Anda di halaman 1dari 18

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Prostat a. Lokasi dan Deskripsi Prostata merupakan organ kelenjar fibromuskular yang

mengelilingi uretra pars protatica (Gambar 3.1 dan 3.2). Prostata mempunyai panjang kurang lebih 1 ¼ inchi (3 cm) dan terletak di antara collum vesicae di atas dan diaphragma urogenitale di bawah (Gambar 3.2)3.

Gambar 2.1. Potongan sagital pelvis laki-laki3. Prostata dikelilingi oleh capsula fibrosa. Di luar capsula terdapat selubung fubrosa, yang merupakan bagian lapisan visceral fascia pelvis (Gambar 3.2). Prostata yang berbentuk kerucut mempunyai basis protatae yang terletak di superior dan berhadapan dengan collum vesicae, dan apex prostata yang terletak di inferior dan berhadapan dengan diaphragma urogenitale. Kedua ductus ejaculatorius menembus bagian atas facies posterior prostatae untuk bermuara ke urethra pars prostatica pada pinggir lateral utriculus prostaticus (Gambar 3.2)3. 1

1). Ke anterior: Facies anterior prostatae berbatasan dengan symphisis pubica. Ligamenta ini terletak di samping kanan dan kiri linea mediana dan merupakan penebalan fascia pelvis (Gambar 2. Urethra meninggalkan prostata tepat di atas apex pada facies anterior (Gambar 2. Urethra masuk pada bagian tengah basis prostatae (Gambar 2. Otot polos prostata terus melanjut tanpa terputus dengan otot polos collum vesicae. Selubung fibrosa prostata dihubungkan dengan aspek posterior os pubis oleh ligamenta puboprostatica. potongan horizontal (C)3. Hubungan3: 1. Ke inferior: Apex prostatae terletak pada facies superior diaphragma urogenitale. 3. dipisahkan oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat di dalam spatium retropubicum (cavum Retzius). 2 . Perhatikan muara ductus ejaculatorius pada pinggir utriculus prostaticus. Ke superior: Basis protatae berhubungan dengan collum vesicae. 2.A B C Gambar 2. potongan sagital (B). Potongan koronal prostata (A).1).2).2.

Prostata secara tidak sempurna terbagi menjadi 5 lobus (Gambar 2. Lobus anterior terletak di bagian depan urethra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar. Struktur Prostat Kelenjar prostata yang jumlahnya banyak tertanam di dalam campuran otot polos dan jaringan ikat. Permukaan atas lobus medius berhubungan dengan trigonum vesicae. Lobus posterior terletak di belakang urethra dan di bawah ductus ejaculatorius. juga mengandung kelenjar.2). bagian ini mengandung banyak kelenjar. Lobi prostatae dexter dan sinister terletak di samping urethra dan dipisahkan satu dengan yang lainnya oleh alur vertikal dangkal yang terdapat pada facies posterior prostatae. Sekret prostata bersifat alkalis dan membantu menetralkan suasana asam di dalam vagina3.1 dan 2.2). Bila otot polos pada capsula dan stroma berkontraksi. Ke lateral: Facies lateralis prostatae difiksasi oleh serabut anterior musculus levator ani pada saat serabut ini berjalan ke posterior dari pubis (Gambar 2. Lobi laterales mengandung banyak kelenjar3 c. 3 . Ke posterior: Facies posterior prostatae (Gambar 2. yang semula meluas ke bawah sampai ke corpus perineale. b. Cairan ini ditambahkan ke semen pada waktu ejakulasi. sekret yang berasal dari banyak kelenjar diperas masuk ke urethra pars prostatica.4. dan ductusnya bermuara ke urethra pars prostatica3. 5. Lobus medius atau medianus adalah kelenjar berbentuk baji yang terletak di antara urethra dan ductus ejaculatorius. Fungsi Prostat Fungsi prostata adalah menghasilkan cairan tipis seperti susu yang mengandung asam sitrat dan fosfatase asam.2) berhubungan erat dengan facies anterior ampulla recti dan dipisahkan dari rectum oleh septum rectovesicale (fascia Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding ujung bawah excavatio retrovesicalis peritonealis.

hiperplasia kelenjar periuretra menjadi hipertropia prostat (2).d.3. selanjutnya bermuara ke vena illiaca interna3. Sebenarnya yang terjadi adalah hiperplasi kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang sebenarnya ke arah perifer. Gambar 2. Saraf simpatis merangsang otot polos prostata saat ejakulasi3. Persarafan Persarafan prostat berasal dari plexus hypogasticus inferior. f. Plexus venosus prostaticus menampung darah dari vena dorsalis profunda penis dan sejumlah venae vesicales. Etiologi Benign Prostatic Hyperplasia Pembesaran jinak prostata sering ditemukan pada laki-laki berusia lebih dari 50 tahun. 2. (B) Hiperplasia prostat: uretra yang terjepit (1).3. (A) Prostat normal: uretra (1).2). Hiperplasi kelenjar prostat bukan kelainan pra-ganas4.2. 2. kelenjar prostat (3). Definisi Benign Prostatic Hyperplasia Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah pertumbuhan berlebihan sel-sel prostat yang tidak ganas dimana sejenis keadaan di mana kelenjar prostat membesar dengan cepat2. Aliran Limfe Pembuluh limf dari prostata mengalirkan cairan limf ke nodi iliaci interni3. Perdarahan 1. yang terletak di antara capsula prostatica dan selubung fibrosa (Gambar 2. daerah kelenjar periuretra (2). e. 2. Dengan bertambahnya usia. akan terjadi perubahan 4 .Hiperplasia prostat4. kelenjar prostat yang sebenarnya yang tertekan menjadi sebagai simpai dan disebut simpai bedah. Arteriae: cabang arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media3. Venae: membentuk plexus venosus prostaticus. Penyebabnya mungkina karena ketidakseimbangan pengendalian hormon kelenjar3.

Pasien BPH bergejala yang berjumlah sekitar 80. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulknya hiperplasia prostat adalah: (1) teori dehidrostestosteron. akan terjadi perubahan patologik anatomik4. meningkat pula prevalensi BPH. setelah terjadi pembesaran prostat. Pada tahap awal. Oleh karena itulah dengan meningkatnya usia harapan hidup.keseimbangan testosteron estrogen karen produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer4. sedangkan yang besar disebut divertikulum. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi. Epidemiologi Benign Prostatic Hyperplasia Berdasarkan angka autopsi perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrostestosteron (DHT) dan proses aging (penuaan).4. Namun 5 . (4) berkurangnya kematian sel (apoptosis). Bila perubahan ini terus berkembang. Apabila keadaan berlanjut. Karena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan. Mukosa dapat menerobos keluar di antara serat detrusor. (3) interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat. diperkirakan akan meningkat menjadi satu setengah kalinya pada tahun 2031.000 pada tahun 1991. efek perubahan juga terjadi perlahan. Tonjolan mukosa yang kecil dinamakan sakula. (2) adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron. dan setrusor menjadi lebih tebal. Office of Health Economic Inggris telah mengeluarkan proyeksi prevalensi BPH bergejala di Inggris dan Wales beberapa tahun ke depan. bila mereka dapat hidup cukup lama. dan (5) teori stem sel5. Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat. detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin4. Bukti histologis adanya benign prostatic hyperplasia (BPH) dapat diketemukan pada sebagian besar pria. Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. resistensi pada leher vesika dan daerah prostat meningkat. 2.

nokturia. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi sehingga kontraksi terputus-putus.5. 6 . pancaran miksi menjadi lemah. akan terjadi inkontinensia paradoks. 2. Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter. Angka ini meningkat dengan bertambahnya usia. Gejala dan tanda obstruksi saluran kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi. Pada lelaki usia 80 tahun sekitar 80% dan sekitar 50% dari angka kejadian tersebut akan menyebabkan gejala dan tanda klinis4. miksi sulit ditahan. dan pada usia 60 tahun mencapai angka sekitar 43%1. tidak semua pasien BPH berkembang menjadi BPH yang bergejala (symptomatic BPH). Jika keadaan ini berlanjut. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Prevalensi BPH yang bergejala pada pria berusia 40-49 tahun mencapai hampir 15%. pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekana intravesika terus meningkat. miksi terputus. Angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum pernah diteliti. Karena produksi urin terus terjadi. pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga penderita tidak mampu lagi untuk miksi. Patofisiologi Benign Prostatic Hyperplasia Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. sehingga pada usia 50-59 tahun prevalensinya mencapai hampir 25%. dan disuria. Apabila vesika menjadi dekompensasi. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi. tetapi sebagai gambaran hospital prevalence pada dua rumah sakit besar di Jakarta yaitu RSCM dan Sumberwaras selama 3 tahun (1994-1997) terdapat 1040 kasus1. menetes pada akhir miksi. Gejala dan tanda ini diberi skor untuk menentukan berat keluhan klinis4. dan rasa belum puas sehabis miksi. dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi.demikian. Gejala iritasi disebabkan hipersensitivitas otot detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi. akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih.

7 . hidronefrosis. dapat terjadi pielonefritis (Gambar 3.4.4)4. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. penderita harus selalu mengedan sehingga lama-kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid4. Karena selalu terdapat sisa urin. Bagan pengaruh hiperplasia prostat pada saluran kemih5. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistisis dan bila terjadi refluks. dapat membentuk batu endapan di dalam kandung kemih.hidroureter. dan gagal ginjal. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Hiperplasia Prostat Penyempitan lumen uretra posterior Tekanan intravesikal ↑ - Vesika urinaria Hipertropi otot detrusor Trabekulasi Selula Divertikel vesika urinaria - Ginjal dan Ureter Refluks vesiko-ureter Hidroureter Hidronefrosis Pionefrosis Pilonefritis Gagal ginjal Gambar 2. Pada waktu miksi.

a. prolaps rektum (20). Gambaran Klinis Benign Prostatic Hyperplasia Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di luar saluran kemih5. hipertropi otot detrusor dan trabekulasi (5). karsinoma uretra (15). epididimoorkitis (10). hidronefrosis (3). Patofisiologi obstruksi uretra oleh striktur dan penyulit uretritis purulen atau ruptur uretra4. Gejala obstruksi dan iritatif dari BPH5. sistolitiasis (8). Keluhan pada saluran kemih bagian bawah Keluhan pada saluran kemih sebelah atas (LUTS = lower urinary tract symptom) terdiri atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Obstruksi Iritasi Hesitansi Frekuensi Pancaran miksi lemah Nokturi Intermitensi Urgensi Miksi tidak puas disuri Menetes setelah miksi Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah. Tabel 2. Atropi ginjal (1). karsinoma kandung kemih (9). prostatitis (12). abses prostat (13).6. retensi urin akut dan/atau kronik (7). sistisis (11). 8 . ekstravasasi urin (17). striktur uretra (19).1. abses periuretra (16). para ahli urologi membuat sistem skoring yang subjektif dan dapat dihitung sendiri berupa WHO PSS (prostatic symptom score).5. hidroureter (4). divertikulum (6). fistel uretra (18).Gambar 2. piolonefritis (2). uretrolitiasis (14). hernia inguinalis (21). 2.

WHO PSS4. Adakah anda merasa buli-buli tidak kosong setelah BAK? b. Andaikata cara BAK seperti yang anda alami sekarang ini akan seumur hidup tetap seperti ini. bagaimana perasaan anda? Jumlah Skor: 0 = baik sekali 1 = baik 2 = kurang baik 3 = kurang 4 = buruk 5 = buruk sekali Tidak ada sama sekali 0 Tabel 2. Berapa kali terjadi anda tidak dapat menahan BAK? e.2. Berapa kali anda bangun untuk BAK di waktu malam hari? h. Jawaban dan Skor < 20% < 50% 50% > 50% Hampir selalu 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5 0 Tidak pernah 0 1 1x 1 2 2x 2 3 3x 3 4 4x 4 5 5x 5 Senang sekali Pada Senang umumnya puas Campuran Pada antara umumnya puas dan tidak tidak puas puas Tidak bahagia 9 . Berapa kali terjadi arus lemah sekali sewaktu BAK? f. Berapa kali anda hendak BAK lagi di dalam 2 jam setelah BAK? c.Pertanyaan Keluhan pada bulan terakhir a. Berapa kali terjadi anda mengalami kesulitan memulai BAK? Bangun tidur untuk BAK g. Berapa kali terjadi bahwa arus berkemih berhenti sewaktu BAK? d.

apakah batas atas dapat diraba. Pada perabaan colok dubur. b. Dengan colok dubur dapat pula diketahui batu prostat bila teraba krepitasi4. kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan prostat. yaitu (1) ringan: skor 0 – 7.Dari skor tersebut. Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus sfingter anus. benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis). prostat teraba keras atau teraba benjolan yang konsistensinya lebih keras dari sekitarnya atau ada prostat asimetri dengan bagian yang lebih keras. Sisa urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas untuk indikasi melakukan intervensi pada hipertrofi prostat4 10 . Gejala pada saluran kemih bagian atas Keluhan akibat penyulit hiperplasia prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang. dan (3) berat skor 20-355. Gejala di luar saluran kemih Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan vesika urinaria yang terisi penuh dan teraba massa kistus di daerah supra simfisis akibat retensi urin. Sisa ditentukan dengan mengukur urin yang masih dapat keluar dengan kateterisasi. dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat. Pada karsinoma prostat. Kadang didapatkan urin yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien yang merupakan pertanda dari inkontinensia paradoks5. mukosa rektum. harus diperhatikan konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak konsistensinya kenyal). adakah asimetri. (2) sedang: skor 8-19. Sisa urin dapat pula diketahui dengan melakukan ultrasonografi kandung kemih setelah miksi. c. Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan jumlah sisa urin setelah miksi spontan. atau demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis5. adakah nodul pada prostat.

Tindakan untuk menentukan diagnosis penyebab obstruksi maupun menentukan kemungkinan penyulit harus dilakukan secara teratur4. hidronefrosis. misalnya batu saluran kemih. pembesaran prostat dapat diperkirakan apabila dasar vesika urinaria pada gambar sistogram tampak terangkat atau ujung distal ureter membelok ke atas berbentuk seperti mata kail. sedangkan maksimal pancaran menjadi 15 ml/detik atau kurang. Selain itu untun mengetahui pembesaran prostat. batas atas II 50 – 100 ml dapat dicapai III Batas atas prostat tidak dapat diraba > 100 ml IV Retensi urin total Derajat berat obstruksi dapat pula diukur dengan mengukur pancaran urin pada waktu miksi. Angka normal pancaran kemih rata-rata 10-12 ml/detik dan pancaran maksimal sampai sekitar 20 ml/detik. seperti foto polos perut dan pielografi intravena. Kalau dibuat foto setelah miksi. atau divertikulum kandung kemih.3. pancaran menurun antara 6-8 ml/detik. Secara tidak langsung.Tabel 2. dapat dilakukan sistogram retrograd4. Derajat berat hipertrofi prostat berdasarkan gambaran klinis4. Pembesaran prostat dapat dilihat sebagai lesi defek isian kontras pada dasar kandung kemih.7. Derajat Colok Dubur Sisa Volume Urin Penonjolan prostat. Obstruksi uretra menyebabkan bendungan saluran kemih sehingga mengganggu faat ginjal karena hidronefrosis. Ultrasonografi dapat dilakukan secara transabdominal atau transrektal (transrectal ultrasonography = TRUS). dapat dilihat sisa urin. pemeriksaan ultrasonografi dapat pula menentukan volume vesika 11 . batas atas mudah I < 50 ml diraba Penonjolan prostat jelas. Pada obstruksi ringan. Apabila fungsi ginjal buruk sehingga ekskresi ginjal kurang baik atau penderita sudah dipasang kateter menetap. menyebabkan infeksi dan urolitiasis. Pemeriksaan Pencitraan Benign Prostatic Hyperplasia Dengan pemeriksaan radiologik. dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit ikutan. Kelemahan detrusor dan obstruksi infravesikal tidak dapat dibedakan dengan pengukuran pancaran kemih4. 2. yang disebut uroflowmetri4.

atau striktur uretra. Setiap kesulitan miksi disebabkan oleh salah satu dari ketiga faktor tersebut. Dengan ultrasonografi transrektal. dan batu. Pemeriksaan untuk ini dapat memberi gambaran kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter. sistoskopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam uretra4. obat penghambat reseptor ganglion. Uretritis akut atau kronik parasimpatolitik) 12 . elastisitas leher kandung kemih dengan tonus ototnya. Perkiraan besar prostat dapat pula dilakukan dengan ultrasonografi suprapubik. penggunaan obat penenang. Diagnosis Banding Benign Prostatic Hyperplasia Proses miksi bergantung pada kekuatan kontraksi detrusor. Kekakuan leher vesika disebabkan oleh proses fibrosis. batu di uretra.4. CT scan dan MRI jarang dilakukan4. Kelemah detrusor dapat disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik). Selain itu. Kelemahan detrusor VU Kekakuan leher VU Resistensi uretra Gangguan neurologik Hipertrofi prostat ganas Fibrosis . tumor. neuropatia diabetes.8. bedah radikal yang mengorbankan persarafan di daerah pelvis. sedangkan resistensi uretra disebabkan oleh pembesaran prostat jinak atau ganas.Neuropati diabetes melitus menyumbat uretra . dan parasimpatolitik. misalnya pada lesi medula spinalis. kelainan tersebut dapat dilihat dengan sistoskopi. Diagnosis banding obstruksi saluran kemih karena hipertrofi prostat4. dapat diukur besar prostat untuk menentukan jenis terapi yang tepat.Kelainan medula spinalis atau jinak Kelainan yang . dan resistensi uretra. penghambat alfa. Tabel 2. atau batu radiolusen di dalam vesika. mengukur sisa urin.Farmakologik (obat penenang.Pascabedah radikal di pelvis Uretralitiasis . Pemeriksaan sistografi dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urin ditemukan mikrohematuria.urinaria. 2. tumor di leher kandung kemih. dan keadaan patologi lain seperti divertikulum.

Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi tidak akan selesai dalam satu jam. Terapi bedah dianjurkan bila WHO PSS bernilai lebih dari 25 atau bila timbul obstruksi4. Cara ini mempunyai keunggulan. Pada derajat III. yaitu tanpa membuka kandung kemih. Kadang derajat II dapat dicoba dengan pengobatan konservatif4. Terapi nonbedah dianjurkan bila WHO PSS tetap di bawah 15. Penderita derajat I biasanya belum memerlukan tindakan bedah. Kekurangannya ialah obat ini tidak dianjurkan untuk pengobatan yang lama4. Derajat II merupaja indikasi untuk dilakukan tindakan pembedahan. kemudian prostat dienukleasi dari dalam simpainya. Skor ini dihitung berdasarkan jawaban penderita atas delapan pertanyaan mengenai miksi4.2. cara ini tidak dapat dipakai jika diperlukan 13 . Di dalam praktek. pembagian besar prostat derajat I – IV digunakan untuk menentukan cara penanganan. cukup diberikan tindakan konservatif. Pada operasi melalui kandung kemih dibuat sayatan perut bagian bawah menurut pfannenstiel. Untuk itu dianjurkan melakukan kontrol dengan menentukan WHO PSS. Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui transvesikal. Cara pembedahan retropubik menurut Millin dikerjakan melalui sayatan kulit pfannenstiel dengan membuka simpai prostat tanpa membuka kandung kemih. prasozin. retropubik atau perineal. sehingga pemasangan kateter tidak lama seperti bila membuka vesika. dan terasozin. Keuntungan obat penghambat adrenoreseptor alfa ialah efek positif segera terhadap keluhan. Keuntungan teknik ini adalah dapat sekaligus untuk mengangkat batu vesika urinaria atau divertikelektomi apabila ada divertikulum yang cukup besar. Biasanya dianjurkan reseksi endoskopik melalui uretra (TUR = transurethral resection). Penatalaksanaan Benign Prostatic Hyperplasia WHO menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi dengan skor WHO PSS (prostate symptom score). Kerugiannya. reseksi endoskopik dapat dikerjakan oleh ahli bedah berpengalaman. Mortalitas TUR sekitar 1% dan morbiditas sekitar 8%. sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka4. misal dengan penghambat adrenoreseptor alfa seperti alfazosin.9. tetapi tidak memengaruhi proses hiperplasia prostat sedikit pun. kemudikan prostat dienukleasi.

Pada hipertrofi derajat IV. yaitu morbiditasnya yang lebih lama. dengan alat bedah baku (Gambar 3. Kedua cara pembedahan terbuka tersebut masih kalah dibandingkan dengan cara TUR. dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnosis.5). Setelah itu. tetapi dapat dikerjakan tanpa memerlukan alat endoskopi yang khusus. Protatektomi melalui sayatan perineal tidak dikerjakan lagi4. 14 . tindakan pertama yang harus segera dikerjakan adalah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistostomi. kemudian terapi definitif dengan TUR atau pembedahan terbuka4.tindakan lain yang harus dikerjakan dari dalam kandung kemih.

DRE: digital rectal examination.Gambar 2.6 Skema pengelolaan BPH di Indonesia untuk dokter umum dan spesialis non urologi1. 15 . TAUS: transabdominal ultrasonography. QoL: quality of life. IPSS: international prostatic symptom score. TRUS: transrectal ultrasonography. PVR: post voiding residual urine.

Gambar 2. dan BPO: benign prostatic enlargement.7. QoL: quality of life. DRE: digital rectal examination. PVR: post voiding residual urine. IVP: intravenous pyelography. IPSS: international prostatic symptom score. Skema pengelolaan BPH di Indonesia untuk spesialis urologi1. 16 . TAUS: transabdominal ultrasonography. TRUS: transrectal ultrasonography .

Perineal: kandung kemih (1). dapat diusahakan pengobatan konservatif dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. penis dengan uretra dan korpus kavernosus (5). 17 . seperti pusing. diafragma urogenital (4). tetapi bukan melalui laparotomi karena rongga perut tidak dibuka. Retropubik melalui cavum Retzius antara kandung kemih dan simfisis. Rongga perut maupun kandung kemih tidak dibuka (pendekatan Millin).Gambar 2. Dengan cara yang disebut transurethral microwave thermotherapy (TUMT) ini. A. simfisis (3). C. Penderita dengan keadaan umum tidak memungkinkan untuk dilakukan pembedahan. Pengobatan lain yang invasif minimal adalah pemanasan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui anena yang dipasang pada ujung kateter. diperoleh hasil perbaikan kira-kira 75% untuk gejala objektif4.8. dan rasa lemah4. peritoneum parietal (7). Pengobatan konservatif lain ialah dengan pemberian obat antiandrogen yang menekan produksi LH. Bedah melalui kandung kemih. Kesulitan pengobatan konservatif ini ialah menentukan berapa lama obat harus diberikan dan efek samping obat4. Endokskopik transuretral tanpa sayatan kulit (TUR). rektum (6). palpitasi. Prostatektomi4. Efek samping obat ini adalah gejala hipotensi. B. D. lemas. prostat (2). Suprapubik transvesikal. rongga perut (8).

Dengan cara ini. Uretra di daerah prostat dapat juga didilatasi dengan balon yang dikembangkan didalamnya (transurethral balloon dilatation = TUBD) yang biasanya memberi perbaikan yang bersifat sementara4. 18 .Pada penanggulangan invasif minimal lain yang disebut transurethral ultrasound guided laser induced prostatectomy (TULIP) digunakan cahaya laser. diperoleh juga hasil yang cukup memuaskan.