Anda di halaman 1dari 11

Nama NIM

: Dyna Puspasari : J111 10 131

1. Perbedaan anatara teknik wawancara dan kuisioner : Wawancara A. Pengertian Menurut pengertiannya wawancara adalah Tekhnik pengumpulan data atau informasi dari informan dan atau Responden yang sudah di tetapkan, di lakukan dengan cara Tanya jawab sepihak tetapi sistematis atas dasar tujuan penelitian yang hendak di capai. Menurut beberapa ahli, wawancara juga di definiusikan sebagai berikut : Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (Tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung ( I. Djumhur dan Muh.Surya, 1985 ). Wawancara adalah salah satu metode untuk mendapatkan data anak atau orang tua dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan/face to face relation ( BimoWalgito, 1987 ). Wawancara adalah alat untuk memperoleh data atau fakta atau informasi dari seorang murid secara lisan ( Dewa Ktut Sukardi, 1983 ). Wawancara informatif adalah suatu alat untuk memperoleh fakta/data informasi dari murid secara lisan . Dengan tujuan mendapatkan data yang diperlukan untuk bimbingan (WS. Winkel, 1995). B. Tujuan wawancara. Ada berbagai tujuan yang dapat dicapai dalam wawancara yaitu : 1. Menciptakan hubungan baik diantara dua pihak yang terlibat ( subyek wawancara dan pewawancara ). Pertemuan itu harus bebas dari segala kecemasan dan ketakutan sehingga memungkinkan subyek wawancara menyatakan sikap dan perasaan dengan bebas, tanpa mekanisme pertahanan diri yang kadang-kadang menghambat pernyataannya. 2. Meredakan ketegangan yang terdapat dalam subyek wawancara. Oleh karena subyek wawancara pada umumnya membawa berbagai ketegangan emosi ke dalam pertemuan dalam wawancara itu, maka kedua belah pihak harus berusaha meredakan ketegangan di dalam dirinya. 3. Menyediakan informasi yang dibutuhkan. Dalam wawancara kedua belah pihak akan mendapat kesempatan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkannya. 4. Mendorong kearah pemahaman diri pada pihak subyek wawancara. Hampir semua subyek wawancara menginginkan pemahaman diri yang lebih baik, dan pada dasarnya memiliki kesanggupan dan bakat yang seringkali tidak dapat berkembangdengan sempurna . Dengan wawancara subyek wawancara akan lebih memahami dirinya. 5. Mendorong ke arah penyusunan kegiatan yang konstruktif pada subyek wawancara. C. Macam-macam Wawancara. 1

Ada bermacam-macam jenis wawancara sesuai dengan tujuannya ataupun sifat - sifat yang lain yang ada dalam wawancara, seperti jumlah orang yang diwawancarai dan menurut peranan yang dimainkan. 1. Menurut funsinya di bedakan antara wawancara primer, pelengkap dan Pengukur a. wawancara Primer, yaitu wawancara yang berfungsi sebagai satusatunya alat pengumpul data yang lainnya ( observasi dan kuesioner ) b wawancara pelengkap, yaitu wawancara yang berfungsi sebagai pelengkap dari alatalat pengumpul data lainnya ( observasi dan kuesioner ) c. wawancara pengukur, yaitu wawancara yang hasilnya di gunakan untuk menguji kebenaran atau kemantapan suatu data/informasi yang di kumpulkan dengan cara lain ( observasi dan kuesioner ). 2. Menurut tekhniknya dibedakan antara wawancara bebas, wawancara terkendali, dan wawancara bebas terkendali a. wawancara bebas, yaitu wawancara antara 2 orang atau lebih yang seolah-olah mengadakan obrolan bebas ( free talk ) tanpa kendali, wawancara bersifat pasif,sebaliknya yang di wawancara bersifat bebas mengemukakan keterangan keterangannya ( yang di wawancara bersifat dominant ). b. wawancara terkendali, yaitu wawancara antara 2 orang atau lebih yang terkendali; pewawancara bertindak sebagai pengarah melalui pertanyaan-pertanyaan dan pokok permasalahan. Jadi merupakan kebalikan dari wawancara bebas c. wawancara bebas terkendali, wawancara ini merupakan perpaduan antara wawancara bebas dan wawancara terkendali. Dengan perpaduan ini dapat saling menutupi kelemahan satu sama lain; pewawancara hanya berperan sebagai pengarah dan yang di wawancara tidak dominan dan tidak pasif 3. Menurut tujuannya, wawancara dapat dibedakan menjadi : a. The employment interview, yaitu interview yang ditujukan untuk mendapatkan gambaran sampai mana sifat-sifat yang dipunyai oleh seseorang terhadap kreteria yang diminta oleh suatu employment. b. Informational interview, yaitu interview yang ditujukan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. c. Administrative interview, yaitu interview yang dijalankan untuk keperluan administrasi, misalnya untuk kesejahteraan organisasi, untuk mendapatkan perubahan-perubahan di dalam tindakannya ( change in behavior ) d. Counseling interview, yaitu interview yang dijalankan untuk keperluan konseling. Interview ini khas dipergunakan dalam proses konseling. 4. Menurut jumlah orang yang diinterview, wawancara dapat dibedakan menjadi : a. Interview perorangan ( individu ), yaitu wawancara yang dilakukan secara perseorangan, yang menyangkut masalah-masalah pribadi yang dialami oleh subyek wawancara. Misalnya : wawancara antara seorang klien dengan seorang petugas bimbingan. b. Interview kelompok, yaitu wawancara yang dilakukan secara kelompok (lebih dari satu orang), Misalnya : antara petugas bimbingan dengan seluruh siswa . 5. Menurut peranan yang dimainkan, wawancara dapat dibedakan menjadi : 2

a. The non directive interview, yaitu interview yang kurang terpimpin dan kurang mendasarkan atas pedoman-pedoman tertentu. Biasanya digunakan dalam proses konseling. b. The focused interview, yaitu interview yang ditujukan kepada orang-orang tertentu yang mempunyai hubungan dengan obyek-obyek yang diselidiki. The repeated interview, yaitu interview yang berulang. Interview ini terutama digunakan untuk mencoba mengikuti perkembangan yang tertentu terutama proses sosial. 6. Berdasarkan sifatnya, wawancara dibedakan menjadi : a. Wawancara langsung, yaitu wawancara yang dilakukan dengan seseorang untuk memperoleh keterangan mengenai orang tersebut. b. Wawancara tidak langsung, yaitu wawancara yang dilakukan dengan seseorang untuk memperoleh keterangan mengenai orang lain. c. Wawancara insidentil, yaitu wawancara yang dilakukan sewaktu-waktu bila dianggap perlu. d. Wawancara berencana, yaitu wawancara yang dilakukan secara berencana pada waktu yang telah ditetapkan. D. Bagian-bagian Wawancara. Dalam wawancara terdapat bagian-bagian tertentu yang dapat dipandang sebagai bagianbagian dari wawancara : 1. Permulaan atau Pendahuluan wawancara. Pada bagian ini terutama ditujukan untuk mendapatkan hubungan yang baik ( dalam mengadakan kontak pertama ) antara interviewer dengan interviewee dan biasanya diisi dengan menyampaikan maksud dan tujuan dari interview itu. Peranan bagian ini penting, karena dengan mengadakan kontak yang pertama ini akan memberikan gambaran tentang jalannya interview selanjutnya. Kalau telah terjadi hubungan yang baik dan timbul perasaan saling mempercayai, maka hal ini telah merupakan sumbangan yang besar artinya dalam perkembangan interview selanjutnya. 2. Inti Interview Bagian ini merupakan bagian di mana maksud serta tujuan interview harus dapat dicapai . Bila maksud dari interview untuk mengumpulkan data tentang latar belakang sosial, maka pada bagian ini maksud itu harus bisa dicapai. 3. Akhir Interview Bagian ini merupakan bagian di mana interview mulai berakhir. Interview dapat ditutup dengan mengadakan penyimpulan tentang apa yang telah dibicarakan ( misalnya : dalam konseling interview ). Kadang-kadang interview ditutup dengan menentukan waktu kapan interview itu akan dilanjutkan lagi, bila masih dibutuhkan mengadakan interview lagi. E. Langkah-langkah Wawancara Pedoman/petunjuk wawancara secara garis besar, sebagai berikut : 1. Persiapan. a. Menentukan tujuan. b. Menetapkan bentuk pertanyaan ( pertanyaan bebas atau terpimpin ). c. Menetapkan responden yang diperkirakan sebagai sumber informasi. 3

d. e. f.

Menetapkan jumlah responden yang akan diwawancarai Menetapkan jadwal pelaksanaan wawancara Mengadakan hubungan dengan responden.

2. Pelaksanaan a. Memilih pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar terarah dan dibutuhkan dalam rangka mengumpulkan informasi. b. Mengadakan wawancara. 3. Penutup. a. Menyusun laporan wawancara secara sistematis b. Mengadakan evaluasi tentang pelaksanaan wawancara c. Mengadakan diskusi tentang hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan wawancara itu. F. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Wawancara. Agar wawancara dapat mencapai hasil yang baik perlu adanya beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengadakan wawancara : 1. Orang yang akan mengadakan wawancara harus mempunyai latar belakang tentang apa yang akan ditanyakan, karena yang akan ditanyakan perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, agar wawancara dapat berlangsung dengan lancar, sistematis, dan teratur. 2. Pewawancara harus menjelaskan dengan sebaik-baiknya apa maksud serta tujuan dari wawancara tersebut. 3. Dalam wawancara harus dijaga agar selalu ada hubungan yang baik. Hubungan baik ini merupakan sumbangan yang besar di dalam jalannya atau hasil wawancara yang akan dapat dicapai. 4. Pewawancara atau pembimbing harus mempunyai sifat dapat dipercaya. Rahasia dari individu yang diwawancarai atau klien harus dapat disimpan dengan baik, sebab kalau tidak demikian, kemungkinan klien tidak akan mengutarakan sesuatu kepada wawancara dengan terbuka. 5. Pertanyaan hendaknya diajukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya harus jelas. 6. Harus dijaga jangan sampai ada hal-hal yang mungkin mengganggu jalannya wawancara. Bila ada hal-hal yang sekiranya dapat mengganggu, sebaiknya hal-hal tersebut disingkirkan lebih dahulu. 7. Bahasa yang digunakan oleh pewawancara harus disesuaikan dengan kemampuan yang diwawancarai. 8. Sekalipun pertanyaan-pertanyaan telah dipersiapkan terlebih dahulu supaya sistematis, tetapi didalam memberikan pertanyaan-pertanyaan jangan sampai kaku, masing-masing pertanyaan dapat diperluas kepada hal-hal yang berhubungandengan pertanyaan itu. 9. Pewawancara atau pembimbing harus menjaga jangan sampai ada waktu diam yang terlalu lama. Hal yang demikian akan mematikan suasana wawancara. 4

10.Pewawancara harus mengadakan kontrol di dalam wawancara. Kalau ada hal-hal yang bertentangan satu dengan yang lainnya perlu pewawancara mencari ketegasan. 11.Pertanyaan-pertanyaan untuk mengadakan kontrol di ajukan setelah wawancara sampai kepada suatu titik tertentu. Jadi jangan sampai memotong pembicarann, karena ini akan mengganggu jalannya wawancara. 12. Lamanya waktu wawancara sebenarnya tergantung, kepada masalahnya. Tetapi pada umumnya wawancara yang terlalu lama akan melelahkan kedua belah pihak. Karenanya waktu wawancara sekitar 30 menit merupakan waktu yang cukup. 13. Di dalam wawancara hendaknya dihindari aku dari pewawancara atau pembimbing. Jangan samapai aku tersebut ditonjol-tonjolkan. 14.Individu yang sukar berbicara tidak boleh dipaksa untuk memberikan keterangan/penjelasan dengan panjang lebar. 15. Tidak terlalu banyak membuat catatan selama wawancara berlangsung. Selalu harus minta ijin pada individu untuk membuat catatan seperlunya. 16. Menghindari pertanyaan yang sugestif, yang mendorong murid untuk memberikan jawaban yang baik dan hindarkan pertanyaan yang hanya menuntut jawaban ya atau tidak. G. Kelebihan dan Keterbatasan Wawancara. 1. Kelebihan Wawancara. a. Wawancara merupakan teknik yang paling tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi subyek wawancara. b. Dapat dilaksanakan terhadap setiap individu dan tingkatan umur. c. Wawancara selalu digunakan untuk mengumpulkan data pelengkap terhadap data yang dikumpulkan dengan teknik lain. d. Dapat diselenggarakan serempak dengan observasi. e. Bahasa dari pewawancara dapat disesuaikan dengan keadaan subyek wawancara. f. Subyek wawancara berhadapan langsung dengan pewawancara, maka diharapkan dapat menimbulkan suasana persaudaraan yang baik, sehingga hal ini akanmempengaruhi hasil wawancara. g. Isi pertanyaan dan caranya mengajukan pertanyaan dapat disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan daya tangkap sebyek wawancara. Baik pewawancara maupun subyek wawancara dapat memberikan penjelasan lebih lanjut bilamana pertanyaan atau jawaban belum jelas. h. Tidak dibatasi oleh kemampuan dan menulis individu, artinya orang tidak dapat membaca atau menulispun dapat diajak wawancara i. Kerahasiaan pribadi lebih terjamin. 2. Keterbatasan Wawancara. a. Kalau pewawancara atau subyek wawancara mempunyai suatu prasangka yang satu kepada yang lain, hasil wawancara tidak akan memuaskan. b. Mengadakan wawancara dengan individu satu persatu memerlukan banyak waktu dan tenaga dan mungkin juga biaya. c. Menuntut keahlian, ketrampilan, dan penguasaan bahasa yang baik dari pewawancara. 5

d. Sangat tergantung kepada kesediaan, kemampuan dan keadaan sementara dari subyek wawancara, yang mungkin sangat menghambat ketelitian hasil wawancara. e. Laju dan materi wawancara sangat dipengaruhi oleh situasi sekitar tempat wawancara. Sekalipun ada segi-segi kelemahan, namun wawancara masih banyak sumbangannya sebagai metode untuk mendapatkan data. Bahkan dalam proses konseling, wawancara merupakan alat yang sangat pokok. H. Sifat-sifat Pertanyaan dalam Wawancara. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam wawancara hendaknya sesuai dengan kebutuhan : a. Pertanyaan yang bersifat mendorong pembahasan dan pemahaman. Contoh: Coba, ceritakan lebih lanjut. Bagaimana menurut pendapatmu. b. Pertanyaan yang menarik pemahaman. Yaitu pertanyaan yang mengandung kata karena, oleh sebab...., mengandung sebab akibat. c. Pertanyaan yang mendorong penerimaan perasaan. Contoh : Apakah anda merasa senang ? d. Pertanyaan yang mendorong sikap/tingkah laku tertentu, ( pertanyaan yang mendorong, memperlua pandangan/memberi dorongan tentang sesuatu hal). Contoh : anda jelaskan, bagaimana hal ini bisa terjadi. I. Kapan sebaiknya Wawancara Diakhiri ? Suatu wawancara diakhiri dengan memperhatikan beberapa hal : 1. Bila data/keterangan yang diperoleh sudah cukup/sesuai dengan harapan pewawancara. 2. Dengan melihat sikap orang yang diwawancarai. 3. Sebaiknya tidak lebih dari 30 menit. 4. Karena wawancara dalam konseling tidak cukup hanya satu kali, maka konselor harus tahu waktu dan konselor harus menjaga agar hubungan baik yang tercipta terjaga dengan berjanji kalau konselor masih bersedia melanjutkan wawancara lagi dilain waktu, jika klien masih menghendaki. J. Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Wawancara. Berhasil tidaknya wawancara ditentukan oleh kedua belah pihak pewawancara dan subyek wawancara yaitu tergantung kepada hal-hal sebagai berikut : 1. Hubungan baik antara pewawancara ( interviewer ) dan subyek wawancara ( interviewee ). 2. Ketrampilan sosial pewawancara yang meliputi : sikap dalam berbuat dan berbicara sikap tidak ingin menang sendiri nada dan irama berbicara kemampuan untuk mempergunakan dan memanipulasi kata-kata yang tepat dalam berbagai suasana dan situasi

3. Pedoman wawancara yang harus disususun bersama-sama dan alat untuk mencatat hasil wawancara itu. KUESIONER Kuesioner adalah instrumen pengumpulan data atau informasi yang dioperasionalisasikan ke dalam bentuk item atau pertanyaan.Penyusunan kuesioner dilakukan dengan harapan dapat mengetahui variable-variabel apa saja yang menurut responden merupakan hal yang penting . Tujuan penyusunan kuesioner adalah untuk memperbaiki bagian-bagian yang dianggap kurang tepat untuk diterapkan dalam pengambilan data terhadap responden. Yang menjadi dasar pembatasan menentukan variabel-variabel tersebut adalah harus dapat dimengerti dan dirasakan manfaatnya. Kuesioner dapat berfungsi sebagai alat dan sekaligus teknik pengumpulan data yang berisi sederet pertanyaan dalam wujud konkrit. Penyusunan kuesioner dilakukan dalam bentuk pertanyaan tertutup. Yang dimaksud dengan pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang membawa responden ke jawaban yang alternatifnya sudah ditetapkan sebelumnya, sehingga responden tinggal memilih pada kolom yang sudah disediakan dengan memberi tanda x (Arikunto, 1998: 151). Dalam hal ini, kuesioner untuk konsumen dibagi jadi 2 (dua) bagian, yaitu : 1. Bagian I berisi tentang pertanyaan mengenai data umum responden. 2. Bagian II berisi pertanyaan mengenai kepentingan dan kepuasan pelanggan. Bentuk pertanyaan adalah tertutup dan responden menentukan pilihan jawaban berdasarkan apa yang sudah ditentukan. Menentukan nilai kepentingan dan kepuasan pelanggan mengenai kualitas jasa pemasaran yang digunakan terdiri dari 5 bagian yaitu 1,2,3,4 dan 5. Skala penilaian untuk persepsi adalah : Bentuk kuesioner lain adalah berisi pertanyaan faktor-faktor peluang dan pertanyaan kritis yang ditujukan kepada karyawan di PT x. Penyebaran kuesioner yang dilakukan sebelumnya melalui uji validasi konstruk untuk mengecek apakah variabel-variabelnya sudah layak atau belum. Penggunaan kuesioner tepat bila : 1. Responden (orang yang merenpons atau menjawab pertanyaan) saling berjauhan. 2.Melibatkan sejumlah orang di dalam proyek sistem, dan berguna bila mengetahui berapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau tidak menyetujui suatu fitur khusu dari sistem yang diajukan. 3. Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat sebelum proyek sistem diberi petunjuk-petunjuk tertentu. 4. Ingin yakin bahwa masalah-masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasi dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut. JENIS PERTANYAAN DALAM KUISONER Perbedaaan pertanyaan dalam wawancara dengan pertanyaan dalam kuesioner adalah dalam wawancara memungkinkan adanya interaksi antara pertanyaan dan artinya. Dalam 7

wawancara analis memiliki peluang untuk menyaring suatu pertanyaan, menetapkan istilah-istilah yang belum jelas, mengubah arus pertanyaan, memberi respons terhadap pandanmgan yang rumit dan umumnya bisa mengontrol agar sesuai dengan konteksnya. Beberapa diantara peluang-peluang diatas juga dimungkinkan dalam kuesioner. Jadi bagi penganalisis pertanyaan-pertanyaan harus benar-benar jelas, arus pertanyaan masuk akal, pertanyaan-pertanyaan dari responden diantisipasi dan susunan pertanyaan direncanakan secara mendetail. Jenis-jenis pertanyaan dalam kuesioner adalah : 1. Pertanyaan Terbuka : pertanyaan-pertanyaan yang memberi pilihan-pilihan respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah jenis respons yang muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa diterjemahkan dengan benar. 2. Pertanyaan Tertutup : pertanyaan-pertanyaan yang membatasi atau menutup pilihanpilihan respons yang tersedia bagi responden. Petunjuk-petunjuk yang harus diikuti saat memilih bahasa untuk kuesioner adalah sebagai berikut : Gunakan bahasa responden kapanpun bila mungkin. Usahakan agar kata-katanya tetap sederhana. Bekerja dengan lebih spesifik lebih baik daripada ketidak-jelasan dalam pilihan katakata. Hindari menggunakan pertanyaan-pertanyaan spesifik.

Pertanyaan harus singkat. Jangan memihak responden dengan berbicara kapada mereka dengan pilihan bahasa tingkat bawah. Hindari bias dalam pilihan kata-katanya. Hindari juga bias dalam pertanyaan pertanyaan yang menyulitkan. Berikan pertanyaan kepada responden yang tepat (maksudnya orang-orang yang mampu merespons). Jangan berasumsi mereka tahu banyak. Pastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut secara teknis cukup akurat sebelum menggunakannya. Gunakan perangkat lunak untuk memeriksa apakah level bacaannya sudah tepat bagi responden.

SKALA DALAM KUISONER Penskalaan adalah proses menetapkan nomor-nomor atau simbol-simbol terhadap suatu atribut atau karakteristik yang bertujuan untuk mengukur atribut atau karakteristik tersebut. Alasan penganalisis sistem mendesain skala adalah sebagai berikut :

Untuk mengukur sikap atau karakteristik orang-orang yang menjawab kuesioner. Agar respoden memilih subjek kuesioner.

*Ada empat bentuk skala pengukuran , yaitu : 1. Nominal : Skala nominal digunakan untuk mengklasifikasikan sesuatu. Skala nominal merupakan bentuk pengukuran yang paling lemah, umumnya semua analis bisa menggunakannya untuk memperoleh jumlah total untuk setiap klasifikasi. Contoh : Apa jenis perangkat lunak yang paling sering anda gunakan ? 1 = Pengolah kata, 2 = Spreadsheet, 3 = Basis Data, 4 = Program e-mail 2. Ordinal Skala ordinal sama dengan skala nominal, juga memungkinkan dilakukannya kalsifikasi. Perbedaannya adalah dalam ordinal juga menggunakan susunan posisi. Skala ordinal sangat berguna karena satu kelas lebih besar atau kurang dari kelas lainnya. 3. Interval Skala interval memiliki karakteristik dimana interval di antara masing-masing nomor adalah sama. Berkaitan dengan karakteristik ini, operasi matematisnya bisa ditampilkan dalam data-data kuesioner, sehingga bisa dilakukan analisis yang lebih lengkap. 4. Rasio Skala rasio hampis sama dengan skala interval dalam arti interval-interval di antara nomor diasumsikan sama. Skala rasio memiliki nilai absolut nol. Skala rasio paling jarang digunakan.

MERANCANG KUISONER Merancang formulir-formulir untuk input data sangat penting, demikian juga merancang format kuesioner juga sangat penting dalam rangka mengumpulkan informasi mengenai sikap, keyakinan, perilaku dan karakteristik. 1. Format kuesioner sebaiknya adalah : Memberi ruang kosong secukupnya, Menunjuk pada jarak kosong disekeliling teks halaman atau layar. Untuk meningkatkan tingkat respons gunakan kertas berwarna putih atau sedikit lebih gelap, untuk rancangan survey web gunakan tampilan yang mudah diikuti, dan bila formulirnya berlanjut ke beberapa layar lainya agar mudah menggulung kebagian lainnya.

Memberi ruang yang cukup untuk respons, Meminta responden menandai jawaban dengan lebih jelas. 9

Menggunakan tujuan-tujuan untuk membantu menentukan format. Konsisten dengan gaya.

2. Urutan Pertanyaan Dalam menurutkan pertanyaan perlu dipikirkan tujuan digunakannya kuesioner dan menentukan fungsi masing-masing pertanyaan dalam membantu mencapai tujuan. Pertanyaan-pertanyaan mengenai pentingnya bagi responden untuk terus, pertanyaan harus berkaitan dengan subjek yang dianggap responden penting. Item-item cluster dari isi yang sama.

Menggunakan tendensi asosiasi responden. Kemukakan item yang tidak terlalu kontroversial terlebih dulu.

2. Skala Likert : Rensis Likert telah mengembangkan sebuah skala untuk mengukur sikap masyarakat di tahun 1932 yang sekarang terkenal dengan nama skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa katakata antara lain: Sangat Penting (SP), Penting (P), Ragu-ragu (R), Tidak Penting (TP), Sangat Tidak Penting (STP) . Prosedur dalam membuat skala Likert adalah sebagai berikut 1. Peneliti mengumpulkan item-item yang cukup banyak, relevant dengan masalah yang sedang diteliti, dan terdiri dari item yang cukup jelas disukai dan tidak disuka 2. Kemudian item-item itu dicoba kepada sekelompok responden yang cukup representatif dari populasi yang ingin diteliti 3. Responden di atas diminta untuk mengecek tiap item, apakah ia menyenangi (+) atau tidak menyukainya (-). Respons tersebut dikumpulkan dan jawaban yang memberikan indikasi menyenangi diberi skor tertinggi. Tidak ada masalah untuk memberikan angka 5 untuk yang tertinggi dan skor 1 untuk yang terendah atau sebaliknya. Yang penting adalah konsistensi dari arah sikap yang diperlihatkan. Demikian juga apakah jawaban \'setuju\' atau \'tidak setuju\' disebut yang disenangi, tergantung dari isi pertanyaan dan isi dari item-item yang disusun. 4. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masingmasing item dari individu tersebut.

10

5. Respon dianalisis untuk mengetahui item-item mana yang sangat nyata batasan antara skor tinggi dan skor rendah dalam skala total. Misalnya, responden pada upper 25% dan lower 25% dianalisis untuk melihat sampai berapa jauh tiap item dalam kelompok ini berbeda. Item-item yang tidak menunjukkan beda yang nyata, apakah masuk dalam skortinggi atau rendah juga dibuang untuk mempertahankan konsistensi internal dari pertanyaan. Kelemahan skala Likert 1. Karena ukuran yang digunakan adalah ukuran ordinal, skala Likert hanya dapat mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat membandingkan berapa kali satu individu lebih baik dari individu yang lain. 2. Kadangkala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, karena banyak pola respons terhadap beberapa item akan memberikan skor yang sama.

11