Anda di halaman 1dari 12

Mekanisme toxin pada ular

Mekanisme kerja bisa ular :


Bisa ular (venom) terdiri dari 20 atau lebih komponen. Venom yang sebagian besar (90%) adalah protein, terdiri dari berbagai macam enzim, polipeptida non-enzimatik dan protein nontoksik.

Karbohidrat dalam bentuk glikoprotein seperti serine protease ancord merupakan prokoagulan dari C.rhodostoma venom (menekan fibrinopeptida-A dari fibrinogen dan dipakai untuk mengobati kelainan trombosis). Amin biogenik seperti histamin dan 5hidroksitriptamin, dalam jumlah dan variasi yang besar bertanggun gjawab terhadap timbulnya rasa nyeri pada gigitan ular. fosfolipase A yang bertanggung jawab pada aktivitas neurotoksik presinaptik, rabdomiolisis dan kerusakan endotel vaskular.

Terdiri dari beberapa polipeptida yaitu fosfolipase A, hialuronidase, ATP-ase, 5 nukleotidase, kolin esterase, protease, fosfomonoesterase, RNA-ase, DNA-ase menyebabkan destruksi jaringan lokal, bersifat toksik terhadap saraf, menyebabkan hemolisis atau pelepasan histamin sehingga timbul reaksi anafilaksis.

Enzim hialuronidase, bagian dari racun diamana merusak jaringan subcutan dengan menghancurkan mukopolisakarida; Enzim fosfolipase A2 memainkan peran penting pada hemolisis sekunder untuk efek eritrolisis pada membran sel darah merah dan menyebabkan nekrosis otot; Enzim trobogenik menyebabkan pembentukan clot fibrin, yang akan mengaktivasi plasmin dan menghasilkan koagulopati yang merupakan konsekuensi hemoragik (Warrell,2005).

Bisa ular dapat pula dikelompokkan berdasarkan sifat dan dampak yang ditimbulkannya seperti :

Hematotoksik (Racun terhadap darah). Neurotoksik (Racun terhadap saraf).

Hematotoksik
Bisa ular yg menyerang dan merusak sel-sel darah merah dengan jalan menghancurkan stroma lecethine (dinding sel darah merah), sehingga sel darah hancur dan larut (hemolysin) keluar menembus pembuluh darah, mengakibatkan perdarahan pada selaput tipis pada mulut, hidung, tenggorokan, dll.

Neurotoksik
Bisa ular yg merusak dan melumpuhkan jaringan sel saraf sekitar luka gigitan yg menyebabkan jaringansel saraf tersebut mati dengan tanda-tanda kulit sekitar luka gigitan tampak kebiru-biruan dan hitam (nekrotis). Penyebaran selanjutnya mempengaruhi susunan saraf pusat dengan jalan melumpuhkan saraf pernafasan dan jantung. Penyebaran bisa ular keseluruh tubuh melalui pembuluh limphe.

Luka gigitan ular

Gigitan ular akan meninggalkan bekas yang dapat memberi petunjuk tentang jenis ularnya. Racun/bisa diproduksi dan disimpan pada sepasang kelenjar di bawah mata. Racun ini disimpan di bawah gigi taring pada rahang atas. Rahang dapat bertambah sampai 20 mm pada ular berbisa yang besar.

Bekas gigitan ular: A: Tidak berbisa ( tanpa bekas taring ). B: Ular berbisa dengan taring di belakang. C: Ular berbisa dengan taring di depan ( ular sendok - Kobra, ular laut ). D: Ular berbisa dengan taring di depan agak ke samping ( ular pohon ).