Anda di halaman 1dari 19

Laporan Tetap Praktikum Biokimia I

Penentuan Kadar Protein Secara Biuret




Riska Ria Lestari (06101410016) 1

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM BIOKIMIA

I. NOMOR PERCOBAAN : V (Lima)
II. NAMA PERCOBAAN : PENENTUAN KADAR PROTEIN
SECARA BIURET
III. TUJUAN : Menentukan Absorban Secara Biuret
Dengan Menggunakan Spektometer
IV. DASAR TEORI
Teknik spektroskopi pada daerah ultra violet dan sinar tampak biasa disebut
spektroskopi UV-Via, dari spektrum absorbsi dapat diketahui panjang gelombang
dengan absorbans maksimum dari suatu unsur atau senyawa. Konsentrsi suatu unsur
atau senyawa juga mudah dapat dihitung dari kurva standar yang diukur pada panjang
gelombang dengan absorbans maksimum.
Spektrofotometer adalah alat pengukuran yang didasarkan pada interaksi
cahaya/ sinar monokromatis dengan materi, yaitu pada saat sejumlah cahaya/ sinar
monokromatis dilewatkan pada sebuah larutan., ada seebagian sinar yang diserap,
dihamburkan, dipantulkan dan sebagian lagi diteruskan. Namun karena jumlah sinar
yang dihamburkan dan dipantulkan sangat kecil, maka dianggap tidak ada. Apabila
radiasi atau cahaya putih dilewatkan melalui larutan berwarna, maka radiasi dengan
panjang gelombang tertentu akan diserap (absopsi) secara selektif dan radiasi lainnya
akan diteruskan (transmisi). Absorpsi maksimum dari larutan berwarna terjadi pada
daerah warna yang berlawanan, mislanya larutan warna merah akan menyerap rasiasi
maksimum pada daerah warna hijau. Dengan perkataan lain warna yang diserrap
adalah warna komplementer dari warna yang diamati.
Semua senyawa organik mampu mengabsorbsi cahaya, sebab senyawa
organik mengandung elektron valensi yang dapat dieksitasi ke tingkat energi yang
lebih tinggi. Pengabsorbsian sinar ultra violet dan sinar tampak yang panjang
gelombangnya lebih besar, terbatas pada sejumlah gugus fungsional (chromophore)
yang mengandung elektron valensi dengan energi eksitasi rendah.
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 2

Berdasarkan hukum Lambert-Beer, absorbansi dari suatu sampel akan
sebanding dengan ketebala, konsentrasi sampel dan absorbtivitas molar. Bila
ketebalan benda (b) atau konsentrasi materi (c) yang dilewati bertambah, maka
cahaya akan lebih banyak diseerap. Jadi absorbansi berbansing lurus dengan
ketebalan dan konsentrasi. Selain itu faktor yang berpengaruh terhadapa besar
kecilnya absorbansi adalah absortivitas molar () dari larutan yang diukur itu sendiri.
Sehingga persamaan di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:
A = b c

Hukum Dasar Spektroskopi Adsorbsi
Jika suatu berkas sinar melewati suatu medium homogen, sebagian dari
cahaya datang (Po) diadsorbsi sebanyak (Pa), sebagian dapat diabaikan dipantulkan
(Pr), sedangkan sisanya ditransmisikan (Pt) dengan efek intensitas murni sebesar :
Po = Pa + Pt + Pr,
Dimana : Po = intensitas radiasi yang masuk,
Pa = intensitas cahaya yang diadsorbsi
Pr = intensitas bagian cahaya yang dipantulkan
Pt = intensitas cahaya yang ditransmisikan.

Dalam hal ini berlaku hubungan Hukum Beer-Lambert :
T =
abc
Po
Pt

=10
b = jarak tempuh optik, c = konsentrasi
log (T) = log abc
Po
Pt
= |
.
|

\
|

a = tetapan absortivitas, T = transmitansi
log A abc
Pt
Po
T
= = |
.
|

\
|
= |
.
|

\
|
log
1

A = adsorbansi
- log (T) i.e. A = abc
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 3


1
1

= |
.
|

\
|
T
T
opasitas (tidak tembus cahaya)
A = abc
A = absorpsivitas (yakni tetap)
Hukum di atas dapat ditinjau sebagai berikut :
1. Jika suatu berkas radiasi monokromatik yang sejajar jatuh pada medium
pengadsorbsi pada sudut tegak lurus setiap lapisan yang sangat kecilnya akan
menurunkan intensitas berkas.
2. Jika suatu cahaya monokromatis mengenai suatu medium yang transparan,
laju pengurangan intensitas dengan ketebalan medium sebanding dengan
intensitas cahaya.
3. Intensitas berkas sinar monokromatis berkurang secara eksponensial bila
Konsentarsi zat pengadsorbsi bertambah.
Hal di atas, adalah persamaan yang mendasar untuk spektroskopi adsorbsi,
dikenal dengan hukum Beers Lambert atau Hukum Beer Bougar.
Karena : A = abc, A o c bila ab konstan
A o b bila ac konstan
A o bc bila a konstan.
Penyimpangan Dari Hukum Beer
Jika hukum Beer diikuti, maka kita akan menmperoleh garis lurus. Hal ini
terjadi bila, digunakan sinar yang monokromatis. Bila menggunakan sinar yang
polikromatis, maka akan menyebabkan melebarnya pita radiasi sehingga akan terjadi
penyimpangan yang besar. Penyimpangan juga jelas teramati pada konsentrasi lebih
besar pada kurva absorbansi terhadap konsentrasi. Kurva akan mulai melengkung
pada konsentrasi yang tinggi. Bila kurva absorbsi yang diperoleh pada berbagai
panjang gelombang yang digunakan bersifat datar, maka diharapkan Hukum Beer
berlaku. Penyimpangan negatif dari hukum Beer menyebabkan kesalahan relatif yang
makin membesar dari konsentrasi sebenarnya.
Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan eptida yang terbentuk pada
pemanasan dua molekul urea. Ion Cu
2+
dari peraksi biuret dalam suasan basa akan
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 4

bereaksi dengan polipeptida atau ikatan ikatan peptida yang menyusun protein
membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap
dua buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau
dipeptida. Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam- amino bebas
akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa berwarna biru-ungu. Namun,
prolin dan hidroksipilin menghasilkan senyawa berwarna kuning.
Protein merupakan molekul rumit dan penggolongannya kebanyakan
berdasarkan pada kelarutan dalam berbagai pelarut. Akan tetapi, secara meningkat,
setelah pengetahuan mengenai susunan dan struktur molekul bertambah, dipakai
kriteria lain untuk penggolongan. Ini termasuk dalam sifat ultrasentrifugasi dan
elektroforesis.
Protein dikelompokkan ke dalam golongan utama berikut :
a. Protein sederhana
b. Protein konjugasi, dan
c. Protein turunan.
Keterangan :
a. Protein Sederhana
Protein sederhana hanya menghasilkan asam amino saja jika dihidrolisis dan
termasuk golongan berikut :
- Albumin
Albumin larut dalam air netral yang tidak mengandung garam. Biasanya ada
protein yang berbobot molekul nisbi rendah.
Contohnya, albumin telur, laktalbumin, dan albumin serum dalam protein air
dadih susu, leukosin serealia, dan legumelin dalam biji polong.
- Globulin
Globulin larut dalam larutan garam netral dan hampir tidak larut dalam air.
Contohnya, globulin serum dan |-laktoglobulin dalam susu, myosin dan aktin
dalam daging, dan glisinin dalam kedelai.


Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 5

- Glutelin
Glutelin larut dalam asam atau basa yang sangat encer dan tidak larut dalam
pelarut yang netral. Protein ini terdapat dalam serealia, seperti glutenin dalam
gandum dan orizenin dalam beras.
- Prolamin
Prolamin larut dama alcohol 50 samapi 90 persen dan tidak larut dalam air.
Protein ini mengandung sejumlah besar prolina dan asam glutamat dan
terdapat dalam serealia.
Contohnya, zein dalam jagung, gliadin dalam gandum, dan hordein dalam
barli.
- Skleroprotein
Skleroprotein tidak larut dalam air dan pelarut netral dan tahan terhadap
hidrolisis memakai enzim. Ini merupakan protein serat yang berperan pada
struktur dan pengikatan. Kolagen dari jaringan otot dimasukkan dalam
golongan ini, seperti gelatin, yang diperoleh dari kolagen.Contoh yang lain
termasuk elastin, yaitu komponen tendon, dan keratin, komponen rambut dan
kuku binatang.
- Histon
Histon adalah protein yang bersifat basa, karena kandungan lisina dan
arigininanya tinggi. Larut dalam air dan diendapkan oleh ammonia.
- Protamin
Protamin adalah protein bersifat basa kuat, berbobot mlekul rendah (4000
sampau 8000). Protein ini kaya akan ariginina.
Contohnya klupein dari ikan hering dan skombrin dari ikan makerel.



Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 6

b. Protein Konjugasi
Protein konyugasi mengandung bagian asam amino yang terikat pada bahan
nonprotein seperti lipid, asam nukleat, atau karbohidrat. Beberapa protein konjugasi
penting, yaitu :
- Fosfoprotein
Fosfoprotein merupakan golongan yang penting yang mencakup protein
makanan yang penting. Gugus fosfs\at terikat pada gugus hidroksil dari serina
dan teronina. Golongan ini mencakup kasein susu dan fosfoprotein kuning
telur.
- Lipoprotein
Lipoprotei adalah gabungan lipid denanga protein dan mempunyai daya
mengemulsi yang sangat baik. Lipoprotein terdapat dalam susu dan kuning
telur.
- Nukleoprotein
Nukleoprotein merupakan gabungan asal nukleat dengan protein. Senyawa ini
terdapat dalam inti sel.
- Glikoprotein
Glikoprotein adalah gabungan karbohidrat dengan protein. Biasanya jumlah
karbohidrat kecil, tetapi beberapa glikoprotein mengandung karbohidart 8
sampai 20 persen. Satu contoh mukoprotein seperti itu ialah ovomusin putih
telur.
- Kromoprotein
Kromoprotein ialah yang gugus prostetiknya berwarna. Terdapat banyak
senyawa jenis ini, termasuk di dalamnya hemoglobin dan myoglobin, klorofil,
dan flavoprotein.
c. Protein Turunan
Protein turunan adalah senyawa yang diperoleh dengan metode kimia atau
dengan metode enzimatik dan dipilah ke dalam turunan primer dan turunan sekunder,
bergantung pada derajat perubahan yang terjadi. Turunan primer sedikit dimodifikasi
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 7

dan tidak larut dalam air, kasein yang dikoagulasi dengan rennet (isi lambung sapi)
meruapak contoh protein turunan primer.
Turunan sekunder mengalami perubahan yang lebih besar dan mencakup
protease, pepton, dan peptida. Perbedaan antara hasil urai ini terletak pada ukuran dan
kelarutan. Semua larut dalam air dan dikoagulasi oleh bahang, tetapi protease dapat
diendapkan dengan larutan ammonium sulfat jenuh. Peptida mengandung dua atau
lebih sisa asam amino. Hasil urai ini terbentuk selama pemrosesan banyak makanan,
misalnya selama pematangan keju.
V. ALAT DAN BAHAN
1. ALAT
1. Pipet tetes
2. Gelas ukur
3. Beker gelas
4. Spektometer
5. Tabung reaksi
6. Kuvet

2. BAHAN:
1. Larutan Biuret
2. Larutan standar protein
3. Aquades
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 8

3.SAMPEL
1. Larutan asam amino arginin
(1%,2%,3%,4%,5%,6%,7%,8%,9%,10%)

VI. PROSEDUR PERCOBAAN
Pipet ke dalam tabung reaksi 1 ml larutan protein yang mengandung 1
sampai 10 mg per ml. Tambahkan 4 ml reagen biuret. Kocok dan diamkan selama
30 menit pada suhu kamar. Baca serapannya pada 540 nm. Untuk blanko dipakai
campuran 1 ml air dan 4ml reagen biuret yang juga diamkan selama 30 menit
pada suhu kamar. Hukum Lambert beer berlaku untuk larutan larutan protein
antara 1 dan mg per ml.

VII. HASIL PENGAMATAN
Berikut ini merupakan hasil pengamatan pada percobaan menentukan
kadar protein dengan biuret melalui spektometer :
No Larutan Konsentrasi Absorbansi
1 Blanko - 0,000
2 Arginin 1% 0,005
3 Arginin 2% 0,012
4 Arginin 3% 0,015
5 Arginin 4% 0,017
6 Arginin 5% 0,021
7 Arginin 6% 0,026
8 Arginin 7% 0,027
9 Arginin 8% 0,032
10 Arginin 9% 0,061
11 Arginin 10% 0,063
12 Sampel 1% 0,005


Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 9

VIII. ANALISA DATA



Membuat Kurva Standar Konsentrasi Protein Vs Absorban
Dengan : X = Konsentrasi protein (c)
Y = Absorbansi (A)
No. X Y XY X
2

1. 1 0,005 0,005 1
2. 2 0,012 0,024 4
3. 3 0,015 0,045 9
4. 4 0,017 0,068 16
5. 5 0,021 0,105 25
6. 6 0,026 0,156 36
0
0.01
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
0.07
1% 2% 3% 4% 5% 6% 7% 8% 9% 10%
Series1
Kurva standar absorbansi Kurva standar absorbansi
Sampel
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 10

7. 7 0,027 0,189 49
8. 8 0,032 0,256 64
9. 9 0,061 0,549 81
10. 10 0,063 0,63 100
55 0,279 2,027 385

Slope (A) =
( )
2 2
.
. .
X X n
Y X XY n
E E
E E E

=
( ) ( ) ( )
( ) ( )
2
55 385 10
279 , 0 55 027 , 2 10


= 0,00596
Intersept (B) =
( )
2 2
2
.
. .
X X n
X XY X Y
E E
E E E E

=
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
2
55 385 10
55 027 , 2 385 279 , 0


= -0,00493


Persamaan Regresi Linier : Y = 0,00596X + (-0,00493)
Kurva standar : Y = 0,00596X + (-0,00493)
X 0 1 2 3 4 5
Y -0,00493 0,00103 0,00699 0,01295 0,01891 0,02487







Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 11

Gambar 1. Grafik Kurva standar : Y = 0,00596X + (-0,00493)

Konsentrasi protein yang sebenarnya dalam Albumin :
Konsentrasi protein pada saat 1 mg/ml
Y = 0,005
0,005 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 1,66 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 2 mg/ml
Y = 0,012
0,012 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 2,84 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 3 mg/ml
Y = 0,015
0,015 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 3,34 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 4 mg/ml
Y = 0,017
0,017 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 3,67 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 5 mg/ml
Y = 0,021
-0.01
-0.005
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0 1 2 3 4 5 6
Konsentrasi (X)
Y
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 12

0,021 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 4,35 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 6 mg/ml
Y = 0,026
0,026 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 5,18 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 7 mg/ml
Y = 0,027
0,027 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 5,35 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 8 mg/ml
Y = 0,032
0,032 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 6,19 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 9 mg/ml
Y = 0,061
0,061 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 11,06 mg/ml
Konsentrasi protein pada saat 10 mg/ml
Y = 0,063
0,063 = 0,00596X + (-0,00493)
X = 11,39 mg/ml









Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 13

VIII. REAKSI




















Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 14

VIII. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, yakni percobaan mengenai penetapan kadar
protein secara biuret ini bertujuan untuk mengetahui atau menetapkan kadar
protein secara biuret dengan menggunakan alat spektometer yakni dengan cara
melihat kekuatan serapan atau absorban dari setiap sampel. Pada percobaan ini
sampel protein yang digunakan adalah asam amino arginin, di mana aarginin
bersifat basa yang dibuat dalam konsentrasi 1%,2%, sampai dengan 10%. Selain
itu, dalam percobaan ini juga digunakan reagen Biuret yang dibuat dengan
melarutkan tembaga (II) sulfat hidrat dan natrium kalium tartrat ke dalam air dan
ditambahkan pula dengan basa kuat NaOH. Ion Cu2+ dari reagen biuret dalam
suasana basa akan bereaksi dengan polipeptida atau iktan-ikatan peptida yang
menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu.
Pada percobaan ini larutan sampel yang telah direaksikan dengan reagen
biuret didiamkan selama 30 menit, dalam beberapa selang waktu maka akan
terjadi sedikit perubahan pada warna larutan yakni warna larutan sampel protein
ini akan menjadi lebih pekat (ungu).
Setelah beberapa lama larutan sampel ini didiamkan, selanjutnya larutan
sampel ditempatkan kedalam alat spektrofotometri ini dengan menggunakan
dengan kuvet , larutan yang dimasukkan kedalam kuvet. Kuvet ini pun sangant
sensitif, maka ketika memegang ataupun menaruhnya ke dalam spektroskopi
harus sangat hati-hati, karena jika tersentuh dengan tangan hal inidapat
mempengaruhi hasil pengukuran nilai absorbansi. Selain itu juga memrlukan
Blanco. Blanko yang digunakan ialah air (aquadest) yang juga direaksikan dengan
biuret terlebih dahulu, yakni digunakan sebagai pengkaliber spektroskopi.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatlah hasil pengamatan berupa
nilai absorban yang berkisar antara 0,064 hingga 0,304 untuk kepekatan 1%
hingga 10% larutan sampel protein arginin . Dari hasil data yang diperoleh setelah
dilakukan analisis dengan kurva regresi ternyata didapatkan bahwa perbandingan
konsentrasi secara praktik maupun teori tidak jauh berbeda.
Dalam percobaan ini juga dilakukan pengamatan terhadap sampel yang
belum diketahui konsentrasinya, setelah diukur dengan spektroskopi
Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 15

didapatkanlah harga absorban dari larutan ini yakni 1,107. Nilai yang kami
peroleh tidak sesuai dengan teori yang seharusnya nilai yang didapatkan ini
berkisar antara 0,2 hingga 0,3. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal antara
lain adanya ketidaksempurnaan saat pengkaliberasian alat, dan juga karena cara
ketika memegang kuvet kurang hati-hati sehingga mempengaruhi hasil yang
diperoleh.

























Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 16

XI. Kesimpulan
1) Pada percobaan penentuan kadar protein secara biuret, terjadi
pembentukan warna biru ungu, hal inin menunjukkan adanya
pembentukan senyawa kompleks dengan Cu
2+
.
2) Penentuan kadar protein secara biuret didassarkan pada pengukuran
serapan cahaya oleh ikatan kompleks yang berwarna ungu.
3) Semakin tinggi konsentrasi larutan protein maka semakin banyak ikatan
peptida dalam larutan yang menyebabkan pembentukan kompleks semakin
banyak, hal inin dpat dilihat dari warna ungu yang semakin pekat.
4) Addsorban suatu larutan bebrnbanding lurus dengan konsentrasinya,
sehingga semakin besar konsentrasi yang digunaka, maka akan semakin
besarr pula adsorban yang digunakan.
5) Ketelitian menggunakan alat dan mengkaliberasikan suatu alat akan sangat
mempengaruhi hasil pengamatan yang didapatkan.
6) Larutan sampel jangan didiamkan terlalu lama karena dapat menyebabkan
larutan berubah warna menjadi lebih pekat sehingga mempengaruhi hasil
pengamatan.
7) Semakin tinggi konsentrasi maka nilai absorbannya semakin besar
sedangkan nilai % T nya semakin kecil.
8) Adsorban suatu larutan berbanding lurus dengan konsentrasinya, sehingga
semakin besar konsentrasi yang digunakan, maka semakin besar pula
adsorban yang digunakan.
9) Semakin tinggi kepekatan maka akan semakin besar pula nilai absorban
yang didapatkan, artinya akan semakin kecil transmitannya.







Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 17

XII. DAFTAR PUSTAKA

Lehninger, Albert, 1992, Dasar-dasar Biokimia Jilid 1, Erlangga: Jakarta.

Sukaryawan, Made. 2011. Petunjuk Praktikum Biokimia. Universitas
Sriwijaya:Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Wirahadikusumah, Muhammad, 1985, Biokimia, Penerbit ITB: Bandung.
















Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 18


XIII. GAMBAR ALAT
1. pipet tetes

1. gelas ukur

2. beker gelas

3. spektofotometer




4. tabung reaksi

5. batang pengaduk



6. Kuvet


Laporan Tetap Praktikum Biokimia I
Penentuan Kadar Protein Secara Biuret


Riska Ria Lestari (06101410016) 19

XIV. Pertanyaan dan Jawaban
1. Buatlah standar kurva dan tetapkan kadar protein larutan protein yang
diberikan?
Jawab : Kurva seperti yang terlampir

2. Berikan penjelasan tentang hukum Lambert-beer?
Jawab : Hukum lambert-beer menyatakan hubungan antara konsentrasi dengan
adsorbansi yang semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula
absorbansinya.

3. Senyawa apakah yang dapat menganggu cara biuret seperti di atas?
Jawab : Senyawa yang memberikan endapan warna hitam atau merah. Jika hal
tersebut terbentuk maka reagen biuret tidak terbentuk.

4. Mengapa reaksi tersebut juga disebut dengan reaksi biuret?
Jawab : Karena menggunakan reagen biuret

5. Senyawa kompleks apa yang terjadi?
Jawab : Senyawa kompleks bewarna ungu

6. Apakah peptida juga memberikan reaksi biuret, jika memberikan, berikan
penjelasan dan bagaimana cara menentukan kadar protein yang bercampur di
dalam peptide?
Jawab :
Ya, karena pada uji tersebut berfungsi untuk menunjukkan adanya ikatan
peptida pada molekul protein dengan memberikan efek warna ungu. Cara
menentukannya yaitu dengan menambahkan reagen biuret pada larutan protein
dengan pengukuran adsorbansi.