Anda di halaman 1dari 29

Berkas Pasien A. Identitas Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pekerjaan Agama Status Perkawinan Tgl. Periksa B.

Ananmnesis 1. Keluhan Utama : Pasien Ny. S datang ke Puskesmas Menteng dengan tujuan ingin kontrol dan mengambil obat tuberculosis (TB) paru bulan kedua. 2. Keluhan Tambahan: Ny. S mengaku batuk berdahak selama 1 bulan, batuk darah sebanyak 2x, demam hilang timbul, keringat dingin malam hari, berat badan menurun 2 kg, nafsu makan menurun. 3. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien perempuan Ny.S datang ke Puskesmas Kecamatan Menteng dengan tujuan ingin kontrol dan mengambil obat tuberculosis (TB) paru bulan kedua. Pada awalnya pasien mengeluh sering batuk sejak 2 bulan yang lalu selama 1 bulan. Batuk berdahak warna kuning kehijauan. Pasien juga
1

: Ny. S : Perempuan : 24 Tahun : Jl. Manggaraai Utara 2 RT/RW 02/04 No.5, Jakarta Pusat : Ibu Rumah Tangga : Islam : Sudah menikah : 18 Juli 2013

merasa demam, demam tidak terlalu tinggi dan hilang timbul. Keringat dingin di malam hari juga dirasakan pasien. Tidak ada sesak, nyeri dada, mual, dan muntah. Nafsu makan dirasakan menurun, berat badan pasien juga menurun 2 kg sebelum di berobat ke puskesmas Menteng. BAK normal seperti biasa, BAB normal. Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini. Sebelum ke Puskesmas Menteng, pasien belum pernah berobat dan pasien hanya minum obat warung. Namun keluhan tidak hilang. Kemudian pasien memutuskan untuk berobat ke Puskesmas Menteng 1 bulan yang lalu. Setelah pasien berobat ke Puskemas Menteng, pasien di diagnosis suspek TB paru, sehingga pasien diminta untuk pemeriksaan dahak dan foto rontgen dada. Kemudian pasien di beri obat batuk dan antibiotik, tetapi pasien lupa jenis obat yang diberikan oleh dokter, pasien hanya ingat antibiotic amoxcilin. Keesokan harinya pasien datang ke Puskesmas Menteng untuk menyerahkan hasil dahak yang di kumpulkan pagi hari. Sambil menunggu hasil dahak dan foto rontgen untuk sementara waktu pasien mengkonsumsi obat- obatan yang diberikan sebelumnya. Namun 4 hari kemudian pasien mengeluh batuk dengan dahak menjadi darah berwarna merah tua sebnyak 2x. Pasien merasa takut dan khawatir dengan keadaannya, sehingga pasien memutuskan untuk kembali ke puskesmas Menteng. Sewaktu pasien ke puskesmas, hasil pemeriksaan dahak dan rontgen pasien sudah ada hasilnya, dan kemudian pasien diagnosis TB paru oleh dokter Puskesmas Menteng sehingga dokter memulai memberikan pengobatan TB paru. 4. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat batuk lama sebelumnya disangkal. 5. Riwayat Penyakit Keluarga :

Pasien mengaku keluarga pasien ada yang menderita penyakit TB paru yaitu ayah pasien pada tahun 2011 yang menjalani pengobatan selama 1,5 tahun karena dinyatakan MDR ( multi drug resistant ) dan sekarang sudah dinyatakan sembuh oleh dokter.

6. Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki suami bekerja sebagai satpam, dan belum memiliki anak. Dengan pendapatan rata-rata keluarga setiap bulannya sekitar Rp. 1.300.000. 7. Riwayat Kebiasaan : Ny.S memiliki kebiasaan pola makan yang tidak teratur dikarenakan jarang masak dan nafsu makan Ny. S yang menurun. Ny. S jarang masak karena keterbatasan ruangan untuk dijadikan dapur, dapurnya berada di satu ruangan yang bercampur dengan kamar tidur dan ruang tamu tanpa sekat. Sehingga Ny. S hanya sesekali memasak itupun hanya masak mie instan. Ny. S selalu makan dari makanan yang dibeli di warteg dan warung sekitar rumahnya. Biasanya Ny. S membeli makanan berupa nasi, ayam, telur, tahu, tempe, terkadang ikan, dan jarang sayur-mayur. Sebelum bulan puasa, Ny. S makan 2x setiap harinya yaitu pagi dan malam. Ny.S jarang berolahraga karena malas. Ny. S biasa bangun tidur pukul 6 pagi dan tidur pukul 9 malam. Pasien sendiri sehari-harinya adalah seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi suami dan pekerjaan rumah. Suami Ny. S merupakan seorang perokok aktif, merokok kurang lebih 5 batang / hari.

C. Pemeriksaan Fisik

1. KeadaanUmum : Pasien tampak sakit ringan, kesadaran : compos mentis 2. Vital Sign : Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu Berat Badan : 100/70 mmHg : 84 x / menit : 18x / menit, : 36,5 oC : 45 kg (pada tanggal 18 Juli 2013)

3. Status Generalis : Kepala Bentuk Rambut Mata : Normocephal : Hitam, tidak mudah dicabut : Konjungtiva tidak anemis sklera tidak iktrerik edema palpebra (-) pupil isokor kanan = kiri, Refleksi cahaya (+). Telinga Hidung Mulut : Bentuk normal, membran timpani intak : Bentuk normal, septum di tengah, tidak deviasi : Bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor, tidak hiperemis, tidak ada nyeri menelan. Leher

Deviasi trakhea (-), pembesaran kelenjar tiroid dan KGB (-), JVP tidak meningkat. Thoraks
a. Cor :

Inspeksi Palpasi Perkusi

: Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra : Batas atas Batas kanan Batas kiri Batas paru hati : ICS III linea sternalis dextra : ICS IV linea parasternalis dextra : ICS IV linea linea mid clavicula dan linea axilaris anterior sinistra : ICS IV linea midklavikula dextra

Auskultasi b. Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen -

: BJ I-II regular, gallop (-), murmur (-) : Bentuk dada kanan = kiri simetris Pergerakan napas kanan = kiri. : Fremitus vokal kanan = kiri : Sonor pada kedua lapang paru : Pernapasan vesikuler, rhonki -/- , wheezing -/-

Inspeksi

: Perut datar simetris vena kolateral (-) umbilikus tidak menonjol

Palpasi Perkusi Auskultasi

: Undulasi (-) Hepar dan lien tidak teraba : Timpani pada seluruh lapang abdomen : Bising usus (+) normal

Ekstremitas Superior : Hangat Eritema palmaris (-/-) Sianosis (-/-) Clubbing finger (-/-) edema (-/-) Inferior : Hangat Edema (-/-) Pitting edema pretibial (-) Sianosis (-/-) Status Lokalis : (-)

D. Pemeriksaan Penunjang :
a. Rongten

: Pada pasien ini didapatkan gambaran pada foto rongten tanggal 14 Juni 2013 tampak perselubungan pada apeks paru kanan. Kesan : kelainan paru dextra aktif

b. Tes Sputum : BTA sewaktu tanggal 14 Juni 2013 : +3

BTA pagi tanggal 15 Juni 2013

: +3

BTA sewaktu tanggal 15 Juni 2013 : +3 Berkas Keluarga A. Profil Keluarga 1. Karakteristik Keluarga
6

a.

Identitas Kepala keluarga

: Suami tahun

pasien bernama Tn. S, usia 29 b. Identitas Pasangan : Ny. S, usia 24 tahun

c. Struktur Komposisi Keluarga : Keluarga dyad (Dyad Family)

Tabel 1. Anggota keluarga yang tinggal serumah No. 1 2 Nama Tn. S Ny. S Status Keluarga Kepala keluarga Istri Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia 29 tahun 24 tahun Pendidika n SMA SMK Pekerjaan Satpam Ibu rmah tangga

2.

Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup a. Lingkungan tempat tinggal Tabel 2. Lingkungan tempat tinggal Status kepemilikan rumah : Pasien tinggal di rumah kontrakan Daerah perumahan : Padat penduduk Karakteristik Rumah dan Lingkungan Luas rumah : 3 x 5 m2 Jumlah penghuni dalam satu rumah : 2 orang Luas halaman rumah : tidak ada Tidak bertingkat Lantai rumah dari : Keramik Dinding rumah dari Tembok Jamban keluarga : ada Tempat bermain : tidak ada Penerangan listrik : 500 watt Kesimpulan Ny. S tinggal di rumah kontrakan. Rumah dengan biaya perbulan Rp 300.000. Terdiri dari satu ruang tamu sekaligus sebagai kamar tidur, ruang makan, dapur.

Ketersediaan air bersih : ada Tempat pembuangan sampah : ada

Pencahayaan dan sirkulasi udara dirumah ini sangat kurang. Terdapat 2 jendela dibagian depan rumah yang tidak pernah dibuka. Terdapat tempat pembuangan sampah. Penerangan listrik dirumah ini menggunakan pulsa sebesar 50 ribu/bulan.

b. Kepemilikan barang barang berharga Keluarga ini memiliki : Satu buah sepeda motor Satu buah televisi Satu buah kompor gas Satu buah kipas angin

c. Denah rumah

3.

Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga a. Jenis tempat berobat : Puskesmas b. Balita : KMS (-), Karena keluarga tidak mempunyai balita c. Asuransi / Jaminan Kesehatan : Kartu Jakarta Sehat.

4.

Sarana Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) Tabel 3. Pelayanan Kesehatan

Faktor Cara mencapai pusat pelayanan kesehatan Tarif pelayanan kesehatan

Keterangan Keluarga menggunakan motor pribadi ke puskesmas Menurut keluarga biaya pelayanan kesehatan diberikan secara gratis Menurut keluarga kualitas pelayanan kesehatan yang didapat cukup memuaskan

Kesimpulan Pasien rajin kontrol ke Puskesmas Menteng, karena biaya yang murah. Jarak rumah ke puskesmas dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi. Keluarga merasa puas dengan pelayanan kesehatan yang ada di puskesmas.

Kualitas pelayanan kesehatan

5.

Pola Konsumsi Makanan Keluarga a. Kebiasan makan : Menu makanan sehari-hari keluarga pasien tidak cukup bervariasi. Pasien memiliki kebiasaan pola makan yang tidak teratur sehari 2x yaitu sarapan pagi dan makan malam, dikarenakan jarang masak dan nafsu makan pasien yang menurun. Pasien jarang masak karena keterbatasan ruangan untuk dijadikan dapur, dapurnya berada
10

di satu ruangan yang bercampur dengan kamar tidur dan ruang tamu tanpa sekat. Sehingga pasien hanya sesekali memasak itupun hanya masak mie instan. Sedangkan suami pasien makan 3x/ hari. Pasien dan suami selalu makan dari makanan yang didapatkan dari membeli di warteg dan warung makan terdekat sekitar rumah. Biasanya menu yang dibeli dan dimakan sehari-hari adalah nasi, ayam, telur, tahu, tempe, terkadang ikan, dan jarang sayur-mayur. Keluarga ini jarang mengkonsumsi buah-buahan karena alasan ekonomi. b. Menerapkan pola gizi seimbang : Pasien dan suamiya mengakui bahwa keluarganya memang kurang memperhatikan pola gizi seimbang dari menu yang mereka konsumsi. Hal ini dikarenakan pengetahuan mengenai pentingnya pola makan gizi seimbang dan kemampuan ekonomi yang kurang di didalam keluarga. Selain itu, Ny. S jarang memasak.
Tabel 4. Food Recall Pola Makan Ny. S Selama Tiga Hari Terakhir

Tanggal 16 Juli 2013

Sahur Nasi, sayur asem, tempe, teh


manis hangat, air putih.

Buka puasa Nasi, ikan, air putih,


sirup,

17 Juli 2013

Nasi, mie instan, tahu, teh manis


hangat, air putih

Nasi, telor semur, tahu goreng, sirup, air putih.

18 Juli 2013

Nasi, telor dadar, Nasi, ayam goreng,


,teh manis hangat, es teh manis, air air putih.

putih.

c. Antropometri Pasien :
11

a) Tinggi Badan b) Berat Badan c) Berat Badan Ideal d) Indeks Massa Tubuh

= 148 cm = 45 Kg = (148-100) (148-100)10% = 43,2 Kg = 45/(1,482) = 20,54

Tabel 2.5. Klasifikasi Berat Badan Berdasarkan IMT Menurut Kriteria Asia Pasifik (WHO,2010)

Kesan : BB Ny. S berdasarkan IMT adalah normal 6. Pola Dukungan Keluarga a. Faktor pendukung terselesaikannya masalah dalam keluarga : Pasien tahu dan peduli jika pasien harus menjalani pengobatan secara teratur. Suami pasien sangat mendukung pasien untuk menjalani pengobatan. Selain suami, pasien juga mendapat dukungan dari orang tua dan adik pasien yang tempat tinggalnya bersebelahan dengan pasien. Jika ada keluhan sakit pada pasien, keluarga pasien akan menyuruhnya untuk memeriksa ke doker puskesmas dan mengantarkan pasien. Suami pasien selalu mengingatkan pasien untuk minum obat secara teratur dan mendukung pasien untuk rutin memeriksakan diri serta berobat ke puskesmas. Keluarga selalu

12

memberikan motivasi agar pasien rutin minum obat, berolahraga, dan makan sayuran. Keluarga sangat berharap penyakit pasien bisa sembuh dan tidak kambuh kembali b. Faktor penghambat terselesaikannya masalah dalam keluarga : Dalam kasus ini keluarga kurang mengetahui penyebab dari penyakit yang saat ini sedang diderita pasien dan belum mengerti cara penularan penyakit. Suami dan keluarga pasien sangat khawatir dengan kesehatan pasien karena keseharian pasien selalu bersamanya. Terkadang pasien harus diingatkan untuk meminum obat. Pasien juga sering khawatir tentang penyakitnya dan hal tersebut membuatnya stres.

B. Genogram 1. Bentuk keluarga : Bentuk keluarga ini adalah keluarga dyad (Dyad family), yang terdiri dari Tn. S sebagai kepala keluarga, Ny. S adalah seorang istri. Tn. S dan Ny. S belum memiliki seorang anak. 2. Tahapan siklus keluarga : Menurut tahap dan siklus tumbuh kembang keluarga dikutip dari Duvall (1985) dan Friedman (1998), tahapan siklus keluarga pasien termasuk pada tahap keluarga stage 1, dimana pasangan pada tahap pernikahan. 3. Family map

13

Keterangan : : Laki-laki

: Perempuan

: Pasien perempuan

: Hubungan pernikahan : Garis keturunan

: Tinggal serumah
14

C. Identifikasi permasalahan yang didapat dalam keluarga 1. Masalah Dalam Organisasi Keluarga Pasien merupakan seorang istri di keluarganya. Pasein masih belum memiliki anak. Pasien merasa kesepian apabila suami sedang bekerja seharihari karena dirumah tidak ada siapa - siapa selain pasien. Sehingga pasien merasa kurang mendapatkan perhatian. Untuk mengurangi rasa kesepian, pasien sering ke rumah orang tua pasien yang berada di samping tempat tinggalnya.
2. Masalah dalam fungsi biologis:

Pasien saat ini sakit TB paru dalam masa pengobatan bulan ke- 2. Gejala TB paru telah dirasakan sejak 2 bulan yang lalu. Dimana pasien mengaku pada awalnya pasien mengeluh sering batuk selama 1 bulan. Batuk berdahak warna kuning kehijauan. Pasien juga merasa demam, demam tidak terlalu tinggi dan hilang timbul. Keringat dingin di malam hari juga dirasakan pasien. Nafsu makan dirasakan menurun, berat badan pasien juga menurun 2 kg sebelum berobat ke puskesmas. Sebelum ke puskesmas Menteng, pasien telah mencoba membeli obat warung akan tetapi tidak menemukan hasil yang memuaskan. Pasien masih dapat beraktivitas seperti biasa.
3. Masalah lingkungan:

Pasien tinggal di rumah kontrakan di lingkungan yang cukup padat penduduknya, dengan akses ke rumah berupa gang sempit yang hanya berukuran 1 meter. Suami pasien dan penduduk sekitar banyak yang merokok. Perilaku kesehatan yang kurang baik dilingkungan tempat tinggal pasien, seperti batuk dan dan membuang ludah sembarangan. Hal ini dapat disebabkan pengetahuan masyarakat yang masih sangat kurang tentang penularan penyakit tb paru. Pencahayaan rumah pasien sendiri masih kurang karena tidak ada
15

satupun jendela yang terbuka. Rumah pasien juga menghadap ke selatan, sehingga sinar matahari tertutup oleh rumah penduduk sekitar. Akibatnya sinar matahari yang masuk sangat kurang. Selain itu, rumah pasien, sangat berdekatan dengan rumah oarng tua pasien yaitu disamping kanan dan tidak ada jarak, hanya dibatasi dengan tembok rumah. Ayah pasien pernah terkena tb paru pada 2011, menjalani pengobatan selama 1,5 tahun karena dinyatakan MDR (multi drug resistant) dan saat ini sudah dinyatakan sembuh oleh dokter.
4. Masalah perilaku kesehatan:

Keluarga ini belum dapat menerapkan pola makan bergizi dan seimbang setiap harinya dikarenakan pasien sebagai istri jarang memasak hanya mengandalkan makanan yang dibeli di warung makan selain itu keadaan ekonominya yang serba kekurangan, dimana penghasilan pasien tidak sebanding dengan banyaknya kebutuhan dalam keluarga. Pasien dan suami juga tidak memiliki jadwal khusus untuk olahraga, sehingga tidak pernah olahraga. Keluarga ini termasuk keluarga yang cukup perhatian terhadap kesehatan anggota keluarganya. Setiap ada yang sakit biasanya mereka mengobati dengan obat-obatan warung, kemudian jika sakitnya tidak kunjung membaik baru mereka berobat ke puskesmas. 5. Masalah dalam fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan : Sumber pembiayaan hidup pasien berasal dari hasil kerja suami pasien sendiri. Suami pasien, yang bekerja sebagai satpam. Penghasilan selama satu bulan, dirasakan kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga,sehari- hari hingga tidak ada sisa uang yang bisa disimpan untuk tabungan. Meskipun penghasilan yang di dapat terasa kurang tetapi pasien selalu mengatur agar tidak mengutang ke tetangga meskipun tidak memiliki tabungan sama sekali. Pasien mengaku tidak mau meminta bantuan ekonomi pada keluarganya karena tidak mau merepotkan keluarganya yang juga hidup sederhana dan pas-pasan. Untuk biaya kesehatan, pasien telah memiliki Kartu Jakarta Sehat dari program kesehatan Pemerintah Provinsi DKI. Sehingga pasien dapat berobat secara gratis.
16

6. Masalah dalam fungsi psikologis: Hubungan kekeluargaan di antara suami dan pasien terjalin baik, terbukti dengan permasalahan-permasalahan yang dapat diatasi dengan baik dalam keluarga ini. Hubungan antara keluarga terlihat akrab dan sangat dekat. Mereka saling memberi perhatian satu sama lain. Namun, terkadang pasien merasakan kurangnya peran serta suami dalam mengawasi pasien, karena suami yang masih harus bekerja dari pagi hingga malam hari, dan jarang memiliki waktu libur, bahkan hari minggu pun tetap kerja. D. Diagnosis Holistik
a. Aspek personal : (alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran, persepsi individu

mengenai penyakitnya) Pasien diantar untuk kontrol dan mengambil obat tb paru yang ke-2 bulan ke puskesmas oleh suaminya karena pasien ingin sembuh dan tidak mau lagi merasakan keluhan seperti batuk yang terus-menerus berulang, batuk darah sebanyak 2x, demam tidak terlalu tinggi dan hilang timbul, berat badan menurun 2 kg, keringat dingin setiap malam. Semua keluhan ini sudah sering dirasakan pasien dan sebelum berobat ke puskesmas pasien juga sudah minum obat warung, akan tetapi keluhan sering berulang sejak satu bulan sebelum ke puskesmas pertama kali. Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara dini tentang kondisi tubuh pasien. Suami pasien berharap setelah berobat keluhan tersebut akan hilang, akan tetapi keluhan batuk terkadang masih dirasakan sampai sekarang. Suami pasien mengetahui akibat yang akan terjadi jika pasien tidak dibawa berobat. Suami dan pasien sering merasa cemas dan ketakutan atas segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi kepada pasien, karena ayah pasien pernah terkena tb paru dan menjalani pengobatan selama 1,5 tahun karena dinyatakan MDR.
b. Aspek klinik : (diagnosis kerja dan diagnosis banding)

Diagnosis kerja

: Tuberculosis paru kategori 1

17

Dasar diagnosis

: Dari anamnesa riwayat penyakit sekarang dan pemeriksaaan penunjang

a.Anamnesa

Pasien perempuan Ny.S datang ke Puskesmas Kecamatan Menteng dengan tujuan ingin kontrol dan mengambil obat tb paru. Pada awalnya pasien mengeluh sering batuk sejak 2 bulan yang lalu selama 1 bulan. Batuk berdahak warna kuning kehijauan. Pasien juga merasa demam, demam tidak terlalu tinggi dan hilang timbul. Keringat dingin di malam hari juga dirasakan pasien. Nafsu makan dirasakan menurun, berat badan pasien juga menurun 2 kg sebelum berobat ke puskesmas. Kemudian pasien di beri obat batuk dan antibiotic amoxcilin dari dokter puskesmas Menteng. 4 hari kemudian setelah dari puskesmas, pasien mengeluh batuk dengan dahak menjadi darah berwarna merah tua sebnyak 2x.

b.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan pada tanggal 14 Juni 2013 BTA SPS ditemukan hasil

positif tiga (+3) pada ketiga specimen dan pemeriksaan Rontgen didapatkan gambaran berupa perselubungan pada apeks paru dextra. c. Aspek risiko internal (faktor- faktor internal yang mempenharuhi masalah kesehatan pasien): Pasien masih berusia 24 tahun yang merupakan usia produktif, dimana kebutuhan asupan makanan bergizi meningkat seiring dengan meningkatnya aktifitas. Pola makan pasien dua kali dalam sehari diakui belum memenuhi kriteria gizi seimbang, dimana makanan yang dikonsumsi sehari- hari merupakan makanan yang dibeli di warung tegal dan warung makanan sekitar

18

rumah serta mie instant. Pasien sendiri kurang suka mengkonsumsi sayuran, serta jarang mengkonsumsi buah karena alasan ekonomi keluarga. Pasien mengakui tidak pernah menjadwalkan waktu khusus untuk berolahraga sehingga pasien tidak pernah olah raga. Apabila suami pulang dari bekerja, pasien masih rajin solat berjamaah untuk beribadah bersama-sama. Bagi pasien, sakit bukanlah penghalang untuk tetap beribabadah kepada Tuhan. d. Aspek psikososial keluarga (faktor- faktor eksternal yang mempengaruhi masalah) : Pada umumnya keluarga sangat membantu proses pengobatan. Saat ini suami pasien merupakan orang yang paling berperan dalam proses pengobatan pasien khususnya dalam mengantar berobat dan mengingatkan pasien minum obat. Suami pasien sebagai PMO. Tn. S sebagai kepala keluarga dalam pengambilan keputusan biasanya mendiskusikannya dengan pasien. Nafkah utama berasal dari suami pasien, Masalah pengobatan tidak menjadi begitu bermasalah karena keluarga ini dibantu dengan kartu Jakarta Sehat sehingga mendapat pengobatan secara gratis. Akses menuju puskesmas yang ditempuh selama 25 menit menggunakan sepeda motor tidak begitu berpengaruh pada pasien dan keluarga pasien asalkan dapat mengobati sakit yang dialami sampai sembuh. Lingkungan yang padat penduduk dan perilaku warga disekitar tempat tinggal pasien mempengaruhi kesehatan pasien saat ini. Pencahayaan rumah pasien sendiri masih kurang karena tidak ada satupun jendela yang terbuka. Rumah pasien juga menghadap ke selatan, sehingga sinar matahari tertutup oleh rumah penduduk sekitar. Akibatnya sinar matahari yang masuk sangat kurang.

19

e.

Aspek fungsional ( tingkat kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari- hari ): Menurut Wonca aktivitas menjalankan fungsi sosial pasien memiliki nilai skala 5, yaitu dalam aktivitas kehidupan sehari-hari tidak ada kesulitan.

E. Rencana Pelaksanaan (sesuai dengan kelima aspek diatas) Tabel 4. Rencana Pelaksanaan
20

Aspek Aspek Personal

Kegiatan
Menjelaskan pada

Sasaran Pasien Dan suami

Waktu Pasien berkunjung ke puskesmas dan saat

Hasil diharapkan Pasien dan suami mengetahui dan memahami penyakit dari pasien.

pasien tentang penyakit tuberculosis paru, berbagai faktor penyebab timbulnya penyakit tuberculosis paru, model pengobatan yang harus dijalani, serta prognosis penyakitnya.
Memberitahu pasien

berkunjung ke Mengurangi resiko rumah pasien. penularan tb paru


Kecemasan pasien

bisa berkurang

bagaimana seharusnya perilaku dalam batuk dan membuang dahak, serta disarankan memakai masker.
Menasihati suami agar

dapat menemani dan mengawasi pasien agar kontrol secara teratur yang telah dijadwalkan puskesmas Aspek klinik Menjelaskan kepada pasien dan suami tentang terapi Pasien dan Saat berobat Puskesmas pasien Pasien dan suami dan

ke mengetahui

memahami tujuan dari

21

diberikan. Pasien di berikan terapi rawat jalan.

suami

terapi yang diberikan

Pasien dengan

diharapkan Saat berobat Puskesmas

menjaga kesehatannya Pasien cara pola berupa TB mengkonsumsi gizi seimbang.

pasien Keluhan klinis dapat ke diminimalisir kesembuhan dari TB. Perbaikan gizi pasien dan pasien

Pengobatan Pengobatan

dewasa lini 1 (KDT): Fase intensif diberikan selama 2-3 bulan: 3 tablet / hari yang mengandung (RHZE) : 150/75/400/275 mg Fase lanjutan diberikan selama 4 bulan 3 tablet/ hari yang mengandung Aspek risiko internal (RH) : 150/75 mg Menganjurkan pasien untuk olahraga Pasien dan suami Saat kunjungan ke rumah pasien. Suami pasien dapat Menganjurkan suami pasien agar membiasakan pasien memperhatikan kebutuhan pasien agar mengkonsumsi

22

untuk makan 3x/ hari, memakan sayuran dan buah-buahan. Menganjurkan suami pasien agar memotivasi dan mengajak pasien untuk memasak makanan yang dimakan sehari- hari agar memakan menu yang lebih bervariatif Aspek psikososia l keluarga dan sehat Bekerja sama antara Pasien, suami dan pasien agar suami, tetap bersama- sama menjaga rumahnya membiasakan dan untuk kebersihan pasien Saat kunjungan ke

makanan dengan menu yang lebih bervariatuif, sehat, dan hemat biaya Suami pasien dapat membiasakan pasien untuk makan 3x/ hari, memakan sayur dan buah-buahan. Pasien dapat menjaga kebugaran latihan jasmani sebagai gaya hidup sehat Terjaganya keadaan rumah yang bersih dan sehat. Pasien tidak berputus asa dalam proses yang secara pengobatan dijalani. Mengetahui dini penlaran tb paru terhadap suami pasien.

keluarga rumah pasien.

membuka jendela agar sinar matahari dapat masuk dan pertukaran udara.

Bekerja sama dengan suami dan keluarga pasien dalam memberikan motivasi positif, dukungan
23

mental dan moril agar pasien tabah dan sabar dalam menjalani pengobatan penyakitnya mengajak untuk dalam keagamaan

dengan pasien serta kegiatan

ikut

Mengingatkan suami agar pasien rutin kontrol ke puskesmas

Suami agar mengawasi untuk minum pasien obat

yang telah diberikan puskesmas secara teratur sebanyak 3 tablet/ hari

. Mengajak pasien puskesmas seharihari suami untuk karena kontak

memeriksakan diri ke

24

Aspek fungsional

dengan pasien. Menyarankan suami pasien memperhatikan

agar Pasien dapat dan suami Pada rumah. saat Mencapai agar hari aktivitas tetap kondisi seharidapat

kunjungan ke kesehatan yang optimal

kesehatan pasien dan mengikuti pola gizi seimbang Pasien melakukan aktivitas seperti biasanya, namun tetap menjaga kondisi dan jangan terlalu lelah.

dilakukan.

F.

Analisa Kasus
1. Aspek Personal

Pasien diantar untuk kontrol dan mengambil obat TB paru bulan ke-2 ke puskesmas oleh suaminya karena pasien ingin sembuh dan tidak mau lagi merasakan keluhan seperti batuk yang terus-menerus berulang. Suami dan pasien berharap setelah berobat keluhan tersebut akan hilang. Rencana penatalaksanaan adalah pasien dan suami diberi penjelasan bahwa sakit yang diderita pasien merupakan infeksi pada paru yang disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium tuberculosis, penatalaksanaan yang dapat dilakukan oleh pasien untuk mengurangi keluhan dan mencegah komplikasi, serta prognosis penyakitnya. Memberitahu pasien bagaimana seharusnya perilaku dalam batuk dan membuang dahak, serta disarankan memakai masker. Hasil yang diharapkan setelah dilakukannya penatalaksanaan tersebut adalah agar pasien dan suami mengetahui dan memahami dengan baik penyakit tb paru yang pasien derita, mengurangi resiko penularan tb paru, serta tidak khawatir dan cemas yang berlebihan terhadap sakit pasien dan pasien dapat sembuh.
25

2. Aspek Klinik Pasien ini dengan diagnosis tuberculosis paru kategori 1 berdasarkan dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Penatalaksanaan adalah pasien dirawat jalan dan diberikan terapi sesuai dengan diagnosis yang telah ditegakkan. Tb paru kategori 1 diterapi dengan : pada fase intensif diberikan selama 2-3 bulan sebanyak 3 tablet / hari yang mengandung (RHZE) : 150/75/400/275 mg dan fase lanjutan diberikan selama 4 bulan sebanyak 3 tablet/ hari yang mengandung (RH) : 150/75 mg. Hasil yang diharapkan adalah keluhan dan sakit yang diderita pasien dapat sembuh dan tidak berulang. 3. Aspek Internal Pasien masih berusia 24 tahun yang merupakan usia produktif, dimana kebutuhan asupan makanan bergizi meningkat seiring dengan meningkatnya aktifitas. Pola makan pasien dua kali dalam sehari diakui belum memenuhi kriteria gizi seimbang, dimana makanan yang dikonsumsi sehari- hari merupakan makanan yang dibeli di warung tegal, warung makanan sekitar rumah, dan mie instan. Pasien sendiri kurang suka mengkonsumsi sayuran, serta jarang mengkonsumsi buah karena alasan ekonomi keluarga. Rencana penatalaksanaan adalah menganjurkan suami pasien untuk lebih memperhatikan kebutuhan pasien agar makan secara teratur sebanyak 3x/ hari dan mengkonsumsi buah- buahan, sayuran. Memotivasi dan mengajak pasien agar memasak sendiri makanan yang dikonsumsi sehari- hari.

Hasil yang diharapkan adalah suami pasien dapat memperhatikan kebutuhan pasien agar mengkonsumsi makanan yang lebih bervariatif, sehat, bergizi, dan hemat biaya. Dapat membiasakan pasien untuk memakan buah-buahan dan sayuran, pasien dapat memperhatikan waktu makan pasien agar teratur. 4. Aspek Psikososial Keluarga

26

Pada umumnya suami dan keluarga sangat membantu proses pengobatan. Saat ini suami pasien merupakan orang yang paling berperan dalam proses pengobatan pasien khususnya dalam mengantar berobat dan mengingatkan pasien minum obat. Rencana penatalaksanaan adalah bekerja sama antara suami dan pasien agar tetap bersama- sama menjaga kebersihan rumahnya dan membiasakan untuk membuka jendela agar sinar matahari dapat masuk dan pertukaran udara, suami memberikan motivasi positif, dukungan mental dan moril agar pasien tabah dan sabar dalam menjalani pengobatan penyakitnya dengan mengajak pasien untuk ikut serta dalam kegiatan keagamaan, mengingatkan suami agar pasien rutin kontrol ke puskesmas, suami mengawasi pasien untuk minum obat yang telah diberikan puskesmas secara teratur sebanyak 3 tablet/ hari, serta suami pasien sebaiknya diperiksa juga karena di dalam rumah tersebut sehari-harinya kontak dengan penderita tb paru. Sehingga yang diharapkan adalah pasien mendapatkan perhatian terhadap kesehatan dari suaminya. Mengetahui secara dini penlaran tb paru terhadap suami pasien. Serta Anggota keluarga yang lain dapat mengetahui kondisi kesehatan pasien saat ini. 5. Aspek Fungsional Dalam aktivitas menjalankan fungsi sosial, pasien memiliki nilai skala 5, yaitu dalam aktivitas kehidupan sehari-hari tidak ada kesulitan. Rencana penatalaksanaan adalah disarankan kepada pasien dapat mempertahankan kesehatan badannya dan mengikuti pola gizi seimbang. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal maka perlu dilakukan pembekalan mengenai perilaku hidup sehat secara berkesinambungan yang diberikan bersama dengan suami pasien dan keluarga lainnya.

Dengan demikian hasil yang diharapkan adalah Kondisi tubuh pasien dapat lebih sehat, sehingga tidak terserang penyakit yang berulang. G. Prognosis

27

1. Ad vitam

:ad bonam

2. Ad sanasionam : ad bonam 3. Ad fungsionam : ad bonam

DAFTAR PUSTAKA

28

Effendy,N. 1998. Dasar-dasar Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC FKUI, 2010. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI. Iqbal,Wahit dkk. 2005. Ilmu Kedokteran Komunitas 2 Teori dan Aplikasi dalam Praktek Pendekatan Asuhan Kedokteran, Gerontik, Keluarga. Jakarta : EGC Isbaniyah, Fattiyah dkk. 2011. Tuberkulosis. Pedoman Diagnosis dan

Penatalaksanaan Di Indonesia. Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia

29