Anda di halaman 1dari 24

Makalah Evaluasi Post Pelaksanaan UKGS

ABSTRAK

Karies gigi banyak diderita oleh anak anak, karena karies dipengaruhi oleh faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. UKGS merupakan sarana dalam upaya mengubah perilaku anak dalam memelihara dan menjaga kesehatan gigi dan mulut anak. Pada anak-anak sekolah dasar yang tidak mendapatkan program UKGS kemungkinan terjadinya penyakit gigi akan lebih besar apabila dibandingkan dengan anak-anak sekolah yang mendapatkan program UKGS. Namun evaluasi jumlah karies gigi post UKGS 1 tahun yang lalu pada siswa SDN Karang Rejo IV dan TK Dharma Indria II di wilayah kerja Puskesmas Sumber Sari serta post UKGS 2 tahun yang lalu pada SDN Puger Kulon II di wilayah kerja Puskesmas Mayang mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 di SD Puger Kulon II sebagian siswa gigi sulungnya menderita karies dan pada tahun 2011 jumlah siswa yang menderita karies pada gigi sulung semakin bertambah banyak bahkan ada yang gigi sulungnya tinggal sisa akar serta sudah ditemukan beberapa gigi permanen yang karies. Begitu juga di SD Karang Rejo IV pada tahun 2010 sebagian siswa gigi sulungnya menderita karies dan ditemukan juga karies pada gigi permanen namun pada hasil pemeriksaan tahun 2011 jumlah siswa yang menderita karies semakin meningkat terutama pada gigi sulung. Sedangkan di TK Dharma Indria II hanya karies pada gigi sulung saja yang mengalami peningkatan mengingat pada usia TK gigi permanen belum erupsi. Kata kunci: karies, anak anak, UKGS

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyelenggaraan upaya kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu kegiatan Puskesmas yang bersifat menyeluruh, terpadu dan meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan didalam gedung Puskesmas dan diluar gedung Puskesmas (Depkes RI, 2000). Salah satu kegiatan yang dilakukan diluar gedung Puskesmas adalah Program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah salah satu usaha pokok Puskesmas yang termasuk dalam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Termasuk didalam program UKGS adalah pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada murid-murid sekolah dasar, yaitu meliputi Dental Health Education dan pemeriksaan gigi dan mulut pada murid-murid sekolah dasar yang terpilih, atau pada murid-murid yang membutuhkan perawatan darurat seperti abses, gigi persistensi, dsb (Darwita, RR et al. 2006) Anak usia Sekolah Dasar (SD) tergolong kedalam kelompok rawan penyakit gigi dan mulut. Untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, pemerintah melalui Departemen Kesehatan telah melakukan berbagai upaya pendekatan pelayanan kesehatan, yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan (Herijulianti dkk., 2002). Upaya ini diwujudkan dalam program kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) melalui Puskesmas sebagai salah satu kegiatan pokok Puskesmas dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan anak sekolah. Usaha peningkatan kesehatan gigi dan mulut untuk anak sekolah dilaksanakan melalui kegiatan pokok kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas dan diselenggarakan secara terpadu dengan kegiatan pokok UKS dalam bentuk program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) (Dep. Kes. R. I., 1996). Karies gigi dan penyakit periodontal merupakan penyakit yang paling banyak dijumpai di rongga mulut sehingga merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut. Karies gigi dan penyakit periodontal dapat dicegah melalui penerapan kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut pada anak secara dini dan secara kontinu. Penyakit gigi dan mulut akan sangat berpengaruh pada derajat kesehatan, proses tumbuh kembang, bahkan masa depan anak. Anak-anak rawan kekurangan gizi, rasa sakit pada gigi dan mulut jelas menurunkan selera makan mereka. Dampak lainnya, kemampuan belajar mereka akan menurun sehingga jelas akan berpengaruh pada prestasi belajar hingga hilangnya masa depan anak (Shopia Ida, 2004). Masa anak sekolah merupakan masa untuk meletakkan landasan yang kokoh bagi terwujudnya manusia yang berkualitas dan kesehatan merupakan faktor yang penting yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan

siswa disekolah, kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu bagian dari kesehatan umum yang mempunyai peran penting dalam fungsi kesehatan (Depkes RI, 1996). Makalah ini disusun sebagai bahan evaluasi karies post kegiatan UKGS yang telah dilakukan oleh mahasiswa PKL IKGM III di SDN Karang Rejo IV dan TK Dharma Indria II Kecamatan Sumber Sari serta SDN Puger Kulon II Kecamatan Mayang. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah karies gigi post UKGS 1 tahun yang lalu pada siswa SDN Karang Rejo IVdan TK Dharma Indria II Kecamatan Sumber Sari dan 2 tahun yang lalu pada SDN Puger Kulon II kecamatan Mayang? 1.3 Tujuan Sebagai bahan evaluasi karies gigi post UKGS 1 tahun yang lalu pada siswa SDN Karang Rejo IV dan TK Dharma Indria II kecamatan Sumber Sari dan post UKGS 2 tahun yang lalu pada SDN Puger Kulon II kecamatan Mayang.

1.4 Manfaat Dapat memberikan informasi tentang hasil pemeriksaan gigi post UKGS dan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi sehingga kegiatan UKGS yang selanjutnya bisa lebih baik.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). 2.1.1 Pengertian UKGS Pengertian UKGS menurut Depkes RI (1996) adalah bagian integral dari usaha kesehatan sekolah (UKS) yang melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara terencana, pada para siswa terutama siswa sekolah dasar (SD) dalam kurun waktu tertentu, dilaksanakan secara berkesinambungan melalui paket UKS yaitu paket minimal, paket standart dan paket optimal. 2.1.2 Kegiatan UKGS Kegiatan UKGS meliputi: a. Kegiatan promotif, melipui: 1. Pelatihan guru dan tenaga kesehatan dalam bidang kesehatan gigi. 2. Pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dilakukan oleh guru. b. Kegiatan preventif, meliputi: 1. Sikat gigi masal minimal untuk kelas I, II dan kelas III dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor minimal 1 kali/ bulan. 2. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut. c. Kegiatan kuratif, meliputi:

1. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit. 2. Pelayanan medik gigi dasar. 3. Pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal. 4. Rujukan bagi yang memerlukan (Dep. Kes. R. I., 1996). 2.1.3 Tahap Tahap UKGS Berdasarkan keadaan tenaga dan fasilitas kesehatan gigi di puskesmas, maka kegiatan UKGS menurut Dep. Kes. RI (1996) dibagi dalam beberapa tahap, yaitu: 1. Kegiatan UKGS Tahap I/ Paket Minimal UKS meliputi: a. Pendidikan/ penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dilakukan oleh guru sesuai dengan Kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1994 (Buku Pendidikan Kesehatan). b. Pencegahan penyakit gigi dan mulut bagi siswa SD/ MI, berupa: sikat gigi masal minimal untuk kelas I, II dan kelas III dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor minimal 1 kali/ bulan. c. Untuk siswa SLTP dan SLTA disesuaikan dengan program UKS daerah masing-masing. 2. Kegiatan UKGS Tahap II/ Paket Standar UKS meliputi kegiatan UKGS Tahap I ditambah dengan kegiatan berupa: a. Pelatihan guru dan tenaga kesehatan dalam bidang kesehatan gigi (terintegrasi). b. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut siswa kelas I, diikuti dengan pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal. c. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit. d. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan. e. Rujukan bagi yang memerlukan. 3. Kegiatan UKGS Tahap III/ Paket Optimal UKS meliputi kegiatan UKGS Tahap II ditambah dengan kegiatan berupa: a. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan pada murid kelas I sampai dengan kelas VI (care on demand). b. Pelayanan medik gigi dasar sesuai kebutuhan (treatment need) pada kelas terpilih. 2.1.4 Sasaran UKGS Sasaran UKGS menurut Dep. Kes. R.I. (1996) adalah: 1. 100% SD melaksanakan pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi dan mulut sesuai kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Minimal 80% SD/MI melaksanakan sikat gigi masal. 3. Minimal 50% SD/MI mendapatkan pelayanan medik gigi dasar atas permintaan (care on demand). 4. Minimal 30% SD/MI mendapatkan pelayanan medik gigi dasar atas kebutuhan perawatan (treatment need). 2.1.5 Tujuan UKGS A. Tujuan umum: tercapainya derajat kesehatan gigi dan mulut siswa yang optimal. Indikator derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal berdasarkan Indonesia sehat 2010 adalah 100% murid SD/MI telah mendapat pemeriksaan gigi dan mulut (Dep. Kes. R. I., 2003). B. Tujuan khusus: 1. Siswa mempunyai pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut. 2. Siswa mempunyai sikap/kebiasaan pelihara diri terhadap kesehatan gigi dan mulut. 3. Siswa binaan UKS paket standar, paket optimal mendapat pelayanan medik gigi dasar atas permintaan (care on demand). 4. Siswa sekolah binaan UKS paket optimal pada jenjang kelas terpilih telah mendapat pelayanan medik gigi dasar yang diperlukan (treatment need) (Dep. Kes. R. I., 1996). 2.1.6 Manfaat UKGS Manfaat yang dapat diambil dari kegiatan UKGS adalah: 1. Meningkatnya derajat kesehatan gigi dan mulut siswa 2. Meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut siswa 3. Meningkatnya sikap/kebiasaan pelihara diri terhadap kesehatan gigi dan mulut siswa 4. Siswa mendapatkan pelayanan medik gigi dasar atas permintaan (care on demand) 2.1.7 Tenaga Pelaksana UKGS Menurut Dep. Kes. R.I. (1996), tenaga pelaksana UKGS meliputi: 1. Kepala Puskesmas: a) Sebagai koordinator b) Sebagai pembimbing dan motivator c) Bersama dokter gigi melakukan perencanaan kesehatan gigi dan mulut 2. Dokter Gigi a) Penanggung jawab pelaksanaan operasional.

b) Bersama Kepala Puskesmas dan Perawat gigi menyusun rencana kegiatan, memonitoring program dan evaluasi. c) Membina integrasi dengan unit-unit yang terkait di tingkat Kecamatan, Dati II dan Dati I. d) Memberi bimbingan dan pengarahan kepada tenaga perawat gigi, UKS, guru SD dan dokter kecil. e) Bila tidak ada perawat gigi, dokter gigi dapat sebagai pelaksana UKGS. 3. Perawat Gigi a) Bersama dokter gigi menyusun rencana UKGS dan pemantauan SD. b) Membina kerjasama dengan tenaga UKS dan Depdikbud. c) Melakukan persiapan/ lokakarya mini untuk menyampaikan rencana kepada pelaksana terkait. d) Pengumpulan data yang diperlukan dalam UKGS (data sosiodemografis dan epidemiologis). e) Melakukan kegiatan analisis teknis dan edukatif. f) Monitoring pelaksanaan UKGS g) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan. h) Evaluasi program 4. Petugas UKS a) Terlibat secara penuh dalam penentuan SD, pembinaanguru, dokter kecil, monitoring program dan hubungan dengan Depdikbud. b) Pemeriksaan murid. c) Melaksanakan rujukan. d) Menunjang tugas perawat gigi dalam penyuluhan dan pendidikan kesehatan gigi. 5. Guru SD a) Membantu tenaga kesehatan gigi dalam pengumpulan data/ screening. b) Pendidikan kesehatan gigi pada murid. c) Pembinaan dokter kecil. d) Latihan menggosok gigi. e) Rujukan bila menemukan murid dengan keluhan penyakit gigi. f) Membina kerjasama dengan petugas kesehatan dalam kesehatan lingkungan, jajan. g) Membantu guru dalam sikat gigi bersama. 6. Dokter kecil a) Membantu guru dalam memberi dorongan agar murid berani untuk diperiksa. b) Memberi penyuluhan kesehatan gigi (membantu guru).

c) Memberi petunjuk pada murid tempat berobat gigi. 2.2 Karies Gigi 2.2.1 Pengertian Karies Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi (pits, fissure dan daerah interproximal) meluas ke arah pulpa. Tandanya adalah, adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang ikuti kerusakan komponen organiknya. Akibatnya terjadian infksi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan peri apeks yang dapat menyebabkan nyeri. Banyak faktor yang berhubungan dengan karies gigi, baik faktor langsung yang ada di dalam mulut, maupun faktor yang tidak langsung merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat terjadinya karies gigi. Karies gigi dapat dialami oleh setiap orang dan dapat timbul pada satu permukaan gigi atau lebih. (Tarigan, 1990). Karies merupakan penyakit kronis nomor satu di dunia dan prevalensi penyakit tersebut meningkat pada jaman modern. Peningkatan tersebut dihubungkan dengan perubahan pola dan jenis makanan. Penyebaran penyakit karies dilihat sebagai fenomena gunung es. Menurut Schuurs, karies adalah suatu proses kronis regresif yang disebabkan oleh terganggunya keseimbangan antara gigi dan lingkungan dalam rongga mulut. Pembentukan karies gigi pada anak disebabkan oleh faktor etiologis kompleks.Walaupun terdapat komponen genetik terhadap pembentukan karies, namun faktor hereditas hanya memainkan peran kecil. Karies gigi secara garis besar adalah penyakit dapatan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan. Empat faktor utama harus berinteraksi secara terus menerus untuk menciptakan lesi karies. Faktor-faktor tersebut adalah gigi yang rentan, plak, substrat, dan waktu. Jelas terlihat bahwa karies berhubungan erat dengan kebiasaan orang dalam memelihara dan memperhatikan kebersihan mulutnya. Karies bisa terbentuk bila lingkungan mendukung, dalam hal ini terdapat plak, substrat, dan waktu. Oleh karena itu,pengabaian dalam menjaga kebersihan mulut memudahkan timbulnya karies.Pengabaian perawatan gigi sangat penting dikenali karena hal ini berhubungandengan pengabaian kesehatan secara umum (Pertiwi, 2007).

2.2.2 Klasifikasi Karies Gigi a . Berdasarkan Stadium Karies a. Karies Superfisialis Dimana karies baru mengenai enamel saja, sedang dentin belum terkena terkena.

Gambar 2.1 Karies Superfisialis b. Karies Media Di mana karies sudah mengenai dentin, tetapi belum melebihi setengah dentin.

Gambar 2.2 Karies Media

c. Karies Profunda Di mana karies sudah mengenai lebih dari setengah dentin dan kadang-kadang sudah mengenai pulpa.

Gambar 2.3. Karies Profunda b . Berdasarkan Keparahan atau Kecepatan Berkembangnya a. Karies Ringan Kasusnya disebut ringan jika serangan karies hanya pada gigi yang paling rentan seperti pit (depresi yang kecil, besarnya seujung jarung yang terdapat pada permukaan oklusal dari

gigi molar) dan fisure (suatu celah yang dalam dan memanjang pada permukaan gigi) sedangkan kedalaman kariesnya hanya mengenai lapisan email (iritasi pulpa). b. Karies Sedang Kasusnya dikatakan sedang jika serangan karies meliputi permukaan oklusal dan aproksimal gigi posterior. Kedalaman karies sudah mengenai lapisan dentin (hiperemi pulpa). c. Karies Berat/Parah Kasusnya dikatakan berat jika serangan juga meliputi gigi anterior yang biasanya bebas karies. Kedalaman karies sudah mengenai pulpa, baik pulpa tertutup maupun pulpa terbuka (pulpitis dan gangren pulpa). Karies pada gigi anterior dan posterior sudah meluas ke bagian pulpa. Menurut Parkin dalam G.V. Black bahwa klasifikasi karies gigi dapat dibagi atas 5, yaitu: 1. Kelas I adalah karies yang mengenai permukaan oklusal gigi posterior. 2. Kelas II adalah karies gigi yang sudah mengenai permukaan oklusal dan bagian aproksimal gigi posterior. 3. Kelas III adalah karies yang mengenai bagian aproksimal gigi anterior. 4. Kelas IV adalah karies yang sudah mengenai bagian aproksimal dan meluas ke bagian insisal gigi anterior. 5. Kelas V adalah karies yang mengenai bagian servikal gigi anterior dan posterior. 2.2.3 Etiologi Karies Gigi Ada yang membedakan faktor etiologi atau penyebab karies atas faktor penyebab primer yang langsung mempengaruhi biofilm (lapisan tipis normal pada permukaan gigi yang berasal dari saliva) dan faktor modifikasi yang tidak langsung mempengaruhi biofilm. Karies terjadi bukan disebabkan karena satu kejadian saja seperti penyakit menular lainnya tetapi disebabkan serangkaian proses yang terjadi selama beberapa kurun waktu. Karies merupakan penyakit multifaktorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies. Ada 4 (empat) faktor utama yang memegang peranan yaitu faktor host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet dan faktor waktu, yangdigambarkan sebagai empat lingkaran yang bertumpang tindih.

Sumber: Harris, N.O, Christen, AG, 1995 Gambar 2.4. Model Empat Lingkaran Penyebab Karies Untuk terjadinya karies, maka kondisi setiap faktor tersebut harus saling mendukung yaitu tuan rumah yang rentan, mikroorganisme yang kariogenik, substrat yang sesuai dan waktu yang lama. a. Faktor Host (Tuan Rumah) Ada beberapa hal yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah terhadap karies gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel (email), faktor kimia dan kristalografis, saliva. Kawasan-kawasan yang mudah diserang karies adalah pit dan fisure pada permukaan oklusal dan premolar. Permukaan gigi yang kasar juga dapat menyebabkan plak yang mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi. Kepadatan kristal enamel sangat menentukan kelarutan enamel. Semakin banyak enamel mengandung mineral maka kristal enamel semakin padat dan enamel akan semakin resisten. Gigi susu lebih mudah terserang karies dari pada gigi tetap, hal ini dikarenakan gigi susu lebih banyak mengandung bahan organik dan air dari pada mineral, dan secara kristalografis mineral dari gigi tetap lebih padat bila dibandingkan dengan gigi susu. Alasan mengapa susunan kristal dan mineralisasi gigi susu kurang adalah pembentukan maupun mineralisasi gigi susu terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sedangkan pembentukan dan mineralisasi gigi tetap 7-8 tahun. Saliva mampu meremineralisasikan karies yang masih dini karena banyak sekalimengandung ion kalsium dan fosfat. Kemampuan saliva dalam melakukan remineralisasi meningkat jika ada ion fluor. Selain mempengaruhi komposisi mikroorganisme di dalam plak, saliva juga mempengaruhi pH.4.

b. Faktor Agent (Mikroorganisme) Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Komposisi mikroorganisme dalam plak berbeda-beda, pada awal pembentukan plak,kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptococcus mutans,Streptococcus sanguis, Streptococcus mitis, Streptococcus salivarus , serta beberapa strain lainnya, selain itu dijumpai juga Lactobacillus dan beberapa beberapa spesies Actinomyces. Plak bakteri ini dapat setebal beratus-ratus bakteri sehingga tampak sebagai lapisan putih. Secara histometris plak terdiri dari 70% sel-sel bakteri dan 30% materi interseluler yang pada pokoknya berasal dari bakteri. c. Pengaruh Substrat atau Diet Faktor subtrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena membantuperkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Selain itu,dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta bahan lain yang aktif yang menyababkan timbulnya karies. Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstra sel. Orang yang banyak mengkonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan gigi, sebaliknya pada orang dengan diet banyak mengandung lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak memliki karies gigi. Hal ini dikarenakan adanya pembentukan ekstraseluler matriks (dekstran) yang dihasilkan karbohidrat dari pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Glukosa ini dengan bantuan Streptococcus mutans membentuk dekstran yang merupakan matriks yang melekatkan bakteri pada enamel gigi. Oleh karena itu sukrosamerupakan gula yang paling kariogenik (makanan yang dapat memicu timbulnya kerusakan/karies gigi atau makanan yang kaya akan gula).20 Sukrosa merupakan gula yang paling banyak dikonsumsi, maka sukrosa merupakan penyebab karies yang utama.Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak dengan cepatsampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email. Plak akan tetap bersifat asamselama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal sekitar 7,

dibutuhkan waktu 30-60 menit.Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering dan berulangulang akan tetap menahan pH plak dibawah normal dan menyebabkan demineralisasiemail. d. Faktor Waktu Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Adanya saliva di dalam lingkungan gigi mengakibatkan karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan. Dengan demikian sebenarnya terdapat kesempatan yang baik untuk menghentikan penyakit ini.

BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merpakan penelitian observasional deskriptif. 3.2 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tahun 2009 sampai tahun 2011 di SDN Karang Rejo IV dan TK Dharma Indria II di wilayah Puskesmas Sumbersari dan SDN Puger Kulon II di wilayah Puskesmas Mayang. . 3.3 Alat Pengukuran Alat pengukuran yang digunakan pada penelitian ini adalah metode dokumenter dan data sekunder. 3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel Bebas Kegiatan UKGS

3.4.2 Variabel Terikat Jumlah karies gigi 3.5 Populasi dan Sampel Penelitian 3.5.1 Populasi Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas 2 SDN Karang Rejo IV dan siswa kelas B1 TK Dharma Indria II di wilayah kerja Puskesmas Sumber Sari serta siswa kelas 3 SDN Puger Kulon II. 3.5.2 Sampel Sampel penelitian ini adalah siswa kelas 2 SDN Karang Rejo IV dan siswa kelas B1 TK Dharma Indria II di wilayah kerja Puskesmas Sumber Sari serta siswa kelas 3 SDN Puger Kulon II di wilayah kerja Puskesmas Mayang. 3.5.3 Cara Pengambilan Sampel Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling 3.6 Definisi Operasional a. UKGS sebagai sarana dalam upaya mengubah perilaku siswa dalam memelihara dan menjaga kesehatan gigi dan mulut siswa. b. Karies gigi merupakan penyakit kronis sering terjadi pada anak-anak

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 SDN Karang Rejo IV Hasil pemeriksaan gigi dan mulut siswa kelas II tahun 2010 pada kegiatan UKGS, dari total sejumlah 36 siswa pada gigi sulung diperoleh data yaitu 87 gigi dengan karies Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 39 gigi dengan Gangren Pulpa (GP) sedangkan pada gigi permanen didapatkan 1 gigi dengan karies Iritasi Pulpa (IP) dan 1 gigi dengan gangrene pulpa (GP) baik pada gigi sulung maupun permanen tidak ditemukan gigi dengan Gangren Radik (GR). Pada kegiatan UKGS tahun 2011 dari 39 siswa didapatkan sejumlah 88 gigi dengan karies berupa Iritasi Pulpa(IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 50 gigi dengan karies berupa Gangren Pulpa (GP) serta 28 gigi dengan karies berupa Gangren Radik (GR). Tabel 1. Jumlah Gigi Karies Pada Siswa SDN Karang Rejo IV Tahun 2010 dan 2011 Tahun 2010 (36 siswa) Kelas II Gigi Sulung II Gigi Permanen 1 1 2 1 T.a.a IP, HP 87 GP 39 GR Tahun 2011 (39 siswa) T.a.a IP, HP 88 GP 50 GR 28

4.1.2 TK Dharma Indria II Hasil pemeriksaan gigi kelas B1 pada kegiatan UKGS tahun 2010 dengan jumlah sebanyak 23 siswa diperoleh data pada gigi sulung yaitu 11 gigi dengan karies Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 11 gigi dengan Gangren Pulpa (GP) dan diperoleh data 7 siswa yang giginya tidak ada karies (taa). Pada kegiatan UKGS tahun 2011 dengan total sejumlah 17 siswa didapatkan hasil pemeriksaan pada gigi sulung yaitu sebanyak 24 gigi dengan karies Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 23 gigi dengan Gangren Pulpa (GP), 15 gigi dengan Gangren Radik (GR) serta 5 siswa tanpa karies (taa). Baik pada UKGS tahun 2010 dan 2011 tidak ditemukan karies pada gigi permanen. Tabel 2. Jumlah Karies Pada Siswa TK Dharma Indria II Tahun 2010 dan 2011 Tahun 2010 (23 siswa) Kelas B( gigi sulung) B( gigi permanen) 4.1.3 SD N Puger Kulon II Hasil pemeriksaan gigi pada kegiatan UKGS tahun 2009, pada kelas IIIA dengan total sebanyak 21 siswa pada gigi sulung didapatkan hasil yaitu 45 gigi dengan karies Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 24 gigi dengan Gangren Pulpa (GP) dan 3 siswa yang giginya tanpa karies (taa). Pada kelas IIIB dengan jumlah total sebanyak 24 siswa, didapatkan hasil yaitu 44 gigi dengan Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 32 gigi dengan Gangren Pulpa (GP) dan 5 siswa yang giginya tanpa karies (taa). Baik pada kelas IIIA dan IIIB pada tahun 2009 tidak ditemukan karies pada gigi permanen. Pada kegiatan UKGS tahun 2011 hasil pemeriksaan untuk gigi sulung pada kelas IIIA didapatkan hasil yaitu 40 gigi dengan karies Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 28 gigi dengan Gangren Pulpa (GP) dan 8 gigi dengan Gangren Radik (GR) dan 3 siswa yang kondisi giginya tanpa karies (taa) sedangkan pada gigi permanen 10 gigi ditemukan Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi pulpa (HP). Pada kelas IIIB hasil pemeriksaan untuk gigi sulung yaitu dengan 40 gigi dengan karies Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP), 36 gigi dengan Gangren Pulpa (GP) dan 21 gigi dengan Gangren Radik (GR) sedangkan pada gigi T.a.a IP, HP GP 7 17 11 GR T.a.a 5 Tahun 2011 (17 siswa) IP, HP 24 GP 23 GR 15 -

permanen ditemukan 14 gigi dengan karies berupa Iritasi Pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP). Tabel 3. Jumlah Karies Pada Siswa Kelas IIIA SDN Puger Kulon II Tahun 2009 dan 2011 Kelas IIIA Gigi sulung IIIA Gigi Permanen Tabel 4. Jumlah Karies Pada Siswa Kelas IIIB SDN Puger Kulon II Tahun 2009 dan 2011 Kelas IIIB Gigi sulung IIIB Gigi Permanen 14 Tahun 2009 (24 siswa) T.a.a IP, HP GP GR 5 44 32 Tahun 2011 (25 siswa) T.a.a IP, HP GP GR 2 40 36 21 10 4 Tahun 2009 (21 siswa) T.a.a IP, HP GP GR 3 45 24 Tahun 2011 (23 siswa) T.a.a IP, HP GP GR 3 40 28 8

4.2 Pembahasan Penyakit gigi dan mulut yang sering dijumpai pada anak usia sekolah dasar adalah karies. Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email,dentin dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringankeras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organik. Akibatnya terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri. Usaha pencegahan penyakit gigi dan mulut terutama ditujukan kepada murid-murid sekolah, antara lain melalui program UKGS. Penyuluhan merupakan salah satu program UKGS. Penyuluhan kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang

melalui teknik praktik belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia baik secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat. Anak usia sekolah dasar merupakan usia yang paling efektif dalam menerima pengetahuan perawatan kesehatan gigi. Menanamkan kesadaran, kemauan dan kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut melalui suatu program kesehatan yang terencana dan teratur sangatlah penting, dalam hal ini yaitu melalui program UKGS. UKGS merupakan sarana yang paling tepat untuk menanamkan sikap yang baik terhadap kesehatan gigi dan mulut melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan yang dilakukan serta tindakan dan perawatan yang ada. Berdasarkan kemampuan sarana atau tenaga kesehatan . Meningkatnya jumlah angka karies pada siswa walaupun pernah dilakukan kegiatan UKGS, menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kegiatan UKGS yang telah dilakukan. Menurut Kawuryan (2008), upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada kelompok anak sekolah perlu mendapat perhatian khusus sebab pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang. Keadaan gigi sebelumnya akan berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan gigi pada usia dewasa nanti. Bila ditinjau dari berbagai upaya pencegahan karies gigi melalui kegiatan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) tersebut seharusnya pada usia-usia anak sekolah dasar memiliki angka karies rendah, akan tetapi dilihat dari kenyataan yang ada dan berdasarkan laporan-laporan penelitian yang telah dilakukan sebagian besar datanya menunjukkan adanya tingkat karies gigi pada anak sekolah yang cukup tinggi. Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dengan sasaran anak sekolah adalah pelaksanaan upaya pelayanan kesehatan gigi dan mulut dari tingkat pelayanan promotif, preventif dan kuratif atas dasar permintaan dan kebutuhan. Pelaksanaan ini secara langsung menggabungkan potensi orang tua murid dan guru dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak sekolah, berada dalam dua jalur yaitu, (1) jalur sekolah, potensi orang tua dan guru diarahkan untuk membantu pelaksanaan UKGS dan (2) jalur primary health care, orang tua dan guru yang juga orang tua dirumah mendorong anak-anak mereka dalam melaksanakan kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut mencakup membina UKGS (DepKes RI, 2000). Karies dan penyakit periodontal terjadi akibat terabaikannya kebersihan gigi dan mulut. Kebersihan gigi dan mulut yang terjaga memperkecil terjadinya kerusakan gigi. Tingginya prevalensi penyakit gigi dan mulut pada umumnya disebabkan karena berbagai faktor, antara lain : faktor pengetahuan, sikap dan perilaku atau tindakan dalam memelihara kesehatan gigi yang masih rendah. SKRT (2004) menunjukkan perilaku masyarakat mengenai kebiasaan

menggosok gigi, sebanyak 91% penduduk usia 10 tahun ke atas telah melakukannya setiap hari, namun hanya 7% yang menggosok gigi di waktu yang benar, yaitu sesudah sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Kurangnya pengetahuan murid dan kebiasaan yang salah dalam memelihara gigi juga memperparah jumlah angka penyakit gigi pada anak sekolah. Penanggulangan masalah kesehatan gigi pada anak usia sekolah dapat dilakukan dengan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). UKGS adalah bagian integral dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang melaksanakan pelayanankesehatan gigi dan mulut secara terencana, bagi murid sekolah dasar secaraberkesinambungan. UKGS ditekankan pada upaya promotif dan preventif. Upaya promotif berupa pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi sedangkan preventif berupa pencegahan penyakit gigi (sikat gigi bersama menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor). Untuk jangkauan yang luas usaha ini dapat didelegasikan pada tenaga non dental yaitu : guru, dokter kecil, tenaga kesehatan lainnya (Depkes RI,1999). Tenaga kesehatan gigi di puskesmas (dokter gigi dan perawat gigi) berperan dalam peningkatan kesehatan gigi. Pelaksanaan kegiatan pencegahan yang dilakukan pada anak sekolah dasar meliputi pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi di sekolah, mengajar anak-anak cara menyikat gigi yang baik, melaksanakan sikat gigi masal, melakukan penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I, melakukanpencabutan gigi susu yang sudah waktunya tanggal dan melakukan perawatan gigi (Depkes RI, 1999). Pendidikan kesehatan gigi melalui penyuluhan yang diwujudkan secara berkesinambungan bertujuan merubah perilaku dari aspek pengetahuan, sikap dan tindakan yang tidak sehat ke arah perilaku yang sehat sehingga terciptanya suatu pengertian yang baik mengenai kesehatan gigi dan mulut (Astoeti, 2006). Pada kegiatan UKGS di SDN Puger Kulon II tahun 2009 menunjukkan bahwa hampir sebagian gigi sulung siswa kelas IIIA dan IIIB menderita karies berupa iritasi pulpa, hiperemi pulpa dan gangren pulpa dan ada beberapa siswa dengan kondisi gigi tanpa karies, namun dua tahun kemudian yaitu pada tahun 2011 jumlah gigi sulung siswa yang menderita karies semakin banyak, bahkan ada sebagian siswa yang gigi sulungnya sudah tinggal sisa akar (gangren radik) dan sudah ditemukan siswa yang gigi permanenya mengalami karies berupa Iritasi Pulpa (IP) dan Gangren Pulpa (GP). Begitu juga dengan data pemeriksaan gigi yang dilakukan satu tahun yang lalu di SDN Karang Rejo IV dan TK Dharma Indria II pada tahun 2010 sebagian besar gigi sulung siswa menderita karies berupa iritasi pulpa, hiperemi pulpa dan ganren pulpa dan ada beberapa siswa dengan kondisi gigi tanpa karies, setelah satu tahun kemudian yaitu pada kegiatan UKGS 2011 didapatkan data yang menunjukkan peningkatan jumlah karies baik pada gigi sulung dan permanen dan bahkan ada beberapa siswa yang gigi

sulungnya sudah tinggal sisa akar (gangren radik). Pada TK Dharma Indria tidak ditemukan karies pada gigi permanen mengingat usia anak-anak TK berkisar antara 4-5 tahun dan pada usia tersebut gigi permanen belum erupsi. Berdasarkan hasil pemeriksaan gigi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan UKGS yang telah dilakukan belum mencapai tujuan yang diharapkan. Kegiatan UKGS sendiri dibagi dalam 3 tahap yaitu tahap I, tahap II, dan tahap III. Kegiatan UKGS yang telah dilakukan selama ini belum termasuk dalam ketiganya dikarenakan keterbatasan waktu dan banyaknya cakupan jumlah sekolah dan kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Selain itu kurang termotivasinya tenaga kesehatan gigi di Puskesmas karena program UKGS bukan merupakan program prioritas Puskesmas, lokasi sekolah yang jauh menjadi penyebab kegiatan UKGS di sekolah-sekolah belum bisa dilaksanakan dengan maksimal, sarana dan prasarana yang belum memadai juga merupakan kendala dalam keberhasilan kegiatan UKGS. Kegiatan UKGS yang telah dilakukan oleh tenaga kesehatan meliputi penyuluhan, pemeriksaan gigi dan sikat gigi massal. Untuk menanggulangi masalah tersebut dibutuhkan perhatian dan penanganan yang serius dari tenaga kesehatan, baik dokter gigi dan perawat gigi terhadap program UKGS yang telah dilaksanakan. Dokter gigi dan tenaga kesehatan diharapkan untuk lebih berperan dalam sosialisasi program UKGS. Menurut Usri (2001), terdapat 5 tugas manajerial dokter gigi yaitu: (1) Mengidentifikasi, merencanakan, dan memecahkan masalah serta mengevaluasi program kesehatan gigi dan mulut, (2) Mengkoordinir dan memonitor pelaksanaan program kesehatan gigi, (3) Mengkoordinir serta menggerakkan tenaga perawat gigi dalam memberikan pelayanan asuhan, (4) Membimbing dan mengawasi perawat gigi dalam bidang medis teknis bila mendapat pendelegasian dari dokter gigi, (5) Bertanggung jawab dalam pencatatan dan pelaporan pelaksanaan program dan pelayanan kesehatan gigi. Selain itu, diperlukan pelatihan terhadap guru sekolah dan siswa yang ditunjuk sebagai dokter kecil sehingga program UKGS tahap I dapat terlaksana. Guru sekolah dan siswa yang ditunjuk sebagai dokter kecil nantinya akan dibekali pengetahuan dasar tentang kesehatan gigi dan mulut dan sehingga diharapkan dapat membimbing para siswa lainnya agar lebih peduli terhadap kesehatan gigi dan mulutnya. Siswa di sekolah juga hanya mendapat penyuluhan 1 kali dalam setahun yang. Hal ini disebabkan tenaga kesehatan yang ada yaitu dokter gigi dan perawat gigi hanya satu atau dua pada setiap puskesmas, sedangkan jumlah sekolah dasar dan kelas banyak. Akibatnya derajat kebersihan gigi anak sekolah tidak sesuai dengan target. Disamping itu tidak dilakukan evaluasi setelah diberikan penyuluhan. Oleh karena itu, direncanakan upaya untuk memperbaiki pola penyuluhan UKGS, yaitu dengan mengganti tenaga penyuluh yang selama ini dilaksanakan oleh perawat gigi dengan memberdayakan

guru sekolah. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar seorang anak, seperti belajar tentang perawatan gigi. Guru adalah seorang pendidik yang lebih menguasai cara mengajar. Pertimbangan lainnya adalah kedekatan guru terhadap para siswa, lebih lama waktunya bersama murid, dibanding dokter gigi atau perawat gigi puskesmas. Menurut Astoeti (2006) guru adalah orang yang membantu orang lain belajar dengan melatih, menerangkan, member ceramah, mengatur disiplin, menciptakan pengalaman dan mengevaluasi kemampuan siswa. Guru dapat berperan sebagai konselor, pemberi instruksi, motivator, manager, dan model dalam menunjukkan sesuatu yang baik misalnya dalam perawatan gigi. Selain itu itu para guru diharapkan dapat memberikan informasi kepada orangtua siswa tentang cara menjaga kesehatan gigi dan mulut anak sehingga diharapkan orantua dapat membimbing anak dirumah untuk membiasakan menggosok gigi secara rutin. Selain itu perlu untuk mengupayakan pembentukan kader dokter kecil, sehingga diharapkan siswa yang ditunjuk sebagai dokter kecil dapat berbagi pengetahuan mengenai cara menjaga kebersihan gigi, memberitahu kepada teman-temannya tentang makanan apa saja yang bisa merusak gigi dan melapor kepada guru bila ada temannya yang membutuhkan perwatan atau pengobatan gigi. Masalah pengadaan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan UKGS membutuhkan proses untuk dapat terealisasi, hal ini dikarenakan terbatasnya dana yang tersedia dan banyaknya cakupan Puskesmas di Indonesia. Bagaimanapun juga, diharapkan tenaga kesehatan yang ada baik dokter gigi atau perawat gigi di setiap Puskesmas untuk mensosialisasikan program UKGS dengan memberikan penyuluhan, pemeriksaan dan sikat gigi massal di setiap sekolah untuk menekan jumlah siswa yang menderita karies. Makalah ini bertujuan sebagai bahan evaluasi, sehingga angka karies pada siswa di sekolah semakin berkurang. BAB 5. PENUTUP 5.1 Kesimpulan Evaluasi jumlah karies gigi post UKGS 2 tahun yang lalu pada siswa SDN Puger Kulon II dan UKGS 1 tahun yang lalu pada SDN Karang Rejo IV serta TK Dharma Indria II mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 di SD Puger Kulon II sebagian siswa gigi sulungnya sudah menderita karies, pada tahun 2011 jumlah siswa yang menderita karies pada gigi sulung mengalami peningkatan bahkan ada sebagian siswa yang gigi sulungnya tinggal sisa akar dan ditemukan beberapa siswa yang gigi permanenya sudah karies berupa Iritasi pulpa (IP) dan Hiperemi Pulpa (HP). Begitu juga di SDN Karang Rejo IV pada tahun 2010 sebagian besar gigi sulung siswanya karies dan pada hasil pemeriksaan UKGS tahun 2011

menunjukkan peningkatan angka karies dan bahkan ada beberapa siswa yang gigi sulungnya tinggal sisa akar (gangren radik) dan ditemukan pula gigi permanen yang sudah karies Iritasi Pulpa (IP), Hipermi Pulpa (HP) dan ada yang Gangren Pulpa (GP). Pada tahun 2010 di TK Dharma Indria sebagian siswa gigi sulungnya karies dan pada tahun 2011 jumlah karies tersebut lebih meningkat tetapi tidak ditemukan karies pada gigi permanen. 5.2 Saran. Memperbaiki dan mengevaluasi pola penyuluhan UKGS, yaitu dengan mengganti tenaga penyuluh yang selama ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dengan memberdayakan guru sekolah serta pelatihan kader dokter kecil sehingga diharapkan dapat mengurangi angka karies di setiap sekolah.

DAFTAR PUSTAKA Astoeti, TE. 2006. Total Quality Management Dalam Pendidikan Kesehatan Gigi di Sekolah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Darwita, RR. 2006. Keberhasilan Program UKGS dan Peran Guru. http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/2/443bebdb89696fd9cae56da1592b411735561fb0.p df. (Diakses pada 12 juni 2011: 00.30) Departemen Kesehatan., 1996. Pedoman Pelaksanaan Kesehatan Gigi Sekolah. Jakarta: Direktoral Jenderal Pelayanan Medik. Departemen Kesehatan., 1999. Pedoman Pelayanan Kesehatan Gigi danMulut, Indonesia Sehat 2010. Jakarta. Departemen Kesehatan., 2000. Pedoman Upaya Pelayanan Kesehatan Gigi di Puskesmas. Jakarta Departemen Kesehatan., 2003. Indonesia Sehat 2010, Visi Baru, Misi, Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan. Jakarta. Departemen Kesehatan RI., 2005. Survei Kesehatan Nasional. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004. Vol. 3. Jakarta : Badan Litbangkes.

Herijulianti, dkk. 2001. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Harris, N.O., Christen, A.G., 1995. Primary Preventif Dentistry. 4 th ed., Connecticot : Appleton & Large. Julianti, Riri, dkk. 2008. Gigi dan Mulut. Makalah Tutorial. Riau : FK Universitas Riau. Kawuryan, Uji. 2008. Hubungan Pengetahuan tentang Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Kejadian Karies Gigi Anak Sekolah Dasar Negeri Kleco II Kecamatan Laweyan Surakarta . Skripsi. Surakarta : FIK Universitas Muhamadiya Surakarta. Pertiwi, AS. 2004. Gambaran Pola Karies Gigi Permanen Ditinjau Dari Dental Nuglect Siswa Kelas 5-6 SDN Cikudayasa 2 Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/neglect %20pinikgasby.pdf. (Diakses pada 15 juni 2011; 20:30) Shopia, Ida. 2004. Evaluasi Sistem Pelaksanaan Program UKGS SD/MI Dalam Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6811/1/05004352.pdf (Diakses pada 18 juni 2011; 20:30) Tarigan, Rasinta. 1990. Karies Gigi. Jakarta : Hipokrates. Usri, Kosterman. 2001. Mencermati Tugas Dokter Gigi Puskesmas. Dentamedia No. 4 Vol. 5 : Oktober-Desember 2001. http://dentamedia.com. (Diakses pada 30 Mei 2011; 05:00)