Anda di halaman 1dari 13

Apa Saja Penentu Kecerdasan Anak?

KOMPAS.com - Setiap orang tua tentu ingin mempunyai anak yang cerdas dan sehat. Memberikan gizi yang optimal adalah salah satu caranya. Namun sebenarnya apa saja faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak? Ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Saptawati Bardosono menuturkan, ada banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan seorang anak termasuk di antaranya gizi. "Bukan rahasia lagi, gizi yang baik adalah kunci kecerdasan bagi anak. Namun itu bukan satu-satunya," ungkapnya di selasela acara Dancow Parenting Centre Kamis (31/1/2013) di Jakarta. Secara umum, lanjutnya, ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak secara umum yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor genetika, sedangkan faktor eksternal yang merupakan lingkungan, meliputi nutrisi, stimulasi, aktivitas fisik, dan upaya penjagaan kesehatan. "Itulah mengapa ada anak yang mungkin gizinya kurang baik namun tetap cerdas," kata dokter dengan sapaan akrab Tati ini. Ia menjelaskan, meskipun dua faktor tersebut sama-sama berpengaruh, namun faktor internal yaitu faktor genetik memiliki kontribusi yang relatif kecil yaitu hanya sekitar 5 persen. Sedangkan faktor eksternallah yang berperan besar yaitu sekitar 95 persen. "Jadi bukannya mustahil kalau orang tuanya kurang cerdas, namun anaknya bisa cerdas," ungkapnya. Menyoal ungkapan, "jika ingin anaknya cerdas, ibunya juga harus cerdas", Saptawati mengatakan hal itu ada benarnya. Sebab, pada tubuh seorang ibu-lah anak "dititipkan" saat dalam kandungan. Namun, bukan berarti ayah tidak berperan dalam membentuk kecerdasan bayi. "Ibu dapat membuat anaknya sehat dan cerdas pun tidak terlepas dari peran ayah yang menjaga istrinya saat mengandung. Dan tentu saja merawat anak saat anak sudah lahir," jelasnya. Kecerdasan anak, kata Saptawati, juga sangat bergantung pada 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak masa dalam kandungan hingga usia balita. Maka dari itu, untuk membentuk anak yang cerdas, perlu adanya suatu persiapanan dari orang tua sejak awal merencanakan kehamilan, pungkasnya

Tanda-tanda Anak Punya Kecerdasan Tinggi


Kompas.com - Di mata setiap orangtua, anak-anak mereka adalah anak cerdas dan jenius. Bagaimana tidak, setiap hari rasanya ada saja perkembangan kemampuan yang dimiliki anak. Entah itu dalam berbicara, menggambar, bernyanyi, atau mengutak-atik gadget.

Padahal kebanyakan anak baru bisa disebut jenius atau berbakat di usia sekolah. Meski begitu, ada beberapa tanda di usia dini yang bisa menunjukkan apakah si kecil memiliki kecerdasan tinggi. Anak berusia 2-4 tahun mungkin saja merupakan anak yang berbakat jika ia menunjukkan tandatanda berikut ini: - Memiliki talenta khusus, misalnya saja kemampuan artistik atau dalam hal angka. Misalnya saja, anak mampu menggambar sesuatu dengan sangat jelas atau bisa mengingat angka dengan mudah. - Mencapai tonggak perkembangan (milestone) lebih awal dibanding teman seusianya. - Kemampuan bahasa yang sangat baik, misalnya mampu berbicara dalam kalimat lengkap lebih awal dibanding teman sebayanya. - Punya rasa ingin tahu yang tinggi dan tak pernah bosan mengajukan pertanyaan. - Sangat aktif (meski bukan hiperaktif). Anak yang hiperaktif hanya memiliki rentang konsentrasi rendah, sementara anak yang berbakat mampu berkonsentrasi pada satu hal untuk waktu yang lama. Ia juga memiliki keinginan kuat pada hal yang menjadi ketertarikannya dan suka melakukan aktivitas sulit. - Memiliki imajinasi yang jelas. Anak berbakat seringkali menciptakan teman imajiner. - Mampu mengingat sesuatu dengan mudah dan menceritakan kembali apa yang ia pelajari dari buku, TV, atau film yang ditontonnya. Tanda-tanda anak berbakat lainnya mungkin agak sulit dilihat. Ada beberapa anak berbakat yang sudah menyadari mereka "berbeda" dari rekan sebayanya. Hal itu bisa membuat mereka merasa terasing dan juga menjadi sasaran bullying. Anak-anak yang jenius juga sering mengalami rasa frustasi karena mereka mampu berpikir lebih cepat dibanding apa yang bisa mereka ekspresikan, baik secara verbal maupun fisik. Uji bakat Meski orangtua kerap penasaran apakah anak mereka memiliki kecerdasan tinggi, kebanyakan anak tidak memperlukan uji bakat sebelum mereka masuk sekolah dasar. Tetapi para ahli menyarankan agar anak dibawa berkonsultasi jika mereka tampak bosan atau menunjukkan gejala gangguan emosional, misalnya tampak cemas, menolak berpartisipasi dalam kegiatan sekolah, atau sering mimpi buruk. Untuk menguji tingkat kecerdasan (IQ) anak sudah bisa dilakukan sejak mereka berusia 3 tahun. Selain tes IQ bisa juga dilakukan tes bakat. Anak yang memiliki tingkat IQ 130 atau lebih

dikategorikan sebagai anak jenius. Tingkat kecerdasan rata-rata adalah 85-115. Tetapi harus dipahami bahwa saat ini IQ hanyalah salah satu faktor dari berbagai faktor lain sebelum menentukan apakah anak disebut berbakat.

5 Rahasia Melatih Kecerdasan Bayi


KOMPAS.com - Tiga tahun pertama kehidupan bayi merupakan periode emas yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak secara optimal. Pada masa ini, nutrisi yang lengkap menunjang pertumbuhan otaknya sebagai modal masa depan. Kendati demikian, stimulus juga memiliki kedudukan penting untuk perkembangan kecerdasan. Memahami hal ini, dr Arifianto, SpA, spesialis kesehatan anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, membeberkan lima rahasia membesarkan bayi cerdas. 1. Jalin ikatan emosional yang erat. Ini bisa didapat dengan memberikan bayi naluri rasa aman dengan selalu mengupayakan skin to skin contact sejak lahir. Selain itu, memberi pijatan lembut pada tubuhnya, memakaikan sendiri pakaian bayi, serta berbicara pada bayi sejak awal dapat menjadi pemicu naluri rasa aman bayi. Hindari bertengkar di hadapan bayi karena akan menularkan rasa cemas pada bayi. 2. Sering bercakap-cakap dengan bayi. Semakin banyak kosa kata yang didengar sejak awal, makin dini anak mengembangkan kemampuan bicaranya. Anak berusia 3 tahun yang telah dapat berbicara dengan baik, dikatakan memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding yang lain. Cobalah berbicara dalam nada yang bervariatif ketika berbicara dengan bayi. 3. Optimalkan ekspresi wajah saat berkomunikasi. Bayi dapat menangkap ekspresi wajah orang-orang di sekitarnya, semenjak masih berusia 3 hingga 4 bulan. Kemampuan membaca ekspresi wajah adalah dasar komunikasi non verbal anak. Jika perlu, kerap tunjukkan ekspresi wajah yang ceria dan bahagia sehingga bayi juga menjadi bayi yang bahagia. 4. Batasi penggunaan car seat dan stroller. Lebih baik bagi bayi digendong daripada dibaringkan di dalam stroller. Bahkan menggendong bayi dengan tangan lebih baik daripada menggendong dengan kain atau gendongan kangguru. Saat digendong dengan tangan, bayi dapat berotasi sesuka hatinya, bergerak lebih leluasa, dan dapat melihat ke banyak sisi seperti yang diinginkannya. Ini akan membuat bayi banyak belajar dari lingkungan sekitar. 5. Tunjukkan benda yang dituju sembari berbicara. Gunakan kalimat panjang yang menjelaskan berbagai benda yang Anda tunjuk. Kendati bayi belum paham apa yang dijelaskan orang dewasa, mereka akan mengingat apa yang tertangkap pendengarannya. Ini akan membuatnya lebih cepat bicara. Pada bayi berusia 9 bulan, mereka mulai memahami ketika Anda menunjuk ini dan itu sembari berbicara

8 Kecerdasan Otak Bayi


Kompas.com - Meskipun tampak mungil dan tidak berdaya, tetapi penelitian menunjukkan bahwa bayi memiliki kecerdasannya sendiri. Berikut adalah 9 macam kecerdasan yang dimiliki bayi sejak mereka lahir. 1. Tahu siapa "bosnya" Sejak usia 10 bulan, bayi sudah bisa mengenali hirarki sosial dan mampu memahami siapa yang paling "berkuasa". Yang menarik, para bayi sudah mengetahui konsep tersebut bahkan sebelum mereka menguasai bahasa. 2. Membaca emosi anjing peliharaan Bahkan sebelum mereka bisa mengucapkan kata "mama", bayi sudah mampu membaca emosi anjing peliharaan. "Emosi adalah hal pertama yang bayi pelajari dari lingkungannya," kata Ross Flom, profesor psikologi dari Brigham Young University di Utah. 3. Memahami mood dan emosi Meski mereka belum bisa bicara, bayi sudah bisa mengetahui apakah orangtuanya sedang gembira atau sedih berdasarkan intonasi suara yang didengarnya. Kemampuan itu mereka miliki di usia 5 bulan. 4. Terlahir untuk menari Bayi memang menyukai musik. Lebih dari itu, mereka mampu menyesuaikan gerakan tubuhnya dengan musik yang mereka dengar. Menurut studi yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, kemampuan untuk bergoyang atau menari adalah bawaan manusia sejak lahir. 5. Meniru aksi Sebuah penelitian menemukan, saat bayi berusia 9 bulan, area otak mereka akan ikut aktif saat mereka melihat orang lain melakukan sesuatu kegiatan, misalnya menarik benda. Meski tidak melakukan kegiatan tersebut, saraf-saraf dalam otak tetap aktif. 6. Belajar cepat Meski sedang tertidur, bayi sebenarnya bisa belajar. Otak mereka memiliki kemampuan seperti spons data dengan menyerap informasi tanpa henti. Karena itu mungkin bayi baru lahir menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur supaya mereka bisa dengan cepat beradaptasi dengan dunia barunya.

7. Memahami bahasa Kemampuan bayi dalam memahami bahasa sebenarnya sungguh luar biasa. "Bayi baru lahir bahkan bisa membedakan dua bahasa berbeda dan tanpa kesulitan bisa mempelajari bahasa mana pun," kata George Hollich, psikolog yang banyak melakukan riset mengenai kemampuan bahasa bayi. Menurutnya, bayi bisa memahami tata bahasa di usia 15 bulan. 8. Mengenali karakter Mengetahui mana yang suka membantu dan mana yang egois adalah kemampuan yang perlu dimiliki dalam memilih teman. Dan tahukah Anda bahwa kemampuan itu sudah dimiliki manusia di usia dini. Riset menunjukkan bayi berusia 10 bulan cenderung memilih orang yang memiliki karakter gembira dan baik.

"Bonding" Bikin Bayi Cerdas


KOMPAS.com - Perkembangan otak bayi yang optimal akan membuat orangtua bahagia dan tenang. Ternyata selain stimulasi-stimulasi alat dan nutrisi, kehangatan dari orangtua pun memiliki peran penting dalam perkembangan otak bayi. Caranya pun tidak sulit, dengan membangun ikatan dengan anak, lewat senyum, peluk, dan kata-kata penuh cinta, atau yang dikenal dengan "bonding". Bagi bayi baru lahir, segala hal di sekitarnya akan terasa begitu baru. Dalam otak anak bayi baru lahir, terdapat sekitar 100 juta sel, namun sel untuk berpikir, mengingat, dan bergerak belum terbangun dengan sempurna. Contohnya, bayi baru lahir belum bisa mengerti bagaimana menggerakkan tangan supaya ia bisa merasa lebih nyaman. Bayi baru lahir masih belum mengerti benar apakah mereka merasa lapar, lelah, tidak nyaman, atau sedang bahagia. Anak baru lahir membutuhkan; rutinitas, lingkungan yang menjaga dan menenangkan, suara-suara penuh kasih, dan banyak sentuh penuh kasih. Sentuhan manusia yang berulang, seperti peluk, bicara, nyanyian, dan ekspresi wajah akan membantu otak bayi Anda berkembang. Tindakan-tindakan ini bisa memproduksi zat kimia dan hormon yang membantu anak tumbuh optimal baik secara emosional dan fisik. Nutrisi emosional Cinta ternyata juga membantu fisik anak tumbuh optimal. Ini karena sentuh dan kasih orangtua membantu otak memproduksi kimia yang membuat sel-sel otak terhubung dan berkembang. Caranya; dengan memberi afeksi fisik, merespon saat si bayi menangis, dan membuat si bayi merasa aman dan nyaman. * Afeksi fisik

Hal ini bisa dilakukan dengan pelukan hangat, menggendong, mengajak bicara, tersenyum, dan bernyanyi untuknya. Bayi akan merasa nyaman dan aman saat ia dipeluk karena ia bisa mengidentifikasi aroma ibu, ayah, atau siapa pun yang menjaga mereka. Bayi sangat suka kontak kulit ke kulit dan elus yang lembut. Kontak yang rutin bagi bayi, seperti saat mengganti popok, mandi, serta menyusui adalah rutinitas yang menyenangkan baginya, karena membuatnya merasa tenang sekaligus aman. * Merespon tangisan Bayi menangis menandakan ada yang tidak nyaman padanya, bisa karena popoknya basah, ia merasa lapar, atau cahayanya terlalu terang. Saat Anda membuatnya lebih nyaman, si anak akan merasa lebih tenang. Tidak setiap kali orangtua mengerti apa yang diinginkan si bayi, tetapi dengan merespon tangisannya, orangtua mengajar si bayi untuk percaya, bahwa orangtuanya bisa diandalkan. * Tenang sekaligus aman Anda bisa membuat bayi baru lahir merasa lebih aman dengan; menyediakan sokongan untuk kepala dan lehernya saat menggendong serta membungkus tubuh si bayi (ini memberinya kesan aman seperti saat ia masih berada di kandungan. Stimulasi mental Dunia bayi baru lahir masih berkisar antara melatih penglihatan, mendengar, dan merasa ketimbang berpikir. Menyediakan pengalaman sensoris untuk mata, telinga, dan kulit membantu otak bayi untuk bekerja dan berkembang. Hal ini membantu bagian otak yang bertanggung jawab pada memori, pikiran, dan bahasa untuk terhubung dan berkembang. Berikut ini beberapa tips untuk menstimulasi mental bayi baru lahir Anda: * Bicara kepada bayi sesering mungkin dengan nada suara yang menenangkan. Hal ini akan membantu bayi mengidentifikasi suara Anda dan melatih dasar berbahasa bayi. Mungkin akan sedikit terasa aneh berbicara kepada orang yang tidak bisa menjawab Anda kembali. Tetapi hal ini penting untuk mengetahui bahwa bayi belajar mengenali suara yang mereka sering dengar. * Bacakan cerita atau bernyanyi juga memiliki efek yang sama dengan mengajak anak berbicara. Bayi di usia ini sangat tertarik dengan suara tinggi dan ritme, serta menikmati musik menenangkan. * Saat Anda mengajak bayi berbicara dan bernyanyi, lihat mata si bayi dan buat ekspresi wajah. Hal ini akan membantu bayi melatih hubungan antara kata-kata dan perasaan. * Sentuhan dan peluk rutin kepada bayi bisa membuatnya merasa aman dan nyaman. Otak bayi baru lahir bisa menyadari bahwa dirinya sedang disentuh. Sentuhan membuat otak memproduksi zat yang membuatnya merasa nyaman.

Lama Tidur Malam Bayi Pengaruhi Kecerdasannya


KOMPAS.com Studi menyebutkan bahwa lama waktu tidur bayi di malam hari memiliki koneksi kepada fungsi kognitif si bayi. Para periset dari University of Minnesota dan University of Montreal menemukan hal ini setelah merekam pola tidur balita. Di usia 12-18 bulan, para orangtua relawan diminta untuk mencatat kebiasaan waktu tidur bayi dengan interval 30 menit (mencatat waktu tidur siang dan bangun tidur di siang hari). Di usia 18-26 bulan, para peneliti melakukan pengujian pada kinerja otak bayi tersebut. Berikut adalah hasil dari studi yang dilansir pada jurnal Child Development tersebut: Para bayi yang tidur lebih lama di malam hari, antara pukul 19.00-07.00, menjawab tes dengan lebih baik ketimbang yang tidur dengan jumlah waktu lebih lama, tetapi di siang hari. Dengan kata lain, tidur malam hari jauh lebih penting ketimbang tidur siang. Periset mengatakan, semakin lama waktu tidur bayi di malam hari semakin baik. Para bayi diminta melakukan tes fungsi eksekutif, yakni mendapatkan informasi dalam memori, kontrol impuls, dan memutuskan sesuatu, yang merupakan tugas sulit bagi bayi berusia dua tahun. Contoh, pada suatu tes, periset menempelkan stiker pada salah satu dari tiga pot, menutupnya dengan selimut, kemudian meminta si balita untuk menunjukkan pot mana yang memiliki stiker. Tentunya, ini merupakan sebuah penelitian kecil, tetapi bisa memberikan penemuan bahwa waktu tidur memiliki dampak fungsi pada otak kita di siang hari. Dalam hal ini, berkaitan dengan fungsi otak untuk menyerap dan mengolah informasi, serta memahami keadaan sekitar. Hal ini juga berpengaruh pada bayi. Hal ini sangat penting karena, ternyata, meski jumlah tidurnya sama, tetapi tidur siang tidak cukup baik untuk mengganti fungsi tidur di malam hari, setidaknya untuk kesehatan dan perkembangan otak anak. Ternyata, tidur di malam hari dan tidur siang dikelola oleh bagian otak yang berbeda, dalam hal sirkuit dan ritme sirkadiannya, hingga jelas sudah, waktu tidur di malam hari untuk anak tak bisa digantikan di siang hari. Bayi memang sering terbangun di malam hari, beberapa orang tahu bagaimana mengembalikan si bayi untuk cepat tertidur lagi. Namun, mengenai menjaga bayi agar tidak tidur di siang hari serta bisa tidur lebih awal dan lebih lama di malam hari masih menjadi perdebatan

10 Makanan untuk Kecerdasan Anak


KOMPAS.com - Penelitian membuktikan, kekurangan 1 mineral dan vitamin yang penting untuk otak bisa menurunkan kesiagaan mental otak. Pola makan yang kaya buah dan sayuran, gandum, ditambah

dengan daging dan ikan dapat mencukupi kebutuhan mineral dan vitamin utama yang diperlukan bagi kesehatan fisik dan mental. Apa saja bahan makanan yang dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak, memperbaiki fungsinya, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi serta berpikir anak-anak? Berikut 10 bahan makanan yang dianjurkan oleh dr Saridian Satrix W, SpGK: 1. Salmon Salmon merupakan sumber terbaik asam lemak omega 3 -DHA dan EPA- yang keduanya penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak. Riset terbaru juga menunjukkan, orang yang memperoleh asupan asam lemak lebih banyak memiliki pikiran lebih tajam dan mencatat hasil memuaskan dalam uji kemampuan. Kandungan asam lemak omega 3 untuk per 100 gram ikan salmon adalah 2,2 gram. Kebutuhan anak-anak akan omega 3 per hari adalah 1,2 gram. 2. Telur Telur dikenal sebagai sumber penting protein yang relatif murah dan harganya cukup terjangkau. Bagian kuning telur ternyata padat akan kandungan kolin, suatu zat yang dapat membantu perkembangan memori atau daya ingat. Kandungan kolin dalam 1 butir telur berukuran besar adalah 126 mg. Bandingkan dengan 2 sendok makan selai kacang yang hanya mengandung 20 mg dan 300 gram daging sapi degan kandungan 66 mg kolin. Kebutuhan anak-anak akan kolin 200-375 mg per hari. 3. Selai kacang Kacang tanah (peanut) yang banyak diolah menjadi selai kacang merupakan salah satu sumber vitamin E. Vitamin ini merupakan sumber antioksidan yang dapat melindungi membran-membran sel saraf. Bersama thiamin, vitamin E membantu otak dan sistem saraf dalam penggunaan glukosa untuk kebutuhan energi. Setiap 2 sendok makan selai kacang mengandung 2,9 mg vitamin E, sedangkan kebutuhan Vitamin E anak-anak per hari antara 4-10 mg. 4. Kacang-kacangan lain Kacang adalah makanan spesial sebab makanan ini memiliki energi yang berasal dari protein serta karbohidrat kompleks. Selain itu, kacang kaya akan kandungan serat, vitamin, dan mineral. Kacang juga makanan yang baik untuk otak karena mereka dapat mempertahankan energi dan kemampuan berpikir anak-anak pada puncaknya di sore hari jika dikonsumsi saat makan siang. Menurut hasil penelitian, kacang merah dan kacang pinto mengandung lebih banyak asam lemak omega 3 daripada jenis kacang lainnya, khususnya ALA, jenis asal omega 3 yang penting bagi pertumbuhan dan fungsi otak. 5. Gandum murni Otak membutuhkan suplai atau sediaan glukosa dari tubuh yang sifatnya konstan. Gandum murni memiliki kemampuan untuk mendukung kebutuhan tersebut. Serat yang terkandung dalam gandum murni dapat membantu mengatur pelepasan glukosa dalam tubuh. Gandum juga mengandung vitamin B yang berfungsi memelihara kesehatan sistem saraf. Gandum mengandung vitamin B sebanyak 1,5 mg per 100 gram. Sedangkan kebutuhan vitamin B pada anak-anak adalah 1 mg per hari.

6. Havermut Havermut merupakan salah satu jenis sereal paling populer di kalangan anak-anak dan kaya akan gizi penting bagi otak. Havermut dapat menyediakan energi atau bahan bakar untuk otak yang sangat dibutuhkan anak-anak mengawali aktivitasnya di pagi hari. Kaya akan kandungan serat, havermut akan menjaga otak anak terpenuhi kebutuhannya di sepanjang pagi. Havermut juga merupakan sumber vitamin E, vitamin B, potasium,d an seng yang membuat tubuh dan otak berfungsi pada kapasitas penuh. Per 250 mg Hevermuth mengandung: 1. Vitamin E 0,08 mg 2. Vitamin B 0,26 mg 3. Seng 6,19 mg

7. Beri Kelompok keluarga beri (stroberi, ceri, bluberi), semakin kuat warnanya semakin banyak zat gizi yang dikandungnya. Beri mengandung antioksidan kadar tinggi, khususnya vitamin C, yang berfaedah mencegah kanker. Beberapa riset menunjukkan mereka yang mendapatkan ekstrak bluberi dan stroberi mengalami perbaikan dalam fungsi daya ingatnya. Biji dari buah beri ini juga ternyata kaya akan asam lemak omega 3. 8. Sayuran berwarna Tomat, ubi jalar merah, labu, wortel, dan bayam adalah sayuran yang kaya gizi dan sumber antioksidan yang akan membuat sel-sel otak kuat dan sehat. 9. Susu dan yoghurt Makanan yang berasal dari produk susu mengandung protein dan vitamin B tinggi. Dua jenis zat gizi ini penting bagi pertumbuhan jaringan otak, neurotransmitter, dan enzim. Susu dan yoghurt juga bisa membuat perut kenyang karena kandungan protein dan karbohidratnya sekaligus menjadi sumber energi bagi otak. 10. Daging sapi tanpa lemak Zat besi adalah jenis mineral esensial yang akan membantu anak-anak tetap berenergi dan berkonsentrasi di sekolah. Daging sapi tanpa lemak adalah salah satu sumber makanan yang mengandung banyak zat besi. Kandungan zat besi dalam 100 gram daging sapi adalah 4,05 mg. Sedangkan kebutuhan akan zat besi pada anak-anak adalah 3-10 mg per hari.

Kaitan antara Tidur dan Kecerdasan Anak

KOMPAS.com Ibarat sebuah ponsel, sumber tenaga manusia perlu di-charge kembali. Tidur memungkinkan tubuh beristirahat. Tidur pun merupakan bagian dari aktivitas alami pemulihan stamina. Tidur juga diyakini membawa pengaruh pada perkembangan kesehatan jiwa individu yang bersangkutan. Bahkan, kualitas tidur memiliki peran krusial pada kondisi perkembangan kesehatan jiwa anak, di samping dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Tidur memang tak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan anak. Maksudnya, tidur cukup saja tidak otomatis membuat anak pintar. Yang benar, tidur cukup membuat fisik dan mental anak menjadi lebih kondusif. Nah, kondisi inilah yang berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Ketika energi berkurang dan tubuh mulai letih, si kecil yang seolah tidak pernah capek bermain sering kali menjadi rewel, bukan? Kondisi itu juga menyebabkan anak tak lagi bisa berkonsentrasi menjalani aktivitasnya. Inilah saatnya si kecil perlu tidur. Dijamin, apabila tidurnya cukup, anak akan segar kembali dan dapat bermain sambil berkonsentrasi saat bereksplorasi. Jadi, bisa disimpulkan, tidur sangat mendukung perkembangan kecerdasan anak. Sama halnya dengan anak yang bersekolah dari pagi hingga siang hari. Sepulang sekolah, dalam keadaan letih, dia pasti akan sulit berkonsentrasi ketika diminta mengulang pelajaran. Apabila dipaksakan, mungkin hasilnya nihil. Lebih baik berikan kesempatan kepada anak untuk beristirahat agar energinya kembali. Berdasarkan penelitian, selama tidur semua sel tubuh, termasuk sel otot, hati, ginjal, tulang sumsum, dan sel otak, mengalami pemulihan. Bermodalkan tubuh yang bugar inilah anak diasumsikan akan lebih semangat melakukan sesuatu. Apalagi didukung oleh otak yang berfungsi dengan baik. Selain itu, hormon-hormon pun lebih aktif diproduksi selagi tidur. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja otak dan melancarkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak. Dengan demikian, sel-sel saraf semakin berkemungkinan memiliki pengetahuan yang permanen sifatnya. Penelitian yang dilansir di London pada 1998 mengungkapkan bahwa bayi yang banyak tidur, perkembangan otaknya akan optimal. Pasalnya, aktivitas tidur merupakan salah satu stimulus bagi proses tumbuh kembang otak. Hal ini bisa dimengerti karena 75 persen hormon pertumbuhan diproduksi saat anak tidur. Hormon pertumbuhan inilah yang bertugas merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan. Selain itu, hormon pertumbuhan juga memungkinkan tubuh memperbaiki dan memperbarui seluruh sel dalam tubuh, dari sel kulit, sel darah, sampai sel saraf otak. Nah, proses pembaruan sel ini akan berlangsung lebih cepat kalau si bayi sering terlelap. Para peneliti di University of London, seperti dilansir BBC News baru-baru ini, mempelajari 600 bayi dengan rentang usia 1-12 minggu untuk melihat faktor yang menyebabkan mereka bisa atau tidak bisa tidur sepanjang malam. Ditemukan, bayi yang disusui lebih dari 11 kali dalam waktu 24 jam selama seminggu pertama akan mengurangi waktu tidurnya hingga 12 minggu. Artinya, sampai berusia 12 minggu, si bayi tidak menikmati tidurnya yang nyenyak sepanjang malam. Seandainya aktivitas menyusu digeser sebelum tengah malam, bayi tentu akan tidur lebih nyenyak.

Tim peneliti di bawah pimpinan Dr Ian St James-Roberts juga menemukan bahwa saat disusui, bayi akan belajar melakukan pembedaan antara siang dan malam. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Diseases in Childhood ini mengungkap, pemberian susu secara sering pada minggu pertama usia bayi merupakan faktor signifikan yang menentukan pola tidur selanjutnya. Itulah mengapa para peneliti berharap studi yang disebut behavioural programme ini bisa menjadi rujukan bagi kalangan medis untuk mengatasi masalah tidur bayi. Secara garis besar, bayi jadi lebih cerdas apabila kebutuhan tidurnya tercukupi. Jadi, jangan usik pulasnya tidur si kecil jika ingin anak tumbuh cerdas.

Membuat Si Kecil Cerdas


KOMPAS.com - Faktor genetika memang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak saat dilahirkan. Namun kecerdasan saat anak beranjak dewasa juga ditentukan dari nutrisi dan stimulasi yang diberikan oleh orang tua mereka. Kedua hal ini, yakitu nutrisi dan stimulasi, bahkan paling berperan menentukan kecerdasan anak dalam masa pertumbuhan. Saat seorang anak dilahirkan, otaknya belum tumbuh dengan sempurna. Pertumbuhan otak anak ini berlangsung pada usia lima tahun pertama atau biasa disebut periode emas pertumbuhan. Pada masa inilah orangtua berperan sangat penting dalam memberikan stimulasi agar perkembangan otak optimal dan anak mencapai kecerdasan yang tinggi di kemudian hari. Stimulasi adalah kegiatan merangsang dan melatih kemampuan anak yang berasal dari lingkungan luar anak (orang tua atau pengasuhnya). Untuk itu tentu saja anak juga membutuhkan dukungan nutrisi yang cukup berupa protein, energi serta asam lemak essensial seperti AA,DHA, asam amino essensial T&T (Tirosin dan Triptofan), mineral seperti Fe, Ca, Zn. "Tujuan stimulasi untuk balita usia 0-1 tahun adalah agar mereka harus mengenal sumber suara dan mencari objek yang tidak kelihatan, melatih kepekaan perabaan, koordinasi mata-tangan dan mata- telinga," ujar Dr. dr. Kusnandi Rusmil Sp.A (K), Ahli Tumbuh Kembang Anak dari Rumah Sakit Hasan Sadikin dalam acara Konferensi Pers Ajakan Cerdas untuk Orangtua Optimalkan Tumbuh Kembang Anak melalui Stimulasi dan Nutrisi di Dolanan PreSchool, Dharmawangsa yang diadakan oleh Susu Pertumbuhan Frisian Flag 123 & 456 pada Jumat (26/3/2010). Sedangkan untuk balita usia 2-3 tahun stimulasi yang diperlukan adalah melatih mengembangkan ketrampilan berbahasa, warna, mengembangkan kecerdasan dan daya imajinasi. Tahapan balita usia 3-6 tahun adalah mengembangkan kemampuan perbedaan dan persamaan, berhitung, menambah dan sportivitas. Stimulasi akan membuat sistem syaraf berfungsi dengan baik. "Tumbuh kembang otak manusia mencapai puncaknya saat balita mencapai usia lima tahun. Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi untuk tumbuh kembang otak yang optimal bagi balita harus

diperoleh setiap harinya dari 3 kali makan utama, 2 kali snack dan 2 gelas (400ml) susu," ujar Yeni Novianti, Ahli nutrisi Frisian Flag Indonesia. Selain bantuan stimulasi dan nutrisi, yang tidak kalah penting adalah dukungan keluarga dalam mengoptimalkan stimulasi pada anak. Pemberian stimulasi dan nutrisi pada anak tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada pengasuh atau baby sitter. Orangtua harus berperan aktif membina kebersamaan keluarga dan menciptakan waktu berkualitas (quality time) dengan waktu yang sedikit namun dimanfaatkan sebaik-baiknya. Hal itu bisa diterapkan dalam hal sederhana misalnya makan bersama. Kesempatan itu dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan aneka ragam makanan, nama dan warnanya kepada anak, serta mengajarkan ketrampilan makan. Saat anak minum susu dapat dibarengi membacakan buku cerita atau menonton televisi sambil menyelipkan pesan manfaat minum susu bagi anak. Usahakan mendampingi anak dan bercakapcakap saat menonton televisi. Ajak anak berolahraga atau bermain mengenal alam dan lingkungannya pada akhir pekan. "Kebersamaan antar orang tua dan anak sangat dibutuhkan untuk menjalin komunikasi guna memungkinkan pemberian stimulasi dan nutrisi yang tepat untuk anak, " ujar Psikolog anak dari Uiversitas Indonesia, Efriyani Djuwita MSi.

Stimulasi untuk Tingkatkan Kecerdasan Anak


SOLO, KOMPAS.com - Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dibutuhkan bukan hanya nutrisi dan imunisasi, melainkan juga kasih sayang dan stimulasi. Perkembangan otak manusia berkembang pesat sejak janin masih dalam kandungan, hingga bayi berusia tiga tahun. Setelah itu perkembangan otak melambat. Hal itu dikatakan dokter spesialis anak, Soedjatmiko, dalam media briefing usai simposium "Nutrisi untuk Pertumbuhan serta Deteksi Dini dan Intervensi Penyimpangan Tumbuh Kembang" dalam rangka rapat kerja nasional Ikatan Bidan Indonesia di Kota Solo, Selasa (11/10/2011). Menurut Soedjatmiko, nutrisi terbaik untuk bayi adalah air susu ibu (ASI), yang harus segera diberikan setelah kelahiran hingga bayi usia enam bulan. Setelah itu bayi diberikan makanan pendamping ASI. Anak di bawah usia tiga tahun yang mengalami kekurangan nutrisi, akan menyebabkan tingkat kecerdasannya tidak sebaik anak yang mendapat kecukupan gizi.

"Namun cukup gizi saja tidak cukup. Jika otak pintar namun bayi tidak mendapat cukup stimulasi, dia juga tidak bisa apa-apa. Pada prinsipnya, asah asih asuh untuk bayi-bayi kita agar menjadi generasi penerus yang berkualitas," kata Soedjatmiko.