Anda di halaman 1dari 14

Ikhtiyar, Volume 9 No. 1.

Januari – April 2011
PROFILE PENDUDUK LANJUT USIA PENSIUNAN DI KOTA MAKASSAR Oleh: Sahade Fakultas Ekonomi UNM

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab masalah-masalah yang telah dirumuskan yaitu: (1) untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi lansia pensiunan pensiunan di Kota Makassar, (2) untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi dan sosial demografi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas lansia laki-laki dalam mencari nafkah, (3) untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor sosial ekonomi dan sosial demografi terhadap aktivitas lansia perempuan dalam mencari nafkah, (4) untuk mengetahui perbedaan intensitas aktivitas ekonomi antara penduduk lansia laki-laki dan perempuan dalam mencari nafkah, (5) untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh lansia laki-laki dan perempuan dalam upaya melalukan aktivitas ekonomi baik formal maupun nonformal, dan (6) merumuskan rekomendasi yang dapat diajukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi penduduk lansia sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh. Penelitian ini melibatkan 200 responden penduduk lansia pensiunan yang terdiri atas 150 laki-laki dan 50 perempuan atau 3:1 yang dipilih melalui teknik kuota, dengan mengambil sampel 3 kecamatan yaitu Kecamatan Panakukan, Ujung Tanah dan Kecamatan Tamalanrea dari 14 kecamatan yang ada di Kota Makassar. Data di kumpulkan dengan teknik wawancara dengan menggunakan panduan berupa angket. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik deskriptif berupa tabulasi dengan tabel frekuensi dan teknik inferensial berupa ujit-t, chi-kuadrat (χ 2), dan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi, meskipun usia mereka sudah lanjut di antaranya ada yang masih aktif melakukan kegiatan untuk memperoleh biaya tambahan dalam rangka pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka.Berdasarkan hasil analisis uji-t nilai thitung (0,76) < ttabel (1,98), maka terdapat perbedaan yang signifikan aktivitas ekonomi penduduk lansia pensiunan laki-laki (2-12 jam perhari, dengan rata-rata 7,58 jam) dan lansia perempuan (4-15 jam perhari dengan rata-rata 8,08 jam perhari). Sedangkan penghasilan mereka sekitar Rp 350.000 – Rp.1.000.000 per bulannya. Berdasarkan hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa jenis aktivitas sosial dan psikologis lansia pensiunan mempunyai hubungan yang signifikan dengan pola tempat tinggal, pendidikan, tingkat kesehatan, dan usia. Sedangkan jenis pekerjaan yang dilakukan tidak berhubungan secara signifikan dengan aktivitas sosial dan psikologis para penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar. Kata kunci: PENDAHULUAN Semenjak tahun 1990-an Indonesia menghadapi masalah baru di bidang kependudukan. Keberhasilan yang dicapai dalam Aktifitas ekonomi, dan sosial demografi menekan laju partum-buhan penduduk melalui kegiatan keluarga berencana dan pembangunan sosial ekonomi, telah melahirkan problem baru. Angka kelahiran turun, usia rata-

143 UPT. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar

000'iwa atau merupakan 6. Jumlah anak yang semakin sedikit dan mobilitas.000 jiwa atau 7.4 persen jumlah penduduk (Kartakusumah.Ikhtiyar. maka saat ini telah muncul obat-obat yang secara khusus diperuntukkan bagi penyakitpenyakit yang berkaitan dengan usia lanjut. hal ini berarti bahwa pads awal abad 21 Indonesia menghadapi masalah pen-duduk lanjut usia (ageing population). Dalam kaitan ini ide untuk merealisir transfer dana antar generasi (intergeneration transfer fund) merupa-kan suatu alternatif yang dapat diper-timbangkan. Di bidang kesehatan missal-nya telah mulai nampak pergeseran dalam penggunaan dana kesehatan. namun 10 tahun kemudian (1990) jum-lahnya meningkat menjadi 425. bayi dan anak balita. Terjadinya pergeseran penduduk dari penduduk berusia muda ke pen-duduk berusia lanjut. Adanva upaya untuk menjamin kesejahteraan penduduk lanjut usia merupakan kebutuhan yang mcndesak. Berbagai kebijakan yang dikeluar-kan pemerintah juga telah mengalami perubahan. 1993).1 persen dari jumlah penduduk tahun itu. Hal ini merupakan akibat terjadinya transisi penyakit. menimbulkan masalah kepada siapa dan kemana penduduk lansia menyandarkan hidup-nya. sekarang ini telah bergesek ke arah penyakit degeneratif dan neoplasma (Cholil et al. yaitu 13. Kondisi ini terus berlanjut.7 persen dari jumlah penduduk pada tahun tersebut.0 persen dari jumlah penduduk Sulawesi Selatan (Diolah 144 UPT. dimana terjadi perubahan dalam jenis penyakit yang diderita dan penyebab kematian penduduk. Berbagai kebijakan di bidang kepegawaian dan perburuhan harus dikaji ulang.5 persen jumlah penduduk. Januari – April 2011 rata penduduk meningkat.3 juta penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Pada tahun 2000 jumlah lansia meningkat menjadi 720. jaminan kesehatan dan pengobatan serta dana jaminan hari tua harus diciptakan agar penduduk lanjut usia tertanggulangi secara struktural. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar . 1. Jika sebelumnya penyakit yang merupakan penyebab kematian didominasi oleh penyakit infeksi. se-hingga pads tahun 2020 diproyeksikan penduduk lansia akan mencapai 29 juta jiwa yang merupakan 11. Volume 9 No. anak yang semakin tinggi. Kecenderungan pertumbuhan jum-lah penduduk lanjut usia dan berbagai permasahannya juga ditemukan di Kota Makassar dan Propinsi Sulawesi Selatan pada umumnya. Jika sebelumnya penyediaan obatobatan dan sarana kesehatan lainnya lebih ter-tuju pada penduduk usia muda.5 persen dari jumlah penduduk seluruh-nya. Belum adanya mekanisme yang dapat menampung masalah kebutuhan ekonomi lansia merupakan hal yang memprihatinkan. yaitu sekitar 5. 1993). yang merupakan 4. jadi 25 tahun kemudian jumlah penduduk lansia naik hampir empat kali. akan melahirkan berbagai problem. Usia pensiun. Pada tahun 1980 di Sulawesi Selatan baru terdapat sekitar 338.000 penduduk usia lanjut. maka dalam tahun 1995. Jika pada tahun 1971 di Indonesia baru terdapat 5.5 juta orang yang merupakan 6.

Masih banyak kegiatan sektor-sektor produktif yang cocok bagi kelompok ini. Volume 9 No. sebagian penduduk lansia tidak siap menghadapi masa suram ini. tingkat pendidikan dan kesehatan penduduk lansia. agama. Mereka harus siap menerimanya dengan kearifan dan tawakal kepada Pencipta alam semesta ini. Di samping itu masalah-masalah sosial dan psikologi dari para lansia juga harus mendapatkan perhatian. Masalah ekonomi terutama ber-kaitan dengan ketergantungan ekonomi. sehingga dapat meng-angkat harga diri dan kebanggaan. Dampak dari keberhasilan KB dan pembangunan sosial menimbulkan perubahan pada komposisi penduduk. lapangan kerja yang sesuai dengan usia. Kondisi ini merupakan tantangan yang berat mengingat kondisi perekonomian kita saat ini. Untuk mengatasi hal itu. 1. terutama di bidang pen-didikan. Badan yang semakin uzur tidak memungkmkan lagi untuk meraih prestasi. perilaku dan pola tindak mereka yang umumnya lebih hati-hati akibat tempaan berbagai pengalaman hidup. Penduduk lansia sampai taraf tertentu merupakan potensi yang masih dapat dimanfaatkan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. Pada waktu masih muda.Ikhtiyar. Masalah ketiga yang tidak kalah pentingnya ialah masalah kesehatan. se-yogyanya penduduk lansia memahami hal yang merupakan kondisi alamiah ini. maka penduduk lansia dicegah dari ancaman post power syndrome. Tingkat pertumbuhan ekonomi dan 145 UPT. sebagian peng-hasilan hilang. Penyakitpenyakit semacam ini memer-lukan biaya pengobatan yang mahal. kondisi kesehatan me-mungkinkan mereka berkarya dan ber-prestasi dalam berbagai bidang pekerja-an dan menerima imbalan pendapatan dan penghargaan yang merupakan kebanggaan. Namun setelah tua atau pensiun dari pekerjaan. Dalam kaitan pemberdayaan lansia pertimbangan yang lebih ditekankan pada upaya mengurangi aspek ketergantungan ekonomi dan psikologis dari penduduk lansia tersebut. dan biaya pengobatan yang semakin mahal. Penghargaan dan prestasipun hilang. Hal ini merupakan masalah yang sangat memberatkan baik bagi individu maupun pemerintah. Penduduk lanjut usia pada umumnya menderita berbagai penyakit degeneratif dan neoplasma (kanker). pelatihan. tersebut. Januari – April 2011 dari data Sulawesi Selatan dalam Angka Tahun 2000). Dengan kearifan dan persiapan. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk lansia yang semakin besar dalam komposisi penduduk. Masalah psikologi berkaitan dengan kondisi kejiwaan. organisasi sosial dan sebagainya. Masalah utama yang dihadapi lansia pada umumnya adalah menyang-kut pemenuhan kebutuhan ekonomi dan kesehatan. merupakan asset yang dapat mereka sumbangkan bagi generasi muda. Jadi pertimbangan kebijakan jangan terlalu ditekan pada pertimbangan cost benefit saja. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar . Jumlah penduduk lanjut usia yang semakin banyak dan menderita berbagai penyakit kronis yang memerlukan pengobatan rutin. Pengalaman yang luas.

Kendala apakah yang dihadapi oleh lansia laki-laki dan perempuan dalam upaya melalukan aktivitas ekonomi tersebut? 5. Sedangkan karakteristik demografi ialah umur. Jumlah sampel ditetapkan sebanyak 200 orang. pendidikan/keterampilan status perkawin-an. makan dan aktivitas agar terhindar dari berbagai gangguan penyakit. dan BUMN. Yang dimaksudkan dengan lansia pensiunan pada penelitian ini ialah pensiunan pegawai negeri. 1. Data yang dikumpulkan menyang-kut karakteristik sosial ekonomi. 4. kondisi kesehatan. maka diduga akan terdapat perbedaan bidang aktivitas yang dilakukan oleh lansia laki-laki dan lansia perempuan. namun diduga bahwa besarnya tunjangan yang di-terima pada umumnya belum men-cukupi bagi pemenuhan kebutuhan pokok. terhadap penduduk lansia yang telah pensiun dari pekerjaan formal. Ber-dasarkan hal-hal yang dikemukan di atas. walaupun mendapat tunjangan hari tua (uang pensiun). Volume 9 No. Penduduk lanjut usia pen-siunan. status perkawinan dan derajat kesehatan. ABRI dan polisi. Upaya perawat-an kesehatan tidak hanya menyangkut usaha kuratif atau pengobatan penyakit. Apakah terdapat perbedaan inten-sitas aktivitas ekonomi antara pen-duduk lansia laki-laki dan perem-puan yang mencari nafkah tersebut?. aktivitas sosial. Rekomendasi apakah yang dapat diajukan untuk mengatasi kendala yang dihadapi penduduk lansia sesuai dengan temuan penelitian? Untuk menjawab masalah pene-litian di atas. Jika nilai-nilai tersebut memang ada. jenis kelamin dan tempat tinggal. maka masalah penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut: Bagaimana karakteristik sosial ekonomi penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar? 146 UPT. Di samping itu terdapat faktorfaktor atau nilai-nilai budaya yang diduga mempengaruhi keterlibatan lansia perempuan dalam mencari nafkah.Ikhtiyar. Apakah faktor-faktor sosial ekonomi dan sosial demografi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas lansia laki-laki dalam mencari nafkah? 2. yang terdiri atas laki sebanyak 150 orang dan perempuan 50 orang atau dengan perbandingan laki dan perempuan 3 : 1. Karena itu sebagian mereka masih melakukan aktivitas ekonomi untuk mencukupi kebutuhannya. maka diadakan penelitian survei. Mata Kuliah Umum Universitas 1. Dalam kaitan itu yang diartikan dengan karak-teristik sosial ekonomi. psikologis dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Penduduk lansia sebagaimana manusia pada umumnya mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang harus di-penuhi. Angka tersebut ditetapkan berdasarkan asumsi bahwa jumlah lansia pensiunan laki-laki adalah sekitar 3 kali perempu-an. ialah. tetapi yang lebih penting ialah upaya preventif seperti pengaturan pola hidup. Januari – April 2011 pendapatan per kapita yang masih rendah semenjak krisis moneter tahun 1997 merupakan kendala bagi upaya peningkatan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Apakah faktor-faktor sosial ekonomi dan sosial demografi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas lansia perempuan dalam mencari nafkah? 3. Data diolah secara deskriptif dan inferensial. Aktivitas yang dapat dilakukan oleh para lansia sangat terkait dengan karakteristik sosial ekonomi dan sosial demo-grafi penduduk lansia tersebut. Survei dilakukan di Kota Makassar. Melalui metode inferensial Negeri Makassar . jumlah tanggungan keluarga.

organisasi agama saat ini. Data yang dikumpulkan menyangkut karakteristik para lansia seperti usia. status dalam rumah tangga. yaitu satu kecamatan tengah kota dengan kepadatan yang tinggi. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar . Kedua menyangkut kegiatan atau keterlibatan dalam organisasi sosial kemasya-rakatan. departemen atau jawatan tempat 147 UPT. Se-bagai tambahan akan ditanyakan bagai-mana persepsi lansia mengenai masalah sosial. pendidikan. ABRI dan Polri yang berdomisili di Kota Makassar. Populasi penelitian ialah penduduk lanjut usia pensiunan pegawai negeri sipil. seperti mengunjungi relasi. Terdapat dua jenis analisis yaitu pertama analisis deskriptif. jenis kelamin. psikologis dan pelayanan/fasilitas ekonomi. interval dan rasio. Selanjutnya akan ditanyakan kepada mereka saran-saran yang diajukan untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi para lansia. METODE PENELITIAN bekerja. teman dan sebagainya. sosial. yang Penelitian ini merupakan pene-litian survei. status perkawin-an. penyakit yang diderita. serta aktivitas ekonomi dan sosial/kemasyarakatan yang dilakukan saat ini. Masalah ketiga akan ditanyakan kondisi kesehatan. kesehatan yang mereka terima serta penerimaan masyarakat terhadap para lansia. misalnya olah raga. Data dikumpulkan dengan me-wawancarai para lansia pada setiap lokasi yang ditentukan. dengan bantuan pedoman wawancara yang telah disiap-kan. 1. Statistik inferensial ini digunakan untuk menguji hipotesis pertama. menantu atau mandiri. Sampel ditetapkan sebanyak 200 orang responden dengan rasio laki-laki dan perempuan sebesar 3:1. satu kecamatan lainnya dengan kepadatan sedang dan satu lagi dengan kepadatan rendah. Jumlah lansia pada setiap kecamatan ditetapkan secara proporsi-onal. fasilitas rumah sakit yang didapat dan cara-cara yang dilakukan untuk menjaga kesehatan. BUMN. apakah tinggal bersama anak. Volume 9 No. yang dilakukan dengan penyajian tabeltabel frekuensi. jenis pekerjaan sebelum pensiun. pola tempat tinggal. untuk menguji beberapa hipotesis dengan menggunakan model regresi ganda logistik. senam kebugar-an dan sebagainya. Januari – April 2011 digunakan untuk menguji beberapa hipotesis yang dirumuskan. menantu. Jadi responden terdiri atas 150 orang laki dan 50 orang perempuan. ABRI dan Polri yang berdomisili di Kota Makassar. Rasio ini di-tetapkan berdasarkan asumsi bahwa jumlah pensiunan lansia laki-laki adalah 3 kali perempuan. Survei dilakukan terhadap penduduk lanjut usia lakilaki maupun perempuan yaitu pensiunan pegawai negeri sipil. BUMN. Lokasi penelitian ialah dengan mengambil tiga kecamatan di kota Makassar. per-sentase dan diberi interpretasi secara ilmiah. sanak saudara dan apakah masih mendapatkan kunjungan anak-anak. berdasarkan rasio jumlah pen-duduk pada tiga kecamatan lokasi pengambilan sampel. Masalah keempat akan ditanyakan menyangkut akativitas psikologis.Ikhtiyar. Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas berbagai jenis pengukuran yaitu variabel nominal. ordinal. pengobatan yang dijalani. Kedua ialah analisis inferensial.

jika responden tidak sakit. Dengan menggunakan paket program komputer SPSS Ver 15. variabel kontinu. X6 = 0. Penaf-siran signifikansi setiap variabel bebas dilakukan dengan analisis Uji-Wald dan Chi-kuadrat. jika responden berjenis kelamin lakilaki. X4 = 1.. Volume 9 No. 1. Variabel ini merupakan variabel dikhotomi. maka model analisis yang cocok digunakan ialah model regresi ganda logistik (Agung... jika responden berstatus kawin. β3. X3 = derajat kesehatan. X4 = status perkawinan.+ β6X6 HASIL ANALISIS BAHASAN DAN PEM- Penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar berdasarkan usia mereka berada pada usia 55 sampai 77 tahun dan dengan umur tersebut mereka masih produktif untuk dapat bekerja dalam usianya yang sudah pensiun demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka atau masih tergolong usia angkatan kerja 45-65 tahun.. Januari – April 2011 menyatakan bahwa aktivitas ekonomi lansia dipengaruhi oleh variabel-variabel sosial ekonomi dan demografi. dimana. yaitu Y = 1. β6 yang nantinya hasil olahan tersebut akan dikeluarkan hasil print out.Ikhtiyar. sebagai variabel terikat. X4 = 0. yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan intensitas kerja antara lansia laki-laki dan perempuan yang bekerja baik pada sektor formal maupun non formal akan diuji dengan menggunakan statistik Uji-t beda dua rata-rata dengan meng-gunakan program SPSS versi 15 sebagai mana rumus yang dikemukakan oleh Tiro dan Ilyas. ………. X3 = 0. X6 = jenis kelamin. X3. X2. jika lansia tidak mempunyai pekerjaan. β2. dimana. jika responden berjenis kelamin perempuan. X3 = 1. jika responden sebagai kepala rumah tangga. 2000).. Walaupun penggunaan model regresi logistik adalah umum di-gunakan oleh ilmu kesehatan masya-rakat dan kedokteran. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar . X6 = 1. . namun peng-gunaan metode ini masih baru pada bidang ekonomi. X6) Dimana: Y = aktivitas ekonomi. dan Y = 0. dan sebagian variabel bebas juga merupakan variabel dikotomi. Dengan rumus probabilitas responden yang mempunyai pekerjaan sesudah pensiun adalah sebagai berikut: Ln RK =β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + ……. jika lansia melakukan aktivitas bekerja. jika responden bukan kepala rumah tangga. Ada kecenderungan bahwa usia 148 UPT. Sedangkan variabel bebasnya terdiri atas 6 variabel yaitu: X1 = umur. dalam tahun genap (variabel kontinyu) X2 = pendidikan dalam tahun sekolah (formal). Sedangkan hipotesis kedua... Secara umum hubungan tersebut dapat ditulis sebagai berikut: Y = F (X1.. variable dikhotomi. maka nilai-nilai estimasi dari β1. jika responden belum kawin atau dudu/janda. jika responden menderita suatu penyakit. dimana. X5 = 0. Oleh karena itu penafsiran hasil pengolahan data akan dikon-sultasikan kemudian. X5 = 1. 2002 sebagai berikut: 2 2 T0 = ( χ1 − χ 2 ) /( S1 / N + S 2 / N ) Dimana : T0 = nilai t hitung (χ1 + χ2) = selisih intensitas kerja ratarata lansia laki-laki dan perempuan S1 = standar deviasi intensitas kerja lansia laki-laki S2 = standar deviasi intensitas kerja lansia perempuan N = jumlah sampel Dalam penelitian ini berhubung variabel terikat (Y) berupa variabel di-kotomi. X5 = kedudukan dalam rumah tangga.

1. diabetes dan penyakit kronis 149 UPT. dengan demikian antisi-pasi mengenai lapangan kerja atau kegiatan lainnya yang sesuai sudah harus direncanakan dari sekarang. mereka menderita beberapa penyakit kronis antara lain. Tentu saja kegiatan bisa menjadi penghibur sambil mengisi atau menghabiskan waktu mereka. Selanjutnya mengenai jumlah tanggung dalam keluarga. Sedangkan data mengenai tingkat kesehatan dijelaskan bahwa penduduk lansia pensiunan yang ada di Kota Makassar dari tiga kecamatan yang di amati. Pada tahun 2010 Indonesia diperkirakan memiliki tam-bahan pen-duduk lanjut usia sebesar 25 juta (Doewes. Di lihat dari aspek tingkat pendidikan lansia dari tiga kecamatan yang di amati yakni Kecamatan Panakukang. Beberapa jenis aktivitas sosial psikologis para penduduk lansia pen-siunan. Sehingga sebagai suatu rekomendasi perlu kiranya dirancang wadah kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan sosial dan kebutuhan psiko-logis bagi penduduk Kota Makassar yang sudah berusia lanjut. Dari segi ekonomi. Hal ini pasti memerlukan pembekalan dan latihan dengan waktu yang tidak sedikit serta perhatian bagi instansi/lembaga terkait bagi mereka yang masih merasa kurang. dan usia. Sedangkan jenis pekerjaan yang sering dilakukan pada masa muda dan status-nya sebagai pensiunan pegawai atau pensiunan non pegawai tidak ber-hubungan secara signifikan dengan aktivitas sosial psikologis para lansia pensiunan. seperti partisipasi dalam organ-isasi sosial kemasyarakatan dan saling mengunjungi antara teman dan anak mereka mempunyai hubungan yang signifikan dengan pola tempat tinggal. Hal ini ter-lihat dari keinginan para lansia pensiunan untuk tetap menanggung anggota keluarga seperti cucu. maka tingkat pendidikan mereka tergolong cukup tinggi yakni berada pada jenjang pendidikan Diploma/Akademi dan se-bagian lainnya sudah Sarjana (S1. 1996). jantung koroner. reumatik. dan S2). Tambahan biaya yang diharapkan berupa kiriman dari anak . sementara pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka semakin sulit. antara lain ber-kunjung ke rumah teman-teman atau saling mengunjungi di antara mereka. menjadi anggota organisasi sosial ke-masyarakatan (ORMAS) atau organisasi yang diperuntukkan kepada para lansia pensiunan. Volume 9 No. menantu dan keluarga lainnya tidak dapat diandal-kan. hingga saat ini penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar tetap mempertahankan kelu-arga besar (extended family). Berdasarkan hasil survey dengan menggunakan tabel frekuensi diperoleh hanya sekitar 58. Banyak pula di antara mereka sehari-harinya menunggui rumah dengan menjaga cucu. Berbagai kegiatan dalam meme-nuhi kebutuhan sosial dan psikologis yang mereka lakukan.28 persen. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar . tekanan darah tinggi. pendidikan. Alangkah baiknya jika mereka memiliki pengetahuan dan keteram-pilan mengasuh yang lebih baik se-hingga mereka turut membantu pen-didikan cucu mereka dalam keluarga yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Ujung Tanah dan Tamalanrea. Januari – April 2011 angkatan kerja pada masa yang akan datang akan semakin meningkat. Oleh karena itu ada kecenderungan bahwa masyarakat sudah mulai sadar tentang arti pentingnya pendidikan.72 persen (tabel 50) yang memperoleh kiriman uang minmal satu kali sebulan. dan keluarga lainnya. seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. tingkat kesehatan. menantu.Ikhtiyar. sedangkan yang mem-peroleh kiriman uang yang tidak reguler atau jarang sekitar 41. keluarga mereka memerlukan biaya yang mungkin sekali sudah me-lebihi dari pendapatan mereka.

. dan hiper-tensi”.05 dengan derajat ke-bebasan pembilang 5 dan penyebut 195 (dk.Ikhtiyar. dan status dalam rumah tangga mempunyai pengaruh terhadap aktivitas ekonomi penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar. sehingga berdasarkan hasil tersebut. Jenis penyakit yang sering dialami dan dikeluhkan oleh penduduk lansia pen-siunan ini relatif sesuai dengan pen-jelasan Astawan (1988:75-76) mengatakan bahwa ” orang lanjut usia. Berdasarkan hipotesis yang peneliti ajukan yakni hipotesis satu: ”aktivitas ekonomi lansia pensiunan baik laki-laki maupun perempuan di-pengaruhi oleh variabel-variabel sosial ekonomi dan demografi”. yaitu keterlibatan mereka dalam kegiatan ekonomi dan ketidak terlibatan mereka saat ini dalam ke-giatan pekerjaan yang menghasilkan uang dalam upaya memenuhi ke-butuhan ekonomi keluarga mereka. derajat kesehatan. Tabel 1.05. Aktivitas ekonomi lansia pensiunan terdiri ats dua aspek.000 Sig.66 7 Yij = b0 + b1x1j + b2x2j + b3x3j + b4x4j + b5x5j + e Berdasarkan tabel 1 daftar Anova. Volume 9 No. R-squared 195 . Oleh karena itu untuk menjaga kesehatan tubuh diperlukan pengaturan konsumsi makanan sehari-hari dan melakukan aktivitas fisik seperti banyak berolah raga. status perkawinan.687 lebih besar daripada Ftabel pada tingkat signifikansi α 0. maka hipotesis nol di tolak. Januari – April 2011 lainnya. Hasil perhitungan regresi ganda di-sajikan dalam bentuk tabel ringkasan analisis varians sebagai berikut: Std. dan menerima hipotesis satu yang menyatakan bahwa secara bersama-sama variabel usia. jika lansia melakukan aktivitas bekerja.341 Source Regression Residual Total 5 1 9 5 2 0 0 DF: 7. aktivitas jasmaninya kurang serta di tambah dengan faktor-faktor psikologis menim-bulkan gangguan dalam tubuh yang pada akhirnya bisa menimbulkan penyakitpenyakit seperti reumatik.00185).877 F-test 5. Variabel ini merupakan variabel dikhotomi. Error: 64.. maka diperoleh nilai Fhitung sebesar 4. dan Y = 0. gangguan pada pencernaan.573 (lebih besar daripada nilai ttabel pada α 0. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar Adj. yaitu Y = 1.. sebagai variabel terikat. 5. Rsquared DF R: .168) dengan nilai t hitung 3. 195). e = suku-suku kesalahan random yang diasumsikan menyebar secara normal dengan rata-rata 0 dan varian 0 2.000 0E-4 . X2... Jika melihat koefisien regresi beta variabel derajat kesehatan (sebesar -0...X6 = masing-masing adalah nilai-nilai dari variabel bebas ke – i. dan 150 UPT.194 37.760 SquaresSum of . dan waktu yang digunakan dalam melaku-kan pekerjaan tersebut (dihitung dengan jumlah jam per hari.182 Mean Square 1.. 578 .487 p = 8.039 . serta menghindari stress sambil berupaya mencari hiburan. 1. p = 0. Untuk menilai masing-masing tersebut. Sedangkan variabel bebasnya terdiri atas 6 variabel yaitu: X1. jika lansia tidak mempunyai pekerjaan. ketenangan dan lebih banyak mendekat-kan diri kepada Yang Maha Kuasa. maka digunakan model regresi ganda sebagai berikut: Dimana : Yij = aktivitas ekonomi. pendidikan.85 4 36.

Dengan kata lain bahwa terdapat perbedaan aktivitas ekonomi penduduk lansia pensiunan laki-laki dengan lansia pensiunan perempuan di dalam usaha memenuhi kebutuhan ekonominya. maka dilakukan dengan uji statistik chi-kuadrat (χ2). Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar .75 = 2. status perkawinan. yaitu 1. dan status dalam rumah tangga) terhadap aktivitas ekonomi yang dihitung dengan jumlah jam kerja per hari menunjukkan hipotesis nol diterima (Fhitung = 2.48 0.708 5.001*) 0.02*) 0. Selanjutnya untuk menguji hipotesis kedua yang peneliti ajukan yakni: ” terdapat perbedaan intensitas kerja antara lansia lakilaki dan perempuan yang bekerja baik pada sektor formal maupun non formal di dalam usaha memenuhi kebutuhan ekonominya”.76 lebih kecil daripada nilai ttabel pada tingkat signifikansi α 0.05.76 p > 0.005 3.33 12. Rangkuman hasil uji χ2 tersebut dapat di lihat pada tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3.788 1.6 2 Hasil Uji-T Jenis Kelamin Laki-Laki Perempua n thit = 0. dk. kesehatan. 5.866 0.67 0.852 7. Kisaran dan Rata-rata Jam Kerja Res-ponden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Hasil Uji-t.d 7.08 jam 1.32 6. pendidikan. pen-didikan. Rangkuman Hasil Uji χ2 X Jenis Kelamin Pendidikan Kesehatan Usia Jenis Kelamin Pendidikan Kesehatan Usia Jenis Kelamin Pendidikan Kesehatan Usia Jenis Kelamin Pendidikan Kesehatan Usia Status Y Partisipasi dalam Ormas Kunjungan Anak Penerimaan Surat/Telpo n Berkunjung ke Teman Di kunjungi χ2 2. Kisaran Jam Kerja Per Hari 2 – 12 4 – 15 Jam Kerja Per Hari Rata-rata s.41 1.093 13. maka dapat disimpulkan bahwa sekurang-kurangnya kedua variabel tersebut memberikan pengaruh (kontri-busi nyata) terhadap setiap perubahan pada aktivitas ekonomi penduduk lansia pensiunan baik lansia laki-laki maupun lansia perempuan yang ada di Kota Makassar. 105. maka untuk menguji hipotesis tersebut digunakan analisis Uji-t dengan hasil perhitungan Uji-t. dan status dalam rumah tangga secara bersamasama tidak mempunyai peng-aruh terhadap aktivitas ekonomi yang dihitung berdasarkan jumlah jam kerja per hari bagi penduduk lansia pensiun-an di Kota Makassar.01 18.58 jam 8. p = 0.35).796 0.549 Probabiliti 0.Ikhtiyar. dk. status perkawinan. kesehatan. maka hipotesis nol diterima atau hipotesis alternatif ditolak.208).055 0.02*) 0.05.497 4.19 4.94 0. Berdasarkan hasil tersebut .67 0.311 45. 1.05. Adapun kisar-an dan rata-rata jam kerja responden berdasarkan jenis kelamin dan hasil Uji-t dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Berdasarkan hasil analisis tersebut dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel usia.628 0.145 0.128 34.438) dengan nilai thitung 4.66 0. Volume 9 No. Hasil analisis regresi ganda untuk menguji ada tidaknya pengaruh ke-5 variabel di atas yakni (usia.692 (lebih besar daripada nilai ttabel pada α 0.9 9 2.010*) 0.98.213 151 UPT.315 lebih kecil daripada nilai Ftabel = α 0.05 Untuk menguji ada tidaknya hubungan yang signifikan antara aktivitas ekonomi sosial dan psikologis para penduduk lansia dengan berbagai variabel bebas.001*) 0.043*) 0.008*) 0.55 36. Januari – April 2011 koefisien regresi variabel status dalam rumah tangga (sebesar 0.006*) 0. nilai thitung diperoleh sebesar 0.

152 UPT.004) dan status sebagai kepala rumah tangga dalam keluarga (0.043).205 12.817 8. juga kunjungan anak/menantu mempunyai hubungan yang signifikan dengan tinggal di rumah sendiri (0.001 (usia).156 4.453 7. Jika kunjungan tidak mampu dilakukan. berkunjung ke teman mempunyai hu-bungan yang signifikan dengan tinggal di rumah sendiri (0.17 Sumber: Hasil Olah Statistik dengan Mengguna-kan SPSS versi 15. Hal ini cukup rasional karena berkunjung ke tempat teman-teman mereka memerlu-kan tingkat kesehatan yang baik.002).168 0.006 (tingkat kesehatan) dan 0.001.002*) 0.595 13.299 0.703 1. Demikian juga kebiasaan berkunjung ke teman-teman memiliki kaitan yang erat dan berhubungan secara signifikan dengan jenis kelamin (0. Selanjutnya kunjungan anak/-menantu memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat kesehatan dan usia penduduk lansia pensiunan masing-masing pada probabiliti 0.129 3. maka dapat disimpulkan bahwa tidak seluruh variabel bebas memiliki hubungan yang signifikan dengan jenis-jenis aktivitas sosial dan psikologis penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar. dengan sendirinya mereka menelpon atau mengirimi surat untuk mengetahu keadaan orang tuanya hal ini adalah wajar untuk dilakukan. berkunjung ke teman dan kunjungan anak/menantu juga mempunyai hu-bungan yang signifikan.004*) 0. kesehatan dan usia penduduk lansia pensiunan masing-masing 0.008 dan 0. 0. dengan demikian juga variabel kiriman surat/telepon juga mempunyai hubung-an secara signifikan dengan tingkat pendidikan.703 0.69 0.18 0.034) dan jumlah tanggungan (0.99 1.02 untuk (tingkat pendidikan).050 0.893 2. di lain pihak juga jenis kelamin menentukan pula kekerapan berkunjung ke luar sesuai dengan budaya dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Kota Makassar.003).428 17.213 0. Di antara variabel yang memiliki hubungan yang signifikan adalah variabel pendidikan dengan Partisipasi Dalam Organisasi Sosial Kemasyarakatan dan organisasi para pensiunan (ORMAS) pada probabiliti 0.003*) Kunjungan Anak 0. 1.02) dan tingkat kesehatan (0. Januari – April 2011 Pekerjaan Tinggal di rumah Sendiri Tinggal di rumah Teman Jumlah Tanggungan Status dalam Keluarga Status Pekerjaan Tinggal di rumah Sendiri Tinggal di rumah Teman Jumlah Tanggungan Status dalam Keluarga Status Pekerjaan Tinggal di rumah Sendiri Tinggal di rumah Teman Jumlah Tanggungan Status dalam Keluarga Teman 1. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar .549 5.034*) 0. teman tinggal (0. Dikunjungi teman mempunyai hubungan yang signifikan dengan teman tinggal (0. Berdasarkan rangkuman hasil analisis uji statistik chi-kuadrat (χ2) di atas.129 Berkunjung ke Teman 1.023).023*) 0.27 0. Hal ini dilihat dari kedua variabel tersebut (tingkat kesehatan dan usia) adalah wajar oleh karena pen-duduk lansia pensiunan yang sering kali menderita penyakit sudah dapat dipastikan bahwa anak- anak/menantu mereka akan lebih sering mengunjungi sebagai wujud pengabdian dan kasih sayang mereka kepada orang tuanya daripada mereka yang tidak menderita penyakit kronis. Volume 9 No.010.Ikhtiyar. Selanjutnya kunjungan teman.019).874 0.019*) 0.

98). yakni berjualan. (e) se-bagian besar dari mereka memiliki rumah sendiri dan tinggal di rumah mereka sendiri. dengan demikian bahwa terdapat perbedaan yang signifikan aktivitas ekonomi penduduk lansia pensiun-an laki-laki (2-12 jam perhari. Secara administrasi Kota Makassar terdiri dari 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Jenis pekerjaan tersebut relatif sama antara lansia pensiunan laki-laki dengan perempuan. sedangkan lansia perempuan sekitar 40. Hal ini disebabkan bahwa perempuan sudah mempunyai ke-bebasan untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi untuk men-sejajarkan diri mereka dengan kaum laki-laki. (b) tingkat pendidikan para lansia pensiunan di tiga Kecamatan yang dijadikan sampel adalah relatif sama antara lansia lakilaki yang tamat SLTA. meskipun usia mereka sudah lanjut di antaranya ada yang masih aktif melakukan kegiatan untuk memper-oleh biaya tambahan dalam rangka pemenuhan kebutuhan ekonomi mereka. dengan rata-rata 7.00 persen. 1. 2. 4. Kesimpulan Berdasarkan penyajian hasil penelitian dan pembahasan. Profil penduduk lansia pensiunan berdasarkan beberapa karakteristik yang diamati yakni: (a) rentang usia lansia pensiunan antara 55-70 tahun dengan usai rata-rata 62. yaitu tekanan dara tinggi (hipertensi).34 persen yang sudah menikmatik jenjang pendidikan tersebut.000 per bulannya dan ini dicukup-cukupkan untuk sekedar memenuhi tuntutan kebutuhan biaya hidup se-harihari.050 jiwa dan perempuan 573. meng-ajar bagi lansia yang pensiunan guru dan dosen. 153 UPT.384 jiwa yang terdiri dari laki-laki 557.00 persen. (d) sebagian besar di antara penduduk lansia pensiunan yang menyatakan punya tanggung baik anak maupun cucu yakni sekitar 65. 1. Diploma/Akademi dan Sarjana (S1&S2) sebesar 41. (f) sedangkan mereka adalah kepala rumah tangga dalam keluarga. Di lihat dari aktivitas ekonomi. Sedangkan penghasilan mereka dari pekerjaan ini dirasa cukup yakni sekitar Rp 350. Kota ini berada pada ketinggian antara 0-25 m dari per-mukaan laut. Volume 9 No. (c) dilihat dari jumlah anak pada umumnya memiliki anak antara 1 sampai 12 orang secara rata masing-masing mereka memiliki anak sekitar 6 orang. Gambaran tingkat kesehatan lansia pensiunan pada umumnya relatif sama.58 jam) dan lansia perempuan (415 jam perhari dengan rata-rata 8.130. (g) para lansia pensiunan yang bukan kepala rumah tangga pada umumnya tinggal pada anak atau menantunya. bekerja kembali pada instansi swasta dan BUMN tempat mereka bekerja sebelumnya.5 tahun.000.334 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. 3.000 – Rp. Penduduk Kota Makassar pada tahun 2000 adalah 1. dan juga mereka bekerja dengan cara memelihara ternak dan bunga. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar .Ikhtiyar. Januari – April 2011 PENUTUP a.08 jam perhari). Berdasarkan hasil analisis uji-t nilai thitung (0. Jika kurang mereka mengharapkan bantuan dari anak dan menantunya.76) < ttabel (1.65 %.

Mata Kuliah Umum Universitas pensiunan atau non-pensiunan tidak berhubungan secara signifikan dengan aktivitas sosial dan psikologis para penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar. sedangkan yang lainnya yang mempunyai kelebihan/kecukupan uang lebih memilih untuk berobat di Rumah Sakit Umum atau ke Dokter Praktek. jenis kegiatan fisik (olah raga) yang wajar dan sesuai. terutama dalam hal pengaturan pola makan. Dalam kegiatan sosial dan psiko-logis berbagai kegiatan yang di-lakukan para penduduk lansia pensiunan antara lain. Pada umumnya mereka mempunyai presepsi yang baik tentang perawatan dokter baik di Puskesmas maupun di RSU. Diharapkan penelitian lebih lanjut yang dapat mengungkapkan kapasitas dan motivasi kerja para penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar. Berdasarkan hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa jenis aktivitas sosial dan psikologis para penduduk lansia pensiunan. Perlunya pembekalan pengetahuan dan keterampilan tertentu bagi meraka yang masih memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang masih rendah agar pada masa pensiunnya telah tiba mereka dapat melaksanakan pekerjaan atau kegiat-an yang menghasilkan pendapatan tambahan bagi keluarganya. dan usia. Januari – April 2011 reumatik. pen-didikan. b. Perlu adanya penyuluhan secara rutin bagi warga masyarakat.Ikhtiyar. kolestrol. menjadi anggota organisasi kemasyarakatan atau organisasi yang diperuntukkan ke-pada para pensiunan. misalkan pengetahuan dan keteram-pilan kewirausahaan. 4. serta perlunya di-sediakan wadah hiburan bagi lansia pensiunan yang dapat memberikan ketenangan dan jauh dari stress. Sebagian lainnya memilih tidak berobat jika mereka sakit. tingkat kesehatan. Saran-Saran Adapun saran-saran yang dapat peneliti ajukan sebagai suatu rekomen-dasi dari hasil penelitian ini sebagai berikut: 1. DAFTAR PUSTAKA Negeri Makassar . ter-utama para penduduk lansia pen-siunan tentang tersedianya organ-isasi kemasyarakatan yang dapat mengikut sertakan para penduduk lansia pensiunan di Kota Makassar. mereka tidak berobat karena mengeluhkan mahalnya biaya pengobatan dan juga tidak memberikan perubahan dan lebih memilih untuk berobat sendiri dengan obat tradisional atau ke dukung. 2. 1. jantung koriner.Sebagian besar lainnya mereka sehari-harinya menunggui rumah dan menjaga cucu mereka. diabetes. asam urat dan maag. 5. Sedangkan jenis pekerjaan yang dilakukan pada masa muda dan status sebagai 154 UPT. RSU mau-pun di Dokter Praktek. seperti partisipasi dalam orgnisasi kemasyarakatan dan saling mengun-jungi antara teman atau anak mem-punyai hubungan yang signifikan dengan pola tempat tinggal. 3. Pada umumnya mereka yang menderita penyakit lebih gampang berobat ke Puskes-mas. Demi-kian pula tentang pelayawan perawat dan mutu obat yang diberi-kan baik di Puskesmas. berkunjung ke rumah temanteman atau saling mengunjungi. Volume 9 No. Perlu adanya pembekalan penge-tahuan praktis untuk memelihara kesehatan sejak dini.

Psikologi Bandung: PY Logistic Regression. Rahardjo. Gerungan. Aris dan Evi Nurvadya. 1988. Chen Ai and Cavin Jones. Hosmer.A. Profile Penduduk Usia Lanjut di Ujungpandang. Jakarta: Lembaga Demografi FE UI. 1991. Ageing in Asean. N. Cholil. Callen. Dinamika Kependudukan dan Perubahan Sosial Budaya. 1966. Makassar: Andira Publisher. Arif Tiro. Its Socioeconomic Consequnces. Beberapa Implikasi Sosial Dinamika Kependudukan Indonesia Masa Depan. Pengembangan Kebijakan Lokal tentang Konsekwensi Penduduk Lanjut Usia. New York: John Wiley and Sons. Asian Population Studies Series Mo. Metode Penelitian uniuk Ilmu Sosial dan Ekonomi. Siswanto Agus Wilopo and Sudibyo Alimuso. 2000. 1991. 2001. Ilyas. 1993. Jakarta: Lembaga Demografi FE Universitas Indonesia. Jakarta. Statistika: Analisis Hubungan Kausal Berdasarkan Data Kategorik. dalam United Nation. Dalam Population Ageing in Asia. Santoso. Gerontology dan Geriatri. Oppenheim Mason. Laporan Penelitian. Second Edition. Menuju Keadaan Penduduk Tua di Indonesia. 1981. New York: United Nation. Buku Latihan SPSS Statistik. United Natiom. G. W. Singgih. Abdullah. John NlC. Sri Pamoedji. 1996. Senosastro. Niedia Komputindo. Baharuddin dan Muh. Jakarta: DIKTI.Ikhtiyar. Kartakusumah. Applied 155 UPT. David W and Lemeshow. Role and Contribution of the Elderly in Economic and Social Development. 1. Sosial. 1998. Family Change and Support of the Elderly in Asia. 2000. Jakarta: Lembaga Demografi FE UI. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1993. Karen. Analisis Lansia dalam Perspektif Gender. 2002. 1998. Jakarta: PN Balai Pustaka. Djauhari. Sigit. I. Amidjojo. Population Ageing in Asia. Jakarta: Lembaga Demografi FE Universitas Indonesia. Singapore: Institute of South Asia Studies. Jakarta: Elex. Ananta. Social Issue in South Asia. Baharuddin et all. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar . Masalah Masa Tua dan Ilmu Penyakit Tua. Januari – April 2011 Agung. A Socioeconomic Profile of Elderly in Indonesia. Stanley. Makalah Seminar Sehari yang Diadakan atas Kerjasama IPADI dan BKKBN Pusat. 108. 1991. Ilyas. Eresco. Volume 9 No. Hananto.

Muh. Mata Kuliah Umum Universitas Negeri Makassar . Volume 9 No. Statistika Terapan untuk ilmu Ekonomi dan Sosial. Januari – April 2011 Tiro. 156 UPT.Ikhtiyar. Arif dan Baharuddin Ilyas. 1. 2002. Makassar: Andira Publisher.