P. 1
Analisis Usahatani Dan Tataniaga Kedelei

Analisis Usahatani Dan Tataniaga Kedelei

|Views: 184|Likes:
Dipublikasikan oleh Aldi Des Sagitarius

More info:

Published by: Aldi Des Sagitarius on Aug 28, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2015

pdf

text

original

Sections

  • Tabel 1 Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007
  • Tabel 6 Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu
  • Tabel 7 Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli
  • Tabel 10 Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur
  • Tabel 11 Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan
  • Tabel 12 Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah
  • Tabel 13 Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah
  • Tabel 14 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian
  • Tabel 15 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak
  • Tabel 16 Biaya Pupuk, Pestisida, Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai
  • Gambar 3. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda
  • Gambar 4 Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

Oleh NORA MERYANI A 14105693

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN NORA MERYANI. Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di bawah bimbingan RAHMAT YANUAR. Peranan sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia, sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai perkapita pertahun mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1996-2005, rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.3 juta ton pertahun. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Kecamatan Ciranjang merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Kenaikan harga kedelai impor memberikan dampak yang positif terhadap budidaya kedelai di dalam negeri. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat pendapatan usahatani kedelai, mengkaji saluran tataniaga, struktur pasar dan permasalahan yang ada di setiap pelaku pasar dan menganalisis tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Hasil analisis usahatani dan tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani, sebagai pengambil keputusan. Karakteristik petani mencakup umur, tingkat pendidikan, luas dan status penguasaan lahan, dan kepemilikan alat pertanian serta ternak. Umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun, mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.57 tahun dengan rataan pendidikan 4.3 tahun. Rata-rata luas sawah yang diusahakan sebesar 0.778 hektar per petani dan mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.00 persen). Petani yang memiliki hand sprayer (36.67 persen), biaya sewa hand sprayer Rp 5 000 per hektar, sewa pompa air Rp 20 000 per hektar, dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000 per tiga kuintal kedelai. Petani yang memiliki usaha sampingan hewan ternak sebesar 10 persen. Di Kecamatan Ciranjang, rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1.37 ton per hektar, sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit, pupuk dan pestisida, upah tenaga kerja, sewa alat dan pajak. Biaya usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua

iii

(Rp 3 312 778.73 per hektar). Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Berdasarkan analisis usahatani kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda, total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.84 dan total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.73. R/C rasio yang diperoleh petani yang panen polong tua (1.35) dan petani yang panen polong muda (1.27). Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.27 untuk polong muda. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, ada dua saluran tataniaga yaitu saluran tataniaga kedelai polong muda dan saluran tataniaga kedelai polong tua. Saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai tujuan yang sama, yaitu dari petani kedelai dibawa ke pedagang pengumpul, kemudian kedelai tersebut dibawa ke pedagang pasar induk parung. Di pedagang pasar induk, kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan konsumen akhir. Di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga polong tua yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Struktur yang dihadapi antara petani dan pedagang pengumpul, petani dan pedagang kecamatan, serta antara petani dan pedagang besar adalah persaingan dan oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah persaingan dan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang kecamatan/kabupaten adalah oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi antara pedagang besar (kecamatan dan kabupaten) dan pedagang propinsi, dan antara pedagang besar dan pedagang pengecer mengarah ke pasar oligopoli dan persaingan. Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai, saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.22 persen) dengan volume kedelai 26.67 persen. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.30 per kilogram. Alternatif saluran tataniaga yang dianggap juga efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua dengan volume kedelai 73.33 persen. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masing-masing sebesar Rp 9.35 dan Rp 8.54 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.50 persen dan farmer s share sebesar 75.50 persen.

JAWA BARAT Nora Meryani A 14105693 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Manajemen Agribisnis PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . KABUPATEN CIANJUR.ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG.

Ir Didy Sopandie.Agr NIP. Dr. 131 124 019 Tanggal Kelulusan: .Judul Penelitian Nama Mahasiswa Nomor Pokok : Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. : Nora Meryani : A 14105693 Menyetujui Dosen Pembimbing Rahmat Yanuar. M. Kabupaten Cianjur. MSi NIP. 132 321 442 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Jawa Barat. SP.

JAWA BARAT INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. September 2008 Nora Meryani A 14105693 . KABUPATEN CIANJUR. Bogor.

Bapak Usep. Lala. Bapak Rosidi. SP. Ungky. Rahmat Yanuar. Y’Ayon. Bapak Acep. sehingga skripsi ini dapat selesai. Tanti Novianty. MEc selaku dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi ini. RT Siregar. Fida. K’Dayat. dukungan dan kasih sayang yang tiada habisnya yang diberikan kepada penulis selama ini. Bapak Asep. Ewie dan Ucie yang telah memberikan kritik. 7. SP selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi. Y’Merry. 5. . Mini. Ir Yayah K Wagiono. dan D’Anda yang sudah memberikan do’a dan dorongan. Bapak Asep Usman dan Teh Rina dan yang lainnya. Mirror. 8. SP. 4. 3. MSi selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan. Are The. Papa dan Mama atas segala do’a. saran dan persahabatan yang indah.UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini: 1. Ria. Bapak Dadi. MSi selaku dosen evaluator yang telah memberikan kritik dan masukan. Arief Karyadi Uswandi. 6. love you all. dorongan dan masukan-masukan yang diberikan selama penelitian dan penulisan. 2. M’Andi R. atas bantuannya dalam memperoleh data primer dan data sekunder.

viii 9. Mira. Aputz. Wildan dan teman seperjuangan lainnya atas persahabatan dan dukungan kepada penulis selama ini. Arfan. Santi. Fajar. Edy. September 2008 Nora Meryani . Ola. Zibril. Sandra. Dian. Bogor. amien. Indra. Penulis mendo’akan semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya dan senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. 10.

Luas Panen. Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah ......... 11............... Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu ................................ Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai ....... Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli . Luas Panen............... Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah ................. Propinsi Jawa Barat..................................... Luas Tanam........... 4.......... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten......................ix DAFTAR TABEL No 1.................... 7............... 5... 13................................................ 9. Luas Panen...................... 17...................... Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007.. Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak... 16.... Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai..................... Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 ................... 8................. 10. 2.................... 3.............. Luas Tanam..... Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai......... 14...... Pestisida...... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006...................... Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan ...... Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar ........... Biaya Pupuk.......... Luas Tanam.... Tahun 2006 ........................... Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur .............. Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 ... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian 15......... 12.......... Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006.. Halaman 2 3 4 4 5 20 26 36 42 47 48 48 49 49 50 53 55 61 .. 18............... 6....................................

. Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.......... 72 76 78 79 80 82 .......................... Dua...x 19....... 21....... Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu....... 23. Tahun 2008........... Tahun 2008 . Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam.......... Total Marjin.... Total Biaya............ Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga ..... Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga.............. Tiga....... 22........................ 20.. Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang..... 24............................................... Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang ................................ Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang ....

........... 2................. 2................... Kuisioner Analisis Tataniaga Kedelai ................................ Halaman 89 96 ............................. Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai ................. 4..................... Kuisioner Analisis Usahatani Kedelai ... Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua......................................... 3..... Halaman 27 33 58 60 DAFTAR LAMPIRAN No 1......................................................xi DAFTAR GAMBAR No 1.................. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda.............................................. Margin Tataniaga ..................................

2 persen maupun dalam perekonomian. 17 Mei 2008.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan regional.balitbangjateng. kacang hijau. Sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. Peranan tersebut terlihat dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 41.id.1 I PENDAHULUAN 1. mengandung zat anti oksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Subsektor tanaman pangan mempunyai peranan sekitar 49. kacang tunggak dan kacang koro). Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengan. kacang tanah. 2007. http://www.1 Sektor pertanian yang mempunyai peranan yang strategis dan penting adalah sektor tanaman pangan.4 persen terhadap pertanian secara keseluruhan. dan protein yang berasal dari bahan pangan nabati. jagung. sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya. 1 2 Bank Indonesia. .2 Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. seperti yang tercermin pada peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDB sekitar 13.8 persen pada tahun 2007.go. Tanaman pangan meliputi padi. Produk Domestik Bruto. 7 Mei 2008. 2008. ubi-ubian dan kacangkacangan (kedelai.bi.go. lemak. Mekanisme Pengadaan Pangan dan Pupuk di Propinsi Jawa Tengah. Tanaman pangan merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan makro manusia terhadap karbohidrat. http://www. serelia.id.

mentega. sedangkan volume ekspor tumbuh rendah yaitu 1.7 persen per tahun.7 persen dari tahun sebelumnya. . sehingga pada tahun 2007 mencapai 2 000 000 ton. dan bahan baku pakan ternak. Tabel 1 Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Produksi* (ton) 723 480 808 350 746 610 592 381 Pertumbuhan (%) 11. Deptan. 2008 **Badan Litbang Pertanian. India.6 -20.id. Jepang. minyak. 2008 Setiap tahun rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.2 persen. keripik). Kedelai.7 -7. sehingga mengalami peningkatan nilai tambah tinggi.3 Konsumsi kedelai per tahun cenderung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.2 persen per tahun.2 Konsumsi penduduk Indonesia terhadap kedelai berupa hasil olahan (seperti tempe.deptan. Hal ini menunjukkan kedelai yang diekspor berupa produk olahan.3 juta ton pada periode tahun 1996-2005 (Tabel 2). Saudi Arabia. selanjutnya konsumsi meningkat rata-rata 8. yogurt. 2002. Netherland dan Singapore. kecap. Hal ini mengindikasikan peningkatan ketergantungan terhadap kedelai impor. tauco. Volume dan nilai impor kedelai masingmasing tumbuh sebesar 8. 3 Departemen Pertanian. Sementara kondisi produksi kedelai nasional berfluktuasi (Tabel 1).7 Konsumsi Total** (Ton) 2 015 000 2 122 000 2 179 000 2 234 000 Pertumbuhan(%) 9.0 8.9 persen per tahun. Pada tahun 2007 penurunan produksi sampai 20.go.4 Sumber : *BPS. Tetapi nilai ekspor tumbuh tinggi sebesar delapan persen per tahun. Negara yang menjadi tujuan ekspor kedelai terbesar adalah Australia.litbang.2 8. susu kedelai. 31 Januari 2008.4 dan 7. http://www. tahu. Pada tahun 2005 meningkat 9. oncom.

20074 Program Peningkatan Kedelai Nasional Tahun 2008 untuk mendorong peningkatan produksi kedelai nasional dilakukan melalui beberapa strategi. Sumedang. dan (d) Penguatan kelembagaan dan dukungan pembiayaan. yaitu (a) Peningkatan produktivitas. Tasikmalaya.3 Tabel 2 Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Volume (ton) 1 705 583 1 532 112 1 033 802 2 227 321 2 568 565 2 728 358 2 716 641 2 773 668 2 881 735 2 982 986 3 121 334 Impor Nilai (000 USD) 530 582 518 860 273 776 475 158 558 737 611 140 591 121 706 753 967 957 801 779 838 390 Ekspor Volume (ton) Nilai (000 USD) 7 596 12 013 21 987 13 812 13 474 17 109 8 279 8 789 3 606 4 490 5 808 6 569 6 018 6 211 6 080 8 406 Sumber : Deptan. 2008. . Sukabumi. walaupun produksi yang dihasilkan cenderung mengalami penurunan (Tabel 3).go. 4 Februari 2008. 1 September 2008. seperti jagung dan sayuran. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi non farm atau petani yang beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. Ekspor Kedelai Pernegara Tujuan. Ciamis. (b) Perluasan areal tanam. Team TP. 5 Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai.go.id/bdspweb.id. 2008. Indramayu. http://ditjentan. Daerah yang berpotensi untuk pengembangan kedelai di Jawa Barat adalah Garut.deptan. http://database. Kuningan dan Majalengka (Dinas Pertanian Jawa Barat. Cianjur.deptan. (c) Pengamanan produksi. 4 5 Departemen Pertanian. 2006).

40 15. Hal ini terjadi karena pada tahun 2003.19 11. 2006 (diolah) Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut.10 2003 1 434 1 563 1 020 1.14 2006 4 518 4 460 6 086 1.09 2002 5 844 5 812 6 788 1. Selain itu. tetapi pada tahun 2003 mengalami penurunan. Kabupaten Cianjur memiliki prospek pengembangan kedelai. Produksi kedelai di Kabupaten Cianjur cenderung mengalami peningkatan. Luas Panen. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten. Propinsi Jawa Barat.93 14.80 Sumber: Dinas Pertanian Jawa Barat. 2007 (diolah) . Tabel 4 Luas Tanam.60 13. produksi dan produktivitas kedelai di Kabupaten Cianjur periode tahun 2001 – 2006 cenderung berfluktuatif (Tabel 4). Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Garut Cianjur Ciamis Sukabumi Indramayu Tasikmalaya Sumedang Kuningan Majalengka Luas Tanam (Ha) 5 979 4 499 2 750 1 419 1 156 1 128 937 837 657 Luas Panen (Ha) 5 891 3 034 2 395 927 1 095 895 903 761 614 Produksi (Ton) 7 925 4 431 3 336 1 335 1 682 1 159 1 191 863 786 Produktivitas (Kw/Ha) 13.14 2004 6 926 6 617 10 125 1. Luas tanam.36 12. baik sebagai produk primer maupun sebagai produk sekunder (olahan) yang telah lama dikembangkan di Kabupaten Cianjur (seperti tauco. luas panen. tahu dan tempe).25 2005 4 591 5 016 6 710 1.45 14. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No 1 2 3 4 Keterangan Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2001 6 451 6 672 7 952 1. Luas Panen.34 12. harga gabah dan harga beras di pasar mengalami peningkatan akibatnya banyak petani yang melakukan pola tanam padi-padi-padi.4 Tabel 3 Luas Tanam.95 13.25 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.

17 218.33 261.27 persen.00 Produksi (Ton) 1 736.17 881.50 Produktivitas (Ton/Ha) 1. Penurunan ini disebabkan pada periode tanam kedelai tahun 2007 terjadi kekeringan (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.141 1.32 ton per hektar.381 1. 2007 (diolah) . sentra produksi kedelai periode tahun 2001-2006 adalah Kecamatan Ciranjang.17 349.67 1 272.67 165. Kecamatan di wilayah utara.83 103.33 1 145.50 Luas Panen (Ha) 1 237. sedangkan kontribusi dari wilayah tengah terutama Kecamatan Tanggeung dan Kadupandak tidak terlalu besar (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.23 persen dari tahun 2006.338 1.60 1 072.372 1.00 297. Luas Panen. Sentra produksi di wilayah selatan adalah Kecamatan Sindang Barang. sehingga terjadi penurunan luas areal tanam sebesar 1.157 1.00 201. 2007).173 1. Cidaun dan Leles.83 202. Demikian pula luas panen kedelai tahun 2007 adalah 1 506 ha.50 119.176 1.50 184.00 276. Sukaluyu dan Bojong Picung.83 224.67 101.97 persen dibanding tahun 2006.83 995. Sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur terdapat di beberapa kecamatan di wilayah utara dan wilayah selatan (Tabel 5). Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No Kecamatan Luas Tanam (Ha) 1 164.5 Luas tanam kedelai pada tahun 2007 adalah 4 429 ha.50 194. Tabel 5 Luas Tanam.33 178. Produksi kedelai tahun 2007 sebesar 1992 ton sehingga terjadi penurunan sebesar 67. sehingga ada penurunan luas panen sebesar 66. 2007). sedangkan produktivitas hasil tahun 2007 sebesar 1.83 1 482. namun pada tahun 2007 Kecamatan Sukaluyu produksi kedelai mengalami penurunan.180 1 2 3 4 5 6 7 8 Ciranjang Sukaluyu Bojong Picung Tanggeung Kadupandak Sindang Barang Cidaun Leles Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.

di dalam negeri harga kedelai eceran mencapai Rp 3 450/Kg dan terus naik mencapai Rp 7 500/Kg. Dampaknya produsen tahu.6 Budidaya kedelai di Kabupaten Cianjur merupakan tanaman cash crop yang umumnya diusahakan pada lahan sawah irigasi dan sebagian kecil diusahakan pada sawah tadah hujan dan lahan kering. Bagi konsumen akhir dampaknya adalah semakin mahalnya harga produl-produk olahan berbahan baku kedelai. sehingga konsumen sulit .2 Perumusan Masalah Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Kedelai impor dapat membanjiri pasar kedelai dalam negeri disebabkan hal-hal sebagai berikut: (a) adanya pasar yang besar sampai ke tingkat desa. 1. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai melakukan pengurangan jumlah produksi dan ukuran produknya karena tingginya biaya produksi. (c) adanya pihak atau institusi atau organisasi yang menangani dengan baik karena mendapat insentif yang besar. sedangkan bagi petani hal ini menjadi pendorong untuk kembali menanam kedelai. Awal Januari 2007. yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. dan (d) kedelai dari petani sampai ke pasar atau konsumen belum tertangani dengan baik tetapi berjalan sendiri secara alami. (b) peraturan yang memperbolehkan hal tersebut. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk.

. Pada tahun 2006 harga kedelai dalam negeri mencapai Rp 4 977. harga kedelai impor sebesar Rp 544 per kilogram sedangkan harga kedelai dalam negeri lebih mahal dari kedelai impor yaitu sebesar Rp 847 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 303 per kilogram.go. Perbedaaan harga tersebut terus meningkat. iklim yang cocok.5 per kilogram dan kedelai dalam negeri menjadi Rp 2 844 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 1 016. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas. Harga kedelai impor jauh lebih murah dari produksi dalam negeri karena tidak ada tarif impor untuk kedelai.deptan.litbang. keberlanjutan pasokan kedelai impor lebih terjamin dibanding kedelai nasional. pada tahun 2000 harga kedelai impor naik menjadi Rp 1 827. Kondisi ini menyebabkan kedelai dalam negeri menjadi tertekan dan terdesak oleh kedelai impor. 2002. Berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa harga kedelai lokal dari tahun ke tahun lebih mahal dari kedelai impor.5 per kilogram. 2008. Kedelai.deptan. serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri.7 Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik. dan belum diaturnya tataniaga kedelai sehingga petani dalam negeri sulit bersaing dengan petani luar negeri (Departemen Pertanian. 4 Februari 2008. 2004). http://www.85 per kilogram. Faktor utama turunnya produksi kedelai nasional adalah tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai. 6 7 Team TP.go. Departemen Pertanian.id. teknologi yang telah dihasilkan. 31 Januari 2008.7 mencarinya dan harganya menjadi tinggi. Tahun 1992.id. http://ditjentan. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai.6 Hal tersebut yang menyebabkan tataniaga kedelai di tingkat petani di Indonesia belum tertangani dengan baik.

Di Kabupaten Cianjur. petani dalam memasarkan produknya mempunyai kebebasan untuk memilih saluran tataniaga yang dapat memberikan keuntungan dari hasil usahataninya. kebijakan tataniaga kedelai yang bebas dilakukan oleh pengusaha importir dan penetapan tarif impor tahun 1998 jauh di bawah bound tariff menyebabkan masuknya kedelai impor dengan harga murah. Selain itu. tetapi harga jual yang diterima petani masih rendah. kondisi pada saat itu juga didukung oleh analisa usahatani kedelai yang cukup menguntungkan. terjadi penurunan luas tanam di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sukaluyu mengalami penurunan produksi sangat tajam. dilihat dari banyaknya konsumsi kedelai di Indonesia. Sukaluyu dan Bojong Picung. seperti padi. Hal ini terlihat dari perkembangan luas areal tanam kedelai di sebagian daerah. Namun. Hal ini disebabkan oleh petani yang semula menanam kedelai beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. antara lain Ciranjang. Hal ini disebabkan oleh penetapan kebijakan harga sejak tahun 1992 ditiadakan. Namun pada tahun 2007.8 Selain itu.17 hektar pada tahun 2006. Pada umumnya petani langsung menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul atau . Di Kabupaten Cianjur terdapat beberapa daerah yang merupakan sentra produksi kedelai. jagung dan sayursayuran. Akibatnya petani dalam negeri sulit bersaing dengan kedelai impor. Perkembangan produksi kedelai dalam negeri sampai tahun 1992 sangat baik yaitu mencapai 1. terlihat dari penurunan luas tanam menjadi 10 hektar dari 995. sejak tahun 1993 produksi dalam negeri terus mengalami penurunan terlihat dari penurunan luas areal tanam.8 juta ton. pasar komoditas kedelai masih terbuka lebar.

antara. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah : 1. 2008.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan? 2. .co.9 tengkulak secara perorangan.id. 15 Januari 2008. untuk mengetahui tingkat pendapatan petani dan posisi tawar petani pada tataniaga kedelai di Kabupaten Cianjur maka perlu dilakukan penelitian mengenai usahatani dan tataniaga kedelai. akibatnya tingkat pendapatan petani menjadi rendah. http://www.8 Oleh sebab itu. masih sangat terbatas petani menjual secara berkelompok. Hal ini karena petani membutuhkan uang saat panen sehingga harga jual sangat ditentukan oleh tengkulak. Bagaimana tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Bagaimana saluran tataniaga dan struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan. Lembaga tataniaga cenderung menuntut biaya tataniaga dan keuntungan besar dari jasa tataniaga yang dilakukan. Kabupaten Cianjur? 1. Lemahnya posisi tawar petani menyebabkan petani tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan harga berdasarkan biaya produksi yang telah dikeluarkan. 8 Antara. Produksi Kedelai Mesti Ditingkatkan. walaupun terjadi tawar-menawar antara petani dan pedagang pengumpul keputusan akhirnya tetap ditentukan oleh pedagang pengumpul. Analisis tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang.

Kabupaten Cianjur. Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Pembahasan tataniaga untuk analisis kualitatif dilakukan pada semua saluran tataniaga yang terlibat. diantaranya Dinas Pertanian. penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam upaya peningkatan hasil dan perbaikan kinerja tataniaga kedelai. struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. Jawa Barat ini dikhususkan membahas mengenai komoditi kedelai yang dipanen polong tua.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian mengenai tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Mengkaji saluran tataniaga.5 Ruang Lingkup Penelitian Batasan dari penelitian yang berjudul Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. 1. . sedangkan untuk analisis data kuantitatif hanya menggunakan data dari saluran tataniaga dengan jalur tataniaga dari Kecamatan Ciranjang ke Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. Dampaknya dapat meningkatkan pendapatan petani kedelai di lokasi penelitian. 1.10 2. Kabupaten Cianjur.

11

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keragaan Kedelai Kedelai (Glicine max) adalah tanaman semusim yang termasuk family Leguminosae diduga berasal dari Cina dan dikembangkan ke berbagai negara seperti Amerika, Amerika Latin dan Asia. Kedelai dapat dibudidayakan di daerah subtropis dan tropis dengan teknis budidaya yang sederhana. Di Indonesia kedelai pertama kali ditanam di pulau Jawa dan Bali pada tahun 1750. Daerah sentra tanaman kedelai mula-mula terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali, kemudian meluas hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Kedelai mempunyai kegunaan yang luas dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akarakarnya dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium sp., sehingga unsur Nitrogen bagi tanaman tersedia dalam tanah. Kedelai di Indonesia bernilai tinggi karena tiga alasan: (1) produksinya di dalam negeri dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, (2) merupakan bahan pangan berkadar protein yang dapat memperbaiki gizi masyarakat, dan (3) merupakan tanaman komersil bagi petani lahan kering. Di Indonesia kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl). Varietas yang ditanam awalnya berasal dari luar negeri (introduksi), diantaranya dari Jepang, Taiwan, Kolumbia, Amerika Serikat dan Filipina. Di sentra pertanaman kedelai umumnya kondisi iklim yang cocok adalah suhu antara 25–27 0C.

12

Tanaman kedelai mempunyai daya adaptasi yang luas terhadap berbagai jenis tanah. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian, maka tanaman kedelai cocok ditanam pada jenis tanah Aluvial, Regosol, Grumosol, Latosol dan Andosol. Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lahan pertanaman kedelai adalah tataair (drainase) dan tataudara (aerase) tanah yang baik, bebas dari kandungan atau wabah Nematoda, dan keasaman (pH) tanah (Rukmana dan Yuyun, 2006).

2.2 Kebijakan Pengembangan Kedelai Peranan pemerintah sebagai fasilitator, dinamisator dan penciptaan lingkungan yang kondusif dalam pengembangan suatu komoditas secara teknis, sosial dan ekonomis adalah sangat penting dan strategis. Cakupan kebijaksanaan dalam program aksi pengembangan adalah sangat kompleks yang meliputi pengadaan dan distribusi sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan kredit usaha tani), penyuluhan dan tataniaga hasil melalui sistem kelembagaan dan pembinaan dari tigkat pusat sampai ke tingkat desa. Kebijakan dalam bidang penelitian, peningkatan produksi, dan perdagangan (harga) adalah saling berhubungan satu dengan yang lain. Proteksi harga akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani bila didukung oleh potensi teknologi dan sistem tataniaga yang efisien. Kebijakan diversifikasi konsumsi melalui penetapan pola pangan harapan (PPH) dapat dikatakan sebagai acuan penting dalam penetapan target peningkatan produksi setiap komoditas pangan termasuk kedelai. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani (Rachman et al. 1996).

13

Kebijakan Proteksi dan Harga Dasar. Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah selama ini dengan sasaran utama mendorong adopsi teknologi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani adalah kebijakan proteksi harga dan penetapan harga dasar. Kebijakan proteksi bertujuan untuk mengendalikan harga kedelai dalam negeri agar tetap lebih tinggi dan terisolasi dari fluktuasi harga kedelai di pasar dunia. Hal ini dilakukan melalui pengaturan volume impor dan penetapan harga kedelai ekspor-impor serta penyalurannya kepada industri pengolah di dalam negeri. Kebijakan proteksi harga ini cukup berhasil mencapai sasarannya dan berdampak positif dalam mendorong produksi kedelai domestik. Pada periode 1985 – 1994 produsen kedelai mendapatkan rata-rata proteksi harga sebesar 136.56 persen dengan laju peningkatan proteksi 4.80 persen pertahun (Rachman, et al. 1996). Di satu sisi penetapan harga dasar secara umum belum mencapai sasaran yang diharapkan. Pada periode 1984 – 1991 harga kedelai di tingkat petani sekitar 76.27 persen lebih tinggi dari penetapan harga dasar. Hal ini menjelaskan bahwa penetapan harga dasar maupun harga pembelian pemerintah untuk kedelai adalah sangat rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku, sehingga kebijakan harga dasar menjadi tidak efektif. Kemudian sejak tahun 1992,

pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar lagi. Perkembangan produksi kedelai tahun 1992 merupakan puncak produksi kedelai yaitu mencapai 1.8 juta ton. Setelah pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar, maka tahun 1993 produksi kedelai terus menurun sampai tahun 2003 menjadi 671 600 ton. Hal ini disebabkan semangat petani untuk membudidayakan kedelai turun sebagai akibat dari masuknya kedelai impor

(1992). Pada dasawarsa 1980-an perbandingan antara impor dan produksi kedelai dalam negeri mencapai rata-rata 45 persen pertahun yang merupakan angka tertinggi dibanding dengan dasawarsa 1970-an dan 1990-an. Upaya pemerintah memenuhi kebutuhan bahan baku industri merupakan awal munculnya kebijakan impor kedelai di Indonesia.deptan. et al. Puspodewi (2004). Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri maka Pemerintah menurunkan tarif impor sampai 0 persen.go. termasuk kedelai (Rachman.14 dengan harga lebih rendah dari kedelai dalam negeri. Elizabeth (2007) dan Nuryanti dan Kustiari (2007). et al.3 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai tanaman kedelai telah dilakukan oleh Nurmanaf (1987). 808 353 ton (2005) dan 746 611 (2006). Tahun 2007 produksi turun kembali 20 persen dari tahun 2006 menjadi 608 000 ton. http://ditjentan. 9 Team TP. Saptana (1993).id. namun sangat lambat yaitu 723 483 ton (2004). Rusastra. Tahun 2004 sampai 2006 produksi mengalami peningkatan. Namun dengan pertimbangan antara lain daya beli masyarakat Indonesia.9 Kebijakan Tarif dan Impor Kedelai. 4 Februari 2008 . maka tahun 1998 Pemerintah Indonesia menerapkan tarif impor jauh di bawah bound tariff (0 – 5 persen). Sesuai aturan WTO dimana setiap negara diperkenankan menerapkan applied tariff maksimal sama dengan bound tariff dalam schedule yang didaftarkan. 1996). 2. Namun dengan kenaikan harga kedelai di pasar dunia akhir tahun 2007 mengakibatkan harga kedelai impor tinggi. 2008.

baik biaya angkutan dari satuan pemukiman transmigrasi ke pasar. areal panen dan produktivitas kedelai dari tahun 1984-1990 masingmasing sebesar 2. Tujuan penelitian ini mengungkap keragaan dan permasalahan aspek produksi.7. Produksi kedelai di Jawa Timur setiap tahun mengalami peningkatan. antar pasar maupun biaya angkut antar daerah. Pamenang I sebesar Rp 200/kg dan Kuamang Kuning sebesar Rp 225/kg. meliputi jalur tataniaga. 69. menunjukkan usahatani kedelai di lahan sawah lebih menguntungkan dibandingkan di lahan kering (Rp 366 900 vs Rp 298 400 per hektar).15 Penelitian terhadap jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi yang dilakukan Nurmanaf (1987) bertujuan menganalisis sistem tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi. Harga yang diterima petani di tiga satuan pemukiman masing-masing sebesar 60.5 persen. et al. 3.2 dan 62. Hal ini terlihat dari tingginya margin tataniaga di tiga satuan pemukiman transmigrasi. rantai tataniaga dan tingkat harga.1 dan 5.8. usahatani dan tataniaga kedelai di Jawa Timur sebagai daerah sentra produksi secara nasional. Dilihat dari efisiensi pemanfaatan modal tidak terdapat . biaya angkut. margin tataniaga dan bagian harga yang diterima petani. Rusastra. yaitu Singkut III sebesar Rp 275/kg.9 persen per tahun. Nurmanaf (1987) menyatakan bahwa tataniaga kedelai di satuan pemukiman transmigrasi Jambi belum efisien. Tingginya margin tataniaga kedelai terutama disebabkan tingginya biaya angkutan hasil. Tingkat pendapatan usahatani kedelai dengan mempertimbangkan basis agroekosistem pengembangan tahun 1990. hal ini terlihat dari laju pertumbuhan produksi. (1992) melakukan penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur.

Hal ini terlihat dari pangsa harga petani mencapai 89. Permasalahan dalam tataniaga adalah rendahnya kualitas kedelai di tingkat pedagang dan konsumen. keragaan dan permasalahan aspek produksi dan tataniaga kedelai di Wonogiri.4 persen dengan margin tataniaga 10. R/C kedelai di lahan sawah 1. (3) Masalah birokrasi dan keterlambatan penyediaan dana. Penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) dilakukan oleh Saptana (1993). Selain itu.43 persen (1991). Beberapa indikator makro tataniaga seperti pangsa harga yang diterima petani dan kestabilan harga bulanan di tingkat produsen dan konsumen menunjukkan mantapnya sistem tataniaga kedelai di Jawa Timur. serta (4) Keterbatasan tenaga lapang.6 persen. Bertujuan untuk mengungkap seberapa jauh dampak penerapan teknologi baru terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani.4 dan di lahan kering sedikit lebih baik yaitu 1. penerapan teknologi baru juga bisa diterima dari segi efisiensi pemanfaatan modal dengan . Permasalahan pada sistem kerjasama yang perlu diperhatikan adalah (1) Penyampaian informasi yang sempurna kepada petani. Dampak penerapan teknologi baru telah mampu meningkatkan pendapatan sebesar 76. (2) Peningkatan sistem pembinaan dikaitkan dengan sistem pengadaan dan penyaluran saprodi.43. et al menunjukkan bahwa hasil usahatani kedelai dengan pola kerjasama dengan pihak swasta lebih tinggi yaitu 17.9 persen dibandingkan dengan non kerjasama.6 persen dibandingkan sebelum kerjasama dan 15. Hasil penelitian yang dilakukan Rusastra.16 perbedaan yang berarti.6 persen (1990) dan 174.

secara ekonomi juga menguntungkan sebesar Rp 281. Selain itu.85 sedangkan untuk pola petani 1.66 per kilogram dan nilai DRC 0. Puspodewi (2004) meneliti analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. Efisiensi tataniaga kedelai di Wonogiri. Margin tataniaga yang relatif rendah ini dikarenakan fungsi tataniaga yang dilakukan sangat sederhana. dan 1. Jawa Tengah (kasus desa Bade) dengan analisisn PAM. Dampak kebijakan input dan output terhadap petani produsen kedelai sangat intensif.80 (1990). yaitu pengumpulan. pengangkutan dan biaya penyusutan. permasalahan utama tataniaga adalah kualitas kedelai. Nilai DRC yang lebih besar dari nilai PCR terjadi karena adanya intervensi pemerintah. karena nilai tambah keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi dari seharusnya.4 persen.17 nilai R/C ratio untuk pola rekomendasi 1. Menurut Saptana. masalah kualitas ini menjadi lebih serius karena ada faktor kesengajaan dari pedagang pengumpul dan PB kecamatan yang melakukan pencampuran tanah yang diwarnai mirip kedelai.38 untuk pola rekomendasi serta 1. Pengusahaan kedelai di desa Bade menguntungkan dan efisien secara finansial terlihat dari keuntungan sebesar Rp 361. sehingga pengusahaan kedelai layak untuk dikembangkan. Dilihat dari keuntungan privat dan sosial yang diperoleh maka Desa Bade Kabupaten Boyolali mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif. Jawa Tengah terlihat dari pangsa harga petani sebesar 89.6 persen dengan margin tataniaga 10.04 per kilogram dan nilai PCR kurang dari satu.88. .25 untuk pola petani (1991).

18 Penelitian Nuryanti dan Kustiari (2007) berjudul Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal. masih ada peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan menjamin keuntungan usahatani 25 persen dengan menetapkan tarif impor baru . Berdasarkan perhitungan besaran keuntungan usahatani optimal 25 persen. MFN) harus dinaikkan menjadi 22. petani kedelai nasional harus mencapai harga jual Rp 4 479/kg. Artinya.5/kg (specific tariff). untuk memperoleh keuntungan usahatani 25 persen tarif bea masuk yang diterapkan (Most Favoured Nation. penawaran dan impor. Kondisi ini sangat sulit. Satu-satunya solusi untuk memberi insentif produksi kedelai domestik adalah jaminan harga jual kedelai dengan tingkat keuntungan pasti. Analisa tingkat makro menggunakan “partial welfare analysis” untuk memahami dampak penerapan tarif optimal terhadap harga komoditas di pasar domestik. Berdasarkan asumsi harga pokok produksi Rp 3 359/kg. karena harga kedelai domestik menjadi tidak dapat bersaing dengan kedelai impor. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usahatani kedelai pada tingkat tarif saat ini. Analisa mikro dengan menggunakan data I-O diturunkan dari data struktur ongkos rata-rata Indonesia 2006.3 persen (ad valorem) atau Rp 625. tingkat tarif optimal dengan tingkat keuntungan usahatani 25 persen. serta dampaknya terhadap kesejahteraaan produsen. konsumen dan penerimaan pemerintah. permintaan. Analisa dalam penelitian ini dilakukan pada tingkat usahatani (mikro) dan makro. produksi. dan dampak keseimbangan pasar domestik atas kenaikan tarif impor kedelai optimal. Tarif yang diikat untuk kedelai adalah 27 persen. tarif bea masuk kedelai saat ini 5 persen.

kelembagaan penyedia input. perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan. termasuk produsen lokal. Elizabeth (2007) menyatakan bahwa beberapa kelembagaan pendukung keberhasilan agribisnis kedelai. dan kelembagaan permodalan. dan (3) Program memperkuat prasarana kelembagaan dan ketrampilan mengelola kebutuhan perdesaan. kecilnya akses terhadap kelembagaan modern. meliputi: (1) Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifitas lahan. gizi dan kesehatan.4/kg) masih lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi kedelai lokal (Rp 3 359/kg). . dan melemahnya kelembagaan lokal karena tekanan dari luar. seperti: kelompok tani.19 sebesar 22. yang tercermin pada masih rendah interaksi antar kelembagaan. Namun tidak semua sistem dan saluran tataniaga komoditas pangan di pasar domestik bersaing sempurna. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan perspektif penguatan dan pemberdayaan kelembagaan yang terkait dengan petani di perdesaan dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis kedelai. Lemahnya kinerja ekonomi perdesaan terutama disebabkan rendahnya kapasitas kelembagaannya.3 persen. dan sebagainya). kelembagaan output. Harga kedelai impor saat ini (Rp 2 806. lembaga tenaga kerja. Penelitian tentang Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai oleh Elizabeth (2007). Fluktuasi harga produk pangan dan sarana produksi usahatani di pasar global akan ditransmisikan ke semua tingkat harga. (2) Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan.

Jawa Barat Metode Marjin tataniaga Farmer s Share Efisiensi usahatani Marjin tataniaga R/C rasio Marjin tataniaga PAM Elizabeth 2007 Nuryanti Kustiari Meryani dan 2007 2008 Mikro : I – O Makro : Partial Welfare Analysis Pendapatan usahatani Marjin tataniaga. Kabupaten Cianjur. serta intervensi dari pemerintah. Permasalahan di tataniaga kedelai meliputi kualitas kedelai. et al. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan tingkat pendapatan usahatani lebih menguntungkan bila diusahakan di lahan sawah. Tabel 6 Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu Nama Nurmanaf Rusastra. Jawa Tengah (kasus desa Bade) Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Tabel 6 menginformasikan perbedaaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. dengan tarif bea masuk kedelai 5 persen harga kedelai domestik masih lebih tinggi dari harga kedelai impor. Saptana Puspodewi Tahun 1987 1992 1993 2004 Judul Penelitian Jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. pola kerjasama dengan pihak swasta. dan adanya penerapan teknologi baru. farmer s share. B/C rasio . merupakan bagian penting pembangunan pertanian dan perdesaan. Pencapaian keberhasilan agribisnis kedelai diperlukan suatu kelembagaan pendukung dari tingkat desa sampai di luar desa.20 Pengembangan kelembagaan untuk menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA (marginal sustainability yield) dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan. margin tataniaga kedelai yang tinggi disebabkan biaya angkut.

Biaya tunai merupakan biaya . sedangkan pendapatan kotor tidak tunai merupakan pendapatan yang bukan dalam bentuk uang. tenaga kerja. teknologi. pupuk. Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani) dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output). Struktur Biaya Usahatani. efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatannya meningkat.1 Usahatani Rahim dan Diah (2007) menyatakan bahwa usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki sebaik-baiknya.1. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. 3.2 Pendapatan Usahatani Struktur Penerimaan Usahatani. seperti hasil panen kedelai yang dikonsumsi dan digunakan untuk bibit. Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor tidak tunai. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa penerimaan usahatani adalah ukuran hasil total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani.21 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani kedelai. benih dan pestisida) dengan efektif. modal.1.

alat pertanian dan iuran irigasi. Biaya tetap antara lain sewa tanah.22 yang dikeluarkan dalam bentuk uang oleh petani sendiri. penyusutan alat-alat petanian dan biaya imbangan sewa lahan. Dapat disimpulkan biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang akan dicapai. tetapi diperhitungkan dalah perhitungan usaha tani. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dibebankan kepada usahatani untuk penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. pajak. untuk mengukur imbalan yang diperoleh petani akibat penggunaan faktor-faktor produksi. Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang digunakan. Artinya besarnya biaya tetap tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang diperoleh. Contohnya biaya untuk sarana produksi. Biaya tidak tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Jika menginginkan produksi yang tinggi maka faktor-faktor produksi (tenaga kerja. dan sebagainya) perlu ditambah. pupuk. dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua yaitu: (a) Biaya tetap (fixed cost) dan (b) Biaya tidak tetap (variable cost). Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai. Untuk menilai . Pendapatan Usahatani. Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya. Biaya ini digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika sewa lahan dan nilai tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan.

Tujuan dari tataniaga adalah mengidentifikasi. mendefinisikan tataniaga sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang dibutuhkan melalui pertukaran dengan pihak lain. (5) pengolahan. 3. Ukuran ini diperoleh dari hasil pengurangan antara pendapatan bersih dengan bunga yang dibayarkan kepada modal pinjaman. (2) penjualan. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa fungsi dari tataniaga yaitu: (1) pembelian.1. . (3) penyimpanan. Boyd. (7) keuangan. jarak dan bentuk.3 Tataniaga Tataniaga merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. (8) pengambilan risiko.23 penampilan usahatani kecil adalah dengan penghasilan bersih usahatani. Aktivitas pasar dan tataniaga diklasifikasikan menurut waktu. dan (9) pengetahuan pasar. serta keuntungan bagi produsen. tetapi bila diperoleh nilai kurang dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan belum efisien. (6) standarisasi. Apabila diperoleh nilai lebih dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan efisien. mengkomunikasikan. Analisis efisiensi R/C ratio atau rasio penerimaan atas biaya dihitung dengan cara membandingkan penerimaan total dengan biaya total. Secara keseluruhan tataniaga merupakan rangkaian kegiatan mengalirkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Walker and Larreche (2000). dan menegosiasikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen. (4) transportasi. R/C Ratio . biaya yang diperhitungkan dan penyusutan.

(2) Saluran distribusi digunakan untuk manyampaikan produk atau jasa dari produsen kepada konsumen. (3) Skala produksi dan (4) Keuangan produsen (Hanafinah dan Saefuddin. (2) Ketahanan produk. waktu dan pemilikan. Panjang pendeknya saluran tataniaga dipengaruhi beberapa faktor yaitu: (1) Jarak antara produsen ke konsumen. grosir.4 Saluran Tataniaga Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga sehingga barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. 3. Lembaga yang terlibat dalam saluran ini diantaranya distributor. (3) Saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan calon konsumen. Saluran ini mencakup pergudangan.1. sarana transportasi. . Ada tiga jenis saluran tataniaga yang digunakan meliputi: (1) saluran komunikasi yang digunakan untuk memberi dan menerima informasi dari konsumen sasaran. Kotler (2005) menyatakan bahwa saluran tataniaga didefinisikan sebagai sarana untuk mencapai pasar sasaran.24 Hanafiah dan Saefuddin (1983) menyatakan bahwa tataniaga adalah kegiatan yang berkaitan dengan penciptaan atau penambahan kegunaan dari barang dan jasa maka tataniaga termasuk tindakan atau usaha yang produktif. pengecer dan agen. sehingga tataniaga dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan barang dan jasa dari produsen sampai dengan konsumen. Kegunaan dalam kegiatan tataniaga adalah kegunaan tempat. lembaga keuangan dan perusahaan asuransi yang memberikan kemudahan dalam transaksi. Saluran tataniaga terdiri dari beberapa pedagang perantara. 1983).

25

Saluran tataniaga atau saluran distribusi merupakan lembaga atau perantara berganda yang berfungsi mendistribusikan barang untuk mendukung transaksi dengan konsumen potensial. Setiap lembaga berspesialisasi dalam satu fungsi dan kegiatan penting pendistribusian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi transaksional dan efisiensi fungsional. Saluran tataniaga terdiri dari empat komponen utama yaitu: produk, pelaku pasar, aktivitas dan input (Boyd, Walker and Larreche, 2000). Bentuk distribusi ada dua yaitu distribusi langsung dan distribusi tidak langsung. Distribusi langsung yaitu produsen melakukan penjualan langsung

produknya kepada konsumen, sedangkan distribusi tidak langsung yaitu produsen melakukan penjualan barang kepada konsumen melalui perantara seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang grosir dan pedagang pengecer (Boyd, Walker and Larreche, 2000). 3.1.5 Struktur Pasar Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa ada empat karakteristik yang menentukan struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan, (2) sifat produk, (3) kemudahan untuk keluar masuk pasar dan (4) tingkat informasi harga, biaya serta kondisi pasar yang dihadapi pelaku tataniaga. Struktur pasar mengacu pada semua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja perusahaan di suatu pasar, seperti jumlah perusahaan dan jenis produk (Lipsey, et al. 1997). Karakteristik struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 6. Kotler (2005) menyatakan bahwa struktur pasar berdasarkan sifat dan bentuknya dibedakan menjadi dua yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar bersaing tidak sempurna. Pasar termasuk ke dalam pasar bersaing sempurna

26

dengan ciri-ciri banyaknya jumlah penjual dan pembeli, barang yang ditawarkan bersifat homogen, penjual dan pembeli berperan sebagai price taker, dan bebas keluar masuk pasar. Pasar bersaing tidak sempurna dibagi menjadi pasar

monopolistik, pasar ologopolistik dan monopoli. Tabel 7 Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli No Karakteristik Jumlah Jumlah Sifat Penjual Pembeli Produk Banyak Banyak Homogen Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Satu Pasar Banyak Sedikit Satu Struktur Pasar Sudut Penjual Sudut Pembeli Persaingan Sempurna Oligopsoni Persaingan Monopolistik Oligopsoni Diferensiasi Monopsoni banyak penjual yang

1 2 3 4 5

Persaingan Sempurna Diferensiasi Persaingan Monopolistik Homogen Oligopoli

Diferensiasi Oligopoli Diferensiasi Unik Monopoli yaitu pasar dimana

Sumber: Dahl and Hammond (1977), Lipsey, et al. (1997)

monopolistik

mendiferensiasikan produk baik secara keseluruhan atau sebagian, sehingga produk dapat dibedakan berdasarkan kualitas, gaya dan service yang diberikan penjual. Akibatnya banyak penjual dan pembeli yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga bukan pada satu tingkat harga pasar. Penjual melakukan penawaran yang berbeda untuk segmen pembeli yang berbeda, sehingga pembeli bersedia membayar lebih untuk produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Pasar oligopolistik yaitu pasar yang terdiri dari beberapa penjual yang menghasilkan produk mulai dari produk yang terdiferensiasi hinggga produk homogen. Penjual sangat peka terhadap strategi tataniaga dan penetapan harga pesaing lainnya. Jumlah penjual yang sedikit disebabkan hambatan untuk masuk pasar tinggi, strategi penetapan harga yang tepat dan memusatkan perhatian pada

27

kepuasan pelanggan untuk menarik pelanggan. Pasar monopoli murni yaitu pasar yang hanya ada satu penjual yang menguasai pasar suatu produk tertentu. Penjual berperan sebagai price maker, hambatan masuk dan keluar pasar tinggi karena alasan teknis atau alasan undang-undang untuk monopoli yang teregulasi. 3.1.6 Efisiensi Tataniaga Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tataniaga adalah tingkat efisiensi dari tataniaga, karena tataniaga yang efisien dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat dalam tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa terdapat dua ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi harga (ekonomi). Efisiensi operasional menggambarkan keadaan dimana biaya input dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan. Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi operasional pada proses tataniaga produk yaitu dilihat dari keragaaan pasar (analisis margin tataniaga, farmer s share dan rasio keuntungan terhadap biaya). Efisiensi harga tercermin dari tiga kondisi yaitu (1) ada alternatif pilihan bagi konsumen, (2) perbedaan harga yang mencerminkan adanya biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat perlakuan terhadap komoditi dalam sistem tataniaga, dan (3) terjadi aktivitas pembelian dan penjualan yang cocok antara petani, lembaga tataniaga dan konsumen yang berdampak pada kepuasan pada setiap pelaku tataniaga. Tingkat efisiensi tataniaga dapat dilihat dengan

mengunakan dua pendekatan sekaligus atau salah satu dari pendekatan tersebut. Marjin tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga tingkat

Nilai marjin tataniaga adalah perbedaan harga di kedua tingkat sistim tataniaga dikalikan dengan kuantitas produk yang dipasarkan. dan Pf merupakan harga petani (Gambar 1). Cara perhitungan ini sama dengan konsep nilai tambah (value added). Price VMM (Pr – Pf) Qrf Sr Sf Pr Marjin Tataniaga (Pr – Pf) Pf Dr Df Qr. Dr merupakan demand turunan. Df merupakan demand dasar. Marjin tataniaga hanya merepresentasikan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen . Perbedaan nilai ini juga direpresentasikan sebagai jarak vertikal dan jarak antara kurva permintaan atau antara kurva penawaran (Gambar 1). Sr menunjukkan supply turunan. Oleh karena itu nilai marjin tataniaga dibedakan menjadi dua yaitu marketing costs dan marketing charges. Sumber: Dahl and Hammond (1977) Pengertian ekonomi nilai marjin tataniaga adalah harga dari sekumpulan jasa tataniaga yang merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk–produk tersebut. Pr merupakan harga retail. Sf menunjukkan supply dasar.28 pengecer (Pr). f Quantity Gambar 1 Marjin Tataniaga.

yang akhirnya akan mempengaruhi pembentukan harga jual produk itu sendiri antara petani dan pedagang (Elizabeth. Marjin tataniaga merupakan penjumlahan antara biaya tataniaga dan marjin keuntungan (Dahl and Hammond. penyimpanan. Secara teknis sistem tataniaga akan semakin efisien jika rasio keuntungan terhadap biaya merata di setiap lembaga tataniaga. dan lain-lain) dan keuntungan. Marjin tataniaga terjadi karena adanya faktor-faktor biaya tataniaga (pengumpulan. tetapi tidak menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. Rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga merupakan perbandingan antara keuntungan yang diambil lembaga tataniaga terhadap biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk tersebut. pengolahan. sehingga jumlah produk di tingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengecer. Rasio B/C. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai . Keuntungan tataniaga adalah pengurangan marjin tataniaga dengan biaya-biaya tataniaga.2 Kerangka Pemikiran Operasional Pada awal tahun 2007. 1977). Azzaino (1982) menyatakan bagian yang diterima petani (farmer s share) merupakan harga yang diterima petani sebagai imbalan kegiatan usahataninya dalam menghasilkan kondisi tertentu. Akibatnya produsen tahu. di dalam negeri harga kedelai impor meningkat sangat tajam karena harga kedelai di pasar dunia meningkat. Farmer s share.29 dengan harga yang diterima petani. pengangkutan. 2007). 3. Farmer s share juga menyatakan perbandingan harga yang diterima oleh petani dengan harga di tingkat lembaga pemasaran yang dinyatakan dalam persentase.

Pendapatan usahatani merupakan hasil akhir yang akan diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya.30 mengalami penurunan produksi. 1983). sehingga harus efisien dalam menggunakan sumberdaya. Selain itu R/C ratio digunakan untuk melihat apakah usahatani yang dilakukan menguntungkan secara ekonomi atau tidak bagi petani. Efisiensi usahatani kedelai dapat dilihat dari hasil analisis R/C ratio yang menunjukkan berapa penerimaan yang diperoleh petani dari setiap input yang dikeluarkan. sehingga jumlah pelaku pasar yang terlibat dalam proses tataniaga akan menentukan panjang pendeknya saluran tataniaga. pedagang besar. karena gairah petani untuk menanam kedelai cenderung menurun. Tataniaga komoditi pertanian adalah kegiatan atau proses pengaliran komoditas pertanian dari produsen sampai ke konsumen atau pedagang perantara (tengkulak. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. sehingga konsumen akan merasa puas (Hanafiah dan Saefuddin. tempat dan kepemilikan. Fungsi tataniaga dilakukan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai guna waktu. dan pengecer). Sementara konsumsi kedelai semakin meningkat sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk. Harga kedelai impor yang tinggi memberikan peluang bagi petani dalam negeri untuk meningkatkan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia. Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri cenderung mengalami penurunan. Semua fungsi tataniaga dilakukan oleh lembaga atau pelaku pasar yang terlibat. Fungsi-fungsi tataniaga terdiri dari fungsi pertukaran. Semakin besar nilai R/C ratio maka usahatani yang dilakukan akan semakin baik. bentuk. . pengumpul.

meskipun saluran tataniaga yang pendek lebih efektif dalam menyampaikan produk hingga diterima oleh konsumen. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. Analisis kuantitatif untuk mengetahui bagaimana keragaan usahatani dan tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang jika dilihat dari analisis pendapatan usahatani. Perilaku pasar yang dibentuk tersebut dilihat dari dua sisi yaitu sisi penjual dan sisi pembeli. apakah sudah efisien secara operasional. Hasil dari analisis tersebut akan dibuat perumusan langkah-langkah perbaikan yang akan diberikan atau diinformasikan kepada petani dan para pelaku tataniaga. Alur pemikiran tersebut dapat digambarkan seperti diagram di bawah ini: .31 Sementara untuk manganalisis struktur pasar kedelai dilakukan berdasarkan pada empat karakteristik struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan. R/C ratio. Efisiensi tataniaga tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya saluran tataniaga. (3) mudah atau sukar untuk keluarmasuk pasar. (2) keadaan atau kondisi produk. Analisis struktur pasar ini dilakukan untuk mengetahui pasar kedelai yang terbentuk sesuai dengan karakteristiknya. B/C ratio dan farmer s share. seperti biaya. Tataniaga akan efisien bila semua pelaku pasar atau lembaga yang terlibat merasa puas dengan apa yang diperolehnya. margin tataniaga.

Pedagang Besar 3. Rasio R/C 1. 5. 4.Konsumsi rata-rata 2.7 juta ton per tahun .Produksi kedelai dalam negeri rata-rata 0. 2.32 . Pendapatan Usahatani 2. Pedagang Pengumpul 2. Supplier 4.Harga kedelai impor tinggi . 3. . Analisis Tataniaga Saluran Tataniaga Sruktur Pasar Margin Tataniaga Farmer s Share Rasio B/C Efisiensi Tataniaga Rekomendasi Gambar 2 Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai.7 juta ton per tahun Supply Respon Petani Kedelai Analisis Usahatani Lembaga Tataniaga: 1. Pedagang Pengecer Analisis Kuantitatif: 1.

1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Ciranjang.33 IV METODE PENELITIAN 4. luas panen dan produksi. Data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Kecamatan Ciranjang terbagi menjadi 12 desa dan terdiri dari 80 kelompok tani dengan rata- . pedagang pengumpul. karena Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Barat. Kabupaten Cianjur.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber. pedagang besar dan pedagang pengecer. Kecamatan Ciranjang sendiri merupakan salah satu sentra produksi di Kabupaten Cianjur.3 Metode Penarikan Contoh Metode penarikan contoh yang digunakan pada penelitian ini adalah random sampling yaitu pengambilan contoh dilakukan secara acak. 4. 4. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2008. perkembangan harga dan kebijakan pengembangan kedelai. ekspor-impor kedelai. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Informasi yang dikumpulkan antara lain perkembangan luas tanam. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Lembaga Penelitian dan pihak yang terkait lainnya. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur kepada petani kedelai.

dan pedagang pengecer tiga orang yang berada di Kabupaten Cianjur dan Bandung. Lipsey.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Data dan informasi yang telah dikumpulkan diolah dengan bantuan kalkulator. gambar dan tabulasi untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang ada dalam melakukan analisis data. et al. yaitu usahatani kedelai polong tua dan usahatani kedelai polong muda. Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara . Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk.34 rata satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang petani. 4. Pedagang pengumpul tiga orang berdasarkan informasi pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang. (1997) menyatakan bahwa pendapatan usahatani dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan. 4. pedagang propinsi satu orang berdasarkan informasi dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. Analisis usahatani digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani dan produksi yang dihasilkan oleh petani.4. Penentuan responden berdasarkan petani yang menanam kedelai di Kecamatan Ciranjang sebanyak 30 orang petani kedelai dengan cara mengambil nama kelompok tani dan memilih petani secara acak untuk diwawancara.1 Analisis Usahatani Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. pedagang besar dua orang yang berada di Kecamatan Ciranjang. Pengambilan contoh untuk pelaku pasar pada tiap tingkat lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengikuti arus barang dalam proses penyaluran barang dari produsen sampai ke konsumen. komputer dan disajikan dalam bentuk deskriptif.

35 produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi. maka rumus tersebut dapat berubah menjadi: TR = ∑ YxPy i =1 n Biaya tetap dapat dihitung dengan rumus: FC = ∑ X Px i =1 i n i dimana: Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap Pxi = Harga Xi (input) Rumus tersebut dapat digunakan untuk menghitung biaya total (total cost).TC dimana: Pd = Pendapatan usahatani TR = Total penerimaan (total revenue) TC = Total biaya (total cost) . 1995). Rumus yang digunakan yaitu: TC = FC + VC Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya. yang merupakan jumlah dari biata tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC). tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: TR = Y x Py dimana: TR = Total penerimaan Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani Py = Harga Y Pernyataan Jika komoditas tanaman yang diusahakan lebih dari satu. Rumus yang digunakan yaitu: Pd = TR .

Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: a= Py. Biaya sarana produksi: . Upah tenaga kerja dalam keluarga b.Y FC + VC dimana: a = R/C ratio Py = Harga output Y = Output Kriteria keputusan yang digunakan untuk melihat hasil analisis R/C ratio sebagai berikut : R/C ratio > 1 : usahatani menguntungkan R/C ratio < 1 : usahatani rugi R/C ratio = 1 : usahatani impas Secara sederhana. pajak a. Tabel 8 Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai A B C D Penerimaan Tunai Penerimaan yang diperhitungkan Total Penerimaan Biaya Tunai Harga x Hasil panen yang dijual (Kg) Harga x Hasil panen yang dikonsumsi (Kg) A+B a. Sewa alat bajak d.36 Analisis (R/C) ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya. Upah tenaga kerja di luar keluarga c.PPC/ZPT b. Sewa lahan e.Benih .Pupuk . perhitungan analisis pendapatan dan R/C ratio dapat disajikan seperti pada Tabel 7. 2007 . Sewa lahan D+E C–D C–F H – bunga pinjaman (jika ada pinjaman) C/F E Biaya yang diperhitungkan F Total Biaya G Pendapatan atas biaya tunai H Pendapatan atas biaya total I Pendapatan Bersih J R/C ratio Sumber : Rahim dan Diah. Benih d.Pestisida . Penyusutan c.

2 Analisis Saluran Tataniaga Kedelai Analisis saluran tataniaga digunakan untuk menelusuri saluran tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir. Untuk menganalisis marjin tataniaga dalam penelitian ini. seperti biaya. yaitu: (1) jumlah pedagang di setiap level tataniaga. Secara matematis biaya penyusutan dapat dirumuskan sebagai berikut : Nb − Ns n Biaya Penyusutan = dimana : Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Nilai sisa (Rp) N = Umur ekonomi alat (tahun) 4. Analisis ini dapat menggambarkan secara keseluruhan pola saluran tataniaga kedelai yang terjadi pada daerah penelitian.4.4 Analisis Marjin Tataniaga Marjin tataniaga merupakan perbedaan harga yang diterima petani (produsen) dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen.37 Biaya penyusutan alat dihitung dengan cara membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dibagi usia ekonomi dari alat tersebut. data harga yang digunakan adalah harga di tingkat petani dan harga di tingkat lembaga tataniaga.3 Analisis Struktur Pasar Struktur pasar dapat dianalisis melalui beberapa indikator.4. (3) mudah atau sukar untuk keluar-masuk pasar. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. 4. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga.4. (2) keadaan atau kondisi produk. secara matematis rumus . 4.

marjin pada setiap tingkat lembaga tataniaga dapat dihitung dengan menghitung selisih antar harga jual dengan harga beli pada setiap tingkat lembaga tataniaga. maka: Mm = c + dimana: c = biaya tataniaga = Keuntungan lembaga tataniaga Berdasarkan analisis marjin tataniaga di atas. maka untuk setiap saluran tataniaga dapat dilihat persentase pangsa marjin setiap pelaku pasar dengan menggunakan rumus: PangsaMarjin = MarjinPemasaran x100% TotalMarjin Pangsa pasar digunakan untuk melihat berapa besar marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga yang ada.38 yang digunakan dalam perhitungan marjin tataniaga (Dahl and Hammond. 1977). dapat dirumuskan sebagai berikut: Mmi = Ps – Pb dimana: Mmi Ps Pb Marjin = Marjin tataniaga pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga jual pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga beli pada setiap lembaga tataniaga tataniaga mengandung komponen biaya dan komponen keuntungan. Saluran tataniaga yang . yaitu: Mm = Pr – Pf dimana: Mm Pr Pf = Marjin tataniaga di tingkat petani = Harga di tingkat kelembagaan tataniaga dari petani = Harga di tingkat petani Berdasarkan rumus di atas.

Besarnya persentase net marjin yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masingmasing saluran tataniaga digunakan rumus: NetMarjin = KeuntunganPelakuPasar x100% TotalKeuntungan Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan pada setiap pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. artinya semakin tinggi margin tataniaga maka bagian yang akan diperoleh petani semakin rendah.39 efisien ditunjukan oleh perolehan marjin setiap pelaku pasar yang merata.6 p p f r x100 % Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Distribusi margin tataniaga dapat dilihat dengan persentase keuntungan terhadap biaya (rasio B/C) yang dikeluarkan pada masing-masing saluran tataniaga.4. 4. Farmer s share dapat dirumuskan sebagai berikut: Fs= dimana: Fs = Farmer s share 4. rumus yang digunakan yaitu: B / CRatio = πi x100% Ci dimana: = Keuntungan lembaga tataniaga ke-i ci = Biaya lembaga tataniaga ke-i i .4.5 Analisis Bagian Harga yang Diterima Petani Farmer s share berhubungan dengan margin tataniaga.

Pupuk adalah zat tambahan yang digunakan petani untuk meningkatkan kesuburan tanaman kedelai (Urea. . 4.40 4. Pedagang besar adalah pedagang yang aktif di pasar-pasar pusat dan memperoleh barang dari pedagang pengumpul maupun dari petani langsung dan dijual kembali ke pasar induk (baik satu propinsi atau luar propinsi). Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang yang aktif membeli dan mengumpulkan kedelai dari produsen (petani) di daerah produksi dan menjualnya kepada pedagang besar dan pasar lokal. KCl dan pupuk organik). Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual kedelai kepada konsumen terakhir di pasar lokal ataupun industri makanan dan pedagang ini membeli kedelai dari supplier. 2. 3. 7. PPC (Pupuk Pelengkap Cair) adalah pupuk yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan polong. supplier dan pasar lokal. pedagang besar ataupun pedagang pengumpul. Kedelai polong tua adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 90 hari dan dikeringkan. 8. 5. Kedelai polong muda adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 40 hari. Pestisida adalah zat kimia yang digunakan oleh petani untuk menanggulangi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kedelai. SP36.5 Definisi Operasional 1. 6.

Sebelah Barat d. Wilayah Kabupaten cianjur terdiri dari 30 Kecamatan. Sebelah Utara b. memanjang dari utara ke selatan dengan batas-batas wilayah secara administrasi. kecuali sebagian wilayah Kecamatan Cidaun dengan iklim tipe Am dan wilayah gunung Gede dengan iklim tipe Cf. 6 Kelurahan dan 348 Desa.55 persen) lahan kering (Tabel 8). Curah Hujan dan Jenis Tanah Secara geografis. . Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Cianjur berada di bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Barat. Letak Geografis. dan kemiringan lahan 0 – 40 persen. Kabupaten Cianjur terletak antara 6º 21” .45 persen) lahan sawah dan 287 269 ha (69. Topografi wilayah didominasi perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian 0 – 2 962 meter di atas permukaan air laut (dpl). Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Purwakarta : Samudera Indonesia : Kabupaten Sukabumi : Kabupaten Bandung dan Garut Luas wilayah Kabupaten Cianjur adalah 413 127 ha yang terbagi atas 62 879 ha (30.107º 25” Bujur Timur (BT). Sebelah Selatan c.1.41 V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. sebagai berikut: a. Iklim di wilayah Kabupaten Cianjur termasuk iklim tipe Af (sangat basah).7° 25” Lintang Selatan (LS) dan 106º 42” . Jumlah curah hujan tahunan relatif beragam antar wilayah dengan kisaran 1 716 milimeter di wilayah Penyusuhan hinga 4 465 milimeter di wilayah Kadupandak/Cimanggu. Topografi.

Campakamulya. Irigasi Sederhana PU 4.76 6. dan (5) tanah podsolik merah kuning yang tersebar di Kecamatan Cibinong. Kabupaten Cianjur .00 Jenis tanah di Kabupaten Cianjur terdiri atas 5 jenis yaitu: (1) tanah aluvial yang tersebar di Kecamatan Pacet.30 0. Rawa 6. Tadah hujan Jumlah Lahan Kering 1. Sindangbarang. penggunaan tanah.10 4. Tanggeung. Tambak/Kolam/Empang 7. (3) tanah brown forest yang tersebar di Kecamatan Campaka.95 0. Cilaku. Sukaresmi. Irigasi Setengah Teknis 3. Ladang/Huma 4. Naringgul dan Warungkondang.54 100. (4) tanah latosol yang tersebar di Kecamatan Sukanagara. Sukanagara dan Cugenang.03 30.46 7.56 0. Tidak diusahakan 8.58 16. dan lain-lain) dan sumberdaya manusia. Berdasarkan kondisi sumberdaya alam (tofografi. Irigasi Sederhana Non PU 5. Naringgul dan Cianjur. Takokak. Perkebunan 11. Cikalongkulon dan Mande. iklim. Kadupandak.46 7.75 1. Lain-lain Jumlah Jumlah Keseluruhan Sumber: Diperta Kabupaten Cianjur (2006) Luas (Ha) 15 207 6 236 9 687 17 584 14 165 62 879 22 294 52 054 39 092 700 136 1 046 1 673 29 723 61 453 56 170 22 803 287 269 413 027 Persen (%) 4.84 15. Irigasi Teknis 2.10 0. Tegal/Kebun 3. (2) tanah andosol yang tersebar di Kecamatan Pagelaran dan Tanggeung. Hutan Rakyat 9. Hutan Negara 10. Pengembalaan 5.18 5. Cugenang.40 11. jenis tanah.32 1.74 15.93 69. Bangunan/Pekarangan 2. Agrabinta.42 Tabel 9 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006 Pengguanaan Lahan Lahan Sawah 1.

Cidaku dan Cijati. Karangtengah. Campaka dan Campakamulya. Wilayah Pembangunan Utara (WPU) WPU merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede dengan topografi didominasi bergunung dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Bojongpicung. tanaman hortikultura dan lahan sawah. Cugenang. Pagelaran. Mande. Cilaku. Kecamatan yang termasuk WPT mencakup Tanggeung. Warungkondang. . Naringgul. Cikalongkulon. Sukanagara. Cidaun. Tanah di WPS memiliki struktur yang labil dan peka terhadap erosi. Cibeber. Sukaluyu. Takokak. Gekbrong dan Cipanas. 2. Sindangbarang.43 terbagi atas tiga wilayah pembangunan dengan masing-masing karakteristik (Diperta Kabupaten Cianjur. tanaman hortikultura dan lahan sawah. 2007). 3. Pacet. Penggunaan lahannya didominasi lahan kering dan terdapat perkebunan dan lahan sawah dengan luasan yang kecil. Kecamatan yang termasuk WPS mencakup Agrabinta. Wilayah Pembangunan Selatan (WPS) WPS merupakan dataran rendah dengan topografi umumnya bergelombang hingga berbukit yang diselingi oleh pegunungan yang melebar hingga ke daerah pantai Samudera Indonesia. Ciranjang. Kecamatan yang termasuk WPU mencakup Cianjur. Leles. Kadupandak. sebagai berikut: 1. Sukaresmi. Wilayah Pembangunan Tengah (WPT) WPT merupakan daerah dengan topografi berbukit hingga bergunung dengan struktur tanahnya labil sehingga sangat peka terhadap erosi dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Cibinong.

80 persen. serta kemudahan akses pasar bagi petani.16 persen. Kelompok tani kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. beranggotakan petani perkelompok lima sampai enam orang petani dan dipimpin oleh seorang ketua kelompok. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur yang tergolong usia produktif sebesar 39.44 5. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 14. Selain itu memberikan kemudahan bagi Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dalam menyampaikan informasi teknologi kepada petani. Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur adalah sektor pertanian yaitu sekitar 62.0 persen dari total pendudk berusia produktif.6 persen. dan kemudian ketua kelompok tani akan menyampaikan informasi yang diperoleh dari PPL kepada masing-masing anggota kelompok taninya. Kepala keluarga miskin tergolong tinggi yaitu mencapai 35.99 persen.04 persen). . Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42. Petugas Penyuluh Lapang akan menyampaikan informasi kepada masing-masing kelompok tani.96 persen) dan 1 029 236 orang perempuan (49. kemudian diikuti sektor perdagangan sekitar 24. Tujuan dari adanya kelompok ini untuk memberikan kemudahan bagi petani apabila ada masalah dalam kegiatan usahataninya. Kabupaten Cianjur ini berjumlah 80 kelompok tani.9 persen dari seluruh KK.2 Sosial Ekonomi Penduduk Kabupaten Cianjur pada tahun 2006 berjumlah 2 098 644 orang (546 119 Kepala Keluarga/KK) teriri atas 1 069 408 orang laki-laki (50. sedangkan penduduk dengan pekerjaan utama adalah pertanian sebesar 61.60 persen.

Jumlah pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang tidak pasti karena umumnya pedagang pengumpul ini berasal dari luar Kecamatan Ciranjang. Jumlah pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang yaitu dua orang.3 Lembaga Tataniaga Kedelai a. Pedagang besar kabupaten memasarkan kedelai ke pedagang propinsi di Bandung. dan menjual kedelai tersebut ke pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang. pedagang pengecer (Cianjur. Majalengka). Pedagang besar dalam memasarkan kedelai sudah memiliki pelanggan tetap. Garut. . Sumedang. b. Pedagang besar kecamatan memasarkan kedelai hanya ke pengrajin tahu lokal dan ke pedagang propinsi di Bandung. Pedagang Besar Pedagang besar adalah pedagang yang menghimpun (mengumpulkan) kedelai baik dari pedagang-pedagang pengumpul maupun langsung dari petani yang kemudian dijual kembali ke pedagang pengecer. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang kecil yang membeli hasil panen kedelai dari petani dan untuk dijual kembali kepada pedagang besar. pedagang besar propinsi dan pengrajin tahu dan tempe. Pedagang pengumpul yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah pedagang pengumpul yang berada di Kecamatan Ciranjang dan berjumlah tiga orang. dan pengrajin tahu/tempe lokal serta di Cianjur. Pedagang pengumpul ini memperoleh kedelai dari Kecamatan Ciranjang dan luar Kecamatan.45 5.

Jawa Tengah. pengrajin tahu/tempe lokal. Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersial. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual secara langsung kepada konsumen akhir. d. Pedagang Propinsi Pedagang propinsi merupakan pedagang yang menyalurkan kedelai dari pedagang besar kecamatan dan kabupaten ke pedagang pengecer di Bandung. . artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh lembaga tataniaga sangat tergantung dari aktivitas pedagang pengecer dalam menjual produk kepada konsumen. Pedagang propinsi memperoleh kedelai dari pedagang besar di Jawa Barat termasuk Kecamatan Ciranjang. Jakarta. Pedagang pengecer mendapatkan barang dari para pedagang besar yang ada di wilayah pedagang pengecer berdomisili. Jawa Timur. serta dapat melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir.46 c.

47 VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.00 23. luas dan status penguasaan lahan. mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.0 persen). Tabel 10 Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur Kelompok Umur (Tahun) 26 . Petani paling banyak termasuk kelompok umur 48 sampai 58 tahun (40.69 > 69 Total Jumlah Petani (Orang) 3 7 12 7 1 30 Persentase (%) 10.1. Karakteristik Petani dan Usahatani Kedelai 6. dan paling sedikit berada dikelompok umur lebih dari 69 tahun. Hal ini menunjukkan regenerasi petani sangat rendah.33 100.57 tahun.33 persen). Pendidikan petani paling banyak berkisar antara 1 sampai 6 tahun atau Sekolah Dasar (43.00 Tabel 10 menginformasikan bahwa umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun.1.36 37 . Karakteristik petani tersebut mencakup umur. diikuti antara 7 sampai 9 tahun atau . dan kepemilikan alat pertanian serta ternak.33 40.58 59 . Pendidikan petani (Tabel 11) berkisar antara sekolah dasar sampai perguruan tinggi dengan rataan pendidikan 4. sebagai pengambil keputusan terbaik dari berbagai alternatif kegiatan usahatani yang harus diambil. tingkat pendidikan.3 tahun.1 Karakteristik Petani Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani.00 23.47 48 .33 3.

67 persen).00 36.00 hektar paling sedikit hanya 3.33 36. Luas kepemilikan sawah petani kedelai paling banyak berada pada kelompok 0. Tabel 11 Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan (Tahun) Tidak Sekolah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menegah Atas Perguruan Tinggi Total Jumlah Petani (Orang) 0 13 11 6 0 30 Persentase (%) 0. diikuti oleh sawah berstatus milik sendiri dan sewa (26.67 persen).00 3.00 100.00 persen).00 Tabel 12 menginformasikan bahwa luas kepemilikan sawah petani kedelai berkisar antara 0.55 0.00 43.10 sampai 3. sedangkan kepemilikan sawah paling luas yaitu 2. dan sisanya antara 10 sampai 12 tahun atau Sekolah Menengah Atas (20 persen).67 20.00 Total Jumlah Petani (Orang) 12 11 6 1 30 Persentase (%) 40.01 .48 Sekolah Lanjutan Pertama (36.00 hektar dengan rata-rata luas kepemilikan sebesar 0.56 . berstatus milik (10 persen). Di Kecamatan Ciranjang sewa lahan hanya diambil untuk .00 persen).55 hektar (40.10 .1.67 20. Tabel 12 Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah Luas Sawah (Ha) 0.10 sampai 3.0.2.00 2.33 persen.10 sampai 0.10 .00 0.3.33 100. dan sisanya berstatus milik dan gadai (3.778 hektar perpetani.33 persen).00 1.00 Status kepemilikan sawah (Tabel 13) petani kedelai mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.

Tabel 14 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian Kepemilikan Alat Hand Sprayer Pompa Air Lantai Jemur Hand Sprayer dan Lantai Jemur Perontok Kedelai Tidak Memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 5 8 0 14 30 Persentase (%) 10. lantai jemur dan alat perontok kedelai. parang.67 persen). Tabel 13 Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah Status Kepemilikan Milik Sewa/Sakap Gadai Milik dan Sewa Milik dan Gadai Total Jumlah Petani (Orang) 3 18 0 8 1 30 Persentase (%) 10.00 Alat-alat yang dibutuhkan petani kedelai dalam melaksanakan kegiatan usahataninya yaitu cangkul.00 Petani yang tidak memiliki alat pengendalian HPT biasanya menyewa dari petani lain atau menyewa dari kelompok tani. Biaya sewa .49 tanaman padi sedangkan tanaman palawija sewa sawahnya tidak diambil oleh petani pemilik sawah. dan alat perontok kedelai petani menyewa dari luar. alat pengendalian Hama Penyakit Tanaman (HPT).00 46. sedangkan pompa air disewa dari kelompok tani.33 100.00 60. arit.67 3.00 16. pompa air.67 100.00 26.67 persen) lebih sedikit bila dibandingkan dengan petani yang tidak memiliki hand sprayer (46. Pada umumnya petani sudah memiliki berbagai peralatan tersebut.67 0.00 0.67 26. tetapi khusus alat pengendalian HPT kepemilikannya masih beragam.00 0. Tabel 14 memberikan informasi petani yang memiliki hand sprayer (36.

67 100. pupuk kandang juga dapat memperbaiki struktur tanah.Juli setelah panen padi kedua. memelihara ternak ayam (3. sedangkan paling banyak (86.2. sewa pompa air Rp 20 000 per hektar.00 0. sapi dan ayam. memungkinkan cara kerja yang sederhana sehingga lebih hemat . per tiga kuintal kedelai. Kedelai musim utama ditanam mengikuti padi sawah musim hujan karena musim itulah yang terbaik untuk kedelai. Salah satu usaha sampingan petani yaitu memelihara ternak kambing.33 persen) dengan rataan penguasaan 50 ekor.00 0.50 hand sprayer Rp 5 000 per hektar.67 persen) petani tidak memelihara ternak. Tabel 15 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak Kepemilikan Ternak Kambing Sapi Kambing dan Sapi Ayam Tidak memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 0 1 26 30 Persentase (%) 10. dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000. petani juga dapat menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk kandang.00 3. 6. Usahatani Kedelai Di Kabupaten Cianjur pola tanam yang diterapkan adalah padi-padipalawija/kedelai.1.00 Tabel 15 menginformasikan bahwa beberapa petani sudah memelihara ternak kambing (10 persen) dengan rataan penguasaan antara 6 sampai 14 ekor. kedelai banyak ditanam pada bulan Juni . Selain sebagai penyedia unsur hara mikro.33 86. Penanaman di lahan sawah lebih banyak diminati petani karena lebih tinggi hasilnya dan karena penanaman kedelai setelah padi. Pemeliharaan ternak disamping memberikan tambahan pendapatan keluarga.

Pola penugalan kira-kira bujur sangkar. Gulma yang lain telah cukup dikendalikan dengan membakar jerami yang dihamparkan menutup lahan yang baru ditugali benih kedelai. Tanah yang semasa padi sawah digenangi serta berlumpur tersebut.51 tenaga dan biaya dibanding penanaman di lahan tegal. (2) umur sedang (80 – 85 hari). dan (3) umur dalam (lebih dari 85 hari). Hal yang sama terjadi bila . sewaktu kering ternyata cukup baik strukturnya untuk mendukung pertumbuhan kedelai tanpa pengolahan tanah sebelum tanam. kebanyakan tanpa pengolahan tanah. varietas kedelai dapat digolongkan menjadi tiga kelompok umur. Bahkan penyiangan pun dilakukan secara minim. Pada umumnya petani di Kecamatan Ciranjang bertanam kedelai di lahan bekas padi sawah tanpa didahului pengolahan tanah. Penyiapan lahan untuk bertanam cukup hanya dengan pembuatan parit dangkal seurut galangan dan tanpa pengolahan lahan. dengan jarak 20 x 20 sentimeter sampai 25 x 25 sentimeter mengikuti jarak tugal jerami. Kekeringan yang terjadi setelah biji kedelai ditanam dapat menghambat perkecambahan. Pengendalian gulma hanya dilakukan satu kali. pengolahan tanah sebelum tanam itu juga berakibat memundurkan waktu tanam kedelai sehingga dapat mengurangi hasil. Selain kurang berguna. Penanaman dengan cara tugal lebih baik karena jumlah tanamannya lebih besar dan tersebar lebih merata. Berdasarkan lamanya periode waktu tumbuh dari sejak tanam sampai kematangan polong. penanaman kedelai dilakukan dengan cara penugalan benih pada lahan sawah yang sudah dibabat jeraminya. yaitu (1) umur genjah (kurang dari 80 hari). Di Kabupaten Cianjur.

33 persen). Kedelai merupakan tanaman semusim sehingga kebutuhan N. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah ulat grayak (pemakan daun) dan penggerek polong.52 biji yang telah ditanam tergenang air. rata-rata penyemprotan dilakukan dua sampai tiga kali per tahun menggunakan pestisida kimia (80 . ada juga petani yang meggunakan pupuk NPK (20 persen) dengan takaran 20 kilogram per hektar. Selain kegiatan pemupukan. Penggunaan pupuk per hektar yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur yaitu urea 50 kilogram. dan zat perangsang biji (30 persen) dengan takaran 1 liter per hektar. kegiatan pemupukan antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi (Tabel 16). Umumnya petani melakukan penyemprotan sesuai dengan intensitas serangan. Selain itu. dapat menghambat pembentukan polong akibatnya dapat menurunkan hasil. Kedelai yang ditanam dalam pola bergiliran dapat memanfaatkan sisa pupuk yang tidak digunakan tanaman sebelumnya. KCl 50 kilogram. zat perangsang biji 2 liter. Umumnya petani tidak melakukan kegiatan pemupukan sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan. pengendalian HPT antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi. Di Kecamatan Ciranjang. P dan K relatif besar. Selain itu. petani juga melakukan kegiatan pengendalian HPT. NPK 150 kilogram. dan poska (3. SP36/TSP 100 kilogram. Paling banyak petani mengaplikasikan pupuk urea (80 persen) dengan takaran 53 kilogram per hektar. Penggunaan dosis pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan hara tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai menjadi terganggu. Di Kecamatan Ciranjang. Tahun 2007. pada periode penanaman kedelai di Kecamatan Ciranjang terjadi kekeringan sehingga menurunkan hasil.

00 36.26 344.67 Jumlah Petani yang melakukan 30 Persentase (%) 100.30 2 100.52 Harga Ratarata (Rp/unit) 6 643.00 80.62 1 501. Pestisida.94 35 692. Tabel 16 Biaya Pupuk.62 Saat panen ditentukan berdasarkan umur tanaman. dan sebagian daun sudah kering dan rontok.74 45.00 26. Cara panen kedelai dilakukan dengan memotong pangkal tanaman dengan menggunakan sabit atau parang.00 2 080. sedangkan beberapa petani (20 persen) tidak melakukan pengendalian HPT (Tabel 16). Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai No 1 2 Jenis Kegiatan Bibit + Furadan (Kg) Takaran Pupuk (Kg) Urea SP36/TSP KCl ZA NPK Zat Perangsang Biji (l) 3 4 Pestisida (ml) Tenaga Kerja (HOK) Penanaman Penyiangan Pemupukan Pengendalian HPT Pengairan Panen/angkut Pengeringan dan Perontokan 30 11 24 24 10 20 20 100. Setiap varietas kedelai memiliki umur yang berbeda. ciri-ciri penampakan luar.67 13.33 0.42 6 929.33 66.00 30.62 mililiter per hektar.31 21 966. batang-batangnya sudah kering.67 66.00 80.96 25.00 34.00 33. Ciri-ciri umum tanaman kedelai sudah saatnya dipanen adalah polong secara merata sudah berwarna kuning-kecoklatan.00 Jumlah (sat/Ha) 42. dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat penanaman.5 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 24 8 4 0 6 9 24 80.61 79.00 20.53 persen) dengan takaran 344.67 20 2 2 2 2 3. sehingga waktu panennya harus menyesuaikan dengan umur tanaman.5 3.85 0.67 80. Pangkal batang dan akar-akar tanaman kedelai . Di Kecamatan Ciranjang varietas yang ditanaman umumnya adalah varietas Dapros (90 hari).

Di Kecamatan Ciranjang. kegiatan selanjutnya adalah pengeringan tujuannya untuk menurunkan kadar air dari biji sampai batas aman untuk disimpan atau memudahkan penanganan selanjutnya. pupuk dan pestisida.67 persen). ada juga petani yang panen polong hijau (33.54 bermanfaat sebagai sumber Nitrogen dan penyubur tanah untuk tanaman musim berikutnya. sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095. Perontokan atau pengupasan polong kedelai harus segera dilakukan setelah pengeringan. Setelah dirontokan dilakukan pemisahan biji kedelai dari daun. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit.3 hari. upah tenaga kerja. Setelah panen.33 persen) untuk tujuan konsumsi polong yang direbus. Tabel 16 memberikan informasi bahwa biaya . sehingga petani akan memperoleh penerimaan yang tinggi. Keterlambatan dapat menyebabkan polong menjadi basah kembali dan menyulitkan dalam pembijian (pengelupasan biji dari polong). Di Kecamatan Ciranjang.37 ton per hektar. selain panen tua untuk dikeringkan (66.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1. tapi pada cuaca baik dapat dilakukan sekitar 1 . Tujuan utama dari budidaya kedelai adalah memperoleh kedelai yang memiliki kadar air rendah. tapi ada juga beberapa petani yang menggunakan alat perontok kedelai. Pengeringan dilakukan dengan menjemur brangkasan kedelai di bawah terik matahari dengan cara dihamparkan di atas lantai jemur atau menggunakan anyaman bambu.60 per kilogram. Umumnya petani di Kecamatan Ciranjang melakukan perontokan dengan cara manual yaitu dipukul-pukul dengan kayu. sewa alat dan pajak. Lamanya penjemuran rata-rata tujuh hari. sisa-sisa polong ataupun kotoran yang lain. rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.

72 51 959.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua (Rp 3 312 778.24 1.10 1 111 196.73 per hektar).84 282 486.30 1 473 010.84 1 871 269.00 100 00.68 581 315. sewa alat.00 590 214. Pendapatan Bersih J. pupuk.00 74 106.50 200 00.77 426 393.96 75 701. Total Penerimaan (A+B) D. Penerimaan Tunai B.00 10 000. Pendapatan atas biaya tunai H.35 . Pendapatan atas biaya total I.00 882 796.05 350 000.05 3 132 778. Total Biaya (D+E) G.00 114 247.24 398 256. Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga.00 931 315. Sumberdaya yang digunakan dalam usahatani kedelai meliputi tenaga kerja.00 1.00 107 471.73 4 243 974. Biaya tunai yang paling besar digunakan untuk upah tenaga kerja luar keluarga.33 2 201463.60 988 473.72 494 260. benih. pestisida dan pajak. R/C Rasio Polong Muda (Rp/ha) 1 871 269.54 9 280.30 350 000.55 usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.54 398 259.00 1 111 196.99 37 850.27 Polong Tua (Rp/ha) 4 243 974. hal ini disebabkan tenaga kerja dalam keluarga sangat minim. Tabel 17 Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar Jenis Biaya dan Penerimaan A.00 1 096 367. Biaya Diperhitungkan Tenaga Kerja Keluarga Sewa Lahan Benih Penyusutan Total Biaya Diperhitungkan F.63 10 000. Biaya Tunai Benih Pupuk Pestisida PPC/ZPT Tenaga Kerja Luar Keluarga Sewa Alat Handsprayer Sewa Alat Perontok Sewa Pompa Pajak Total Biaya Tunai E.30 240 214.73 282 486.73 2 042 511. Penerimaan Tidak Diperhitungkan C.

27 untuk polong muda. Berdasarkan analisis usahatani (Tabel 17) kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda.56 Suatu usahatani akan dikatakan berhasil atau menguntungkan jika selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif. ada juga petani .35) tidak berbeda jauh dari pada petani yang panen polong muda (1. waktu pengolahan lama dan keterbatasan modal. Petani yang memiliki keterbatasan modal telah merencanakan menanam kedelai untuk dipanen muda. Besarnya pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani polong tua karena hasil yang diperoleh lebih banyak dan harga jual biji kedelai lebih tinggi dari pada kedelai hijau (muda). Walaupun. Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.4.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.00.27). sehingga kegiatan pemeliharaan tidak dilakukan dengan optimal. nilai R/C rasionya tidak berbeda jauh tetapi pendapatan bersih polong tua lebih tinggi dari pendapatan bersih polong muda. Nilai R/C rasio yang diperoleh pada usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang tidak berbeda jauh dengan nilai R/C rasio usahatani kedelai pada penelitian Rusastra et al (1992) yaitu 1.73 dan pendapatan atas total biaya Rp 1 111 196. Total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974. Melihat perbandingan jumlah R/C rasio yang diperoleh. Petani yang melakukan panen polong muda disebabkan beberapa hal.84 dan pendapatan atas total biaya Rp 398 256. total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.24. seperti jadwal penanaman yang terlambat. Selain itu. petani yang panen polong tua (1. Jadwal penanaman yang terlambat juga mengharuskan petani untuk melakukan panen kedelai polong muda.

pedagang besar propinsi.1 Saluran Tataniaga Pemasaran kedelai di lokasi penelitian dari petani sampai konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pemasaran yaitu pedagang pengumpul (tengkulak). penyerapan pasar untuk kedelai polong tua masih sangat terbuka luas karena kedelai polong tua dibutuhkan industri-industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai.2. Pada saat panen banyak pedagang pengumpul yang datang ke tempat petani sehingga petani dapat menjual kedelai di rumah atau di sawah tanpa harus mengangkut ke tempat pembeli.. Pemanenan kedelai polong muda tidak dapat dilakukan terus menerus karena penyerapan pasar untuk polong muda sangat terbatas. Selain itu. ada dua saluran tataniaga yaitu .2 Saluran dan Lembaga Tataniaga 6. berbeda dengan polong tua yang bisa disimpan apabila petani tidak bisa menjual semua hasil panennya. Tetapi di Desa Ciranjang. pedagang besar kecamatan. sedangkan untuk membayar tenaga kerja mereka memiliki keterbatasan modal. pedagang besar kabupaten. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. dan pedagang pengecer.57 memanen polong muda karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. 6. Sebagian besar petani di Kecamatan Ciranjang melakukan penjualan kedelai langsung kepada tengkulak. Hal ini disebabkan oleh lokasi petani yang jauh dari pedagang besar kecamatan sehingga penjualan ke pasar akan menambah biaya dan keterbatasan waktu. Kabupaten Cianjur. selain cara penjualan yang demikian ada pula petani yang membawa sendiri dan menjualnya pada pedagang besar kabupaten yang berada di pasar.

77%) lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (10. 80 persen kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan 20 persen langsung diserap oleh konsumen akhir. Gambar 3 menginformasikan bahwa saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai dua tujuan.56%). Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda. Saluran kedua dan ketiga kedelai dari pedagang pengumpul dijual ke pedagang kabupaten (30.69%).58 saluran tataniaga kedelai polong muda (Gambar 3) dan saluran tataniaga kedelai polong tua (Gambar 4). Saluran kesatu dari pedagang pengumpul kedelai dijual ke pedagang kecamatan (42. Gambar 4 menginformasikan bahwa di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. 8.58 persen kedelai dari pedagang kabupaten . Pada saluran kesatu sampai kelima petani menjual kedelai (73. yaitu dari petani kedelai (100 persen) dibawa ke pedagang pengumpul. lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (5. Di pedagang pasar induk.72%) melalui saluran kedua. kemudian kedelai tersebut (100 persen) dibawa ke pedagang Pasar Induk Parung. 100 % Petani Pedagang Pengumpul Ciranjang 100 % Pedagang Pasar Induk Parung 20 % 80 % Pedagang Pegecer Konsumen Gambar 3.33%) ke pedagang pengumpul.

Saluran keempat dan kelima sama seperti saluran kesatu. sehingga tidak ada alternatif lain bagi petani untuk menjual hasil panennya. tetapi dari pedagang kecamatan (42.33 persen) karena banyaknya jumlah pedagang pengumpul lokal yang mendatangi petani. Saluran 6-8 hanya dipergunakan oleh petani responden (26. sedangkan saluran ketujuh dan kedelapan.58%) lalu ke konsumen akhir.23 persen diserap pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir melalui saluran kelima.23 persen) karena petani tidak mau mengambil resiko kerugian biaya transportasi.67 persen) yang berdekatan dengan pasar Ciranjang seperti Desa Ciranjang dan Desa Cibiuk.58%).77%) kedelai dijual langsung ke pedagang propinsi (32. Pada dasarnya petani memiliki kebebasan untuk menentukan saluran mana yang akan dipilih.14%) melalui saluran ketujuh dan diserap oleh pedagang pengecer (10. Kedelai diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (6. penjualan kedelai ke saluran 1.67%). kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang propinsi (4.59 diserap oleh pedagang pengecer kemudian dijual ke konsumen akhir melalui saluran ketiga. . Saluran keenam sampai kedelapan petani menjual kedelai langsung ke pedagang kabupaten (26. Pada saluran keenam kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang pengecer (8. Volume kedelai banyak melalui saluran tiga (57.08%) lalu diserap pengrajin tahu/tempe (6. lokasi petani yang jauh dari pedagang kabupaten. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden.23%) melalui saluran kedelapan untuk dijual ke konsumen akhir.14%) melalui saluran keempat. 2 dan saluran 3 lebih banyak dipilih (73. 10.

72 % 10.58 % 8.56 % Pedagang Besar Kabupaten 34.23 % Konsumen 6.08 % Bandung Bandung Pedagang Besar Propinsi 24.56% Luar Jawa Barat 10.67 % Petani 73.33 % Pedagang Pengumpul Kecamatan Ciranjang 30.77 % Pedagang Besar Kecamatan Garut Majalengka Sumedang Sukabumi Pengrajin Tahu Tempe 8.2.23 % Pengecer 10. 6.69 % 42. Umumnya fungsi-fungsi tataniaga kedelai yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga .58 % Pedagang Pengecer 8.2 Lembaga Tataniaga Kegiatan yang dilakukan lembaga tataniaga untuk memperlancar arus kedelai dari produsen ke konsumen dinamakan fungsi tataniaga.60 26.58 % Konsumen 32.34% 5.14 % Pengrajin Tahu Tahu /Tempe Tempe Ket: tidak dianalisis Gambar 4 Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua.

tetapi ada beberapa petani yang menjual langsung ke pedagang besar di pasar. pembiayaan. Tabel 18 Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai Lembaga Tataniaga Petani Pedagang Pengumpul Fungsi Tataniaga Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi fasilitas Aktivitas Pedagang Kecamatan Pedagang Kabupaten Pedagang Propinsi Pedagang Pengecer Penjualan Pengangkutan Pembelian dan penjualan Pengumpulan dan pengangkutan Penanggungan resiko. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. pedagang kecamatan. pembiayaan. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Tabel 18 menginformasikan bahwa ada enam lembaga tataniaga yang terlibat yaitu petani.61 tataniaga adalah fungsi pertukaran. Setiap lembaga yang terlibat dalam tataniaga kedelai mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Umumnya petani menjual ke pedagang pengumpul yang mendatangi rumah atau sawah petani dengan penawaran harga tertinggi. pedagang besar propinsi. Pemilihan rantai tataniaga . informasi pasar a. pembiayaan. pedagang besar kabupaten. dan pedagang pengecer. Petani memasarkan kedelai dalam dua bentuk yaitu polong muda dan polong tua. pedagang pengumpul. Petani Seluruh petani responden kedelai di Kecamatan Ciranjang umumnya tidak menemui kesulitan dalam memasarkan kedelainya karena pedagang pengumpul selalu ada untuk mengambil produksi kedelai saat musim panen. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan dan pengangkutan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko.

serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko . tetapi informasi pasar dan harga dikuasai oleh pedagang pengumpul sehingga harga jual ditentukan oleh pedagang pengumpul. tetapi ada beberapa pedagang yang merupakan penduduk Kecamatan Ciranjang. b. Sistem ini memberikan kemudahan bagi petani. sedangkan yang polong muda umumnya tebasan langsung di sawah petani. tetapi ada juga yang pembayarannya menunggu hasil penjualan ke pedagang besar atas dasar kepercayaan. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah pembelian dan penjualan. Sistem pembayaran umumnya secara tunai. khusus polong muda umumnya secara borongan di sawah yang didatangi pedagang pengumpul. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang umumnya pedagang pengumpul dari luar Kecamatan. fungsi fisik yaitu pengumpulan dan pengangkutan. Cara pembelian yang dilakukan pedagang pengumpul dari petani untuk polong tua dengan ditimbang di rumah petani. sedangkan kedelai polong tua dibawa ke pedagang kecamatan dan pedagang besar kabupaten dengan menggunakan transportasi mobil. Cara petani menjual kedelai ke pedagang pengumpul adalah cara langsung dari rumah atau sawah. Akibatnya cara tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah.33 persen dari keseluruhan hasil produksi kedelai di Kecamatan Ciranjang. Kedelai ini selanjutnya dibawa ke pasar tujuan untuk kedelai polong muda. Kedelai yang dijual ke pedagang pengumpul sebanyak 73.62 pedagang pengumpul oleh petani dengan pertimbangan tidak ada biaya transportasi dan lokasi petani ke pasar tujuan cukup jauh.

Pedagang ini menerima kedelai dari pedagang pengumpul dari desadesa yang berdekatan dengan pedagang kecamatan. Pedagang kecamatan mempunyai informasi pasar yang akurat tentang harga yang terjadi karena berhubungan langsung dengan pedagang besar propinsi. c. . Umumnya pedagang pengumpul yang menjual kedelai ke pedagang kecamatan merupakan pedagang yang menerima bantuan modal dari pedagang kecamatan. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. selain itu menerima kedelai langsung dari petani. fungsi fisik berupa penyimpanan dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. sedangkan pembelian kedelai dari petani dibayar tunai.63 penyusutan. Selain itu banyaknya kedelai yang harus disiapkan oleh pedagang pengumpul. sebagian dijual langsung ke pedagang besar propinsi di Bandung. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh pedagang kecamatan adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Cara pembayaran kepada pedagang pengumpul dengan mengurangi langsung modal yang dipinjam pedagang pengumpul dari penjualan kedelai. Pedagang Kecamatan Pedagang kecamatan merupakan pengrajin tahu skala besar di Kecamatan Haurwangi. pembiayaan (transportasi. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. Jawa Barat. misalnya tidak pada saat musim tanam kedelai sehingga terjadi kekurangan pasokan. tenaga kerja dan pengemasan) dan informasi pasar (harga). Kedelai yang diperoleh selain untuk bahan baku pabrik tahu miliknya.

Fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. selain itu pedagang ini menerima pasokan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur melibatkan pedagang kebupaten lainnya. Pedagang ini memiliki skala usaha dagang yang besar di Bandung. Jawa Barat. dan . Kedelai tersebut dijual baik langsung ke pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur maupun ke pedagang pengecer di Kabupaten Cianjur dan pedagang pengecer luar daerah yang telah menjadi langganan sepeti Garut. e. Pedagang Besar Propinsi Pedagang besar propinsi yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai dari produsen di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. Karawang. dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan.64 d. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Majalengka. fungsi fisik berupa penyimpanan. Majalengka. Sukabumi dan Bandung. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang pengumpul dan petani yang berdekatan dengan pasar. Pedagang besar umumnya mempunyai informasi harga yang akurat. Pedagang Besar Kabupaten Pedagang besar kabupaten yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. Penyerahan kedelai dilakukan di tempat pedagang besar sehingga pembelian tersebut berlangsung di gudang pedagang besar. Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar selalu tunai. pembiayaan dan informasi pasar. Garut. Sumedang. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang besar kabupaten Cianjur (di Kecamatan Ciranjang). Tasik. Sukabumi Selatan. Subang. sehingga posisi tawar-menawar pedagang pengumpul lemah jika dibandingkan dengan pedagang besar.

Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar adalah nota dan tunai. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. fungsi fisik yaitu penyimpanan. Pedagang pengecer melakukan fungsi-fungsi tataniaga adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. tetapi ada juga pengecer yang menjual kedelai untuk benih. Pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer dengan cara tunai. Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar propinsi adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Informasi harga yang dimiliki pedagang besar merupakan informasi terbaru. karena pedagang besar berhubungan langsung dengan penentu harga pasar yaitu pedagang pengecer. f. fungsi fisik yaitu penyimpanan dan pengangkutan dari pedagang besar ke pedagang pengecer. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. Banyaknya kedelai yang dibeli disesuaikan dengan skala usaha dagang yang dimiliki pedagang pengecer. Umumnya pedagang pengecer menjual kedelai untuk konsumsi. . Pedagang besar melakukan kegiatan penjualan kedelai baik secara langsung ke pengrajin tahu/tempe dan pedagang pengecer di daerah Bandung. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. serta dari Jawa Tengah. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. Jawa Timur. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang menerima pasokan kedelai dari pedagang besar untuk dijual langsung kepada konsumen akhir. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. Selain itu menerima kedelai langsung dari petani di wilayah Bandung. maupun pengiriman ke luar propinsi Jawa Barat.65 Banjar.

Struktur pasar yang dihadapi oleh para pelaku pasar dalam tataniaga kedelai adalah sebagai berikut: a. Kedelai yang diperjualbelikan umumnya homogen yaitu kedelai varietas Dapros. sedangkan pedagang pengumpul menghadapi hambatan pada waktu bukan musim tanam kedelai dan keterbatasan modal. Dilihat dari struktur pasar yang dihadapai pedagang pengumpul memiliki posisi tawar yang lebih baik dari petani. kebebasan untuk keluar masuk pasar yang dialami oleh para pelaku pasar. Petani dan Pedagang Pengumpul. sedangkan pedagang kecamatan/kabupaten posisi tawarnya lebih baik dari pedagang pengumpul. Sumber informasi tentang harga dibawa oleh pedagang sehingga penentu harga dilakukan oleh pihak pedagang.66 6.3 Struktur dan Perilaku Pasar 6. . pedagang kecamatan dan pedagang besar.3. Pedagang Kecamatan serta Pedagang Kabupaten Petani berperan sebagai penjual dan yang berperan sebagai pembeli adalah pedagang pengumpul. sifat produk yang diperjualbelikan dan informasi pasar yang diperoleh.1 Struktur Pasar Struktur pasar dapat diidentifikasi dengan melihat jumlah lembaga tataniaga. Petani dalam memasarkan hasilnya tidak menghadapi hambatan karena petani dengan mudah menjual kedelai kepada pembeli. Akibatnya petani hanya berperan sebagai price taker dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam penentuan harga. Hambatan yang dihadapi pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten adalah harus memiliki modal yang kuat dan memiliki relasi yang luas agar dalam pemasaran kedelai berjalan dengan lancar.

Informasi yang dimiliki pedagang pengumpul mengenai keberadaan kedelai dan harga jual yang berlaku lebih baik jika dibandingkan petani. pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten bersifat homogen. Pedagang pengumpul dalam menentukan harga sangat lemah. sehingga posisi tawarnya lebih baik dari pedagang kecamatan/kabupaten. Informasi ini diperoleh dari pedagang pengumpul lainnya dan pedagang besar itu sendiri. pedagang besar juga harus memiliki komunikasi dan kepercayaan yang baik dengan lembaga tataniaga yang lain. Pedagang Besar. Komoditi yang diperjualbelikan di tingkat pedagang pengumpul. Namun ada juga pedagang pengumpul yang bekerja sendiri. Jumlah pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang tidak diketahui dengan pasti. . Pedagang Besar Propinsi dan Pedagang Pengecer Pedagang propinsi memiliki level penjualan yang lebih tinggi dari pedagang kecamatan/kabupaten. mereka memasarkan kedelai hanya kepada pedagang besar. Hal ini karena pedagang pengumpul memiliki keterbatasan modal untuk membayar petani. jika tiba musim panen kedelai pedagang pengumpul banyak berdatangan dari luar Kecamatan.67 b. c. Pedagang Pengumpul dan Pedagang Besar Di lokasi penelitian jumlah pedagang pengumpul lebih sedikit dari jumlah petani tapi lebih banyak dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. karena umumnya pedagang pengumpul mendapat pinjaman dari pedagang besar. Posis tawar pedagang kecamatan/kabupaten lebih baik dari pedagang pengumpul karena yang menentukan harga adalah konsumen akhir. Posisi tawar pedagang pengecer lebih baik dari pedagang propinsi karena berhubungan langsung dengan konsumen akhir. Selain harus mempunyai modal yang kuat.

6.2 Perilaku Pasar Perilaku pasar dapat diidentifikasi dengan mengamati kegiatan tataniaga kedelai dalam proses pembelian dan penjualan. Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer terhadap pedagang besar dan konsumen adalah tunai. Pedagang Pengecer dengan Konsumen Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir.3. sistem penentuan harga. hal ini dicirikan dengan banyak pedagang pengecer sebagai penjual dengan banyak konsumen akhir sebagai pembeli. Pembelian kedelai oleh pedagang pengumpul dilakukan dengan cara pedagang pengumpul langsung mendatangi petani. kecuali petani yang hanya melakukan kegiatan penjualan. . d. Pedagang pengecer dengan konsumen menghadapi struktur pasar persaingan. Komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu kedelai. Praktik Pembelian dan Penjualan Setiap lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga kedelai melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. a. dan komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen.68 Sistem pembayaran antara pedagang besar dengan pedagang pengumpul secara tunai. sistem pembayaran dan kerjasama yang terjadi antara lembaga tataniaga. kecuali polong muda penundaan pembayaran bisa terjadi karena keterbatasan modal yang dimiliki pedagang pengumpul. sedangkan pedagang besar melakukan pembelian di tempat penjual. Cara pembayaran untuk setiap lembaga tataniaga dilakukan secara tunai.

biaya dan jumlah komoditi yang akhirnya memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem tataniaga (Dahl and Hammond.4 Analisis Keragaan Pasar Struktur pasar dan perilaku pasar akan menentukan keragaan pasar yang dapat diukur melalui harga. Sistem Penentuan Harga Posisi petani adalah sebagai penerima harga. 1977).69 b. Penguasaan informasi harga sangat didominasi oleh pedagang pengumpul. walaupun terjadi tawar-menawar penetapan harga tetap lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul. Analisis efisiensi tataniaga mencakup analisis marjin tataniaga. sehingga petani dapat menekan biaya usahatani kedelainya. Kerjasama Antar Lembaga Kerjasama antar lembaga tataniaga kedelai baru terjadi antara petani dan pedagang besar kecamatan dan kabupaten di kecamatan Ciranjang. Proses penentuan harga antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar lebih banyak dipengaruhi oleh harga kedelai di pasar. Efisiensi tataniaga merupakan suatu kegiatan perubahan yang dapat meminimalkan biaya input tanpa harus mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa. Informasi harga dibawa oleh pedagang pengumpul saat akan membeli kedelai di tempat atau sawah petani.4. Bentuk kerjasama yang terjadi adalah pedagang besar menyediakan benih kedelai dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dengan mutu benih kedelai yang sama. 6. 6. farmer s share dan analisis rasio keuntungan dan biaya.1 Marjin Tataniaga Marjin tataniaga diartikan melalui selisih harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat pedagang pengecer yang diperoleh dengan satuan rupiah per . c.

yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar kabupaten. Pembahasan mengenai sebaran marjin tataniaga dibagi menjadi sebaran marjin melalui pedagang pengumpul dan sebaran marjin melalui pedagang besar kabupaten. tenaga kerja. Saluran ke-2 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kabupaten dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Penghitungan marjin meliputi biaya tataniaga dan keuntungan lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tersebut. Keuntungan pemasaran merupakan selisih antara harga jual dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan. Biaya tataniaga tersebut meliputi biaya transportasi. .70 kilogram kedelai. Secara umum petani menyalurkan kedelai melalui dua lembaga saluran tataniaga. Marjin tataniaga dalam penelitian ini dihitung berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang terbentuk. Kabupaten Cianjur terdiri dari delapan saluaran tataniaga. Saluran tataniaga kedelai yang melalui pedagang pengumpul yaitu saluran satu sampai saluran lima (Tabel 19) dan saluran tataniaga yang melalui pedagang besar kabupaten yaitu saluran enam sampai saluran delapan (Tabel 20). Sistem tataniaga yang terjadi di Kecamatan Ciranjang. yaitu saluran ke-1 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kecamatan dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Saluran ke-3 sama seperti saluran ke-2 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah komoditi yang dipasarkan. Biaya tataniaga merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam memasarkan kedelai dari petani sampai ke konsumen akhir. pengemasan dan retribusi.

.67. tenaga kerja dan pengemasan Rp 25 dan penyusutan Rp 7 per kilogram.33 dan Rp 48.33 per kilogram dan biaya tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 15 per kilogram.67 per kilogram. paling besar berasal dari pedagang kecamatan sebesar Rp 551. Saluran ke-6 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen (Kabupaten Cianjur). Pada tingkat pedagang kecamatan biaya yang dikeluarkan untuk transportasi sebesar Rp 16.40 per kilogram.40. Pada saluran tataniaga 1 dengan tujuan akhir pengrajin tahu/tempe. Saluran ke-7 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang propinsi dan diserap oleh pengrajin tahu/tempe. per kilogram (Tabel 18).71 Saluran 4 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu dibawa ke pedagang kecamatan lalu ke pedagang propinsi dan diserap pengrajin tahu/tempe (Bandung). Saluran ke-5 sama seperti saluran ke-4 hanya tujuannya ke pedagang pengecer lalu ke konsumen akhir.07 per kilogram. paling banyak berasal dari pedagang kecamatan yaitu Rp 600 dan pedagang pengumpul Rp 404.40 per kilogram. Total perolehan marjin Rp 1 004. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengumpul meliputi biaya transportasi untuk mencari kedelai sebesar Rp 33.33 dan pedagang pengumpul Rp 356. Saluran ke-8 sama seperti saluran ke-7 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengecer dan pedagang kecamatan yaitu masing-masing sebesar Rp 48. Total keuntungan Rp 907. total biaya tataniaga yang dikeluarkan sebesar Rp 97.

16 12. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 2 285.07 404.50 75.40 3 500.00 3 500. Dua.00 3 500.00 4 100.50 75.37 80.24 14.60 3 095.00 92.91 8.86 85.33 356.79 66.78 18.39 13.60 48.09 5.33 1 500.00 4 100.78 1.33 356.40 3 500.18 8.58 44.00 77.52 3 095.08 810.00 % Saluran 3 Harga (Rp/kg) 2 285.60 48.60 48.37 50. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.33 356.50 1.08 810.00 3 500.00 % 55.40 3 500.00 3500.00 543. Tiga.00 1.00 118.01 68.77 75. Pedagang Kecamatan Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.51 11.60 3 095.48 6.73 19.22 42.33 1 500.68 9.77 75.67 1 381.00 500.00 5 000.92 32.00 50. Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 1.67 551.19 13.70 19.08 810.43 71.83 21.74 5.72 Tabel 19 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.47 47.00 428.00 48.00 4 000.63 100.43 .85 1.07 404.08 810.00 118.00 3 500.33 600.86 0.67 1.07 404.22 53.64 11.62 46.00 600.45 14.78 50.15 0.60 3 095.60 9.00 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) 2 285.73 19.18 8.07 7.52 3 095.00 % Saluran 4 Harga (Rp/kg) 2 285.33 356.63 100.86 85.07 404.50 1.52 3 095.89 % Saluran 5 Harga (Rp/kg) 2 285. Pedagang Pengumpul Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.00 55.00 57.08 810.52 3 095.08 76.25 23.99 77.33 356.73 21.67 1 381.60 48.68 9.60 3 095.11 88.07 404.69 5.40 3 500.52 3 095.60 48.40 3 500.85 53.60 3 095.00 5 000.00 1.11 1.78 35.00 72.

40 3 404.00 165.89 1.40 6.00 1 235.00 4 500.37 22.43 4 000.00 100.93 55.57 21.62 4.13 24.73 Tabel 19 Lanjutan Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 5.00 6 400.93 24.00 3 495.54 75.40 11.50 2.43 2.00 5 000.00 435.55 44.92 1.00 76.00 97.40 9.64 20.50 279.10 7.00 65.36 17.40 8.00 1 400.29 48.00 3 125.00 907.44 9.00 600. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share 4 100.38 7 000.11 100.00 100.00 100.50 105.86 1.21 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) % Saluran 3 Harga (Rp/kg) % Saluran 4 Harga (Rp/kg) % Saluran 5 Harga (Rp/kg) % 5 000.00 1 500.58 68.00 4 100.00 77.00 71.40 3 904.78 .00 185. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 6.09 31.33 899. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 8.47 8.07 1 004.07 1 404.20 47.67 11.57 100.12 27.22 100.00 92.00 91.79 100.00 1 388.00 88.00 5.08 52.35 23.40 1 004.40 8.00 500.84 49.72 21.00 409.08 100.00 7 000.33 1 219.00 6 400.50 2.00 6 500.00 4.00 6500.00 523. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 7.35 75.00 112.00 4 500.

Total marjin yang diperoleh sebesar Rp 3 404. penyusutan Rp 7 dan biaya tenaga kerja Rp 25 per kilogram.40.07.07 paling besar berasal dari pedagang pengumpul Rp 356.40 per kilogram.40 dengan sebaran marjin di pedagang kabupaten dan pedagang pengecer yaitu masing-masing Rp 500 per kilogram dan pedagang pengumpul Rp 404. hal ini dikarenakan biaya tataniaga yang dikeluarkan sangat besar yaitu Rp 72 yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp 40. Total marjin tataniaga saluran 2 sebesar Rp 1 004 sama dengan saluran 1. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk tujuan pengrajin tahu/tempe yaitu biaya transportasi Rp 30. biaya pengemasan Rp 5 dan penyusutan Rp 7 per kilogram. Saluran tataniaga 4 merupakan saluran dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung melalui pedagang besar propinsi. pemasaran kedelai sampai ke konsumen akhir melalui pedagang pengecer.40 paling besar berasal dari pedagang . paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 600 dan pedagang pengecer Rp 404.33 dan pedagang pengecer sebesar Rp 65 per kilogram. Pedagang kabupaten memperoleh keuntungan sedikit. Pada saluran tataniaga 3.07 per kilogram. Total keuntungan tataniaga sebesar Rp 1 219.74 Saluran tataniaga 2 sama dengan saluran tataniaga 1. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 1 404.07 paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 543 dan pedagang pengecer sebesar Rp 365. hanya pada saluran 2 dari pedagang pengumpul kedelai dibawa ke pedagang kabupaten. Biaya tataniaga paling kecil dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 48. pedagang pengecer Rp 435 dan pedagang kabupaten Rp 428 per kilogram. Total keuntungan Rp 899. tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 10.

biaya tersebut terdiri dari biaya transportasi Rp 86.67 per kilogram. penyusutan Rp 7.75 kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing Rp 1 500 per kilogram. tenaga kerja bongkar muat Rp 20 dan pengemasan Rp 5 per kilogram. Total keuntungan sebesar Rp 3 125.67. Keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 356. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang kecamatan. Total keuntungan saluran tataniaga in sebesar Rp 863 dengan pembagian keuntungan pada pedagang kabupaten sebesar Rp 426 dan pedagang pengecer sebesar Rp 435 per kilogram. Biaya tataniaga yang dikeluarkan berkisar antara Rp 48. Pada saluran tataniaga 5 merupakan saluran yang sama dengan saluran 4 hanya tujuan tataniaga kedelai adalah konsumen akhir di daerah Bandung. Total marjin tataniaga yang diperoleh dari lembaga tataniaga sebesar Rp 4 904. Saluran tataniaga 6 (Tabel 20) merupakan saluran yang tujuannya sama dengan saluran tataniaga 3.40 paling besar keuntungan yang diperoleh pedagang propinsi sebesar Rp 1 388 per kilogram. Total marjin tataniaga Rp 1 000 dengan pembagian yang merata pada pedagang kabupaten dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 perkilogram (Tabel 19). hanya pada penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul.33 per kilogram. Marjin terbesar berasal dari pedagang kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing sebesar Rp 1 500 dan Rp 1 400 per kilogram.40 per kilogram. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang propinsi sebesar Rp 165 per kilogram dan biaya tataniaga terendah pada pedagang pengecer.07 sampai Rp 1 381. Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang kabupaten merupakan biaya terbesar yaitu Rp 72 .33 sampai Rp 118.

85 Saluran tataniaga 7 merupakan saluran yang sama dengan saluran 6 hanya tujuan penyaluran kedelai adalah pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.04 7.43 71.00 65.00 51.00 93.43 53.00 4.04 863.00 22.33 1.45 21.00 428.78 Saluran 7 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 4 000.00 .63 77.35 20.00 32.00 1.00 100.85 Saluran 8 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 5 000.50 1 395.00 104.00 7 000.91 3 400. Tabel 20 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam.48 1.89 3 500.25 3 500.41 18.43 50.06 2 801.57 9.50 1 405.00 435.08 100.61 21.00 423.00 3.22 6.43 5 000.00 3.62 23.25 3 500. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share Saluran 6 Harga % (Rp/kg) 2 301.47 23.00 90.11 100. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 3 000 dengan pembagian yang merata .76 dengan alokasi terbesar untuk biaya transporatsi Rp 40.42 1.00 94.4.15 16.00 91.00 75. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 5. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 6.00 500.00 6 500.00 4 500.88 17.86 3 074.43 4 000.32 1.67 11.00 199.44 9.00 72.00 154.79 20.50 1 500.50 1 500.00 6 500.09 3 000.50 1 405.75 1 198.00 100. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang Uraian 1.00 35.00 3 500.00 6 400.10 6.50 1 245.00 500.50 1 500.00 77.67 2. tenaga kerja Rp 25 dan penyusutan sebesar Rp 7 per kilogram.30 77.71 1. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.41 17.08 21.00 137.00 70.00 7 000.15 14.00 43.00 5 000.51 11.00 326.08 53.18 1 000.00 53.00 19. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.14 100.12 50.00 6 500.00 66.60 9.78 100.00 46.00 4 500.11 88.75 1 198.08 76.50 1 400.00 43.92 3 500.00 500.00 5 000.25 3 500. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.75 1 198.00 48.00 50.

5 dan pedagang pengecer sebesar Rp 423 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh Rp 3 400 dengan alokasi terbesar pada pedagang kabupaten sebesar Rp 1 500.5 sampai Rp 104.4. Total biaya tataniaga sebesar Rp 326 per kilogram dengan biaya terbesar pada pedagang propinsi. pangsa marjin diperoleh dari marjin tataniaga masing-masing lembaga dibagi total marjin tataniaga dalam bentuk persen. pedagang propinsi sebesar Rp 1 400 dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 per kilogram. Pangsa Marjin Berdasarkan sebaran marjin tataniaga kedelapan saluran tataniaga di atas.2 Pangsa Marjin dan Net Marjin a.5 per kilogram.5 per kilogram dengan alokasi terbesar untuk biaya transportasi dan penyusutan. Saluran tataniaga 8 merupakan saluran yang tujuan pemasaran kedelai sama dengan saluran tataniaga 5.5 pada pedagang kabupaten. Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang kabupaten sebesar Rp 1 405. 6. Keuntungan terbesar sebesar Rp 1 405. Biaya tataniaga berkisar antara Rp 94. Pangsa marjin digunakan untuk melihat besarnya marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. hanya penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul. pada pedagang propinsi Rp 1 245.77 pada pedagang propinsi dan pedagang kabupaten masing-masing sebesar Rp 1 500 per kilogram. maka dapat dilihat persentase pangsa marjin (Tabel 21) dan persentase net marjin (Tabel 22) yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masing-masing saluran tataniaga. Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan . Secara keseluruhan marjin tataniaga di setiap saluran tataniaga di kabupaten Cianjur cenderung tinggi.5 dan pedagang propinsi sebesar Rp 1 395.

86 50.36 Pangsa Marjin (%) Pedagang Pedagang Pedagang Kecamatan Kabupaten Propinsi 59.71 Total Pangsa Marjin 100. Saluran tataniaga yang efisien ditunjukkan oleh perolehan marjin yang merata di setiap pelaku pasar. Pada saluran tataniaga ini merupakan pangsa marjin terbesar dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas dan diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten.42 59.745 persen. pedagang kecamatan sebesar 38.37 50. Tabel 21 Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 40. .26 40. Pada saluran tataniaga satu dan dua terdapat dua pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul dan pedagang kecamatan/kabupaten.00 50.26 28.00 44.00 41.12 44.00 100.79 11. Tabel 21 menginformasikan pangsa marjin terbesar terdapat pada saluran tataniaga satu dan saluran tataniaga dua dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur yang diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten yaitu masing-masing sebesar 59.78 pada setiap pelaku pasar.00 100.88 10.18 Pedagang Pengecer 35.06 38.42 persen.00 100.00 Saluran tataniaga lima merupakan saluran terpanjang dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas yaitu melibatkan empat pelaku pasar.36 persen.00 100.74 44.00 100. net marjin dihitung dari keuntungan tiap lembaga tataniaga dibagi total keuntungan tataniaga dalam bentuk persen.00 14.08 35.60 15.00 100.00 100. Sebaran pangsa marjin pada saluran ini cenderung belum merata yaitu pedagang pengumpul sebesar 10.60 50.74 35.

18 45.00 100. Saluran tataniaga tujuh melibatkan pedagang kabupaten dan pedagang propinsi dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.39 35. net marjin terendah diperoleh pedagang pengumpul sebesar 10.59 50.33 49.29 Pedagang Kabupaten 60.76 persen pada saluran satu.41 13.52 Pedagang Pengecer 35.82 40..60 29. Saluran tataniaga enam dan tujuh merupakan saluran tataniaga tanpa melalui pedagang pengumpul.00 100. enam dan tujuh cenderung sudah merata.21 11.79 pedagang propinsi sebesar 35.96 50.39 10.24 persen dan pedagang kecamatan 60.86 persen dan pedagang pengumpul sebesar 15. Tabel 22 Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Net Marjin (%) Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 39. dan tertinggi pedagang kecamatan dan pedagang propinsi sebesar 43.00 100.76 Total Pangsa Marjin 100.00 .19 persen. terlihat dari pedagang pengumpul memperoleh 39.37 persen. Tinggi marjin pada setiap pelaku tataniaga karena tingginya biaya tataniaga yang dikeluarkan.41 35.76 44.19 Pedagang Kecamatan 60.00 100.00 100. dan melibatkan dua pelaku pasar dengan penyebaran pangsa marjin yang sudah merata yaitu masing-masing sebesar 50 persen. Saluran tataniaga lima yang merupakan saluran terpanjang.29 persen.19 43.68 14.24 39. b.11 49. Net Marjin Tabel 22 menginformasikan sebaran net marjin pada saluran tataniaga satu dan dua cenderung belum merata.00 100. Pelaku pasar yang telibat pada saluran tataniaga enam adalah pedagang kabupaten dan pedagang pengecer dengan tujuan tataniaga kedelai konsumen di Kabupaten Cianjur.72 Pedagang Propinsi 44.00 100. Sebaran net marjin pada saluran tiga.

40 31.33 4.00 5. Kecamatan .84 137.43 100.22 3 000. Pengumpul. Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang.40 55.00 B 85.43 100.4. 6. artinya semakin tinggi marjin tataniaga maka bagian yang akan diterima petani semakin rendah.00 19.86 Total Keuntungan 907.85 50.00 D E F Ket: .89 72. Berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang dibahas.15 3 400.00 48.21 3 404.92 71.57 185.43 88.62 44.89 100.00 100.00 100.00 46.12 279.38 3 904.00 91. C = Share P. Tabel 23 Total Marjin.00 4.18 2 801.40 24. B = Share P.A = Share Petani. pelaku pasar yang memperoleh pangsa marjin dan net marjin yang nilainya cenderung merata adalah pedagang kecamatan.00 88.93 1 219.50 1 004.57 Total Biaya 97.50 1 404. Hal ini karena tujuan pemasaran dari ketiga pedagang tersebut sudah ada. perolehan net marjin berbeda-beda tergantung kepada siapa mereka menjual kedelainya.78 53.Persentase share pelaku pasar berdasarkan harga jual di tingkat pelaku pasar dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen .00 76.09 3 125.92 71.93 863.80 Pada setiap saluran tataniaga.3 899.40 52.00 4. pedagang kabupaten dan pedagang propinsi.00 91.29 409.00 3.37 85.91 A 75.78 53.40 48.37 105.09 3 074. Berbeda dengan pedagang pengumpul dan pengecer.79 47.40 22.37 77.40 24.00 22.00 2. maka dapat diketahui tingkat Farmer s Share yang diterima petani (Tabel 23).04 199.07 21.00 C 100.00 3. Farmer s Share berhubungan negatif dengan marjin tataniaga.08 3 495.00 43.50 75.33 2.50 68.06 326.40 49.07 27. Tahun 2008 Saluran 1 Rp 2 3 4 5 6 7 8 % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Total Marjin 1 004.22 77. Total Biaya.78 1 000.43 100.00 43.3 Farmer s Share Farmer s Share digunakan untuk membandingkan harga yang dibayarkan konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase.85 50.

. Nilai rasio ini memberikan arti bahwa setiap satu rupiah perkilogram biaya tataniaga yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 14. F = Share P.4.49.81 . Dilihat dari nilai Farmer s share yang diperoleh pada setiap saluran tataniaga dapat diketahui bahwa saluran tataniaga yang efisien adalah saluran tataniaga enam karena dilihat dari total marjin tataniaga yang dikeluarkan rendah.4 Rasio Keuntungan dan Biaya Tingkat efisiensi tataniaga dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga. Bagian terkecil terjadi pada saluran tataniaga lima yang merupakan saluran tataniaga terpanjang dalam tataniaga kedelai dari Kecamatan Ciranjang ke konsumen akhir. Propinsi. Berdasarkan Tabel 23 diketahui nilai farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada terlihat masih rendah dibanding dengan bagian yang diterima pelaku tataniaga. E = Share P.87. nilai yang tinggi artinya keuntungan yang diperoleh semakin tinggi . Pengecer Nilai Farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada berkisar antara 44.87 per kilogram.22 sampai 77.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga paling tinggi terdapat pada saluran tataniaga tujuh dan delapan pada lembaga pedagang kabupaten yaitu sebesar 14. Hal ini menunjukkan posisi tawar petani masih lemah dibanding dengan pelaku tataniaga lainnya. Farmer s share terbesar terjadi pada saluran tataniaga enam yaitu sebesar 77. 6.D = Share P. Rasio keuntungan terendah terdapat pada saluran tataniaga tiga pada tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 5. Kabupaten.78 persen. Nilai rasio dapat dilihat pada Tabel 24.

26) 94.87 6 7 8 Pedagang Pengumpul Keuntungan 356.00 (13.36 4 356.61) 13.00 (7.50 (2.64 428.00 (21.00 (1.33 (13.07 (8.74) 7.35 1 245.45) 14.64) 165.48) 48.35) 14.07) 7.51) 72.53 428.51) 72 (1.49 9.00 (1.44) 6.91) 48.00 (2.00 (9.69 1 395.10) 5.79 435.47) 77.00 (1.72) 12.06 423.36 1 381.5 Alternatif Saluran Tataniaga Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai.50 (17.73) 118.50 (21.67) 65.33 Pedagang Kabupaten Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 7.00 (1.67 (1.33 (0.83) 11.25) 118.70) 11.60) 5.82 Tabel 24 Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.07 (Rp) (8.00 (1.68) Biaya (Rp) 48.33 (1.45) 48.36 1 381.36 6.09) 48.10) 6.48 523.07 (5.07 (5.44) 6.68) 48.04) 77.41) 8.00 (17.50 (1.19) Rasio /C 11.50 (1.67 (1.94 1 405.00 (6.67) 65.3 (21.00 (1.50 (20.33 (1.393 1 235.33 (1.00 (9.3 (19.64 543.18) Rasio /C Pedagang Kecamatan Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 551.36 3 356.67 persen.69 1 388.24) 57.87 1 405.22 persen) dengan volume barang 26.94 5 356.47) 104.50 (1.33 (0.60) 5.35) 112.39) Rasio /C Pedagang Propinsi Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C Pedagang Pengecer Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C 435.4.67 (1.07 (7.69) 7.36) 7. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki .50 (21. saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22. Tahun 2008 Lembaga Tataniaga Saluran Tataniaga 1 2 356.79) 154.18) 7.08) 94.00 (9.00 (9.00 (1.

78 persen.50 persen. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.54 per kilogram dengan volume kedelai 73. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masingmasing sebesar Rp 9. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.33 persen.35 dan Rp 8.30 per kilogram.50 persen dan farmer s share sebesar 75. Saluran tataniaga satu dan dua akan efisien jika petani berlokasi jauh dari pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten karena tidak mengeluarkan biaya angkut. . Alternatif saluran tataniaga yang juga dianggap efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua.83 farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.

Proses tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul. sedangkan di tingkat pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten harga ditentukan oleh pedagang besar propinsi. sehingga keuntungan lebih besar pada level pelaku pasar yang lebih tinggi. Petani hanya melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fisik. pedagang propinsi dan pedagang pengecer.1 Kesimpulan 1. Sistem pembayaran . fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Di Kecamatan Ciranjang kegiatan budidaya kedelai masih belum dilakukan dengan intensif 2.28 artinya setiap masukan untuk usahatani kedelai memberikan penerimaan sebesar Rp 1. 3.37 ton per hektar. pedagang kecamatan. Penentuan harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul ditentukan oleh pedagang besar. Posisi tawar yang miliki petani masih rendah dibanding pelaku tataniaga. Saluran tataniaga yang terbentuk ada delapan saluran tataniaga kedelai dengan setiap pelaku pasar melakukan fungsi tataniaga seperti fungsi pertukaran. Biaya usahatani kedelai paling besar dialokasikan untuk benih dan pupuk. Usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang pada saat kebijakan tarif impor ditiadakan secara ekonomis masih menunjukkan kelayakan untuk dikembangkan karena memberikan nilai R/C rasio sebesar 1.28. pedagang kabupaten.84 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Produktivitas kedelai di kecamatan Ciranjang 1.

4. Hal ini terlihat dari perolehan total marjin yang paling rendah yaitu Rp 1 000. Saluran tataniaga kedelai yang memberikan keuntungan adalah saluran tataniaga enam dengan volume 26. Pengusahaan budidaya kedelai yang belum dilakukan dengan intensif oleh petani sehingga hasil yang diperoleh masih rendah memerlukan pembinaan lebih lanjut oleh petugas penyuluh pertanian. agar pendapatan petani dapat meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Petani dalam melakukan budidaya kedelai sebaiknya membuat perencanaan penanaman sehingga musim tanam berikutnya tidak terganggu dan panen polong muda dapat dihindari. 2. .2 Saran 1.85 yang terjadi umumnya nota dan tunai. Petani dalam memasarkan hasilnya sebaiknya berkelompok sehingga dapat dijual langsung ke pedagang kabupaten dengan harga yang lebih tinggi dan biaya transportasi dapat ditanggung bersama. Kerjasama antara pelaku pasar umumnya dalam bentuk pinjaman modal. Selain itu. farmer s share paling tinggi sebesar 77. 7. saluran tataniaga ini juga memperlihatkan pangsa marjin dan net marjin yang cenderung sudah merata di setiap tingkat lembaga tataniaga.78 persen dan B/C ratio sebesar 6.67 persen.30.

Prentice Hall. Rachman. Bogor. Larreche J C. Nurmanaf. New Jersey. A dan Diah R. Jawa Tengah.86 DAFTAR PUSTAKA Azzaino. Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kedelai dengan Kebijakan Tarif Optimal. A M. Fakultas Pertanian. Jakarta Barat. H W. Manajemen Pemasaran. Pemerintah Kabupaten Cianjur. P. Pengantar Mikroekonomi Jilid 2. Z. Erlangga. Bogor. Kotler. 1997. 2007. 1987. Manajemen Pemasaran. R. Boyd. FAE Vol 5. Skripsi. 1983. 2000. 1977. 2005. Pengantar Tataniaga Pertanian. Bogor. Jakarta. Hal 45-53. Institut Pertanian Bogor. et al. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif serta Dampak Kebijakan Pemerintah Pada Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Boyolali. 1996. 2007. Universitas Indonesia. R. Institut Pertanian Bogor. Puspodewi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 2007. Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. . A R. 2004. Laporan Tahunan 2001-2006. H. Penebar Swadaya. Jambi. Ed 2. Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. The Agricultural Industries. Walker O C. McGraw-Hill Book Company. Jakarta. Inc. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Ekonomi Pertanian ( Pengantar. 2007. Nuryanti. D. S dan R Kustiari. Penguatan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Mendukung Pengembangan Agribisnis Kedelai. Departemen Pertanian. Dahl C D and Hammond J W. Rohim. Inc. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Bogor. Elizabeth. Hanafiah dan Saefuddin. Tataniaga Hasil Perikanan. Ed 11. Fakultas Pertanian. Market and Price Analysis. et al. Kedelai dalam Kebijaksanaan Pangan Nasional dalam Ekonomi Kedelai. Teori dan Kasus). 1982. Jalur Pemasaran Kedelai di Daerah Transmigrasi. Binapura Aksara. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. IPB Press. Jakarta. Lipsey.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Hal 67-77. Permintaan Impor Kedelai Indonesia dari Amerika Serikat dan Aliran Impor Kedelai ke Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Surifanni. Analisis Usahatani.87 Rukmana. Saptana. UI Press. Kedelai. Aspek Produksi dan Tataniaga Kedelai di Jawa Timur. Fakultas Pertanian. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Skripsi. Rusastra. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Budidaya dan Pascapanen. Yogyakarta. . Aspek Produksi dan Pemasaran Kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri). D M. FAE Vol 10 dan 11. Soekartawi. 2004. Pusat Analisis Sosial Ekonomi Pertanian. R dan Yuyun Y. 1993. 1995. Departemen Pertanian. 2006. Departemen Pertanian. Kanisius. et al . Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. 1992. Hal 8-18.

.

JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .90 ANALISIS USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN CIANJUR. JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PETANI KEDELAI Nama Petani : _______________________________ Desa : _______________________________ Kecamatan : _______________________________ Kabupaten/Kota : CIANJUR .

Pekerjaan sampingan : __________________________ e._________________ 3.Lantai Penjemuran . KARAKTERISTIK PETANI 1.Pompa Air .Perontok kedelai .1) b. transportasi dan ternak Jenis asset yang dimiliki 1.MILIK 2. Alat Pertanian . Ternak . Penguasaan Aset Pertanian a.Sepeda . Penguasaan aset lahan Luas (ha) Status Penguasaan Sawah Tegal Kebun Pekarangan Kolam Lainnya Total (ha) 1.1. Anggota keluarga yang membantu usahatani : _________ Orang 1.LAINNYA TOTAL .Hand sprayer .2. Pekerjaan utama : __________________________ d.Sapi/kerbau . SAKAP 3.Kambing/domba ._________________ 2. Identitas Kepala Keluarga a. GADAI 5.Kendaraan roda 4 . Pendidikan : ________ tahun c. SEWA 4. Umur : ________ tahun b._________________ Ket : 1) Status kepemilikan Jumlah (unit) Kapasitas pakai Ket. Sarana Transportasi .91 I. Jumlah anggota keluarga (di luar KK) : _________ Orang f. Penguasaan alat pertanian.Sepeda motor .

_________________ .3. Cara/frekuensi b.Manusia 2.1. Pengolahan tanah a. Pestisida .4. Pola tanam per tahun : ________________________ 2._________________ 1) Termasuk insektisida. Jarak tanam kedele: : ________________________ Masukan usahatani kedelai Jenis Sarana Produksi Jumlah (Kg/Lt) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 1.___________________ 3.92 II. Benih/Bibit 1) 2. Jumlah tenaga kerja . MASUKAN DAN PENGELUARAN USAHATANI KEDELAI 2.UREA . Lainnya .NPK .5.TSP/SP-36 . Luas persil yang dianalisis : _______ ha Pilih persil yang ditanam kedele 2.Manusia Keluarga Nilai HOK (rp) Luar keluarga Nilai Borongan (rp) (rp) HOK -P -W -P -W . rodentisida. Jumlah tenaga kerja -Tenaga Ternak .KCL . Jenis Varietas kedele : ________________________ 2. Cara tanam b.2. Penanaman a. 2.___________________ . Masukan tenaga kerja usahatani kedelai Jenis Kegiatan 1. dll. fungisida.Pupuk Kandang . Pupuk .ZA .___________________ 4.

Manusia Ket : 1) Keluarga Nilai HOK (Rp) HOK Luar keluarga Nilai Borongan (Rp) (Rp) -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W Pupuk kandang dan pupuk buatan 2.Manusia 6.6.93 Lanjutan Tabel 2. Jumlah tenaga kerja . Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja . Jumlah tenaga kerja . Iuran desa 4.Manusia 3. Jumlah tenaga kerja . Jumlah tenaga kerja . Penyiangan/dangir a. Pengeringan a. Jumlah tenaga kerja .5. (Masukan tenaga kerja usahatani kedelai) Jenis Kegiatan 3. Pengairan a. Lainnya: _________________ Nilai (Rp) . Cara/frekuensi b. Biaya lain-lain untuk usahatani kedelai (Rp/musim) Uraian 1. Jumlah tenaga kerja . Panen/angkut a. Pemupukan1) a. Perontokan a.Manusia 7. Pajak lahan yang dianalisis 6. Cara/frekuensi b.Manusia 5. Iuran kelompok tani 3. Pengendalian HPT a. Cara/frekuensi b.Manusia 4. Cara/frekuensi b. Cara/frekuensi b. Cara/frekuensi b.Manusia 8. Sewa pompa 2.

INFORMASI USAHATANI KEDELAI Sumber dan cara perolehan sarana produksi Jenis Sarana produksi 1.7. Sendiri.NPK . Lainnya: _________ 3. 3.1. 4.Lainnya: ________ 2) Cara perolehan: 1. Pedagang hasil. Sebutkan permasalahan utama yang dihadapi bapak dalam usahatani kedelai dari aspek: a.TSP/SP-36 . Pestisida ______________ ______________ 4. Sebutkan jenis-jenis sarana produksi (Benih.Pupuk Kandang 3.94 2.3. Polong basah c. Iklim (kekeringan) . Yarnen. Petani lain. 2. Bayar tunai.ZA . 3. Pupuk . Total produksi dan nilai produksi Bentuk produksi a. Pengadaan sarana produksi: ___________________________________________________________________ b. 3. 2. pupuk dan pestisida) yang dibutuhkan tetapi sulit diperoleh:: ___________________________________________________________________ _____________________________________________________ 3.2. Lainnya: _______________ _______________ Sumber1) Cara2) mendapatkan Harga (Rp/satuan) Bunga (%/th) Volume (Kg/Ikat) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Ket : 1) Sumber: 1. 5.KCL . Kredit/pinjam. Benih 2. OCE kering b. 4. Lainnya Total III. Kios saprotan.UREA .

Gangguan HPT (Hama Penyakit Tanbaman) ___________________________________________________________________ d.95 ___________________________________________________________________ c. Lainnya: ___________________________________________________________________ . Pemasaran (harga jual) ___________________________________________________________________ e.

2. 2. 3. 1) Satuan Jenis pembeli 1) Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi2) transaksi Cara 3) transaksi Cara4) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Ket : Jenis pembeli: 1=pedagang besar.Bayar tunai.Lainnya 7. 3 =Di tempat pembeli. 6.1. TK. Penjualan: a. 3=pedagang pasar induk/tradisional. PEMASARAN KEDELAI 4. TK Bongkar-muat 6. Lainnya Total (a+b+c+d): 2. Bayar dimuka.dsb. 4. OCE kering d. 5=Pedagang pengecer. Lainya: __________ .96 IV. Di tempat pembeli. 4 =Lainnya: __________ 3) Cara transaksi: 1.Lainnya: ____________ 2) Lokasi : 1 =Di kebun. 2=supplier. 2 =Di tempat penjual.Barang diterima di tempat penjual. 4.wadah. Biaya angkutan 3. Lainnya: _________ 4) Cara pembayaran: 1.Bayar kemudian. Karung. Retribusi 5. 3. Volume dan nilai penjualan (rataan satu bulan) Uraian 1.

Bagaimana upaya Bapak agar selalu memperoleh harga jual yang menguntungkan? _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5.5. Pedagang 3. Ya 2. dari mana sumber informasi tersebut: 1. Ya 2. Apakah dalam penjualan hasil.97 V.3. Apa kendala petani untuk dapat akses kepada pelaku pemasaran tertentu: a. Menjual ke Supplier (Supermarket.Ya 2. Menjual ke Pedagang Besar: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ b.Tidak Jelaskan: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. INFORMASI PEMASARAN 5.1. Tidak Jika ya. Lainnya: ________ 5.4. Menjual langsung Supermarket: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ d Menjual ke pasar pengecer: _________________________________________________________________ _____________________________________________________ 5. eksportir) ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Petani lain 2. petani dapat memilih kemana saja sesuai keinginan: 1. apakah Bapak memperoleh informasi harga? 1. Tidak Bila ya.2. Kelompok tani 4. jelaskan cara kerja sama tersebut: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ . Sebelum melakukan penjualan hasil. Apakah ada kerjasama antara petani dengan pihak lain termasuk pedagang dalam hal pemasaran hasil : 1.

Pegadaian .98 5.Pelepas uang . Apakah bapak melakukan pinjaman untuk kebutuhan modal usahatani: 1.Kios saprotan .6.Famili Jumlah (Rp) Bunga (%/th) Lama pinjaman (bln) Total pengembalian (Rp) .Kredit Program 2. isikan: Sumber modal/ Musim Tanam 1. Ya. Kredit Formal . 2.Tidak Bila ya. Kredit Informal .Pedagang hasil .Bank .

JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PEDAGANG KEDELAI Jenis Pedagang Pilih yang tepat 1. Pedagang Pengumpul Luar Desa 3.99 ANALISIS TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. Pedagang Pengecer 6. Pedagang Pengumpul Desa 2. Pedagang Besar 4. Supplier 5. Lainnya: ________________________ Nama Pedagang Bentuk Usaha Desa/Lokasi Kecamatan Kabupaten/Kota : _______________________ : _______________________ : _______________________ : _______________________ : CIANJUR – JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . KABUPATEN CIANJUR.

Fasilitas yang dimiliki pedagang: Jenis Fasilitas 1.3.4 Jenis produk lain yang diperdagangkan selain kedelai: _________________________________________________________________ 1.5.1. Umur responden 1. Mulai kegiatan dagang : Tahun __________ 1. Sepeda motor __________________ __________________ __________________ __________________ Jumlah (unit) Total Total Nilai (Rp) . Pendidikan : _________ Tahun : _________ Tahun 1. Alat timbang 5. IDENTITAS PEDAGANG 1. Kendaraan roda empat 7. Kendaraan barang 8.100 I. Gudang simpan 2. Kendaraan roda dua 6.2.

Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok pedagang (rataan per tahun) Sumber/pemasok komoditas Pembelian bahan baku Pengumpul Desa Pengumpul luar desa. Kelancaran pembayaran _______ ____________________ d. Bagaimana usaha responden untuk membina kelangsungan hubungan kerja dengan petani pemasok bahan baku: Jenis pembinaan Ya/Tidak Penjelasan a. Besar Kab/Prop Pasar Induk Lainnya a.(Rp) 5. Tempat penerimaan barang 1) 3.Harga (Rp/ku) . Pengemasan (Rp) 8.Volume (Ku) . Lainnya: _____________ _______ ____________________ .Volume (Ku) .4. 2. Ada kakitangan di lapangan _______ ____________________ e.Harga (Rp/ku) . dsb.Volume (Ku) . TK lainnya (Rp) 7.Harga (Rp/ku) .Nilai (Rp) 2. Hadiah _______ ____________________ c. Lainnya: __________ 2) Termasuk pungutan/retribusi di jalan/di tempat penjualan 2.Nilai (Rp) b. Karung/wadah. Lainnya .3. Biaya angkut (Rp)2) 4. TK bongkar-muat (Rp) 6. 3. Retribusi&lainnya (Rp) 9. OCE kering .Di tempat pembeli. Biaya lain (Rp) Total biaya (3 s/d9): Ket : 1) Isikan: 1 = Di temapat penjual. Bantuan modal _______ ____________________ b.Nilai (Rp) Total Pembelian (a s/d d): .101 2. Pdg.

Karung. Petani: _______ %. Retribusi 5.102 II. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok petani (rataan per bulan) Uraian 1. 3. Bayar dimuka. Pembelian: a. Bentuk OCE b.Lainnya 7.Bayar tunai. TK Bongkar-muat 5. 2 = di rumah petani. Lainya: _________ 3) Cara pembayaran: 1.Bayar kemudian.wadah. Lainnya = _______ %.dsb. Pedagang = _______ %. 2.1. 4. Biaya angkutan 3.Total perolehan: ________ Ku/tahun b. TK. Sumber perolehan : Sendiri = _______ %. 4 = di rumah pedagang 2) Cara transaksi: 1. Lainnya Total (a+b+c+d): 2. 3 = di jalan. Di tempat pembeli.Barang diterima di tempat penjual. 4.2. 2. Lainya: __________ . 1) Satuan Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi1) transaksi Cara 2) transaksi Cara3) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Rp xxx xxx xxx Lokasi : 1 = di kebun. 2. Volume dan sumber perolehan bahan baku rataan per bulan a. 3. ASPEK PENGADAAN/PEMBELIAN BAHAN BAKU KOMODITI KEDELAI 2.

Grading. Jenis penanganan hasil 3) xxx xxx 4. Wadah/Paking xxx xxx c. 2. Produk Pembelian 1) Kelas OCE Lainnya Volume (Ku) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 2.103 III.Labeling. Biaya penanganan hasil (Rp): xxx xxx a.1. Hasil penanganan (siap jual) 2) OCE Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 3. Tenaga Kerja xxx xxx b. 4.Sortasi. Biaya penanganan hasil Jenis kegiatan 1. BIAYA PENANGANAN HASIL SAMPAI SIAP JUAL 3. Lainnya: _______ . Paking. Penyusutan xxx xxx _________________ xxx xxx _________________ xxx xxx Total (4): xxx xxx Ket : 1) Sesuai volume pembelian (rataan per bulan) 3) Perubahan volume karena kegitanan penanganan hasil (sesuai permintaan pasar) 3) Kegiatan pengolahan: 1. 5. 3.

Pedagang besar 6. 3.Ditimbang. Kelompok tani/kemitraan 7.Panjar. retribusi.Di sawah.Basah. 2= langganan. 2. 3. 3.Byar kemudian. 7) Alasan memilih pembeli: 1=Hubungan kemitraan. karung.Tebasan. 5.Di rumah petani. 2. dsb. Lainnya: _____________ Keterangan: 1) Kualitas: 1.104 IV.Ijon. bongkar muat.Lainnya_____________ 3) Cara jual: 1. 5=Harga beli paling mahal. 4. 4. 2. 3=Ikatan pinjaman kredit.Di tempat pembeli.Tunai.Lainnya____________________ Bentuk hasil 1) Volume (kw) Tempat penyerahan 2 Cara jual3) Waktu jual 4) (HSP) Cara Bayar5) Biaya penjualan6) Alasan memilih pembeli 7) .Lainnya________________ 6) Biaya penjualan: mencakup ongkos angkut.Lainnya: _________ 2) Tempat penyerahan barang: 1. 3. 2.Pengumpul desa 2.Di pasar.OCE. PEMASARAN KEDELAI 4. 4. tenaga kerja. Cara pemasaran hasil Jenis Pembeli 1. 6. 4=Hubungan kekeluargaan.Lainnya ________________ 4) Waktu jual _______ HSP = Hari setelah panen 5) Cara bayar: 1.1. Pengumpul luar desa 3.

Saran Kebijakan responden agar pemasaran kedelai akan lebih baik: _____________________________________________________________ ________________________________________________________ . PERMASALAHAN PEDAGANG 5.2. Kecukupan jumlah: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ b. Permasalahan dalam pengadaan/pembelian kedelai: a.1. Angkutan/transportasi: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ 5.105 V. Kontinyuitas suplai: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Kualitas hasil: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ d.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->