Anda di halaman 1dari 21

REFERAT DISFONIA

Pembimbing

Dr. Donald Marpaung. Sp. THT


Disusun oleh

Roro widiastuti 030.07.228

Kepaniteraan Klinik Telinga Hidung Tenggorok RSAL Mintohardjo Periode 9 April-12 Mei 2012 Fakultas Kedokteran Trisakti Jakarta

Disfonia

2012
REFERA T

LEMBAR PENGESAHAN

Referat yang berjudul : DISFONIA

Disetujui Oleh: Pembimbing

Dr. Donald Marpaung Sp. THT

Kepaniteraan Klinik Telinga Hidung Tenggorook RSAL Mintohardjo Periode 9 April 12 Mei 2012 Fakultas Kedokteran Trisakti Jakarta 2012

Disfonia

KATA PENGANTAR
REFERA T

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan referat ini dengan judul Disfonia . Referat ini saya ajukan dalam rangka melaksananakan tugas kepaniteraan klinik Telinga Hidung Tenggorok di RSAL Mintohardjo. Pada kesempatan ini perkenankanlah saya menyampaikan rasa terima kasih kepada dr.Donald Marpaung, Sp.THT yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan referat ini. Dan kepada kedua orang tua saya yang selalu mendukung saya, serta kepada teman-teman koass dan semua pihak yang telah turut membantu penyusunan referat ini. Diharapkan referat ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi para mahasiswa kedokteran, serta semoga dapat menambah pengetahuan dalam bidang kedokteran dan dapat menjadi bekal dalam profesi kami kelak. Saya menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu dengan senang hati saya menerima kritik dan saran yang membangun. Atas perhatian yang diberikan saya ucapkan terima kasih.

Jakarta, April 2012 Penulis

Disfonia

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR2


REFERA T

DAFTAR ISI...3 BAB I. PENDAHULUAN..4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA....5 2.1 Definisi...5 2.2 Anatomi..5 2.3 Fisiologi Laring.10 2.4 Etiologi .....11 2.5 Gejala dan pemeriksaan Fisik12 2.6 Pemeriksaan Penunjang.....15 2.7 Penatalaksanaan ...15 BAB III. PENUTUP...17 DAFTAR PUSTAKA.18

Disfonia

BAB I. PENDAHULUAN
REFERA T

Disfonia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit atau kelainan pada laring. disfonia atau gangguan suara tidak jarang kita temukan dalam klinik, gangguan suara ini lebih sering terjadi pada kelompok-kelompok tertentu seperti guru, penyanyi, penceramah, namun semua usia dan jenis kelamin dapat terkena dan berdampak pada status kesehatan serta kualitas hidup seseorang. Penyebab disfonia bermacam-macam, yang prinsipnya menimpa laring dan sekitarnya yang akan menyebabkan disfonia diantaranya radang, neoplasma, paralisis otot-otot laring, kelainan laring misal sikatriks akibat operasi. Penatalaksanaan disfonia meliputi diagnosis etiologi, dan pemeriksaan klinik serta penunjang untuk membantu diagnosis, juga terapi yang sesuai dengan etiologi tersebut.

Disfonia

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

REFERA T

II.1 DEFINISI Disfonia merupakan istilah umum untuk setiap gangguan suara yang disebabkan kelainan pada organ-organ fonasi, terutama laring, baik yang bersifat organik maupun fungsional. Disfonia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit atau kelainan pada laring. (buku tht ijo) Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan dalam getaran, gangguan dalam ketegangan serta gangguan dalam pendekatan (adduksi) kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan dsifonia. Keluhan gangguan suara tidak jarang kita temukan dalam klinik. Gangguan suara atau disfonia ini dapat berupa suara yang terdengar kasar dengan nada lebih rendah dari biasanya (suara parau), suara lemah (hipofonia), hilang suara (afonia), suara tegang dan sulit keluar (spastik), suara yang terdiri dari beberapa nada (diplofonia), nyeri saat bersuara (odinofonia) II.2 ANATOMI Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran nafas bagian atas. Batas atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawah laring adalah batas kaudal kartilago krikoid. Bangunan kerangka laring tersusun atas tulang dan tulang rawan. Terdiri dari tulang hyoid yang berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh tendo dan otot-otot. Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis, dan kartilago tritisea.

Disfonia

REFERA T

Bentuk kartilago krikoid berupa lingkaran, kartilago krikoid ini dihubungkan dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid. Terdapat sepasang kartilago aritenoid yang terletak dekat permukaan belakang laring, dan membentuk sendi dengan kartilago krikoid yang disebut artikulasi krikoaritenoid. Sepasang kartilago kornikulata melekat pada kartilago aritenoid di daerah apeks, sedangkan sepasang kartilago kuneiformis terdapat dalam lipatan ariepiglotik, dan kartilago tritisea terletak di dalam ligamentum hiotiroid lateral. Pada laring terdapat 2 buah sendi yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi krikoaritenoid. Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid (anterior, lateral, posterior), ligamentum krikotiroid (posterior,medial), ligamentum kornikulofaringal, ligamentum hiotiroid (lateral,medial), ligamentum hioepiglotika, ligamentum ventrikularis, ligamentum vokale (yang menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid), dan ligamentum tiroepiglotika. Gerakan laring dilaksanakan oleh otot-otot ekstrinsik dan otot-otot intrinsik. Otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan yaitu m.digastrikus, m.geniohioid, m.stilohioid, m.milohioid, m.sternohioid, m.omohioid, dan m.tirohioid. Sedangkan otot-otot intrinsik bekerja pada bagian-bagian laring tertentu yang berhubungan dengan gerakan pita suara, yaitu m.krikoaritenoid lateral, m.tiroepiglotika, m.vokalis, m.tiroaritenoid, m.ariepiglotika dan m.krikotiroid, otot-otot ini terletak di bagian lateral laring. Otot-otot intrinsik laring yang terletak di bagian posterior ialah m.aritenoid transversum, m.aritenoid oblik dan m.krikoaritenoid posterior. Sebagian besar otot-otot intrinsik adalah otot aduktor (kontraksinya akan mendekatkan

Disfonia

kedua pita suara ke tengah) kecuali m.krikoaritenoid posterior yang merupakan otot abduktor (menjauhkan kedua pita suara ke lateral).
REFERA T

Rongga Laring Batas superior rongga laring terdiri dari aditus laring, batas inferiornya ialah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas anterior ialah permukaan belakang epiglottis, tuberkulum epiglottis, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas posterior ialah m.aritenoid transverses dan lamina kartilago krikoid. Dan batas lateral nya ialah membrane kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus elastikus dan arkus kartilago krikoid. Plika vokalis dan plika ventrikularis terbentuk karena adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare. Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan disebut rima glottis, sedangkan antara kedua plika ventrikularis disebut rima vestibuli. Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring menjadi 3 bagian yaitu vestibulum laring (supraglotik), glotik dan subglotik. Rima glottis terdiri dari 2 bagian yaitu bagian intramembran dan bagian interkartilago. Pendarahan Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.laringis superior dan a.laringis inferior. Arteri laringis superior merupakan cabang dari a.tiroid superior. Arteri laringis superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membran tirohioid bersama-sama dengan
8

Disfonia

cabang internus dari n.laringis superior kemudian menembus membrane ini untuk berjalan kebawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus piriformis untuk mempendarahi mukosa dan otot-otot laring. Arteri laringis inferior merupakan cabang dari a.tiroid inferior dan bersama-sama n.laringis inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui daerah pinggir bawah dari m.konstriktor faring inferior.
REFERA T

Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan arteri laringis superior dan inferior, dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior.

Disfonia

REFERA T

Persarafan laring Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringis superior dan n.laringis inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf sensorik dan motorik. Nervus laringis superior mempersarafi m.krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada mukosa laring dibawah pita suara. Nervus laringis inferior merupakan lanjutan dari n.rekuren setelah saraf itu memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan cabang dari n.vagus, saraf ini bercabang 2 menjadi ramus anterior dan ramus posterior. Ramus anterior mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian lateral, sedangkan ramus posterior mempersarafi otot-otot intrinsic laring superior dan mengadakan anastomosis dengan a.laringis superior.

10

Disfonia

REFERA T

II.3 FISIOLOGI PENDENGARAN Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi serta fonasi. Fungsi laring untuk proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda asing masuk ke dalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima glottis secara bersamaan. Terjadi penutupan aditus laring ialah karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring. Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak kedepan akibat kontraksi m.tiroaritenoid dan m.aritenoid, selanjutnya m.ariepiglotika berfungsi sebagai sfingter. Penutupan rima glottis terjadi karena aduksi plika vokalis. Fungsi respirasi dari laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima glottis. Bila m.krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glottis terbuka (abduksi). Dengan terjadinya perubahan
11

Disfonia

tekanan udara didalam traktus trakeo-bronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Fungsi laring dalam proses menelan ialah dengan 3 mekanisme, yaitu gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laringis, dan mendorong bolus makanan turun ke hipofaring sehingga tidak masuk ke dalam laring. Fungsi laring untuk fonasi dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh ketegangan plika vokalis, bila plika vokalis dalam keadaan aduksi, maka m.krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan ke depan menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m.krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Plika vokalis kini dalam keadaan efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m.krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahnya nada. Selain itu dengan refleks batuk, benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat dibatukkan keluar, laring juga mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti berteriak, menangis, mengeluh, dll. II.4 EPIDEMIOLOGI Di dunia barat, sekitar sepertiga penduduk yang bekerja menggunakan suaranya untuk bekerja, di Inggris sekitar 50.000 pasien per tahun dirujuk ke bidang THT karena bermasalah dengan suaranya (Doerr S. Hoarseness. Available at www.medicinet.com. Last accessed 4th may 2012.) II.5 ETIOLOGI Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan getaran, ketegangan dan pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan suara serak. Gangguan dalam bersuara seperti suara serak, biasanya disebabkan berbagai macam faktor yang prinsipnya menimpa laring dan sekitarnya. Penyebabnya dapat berupa radang, tumor, paralisis otot-otot laring, kelainan lain seperti sikatrik pasca operasi, fiksasi pada sendi krikoaritenoid. Serta dikarenakan penggunaan suara yang berlebihan.(no 6 dri internet) kelainan patologi yang serius harus disingkirkan, seperti halnya karsinoma laring dan tumor kepala, dan leher lainnya yang menyebabkan kelumpuhan nervus laringeus. Banyak faktor yang dapat menyebabkan suara serak. Sebagian besar bukan masalah yang serius dan dapat hilang dalam waktu yang singkat. Penyebab yang paling sering adalah laryngitis akut yang biasanya muncul karena common cold, infeksi saluran pernafasan
12
REFERA T

Disfonia

atas, atau iritasi saat bersuara keras seperti berteriak. Kebiasaan menggunakan suara berlebihan mengakibatkan timbulnya vocal nodule, atau polip pada pita suara, vocal nodule sering terjadi pada anak-anak. Penyebab suara serak yang biasa terjadi pada orang dewasa adalah refluk gastroesofageal. Merokok juga dapat menyebabkan suara menjadi parau. Penyebab suara parau dapat bermacam-macam, diantaranya : 1. Kelainan kongenital a. Laringomalasia merupakan penyebab tersering suara serak saat bernafas pada bayi baru lahir b. Laryngeal web merupakan suatu selaput jaringan pada laring yang sebagian menutup jalan udara. 75 % selaput ini terletak diantara pita suara, tetapi selaput ini juga dapat terletak diatas atau dibawah pita suara. c. Cri du chat syndrome dan Down syndrome merupakan suatu kelainan genetic pada bayi saat lahir bermanifestasi klinis berupa suara serak atau stridor saat bernafas. d. Paralisis pita suara bisa terjadi pada saat lahir, baik satu atau kedua pita suara. Tumor pada rongga dada (mediastinum) atau trauma saat lahir dapat menyebabkan kerusakan saraf pada laring yang mempersarafi pita suara. 2. Infeksi a. Infeksi virus merupakan infeksi yang paling banyak menyebabkan suara serak. Virus penyebab yang paling sering adalah rinovirus (common cold), adenovirus, influenza virus. b. Infeksi bakteri seperti epiglottitis bacterial oleh Haemophilus influenza type B merupakan salah satu penyebab tersering. Penyebab lain Streptococcus pneumonia, Staphylococcus aureus. c. Infeksi jamur seperti candida pada mulut dan tenggorok, ini merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada anak atau orang dewasa dengan imunosupresi (HIV, kemoterapi, dll).
13
REFERA T

Disfonia

3. Inflamasi Berkembangnya nodul, polip atau granuloma pada pita suara dapat diakibatkan oleh
REFERA T

iritasi dan inflamasi yang kronis pada pita suara yang sering terjadi pada perokok, terpapar racun dari lingkungan, dan penyalahgunaan suara. a. Nodul paling sering didapatkan pada anak-anak dan wanita, ada hubungan dengan penyalahgunaan suara. Nodul ini timbul bilateral, lembut, lesinya bulat terletak pada sepertiga anterior dan dua pertiga posterior dari pita suara. b. Polip lebih sering didapatkan pada laki-laki dan sangat kuat hubungannya dengan rokok, polip berupa massa lembut, bisa tunggal ataupun multiple, dan paling sering unilateral. c. Kista laryngeal biasanya berupa sumbatan kelenjar mucus atau kista inklusi epitel dan akan menyebabkan perubahan suara jika terdapat atau dekat dengan tepi bebas pita. d. Gastroesophageal reflux disease. 4. Neoplasma a. Papilloma merupakan tumor jinak yang sering didapatkan pada saluran pernafasan. Disebabkan oleh HPV. b. Hemangioma merupakan tumor jinak pembuluh darah c. Limphagioma merupakan tumor pembuluh limfa, sering timbul di daerah kepala, leher. d. Tumor ganas misalnya karsinoma laring. 5. Trauma a. Endotracheal intubation b. Fraktur pada laring

14

Disfonia

c. Benda asing 6. Sistemik


REFERA T

a. Endokrin : hypothyroidisme, acromegaly b. Rheumatoid arthritis berdampak pada kaitan antar sendi pada laring. c. Penyakit Granulomatous contoh sarcoid, syphilis, TBC.

II.5 GEJALA dan PEMERIKSAAN FISIK Disfonia bukan merupakan suatu penyakit, namun merupakan suatu gejala penyakit atau kelainan laring. Disfonia dapat disebabkan oleh beberapa penyakit yang disebutkan sebelumnya. Dalam melakukan anamnesis harus lengkap dan terarah sesuai dengan penyakit yang dapat menyebabkan disfonia. Berikut adalah beberapa penyakit yang dapat menyebabkan disfonia, disertai gejala-gejala yang menyertai : 1. Radang Radang laring dapat akut atau kronis, radang akut dapat disebabkan karena laryngitis akut, gejala seperti suara parau sampai tidak dapat bersuara lagi (afoni), nyeri ketika menelan atau berbicara, demam, malaise, dan dapat disertai batuk kering yang lama kelamaan disertai dahak. Sedangkan radang kronis nonspesifik dapat terjadi pada laryngitis kronis yang biasanya disebabkan karena sinusitis kronis, deviasi septum yang berat, polip hidung, bronchitis kronis, dan dapat disebabkan karena penyalahgunaan suara pada seseorang. Gejala Gejala yang timbul seperti suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorok, sehingga pasien sering mendeham tanpa mengeluarkan secret, karena mukosa yang menebal. Radang kronis yang spesifik dapat disebabkan karena laryngitis tuberculosis, gejala nya seperti rasa kering,panas dan tertekan didaerah laring, suara parau selama berminggu-minggu dan dapat berlanjut menjadi afoni,
15

Disfonia

hemoptisis, nyeri menelan yang sangat hebat, batuk kronis, berat badan menurun, dan keringat pada malam hari.
REFERA T

Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan tampak mukosa laring hiperemis, membengkak, terutama diatas dan dibawah pita suara. Biasanya terdapat tanda radang akut di hidung, atau sinus paranasal. Pada laryngitis kronis yang penyebabnya akibat TBC bisa terdapat ulkus yang terjadi karena tuberkel yang pecah di mukosa laring. Dapat juga disertai tanda deviasi septum yang berat, polip hidung sesuai dengan penyebabnya. 2. Neoplasma Gejala Terdapat tumor jinak laring yaitu nodul pita suara yang dapat disebabkan penyalahgunaan suara dalam waktu yang sangat lama, dengan gejala suara parau dan kadang-kadang disertai batuk. Polip pita suara juga termasuk lesi jinak laring dengan gejala suara parau. Kista pita suara termasuk kista kelenjar liur minor laring, terbentuk akkibat tersumbatnya kelenjar tersebut, faktor iritasi kronis, refluks gastroesofageal diduga berperan sebagai faktor predisposisi, dengan gejala suara parau. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik dengan nodul pita suara terdapat nodul di pita suara sebesar kacang hijau atau lebih kecil berwarna keputihan, predileksi nodul tersebut terletak di sepertiga anterior pita suara dan sepertiga medial. Nodul biasanya bilateral, banyak dijumpai pada wanita dewasa muda. Polip pita suara biasanya bertangkai, terletak di sepertiga anterior, sepertiga tengah, bahkan dapat mengenai seluruh pita suara. Lesi biasanya unilateral, dapat terjadi pada segala usia dan umumnya pada orang dewasa. 3. Paralisis otot laring Gejala
16

Disfonia

Gejala kelumpuhan pita suara adalah suara parau, stridor atau bahkan disertai kesulitan menelan yang tergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya lesi intrakranial, maka akan muncul gejala kelainan neurologik. Jika penyebabnya adalah perifer, seperti tumor tiroid, penyakit jantung, maka gejalanya akan disertai gejala yang sesuai dengan penyebabnya. Pemeriksaan fisik
REFERA T

Paralisis pita suara merupakan kelainan otot intrinsic laring yang sering ditemukan dalam klinik. Dalam menilai tingkat pembukaan rimaglotis dibedakan dalam 5 posisi pita suara, yaitu posisi median (kedua pita suara berkisar 3-5 mm), posisi paramedian, posisi intermedian (kedua pita suara berkisar 7 mm), posisi abduksi ringan (pembukaan pita suara kira-kira 14 mm) dan posisi abduksi penuh (pembukaan pita suara berkisar 18-19 mm). gambaran posisi pita suara dapat bermacam-macam tergantung dari otot mana yang terkena, penggolongan menurut lokasi misalnya paralisis unilateral atau bilateral. Menurut jenis otot yang terkena dikenal paralisis abductor, sedangkan menurut jumlah otot yang terkena, paralisis sempurna atau tidak sempurna.

II.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG Diperlukan pemeriksaan penunjang untuk membantu diagnosis, mencari penyebab, seperti pemeriksaan laringoskopi indirek, maupun direk. Menggunakan teleskop laring baik yang kaku (rigid telescope) atau serat optic (fiberoptic telescope). Penggunaan teleskop ini dapat dihubungkan dengan alat video sehingga akan memberikan gambaran laring yang lebih jelas dalam keadaan statis maupun dinamis, selain itu dapat dilakukan dokumentasi hasil pemeriksaan untuk tindak lanjut hasil pengobatan. Visualisasi laring dan pita suara secara dinamis akan lebih jelas dengan menggunakan stroboskop, dimana gerakan pita suara dapat diperlambat sehingga dapat terlihat getaran pita suara. Terkadang diperlukan pemeriksaan laring secara langsung untuk biopsi tumor, secara langsung dapat menggunakan teleskop atau mikroskop. Pemeriksaan lainnya seperti darah lengkap, foto Rontgen thoraks, sinus paranasal, dan patologi anatomi.

17

Disfonia

II.7 PENATALAKSANAAN
REFERA T

Penatalaksanaan disfonia sesuai dengan kelainan atau penyakit yang menjadi etiologinya. Terapi dapat medikamentosa, vocal hygiene, terapi suara dan terapi bicara juga tindakan operatif 1. Radang akut Istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari. Menghirup udara lembab. Menghindari iritasi pada laring dan faring misalnya merokok, makan makanan yang pedas, atau minum es. Antibiotik dapat diberikan, bila terdapat sumbatan laring dapat dilakukan pemasangan pipa endotrakea atau trakeostomi.

2. Radang kronis Dapat diberikan pengobatan sesuai dengan penyebabnya, missal pada TBC, maka diberikan antituberkulosis primer dan sekunder. Atau penyebabnya sinusitis, maka dapat diberikan antibiotik, analgetik, mukolitik 3. Neoplasma Seperti pada nodul pita suara dapat dilakukan penanggulangan awal yaitu istirahat bicara dan terapi suara. Tindakan bedah mikro dapat dilakukan apabila ada kecurigaan keganasan atau lesi fibrotik, nodul dapat diperiksa ke bagian patologi anatomi. Sedangkan pada polip pita suara dilakukan penanganan standar yaitu bedah mikro laring dan pemeriksaan patologi anatomi. Juga pada kista pita suara dilakukan bedah mikro laring. 4. Paralisis pita suara Pengobatan pada kelumpuhan pita suara adalah terapi suara dan bedah pita suara. Pada umumnya terapi suara dilakukan terlebih dulu, sedangkan tindakan bedah pita suara dapat dilakukan tergantung pada beratnya gejala, kebutuhan suara pada pasien, posisi kelumpuhan pita suaradan penyebab kelumpuhan tersebut.
18

Disfonia

REFERA T

BAB III. PENUTUP

Disfonia merupakan istilah umum untuk setiap gangguan suara yang disebabkan kelainan pada organ-organ fonasi, terutama laring, baik yang bersifat organik maupun fungsional. Disfonia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit atau kelainan pada laring. Disfonia dapat diakibatkan oleh berbagai penyebab, dapat berupa radang, neoplasma, paralisis otot-otot laring, kelainan lain seperti sikatrik pasca operasi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik serta penunjang. Penatalaksanaan yang diberikan berdasarkan etiologi yang mendasari disfonia tersebut.

19

Disfonia

REFERA T

DAFTAR PUSTAKA

1. Arsyad Efiaty,Iskandar Nurbaity dkk Ed, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Edisi Keenam. Balai Penerbit FK UI : Jakarta, 2007. hal 231-42. 2. Adam GL, Boied LR, Hilger PA. Boeies Fundamental of Otolaringology.5 Philadelphia : WB Saunder. 1978.
20
th

Edition

Disfonia 3. Medlineplus.Hoarseness.Available at

www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003054.htm. last update 23rd November 2010.


REFERA T

4. Moore KL, Agur AM. Essential Clinical Anatomy. Williams and Wilkins : Toronto. 1996. p 433-37.

21