BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan yang meliputi peningkatan derajat kesehatan (promotif dan preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan (Depkes RI, 1992). Menurut Hendrik L. Bloom, derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu: faktor lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Keempat faktor tersebut saling berkaitan dengan faktor lain, yaitu sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistem budaya, dan populasi sebagai satu kesatuan. Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik, lingkungan biologik, dan lingkungan sosio kultural. Salah satu cara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yaitu dengan pengadaan klinik sanitasi di puskesmas. Klinik sanitasi merupakan suatu upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan promotif, preventif, dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang berisiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas bersama masyarakat secara aktif dan pasif di dalam dan di luar ruangan. Di puskesmas Pauh masih tingi angka penyakit yang berbasis lingkungan seperti diare, DBD, dan TB yang merupakan 10 penyakit terbanyak. Dari data dilaporkan pada puskesmas Pauh pada tahun 2010 terdapat kasus diare 583 kasus dan pada tahun 2011 menjadi 675 kasus, TB pada tahun 2010 ditemukan 20 kasus dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 30 kasus. DBD pada tahun 2010 ditemukan 37 kasus dan pada 2011 meningkat menjadi 44 kasus. Pelaksanaan klinik sanitasi di kota Padang telah diterapkan di Puskesmas Kota Padang, termasuk Puskesmas Pauh. Dari data Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2010 kunjungan klinik sanitasi pada puskesmas Pauh berjumlah 76 pasien sedangkan jumlah kasus untuk diare, TB dan DBD pada tahun 2010 bejumlah 640 kasus. Dan untuk sepanjang tahun 2011 terdapat 78 kunjungan ke Klinik Sanitasi, yaitu 74 pasien dan 4 klien, sedangkan jumlah kasus yang ada untuk diare, TB dan DBD pada tahun 2011 adalah 749 kasus. Ini menandakan bahwa untuk kunjungan ke klinik sanitasi

1

memang masih rendah dibandingkan dengan jumlah kasus penyakit berbasis lingkungan yang ada, dengan kata lain pencapaian rujukan ke Klinik Sanitasi hanya 6,18 % dibandingkan target Puskesmas Pauh yaitu 60%. Pada siklus Ilmu Kesehatan Masyarakat periode 19 Maret – 14 April 2012, dokter muda IKM telah melakukan Planing of Action dengan judul “Upaya Optimalisasi Klinik Sanitasi di Puiskesmas Pauh”. Dengan analisis penyebab masalah adalah: 1. Pengetahuan masyarakat tentang klinik sanitasi yang meliputi manfaat, alur dan penyakit-panyakit yang dikonsultasikan ke klinik sanitasi masih rendah. 2. Partisipasi masyarakat untuk memanfaatkan klinik sanitasi sebagai tempat konsultasi kesehatan masih rendah 3. Petugas klinik sanitasi hanya piket 2 kali dalam seminggu 4. Petugas klinik sanitasi belum piket sesuai jadwal yang telah ditetapkan 5. Petugas Balai Pengobatan dan KIA belum merujuk semua pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke Klinik Sanitasi 6. Poster tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan belum ada 7. Tata letak bagan alur masuk pasien ke klinik sanitasi tidak tepat 8. Kerjasama lintas program antara bagian BP,KIA dalam merujuk pasien ke klinik sanitasi masih kurang 9. Sosialisasi tentang klinik sanitasi ke masyarakat masih kurang 10. Pengontrolan dan penerapan sistem reward and punishment oleh pimpinan Puskesmas belum ada 11. Anggaran dana untuk pembuatan poster, leaflet dan penataan ulang klinik sanitasi belum ada. Namun dalam pelaksanaannya belum ada masalah yang terpecahkan, dan didukung juga dengan data junlah penyakit berbasis lingkungan yang dibandingkan antara bulan Maret-April dan Juni-Juli. Kasus yang ada (maretapril) 60 4 7 76 Kunjungan keklinik sanitasi 3 3 Kasus yang ada (juni-juli) 78 3 5 93 Kunjungan keklinik sanitasi 3 3

No 1 2 3

Indikator Diare DBD TB Paru (penemuan BTA (+)) Jumlah

Pasien

2

Dari data di atas, dengan membandingkan jumlah penyakit dan kunjungan ke klinik sanitasi pada bulan Maret-April dan Juni-Juli, masih rendah kunjungan pasien maupun klien ke klinik sanitasi di puskesmas Pauh. Hal ini tidak memenuhi Kriteria Keberhasilan Program Klinik Sanitasi menurut Departemen Kesehatan RI, bahwa indikator keberhasilannya yaitu meningkatnya kunjungan klien dan menurunnya kunjungan pasien yang juga berarti menurunnya angka penderita penyakit berbasis lingkungan. Oleh sebab itu, kami akan mengevaluasi dan mencari alternative pemecahan masalah kenapa masih rendah kunjungan masyarakat yang berada di wilayah kerja puskesmas Pauh ke klinik sanitasi.

1.2 Perumusan Masalah a. Apa faktor yang menyebabkan masih rendahnya angka kunjungan ke klinik sanitasi di Puskesmas Pauh, b. Bagaimana langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi klinik sanitasi di Puskesmas Pauh, c. Bagaimana rencana pelaksanaan program untuk mengoptimalkan fungsi klinik sanitasi di Puskesmas Pauh. 1.3 Tujuan Penulisan a. Mengidentifikasi masalah yang ada di Puskesmas Pauh, b. Menetapkan prioritas masalah yang ada di Puskesmas Pauh, c. Menganalisis penyebab rendahnya kunjungan pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi di Puskesmas Pauh, d. Menentukan alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan fungsi klinik sanitasi di Puskesmas Pauh, e. Adanya program untuk mengoptimalkan fungsi klinik sanitasi di Puskesmas Pauh, f. Meningkatkan kunjungan pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi di Puskesmas Pauh.

1.4 Manfaat Penulisan Dengan penulisan makalah ini diharapkan penulis mampu mengidentifikasi masalah kesehatan dan menentukan prioritas masalah serta dapat mencari solusi yang tepat, sehingga nantinya dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Pauh dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan klinik sanitasi melalui kerja sama lintas program dan perbaikan media informasi klinik sanitasi

3

Kelurahan Kapalo Koto . PADANG TIMUR PISANG KEC.Kelurahan Piai Tangah . LUBUK KILANGAN Gambar 2. KURANJI LIMAU MANIS KAPALO KOTO CUPAK TANGAH BINUANG KP. DALAM LIMAU MANIS SELATAN KEC.2m Km2 dan dengan batas wilayah sebagai berikut : a.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Pauh 4 .1 Kondisi Geografis Puskesmas Pauh berada di Kecamatan Pauh dengan luas wilayah 146. Sebelah Timur Sebelah Barat Sebelah Utara Sebelah Selatan : Kabupaten Solok : Wilayah kerja Puskesmas Andalas (Padang Timur) : Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Koto Tangah : Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan Wilayah kerja Puskesmas Pauh meliputi 9 kelurahan. KOTO TANGAH U LAMBUNG BUKIT KAB. yaitu : Kelurahan Cupak Tangah Kelurahan Pisang Kelurahan Limau manis Kelurahan Koto Luar Kelurahan Binuang KP Dalam .Kelurahan Lambung Bukit .Kelurahan Limau Manis Selatan KEC. b. c. SOLOK KEC. LUBUK BEGALUNG PIAI TANGAH KOTO LUAR KEC.BAB II ANALISIS SITUASI 2. d.

sedangkan kelurahan Limau Manis adalah yang paling jarang penduduknya.99 Km2 4. terdiri dari laki.86 Km2 38.1 Luas Wilayah dan Kepadatan Kependudukan di Kecamatan Pauh Tahun 2011 Kelurahan Cupak Tangah Piai Tangah Pisang Kapalo Koto Limau Manis Lambung Bukit Koto Luar LM.377 jiwa /Km2.laki 30.97 Km2 146. dengan tingkat kepadatan penduduk terbesar pada Kelurahan Cupak Tangah yaitu 2.83 Km2 24.Gambar 2.29 Km2 Jumlah KK 1341 886 1804 1105 839 814 1618 1916 1005 11.97 Km2 3.96 Km2 2.99 Km2 35.92 Km2 12.328 Jumlah penduduk 9027 5035 7738 6693 5560 3560 7923 9458 6448 61.2 Kondisi Demografis Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pauh adalah 61.442 Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 5 . Tabel 2.442 jiwa.80 Km2 18.967 jiwa dan perempuan 30.Selatan Binuang KP Dalam Total Luas Wilayah 2.475 jiwa.2 Foto Udara Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kecamatan Pauh 2.

Selatan Binuang KP Dalam Total Laki-Laki 4581 2614 3430 3895 2168 1756 3341 6634 2548 30967 Perempuan 4446 2421 4308 3328 2354 1619 3433 6431 2135 30475 Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 Di bawah ini disajikan gambaran kependudukan yang menjadi sasaran dan cakupan kesehatan Puskesmas Pauh berdasarkan perhitungan statistik dan konversi sebagai berikut: Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Kelurahan Cupak Tangah Piai Tangah Pisang Kapalo Koto Limau Manis Lambung Bukit Koto Luar LM.3 Jumlah Perkiraan Penduduk Sasaran Kesehatan di Kecamatan Pauh Tahun 2011 JUMLAH No. Kelurahan Total 01 02 03 04 05 06 07 08 09 Cupak Tangah Binuang KP Dalam PiaiTangah Pisang Kapalo Koto Koto Lua LB Bukit LimauManis Selatan LimauManis Total 9027 5035 7738 6693 5560 3560 7923 9458 6448 61442 Bayi 182 133 118 158 138 163 79 192 115 1278 Balita 790 556 429 673 579 695 294 831 477 5324 Bumil 197 147 133 173 153 177 91 208 128 1407 Bulin 189 140 125 165 145 169 85 200 121 1339 Buteki 200 112 125 179 122 144 80 210 106 1278 Lansia 882 630 492 756 654 774 348 924 543 6003 Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 6 .Tabel 2.

Majelis Taklim. Salah satu lembaga atau institusi kesehatan yang dirasakan masih eksis ditengah masyarakat sampai saat ini adalah Posyandu. dan lain-lain. Tabel 2.4 Konsidi Sarana dan Prasarana Puskesmas Pauh Tahun 2011 NO I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 II 1 2 3 4 5 JENIS SARANA DAN PRASARANA SARANA KESEHATAN PuskesmasInduk RawatInap PuskesmasPembantu RumahDinasDokter RumahDinasPerawat RumahDinasBidan PuskesmasKeliling rod Ambulance Sepeda Motor SARANA PENUNJANG Komputer MesinTik Telepon Listrik Sarana Air Bersih 2 2 1 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 5 1 2 1 7 5 1 1 1 2 JUMLAH BAIK 1 1 3 1 1 1 KONDISI RUSAK RINGAN RUSAK SEDANG RUSAK BERAT Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 7 . Secara rinci kondisi sarana dan prasarana kami sampaikan pada tabel berikut. dan Limau Manis Selatan. selain itu juga terdapat Poskeskel pada Kelurahan Limau Manis Selatan dan Kelurahan Koto Lua. Limau Manis. Untuk membantu terselenggaranya pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pauh dibantu oleh jejaring kerja seperti 5 unit Puskesmas Pembantu yang terletak di Kelurahan Batu Busuk.3 Sarana dan Prasarana Perluasan jangkauan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh puskesmas selain ditunjang oleh Puskesmas Pembantu serta Puskesmas Keliling dan Poskeskel. Pisang. juga dibantu oleh peran institusi yang ada pada berbagai tatanan seperti Posyandu Balita dan Lansia. Jumlah Posyandu di Kecamatan Pauh pada tahun 2011 adalah 70 Posyandu balita dan 13 Posyandu Lansia.2. sekolah . Piai Tangah.

000 penduduk. 42 orang tenaga medis yang terdiri dari 3 orang dokter dan 2 orang dokter gigi. sumber daya kesehatan pada Puskesmas Pauh relatif cukup. Sejak Maret 2011. Jumlah seluruh sumber daya kesehatan pada Puskesmas Pauh sampai dengan 31 Desember 2011 adalah 61 orang. yakni 1 orang tugas belajar di Akademi Kebidanan. Dari segi rasio tenaga dengan penduduk. Dibawah ini disajikan data dan informasi ketenagaan yang bekerja pada Puskesmas Pauh selama tahun 2011 sebagai berikut: 8 . Tenaga medis dokter ada tiga orang atau rasio 1 : 20. Jumlah perawat yang ada tahun 2011 di Puskesmas Pauh adalah 13 orang dan bidan sebanyak 21 orang dengan rasio terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 1800 orang. Puskesmas Pauh kembali memiliki tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat yang diharapkan mampu melakukan analisis masalah kesehatan dan membantu Pimpinan menyusun perencanaan Puskesmas.4 Ketenagaan Sumber daya tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Pauh secara kuantitatif sudah cukup memadai dengan rasio tenaga berdasarkan kategori tenaga ratarata 1 : 1000 penduduk. Perubahan kebutuhan masyarakat dan tuntutan peningkatan SDM Kesehatan yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang bermutu disikapi dengan memberi kesempatan kepada staff Puskesmas Pauh untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan formal. Satu orang staff sedang mengikuti pendidikan. Sedangkan dokter gigi 2 orang atau 1 : 30.000 penduduk.2. namun dari segi kualitatif memang diperlukan upaya peningkatan pendidikan dan pelatihan.

sisanya Katolik. mayoritas kepercayaan penduduk adalah Islam dengan komposisi 99 % Islam. dengan akar budaya yang kuat dan kental. Kondisi Ketenagaan pada Puskesmas Pauh Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Ketenagaan Dokter Umum Dokter Gigi Sarjana Kesehatan Masyarakat Rekam Medis Pengatur Gizi / AKZI Perawat Bidan Perawat Gigi Sanitarian Asisten Apoteker Analis SMU/PEKARYA Jumlah PNS 3 2 2 1 2 12 13 1 2 3 1 4 46 8 1 7 8 2 5 1 Titipan PTT HONOR KET Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 2.5 Sosial. Protestan. Dari segi kepercayaan. Budaya Tersedianya berbagai jenis pendidikan mulai dari tingkat pendidikan kanakkanak dasar sampai dengan perguruan tinggi pada wilayah kerja Puskesmas Pauh menyebabkan semakin banyak penduduk yang mengenyam pendidikan dan diharapkan semakin kritis dengan berbagai dampak pembangunan. Pendekatan kultural sangat dibutuhkan dalam rangka menjalin kerjasama peran serta masyarakat.Tabel 2. 9 . dan lain-lain.5. Budha. Sistem kekerabatan yang masih dijalankan oleh penduduk setempat masih dipakai sebagian besar penduduk dan merupakan kekuatan yang dapat digarap. Budaya dan Ekonomi Sosial Penduduk wilayah kerja Puskesmas Pauh dengan strata dan rasial yang relatif homogen. dengan sendirinya menjadi potensi dan kekuatan dalam pembangunan termasuk kesehatan.

dan ABRI ± 5%. sisanya bekerja di sektor informal lainnya. maka Puskesmas Pauh telah mencoba menyusun struktur organisasi Puskesmas dengan penajaman pada konsep Daerah Binaan dan sistem pembagian tugas yang dibagi habis.6 Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Padang No.4% dari total penduduk wilayah kerja Puskesmas Pauh. Swasta 24 %. Dikaitkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 128 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. PNS 17%. 2. Puskesmas menjalankan tugasnya berdasarkan Visi dan Misi serta strategi berdasarkan kebutuhan Public Good dan Private Good. Namun kelompok dengan pendapatan rendah dan tidak menentu secara signifikan rawan dengan kesehatan yaitu keluarga miskin ternyata menduduki proporsi yang cukup besar yaitu 22. 10 .Ekonomi Pendapatan penduduk wilayah kerja Puskesmas Pauh bervariasi mulai dari petani ± 46%. 19 tahun 2001 tentang Struktur Organisasi dan Tata Laksana Puskesmas adalah melaksanakan kewenangan urusan rumah tangga dalam bidang kesehatan dan tugas lainnya yang diserahkan oleh Kepala Dinas. termasuk koordinasi terhadap semua kegiatan kesehatan oleh dinas – dinas lainnya yang terkait dibidang kesehatan tingkat kecamatan. dengan kemampuan terbatas sampai ke kelompok mampu dan mapan.

SKM PERENCANAAN Wenny Nengsih.N / Rukmini.Kep Umum Hj.CAMAT KEPALA PUSKESMAS Dr.Hj. N Promosi Kesehatan : Yetti Varida Kesling : Asmara Juwita Fadly agma Gizi : Lely Guslina Faldanelly P2P Imunisasi : Nurbaini TB Paru : Yuliza Reny Kusta : Yuliza Reny Malaria : Yuliza Reny DBD : Asmara Juwita Rabies : Rafniati Ispa : Sri Wahyuni ILI : Sri Wahyuni Diare : Winda Campak :Yuliza Reny Survailance : Winda Program Pengembangan UKS : Yesri Yulianti UKGS : Drg. FEBRINA KORD: RITA S IGD: NURSIDA PUSTU PISANG Laila Husni Wenny Yesra PUSTU JAWA GADUT Roslina Rosa PUSTU PIAI TANGAH Eka M Indah PS PUSTU BATU BUSUK Desi Delvita PUSTU ULU GADUT Emilia Rosa Bagan 2. SKM 1. Erdayanti Yuliza Reny Prima Uswarti Yusmaini Yetti Varida Rafniati Gigi Drg. Febrina PENGOBATAN KOOR YANKESMAS Drg.KG Lansia : Rafniati.1 Struktur Organisasi Puskesmas Pauh 11 . Ratna Sari BPP TATA USAHA Rheynce Primaria Wenny Ningsih. Yetti. 2. KEUANGAN Rika Mulyani Winda Permatasari PERLENGKAPAN Ismed KOOR YANMEDIK Dr. Amd. Yetti. Amd. Yeti N Rukmini KIA/KB KIA ibu : Emilda KIA Anak: Sri Wahyuni KB : Trias Betty PROGRAM PENUNJANG RR Suardi Dewi Flora H Desmawati APOTIK Nimaningsih Irmabayu Ratno H LABOR : Sofinarti RAWAT INAP PJ: Dr.

Program Kerja Puskesmas dan Pencapaiannya Puskesmas Pauh memiliki 6 program pokok yaitu: 2.  Di luar gedung : penyuluhan kesehatan masyarakat ini dibagi dalam dua kegiatan yaitu PKM (Penyuluhan Kesehatan Masyarakat) dan PSM 12 .7 Institusi Pendidikan Institusi pendidikan yang berperan dan menunjang kesehatan mulai tingkat pendidikan kanak-kanak.2. pendidikan dasar sampai menengah atas berjumlah 39 buah yang masing-masing dikelola oleh Pemerintah dan Swasta.6 Data Fasilitas Pendidikan Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Tahun 2011 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelurahan Pisang Binuang KP Dalam Piai Tangah Cupak tangah Kapalo Koto Koto Luar Lambung Bukik LMS Limau Manis TOTAL Jumlah Sekolah 6 6 2 5 6 10 2 8 6 51 4 1 14 2 1 3 TK 2 1 SD/MI 4 4 2 1 3 3 2 2 3 24 6 1 1 1 5 1 2 1 1 2 1 1 1 1 SMP/MTS 1 SMU/K/MA PT Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 2. Di bawah ini adalah gambaran institusi pendidikan / tatanan sekolah yang mempunyai kontribusi dan bekerja sama dalam pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas Pauh sebagai berikut. Tabel 2.8. Penyuluhan ini dilakukan di dalam gedung dan di luar gedung puskesmas.1.  Di dalam gedung: penyuluhan ini dilakukan sebanyak 8 kali setiap bulannya.8. Program Promosi Kesehatan Program promosi kesehatan meliputi:  Penyuluhan kesehatan masyarakat. Perguruan tinggi yang ada sebanyak 2 buah yaitu Universitas Andalas Padang dan Universitas Negeri Padang lokal jauh yang terletak pada Kelurahan Limau Manis.

Kegiatan. namun baru 2 kelurahan yang memiliki Poskelkel. yaitu 74 pasien dan 4 klien. 82. terdapat 322 TOGA di wilayah kerja Puskesmas Pauh. 2. Kelurahan siaga dilaksanakan diseluruh kelurahan di kecamatan Pauh yang diwujudkan dalam bentuk Pos Kesehatan Kelurahan (Poskeskel). Sepanjang tahun 2011 terdapat 76 kunjungan ke Klinik Sanitasi. Kesehatan Lingkungan  a. Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Posyandu lansia ada 13 posyandu yang dilaksanakan setiap bulan.      UKK (Upaya Kesehatan Kerja) POD (Pos Obat Desa) Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) diadakan disemua kelurahan terhadap 210 rumah di setiap kelurahan.8.3 % dari semua TOGA yang ada masih merupakan strata pratama. Dalam gedung Puskesmas Pauh Klinik Sanitasi Program ini merupakan bagian dari Klinik Sehat yang juga terdiri atas Program Kesehatan Lingkungan. Luar gedung Puskesmas Pauh        Survei Perumahan dan Lingkungan (SPL) Inspeksi sanitasi Pengawasan Tempat – Tempat Umum (TTU) Pengawasan Tempat Penyediaan Makanan dan minum (TPM) Pengawasan Tempat Penyedia Pestisida (TP2) Pengawasan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Depot air minum (Damiu) 13 .(Peran Serta Masyarakat) yang diwujudkan dalam bentuk UKBM (Upaya Kesehatan Bersama Masyarakat). Promosi Kesehatan dan Gizi. Saka Bakti Husada (SBH) yang mempunyai target dilaksanakan di 5 sekolah dalam 1 kecamatan Pauh. Kegiatan UKBM ini meliputi :    Posyandu balita ada 70 posyandu yang dilaksanakan setiap bulan dengan 7 Posyandu Madya. b.2. Pelaksanaan program ini 2 kali setiap minggu yaitu hari Selasa dan Sabtu.

33% 75% syarat belum mencapai target (kesenjangan 41.08% 80% 17 94. a.92%) Jumlah yang diperiksa belum 3 TPM 105 96 91. dilakukan satu kali dalam setahun setiap bulan Februari.8. dilakukan setiap bulan di posyandu atau di puskesmas. Bulanan.7 Pencapaian Kegiatan Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Pauh tahun 2011 no Indikator Sasaran Diperiksa Jumlah Capaian rata-rata 1 SPL 11.25% 60% memenuhi target (kesenjangan 8.24% 80% Sudah memenuhi target 40 per bulan Jumlah yang memenuhi 172 33.328 516 43 per bulan rata-rata Jamban 11. Massal.3.40% 80% memenuhi target (kesenjangan 67. Program gizi tersebut adalah: 1.328 516 43 per bulan 40 per bulan Memenuhi Syarat Target Jumlah Capaian Target 40 per bulan Ket 435 84. Penimbangan Kegiatan ini berupa penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. 14 .30% 476 92.328 516 43 per bulan 2 Inspeksi Sanitasi rata-rata SAB 11.Tabel 2.57%) 4 5 TPS TP2 38 16 Data belum terkumpul Data belum terkumpul Jumlah yang diperiksa belum 6 Damiu 25 23 92.00% 100% 23 100% 100% memenuhi target (kesenjangan 8%) Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 2. b.67%) Jumlah yang diperiksa belum 2 TTU 149 18 12.43% 100% 78 81. Program Gizi Puskesmas Pauh memiliki 13 program gizi yang dijalankan oleh petugas gizi bekerja sama dengan Pembina wilayah dan lintas program lainnya.

Sampel yang digunakan adalah Rumah Tangga yang dipilih secara acak. Sasarannya adalah bayi.2. 7. 8. 5. Distribusi Tablet Fe Sasarannya adalah ibu hamil dan ibu nifas. tetapi juga didistribusikan di PAUD dan TK. dan ibu nifas. 9. RR Puskesmas Pauh melakukan pencatatan bulanan mengenai masalah gizi dan pelaporan bulanan. Evaluasidan Monitoring 15 . tidak hanya di posyandu. selanjutnya petugas gizi Puskesmas akan melakukan kunjungan lapangan. Petugas gizi bertugas untuk menentukan gizi dari makan siang yang akan didanai oleh DKK 3x seminggu. Distribusi Vit-A Distribusi kapsul vitamin A dilaksanakan 2 kali dalam setahun yaitu bulan Februari dan bulan Agustus. 11. 3. Sampel ditentukan oleh DKK berjumlah sebanyak 300KK/tahun 10. PemantauanBumil KEK 12. Petugas gizi akan melakukan pemantauan selama 2x dalam 1 tahun. 13. Kadarzi Pelaksanaan Kadarzi berupa penyebaran questioner. Pemantauan Garam Beryodium Pemantauan ini dilakukan satu kali setiap tahun. 6. Penyuluhan Di dalam gedung penyuluhan minimal 1x perbulan sedangkan di luar gedung bisa dilaksanakan di posyandu atau di sekolah. Pemantauan PMT-AS Pemantauan dilakukan setiap 6 bulan dengan melihat status gizi anak sekolah tersebut. Pemantauan Gizi Buruk Kegiatan ini dilakukan berdasarkan laporan yang diterima oleh Pembina wilayah yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Pauh. Pojok Gizi Kegiatan pojok gizi di Puskesmas Pauh dilakukan di Klinik Sehat. 4. balita. PSG Pemantauan Status Gizi 1 tahun sekali dan tahun 2012 ini akan dilaksanakan pada akhir bulan April.

yang telah tercapai    adalah 1389 (98. dan Keluarga Berencana a. cakupan kematian maternal adalah 102 dari 1000 kelahiran.Tabel 2. Menurut target MDG’s. Tahun 2011. didapatkan bahwa pencapaian kunjungan lengkap ibu nifas adalah 87.8 Indikator Gizi dalam Pencapaian MDG’s di Puskesmas Pauh Tahun 2011 Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 2.56% sehingga belum mencapai target yaitu 98%.8.   Kunjungan ibu hamil resiko tinggi Audit Kematian Maternal Jika terdapat kematian maternal maka dilakukan autopsi verbal. Anak.4. Kegiatan Program Kesehatan Ibu a) Pemantauan wilayah setempat (PWS) b) Program Ibu Hamil (Bumil)  Kelas ibu hamil Tahun 2011 sasaran ibu hamil berjumlah 1407 orang. Pemeriksaan hemoglobin Pemberian susu kepada ibu hamil kurang energi kalori Kunjungan Nifas Berdasarkan data kunjungan ibu nifas di Puskesmas Pauh. kematian maternal di Puskesmas 16 . Upaya Kesehatan Ibu.72%) dan seluruh kelurahan telah melaksanakan kelas ibu hamil. Kesehatan Ibu dan Anak 1.

2.Pauh mencapai 2 orang dengan diagnosa Eklampsia dan Preeklamsia. Influenza Like Ilness (ILI). dan MOW. 2. dan anak sekolah serta pelaksanaan surveilans dan pendekatan epidemiologi kasus penyakit yang berpotensi wabah. DBD. MOP.5. Keluarga Berencana Untuk program KB yang dilakukan adalah pelayanan KB di Puskesmas. kusta.  Target dan Pencapaian Program Pemberantasan TB Menurut pencapaian MDGs 2015. diare. 17 . implant. Cakupan layanannya berupa IUD. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Rabies. kondom. Selain itu program P2P ini juga meliputi pencegahan dan pemberantasan penyakit TB paru. wanita usia subur. suntik. dan campak. pil. malaria. MOP. target penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA (+) paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya. Kegiatan Program Kesehatan Anak  Kunjungan neonatus  Kelas Ibu Balita  Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK)  Audit Kematian Perinatal  MTBS/MTBM b.8. Program Pemberantasan Penyakit Menular Program pencegahan dan pemberantasan penyakit di Puskesmas Pauh diwujudkan dengan pemberian imunisasi rutin untuk bayi.

2. dan asma bronkial.9 dapat terlihat persentase penemuan kasus baru BTA (+) sebesar 36. Untuk 10 pemakaian obat terbanyak yang digunakan di Puskesmas Pauh tahun 2011. dan GG merupakan obat yang paling sering dipakai.2. penyakit jaringan pulpa dan periapikal. Pelatihan dokter kecil minimal 2-3 sekolah dalam 1 tahun.9%. diare. reumatik. CTM.9 Pencapaian Program Pemberantasan TB di Puskesmas Pauh Tahun 2011 Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 Dari tabel 2. Berdasarkan data yang diperoleh dari laporan tahun 2011.6.Tabel 2. Angka kunjungan Puskesmas Pauh meningkat dari tahun ke tahun. gastritis. Program UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)     Pembinaan UKS minimal 4 kali setahun pada setiap sekolah.01 sehingga terjadi peningkatan dari tahun 2010 yang hanya mencapai 1. penyakit kulit infeksi. penyakit jamur kulit. Puskesmas Pauh juga memiliki program pengembangan yaitu: 1. meskipun dalam perjalanannya tidak meninggalkan aspek promotif dan preventif. masih terdapat perbedaan sebesar 68. 18 . Terdapat perbedaan sebesar 33. Visite Rate Puskesmas Pauh tahun 2011 mencapai 2. Program Pengobatan Di balai pengobatan dilakukan upaya kuratif. paracetamol. penyakit alergi.1% dari target penemuan kasus baru BTA (+). hipertensi. Puskesmas Pauh mempunyai fasilitas rawat jalan dan rawat inap yang melayani pasien dari dalam dan luar wilayah kerja Puskesmas. 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Pauh yaitu ISPA.8.6%. Pemeriksaan kesehatan sekali dalam 1 tahun.4% dari target. Penyuluhan setiap kali kunjungan ke sekolah. Sedangkan untuk presentase penyembuhan sebesar 16.

o o Di luar gedung : dilakukan di sekolah minimal 2-3 sekolah dalam 1 tahun. 2. Pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) kegiatan ini dilakukan dalam 2 bentuk. Jumlah posyandu lansia yang ada di Kecamatan Pauh ada 13 buah Adapun kegiatan yang diadakan di posyandu lansia adalah : Pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan laboratorium berkala (bekerjasama dengan petugas laboratorium). 19 . Senam lansia. Pengobatan.  Kader kesehatan remaja (KKR) minimal 2-3 sekolah dalam 1 tahun. Program Kesehatan Lansia  Posyandu lansia o o o     diadakan 1 kali dalam 1 bulan. Di dalam gedung : ruang konsultasi remaja. yaitu di dalam dan luar gedung puskesmas.

dan perilaku masyarakat untuk mewujudkan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat. dan kemampuan masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi penyakit berbasis lingkungan serta masalah kesehatan lingkungan dengan sumber daya yang ada. Meningkatkan pengetahuan. Terciptanya keterpaduan kegiatan lintas program dan lintas sektor dalam program pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan dengan memberdayakan masyarakat.1 Pengetian Klinik Sanitasi Klinik sanitasi merupakan suatu upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan promotif. 2000): 1. Penyehatan perumahan dalam rangka pencegahan penyakit ISPA / TB paru.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. b. Meningkatkan pengetahuan. Menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan dan meningkatnya kondisi kesehatan lingkungan. b. 2.1. preventif. 20 .1. 2003). d. Tujuan Khusus a. dan terus menerus.1. 3.1. kuratif yang dilakukan secara terpadu. Penyehatan lingkungan pemukiman dalam rangka pencegahan penyakit DBD/ malaria/ filariasis. kemampuan. Tujuan Umum Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya promotif. terarah. kesadaran. kesadaran.3 Ruang Lingkup Klinik Sanitasi Ruang lingkup kegiatan klinik sanitasi mencakup berbagai upaya antara lain (Depkes RI. c. Penyediaan / penyehatan air bersih dan sanitasi dalam rangka pencegahan/ penanggulangan penyakit diare / penyakit cacingan/ penyakit kulit/ penyakit kusta / penyakit frambusia. Klinik Sanitasi 3. preventif. dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang berisiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas bersama masyarakat secara aktif dan pasif di dalam dan di luar ruangan (Depkes RI. 3.2 Tujuan Klinik Sanitasi a. 3.

4 Sasaran Klinik Sanitasi 1. 3.Mempelajari kartu status / rujukan tentang diagnosis oleh petugas poliklinik. Pengamanan pestisida dalam rangka pencegahan dan penaggulangan keracunan pestisida. dan petugas gizi yang telah ditunjuk oleh pimpinan puskesmas dalam pelaksanaan program.Menyalin dan mencatat nama penderita atau keluarganya. dan alamat serta diagnosis penyakitnya ke dalam buku register.4. pekerjaan. jenis kelamin. Penderita penyakit atau pasien yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan (yang datang ke puskesmas atau yang ditemukan di lapangan) 2. Penyehatan lingkungan tempat kerja dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan / akibat kerja. petugas klinik sanitasi diharuskan melakukan langkahlangkah berikut: .1. 7. 3. 6.Menerima kartu rujukan status dari petugas poliklinik. perawat. karakteristik pasien meliputi umur. 5. Penyakit atau gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan dengan lingkungan. disamping itu dalam pelaksanaan program klinik sanitasi ini juga dibutuhkan tenaga pendukung seperti dokter. Penyehatan makanan / minuman dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit saluran pencernaan / keracunan makanan. Masyarakat umum atau klien yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan (yang datang ke puskesmas atau menemui petugas klinik sanitasi di lapangan) 3. 3. tenagatenaga tersebut di atas telah mendapat pelatihan dan orientasi tentang program klinik sanitasi. . .5 Tenaga Pelaksana Adapun tenaga yang dibutuhkan untuk melaksanakan program klinik sanitasi adalah terdiri atas tenaga inti di bidang kesehatan lingkungan seperti Sanitarian atau Diploma III Kesehatan Lingkungan.6 Standar Operasional Prosedur Klinik Sanitasi 1) Dalam Gedung Puskesmas a.1.1. 21 . Lingkungan penyebab masalah bagi penderita atau klien dan masyarakat di sekitarnya. bidan. Pasien Terhadap pasien.

dan perilaku yang diduga berkaitan dengan kejadian dengan kejadian penyakit dengan mengacu pada buku Pedoman Teknis Sanitasi untuk Puskesmas dan Panduan Konseling Bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas. b. membuat kesepakatan dengan penderita atau keluarganya tentang jadwal kunjungan lapangan. .Menanyakan permasalahan yang dihadapi klien dan mencatat nama. jenis kelamin.Membantu menyimpulkan permasalahan di lingkungan atau perilaku yang diduga berkaitan dengan permasalahan yang ada. Klien . .Membantu menyimpulkan permasalahan lingkungan atau perilaku yang berkaitan dengan kejadian penyakit yang diderita.Memberikan saran pemecahan masalah yang sederhana.Bila diperlukan dapat dibuat kesepakatan jadwal pertemuan berikutnya atau jadwal kunjungan lapangan.. murah dan mudah untuk dilaksanakan klien. . . .Menyiapkan dan membawa berbagai peralatan dan kelengkapan lapangan yang diperlukan (formulir kunjungan lapangan.Memberikan saran tindak lanjut sesuai permasalahan. dan alat sesuai jenis penyakitnya). . dan alamat serta diagnosis penyakitnya ke dalam buku register.Mempelajari hasil wawancara atau konseling di dalam gedung. .Bila diperlukan.Lakukan wawancara atau konseling dengan pasien / keluarga pasien tentang kejadian penyakit. pekerjaan.Melakukan wawancara atau konseling dengan klien sesuai permasalahan yang dihadapi dengan mengacu pada buku Pedoman Teknis Sanitasi untuk Puskesmas dan Panduan Konseling Bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas. keadaan lingkungan. 22 . . media penyuluhan. . petugas klinik sanitasi mengadakan kunjungan rumah dan diharuskan melakukan langkah-langkah berikut: . 2) Luar Gedung Puskesmas Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dengan pasien / klien. karakteristik klien meliputi umur.Menginformasikan kedatangan kepada perangkat desa / kelurahan dan petugas kesehatan di desa.

Hasil wawancara dicatat dan petugas melakukan konseling terkait penyakit pasien. 23 . sesuai dengan penyakit yang ada. perangkat desa. Petugas klinik sanitasi diharapkan mengikutsertakan perawat dari pustu atau bidan desa b..Memberikan saran tindak lanjut kepada sasaran (keluarga penderita dan keluarga disekitarnya). Pasien Di klinik sanitasi. Lalu dibuat janji untuk kunjungan rumah. dikaitkan dengan lingkungan. .Melakukan pengamatan dan pemeriksaan lingkungan dan perilaku dengan mengacu pada buku Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas. Penemuan penderita melalui pencarian penderita secara aktif Petugas Klinik Sanitasi harus mengetahui penyakit menular apa yang menjadi prioritas di daerahnya untuk kemudian mencari upaya pengendalian penyakit tersebut dengan cara perbaikan lingkungan. Kunjungan rumah Merupakan tindak lanjut kunjungan pasien / klien ke puskesmas. Hasil wawancara dicatat dan petugas melakukan konseling terkait penyakit pasien. kader kesehatan lingkungan serta lintas sektor terkait di tingkat kecamatan agar dapat ditindak lanjuti bersama. Klien Klien mendaftar di loket selanjutnya menuju ruang klinik sanitasi untuk konsultasi.Bila permasalahan yang ditemukan menyangkut sekelompok keluarga atau kampung.1. Lalu dibuat janji untuk kunjungan rumah.7 Kegiatan Klinik Sanitasi 1. petugas mewawancarai pasien tentang penyakit yang diderita. 2. Luar Gedung Puskesmas a. b. 3.Membantu menyimpulkan hasil kunjungan. . informasikan hasilnya pada petugas kesehatan di desa / kelurahan. Dalam Gedung Puskesmas a. Hasil penemuan ini harus dilaporkan pada evaluasi bulanan Puskesmas untuk diputuskan sebagai sasaran klinik sanitasi. .

dan tingkat kesulitan pemberantasan penyakit. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menetukan population at risk : . Intervensi rencana tindak lanjut Hasil pengolahan dan pemetaan data disampaikan pada rapat Micro Planning puskesmas untuk menentukan intervensi sebagai tindak lanjut temuan. program prioritas daerah / nasional.Focus Group Discussion. e. . Penentuan prioritas penyakit yang akan diintervensi mempertimbangkan kegawatan penyakit.Kartu Kesehatan Keluarga (K3). . khusus untuk daerah proyek KKG / repliksai proyek KKG. pengolahan. .Intervensi pada satu jenis penyakit di beberapa desa yang kasunya menonjol. Pemetaan dilakukan menurut sebaran penyakit dan pemetaan per desa.Indeks Potensi Keluarga Sehat (IPKS).Rapid Assesment Procedure. . Penemuan population at risk melalui pengumpulan data di lapangan.c.Rapid Survey. 24 .Intervensi dilakukan pada beberapa penyakit di satu desa. d. dan pemetaan population at risk dan faktor yang mempengaruhi penularan penyakit. . kelompok risiko tinggi. Population at risk adalah penderita atau orang-orang yang secara epidemiologis mendapat risiko tertular penyakit berbasis lingkungan. khusus untuk daerah proyek KKG / replikasi proyek KKG. analisis. Alternatif intervensi : . Pemetaan population at risk Petugas klinik sanitasi bekerja sama dengan tenaga epidemiologisurveilans puskesmas dalam pengumpulan data. dan desa dengan kasus penyakit tertinggi. Hasil analisis berupa jenis penyakit berbasis lingkungan tertinggi di wilayah kerja puskesmas.

TB Paru g. 5. 3. b. yaitu: a. Penderita menuju dan memberikan kartu rujukan / kartu status pasien untuk menuju kepetugas klinik sanitasi. Meningkatnya kunjungan klien dan menurunnya kunjungan pasien klinik sanitasi. Tidak langsung a. 2. Meningkatnya kunjungan petugas klinik sanitasi ke rumah pasien / klien. Terciptanya hubungan dan kerja sama yang baik lintas program dan lintas sektor di wilayah kerja puskesmas. Pasien menuju ke poliklinik dengan membawa kartu status. Petugas loket mengisi kartu status. Kecacingan c. dan keracunan). Petugas poliklinik (perawat. 4.8 Kriteria Keberhasilan Klinik Sanitasi Keberhasilan pelaksanaan klinik sanitasi ditunjukkan dengan beberapa indikator: 1. Menurunnya angka kejadian penyakit berbasis lingkungan (diare. b. Keracunan (makanan. Malaria e. penyakit kulit.3. Pengunjung mendaftar ke loket. bidan) memeriksa pasien sesuai prosedur yang berlaku di Puskesmas. 2. Diare b. 25 . Kulit / Gatal-gatal h. ISPA d. cacingan. 3.9 Pedoman Merujuk Pasien Penyakit Berbasis Lingkungan ke Klinik Sanitasi.1. ISPA / TB paru. penyakit akibat kerja. DBD. 1. c. DBD f. Apabila dari hasil pemeriksaan diduga menderita penyakit yang berbasis lingkungan diakibatkan oleh pengaruh lingkungan. Meningkatnya cakupan dan jumlah sarana air bersih dan sanitasi yang memenuhi syarat dari swadaya masyarakat. penyakit saluran pencernaan. malaria. dokter. minuman dan pestisida) i. Keluhan akibat lingkungan yang buruk / akibat kerja Maka pemeriksa memberikan kartu rujukan / kartu status kepada pasien untuk menuju kepetugas klinik sanitasi. Langsung a. 6.1.

10 Pencatatan. Puskesmas yang melaksanakan program ini melaporkannya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai format yang telah ada. b. Pelaporan. atau tabel yang diperbarui secara periodik. 2.3. dan Evaluasi 1. Laporan diberikan secara periodik. Kartu Status Kesehatan Lingkungan. Petugas klinik sanitasi mencatat kegiatan yang dikerjakan dalam format pencatatan kliniki sanitasi (register.1. Pelaporan a. Evaluasi dilaksanakan lintas program/lintas sektor pada akhir tahun yang hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan program kerja tahun berikutnya. Petugas klinik sanitasi membuat penyajian data dalam bentuk peta. grafik. kartu status kesehatan). Pemantauan untuk mengetahui hambatan serta peluang dilaksanakan tiap bulan saat lokakarya mini puskesmas yang akan dipakai untuk perbaikan pelaksanaan klinik sanitasi sebagai bahan untuk peningkatan kinerja petugas klinik sanitasi. b. Petugas klinik sanitasi mengolah data kegiatan di dalam dan luar Puskesmas. 3. Pencatatan a. Pemantauan dan Penilaian a. b. Kartu Rumah dan formulir lain yang diperlukan. 26 . c.

11 Skema Alur Kegiatan Klinik Sanitasi Pasien / umum WAWANCARA .Konseling .1 Alur Pelayanan Klinik Sanitasi 27 .Lingkungan Sekitar .1.3.P enyuluhan Alternatif Pemecahan Masalah Pilih Alternatif oleh Pasien Sendiri Pencatatan Hasil Petugas Bersedia Kunjungan Kerumah Bila Diperlukan Pelaporan Sesuai Kebutuhan Pasien / Umum Pulang Bagan 3.Keadaan Rumah .Tempat Tinggal .Jumah Anggota Rumah / keluarga .Masaah yang Dihadapi Pengisian Formuir -Analisis Masalah .Identitas pasien/ keluarga Loket Pendaftaran Ruangan Pengobatan KLINIK SANITASI III .

3.2 Contoh Penyakit Berbasis Lingkungan          Diare TB Paru DBD Cacingan ISPA Malaria Penyakit Infeksi Kulit Keracunan makanan/minuman/pestisida Keluhan akibat lingkungan yang buruk/akibat kerja 28 .2. abstrak) serta suasana yg terbentuk karena terjadi interaksi antara elemen-elemen di alam tersebut (Sumirat’96). 3. Penyakit Berbasis Lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi atau morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi penyakit. Lingkungan adalah segala sesuatu yg ada disekitarnya (benda hidup.2 Pengertian Penyakit Berbasis Lingkungan 3.2.1 Definisi Penyakit adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi dan /atau morfologi suatu organ dan/atau jar tubuh (Achmadi’05). mati. nyata.

Beberapa potensi masalah yang didapatkan di Puskesmas Pauh adalah : 4. masih terdapat kesenjangan sebesar 33%. 4.1.33%. angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 13. 29 .35%. Terdapat satu kelurahan yang telah mencapai target yaitu 65.2 Angka pancapaian pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Pauh masih rendah Dari data indikator gizi dalam pencapaian MDGs didapatkan persentase pemberian ASI eksklusif 39. Kegiatan dilakukan mulai tanggal 6 Agustus – 8 September 2012.BAB IV PEMBAHASAN 4. angka ini masih jauh dari target nasional yaitu sebesar 65%.1 Identifikasi Masalah Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan diskusi dengan kepala puskesmas beserta petugas kesehatan pemegang program di Puskesmas Pauh dan juga melalui data-data dari laporan tahunan dan laporan bulanan dari masing – masing program dan evaluasi pencapaian kegiatan program puskesmas pada tahun 2011. Disimpulkan terdapat kesenjangan sebesar 25.3 Penemuan kasus baru TB Paru BTA positif (Case Detection Rate = CDR) di wilayah kerja Puskesmas Pauh masih rendah Berdasarkan data surveillance penyakit menular di Puskesmas Pauh pencapaian penemuan pasien baru BTA positif (CDR) tahun 2011 mencapai 35. Oleh karena itu. terdapat kesenjangan sebesar 10.39%.4 Cakupan DDTK Balita di Puskesmas Pauh masih rendah Berdasarkan dataCakupan DDTK balita di Puskesmas Pauh belum ada kelurahan yang mencapai target nasional (80%) dengan angka capaian Puskesmas sebesar 46. 4.7%.61%. Angka ini masih jauh dari target Case Detection Rate (CDR) berdasarkan Indonesia Sehat 2010 yakni 70%. 4.1.1%. namun masih belum mencapai target nasional.1.33%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 49. Jadi. terdapat kesenjangan sebesar 33.1.2% sedangkan 8 kelurahan lainnya masih dibawah target 65%.1 Target D/S di Puskesmas Pauh belum tercapai Berdasarkan data tahun 2011 pencapaian D/S di Puskesmas Pauh adalah 54. Jadi.77%.3%.

1 dapat dilihat bahwa sepanjang tahun 2010 hanya terdapat 80 kunjungan ke Klinik Sanitasi.54% 4.4. dengan kata lain 30 1196 6.07% 534 kasus 35 kasus 430 Kasus Tabel 4.40% 5.67% 6.2 Perbandingan Kunjungan Klinik Sanitasi dengan angka Penyakit Berbasis Lingkungan di Puskesmas Pauh pada tahun 2011 No 1 2 3 4 Pasien Indikator Diare DBD Penyakit Jamur Kulit TB Paru (penemuan BTA (+)) Jumlah 5 Klien Total 2 74 4 Target 60% 78 Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 Dari tabel 4.5 Pelaksanaan Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh kurang optimal Berikut ini disajikan data kunjungan ke Klinik Sanitasi dan kasus penyakit berbasis lingkungan yang berkaitan. yaitu 76 pasien dan 4 klien.1. Tabel 4.40% 5. Angka kunjungan ini masih jauh dibandingkan jumlah kasus penyakit berbasis lingkungan yang ada.69% 626 kasus 42 kasus 426 Kasus 30 .25% 4.95% 18 kasus 1017 kasus Kunjungan ke Klinik Sanitasi 49 2 23 Kasus yang ada 583 37 453 Pencapaian Kesenjangan 8.1 Perbandingan Kunjungan Klinik Sanitasi dengan angka Penyakit Berbasis Lingkungan di Puskesmas Pauh pada tahun 2010 No 1 2 3 4 Pasien Indikator Diare DBD Penyakit Jamur Kulit TB Paru (penemuan BTA (+)) Jumlah 5 Klien Total 2 76 4 Target 60% 80 Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2010 20 1093 10.60% 6.18% 28 kasus 1122 kasus Kunjungan ke Klinik Sanitasi 49 2 21 Kasus yang ada 675 44 447 Pencapaian Kesenjangan 7.

yang merupakan Indikator Keberhasilan Klinik Sanitasi. 4. sehingga perlu dilakukan prioritas masalah yang merupakan masalah terbesar. Dari masalah tersebut akan dibuat plan of action untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu pelayanan.18%. 1.2 juga dapat dilihat bahwa sepanjang tahun 2011 hanya terdapat 78 kunjungan ke Klinik Sanitasi. Angka kunjungan ini masih jauh dibandingkan jumlah kasus penyakit berbasis lingkungan yang ada. 4. Hal ini tidak memenuhi Kriteria Keberhasilan Program Klinik Sanitasi menurut Departemen Kesehatan RI. Penyakit Berbasis Lingkungan ISPA TB (Penemuan BTA (+)) Diare DBD Penyakit jamur kulit Tahun 2010 10432 kasus 20 kasus 583 kasus 37 kasus 453 kasus 2011 6288 kasus 30 kasus 675 kasus 44 kasus 447 kasus Keterangan Menurun meningkat meningkat meningkat Menurun Sumber data: Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2010 dan 2011 Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa belum semua Penyakit berbasis Lingkungan di Puskesmas Pauh yang mencapai angka penurunan. sedangkan target Puskesmas Pauh yaitu 60%.2 Perbandingan Angka Kejadian Penyakit Berbasis Lingkungan di Puskesmas Pauh tahun 2010 dan 2011 No.95%. Angka kejadian Penyakit Berbasis Lingkungan di Puskesmas Pauh ditunjukkan oleh tabel berikut. yaitu 74 pasien dan 4 klien.masih rendahnya pencapaian rujukan ke Klinik Sanitasi yaitu 6. Selain itu juga dapat disimpulkan bahwa angka kunjungan pasien lebih tinggi dari pada angka kunjungan klien. 3. Dalam hal ini teknik yang kami gunakan adalah teknik skoring. sedangkan target Puskesmas Pauh yaitu 60%. dengan kata lain masih rendahnya pencapaian rujukan ke Klinik Sanitasi yaitu 6. bahwa indikator keberhasilannya yaitu meningkatnya kunjungan klien dan menurunnya kunjungan pasien yang juga berarti menurunnya angka penderita penyakit berbasis lingkungan. 2. 5. Pada tabel 4.2 Penentuan Prioritas Masalah Banyaknya masalah yang ditemukan dalam program puskesmas tidak memungkinkan untuk diselesaikan sekaligus atau seluruhnya. Kriteria nilai yang digunakan adalah sebagai berikut: 31 . Tabel 4.

Urgensi: merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 .Intervensi Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 ..Kemungkinan meningkatkan mutu Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 : sangat rendah : rendah : cukup sedang : tinggi : sangat tinggi 32 .Biaya Nilai 1 Nilai 2 Nilai 3 Nilai 4 Nilai 5 : sangat mahal : mahal : cukup murah : murah : sangat murah : tidak mudah : kurang mudah : cukup mudah : mudah : sangat mudah : tidak penting : kurang penting : cukup penting : penting : sangat penting .

  Biaya (skor 5) :untuk melakukan intervensi di atas tidak diperlukan biaya yang besar karena dilakukan bersamaan dengan kegiatan posyandu yang dilaksanakan. Mutu (skor 4) : mutu pemecahan masalah ini tinggi.Tabel 4. Dengan meningkatnya angka kunjungan ke posyandu maka tumbuh kembang bayi dan balita dapat dipantau sehingga akan meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak di wilayah kerja Puskesmas Pauh. Target D/S di Puskesmas Pauh belum tercapai   Urgensi (skor 4) : bayi dan balita yang tidak datang posyandu tidak akan terpantau tumbuh kembangnya sehingga dapat mengalami masalah gizi.3 Prioritas Masalah Kriteria Target D/S di Puskesmas Pauh belum tercapai Angka pancapaian pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Pauh masih rendah Penemuan kasus baru TB Paru BTA positif (Case Detection Rate = CDR) di wilayah kerja 4 3 4 4 15 III 3 2 4 5 14 IV Urgensi Intervensi Biaya 4 3 5 Mutu 4 Total 16 Ranking II Puskesmas Pauh masih rendah Cakupan DDTK Balita di Puskesmas Pauh masih rendah Pelaksanaan Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh kurang optimal 4 4 4 5 17 I 4 3 4 4 15 III Keterangan: 1. 33 . Intervensi (skor 3) : intervensi dapat dilakukan dengan pendekatan dan komunikasi yang baik terhadap aparat kelurahan untuk menggerakkan masyarakat datang ke posyandu dan meningkatkan peran kader dalam mengajak ibu hamil dan menyusui untuk datang ke posyandu.

Selain itu ASI juga dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan anak.2. sehingga dengan penemuan kasus baru TB paru BTA positif yang tinggi dapat dilakukan pencegahan penularan penyakit TB paru. Penemuan kasus baru TB Paru BTA positif (Case Detection Rate = CDR) di wilayah kerja Puskesmas Pauh masih rendah  Urgensi (skor 4) : angka kejadian TB paru di Puskesmas Pauh masih tinggi. Mutu (skor 5) : mutu pemecahan masalah ini sangat tinggi.  Mutu (skor 4) : mutu pemecahan masalah ini tinggi. Cakupan DDTK Balita di Puskesmas Pauh masih rendah  Urgensi (skor 4) : deteksi dini tumbuh kembang balita bermanfaat untuk mengintervensi masalah kesehatan pada balita sedini mungkin sehingga 34 . Dengan meningkatnya angka pencapaian pemberian ASI eksklusif akan meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Angka pancapaian pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Pauh masih rendah  Urgensi (skor 3) : ASI merupakan nutrisi paling baik bagi bayi sampai usia 6 bulan. 4.  Intervensi (skor 3) : intervensi dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit tuberkulosis sehingga meningkatkan pemeriksaan diri tersangka penderita tuberculosis dan meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral sehingga deteksi dini tuberkulosis dalam masyarakat meningkat. Dengan penemuan baru TB paru BTA positif maka dapat dilakukan intervensi dini terhadap penyakit TB paru termasuk pencegahannya.   Biaya (skor 4) : intervensi dilakukan melalui penyuluhan di Puskesmas dan Posyandu dengan menggunakan leaflet. 3.  Intervensi (skor 2) : intervensi dapat dilakukan langsung kepada ibu hamil dan menyusui melalui penyuluhan tentang ASI eksklusif oleh petugas Puskesmas maupun kader. selain itu TB paru merupakan penyakit menular dengan pengobatan yang lama. Sehingga tidak dilaksanakannya pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi.  Biaya (skor 4) : untuk melakukan intervensi diatas diperlukan biaya operasional untuk pemeriksaan sputum BTA dan biaya transportasi petugas dalam penemuan kasus TB.

Promosi Kesehatan. seta kerjasama lintas program antara KIA. Mutu (skor 4) : dengan cakupan DDTK balita yang tinggi.pertumbuhan  dan perkembangan balita dapat berjalan sesuai dengan perkembangan anak seusianya Intervensi (skor 3) : intervensi dapat dilakukan dengan penyuluhan di Puskesmas dan Posyandu dan mengoptimalkan peran serta kader Posyandu dalam meningkatkan partisipasi ibu untuk membawa balitanya ke Puskesmas atau Posyandu. Balai Pengobatan. 5. komitmen petugas. dan Gizi. Mutu (skor 5) : mutu pemecahan masalah ini sangat tinggi karena dengan optimalnya klinik sanitasi sebagai salah satu pelayanan promotif dan preventif di Puskesmas dapat menurunkan angka penyakit berbasis lingkungan. dan kuratif yang difokuskan pada penduduk yang berisiko tinggi memiliki masalah penyakit berbasis lingkungan  Intervensi (skor 4) : Intervensi dilakukan melalui perbaikan sistem administrasi. terjadinya gangguan tumbuh kembang dapat diminimalisir. Pelaksanaan Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh kurang optimal  Urgensi (skor 4) : Klinik sanitasi merupakan pelayanan kesehatan yang mengintegrasikan promotif. preventif.   Biaya (skor 4) : intervensi dilakukan dengan penyuluhan dan pembagian leaflet.   Biaya (skor 4) : untuk melakukan intervensi di atas dibutuhkan biaya untuk promosi mengenai klinik sanitasi melalui leaflet dan poster. Dari penentuan prioritas masalah di atas dapat disimpulkan masalah yang menjadi prioritas masalah adalah Pelaksanaan Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh kurang optimal 35 .

4.  Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan klinik sanitasi sebagai tempat konsultasi kesehatan Tenaga Kesehatan  Petugas klinik sanitasi hanya piket 2 kali dalam seminggu  Petugas klinik masih sering meninggalkan tempat  Petugas Balai Pengobatan dan KIA belum merujuk semua pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke Klinik Sanitasi 14 Kurang Optimalnya Fungsi Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh Dana  Anggaran dana untuk pembuatan poster. leaflet dan penataan ulang klinik sanitasi masih belum tersedia Material  Poster tentang klinik sanitasi masih belum ada Diagram 4.3 Analisis Akar Penyebab Masalah Metode 5  Tata 6 letak bagan alur masuk pasien ke klinik sanitasi masih tidak tepat 7  Kerjasama lintas program antara bagian BP.KIA dalam merujuk pasien ke klinik sanitasi masih kurang 8  Sosialisasi tentang klinik sanitasi ke masyarakat masih kurang 9  Pengontrolan dan penerapan sistem reward and punishment 10 oleh pimpinan puskesmas belum ada 11 12 13 Manusia Masyarakat  Pengetahuan masyarakat tentang klinik sanitasi yang meliputi manfaat.1 Ischikawa 36 . alur dan penyakit-panyakit yang dikonsultasikan ke klinik sanitasi masih rendah.

37 . memanfaatkan klinik sanitasi tempat kesehatan rendah sebagai konsultasi masih - - Dan dari 3 orang yang berkunjung ke Klinik Sanitasi tersebut. (lihat Lampiran 1 dan Lampiran 2) b. 2 orang (67%) merupakan rujukan dari BP/KIA dan 1 orang (33%) merupakan keinginan sendiri untuk berkonsultasi.No Faktor Masalah Tolak Ukur (periode april-mei tahun 2012) Keterangan 1 Masyarakat a. alur dan penyakitpanyakit yang dikonsultasikan ke klinik sanitasi masih rendah Kuesioner yang dibagikan ke 30 masyarakat yang datang ke Puskesmas Pauh Dari 30 pengunjung puskesmas yang menjadi respoden. hanya 8 orang (27%) yang mengetahui tentang Klinik Sanitasi. Partisipasi masyarakat untuk - Kuesioner yang dibagikan ke 30 masyarakat yang datang ke Puskesmas Pauh Dari hasil Observasi Langsung di Puskesmas Pauh selama 3 minggu - Dari 30 responden yang diberikan kuesioner. hanya 3 orang (10%) yang pernah berkonsultasi ke Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh. hanya 2 orang (7%) yang mengetahui alur berkonsultasi ke Klinik Sanitasi. hanya 6 orang (20%) yang mengetahui bahwa di Puskesmas Pauh ada Program Klinik Sanitasi tersebut. Pengetahuan masyarakat tentang klinik sanitasi yang meliputi manfaat.

2) sanitasi belum piket langsung di sesuai jadwal yang Puskesmas Pauh telah ditetapkan selama 3 minggu Dari data jumlah Penyakit Berbasis Lingkungan yang terjadi selama tahun 2011 dibandingkan dengan jumlah pasien yang dirujuk ke Klinik Sanitasi.5 Analisis Faktor Material sebagai Akar Penyebab Masalah No 1 Faktor Material Masalah Poster tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan belum ada Tolak Ukur Dari hasil observasi langsung terhadap jumlah dan jenis poster yang ada Keterangan Poster tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan belum ada 38 . Petugas klinik sanitasi hanya piket 2 kali dalam seminggu Pemantauan langsung dan wawancara dengan petugas di klinik sanitasi.1 dan 4.26% pada tahun 2011 (Lihat Tabel 4. tidak setiap hari ada petugas sanitasi di ruangan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. yaitu Kamis dan Sabtu b.95% pada tahun 2010 dan 6. c. Petugas Balai Pengobatan dan KIA belum merujuk semua pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke Klinik Sanitasi Tabel 4. Jumlah rujukan dari Balai Pengobatan ke Klinik Sanitasi hanya mencapai 6. Petugas Kesehatan Lingkungan piket di Klinik Sanitasi hanya 2 kali seminggu.2 Tenaga Kesehatan a. Petugas klinik Dari hasil observasi Berdasarkan pengamatan.

d. Sosialisasi tentang klinik sanitasi ke masyarakat masih kurang . Kerjasama lintas program antara bagian BP. .Diskusi dengan pemegang petugas Klinik Sanitasi Dari 30 responden yang diberikan kuesioner. Jumlah rujukan dari Balai Pengobatan ke Klinik Sanitasi hanya mencapai 6.Kuesioner yang dibagikan ke 30 masyarakat yang datang ke Puskesmas Pauh .2) c.6 Analisi Faktor Metode sebagai Akar Penyebab Masalah No 1 Faktor Metode Masalah a. namun dipajang di sudut alur masuk pasien ke ruangan sehingga hanya sedikit Klinik Sanitasi pengunjung yang dapat membaca.18 % tahun 2011. hanya 8 orang (27%) yang mengetahui tentang Klinik Sanitasi hanya 6 orang (20%) yang mengetahui bahwa di Puskesmas Pauh ada Program Klinik Sanitasi tersebut.KIA dalam merujuk pasien ke klinik sanitasi masih kurang Dari data jumlah Penyakit Berbasis Lingkungan yang terjadi selama tahun 2011 dibandingkan dengan jumlah pasien yang dirujuk ke Klinik Sanitasi.Tabel 4. Tata letak bagan alur masuk pasien ke Klinik Sanitasi tidak tepat Tolak Ukur Dari hasil observasi langsung tentang keberadaan bagan Keterangan Telah tersedia alur masuk pasien ke Klinik Sanitasi. b. Pengontrolan dan Diskusi dengan Belum ada pengontrolan dan 39 . (Lihat Tabel 4.hanya 2 orang (7%) yang mengetahui alur berkonsultasi ke Klinik Sanitasi.

Masalah: Pengetahuan masyarakat tentang klinik sanitasi yang meliputi manfaat. Posyandu lansia dan UKBM. leaflet klinik sanitasi belum ada. melalui kegiatan Posyandu. dan Pembina UKBM Keterangan Dana untuk pembuatan poster dan leaflet belum ada dalam anggaran dana Puskesmas 40 .Anggaran Dana Puskesmas Pauh -Diskusi dengan Pimpinan Puskesmas dan pemegang Program Kesehatan Lingkungan. KIA. Tolak ukur .penerapan sistem reward and punishment oleh pimpinan Puskesmas belum ada petugas Klinik Saniitasi dan Pimpinan Puskesmas Pauh penerapan sistem reward and punishment oleh pimpinan Puskesmas Tabel 4. BP. peran dan kegiatan klinik sanitasi melalui penyuluhan pada hari Senin minggu pertama setiap bulan di Puskesmas oleh petugas kesehatan lingkungan dan pembagian leaflet. alur dan penyakit-panyakit yang dikonsultasikan ke klinik sanitasi masih rendah.7 Analisis Faktor Dana sebagai Akar Penyebab Masalah No 1 Dana Faktor Masalah Anggaran dana untuk pembuatan poster. Rencana: Sosialisasi tentang fungsi. Manusia . (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) 4. Promkes.Masyarakat : a.5 Alternatif Pemecahan Masalah 1. edukasi di BP dan KIA Pelaksana: Petugas kesehatan lingkungan.

peran dan kegiatan klinik melalui penyuluhan setiap bulannya. 41 .33%) yang mengetahui alur berkonsultasi ke Klinik Sanitasi.3%) yang mengetahui tentang Klinik Sanitasi. baik di dalam gedung maupun diluar gedung sehinggan pengetahuan masyarakat tentang klinik sanitasi masih rendah dengan tolak ukur 30 kuesioner yang dibagikan kembali kepada psien Puskesmas Pauh dengan hasil : Dari 30 responden yang diberikan kuesioner . tapi diletakan di tempat strategis seperti di ruang tunggu yg telah disediakan dan dibuat lebih menarik agar masyarakat mudah melihat dan tertarik membaca leaflet tersebut.67%) yang mengetahui bahwa di Puskesmas Pauh ada Program Klinik Sanitasi tersebut.Target: Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pauh mengetahui manfaat klinik sanitasi dan dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan derajat kesehatan (penilaian pencapaian dilakukan dengan kuesioner evaluasi dan angka kunjungan ke klinik sanitasi) (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Belum terlaksananya sosialisasi tentang fungsi. hanya 2 orang (6. Dari 30 responden yang diberikan kuesioner hanya 2 orang (6. 2 orang yang berkunjung ke Klinik Sanitasi tersebut.hanya 4 orang (13. hanya 1 orang (3. Untuk leaflet lebih baik tidak dibagikan. Untuk petugas diberikan jadwal tetap setiap bulannya untuk memberikan penyuluhan agar petugas lebih bertanggung jawab terhadap tugas nya masing-masing Dan untuk penyuluhan luar gedung.67 %) yang pernah berkonsultasi ke Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh. merupakan rujukan dari BP/KIA Saran : Perlu peran dari pimpinan agar para petugas klinik sanitasi lebih aktif lagi untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakatnya seperti mengingatkan petugas klinik sanitasi yang bertugas memberikan penyuluhan dan turun langsung dalam memberikan penyuluhan. disini diperlukan kerjasama lintas program antara Klinik Sanitasi dengan KIA dan promkes dalam hal pemberian informasi tentang Klinik sanitasi sehingga masyarakat dapat memanfaatkan klinik sanitasi yang terdapat di Puskesmas.

didalam . Masalah: Petugas klinik sanitasi hanya piket 2 kali dalam seminggu Rencana: Masing-masing petugas mengisi klinik sanitasi selama 3 hari dalam seminggu. Pelaksana: Petugas program kesehatan lingkungan Target: Klinik sanitasi dapat buka setiap hari dan ada petugasnya sehingga masyarakat yang memerlukan dapat memanfaatkannya. Masalah: Partisipasi masyarakat untuk memanfaatkan klinik sanitasi sebagai tempat konsultasi kesehatan masih rendah Rencana: Sosialisasi tentang fungsi. (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Masing-masing petugas klinik sanitasi yang rencananya mengisi klinik sanitasi 3 hari dalam seminggu belum berjalan.b. KIA. perlu strategi khusus contohnya setiap pasien yang datang ke BP dan KIA yang memerlukan konsultasi lebih lanjut dengan klinik sanitasi tidak akan diberikan resep sebelum mendapatkan kartu tanda telah melakukan kunjungan ke klinik sanitasi. Posyandu lansia dan UKBM. Promkes.Tenaga kesehatan a. peran dan kegiatan klinik sanitasi melalui penyuluhan pada hari Senin minggu pertama setiap bulan di Puskesmas oleh petugas kesehatan lingkungan dan pembagian leaflet. melalui kegiatan Posyandu. BP. edukasi di BP dan KIA Pelaksana Petugas kesehatan lingkungan. dan Pembina UKBM Target Kunjungan masyarakat untuk berkonsultasi ke klinik sanitasi meningkat (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Belum terlaksana nya sosialisasi tentang klinik sanitasi oleh petugas baik diluar maupun gedung sehingga kunjungan ke klinik sanitasi masih rendah Saran : Selain sosialisasi yang di berikan ke masyarakat. 42 .

b. Masalah: Petugas klinik sanitasi belum piket sesuai jadwal yang telah ditetapkan Rencana: Rapat kerja bidang kesehatan lingkungan untuk pembuatan absen kehadiran petugas yang diketahui oleh pimpinan Puskesmas dan sistem panggantian yang jelas jika petugas bersangkutan berhalangan hadir Pelaksana: Petugas program kesehatan lingkungan Target: Petugas klinik sanitasi dapat piket setiap hari di klinik sanitasi.Saran : Penyusunan kembali daftar piket sehingga klinik sanitasi dapat dibuka setiap hari dan petugas selalu ada di ruangan sehingga masyarakat dapat memamfaatkannya. dimana 1 orang petugas piket 3 kali dalam seminggu. (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Rapat kerja untuk pembuatan absen kehadiran petugas dan sistem penggantian jadwal belum berjalan Saran : Seharusnya petugas kesehatan lingkungan merapatkan jadwal piket. petugas program kesehatan lingkungan dengan petugas balai pengobatan dan KIA Target: Semua pasien dengan penyakit berbasis lingkungan dirujuk ke klinik sanitasi (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) 43 . c. Jadwal yang sudah dibuat diberikan kepada pimpinan Puskesmas agar pipimpinan dapat mengetahui dan memantau berjalan atau tidaknya jadwal piket tersebut. Masalah: Petugas Balai Pengobatan dan KIA belum merujuk semua pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke Klinik Sanitasi Rencana: Dilaksanakan rapat kerja lintas program untuk membahas masalah ini dengan membandingkan jumlah pasien penyakit berbasis lingkungan yang berobat dengan yang dirujuk ke klinik sanitasi Pelaksana: Pimpinan.

Saran : Lebih ditingkatkan pembahasan tentang kerjasama lintas program khususnya antara klinik sanitasi dengan BP dan KIA. Material Masalah: Poster tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan belum ada.KIA masih sangat minimal. sehingga petugas dari masing-masing program lebih memahami tugas masingmasing dan tidak ada pasien yang terlewatkan yang harusnya di rujuk ke klinik sanitasi. namun untuk pembahasan tentang kerjasama klinik sanitasi dengan BP. 3. 2. Metode a. Masalah: Tata letak bagan alur masuk pasien ke klinik sanitasi tidak tepat 44 . Rencana: Dibuat poster tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan masing-masing 1 buah. untuk pencetakannya bisa dilakukan oleh petugas kesling Puskesmas. Pelaksana: Petugas klinik sanitasi dan dokter muda periode agustus-september 2012 Target: Terdapat 2 buah poster baru maisng-masing tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Belum ada poster tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan di lingkungan Puskesmas dikarenakan pimpinan Puskesmas belum memberikan tugas kepada petugas kesling untuk membuat poster Saran : Adanya inisiatif dari dokter muda PH di Puskesmas pauh untuk merancang poster yang dapat diajukan kepada pimpinan Puskesmas.Evaluasi : Rapat kerja lintas program dan lintas sektoral telah di laksanakan pada lokakarya mini setiap bulannya.

Posyandu lansia dan UKBM. sosialisasi saat kegiatan Posyandu. (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Sosialisasi tentang fungsi.Masalah: Sosialisasi tentang klinik sanitasi ke masyarakat masih kurang Rencana: Sosialisasi tentang fungsi. KIA. peran dan kegiatan klinik sanitasi melalui penyuluhan pada hari Senin minggu pertama setiap bulan di Puskesmas oleh petugas kesehatan lingkungan dan pembagian leaflet. edukasi di BP dan KIA Pelaksana: Petugas kesehatan lingkungan. dan Pembina UKBM Target: Terlaksananya sosialisasi klinik sanitasi sekali sebulan melalui penyuluhan. melalui kegiatan Posyandu. peran dan kegiatan klinik sanitasi melalui penyuluhan baik di dalam gedung maupun di luar gedung belum berjalan sehingga masih rendahnya kunjungan ke klinik sanitasi. Promkes.Rencana: Bagan alur masuk pasien ke klinik sanitasi dipindahkan dari dalam ruangan klinik sanitasi ke depan ruang tunggu Pelaksana: Petugas klinik sanitasi Target: Alur masuk pasien dapat dilihat oleh semua pasien yang datang ke Puskesmas (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Bagan alur masuk pasien ke klinik sanitasi belum dipindahkan dari dalam ruangan klinik sanitasi ke depan ruang tunggu sehingga pasien yang datang ke Puskesmas tidak dapat melihat. BP. Posyandu lansia dan UKBM. edukasi di BP dan KIA. 45 . Saran : Mengajukan ke pada pihak kesehatan lingkungan untuk memindahkan bagan alur masuk pasien ke depan ruang tunggu dengan seizin pimpinan Puskesmas b.

KIA dan kesehatan lingkungan bersama pimpinan Puskesmas untuk membahas reward dan punishment dalam meningkatkan kinerja dari program tersebut dalam meningkatkan angka kunjungan ke klinik sanitasi Saran : Untuk terlaksananya rapat yang akan membahas reward dan punishment. KIA dan kesehatan lingkungan bersama pimpinan Puskesmas untuk membahas sistem reward dan punishment yang akan diterapkan Pelaksana: Petugas kesehatan lingkungan. Masalah: Pengontrolan dan penerapan sistem reward and punishment oleh pimpinan Puskesmas belum ada Rencana: Diadakan rapat oleh bagian balai pengobatan. pimpinan Puskesmas dapat membahasnya secara khusus dalam lokakarya mini. c.Saran : Perlu peran dari pimpinan agar para petugas klinik sanitasi lebih aktif lagi untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakatnya seperti mengingatkan petugas klinik sanitasi yang bertugas memberikan penyuluhan dan turun langsung dalam memberikan penyuluhan. Untuk petugas diberikan jadwal tetap setiap bulannya untuk memberikan penyuluhan agar petugas lebih bertanggung jawab terhadap tugas nya masing-masing Dan untuk penyuluhan luar gedung. Untuk leaflet lebih baik tidak dibagikan. dan Pembina UKBM serta pimpinan Puskesmas Target: Klinik sanitasi berjalan dengan baik. KIA. Promkes. KIA dan kesehatan lingkungan setiap bulannya. tapi diletakan di tempat strategis seperti di ruang tunggu yg telah disediakan dan dibuat lebih menarik agar masyarakat mudah melihat dan tertarik membaca leaflet tersebut. dengan petugas yang selalu ada setiap hari serta semua penyakit berbasis linkungan dirujuk ke klinik sanitasi dan meningkatnya angka kunjungan klien ke klinik sanitasi (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Belum diadakannya rapat oleh bagian BP. 46 . disini diperlukan kerjasama lintas program antara Klinik Sanitasi dengan KIA dan promkes dalam hal pemberian informasi tentang Klinik sanitasi sehingga masyarakat dapat memanfaatkan klinik sanitasi yang terdapat di Puskesmas. BP. Nantinya pimpinan Puskesmas juga harus memantau dan meminta laporan dari program BP.

leaflet. leaflet dan penataan ulang klinik sanitasi belum ada. 47 . bendahara. pimpinan puskesmas dan dokter muda periode agustus-september Target: Adanya anggaran dana untuk pembuatan poster. dan penataan ulang klinik sanitasi. leaftlet dan penataan ulang klinik sanitasi Saran : Mengajukan ulang POA dana untuk pembuatan poster. leaflet dan penataan ulang klinik sanitasi (dikutip dari laporan DM IKM Periode April sampai Mei 2012) Evaluasi : Belum diajukan POA anggaran dana untuk pembuatan poster. Dimana dana nya dapat diambil dari kas mini yang dimiliki oleh Puskesmas Pauh yang diambil dari dana BOK.3. Dana Masalah: Anggaran dana untuk pembuatan poster. Rencana: Mengajukan POA anggaran dana untuk pembuatan poster. leaflet dan penataan ulang klinik sanitasi Pelaksana: Petugas klinik sanitasi.

Adanya rapat evaluasi lintas program antara program balai pengobatan. Sosialisasi tentang fungsi. Posyandu lansia dan UKBM.2 Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan difokuskan pada 8 poin di atas : 1. 5. Pemantauan sekali sebulan oleh pimpinan ke BP dan KIA agar rujukan ke klinik sanitasi sesuai dengan target puskesmas 6.4) 4. melalui kegiatan Posyandu. KIA dan klnik sanitasi 7. peran dan kegiatan klinik sanitasi melalui penyuluhan pada hari Senin minggu pertama setiap bulan di Puskesmas oleh petugas kesehatan lingkungan dan pembagian leaflet.4) 3. Adanya anggaran dana untuk media informasi tentang kesehatan lingkungan di klinik sanitasi. edukasi di BP dan KIA (leaflet lihat pada Lampiran.6) 8. Adanya poster tentang klinik sanitasi dan kesehatan lingkungan (lihat Lampiran. petugas kesling melaksanakan rapat dengan pimpinan puskesmas dan pemegang-pemegang program tekait yang diarahkan pada upaya mengoptimalkan fungsi klinik sanitasi melalui: 1. Pengontrolan dan penerapan sistem reward and punishment oleh pimpinan Puskesmas. Perbaikan kinerja petugas klinik sanitasi 2. Tahap persiapan ini dilaksanakan pada minggu ke-IV bulan Agustus 2012. (lihat Lampiran. Perbaikan kinerja petugas klinik sanitasi. Selanjutnya.8) 2.BAB V RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM 5. tempat leaflet dan penataan poster yang ditempel di dinding ruangan (lihat Lampiran 5) 3. Pemindahan poster alur masuk pasien ke klinik sanitasi dari dalam ruangan klinik sanitasi ke dinding luar klinik sanitasi (di depan ruang tunggu) 30 .5) 5. Penempatan alur masuk pasien ke klinik sanitasi di tempat yang mudah terlihat oleh pengunjung Puskesmas (lihat Lampiran. Pembuatan absensi kehadiran petugas klinik sanitasi yang diketahui oleh pimpinan (lihat Lampiran.1 Tahap Persiapan Pada tahap ini dilakukan rapat internal pemegang program kesehatan lingkungan untuk mengevaluasi seluruh faktor penyebab kurang optimalnya pelaksanaan klinik sanitasi dan menyamakan pendapat dalam pelaksanaan program perbaikan klinik sanitasi. Penataan ulang ruangan klinik sanitasi khususnya penataaan papan informasi.

penyebaran kuesioner kepada masyarakat yang mengunjungi puskesmas. dan rapat internal staf klinik sanitasi. Pelaksanaan rapat evaluasi lintas program antara program balai pengobatan. Posyandu lansia dan UKBM.6) 5.4. KIA dan klnik sanitasi setiap tiga bulan 6.7) 7. 5. peran dan kegiatan klinik sanitasi melalui penyuluhan pada hari Senin minggu pertama setiap bulan di Puskesmas oleh petugas kesehatan lingkungan dan pembagian leaflet. Evaluasi tingkat program dilakukan rutin setiap bulan setelah pelaksanaan program melalui pendataan jumlah kunjungan klinik sanitasi. Pembuatan anggaran dana untuk media informasi tentang kesehatan lingkungan di klinik sanitasi oleh petugas klinik sanitasi yang disetujui dan disahkan pimpinan puskesmas (lihat Lampiran. Pimpinan memantau pelaksanaan klinik sanitasi dan menerapkan sistem reward and punishment oleh pimpinan Puskesmas. 49 . melalui kegiatan Posyandu. edukasi di BP dan KIA (lihat lampiran. Evaluasi dalam Lokmin juga dilakukan untuk pelaporan kinerja dan penilaian koordinasi lintas program.3 Tahap Evaluasi Tahap ini bertujuan mengetahui kesuksesan jalannya kegiatan-kegiatan dalam pelaksanaan program kerja. Sosialisasi tentang fungsi. Kegiatan tersebut di atas mulai dilaksanakan pada minggu ke-I September 2012.

Tahap persiapan: .Evaluasi kinerja petugas klinik sanitasi.laporan tahunan Puskesmas. Pimpinan dan jajaran puskesmas.1 Rencana Pelaksanaan Program PenanggungTabel Jawab Tenaga Sarana 1.1 Rencana Pelaksanaan Program Unsur yang Terlibat Kegiatan Tujuan Tempat dan Waktu 5. dilaksanakan Minggu ke-IV Agustus 2012 .Evaluasi ulang jadwal piket klinik sanitasi Pemegang program kesehatan lingkungan. balai pengobatan.Membuat rencana pengoptimalan fungsi klinik sanitasi setelah evaluasi. . Laporan klinik sanitasi.Tabel 5. 32 .Rancangan anggaran dana untuk media informasi kesehatan lingkungan.Evaluasi angka penyakit berbasis lingkungan yang dirujuk ke klinik sanitasi . . ruang rapat staf puskesmas. bendahara dan pimpinan puskesmas.Rapat internal staf Kesling. .Evaluasi pelaksanaan klinik sanitasi sebelumnya.Rapat kesling dengan pimpinan dan pemegang program.Penetapan reward and punishment . KIA. . Ruang rapat Puskesmas. .

Petugas kesehatan lingkungan.Sosialisasi fungsi.Adanya disiplin pelaksanaan klinik sanitasi. sosialisasi di tempat pelaksanaan Posyandu. dilaksanakan mulai minggu I September 2012 51 . pembinaan UKBM. peran tentang dan sanitasi sehingga menigkatkan minat untuk ke klinik sanitasi Posyandu lansia. petugas promkes.Adanya anggaran dana yang jelas untuk penyediaan media informasi kesehatan lingkungan. Tahap pelaksanaan: . poster kesling. buku register pasien/klien klinik sanitasi. Petugas BP dan KIA. Sosialisasi melalui penyuluhan dalam gedung. 2. serta bendahara dan pimpinan Puskesmas.Masyarakat mengetahui alur masuk ke klinik . Pemegang program kesling.Pemindahan bagan alur masuk pasien ke klinik sanitasi ke depan ruang tunggu .. serta bendahara dan pimpinan Puskesmas Ruangan klinik sehat.Pembuatan absensi kehadiran petugas klinik sanitasi . . papan informasi. petugas promkes. Petugas BP dan KIA.

kegiatan klinik sanitasi melalui penyuluhan .Penerapan reward and punishment . . melalui Posyandu.Kelancaran penyediaan media informasi kesehatan lingkungan dengan ketersediaan dana . edukasi di BP dan KIA .Masyarakat mengetahui peran. fungsi dan kegiatan klinik sanitasi pada hari Senin minggu pertama setiap bulan di Puskesmas oleh petugas kesehatan lingkungan dan pembagian leaflet. lansia dan kegiatan Posyandu UKBM.Mengontrol kinerja petugas klinik sanitasi 52 .Anggaran dana disetujui dan dana siap dicairkan untuk penyediaan media informasi kesehatan lingkungan.

Penyebaran kuisioner setiap 3 bulan sebelum Lokmin. Tahap evaluasi: .Rapat lintas program (Lokmin). serta bendahara dan pimpinan Puskesmas. petugas promkes. .Lokmin setiap 3 bulan. Evaluasi berkala sehingga kendala yang ditemukan bisa ditindaklanjuti. serta bendahara dan Petugas kesehatan lingkungan. . petugas promkes.3. . Petugas BP dan KIA.Penyebaran kuisioner. Ruang rapat puskesmas. . .Rapat internal kesling setiap sebulan. kuisioner. pimpinan Puskesmas. 53 . Petugas BP dan KIA.Rapat internal Kesling. Petugas kesehatan lingkungan.

kepala puskesmas disetujui dan dana siap informasi dicairkan untuk penyediaan media informasi kesehatan lingkungan 4 Penerapan reward and punishment poster.2 Indikator Keberhasilan Rencana Pelaksanaan Program No Kegiatan Indikator keberhasilan Sumber dana Penanggung Jawab 1 Penataan ulang ruangan klinik sanitasi (papan informasi. bendahara. petugas promkes 3 Anggaran dana Tersedianya seperti media leaflet. tem pat leaflet dan poster) dan Pemindahan bagan alur masuk pasien ke klinik sanitasi ke depan ruang tunggu Ruangan klinik sanitasi tertata dengan baik sehingga papan informasi. - Pemegang program klinik sanitasi. petugas KIA dan Balai Pengobatan. dan poster dapat dimanfaatkan oleh pengunjung Puskesmas - Pemegang program klinik sanitasi 2 Sosialisasi klinik sanitasi pada saat pelayanan di KIA dan balai pengobatan serta saat diadakannya penyuluhan rutin setiap bulan Meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai fungsi dan jenis kegiatan klinik sanitasi yang dilihat dari kuisioner evaluasi triwulan. tempat leaflet. dan pamflet yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Sistem reward dan punishment terlaksana dengan baik - Pimpinan Puskesmas 54 .Tabel 5. BOK Pemegang program kesehatan lingkungan.

Belum ada pengontrolan dan penerapan sistem reward and punishment oleh pimpinan Puskesmas . Program ini harus dievaluasi secara berkesinambungan dan terus ditingkatkan kualitasnya. Untuk itu.Kedisiplian pelaksanaan piket klinik sanitasi yang belum optimal . dan rencana pelaksanaan program yang disusun di atas.Masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang klinik sanitasi serta kesadaran untuk memanfaatkan klinik sanitasi.2 Saran Dari analisis masalah.KIA dalam merujuk pasien ke klinik sanitasi.Pemanfaatan media informasi di klinik sanitasi belum optimal. diharapkan klinik sanitasi dapat membuat piket setiap harinya dan terus memperbaiki administrasi. disebabkan oleh beberapa faktor. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran petugas Puskesmas khususnya petugas KIA dan Balai Pengobatan dalam merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi serta petugas Puskesmas lainnya dalam meningkatkan kunjungan klien ke klinik sanitasi.1 Kesimpulan Dari makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa belum optimalnya fungsi klinik sanitasi di Puskesmas Pauh. Dilakukan penyuluhan di dalam gedung maupun di luar gedung untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kilink sanitasi serta bekerja sama dengan lintas program seperti dengan program promkes dan KIA dalam memberikan informasi kepada masyarakat di kegiatan masing-masing program. . disiplin serta kinerja petugas. . alternatif solusi masalah. yaitu : Piket petugas klinik sanitasi hanya 2 kali dalam seminggu . 55 .Kurang berjalannya kerjasama lintas program antara bagian BP. . Perlunya peningkatan pemahaman dan kesadaran seluruh petugas Puskesmas tentang pentingnya peran klinik sanitasi dalam kegiatan promotif dan preventif terhadap penyakit berbasis lingkungan.Petugas kesehatan lingkungan belum mencantumkan perencanaan anggaran untuk media informasi 6.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. diharapkan fungsi klinik sanitasi sebagai salah satu media Puskesmas dalam kegiatan promotif dan preventif penyakit berbasis lingkungan dapat optimal.

rekap data jumlah pasien/klien per bulan.Dilakukan pembuatan kartu status dan registrasi lengkap pasien/klien yang datang. Adanya data yang lengkap akan mempermudah evaluasi kinerja dan kendala yang dihadapi sehingga bisa dicarikan solusinya. dan data kegiatan lainnya. pengadaan alat-alat peraga. dan sebagainya. petugas klinik sanitasi bisa mengajukan proposal kepada pimpinan puskesmas dan DKK untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan klinik sanitasi. 56 . rekap jumlah dan sebaran penyakit berbasis lingkungan yang dirujuk/dikonsultasikan per bulan. Dengan data yang lengkap dan evaluasi kinerja yang terukur. misalnya pengadaan ruangan. alat untuk menilai kualitas air. data kunjungan rumah.

Hasil dari kegiatan ini agar dapat dimanfaatkan oleh pimpinan Puskesmas Pauh dalam menata kembali pengembangan klinik sanitasi di Puskesmas Pauh. Dalam hal ini kegiatan lebih di fokuskan pada pengoptimalan fungsi klinik sanitasi. Disamping itu hasil ini berupa masukan kepada semua pihak untuk dapat berpartisipasi kedepan dalam upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. telah dilakukan identifikasi terhadap berbagai masalah yang ada di Puskesmas Pauh kota Padang.BAB VII PENUTUP Melalui kegiatan kepaniteraan klinik dibagian Ilmu Kesehatan Masyarakat ini. Kepada semua pihak yang telah membantu sehingga laporan ini dapat tersusun. kami ucapkan banyak terima kasih. 57 .

DAFTAR PUSTAKA

Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2011 Laporan Tahunan Puskesmas Pauh Tahun 2010 Laporan Tahunan Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Pauh 2011 Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2000 Buku Informasi Kesehatan Lingkungan. Seksi Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat APBD. Padang. 2010

58

Lampiran 1 KUESIONER TENTANG KLINIK SANITASI DI PUSKESMAS PAUH

Nama

:

Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan Umur :

tahun```````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````` ``````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````` `````````````````````````````````````````````` Alamat :

Lingkari jawaban yang Anda pilih atau jawab pertanyaan pada baris yang disediakan.

1. Pernahkah Anda mendengar tentang Klinik Sanitasi ? a. Ya, pernah b. Tidak Pernah

2. Jika ya, apa itu Klinik Sanitasi? ………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………

3. Apakah Anda tahu alur berkonsultasi ke Klinik Sanitasi? a. Ya, tahu b. Tidak tahu

4. Apakah Anda tahu Klinik Sanitasi ada di Puskesmas Pauh? a. Ya, tahu b. Tidak tahu

5. Apakah Anda pernah mengunjungi Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh? a. Ya, pernah b. Tidak pernah

59

6. Jika ya, apakah tujuan Anda saat itu? a. Rujukan dari Balai pengobatan / KIA b. Konsultasi masalah kesehatan lingkungan

7. Apakah Anda pernah diminta petugas Balai Pengobatan/KIA ke Klinik Sanitasi ? a. Ya b. Tidak

8. Jika ya, Mengapa Anda diminta konsultasi ke klinik sanitasi? c. Diare d. Penyakit Saluran Pernafasan e. Penyakit kulit f. Tuberkulosis g. Lainnya, …………

9. Jika Anda diminta oleh petugas BP/KIA untuk pergi ke klinik sanitasi, apakah Anda bersedia? a. Ya b. Tidak, alasannya ……………………………………………

10. Apakah menurut Anda klinik Sanitasi bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat? a. Ya b. Tidak

-

Terima Kasih -

60

Jika ya.Lampiran 2 HASIL KUESIONER TENTANG KLINIK SANITASI DI PUSKESMAS PAUH 1. apa itu Klinik Sanitasi? ………………………………………………………………………………………… 3. Pernahkah Anda mendengar tentang Klinik Sanitasi ? 2. Apakah Anda tahu Klinik Sanitasi ada di Puskesmas Pauh? 61 . Apakah Anda tahu alur berkonsultasi ke Klinik Sanitasi? 4.

Apakah Anda pernah mengunjungi Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh? 6. Apakah Anda pernah diminta petugas Balai Pengobatan/KIA ke Klinik Sanitasi ? 62 . Jika ya. apakah tujuan Anda saat itu? 7.5.

9. apakah Anda bersedia? bersedia 100% bersedia 10. Apakah menurut Anda klinik Sanitasi bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat? bersedia 100% bersedia 63 . Jika Anda diminta oleh petugas BP/KIA untuk pergi ke klinik sanitasi. Jika ya. Mengapa Anda diminta konsultasi ke klinik sanitasi? Kedua responden yang pernah dikonsultasikan ke Klinik Sanitasi karena penyakit Diare.8.

Lampiran 3 DAFTAR PIKET PETUGAS KLINIK SANITASI PUSKESMAS PAUH NO HARI NAMA PETUGAS PIKET 1 SENIN ASMARA JUWITA 2 SELASA FADHLY AGMA 3 RABU ASMARA JUWITA 4 KAMIS FADHLY AGMA 5 JUMAT ASMARA JUWITA 6 SABTU FADHLY AGMA 64 .

Papan Informasi Kesling dan Gizi 9. Tempat Leaflet 7. Meja 9 2 3 8 1 1 2 5 2. Jadwal Piket 6. Poster Alur Klinik Sanitasi 7 3 1 2 8. Ruang Tunggu 10 Rencana intervensi 9 2 3 1 2 4 5 8 1 3 7 10 2 6 65 . Lemari 4. Jendela 10.Lampiran 4 RENCANA TATA LETAK BAGAN ALUR MASUK PASIEN KE KLINIK SANITASI Keadaan saat ini 4 Keterangan : 1.Kursi 3. Papan Informasi Promkes 6 5.

5 KENAPA PERLU KLINIK SANITASI TAUKAH ANDA TENTANG KLINIK SANITASI? Klinik sanitasi penting untuk mendapatkan Klinik sanitasi adalah suatu tempat untuk berkonsultasi tentang masalah kesehatan yang berhubungan dengan lingkungan informasi tentang penyebab . DIMANA KLINIK SANITASI ITU? KAPAN ANDA KONSULTASI KE Klinik sanitasi berada di ruangan Klinik Sehat di Puskesmas Pauh Konsultasi ke klinik sanitasi wajib jika anda berobat ke Puskesmas dengan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan seperti: KLINIK SANITASI? 66 . akibat dan solusi masalah kesehatan yang berhubungan dengan lingkungan SIAPA SAJA YANG BERKONSULTASI KE KLINIK SANITASI ?  Penderita dengan penyakit yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan  Masyarakat umum sehat yang memiliki masalah kesehatan lingkungan seperti konsultasi tentang pemberantasan jentik nyamuk.Lampiran.

TBC 6. Cacingan 8. 3. Diare Demam Berdarah Dengue (DBD) 4. Penyakit Kulit gatal-gatal Klinik Sanitasi PUSKESMAS PAUH Lampiran 6 AYO KUNJUNGI KLINIK SANITASI !!! PADANG 2012 67 . Kaki Gajah 7. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) 2. Malaria 5.1.

250.- 3 Tak Terduga Rp 60.000.PERENCANAAN ANGGARAN DANA KLINIK SANITASI PUSKESMAS PAUH BULAN MEI .- BOK 68 .000.2 Leaflet 160 Lembar Mengenai Klinik Sanitasi Mengenai Kesehatan Lingkungan Rp 40.000.DESEMBER TAHUN 2012 NO NAMA MATERIAL 1 Poster JUMLAH MATERIAL 2 BUAH 2 x @ Rp 50.000. 200.000.Rp 100.- JUMLAH Rp.RINCIAN RANCANGAN DANA SUMBER DANA 8 bulan x 20 lembar x @ Rp.

Lampiran 6 ABSENSI PETUGAS KLINIK SANITASI Bulan : No. Hari Tanggal Kehadiran Jam kerja Asmara Juita Datang Pulang Fadhly Agma Datang Pulang Tahun : Tanda Tangan 69 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful