Anda di halaman 1dari 5

Wawancara I (Andar Setiawan Pole Staff MIT) (Perkenalan, mengutarakan maksud dan meminta persetujuan) Pewawancara : Apa yang

g anda ketahui tentang pengobatan alternatif? Informan : Pengobatan alternatif, hmmm.... sepengetahuanku sih pengobatan yang

menggunakan alat-alat tradisional sama pakai kayak jamu dan segala macamnya, pijatpijat kalau keseleo. Pewawancara : Selain itu, ada yang lain mungkin? Informan : Kalau yang masuk angin dikeroki gitu.

Pewawancara : Kalau anda sendiri apakah pernah mencoba pengobatan alternatif? Informan : Kebetulan kalau dari keluargaku itu latar belakangnya kakek-nenek

masih orang kampung, jadi saya masih menggunakan pengobatan alternatif, misalnya kalau lagi sakit perut minum jamu kencur. Pernah juga waktu cedera main basket pernah dipijat. Pewawancara : Jadi, apakah anda pernah menggunakan pengobatan alternatif? Informan : Pernah.

Pewawancara : Terus bisa diceritakan seperti apa pengalamannya sewaktu dipijat? Informan : Kalau dipijat tuh, pertama kali dipijat sakit, tapi ya mereka yang memijat

itu yang pasti tahu keseleonya kenapa. Setelah dipijat akhirnya engkel sebelah kanan sembuh tapi sampai sebulan lebih. Pewawancara : Apakah pijatnya rutin? Informan : Ga rutin, malah katanya ga boleh rutin. Kira-kira seminggu sekali.

Pewawancara : Tapi akhirnya sembuh? Informan : Sembuh

Pewawancara : Bagaimana kesan mas Andar tentang pengobatan alternatif? Informan : Kalau pengobatan alternatif ya kalau yang selama saya alami, saya tidak

pernah mengalami gangguan selama melakukan pengobatan alternatif. Tapi kalau sampai keadaan sakit yang parah banget seperti patah tulang atau apa saya tidak berani ke pengobatan alternatif. Untuk beberapa penyakit terutama kalau memang sesuai dengan anjuran keluarga yang pernah menggunakan pengobatan alternatif kemudian sembuh ya ga ada salahnya toh kalau dicoba. Misalnya pengobatan dengan obat-obatan tradisional, kalau cuman rempah-rempah gitu kayaknya tidak ada efek samping.

Pewawancara : Jadi anda menggunakan pengobatan alternatif berdasarkan pengalaman juga? Informan : Iya, pengalaman keluarga.

Pewawancara : Antara pengobatan modern dan pengobatan alternatif, mana yang lebih kamu percayai? Informan : Modern dong.

Pewawancara : Apa alasan lebih percaya sama yang modern? Informan : Pasti modern, karena sudah terbukti secara ilmiah.

Pewawancara : Tapi kenapa masih mau menggunakan pengobatan alternatif? Informan : Ya karena orang memilih pengobatan alternatif itu kadang-kadang

disebabkan faktor biaya kan? Beberapa pengobatan alternatif lebih murah dibanding pengobatan modern, jika pengobatan alternatif bisa menyembuhkan kenapa tidak dicoba. Pewawancara : Oh, jadi karena masalah biaya ya. Kalau misalnya ada pengobatan alternatif yang bersifat mistis seperti memindahkan penyakit ke ayam gitu percaya ga? Informan : Ga percaya

Pewawancara : Jadi kalau misalnya terpaksa disuruh melakukan pengobaan seperti itu mau ga? Informan : Emm... ga.

Pewawancara : Misalnya ada suatu penyakit dimana ilmu pengobatan modern tidak dapat mengatasi, misalnya seperti guna-guna, santet dll menurut anda bagaimana? Informan : Ya, kalau sampai itu terjadi, jika memang pengobatan modern tidak bisa

mengobati, ya tidak ada salahnya dicoba. Tapi tetap prioritasnya pengobatan modern terlebih dahulu, jika memang tidak bisa mengobati baru coba pengobatan alternatif. (Menutup sesi wawancara)

Wawancara II (Mbak Muri Laboran Lab Biomedik FK UKDW) (Perkenalan, mengutarakan maksud dan meminta persetujuan) Pewawancara : Yang mbak Muri ketahui tentang pengobatan alternatif itu ap?

Informan

: Pengobatan alternatif itu yang jelas bukan secara medis ya. Yang jelas

obat-obatannya itu herbal atau alami. Terus ada beberapa juga yang make cara-cara aneh gitu, entah tangannya diapa-apain gitu. Pewawancara : Oh, seperti prana? Informan : Ah, ya model-model prana gitu.

Pewawancara : Mbak Muri sendiri, atau keluarga apakah pernah mencoba pengobatan alternatif? Informan : Gimana yah? Alternatifnya yang gimana dulu?

Pewawancara : Misalnya pijat urut, jamu, akupuntur, kop, prana dll. Pokonya penyembuhan selain oleh tenaga medis seperti dokter, perawat atau bidan. Informan : Eh, beda loh ya pengobatan alternatif dengan alami. Kalau kop itu iya

alami. Ini yang pengobatan alami termasuk disitu ga ya? Pewawancara : Iya, pengobatan herbal termasuk dalam pengobatan alternatif. Informan : Kalau kop, kop sendiri saya lakuin untuk orang tua. Tapi kayaknya lebih

banyak ke sugesti gitu deh, kalau belum di kop itu kayaknya belum sembuh, badannya belum enak, lebih kearah situ. Cuma kalau itu yang kadang keluar merah-merah kayak darah setelah di kop katanya yang menyembuhkan penyakit, itu ga tahu benar apa ga nya. Cuma, kok kayaknya lebih cenderung ke sugesti. Pewawancara : Tapi hasilnya kelihatan ga setelah di kop? Informan : Iya sih ada hasilnya, setelah di kop badannya lebih seger.

Pewawancara : Selain kop untuk orang tua mbak Muri masih menggunakan pengobatan alternatif lain tidak? Dengan herbal mungkin? Informan : Kalau itu, iya. Iyalah kalau itu sampai sekarang masih. Misalnya anakku

sakit, kadang itu tak kompres dengan bawang merah pakai minyak. Kalau itu kan dari logika saja, badannya jadi hangat. Terus kalau sakit tipes, baru kemarin saya sakit tipes, pakainya kapsul cacing. Tapikan isinya didalamnya bukan cuma cacing, ada macammacam. Ada kandungan zinc, ada curcumanya juga didalam situ. Pokoknya kalau untuk yang herbal-herbal, percaya sih. Pewawancara : Oh, percaya karena memang ada kandungan obatnya? Informan : He-eh... efeknya juga.

Pewawancara : Kalau disuruh memilih antara pengobatan barat yang pakai dokter dan minum obat kimiawi sama pengobatan alternatif, mbak Muri lebih percaya yang mana? Informan : Kalau untuk percaya, tergatung sakitnya juga. Kalau cuma masuk angin

atau panas demam biasa, ya... dengan pengobatan alternatif kalau sudah bisa tertangani ya sudah tidak pergi lagi. Tapi kalau kira-kira tidak sembuh ya baru. Tapi kalau yang masih masuk akal loh ya. Kalau yang aneh-aneh ga percaya juga. Pewawancara : Jadi kalau misalnya disuruh memilih, misalnya disuatu kondisi penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis, pengobatan mana yang lebih diprioritaskan? Informan : Ya, tetap medislah. Biasanya kan kita tahu terlebih dahulu sakit apa

dahulu, oh sakit ini, oh biasanya kalau secara alami, herbalnya orang tua-tua dulu pakainya ini. Tapikan kita sudah tahu terlebih dahulu anak sakit ini, jadi kita bisa menentukan kondisi tersebut bisa ditangani dengan obat herbal atau harus segera ditolong oleh dokter. Biasanya... Pewawancara : Jadi alasan utama mbak Muri menggunakan jamu dan kop itu karena memang percaya atau dari segi biaya lebih murah atau lebih praktis? Informan : Kayaknya kalau yang alternatif kayak jamu gitu yah, itu kok efeknya

lebih ke daya tahan tubuh. Trus kalau efek untuk mengobati ya juga ada, itu kan resep turunan yah. Percaya ga percaya itu kadang manjur, tapi emang manjur untuk anak-anak. Kalau misalnya anak-anak terbentur aja, kalau dimedis pakai apa? Pewawancara : Kompres... Informan : Jatuh kejeduk, kalau didiemin jadinya memerah biru gitu, kalau dimedis

pakai apa? Dikompres apa? Rivanol toh kadang. Tapi kalau menurut resep alami dari orang tua dulu ambil lidah buaya, dibuka, lendirnya itu diusapkan. Percaya ga percaya itu ta kasihkan ke anak saya, ya iya tidak ada bekasnya sama sekali. Tapi begitu misalnya daerah yang kena benturan itu udah dikasih lidah buaya udah mengering, kayak menguap begitu dikasih lagi sampai masih basah, akhirnya udah ga memar lagi. Beda yah sama yang kalau pake alternatif yang aneh-aneh pake prana, nah kalau itu ga percaya. Jadi ya lebih karena praktis dan murah aja sebenernya. Pewawancara : Jadi mbak Muri cenderung memilih pengobatan alternatif herbal? Informan : Kalau alternatif yang itu iya.

Pewawancara : Kalau misalnya yang berbau mistis seperti memindahkan penyakit ke ayam? Informan : Ah, aneh juga itu kayaknya. Ga percaya kalau itu dan kebetulan belum

pernah coba juga. (Menutup sesi wawancara)