Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS SEORANG WANITA 13 TAHUN DENGAN GINGIVAL ENLARGEMENT

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Kepaniteraan Senior Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun oleh : Leonardo Cahyo Nugroho Risa Ardiani Rika Widyantari 22010112210028 22010112210049 22010112200050

Pembimbing : Drg. Tyas

BAGIAN ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

BAB 1 PENDAHULUAN

Penyakit atau kelainan pada jaringan penyangga yang paling banyak terjadi adalah kelainan gingiva, karena merupakan bagian dari jaringan penyangga yang terletak dipermukaan. Salah satu kelainan itu adalah pembesaran gingiva. Pada keadaan yang normal, jaringan gingiva mengisi ruang di antara tiap gigi. Dimulai pada titik kontak antara dua gigi, kemudian mengelilingi leher gigi dan dilanjutkan ke arah bawah dan samping. Pembesaran gingiva adalah suatu keadaan di mana terjadi penambahan ukuran dari gingiva. Dalam keadaan ini, jaringan gingiva menggelembung secara berlebihan di antara gigi dan atau pada daerah leher gigi. Penambahan ukuran ini dapat terjadi secara hipertrofi, hiperplasia, ataupun kombinasi antara keduanya. Dalam penegakan diagnosis pembesaran gingiva, harus dilakukan anamnesis yang teliti dan melakukan pemeiksaan oral diagnosis. Pasien yang datang dengan keluhan gusinya membesar sebaiknya dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya. Secara umum, penyebab pembesaran gingiva dikelompokkan menjadi empat, yaitu pembesaran gingiva karena inflamasi, pengaruh obatobatan, sistemik, dan herediter. Dengan mengetahui etiologi dari pembesaran gingiva diharapkan dapat mendukung keberhasilan terapi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1Gingiva Normal

Jaringan periodontal terdiri dari gingiva, epitel penghubung, ligamen periodonsium, sementum dan tulang alveolar. Gingiva merupakan bagian mukosa rongga mulut yang mengelilingi gigi dan menutupi linggir (ridge) alveolar. Gingiva sendiri tersusun oleh epitel berkeratin dan jaringan ikat yang berfungsi melindungi jaringan di bawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut (Susanto, 2009). Gingiva yang sehat secara klinis tampak berwarna pink salmon, pada orang kulit hitam (termasuk orang kaukasia) kadang menunjukkan adanya derajat variasi pigmentasi warna coklat pada gingiva (Wolf dkk., 2005). Menurut Santoso (2009), ciri gingiva sehat yaitu berwarna merah muda hingga bervariasi tergantung pada jumlah pigmen melanin pada epitelium, derajat keratinisasi epithelium dan vaskularisasi serta sifat fibrosa dari jaringan ikat dibawahnya, tepinya seperti pisau dan scallop agar sesuai dengan kontur gigi-geligi. Secara histologis kedalaman sulkus pada gingiva sehat maksimal 0,5 mm dan lebar 0,15 mm. Pada saat dilakukan probing, probe dapat berpenetrasi ke dalam epithel junctional sampai 2 mm (Wolf dkk., 2005).

Warna Ginggiva Warna ginggiva normal umumnya merah jambu (coral pink). Hal ini disebabkan oleh adanya pasokan darah, tebal dan derajat lapisan keratin epithelium serta sel-sel pigmen. Warna ini bervariasi untuk setiap orang erat hubungannya dengan pigmentasi kutaneous. Pigmentasi pada ginggiva biasanya terjadi pada individu berkulit gelap. Pigmentasi pada gingiva cekat berkisar dari cokelat sampai hitam. Warna pigmentasi pada mukosa alveolar lebih merah, karena mukosa alveolar tidak mempunyai lapisan keratin dan epitelnya tipis.

Besar Ginggiva Besar ginggiva ditentukan oleh jumlah elemen seluler, interseluler dan pasokan

darah. Perubahan besar ginggiva merupakan gambaran yang paling sering dijumpai pada penyakit periodontal.

Kontur Ginggiva Kontur dan besar ginggiva sangat bervariasi. Keadaan ini dipengaruhi oleh bentuk dan susunan gigi-geligi pada lengkungnya, lokalisasi dan luas area kotak proksimal, dan dimensi embrasure (interdental) gingival oral maupun vestibular. Papilla interdental menutupi bagian interdenterdental sehingga tampak lancip.

Konsistensi Gingival melekat erat ke struktur di bawahnya dan tidak mempunyai lapisan submukosa sehingga ginggiva tidak dapat digerakkan dan kenyal.

Tekstur Permukaan ginggiva cekat berbintik-bintik seperti kulit jeruk. Bintik-bintik ini disebut stipling. Stipling akan terlihat jelas jika permukaan ginggiva dikeringkan. Stipling ini bervariasi dari individu ke individu yang lain dan pada permukaan yang berbeda pada mulut yang sama. Stipling akan lebih jelas terlihat pada permukaan vestibular dibandingkan dengan permukaan oral. Pada permukaan marginal gingival tidak terdapat stipling.

2.2 Pembesaran Gingiva Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodonsium yang menutupi gigi dan berfungsi sebagai jaringan penyangga gigi. Penyakit periodontal yang paling sering terjadi adalah penyakit gingiva, karena gingiva merupakan bagian terluar dari jaringan periodonsium yang dapat terlihat secara langsung sehingga mempengaruhi faktor estetik. Salah satu penyakit gingiva yang sangat menggangu estetik dan fungsional gigi adalah terjadinya

pembesaran gingiva. Kelainan ini menyebabkan perubahan bentuk gingiva yang secara klinis terlihat lebih besar dari normal.

2.2.1 Defenisi Pembesaran gingiva didefenisikan sebagai suatu keadaan dimana ukuran gingiva bertambah dari normal yang dapat menimbulkan masalah estetis dan kebersihan gigi geligi. Klasifikasi dari pembesaran gingiva menurut etiologi dan perubahan patologisnya dibagi menjadi 5, yaitu: 1. Pembesaran gingiva inflamatorik: a) Akut b) Kronik 2. Pembesaran gingiva fibrotik a) Diinduksi oleh obat b) Idiopatik 3. Kombinasi pembesaran (fibrotik dan inflamasi) 4. Pembesaran ginggiva akibat kondisi / penyakit sistemik a) Kondisi sistemik : Kehamilan Pubertas Defisiensi vitamin C Gingivitis sel plasma Pemesaran gingiva non-spesifik

b) Penyakit sistemik : Leukemia Penyakit Granulomatosa (granulomatosis Wegener, sarkoidosis)

5. Pembesaran ginggiva akibat neoplasma (tumor ginggiva) a) Tumor jinak b) Tumor ganas 6. Pembesaran semu (palsu)

Klasifikasi menurut Lokasi dan Distribusi : 1. Terlokalisir = hanya 1 atau beberapa gigi 2. Generalisata = melibatkan seluruh ginggiva pada rongga mulut

3. Papillary = terbatas pada papilla interdental 4. Marginal = terbatas pada ginggiva marginal 5. Diffuse = melibatkan ginggiva marginal, ginggiva terfiksir, dan papilla interdental 6. Diskret = sessile terisolasi, pembesaran bertangkai (tumor like)

2.2 4 Etiologi Pembesaran Gingiva Pembesaran gingiva dapat disebabkan oleh berbagai etiologi dan juga diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor etiologi. 1. Pembesaran gingiva inflamasi Pembesaran gingiva bisa dihasilkan dari perubahan inflamasi kronis atau akut. Perubahan kronis lebih banyak terjadi. Pembesaran inflamasi biasanya adalah komplikasi sekunder dari banyak tipe-tipe pembesaran, dan dikombinasikan dengan oembesaran gingiva. Pembesaran karena Inflamasi Kronis (Ginggivitis Kronis) Gambaran Klinis. Pembesaran gingiva radang kronis berasal dari pembengkakan kecil pada papilla interdental atau gingiva marginal. Pada tahap awal, menghasilkan penonjolan di sekeliling gigi yang terlibat. Tonjolan ini meningkat dalam ukuran sampai menutupi bagian dari mahkota. Pembesaran ini secara umum bersifat papillary atau marginal dan terlokalisasi atau bersifat umum. Perkembangannya sangat lambat dan tanpa sakit kecuali ditambah dengan infeksi atau trauma yang akut. Pembesaran radang gingiva yang kronis sebagai sebuah sessile yang berbeda sendiri atau massa pedunculated yang menyerupai tumor. Pembesaran ini mungkin terdapat pada interpoximal atau gingiva marginal atau perlekatan gingiva. Luka ini lambat untuk tumbuh dan biasanya tanpa rasa nyeri. Pembesaran bisa secara spontan berkurang dalam ukuran, diikuti dengan pembusukan dan kemudian membesar kembali. Pembusukan dengan rasa sakit kadang-kadang terjadi pada lipatan di antara massa dan batasan gingiva. Histopatologi. Pembesaran gingiva radang kronis menunjukkan sifat eksudatif dan proliferatif pada peradangan kronis. Luka yang secara klinis berwarna merah gelap atau merah kebiru-biruan, bersifat lunak dan rapuh dengan permukaan berkilauan yang lembut, dan mudah berdarah yang memiliki sel radang yang melimpah dan mengalir dengan penelanan pembuluh darah, dan berkaitan dengan perubahan degeneratif. Luka yang relatif keras, leathery, dan berwarna merah muda memiliki komponen serat yang lebih besar, dengan melimpahnya fibroblast dan serat kolagen. Bentuk-bentuknya :

1.

Lokal atau Generalisata Diawali dengan bentuk seperti bulatan kecil pada papila interdental dan atau margin gingiva. Pada stadium awal, terjadi penonjolan (bulge) disekitar gigi yang terlibat. Enjolan dapat terlokalisir atau menyeluruh dan berjalan secara lambat dan sedikit nyeri, sampai mengalami komplikasi oleh karena trauma atau infeksi.

2.

Diskret (tumor like) : - Massa bertangkai - Terjadi pada gingiva bagian interproximal atau marginal - Berkembang perlahan, tidak nyeri pada massa tersebut, tetapi nyeri pada ulserasi di lipatan antara massa dan ginggiva - Dapat terjadi reduksi secara spontan, dapat diikuti dengan eksaserbasi dan pembesaran kembali

3.

Perubahan ginggiva yang berhubungan dengan kebiasaan bernafas lewat mulut - Ginggiva tampak merah dan edematous serta tampak mengkilap - Regio maxilla anterior adalah tempat yang menjadi predileksi. Ginggiva yang mengalami perubahan berbatas tegas dengan ginggiva normal - Patofisiologi bagaimana kebiasaan bernafas lewat mulut menyebabkan pembesaran ginggiva tidak sepenuhnya diketahui - Efek kebiasaan bernafas lewat mulut yang merugikan disebakan oleh iritasi menyeluruh pada permukaan yang dehidrasi

Etiologi dari pembesaran inflamasi kronis - Iritasi lokal yang berkepanjangan, kebersihan mulut yang buruk - Faktor-faktor yang menyebabkan akumulasi dan retensi plak : hubungan yang abnormal antara gigi, over hanging margin, impaksi makanan, iritasi saat mengatupkan rahang, terapi ortodontik, kebiasaan seperti bernafas lewat mulut, menekankan lidah ke ginggiva.

Pembesaran karena Inflamasi Akut Abses ginggiva : Abses gingiva biasanya berlokasi di tempat tertentu, nyeri, luka yang menyebar dengan cepat yang biasanya terserang secara mendadak. Secara umum dibatasi pada gingiva marginal atau papilla interdental. Pada tahap awal muncul dengan pembengkakan berwarna merah dengan permukaan berkilauan yang lembut. Dalam waktu 24 jam sampai 48 jam, luka biasanya menjadi berubah-ubah dan berpusat dengan lubang permukaan dari mana eksudat bernanah bisa terlihat. Gigi yang berdekatan selalu sensitif.

Histopatologis. Abses gingiva terdiri dari pusat bernanah pada jaringan konektif dikelilingi sebuah infiltrasi memanjang pada leukosit poli-morfon-nuklear, jaringan edematous, dan penelanan jaringan pembuluh darah. Epitel permukaan memiliki tingkat yang bervariasi pada edema intra dan ekstra-sel, serangan leukosit dan pemborokan.

Etiologi Abses Gingiva : Bakteri yang masuk ke dalam jaringan gingiva Benda asing (misal, bulu sikat gigi yang keras)

Pembesaran Fibrotik : Disebabkan oleh faktor-faktor selain iritasi lokal Sebagian besar kasus terjadi terkait dengan terapi medikamentosa seperti: fenitoin, cyclosporine, nifedipine. 2. Pembesaran gingiva diinduksi obat-obatan 1. Anti konvulsan, misal: phenytoin - Tidak berkaitan dengan durasi, dosis, atau iritasi lokal - Jarang terjadi di bagian gingiva yang tidak terdapat gigi - Menghilang secara spontan setelah penghentian obat - Gambaran klinis : Gambaran klinis dan mikroskopis dari pembesaran gingiva yang disebabkan oleh obat-obat yang berbeda mirip. Diawali oleh pembesaran menyerupai manik-manik yang tidak nyeri (di bagian margin gingiva bagian lingual dan papila interdental, yang kemudian menyatu dan membentuk jaringan masif yang menutupi sebagian mahkota gigi. Hiperplasia gingiva akibat obat yang tidak mengalami komplikasi oleh faktor lokal akan berbentuk seperti buah mulberry, batas tegas, berwarna pink pucat. Permukaannya berbenjol-benjol dan tidak mudah berdarah. Jika mengalami komplikasi akibat faktor lokal akan terjadi pembesaran ukuran dengan warna yang kemerahan atau merah kebiruan dan cenderung mudah berdarah.

2.

Obat imunosupresor, misal: cyclosporine Mekanisme kerja yang pasti tidak diketahui. Pembesaran akibat obat-obatan imunosupresor terjadi pada 30% pasien, baik pemeberian obat secara peroral pembesaran gingiva akibat pemberian fenitoin, tetapi vaskularisasinya maupun intravena. Menurut penelitian, pemberian > 500 mg/hari dapat menginduksi terjadinya pemebesaran gingiva. Secara klinis, gambarannya mirip dengan lebih banyak dibanding akibat fenitoin. Pada beberapa kasus, dapat tampak gambaran inflamasi.

3.

Calcium channel blocker, misal: nifedipine Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat masuknya ion kalsium melalui membran sel jantung dan otot polos sehingga menghambat mobilisasi kalsium intraseluler. Keadaan ini akan menyebabkan dilatasi arteri koronaria dan arteriol, sehinggan meningkatkan suplai oksigen ke otot jkantung dan juga menurunkan hipertensi dengan mendilatasi vaskuler perifer. Nifedipine biasanya juga digunakan bersama cyclosporine pada pasien transplantasi ginjal dan kombinasi kedua obat ini dapat menginduksi pertumbuhan gingiva yang lebih besar.

3. Pembesaran gingiva yang dikaitkan dengan kondisi atau penyakit sistemik a. Pembesaran kondisional seperti pada keadaan pregnansi, pubertas, defisiensi vitamin C, gingivitis sel plasma, pembesaran nonspesifik. Pembesaran Gingiva kondisional terjadi ketika kondisis sistemik pada pasien memperparah respon gingiva pasien terhadap plak gigi. Plak Bakterial berperan penting dalam permulaan pembentukan awal pada pembesaran gingiva ini. Namun, plak bukan semata mata penentu dari gambaran klinis.

Tiga tipe pembesaran gingiva kondisional adalah hormon (kehamilan, puberitas), nutrisional (berhubungan dengan kekurangan vitamin C) dan alergi. 1. Pembesaran Gingiva pada Kehamilan Selama kehamilan terjadi peningkatan kadar hormon progesteron dan estrogen dimana pada akhir trimester ketiga kadar ini bisa mencapai 10-30kali lebih banyak dibandingkan pada saat siklus menstruasi. Hormon-hormon tersebut mempengaruhi permeabilitas vaskuler kemudian memicu edema gingiva dan peningkatan respon inflamasi terhadap plak gigi. Mikroba pada daerah subgingiva juga mengalami peningkatan termasuk Bakteri Provotella intermedia. A. Pembesaran Marginal. Pembesaran marginal gingiva selama kehamilan terjadi akibat peningkatan dari proses inflamasi sebelumnya dan insidennya mencapai 10-70%. Pembesaran gingiva tidak dapat terjadi tanpa peranan dari plak bakterial. Gambaran Klinis : Pembesaran gingiva biasanya luas dan cenderung dibagian interproximal dibandingkan pada permukaan facial dan lingual. Warna pada pembesaran gingiva ini biasanya merah terang atau magenta, lunak, dan memiliki permukaan terang dan tambak lembut. B. Tumor Like Enlargement. Pembesaran ini bukanlah neoplasma, namun merupakan respon inflamasi terahadap plak bakteri yang dipengaruhi juga dengan kondisi pasien. Biasanya pembesaran gingiva ini muncul pada bulan ke tiga kehamilan, tetapi juga bisa muncul lebih awal. Insidennya 1,8-5%. Gambaran klinis : Lesinya tampak tersebar, mushroomlike, massa bulat,pipih yang menonjol dari margin gingiva atau lebih sering dari spasial interproksimal dan melekat dengan atau tanpa tangkai. 2. Pembesaran Gingiva pada masa Pubertas

Pembesaran dari gingiva ini kadang-kadang muncul pada masa pubertas baik pada laki-laki maupun perempuan. Dan ini muncul pada area dengan akumulasi plak. Gambaran klinis : Ukuran dari pembesaran gingival ini berukuran cukup besar. Lokasinya di marginal dan interdental dan berlokasi khas di bulbus papil interproximal. Seringnya pembesaran terletak pada facial gingiva dan bagian

superfisial lingua relatif berubah. Hal ini dikarenakan dari mekanisme lidah dan makanan yang mencegah akumulasi yang besar dari iritasi lokal pada superfisial lingua. Pembesaran ginggiva selama pubertas mempunyai seluruh tampilan klinis yang berhubungan dengan penyakit ginggivitis kronis. Yaitu terkait dalam derajat pembesaran dan kaitannya dengan rekurensi masif yang berhubungan dengan deposit plak yang tumbuh pada pembesaran ginggiva pubertas yang tidak menimbulkan komplikasi. Setelah masa pubertas, pembesaran yang terjadi secara spontan akan berkurang tetapi tidak akan kembali ke bentuk normal kalau plak dan kalkulus yang ada tidak dihilangkan terlebih dahulu. b. Pembesaran gingiva akibat penyakit sistemik seperti pada penyakit leukemia. Pembesaran dan perdarahan gingiva merupakan komplikasi oral yang paling umum dari leukemia. Jaringan gingiva dianggap lebih rentan terhadap infiltrasi sel leukemia yang menyebabkan pengeluaran komponen molekul adhesi endotelial sehingga infiltrasi leukosit meningkat. Klasifikasi etiologi lesi gingiva pada pasien leukemia telah dibuat oleh Barrett. Klasifikasi ini terdiri dari empat kategori yang membedakan antara lesi akibat langsung dari proses penyakit dan perawatan sertayang disebabkan oleh efek sekunder seperti depresi sumsum tulang dan jaringanlimfoid. Kategori 1 adalah lesi yang disebabkan oleh infiltrasi leukemia langsung disertai pembesaran pada gingiva. Kategori 2 berhubungan langsung dengan toksisitas obat yang disebabkan oleh agen kemoterapi. Obat-obatan ini menyebabkan perubahan yang nyata pada gingiva termasuk erosi dan ulserasi. Sebelum transplantasi sumsum tulang, ablasi sumsum tulang dengan kemoterapi, dengan ataupun tanpa radioterapi dapat mengakibatkan retensi epitel, yang akan terlihat memutih dan menebalnya mukosa oral. Obat immunosuppressif siklosporin yang biasa digunakan untuk mencegah terjadinya penolakan setelah transplantasi juga dapat menyebabkan terjadinya hiperplasia gingiva. Kategori 3 terdiri dari efek yang merugikan dari graft versus host reactions. Pada penyakit ini limfosit yang ditrasplantasikan bereaksi terhadap host antigens. Lesi mukosa termasuk lichenoid striae, pelepasan epitel, erosi dan

ulserasi dan dapat berguna sebagai penanda aktivitas graft versus host reactions. Kategori 4 mencakup efek sekunder dari depresi sumsum / jaringan limfoid dan juga perdarahan, ulserasi neutropeni dan rentan terjadi infeksi mikroba. Gambaran klinis periodontal mencakup gingiva pucat, perdarahan karena defisiensi trombosit, resistensi terhadap infeksi. Umumnya perdarahan dan ulserasi gingiva dapat berkurang jika oral higiene yang cukup. 3. Pengukuran Hiperplasi Gingiva
Hiperplasia Index (HI) dapat digunakan sebagai parameter mengukur derajat pembesaran ginggiva. Menurut Seymour penentuannya dilihat dengan skor berikut:

0 = Tidak ada pembesaran interdental papil ke permukaan gigi. 1 = Sedikit pembesaran interdental papil, ujung papil tampak membulat. 2= Pembesaran sedang, papil mengembang meliputi bagian lateral yang melintasi permukaan bukal. Pembesaran gusi kurang dari separuh panjang mahkota gigi. 3= Pembesaran papil, yaitu pembesaran gusi lebih dari separuh panjang mahkota gigi, Bentuk normal papil hilang.

BAB III LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Alamat Agama Pekerjaan Suku No CM : An. AY : 13 tahun : Klipang Blok T 1, Sendang Mulyo, Tembalang : Kristen : Pelajar : Jawa : C391551 : 17 Desember 2012-12-20

Tanggal Kunjungan 2. DATA DASAR A. SUBYEKTIF

Aloanamnesis dengan Ibu Penderita pada tanggal 17 Desember 2012 Jam 12.46 Keluhan Utama : Gusi rahang atas bagian depan bengkak Riwayat Penyakit Sekarang : Kurang lebih dua tahun yang lalu pasien mulai merasakan gusi rahang atas mulai bengkak, merah dan nyeri. Kurang lebih satu tahun yang lalu, setelah pasien menstruasi bengkak pada gusi dirasakan semakin parah. Saat ini gusi pasien mudah berdarah terutama saat menggosok gigi dan makan makanan keras serta mengganggu secara penampilan pasien. Pasien kemudian berobat ke RSDK bagian Gigi Mulut. Riwayat Penyakit Dahulu : Penderita baru pertama kali sakit seperti ini Riwayat sakit jantung (-) Riwayat sakit Hipertensi (-) Riwayat sakit DM (-) Riwayat Flek Paru (-) Riwayat tambalan gigi (-) Riwayat menggunakan gigi palsu (-) Pasien mengaku menggosok gigi dua kali sehari saat mandi Riwayat gusi sering berdarah (-)

Riwayat alergi (-) Riwayat sakit gigi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang sakit serupa riwayat DM, hipertensi, jantung dalam keluaga disangkal Riwayat Sosial Ekonomi Pasien adalah seorang pelajar SMP yang masih menjadi tanggungan dari orang tua. Orang tua pasien bekerja sebagai pegawai negri. Biaya pengobatan ditanggung ASKES. Kesan : sosial ekonomi cukup

B. OBYEKTIF (17 Desember 2012) Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Keadaan Gizi Tanda vital : Tekanan Darah Nadi RR Suhu : 100/60 mmHg : 86 x/menit : 20 x/ menit : Suhu 36,8 oC : Tampak sehat : Kompos mentis : Baik

Pemeriksaan Gigi dan Mulut Ekstra oral Kelenjar Limfe Asimetri muka Intra oral Mukosa pipi kiri/kanan : kanan : tidak ditemukan kelainan kiri : tidak ditemukan kelainan : pembengkakan nnll colli ant (-/-) : (-)

Mukosa palatum durum-molle: tidak ditemukan kelainan Mukosa dasar mulut/lidah Mukosa pharynx : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan

Kelainan periodontal Gingiva RA Gingiva RB Karang gigi Gigi

: tidak ditemukan kelainan : bengkak, merah, nyeri : sedikit bengkak, merah, tidak nyeri : kalkulus (+) RA dan RB : sisa akar gigi 46, Karies superfisial oklusal gigi 36, 37

4. DIAGNOSIS

Diagnosis Keluhan Utama Diagnosis Banding Diagnosis Penyakit lain Gangren Radix 46

: Gingival Enlargement ec Calculus + Hormonal :

5. INITIAL PLAN Pemeriksaan Penunjang Radiologi :

: X Foto Panoramik

6. TERAPI 1. Medikamentosa : Klorhexidin gargle diberikan sehari 2 kali sehari untuk dikumur 2. Konsul ke periodentis CATATAN KEMAJUAN Pada tanggal 20 Desember 2012, pasien datang ke poli kembali Gigi dan Mulut dengan keadaan umum tampak baik. Pasien membawa hasil pemeriksaan radiologi berupa X Foto Panoramik dengan interpretasi sebagai berikut : Struktur tulang tampak baik Tampak impaksi gigi 18, 28 disertai pericoronal lusensi kearah bukal dan 38, 48 disertai pericoronal lusensi kearah mesial tampak sisa akar gigi 46, disertai periapical lusensi Tak tampak karies gigi Tak tampak tumpatan Kanalis alveolaris kanan kiri baik

Terapi Medikamentosa : 1. Amoxicilin tab 3x1 diberikan selama 4 hari 2. Metronidazol 500 mg 2x1selama 5 hari 3. Minosep, obat kumur, dikumurkan selama 20 detik 2xsehari sehabis sikat gigi pro kalkulektomi setelah 1 minggu (menunggu inflamasi pada gingiva berkurang setelah diberikan obat)

BAB IV PEMBAHASAN

Seorang anak perempuan berusia 13 tahun dengan keluhan terdapat pembengkakan pada gusi bagian rahang depan atas. Kurang lebih dua tahun yang lalu pasien mulai merasakan gusi rahang atas mulai bengkak, merah dan nyeri. Kurang lebih satu tahun yang lalu, setelah pasien menstruasi bengkak pada gusi dirasakan semakin parah. Saat ini gusi pasien mudah berdarah terutama saat menggosok gigi dan makan makanan keras serta mengganggu secara penampilan pasien. Pasien kemudian berobat ke poli Gigi dan Mulut

RSUP Dr.Kariadi. Penderita baru pertama kali sakit seperti ini. Riwayat sakit jantung (-), sakit Hipertensi (-), riwayat sakit DM (-), riwayat Flek Paru (-), riwayat tambalan gigi (-), riwayat menggunakan gigi palsu (-), pasien mengaku menggosok gigi dua kali sehari saat mandi, riwayat gusi sering berdarah (-), riwayat alergi (-), riwayat sakit gigi (-). Dari hasil pemeriksaan ekstra oral tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan intraoral ditemukan Gingiva RA bengkak, merah, nyeri. Gingiva RB sedikit bengkak, merah, tidak nyeri. Terdapat kalkulus (+) RA dan RB. Pada pemeriksaan gigi ditemukan sisa akar gigi 46 dan karies superfisial oklusal gigi 36, 37. Pada pemeriksaan radiologis foto panoramix didapatkan impaksi gigi 18, 28 disertai pericoronal lusensi kearah bukal dan 38, 48 disertai pericoronal lusensi kearah mesial dan tampak sisa akar gigi 46, disertai periapical lusensi. Pasien ini didiagnosis sebagai gingival enlargement ec calculus dan hormonal. Untuk terapinya diberikan medikamentosa : Amoxicilin tab 3x1 diberikan selama 4 hari,

Metronidazol 500 mg 2x1selama 5 hari, Minosep, obat kumur, dikumurkan selama 20 detik 2xsehari sehabis sikat gigi serta pro kalkulektomi setelah 1 minggu (menunggu inflamasi pada gingiva berkurang setelah diberikan obat).