Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP EFISIENSI BOILER MITSUBISHI TIPE SUBCRITICAL FORCE CIRCULATION PLTU TANJUNG JATI B UNIT 4

Hijrah Saputro Raharjo Program Studi Teknik Konversi Energi Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof Sudarto, SH. Tembalang, Semarang Email: hijrahraharjo5@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan tugas akhir ini adalah untuk menganalisis pengaruh perubahan beban terhadap efisiensi boiler dan membandingkan hasil perhitungan efisiensi boiler menggunakan metode heat losses dan metode input output. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan peninjauan terhadap boiler Mitsubishi Tipe Subcrtical Force Circulation PLTU Tanjung Jati B unit 4 dengan pengambilan data analisa abu dan kandungan batubara, temperatur, tekanan, laju aliran dan kandungan O2 gas buang. Perhitungan efisiensi boiler menggunakan dua metode yaitu metode Heat Loss (teoritis) berdasarkan ASME PTC 4.1 dan metode input output (aktual) . Dari hasil analisa diketahui semakin bertambahnya beban maka efisiensi boiler akan semakin meningkat. Untuk metode heat losses, efisiensi boiler terendah pada beban 430 MW sebesar 87,907 % dan efisiensi tertingginya beban 697 MW sebesar 88,108 %. Untuk metode input output, efisiensi boiler terendah pada saat beban 430 MW sebesar 84,23 % dan efisiensi tertingginya pada beban 632 MW sebesar 86,6%. Kata Kunci : Boiler, Efisiensi boiler, Metode heat loss, Beban unit.

1. Pendahuluan Latar Belakang Banyak pabrik pada umumnya mendesain suatu peralatan dengan efisiensi maksimum pada kondisi sedikit di bawah beban nominal, sesuai dengan pertimbangan jangka panjang operasi. Sistem pembebanan pusat pembangkit pada umumnya telah diatur oleh Unit Pengaturan Beban atau lebih dikenal dengan P3B, disesuaikan dengan jumlah kebutuhan konsumen akan tenaga listrik pada saat tertentu. Adanya flukutuasi pembebanan menyebabkan suatu unit pembangkit tidak selalu beroperasi pada kondisi beban nominal. Bila pembebanan tidak sesaui dengan kapasitas yang diinginkan , ada kemungkinan unit tersebut mengalami penurunan efisiensi diluar kelayakan ekonomis.
1

Salah satu cara untuk menghindari kenyataan tersebut adalah mengusahakan selama mungkin unit tersebut beroperasi pada beban puncaknya. Sistem pembangkit seperti ini cocok untuk mensuplai kebutuhan baban dasar , dimana fluktuasi beban boleh dikatakan tidak ada. Pembangkit inilah yang disebut dengan Base Load Plant . Boiler (Steam Generator) adalah salah satu bagian penting dalam suatu sistem pembangkit listrik tenaga uap. Daya gunanya perlu dimonitoring pada saat-saat tertentu guna mengetahui seberapa jauh penurunan daya gunanya baik karena usia maupun karena sebab-sebaba lain,dan juga menjadi salah satu bagian monitoring dari efisiensi pembangkit (plant) secara keseluruhan. Perubahan pembebanan dan seberapa jauh pengaruhnya terhadap efisiensi boiler akan menjadi pembahasan utama dalam

penyusunan Tugas Akhir ini. Untuk itu penulis mencoba mengangkat permasalahan ini dengan judul : PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP EFISIENSI BOILER MITSUBISHI TIPE SUBCRITICAL FORCE CIRCULATION UNIT 4 PLTU TANJUNG JATI B. Tujuan a. Untuk melengkapi syarat akhir studi Diploma III Politeknik Negeri Semarang. b. Untuk mengaplikasikan secara nyata disiplin ilmu yang didapat selama di bangku kuliah. c. Membuktikan adanya pengaruh pembebanan terhadap efisiensi boiler dan menganalisa faktor-faktor yang menyebabkan penurunan efisiensi boiler.

d. Mengetahuui nilai Specific Fuel Consumption (SFC) PLTU Tanjung Jati B Unit 4 berdasarkan perubahan pembebanannya. e. Mempelajari lebih mendalam tentang permasalahan yang timbul berkaitan dengan obyek pembahasan. 2. Tinjauan Pustaka Boiler Boiler (steam generator ) atau boiler uap merupakan suatu kombinasi dari sistemsistem dan peralatan yang dipakai untuk perubahan energi kimia bahan bakar fosil menjadi energi thermal (panas) dan memindahkanya kepada fluida kerja yang biasanya adalah air , untuk dipakai pada proses-proses bertemperatur tinggi ataupun untuk perubahan parsial menjadi energi mekanis di dalam sebuah turbin , sebagaimana biasa terjadi di dalam pusatpusaat pembangkit tenaga uap.

3. Pengambilan Data

0,454 kg/kg refuse

Jadi Heating value total dry refuse ( sebesar,

= = 153,12 KJ/kg
Nilai Calculate refuse rate (W dp) sebesar:

W dp
4. Analisa dan Pembahasan Perhitungan Efisiensi Boiler dengan Heat Loss Method Untuk contoh perhitungannya disajikan pada saat beban 430 MW dengan rincian sebagai beerikut: Berdasarkan Tabel 3.1 diketahui nilai C = 58,027%; H =3,892%; O = 12,387%; dan S = 0,312%. Nilai HHV batubara dapat diketahui sebagai berikut:

= = = 0,0465 kg/kg fuel

Heat Loss due to Carbon in Total Dry Refuse (LUC):

0,03 % HHV Perhitungan Heat Loss due to Heat in Dry Flue Gas (LG)
= 23035,596 Kj/Kg

Perhitungan Heat Loss due to Unburned Carbon in Total Dry Refuse (LUC) Berdasarkan Tabel 3.2 dan Tabel 3.3 diketahui nilai UCb = 0,39 ; UCf = 0,47 ; UCe = 0 ; dan dari Tabel 3.1 diketahui nilai = 4,635 % mass Heating value total dry refuse ( ):

=
Nilai Carbon in Ash (UC) sebesar :

Spesifikasi batubara berdasarkan Tabel 3.1 sebagai berikut: C = 58,027 % mass; S = 0,312% mass ;H = 3,892 % mass ; N=1,172 % mass ;O=12,387% mass; mf= 19,555 % mass Berdasarkan Tabel 3.4 diketahui nilai parameter keadaan udara dan gas buang sebagai: tRA= 30,05 0C ; tG15 = 122,14 0C ; Wma = 0,1814 kg/kg air; O2 15= 5,74 vol dry Dimana Dry gas weight outlet AH ( ):
=

% Vol Dry of CO2 in Air Heater Outle(CO215):

N215

CO215

100 (O215+CO215 100 (5,74 + 80,47 % vol dry

Nilai Carbon Burned (Cb) sebesar:

Jadi nilai Dry gas weight outlet AH ( ) sebesar: = =

Cb

=
= 58,027 = 58,006 kg/kg fuel

)
)

= 10,687 kg/kg fuel Menggunakan rasio kandungan karbon (C) dan hidrogen (H) yang ada pada batubara:

Nilai Volum of Dry Product of Combustion sebesar:

= 18,36

Nilai Theoritical Air (

) sebesar

Pada temperatur 122,14 0C atau 251,85 0F menggunakan Lampiran 3 ,nilai sebesar: Btu/lb/F atau 1,010436 kj/kg/C Heat Loss due to Heat in Dry Flue Gas (LG); % % 4,32 % HHV Perhitungan Heat loss due to Moisture in Fuel (Lmf) Berdasarkan Tabel 3.1 nilai dari : Fuel moisture (mf)= 19,555 % Berdasarkan ASME Steam Table pada saat tG15 = 122,14 0C nilai h15 = Kj/kg,sedangkan saat tRA = 30,05 0C nilai hRw= 125, 94 Kj/kg Heat loss due to Moisture in Fuel (Lmf):

= 7,489 kg/kg fuel Nilai Excess Air = = = 37,058 % Jadi nilai % Vol Dry of CO2 in Air Heater Outle ( CO215)
CO2

sebesar:

= 13,79% vol dry

Nilai % Vol Dry of N2 in Air Heater Outlet (N215) sebesar:


4

2,192% HHV Perhitungan Heat loss due to Moisture from Burning Hydrogen (LH) Berdasarkan Tabel 3.1 nilai dari: Hidrogen (H) = 3,892% Berdasarkan ASME Steam Table pada saat tG15 = 122,14 0C nilai h15 = Kj/kg,sedangkan saat tRA = 30,05 0C nilai hRw= 125, 94 Kj/kg Heat loss due to Moisture from Burning Hydrogen (LH) :

Berdasarkan ASME Steam Table pada saat tG15 = 122,14 0C nilai h15 = Kj/kg, sedangkan saat tRA = 30,05 0C nilai hRv= 2555,67 Kj/kg Heat Loss due to Moisture in Air (Lma):

1,242% HHV Perhitungan Heat Loss due to Surface Radiation and Convection (LB) Berdasarkan ABMA Radiation Loss Chart pada saat beban 430 MW atau 1468203158.3796 Btu/h (1468 x106) Btu/h nilai Heat Loss due to Surface Radiation and Convection (LB) sebesar 0,26% HHV.

3,899% HHV

Perhitungan Heat Loss due to Moisture in Air (Lma) Berdasarkan Tabel 3.4 nilai dari: WmA = 0,1814 kg/kg air Nilai weight of dry air in gas leaving air heater (WA15) ;
WA15 =

Perhitungan Unmeasure Losses (Lun) Berdasarkan desain pabrik nilai Unmeasure Losses (Lun) ditetapkan sebesar 0,15% HHV. Nilai efisiensi boiler :
boiler =100% -(LUC + LG+ Lmf + LH + Lma + LB + Lum) =100% - (0,03+ 4,32+ 2,192+ 3,899 + 1,242+ 0,26 + 0,15)

= 87,907% Jadi perhitungan efisiensi boiler menggunkan metode tidak langsung (Heat Losses Method) pada saat beban unit 430 MW sebesar 88,182 %. Dengan menggunkan cara yang sama untuk beban unit selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 4.1.

= 10,297 kg/kg fuel

Perhitungan

Efisiensi

Boiler

dengan

Untuk perhitungan efisiensi boiler dengan metode input output selanjutnya dapat melihat Tabel 4.2.

Metode Input Output Contoh perhitungan efisiensi boiler dengan metode langsung disajikan pada saat beban unit 430 MW. Parameternya dapat melihat pada Tabel 3.5 dan Tabel 3.6 .

Sesuai Persamaan (2.20) nilai efisiensi boiler : = Dimana nilai sebesar Sehingga nilai efisiensi boiler ( : pada saat beban 430 MW

Analisa Perhitungan Efisiensi Boiler Dari Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 dapat dibuat grafik sebagai berikut:

mengakibatkan kenaikan efisiensi secara signifikan hal ini dikarnakan Rugi panas yang terbawa gas buang kering (LG) ini memiliki kontribusi besar heat losses bila dibanding losses lainnya. Untuk perhitungan dengan metode heat losses, berdasarkan perhitungan nilai efisiensi terendah pada saat beban 430 MW dengan nilai 87,91 %,

Gambar 4.1 Garfik Hubungan Beban Unit Terhadap Efisiensi Boiler

sedangkan efisiensi tertinggi pada saat beban 697 MW dengan nilai 88,108 %. Untuk perhitungan menggunakan metode input output (aktual) dapat dilihat bahwa semakin bertambahnya beban maka

Pada Gambar 4.1 diatas dapat dilihat bahwa semakin bertambahnya beban efisiensi

boiler menggunakan metode heat losses ( teoritis) akan semakin tinggi. Pada setiap kenaikan beban efisiensinya akan naik mengikuti persamaan (y = 3E-06x2 - 0,002x + 88,46 ), hal ini disebabkan pada setiap kenaikan beban total lossesnya semakin menurun bertambah lossesnya. sehingga seiring Jika efisiensinya menurunnya lebih akan total detail

efisiensinya akan semakin tinggi pula. Pada setiap kenaikan beban efisiensinya akan naik mengikuti persamaan (y = -4E-05x2 + 0,057x + 67,58) namun setelah melewati beban 632 MW efisiensinya mulai menurun, hal ini dikarnakan banyak pabrik pada umumnya mendesain suatu peralatan dengan efisiensi maksimum pada kondisi sedikit di bawah beban 100 %, sesuai dengan

meninjau

(lampiran 1) ternyata semakin bertambahnya beban maka nilai LG akan semakin menurun, penurunan nilai LG ini
7

pertimbangan jangka panjang operasi dan

pertimbangan lifetime dari boiler itu sendiri. Berdasarkan perhitungan nilai efisiensi

persamaan (y = 3E-06x2 - 0,002x + 88,46 ) , untuk metode input output kenaikannya mengikuti

terendah pada saat beban 430 MW dengan nilai 84,23 %, sedangkan efisiensi tertinggi pada saat beban 632 MW dengan nilai 86,6 %. Secara umum dapat dilihat bahwa hasil perhitungan efisiensi dengan metode heat losses (teoritis) dan metode input output (aktual) terlampau cukup jauh,hal ini

persamaan (y = -4E-05x2 + 0,057x + 67,58). 3. Menggunakan losses ( metode heat

teoritis)

efisiensi

terendah pada saat beban 430 MW dengan nilai 87,91 %, sedangkan efisiensi tertingginya pada saat beban 697 MW dengan nilai 88,108 %, untuk metode input (aktual) nilai efisiensi

dikarnakan untuk metode input output tidak meninjau panas yang disalurkan ke reheat spray water dan panas yang dibuang akibat blowdown. 5. Kesimpulan

terendah pada saat beban 430 MW dengan nilai 84,23 %, sedangkan efisiensi tertingginya pada saat beban 632 MW dengan

Dari analisa data diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Semakin naik pembebanan maka efisiensi boiler mitsubhisi tipe force circulation PLTU Tanjung Jati B Unit 4 akan semakin naik. 2. Mengunakan metode heat losses kenaikan efisiensinya mengikuti

nilai 86,6 %. 4. Semakin bertambahnya beban efisiensi boiler menggunakan

metode heat losses (teoritis) akan semakin efisiensi naik, boiler sedangkan menggunakan

metode input output (aktual) mengalami penurunan setelah

melewati baban 632 MW.

Team Staff Central Java Power. 2012. Class Room Training Manual Tanjung Jati B Expansion Project 3 & 4. Semarang : PLTU Tanjung Jati B. The Babcock & Wilcox Company. 2004. Tanjung Jati B Boiler Over View. Semarang : PLTU Tanjung Jati B.

DAFTAR PUSTAKA Albash. 2011. Siklus PLTU . http:// www.myalucardster.com, (20 April 2013) . Diapoli, Angga.2013. Boiler Circulation System : Natural Circulation and Force Circulation. http:// www.enggcyclopedia.com ,(24 Juni 2013). Iswahyudi.2011. Heat Exchanger. http:// iswahyudi8962.blogspot.com, (16 Juni 2013). Kadir,Abdul.1996. Pembangkit Tenaga Listrik.Jakarta: Universitas Indonesia. Kurniawan, Tito.2012. Pusat Info Kelistrikan. http:// infolistrik.blogspot.com, (20 Juni 2013). Kuswurj, Risvan. 2012. Potensi Terjadinya Korosi di Peralatan Boiler. http: // www. Risvank.com, (13 Juni 2013). Sugireta .2011. Kurva Beban. http:// watergius.wordpress.com, (22 Juni 2013)