Anda di halaman 1dari 12

NAMA KELAS NIM Pertanyaan

: ARY KURNIAWAN : 4 TET : 0910117421403

1. Jelaskan hal-hal yang berpengaruh pada penetapan UMK! 2. Pekerjaan apa saja yang diperbolehkan untuk di outsource berdasarkan UU? 3. Apa saja Hak dan kewajiban seorang Tenaga Kerja yang kamu ketahui? Jelaskan! Jawaban
1.

1. Harga Pasaran Ibarat suatu produk yang memiliki harga pasaran, yaitu harga rata-rata yang harus dibayar oleh pembeli untuk mendapatkan produk tersebut. Maka, suatu profesi/tenaga kerja pun memiliki harga pasaran. Harga pasaran disini adalah beberapa rata-rata besaran gaji yang biasa diterima oleh tenaga kerja level tertentu. Misalnya untuk pasaran sarjana S1 bidang administrasi adalah Rp 850 ribu hingga Rp 1,3 juta, tergantung pada kualifikasi dan pengalaman kerja calon karyawan tersebut. Tetapi harga ini bukanlah patokan baku. Karena masih bisa naik atau turun, tergantung pada kualitas pekerja, kemampuan perusahaan, dan negoisasi pada saat awal rekrutmen. Untuk mengetahui harga pasaran suatu tenaga kerja, dapat diperoleh dengan membanding-bandingkan besaran gaji yang diberikan oleh perusahaan lain untuk level tertentu. Atau juga dapat melihat dari data survey gaji yang sering diadakan dan dipublikasikan oleh beberapa media. 2. Kualitas Calon Karyawan Tinggi rendahnya kualitas calon karyawan yang diinginkan juga berpengaruh pada besaran gaji yang harus dibayarkan. Hal ini merupakan hal yang sangat wajar. Semakin bagus kualitas calon karyawan tersebut, semakin tinggi pula gaji yang dia minta. 3. Fasilitas yang Menyertai Gaji Beberapa perusahaan memiliki kebijakan untuk memberikan gaji pokok yang relatif kecil dibandingkan perusahaan lain untuk level jabatan yang sama. Tetapi memberikan fasilitas yang lebih pada karyawannya. Fasiitas tersebut dapat berupa tunjangan, asuransi, dan beberapa fasilitas lainnya seperti rumah

Pada prinsipnya. Tetapi satu hal yang perlu diingat. Penentuan besaran gaji tentu tidak akan terlepas dari kemampuan perusahaan untuk membayar gaji seorang karyawan. Diketahui bahwa pihak Pemerintah melalui pejabat instansi ketenagakerjaan memiliki kewenangan menentukan sah atau tidak suatu jenis pekerjaan yang dilakukan dengan sistem outsourcing. sebagai seorang pemilik usaha : besaran gaji yang diberikan dapat menentukan seperti apa kualitas tenaga kerja yang di dapatkan. Sementara UMR untuk Kotamadya Bogor adalah Rp 860 ribu. bila memberi ikan. dapat disimpulkan pengertian frasa “antara lain” dalam penjelasan pasal tersebut sifatnya terbuka sepanjang tidak melanggar ketentuan Pasal 66 ayat (1) UUK. Hal ini biasanya karena cashflow dan pendapatan usaha yang belum begitu besar. pekerja outsourcing tidak dimaksudkan untuk pekerjaan yangberhubungan langsung dengan proses produksi. 2. Outsourcing (Alih daya) sebagai suatu penyediaan tenaga kerja oleh pihak lain dilakukan dengan terlebih dahulu memisahkan antara pekerjaan utama (core business) dengan pekerjaan penunjang perusahaan (non core business) dalam suatu dokumen tertulis yang disusun oleh manajemen perusahaan. Dalam melakukan outsourcing perusahaan pengguna jasa outsourcing . Tetapi bila memberi daging. serta beberapa kenikmatan lainnya. Seperti misalnya di salah satu perusahaan distribusi.dan mobil. Ibarat memberi makan binatang. Tetapi perusahaan tersebut memberikan asuransi kesehatan pada karyawan dan keluarganya dengan pertanggungan yang sangat luas. asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang cukup memadai. Penentuan gaji dengan berdasar kemampuan perusahaan ini terutama terjadi pada usaha kecil. ya kita akan mendapatkan kucing. 5. Upah Minimum Regional Upah Minimum Regional (UMR) merupakan batas bawah upah yang seharusnya diberikan oleh suatu perusahaan pada karyawannya. memberikan gaji pokok yang lebih kecil dibandingkan perusahaan lainnya untuk level supervisor keatas. Setiap daerah memiliki UMR berbeda-beda disesuaikan dengan standard hidup didaerah tersebut. maka akan mendapatkan singa. Seperti misalnya UMR di Jakarta saat ini adalah Rp 1. Sehingga.110 ribu per-bulan. 4.

Untuk lebih memberikan penjelasan mengenai pengupahan di kutip secara keseluruhan terhadap Pasal-Pasal dimaksud sebagai berikut : Pasal 88 ayat (1) : “Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Karyawan outsourcing selama ditempatkan diperusahaan pengguna jasa outsourcing wajib mentaati ketentuan kerja yang berlaku pada perusahaan outsourcing. Upah kerja lembur c. dimana hubungan hukumnya diwujudkan dalam suatu perjanjian kerjasama yang memuat antara lain tentang jangka waktu perjanjian serta bidang-bidang apa saja yang merupakan bentuk kerjasama outsourcing. pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.bekerjasama dengan perusahaan outsourcing. (2). Mekanisme Penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan diselesaikan secara internal antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing. “Kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi: a. dimana hal itu harus dicantumkan dalam perjanjian kerjasama. dimana perusahaan outsourcing seharusnya mengadakan pertemuan berkala dengan karyawannya untuk membahas masalah-masalah ketenagakerjaan yang terjadi dalam pelaksanaan outsourcing. mengatur dengan tegas dan jelas mengenai pengupahan yang diatur pada Bagian Kedua “Pengupahan” tepatnya dimulai dari Pasal 88 sampai dengan Pasal 98. Upah tidak masuk kerja karena berhalangan . Upah Minimum b.” (3). Karyawan outsourcing menandatangani perjanjian kerja dengan perusahaan outsourcing untuk ditempatkan di perusahaan pengguna outsourcing. “Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Undang-Undang Republik Indonesia No.

Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya f. Denda dan potongan upah h.d.” Dalam penetapan Upah Minimum tersebut sesuai Pasal 89 ayat (1) dan ayat (2). (b). Berdasarkan wilayah Propinsi atau kabupaten/kota.”. dan k. Berdasarkan sektor pada wilayah Propinsi atau kabupaten/kota yang diarahkan kepada pencapaian kebutuhan hidup layak. Bentuk dan cara pembayaran upah g. Struktur dan skala pengupahan yang proporsional j. Para pengusaha dilarang membayarupah lebih rendah dari Upah Minimum (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89) namun apabila pengusaha ternyata tidak mampu membayar Upah Minimum yang telah ditetapkan oleh pemerintah. e. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya. maka dapat memohon penangguhan yang tatacaranya diatur dengan . Upah untuk pembayaran pesangon. Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah i. dibagi menjadi dua yaitu (a). Upah untuk perhitungan pajak penghasilan Masih dalam Pasal 88 pada ayat (4) ditentukan bahwa “Pemerintah menetapkan Upah Minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf (a) berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.” Ayat (4) “Komponen serta pelaksanaan tahapan pencapaian kebutuhan hidup layak diatur dengan Keputusan Menteri. Sedangkan untuk penetapan Upah Minimum dilakukan oleh Gubernur sebagaimana ditentukan dalam Pasal 89 ayat (3) “Upah Minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur dengan mempertimbangkan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Propinsi dan/atau Bupati/Walikota.

pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh menikah. pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan pekerjaannya. b. Pada prinsipnya upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan pekerjaan (Pasal 93 ayat 1). Hal ini diatur dalam Pasal 90 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Ayat (3) : “Ketentuan mengenai struktur dan skala upah diatur dengan Keputusan Menteri”. suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia. menikahkan. d.Keputusan Menteri Tenaga Kerja. mengkhitankan. pekerja/buruh sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan. jabatan. isteri melahirkan atau keguguran kandungan. membaptiskan anaknya. Pasal 91 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa Pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan antara pengusaha dan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena sedang .” Ayat (2) : “Pengusaha melakukan peninjauan upah secara berkala dengan memperhatikan kemampuan perusahaan dan produktivitas”. Dalam hal kesepakatan dalam penetapan upah antara pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh ternyata lebih rendah maka kesepakatan tersebut batal demi hukum dan pengusaha wajib membayar upah pekerja/buruh menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. kecuali ditentukan dalam ayat (2) apabila : a. masa kerja pendidikan dan kompetensi. Pasal 92 ayat (1) : “Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan. c.

pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat buruh atau persetujuan pengusaha. dibayar 100 % (seratus perseratus) dari upah. h. menikahkan anaknya. untuk bulan selanjutnya dibayar 25 % (dua puluh lima perseratus) dari upah sebelum pemutusan hubungan kerja dilakukan oleh pengusaha. e. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya. dibayar untuk untuk selama 2 (dua) hari. dibayar untuk selama 3 (tiga) hari. c. dibayar untuk selama 2 (dua) hari. untuk 4 (empat) bulan kedua. peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. mengatur tentang upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a sebagai berikut : untuk 4 (empat) bulan pertama.menjalankan kewajiban terhadap negara. i. g. Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang tidak masuk bekerja sebagaimana dimaksud pada Pasal 93 ayat (2) huruf c diatur dalam Pasal 93 ayat (4) sebagai berikut : a. Pasal 93 ayat (3). Pengaturan Pasal 93 tersebut diatas dituangkan dan ditetapkan dalam perjanjian kerja. baik karena kesalahan sendiri maupun halangan yang seharusnya dapat dihindari pengusaha. untuk 4 (empat) bulan ketiga. . dibayar 75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari upah. f. pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya. pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat. pekerja/buruh melaksanakan tugas pendidikan dari perusahaan. mengkhitankan anaknya. dibayar 50 % (lima puluh perseratus) dari upah. b. pekerja/buruh menikah.

Mengenai pembagian komponen upah sebagaimana diatur dalam Pasal 94. peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama. e.” Ayat (2) : “Pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah. orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal dunia. dibayar untuk selama 1 (satu) hari. dan g.d. isteri melahirkan atau keguguran kandungan. dibayar untuk selama 2 (dua) hari.” Ayat (4) : “Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada Pasal 97 dinyatakan bahwa : “Ketentuan mengenai penghasilan yang . anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia. dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya 75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok dan tunjangan tetap. suami/isteri. dibayar untuk selama 2 (dua) hari. dibayar untuk selama 2 (dua) hari. Pasal 95 ayat (1) : “Pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh karena kesengajaan atau kelalaiannya dapat dikenakan denda.” Ayat (3) : “Pemerintah mengatur pengenaan denda kepada pengusaha dan/atau pekerja buruh dalam pembayaran upah. maka upah dan hak-hak lainnya dari pekerja/buruh merupakan utang yang didahulukan pembayarannya”. “Tuntutan pembayaran upah pekerja/buruh dan segala pembayaran yang timbul dari hubungan kerja. Pengaturan pelaksanaannya ditetapkan dalam perjanjian kerja. membaptiskan anaknya. f. dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh. menjadi kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sejak timbulnya hak” tertuang dalam (Pasal 96).

serikat pekerja/serikat buruh. kebutuhan hidup layak. Suwarto dalam bukunya yang berjudul Hubungan Industrial dalam Praktek(2003. komposisi keanggotaan. dan perlindungan pengupahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88. skala upah dan lain sebagainya. serta tugas dan tata kerja Dewan Pengupahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Keputusan Presiden. dan merumuskan kebijakan pengupahan yang akan ditetapkan oleh pemerintah. organisasi pengusaha. penetapan Upah Minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89. kebijakan pengupahan. dan pengenaan denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (1). ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah”. serta untuk pengembangan sistem pengupahan nasional dibentuk Dewan Pengupahan Nasional.” Ketentuan mengenai tata cara pembentukan. tata cara pengangkatan dan pemberhentian keanggotaan. (Pasal 98 ayat (4)). kenaikan upah. Kabupaten/Kota diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota. struktur upah. perguruan tinggi dan pakar. pertimbangan. seperti tunjangan. p. Propinsi dan Kabupaten/Kota”. Oleh . Ayat (2) : “Keanggotaan Dewan Pengupahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur pemerintah. sedangkan keanggotaan Dewan Pengupahan Propinsi.layak. Penetapan Upah Minimum yang menjadi kewenangan pemerintah dalam hal ini adalah Gubernur perlu dibentuk adanya Dewan Pengupahan yang diatur dalam Pasal 98 ayat (1) : “Untuk memberikan saran.186) mengatakan bahwa Upah merupakan salah satu aspek yang sensitif di dalam hubungan kerja dan hubungan industrial.” Ayat (3) : “Keanggotaan Dewan Pengupahan tingkat Nasional diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Antara 70 – 80 % kasus yang terjadi dalam hubungan kerja dan hubungan industrial mengandung masalah pengupahan dan berbagai segi yang terkait.

struktur upah dan jenjang pengupahan atau skala upah. Pemahaman semacam ini perlu diluruskan dengan mendalami makna dan pengertian Upah Minimum dan sistem pengupahan secara keseluruhan.Permasalahan yang senantiasa timbul adalah berapa besar upah di atas Upah Minimum tersebut. Penyelesaian permasalahan yang terkait dengan Upah Minimum sebenarnya sangat sederhana. sehingga pelaksanaannya juga mudah dan tidak menimbulkan interpretasi lain. Acuan untuk ini sudah jelas. Ada sementara yang beranggapan bahwa dengan melaksanakan Upah Minimum sudah merasa memenuhi ketentuan pengupahan yang berlaku. Sehingga bagi pekerja/buruh di atas ketentuan tersebut seharusnya mendapatkan upah di atas Upah Minimum yang berlaku. sifatnya juga normatif dan mudah diukur. sehingga diperlukan pemahaman dan persepsi yang sama antara pekerja/buruh dan pengusaha. Permasalahan yang dominan dalam bidang pengupahan justru berada di luar Upah Minimum.karena itu tidak mustahil apabila manajemen perusahaan senantiasa memberikan perhatian yang cukup besar mengenai pengupahan di perusahaan masing-masing. Berbagai hal yang cukup rentan dalam bidang pengupahan antara lain mengenai jenis dan bentuk tunjangan. Di samping sangat bervariasi juga mengandung berbagai aspek yang bersifat relatif. Untuk inilah maka pengusaha perlu memberikan perhatian yang cukup terhadap hal-hal tersebut . kenaikan upah di atas Upah Minimum terutama pada saat kenaikan upah minimum (yang disebut upah sundulan). Makna sebenarnya dari Upah Minimum adalah upah terendah untuk pekerja/buruh golongan terendah dengan masa kerja kurang dari satu tahun. sehingga mereka berharap tidak akan terjadi masalah yang berkaitan dengan upah pekerja/buruh. Lain halnya dengan permasalahan upah di luar Upah Minimum. Dalam prakteknya banyak perusahaan yang belum memahami secara benar sistem pengupahan.

13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja. Pasal 12 Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk: a. Karena itu. Kebijakan pengupahan dan penggajian disusun sedemikian rupa supaya secara seimbang mampu mendorong peningkatan produktivitas pekerja/buruh dan pertumbuhan produksi serta meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan pekerja/buruh pada khususnya dan peningkatan daya beli masyarakat pada umumnya. tidak ada jalan lain. Dengan memperhatikan perundangan yang sudah ada. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khususditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan. 4. yang nota bene belum diberikan kepada .13 Tahun 2003. 2. sesuai dengan best – practice yang lazim. Jaminan Kematian (JKM) 1. e. c. Jaminan pesangon. 5. Jaminan Kesehatan (JK) Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Jaminan Hari Tua (JHT) Jaminan Pensiun (JP) dan. perobahan yang dilakukan tidak boleh merugikan hak tenaga kerja. atau Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). b. 3. dimana hak – hak tenaga kerja telah ditentukan. selain mengintegrasikan jaminan pesangon (JPHK) dengan program Jamian Sosial lainnya. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. sebagaimana termaktub dalam UU 40 tahun 2004. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. d. Karena itu. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau keselamatan kerja. ternyata diatur tersendiri dalam UU No.Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan.dan bukan semata-mata perhatian terhadap pelaksanaan Upah Minimum. mestinya dimasukkan dalam penyelenggaraan program jaminan sosial lainnya. 3. yaitu . Perobahan itu hedaklah secara mendasar. Oleh karena itu kebijakan penetapan Upah Minimum untuk mencapai tingkat upah dengan kriteria tertentu merupakan cara yang tepat.  Hak pesongon terhadap buruh sebagaimana termaktub dalam UU No. sebenarnya termasuk program jaminan sosial yang menjadi hak tenaga kerja.

serikat pekerja/serikat buruh. sesuai dengan UU No 13 Tahun 2004. akan sangat ideal. hal ini diperlukan. apabila semua itu diintergrasikan pendekatannya. Adanya pikiran – pikiran untuk membuka peluang multi – providers. Pasal 173 1. single – provider dan (mestinya) diintegrasikan dengan program jaminan sosial lainnya. apalagi membuka peluang perusahaan asuransi swasta untuk terlibat. dan 175 UU No. antara lain sifat not for profit.sebagian besar tenaga kerja kita. dan/atau bentuk lainnya. Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang telah berjasa dalam pembinaan ketenagakerjaan. 3. Pemerintah melakukan pembinaan terhadap unsur-unsur dan kegiatan yang berhubungan dengan ketenagakerjaan. dan organisasi profesi terkait 3. tidak sepotong – potong. sehingga beban iuran akan lebih besar. tenaga kerja akan memiliki program jaminan sosial sesuai UU 40/2004.  Buruh atau tenaga kerja mendapatkan hak pesangon sebagaimana termaktub dalam pasal 173. Pembinaan sebagaimana di maksud dalam ayat (1). uang. antara lain adalah: 1. efisiensi dan kelangsungan program itu. organisasi pengusaha. Dengan pendekatan seperti itu. demi manfaat. selayaknya di tinggalkan . Tetap menjamin hak – hak tenaga kerja. dan ayat (2). dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi.13 Tahun 2003. khususnya besaran pesangonnya. sementara bagi pemberi kerja. agar ada integrasi. 2. 174. sehingga menjamin . 2. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). sebagai berikut. pemerintah. Maka selayaknya memperoleh perhatian dari pemerintah tentang formulasi UU ketenaga kerjaan. Pasal 174 Dalam rangka pembinaan ketenagakerjaan. beban itu akan lebih ringan. serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi profesi terkait dapat melakukan kerjasama internasional dibidang ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 175 1. 2. Terkait dengan masa transisi UU No 40 Tahun 2004. Diselenggarakan melalui prinsip – prinsip program Jamiman Sosial. Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diberikan dalam bentuk piagam. dapat mengikut sertakan organisasi pengusaha.

Dalam hubungan kerja terdapat hak dan kewajiban majikan dan buruh. Sehingga akan tercipta hubungan yang serasi antara majikan dan buruh. Dengan demikian kelangusungan hidupnya lebih terjamin.penyelenggaraan program jaminan sosial yang terintegrasi dan komprehensif. adil dan merata. Sehingga Dalam hukum perburuhan ada peraturan yang mengatur hubungan antara para majikan dan buruh agar majikan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap buruh. .