Anda di halaman 1dari 19

I.

Identitas Pasien

Nama Umur Alamat Suku Agama Status Pekerjaan Pendidikan terakhir Tanggal masuk RS

: Ny T. : 32 Tahun ( lahir 1981 ) : Cianjur : Jawa-Sunda : Islam : Janda : TKW : SD kelas 3 : 20 Mei 2013

Tanggal Pemeriksaan : 17,18,19 Juni 2013 Diantar Oleh No. Rekam Medik : BNP 2 TKI : 652340

II. Riwayat Psikiatri (autoanamnesa) A. KELUHAN UTAMA Pasien mengeluh sakit kepala belakang,pungguh bawah dan tangan kiri; marah. B. KELUHAN TAMBAHAN Pasien ingin segera dapat pulang ke rumahnya dan masih sering mendengar suara adiknya yang berbisik tentang majikan laki-lakinya.

C. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien wanita berumur 32 tahun, asal Cianjur dibawa ke Bangsal jiwa Dahlia RS Bhayangkara Tk.I Said Sukanto oleh ambulans. Awalnya pasien datang dengan keluhan bahwa ia merasa bingung tidak tau kemana harus pulang setibanya di bandara ,pasien juga mengeluh nyeri kepala bagian belakang yang hilang timbul dan nyeri dipunggung bawah serta tangan sebelah kiri. Menurut pengakuan pasien, ia baru saja pulang dari kerja di Jordania selama 9 bulan. Selama bekerja disana, ia merasa diperlakukan sangat tidak baik oleh majikan dan anak-anak majikan. Ia bermaksud untuk pulang ke kampung halaman, akan tetapi setibanya di bandara Jakarta ia diantar oleh petugas bandara karena menurut pengakuan pasien dia bingung dan tidak tahu harus kemana.Kemudian dari bandara pasien dibawa ke kedutaan Indonesia di jakarta, setelah itu ke RS.Polri. Pasien Sebelumnya pasien memilki riwayat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di jakarta sebelum menjadi TKW pada 4,tetapi karena diajak oleh teman dan kebutuhan yang meningkat maka pasien mencoba bekerja sebagai TKW.. Selama pengalaman bekerja sebagai pembantu rumah tangga pasien mengaku diperlakuan dengan baik dan tidak pernah dipukul. Namun pada saat bekerja sebagai TKW,pasien mengaku bahwa sejak hari pertama diperlakukan tidak baik oleh majikan dan anak-anak majikannya,pasien sering dipukul dibagain perut dan terkadang dipukul bagian kepalanya selain kedua majikannya anak-anak majikannya juga sering menggangu pasien,seperti menumpahkan minuman pada saat pasien ingin minum ataupun hal-hal buruk lainnya awalnya pasien tidak mengetahui mengapa pasien diperlakukan seperti itu, namun setelah kerja beberapa bulan disana pasien merasa bahwa majikan perempuannya cemburu terhadap dirinya karena pasien merasa majikan laki-lakinya menyukai dirinya selain itu pasien mengakui hampir diperkosa oleh 7 orang laki-laki yang pasien tidak tahu darimana asalnya. Setelah 3 bulan kerja pasien sudah berkali-kali meminta untuk pindah kerja ketempat lain ataupun meminta ijin pulang kepada majikannya, namun selalu dilarang oleh majikannya seperti di ancam ataupun perlakuan kasar lainnya.Beberapa bulan berikutnya pasien merasa sangat sedih dan sering menangis tetapi tidak ada tempat untuk mengadu, semenjak itu pasien sering merindukan anaknya dan sering mendengar bisikan suara anaknya ketika sedang ingin tidur ataupun bisikan mengenai majikan laki-lakinya yang menurut pengakuan pasien majikannya menyukai dirinya dan ingin memperkosanya. Namun setelah beberapa bulan

berikutnya akhirnya pasien diijinkan pulang karena menurut majikannya dia sudah tidak bisa bekerja lagi, dan juga ditolong oleh teman TKWnya yang mengetahui kondisi pasien. Dari pengakuan pasien, semenjak dibawa ke RS Polri, pasien masih sering mendengar bisikan bisikan mengenai majikan laki-laki dan anaknya,namun sudah mulai berkurang pada saat ini, karena pasien mengaku pasien diajarkan untuk menutup kuping oleh perawat agar bisikan itu hilang.Hingga saat ini (anamnesis terakhir tanggal 20 Juni ) pasien mengaku masih sesekali mendengar suara mengenai majikannya ditambah bisikan suara ingin pulang yang didengarnya pada saat pasien ingin tidur atau jika sedang merasa sedih. Pasien mengaku sudah pernah menikah dua kali dan memiliki 1 orang anak ( anak pertama laki-laki berumur 9 tahun) yang berasa dari suami pertama dan tidak memiliki anak dari suami kedua.Tetapi pada saat ini pasien sudah bercerai.Pasien menceritakan bahwa kedua mantan suaminya sering melakukan kekerasan seperti menampar dan memukul pasien jika melakukan kesalahan atau ketika sedang bertengkar mengenai masalah rumah tangga, yang berujung dengan stress dan sedih sehingga pasien memutuskan untuk bercerai. Anak lakilakinya sekarang masih bersekolah SD kelas 4 dan tinggal dengan kedua orang tua pasien di kampung. Pasien masih berkomunikasi dengan anak-anaknya melalui telepon seluler. Terakhir kali menghubungi anak-anaknya adalah ketika ia masih bekerja di Jordan ( sekitar 3 bulan lalu ). D. RIWAYAT GANGGUAN DAHULU Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. Riwayat minum alkohol disangkal Riwayat minum obat-obatan terlarang (NAPZA) disangkal Riwayat trauma sebelum menjadi TKW disangkal.

E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI a. Riwayat Prenatal Pasien menyatakan bahwa kelahirannya dibantu oleh dukun beranak b. Masa kanak a. Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun) Pasien mengaku tidak terlalu ingat masa-masa tersebut namun pasien tinggal bersama dengan kedua orang tuanya membantu bertani setelah berhenti sekolah , hingga dia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
3

b. Riwayat masa kanan akhir (puberta) dan remaja Pasien mengaku menarche sekitar usia 12 tahun. Pasien juga ingat dipesankan oleh kedua orang tuanya untuk selalu menjaga dirinya ketika bekerja dan jangan melupakan anak satu-satunya. c. Riwayat Masa Dewasa

1. Riwayat Pendidikan Pasien mengaku sempat mengalami pendidikan hingga kelas 3 SD. Pasien tidak melanjutkan pendidikan karena masalah biaya. 2. Riwayat Pekerjaan Pasien baru pertamakali bekerja di luar negri. Namun sebelumnya pasien sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga namun berhenti karena ditawarkan untuk bekerja sebagai TKW dan pasien merasa membutuhkan dana yang lebih besar untuk menafkahi anak dan keluarga dan berhenti tanpa masalah. Namun kemudian setelah menjadi TKW di Jordan pasien merasakan tindakan yang kasar dari majikannya sehingga pasien merasa sedih dan sering menangis yang pada akhirnya menggangu pekerjaan pasien dan dipulangkan. 3. Riwayat Pernikahan Pasien pernah menikah 2. Pernikahannya yang pertama pada tahun 2001 hanya bertahan 8 tahun dan dikaruniai 1 orang anak ( laki-laki). Pernikahannya tidak berjalan dengan baik karena suami berlaku kasar pada pasien yang berujung pada perceraian,begitupun dengan suami kedua, yang dinikahinya pada tahun 2010 dan bercerai semenjak 1 tahun yang lalu yang dikarenakan suami berlaku kasar. 4. Riwayat Kehidupan Beragama Pasien mengaku beragama Islam dan rutin menjalankan sholat. 5. Riwayat pelanggaran Hukum Pasien mengaku pernah tidak pernah berurusan dengan hukum. 6. Stressor psikososial
4

Masalah dengan : orang tua : tidak ada Saudara : tidak ada suami : ada dan sudah bercerai. anak : tidak ada teman : tidak ada pekerjaan : ada ketika bekerja sebagai TKW

F. RIWAYAT KELUARGA Pasien merupakan anak ke 11 dari 12 bersaudara. Ia memiliki 1 orang adik dan 10 orang kakak, yang semuanya 5 laki-laki dan 5 perempuan serta kedua orang tua yang diakui masih sehat. Namun pasien menyatakan diantara saudara kandungnya sudah ada 2 yang meninggal tetapi pasien tidak ingat .

Genogram:

Laki-laki Bercerai

Pasien Perempuan

G. KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI Pasien merasa ikut bertanggung jawab terhadap keadaan ekonomi keluarga. Oleh karena itu pasien memutuskan untuk bekerja di luar negri untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga. Pasien merasa ada beban ekonomi berat yang sedang menimpa keluarganya.

H. PERSEPSI PASIEN MENGENAI DIRINYA DAN KEHIDUPAN Pasien merasa bahwa ia hidup dalam keadaan yang baik dan ia merasa bahwa hubunganya dengan orang-orang sekitar dirumah sakit baik,namun ia merasa malu dengan teman-temannya. Dari pengalaman kerjanya, ia merasa sedih karena pengalaman buruk ketika bekerja sebagai TKW,ketika majikan sedang marah-marah atau berperilaku kasar terhadap dirinya. Pasien merasa sudah cukup membaik terhadap traumanya sekarang dan ia ingin segera bertemu dengan anggota keluarganya yang lain karena ia sudah sangat rindu. . III. STATUS MENTAL (17,18 ,19 ,20 Juni 2013) A. Deskripsi Umum 1. Penampilan : Cara berpakaian rapi; warna rambut hitam; tidak memakai riasan wajah;postur tubuh baik-cenderung kurus; kebersihan diri cukup; tampak sesuai usia; sikap ramah dan terbuka terhadap pemeriksa 2. Kesadaran : a. Kesadaran neurologik : kompos mentis b. Kesadaran Psikologis : tidak terganggu c. Kesadaran Sosial : mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekitar,namun sedikit menarik diri karena pasien merasa malu.

3. Pembicaraan : tidak spontan namun lancar; intonasi normal dan bersemangat; menjawab sesuai pertanyaan; artikulasi baik; isi pembicaraan dapat dimengerti dan alurnya runtut).

4. Perilaku dan aktivitas psikomotor : sebelum wawancara pasien tampak tenang dan selalu berdiam diri di atas kasur; selama wawancara pasien duduk tenang namun tidak mau menatap lawan bicara dikarenakan malu. Secara umum tampak normal tanpa adanya aktivitas psikomotor berlebih serta fokus pada pembicaraan yang sedang dilakukan. 5. Sikap terhadap pemeriksa : pasien bersikap kooperatiif dan terbuka .

B. Alam Perasaan o Mood : eutim- cenderung depresi o Afek : stabil dan sesuai- reaksi sedih muncul ketika berbicara masalah lampau dengan suami; terlihat malu ketika diajak bercanda dan jika ditanya mengenai majikan laki-lakinya o Empati : pemeriksa dapat meraba-rasa emosi pasien dan sebaliknya. o Echt : pasien tampak sungguh-sungguh bercerita.

C. Gangguan persepsi o Halusinasi : masih beberapa kali berhalusinasi auditorik o Waham: Selalu merasa ada yang ingin menjahati atau melukai dan merasa bahwa majikan laki-lakinya menyukai dirinya. o Ilusi : tidak ada o Depersonalisasi : tidak ada o Derealisasi : tidak ada

D. Fungsi Intelektual 1. Taraf pendidikan : sesuai dengan tingkat pendidikan terakhir. 2. Orientasi : o Waktu : baik, pasien tahu bahwa saat pemeriksaan adalah bulan Juni 2013 dan tau bahwa hari pemeriksaan terkahir hari kamis. o Tempat : baik, pasien tahu bahwa ia berada di RS Bhayangkara Tk.1 Said Sukanto. o Orang : baik, pasien tahu bahwa pemeriksa adalah dokter muda dan ia kenal dengan orang-orang di sekitarnya

3. Daya ingat: o Sesaat : baik, pasien dapat mengulang beberapa kata yang diucapkan pemeriksa o Jangka pendek : baik, pasien ingat bahwa ia diantar ke bandara dan dibawa ke kedutaan indonesia lalu dibawa ke RS Polri. dan sudah berada di bangsal Dahlia selama -+ 1 bulan. o Jangka panjang : baik, pasien ingat dengan jelas pengalaman masa kecilnya sewaktu membantu bertani kedua orang tuanya pada umur 6 tahun dan ingat nama ke 12 saudara kandung. o 4. Konsentrasi dan perhatian : baik, pasien dapat menghitung perkalian dan membuat gambar sesuai perintah. 5. Kemampuan membaca dan menulis : baik, pasien dapat membaca tulisan pemeriksa dengan benar dan dapat menulis namanya. 6. Kemampuan visuospasial : baik, pasien mampu menggambar rumah panggung yang ditinggali oleh pasien di kampung. 7. Pikiran abstrak : baik, pasien mampu mendeskripsikan bentuk . 8. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat mandi, mengganti dan mencuci pakaian serta makan sendri

E. Proses Pikir 1. Arus pikiran o Produktivitas : baik o Kontinuitas : baik o Hendaya berbahasa : tidak ada

2. Isi pikir o Preokupasi : tidak ada o Waham : waham kejar.

F. Pengendalian Impuls o Pengendalian impuls pasien saat wawancara dinilai baik

G. Daya nilai o Daya nilai sosial : tidak terganggu o Uji daya nilai : tidak terganggu o Penilaian realita : terganggu, pasien merasa bahwa mendengar suara bisikan adiknya mengenai majikan laki-lakinya yang ingin memperkosanya dan juga mendengar bisikan ingin pulang selain itu pasien juga merasa selalu ada orang yang ingin melukainya.

H. Tilikan Derajat 1, pasien menyangkal bahwa dirinya sedang sakit. I. Taraf dapat dipercaya Pemeriksa memperoleh kesan bahwa keseluruhan jawaban pasien dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Internus Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Suhu Frekuensi nafas Berat badan Tinggi badan Bentuk badan Sistem kardiovaskular Sistem respiratori : baik : compos mentis : 100/70 : 78x/menit : 36,20C : 14x/menit : 46 kg : 150cm : normal : bunyi janyung I-II reguler; gallop (-); murmur (-) : gerak dada selama napas normal dan simetris;vesikuler +/+, Ronchi -/-, wheezing -/Sistem gastrointestinal Sistem muskuloskeletal Sistem urogenital Sistem dermatologi Kelainan khusus lainnya : supel; bising usus (+) normal; nyeri tekan (-); timpani : dalam batas normal : tidak diperiksa : dalam batas normal : tidak ditemukan kelainan

B. Status Neurologik Saraf kranialis : dalam batas normal Mata : dapat mengikuti gerakan tangan pemeriksa; nistagmus (-)

10

Pupil : pupil bulat isokor 3mm / 3mm; refleks cahaya langsung +/+, tidak langsung +/+ Pemeriksaan oftalmoskopik : tidak dilakukan Motorik : 5555 5555 5555 5555 Sensorik : Dalam batas normal Refleks fisiologis Refleks patologik Sistem vegetatif : dalam batas normal :: BAB/BAK normal

C. Pemeriksaan Laboratorium Tidak dilakukan

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA o Pasien perempuan berusia 35 tahun datang ke bangsal Dahlia diantar oleh petugas ambulans dalam keadaan bingung karena tidak tahu cara pulang ke kampung. o Pasien baru pertama kali bekerja di luar negri selama 9 bulan di Jordania dan dipulangkan oleh majikan karena sering menurut majikkannya pasien sudah tidak mampu bekerja secara benar yang dikarenakan sering nangis dan berdiam diri. Majikan sering berperilaku kasar seperti memukul kepala,perut dan berbicara kasar. Pada status mental o Adanya gangguan persepsi mengenai diri pasien. Dimana pasien memiliki kepercayaan diri yang tinggi. o Terdapatnya gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik. o Gangguan isi pikir berupa waham kejar o Daya nilai pasien mengenai realita terganggu
11

o Tilikan pasien adalah derajat 1. o Pasien memiliki masalah perkawinan dengan suami di kedua pernikahannya.; Semenjak bekerja sebagai TKW, berkomunikasi dengan anaknya hanya 1x via telepon; Pernah diancam akan dibunuh oleh istri majikan dan hampir diperkosa oleh 7 orang. o Pasien sangat stress dan tertekan dengan majikannya. o Tilikan pasien derajat 1 dengan penyangkalan bahwa dirinya sakit.

VI. FORMULASI DIAGNOSTIK Berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan pada pasien ini ditemukan adanya pola prilaku, pikiran dan perasaan yang secara klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam fungsi pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa. Aksis I Pada pemeriksaan status generalis dan neurologis didapatkan kesadaran pasien compos mentis, tidak terdapat kelainan fisik namun memiliki riwayat trauma, sehingga memungkinkan untuk terjadi F 06.0 Ganguan Mental Lainnya Akibat Kerusakan dan Disfungsi dan Penyakit Fisik Pada anamnesis tidak didapatkan riwayat konsumsi alkohol dan NAPZA sehingga kita dapat menyingkirkan diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat (F1) Pada pasien ini terdapat terlihat gejala depresi. berat yang disertai gangguan psikotik. Pada saat ini ditemukan afek yang

meningkat, peningkatan dalam jumlah aktivitas fisik, harga diri yang tinggi disertai gangguan psikotik berupa waham kejar,halusinasi auditorik yang bersifat mengancam atau menakut-nakuti. Pada pasien ini terdapat halusinasi auditorik dan visual yang sifatnya memberi perintah dan mengancam serta adanya waham curiga dari pasien sehingga berdasarkan PPDGJ III, diagnosis pasien adalah Skizofrenia Paranoid (F.20.0) dengan diagnosis banding (F 07.0 ) Gangguan Mental Organik dan Episode depresi berat gejala psikotik (F 32.2)

12

Aksis II

Tidak didapatkan penemuan yang bermakna untuk menentukan gangguan kepribadian maupun retardasi mental pada pasien ini, sehingga tidak ada diagnosis aksis II (Z.03.2) Aksis III Pada pasien tidak ditemukan kelainan pada kondisi medis secara umum, sehingga tidak ada diagnosis aksis III Aksis IV Pasien merindukan kedua orangtua serta anaknya. Aksis V GAF scale 70-61, beberapa gejala ringan dan menetap, diabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I : F (20.0). Skizofrenia Paranoid dengan diagnosa banding (F 06.0 ) Gangguan Mental Lainnya Akibat Kerusakan dan Disfungsi otak, (F 32.3) Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik, (F 25.1) Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif, Aksis II : Z.03.2 tidak ada diagnosa Aksis III : Tidak ada diagnosa Aksis IV : masalah kelompok pendukung primer, sosial dan pekerjaan Aksis V : GAF scale 70-61, beberapa gejala ringan dan menetap, diabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik

VII. DIAGNOSIS BANDING Gangguan Mental Organik Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
13

Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif

VIII. ANJURAN PENATALAKSANAAN o Terapi yang diberikan : Abilify 1x10mg o Psikoterapi untuk membantu pasien mengubah pemahaman mengenai realitas bahwa suara yang di dengar itu bukanlah sesuatu yang nyata dan mendukung pasien agar mulai berani untuk lebih berinteraksi dengan teman dan lingkungan sekitar,serta memberi pengertian bahwa trauma yang di laluinya merupakan hanya masa lalu dan tidak perlu takut akan kejadian tersebut lagi. IX. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad fungsionam Quo ad sanationam : bonam : dubia ad bonam : dubia

X. TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN Skizofrenia Suatu deskripsi dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalan penyakit (tak selalu bersifat kronik atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemauan intelektual biasanya teteap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.

PEDOMAN DIAGNOSTIK SKIZOFRENIA MENURUT PPDGJ III : 1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) : a) - Thought echo = isi pikiran dirinyasendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) , dan isi pikiran ulangan, walaupun isi sama, namun kualitasnya berbeda; atau
14

-Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan -Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya; b) -Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau -Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau -Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan tertentu dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk ke pergerakan tubuh atau anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus); -Delusional perception = pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna, sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat; c) Halusinasi auditorik: - Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau - Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau - jenis suara halusinasi lain yang berasla dari salah satu bagian tubuh d) Waham waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain). 2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas : a) Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide ide berlebihan (over loaded ideas) yang menetap, atau yang apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan bulan terus menerus;

15

b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme; c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor; d) Gejala gejala negatif, seperti sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika; 3. Adanya gejala gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal); 4. Harus ada suatu perbuatan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

DIAGNOSA KERJA : F 20.0 Skizofrenia Paranoid 1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia 2. Sebagai tambahan : Halusinasi dan/atau waham harus menonjol; a) Suara suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing); b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol; c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (deusion of influence), atau passivity

16

(delusion of passivity), dan keyakinan dikejar kejar beraneka ragam, adalah yang paling khas; Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

Diagnosa Banding: F 06.Gangguan Mental Lainnya Akibat Kerusakan dan disfungsi Otak dan Penyakit Fisik. Adanya penyakit , kerusakan atau disfungsi otak atau penyakit fisik sistemik yang diketehuai berhubungan dengan salah satu sindrom mental yang tercantum Adanya hubungan waktu ( dalam beberapa minggu atau bulan ) antara perkembangan penyakit yang mendasari dengan timbulnya sindrom mental; Kesembuhan dari gangguan mental setelah perbaikan atau dihilangkannya penyebab yang mendasarinya. Tidak adanya bukti yang mengarah pada penyebab alternatif dari sindrom mental ini (seperti pengaruh ) yang kuat dari riwayat keluarga atau pengaruh stress sebagai pencetus)

F32

EPISODE DEPRESIF Gejala utama ( pada derajat ringan, sedang, dan berat ): Afek depresif Kehilangan minat dan kegembiraan, dan Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas Gejala lainnya : (a) Kosentrasi dan perhatian berkurang (b) Harga diri dan kepercayaan berkurang (c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
17

(d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis (e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri sendiri atau bunuh diri. (f) Tidur terganggu (g) Nafsu makan berkurang Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat. Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1) dan berat (F32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresif berulang (F33.-)

F32.2 Episode Depresif Berat Tanpa gejala Psikotik Semua 3 gejala utama dari depresi harus ada. Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan diantaranya harus berintensitas berat. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan. Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala sangat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu. Sangat tidak mungkin bagi pasien meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.

18

Episode Depresif Berat Dengan Gejala Psikotik Episode Depresi Berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut diatas. Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan, atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab akan hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Reteardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afek (mood congruent).

(F25.1). Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif Pedoman diagnostik Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar episode di dominasi oleh skizoafektif tipe depresif Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya dua gejala khas, baik depresif maupun kelainan perilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F 32) Dalam episode yang sama, sedikitnya harus jelas ada satu dan sebaikny ada dua, gejala khas skizofrenia (sebagaimana ditetapkan dalam pedoman diagnostik skizofrenia, F.20.- (a) (d))

19