Anda di halaman 1dari 6

Penatalaksanaan Fraktur Nasal

Os nasal merupakan tulang yang paling sering mengalami fraktur di tubuh. Diagnosis yang akurat dan intervensi bedah yang tepat adalah kunci dalam pengelolaan fraktur nasal. Meskipun cedera ini tidak mengancam nyawa, kesalahan pengelolaan fraktur nasal dapat mengakibatkan deformitas baik estetika maupun fungsional. Riwayat yang menyeluruhdan pemeriksaan fisik yang teliti cukup untuk diagnosis fraktur nasal. Kepustakaan di lapangan tidak mendukung penggunaan foto x-ray untuk membantu dalam diagnosis. Mayoritas cedera terlihat setelah edema yang signifikan muncul dan tidak dapat dikurangi secara cermat pada saat itu. Oleh karena itu, dengan pengecualian fraktur yang sangat displace, fraktur terbuka, dan hematoma septum, sebagian besar fraktur nasal seharusnya diobati secara definitif setelah 3

sampai 10 hari sekali pembengkakan telah tertangani. Artikel ini akan membahas struktur anatomihidung yang bersangkutan, karakteristik patofisiologi fraktur nasal, teknik diagnostik, modalitas pengobatan, dan kontroversikontroversi umum yang terkait dengan fraktur nasal.Piramida nasal tersusun atas tulang tipis yang terletak paling menonjol pada bagian sentral dari wajah. Akibatnya, os nasal merupakan tulang pada tubuh yang sering mengalami fraktur. Trauma tumpul seperti tabrakan sepeda motor, cedera saat olahraga, dan pertengkaran fisik merupakan penyebab yang paling umum fraktur os nasal. Diagnosis yang akurat dan intervensi bedah yang tepat merupakan factor kunci penatalaksanaan fraktur os nasal. Meskipun cedera ini tidak mengancam nyawa, kesalahn penatalaksanaan fraktur os nasal dapat mengakibatkan deformitas kosmetik dan fungsional.

ANATOMI HIDUNG Os nasal dipasangkan menyokong setengah bagian atas piramida nasal. Setiap os nasal berartikulasi secara lateral dengan prosesus frontal os maxilla dan berproyeksi secara anterior ke arah garis tengah. Bagian superior, os nasal tebal dan berartikulasi dengan os frontal. Bagian inferior, os nasal menjadi tipis, dan berartikulasi dengan kartilago lateral atas (Gambar 1). Akibatnya, sebagian besar fraktur os nasal terjadi pada setengah bagian bawah os nasal.1 Septum bagian posterior terdiri dari vomer dan lamina perpendecularis os ethmoid dan bertempat di garis tengah belakang os nasal. Sayangnya, tulang-tulang ini tipis dan memberikan sokongan yang kecil pada setengahbagian atas dari hidung (Gambar 2)
Setengah bagian bawah dari hidung disokong oleh 2 kartilago lateral atas, 2 kartilago lateral bawah, dan kartilago quadrangularis (Gambar 1 dan Gambar 2). Kartilago lateral atas memiliki artikulasi jenis fibrosa di bagian superiornyadengan os nasal, di bagian medialnya dengan kartilago quadrangularis medial, dan di bagian inferiornya dengankartilago lateral bawah. Konfigurasi berbentuk sayap burung camar ini memberikan dukungan yang penting untuk "katup nasal internal", bagian dari tahanan terbesar terhadap aliran udara inspirasi. Kartiloago lateral bawah terdiri daricrus medial dan lateral dalam konfigurasi berbentuk sayap burung camar yang sama (Gambar 1). Terdapat hubungan secara fibrosa di bagian superiornya dengan kartilago lateral atas, dan di bagian medialnya satu sama lain. Kartilago lateral bawah tebal dan menggambarkan kontur dari apex nasal dan nostril. Kartilago quadrangularis bertindak sebagai "tiang tenda", memberikan sokongan untuk apex dan dorsum nasi (Gambar 1).

PATOFISIOLOGI FRAKTUR OS NASAL Gangguan traumatik os dan kartilago nasal dapat menyebabkan deformitas eksternal dan obstruksi jalan napasyang bermakna. Jenis dan beratnya fraktur nasal tergantung pada kekuatan, arah, dan mekanisme cedera. Sebuah benda kecil dengan kecepatan tinggi dapat memberikan kerusakan yang sama dengan benda yang lebih besar pada kecepatan yang lebih rendah. Trauma nasal bagian lateral yang paling umum dan dapat mengakibatkan fraktur salah satu atau kedua os nasal. Hal ini sering disertai dengan dislokasi septum nasal di luar krista

maxillaris (Gambar 3, A dan B). Dislokasi septal dapat mengakibatkan dorsum nasi berbentuk S, asimetri apex, dan obstruksi jalan napas. Trauma frontal secara langsung pada hidung sering menyebabkan depresi dan pelebaran dorsum nasi dengan obstruksi nasalyang terkait (Gambar 3, C). Cedera yang lebih parah dapat mengakibatkan kominusi (pecah menjadi kecil-kecil) seluruh piramida nasal (Gambar 3, D). Jika cedera ini tidak didiagnosis dan diperbaiki dengan tepat, pasien akan memiliki hasilkosmetik dan fungsional yang jelek.2 DIAGNOSIS Diagnosis fraktur nasal yang akurat tergantung pada riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Riwayat yang lengkap meliputi penilaian terhadap (1) kekuatan, arah, dan mekanisme cedera; (2) munculnya epistaksis ataurhinorea cairan serebrospinalis, (3) riwayat fraktur atau operasi nasal sebelumnya, dan (4) obstruksi nasal ataudeformitas nasal eksterna setelah cedera. Pemeriksaan fisik yang paling akurat jika dilakukan sebelum timbulnyaedema pasca trauma. Pemeriksaan ini memerlukan pencahayaan yang cukup (lampu kepala atau otoskop), instrumentasi (spekulum hidung), dan suction (sebaiknya tipe Frasier). Inspeksi pada bagian dalam hidung sangat penting. Semua Gambar 1. Anatomi hidung. Hubungan antara os, kartilago, dan septum nasal. Dicetak kembali dengan izin dari Bagian Bedah Otolaringologi-Kepala dan Leher. 3rd ed. Copyright 1998, Mosby-Year Book Inc. Gambar 2. Anatomi septum nasal. 1, os frontal; 2, os nasal; 3, lamina perpendicularis os ethmoid; 4, vomer; 5, os palatine; 6, Krista nasalis os maxilla; dan 7, kartilago quadrangularis. Dicetak kembali dengan izin dari Bagian Bedah Otolaringologi-Kepala dan Leher. 3rd ed. Copyright 1998, Mosby-Year Book Inc. Semua gumpalan harus disedot dengtan lembut dan pendarahan kecil harus dikontrol secara baik dengan kokain 4% atau 0,25% Neo-Synephrine semprot atau larutan (solusio). Setiap laserasi mukosa, gangguan septum, atau hematoma septum harus didokumentasikan. Hematoma Septal memerlukan evakuasi dan drainase segera. Pemeriksaan hidung eksternal dapat memberitahukan adanya laserasi, stepoffs tulang, atau gangguan tulang rawan. Palpasi tulang hidung dapat memberitahukan adanya mobilitas atau krepitasi, yang menunjukkan patah hidung. Setelah anestesi cukup dengan larutan kokain 4%, "bimanual" palpasi dapat dilakukan dengan menempatkan jari pada luar tulang hidung dan hemostat melalui Nares pada permukaan

internal dari tulang hidung. Ecchymosis periorbital, epifera, atau diplopia meningkatkan kecurigaan adanya cedera- cedera orbital terkait. Penggunaan radiografi untuk diagnosis patah tulang hidung adalah tindakan kontroversial. Beberapa penulis telah menyebutkan kebutuhan untuk dokumentasi medikolegal patah tulang hidung. Namun, penelitian sebelumnya telah menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas radiografik yang rendah dalam mendiagnosis patah tulang hidung. Untuk menentukan apakah radiografi sangat membantu, Delacey et al (1977) 3 meninjau 100 pasien dengan cedera hidung yang dirawat di bagian gawat darurat. Penelitian tersebut membandingkan film x-ray normal dengan film x-ray pasien yang diketahui mengalami fraktur hidung. Para peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada efikasi diagnostik dalam film x-ray hidung karena tingginya insiden "kelainan tulang" yang ditemukan pada film x-ray normal/polos .3 Mayell et al (1973) meninjau 107 pasien dengan patah tulang hidung dan menyimpulkan bahwa jika film x-ray yang negatif untuk kelainan hidung, ini tidak mengubah manajemen klinis patah hidung, juga tidak membantu dalam mayoritas reduksi.3Clayton dan Lesser3 menyajikan sebuah studi prospektif terhadap 54 pasien dengan patah tulang hidung. Pasien dinilai secara klinis, radiografis, dan dikerjakan di bawah kondisi teranestesi untuk menghubungkan dengan kebutuhan film x-ray dalam pengelolaan patah hidung. Radiografi ditemukan tidak berguna dalam pengelolaan rutin patah tulang hidung dan tidak mempengaruhi pengelolaan/terapi. 1 Patah tulang hidung dapat secara akurat didiagnosis dengan riwayat menyeluruh dan pemeriksaan fisik. Literatur yang ada di lapangan tidak mendukung penggunaan film x-ray rutin untuk diagnosis patah tulang hidung. Pengelolaan Waktu Tujuan primer pengobatan dalam pengelolaan patah tulang hidung adalah untuk membangun kembali fungsi premorbiddan penampilan kosmetik hidung. Ada beberapa ko ntroversi mengenai waktu pengobatan yang paling tepat. Penilaianpatah tulang hidung yang paling akurat dilakukan segera setelah cedera, sebelum a da edema jaringan yang signifikan.Sayangnya, pasien jarang dievaluasi dengan cepat. Edema jaringan lunak biasanya menutupi patah tulang hidung ringan sampai sedang dan membuat reduksi tertutup segera menjadi sulit. Oleh karena itu, kebanyakan pasien perlu dievaluasi ulang dalam 3 sampai 4 hari. Jika pembengkakan terus berlanjut, masuk akal untuk menguji kembali pasiendi lain 3 sampai 4 hari. Reduksi tertutup dalam waktu 7 sampai 10 hari dapat dicapai di bawah anestesi lokal.Penundaan lebih lama dari 7 sampai 10 hari menghasilkan penyembuhan tulang yang lebih

besar dan potensial meningkatkan kebutuhan untuk osteotomi bedah. Penyembuhan Tulang mungkin terjadi lebih cepat p ada populasianak-anak. Luka yang lebih berat seperti fraktur terbuka, hematoma septum, dan lukaluka dengan cacat eksternalkotor memerlukan intervensi bedah segera. Suatu usaha harus dilakukan untuk secara bedah mereduksi patah tulang hidung yang telah diketahui, ketika pembengkakan dan edema memungkinkan untuk diagnosis yang akurat dan melakukakan tindakan reduksi. Hal ini dapat dilakukan segera jika cedera parah, namun, patah tulang ringan sampai moderat dinilai lebih mudah dan akurat direduksi 3 sampai 10 hari setelah cedera. Tergantung pada tingkat kenyamanan dan pengalaman, reduksi tertutup patah tulang hidung tanpa komplikasi baik dilakukan dengan anestesi lokal dalam lingkup dokter keluarga. Untuk patah tulang moderat complexnasal, fraktur terbuka, atau hematoma septum, konsultasi bedah harus dicari. Sementara itu , patah tulang hidung dapat dikelola melalui reduksi tertutup, beberapa luka pada akhirnya mungkin memerlukan reduksi terbuka melalui septorhinoplasty. Ini biasanya dilakukan pada 6 sampai 12 bulan setelah bekas luka post-trauma melunak. Anestesi Reduksi patah tulang hidung dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau umum, tergantung pada pilihan dokter bedah.Cook et al45 melakukan penelitian prospektif secara acak dari 50 pasien dengan patah tulang hidung, yaitumembandingkan hasil reduksi tertutup di bawah anestesi lokal dibandingkan dengan anestesi umum. Tidak ada perbedaan yang ditemukan antara kelompok perlakuan untuk patensi saluran udara atau hasil secara kosmetiknya.Kelebihan anestesi lokal termasuk mengurangi biaya, fleksibilitas yang lebih besar dalam prosedur waktu, danpenghapusan risiko yang terkait dengan anesthesi umum. Namun, pengobatan anakanak, muda dewasa, atau pasiengelisah mungkin memerlukan anestesi umu m. Penulis menganjurkan penggunaan anestesi lokal bila memungkinkan. Teknik Reduksi patah tulang hidung dapat dicapai baik dengan teknik terbuka atau tertutup. Sebagian besar patah tulanghidung dapat dikelola secara memadai dengan reduksi tertutup. Saraf supratrochlear, saraf infraorbital, dan punggunghidung dibius dengan 1 bagian lidokain hidroklorida 1% menjadi 100.000 bagian epinefrin. Empat persen larutan kokain(di atas lapisan kapas 0.5 x 3.0 cm) digunakan untuk anestesi intranasal. Banyak ahli

bedah juga menggunakan sedasiatau analgesia intravena sebagai tambahan untuk anestesi lokal. Instrumentasi sering diperlukan sebagai alat bantu dalam reduksi. Tulang hidung yang terdepresi distabilkan antaraelevator Boies intranasal dan jari di bagian luar. Elevator tulang hidung mereduksi tulang hidung yang terdepresi karena jari yang berlawanan mendorong tulang hidung kontralateral ke posisi yang benar (Gambar 4). Forsep Walsh danAsch juga dapat digunakan untuk mengurangi fraktur dan dislokasi septum. Splints Eksternal dan pengepakan hidungbiasanya digunakan pasca operasi. Splints dapat berkontur dengan hidung eksternal dan harus disimpa n di tempatselama 7 sampai 14 hari. Bahan umum meliputi plester dari paris, aluminium, dan splints plastik panaslunak. Dengantulang hidung sangat mobile, sebuah kasa berlapis strip antibi otik dapat ditempatkan intranasal untuk menstabilkanreduksi. Kasa yang dik emas tinggi ke ruang depan hidung di bawah tulang hidung, dan harus dibiarkan di tempattersebut selama 4 sampai 7 hari. Pasien harus diberikan antibiotik oral saat kasa pada tempatnya.6 Singkatnya, anamnesis riwayat menyeluruh dan pemeriksaan fisik dengan teliti cukup untuk mendiagnosis patah tulang hidung. Literatur di lapangan tidak mendukung penggunaan film x-ray untuk membantu dalam diagnosis. Mayoritas luka terlihat setelah edema signifikan muncul dan tidak dapat secara akurat direduksi. Oleh karena itu, dengan pengecualian fraktur terlalu displace, fraktur terbuka, dan hematoma septum, fraktur hidung harus diperlakukan secara definitif dalam waktu 3 sampai 10 hari setelah bengkak teratasi. Beberapa luka mungkin memerlukan reduksi terbuka melalui septorhinoplasty. Septorhinoplasty paling efektif dilakukan pada 6 sampai 12 bulan oleh seorang ahli bedah yang berpengalaman. Pasien harus ditindaklanjuti selama 6 sampai 12 bulan pasca operasi untuk menjamin bahwa hasil yang memadai diperoleh.

Penulis:Brian Rubinstein, MD, MS; E. Bradley Strong, MD