Anda di halaman 1dari 169

PENGEMBANGAN EKOWISATA PULAU KARAMPUANG KABUPATEN MAMUJU

SKRIPSI Tugas Akhir 473D528P PERIODE III TAHUN 2012/2013 Sebagai Persyaratan Untuk Ujian Sarjana Arsitektur Program Studi Pengembangan Wilayah dan Kota Oleh :

MIRSYAD HUSAIN D521 08 251

PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN WILAYAH DAN KOTA JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

PENGEMBANGAN EKOWISATA PULAU KARAMPUANG KABUPATEN MAMUJU


Mirsyad Husain1), Baharuddin Koddeng, Wiwik Wahidah Osman e-mail: mirsyad_husain@yahoo.com

ABSTRAK
Pulau-pulau kecil memiliki potensi dari segi keanekaragaman hayati, keindahan panorama alam dan budaya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan termasuk pariwisata, namun pulau-pulau kecil memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas sehingga harus mendapatkan perhatian lebih dalam pengelolaannya. Ekowisata merupakan salah satu konsep wisata yang meitikberatkan pada aspek pelestarian dan penjagaan lingkungan dan tidak mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Penerapan ekowisata dalam pengembangan Pulau Karampuang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Karampuang dan dapat melestarikan keanekaragaman hayati pulau meliputi ekosistem darat dan ekosistem pesisir yang terdiri dari mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Penentuan konsep ekowisata yang akan diterapkan diawali dengan mempertimbangkan karakteristik dasar kawasan berupa karakteristik fisik, ekosistem lingkungan pulau dan sosial budaya masyarakat. Berdasarkan perhitungan kuisioner tanggapan wisatawan terhadap daya tarik wisata, diketahui bahwa daya tarik wisata berbasis alam merupakan daya tarik wisata yang paling diminati sehingga ditetapkan konsep pengembangan kawasan yang diarahkan pada Konsep Ekowisata Alam Berbasis Lingkungan (Environtment) yang diimplementasikan dalam sebuah konsep dan arahan pengembangan berupa konsep tata ruang (zonasi), konsep atraksi wisata, konsep bentang alam, konsep aksesibilitas/sirkulasi dan konsep macam dan jenis fasilitas. Kata Kunci: Pengembangan, Ekowisata, Atraksi Wisata, Pulau Kecil
1)

Mahasiswa Pengembangan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin

iii

ECOTOURISM DEVELOPMENT OF KARAMPUANG ISLE MAMUJU Mirsyad Husain1), Baharuddin Koddeng, Wiwik Wahidah Osman e-mail: mirsyad_husain@yahoo.com ABSTRACT Isles have potential in terms of biodiversity, natural and cultural beauty of the panorama that can be used for various activities including tourism, but the isles have a limited carrying capacity of the environment that should get more attention in management. Ecotourism is one of concept that focuses on aspects of type preservation and maintenance of the environment and do not exploit natural resources excessively. Application of ecotourism in developing Karampuang Isle is expected to improve the welfare of society and to preserve the Karampuang isle biodiversity include terrestrial ecosystems and coastal ecosystems consisting of mangrove, seagrass beds, and coral reefs. Determination of the ecotourism concept will be applied beginning with the basic characteristics considering the form of physical characteristics, isle ecosystem and socio-cultural community. Based on a questionnaire responses travelers to tourist attraction, it is known that the nature-based tourist attraction is an attraction that's most desirable established neighborhood development concept aimed at "Ecotourism Concept Based Natural Environment" being implemented in a concept and direction development of the concept of spatial (zoning), the concept of tourist attractions, landscape concept, the concept of accessibility / circulation and range of concepts and types of facilities. Keywords: Development, Ecotourism, Attraction, Isle
1)

Mahasiswa Pengembangan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah. Puji dan syukur atas kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan nikmat dan petunjuk-Nya senantiasa berupa kekuatan, kesehatan, kesabaran, dan ilmu serta kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang menjadi idola dan panutan penulis dalam kehidupan sehari-hari. Tugas Akhir ini dapat diwujudkan sebagai prasyarat akademis untuk mencapai Akhir gelar yang Sarjana berjudul Teknik (ST) pada Program Studi Pulau Pengembangan Wilayah Kota, Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin. Tugas Pengembangan Ekowisata Karampuang Kabupaten Mamuju dilatarbelakangi oleh degradasi lingkungan yang terjadi pada pulau Karampuang yang merupakan salah satu daerah tujuan wisata Kota Mamuju sehingga diperlukan penerapan konsep wisata yang lebih mengutamakan kelestarian lingkungan mengingat ekosistem pulau/pesisir yang kompleks dan rentan akan perubahan baik karena perubahan alam maupun aktivitas manusia. Semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan, serta dapat menjadi acuan dalam studi selanjutnya, terutama dalam bidang Pengembangan Wilayah Kota. Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan arahan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya menmenyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada kedua orang tua, ayahanda H.Muh. Husain Shabir, ibunda Hj. A. Nurliah, AP, S.Sos, atas segala kasih sayang dan dukungan moril maupun materil selama ini. Ini adalah persembahan kecil yang pertama dari anakmu. Saudari penulis yang tercinta Hj. Marwah Husain, SE dan Hj. Nurbaety, ST atas dukungannya selama pengerjaan tugas akhir ini.

Dengan segala kerendahan hati, penulis juga menyampaikan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada: 1. Bapak Ir. H. Baharuddin Koddeng. MSA dan Ibu Wiwik Wahidah Osman. ST., MT selaku pembimbing tugas akhir yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan, wawasan pengetahuan dan motivasi bagi penulis dalam penyempurnaan tugas akhir ini. 2. Bapak Baharuddin Hamzah, ST.,M.Arch.,PhD, Bapak Ir. Louis Santoso, M.Si, dan Bapak Dr. Eng. Ihsan, ST.,MT selaku penguji yang telah banyak memberikan kritik, saran dan masukan yang berarti dalam penyempurnaan tugas akhir ini. 3. Bapak Baharudin Hamzah, ST., M.Arch., PhD selaku Ketua Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. 4. Bapak Dr. Ir. Arifuddin Akil, MT. selaku Ketua Program Studi Pengembangan Wilayah Kota Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. 5.

Ibu Ir. Hj. Suriana Latanrang. MSi ,selaku Kepala Studio Akhir atas masukan dan kemudahan selama mengikuti masa studio.
Bapak Prof. Ir. Bambang Heryanto, M.Sc., PhD selaku penasehat akademik selama penulis menjalani kuliah di Program Studi Pengembangan Wilayah Kota Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, terima kasih atas bimbingan dan masukannya selama ini.

6.

7.

Seluruh Dosen pengajar di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, terkhusus Ibu Ir. Riekje Hehanussa Pangkarego, Ibu Marly Valenty Patandianan ST., MT dan Bapak Abdul Rachman Rasyid, ST., M.Si terima kasih atas ilmu yang bermanfaat yang telah diberikan selama penulis menimba ilmu di bangku perkuliahan.

8.

Seluruh Staf Kepegawaian di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Pak Hafidz, Pak Haerul, Pak John, Pak Sawalli, Pak Robert, Pak Sahar, Ibu Anty, dan Ibu Tiknok, yang telah banyak membantu dalam pengurusan kelengkapan administratif.

9.

Teman-teman PWK 08: Ippank ST, Umen ST, Nina ST, Atri, Christy ST, Hiro ST, Adhe ST, Akbar ST, Teddy, Dimas, Serli ST, Itha ST, Firman, Ian ST,

vi

Ray, Hilda ST, Adyla ST, Rina ST, Marga, Iksan, Achim, Iman, Rizqy, Karli ST, Dana, Djharot, Nining ST, Nanda ST, Iphe ST, Uchy ST, Lina ST, Nada ST, King ST, Fiha ST, Hasra ST, Kiky ST, terima kasih atas kebersamaan, dukungan dan seluruh canda tawa yang menghiasi masa-masa perkuliahan. 10. Teman-teman prodi Arsitektur 2008: Ahmad Dipta, Afri Saldy, Sukarno Hamid, Acank, Ewink, Fajri, Ammank ST, Bangbross, Septo, Furqan, Akbar, Utha, Toto, Ai, Mamat, Emil, Yani, Kingking, Bk2s, Riska, Rina, Tari, Iin, Dildil, Wilda, dan seluruh teman-teman angkatan 2008 yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terima kasih. 11. Teman-teman seperjuangan Studio Akhir PWK Periode III/tahun 2012/2013, Kak Alan, Achim, Djharot, Ray, terima kasih atas kebersamaan dan kekompakannya. 12. Teman-teman Pleton Fast 201 Pertamina 2010: Indra, Fathir, Ceper, Hendra, Allink, Ryan, Miccing, Om Ferry dan teman-teman lainnya atas kebersamaan kegilaan, dan pelajaran hidup selama ini. 13. Teman-teman KKN Macorawalie, Kak Syarif, Abot, Iwan, Diptha, Furqan, Qqoy, Nunu, Aya, Tari, Vida, Amma, Mey, atas waktu berharganya. 14. Kepada mace-mace dan pace di Fakultas Teknik, Mace Sanu, Mace Norma dan Pak Sawalli, Sandi, Mace Gendut dan Pace Gendut, serta Mace Mala, atas asupan gizi tanpa mengenal waktu. 15. Keluarga Besar Teknik 09, atas senioritas, loyalitas, dan solidaritas, tidak ada kata yang lebih baik, terima kasih. 16. Keluarga Besar Teknik 2008, terkhusus untuk Thigor Akhirullah atas kebersamaan, kegilaan, kekompakan, dan kebahagiaan selama ini. 17. Keluarga Besar OKJA FT-UH, terima kasih untuk semuanya. 18. Dr. Mita Tanumihardja, SpJp dan Dr. Bambang Budiono SpJp atas atas semangat dan doa dalam kehidupan penulis. 19. The Gorgeos, Rizky Amalia Ramadhani, S.Ked, terima kasih atas kasih sayang, semangat, perhatian, dan waktu yang berharga dalam kehidupan penulis. 20. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang turut mendukung terselesaikannya Tugas Akhir ini.

vii

Semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu perencanaan wilayah dan kota. Mari terus berkarya untuk hari ini, esok selamalamanya. Sedikit bicara banyak bekerja dan tertawa. Semoga apa yang senantiasa kita lakukan senantiasa mendapat ridho dari-NYA

Makassar, Maret 2013

Mirsyad Husain

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ........................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN ................................................................... ii ABSTRAK ........................................................................................... iii ABSTRACT ......................................................................................... iv KATA PENGANTAR ........................................................................... v DAFTAR ISI ......................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ............................................................................. x DAFTAR TABEL ................................................................................. xiii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................... 4 C. Tujuan ....................................................................................... 4 D. Lingkup Perencanaan ............................................................... 5 E. Sistematika Pembahasan.......................................................... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pariwisata.................................................................................. 7 B. Ekowisata .................................................................................. 11 C. Konsep Pengembangan Ekowisata .......................................... 20 D. Konservasi ................................................................................ 23 E. Objek dan Daya Tarik Wisata.................................................... 26 F. Analisis Strategi SWOT dan Pemetaan Posisi Pariwisata......... 29 G. Abrasi ........................................................................................ 33 H. Peraturan Perundangan ............................................................ 38 I. Studi Banding ............................................................................ 41 J. Kerangka Pikir Perencanaan..................................................... 45

ix

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ....................................................................... 46 B. Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 46 C. Populasi dan Sampel ................................................................ 47 D. Metode Analisis ......................................................................... 48 E. Teknik Analisis .......................................................................... 49 F. Variabel Penelitian .................................................................... 52 G. Kerangka Perencanaan............................................................. 55 H. Diagramatik Alur Studi Perencanaan ........................................ 56 I. Definisi Operasional .................................................................. 57 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PERENCANAAN A. Gambaran Umum Kota Mamuju................................................ 58 B. Gambaran Umum Pulau Karampuang ...................................... 67 BAB V ANALISIS A. Analisis SWOT Kawasan .......................................................... 90 B. Analisis Kompetisi/Persaingan Pariwisata................................. 97 C. Analisis Potensi dan Masalah ................................................... 98 D. Analisis Keunikan Pulau ............................................................ 104 E. Analisis Fungsi Kawasan .......................................................... 106 F. Analisis Objek dan Daya Tarik Wisata ...................................... 108 G. Analisis Pemilihan Site Ekowisata ............................................. 109 H. Analisis Aksesibilitas dan Sirkulasi............................................ 113 BAB VI KONSEP DAN ARAHAN PENGEMBANGAN A. Konsep Pengembangan ............................................................ 116 B. Arahan Pengembangan ............................................................ 127 C. Pengembangan Sub-Kawasan.................................................. 138 D. Konsep Perencanaan 20 Tahun dalam Pengembangan .......... 148

BAB VII PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................... 150 B. Saran......................................................................................... 153 DAFTAR PUSTAKA

xi

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3 Tabel 5.4 Tabel 5.5 Tabel 5.6 Tabel 5.7 Tabel 5.8 Tabel 5.9 Pengertian Ekowisata ....................................................... 11 Prinsip dan Kriteria Ekowisata .......................................... 16 Model Analisis Faktor Strategi Internal/Eksternal.............. 30 Matriks Analisis SWOT ..................................................... 52 Variabel Penelitian ............................................................ 53 Rata-Rata Curah Hujan Per Tahun di Kabupaten Mamuju 61 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin 62 Perkembangan wisatawan perbulan kota Mamuju tahun 2009 ....................................................................... 67 Matrik SWOT Pengembangan Ekowisata ......................... 91 Analisis IFAS (Internal Strategic Factors Analysis) .......... 93 Analisis EFAS (External Strategic Factors Analysis) ....... 94 Analisis Kompetisi/Persaingan .......................................... 97 Potensi Kawasan Pengembangan Ekowisata .................. 100 Masalah Kawasan Pengembangan Ekowisata ................. 103 Analisis Keunikan Kawasan Pengembangan .................... 104 Klasifikasi dan Skor Penentuan Fungsi Kawasan ............. 106 Tanggapan Wisatawan Terhadap Objek dan Daya Tarik . 108

Tabel 5.10 Analisis Kesesuaian Wisata Selam ................................... 112 Tabel 5.11 Keterkaitan ruang dalam kawasan pengembangan .......... 112 Tabel 5.12 Analisis Tingkat Aksesibilitas ............................................ 114 Tabel 6.1 Tabel 6.2 Tabel 6.3 Tabel 6.4 Tujuan penetapan tiap fungsi kawasan............................. 117 Rencana Besaran Ruang Kawasan Pengembangan ........ 118 Unsur ODTW .................................................................... 122 Fungsi Perencanaan Tata Hijau........................................ 132

xiii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Jenis Objek Wisata ........................................................... 12 Gambar 2.2 Unsur-Unsur Utama Pendukung Ekowisata...................... 19 Gambar 2.3 Model Posisi Perkembangan Ekowisata ........................... 31 Gambar 2.4 Armour stone dan penumpukan pasir ...................................... 37 Gambar 2.5 Ekowisata Pahawang........................................................ 42 Gambar 2.6 Ekowisata Pulau Sangiang ............................................... 44 Gambar 2.7 Kerangka Pikir Perencanaan ............................................ 45 Gambar 3.1 Analisis SWOT.................................................................. 51 Gambar 3.2 Kerangka Perencanaan .................................................... 55 Gambar 3.3 Diagramatik Alur Studi Perencanaan ................................ 56 Gambar 4.1 Peta Administrasi Provinsi Sulawesi Barat ....................... 59 Gambar 4.2 Peta Administrasi Kabupaten Mamuju .............................. 60 Gambar 4.3 Beberapa objek wisata yang ada di Kabupaten Mamuju .. 66 Gambar 4.4 Rumah Adat Mamuju ........................................................ 66 Gambar 4.5 Orientasi Lokasi Penelitian Terhadap Kecamatan Mamuju 68 Gambar 4.6 Peta Pulau Karampuang ................................................... 69 Gambar 4.7 Peta Kemiringan Lereng/ Topografi Pulau Karampuang .. 71 Gambar 4.8 Peta Kontur Pulau Karampuang ....................................... 72 Gambar 4.9 Peta Penggunaan Lahan Pulau Karampuang................... 73 Gambar 4.10 Titik-Titik Abrasi Pulau Karampuang ................................. 74 Gambar 4.11 Persebaran Flora Fauna Pulau Karampuang ................... 78 Gambar 4.12 Transportasi pulau ............................................................ 79 Gambar 4.13 Prasarana dermaga di Pulau Karampuang ....................... 80 Gambar 4.14 Prasarana jalan di Pulau Karampuang ............................. 80 Gambar 4.15 Peta Aksesibilitas Pulau Karampuang .............................. 81 Gambar 4.16 Sarana peribadatan berupa masjid ................................... 82

Gambar 4.17 Kantor Desa Karampuang ................................................ 82 Gambar 4.18 Sarana kesehatan berupa puskesmas.............................. 83 Gambar 4.19 Sarana pendidikan SD Negeri Karampuang ..................... 83 Gambar 4.20 Prasarana listrik berupa genset dan PLTD ....................... 84 Gambar 4.21 Prasarana air bersih ......................................................... 84 Gambar 4.22 WC Umum yang tersedia di kawasan wisata .................... 85 Gambar 4.23 Villa yang tersedia di kawasan wisata .............................. 86 Gambar 4.24 Gazebo di beberapa titik ................................................... 86 Gambar 4.25 Panggung pertunjukan di kawasan wisata ........................ 86 Gambar 4.26 Persebaran Sarana ........................................................... 87 Gambar 4.27 Persebaran Sarana ........................................................... 88 Gambar 4.28 Cinderamata hasil kerajinan masyarakat lokal.................. 89 Gambar 5.1 Posisi pengembangan pada kuadran SWOT .................... 96 Gambar 5.2 Analisis potensi dan masalah kawasan pengembangan .. 99 Gambar 5.3 Peta Fungsi Kawasan Pulau Karampuang ....................... 107 Gambar 5.4 Ilustrasi teknik superimpose yang dilakukan ..................... 109 Gambar 5.5 Zona potensi pengembangan ekowisata .......................... 110 Gambar 5.6 Keterkaitan ruang dalam kawasan pengembangan .......... 113 Gambar 6.1 Perencanaan Tata Ruang ................................................. 119 Gambar 6.2 Zonasi Perencanaan ......................................................... 120 Gambar 6.3 Konsep Atraksi Wisata ...................................................... 123 Gambar 6.4 Rencana Aksesibilitas dan Sirkulasi ................................. 126 Gambar 6.5 Kawasan Wisata Publik dan Wisata Khusus..................... 130 Gambar 6.6 Ilustrasi Garis Sempadan Pantai ...................................... 131 Gambar 6.7 Ilustrasi mangrove sebagai pemecah gelombang............. 131 Gambar 6.8 Rencana Bentang Alam .................................................... 133 Gambar 6.9 Alur Sirkulasi dari Permukiman Tradisional ...................... 135 Gambar 6.10 Alur Sirkulasi dari Kawasan Rekreasi ............................... 136 Gambar 6.11 Rencana fasilitas pada kawasan rekreasi ......................... 139

xi

Gambar 6.12 Rencana fasilitas pada kawasan wisata selam ................. 140 Gambar 6.13 rencana fasilitas pada kawasan ermukiman tradisional .... 142 Gambar 6.14 Rencana fasilitas pada kawasankonservasi mangrove .... 143 Gambar 6.15 Rencana fasilitas pada kawasan hutan ............................ 145 Gambar 6.15 Rencana fasilitas pada kawasan perdagangan ................ 146 Gambar 6.16 Rencana Persebaran Fasilitas .......................................... 147 Gambar 6.17 Skema perencanaan 20 tahun dalam pengembangan ..... 148

xii

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki lebih dari

17.504 buah pulau, dengan garis pantai membentang sepanjang 81.000 km. Dari sejumlah pulau tersebut, lebih dari 10.000 pulau merupakan pulau-pulau kecil, bahkan sangat kecil, belum bernama dan tidak dihuni penduduk. Pulau-pulau kecil memiliki potensi sumber daya terbarui yang seringkali dimanfaatkan bagi kepentingan rnanusia. Potensi pulau-pulau kecil dari segi keanekaragaman hayati, keindahan panorama alam dan budaya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk pariwisata. Pulau-pulau kecil memiliki potensi kelautan yang cukup besar. Potensi perikanan didukung oleh adanya ekosistem terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi serta bernilai ekonomi. Pulau-pulau kecil juga memiliki potensi bagi pengembangan wisata bahari. Pulau kecil mempunyai tangkapan air (catchment) yang relatif kecil sehingga kebanyakan air dan sedimen hilang ke dalam air. Dari segi budaya, masyarakat yang mendiami pulau kecil mempunyai budaya yang berbeda dengan pulau kontinen dan daratan (Dahuri, 1998). Pulau kecil dapat dipandang sebagai sebuah ekosistem dimana setiap karakter alam berada dalam jalinan kesalingterhubungan (McElroy and Klaus, 1990). Meningkatnya kecenderungan pasar pariwisata internasional untuk berwisata di kawasan yang masih alami memberikan peluang bagi pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil. Kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap upaya pemeliharaan dan kelestarian lingkungan

berdampak pada perlunya pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan memperhatikan lingkungan yang lebih luas. Pulau-pulau kecil perlu diberdayakan secara optimal dan lestari sesuai dengan karakteristik dan potensinya masing-masing. Dilain pihak pulau-pulau kecil memiliki daya dukung yang terbatas. yang perlu dipertimbangkan dalam pemanfaatannya untuk suatu kegiatan, termasuk kegiatan pariwisata. Karakteristik fisik pulau yang kecil, umumnya berakibat pada keterbatasan sumber daya air, kerentanan terhadap ancaman bencana alam, penduduk yang relatif miskin, serta keterisolasian dari wilayah lain. Pengembangan kegiatan pariwisata di pulau-putau kecil berpotensi memberikan dampak baik positif maupun negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Dampak tersebut dapat dilihat dari segi fisik alami, binaan, sosial budaya dan ekonomi. Dampak positif pertu dioptimalkan sementara dampak negatif tentunya harus diminimalisasi bahkan jika memungkinkan dihilangkan. Dengan berlakunya Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan mengembangkan Daerah, dan setiap mengelola daerah potensi diwajibkan daerahnya untuk dapat masing-masing.

Pernerintah Pusat memiliki tanggungjawab dalam menyiapkan kebijakan makro sebagai acuan bagi Pemerintah Daerah. Untuk itu diperlukan satu "pedoman" bagi pemerintah daerah dalam mengelola pengembangan periwisata di pulau-pulau kecil yang termasuk dalam wilayahnya, termasuk dalam penyusunan peraturan, pengawasan, pemantauan dan pengelolaan pariwisata pulau-pulau kecil tersebut. Salah satu kegiatan wisata yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini, bahkan telah menjadi isu global yaitu dengan berkembangnya ekowisata (ecotourism) sebagai kegiatan wisata alam yang berdampak ringan terhadap lingkungan. Menurut Hadi (2007), prinsip-prinsip ekowisata (ecotourism) adalah meminimalisir dampak, menumbuhkan kesadaran lingkungan dan

budaya, memberikan pengalaman positif pada turis (visitors) maupun penerima (hosts), memberikan manfaat dan pemberdayaan masyarakat lokal. Ekowisata dalam era pembangunan berwawasan lingkungan merupakan suatu misi pengembangan wisata alternatif yang tidak menimbulkan banyak dampak negatif, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kondisi sosial budaya. Adapun unsur penting yang dapat menjadi daya tarik dari sebuah Daerah Tujuan Ekowisata (DTE) adalah kondisi alamnya, kondisi flora dan fauna yang unik, langka dan endemik, kondisi fenomena alamnya, serta kondisi adat dan budaya. Di mana unsur- unsur tersebut terdapat pada Kabupaten Mamuju, khususnya Pulau Karampuang yang memiliki potensi ekologi dan kondisi sosial budaya yang dapat menjadi daya tarik sebagai daerah tujuan wisata, khususnya ekowisata/ecotourism. Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. Bahkan dengan ekowisata pelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya karena desakan dan tuntutan dari para eco-traveler. Kawasan Pulau Karampuang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Mamuju sebagai kawasan tujuan wisata, namun dalam pengelolaannya belum sepenuhnya berjalan baik, sehingga terjadi degradasi lingkungan berupa pembuangan sampah yang tidak terkendali, dan mengalami abrasi cukup berat sehingga kurang menunjang aktifitas wisata. Oleh karena itu diperlukan penataan yang lebih baik bagi kawasan ini.

Terjadinya penurunan kualitas ekosistem di Pulau Karampuang berupa pembuangan sampah yang tidak terkendali dan abrasi di beberapa titik diakibatkan kurangnya pemahaman masyarakat lokal terhadap pengelolaan ekosistem pulau yang memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas sehingga membutuhkan perhatian yang lebih dalam pengelolaannya. Dengan didasari hal hal yang telah diungkapkan di atas, penulis mengambil judul Perencanaan Ekowisata Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju.

B.

Rumusan Masalah Beberapa hal yang coba diungkap dalam perencanaan ini adalah

sebagai berikut: 1. 2. Bagaimana kondisi fisik dan non fisik kawasan Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju dalam pengembangan potensi ekowisata? Bagaiamana konsep perencanaan ekowisata yang dapat diterapkan pada kawasan Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju?

C.

Tujuan Tujuan perencanaan adalah menyusun konsep dan arahan

pengembangan ekowisata Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju meliputi zonasi, atraksi wisata, bentang alam, aksesibilitas dan sirkulasi, serta macam dan jenis fasilitas.

D.

Lingkup Perencanaan Berpedoman pada tujuan yang ingin dicapai, perencanaan dibatasi

lingkupnya yaitu daerah kawasan Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju dengan perencanaan ekowisata yang tetap mempertahankan fungsi lingkungan dan bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Sedangkan pembahasan difokuskan pada Program perencanaan ekowisata kawasan Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju berbasis masyarakat yang bertujuan untuk merubah kondisi lingkungan membawa dampak positif terhadap kunjungan wisatawan. dan masyarakat agar menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya sehingga

E.

Sistematika Pembahasan Adapun penyusunan laporaan ini akan dibahas sesuai dengan

sistematika pembahasan yang disajikan sebagai berikut: Bab I Pendahuluan Bab ini menguraikan mengenai latar belakang, permasalahan, tujuan dan sasaran, batasan wilayah dan waktu perencanaan serta sistematika pembahasan. Bab II Tinjauan Teori Bab ini menguraikan tentang tinjauan pustaka yang dapat mendukung dalam melakukan analisis yang meliputi tinjauan mengenai pariwisata, ekowisata, konservasi kawasan, konsep ekowisata dan hubungannya dengan konservasi, objek dan daya tarik wisata, analisis strategi swot dan pemetaan posisi pariwisata, abrasi dan penanganannya, studi banding dan kerangka pikir, serta peraturan dan perundangan yang terkait. Bab III Metode Perencanaan Menjelaskan mengenai metode pengambilan data, teknik penelitian, serta definisi operasional. yang digunakan, metode analisis, dan teknik analisis yang digunakan, variabel

Bab IV Gambaran Umum Wilayah Studi Menjelaskan gambaran umum wilayah perencanaan, yaitu Kabupaten Mamuju secara umum, dan Pulau Karampuang secara khusus. BAB V Analisis dan Pembahasan Berisikan mengenai pembahasan arahan pengembangan serta teknik analisis yang digunakan, meliputi analisis spasial, analisis superimpose, analisis foto mapping, serta analisis SWOT. Bab VI Perencanaan Berisikan mengenai konsep dan arahan pengembangan ekowisata yang meliputi konsep dan arahan zonasi, konsep dan arahan atraksi wisata, konsep dan arahan landscape, serta konsep dan arahan jenis fasilitas. Bab VII Penutup Merupakan kesimpulan dan saran terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Pariwisata Dalam arti luas, pariwisata adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Sebagai suatu aktifitas, pariwisata telah menjadi bagian penting dari kebutuhan dasar masyarakat maju dan sebagian kecil masyarakat negara berkembang. Definisi pariwisata menurut UndangUndang Nomor 10 Tahun 2009 pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Jadi pariwisata merupakan perjalanan yang dilakukan manusia ke dareah yang bukan merupakan tempat tinggalnya dalam waktu paling tidak satu malam dengan tujuan perjalanan bukan untuk mencari nafkah, pendapatan atau penghidupan di tempat tujuan. 1. Pariwisata Berkelanjutan Definisi pembangunan pariwisata berkelanjutan bisa memiliki makna beragam. Orang dari banyak bidang yang berbeda menggunakan istilah berbeda di dalam konteks yang berbeda dan mereka mempunyai konsep, bias, dan pendekatan berbeda. WTO mendefinisikan pembangunan pariwisata berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan wisatawan saat ini, sambil melindungi dan mendorong kesempatan untuk waktu yang akan datang. Mengarah pada pengelolaan seluruh sumber daya sedemikian rupa sehingga kebutuhan ekonomi, sosial dan estetika dapat terpenuhi sambil memelihara integritas kultural, proses ekologi esensial,

keanakeragaman hayati dan sistem pendukung kehidupan. Produk pariwisata berkelanjutan dioperasikan secara harmonis dengan lingkungan lokal, masyarakat dan budaya, sehingga mereka menjadi penerima keuntungan yang permanen dan bukan korban pembangunan pariwisata. Dalam hal ini kebijakan pembangunan pariwisata berkelanjutan terarah pada penggunaan sumber daya alam dan penggunaan sumber daya manusia untuk jangka waktu panjang (Sharpley, 2000:10) Berkaitan dengan upaya menemukan keterkaitan anatara aktifitas pariwisata dan konsep pembangunan berkelanjutan Cronin (Sharpley, 2000:1), mengkonsepkan pembangunan pariwisata berkelanjutan sebagai mempertimbangkan pariwisata pembanguan yang terfokus pada dua hal, keberlanjutan pariwisata sebagai aktivitas ekonomi di satu sisi dan lainnya sebagai elemen kebijakan pembangunan berkelanjutan yang lebih luas. Stabler & Goodall (Sharpley, 2000:1), menyatakan pembangunan pariwisata berkelanjutan harus konsisten/sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Lane (dalam Sharpley, 2000:8) menyatakan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah hubungan triangulasi yang seimbang antara daerah tujuan wisata (host areas) dengan habitat dan manusianya, pembuatan paket liburan (wisata), dan industri pariwisata, dimana tidak ada satupun stakeholder dapat merusak keseimbangan. Pendapat yang hampir sama disampaikan Muller yang mengusulkan istilah magic pentagon yang merupakan keseimbangan antara elemen pariwisata, dimana tidak ada satu faktor atau stakeholder yang mendominasi. 2. Community Based Tourism (Pariwisata Berbasis Masyarakat) S a l a h sa t u ko n s e p y a n g m e n j e laskan peranan komunitas dalam pembangunan pariwisata adalah Community Based Tourism (CBT). Secara konseptual prinsip dasar kepariwisataan berbasis

masyarakat adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama

melalui

pemberdayaan

masyarakat

dalam

berbagai

kegiatan

kepariwisatan, sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperuntukkan kepariwisataan kepariwisataan. Konsep Community Based Development lazimnya digunakan oleh para perancang pembangunan pariwisata sebagai strategi untuk d a lam bagi masyarakat. haruslah Sasaran utama pengembangan masyarakat meningkatkan kesejahteraan

(setempat). Pemda berperan sebagai fasilitator pengembangan

memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi secara a k t if

p e mb an gu n a n s e ba ga i partner industri pariwisata. Tujuan yang ingin diraih adalah pemberdayaan sosial-ekonomi komunitas itu sendiri d a n m e le ka t k a n n i l a i le b ih d a l a m berpariwisata, khususnya kepada para wisatawan. Tren dunia global saat ini pengembangan community based development telah dilakukan sebagai alat dan strategi pembangunan, tidak hanya terbatas di bidang pariwisata, melaink a n d a la m k o n t e k s p e m b a n g u n a n negara, dengan membuka kesempatan dan akses komunitas untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Community based development adalah konsep yang menekankan kepada pemberdayaan komunitas untuk menjadi lebih memahami nilai-nilai dan aset yang mereka miliki, seperti kebudayaan, adat istiadat, masakan kuliner, gaya hidup. Dalam konteks pembangunan wisata, komunitas tersebut haruslah secara mandiri melakukan mobilisasi aset dan nilai tersebut menjadi da ya ta rik u tama ba gi pe nga laman berwisata wisatawan. Melalui konsep Community Based Tourism, setiap individu dalam komunitas diarahkan untuk menjadi bagian dalam rantai ekonomi pariwisata, untuk itu para individu diberi keterampilan untuk mengembangkan small business. Menurut Suansri (2003) ada beberapa prinsip dari community based tourism yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut:

a. Mengenali, mendukung, dan mempromosikan kepemilikan masyarakat dalam pariwisata (community ownership of tourism). b. Melibatkan anggota masyarakat dari setiap tahap pengembangan pariwisata dalam berbagai aspeknya. c. Mempromosikan kebanggaan terhadap komunitas bersangkutan. d. Meningkatkan kualitas kehidupan. e. Menjamin keberlanjutan lingkungan. f. Melindungi ciri khas (keunikan) dan budaya masyarakat lokal. g. Mengembangkan pembelajaran lintas budaya. h. Menghormati perbedaan budaya dan martabat manusia. i. Mendistribusikan keuntungan dan manfaat yang diperoleh secara proporsional kepada anggota masyarakat. j. Memberikan kontribusi dengan persentase tertentu dari pendapatan yang diperoleh untuk proyek pengembangan masyarakat. k. Menonjolkan keaslian (authenticity) hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Berdasarkan pemahaman tersebut, Community Based Tourism sangat berbeda dengan pendekatan pembangunan pariwisata pada umumnya, dimana komunitas merupakan aktor utama dalam proses pembangunan pariwisata, dengan tujuan utama adalah untuk peningkatan standar kehidupan ekonomi masyarakat tersebut.

10

B. 1.

Ekowisata Pengertian Ekowisata

Dalam perkembangan konsep ekowisata, ada beberapa organisasi wisata dunia yang merumuskan tentang pengertian dari ekowisata, antara lain : Tabel 2.1 Pengertian Ekowisata Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan The Ecotourism Society (1990) wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Ekowisata setidaknya harus melingkupi, tidak World Tourism Organization (WTO) dan United Nations Environtment Program (UNEP). hanya memberi perhatian pada alam dan keutuhan ekologi, tetapi juga pada penduduk asli dan kultur umumnya di wilayah itu sebagai bagian dari pengalaman menarik para pengunjung (wisatawan). Ekowisata memiliki muatan pendidikan dan interpretasi sebagai bagian yang ditawarkan pada wisatawan. Ekowisata adalah wisata yang berbasis alam Australia National Ecotourism Strategy, 1994 yang berkaitan dengan pendidikan dan pemahaman lingkungan alam dan dikelola dengan prinsip berkelanjutan (sustainable),
Sumber: www.ecotourism.org

11

Dari beberapa pengertian di atas, ditarik kesimpulan bahwa ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu lingkungan baik alam yang alami maupun buatan serta budaya yang ada yang bersifat informatif dan partisipatif yang bertujuan untuk menjamin kelestarian alam dan sosialbudaya. Adapun jenis objek wisata yang termasuk dalam ekowisata antara lain: wisata budaya,wisata alam,wisata desa, dan wisata pantai.
OBJEK WISATA

Wisata Budaya

Wisata Alam

Wisata Bisnis

Wisata Olahraga

Wisata Desa

Wisata Pantai Ekowisata

Gambar 2. 1 Jenis Objek Wisata


Sumber: www.ekowisata.info

2. a.

Konsep Dasar Ekowisata Perjalanan outdoor dan di kawasan alam yang tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.

b. c.

Wisata ini mengutamakan penggunaan fasilitas transportasi yang diciptakan dan dikelola masyarakat kawasan wisata. Perjalanan wisata ini menaruh perhatian besar pada lingkungan alam dan budaya lokal. (Sumber : www.ekowisata-indonesia.ekowisata.org)

3.

Ciri-Ciri Ekowisata Menurut Fandlei et.al (2000), ekowisata pada mulanya hanya bercirikan

bergaul dengan alam untuk mengenali dan menikmati. Meningkatnya kesadaran manusia akan meningkatnya kerusakan/perusakan alam oleh ulah

12

manusia sendiri, telah menimbulkan/menumbuhkan rasa cinta alam pada semua anggota masyarakat dan keinginan untuk sekedar menikmati telah berkembang menjadi memelihara dan menyayangi, yang berarti mengkonservasi secara lengkap. Ciri-ciri ekowisata sekarang mengandung unsur utama, yaitu: konservasi, edukasi untuk berperan serta, dan pemberdayaan masyarakat setempat. 4. Prinsip Ekowisata The Ecotourism Society (Eplerwood/1999) menyebutkan ada delapan prinsip dalam ekowisata. Prinsip dari ekowisata ini dapat menciptakan pembangunan yang ecological friendly. (Sumber : www.ekowisata.info). Prinsip itu antara lain yaitu: a. Mencegah dan menanggulangi dampak dari aktivitas wisatawan terhadap b. alam dan budaya, pencegahan dan penanggulangan disesuaikan dengan sifat dan karakter alam dan budaya setempat. Pendidikan konservasi lingkungan. Mendidik wisatawan dan masyarakat setempat akan pentingnya arti konservasi. Proses pendidikan ini dapat dilakukan langsung di alam. c. Pendapatan langsung untuk kawasan. Mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata dan manajemen pengelola kawasan pelestarian dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan. Retribusi dan conservation tax dapat dipergunakan secara langsung untuk membina, melestarikan dan meningkatkan kualitas kawasan pelestarian alam. d. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan. Masyarakat diajak dalam merencanakan pengembangan ekowisata. Demikian pula di dalam pengawasan, peran masyarakat diharapkan ikut secara aktif. e. Penghasilan masyarakat. Keuntungan secara nyata terhadap ekonomi masyarakat dari kegiatan ekowisata mendorong masyarakat menjaga kelestarian kawasan alam.

13

f.

Menjaga keharmonisan dengan alam. Semua upaya pengembangan termasuk pengembangan fasilitas dan utilitas harus tetap menjaga keharmonisan dengan alam. Apabila ada upaya disharmonize dengan alam akan merusak produk wisata ekologis ini. Hindarkan sejauh mungkin penggunaan minyak, mengkonservasi flora dan fauna serta menjaga keaslian budaya masyarakat.

g.

Daya dukung lingkungan. Pada umumnya lingkungan alam mempunyai daya dukung yang lebih rendah dengan daya dukung kawasan buatan. Meskipun mungkin permintaan sangat banyak, tetapi daya dukunglah yang membatasi.

h.

Peluang penghasilan pada porsi yang besar terhadap negara. Apabila suatu kawasan pelestarian dikembangkan untuk ekowisata, maka devisa dan belanja wisatawan didorong sebesar-besarnya dinikmati oleh negara atau negara bagian atau pemerintah daerah setempat.

5.

Karakteristik Ekowisata Ada beberapa karakteristik ekowisata yang membedakan wisata ini

dengan wisata massal yaitu : a. Aktivitas wisata terutama berkaitan dengan konservasi lingkungan. Meskipun motif berwisata bukan untuk melestarikan lingkungan, namun dalam kegiatan-kegiatan tersebut melekat keinginan untuk ikut serta melestarikan lingkungan.Tingginya kesadaran lingkungan memudahkan wisatawan untuk terlibat dalam berbagai upaya pelestarian. b. Penyediaan jasa wisata tidak hanya menyiapkan sekedar atraksi untuk menarik tamu, tetapi juga menawarkan peluang bagi mereka untuk lebih menghargai lingkungan, sehingga keunikan ODTW dan lingkungannya tetap terpelihara dan masyarakat lokal serta wisatawan berikutnya dapat menikmati keunikan tersebut. c. Kegiatan wisata berbasis alam. ODTW yang menjadi basis kegiatan wisata adalah alam dan lingkungan yang hijau (kawasan pegunungan,

14

hutan raya dan taman nasioanl) dan biru (laut yang bening dan bersih). Bagi wisatawan atraksi alam yang masih asli ini memiliki nilai tertinggi dalam kepuasan berwisata. d. Organisasi perjalanan menunjukkan tanggung jawab finansial dalam pelestarian lingkungan hiaju yang dikunjungi atau dinikmati oleh wisatawan dan wisatawan juga melakukan kegiatan yang terkait dengan konservasi. Dengan kata lian, semua aktivitas wisata berbasis pada pelestarian alam. e. Kegiatan wisata dilakukan tidak hanya dengan tujuan menikmati keindahan dan kekayaan alam itu sendiri, tetapi juga secara spesifik untuk mengumpulkan dana yang akan digunkan bagi pelestarian ODTW. Dalam hal ini terbentuk hubungan yang erat antara masyarakat lokal, pelaku konservasi dan ilmuwan, serta ekowisatawan melalui situasi belajar dan pengalaman bersama. f. Perjalanan wisata menggunakan alat transportasi dan akomodasi lokal. Pengertian ini menunjuk pada moda angkutan dan fasilitas akomodasi yang dikelola langsung oleh masyarakat di daerah tujuan wisata, terlebih-lebih yang bersifat ramah lingkungan. Pemanfaatan fasilitas sejenis yang dikelola oleh orang lain dipandang akan mengurangi sumbangan g. ekowisata bagi peningkatan kesehjateraan ekonomi masyarakat setempat. Pendapatan dari parawisata digunakan tidak hanya untuk mendukung kegiatan konservasi setempat lokal tetapi juga mebantu pengembangan dengan masyarakat h. secara berkelanjutan, misalnya

membentuk program-program pendidikan lingkungan. Perjalanan wisata menggunakan teknologi sederhana yang tersedia di daerah tujuan wisata, terutama yang menghemat energi, menggunakan sumberdaya lokal, termasuk melibatkan masyarakat lokal dalam pembuatannya (Sumber : www.ekowisata.info).

15

Tabel 2.2 Prinsip dan Kriteria Ekowisata


Prinsip Ekowisata
1. Memiliki kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap pelestarian dan lingkungan usaha jawab alam yang dan

Kriteria Ekowisata
Memperhatikan lingkungan kualitas kawasan daya tujuan, dukung melalui

pelaksanaan sistem pemintakatan (zonasi). Mengelola jumlah pengunjung, sarana dan fasilitas sesuai dengan daya dukung lingkungan daerah tujuan. Meningkatkan kesadaran dan apresiasi para pelaku terhadap lingkungan alam dan budaya. Memanfaatkan sumber daya lokal secara lestari dalam penyelenggaraan kegiatan ekowisata. Meminimumkan dampak negatif yang

budaya,

melaksanakan

kaidah-kaidah bertanggung

ekonomi berkelanjutan

ditimbulkan, dan bersifat ramah lingkungan. Mengelola usaha secara sehat. Menekan tingkat kebocoran pendapatan

(leakage) serendah-rendahnya. Meningkatkan setempat pendapatan masyarakat

2. Pengembangan harus mengikuti kaidah-kaidah ekologis dan atas dasar musyawarah dan pemufakatan setempat. masyarakat

Melakukan penelitian dan perencanaan terpadu Membangun dalam pengembangan ekowisata. hubungan kemitraan dengan

masyarakat setempat dalam proses perencanaan Menggugah prakarsa dan aspirasi masyarakat Memberi kebebasan kepada masyarakat untuk Menginformasikan secara jelas dan benar konsep dan tujuan pengembangan kawasan tersebut Membuka kesempatan untuk melakukan dialog dengan seluruh pihak yang terlibat (multistakeholders) dalam proses perencanaan dan pengelolaan ekowisata. kepada masyarakat setempat. bisa menerima atau menolak ekowisata. setempat untuk pengembangan ekowisata. dan pengelolaan ekowisata.

Sumber: www.ecotourism.org

16

Prinsip Ekowisata
3. Memberikan manfaat kepada masyarakat setempat.

Membuka menjadi

Kriteria Ekowisata
kesempatan keapda masyarakat

setempat untuk membuka usaha ekowisata dan pelaku-pelaku ekonomi kegiatan ekowisata baik secara aktif maupun pasif. masyarakat usaha kesejahtraan dalam upaya untuk penduduk

Memberdayakan peningkatan meningkatkan Meningkatkan setempat.

ekowisata

ketrampilan

masyarakat

setempat dalam bidang-bidang yang berkaitan Menekan dan menunjang pengembangan ekowisata. tingkat kebocoran pendapatan

(leakage) serendah-rendahnya. 4. Peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi keagamaan masyarakat setempat. Menetapkan wisatawan, ekowisata. kode pengelola etik dan ekowisata pelaku bagi usaha

Melibatkan masyarakat setempat dan pihakpihak lainya (multi-stakeholders) dalam penyusunan kode etik wisatawan, pengelola Melakukan pendekatan, meminta saran-saran dan mencari masukan dari tokoh/pemuka masyarakat setempat pada tingkat paling awal sebelum memulai langkah-langkah dalam proses pengembangan ekowisata. dan pelaku usaha ekowisata.

Melakukan penelitian dan pengenalan aspekaspek sosial budaya masyarakat setempat sebagai bagian terpadu dalam proses

perencanaan dan pengelolaan ekowisata

Sumber: www.ecotourism.org

17

Prinsip Ekowisata
5. Memperhatikan perjanjian, peraturan, perundangundangan baik ditingkat nasional maupun internasional.

Kriteria Ekowisata
Memperhatikan konsisten: dan melaksanakan secara Dokumen-dokumen Internasional

yang mengikat (Agenda 21, Habitat Agenda, Sustainable Tourism, Bali Declaration dsb.). GBHN Pariwisata Berkelanjutan, Undang-

undang dan peraturan-peraturan yang berlaku. Menyusun diperlukan peraturan-peraturan dan baru yang dan

memperbaiki

menyempurnakan peraturan-peraturan lainnya yang telah ada sehingga secara keseluruhan membentuk sistem per-UU-an dan sistem

hukum yang konsisten. Memberlakukan peraturan yang berlaku dan memberikan sangsi atas pelanggarannya secara konsekuen sesuai dengan ketentuan

yang berlaku (law enforcement). Membentuk kerja sama dengan masyarakat setempat untuk melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap dilanggarnya peraturan yang berlaku.

Sumber: www.ecotourism.org

6.

Unsur-Unsur Utama Pendukung Ekowisata Pemilihan ekowisata sebagai konsep pengembangan dari wisata alam

didasarkan pada beberapa unsur utama menurut buku The Ecotourism Society (1990) yaitu: Peninggalan sejarah dan budaya, Masyarakat, Sumber daya alam, Nilai-nilai peninggalan sejarah, Sarana dan prasarana, Pasar ekowisata. serta

18

Pasar Ekowisata

Sarana dan Prasarana

Peninggalan Sejarah dan Budaya

EKOWISATA

Nilai-Nilai Peninggalan Sejarah

Masyarakat

Sumber Daya Alam

Gambar 2.2 Unsur-Unsur Utama Pendukung Ekowisata


Sumber: www.ecotourism.org

7. a. b.

Issu dalam Perencanaan Ekowisata Masih rendahnya tingkat kesadaran wisatawan terhadap pelestarian lingkungan pada kawasan wisata. Penilaian atas potensi wisata, terutama oleh masyarakat dan pemerintah lokal, cenderung berlebihan karena tidak ada studi kelayakan tentang itu.

c.

Penilaian

terhadap lokal

kemampuan cukup tinggi,

kelompok namun

sasaran

juga tidak

sering cukup

berlebihan. Meskipun tingkat partisipasi dan pemilikan sumber daya masyarakat semuanya mendukung profesionalisme yang elementer dalam parawisata.

19

8.

Keuntungan Kegiatan Ekowisata Drumm (2002) menyatakan bahwa ada enam keuntungan dalam

implementasi kegiatan ekowisata yaitu: a. b. c. d. e. f. Memberikan nilai ekonomi dalam kegiatan ekosistem di dalam lingkungan yang dijadikan sebagai obyek wisata. Menghasilkan lingkungan. Memberikan keuntungan secara langsung dan tidak langsung bagi para stakeholders. Membangun konstituensi untuk konservasi secara lokal, nasional dan internasional. Mempromosikan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Mengurangi ancaman terhadap kenekaragaman hayati yang ada di obyek wisata tersebut. (Sumber : www.balitourismwatch.com ) keuntungan secara langsung untuk pelestarian

C.

Konsep Pengembangan Ekowisata Untuk mengembangkan ekowisata dilaksanakan dengan cara

pengembangan pariwisata pada umumnya. Ada dua aspek yang perlu dipikirkan. Pertama, aspek destinasi, kemudian kedua adalah aspek market. Untuk pengembangan ekowisata dilaksanakan dengan konsep product driven. Meskipun aspek market perlu dipertimbangkan namun macam, sifat dan perilaku obyek dan daya tarik wisata alam dan budaya diusahakan untuk menjaga kelestarian dan keberadaannya. Pada hakekatnya ekowisata yang melestarikan dan memanfaatkan alam dan budaya masyarakat, jauh lebih ketat dibanding dengan hanya keberlanjutan. Pembangunan ekowisata berwawasan lingkungan jauh lebih terjamin hasilnya dalam melestarikan alam dibanding dengan keberlanjutan

20

pembangunan. Sebab ekowisata tidak melakukan eksploitasi alam, tetapi hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik dan psikologis wisatawan. Bahkan dalam berbagai aspek ekowisata merupakan bentuk wisata yang mengarah ke metatourism. Ekowisata bukan menjual destinasi tetapi menjual filosofi. Dari aspek inilah ekowisata tidak akan mengenal kejenuhan pasar. Selain dari sisi konservasi menguntungkan, penerapan konsep ekowisata juga dapat dilihat dari sisi ekonomi, khususnya bagi peningkatan perekonomian menciptakan masyarakat lapangan setempat. di Dari sisi ekonomi, terpencil ekowisata dan belum pekerjaan wilayah

berkembang. Pada umumnya ekowisata diasumsikan membutuhkan sedikit investasi untuk pembangunan prasarananya. Penekanan ekowisata pada sumber daya lokal dan peluang kerja menjadikan ekowista sebagai peluang bagi negara yang sedang berkembang dan mempunyai potensi alam yang tinggi. Faktor pengembangan masyarakat setempat merupakan tujuan akhir dari pengembangan Society pariwisata berdasarkan ada konsep beberapa ekowisata. tahapan The untuk Ecotourism mengemukakan

mengembangakn konsep ekowisata pada suatu kawasan pariwisata yaitu: 1. Pertama, menilai situasi dan potensi wisata yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini meliputi juga aspirasi masyarakat yang akan dijadikan obyek wisata dengan konsep ekowisata. 2. Kedua, menentukan situasi pariwisata yang diinginkan dan mengidentifikasi langkah untuk mencapai tujuan. Hal ini disesuaikan dengan potensi wilayah yang ada. 3. Ketiga, merancang strategi pengembangan terhadap obyek wisata yang akan dikembangkan. Pada tahapan ini direncanakan tahapan pengembangan obyek wisata yang akan dikembangkan.

21

Pengembangan konsep ekowisata pada lokasi wisata ditentukan oleh pihak yang terlibat terhadap pengembangan terdiri dari masyarakat, perusahaan swasta sebagai operator, organisasi lingkungan non profit yang peduli terhadap pelestarian lingkungan dan pemandu wisata. Berdasarkan aspek tersebut, faktor masyarakat sebagai tujuan akhir dari pengembangan kawasan wisata menentukan terhadap penerapan konsep ekowisata. Masyarakat harus dilibatkan secara aktif agar sadar terhadap potensi yang sumber daya yang dimiliki sehingga dapat berpartisipasi terhadap pengelolaan kawasan wisata yang akan meningkatkan pendapatan. Pada tahap awal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memberi gambaran kepada masyarakat terhadap potensi wilayahnya dan memberdayakan masyarakat dalam hal pengelolaan kawasan wisata. Untuk mewujudkan hal ini, peran pemerintah dan lembaga pendamping sangat penting karena umumnya masyarakat tidak mampu mengelola potensi wilayahnya. Dengan pengenalan terhadap potensi wilayahnya diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif terhadap pengelolaan obyek wisata. Sesuai dengan prinsip pengembangannya, konsep ekowisata tidak saja memperhatikan aspek ekologi tetapi juga ekonomi. Beberapa pengalaman pengembangan kawasan pariwisata yang menerapkan konsep ekowisata menunjukkan peningkatan perekonomian sebagai dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata. Keuntungan yang diperoleh dalam pengembangan pariwisata pada suatu wilayah sesungguhnya akan dijadikan subsidi untuk mengelola pelestarian lingkungan pada kawasan tersebut. Pada tahap ini terjadi siklus yang saling menguntungkan antara alam dan manusia.

22

D. 1.

Konservasi Pengertian Konservasi Konservasi adalah upaya pelestarian setiap lingkungan, tetapi tetap untuk

memperhatikan manfaat yang dapat di peroleh pada saat itu dengan tetap mempertahankan keberadaan komponen lingkungan pemanfaatan masa depan. Menurut Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan untuk sumber daya dengan alam tetap yang menjamin dan pemanfaatannya secara bijaksana dan bagi sumber daya terbarui, menjamin kesinambungan persediannya memelihara meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman. 2. Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K), terdiri dari: a. Suaka Pesisir, dengan kriteria sebagai berikut: Merupakan wilayah pesisir yang menjadi tempat hidup dan berkembangbiaknya (habitat) suatu jenis atau sumberdaya alam hayati yang khas, unik, langka dan dikhawatirkan akan punah, dan/atau merupakan tempat kehidupan bagi jenis-jenis biota migrasi tertentu yang keberadaannya memerlukan upaya perlindungan, Mempunyai keterwakilan dari satu atau beberapa ekosistem di wilayah pesisir yang masih asli dan/atau alami. dan/atau pelestarian.

23

Mempunyai luas wilayah pesisir yang cukup untuk menjamin kelangsungan habitat jenis sumberdaya ikan yang perlu dilakukan Mempunyai kondisi fisik wilayah pesisir yang rentan terhadap perubahan dan/atau mampu mengurangi dampak bencana. b. Suaka Pulau Kecil, dengan kriteria sebagai berikut: Merupakan pulau kecil yang menjadi tempat hidup dan upaya konservasi dan dapat dikelola secara efektif.

berkembangbiaknya (habitat) suatu jenis atau beberapa sumberdaya alam hayati yang khas, unik, langka dan dikhawatirkan akan punah, dan atau merupakan tempat kehidupan bagi jenis-jenis biota migrasi tertentu yang keberadaannya memerlukan upaya perlindungan, Mempunyai keterwakilan dari satu atau beberapa ekosistem di pulau Mempunyai luas wilayah pulau kecil yang cukup untuk menjamin kelangsungan habitat jenis sumberdaya ikan yang perlu dilakukan Mempunyai kondisi fisik wilayah pulau kecil yang rentan terhadap perubahan dan/atau mampu mengurangi dampak bencana. c. Taman Pesisir, dengan kriteria sebagai berikut: Merupakan wilayah pesisir yang mempunyai daya tarik sumberdaya alam hayati, formasi geologi, dan/atau gejala alam yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pemanfaatan pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan dan peningkatan kesadaran Mempunyai luas wilayah pesisir yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik serta pengelolaan pesisir yang Kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan wisata bahari dan rekreasi. berkelanjutan. konservasi sumberdaya alam hayati, wisata bahari dan rekreasi. upaya konservasi dan dapat dikelola secara efektif. kecil yang masih asli dan/atau alami. dan/atau pelestarian.

24

d.

Taman Pulau Kecil, dengan kriteria sebagai berikut:

merupakan pulau kecil yang mempunyai daya tarik sumberdaya alam hayati, formasi geologi, dan/atau gejala alam yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pemanfaatan pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan dan peningkatan kesadaran mempunyai luas pulau kecil/gugusan pulau dan perairan di sekitarnya yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik serta kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan wisata bahari dan rekreasi. (Sumber:Permenkp PER/17MEN/2008) pengelolaan pulau kecil yang berkelanjutan. konservasi sumberdaya alam hayati, wisata bahari dan rekreasi.

3.

Konservasi dan Kaitannya dengan Pengembangan Ekowisata Ekowisata merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan

konservasi. Apabila ekowisata pengelolaan alam dan budaya masyarakat yang menjamin kelestarian dan kesejahteraan, sementara konservasi merupakan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam untuk waktu kini dan masa mendatang. Hal ini sesuai dengan definisi yang dibuat oleh The International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (1980), bahwa konservasi adalah usaha manusia untuk memanfaatkan biosphere dengan berusaha memberikan hasil yang besar dan lestari untuk generasi kini dan mendatang. Sementara itu destinasi yang diminati wisatawan ecotour adalah daerah alami. Kawasan konservasi sebagai obyek daya tarik wisata dapat berupa Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata dan Taman Buru. Tetapi kawasan hutan yang lain seperti hutan lindung dan hutan produksi bila memiliki obyek alam sebagai daya tarik ekowisata dapat dipergunakan pula untuk pengembangan ekowisata. Area alami suatu ekosistem sungai, danau, rawa, gambut, di daerah hulu atau muara sungai dapat pula dipergunakan untuk ekowisata. Pendekatan yang

25

harus dilaksanakan adalah tetap menjaga area tersebut tetap lestari sebagai areal alami. Pendekatan lain bahwa ekowisata harus dapat menjamin kelestarian lingkungan. Maksud dari menjamin kelestarian ini seperti halnya tujuan konservasi (UNEP, 1980) sebagai berikut: a. Menjaga tetap berlangsungnya proses ekologis yang tetap mendukung sistem kehidupan. b. Melindungi keanekaragaman hayati. c. Menjamin kelestarian dan pemanfaatan spesies dan ekosistemnya. Di dalam pemanfaatan areal alam untuk ekowisata mempergunakan pendekatan pelestarian dan pemanfaatan sebagai konsep konservasi. E. Objek dan Daya Tarik Wisata Objek dan daya tarik wisata adalah suatu bentukan dan fasilitas yang berhubungan, yang dapat menarik wisatawan untuk datang ke suatu daerah atau tempat tertentu. Daya tarik yang tidak atau belum dikembangkan merupakan sumber daya potensial dan belum dapat disebut sebagai daya tarik wisata, sampai adanya suatu jenispengembangan tertentu. Dalam Undang-Undang No.9 tahun 1990 tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa objek dan daya tarik wisata adalah suatu yang menjadi sasaran wisata terdiri atas: 1. 2. Objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan YME, yang berwujud keadaan alam, flora dan fauna. Objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni dan budaya, wisata agro, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreasi, dan komplek hiburan. Objek dan daya tarik wisata menurut Direktorat Jenderal Pemerintah dibagi menjadi 3 macam, yaitu:

26

1.

Objek Wisata Alam Objek wisata alam adalah sumber daya alam yang berpotensi serta memiliki daya tarik bagi pengunjung baik dalam keadaan alami setelah ada usaha budidaya. Potensi objek wisata alam dapat dibagi menjadi empat kawasan, yaitu: a. Flora dan fauna. b. Keunikan dan kekhasan ekosistem, misalnya ekosistem pantai dan ekosistem hutan bakau. c. Gejala alam, misalnya kawah, sumber air panas, air terjun dan danau. d. Budidaya sumber daya alam, misalnya sawah, perkebunan, peternakan, usaha perikanan.

2.

Objek Wisata Sosial Budaya Objek wisata sosial budaya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai objek dan daya tarik wisata meliputi museum, peninggalan sejarah, upacara adat, seni pertunjukan, dan kerajinan.

3.

Objek Wisata Minat Khusus Objek wisata minat khusus merupakan jenis wisata yang baru dikembangkan di Indonesia. Wisata ini lebih diutamakan pada wisatawan yang mempunyai motivasi khusus. Dengan demikian, biasanya para wisatawan harus memiliki keahlian, contohnya berburu, mendaki gunung, arung jeram, tujuan pengobatan, agrowisata, dll. Perencanaan dan pengelolaan objek dan daya tarik wisata alam, sosial

budaya, maupun objek wisata minat khusus harus berdasarkan pada kebijakan rencana pembangunan nasional maupun regional. Jika kedua kebijakan rencana tersebut belum tersusun, tim perencana pengembangan objek daya tarik wisata harus mampu mengasumsikan rencana kebijakan yang sesuai dengan area yang bersangkutan.

27

Suatu objek wisata dapat menarik untukdikunjungi oleh wisatawan harus memenuhi syarat-syarat untuk pengembangan daerahnya. Syaratsyarat tersebut adalah: 1. What to see Di tempat tersebut harus ada obyek wisata dan atraksi wisata yang berbeda dengan yang dimiliki daerah lain. Dengan kata lain daerah tersebut harus memiliki daya tarik khusus dan atraksi budaya yang dapat dijadikan entertainment bagi wisatawan. What to see meliputi pemandangan alam, kegiatan kesenian, dan atraksi wisata. 2. What to do Di tempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat dan disaksikan, harus diseediakan fasilitas rekreasi yang dapat membuat wisatawan betah tinggal lama di tempat itu. 3. What to buy Tempat tujuan wisata harus tersedia fasilitas untuk berbelanja terutama barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal. Perkembangan suatu kawasan wisata juga tergantung pada apa yang dimiliki kawasan tersebut untuk ditawarkan kepada wisatawan. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari peranan para pengelola kawasan wisata. Berhasilnya suatu tempat wisata hingga tercapainya industry wisata sangat tergantung pada tiga A (3A), yaitu atraksi (attraction), mudah dicapai (accessibility), dan fasilitas (amenities). 1. Atraksi (attraction) Atraksi wisata yaitu sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat, dinikmati dan yang termasuk dalam hal ini adalah taritarian, nyanyian kesenian rakyat tradisional, upacara adat, dan lain-lain.

28

2.

Aksesibilitas (accessibility) Aktivitas kepariwisataan banyak tergantung pada transportasi dan komunikasi karena faktor jarak dan waktu yang sangat mempengaruhi keinginan seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Unsur yang terpenting dalam aksesibilitis adalah transportasi, kecepatan yang dimilikinya dapat mengakibatkan jarak seolah-olah menjadi dekat.

3.

Fasilitias (amenities) Fasilitas pariwisata tidak akan terpisah dengan akomodasi perhotelan karena pariwisata tidak akan pernah berkembang tanpa penginapan. Fasilitas wisata merupakan hal-hal penunjang terciptanya kenyamanan wisatawan untuk dapat mengunjungi suatu daerah tujuan wisata.

F.

Analisis Strategi SWOT dan Pemetaan Posisi Pariwisata Analis faktor strategi internal dan eksternal merupakan pengolahan setiap faktor strategis.

faktor-faktor strategis pada lingkungan internal dan eksternal dengan memberikan Menganalisis pembobotan lingkungan dan internal rating pada (IFAS) untuk mengetahui berbagai

kemungkinan kekuatan dan kelemahan. Masalah strategis yang akan dimonitor harus ditentukan karena masalah ini mungkin dapat mempengaruhi pariwisata dimasa yang akan datang. Menganalisis lingkungan eksternal (EFAS) untuk mengetahui berbagai kemungkinan peluang dan ancaman. Masalah strategis yang akan dimonitor harus ditentukan karena masalah ini mungkin dapat mempengaruhi pariwisata dimasa yang akan datang. a. Pembobotan (scoring) Pembobotan pada lingkungan internal tingkat kepentingannya

didasarkan pada besarnya pengaruh faktor strategis terhadap posisi strategisnya, sedangkan pada lingkungan eksternal didasarkan pada kemungkinan memberikan dampak terhadap faktor strategisnya (Freddy Rangkuti, 2001 : 22-24).

29

Jumlah bobot pada masing-masing lingkungan internal dan eksternal harus berjumlah = 1 (satu), sedangkan nilai bobot menurut Freddy Rangkuti (2001 : 22-24) berdasarkan ketentuan sebagai berikut : Skala 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting) Besarnya rata-rata nilai bobot bergantung pada jumlah faktor-faktor strategisnya (5-10 faktor strategis) yang dipakai. b. Penilaian (rating) Nilai rating berdasarkan besarnya pengaruh faktor strategis terhadap kondisi dirinya (Freddy Rangkuti, 2001 : 22-24) dengan kententuan sebagai berikut : Skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (lemah)
Sangat Kuat 4 Kuat 3 Rata-rata 2 Lemah 1

Variabel yang bersifat positif (variabel kekuatan atau peluang ) diberi nilai dari 1 sampai dengan 4 dengan membandingkan dengan rata-rata pesaing utama. Sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya, jika kelemahan atau ancaman besar sekali (dibanding dengan rata-rata pesaing sejenis) nilainya adalah 1, sedangkan jika nilai ancaman kecil/di bawah ratarata pesaing-pesaingnya nilainya 4. Tabel 2.3 Model Analisis Faktor Strategi Internal/Eksternal
Faktor-Faktor Strategis Kekuatan/Peluang : (faktor-faktor yang menjadi kekuatan/peluang) (Professional Judgement) (Professional Judgement) Bobot Nilai Bobot x Nilai (Jumlah perkalian bobot dengan nilai pada setiap faktor)

jumlah

(Jumlah bobot kekuatan/ peluang)

(Jumlah nilai kekuatan/ peluang)

(Jumlah bobot x nilai)

30

Kelemahan/Ancaman : (faktor-faktor yang menjadi kelemahan/ancaman) (Professional Judgement) (Professional Judgement)

(Jumlah perkalian bobot dengan nilai pada setiap faktor)

jumlah

(Jumlah bobot kelemahan/ ancaman)

(Jumlah nilai kelemahan/ ancaman)

(Jumlah bobot x nilai)

Sumber: Freddie Rangkuti, 2011

Pemetaan

posisi

pariwisata

bertujuan

untuk

mengetahui

posisi

pariwisata dari suatu objek wisata dalam kondisi perkembangannya saat ini. Pemetaan didasarkan pada analogi sifat yang dmiliki dari faktor-faktor strategis. Kekuatan memiliki sifat positif, kelemahan bersifat negatif, begitu juga dengan peluang bersifat positif dan ancaman bersifat negatif. Diagram posisi perkembangan pariwisata memberikan gambaran keadaan perkembangan pariwisata berdasarkan kuadran-kuadran yang dihasilkan garis vektor SW dan garis vektor OT, setiap kuadran memiliki rumusan strategi sebagai strategi utamanya. Seperti telah dijelaskan sebelumnya garis vektor pada diagram posisi perkembangan pariwisata didasarkan pada logika faktor strategi internal membentuk garis horisontal dan faktor strategi eksternal membentuk garis vertikal.

Gambar 2.3 Model Posisi Perkembangan Pariwisata


Sumber: LM-FEUI (H Oka A Yoeti 1996)

31

Rumusan setiap kuadran yang secara khusus untuk pariwisata dan beberapa pengertian yang melalui proses adopsi, adaptasi dari penggunaan analisis SWOT untuk perusahaan, sehingga diadaptasi sutu rumusan sebagai berikut: a. Kuadran I : Growth (pertumbuhan) Strategi pertumbuhan didesain untuk mencapai pertumbuhan, baik dalam penjualan, asset, profit atau kombinasi ketiganya (Freddy Rangkuti, 2001:43). Pertumbuhan dalam pariwisata adalah pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan (frekuensi kunjungan dan asal daerah wisatawan), asset (objek dan daya tarik wisata, prasarana dan sarana pendukung), pendapatan (retribusi masuk dan jumlah yang dibelanjakan). Pertumbuhan dalam pariwisata terbagi dua, yaitu: 1) Rapid Growth Strategy (strategi pertumbuhan cepat), adalah strategi meningkatkan laju pertumbuhan kunjungan wisatawan dengan waktu lebih cepat (tahun ke 2 lebih besar dari tahu ke 1 dan selanjutnya), peningkatan kualitas yang menjadi faktor kekuatan untuk memaksimalkan pemanfaatkan semua peluang. 2) Stable Growth Strategy (strategi pertumbuhan stabil), adalah strategi mempertahankan pertumbuhan yang ada (kenaikan yang stabil, jangan sampai turun). b. Kuadran II : Stability (Stabilitas) Strategi stabilitas adalah strategi konsolidasi untuk mengurangi kelemahan yang ada, dan mempertahankan pangsa pasar yang sudah dicapai (oka A. Yoeti, 1996:144). Stabilitas diarahkan untuk mempertahankan suatu keadaan dengan berupaya memanfaatkan peluang dan memperbaiki kelemahan. Strategi stabilitas terbagi dua, yaitu: 1) Agressive Maintenance strategy (strategi perbaikan agresif), adalah strategi konsolidasi internal dengan mengadakan perbaikan-

32

perbaikan berbagai bidang. Perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk memaksimalkan pemanfaatan peluang 2) Selective Maintenance strategy (strategi perbaikan pilihan), adalah strategi konsolidasi internal dengan melakukan perbaikan pada sesuatu yang menjadi kelemahan. Memaksimalkan perbaikan faktor-faktor kelemahan untuk memanfaatkan peluang. c. Kuadran III : Survival (Bertahan) 1) Turn around strategy (strategi memutar balik), adalah strategi yang membalikan kecenderungan-kecenderungan negatif sekarang, yang paling umum tertuju pada pengelolaan. 2) Guirelle strategy (strategi merubah fungsi), adalah strategi merubah fungsi yang dimiliki dengan fungsi lain yang bener-benar berbeda. d. Kuadran IV : Diversifikasi Strategi penganekaragaman terhadap adalah objek dan strategi daya yang tarik membuat dan

keanekaragaman

wisata

mendapatkan dana investasi dari pihak luar. Strategi penganekaragaman dibagi dua, yaitu : 1) Diversifikasi concentric strategy (strategi diversifikasi konsentrik), adalah diversifikasi objek dan daya tarik wisata sehingga dapat meminimalisir ancaman. 2) Diversifikasi konglomerat), conglomerate adalah strategy (strategi untuk diversifikasi mendanai

memasukan

investor

diversikasi yang mempertimbangkan laba. G. 1. Abrasi Pengertian Abrasi dan Dampak yang Ditimbulkan Abrasi merupakan proses pengikisan oleh air laut terhadap garis pantai sehingga terjadi pemunduran garis pantai ke arah daratan. Dengan kata lain, abrasi adalah penggerusan alur-alur pantai oleh air laut. Berbagai faktor yang

33

menyebabkan terjadinya abrasi dapat dikategorikan menjadi faktor manusia dan faktor alam (Sumber: Pustekkom Depdiknas). Faktor manusia yang berpengaruh langsung pada perubahan garis pantai adalah: kegiatan penanggulan pantai, pembabatan hutan bakau, penggalian pasir di pantai dan laut, pengerukan lumpur laut, perusakan terumbu karang, pembuatan bangunan di pantai dan reklamasi pantai. Selain itu, pembangunan pemukiman dan tempat wisata tanpa mengindahkan keberadaan eksosistem yang ada juga menyebabkan abrasi semakin parah. Sedangkan pengaruh tidak langsung bagi munculnya peristiwa abrasi adalah berupa kegiatan penggundulan hutan di hulu sungai. Faktor alam yang berasal dari darat adalah sedimentasi melalui sungaisungai dan adanya tumbuhan pantai. Faktor alam yang berasal dari laut adalah gelombang, arus, pasang surut, kenaikan muka laut rata-rata karena pemanasan global, sedimentasi, dan geomorfologi dasar laut. Gelombang laut merupakan faktor alam yang paling berperan dalam menimbulkan abrasi secara langsung. Gelombang yang dihasilkan oleh angin berperan sebagai agen transfer energi. Gelombang yang merambat ke segala arah membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai. Energi inilah yang merupakan penyebab utama terjadinya abrasi. Faktor penting lain yang ikut mempengaruhi proses abrasi pantai adalah pasang surut. Perubahan garis pantai dipengaruhi oleh perubahan harian dan tahunan pasang surut. Sebagian orang menilai peristiwa tersebuti bukan sebagai gelombang pasang, melainkan tsunami yang berskala kecil. Abrasi pantai menyebabkan terjadinya kemunduran garis pantai yang semakin jauh setiap tahun. Akibatnya, banyak rumah penduduk yang terkena gusuran alam, hilangnya bangunan-bangunan bersejarah, rusaknya lingkungan sehingga ekosistem terganggu, dan turunnya produktivitas tambak yang mengganggu mata pencarian penduduk. Akhirnya, dampak abrasi tersebut akan menimbulkan berbagai konflik dalam kehidupan

34

masyarakat. Kerugian-kerugian yang terjadi karena adanya abrasi pantai dapat dikelompokkan dalam 4 jenis yaitu: a. b. Kerugian Bangunan, bangunan rusak dan hilang karena tergusur ombak Kerugian Sarana dan Prasarana, sarana lingkungan tidak bisa digunakan semestinya karena tergenang air pasang. Genangan akan lebih lama apabila saat pasang disertai dengan hujan. c. Kerugian Lahan dan Fungsi Kawasan, pengikisan pantai dengan cepat telah menjadikan kawasan pantai semakin mendekati pemukiman, sehingga kawasan perumahan menjadi semakin sempit. Sedimentasi di dekat muara sungai telah mengakibatkan tidak lancarnya aliran sungai sehingga terjadi arus balik dan menggenangi kawasan pinggir sungai. Dengan demikian kawasan darat (lahan) semakin menyempit. d. Kerugian Sosial, aktivitas sosial masyarakat tidak dapat dilakukan secara normal karena aksesnya terhalang. (Sumber: Pustekkom Depdiknas) 2. Penanganan Abrasi Dampak dari abrasi pantai yang banyak mendatangkan kerugian bagi masyarakat dapat dikurangi dengan usaha penanggulangan. Usaha penanggulangan abrasi pada suatu kawasan pantai pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3 tahap (Pustekkom Depdiknas) yaitu: a. Jangka pendek atau darurat Merupakan penanggulangan darurat dengan sasaran melindungi sarana dan prasarana umum maupun pemerintah di daerah terkena bencana dengan cara memperbaiki segera kerusakan bangunan dan pengaman pantai yang sudah ada. b. Jangka menengah Yaitu penanggulangan pantai yang kritis karena abrasi dengan membangun pengaman atau pelindung pantai berupa groin, revetment, jettie, pemecah gelombang, dan lain-lain.

35

c.

Jangka panjang Merupakan penanganan pantai secara menyeluruh dan terpadu dari berbagai lingkungan sosial politik, ekonomi dan budaya secara terkoordinir. Dalam Jurnal Pustekkom Depdiknas dengan judul Pengikisan Pantai

Akibat Abrasi dipaparkan beberapa metode atau teknik yang dilakukan dalam penanganan abrasi pantai, antara lain: a. Penanggulangan abrasi pantai dengan penanaman mangrove Hutan mangrove merupakan daerah transisi antara daratan dan lautan. Secara fisik, mangrove berperan sebagai penghalang dari serangan gelombang dan badai. Pohon mangrove memiliki akar yang kuat dan berlapis-lapis sehingga dapat meredam hantaman ombak dan mematahkan tenaga gelombang badai serta mempercepat pengendapan lumpur yang di bawa air sungai di sekitarnya. Sistem perakaran yang khas pada tumbuhan mangrove berupa akar tunjang, pneumatofor, dan akar lutut, dapat menghambat arus air laut dan ombak. b. Teknologi penanggulangan abrasi pantai Cukup banyak teknologi pengamanan abrasi pantai yang dapat dipergunakan, baik teknologi umum sederhana sampai dengan teknologi canggih, seperti bangunan pengamanan pantai dengan blok beton, pengisian pasir, penggunaan bangunan krib, tipe rouble mound, tembok laut dan revetment. Pelindung pantai berupa armour stone atau beton mempunyai kelemahan, yaitu tidak ekonomis apa bila dilaksanakan pada daerahdaerah pantai berpasir yang terpencil, serta terbatas infrastrukturnya maupun sumber material konstruksi. Selain itu, teknologi ini dapat mengganggu pemandangan serta menyulitkan aktifitas masyarakat di pantai.

36

Gambar 2.4 armour stone/beton (kiri) dan penumpukan pasir (kanan) Pelindung pantai ( berupa dibuat berupa bangunan Sumber: pemecah Pustekkom ombak Depdiknas ) Pemecah gelombang ini ditempatkan berjejer dalam jumlah banyak di sepanjang pantai terutama pada pantai yang mempunyai gelombang laut cukup besar. Sama dengan tembok beton, cara ini tidak ekonomis terutama karena harga material bangunan berupa batu besar sangat mahal. Salah satu cara untuk mengatasi masalah keterbatasan infrastruktur dan sumber material untuk pembuatan beton pelindung adalah penggunaan kantong pasir sebagai penahan gelombang. Kelebihan kantong pasir sebagai penahan gelombang adalah sedikit dalam tidak mempunyai penggunaan material, dapat dilaksanakan dengan peralatan terbatas serta dapat memanfaatkan material setempat, dampak buruk terhadap lingkungan, tidak terlalu mengganggu kegiatan masyarakat, serta tidak menggangu pemandangan di daerah wisata. Pembuatan kantong pasir dapat dilakukan secara sederhana dengan cara memasukkan pasir ke dalam karung-karung plastik bekas maupun baru. Karung-karung ini dapat berbentuk guling atau bantal. Selanjutnya disusun bertumpuk rapi dan berjejer di pinggir pantai (Sumber: Pustekkom
Depdiknas).

37

H. 1.

Peraturan dan Perundangan Undang-Undang 27/2007 UU No.27/2007 adalah undang-undang yang mengenai Pengelolaan

Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil khususnya yang menyangkut perencanaan, pemanfaatan, hak dan akses masyarakat, penanganan konflik, konservasi, mitigasi bencana, reklamasi pantai, rehabilitasi kerusakan pesisir, dan penjabaran konvensi-konvensi internasional terkait. Dalam UU No.27/2007 Pasal 1 ayat (1) menyatakan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil antar sektor, antar pemerintah dan pemerintah daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasal 28 ayat (1) menyatakan Konservasi Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil diselenggarakan untuk menjaga kelestarian Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, melindungi alur migrasi ikan dan biota laut lain, melindungi habitat biota laut, dan melindungi situs budaya tradisional. 2. a. Peraturan Menteri Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.20/Men/2008 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan Perairan di Sekitarnya Pasal 2: (1) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya dilakukan untuk kepentingan pembangunan di bidang ekonomi, sosial dan budaya dengan berbasis masyarakat dan secara berkelanjutan. (2) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat tersebut di atas dilakukan dengan memperhatikan aspek:

38

keterpaduan antara kegiatan Pemerintah dengan pemerintah daerah, antarpemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam perencanaan dan pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil kepekaan/kerentanan ekosistem suatu kawasan yang berupa ekologis yang mencakup fungsi perlindungan dan konservasi; kondisi sosial dan ekonomi masyarakat; daya dukung lingkungan, dan sistem tata air suatu pulau kecil; dan perairan di sekitarnya.

politik yang mencakup fungsi pertahanan, keamanan, dan teknologi ramah lingkungan; masyarakat tradisional. Pasal 3: (1) Pemanfaatan Konservasi, pulau-pulau pendidikan kecil dan dan perairan sekitarnya dan diprioritaskan untuk salah satu atau lebih kepentingan berikut pelatihan, penelitian pengembangan, budidaya laut, pariwisata, usaha perikanan dan kelautan secara lestari, pertanian organik, dan/atau peternakan. (2) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya selain sebagaimana dimaksud pada ayat tersebut diatas dapat dimanfaatkan antara lain untuk usaha pertambangan, permukiman, industri, perkebunan, transportasi, dan pelabuhan. (3) Pemanfaatan konservasi, pulau-pulau pendidikan dan kecil dan perairan serta sekitarnya dan sebagaimana dimaksud pada ayat-ayat diatas kecuali untuk pelatihan, penelitian pengembangan, wajib sesuai dengan rencana zonasi, memenuhi persyaratan pengelolaan lingkungan kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia;

budaya dan hak masyarakat adat, masyarakat lokal, serta

39

b.

Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.17/Men/2008 Tentang Kawasan Konservasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 1: (1) Konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan sumber daya pesisir dan pulaupulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. (2) Kawasan konservasi adalah bagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang mempunyai ciri khas tertentu sebagai satu kesatuan ekosistem yang dilindungi, dilestarikan dan/atau dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Pasal 2: (1) Tujuan ditetapkannya konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yaitu untuk memberi acuan atau pedoman dalam melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta ekosistemnya. (2) Sasaran pengaturan kawasan konservasi wilayah pesisir dan pulaupulau kecil ditujukan wilayah untuk pesisir perlindungan, dan pelestarian, kecil dan serta pemanfaatan pulau-pulau

ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.

40

c.

Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: KM.67 / UM.001/MKP/ 2004 Tentang Pedoman Umum Pengembangan Pariwisata di Pulau-Pulau Kecil BAB II Prinsip Pengembangan disebutkan Penyelenggaraan pengembangan pariwisata di pulau-pulau kecil harus menggunakan prinsip berkelanjutan di mana secara ekonomi memberikan keuntungan, memberikan kontribusi pada upaya pelestarian sumber daya alam, serta sensitif terhadap budaya masyakat lokal. BAB IV Arahan Pengembangan sub-bab Penataan Ruang disebutkan Beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam penataan ruang pulau adalah : (1) Pemerintah daerah harus menyusun dan menetapkan tata ruang pulau melalui proses konsultatif dengan para pihak ( stakeholders ) (2) Penataan ruang kawasan harus didasarkan pada hasil kulaborasi antara masukan para pihak dengan perencana kawasan (3) Penataan ruang harus memperhatikan aspek lingkungan,termasuk konservasi sumber daya alam dan sentitifitas ekosistem serta aspek sosial, budaya dan ekonomi masyarakat.

I. 1.

Studi Banding Pulau Pahawang, Lampung Pulau Pahawang merupakan satu dari rangkaian pulau-pulau kecil yang

berada di perairan Teluk Lampung. Pulau Pahawang berada di Kabupaten Pasawaran Lampung.Banyak sekali daya tarik yang dimiliki pulau ini mulai dari laut,hutan bakau sampai tradisi masyarakatnya. Sebagai alternatif pengelolaan sumber daya alam yang mampu memberikan nilai ekonomi secara berkelanjutan,Masyarakat Pulau Pahawang membangun sebuah Ekowisata dengan bentuk pendidikan konservasi lingkungan dan Kerakyatan.

41

Ekowisata adalah perjalanan bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan mensejahterakan penduduk setempat. wisata sebagai alternatif pengelolaan sumberdaya alam, karna bicara soal konservasi akan selalu ada nilai ekonomis yang didapat oleh masyarakat agar berkelanjutan. Bentuk ekowisata Pulau Pahawang yaitu wisata pendidikan dan konservasi karena aktivitas wisatanya berkaitan dengan pendidikan lingkungan dan usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat setempat, Untuk wisata konservasi setiap wisatawan yang berkunjung di Pulau Pahawang diwajibkan untuk menanam tanaman bakau, dengan label nama penanam terpasang di pohon bakaunya.

Gambar 2.5 ekowisata pahawang


Sumber: www.suropeji.web.id

Konsep wisata di Pahawang juga berbasis masyarakat, karena yang dilibatkan dalam kegiatan wisata yaitu penduduk di Pulau Pahawang, mulai dari kapal, penyediaan menu makanan, pemandu lokal, narasumber yang memberi penjelasan soal hal-hal terkait seperti mangrove, rumput laut, dan lainnya berasal dari warga yang bermukim di pulau tersebut. Slogan yang digunakan dalam pengembangan wisata Pulau Pahawang adalah "mari berwisata seraya melestarikan lingkungan", sehingga ekowisata yang dibangun akan tetap bisa menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat. (www.publikkrakatau.com dan
www.suropeji.com diakses tanggal 27 November 2012)

42

2.

Pulau Sangiang, Banten Pulau Sangiang, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Selat

Sunda, yakni antara Jawa dan Sumatra. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten. terletak di titik kordinat antara 1054930 - 10552 Bujur Timur 556 - 55850 Lintang Selatan. Jarak tempuhnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dari Anyer, dengan menggunakan kapal atau perahu bermotor. Keindahan alamnya, berupa terumbu karang dan pantai. Pulau Sangiang yang sekarang dijadikan Taman Wisata Alam pada awalnya merupakan Cagar Alam seluas 700,35 Ha Kemudian pada tahun 1991, perairan di sekitar kawasan diubah menjadi Taman Wisata Alam Laut seluas 720 ha. Pulau Sangiang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama yang menyukai wisata bahari. Keindahan alam dan pantai serta karang yang dihiasi ikan berwarna-warni merupakan obyek wisata utama di kawasan ini. Selain itu TWA Pulau Sangiang memiliki potensi flora dan fauna yang beragam dan masih asli, terdapat pula bangunan dan goa-goa peninggalan zaman Jepang yang mempunyai nilai historis. Kegiatan Wisata Alam yang dapat dilakukan adalah: a) Wisata Alam (lintas alam, mendaki gunung, memotret, bersepeda, berkemah dan menikmati panorama alam pantai yang landai maupun pantai yang curam). Lokasi obyek wisata alam ini terletak di bagian barat, barat laut dan bagian selatan pulau serta sepanjang pantai Batu Mandi dan sekitar Gunung Gede. b) Wisata Bahari (scuba diving, snorkling, menikmati keindahan terumbu karang di taman laut dengan glass bottom boat, memancing. Kegiatan scuba diving dapat dilakukan di sekitar perairan Tanjung Raden, sedangkan di Legon Waru dapat dilakukan wisata menggunakan perahu.

43

c)

Wisata Budaya (menikmati/mengamati sisa-sisa perang dunia kedua, yaitu berupa benteng-benteng bekas pertahanan Jepang). Lokasi peninggalan sejarah ini letaknya di sekitar Pos TNI Angkatan laut. Wisata Ilmiah (pendidikan dan penelitian) Di kawasan Taman Wisata Alam Pulau Sangiang juga terdapat berbagai

fasilitas lainnya, seperti pusat informasi pariwisata, pemandu wisata, pos jaga, polisi hutan, camping ground yang luas dan aman, pesanggrahan, persewaan peralatan untuk menyelam, dermaga, serta persewaan perahu dan speed boat untuk mengelilingi Pulau Sangiang. (www.anneahira.com dan
redaksi@aktual.co diakses tanggal 13 Februari 2013)

Gambar 2.6 Ekowisata Pulau Sangiang


Sumber: www.anneahira.com

44

J.

Kerangka Pikir Perencanaan

Gambar 2.7 Kerangka Pikir Perencanaan


45

BAB III METODE PERENCANAAN


A. Lokasi Perencanaan Perencanaan Ekowisata Pulau Karampuang dilakukan di Pulau Karampuang Kab. Mamuju, Sulawesi Barat, yang terletak di Kec. Mamuju, berada 7 km dari kota Mamuju. Hanya perlu waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai dipulau Karampuang dengan menggunakan kapal kecil dari dermaga Mamuju. B. Teknik Pengumpulan Data Dalam perencanaan ini metode pengumpulan data yang digunakan diantaranya: 1. Data Primer Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat dengan melalui kegiatan wawancara, dan pengamatan. Cara Pengumpulan data primer yang dilakukan yaitu : a). Wawancara Wawancara kepada pihak yang terkait dengan penyusunan pengembangan ekowisata baik pada pemerintah kota maupun kepada masyarakat sekitar kawasan Pulau Karampuang. Wawancara ini sangat diperlukan untuk memperoleh data yang tidak diperoleh dalam bentuk dokumen, sehingga dengan metode wawancara ini akan melengkapi data yang masih kurang dan belum diperoleh dengan survei sekunder. b). Observasi/Pengamatan Teknik ini dipergunakan untuk memperoleh informasi dan data yaitu dengan mengadakan pengamatan secara langsung di lapangan. Untuk observasi ini sebagian besar merupakan data kualitatif dan dokumentasi yang berguna untuk melihat kondisi eksisting kawasan yang akan dikembangkan.

46

2. Data Sekunder Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari studi literatur/pustaka maupun survey instansi atau departemen yang berhubungan dengan materi yang akan disusun. Metode studi literatur meliputi kegiatan mencari teori-teori yang berhubungan dengan pengembangan ekowisata dan yang akan digunakan untuk menganalisis sehingga dapat dirumuskan suatu konsep pengembangan. Teori-teori tersebut berhubungan dengan pengertian dan klasifikasi pariwisata dan ekowista, dan beberapa konsep yang relevan dengan pengembangan kawasan Pulau Karampuang sebagai kawasan ekowisata. C. 1. Populasi dan Sampel Populasi Populasi adalah keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang akan diteliti. Pada hakikatnya, populasi adalah kumpulan dari satuansatuan elementer yang mempunyai karakteristik dasar yang sama atau dianggap sama. Adapun yang menjadi populasi pada perencanaan ini yaitu pengunjung atau wisatawan kawasan wisata Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju. 2. Sampel Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti dan dimanfaatkan untuk memperoleh gambaran dari populasi. Pengambilan sampel pada perencanaan ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan wisatawan terhadap daya tarik objek wisata Pulau Karampuang Mamuju. Teknik pengambilan sampling dilakukan dengan menggunakan rumus slovin, dengan rata-rata pengunjung perbulan Kabupaten Mamuju sebesar 1500 wisatawan sebagai popoulasi.

47

Jadi jumlah sampel yang diambil adalah 25 dengan derajat kecermatan 20% untuk tingkat kepercayaan 80% Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam studi ini yaitu metode pengambilan sampel Accidental Sampling, yaitu sampel yang ditemui di lapangan pada saat observasi.

D.

Metode Analisis Data Dalam Perencanaan Ekowisata Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju

Berbasis Masyarakat terdapat beberapa metode analisis data yang digunakan yaitu: 1. Metode Kualitatif Metode ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah pertama dengan menggambarkan kondisi eksisting dan karakteristik kawasan Pulau Karampuang sebagai kawasan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Metode ini juga digunakan untuk menjawab rumusan masalah kedua dengan menentukan konsep dan arahan pengembangan. 2. Metode Kuantitatif Metode ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah pertama, berupa analisis data bersifat kuantitatif. Metode ini nantinya akan digunakan untuk pembobotan SWOT.

48

E.

Teknik Analisis Dalam Perencanaan Ekowisata Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju

terdapat beberapa teknik analisis data yang digunakan yaitu: 1. Analisis Spasial Analisis spasial digunakan untuk mengetahui keterkaitan antar zona dalam kawasan pengembangan serta melihat hubungan keterkaitannya sehingga dapat ditentukan arahan spasial yang dapat diterapkan dalam pengembangan ekowisata di Pulau Karampuang. 2. Analisis Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) Analisis ODTW digunakan untuk mengetahui objek atau daya tarik yang paling menonjol atau paling diminati oleh wisatawan dalam kawasan pengembangan menggunakan kuisioner dengan pembobotan/scoring menggunakan skala likert dengan poin tertinggi 5 pada setiap pertanyaan dan poin terendah adalah 1.
Kurang Menarik 3 Sangat Tidak Menarik 1

Sangat Menarik 5

Menarik 4

Tidak Menarik 2

3.

Analisis Foto Mapping Analisis Foto Mapping merupakan metode analisis untuk memetakan

potensi dan masalah pada saat ini dengan menggunakan media foto. Metode ini bertujuan untuk memperlihatkan secara nyata kondisi eksisting di wilayah pengembangan. 4. Analisis Superimpose Analisis ini merupakan alat untuk mengetahui kondisi fisik dasar kawasan pengembangan dengan melakukan overlay beberapa peta sehingga akan terlihat tingkat kelayakan pemanfaatan lahan di kawasan pengembangan.

49

5.

Analisis SWOT Analisis SWOT merupakan salah satu teknik analisis yang digunakan

dalam menginterpretasikan wilayah pengembangan, khususnya pada kondisi yang sangat kompleks dimana faktor eksternal dan internal memegang peran yang sama pentingnya. Analisis SWOT digunakan untuk penelaahan terhadap kondisi fisik, ekonomi dan sosial wilayah struktur ruang. Dalam kasus ini, analisis SWOT digunakan untuk mengetahui Analisis ini faktor potensi (Strength), Masalah (Weakness), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threat) dari kawasan pengembangan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan tersebut : a) Potensi (Strength) Kekuatan apa yang dapat di kembangkan agar lebih tangguh sehingga objek wisata tersebut dapat menjadi alternatif solusi bagi perkembangan sektor pariwisata di Kota Mamuju serta dapat mendukung fungsi kawasan tersebut sebagai kawasan konservasi. b) Masalah (Weakness) Segala faktor yang merupakan masalah atau kendala yang datang dari dalam wilayah atau obyek itu sendiri. Yang diperkirakan dapat menjadi penghambat dalam pengembangan ekowisata tersebut. c) Peluang (Opportunities) Kesempatan yang berasal dari luar wilayah atau obyek studi, kesempatan tersebut di berikan sebagai akibat dari pemerintah, peraturan-peraturan atau kondisi perekonomian secara global. d) Ancaman (Threat) Merupakan hal yang dapat mendatangkan kerugian yang berasal dari luar wilayah atau obyek. perencanaan serta

50

Kekuatan

dan

kelemahan

merupakan

faktor

intern,

sedangkan

kesempatan dan ancaman merupakan faktor ekstern. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut ini.

Gambar 3.1 Analisis SWOT


Sumber: SWOT Balanced Scorecard

Keempat faktor tersebut dianalisis yang ditinjau dari variabel sumber daya alam, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat serta faktor lain sebagai promosi adanya pesaing dan lainnya yang akan mempengaruhi pengembangan. Berdasarkan variabel-variabel tersebut, dapat dibuat matriks analisis SWOT dengan menjabarkan dan mengkombinasikan masing-masing variabel. Matriks analisis SWOT dibuat dengan mengaitkan 2 poin yang saling berkaitan dan berhubungan sebagai berikut : 1. SO; Memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk dapat meraih peluang (O) yang tersedia. 2. ST; Memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk mengantisipasi atau menghadapi ancaman (T) dan berusaha maksimal menjadikan ancaman sebagai peluang. 3. WO; Meminimalkan kelemahan (W) untuk meraih peluang (O) 4. WT; Meminimalkan kelemahan (W) untuk menghindari secara lebih baik dari ancaman (T).

51

Tabel 3.1 Matriks Analisis SWOT

Sumber: SWOT Balanced Scorecard

F.

Variabel Perencanaan Variabel perencanaan merupakan gambaran tentang suatu keadaan

atau persoalan yang dikaitkan dengan tempat dan waktu yang merupakan dasar suatu perencanaan dan merupakan alat bantu dalam mengambil keputusan. Variabel dipakai sebagai input yang akan diolah menjadi informasi dengan alat analisis.

52

Tabel 3.2 Variabel Perencanaan No. 1. Tujuan Mengetahui karakteristik kawasan Pulau Karampuang sebagai salah satu kawasan yang berpotensi sebagai daerah tujuan ekowisata kota Mamuju Kondisi ekologi pesisir o Pasang Surut o Ombak o Kedalaman o Flora o Fauna o Ekosistem Pesisir Kondisi sosial budaya o Struktur sosial o Organisasi / kelembagaan o Mata pencaharian o Mamuju dalam angka o Profil Pulau Karampuang Deskriptif kualitatif Foto mapping o Konsep Atraksi Budaya Faktor Kondisi fisik ekowisata Sub Faktor o Penggunaan lahan o Aksesibilitas o Bentang Alam Jenis Data o Mamuju dalam angka o Kondisi prasana jalan o Moda dari dan menuju pulau o Tingkat kelerengan dan jenis tanah o Pola pasang surut o Data Ombak o Peta Bathimetri o Jenis flora / fauna o Persebaran ekosistem pesisir Superimpose Analisis ODTW o Arahan Kawasan Ekowisata o Arahan Kawasan Konservasi Teknik Analisis Spasial Superimpose Analisis ODTW Keluaran o Arahan Spasial o Arahan Landscape

53

No. 2.

Tujuan Mengetahui perencanaan ekowisata yang dapat diterapkan kawasan Karampuang pada Pulau konsep

Faktor

Sub Faktor

Jenis Data

Analisis Spasial SWOT

Keluaran Konsep dan arahan

Konsep dan Arahan Pengembangan Ekowisata Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju, meliputi: o Zoning o Macam dan Jenis Fasilitas o Atraksi Wisata o Bentang Alam o Aksesibilitas dan Sirkulasi o Pengelolaan Sampah

54

F. Kerangka Perencanaan

Gambar 3.2 Kerangka Perencanaan


55

G. Diagramatik Alur Studi Perencanaan

Gambar 3.3 Diagramatik Alur Studi Perencanaan

56

H. 1.

Definisi Operasional Ekowisata adalah Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat.. (Organisasi The Ecotourism Society :1990).

2.

Pengembangan ekowisata Pulau Karampuang berbasis masyarakat didefinisikan pengelolaan ekowisata pada Pulau Karampuang dilakukan secara menyeluruh mulai keterpaduan kebijakan, penentuan sasaran dan tujuan, serta rencana spasial dan atraksi wisata yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat setempat.

3.

Kawasan konservasi adalah kawasan yang pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

4.

Zona adalah suatu kawasan yang memiliki kesamaan karakteristik fisik, biologi, ekologi, dan ekonomi yang ditentukan berdasarkan kriteria tertentu untuk mengelompokkan kegiatan yang bersifat sinergis dan memilahnya dari kegiatan yang bertentangan.

5.

Rencana Zonasi suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pesisir..

57

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

A. 1.

Gambaran Umum Kota Mamuju Geografi dan Administrasi Wilayah Luas wilayah Kabupaten Mamuju adalah 6.944,88 Km2. Secara

administrasi pemerintahan terdiri atas 15 wilayah kecamatan terdiri atas 98 Desa, 8 Kelurahan, serta 4 Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) meliputi wilayah Kecamatan Tapalang, Kecamatan Tapalang Barat, Kecamatan Mamuju, Kecamatan Simboro & Kepulauan, Kecamatan Kalukku, Kecamatan Papalang, Kecamatan Sampaga, Kecamatan Tommo, Kecamatan Kalumpang, Kecamatan Bonehau, Kecamatan Budong-Budong, Kecamatan Pangale, Kecamatan Topoyo, Kecamatan Karossa dan Kecamatan Tobadak. Berdasarkan posisi dan letak geografis wilayah, Kabupaten Mamuju berada pada koordinat 10 38 110 20 54 552 Lintang Selatan dan 110 54 47 130 5 35 Bujur Timur dari Jakarta (Sumber: Mamuju Dalam Angka 2011). Kabupaten Mamuju merupakan wilayah dengan potensi kawasan strategis sebagai pengembangan ibukota kabupaten untuk Provinsi Sulawesi Barat dengan batas administrasi wilayah berbatasan Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Mamuju Utara Sebelah Selatan berbatasan dengan Kab. Majene, Kab. Mamasa, Kab. Tana Toraja Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara Sebelah Barat berbatasan Selat Makassar

58

Gambar 4.1 Peta Administrasi Provinsi Sulawesi Barat


Sumber: Bakosurtanal 2010

59

Gambar 4.2 Peta Administrasi Kabupaten Mamuju


Sumber: Digambar kembali dari sumber Data Pokok Kab. Mamuju, 2010

60

2.

Klimatologi Keadaan alam Kabupaten Mamuju secara garis besar beriklim tropis.

Suhu udara berkisar antara 27-31 0C atau rata-rata 29 0C. Kelembaban udara rata-rata 70% - 80%, kecepatan angin 10,8 km/jam dan tekanan udara berkisar 1.010,7 Miliar/Bar serta penyinaran matahari mencapai 75,8%. Adapun curah hujan di Kabupaten Mamuju adalah 1.000 mm per hari dan rata-rata hari hujan sebanyak 114 HH/tahun. Mengenai data curah hujan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Rata-Rata Curah Hujan Per Tahun di Kabupaten Mamuju

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

Curah Hujan mm/Hari Hujan 321 93 1.057 317 168 737 252 143 271 361 594 541

Hari Hujan HH/Tahun 15 12 16 15 11 17 12 11 16 16 15 13

Sumber: Mamuju Dalam Angka 2010

61

3.

Kondisi Demografi Kabupaten Mamuju Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010, jumlah

penduduk Kabupaten Mamuju sementara adalah 336.879 orang, yang terdiri atas 173.407 lakilaki dan 163.472 perempuan. Dari hasil SP2010 tersebut

masih tampak bahwa penyebaran penduduk Kabupaten Mamuju masih bertumpu di Kecamatan Mamuju yakni sebesar 16,39%, kemudian diikuti oleh Kecamatan Kalukku sebesar 14,61%, dan Kecamatan lainnya di bawah 8%. Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Kecamatan Tapalang Tapalang Barat Mamuju Simboro Kepulauan Balabakang Kalukku Papalang Sampaga Tommo Kalumpang bonehau Budong-budong Pangale Topoyo Karossa Tobadak Mamuju Laki-laki 9,127 4,609 28,138 11,820 1,221 25,153 10,911 7,131 10,294 5,643 4,557 11,726 5,807 13,388 11,364 12,518 173,407 Perempuan 8,924 4,539 27,064 11,380 1,126 24,074 10,483 6,855 9,113 5,157 4,065 11,065 5,609 12,366 10,567 11,085 163,472 Laki-laki permpuan 18,051 9,148 55,202 23,200 2,347 49,227 21,394 13,986 19,407 10,800 8,622 22,791 11,416 25,754 21,931 23,603 336,879 + Sex Ratio 102 100 103 102 99 102 105 102 112 104 104 107 105 109 108 116 106

Sumber : Badan Pusat Statistik/SP2010

62

Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Mamuju per tahun selama sepuluh tahun terakhir yakni dari tahun 20002010 sebesar 3,91 persen. Laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Mamuju adalah yang tertinggi dibandingkan Kecamatan lain di Kabupaten Mamuju yakni sebesar 6,37 persen, sedangkan yang terendah di Kecamatan Pangale yakni sebesar 0,13 persen. Kecamatan Kepulauan Balabalakang walaupun jumlah penduduknya paling kecil tetapi laju pertumbuhan penduduknya berada di atas Kecamatan Budongbudong. Dengan luas wilayah Kabupaten Mamuju sekitar 8.014,06 kilo meter persegi yang didiami oleh 336.879 orang maka ratarata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Mamuju adalah sebanyak 42 orang per kilo meter persegi. Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Mamuju yakni sebanyak 267 orang per kilo meter persegi sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Kalumpang yakni sebanyak 6 orang per kilo meter persegi. 4. a. Pengembangan Pariwisata Kabupaten Mamuju Potensi Pariwisata Kabupaten Mamuju Berbagai potensi seperti letak geografis, keanekaragaman budaya, jumlah penduduk menjadikan kota Mamuju sebagai salah satu daerh tujuan wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan. Adapun prospek pengembangannya antara lain wisata bahari, wisata budaya dan sejarah, serta perdagangan. Dalam rangka mengembangkan potensi pariwisata, pemerintah

melakukan berbagai upaya pembangunan dan revitalisasi objek wisata yang ada. Kabupaten Mamuju memiliki potensi wisata yang cukup banyak meskipun belum terkelola dengan baik. Namun sarana penunjang kegiatan pariwisata telah tersedia berupa fasilitas akomodasi seperti Hotel,

63

penginapan dan wisma serta fasilitas hiburan seperti Pub, Karaoke dan caf maupun sejumlah rumah makan dan restoran. Obyek wisata yang ada di daerah ini berupa wisata alam, wisata bahari dan peninggalan sejarah. 1) a) Wisata Bahari Pulau Karampuang, terletak diwilayah Kecamatan Mamuju. Dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor atau speed boat selama 20 menit. Keunikan pulau ini yaitu, dihuninya oleh ratusan Kalelawar yang membentuk habitat di hutan bambu yang terhampar luas b) Pulau Bala-Balakang, terletak di Kecamatan Simboro Kepulauan, jarak tempuh dari pusat kota sekitar 3 jam dengan menggunakan speed boat. Keunikannya karena Pulau Balabalakang merupakan kawasan kampung nelayan tradisional dengan hamparan pantai pasir putih yang indah. Pulau Bakengkeng. Terletak di Kecamatan Kalukku, jarak tempuh dari pusat kota sekitar 1 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua dan dilanjutkan dengan perahu. Pulau eksotis yang menjadi keunikannya sangat cocok untuk olahraga air semacam jet sky, selancar angin, dll. d) Pantai Dungkait yang terletak di Kecamatan Talapang Barat, dapat ditempuh sekitar 40 menit dari pusat kota dengan menggunakan kendaraan roda dua. e) f) Ekowisata Tanjung Ngalo Kecamatan Talapang Barat Pantai Lombang-Lombang, yang terletak di Kecamatan Kalukku, sekitar 20 km dari kota Mamuju. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat ataupun roda dua. Mulai tahun 2006, pantai ini mulai dikelola secara serius oleh pemkab Mamuju. Keunikannya terlihat pada hampatan pantai pasir putih yang luas dan bersih

c)

64

2) a)

Wisata Alam Air Terjun Tamasapi. Terletak di Kecamatan Mamuju. Berjarak sekitar 5 km dari pusat kota dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Keunikannya terletak pada tinggi air terjun yang mencapai 80 m dan dikelilingi hutan tropis yang lebat.

b)

Pemandian Sodo, yang terletak di Kecamatan Mamuju. Berjarak sekitar 3 Km dari pusat kota dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Fasilitas yang tersedia antara lain gazebo, tangga loncat, tempat parkir, dan jalan setapak. Kawasan ini juga dipakai sebagai sumber mata air dari PDAM untuk penduduk Mamuju.

c)

Puncak Anjoro Pitu. Terletak di ketinggian, sekitar 3 km dari pusat kota Mamuju. Diberi nama Anjoro Pitu karena konon dulunya terdapat 7 buah pohon kelapa

d)

Air Panas Padang Panga Kecamatan Mamuju. Merupan sumber air panas alam ynag terletak sekitar 1 km dari pusat kota. Fasilitas yang tersedia adalah kolam pemandian sebanyak 2 buah.

e)

Sungai Karama, yang berjarak sekitar 120 km dari pusat kota dengan waktu tempuh 5 jam dan termasuk dalam wilayah kecamatan Kalumpang. Air sungai yang mengalir deras dan berjeram, sangat cocok untuk wisata arung jeram.

3) a) b) c) d)

Wisata Budaya Kuburan Lasaga, Kecamatan Mamuju Kuburan Pue Tonileo, Kecamatan Mamuju Rumah Adat Mamuju, Kecamatan Mamuju Sepasang Tengkorak, Kecamatan Kalumpang

65

Gambar 4.3 Beberapa objek wisata yang ada di Kabupaten Mamuju


Sumber : Dinas Pariwisata kab. Mamuju, 2012

Sebagai pendukung Sub sektor pariwisata Pemerintah Kabupaten Mamuju bersama masyarakat masih tetap melestarikan peninggalan budaya leluhur, seperti prosesi pernikahan maupun pada acara-acara tertentu. Mansossor Manurung, yang merupakan prosesi adat pencucian bendabenda pusaka kerajaan Mamuju yang dilaksanakan setiap tahun bertepatan pada hari Manakarra Disamping itu juga terdapat beberapa obyek wisata budaya berupa situs seperti Kuburan Tua La salaga, Kuburan Pattana Bali, Mesjid tua dan beberapa situs yang tersebar di wilayah Kabupaten Mamuju. Kabupaten Mamuju merupakan daerah yang kaya dengan heterogenitas budaya. Kabupaten Mamuju yang memiliki keberagaman dalam perbedaan, ini menunjukkan bahwa asimilasi budaya yang terjadi telah menjadi kekuatan tersendiri dalam upaya membangun daerah.

Gambar 4.4 Rumah Adat Mamuju


Sumber: Dokumentasi 2012

66

b.

Perkembangan Pariwisata Kabupaten Mamuju Wisatawan yang pernah berkunjung ke kota Mamuju hanya wisatawan

domestik. Jumlah wisatawan domestik pada tahun 2009 adalah 17.915 wisatawan. Tabel 4.3 Perkembangan wisatawan perbulan kota Mamuju tahun 2009
Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Okrober November Desember Jumlah total Wisatawan mancanegara Wisatawan domestik 1.550 1.585 1.855 1.292 1.868 1.500 1.248 1.717 1.658 2.070 2.260 970 17.915

Sumber : Dinas Pariwisata Kabupaten Mamuju, 2009

B. 1. a.

Gambaran Umum Pulau Karampuang Kondisi Fisik Pulau Karampuang Geografis dan Administrasi Wilayah Berdasarkan Kecamatan Mamuju dalam Angka 2011, secara geografis

Pulau Karampuang terletak pada 02 38' 10,8'' LS dan 118 53' 14,85'' BT. Pulau Karampuang terletak di Kec. Mamuju, berada 7km dari kota Mamuju, masih berstatus desa, dengan luas 6,21 km2. Hanya perlu waktu kurang lebih 20 menit untuk sampai diPulau Karampuang dengan menggunakan kapal kecil dari dermaga Mamuju. Luas area sektor pariwisata di Pulau Karampuang hanya seluas 2 Ha.

67

Gambar 4.5 Peta Orientasi Lokasi Penelitian Terhadap Kecamatan Mamuju


Sumber: Hasil Anaisis, 2013 68

Gambar 4.6 Peta Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Anaisis, 2013

69

b.

Topografi Secara umum kondisi topografi Pulau Karampuang berbukit-bukit dan

merupakan daerah yang dikelilingi oleh pantai, dengan ketinggian mencapai 120 mdpl, dengan tubir mengelilingi pulau dengan lebar mencapai 200 meter ke arah laut. c. Penggunaan Lahan Keteraturan pola penggunaan lahan sering dikaitkan dengan

penggunaan lahan dalam kota. Pola tersebut merupakan gambaran distribusi kegiatan penduduk dalam kota. Pola penggunaan lahan pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu: kelompok kawasan terbangun dan kelompok kawasan tidak terbangun. Kawasan tidak terbangun di Pulau Karampuang di dominasi oleh hutan dan lahan kosong. Sedangkan pola permukiman menyebar di sepanjang pinggiran pulau mengikuti garis pantai.

d.

Bentang Alam (Landscape) Pulau Karampuang memiliki tinggi ombak signifikan sebesar 0.053

0.096 meter yang menyebabkan terjadinya abrasi yang tersebar di beberapa titikdi sepanjang pinggiran pulau,

70

Gambar 4.7 Peta Kemiringan Lereng/ Topografi Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Anaisis, 2013

71

Gambar 4.8 Peta Kontur Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Anaisis, 2013

72

Gambar 4.9 Peta Penggunaan Lahan Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Anaisis, 2013

73

Gambar 4.10 Titik-Titik Abrasi Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Anaisis, 2013

74

2. a. 1)

Kondisi Ekologi Pesisir Kawasan Pulau Karampuang Oceanografi Pulau Karampuang Kecerahan Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan dan

sebagai indikasi adanya suspensi di dalam air. Semakin tinggi kecerahan suatu perairan, maka semakin dalam cahaya menembus ke dalam air. Faktor kecerahan perairan merupakan salah satu kriteria penting dalam penetapan kawasan wisata bahari khususnya wisata selam. Menurut KLH dan LON LIPI (1983) dalam Mansyur (2000) kecerahan dalam kaitannya dengan kegiatan wisata selam sangatlah diperlukan untuk melihat pemandangan bawah laut sebanding dengan nilai kecerahan di lokasi tersebut. Berdasarkan Penelitian Kesesuaian Wisata Selam di Pulau Karampuang oleh Kemal Antasari, kecerahan perairan antara 73 85% dengan jarak pandang bisa mencapai 12 meter. Nilai kecerahan ini sangat sesuai dengan yang diperlukan untuk melihat pemandangan bawah laut. Hal ini dimungkinkan karena lokasi berada cukup jauh dari daratan utama dan sungai sehingga suplai material tersuspensi yang menurunkan kecerahan perairan. 2) Arus Arah dan kecepatan arus diukur untuk mengetahui pola pergerakan massa air. Sehingga dalam penentuan kesesuaian wisata, dapat ditentukan lokasi yang benar-benar terhindar dari aliran arus air laut yang membawa bahan pencemar ataupun dapat mengganggu kegiatan wisata. Kondisi arus pada Pulau Karampuang adalah berkisar antara 0,07 m/dtk 0,05 m/dtk. Pada stasiun 1 memiliki arus terbesar dengan kecepatan mencapai 0,07 m/dtk yang terdapat di sebelah selatan pulau dengan arah arus 1800. Stasiun 3 memiliki arus terkecil dengan kecepatan mencapai 0,05

75

m/dtk yang berada di sebelah timur pulau dengan arah arus 550. Sedangkan stasiun 2 kecepatan arusnya mencapai 0,06 m/dtk yang terdapat di sebelah tenggara pulau dengan arah arus 600. 3) Bathimetri Kedalamanan merupakan salah faktor untuk menentukan wisata bahari khususnya untuk wisata selam. Kegiatan penyelaman mempunyai ketentuan kedalaman tertentu (3 25 meter menurut standar kesesuaian). Menurut Richardson (1999) Hal ini berkaitan erat dengan keselamatan dalam melakukan penyelaman yang berhubungan dengan tekanan disamping faktor lainnya yang dapat menyebabkan keselamatan jiwa wisatawan. Kedalaman tertinggi perairan Pulau Karampuang yakni lebih dari 190 meter. Kedalaman ini terdapat bagian luar pulau yang berjarak sekitar 470 meter Timur Laut, dan 412 meter Barat Laut pulau. Daerah tersebut juga merupakan bukan lokasi yang direkomendasikan sebagai lokasi wisata bahari. Sedangkan lokasi pengamatan kondisi oseanografi mempunyai mempunyai kedalaman berkisar 10 15 meter. b. 1) Panorama Bawah Laut Keanekaragaman Terumbu Karang Karang merupakan salah satu indikator layak tidaknya suatu areal dimanfaatkan untuk wisata selam. Baik buruknya suatu ekosistem terumbu karang ditentukan oleh tingginya persentase tutupan karang. Dari hasil penelitian oleh Kemal Antasari, 2011, diperoleh kondisi karang yang baik dengan persentase tutupan karang hidup berkisar antara 49,5 81,5 %, dengan tutupan karang kategori AC (Acropora) yang sangat mendominasi dengan persetase tutupan yaitu 54%. Dari hasil tersebut menunjukkan persentase tutupan karang yang sangat baik untuk pengembangan wisata selam di perairan Pulau Karampuang.

76

2)

Keanekaragaman Ikan Karang Ikan juga merupakan indikator penentuan suatu wilayah layak dijadikan

wisata selam atai tidak. karena salah satu daya tarik dari ikan karang ini adalah corak warna yang dimilikinya untuk menarik wisatawan dalam menikmati keindahan panorama bawah laut. Dari hasil penelitian oleh Kemal Antasari, 2011, diketahui bahwa terdapat 102-110 ekor dengan 14 famili ikan yang terdapat pada ketiga stasiun di perairan Pulau Karampuang yaitu : Acanthuridae, Apogonidae, Balidtidae, Lethrinidae, Chaetodontidae, Nemipteridae, Ephippidae, Scaridae, Holocentridae, Scopaenidae, Labridae, Serranidae,

Pomancentridae, dan Zanclidae. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah individu ikan karang perairan Pulau Karampuang berada pada kisaran 70-140 individu yang berarti lokasi tersebut masuk dalam kategori banyak atau sesuai. c. 1) Flora dan Fauna Flora Jenis flora (tumbuhan) di puau karampuang bervariasi menurut guna lahan yang ada, misalnya vegetasi bakau atau hutan mangrove yang tersebar di sepanjang pinggiran pulau, serta hutan lebat yang didominasi oleh hutan bambu dan tersebar di seluruh pulau. 2) Fauna Pulau Karampuang memiliki jenis hewan yang khas, misalnya kelelawar yang menetap dan berkembang biak di pulau ini, kelelawar ini dapat kita jumpai pada saat sore hari menjelang senja berterbangan di kawasan wisata Pulau Karampuang dan mengeluarkan suara yang khas.

77

Gambar 4.11 Persebaran Flora Fauna Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Anaisis, 2013 78

3. a. 1)

Kondisi Sarana dan Prasarana Aksesibilitas Transportasi Transportasi (tourist transportation), berkaitan erat dengan mobilisasi

wisatawan. Dalam perkembangan pariwisata alat transportasi tidak hanya digunakan sebagai sarana untuk membawa wisatawan dari suatu tempat ke tempat lain saja, namun juga digunakan sebagai atraksi wisata yang menarik. Pulau Karampuang dapat ditempuh dengan menggunakan perahu tradisonal milik penduduk yang terdapat di dermaga TPI Kab. Mamuju. Perahu yang digunakan adalah perahu berukuran sedang yang mempu membawa 20 orang penumpang. Waktu tempuh yang digunakan ke Pulau Karampuang adalah 20 menit. Biaya yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Pulau Karampuang adalah Rp 5.000.

Gambar 4.12 Transportasi pulau


Sumber: Dokumentasi 2012

2)

Dermaga Di Pulau Karampuang, 2 buah dermaga

Terdapat 4 buah dermaga yang dibangun untuk memperlancar akses dari dan ke Pulau Karampuang. dibangun di kawasan wisata yang dikelola oleh pemerintah dan pihak swasta. Sedangkan 2 dermaga lainnya diperuntukkan untuk mobilitas penduduk Pulau Karampuang. Dermaga yang diperuntukkan untuk akses penduduk

79

pulau ini berada di Dusun Bajak dan Dusun Karampuang. Dermaga menjadi bagian sangat penting untuk menunjang akses ke pulau. Hal ini disebabkan saat surut, daratan yang terpapar menjadi lebih luas hingga mencapai 200 meter dari bibir pantai.

Gambar 4.13 Prasarana dermaga di Pulau Karampuang


Sumber: Dokumentasi 2012

3)

Jalan Untuk menunjang aksesibilitas dalam pulau, terdapat jalan lingkungan

dengan lebar 1,5 meter dengan material beton dan paving block. Jalan ini menghubungkan Dusun Bajak dan Dusun Karampuang, namun prasarana ini tidak dapat dilewati dengan menggunakan moda angkutan, hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki karena topografi yang berbukit-bukit.

Gambar 4.14 Prasarana jalan di Pulau Karampuang


Sumber: Dokumentasi 2012

80

Gambar 4.15 Peta Aksesibilitas Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Anaisis, 2013

81

b. 1)

Sarana Sarana Ibadah Di Pulau Karampuang terdapat beberapa sarana ibadah yang dapat

menunjang kebutuhan spiritual pengunjung. Ada 2 buah masjid yang terletak dekat kawasan wisata Pulau Karampuang. Selain itu, sebuah Mushollah dibangun oleh pihak pengelola wisata agar pengunjung bisa beribadah di kawasan wisata.

Gambar 4.16 Sarana peribadatan berupa masjid


Sumber: Dokumentasi 2012

2)

Pemerintahan Di Pulau Karampuang terdapat sarana pemerintahan berupa Kantor

Desa Karampuang yang terletak di dusun Karampuang.

Gambar 4.17 Kantor Desa Karampuang


Sumber: Dokumentasi 2012

82

3)

Kesehatan Di Pulau Karampuang terdapat sarana kesehatan berupa Puskesmas

Desa Karampuang yang terletak di dusun Karampuang, bersebelahan dengan Kantor Desa.

Gambar 4.18 Sarana kesehatan berupa puskesmas


Sumber: Dokumentasi 2012

4)

Pendidikan Di Pulau Karampuang terdapat sarana pendidikan berupa Sekolah

Dasar Negeri Karampuang yang merupakan satu-satunya sarana pendidikan yang terdapat di Pulau Karampuang.

Gambar 4.19 Sarana pendidikan SD Negeri Karampuang


Sumber: Dokumentasi 2012

83

c. 1)

Prasarana Ketersediaan Listrik Listrik di Pulau Karampuang masih mengandalkan Pembangkit Listrik

Tenaga Diesel (PLTD) yang kelola oleh pemerintah dan ada pula yang di miliki langsung oleh penduduk . Sedangkan untuk kawasan wisata yang dikelola oleh swasta menggunakan genset sebagai sumber utama pasokan listrik.

Gambar 4.20 Prasarana listrik berupa genset dan PLTD


Sumber: Dokumentasi 2012

2)

Air Bersih Air bersih di Pulau Karampuang berasal dari sumur-sumur penduduk

setempat. Di Pulau Karampuang ada 3 buah sumur umum yang biasa digunakan penduduk dan pengunjung setempat untuk kebutuhan air bersih. Sumur ini terletak di Dusun Karampuang II dan Dusun Sepang Raya. Selain itu banyak sumur-sumur penduduk yang tersebar di beberapa rumah, namun tak bisa dikonsumsi karena airnya terasa payau.

Gambar 4.21 Prasarana air bersih


Sumber: Dokumentasi 2012

84

3)

Sanitasi Fasilitas sanitasi seperti MCK di Pulau Karampuang dibangun untuk Sanitasi ini dibangun oleh pihak pengelola

menjaga kebersihan pulau.

wisata, Pemerintah, PNPM, dan penduduk desa sekitar tempat wisata. Namun sayang, fasilitas ini kurang terawat sehingga terkesan jorok dan kotor. Pihak pengelola tidak menarik biaya saat menggunakan fasilitas ini.

Gambar 4.22 WC Umum yang tersedia di kawasan wisata


Sumber: Dokumentasi 2012

d. 1)

Sarana dan Prasarana Penunjang Wisata Akomodasi Akomodasi merupakan salah satu komponen yang sangat penting serta

merupakan kebutuhan dasar bagi wisatawan selama mereka berada di daerah tujuan wisata. Di Pulau Karampuang terdapat beberapa penginapan yang sederhana. Terdapat 5 bangunan yang dikelola oleh pemerintah yang dapat digunakan untuk menginap dengan tarif Rp. 50.000/malam. Sementara yang dikelola oleh swasta terdapat 7 bangunan semi permanen dan 5 bangunan permanen. Tarif yang dikenakan tergantung fasilitas dan penginapan yang ingin digunakan. Untuk bangunan semi permanen memiliki tariff Rp. 50.000 Rp. 75.000/malam, sedangkan untuk bangunan permanen dikenankan tarif Rp. 100.000/malam dengan fasilitas dapur, kamar mandi, dan kasur.

85

Gambar 4.23 Villa yang tersedia di kawasan wisata


Sumber: Dokumentasi 2012

2)

Gazebo Gazebo merupakan salah satu sarana pelengkap dalam pengembangan

wisata, gazebo biasa dipergunakan untuk bersantai maupun menikmati pemandangan alam. Di Pulau Karampuang terdapat beberapa gazebo yang tersebar di beberapa titik dengan view pemandangan yang menarik.

Gambar 4.24 Gazebo di beberapa titik


Sumber: Dokumentasi 2012

3)

Panggung Pertunjukan Di Pulau Karampuang terdapat sebuah panggung pertunjukan dengan

kondisi yang tidak terawat.

Gambar 4.25 Panggung pertunjukan di kawasan wisata


Sumber: Dokumentasi 2012

86

Gambar 4.26 Persebaran Sarana


Sumber: Analisis 2013

87

Gambar 4.27 Persebaran Sarana


Sumber: Analisis 2013

88

4.

Kondisi Sosial Budaya Jumlah penduduk ditinjau dari jenis kelamin berdasarkan data penduduk

di kecamatan mamuju, penduduk kelurahan karampuang pada tahun 2011 berjumlah 2.958 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki adalah 1.485 jiwa dan jumlah penduduk perempuan adalah 1.473 jiwa. Rasio jenis kelamin penduduk di kecamatan karampuang yaitu 100,75. Kondisi sosial budaya erat kaitannya dengan masyarakat dan lingkungannya, karena kondisi sosial budaya turut membentuk karakter lingkungan tersebut. Demikian halnya dengan kondisi sosial budaya di Pulau Karampuang, adat dan tradisi budaya mamuju yang masih kuat pengaruhnya dapat dijumpai terutama pada kegiatan-kegiatan tertentu seperti pernikahan, khitanan dan acara-acara adat lainnya seperti upacara pelepasan perahu dan upacara pembuatan perahu alau dalam bahasa lokal disebut parapa. Penduduk Pulau Karampuang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan sebagian buruh di Kota Mamuju. Sebagian besar penduduk karampuang ikut terlibat dalam kawasan wisata Pulau Karampuang dengan menyediakan kios makanan ataupun kios cinderamata berupa sarung tenun khas mandar ataupun kerajinan tangan berupa kerajinan kerang-kerangan ataupun miniature perahu sandeq yang merupakan perahu tradisional suku mandar.

Gambar 4.28 Cinderamata yang merupakan hasil kerajinan masyarakat lokal


Sumber: Dokumentasi 2012

89

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A.

Analisis SWOT Kawasan Analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk mengidentifikasi

suatu variable/aspek dalam posisinya sebagai salah satu bagian dalam lingkungan maupun sebagai dirinya sendiri. Analisis ini biasanya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu tahap dari rangkaian tindakan dalam rangka melakukan perencanaan strategis. SWOT adalah singkatan dari Strength (Kekuatan) dan Weakness (Kelemahan) dari kondisi internal suatu aspek, sedangkan Opportunities (Peluang) dan Threat (Ancaman) yang dihadapi suatu aspek dari lingkungan sekitarnya (eksternal). Tujuan akhir dari analisis SWOT ini adalah memilih dan menentukan strategi yang efektif untuk memaksimalkan keunggulan kekuatan dan pemanfaatan peluang serta pada saat yang sama meminimalkan pengaruh kelemahan dan ancaman yang dihadapi. Tahapan analsis dalam SWOT adalah memanfaatkan semua data dan informasi dalam model-model kuantitatif perumusan strategi (Freddy Rangkuti, 2001:30). Tahapan yang pertama dilakukan adalah pencermatan (scanning) yang pada hakekatnya merupakan pendataan dan pengidentifikasian sebagai pra analisis, kemudian untuk tahapan analisis dilakukan pembobotan (scoring) terhadap faktor strategis internal dan eksternal atau disebut pembobotan IFAS (Internal Strategic Factor Analysis Summary) dan EFAS (External Strategic Factor Analysis Summary).

90

Tabel 5.1 Matriks Analisis SWOT


Strength S1. Pemandangan alam yang ditawarkan di kawasan pengembangan Pulau Karampuang cukup menarik S2. Jumlah tenaga kerja yang cukup besar diharapkan dapat terjun dalam kegiatan ekowisata Pulau Karampuang Weakness W1. Fasilitas yang tidak tersedia. Bahkan prasarana dasarpun belum mencukupi W2. Kurangnya tingkat kualitas SDM masyarakat sekitar tentang wisata W3. Kurangnya tingkat Aksesbilitas menuju Pulau Karampuang akibat tidak adanya jalur transportasi darat. WO1. Melengkapi berbagai jenis fasilitas penunjang wisata sehingga dapat menarik minat wisatawan. WO2. Memberikan kemudahan aksesibilitas dan kelancaran dalam hal transportasi ke Pulau Karampuang. WO3. Memberikan berbagai pelatihan kepada masyarakat yang akan terjun langsung dalam kegiatan ekowisata.

Opportunity SO1. Mengembangkan O1. Dukungan dari atraksi wisata yang variatif sesuai dengan pemerintah Kabupaten keadaan alam dan view Mamuju untuk yang menarik di menjadikan Pulau kawasan Pulau Karampuang sebagai Karampuang. obyek wisata. O2. Atraksi yang akan SO2. Membuka lapangan pekerjaan baru bagi ditawarkan berupa penduduk di sekitar atraksi alami dan lokasi wisata tersebut budaya berupa maupun bagi perjalanan jelajah hutan, masyarakat Kabupaten berenang, menyelam, Mamuju dengan pendidikan mangrove, adanya ekowisata dan budaya masyarakat Pulau Karampuang. lokal atau masyarakat SO3. Meningkatkan pesisir kesejahteraan masyarakat sekitar dengan melibatkan masyarakat secara langsung pada kegiatan wisata Threat ST1. Kebijakan pemerintah T1. Selama ini pemerintah daerah Kabupaten Mamuju hendaknya Kabupaten Mamuju tidak hanya belum mengaplikasikan

WT1. Mempertegas peruntukan lahan di kawasan Pulau Karampuang sehingga

91

kebijakannya tersebut sehingga diperlukan suatu pengembangan yang kongkrit. T2. Terjadi pengalihfungsian lahan oleh masyarakat menjadi kawasan budidaya, akibat kebutuhan lahan yang terus menerus meningkat. T3. Merupakan kawasan yang rawan abrasi dengan intensitas sedang dan rendah T4. Intensitas curah hujan yang mencapai 114 hari hujan dalam setahun

memperhatikan bagaimana cara mengembangkan pariwisata supaya dapat meningkatkan pendapatan daerah saja melainkan juga memperhatikan kondisi alam dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. ST2. Tidak memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan tindakan eksplorasi terhadap kawasan tersebut yang dapat mengganggu fungsi kawasan tersebut sebagai kawasan konservasi. ST3. Mempersiapkan sumberdaya manusia baik dari kualitas dan kuantitasnya, agar dapat terserap secara signifikan terhadap keberadaan ekowisata tersebut. ST4. Meningkatkan koordinasi antara masyarakat dan pemerintah, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam pengelolaan objek wisata Pulau Karampuang

tidak terjadi perubahan fungsi lahan yang nantinya akan mengancam sistem ekologis Pulau Karampuang.

Sumber: Hasil Analisis, 2013

92

Berikut ini merupakan analisis dengan metode SWOT untuk Kawasan Ekowisata Pulau Karampuang melalui proses telaah IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) dan EFAS (External Strategic Factors Analysis Summary) untuk kemudian diketahui posisi kedudukannya dalam kuadran SWOT. Bobot masing-masing faktor mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (sangat tidak penting). Total bobot tersebut jumlah/skor harus 1,00 (100%). Nilai-nilai tersebut secara implisit menunjukkan angka persentase tingkat kepentingan faktor tersebut relatif terhadap faktor-faktor yang lain. Angka yang lebih besar berarti relatif lebih penting dibanding dengan faktor yang lain. Rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (sangat tinggi) sampai dengan 1 (sangat rendah) berdasar pada pengaruh faktor tersebut terhadap pengembangan industri. Pemberian rating untuk faktor yang tergolong kategori kekuatan bersifat positif (kekuatan yang besar di beri rating +4, sedangkan jika kekuatannya kecil diberi rating +1. Tabel 5.2 Analisis IFAS (Internal Strategic Factors Analysis)
Faktor- Faktor Strategi Internal Keterangan Pemandangan alam yang ditawarkan di kawasan pengembangan Pulau Karampuang cukup menarik Kekuatan (Strength) Jumlah tenaga kerja yang cukup besar dihapkan dapat terjun dalam kegiatan ekowisata Pulau Karampuang 0.4 2 0.8 0.6 3 1.8 Bobot Rating Bobot X Rating

Total

2.6

93

Faktor- Faktor Strategi Internal

Keterangan Fasilitas yang tidak tersedia. Bahkan parasarana dasarpun belum mencukupi. Utilitas (air bersih) sanitasi

Bobot

Rating

Bobot X Rating

0.2

0.6

Kelemahan (Weakness)

(drainase) yang tidak baik Kurangnya tingkat kualitas SDM masyarakat sekitar tentang wisata. Kurangnya tingkat Aksesbilitas menuju ke Pulau Karampuang akibat tidak adanya jalur transportasi darat. Total

0.2

0.4

0.2

0.6

0.4

1.2

2.8

Sumber: Hasil Analisis, 2013

Tabel 5.3 Analisis EFAS (External Strategic Factors Analysis)


Faktor- Faktor Strategi Eksternal Keterangan Dukungan dari pemerintah Kabupaten Mamuju untuk menjadikan kawasan Pulau Karampuang sebagai obyek wisata. Peluang (Opportunities) Atraksi yang akan ditawarkan berupa atraksi alami dan budaya berupa perjalanan jelajah hutan, berenang, menyelam, pendidikan mangrove, dan budaya masyarakat lokal atau masyarakat pesisir. Total 1 2.4 0.4 3 1.2 0.6 2 1.2 Bobot Rating Bobot X Rating

94

Faktor- Faktor Strategi Eksternal

Keterangan Selama ini pemerintah Kabupaten Mamuju belum mengaplikasikan kebijakannya tersebut sehingga diperlukan suatu pengembangan yang konkret.

Bobot

Rating

Bobot X Rating

0.3

0.6

Ancaman (Threat)

Kadang terjadi pengalihfungsian lahan oleh masyarakat menjadi kawasan budidaya, akibat kebutuhan lahan yang terus menerus meningkat. Merupakan kawasan yang rawan abrasi dengan intensitas sedang dan rendah. Total 1 1.6 0.3 2 0.6 0.4 1 0.4

Sumber: Hasil Analisis, 2013

Berdasarkan pembobotan di atas dengan menggunakan IFAS dan EFAS SWOT, maka diketahui posisi dalam kuadran SWOT, yaitu : X = Kekuatan + Kelemahan = 2,6 + (- 2,8) = - 0,2, artinya berada pada titik -0.2 pada sumbu x Y = Peluang + Ancaman = 2,4 + (- 1,6) = 0,8, artinya berada pada titik 0,8 pada sumbu y

95

Gambar 5.1 Posisi pengembangan pada kuadran SWOT


Sumber: Hasil Analisis 2013

Dari gambar diatas diketahui bahwa pengembangan ekowisata Pulau Karampuang berada pada kuadran II dengan strategi Agressive Maintenance Strategy (strategi perbaikan agresif), strategi konsolidasi internal dengan mengadakan perbaikan-perbaikan di berbagai bidang. Perbaikan faktor-faktor yang menyebabkan kelemahan untuk memaksimalkan pemanfaatan peluang. Peluang berupa keadaan alam perlu dimaksimalkan dengan melakukan suatu pengembangan wisata berbasis wisata alam sehingga terwujud suatu pemanfaatan lahan yang dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan memanfaatkan sektor wisata dengan tetap melihat aspek konservasi kawasan. Berdasarkan Analisis IFAS dan EFAS, pengembangan ekowisata Pulau Karampuang terletak dikuadran II, maka prioritas pengembangannya terletak pada strategi W-O. Adapun strategi W-O adalah sebagai berikut:

96

WO1. Melengkapi berbagai jenis fasilitas penunjang wisata sehingga dapat menarik minat wisatawan. WO2. Memberikan kemudahan aksesibilitas dan kelancaran dalam hal transportasi ke Pulau Karampuang. WO3. Memberikan berbagai pelatihan kepada masyarakat yang akan terjun langsung dalam kegiatan ekowisata. B. Analisis Kompetisi/Persaingan Pariwisata Analisis kompetisi atau persaingan dilakukan dengan melihat kompetitor atau objek wisata yang terdapat di kota Mamuju yang memiliki kesamaan karakter untuk menilai tingkat peluang pasar atau melihat peluang dan keunggulan pengembangan kawasan yang dilakukan. Dari identifikasi objek wisata yang ditemukan beberapa objek wisata di Kabupaten Mamuju yang memiliki kesamaan karakter berupa objek wisata pulau yaitu Pulau Bakengkeng dan Pulau Bala-Balakang. Adapun faktorfaktor yang digunakan untuk menilai keunggulan kawasan adalah faktor aksesibilita mencakup biaya dan waktu tempuh, serta faktor daya tarik wisata. Tabel 5.4 Analisis Kompetisi/Persaingan
No. Objek Wisata Biaya Biaya yang diperlukan untuk menuju Pulau Karampuang apabila berasal dari pusat Kota Mamuju adalah Rp. 5.000 Faktor Waktu Tempuh Waktu yang diperlukan untuk menuju kawasan Pulau Karampuang dari pusat Kota Mamuju menggunakan perahu nelayan memerlukan waktu tempuh sekitar 20 menit Daya Tarik Permukiman tradisional, keindahan alam bawah laut berupa terumbu karang serta tubir pantai yang mendukung kegiatan berenang

1.

Pulau Karampuang

97

No.

Objek Wisata

2.

Pulau Bakengkeng

3.

Pulau BalaBalakang

Biaya Untuk menuju Pulau Bakengkeng harus menggunakan transprtasi darat menuju kecamatan kalukku sejauh 32 km dari pusat kota, kemudian dilanjutkan menggunakan perahu dengan biaya yang berkisar Rp. 35.000 Rp. 40.000 Biaya yang diperlukan untuk menuju Pulau BalaBalakang dari pelabuhan feri berkisar antara Rp. 50.000 Rp. 70.000

Faktor Waktu Tempuh Waktu yang diperlukan untuk menuju Pulau Bakengkeng dari pusat Kota Mamuju menggunakan kendaraan roda empat dilanjutkan dengan perahu nelayan memerlukan waktu tempuh sekitar 1 jam Waktu yang diperlukan untuk menuju kawasan Pulau Bala-Balakang dari pelabuhan feri menggunakan speedboat membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Daya Tarik Pulau dengan hamparan pasir putih dengan atraksi wisata bahari seperti berenang, menyelam, dan jet ski

Pulau Balabalakang dengan hamparan pantai pasir putih dan merupakan kawasan kampung nelayan tradisional yang didominasi perahu sandeq

Sumber: Hasil Analisis, 2013

Dari tabel diatas

dapat disimpulakan bahwa

kawasan

Pulau

Karampuang lebih berpeluang untuk pengembangan pariwisata melihat tingkat aksesibilitas menuju Pulau Karampuang lebih mudah dengan biaya murah dibandingkan dengan Pulau Bakengkeng dan Pulau Bala-Balakang. C. Analisis Potensi Kawasan Analisis potensi lokasi pengembangan dilakukan dengan metode analisis foto mapping yang menggambarkan kondisi eksisting lokasi pengembangan atau dengan kata lain pemetaan potensi kawasan dengan menggunakan sarana foto. Dengan citra foto yang dipetakan ini bisa direncanakan tindakan-tindakan untuk mengembangkan potensi di satu sisi dan memberikan tindakan untuk mengurangi maupun meminimalkan masalah yang ada di sisi yang lain.

98

Gambar 5.2 Analisis potensi dan masalah kawasan pengembangan


Sumber: Hasil Analisis 2013

99

Tabel 5.5 Potensi Kawasan Pengembangan Ekowisata Pulau Karampuang


Id a. Lokasi / Potensi Vegetasi Mangrove Gambar Deskripsi Merupakan jenis vegetasi alami Pulau Karampuang. Kondisi Eksisting Vegetasi mangrove mempunyai ketebalan yang cukup tinggi. Analisis dan Arahan Dengan adanya vegetasi mangrove maka kawasan Pulau Karampuang dapat dijadikan sebagai pusat studi penelitian dan pendidikan mangrove. Selain itu kawasan ini juga dapat dijadikan sebagai salah satu atraksi wisata dengan memberikan akses kepada wisatawan untuk dapat memanfaatkan lokasi tersebut. Namun harus diberikan batasan /peraturan yang jelas sehingga wisatawan tidak melakukan sesuatu yang dapat merusak ekosistem mangrove. Dengan hutan lebat yang luas dapat dikembangkan sebagai salah satu atraksi wisata berupa jelajah hutan dan pengembangan agrowisata.

b.

Hutan

Merupakan kawasan tidak terbangun yang menjadi daerah resapan air / catchment area.

Hutan lebat dengan luasan yang mencakup hampir seluruh pulaudengan berbagai jenis veegetasi.

100

Id c.

Lokasi / Potensi Sosial Budaya Masyarakat Pesisir

Gambar

Deskripsi Kondisi sosial budaya mencakup mata pencaharian dan perilaku masyarakat lokal Pulau Karampuang.

Kondisi Eksisting Sosial budaya pesisir masih kental di Pulau Karampuang.

Analisis dan Arahan Dengan kondisi sosial budaya masyarakat Pulau Karampuang yang masih kental dengan budaya pesisir, maka kawasan Pulau Karampuang berpeluang untuk dijadikan atraksi wisata berupa wisata budaya pesisir dan dapat ditambahkan dengan beberapa atraksi berupa tarian adat serta wisata kuliner

d.

Tubir Pantai

Merupakan hamparan pantai dengan tingkat kedalaman yang landai.

Tubir memanjang ke arah laut sepanjang 200 m dengan kedalaman 1-2 m.

Dengan kondisi tubir pantai yang memanjang dengan kedalaman 1-2 meter, maka kawasan tersebut dapat dikembagakan sebagai wisata bahari berupa wisata renang, snorkelling, maupun susur pantai menggunakan perahu.

101

Id e.

Lokasi / Potensi Pemandangan Alam

Gambar

Deskripsi Merupakan salah satu daya tarik wisata faktor penarik wisatawan.

Kondisi Eksisting Pulau Karampuang memiliki topografi berbukit-bukit dengan hamparan pantai pasir putih dengan perairan yang cerah.

Analisis dan Arahan Dengan melihat kondisi alam Pulau Karampuang yang cukup menarik, maka dapat dikembangkan menjadi sight seeing tourism (wisata pemandangan) yang bersifat pasif seperti berjemur, view ke laut, maupun yang bersifat aktif seperti jelajah hutah maupun menyusuri pulau dengan menggunakan perahu tradisional.

f.

Pemandangan Bawah Laut

Merupakan salah satu daya tarik wisata faktor penarik wisatawan

Kondisi bawah laut berupa teruimbu karang yang sebagian besar kondisinya masih terjaga, namun terdapat kerusakan karang di beberapa titik.

Dengan adanya terumbu karang, maka kawasan Pulau Karampuang dapat dikembangkan menjadi wisata bawah laut berupa wisata selam, maupun wisata konservasi karang untuk memperbaiki karang yang mengalami kerusakan.

Sumber: Hasil Analisis, 2013

102

Tabel 5.6 Masalah Kawasan Pengembangan Ekowisata Pulau Karampuang


Id 1. Lokasi / Masalah Pembuangan Sampah Gambar Kondisi Eksisting Terjadinya pembuangan sampah yang tidak terkendali di beberapa titik. Analisis dan Arahan Penanganan sampah diarahkan untuk melakukan pemilahan sampah organik dan non-organik. Untuk sampah organik ditangani dengan pembakaran ataupun dengan metode landfill, sementara untuk sampah non organik dilakukan daur ulang. Penanganan abrasi diarahkan dengan metode penanaman vegetasi mangrove di sekitar titik-titik abrasi. Sistem penanganan seperti ini lebih ekonomis dibandingkan dengan pembuatan breakwater atau groin, serta memiliki nilai ekologis sebagai tempat hidup ikan. Intensitas curah hujan tinggi dan kondisi lereng/topografi pulau yang berbukit dapat mengakibatkan limpasan/aliran permukaan (run off) yang berbahaya bagi kegiatan wisata, maka dilakukan langkah antisipasi berupa pengembangan hutan lindung pada daratan tinggitanpa adanya aktivitas aktif di dalamnya. Langkah ini dilakukan agar air hujan yang jatuh dapat terserap lebih baik ke dalam tanah sehingga limpasan ke daratan lebih rendah dapat tereduksi.

2.

Abrasi

Terjadinya abrasi pantai di beberapa titik akibat hantaman arus laut.

3.

Curah Hujan

Tingginya tingkat curah hujan mencapai 114 HH/Tahun yang dapat mempengaruhi kegiatan wisata

Sumber: Hasil Analisis, 2013

103

D.

Analisis Keunikan Kawasan Pengembangan Analisis keunikan dilakukan dengan melihat potensi ataupun kondisi

fisik dan non-fisik kawasan yang dianggap memiliki nilai khas dan menjadi ciri bagi kawasan pengembangan yang nantinya menjadi pertimbangan dalam penentuan skala pelayanan pariwisata. Tabel 5.7 Analisis Keunikan Kawasan Pengembangan
No 1. Faktor Formasi geologi Kondisi Pulau Karampuang terdiri atas batuan penyusun dengan kategori Q1 atau gamping koral/batuan karang 2. Bentang alam pulau Pulau Karampuang merupakan pulau dengan topografi berbukit dan memiliki tubir pantai yang memanjang ke arah laut sejauh 200 m 3. Flora dan fauna Hampir seluruh pulau diselimuti oleh vegetasi mangrove dengan ketebalan mencapai 70% dan merupakan habitat bagi ribuan kelelawar yang berkembang biak di Pulau Karampuang 4 Ekosistem dan spesies perairan Pulau Karampuang masih memiliki kondisi terumbu karang yang sangat baik dengan tutupan karang Tutupan karang tergolong sangat baik yang menhcapai 81,5 % dengn jumlah ikan karang mencapai 110 ekor dari 14 family kondisi mangrove yang sangat baik dan merupakan habitat dan tempat pemijahan bagi beberapa spesies perairan, sehingga perlu adanya penjaga dan pelestarian ekosistem mangrove pada kawasan Pulau Karampuang Merupakan bentang alam yang cukup menarik dengan perpaduan antara perbukitan dan perairan yang dapat menjadi salah satu daya tarik objek wisata Analisis Luasan pulau yang mencapai 6,21 km dengan batuan penyusun gamping koral merupakan bentang alam yang cukup langka.

104

hidup 49,5 81,5% dengan tutupan kategori AC (Arcopora) yang mendominasi dengan persentase tutupan 54%. Perairan ini juga merupakan habitat dari 102 110 ekor ikan karang yang terdiri dari 14 famili ikan 5. Sosial Budaya Adat dan tradisi budaya mamuju yang masih kuat pengaruhnya dapat dijumpai terutama pada kegiatan-kegiatan tertentu seperti pernikahan, khitanan dan acara-acara adat lainnya seperti upacara pelepasan perahu dan upacara pembuatan perahu alau dalam bahasa lokal disebut parapa Sumber: Hasil Analisis, 2013

yang merupakan kategori sangat banyak merupakan kawasan yang sangat sesuai untuk pengembangan wisata selam atau taman bawah laut.

Kondisi social budaya dalam hal ini kearifan lokal yang masih terjaga merupakan salah satu daya tarik wisata dan merupakan salah satu kriteria dalam penentuan kawasan pengembangan ekowisata.

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kawasan pengembangan ekowisata Pulau Karampuang memiliki keunikan yang tergolong cukup unik dilihat dari batuan penyusun pulau dan luasan pulau, serta kondisi ekosistem pesisir pulau yang masih tergolong sangat baik. Adapun targetan pengembangan yang direncanakan adalah pengembangan ekowisata skala nasional melihat kondisi keunikan pulau yang cukup unik.

105

E.

Analisis Fungsi Kawasan Fungsi kawasan dibutuhkan untuk mengetahui tingkat kecocokan

sebidang lahan untuk penggunaan tertentu. Fungsi kawasan nantinya menghasilkan zonasi fungsi kawasan yang terbagi menjadi kawasan lindung, kawasan penyanggah dan kawasan budidaya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis superimpose, overlay beberapa peta sehingga akan terlihat tingkat kelayakan pemanfaatan lahan di kawasan pengembangan. Superimpose yang dilakukan dengan meng-overlay peta kemiringan lereng, peta curah hujan dan peta jenis tanah sehingga memperlihatkan fungsi kawasan yang menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan lokasi pengembangan ekowisata. Tabel 5.8 Klasifikasi dan Skor Penentuan Fungsi Kawasan
Lereng Lapangan
Kelas 1 : 0% - 8% Kelas 2 : 8% - 15% Kelas 3 : 15% - 25% Kelas 4 : 25% - 45% Kelas 5 : 45% atau lebih

Klasifikasi
datar landai agak curam curam sangat curam

Nilai Skor
20 40 60 80 100

Tanah Menurut Kepekaannya


Kelas 1: Aluvial, tanah Glei, Planosol, Hidromorf Kelabu, Laterik air tanah Kelas 2: Latosol Kelas 3: Brown forest soil, non calcic brown, mediteran Kelas 4: Andosol, Lateric, Grumusol, Podsol, Podsolic Kelas 5: regosol, Litosol, Organosol, Renzina

Klasifikasi
tidak peka Agak peka Agak peka Peka Sangat peka

Nilai Skor
15 30 45 60 75

Intensitas Curah Hujan Harian


Kelas 1 : s/d 13,6 mm/hr Kelas 2 : 13,6 20,7 mm/hr Kelas 3 : 20,7 27,7 mm/hr Kelas 4 : 27,7 34,8 mm/hr Kelas 5 : 34,8 mm/hr atau lebih Sumber: KepMen Pertanian 683/1981

Klasifikasi
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

Nilai Skor
10 20 30 40 50

106

Gambar 5.3 Peta Fungsi Kawasan Pulau Karampuang


Sumber: Hasil Analisis 2013

107

F.

Analisis Objek dan Daya Tarik Wisata Objek dan Daya Tarik Wisata merupakan dasar bagi kepariwisataan.

Objek dan Daya Tarik Wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan dan wisata. Pariwisata biasanya akan dapat lebh berkembang atau dikembangkan jika di suatu daerah terdapat lebih dari satu jenis objek dan daya tarik wisata. Tetapi bagaimanapun juga, beberapa jenis objek dan daya tarik wisata akan dikembangkan sebagian karena alasan bagi kepentingan konservasi, jadi tidak terus dikembangkan untuk kepetingan ekonomi. Variabel daya tarik wisata terdiri dari indikator keindahan alam, keanekaragaman flora dan fauna, kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta keunikan sosial budaya. Kajian penilaian terhadap objek dan daya tarik wisata menggunakan metode skala likert dengan skor tertinggi di tiap pertanyaan adalah 5 dan skor terendah adalah 1, dengan jumlah responden sebanyak 25 orang. Tabel 5.9 Tanggapan Wisatawan Terhadap Objek dan Daya Tarik
No 1. Daya Tarik Alam (pegunungan, laut, pantai) Budaya (pertunjukan seni budaya) Hiburan (atraksi buatan) Minat khusus (pengamatan flora dan fauna) Kuliner (makanan khas) Sangat Menarik 5 20% 2 8% 5 20% Menarik 20 80% 5 20% 12 48% 2 8% 13 52% Kurang Menarik 3 12% 5 20% 4 16% Tidak Menarik 12 48% 3 12% 3 12% 6 24% Sangat Tdk. Menarik 5 20% 3 12% 16 64% 1 4% Skor Total 105

2.

58 82 42 90

3. 4.

5.

Sumber: Hasil Analisis, 2012

108

Dari hasil perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tanggapan responden terhadap objek dan daya tarik wisata berdasarkan alam berada pada baris pertama (cukup tinggi) yaitu 105,0 yang berarti bahwa objek dan daya tarik wisata berdasarkan alam dinilai paling menarik untuk dikunjungi bagi para wisatawan. Objek daya tarik wisata berbasis kuliner atau makanan khas merupakan ODTW yang diminati oleh responden dengan hasil perhitungan 90,0 kemudian ODTW berbasis hiburan/atraksi buatan yaitu 82,0 yang merupakan angka cukup tinggi dalam penilaian objek dan daya tarik wisata. Kawasan Pulau Karampuang memiliki Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) yang berbasis alam/lingkungan seperti unsur vegetasi dan bentang alam yang masih alami. G. Analisis Pemilihan Plot Site Ekowisata Pemilihan plot site ekowisata dilakukan menggunakan metode

superimpose dengan meng_overlay peta eksisting pulau, peta fungsi kawasan dan peta titik abrasi untuk mengetahui kawasan yang berbahaya bagi kegiatan wisata, dengan tetap memperhatikan potensi kawasan pengembangan.

Gambar 5.4 Ilustrasi teknik superimpose yang dilakukan


Sumber: Hasil Analisis 2013

109

Gambar 5.5 Zona potensi pengembangan ekowisata


Sumber: Hasil Analisis 2013

110

Berdasarkan analisis superimpose yang dilakukan, terdapat beberapa zona yang dapat dikembangkan sebagai atraksi ekowisata yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Recreational Area (Kawasan Rekreasi) Kawasan Rekreasi merupakan kawasan wisata eksisting dan berpotensi dikembangkan menjadi zona rekreasi atraksi buatan dan merupakan zona inti kawasan pengembangan kawasan. b. Forest Area (Hutan Wisata Alam) Merupakan kawasan lindung dengan potensi hutan alami dengan tingkat kemiliringan lereng sangat curam, berpotensi dikembangkan menjadi kawasan hutan wisata alam. Kondisi Curah hujan yang mencapai 114 HH/Tahun dengan kondisi topografi berbukit dengan tingkat kelerengan bervariasi sehingga antisipasi yang dilakukan terhadap faktor ini adalah dengan menetapkan kawasan hutan yang terletak di puncak bukit sebagai kawasan hutan lindung tanpa kativitas akti di dalamnya. Dengan adanya hutan lindung dengan tingkat vegetasi lebat dapat mereduksi limpasan permukaan (run off) dan air hujan lebih banyak terserap ke dalam tanah. c. Conservational Area (Kawasan Konservasi) Kawasan konservasi merupakan kawasan perlindungan terhadap vegetasi mangrove dan dapat dikembangkan sebagai kawasan pendidikan dan pelestarian hutan mangrove dan terletak di sisi utara pulau sebagai bentuk penanganan abrasi pantai. d. Traditional Village (Desa Tradisional) Merupakan kawasan eksisting permukiman masyarakat lokal dan dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya pesisir. e. Diving Area (Wisata Selam) Kawasan wisata selam merupakan kawasan yang yang memiliki kesesuaian sebagai wisata selam.

111

Tabel 5.10 Analisis kriteria keesuaian wisata selam


Kriteria Kesesuaian No. Parameter Sangat sesuai 1. 2. 3. 4. 5. Pasang Surut Kecerahan Arus Ombak Kedalaman 0-1 90-100% <0,1 m/s <1 m 3-15 m Sesuai 1-3 80-89% 0,1-1 m/s 1-2 m 16-25 m Tidak Sesuai >3 <80 >1 m/s >3 >25 1,2 83% 0.07 m/s 0,96 12 Eksisting Tingkat Kesesuaian Sesuai Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai Sangat Sesuai

Sumber: Hasil Analisis 2013

Keterkaitan ruang antar zona dalam kawasan pengembangan dapat diinterpretasikan dalam bentuk hubungan yang kuat, sedang, lemah atau tidak berhubungan. Penentuan tersebut didasarkan pada subjektifitas dengan melihat kuantitas kegiatan antar lokasi atraksi wisata seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini. Tabel 5.11 Keterkaitan ruang dalam kawasan pengembangan
Area Rekreasi Area Rekreasi Hutan Wisata Alam Area Konservasi Desa Tradisional Wisata Selam Hutan Wisata Alam Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Kuat Lemah Lemah Kuat Area Konservasi Kuat Kuat Desa Tradisional Kuat Lemah Lemah Wisata Selam Kuat Kuat -

Sumber: Hasil Analisis 2013

112

Gambar 5.6 Keterkaitan ruang dalam kawasan pengembangan


Sumber: Hasil Analisis 2013

H.

Analisis Aksesibilitas dan Sirkulasi Aksesibilitas merupakan salah satu hal penting di dalam upaya

pengembangan obyek daerah tujuan wisata, bila aksesibilitas buruk maka wisatawan akan berfikir untuk berkunjung, sebaliknya bila bagus maka wisatawan diharapkan mau mengunjungi obyek daerah tujuan wisata. Faktorfaktor yang dapat digunakan untuk menilai aksesibilitas suatu ODTW adalah waktu, biaya, frekuensi dan kesenangan. Berikut disajikan tabel penilaian aksesibilitas menuju kawasan pengembangan ekowisata.

113

Tabel 5.12 Analisis Tingkat Aksesibilitas Faktor Waktu Eksisting Waktu yang diperlukan untuk menuju kawasan pengembangan dari pusat Kota Mamuju menggunakan perahu nelayan memerlukan waktu tempuh sekitar 20 menit Biaya Biaya yang diperlukan untuk menuju kawasan pengembangan apabila berasal dari pusat Kota Mamuju adalah Rp. 5.000 Kisaran biaya menunjukkan bahwa biaya yang dibutuhkan menuju kawasan pengembangan Pulau Karampuang tergolong mahal bila dibandingkan dengan pencapaian dengan daerah lain dalam kota Mamuju. Frekuensi Lalu-lintas kendaraan umum yang menuju kawasan pengembangan apabila berasal dari pusat Kota Mamuju pada jam 9 pagi dan jam 2 siang
Sumber: Hasil Analisis, 2013

Analisis Disimpulkan bahwa waktu tempuh relatif singkat dari pusat kota untuk menuju kawasan pengembangan Pulau Karampuang,

Frekuensi kendaraan yang melintas terbatas, mengurangi pergerakan masyarakat

114

Tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas menuju kawasan pengembangan Ekowisata Pulau Karampuang apabila berasal dari pusat Kota Mamuju memerlukan waktu yang cukup singkat, biaya yang cukup murah namun frekuensi yang relatif kecil, karena Pulau Karampuang merupakan pulau sehingga mengalami keterbatasan dalam proses perpindahan manusia dan barang. Sirkulasi, keadaan sirkulasi ditandai dengan keadaan/kondisi jaringan jalan di kawasan tersebut. Kondisi jaringan jalan dalam wilayah pengembangan tergolong baik karena berkonstruksi beton dan paving blok. Namun secara kuantitas keseluruhan masih belum memenuhi kebutuhan masyarakat apalagi bila nantinya akan dipergunakan sebagai bagian erat dalam pengembangan ekowisata. Jalur pejalan kaki yang saat ini hanya menghubungkan kawasan wisata eksisting Pulau Karampuang dan permukiman-permukiman yang tersebar di pinggiran pulau, sehingga dalam pengembangan kawasan dibutuhkan pembuatan jalur pejalan kaki (pedestrian way) yang menjadi penghubung atau lingkage tiap zona pemanfaatan dalam kawasan pengembangan.

115

BAB VI KONSEP DAN ARAHAN PENGEMBANGAN


A. Konsep Pengembangan Perumusan konsep ekowisata Pulau Karampuang berdasarkan kepada potensi ruang yang dimiliki, potensi alam dengan mempertimbangkan kendala dan faktor kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Mamuju. Kebutuhan wisatawan akan kesenangan/hiburan (intertainment) dan daya tarik wisata alam (environment) akan menjadi acuan dalam penetapan konsep pengembangan kawasan yang diarahkan pada Konsep Ekowisata Alam Berbasis Ekologi. Konsep Ekowisata Alam Berbasis Ekologi adalah konsep pengembangan kegiatan wisata yang didasarkan pada proses memadukan kegiatan wisata alam/hiburan dengan strategi konservasi lingkungan yang kemudian dikonversi ke dalam paket wisata. Ekowisata Alam Berbasis Ekologi secara fisik dapat diwujudkan dalam kegiatan pelestarian vegetasi perairan berupa mangrove maupun pelestarian taman bawah laut berupa tutupan karang (coral reef) serta atraksi wisata yang bersifat aktif berupa wisata renang dan jelajah hutan, maupun atraksi budaya (pengamatan budaya masyarakat pesisir/nelayan), dll. Konsep tersebut meliputi konsep tata ruang (zoning), konsep bentang alam (landscape), konsep atraksi wisata, konsep aksesibilitas dan sirkulasi, serta konsep macam dan jenis fasilitas. 1. Konsep Tata Ruang (Zonasi) Pengaturan ruang dilakukan dengan menetapkan tiap fungsi kawasan dengan mempertimbangkan pengarahan kegiatan-kegiatan manusia. sehingga pola ruang yang terbentuk sesuai dengan kondisi fisik dan potensi kawasan. Pengembangan kawasan dilakukan dengan pendekatan ekologis

116

dalam upaya penerapan Eco Development Control. Dalam penerapannya, diperlukan penetapan tiap fungsi kawasan yang akan direncanakan serta besaran ruang yang dibutuhkan. Penetapan tersebut akan memberikan batasan yang jelas tentang pola dan lokasi pemanfaatan lahan sesuai dengan kebutuhan dalam hal ini kaitannya dengan pengembangan ekowisata di Pulau Karampuang. Tabel 6.1 Tujuan penetapan tiap fungsi kawasan
Fungsi Permukiman Tujuan Penetapan 1) Menyediakan lahan untuk pengembangan hunian dengan kepadatan yang rendah di wilayah perencanaan. 2) MengakomoSungaii tipe hunian yang bersifat etnik BugisMakassar dalam rangka mempertahankan nuilai budaya dan adat suku Bugis-Makassar. 3) Merefleksikan pola-pola pengembangan yang diinginkan masyarakat pada lingkungan hunian yang ada dan untuk masa yang akan datang 1) Menyediakan lahan untuk menampung kegiatan perdagangan dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. 2) Memperjelas keberadaan kawasan perdagangan dan jasa, meliputi : dimensi, intensitas, dan pengembangan yang diinginkan masyarakat. 1) Menyediakan lahan untuk pengembangan prasarana transportasi 2) Menjamin kegiatan transportasi yang berkualitas tinggi, dan melindungi penggunaan lahan untuk prasarana transportasi. 1) Zona yang ditujukan untuk mempertahankan / melindungi lahan untuk rekreasi dil luar bangunan, sarana pendidikan, dan untuk dinikmati nilai-nilai keindahan visualnya 2) Preservasi dan perlindungan lahan yang secara lingkungan hidup rawan/sensitive. 3) Diberlakukan pada lahan yang penggunaan utamanya adalah taman atau ruang terbuka, atau lahan perorangan yang pembangunannya harus dibatasi untuk menerapkan kebijakan ruang terbuka, serta melindungi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan publik.

Komersil

Transportasi

Ruang Terbuka Hijau

117

Fungsi Kawasan Lindung

Tujuan Penetapan 1) Memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup 2) Mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan melestarikan fungsi lindung kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan cagar budaya dan kawasan lindung lainnya, serta menghindari berbagai usaha dan atau kegiatan kawasan rawan bencana. 3) Mempertahankan keanekaragaman hayati, satwa, dan keunikan alam.

Sumber:Hasil Analisis, 2013

Selain penetapan tiap fungsi kawasan, juga ditetapkan besaran ruang yang akan digunakan dalam pengembangan ekowisata tersebut seperti yang terdapat pada tabel berikut ini: Tabel 6.2 Rencana Besaran Ruang Kawasan Pengembangan Ekowisata
Fungsi Peruntukan Kawasan Permukiman Kawasan Rekreasi Kawasan Perdagangan Kawasan Wisata Selam Kawasan Hutan Wisata Alam Kawasan Konservasi Mangrove Kawasan Hutan Lindung Kawasan Sempadan Pantai Kawasan Resapan Air Jumlah
Sumber:Hasil Analisis, 2013

Kawasan Budidaya Luas (Ha) % 67,69 11,58 14,86 2,54 11,53 1.98 1,72 0,30

Kawasan Konservasi Luas (Ha) %

166,64 44,20 74,22 19,80 183,80 95,8 Ha 16,4 % 488,66 Ha

28,52 7,56 12,70 3.38 31.44 83.6 %

Dari tabel diatas secara jelas menetapkan persentase perencanan dan kebutuhan ruang antara kawasan konservasi dan kawasan budidaya. Pada kawasan pengembangan ekowisata Pulau Karampuang sebesar 83,6 % akan diperuntukan sebagai kawasan konservasi sedangkan 16,4 % akan diperuntukkan sebagai kawasan budidaya dalam hal ini atraksi wisata.

118

Gambar 6.1 Perencanaan Tata Ruang


Sumber: Hasil Analisis, 2013

119

Gambar 6.1 Perencanaan Tata Ruang


Sumber: Hasil Analisis, 2013

120

2.

Konsep Atraksi Wisata Paket perjalanan wisata Pulau Karampuang dapat digolongkan ke

dalam paket wisata Sight Seeing Tour (Menyaksikan keindahan. Adapun paket atraksi wisata Pulau Karampuang adalah: a. Tour budaya (Traditional Village), dengan mengedepankan asas Community Based Development. Pengembangannya menitikberatkan pada pengembangan masyarakat tradisional yang mengacu pada peningkatan/perlindungan budaya, adat istiadat setempat.. b. Tour petualangan dan hobbi (berenang dan menyelam). 1) Kegiatan petualangan berupa jelajah hutan 2) Kegiatan berenang dilakukan pada zona aman renang 3) Kegiatan snorkeling dan menyelam c. Tour konservasi 1) Hutan mangrove,. 2) Konservasi karang

121

Tabel 6.3 Unsur ODTW


Faktor Something To See Jenis Wisata Cultural Tourism: Permukiman Kws Tradisional Lokasi Frekuensi Dapat dilakukan setiap saat (pagi-siang hari) Setiap 1 bulan sekali (hari libur/hari besar) Dapat dilakukan setiap saat (pagi-siang hari)

Traditional Village

Traditionan Events : Atraksi Panggung Pertunjukan Kesenian Budaya Natural Amennities : Keunikan Bentang Alam Something to Do Recreational/Leasure Tourism : Kegiatan Olahraga (Plaza) Kegiatan belanja makanan khas, souvenir dan makanan ringan Kegiatan piknik keluarga Taman bermain (play ground) Natural Amennities Tourism : Berenang/Menyelam Konservasi/Penelitian mangrove Menginap di cottage/ resort

Traditional Village Kawasan Pengembangan

Recreational Area Trade Area Forest Area

Dapat dilakukan setiap saat (pagi-siang hari)

Recreational Area Diving Area Conservational Area Dapat dilakukan setiap saat (pagi-siang hari)

Something to Buy

Paket Tour (Package Tour) Belanja makanan khas Belanja souvenir dan makanan ringan Trade Area Traditional Village Dapat dilakukan setiap saat (pagi-sore)

Sumber: Hasil Analisis, 2013

122

Gambar 6.3 Konsep Atraksi Wisata


Sumber: Hasil Analisis, 2013

123

3.

Konsep Bentang Alam Dalam pengembangan ekowisata Pulau Karampuang, salah satu yang

perlu diperhatikan adalah bentang alam pulau dan kawasan disekitarnya karena sangat berkaitan dengan fungsi ekologis Pulau Karampuang. Permasalahan yang terjadi berupa abrasi di beberapa titik sepanjang pinggiran pulau mengancam berkurangnya luasan pulau akibat pengikisan sehingga harus dilakukan penanganan dengan konsep Fitoremediasi yang menitikberatkan pada penggunaan tanaman dalam perbaikan lingkungan. Pengaturan sempadan pantai dilakukan sebagai bagian dari usaha pengamanan pantai yang dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari bahaya gelombang pasang tinggi (rob), abrasi, dan menjaga pantai dari pencemaran. Selain itu, diperlukan konsep tata hijau berupa penempatan vegetasivegetasi yang dianggap dapat menambah fungsi lingkungan alami berupa fungsi peneduh, fungsi penyerap air limpasan hujan dan fungsi estetika kawasan pengembangan. Jenis vegetasi yang dapat digunakan adalah pohon ki hujan (samaena saman), pohon angsana, pohon flamboyan dan pohon palem. Vegetasi tersebut dapat diletakkan disepanjang pedestrian pada kawasan sempadan sungai serta pada hutan kota yang berada di Pulau Karampuang.

4.

Konsep Aksesibilitas dan Sirkulasi Konsep aksesibilitas dan sirkulasi pada kawasan pengembangan

ekowisata Pulau Karampuang dibagi atas 2 wilayah rencana yaitu makro dan mikro.

124

a.

Konsep Sirkulasi Makro Konsep sirkulasi makro bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas pada kawasan pengembangan berupa akses dari pusat Kota Mamuju dengan Kawasan Pulau Karampuang. Pengembangan aksesibilitas dan sirkulasi secara makro berupa peningkatan kualitas pengangkutan menuju Pulau Karampuang meliputi penyediaan dermaga di Pelabuhan Mamuju serta peningkatan jadwal pengangkutan reguler menuju Pulau Karampuang. Tidak adanya dermaga yang disediakan sebagai tempat tambat perahu di Pelabuhan Mamuju merupakan akses utama menuju Pulau Karampuang.

b.

Konsep Sirkulasi Mikro Konsep penataan sirkulasi dalam kawasan pengembangan dilakukan dengan menyediakan akses antar sub kawasan berupa pedestrian dan transportasi air (waterway). Penyediaan pedestrian dan transportasi air itni bertujuan untuk meningkatkan akses dan sirkulasi dalam kawasan pengembangan. Dengan adanya rencana aksesibilitas dan sirkulasi diharapkan tingkat

aksesibilitas masyarakat dan wisatawan dapat meningkat sehingga akan berpengaruh terhadap jumlah wisatawan yang akan datang ke kawasan ekowisata Pulau Karampuang.

125

Gambar 6.4 Rencana Aksesibilitas dan Sirkulasi


Sumber: Hasil Analisis, 2013

126

5.

Konsep Macam dan Jenis Fasilitas Keberadaan fasilitas tidak dapat dipisahkan dari kegiatan wisata sebab

fasilitas merupakan kelengkapan yang sangat penting untuk terlaksananya sebuah kegiatan wisata. Jenis fasilitas yang ada ditentukan berdasarkan kebutuhan dari setiap atraksi wisata dengan kriteria: a. b. c. Melindungi lingkungan sekitarnya, baik yang berupa lingkungan alami maupun kebudayaan lokal. Memiliki dampak minimal terhadap lingkungan alami selama masa konstruksi dan operasinya. Sesuai dengan konteks budaya dan fisik wilayah setempat, misalnya ditandai dengan arsitektur yang menyatu dengan bentuk, lansekap, dan warna lingkungan setempat.

B. Arahan Pengembangan 1. Arahan Tata Ruang Kawasan Pulau Karampuang diarahkan sebagai kawasan dengan fungsi utama sebagai kawasan konservasi dan merupakan pusat kegiatan ekowisata dengan pembagian zona menurut konsep tata ruang (lihat gambar 6.1 hal.) Agar pengembangan pariwisata tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dan tetap menjaga aspek keberlanjutan maka pengembangan sarana dan prasarana harus mengikuti ketentuan teknis pembangunan sebagai berikut:: a. Luas area terbangun untuk pembangunan sarana dan prasarana pariwisata tidak melebihi 30 % (tiga puluh persen) dari luas pulau yang diperuntukan bagi pengembangan pariwisata.

127

b.

Garis sempadan bangunan dan sempadan pantai harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, kecuali untuk pembangunan bungalow atas air (water bungalow).

c. d. e.

Bangunan akomodasi menghadap ke arah pantai dan tidak dihalangi oleh bangunan lain. Gaya arsitektur dan bahan bangunan untuk pembangunan sarana wisata disarankan mencerminkan identitas lokal dan ramah lingkungan. Pembangunan fasilitas bungalow atas air (water bungalow) harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: 1) Fondasi bungalow tidak merusak gugusan terumbu karang hidup. 2) Tinggi bungalow maksimum 1 (satu) lantai.

f.

Pembangunan pendaratan/tambat kapal (jetty) dan mooring buoy harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: 1) Tidak dibangun di atas terumbu karang hidup. 2) Fondasi bangunan tambat kapal tidak merusak gugusan terumbu karang hidup.

2.

Arahan Atraksi Wisata Pengembangan kegiatan dikelompokkan ke dalam dua kegiatan, yaitu

aktivitas kegiatan harian, wisata alam dan aktivitas kegiatan khusus. a. kegiatan wisata publik Merupakan kegiatan yang bersifat umum dan bentuk kegiatannya dapat dilakukan secara aktif maupun pasif. Adapun jenis kegiatan yang termasuk dalam kegiatan ini adalah : 1) Kegiatan menikmati pemandangan Kegiatan ini didukung oleh pemandangan disekitar Pulau Karampuang yang masih alami yang merupakan daya tarik wisata paling menarik di Pulau Karampuang, sehingga perlu adanya penjagaan lingkungan, termasuk dalam perencanaan terutama

128

perencanaan bangunan semaksimal mungkin agar tidak menutupi view ke arah laut akibat dari elemen-elemen buatan maupun alamiah yang sengaja diletakkan pada suatu tempat tertentu. 2) Kegiatan belanja Salah satu kegiatan lain adalah aktivitas-aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dengan obyek wisata seperti wisata berbelanja yaitu selain wisatawan berjalan-jalan santai sambil menikmati pemandangan alam, juga dapat sambil berbelanja. 3) Kegiatan berenang di laut Merupakan kegiatan aktif yang tidak dapat dipisahkan dari wisata bahari/perairan, dilakukan pada kawasan rekreasi savagai wisata publik. 4) Aktivitas kegiatan wisata budaya Merupakan kegiatan yang bersifat pasif dengan tujuan memperkenalkan budaya masyarakat pesisir kepada wisatawan melalui perilaku maupun tata cara hidup masyarakat lokal. Salah satu tata cara hidup masyarakat nelayan Pulau Karampuang adalah upacara pelepasan perahu ke laut atau dalam bahasa setempat disebut parapa. b. Aktivitas kegiatan wisata khusus Merupakan kegiatan rekreasi dengan sasaran pada wisatawan yang berniat untuk mendapatkan nilai lebih dari pada sekedar berwisata menikmati keindahan alam dan bentuk kegiatannya bersifat pasif maupun aktif. Adapun jenis kegiatan wisata yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah : 1) Kegiatan pelestarian mangrove Kegiatan ini diperuntukkan untuk memberikan proses pembelajaran kepada wisatawan tentang ekosistem mangrove, sehingga wisatawan juga dapat memperkaya pengetahuan mereka tentang

129

vegetasi mangrove dan dapat terjun langsung dalam menjaga kelestarian mangrove dengan pembibitan maupun penanaman mangrove. 2) Kegiatan konservasi karang Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan transplantasi karang merupakan upaya pencangkokan atau pemotongan karang hidup untuk ditanam ditempat lain. Wisatawan dapat ikut berpartisipasi dalam pemotongan maupun penanaman karang di lahan konservasi dengan didampingi oleh tenaga ahli/masyarakat lokal. 3) Kegiatan jelajah hutan Kegiatan berwisata ini memanfaatkan hutan untuk dijadikan objek wisata dengan melakukan perjalanan menyusuri hutan untuk sekedar menikmati keindahan hutan alami maupun melakukan perjalanan yang memang merupakan hobbi pecinta alam.

Gambar 6.5 Kawasan wisata publik dan wisata khusus


Sumber: Penulis, 2013

130

3.

Arahan Bentang Alam (Landscape) Berdasarkan konsep bentang alam, maka diperlukan pengaturan

sempadan pantai dengan kategori untuk pantai di kawasan wisata minimal 4 meter dari titik pasang tertinggi air laut, sedangkan sempadan pantai di kawasan permukiman minimal 30 meter dari titik pasang tertinggi air laut.

Gambar 6.6. Ilustrasi garis sempadan pantai


a). GSP di kawasan permukiman b). GSP di kawasan wisata Sumber: Penulis, 2013

Untuk penanganan abrasi dilakukan dengan melakukan penanaman mangrove di sekitar titik-titik yang terancam abrasi untuk menahan laju ombak, sehingga ombak yang menghantam pantai dapat tereduksi. Sistem penanganan abrasi dengan hutan mangrove memiliki keunggulan dari aspek ekologis dan aspek ekonomis yaitu memiliki biaya yang relative sedikit dibanding pembuatan groin ataupun breakwater.

Gambar 6.7 Ilustrasi mangrove sebagai pemecah gelombang


Sumber: Penulis, 2013

131

Selain rencana sempadan pantai dan penanggulangan abrasi, juga dibutuhkan rencana tata hijau yang berfungsi untuk mempertegas nilai ekologis dan estetika kawasan pengembangan. Setiap vegetasi yang ditanam memiliki fungsi dan kriteria masing-masing antara lain: Tabel 6.4 Fungsi Perencanaan Tata Hijau
Fungsi Peneduh (sebagai peneduh, penyerap polusi dan pencegah erosi) Kriteria tanaman Berdaun dan bercabang rapat Bunga dan daun tidak mudah rontok Perakaran dalam Berbatang lurus Bertajuk lancip Lokasi Hutan Kota, Tempat parkir, Tempat pemancingan, Teater terbuka. Sepanjang jalur pedestrian Jenis tanaman Samaena saman (Ki hujan), Ptreocapus indicus (angsana), Tamarindus indicus (asam jawa) Jenis palem

Pengarah (sebagai pengarah wisatawan menuju tempat tertentu) Pembatas (sebagai pembatas antar kawasan yang satu dengan yang lain) Estetika (untuk memberikan kesan yang berbeda tiap kawasan)

Percabangan, daun dan ranting rapat Ketinggian bisa diatur Memiliki warna dan bau yang khas

Lokasi terluar tiap kawasan

Flamboyan, Nusa indah

Semua lokasi pengembangan

Jenis bungabungaan

Sumber: Hasil Analisis, 2013

132

Gambar 6.8 Rencana Bentang Alam


Sumber: Hasil Analisis, 2013

133

4.

Arahan Aksesibilitas danSirkulasi Pengembangan aksesibilitas yang dikelompokkan dalam aksesibilitas kawasan pengembangan dan aksebilitas dalam kawasan

menuju a.

pengembangan. Aksesibilitas dan sirkulasi dari/menuju kawasan pengembangan Pengembangan aksesibilitas dilakukan dengan melakukan pembenahan atau peningkatan sarana dan prasarana transportasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat umum dan kebutuhan wisatawan dengan implementasi sebagai berikut: 1) Peningkatan sarana dermaga di Pelabuhan Kota Mamuju yang merupakan akses utama menuju kawasan Pulau Karampuang. 2) Moda transportasi yang digunakan berupa kapal kapasitas sedang yang dapat menampung 15-20 orang penumpang. 3) Peningkatan jadwal pengangkutan regular dari dan menuju pulau menjadi dua kali pemberangkatan yaitu pagi hari dan siang hari untuk pemberangkatan menuju pulau, serta siang dan sore hari untuk pemberangkatan kembali ke kota mamuju. b. Aksesibilitas dan sirkulasi dalam kawasan pengembangan Pengembangan melakukan aksesibilitas dalam jalan Pulau karampuang maksud dengan untuk pengembangan lokal dengan

mempermudah akses menuju lokasi atraksi wisata yang ada dalam kawasan pengembangan dengan kriteria: 1) Bentang alam yang berbukit-bukit juga tidak memungkinkan untuk pengadaan moda angkutan darat, sehingga hanya disediakan jalur pedestrian dalam kawasan pengembangan 2) Jalur pedestrian yang dibangun dengan lebar maksimal 3 meter.

134

Terdapat dua pintu masuk ke dalam kawasan pengembangan yang direncanakan yaitu pada kawasan permukiman tradisional dan kawasan rekreasi sebagai kawasan yang menjadi inti kawasan pengembangan ekowisata dan merupakan kawasan wisata publik. Dari dua kawasan inti inilah wisatawan dapat menuju sub-kawasan ekowisata melalui jalur pedestrian ataupun waterway yang disediakan. Adapun alur sirkulasi wisatawan pada dua akses masuk yang direncanakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini: a. Alur sirkulasi wisatawan dari permukiman tradisional (traditional village)

Gambar 6.9

Alur sirkulasi dari permukiman tradisional


Sumber: Hasil Analisis, 2013

135

b.

Alur sirkulasi wisatawan dari kawasan rekreasi (recreational area)

Gambar 6.10

Alur sirkulasi dari kawasan rekreasi


Sumber: Hasil Analisis, 2013

5.

Arahan Jenis dan Macam Fasilitas Penetapan jenis fasilitas didasarkan pada targetan pengembangan

ekowisata Pulau Karampuang sebagai objek wisata dengan skala pelayanan nusantara/nasional dengan arahan prasarana dan sarana sebagai berikut:: a. Prasarana Kepariwisataan Prasarana wisata adalah sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang mutlak dibutuhkan wisatawan dalam perjalanannya di daerah tuuan wisata. Prasarana wisata yang dialokasikan antara lain:

136

1)

Prasarana Perekonomian, meliputi: o Pengangkutan (transportation) o Komunikasi (communication infrastruktur) o Sistem Perbankan

2)

Prasarana Sosial, meliputi o Sistem pendidikan o Pelayanan kesehatan o Keamanan

3)

Prasarana Inti Wisata, meliputi: o Receptive Tourist Plan, badan usaha yang kegiatannya khusus untuk mempersiapkan kedatangan wisatawan. o Recidental Tourist Plan, fasilitas yang dapat menampung kedatangan para wisatawan untuk menginap dan tinggal untuk sementara waktu. o Recreative and Sportive Plan, semua fasilitas yang dapat digunakan untuk tujuan rekreasi dan olahraga.

b.

Sarana Kepariwisataan Sarana wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan. Sarana wisata yang dialokasikan antara lain: 1) Sarana Pokok Wisata, meliputi akomodasi, tour operator, rumah makan, dan kios cinderamata. 2) Sarana Pelengkap Wisata, meliputi sarana olahraga, taman bermain, dan gazebo.

137

C. 1.

Pengembangan Sub-Kawasan Kawasan Rekreasi (Recreational Area) Merupakan kawasan wisata eksisting dan dikembangkan menjadi zona

rekreasi, wisata bahari seperti berenang di laut, voli pantai ataupun berjemur dan kegiatan yang bersifat aktif lainnya serta merupakan zona inti kawasan pengembangan kawasan. Jenis fasilitas yang akan dialokasikan pada kawasan ini antara lain: 1) Gedung pusat informasi 2) Lapangan olahraga 3) Ruang terbuka hijau (taman) 4) Cafetarian dan rest area dengan bahan yang ramah lingkungan 5) Bangunan akomodasi/cottage/bungalow 6) Dermaga 7) Jalur pedestrian 8) Gazebo 2. Kawasan Wisata Selam (Diving Area) Merupakan kawasan yang diperuntukkan untuk wisata selam dengan fasilitas penunjang yang mendukung kegiatan wisata selam., keanekaragaman terumbu karang yang didominasi oleh jenis arcopora, spongs, dan soft coral merupakan daya tarik tersendiri pada kawasan ini. Adapun jenis fasilitas yang akan dialokasikan pada kawasan ini antara lain: 1) Gedung pelayanan wisata selam 2) Bangunan akomodasi/cottage/bungalow 3) Dermaga 4) Jalur pedestrian 5) Gazebo

138

Gambar 6.11 Rencana Fasilitas Kawasan Rekreasi


Sumber: Hasil Analisis, 2013

139

Gambar 6.12 Rencana Fasilitas Kawasan Wisata Selam


Sumber: Hasil Analisis, 2013

140

3.

Kawasan Permukiman Tradisional (Traditional Village) Merupakan kawasan permukiman sebagai pusat kegiatan wisata

budaya Pulau Karampuang. Konsep atraksi dalam kawasan ini adalah seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif. Dengan pendekatan one day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk. Jenis fasilitas yang akan dialokasikan pada kawasan ini antara lain: 1) Gedung pusat informasi 2) Teater terbuka 3) Lapangan olahraga 4) Ruang terbuka hijau (taman) 5) Cafetarian dan rest area dengan bahan yang ramah lingkungan 6) Bangunan akomodasi/cottage/bungalow 7) Dermaga 8) Perkantoran pelayanan public 4. Kawasan Konservasi Mangrove (Conservational Area) Merupakan kawasan yang menonjolkan fungsi pendidikan dan

pelestarian mangrove. Pengembangannya diarahkan untuk mewujudkan areal yang menjadi kawasan konservasi yang memiliki nilai ekologis pada kawasan pengembangan. Adapun jenis fasilitas yang akan dialokasikan pada kawasan ini antara lain: 1) Dermaga 2) Jalur pedestrian 3) Gazebo

141

Gambar 6.13 Rencana Fasilitas Kawasan permukiman Tradisional


Sumber: Hasil Analisis, 2013

142

Gambar 6.14 Kawasan Konservasi Mangrove


Sumber: Hasil Analisis, 2013

143

5.

Kawasan Hutan (Forest Area) Kawasan hutan dibagi ke dalam dua kawasan yaitu:
a. Kawasan Hutan Lindung

kawasan hutan tanpa ada aktivitas wisata yang bersifat aktif di dalamnya sebagai upaya konservasi dan antisipasi terhadap run off atau limpasan permukaan akibat intensitas curah hujan yang cukup tinggi di kawasan pengembangan.
b. Kawasan Hutan Wisata Alam

kawasan hutan yang dikembangkan sebagai taman wisata yang ramah lingkungan dan merupakan ruang terbuka hijau skala kota, yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi (eco-tourism). Fasilitas yang dialokasikan antara lain: 1) Taman/Eco-tourism 2) Taman bermain anak, lapangan olahraga 3) Bangunan pengelola taman 4) Jalan setapak (pedestrian) 5) Gazebo 6. Kawasan Perdagangan (Trade Area) Menjadi tujuan akhir wisatawan dalam kegiatan ekowisata. Pada kawasan ini wisatawan dapat berbelanja aneka souvenir khas kawasan pengembangan yang merupakan hasil kerajinan dari masyarakat lokal. Beberapa fasilitas yang dialokasikan antara lain: A. Kios cinderamata/souvenir B. Jalan setapak (pedestrian) C. Restoran

144

Gambar 6.15 Kawasan Hutan (Hutan Lindung & Hutan Wisata Alam
Sumber: Hasil Analisis, 2013

145

Gambar 6.16 Rencana Fasilitas Kawasan Perdagangan


Sumber: Hasil Analisis, 2013

146

Gambar 6.17 Rencana Persebaran Fasilitas


Sumber: Hasil Analisis, 2013

147

D.

Konsep Perencanaan 20 Tahun dalam Pengembangan Kawasan Ekowisata

Gambar 6.18 Skema perencanaan 20 tahun dalam pengembangan kawasan


Sumber: Hasil Analisis, 2013

148

Pengembangan kawasan ekowisata Pulau Karampuang dilaksanakan dengan konsep perencanaan 20 (dua puluh) tahun. Pengembangan kawasan dibagi ke dalam empat tahapan pengembangan antara lain: 1. Pengembangan fasilitas yang telah berkembang Merupakan tahapan yang paling awal dilakukan dengan kurun waktu pelaksanaan kegiatan 3 (tiga) tahun. Pengembangan dilakukan pada kawasan rekreasi dan permukiman tradisional yang merupakan kawasan yang telah berkembang. 2. Pengembangan infrastruktur penghubung Merupakan tahapan kedua yang dilakukan dengan kurun waktu pelaksanaan 3 (tiga) tahun. Kegiatan yang dilakukan adalah pengembangan akses menuju sub kawasan ekowisata pengembangan yang menjadi linkage antar kawasan pengembangan. 3. Pengembangan sub-kawasan ekowisata Merupakan tahapan ketiga yang dilakukan dengan kurun waktu pelaksanaan 4 (tahun) tahun. Kegiatan yang dilakukan adalah pengembangan 4. sub-kawasan ekowisata meliputi penyediaan infrastruktur dasar dan penunjang ekowisata. Pengembangan kualitas fisik spasial Merupakan tahan keempat dan terakhir yang dilakukan dengan kurun waktu pelaksanaan 10 (sepuluh) tahun. Kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan dan pengembangan kualitas fisik spasial kawasan secara menyeluruh meliputi pengembangan sarana dan prasarana ekowisata.

149

BAB VII PENUTUP


A. Kesimpulan Dari keseluruhan studi yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Karakteristik wilayah Pulau Karampuang a) Karakteristik fisik 1) Geologi. Pada kawasan pengembangan ekowisata Pulau Karampuang tersusun atas tanah dengan kandungan renzina, hidromorf kelabu, dan aluvial. Batuan penyusun pulau karampuang adalah batuan gamping koral (Q1) 2) Kegiatan penggunaan lahan. Sebagian besar peruntukan lahan pada Pulau Karampuang adalah kawasan tangkapan air berupa lahan kosong/tegalan. 3) Bentang alam. Merupakan pulau dengan bentang alam berbukit-bukit dengan ketinggian 120 mdpl, dengan tubir hingga 200 meter. 4) Kondisi Oceanografi. Perairan pulau karampuang memiliki kisaran pasang surut sebesar 188 cm dengan mean sea level sebesar 120 cm, dengan kecerahan sebesar 73-85%, arus sebesar 0,05-0,07 m/s, dengan kedalaman 10-15 meter. Kondisi ini memungkinkan untuk dilakukan pengembangan wisata bahari. b). Karakteristik Non-Fisik Kondisi Sosial Budaya mayarakat Pulau Karampuang masih kuat dengan budaya masyarakat pesisir yang masih memegang asas kekeluargaan dan budaya lokal. Mata pencaharian penduduk mayoritas nelayan dan buruh di Kota Mamuju.

150

2. Konsep pengembangan yang akan diterapkan pada kawasan ekowisata Pulau Karampuang adalah Konsep Ekowisata Alam Berbasis Ekologi dengan beberapa konsep antara lain: a). Konsep Tata Ruang (zonasi) Konsep tata ruang pengembangan kawasan ekowisata Pulau Karampuang diarahkan pada penetapan luasan kawasan konservasi minimal 70 % dari luas seluruh kawasan Pulau Karampuang. b). Konsep Atraksi Wisata Adapun paket atraksi wisata Pulau Karampuang adalah: 1) Tour budaya (Tradisional Village), dengan mengedepankan asas Community Based Development. 2) Tour petualangan dan hobbi berupa jelajah hutan, berenang dan menyelam pada kawasan yang memiliki kesesuaian wisata bahari. 3) Tour konservasi dan pelestarian berupa pendidikan dan pelestarian mangrove, dan konservasi terumbu karang berupa transplantasi. c). Konsep Bentang Alam meliputi: 1) Rencana sempadan pantai, dengan membatasi pembangunan di sekitar sempadan pantai dengan ketentuan untuk sempadan pantai di kawasan pemukiman berjarak 30 meter dari titik pasang tertinggi air laut, sedangkan untuk sempadan pantai di kawasan wisata berjarak minimal 4 meter dari titik pasang tertinggi air laut. 2) Rencana abrasi, dilakukan dilakukan penanganan dengan konsep Fitoremediasi yang menitikberatkan pada penggunaan tanaman dalam perbaikan lingkungan, yaitu penanaman mangrove di sepnjang pinggirang pulau. 3) Rencana tata hijau, dilakukan untuk mempertegas nilai ekologis dan estetika kawasan pengembangan sesuai

151

dengan fungsi vegetasi antara lain fungsi peneduh, fungsi pengarah, fungsi pembatas dan fungsi estetika. d). Konsep Aksesibilitas dan Sirkulasi Dilakukan dengan menyediakan akses antar sub kawasan berupa pedestrian dan transportasi air (waterway). Penyediaan pedestrian dan transportasi air ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan sirkulasi dalam kawasan pengembangan. e). Konsep Macam dan Jenis Fasilitas Jenis fasilitas yang ada ditentukan berdasarkan kebutuhan dari setiap atraksi wisata antara lain: 1) Kawasan rekreasi (Recreational Area). jenis fasilitas yang akan dialokasikan pada kawasan ini antara lain: gedung pusat informasi, lapangan olahraga, ruang terbuka hijau (taman), cafetarian dan rest area dengan bahan yang ramah lingkungan, bangunan akomodasi/cottage/bungalow,

dermaga, dan jalur pedestrian 2) Kawasan Wisata Selam (Diving Area), jenis fasilitas yang akan dialokasikan pada kawasan ini antara lain: (pedestrian) dan gazebo. 3) Kawasan Konservasi Mangrove (Conservational Area), fasilitas yang dialokasikan antara lain: jalan setapak (pedestrian), dermaga dan gazebo. 4) Kawasan Permukiman Tradisional (Traditional Area) dengan fasilitas berupa gedung pusat informasi, teater terbuka, lapangan olahraga, ruang terbuka hijau (taman), cafetarian dan rest area dengan bahan yang ramah lingkungan, bangunan akomodasi, dermaga, dan perkantoran pelayanan publik. 5) Kawasan Hutan (Forest Area), beberapa fasilitas yang dialokasikan antara lain: taman bermain anak, lapangan gedung pelayanan wisata selam, akomodasi, dermaga, jalan setapak

152

olahraga,

bangunan

pengelola

taman,

jalan

setapak

(pedestrian), dan gazebo. 6) Kawasan Perdagangan (Trade Area), beberapa fasilitas yang dialokasikan antara lain: kios cinderamata/souvenir, jalan setapak (pedestrian) dan restoran. B. Saran Dari konsep pengembangan ekowisata Pulau Karampuang yang telah dikemukakan maka beberapa saran yang dapat direkomendasikan untuk implementasi ekowisata Pulau Karampuang adalah : 1. Untuk Studi Lanjutan a) Untuk mendukung pengembangan masih diperlukan studi mengenai manajemen kelembagaan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam kegiatan wisata. b) Dapat juga dilakukan penelitian yang lebih mendalam pada aspek budaya dan adat istiadat masyarakat setempat sebagai upaya transformasi budaya mandar kedalam atraksi wisata sehingga diharapkan masyarakat dapat berperan serta dalam upaya pengebambangan kawasan ekowisata Pulau Karampuang. 2. Untuk Pemerintah Diharapkan adanya keseriusan dari pemerintah dalam implementasi regulasi atau peraturan-peraturan yang terkait dengan pengembangan Pulau Karampuang sebagai kawasan wisata, yang kemudian konsep tersebut dapat diterapkan sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah pada sektor wisata dan berimplikasi terhadap peningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan pengembangan.

153

DAFTAR PUSTAKA
Bappeda Kabupaten Mamuju. 2010. Data Pokok Kabupaten Mamuju Tahun 2010. Mamuju Badan Pusat Statistik Kabupaten Mamuju. 2011. Kabupaten Mamuju Dalam Angka 2011. Mamuju Badan Pusat Statistik Kabupaten Mamuju. 2011. Kecamatan Mamuju Dalam Angka 2011. Mamuju United Nations Environment Programme. 2002. Ecotourism: Principles, Practices & Polices For Sustainability. Paris United Nations of Educational Scientific, and Cultural Organization & Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Nias Selatan. 2009. Ekowisata, Panduan Dasar Pelaksanaan. Nias Fandelli, Chafid. 2010. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata. Yogyakarta Yoeti, Oka A. 1985. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung Sastrayuda S, Gumelar. 2010. Konsep Pengembangan Wisata Bahari. Surakarta Sastrayuda S, Gumelar. 2010. Konsep Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pariwisata (Community Based Tourism). Surabaya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia. 2009. Prinsip dan Kriteria Ekowisata Berbasis Masyarakat. Jakarta Rukendi, Cecep., Baskoro. 2006. Membangun Kota Pariwisata Berbasis Komunitas. Jakarta Mulyadi, Edi., Hendriyanto, Okik., Fitriani, Nur. 2009. Konservasi Hutan Mangrove Sebagai Ekowisata. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Universitas Veteran Jawa Timur. Surabaya Rangkuti, Freddie. 2011. SWOT Balanced Scorecard. Jakarta

Antasari, Kemal. 2011. Kesesuaian Wisata Selam Pulau Karampuang Kabupaten Mamuju. Skripsi Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Makassar Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. 2004. Pedoman Umum Pengembangan Pariwisata di Pulau-Pulau Kecil Peraturan Menteri Dalam Negeri. 2009. Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. 2004. Pedoman Penyusunan Pemanfaatan Ruang Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 2010. Ketentuan Mengenai Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kab/Kota. Pustekkom Depdiknas. 2009. Pengikisan Pantai Akibat Abrasi. Jakarta http://dee-loveearth.blogspot.com/2011/03/pendekatan-ekologi-ecologicalapproach.html. Diakses tanggal 10 Desember 2012 http://www.ecotourism.org. Diakses tanggal 20 Oktober 2012 http://www.ekowisata.info. Diakses tanggal 20 Oktober 2012 http://www.publikkrakatu.com. Diakses tanggal 27 November 2012 http://www.suropeji.com. Diakses tanggal 27 November 2012 http://www.anneahira.com. Diakses tanggal 13 Februari 2013 http://redaksi@aktual.co. Diakses tanggal 13 Februari 2013 http://www.ar.itb.ac.id/wdp/archives/category/studi-pembangunan/. tanggal 20 Oktober 2012 Diakses