul akibat gangguan di sistem ARAS (Ascending Reticular Activating System) di Batang otak (diatas midpons) atau gangguan di kedua hemisfer cerebri.

yang dikenal juga sebagai Koma Metabolik Kejang dan kondisi post iktal yang berkepanjangan.Etiologi Koma :     Lesi struktural di daerah supra tentorial Lesi struktural di daerah sub tentorial Ensefalopathi difus. .

Koma munculnya mendadak : kelainan vaskular.Anamnesis :     Harus diketahui riwayat “koma” yang diderita pasien seperti onset . hematom subdural khronik. . abses. Koma muncul progresif cepat : adanya perdarahan intra cerebral. informasi awal munculnya gangguan kesadaran. Gangguan kesadaran/koma muncul dalam waktu lebih lama (hari sampai minggu) : kemungkinan adanya tumor.

Suhu : hipothermia dapat timbul pada intoksikasi obat sedatif. ensefalopathi Wernicke. Hiperthermia malignant dijumpai pada inhalasi anestesi. ensefalopathi hepatik. .Pemeriksaan fisik & neurologis :    Tekanan Darah : adanya hipertensi menunjukkan kemungkinan koma akibat gangguan vaskular/stroke/perdarahan otak. status epileptikus. intoksikasi obat anti kholinergik. lesi di hypothalamus. intoksikasi ethanol.hipoglikemia. myxedema. perdarahan pons. Suhu : hiperthermia pada “heat stroke”.

keluarnya cairan LCS dari hidung (rhinorrhea) atau telinga (otorrhea). . hemotympanum.Pemeriksaan fisik    Tanda-tanda adanya trauma kepala ( dikenal sebagai “ fraktur basilar tengkorak” ) : berupa “racoon eyes”. Adanya depresi tulang tengkorak pada palpasi. Tanda-tanda iritasi meningeal. “battle signs”. perdarahan retina. Pemeriksaan fundus optikus : gambaran papil edema.

somnolen. sopor koma SKG skor <9 : koma.Pemeriksaan Neurologis :   Pemeriksaan kesadaran : GCS (Glasgow Coma Scale) atau SKG (Skala Koma Glasgow).SKG berkisar : 3 – 15 (penilaian kwantitatif). . SKG skor 9 -12 : delirium. SKG skor 15 : kompos mentis. SKG skor 12-14 : apatis.

11. Diameter pupil normal : 3-4 mm dan isokor (kedua diameter pupil sama dan saat disinari memberikan reaksi yang simetris).Pemeriksaan Neurologis :  PUPIL : diameter pupil.Dilatasi pupil maksimal (“fixed dilated pupil”) : diameter pupil > 7 mm. . reaksi pupil.“ Pin point pupil” : diameter pupil sangat kecil . .Kedua diameter pupil tidak simetris : “ Anisokor” .“Thalamic pupil” : reaksi pupil melambat. Ada bbrp kelainan pada pupil : . . reaksi cahaya : tidak reaktif.5 mm.

Jalurnya melalui pontomedullar junction. . Pemeriksaan yang dilakukan berupa : refleks okulo sefalik dan refleks okulo vestibular. bersinaps di bagian kaudal pons (horizontal gaze center dan N. VI) menuju bagian sentral dari batang otak (fasciculus longitudinalis medialis) dan berakhir di midbrain/mesencephalon.Pemeriksaan Neurologis :   Gerakan Mata Extra Okular.

kepala digerakkan secara pasif ke kiri – kanan. . Gangguan pada timbulnya ke2 refleks diatas menunjukkan adanya gangguan yang melibatkan batang otak (terutama pons dan mid brain).Pemeriksaan Neurologis :    Refleks Okulo Sefalik (“Doll head maneuver) : stimulasi dari sistem vestibular melalui kanalis semisirkularis di telinga tengah . Refleks Okulo Vestibular (“Cold water caloric testing”) : stimulasi menggunakan air dingin yang di semprotkan ke membrana timpani.

.Dekortikasi respons : fleksi tangan & siku. ekstensi tungkai .Pemeriksaan Neurologis :  Respons motorik terhadap stimulus nyeri. . internal rotasi bahu. .Bereaksi/dapat melokalisir tempat pe rangsangan nyeri. . ekstensi dari tungkai. unilateral.Postur tubuh asimetris. adduksi sendi bahu .Deserebrasi respons : ekstensi tangan & siku.Jika gangguan mengenai batang otak : tidak timbul respons motorik saat rangsang nyeri. .

3. 5. 6. 2. 7. Hematoma Sub dural Hematoma Epidural Contusio Cerebri Perdarahan Intra Cerebral Abses Otak Infark Cerebri (Stroke) Tumor otak (tumor intra kranial) .Diagnosis pada Lesi Supra tentorial: 1. 4.

3.Diagnosis pada Lesi Sub Tentorial : Thrombosis arteri basilaris atau oklusi emboli Perdarahan pontine/pons Hematoma epidural & subdural di fossa posterior. . 1. 2.

Hipoglikemia Iskemia cerebral global Intoksikasi obat : obat sedatif hipnotik . 6. 5.Diagnosis pada Ensefalopathi difus : 1. 7. 2. Ensefalopathi Hepatik Kondisi hiperosmolar . 8. 9. ethanol. al hiperglikemia non ketotik Hiponatremia Hiponatremia Hiperthermia Perdarahan subarachnoid . 4. opioid. 3.

Encephalitis Status Epileptikus .Diagnosis pada Kejang dan kondisi post iktal :   Meningo encephalitis.

Kondisi vegetatif yang persisten/menetap. . Kondisi psikogenik yang tidak memberikan respons baik mata. 4. Dapat bermanifestasi sebagai schizophrenia tipe katatonik atau “ reaksi konversi “/gangguan somatisasi. 2.Differential diagnosis : 1. motorik maupun verbal. 3. “Locked in syndrome” Mati batang otak/”Brain dead”.

. Respons respiratorik (-).“ BRAIN DEAD”      Tidak adanya respons dari pasien meliputi sensorik respons (terhadap nyeri).6 jam kondisi diatas dengan EEG isoelektrik . verbal.12 jam kondisi di atas tanpa gambaran EEG isoelektrik. respons motorik. Kriteria Elektrodiagnostik (EEG) : . dimana saat pemberian Oksigen 100 % : pCO2 > 60 mm Hg. refleks okulo vestibular. refleks okulosefalik.24 jam kondisi anoksik otak tanpa gambaran EEG isoelektrik. Penyebab koma harus sudah diketahui. Refleks-refleks batang otak (-) termasuk refleks pupil. respons oropharingeal. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful