ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

Oleh NORA MERYANI A 14105693

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN NORA MERYANI. Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di bawah bimbingan RAHMAT YANUAR. Peranan sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia, sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai perkapita pertahun mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1996-2005, rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.3 juta ton pertahun. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Kecamatan Ciranjang merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Kenaikan harga kedelai impor memberikan dampak yang positif terhadap budidaya kedelai di dalam negeri. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat pendapatan usahatani kedelai, mengkaji saluran tataniaga, struktur pasar dan permasalahan yang ada di setiap pelaku pasar dan menganalisis tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Hasil analisis usahatani dan tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani, sebagai pengambil keputusan. Karakteristik petani mencakup umur, tingkat pendidikan, luas dan status penguasaan lahan, dan kepemilikan alat pertanian serta ternak. Umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun, mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.57 tahun dengan rataan pendidikan 4.3 tahun. Rata-rata luas sawah yang diusahakan sebesar 0.778 hektar per petani dan mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.00 persen). Petani yang memiliki hand sprayer (36.67 persen), biaya sewa hand sprayer Rp 5 000 per hektar, sewa pompa air Rp 20 000 per hektar, dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000 per tiga kuintal kedelai. Petani yang memiliki usaha sampingan hewan ternak sebesar 10 persen. Di Kecamatan Ciranjang, rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1.37 ton per hektar, sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit, pupuk dan pestisida, upah tenaga kerja, sewa alat dan pajak. Biaya usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua

iii

(Rp 3 312 778.73 per hektar). Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Berdasarkan analisis usahatani kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda, total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.84 dan total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.73. R/C rasio yang diperoleh petani yang panen polong tua (1.35) dan petani yang panen polong muda (1.27). Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.27 untuk polong muda. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, ada dua saluran tataniaga yaitu saluran tataniaga kedelai polong muda dan saluran tataniaga kedelai polong tua. Saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai tujuan yang sama, yaitu dari petani kedelai dibawa ke pedagang pengumpul, kemudian kedelai tersebut dibawa ke pedagang pasar induk parung. Di pedagang pasar induk, kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan konsumen akhir. Di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga polong tua yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Struktur yang dihadapi antara petani dan pedagang pengumpul, petani dan pedagang kecamatan, serta antara petani dan pedagang besar adalah persaingan dan oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah persaingan dan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang kecamatan/kabupaten adalah oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi antara pedagang besar (kecamatan dan kabupaten) dan pedagang propinsi, dan antara pedagang besar dan pedagang pengecer mengarah ke pasar oligopoli dan persaingan. Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai, saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.22 persen) dengan volume kedelai 26.67 persen. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.30 per kilogram. Alternatif saluran tataniaga yang dianggap juga efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua dengan volume kedelai 73.33 persen. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masing-masing sebesar Rp 9.35 dan Rp 8.54 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.50 persen dan farmer s share sebesar 75.50 persen.

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. JAWA BARAT Nora Meryani A 14105693 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Manajemen Agribisnis PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . KABUPATEN CIANJUR.

Dr. M. 131 124 019 Tanggal Kelulusan: .Ir Didy Sopandie. MSi NIP. 132 321 442 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. SP.Judul Penelitian Nama Mahasiswa Nomor Pokok : Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.Agr NIP. Jawa Barat. Kabupaten Cianjur. : Nora Meryani : A 14105693 Menyetujui Dosen Pembimbing Rahmat Yanuar.

JAWA BARAT INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. September 2008 Nora Meryani A 14105693 . Bogor. KABUPATEN CIANJUR.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG.

Bapak Rosidi. 7. SP. Fida. sehingga skripsi ini dapat selesai. Mirror. Are The. Ungky. Y’Ayon. Mini. Ir Yayah K Wagiono. 6. Ria. 4. Ewie dan Ucie yang telah memberikan kritik. Bapak Usep. 3. dan D’Anda yang sudah memberikan do’a dan dorongan. Bapak Acep. saran dan persahabatan yang indah. Lala. Tanti Novianty. MSi selaku dosen evaluator yang telah memberikan kritik dan masukan. Y’Merry. MEc selaku dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi ini. . Rahmat Yanuar. 2. dorongan dan masukan-masukan yang diberikan selama penelitian dan penulisan. MSi selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan. Bapak Asep. SP. M’Andi R. love you all. atas bantuannya dalam memperoleh data primer dan data sekunder. Arief Karyadi Uswandi. 5. Bapak Dadi.UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini: 1. dukungan dan kasih sayang yang tiada habisnya yang diberikan kepada penulis selama ini. 8. Papa dan Mama atas segala do’a. Bapak Asep Usman dan Teh Rina dan yang lainnya. SP selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi. RT Siregar. K’Dayat.

Dian. Wildan dan teman seperjuangan lainnya atas persahabatan dan dukungan kepada penulis selama ini. Sandra. Santi. Mira. September 2008 Nora Meryani . Ola. Edy. Bogor. Arfan. Aputz. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis.viii 9. Zibril. Indra. amien. 10. Fajar. Penulis mendo’akan semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya dan senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya.

.................... 9........... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak. Pestisida............... Propinsi Jawa Barat... 13.. Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 ... Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah .................... 16.... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten.................................. 8...... Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai...... 4..................... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian 15...... Luas Panen...............ix DAFTAR TABEL No 1................... 3................................................. 6................ 14.......... Luas Tanam.......... 10..... 11.............................................................................................................. Luas Tanam................. Tahun 2006 ..... Luas Panen............. Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu ............................... Luas Tanam.. Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah ............ Biaya Pupuk... 5............... Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007.............. 2.. 18....... Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai.... Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar . Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli .... Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai .......... 12....... 17....... Halaman 2 3 4 4 5 20 26 36 42 47 48 48 49 49 50 53 55 61 ...... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006.......... Luas Panen.................. Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 .. 7................ Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006......... Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan .. Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur ...

. 20.................. 72 76 78 79 80 82 ...... Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam............. Tahun 2008...................... Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga ...... Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang....... Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang..................... Total Biaya........... Tahun 2008 ...x 19.................................... Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang ...... 24...................... 23. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang ........... Tiga..................... 21.. Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga..... 22............ Total Marjin... Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.. Dua...........

....... Halaman 89 96 . Margin Tataniaga ............................................. Kuisioner Analisis Usahatani Kedelai .................................................................................. Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai ......... 2.xi DAFTAR GAMBAR No 1........................... 3................. Halaman 27 33 58 60 DAFTAR LAMPIRAN No 1............. Kuisioner Analisis Tataniaga Kedelai ..................................................................................................................... 2.............. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda......... Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua.. 4...

2 persen maupun dalam perekonomian. ubi-ubian dan kacangkacangan (kedelai. mengandung zat anti oksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengan.id.8 persen pada tahun 2007. Mekanisme Pengadaan Pangan dan Pupuk di Propinsi Jawa Tengah. 7 Mei 2008.1 Sektor pertanian yang mempunyai peranan yang strategis dan penting adalah sektor tanaman pangan.4 persen terhadap pertanian secara keseluruhan. lemak. 17 Mei 2008. kacang tanah. jagung.go. . 2008. seperti yang tercermin pada peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDB sekitar 13. Kedelai merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya. Sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. http://www. 2007. Tanaman pangan merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan makro manusia terhadap karbohidrat.balitbangjateng. serelia.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan regional.1 I PENDAHULUAN 1.2 Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung.id. Produk Domestik Bruto. sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. kacang hijau.bi. Tanaman pangan meliputi padi.go. Peranan tersebut terlihat dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 41. Subsektor tanaman pangan mempunyai peranan sekitar 49. kacang tunggak dan kacang koro). dan protein yang berasal dari bahan pangan nabati. 1 2 Bank Indonesia. http://www.

2002.2 persen. minyak.3 juta ton pada periode tahun 1996-2005 (Tabel 2). sedangkan volume ekspor tumbuh rendah yaitu 1. Negara yang menjadi tujuan ekspor kedelai terbesar adalah Australia.3 Konsumsi kedelai per tahun cenderung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Tetapi nilai ekspor tumbuh tinggi sebesar delapan persen per tahun. http://www. 2008 **Badan Litbang Pertanian.7 Konsumsi Total** (Ton) 2 015 000 2 122 000 2 179 000 2 234 000 Pertumbuhan(%) 9. yogurt.7 persen dari tahun sebelumnya. Tabel 1 Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Produksi* (ton) 723 480 808 350 746 610 592 381 Pertumbuhan (%) 11. Kedelai.2 persen per tahun. tauco. kecap.go.7 -7.2 8. 3 Departemen Pertanian. susu kedelai. Deptan.4 dan 7. oncom. sehingga mengalami peningkatan nilai tambah tinggi. Pada tahun 2007 penurunan produksi sampai 20.deptan.2 Konsumsi penduduk Indonesia terhadap kedelai berupa hasil olahan (seperti tempe. India. tahu. sehingga pada tahun 2007 mencapai 2 000 000 ton. Volume dan nilai impor kedelai masingmasing tumbuh sebesar 8.litbang. selanjutnya konsumsi meningkat rata-rata 8. Jepang.4 Sumber : *BPS. . 2008 Setiap tahun rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2. Netherland dan Singapore. keripik).0 8.id. Hal ini menunjukkan kedelai yang diekspor berupa produk olahan.7 persen per tahun.9 persen per tahun. Pada tahun 2005 meningkat 9. Sementara kondisi produksi kedelai nasional berfluktuasi (Tabel 1). Saudi Arabia. mentega.6 -20. Hal ini mengindikasikan peningkatan ketergantungan terhadap kedelai impor. dan bahan baku pakan ternak. 31 Januari 2008.

2008. 4 5 Departemen Pertanian. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi non farm atau petani yang beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. Ciamis. Ekspor Kedelai Pernegara Tujuan.3 Tabel 2 Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Volume (ton) 1 705 583 1 532 112 1 033 802 2 227 321 2 568 565 2 728 358 2 716 641 2 773 668 2 881 735 2 982 986 3 121 334 Impor Nilai (000 USD) 530 582 518 860 273 776 475 158 558 737 611 140 591 121 706 753 967 957 801 779 838 390 Ekspor Volume (ton) Nilai (000 USD) 7 596 12 013 21 987 13 812 13 474 17 109 8 279 8 789 3 606 4 490 5 808 6 569 6 018 6 211 6 080 8 406 Sumber : Deptan. seperti jagung dan sayuran. Indramayu. yaitu (a) Peningkatan produktivitas. Tasikmalaya. dan (d) Penguatan kelembagaan dan dukungan pembiayaan. Sumedang. 2006). 2008. Sukabumi. http://ditjentan.id.go.go. Team TP. (c) Pengamanan produksi. http://database. 4 Februari 2008.id/bdspweb. 1 September 2008.deptan. Daerah yang berpotensi untuk pengembangan kedelai di Jawa Barat adalah Garut. Kuningan dan Majalengka (Dinas Pertanian Jawa Barat. Cianjur.deptan. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. 20074 Program Peningkatan Kedelai Nasional Tahun 2008 untuk mendorong peningkatan produksi kedelai nasional dilakukan melalui beberapa strategi. . walaupun produksi yang dihasilkan cenderung mengalami penurunan (Tabel 3). (b) Perluasan areal tanam. 5 Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia.

2007 (diolah) .34 12. luas panen.93 14. Propinsi Jawa Barat.25 2005 4 591 5 016 6 710 1. tahu dan tempe). Hal ini terjadi karena pada tahun 2003. Luas Panen.60 13. baik sebagai produk primer maupun sebagai produk sekunder (olahan) yang telah lama dikembangkan di Kabupaten Cianjur (seperti tauco. Tabel 4 Luas Tanam.45 14. 2006 (diolah) Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten.80 Sumber: Dinas Pertanian Jawa Barat. Selain itu. Luas Panen.14 2004 6 926 6 617 10 125 1.95 13.36 12. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Garut Cianjur Ciamis Sukabumi Indramayu Tasikmalaya Sumedang Kuningan Majalengka Luas Tanam (Ha) 5 979 4 499 2 750 1 419 1 156 1 128 937 837 657 Luas Panen (Ha) 5 891 3 034 2 395 927 1 095 895 903 761 614 Produksi (Ton) 7 925 4 431 3 336 1 335 1 682 1 159 1 191 863 786 Produktivitas (Kw/Ha) 13. Kabupaten Cianjur memiliki prospek pengembangan kedelai.10 2003 1 434 1 563 1 020 1. Luas tanam.14 2006 4 518 4 460 6 086 1.25 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. harga gabah dan harga beras di pasar mengalami peningkatan akibatnya banyak petani yang melakukan pola tanam padi-padi-padi. produksi dan produktivitas kedelai di Kabupaten Cianjur periode tahun 2001 – 2006 cenderung berfluktuatif (Tabel 4).4 Tabel 3 Luas Tanam.40 15. Produksi kedelai di Kabupaten Cianjur cenderung mengalami peningkatan. tetapi pada tahun 2003 mengalami penurunan.09 2002 5 844 5 812 6 788 1. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No 1 2 3 4 Keterangan Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2001 6 451 6 672 7 952 1.19 11.

83 995.67 101.67 1 272.00 Produksi (Ton) 1 736.372 1. sehingga terjadi penurunan luas areal tanam sebesar 1.157 1.00 201. sehingga ada penurunan luas panen sebesar 66.33 261. Kecamatan di wilayah utara. Demikian pula luas panen kedelai tahun 2007 adalah 1 506 ha.180 1 2 3 4 5 6 7 8 Ciranjang Sukaluyu Bojong Picung Tanggeung Kadupandak Sindang Barang Cidaun Leles Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.381 1. Sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur terdapat di beberapa kecamatan di wilayah utara dan wilayah selatan (Tabel 5). Sentra produksi di wilayah selatan adalah Kecamatan Sindang Barang.83 1 482. Tabel 5 Luas Tanam.33 1 145.50 Luas Panen (Ha) 1 237.173 1.32 ton per hektar.60 1 072.67 165. sedangkan kontribusi dari wilayah tengah terutama Kecamatan Tanggeung dan Kadupandak tidak terlalu besar (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.27 persen.83 224.83 103.83 202.33 178.97 persen dibanding tahun 2006.50 184.17 881. sedangkan produktivitas hasil tahun 2007 sebesar 1.23 persen dari tahun 2006. 2007). Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No Kecamatan Luas Tanam (Ha) 1 164.338 1.50 119.17 349.00 297.17 218. Luas Panen. Produksi kedelai tahun 2007 sebesar 1992 ton sehingga terjadi penurunan sebesar 67. sentra produksi kedelai periode tahun 2001-2006 adalah Kecamatan Ciranjang.141 1. Penurunan ini disebabkan pada periode tanam kedelai tahun 2007 terjadi kekeringan (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.5 Luas tanam kedelai pada tahun 2007 adalah 4 429 ha. namun pada tahun 2007 Kecamatan Sukaluyu produksi kedelai mengalami penurunan. Sukaluyu dan Bojong Picung. 2007 (diolah) . Cidaun dan Leles.00 276.176 1.50 Produktivitas (Ton/Ha) 1.50 194. 2007).

sehingga konsumen sulit . Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk. (b) peraturan yang memperbolehkan hal tersebut. Kedelai impor dapat membanjiri pasar kedelai dalam negeri disebabkan hal-hal sebagai berikut: (a) adanya pasar yang besar sampai ke tingkat desa. Bagi konsumen akhir dampaknya adalah semakin mahalnya harga produl-produk olahan berbahan baku kedelai. Dampaknya produsen tahu. (c) adanya pihak atau institusi atau organisasi yang menangani dengan baik karena mendapat insentif yang besar. 1.6 Budidaya kedelai di Kabupaten Cianjur merupakan tanaman cash crop yang umumnya diusahakan pada lahan sawah irigasi dan sebagian kecil diusahakan pada sawah tadah hujan dan lahan kering. Awal Januari 2007. dan (d) kedelai dari petani sampai ke pasar atau konsumen belum tertangani dengan baik tetapi berjalan sendiri secara alami. sedangkan bagi petani hal ini menjadi pendorong untuk kembali menanam kedelai. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai melakukan pengurangan jumlah produksi dan ukuran produknya karena tingginya biaya produksi. yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. di dalam negeri harga kedelai eceran mencapai Rp 3 450/Kg dan terus naik mencapai Rp 7 500/Kg.2 Perumusan Masalah Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat.

id.5 per kilogram.5 per kilogram dan kedelai dalam negeri menjadi Rp 2 844 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 1 016.7 mencarinya dan harganya menjadi tinggi. 2004). . teknologi yang telah dihasilkan.go. 31 Januari 2008. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas. dan belum diaturnya tataniaga kedelai sehingga petani dalam negeri sulit bersaing dengan petani luar negeri (Departemen Pertanian. Kedelai. serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. pada tahun 2000 harga kedelai impor naik menjadi Rp 1 827. http://ditjentan. http://www. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai.go.6 Hal tersebut yang menyebabkan tataniaga kedelai di tingkat petani di Indonesia belum tertangani dengan baik. Departemen Pertanian. iklim yang cocok. Kondisi ini menyebabkan kedelai dalam negeri menjadi tertekan dan terdesak oleh kedelai impor. Tahun 1992. 6 7 Team TP. Perbedaaan harga tersebut terus meningkat.7 Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik.deptan. 2008. 2002. Faktor utama turunnya produksi kedelai nasional adalah tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai. harga kedelai impor sebesar Rp 544 per kilogram sedangkan harga kedelai dalam negeri lebih mahal dari kedelai impor yaitu sebesar Rp 847 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 303 per kilogram.litbang. Harga kedelai impor jauh lebih murah dari produksi dalam negeri karena tidak ada tarif impor untuk kedelai. Pada tahun 2006 harga kedelai dalam negeri mencapai Rp 4 977.id.deptan. Berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa harga kedelai lokal dari tahun ke tahun lebih mahal dari kedelai impor. 4 Februari 2008.85 per kilogram. keberlanjutan pasokan kedelai impor lebih terjamin dibanding kedelai nasional.

terlihat dari penurunan luas tanam menjadi 10 hektar dari 995. seperti padi. Selain itu. kebijakan tataniaga kedelai yang bebas dilakukan oleh pengusaha importir dan penetapan tarif impor tahun 1998 jauh di bawah bound tariff menyebabkan masuknya kedelai impor dengan harga murah.8 juta ton. Pada umumnya petani langsung menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul atau .17 hektar pada tahun 2006. Hal ini terlihat dari perkembangan luas areal tanam kedelai di sebagian daerah.8 Selain itu. Hal ini disebabkan oleh petani yang semula menanam kedelai beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. Namun pada tahun 2007. terjadi penurunan luas tanam di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sukaluyu mengalami penurunan produksi sangat tajam. Namun. dilihat dari banyaknya konsumsi kedelai di Indonesia. sejak tahun 1993 produksi dalam negeri terus mengalami penurunan terlihat dari penurunan luas areal tanam. tetapi harga jual yang diterima petani masih rendah. Akibatnya petani dalam negeri sulit bersaing dengan kedelai impor. Sukaluyu dan Bojong Picung. Di Kabupaten Cianjur terdapat beberapa daerah yang merupakan sentra produksi kedelai. Di Kabupaten Cianjur. Hal ini disebabkan oleh penetapan kebijakan harga sejak tahun 1992 ditiadakan. antara lain Ciranjang. kondisi pada saat itu juga didukung oleh analisa usahatani kedelai yang cukup menguntungkan. Perkembangan produksi kedelai dalam negeri sampai tahun 1992 sangat baik yaitu mencapai 1. petani dalam memasarkan produknya mempunyai kebebasan untuk memilih saluran tataniaga yang dapat memberikan keuntungan dari hasil usahataninya. pasar komoditas kedelai masih terbuka lebar. jagung dan sayursayuran.

Produksi Kedelai Mesti Ditingkatkan.8 Oleh sebab itu.co.antara. 8 Antara. maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Bagaimana tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang.id. 15 Januari 2008. http://www. Hal ini karena petani membutuhkan uang saat panen sehingga harga jual sangat ditentukan oleh tengkulak. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan? 2. Lemahnya posisi tawar petani menyebabkan petani tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan harga berdasarkan biaya produksi yang telah dikeluarkan.9 tengkulak secara perorangan. walaupun terjadi tawar-menawar antara petani dan pedagang pengumpul keputusan akhirnya tetap ditentukan oleh pedagang pengumpul. Bagaimana saluran tataniaga dan struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah : 1. Lembaga tataniaga cenderung menuntut biaya tataniaga dan keuntungan besar dari jasa tataniaga yang dilakukan. Kabupaten Cianjur? 1. . 2008. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan. akibatnya tingkat pendapatan petani menjadi rendah. masih sangat terbatas petani menjual secara berkelompok. Analisis tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. untuk mengetahui tingkat pendapatan petani dan posisi tawar petani pada tataniaga kedelai di Kabupaten Cianjur maka perlu dilakukan penelitian mengenai usahatani dan tataniaga kedelai.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas.

Mengkaji saluran tataniaga. struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. . diantaranya Dinas Pertanian. Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Jawa Barat ini dikhususkan membahas mengenai komoditi kedelai yang dipanen polong tua.5 Ruang Lingkup Penelitian Batasan dari penelitian yang berjudul Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. 1. 1. Kabupaten Cianjur. Kabupaten Cianjur.10 2. penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam upaya peningkatan hasil dan perbaikan kinerja tataniaga kedelai. Pembahasan tataniaga untuk analisis kualitatif dilakukan pada semua saluran tataniaga yang terlibat.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian mengenai tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. sedangkan untuk analisis data kuantitatif hanya menggunakan data dari saluran tataniaga dengan jalur tataniaga dari Kecamatan Ciranjang ke Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. Dampaknya dapat meningkatkan pendapatan petani kedelai di lokasi penelitian.

11

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keragaan Kedelai Kedelai (Glicine max) adalah tanaman semusim yang termasuk family Leguminosae diduga berasal dari Cina dan dikembangkan ke berbagai negara seperti Amerika, Amerika Latin dan Asia. Kedelai dapat dibudidayakan di daerah subtropis dan tropis dengan teknis budidaya yang sederhana. Di Indonesia kedelai pertama kali ditanam di pulau Jawa dan Bali pada tahun 1750. Daerah sentra tanaman kedelai mula-mula terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali, kemudian meluas hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Kedelai mempunyai kegunaan yang luas dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akarakarnya dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium sp., sehingga unsur Nitrogen bagi tanaman tersedia dalam tanah. Kedelai di Indonesia bernilai tinggi karena tiga alasan: (1) produksinya di dalam negeri dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, (2) merupakan bahan pangan berkadar protein yang dapat memperbaiki gizi masyarakat, dan (3) merupakan tanaman komersil bagi petani lahan kering. Di Indonesia kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl). Varietas yang ditanam awalnya berasal dari luar negeri (introduksi), diantaranya dari Jepang, Taiwan, Kolumbia, Amerika Serikat dan Filipina. Di sentra pertanaman kedelai umumnya kondisi iklim yang cocok adalah suhu antara 25–27 0C.

12

Tanaman kedelai mempunyai daya adaptasi yang luas terhadap berbagai jenis tanah. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian, maka tanaman kedelai cocok ditanam pada jenis tanah Aluvial, Regosol, Grumosol, Latosol dan Andosol. Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lahan pertanaman kedelai adalah tataair (drainase) dan tataudara (aerase) tanah yang baik, bebas dari kandungan atau wabah Nematoda, dan keasaman (pH) tanah (Rukmana dan Yuyun, 2006).

2.2 Kebijakan Pengembangan Kedelai Peranan pemerintah sebagai fasilitator, dinamisator dan penciptaan lingkungan yang kondusif dalam pengembangan suatu komoditas secara teknis, sosial dan ekonomis adalah sangat penting dan strategis. Cakupan kebijaksanaan dalam program aksi pengembangan adalah sangat kompleks yang meliputi pengadaan dan distribusi sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan kredit usaha tani), penyuluhan dan tataniaga hasil melalui sistem kelembagaan dan pembinaan dari tigkat pusat sampai ke tingkat desa. Kebijakan dalam bidang penelitian, peningkatan produksi, dan perdagangan (harga) adalah saling berhubungan satu dengan yang lain. Proteksi harga akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani bila didukung oleh potensi teknologi dan sistem tataniaga yang efisien. Kebijakan diversifikasi konsumsi melalui penetapan pola pangan harapan (PPH) dapat dikatakan sebagai acuan penting dalam penetapan target peningkatan produksi setiap komoditas pangan termasuk kedelai. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani (Rachman et al. 1996).

13

Kebijakan Proteksi dan Harga Dasar. Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah selama ini dengan sasaran utama mendorong adopsi teknologi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani adalah kebijakan proteksi harga dan penetapan harga dasar. Kebijakan proteksi bertujuan untuk mengendalikan harga kedelai dalam negeri agar tetap lebih tinggi dan terisolasi dari fluktuasi harga kedelai di pasar dunia. Hal ini dilakukan melalui pengaturan volume impor dan penetapan harga kedelai ekspor-impor serta penyalurannya kepada industri pengolah di dalam negeri. Kebijakan proteksi harga ini cukup berhasil mencapai sasarannya dan berdampak positif dalam mendorong produksi kedelai domestik. Pada periode 1985 – 1994 produsen kedelai mendapatkan rata-rata proteksi harga sebesar 136.56 persen dengan laju peningkatan proteksi 4.80 persen pertahun (Rachman, et al. 1996). Di satu sisi penetapan harga dasar secara umum belum mencapai sasaran yang diharapkan. Pada periode 1984 – 1991 harga kedelai di tingkat petani sekitar 76.27 persen lebih tinggi dari penetapan harga dasar. Hal ini menjelaskan bahwa penetapan harga dasar maupun harga pembelian pemerintah untuk kedelai adalah sangat rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku, sehingga kebijakan harga dasar menjadi tidak efektif. Kemudian sejak tahun 1992,

pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar lagi. Perkembangan produksi kedelai tahun 1992 merupakan puncak produksi kedelai yaitu mencapai 1.8 juta ton. Setelah pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar, maka tahun 1993 produksi kedelai terus menurun sampai tahun 2003 menjadi 671 600 ton. Hal ini disebabkan semangat petani untuk membudidayakan kedelai turun sebagai akibat dari masuknya kedelai impor

Rusastra. untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri maka Pemerintah menurunkan tarif impor sampai 0 persen. maka tahun 1998 Pemerintah Indonesia menerapkan tarif impor jauh di bawah bound tariff (0 – 5 persen). Tahun 2007 produksi turun kembali 20 persen dari tahun 2006 menjadi 608 000 ton. namun sangat lambat yaitu 723 483 ton (2004).deptan. (1992). Namun dengan pertimbangan antara lain daya beli masyarakat Indonesia. Puspodewi (2004). Sesuai aturan WTO dimana setiap negara diperkenankan menerapkan applied tariff maksimal sama dengan bound tariff dalam schedule yang didaftarkan. termasuk kedelai (Rachman. 9 Team TP. Namun dengan kenaikan harga kedelai di pasar dunia akhir tahun 2007 mengakibatkan harga kedelai impor tinggi. 2008. 808 353 ton (2005) dan 746 611 (2006). Pada dasawarsa 1980-an perbandingan antara impor dan produksi kedelai dalam negeri mencapai rata-rata 45 persen pertahun yang merupakan angka tertinggi dibanding dengan dasawarsa 1970-an dan 1990-an. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. 4 Februari 2008 . Upaya pemerintah memenuhi kebutuhan bahan baku industri merupakan awal munculnya kebijakan impor kedelai di Indonesia.go.id. et al. 1996). Elizabeth (2007) dan Nuryanti dan Kustiari (2007). Tahun 2004 sampai 2006 produksi mengalami peningkatan.14 dengan harga lebih rendah dari kedelai dalam negeri.3 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai tanaman kedelai telah dilakukan oleh Nurmanaf (1987). et al. http://ditjentan. Saptana (1993).9 Kebijakan Tarif dan Impor Kedelai. 2.

2 dan 62. Dilihat dari efisiensi pemanfaatan modal tidak terdapat . Nurmanaf (1987) menyatakan bahwa tataniaga kedelai di satuan pemukiman transmigrasi Jambi belum efisien. Rusastra. menunjukkan usahatani kedelai di lahan sawah lebih menguntungkan dibandingkan di lahan kering (Rp 366 900 vs Rp 298 400 per hektar). 69.7. (1992) melakukan penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur. rantai tataniaga dan tingkat harga. biaya angkut. Pamenang I sebesar Rp 200/kg dan Kuamang Kuning sebesar Rp 225/kg. Hal ini terlihat dari tingginya margin tataniaga di tiga satuan pemukiman transmigrasi. et al. areal panen dan produktivitas kedelai dari tahun 1984-1990 masingmasing sebesar 2. Tingginya margin tataniaga kedelai terutama disebabkan tingginya biaya angkutan hasil. Tingkat pendapatan usahatani kedelai dengan mempertimbangkan basis agroekosistem pengembangan tahun 1990. yaitu Singkut III sebesar Rp 275/kg. margin tataniaga dan bagian harga yang diterima petani. meliputi jalur tataniaga. Tujuan penelitian ini mengungkap keragaan dan permasalahan aspek produksi. usahatani dan tataniaga kedelai di Jawa Timur sebagai daerah sentra produksi secara nasional. Harga yang diterima petani di tiga satuan pemukiman masing-masing sebesar 60. antar pasar maupun biaya angkut antar daerah.1 dan 5.5 persen. hal ini terlihat dari laju pertumbuhan produksi. 3.15 Penelitian terhadap jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi yang dilakukan Nurmanaf (1987) bertujuan menganalisis sistem tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi.9 persen per tahun. Produksi kedelai di Jawa Timur setiap tahun mengalami peningkatan. baik biaya angkutan dari satuan pemukiman transmigrasi ke pasar.8.

Permasalahan pada sistem kerjasama yang perlu diperhatikan adalah (1) Penyampaian informasi yang sempurna kepada petani. (2) Peningkatan sistem pembinaan dikaitkan dengan sistem pengadaan dan penyaluran saprodi.4 persen dengan margin tataniaga 10. R/C kedelai di lahan sawah 1.43. serta (4) Keterbatasan tenaga lapang. penerapan teknologi baru juga bisa diterima dari segi efisiensi pemanfaatan modal dengan . Bertujuan untuk mengungkap seberapa jauh dampak penerapan teknologi baru terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani.9 persen dibandingkan dengan non kerjasama.6 persen. Selain itu. et al menunjukkan bahwa hasil usahatani kedelai dengan pola kerjasama dengan pihak swasta lebih tinggi yaitu 17.6 persen (1990) dan 174. Penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) dilakukan oleh Saptana (1993). Hasil penelitian yang dilakukan Rusastra. Permasalahan dalam tataniaga adalah rendahnya kualitas kedelai di tingkat pedagang dan konsumen. Dampak penerapan teknologi baru telah mampu meningkatkan pendapatan sebesar 76. Hal ini terlihat dari pangsa harga petani mencapai 89. (3) Masalah birokrasi dan keterlambatan penyediaan dana. Beberapa indikator makro tataniaga seperti pangsa harga yang diterima petani dan kestabilan harga bulanan di tingkat produsen dan konsumen menunjukkan mantapnya sistem tataniaga kedelai di Jawa Timur.16 perbedaan yang berarti. keragaan dan permasalahan aspek produksi dan tataniaga kedelai di Wonogiri.4 dan di lahan kering sedikit lebih baik yaitu 1.6 persen dibandingkan sebelum kerjasama dan 15.43 persen (1991).

Puspodewi (2004) meneliti analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. .17 nilai R/C ratio untuk pola rekomendasi 1. Nilai DRC yang lebih besar dari nilai PCR terjadi karena adanya intervensi pemerintah. Menurut Saptana. sehingga pengusahaan kedelai layak untuk dikembangkan. Efisiensi tataniaga kedelai di Wonogiri. secara ekonomi juga menguntungkan sebesar Rp 281.25 untuk pola petani (1991). yaitu pengumpulan. Margin tataniaga yang relatif rendah ini dikarenakan fungsi tataniaga yang dilakukan sangat sederhana.04 per kilogram dan nilai PCR kurang dari satu.80 (1990). Jawa Tengah terlihat dari pangsa harga petani sebesar 89. karena nilai tambah keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi dari seharusnya. Dilihat dari keuntungan privat dan sosial yang diperoleh maka Desa Bade Kabupaten Boyolali mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif.85 sedangkan untuk pola petani 1. Selain itu. permasalahan utama tataniaga adalah kualitas kedelai. Pengusahaan kedelai di desa Bade menguntungkan dan efisien secara finansial terlihat dari keuntungan sebesar Rp 361.38 untuk pola rekomendasi serta 1.88. Jawa Tengah (kasus desa Bade) dengan analisisn PAM.6 persen dengan margin tataniaga 10. Dampak kebijakan input dan output terhadap petani produsen kedelai sangat intensif.4 persen.66 per kilogram dan nilai DRC 0. masalah kualitas ini menjadi lebih serius karena ada faktor kesengajaan dari pedagang pengumpul dan PB kecamatan yang melakukan pencampuran tanah yang diwarnai mirip kedelai. dan 1. pengangkutan dan biaya penyusutan.

penawaran dan impor. Analisa mikro dengan menggunakan data I-O diturunkan dari data struktur ongkos rata-rata Indonesia 2006. Berdasarkan perhitungan besaran keuntungan usahatani optimal 25 persen. Kondisi ini sangat sulit. Analisa tingkat makro menggunakan “partial welfare analysis” untuk memahami dampak penerapan tarif optimal terhadap harga komoditas di pasar domestik.5/kg (specific tariff). dan dampak keseimbangan pasar domestik atas kenaikan tarif impor kedelai optimal. Artinya. Tarif yang diikat untuk kedelai adalah 27 persen. petani kedelai nasional harus mencapai harga jual Rp 4 479/kg. masih ada peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan menjamin keuntungan usahatani 25 persen dengan menetapkan tarif impor baru . tarif bea masuk kedelai saat ini 5 persen. permintaan. konsumen dan penerimaan pemerintah. produksi. serta dampaknya terhadap kesejahteraaan produsen. Satu-satunya solusi untuk memberi insentif produksi kedelai domestik adalah jaminan harga jual kedelai dengan tingkat keuntungan pasti.3 persen (ad valorem) atau Rp 625.18 Penelitian Nuryanti dan Kustiari (2007) berjudul Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal. Berdasarkan asumsi harga pokok produksi Rp 3 359/kg. MFN) harus dinaikkan menjadi 22. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usahatani kedelai pada tingkat tarif saat ini. untuk memperoleh keuntungan usahatani 25 persen tarif bea masuk yang diterapkan (Most Favoured Nation. tingkat tarif optimal dengan tingkat keuntungan usahatani 25 persen. Analisa dalam penelitian ini dilakukan pada tingkat usahatani (mikro) dan makro. karena harga kedelai domestik menjadi tidak dapat bersaing dengan kedelai impor.

. dan (3) Program memperkuat prasarana kelembagaan dan ketrampilan mengelola kebutuhan perdesaan. kelembagaan penyedia input. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan perspektif penguatan dan pemberdayaan kelembagaan yang terkait dengan petani di perdesaan dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis kedelai. Lemahnya kinerja ekonomi perdesaan terutama disebabkan rendahnya kapasitas kelembagaannya. kelembagaan output. yang tercermin pada masih rendah interaksi antar kelembagaan. gizi dan kesehatan. termasuk produsen lokal. dan sebagainya). Harga kedelai impor saat ini (Rp 2 806. meliputi: (1) Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifitas lahan. Elizabeth (2007) menyatakan bahwa beberapa kelembagaan pendukung keberhasilan agribisnis kedelai.4/kg) masih lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi kedelai lokal (Rp 3 359/kg).3 persen. perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan. Penelitian tentang Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai oleh Elizabeth (2007). Fluktuasi harga produk pangan dan sarana produksi usahatani di pasar global akan ditransmisikan ke semua tingkat harga. dan melemahnya kelembagaan lokal karena tekanan dari luar. Namun tidak semua sistem dan saluran tataniaga komoditas pangan di pasar domestik bersaing sempurna.19 sebesar 22. (2) Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan. seperti: kelompok tani. lembaga tenaga kerja. dan kelembagaan permodalan. kecilnya akses terhadap kelembagaan modern.

et al. dengan tarif bea masuk kedelai 5 persen harga kedelai domestik masih lebih tinggi dari harga kedelai impor. farmer s share. Pencapaian keberhasilan agribisnis kedelai diperlukan suatu kelembagaan pendukung dari tingkat desa sampai di luar desa. merupakan bagian penting pembangunan pertanian dan perdesaan. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan tingkat pendapatan usahatani lebih menguntungkan bila diusahakan di lahan sawah. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat Metode Marjin tataniaga Farmer s Share Efisiensi usahatani Marjin tataniaga R/C rasio Marjin tataniaga PAM Elizabeth 2007 Nuryanti Kustiari Meryani dan 2007 2008 Mikro : I – O Makro : Partial Welfare Analysis Pendapatan usahatani Marjin tataniaga. serta intervensi dari pemerintah.20 Pengembangan kelembagaan untuk menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA (marginal sustainability yield) dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan. B/C rasio . Permasalahan di tataniaga kedelai meliputi kualitas kedelai. Jawa Tengah (kasus desa Bade) Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Saptana Puspodewi Tahun 1987 1992 1993 2004 Judul Penelitian Jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. dan adanya penerapan teknologi baru. margin tataniaga kedelai yang tinggi disebabkan biaya angkut. Tabel 6 Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu Nama Nurmanaf Rusastra. Tabel 6 menginformasikan perbedaaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. pola kerjasama dengan pihak swasta.

Struktur Biaya Usahatani. efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatannya meningkat. teknologi. dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output).1. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa penerimaan usahatani adalah ukuran hasil total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani. seperti hasil panen kedelai yang dikonsumsi dan digunakan untuk bibit. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.2 Pendapatan Usahatani Struktur Penerimaan Usahatani. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki sebaik-baiknya.1. tenaga kerja.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3. Biaya tunai merupakan biaya . sedangkan pendapatan kotor tidak tunai merupakan pendapatan yang bukan dalam bentuk uang. 3. Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani) dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. modal. Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor tidak tunai. benih dan pestisida) dengan efektif. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani kedelai.21 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Usahatani Rahim dan Diah (2007) menyatakan bahwa usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah. pupuk.

pajak. tetapi diperhitungkan dalah perhitungan usaha tani. Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya. Dapat disimpulkan biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang akan dicapai. dan sebagainya) perlu ditambah. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai. Pendapatan Usahatani.22 yang dikeluarkan dalam bentuk uang oleh petani sendiri. Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang digunakan. Biaya tidak tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya tetap antara lain sewa tanah. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua yaitu: (a) Biaya tetap (fixed cost) dan (b) Biaya tidak tetap (variable cost). untuk mengukur imbalan yang diperoleh petani akibat penggunaan faktor-faktor produksi. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dibebankan kepada usahatani untuk penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. Contohnya biaya untuk sarana produksi. penyusutan alat-alat petanian dan biaya imbangan sewa lahan. Untuk menilai . dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jika menginginkan produksi yang tinggi maka faktor-faktor produksi (tenaga kerja. alat pertanian dan iuran irigasi. Biaya ini digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika sewa lahan dan nilai tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan. pupuk. Artinya besarnya biaya tetap tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang diperoleh.

biaya yang diperhitungkan dan penyusutan. Ukuran ini diperoleh dari hasil pengurangan antara pendapatan bersih dengan bunga yang dibayarkan kepada modal pinjaman. dan (9) pengetahuan pasar. (2) penjualan. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa fungsi dari tataniaga yaitu: (1) pembelian. (3) penyimpanan. 3. Tujuan dari tataniaga adalah mengidentifikasi. mengkomunikasikan. Boyd. tetapi bila diperoleh nilai kurang dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan belum efisien.23 penampilan usahatani kecil adalah dengan penghasilan bersih usahatani. (5) pengolahan. mendefinisikan tataniaga sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang dibutuhkan melalui pertukaran dengan pihak lain. Apabila diperoleh nilai lebih dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan efisien. serta keuntungan bagi produsen. Analisis efisiensi R/C ratio atau rasio penerimaan atas biaya dihitung dengan cara membandingkan penerimaan total dengan biaya total. Aktivitas pasar dan tataniaga diklasifikasikan menurut waktu. R/C Ratio . (6) standarisasi. (8) pengambilan risiko. (7) keuangan.3 Tataniaga Tataniaga merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Walker and Larreche (2000). . jarak dan bentuk. Secara keseluruhan tataniaga merupakan rangkaian kegiatan mengalirkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. (4) transportasi. dan menegosiasikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen.1.

lembaga keuangan dan perusahaan asuransi yang memberikan kemudahan dalam transaksi. Kotler (2005) menyatakan bahwa saluran tataniaga didefinisikan sebagai sarana untuk mencapai pasar sasaran.1. Saluran ini mencakup pergudangan. Kegunaan dalam kegiatan tataniaga adalah kegunaan tempat. 1983). (3) Skala produksi dan (4) Keuangan produsen (Hanafinah dan Saefuddin. . (2) Saluran distribusi digunakan untuk manyampaikan produk atau jasa dari produsen kepada konsumen. 3. (3) Saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan calon konsumen. sarana transportasi. waktu dan pemilikan. sehingga tataniaga dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan barang dan jasa dari produsen sampai dengan konsumen. Lembaga yang terlibat dalam saluran ini diantaranya distributor. pengecer dan agen. (2) Ketahanan produk. Ada tiga jenis saluran tataniaga yang digunakan meliputi: (1) saluran komunikasi yang digunakan untuk memberi dan menerima informasi dari konsumen sasaran. Panjang pendeknya saluran tataniaga dipengaruhi beberapa faktor yaitu: (1) Jarak antara produsen ke konsumen.4 Saluran Tataniaga Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga sehingga barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. grosir.24 Hanafiah dan Saefuddin (1983) menyatakan bahwa tataniaga adalah kegiatan yang berkaitan dengan penciptaan atau penambahan kegunaan dari barang dan jasa maka tataniaga termasuk tindakan atau usaha yang produktif. Saluran tataniaga terdiri dari beberapa pedagang perantara.

25

Saluran tataniaga atau saluran distribusi merupakan lembaga atau perantara berganda yang berfungsi mendistribusikan barang untuk mendukung transaksi dengan konsumen potensial. Setiap lembaga berspesialisasi dalam satu fungsi dan kegiatan penting pendistribusian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi transaksional dan efisiensi fungsional. Saluran tataniaga terdiri dari empat komponen utama yaitu: produk, pelaku pasar, aktivitas dan input (Boyd, Walker and Larreche, 2000). Bentuk distribusi ada dua yaitu distribusi langsung dan distribusi tidak langsung. Distribusi langsung yaitu produsen melakukan penjualan langsung

produknya kepada konsumen, sedangkan distribusi tidak langsung yaitu produsen melakukan penjualan barang kepada konsumen melalui perantara seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang grosir dan pedagang pengecer (Boyd, Walker and Larreche, 2000). 3.1.5 Struktur Pasar Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa ada empat karakteristik yang menentukan struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan, (2) sifat produk, (3) kemudahan untuk keluar masuk pasar dan (4) tingkat informasi harga, biaya serta kondisi pasar yang dihadapi pelaku tataniaga. Struktur pasar mengacu pada semua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja perusahaan di suatu pasar, seperti jumlah perusahaan dan jenis produk (Lipsey, et al. 1997). Karakteristik struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 6. Kotler (2005) menyatakan bahwa struktur pasar berdasarkan sifat dan bentuknya dibedakan menjadi dua yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar bersaing tidak sempurna. Pasar termasuk ke dalam pasar bersaing sempurna

26

dengan ciri-ciri banyaknya jumlah penjual dan pembeli, barang yang ditawarkan bersifat homogen, penjual dan pembeli berperan sebagai price taker, dan bebas keluar masuk pasar. Pasar bersaing tidak sempurna dibagi menjadi pasar

monopolistik, pasar ologopolistik dan monopoli. Tabel 7 Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli No Karakteristik Jumlah Jumlah Sifat Penjual Pembeli Produk Banyak Banyak Homogen Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Satu Pasar Banyak Sedikit Satu Struktur Pasar Sudut Penjual Sudut Pembeli Persaingan Sempurna Oligopsoni Persaingan Monopolistik Oligopsoni Diferensiasi Monopsoni banyak penjual yang

1 2 3 4 5

Persaingan Sempurna Diferensiasi Persaingan Monopolistik Homogen Oligopoli

Diferensiasi Oligopoli Diferensiasi Unik Monopoli yaitu pasar dimana

Sumber: Dahl and Hammond (1977), Lipsey, et al. (1997)

monopolistik

mendiferensiasikan produk baik secara keseluruhan atau sebagian, sehingga produk dapat dibedakan berdasarkan kualitas, gaya dan service yang diberikan penjual. Akibatnya banyak penjual dan pembeli yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga bukan pada satu tingkat harga pasar. Penjual melakukan penawaran yang berbeda untuk segmen pembeli yang berbeda, sehingga pembeli bersedia membayar lebih untuk produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Pasar oligopolistik yaitu pasar yang terdiri dari beberapa penjual yang menghasilkan produk mulai dari produk yang terdiferensiasi hinggga produk homogen. Penjual sangat peka terhadap strategi tataniaga dan penetapan harga pesaing lainnya. Jumlah penjual yang sedikit disebabkan hambatan untuk masuk pasar tinggi, strategi penetapan harga yang tepat dan memusatkan perhatian pada

27

kepuasan pelanggan untuk menarik pelanggan. Pasar monopoli murni yaitu pasar yang hanya ada satu penjual yang menguasai pasar suatu produk tertentu. Penjual berperan sebagai price maker, hambatan masuk dan keluar pasar tinggi karena alasan teknis atau alasan undang-undang untuk monopoli yang teregulasi. 3.1.6 Efisiensi Tataniaga Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tataniaga adalah tingkat efisiensi dari tataniaga, karena tataniaga yang efisien dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat dalam tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa terdapat dua ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi harga (ekonomi). Efisiensi operasional menggambarkan keadaan dimana biaya input dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan. Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi operasional pada proses tataniaga produk yaitu dilihat dari keragaaan pasar (analisis margin tataniaga, farmer s share dan rasio keuntungan terhadap biaya). Efisiensi harga tercermin dari tiga kondisi yaitu (1) ada alternatif pilihan bagi konsumen, (2) perbedaan harga yang mencerminkan adanya biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat perlakuan terhadap komoditi dalam sistem tataniaga, dan (3) terjadi aktivitas pembelian dan penjualan yang cocok antara petani, lembaga tataniaga dan konsumen yang berdampak pada kepuasan pada setiap pelaku tataniaga. Tingkat efisiensi tataniaga dapat dilihat dengan

mengunakan dua pendekatan sekaligus atau salah satu dari pendekatan tersebut. Marjin tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga tingkat

Sumber: Dahl and Hammond (1977) Pengertian ekonomi nilai marjin tataniaga adalah harga dari sekumpulan jasa tataniaga yang merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk–produk tersebut.28 pengecer (Pr). Df merupakan demand dasar. Dr merupakan demand turunan. Marjin tataniaga hanya merepresentasikan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen . dan Pf merupakan harga petani (Gambar 1). Price VMM (Pr – Pf) Qrf Sr Sf Pr Marjin Tataniaga (Pr – Pf) Pf Dr Df Qr. Sr menunjukkan supply turunan. Cara perhitungan ini sama dengan konsep nilai tambah (value added). f Quantity Gambar 1 Marjin Tataniaga. Sf menunjukkan supply dasar. Oleh karena itu nilai marjin tataniaga dibedakan menjadi dua yaitu marketing costs dan marketing charges. Perbedaan nilai ini juga direpresentasikan sebagai jarak vertikal dan jarak antara kurva permintaan atau antara kurva penawaran (Gambar 1). Pr merupakan harga retail. Nilai marjin tataniaga adalah perbedaan harga di kedua tingkat sistim tataniaga dikalikan dengan kuantitas produk yang dipasarkan.

Secara teknis sistem tataniaga akan semakin efisien jika rasio keuntungan terhadap biaya merata di setiap lembaga tataniaga.29 dengan harga yang diterima petani. Azzaino (1982) menyatakan bagian yang diterima petani (farmer s share) merupakan harga yang diterima petani sebagai imbalan kegiatan usahataninya dalam menghasilkan kondisi tertentu. 1977). Marjin tataniaga merupakan penjumlahan antara biaya tataniaga dan marjin keuntungan (Dahl and Hammond. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai . 3. pengolahan. Rasio B/C. Rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga merupakan perbandingan antara keuntungan yang diambil lembaga tataniaga terhadap biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk tersebut. dan lain-lain) dan keuntungan. tetapi tidak menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. Akibatnya produsen tahu. pengangkutan. 2007).2 Kerangka Pemikiran Operasional Pada awal tahun 2007. Farmer s share juga menyatakan perbandingan harga yang diterima oleh petani dengan harga di tingkat lembaga pemasaran yang dinyatakan dalam persentase. Marjin tataniaga terjadi karena adanya faktor-faktor biaya tataniaga (pengumpulan. penyimpanan. yang akhirnya akan mempengaruhi pembentukan harga jual produk itu sendiri antara petani dan pedagang (Elizabeth. Keuntungan tataniaga adalah pengurangan marjin tataniaga dengan biaya-biaya tataniaga. Farmer s share. di dalam negeri harga kedelai impor meningkat sangat tajam karena harga kedelai di pasar dunia meningkat. sehingga jumlah produk di tingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengecer.

pedagang besar. Sementara konsumsi kedelai semakin meningkat sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk. Tataniaga komoditi pertanian adalah kegiatan atau proses pengaliran komoditas pertanian dari produsen sampai ke konsumen atau pedagang perantara (tengkulak. Pendapatan usahatani merupakan hasil akhir yang akan diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya. sehingga jumlah pelaku pasar yang terlibat dalam proses tataniaga akan menentukan panjang pendeknya saluran tataniaga. bentuk. 1983). Semua fungsi tataniaga dilakukan oleh lembaga atau pelaku pasar yang terlibat. Fungsi-fungsi tataniaga terdiri dari fungsi pertukaran.30 mengalami penurunan produksi. . fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Selain itu R/C ratio digunakan untuk melihat apakah usahatani yang dilakukan menguntungkan secara ekonomi atau tidak bagi petani. Fungsi tataniaga dilakukan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai guna waktu. sehingga konsumen akan merasa puas (Hanafiah dan Saefuddin. Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri cenderung mengalami penurunan. dan pengecer). tempat dan kepemilikan. Harga kedelai impor yang tinggi memberikan peluang bagi petani dalam negeri untuk meningkatkan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia. Efisiensi usahatani kedelai dapat dilihat dari hasil analisis R/C ratio yang menunjukkan berapa penerimaan yang diperoleh petani dari setiap input yang dikeluarkan. karena gairah petani untuk menanam kedelai cenderung menurun. sehingga harus efisien dalam menggunakan sumberdaya. pengumpul. Semakin besar nilai R/C ratio maka usahatani yang dilakukan akan semakin baik.

31 Sementara untuk manganalisis struktur pasar kedelai dilakukan berdasarkan pada empat karakteristik struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan. Analisis kuantitatif untuk mengetahui bagaimana keragaan usahatani dan tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang jika dilihat dari analisis pendapatan usahatani. B/C ratio dan farmer s share. R/C ratio. Tataniaga akan efisien bila semua pelaku pasar atau lembaga yang terlibat merasa puas dengan apa yang diperolehnya. Alur pemikiran tersebut dapat digambarkan seperti diagram di bawah ini: . dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. seperti biaya. (2) keadaan atau kondisi produk. meskipun saluran tataniaga yang pendek lebih efektif dalam menyampaikan produk hingga diterima oleh konsumen. (3) mudah atau sukar untuk keluarmasuk pasar. apakah sudah efisien secara operasional. Perilaku pasar yang dibentuk tersebut dilihat dari dua sisi yaitu sisi penjual dan sisi pembeli. Analisis struktur pasar ini dilakukan untuk mengetahui pasar kedelai yang terbentuk sesuai dengan karakteristiknya. margin tataniaga. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. Efisiensi tataniaga tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya saluran tataniaga. Hasil dari analisis tersebut akan dibuat perumusan langkah-langkah perbaikan yang akan diberikan atau diinformasikan kepada petani dan para pelaku tataniaga.

Rasio R/C 1.Konsumsi rata-rata 2. 2. 3.7 juta ton per tahun . Supplier 4. 4.Produksi kedelai dalam negeri rata-rata 0.32 . Analisis Tataniaga Saluran Tataniaga Sruktur Pasar Margin Tataniaga Farmer s Share Rasio B/C Efisiensi Tataniaga Rekomendasi Gambar 2 Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai. . Pendapatan Usahatani 2. Pedagang Pengumpul 2.7 juta ton per tahun Supply Respon Petani Kedelai Analisis Usahatani Lembaga Tataniaga: 1. 5. Pedagang Besar 3. Pedagang Pengecer Analisis Kuantitatif: 1.Harga kedelai impor tinggi .

2 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber. pedagang besar dan pedagang pengecer. perkembangan harga dan kebijakan pengembangan kedelai.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Ciranjang. 4. ekspor-impor kedelai. Kecamatan Ciranjang sendiri merupakan salah satu sentra produksi di Kabupaten Cianjur. Informasi yang dikumpulkan antara lain perkembangan luas tanam. Lembaga Penelitian dan pihak yang terkait lainnya. Kabupaten Cianjur. luas panen dan produksi.33 IV METODE PENELITIAN 4. karena Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Barat. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur kepada petani kedelai. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS).3 Metode Penarikan Contoh Metode penarikan contoh yang digunakan pada penelitian ini adalah random sampling yaitu pengambilan contoh dilakukan secara acak. 4. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2008. Kecamatan Ciranjang terbagi menjadi 12 desa dan terdiri dari 80 kelompok tani dengan rata- . Dinas Pertanian Tanaman Pangan. pedagang pengumpul.

Lipsey. 4. Pengambilan contoh untuk pelaku pasar pada tiap tingkat lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengikuti arus barang dalam proses penyaluran barang dari produsen sampai ke konsumen. Analisis usahatani digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani dan produksi yang dihasilkan oleh petani. Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara . yaitu usahatani kedelai polong tua dan usahatani kedelai polong muda.4. 4. gambar dan tabulasi untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang ada dalam melakukan analisis data.34 rata satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang petani.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Data dan informasi yang telah dikumpulkan diolah dengan bantuan kalkulator. Penentuan responden berdasarkan petani yang menanam kedelai di Kecamatan Ciranjang sebanyak 30 orang petani kedelai dengan cara mengambil nama kelompok tani dan memilih petani secara acak untuk diwawancara. Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk. dan pedagang pengecer tiga orang yang berada di Kabupaten Cianjur dan Bandung. pedagang besar dua orang yang berada di Kecamatan Ciranjang. pedagang propinsi satu orang berdasarkan informasi dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. et al. (1997) menyatakan bahwa pendapatan usahatani dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan. Pedagang pengumpul tiga orang berdasarkan informasi pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang.1 Analisis Usahatani Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. komputer dan disajikan dalam bentuk deskriptif.

TC dimana: Pd = Pendapatan usahatani TR = Total penerimaan (total revenue) TC = Total biaya (total cost) . yang merupakan jumlah dari biata tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC).35 produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi. Rumus yang digunakan yaitu: TC = FC + VC Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya. maka rumus tersebut dapat berubah menjadi: TR = ∑ YxPy i =1 n Biaya tetap dapat dihitung dengan rumus: FC = ∑ X Px i =1 i n i dimana: Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap Pxi = Harga Xi (input) Rumus tersebut dapat digunakan untuk menghitung biaya total (total cost). tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: TR = Y x Py dimana: TR = Total penerimaan Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani Py = Harga Y Pernyataan Jika komoditas tanaman yang diusahakan lebih dari satu. 1995). Rumus yang digunakan yaitu: Pd = TR .

PPC/ZPT b. Biaya sarana produksi: . Benih d. Upah tenaga kerja dalam keluarga b. Sewa alat bajak d.Pestisida . Sewa lahan e.36 Analisis (R/C) ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya. Sewa lahan D+E C–D C–F H – bunga pinjaman (jika ada pinjaman) C/F E Biaya yang diperhitungkan F Total Biaya G Pendapatan atas biaya tunai H Pendapatan atas biaya total I Pendapatan Bersih J R/C ratio Sumber : Rahim dan Diah. 2007 .Y FC + VC dimana: a = R/C ratio Py = Harga output Y = Output Kriteria keputusan yang digunakan untuk melihat hasil analisis R/C ratio sebagai berikut : R/C ratio > 1 : usahatani menguntungkan R/C ratio < 1 : usahatani rugi R/C ratio = 1 : usahatani impas Secara sederhana. Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: a= Py. Upah tenaga kerja di luar keluarga c. Tabel 8 Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai A B C D Penerimaan Tunai Penerimaan yang diperhitungkan Total Penerimaan Biaya Tunai Harga x Hasil panen yang dijual (Kg) Harga x Hasil panen yang dikonsumsi (Kg) A+B a. Penyusutan c. pajak a.Pupuk . perhitungan analisis pendapatan dan R/C ratio dapat disajikan seperti pada Tabel 7.Benih .

yaitu: (1) jumlah pedagang di setiap level tataniaga.4.37 Biaya penyusutan alat dihitung dengan cara membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dibagi usia ekonomi dari alat tersebut. seperti biaya. secara matematis rumus .3 Analisis Struktur Pasar Struktur pasar dapat dianalisis melalui beberapa indikator. Secara matematis biaya penyusutan dapat dirumuskan sebagai berikut : Nb − Ns n Biaya Penyusutan = dimana : Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Nilai sisa (Rp) N = Umur ekonomi alat (tahun) 4. data harga yang digunakan adalah harga di tingkat petani dan harga di tingkat lembaga tataniaga. Analisis ini dapat menggambarkan secara keseluruhan pola saluran tataniaga kedelai yang terjadi pada daerah penelitian. Untuk menganalisis marjin tataniaga dalam penelitian ini. 4. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. (2) keadaan atau kondisi produk. (3) mudah atau sukar untuk keluar-masuk pasar.2 Analisis Saluran Tataniaga Kedelai Analisis saluran tataniaga digunakan untuk menelusuri saluran tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir.4. 4.4. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga.4 Analisis Marjin Tataniaga Marjin tataniaga merupakan perbedaan harga yang diterima petani (produsen) dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen.

marjin pada setiap tingkat lembaga tataniaga dapat dihitung dengan menghitung selisih antar harga jual dengan harga beli pada setiap tingkat lembaga tataniaga. Saluran tataniaga yang . dapat dirumuskan sebagai berikut: Mmi = Ps – Pb dimana: Mmi Ps Pb Marjin = Marjin tataniaga pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga jual pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga beli pada setiap lembaga tataniaga tataniaga mengandung komponen biaya dan komponen keuntungan.38 yang digunakan dalam perhitungan marjin tataniaga (Dahl and Hammond. maka untuk setiap saluran tataniaga dapat dilihat persentase pangsa marjin setiap pelaku pasar dengan menggunakan rumus: PangsaMarjin = MarjinPemasaran x100% TotalMarjin Pangsa pasar digunakan untuk melihat berapa besar marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga yang ada. 1977). maka: Mm = c + dimana: c = biaya tataniaga = Keuntungan lembaga tataniaga Berdasarkan analisis marjin tataniaga di atas. yaitu: Mm = Pr – Pf dimana: Mm Pr Pf = Marjin tataniaga di tingkat petani = Harga di tingkat kelembagaan tataniaga dari petani = Harga di tingkat petani Berdasarkan rumus di atas.

4. Farmer s share dapat dirumuskan sebagai berikut: Fs= dimana: Fs = Farmer s share 4.6 p p f r x100 % Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Distribusi margin tataniaga dapat dilihat dengan persentase keuntungan terhadap biaya (rasio B/C) yang dikeluarkan pada masing-masing saluran tataniaga.39 efisien ditunjukan oleh perolehan marjin setiap pelaku pasar yang merata. rumus yang digunakan yaitu: B / CRatio = πi x100% Ci dimana: = Keuntungan lembaga tataniaga ke-i ci = Biaya lembaga tataniaga ke-i i .4.5 Analisis Bagian Harga yang Diterima Petani Farmer s share berhubungan dengan margin tataniaga. Besarnya persentase net marjin yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masingmasing saluran tataniaga digunakan rumus: NetMarjin = KeuntunganPelakuPasar x100% TotalKeuntungan Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan pada setiap pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. artinya semakin tinggi margin tataniaga maka bagian yang akan diperoleh petani semakin rendah. 4.

Pestisida adalah zat kimia yang digunakan oleh petani untuk menanggulangi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kedelai. 3. Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual kedelai kepada konsumen terakhir di pasar lokal ataupun industri makanan dan pedagang ini membeli kedelai dari supplier. supplier dan pasar lokal. 4. 2.40 4. Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang yang aktif membeli dan mengumpulkan kedelai dari produsen (petani) di daerah produksi dan menjualnya kepada pedagang besar dan pasar lokal. KCl dan pupuk organik). PPC (Pupuk Pelengkap Cair) adalah pupuk yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan polong. Pupuk adalah zat tambahan yang digunakan petani untuk meningkatkan kesuburan tanaman kedelai (Urea. 6. 7. Kedelai polong tua adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 90 hari dan dikeringkan. . Pedagang besar adalah pedagang yang aktif di pasar-pasar pusat dan memperoleh barang dari pedagang pengumpul maupun dari petani langsung dan dijual kembali ke pasar induk (baik satu propinsi atau luar propinsi). SP36. 5. Kedelai polong muda adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 40 hari.5 Definisi Operasional 1. pedagang besar ataupun pedagang pengumpul. 8.

7° 25” Lintang Selatan (LS) dan 106º 42” . Iklim di wilayah Kabupaten Cianjur termasuk iklim tipe Af (sangat basah).55 persen) lahan kering (Tabel 8). Curah Hujan dan Jenis Tanah Secara geografis. Sebelah Utara b. Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Purwakarta : Samudera Indonesia : Kabupaten Sukabumi : Kabupaten Bandung dan Garut Luas wilayah Kabupaten Cianjur adalah 413 127 ha yang terbagi atas 62 879 ha (30.41 V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. . dan kemiringan lahan 0 – 40 persen. memanjang dari utara ke selatan dengan batas-batas wilayah secara administrasi. Letak Geografis. kecuali sebagian wilayah Kecamatan Cidaun dengan iklim tipe Am dan wilayah gunung Gede dengan iklim tipe Cf. Topografi. Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Cianjur berada di bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Barat. 6 Kelurahan dan 348 Desa. Sebelah Barat d. Topografi wilayah didominasi perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian 0 – 2 962 meter di atas permukaan air laut (dpl).107º 25” Bujur Timur (BT). Sebelah Selatan c. Kabupaten Cianjur terletak antara 6º 21” . Jumlah curah hujan tahunan relatif beragam antar wilayah dengan kisaran 1 716 milimeter di wilayah Penyusuhan hinga 4 465 milimeter di wilayah Kadupandak/Cimanggu. sebagai berikut: a. Wilayah Kabupaten cianjur terdiri dari 30 Kecamatan.1.45 persen) lahan sawah dan 287 269 ha (69.

Cilaku. jenis tanah.58 16.74 15. Sindangbarang.54 100. Tadah hujan Jumlah Lahan Kering 1. (3) tanah brown forest yang tersebar di Kecamatan Campaka. Irigasi Sederhana Non PU 5.10 0.00 Jenis tanah di Kabupaten Cianjur terdiri atas 5 jenis yaitu: (1) tanah aluvial yang tersebar di Kecamatan Pacet. Sukanagara dan Cugenang. Perkebunan 11.84 15.56 0. Cikalongkulon dan Mande.18 5. Takokak. Campakamulya. Irigasi Teknis 2.46 7. iklim.42 Tabel 9 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006 Pengguanaan Lahan Lahan Sawah 1. Berdasarkan kondisi sumberdaya alam (tofografi. Naringgul dan Cianjur. Irigasi Setengah Teknis 3.03 30.75 1. dan lain-lain) dan sumberdaya manusia. Rawa 6.10 4. Tanggeung. (4) tanah latosol yang tersebar di Kecamatan Sukanagara. Cugenang.30 0. dan (5) tanah podsolik merah kuning yang tersebar di Kecamatan Cibinong. Pengembalaan 5. Irigasi Sederhana PU 4.93 69. Hutan Negara 10. Kabupaten Cianjur . Ladang/Huma 4. Kadupandak. penggunaan tanah. Sukaresmi. Bangunan/Pekarangan 2. Tambak/Kolam/Empang 7.32 1. Lain-lain Jumlah Jumlah Keseluruhan Sumber: Diperta Kabupaten Cianjur (2006) Luas (Ha) 15 207 6 236 9 687 17 584 14 165 62 879 22 294 52 054 39 092 700 136 1 046 1 673 29 723 61 453 56 170 22 803 287 269 413 027 Persen (%) 4. Agrabinta.40 11. (2) tanah andosol yang tersebar di Kecamatan Pagelaran dan Tanggeung. Tegal/Kebun 3. Tidak diusahakan 8. Naringgul dan Warungkondang.95 0. Hutan Rakyat 9.46 7.76 6.

Sukaluyu. Kadupandak. Wilayah Pembangunan Utara (WPU) WPU merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede dengan topografi didominasi bergunung dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. . Takokak. Pagelaran. Penggunaan lahannya didominasi lahan kering dan terdapat perkebunan dan lahan sawah dengan luasan yang kecil. Cilaku. Warungkondang. Kecamatan yang termasuk WPT mencakup Tanggeung. Cidaun. Mande. Pacet. sebagai berikut: 1. Sindangbarang. Sukaresmi. Wilayah Pembangunan Selatan (WPS) WPS merupakan dataran rendah dengan topografi umumnya bergelombang hingga berbukit yang diselingi oleh pegunungan yang melebar hingga ke daerah pantai Samudera Indonesia. 3.43 terbagi atas tiga wilayah pembangunan dengan masing-masing karakteristik (Diperta Kabupaten Cianjur. Kecamatan yang termasuk WPS mencakup Agrabinta. tanaman hortikultura dan lahan sawah. tanaman hortikultura dan lahan sawah. Ciranjang. Kecamatan yang termasuk WPU mencakup Cianjur. Gekbrong dan Cipanas. 2. Bojongpicung. Karangtengah. Leles. Cugenang. Wilayah Pembangunan Tengah (WPT) WPT merupakan daerah dengan topografi berbukit hingga bergunung dengan struktur tanahnya labil sehingga sangat peka terhadap erosi dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Sukanagara. Cidaku dan Cijati. Cibeber. Campaka dan Campakamulya. Naringgul. Tanah di WPS memiliki struktur yang labil dan peka terhadap erosi. Cikalongkulon. 2007). Cibinong.

Petugas Penyuluh Lapang akan menyampaikan informasi kepada masing-masing kelompok tani. Tujuan dari adanya kelompok ini untuk memberikan kemudahan bagi petani apabila ada masalah dalam kegiatan usahataninya.9 persen dari seluruh KK. Kabupaten Cianjur ini berjumlah 80 kelompok tani.2 Sosial Ekonomi Penduduk Kabupaten Cianjur pada tahun 2006 berjumlah 2 098 644 orang (546 119 Kepala Keluarga/KK) teriri atas 1 069 408 orang laki-laki (50. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 14.99 persen. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42. sedangkan penduduk dengan pekerjaan utama adalah pertanian sebesar 61.0 persen dari total pendudk berusia produktif. Kepala keluarga miskin tergolong tinggi yaitu mencapai 35. beranggotakan petani perkelompok lima sampai enam orang petani dan dipimpin oleh seorang ketua kelompok. .60 persen. Kelompok tani kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. Selain itu memberikan kemudahan bagi Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dalam menyampaikan informasi teknologi kepada petani. serta kemudahan akses pasar bagi petani.04 persen).80 persen. dan kemudian ketua kelompok tani akan menyampaikan informasi yang diperoleh dari PPL kepada masing-masing anggota kelompok taninya.16 persen. Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur adalah sektor pertanian yaitu sekitar 62. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur yang tergolong usia produktif sebesar 39. kemudian diikuti sektor perdagangan sekitar 24.96 persen) dan 1 029 236 orang perempuan (49.6 persen.44 5.

Pedagang pengumpul yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah pedagang pengumpul yang berada di Kecamatan Ciranjang dan berjumlah tiga orang. Pedagang besar dalam memasarkan kedelai sudah memiliki pelanggan tetap. Jumlah pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang yaitu dua orang. Jumlah pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang tidak pasti karena umumnya pedagang pengumpul ini berasal dari luar Kecamatan Ciranjang. dan menjual kedelai tersebut ke pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang. Majalengka). Pedagang Besar Pedagang besar adalah pedagang yang menghimpun (mengumpulkan) kedelai baik dari pedagang-pedagang pengumpul maupun langsung dari petani yang kemudian dijual kembali ke pedagang pengecer. Garut. dan pengrajin tahu/tempe lokal serta di Cianjur. pedagang besar propinsi dan pengrajin tahu dan tempe. pedagang pengecer (Cianjur. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang kecil yang membeli hasil panen kedelai dari petani dan untuk dijual kembali kepada pedagang besar. Pedagang besar kabupaten memasarkan kedelai ke pedagang propinsi di Bandung. Pedagang besar kecamatan memasarkan kedelai hanya ke pengrajin tahu lokal dan ke pedagang propinsi di Bandung. . Pedagang pengumpul ini memperoleh kedelai dari Kecamatan Ciranjang dan luar Kecamatan. Sumedang.45 5. b.3 Lembaga Tataniaga Kedelai a.

Pedagang pengecer mendapatkan barang dari para pedagang besar yang ada di wilayah pedagang pengecer berdomisili. artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh lembaga tataniaga sangat tergantung dari aktivitas pedagang pengecer dalam menjual produk kepada konsumen. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual secara langsung kepada konsumen akhir. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersial. pengrajin tahu/tempe lokal.46 c. Jawa Tengah. Jawa Timur. d. Pedagang Propinsi Pedagang propinsi merupakan pedagang yang menyalurkan kedelai dari pedagang besar kecamatan dan kabupaten ke pedagang pengecer di Bandung. Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. . Pedagang propinsi memperoleh kedelai dari pedagang besar di Jawa Barat termasuk Kecamatan Ciranjang. serta dapat melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir. Jakarta.

00 23. Karakteristik petani tersebut mencakup umur.3 tahun. Petani paling banyak termasuk kelompok umur 48 sampai 58 tahun (40. Karakteristik Petani dan Usahatani Kedelai 6. luas dan status penguasaan lahan.69 > 69 Total Jumlah Petani (Orang) 3 7 12 7 1 30 Persentase (%) 10. Tabel 10 Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur Kelompok Umur (Tahun) 26 .58 59 .0 persen).47 48 .33 3. dan paling sedikit berada dikelompok umur lebih dari 69 tahun. dan kepemilikan alat pertanian serta ternak.00 Tabel 10 menginformasikan bahwa umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun. diikuti antara 7 sampai 9 tahun atau .47 VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6. Hal ini menunjukkan regenerasi petani sangat rendah.1. mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.57 tahun. sebagai pengambil keputusan terbaik dari berbagai alternatif kegiatan usahatani yang harus diambil.33 persen).33 100. Pendidikan petani paling banyak berkisar antara 1 sampai 6 tahun atau Sekolah Dasar (43.1 Karakteristik Petani Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani.1. tingkat pendidikan.00 23. Pendidikan petani (Tabel 11) berkisar antara sekolah dasar sampai perguruan tinggi dengan rataan pendidikan 4.33 40.36 37 .

33 persen. sedangkan kepemilikan sawah paling luas yaitu 2. diikuti oleh sawah berstatus milik sendiri dan sewa (26. Di Kecamatan Ciranjang sewa lahan hanya diambil untuk . dan sisanya antara 10 sampai 12 tahun atau Sekolah Menengah Atas (20 persen).33 36.00 100. Tabel 12 Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah Luas Sawah (Ha) 0.00 hektar paling sedikit hanya 3.00 Total Jumlah Petani (Orang) 12 11 6 1 30 Persentase (%) 40.33 persen).3.01 .00 persen).778 hektar perpetani.10 sampai 3.00 Tabel 12 menginformasikan bahwa luas kepemilikan sawah petani kedelai berkisar antara 0.10 sampai 3.00 43.55 hektar (40.00 hektar dengan rata-rata luas kepemilikan sebesar 0.67 20.10 .67 persen).00 36.00 1.00 0.67 persen). Tabel 11 Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan (Tahun) Tidak Sekolah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menegah Atas Perguruan Tinggi Total Jumlah Petani (Orang) 0 13 11 6 0 30 Persentase (%) 0. dan sisanya berstatus milik dan gadai (3. berstatus milik (10 persen).00 Status kepemilikan sawah (Tabel 13) petani kedelai mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.1.56 .10 sampai 0.33 100.0. Luas kepemilikan sawah petani kedelai paling banyak berada pada kelompok 0.55 0.48 Sekolah Lanjutan Pertama (36.00 3.00 2.2.00 persen).10 .67 20.

00 Alat-alat yang dibutuhkan petani kedelai dalam melaksanakan kegiatan usahataninya yaitu cangkul. lantai jemur dan alat perontok kedelai. Tabel 14 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian Kepemilikan Alat Hand Sprayer Pompa Air Lantai Jemur Hand Sprayer dan Lantai Jemur Perontok Kedelai Tidak Memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 5 8 0 14 30 Persentase (%) 10.00 26.49 tanaman padi sedangkan tanaman palawija sewa sawahnya tidak diambil oleh petani pemilik sawah. parang.00 Petani yang tidak memiliki alat pengendalian HPT biasanya menyewa dari petani lain atau menyewa dari kelompok tani.00 16. tetapi khusus alat pengendalian HPT kepemilikannya masih beragam.67 persen).67 persen) lebih sedikit bila dibandingkan dengan petani yang tidak memiliki hand sprayer (46.67 26. pompa air.00 0. Tabel 13 Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah Status Kepemilikan Milik Sewa/Sakap Gadai Milik dan Sewa Milik dan Gadai Total Jumlah Petani (Orang) 3 18 0 8 1 30 Persentase (%) 10.00 0. Pada umumnya petani sudah memiliki berbagai peralatan tersebut.67 3. arit. Biaya sewa .67 100.33 100. alat pengendalian Hama Penyakit Tanaman (HPT).67 0.00 46.00 60. dan alat perontok kedelai petani menyewa dari luar. sedangkan pompa air disewa dari kelompok tani. Tabel 14 memberikan informasi petani yang memiliki hand sprayer (36.

00 0.Juli setelah panen padi kedua. Penanaman di lahan sawah lebih banyak diminati petani karena lebih tinggi hasilnya dan karena penanaman kedelai setelah padi.00 3. memelihara ternak ayam (3.1. Tabel 15 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak Kepemilikan Ternak Kambing Sapi Kambing dan Sapi Ayam Tidak memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 0 1 26 30 Persentase (%) 10. per tiga kuintal kedelai. Usahatani Kedelai Di Kabupaten Cianjur pola tanam yang diterapkan adalah padi-padipalawija/kedelai.2. memungkinkan cara kerja yang sederhana sehingga lebih hemat .67 100. Salah satu usaha sampingan petani yaitu memelihara ternak kambing. sapi dan ayam. Kedelai musim utama ditanam mengikuti padi sawah musim hujan karena musim itulah yang terbaik untuk kedelai. sewa pompa air Rp 20 000 per hektar. 6.33 86.50 hand sprayer Rp 5 000 per hektar.00 0. pupuk kandang juga dapat memperbaiki struktur tanah.00 Tabel 15 menginformasikan bahwa beberapa petani sudah memelihara ternak kambing (10 persen) dengan rataan penguasaan antara 6 sampai 14 ekor. sedangkan paling banyak (86. Pemeliharaan ternak disamping memberikan tambahan pendapatan keluarga. Selain sebagai penyedia unsur hara mikro. petani juga dapat menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk kandang. kedelai banyak ditanam pada bulan Juni .33 persen) dengan rataan penguasaan 50 ekor.67 persen) petani tidak memelihara ternak. dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000.

Pada umumnya petani di Kecamatan Ciranjang bertanam kedelai di lahan bekas padi sawah tanpa didahului pengolahan tanah. Gulma yang lain telah cukup dikendalikan dengan membakar jerami yang dihamparkan menutup lahan yang baru ditugali benih kedelai. Hal yang sama terjadi bila . dan (3) umur dalam (lebih dari 85 hari). pengolahan tanah sebelum tanam itu juga berakibat memundurkan waktu tanam kedelai sehingga dapat mengurangi hasil. Di Kabupaten Cianjur.51 tenaga dan biaya dibanding penanaman di lahan tegal. kebanyakan tanpa pengolahan tanah. penanaman kedelai dilakukan dengan cara penugalan benih pada lahan sawah yang sudah dibabat jeraminya. Berdasarkan lamanya periode waktu tumbuh dari sejak tanam sampai kematangan polong. varietas kedelai dapat digolongkan menjadi tiga kelompok umur. yaitu (1) umur genjah (kurang dari 80 hari). (2) umur sedang (80 – 85 hari). Penyiapan lahan untuk bertanam cukup hanya dengan pembuatan parit dangkal seurut galangan dan tanpa pengolahan lahan. Bahkan penyiangan pun dilakukan secara minim. Tanah yang semasa padi sawah digenangi serta berlumpur tersebut. Selain kurang berguna. Pengendalian gulma hanya dilakukan satu kali. sewaktu kering ternyata cukup baik strukturnya untuk mendukung pertumbuhan kedelai tanpa pengolahan tanah sebelum tanam. Pola penugalan kira-kira bujur sangkar. Penanaman dengan cara tugal lebih baik karena jumlah tanamannya lebih besar dan tersebar lebih merata. dengan jarak 20 x 20 sentimeter sampai 25 x 25 sentimeter mengikuti jarak tugal jerami. Kekeringan yang terjadi setelah biji kedelai ditanam dapat menghambat perkecambahan.

Umumnya petani melakukan penyemprotan sesuai dengan intensitas serangan. kegiatan pemupukan antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi (Tabel 16).33 persen). ada juga petani yang meggunakan pupuk NPK (20 persen) dengan takaran 20 kilogram per hektar. Kedelai yang ditanam dalam pola bergiliran dapat memanfaatkan sisa pupuk yang tidak digunakan tanaman sebelumnya. SP36/TSP 100 kilogram. Selain itu. petani juga melakukan kegiatan pengendalian HPT. rata-rata penyemprotan dilakukan dua sampai tiga kali per tahun menggunakan pestisida kimia (80 . Selain kegiatan pemupukan. dapat menghambat pembentukan polong akibatnya dapat menurunkan hasil. Penggunaan pupuk per hektar yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur yaitu urea 50 kilogram. Kedelai merupakan tanaman semusim sehingga kebutuhan N. Tahun 2007. Di Kecamatan Ciranjang. Paling banyak petani mengaplikasikan pupuk urea (80 persen) dengan takaran 53 kilogram per hektar. pengendalian HPT antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi. Di Kecamatan Ciranjang. dan zat perangsang biji (30 persen) dengan takaran 1 liter per hektar. pada periode penanaman kedelai di Kecamatan Ciranjang terjadi kekeringan sehingga menurunkan hasil. NPK 150 kilogram. P dan K relatif besar. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah ulat grayak (pemakan daun) dan penggerek polong. Selain itu. zat perangsang biji 2 liter. KCl 50 kilogram. dan poska (3. Penggunaan dosis pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan hara tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai menjadi terganggu. Umumnya petani tidak melakukan kegiatan pemupukan sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan.52 biji yang telah ditanam tergenang air.

00 20. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai No 1 2 Jenis Kegiatan Bibit + Furadan (Kg) Takaran Pupuk (Kg) Urea SP36/TSP KCl ZA NPK Zat Perangsang Biji (l) 3 4 Pestisida (ml) Tenaga Kerja (HOK) Penanaman Penyiangan Pemupukan Pengendalian HPT Pengairan Panen/angkut Pengeringan dan Perontokan 30 11 24 24 10 20 20 100. dan sebagian daun sudah kering dan rontok.00 34.85 0.31 21 966. Cara panen kedelai dilakukan dengan memotong pangkal tanaman dengan menggunakan sabit atau parang.67 20 2 2 2 2 3.00 30. Setiap varietas kedelai memiliki umur yang berbeda. sehingga waktu panennya harus menyesuaikan dengan umur tanaman.00 33. Di Kecamatan Ciranjang varietas yang ditanaman umumnya adalah varietas Dapros (90 hari).62 1 501. Pangkal batang dan akar-akar tanaman kedelai .00 26.67 80.00 36. Pestisida.67 66.52 Harga Ratarata (Rp/unit) 6 643.5 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 24 8 4 0 6 9 24 80. sedangkan beberapa petani (20 persen) tidak melakukan pengendalian HPT (Tabel 16).33 66.53 persen) dengan takaran 344.62 mililiter per hektar.00 80.67 Jumlah Petani yang melakukan 30 Persentase (%) 100.33 0.96 25. dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat penanaman.30 2 100. ciri-ciri penampakan luar.00 80.94 35 692.42 6 929.62 Saat panen ditentukan berdasarkan umur tanaman.67 13.74 45.00 Jumlah (sat/Ha) 42. Tabel 16 Biaya Pupuk.00 2 080. Ciri-ciri umum tanaman kedelai sudah saatnya dipanen adalah polong secara merata sudah berwarna kuning-kecoklatan.61 79.26 344. batang-batangnya sudah kering.5 3.

sewa alat dan pajak.33 persen) untuk tujuan konsumsi polong yang direbus. Tujuan utama dari budidaya kedelai adalah memperoleh kedelai yang memiliki kadar air rendah.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1. Setelah panen. sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095. Di Kecamatan Ciranjang. sisa-sisa polong ataupun kotoran yang lain. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit. Keterlambatan dapat menyebabkan polong menjadi basah kembali dan menyulitkan dalam pembijian (pengelupasan biji dari polong). sehingga petani akan memperoleh penerimaan yang tinggi. Umumnya petani di Kecamatan Ciranjang melakukan perontokan dengan cara manual yaitu dipukul-pukul dengan kayu. Di Kecamatan Ciranjang. Tabel 16 memberikan informasi bahwa biaya . tapi ada juga beberapa petani yang menggunakan alat perontok kedelai. ada juga petani yang panen polong hijau (33. upah tenaga kerja.67 persen). Setelah dirontokan dilakukan pemisahan biji kedelai dari daun.60 per kilogram. Pengeringan dilakukan dengan menjemur brangkasan kedelai di bawah terik matahari dengan cara dihamparkan di atas lantai jemur atau menggunakan anyaman bambu.3 hari. tapi pada cuaca baik dapat dilakukan sekitar 1 . Perontokan atau pengupasan polong kedelai harus segera dilakukan setelah pengeringan. pupuk dan pestisida. Lamanya penjemuran rata-rata tujuh hari. kegiatan selanjutnya adalah pengeringan tujuannya untuk menurunkan kadar air dari biji sampai batas aman untuk disimpan atau memudahkan penanganan selanjutnya.54 bermanfaat sebagai sumber Nitrogen dan penyubur tanah untuk tanaman musim berikutnya.37 ton per hektar. rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370. selain panen tua untuk dikeringkan (66.

50 200 00. Sumberdaya yang digunakan dalam usahatani kedelai meliputi tenaga kerja.10 1 111 196. Pendapatan atas biaya tunai H. Biaya tunai yang paling besar digunakan untuk upah tenaga kerja luar keluarga. benih.24 398 256. pestisida dan pajak.00 882 796. Total Penerimaan (A+B) D.00 1.77 426 393.73 per hektar).05 3 132 778.73 4 243 974. Tabel 17 Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar Jenis Biaya dan Penerimaan A.00 114 247. Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga.63 10 000. Pendapatan Bersih J.55 usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.00 1 111 196.27 Polong Tua (Rp/ha) 4 243 974.30 350 000. sewa alat.54 9 280.24 1. Penerimaan Tidak Diperhitungkan C.00 107 471.00 931 315. Biaya Tunai Benih Pupuk Pestisida PPC/ZPT Tenaga Kerja Luar Keluarga Sewa Alat Handsprayer Sewa Alat Perontok Sewa Pompa Pajak Total Biaya Tunai E.84 1 871 269.00 74 106. Pendapatan atas biaya total I.72 51 959.72 494 260.00 1 096 367.33 2 201463.00 590 214.35 .05 350 000.00 100 00. R/C Rasio Polong Muda (Rp/ha) 1 871 269.73 2 042 511.54 398 259.30 240 214.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua (Rp 3 312 778. Biaya Diperhitungkan Tenaga Kerja Keluarga Sewa Lahan Benih Penyusutan Total Biaya Diperhitungkan F.73 282 486.84 282 486.96 75 701.68 581 315.30 1 473 010. Total Biaya (D+E) G.00 10 000. pupuk. Penerimaan Tunai B. hal ini disebabkan tenaga kerja dalam keluarga sangat minim.60 988 473.99 37 850.

Petani yang melakukan panen polong muda disebabkan beberapa hal.27).00. Nilai R/C rasio yang diperoleh pada usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang tidak berbeda jauh dengan nilai R/C rasio usahatani kedelai pada penelitian Rusastra et al (1992) yaitu 1.73 dan pendapatan atas total biaya Rp 1 111 196.24. Besarnya pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani polong tua karena hasil yang diperoleh lebih banyak dan harga jual biji kedelai lebih tinggi dari pada kedelai hijau (muda). sehingga kegiatan pemeliharaan tidak dilakukan dengan optimal.84 dan pendapatan atas total biaya Rp 398 256.27 untuk polong muda.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1. Jadwal penanaman yang terlambat juga mengharuskan petani untuk melakukan panen kedelai polong muda. Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35) tidak berbeda jauh dari pada petani yang panen polong muda (1. Total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.56 Suatu usahatani akan dikatakan berhasil atau menguntungkan jika selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif. seperti jadwal penanaman yang terlambat. total penerimaan mencapai Rp 1 871 269. Berdasarkan analisis usahatani (Tabel 17) kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda. ada juga petani . Petani yang memiliki keterbatasan modal telah merencanakan menanam kedelai untuk dipanen muda. waktu pengolahan lama dan keterbatasan modal. Walaupun. nilai R/C rasionya tidak berbeda jauh tetapi pendapatan bersih polong tua lebih tinggi dari pendapatan bersih polong muda. Selain itu.4. Melihat perbandingan jumlah R/C rasio yang diperoleh. petani yang panen polong tua (1.

Tetapi di Desa Ciranjang. pedagang besar kabupaten. Hal ini disebabkan oleh lokasi petani yang jauh dari pedagang besar kecamatan sehingga penjualan ke pasar akan menambah biaya dan keterbatasan waktu. selain cara penjualan yang demikian ada pula petani yang membawa sendiri dan menjualnya pada pedagang besar kabupaten yang berada di pasar. berbeda dengan polong tua yang bisa disimpan apabila petani tidak bisa menjual semua hasil panennya. ada dua saluran tataniaga yaitu .1 Saluran Tataniaga Pemasaran kedelai di lokasi penelitian dari petani sampai konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pemasaran yaitu pedagang pengumpul (tengkulak). Selain itu. pedagang besar kecamatan. Sebagian besar petani di Kecamatan Ciranjang melakukan penjualan kedelai langsung kepada tengkulak.2 Saluran dan Lembaga Tataniaga 6.. sedangkan untuk membayar tenaga kerja mereka memiliki keterbatasan modal. 6. Kabupaten Cianjur. Pemanenan kedelai polong muda tidak dapat dilakukan terus menerus karena penyerapan pasar untuk polong muda sangat terbatas. dan pedagang pengecer. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. penyerapan pasar untuk kedelai polong tua masih sangat terbuka luas karena kedelai polong tua dibutuhkan industri-industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai. Pada saat panen banyak pedagang pengumpul yang datang ke tempat petani sehingga petani dapat menjual kedelai di rumah atau di sawah tanpa harus mengangkut ke tempat pembeli. pedagang besar propinsi.57 memanen polong muda karena keterbatasan waktu yang dimilikinya.2.

69%).72%) melalui saluran kedua.77%) lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (10. kemudian kedelai tersebut (100 persen) dibawa ke pedagang Pasar Induk Parung. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda.33%) ke pedagang pengumpul.58 saluran tataniaga kedelai polong muda (Gambar 3) dan saluran tataniaga kedelai polong tua (Gambar 4). 8. lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (5. Gambar 3 menginformasikan bahwa saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai dua tujuan. Saluran kesatu dari pedagang pengumpul kedelai dijual ke pedagang kecamatan (42. 80 persen kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan 20 persen langsung diserap oleh konsumen akhir. Gambar 4 menginformasikan bahwa di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Saluran kedua dan ketiga kedelai dari pedagang pengumpul dijual ke pedagang kabupaten (30.58 persen kedelai dari pedagang kabupaten . Pada saluran kesatu sampai kelima petani menjual kedelai (73. yaitu dari petani kedelai (100 persen) dibawa ke pedagang pengumpul. Di pedagang pasar induk. 100 % Petani Pedagang Pengumpul Ciranjang 100 % Pedagang Pasar Induk Parung 20 % 80 % Pedagang Pegecer Konsumen Gambar 3.56%).

lokasi petani yang jauh dari pedagang kabupaten. .23 persen diserap pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir melalui saluran kelima.33 persen) karena banyaknya jumlah pedagang pengumpul lokal yang mendatangi petani.08%) lalu diserap pengrajin tahu/tempe (6. 2 dan saluran 3 lebih banyak dipilih (73.59 diserap oleh pedagang pengecer kemudian dijual ke konsumen akhir melalui saluran ketiga. Kedelai diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (6. Saluran 6-8 hanya dipergunakan oleh petani responden (26. sehingga tidak ada alternatif lain bagi petani untuk menjual hasil panennya.14%) melalui saluran keempat.23 persen) karena petani tidak mau mengambil resiko kerugian biaya transportasi. Volume kedelai banyak melalui saluran tiga (57. kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang propinsi (4. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden. sedangkan saluran ketujuh dan kedelapan.77%) kedelai dijual langsung ke pedagang propinsi (32. Pada saluran keenam kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang pengecer (8.58%). Pada dasarnya petani memiliki kebebasan untuk menentukan saluran mana yang akan dipilih. penjualan kedelai ke saluran 1.67%). 10.14%) melalui saluran ketujuh dan diserap oleh pedagang pengecer (10.23%) melalui saluran kedelapan untuk dijual ke konsumen akhir.58%) lalu ke konsumen akhir. Saluran keempat dan kelima sama seperti saluran kesatu. tetapi dari pedagang kecamatan (42.67 persen) yang berdekatan dengan pasar Ciranjang seperti Desa Ciranjang dan Desa Cibiuk. Saluran keenam sampai kedelapan petani menjual kedelai langsung ke pedagang kabupaten (26.

60 26.77 % Pedagang Besar Kecamatan Garut Majalengka Sumedang Sukabumi Pengrajin Tahu Tempe 8.14 % Pengrajin Tahu Tahu /Tempe Tempe Ket: tidak dianalisis Gambar 4 Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua. 6.33 % Pedagang Pengumpul Kecamatan Ciranjang 30.08 % Bandung Bandung Pedagang Besar Propinsi 24.67 % Petani 73.2.72 % 10.2 Lembaga Tataniaga Kegiatan yang dilakukan lembaga tataniaga untuk memperlancar arus kedelai dari produsen ke konsumen dinamakan fungsi tataniaga.56 % Pedagang Besar Kabupaten 34.58 % 8.23 % Pengecer 10. Umumnya fungsi-fungsi tataniaga kedelai yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga .23 % Konsumen 6.58 % Konsumen 32.34% 5.69 % 42.58 % Pedagang Pengecer 8.56% Luar Jawa Barat 10.

pedagang besar kabupaten.61 tataniaga adalah fungsi pertukaran. pedagang pengumpul. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. pembiayaan. pedagang besar propinsi. pedagang kecamatan. pembiayaan. Tabel 18 Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai Lembaga Tataniaga Petani Pedagang Pengumpul Fungsi Tataniaga Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi fasilitas Aktivitas Pedagang Kecamatan Pedagang Kabupaten Pedagang Propinsi Pedagang Pengecer Penjualan Pengangkutan Pembelian dan penjualan Pengumpulan dan pengangkutan Penanggungan resiko. dan pedagang pengecer. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan dan pengangkutan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. informasi pasar a. Tabel 18 menginformasikan bahwa ada enam lembaga tataniaga yang terlibat yaitu petani. Umumnya petani menjual ke pedagang pengumpul yang mendatangi rumah atau sawah petani dengan penawaran harga tertinggi. Petani memasarkan kedelai dalam dua bentuk yaitu polong muda dan polong tua. pembiayaan. Setiap lembaga yang terlibat dalam tataniaga kedelai mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Petani Seluruh petani responden kedelai di Kecamatan Ciranjang umumnya tidak menemui kesulitan dalam memasarkan kedelainya karena pedagang pengumpul selalu ada untuk mengambil produksi kedelai saat musim panen. tetapi ada beberapa petani yang menjual langsung ke pedagang besar di pasar. Pemilihan rantai tataniaga .

tetapi ada beberapa pedagang yang merupakan penduduk Kecamatan Ciranjang.62 pedagang pengumpul oleh petani dengan pertimbangan tidak ada biaya transportasi dan lokasi petani ke pasar tujuan cukup jauh. Cara petani menjual kedelai ke pedagang pengumpul adalah cara langsung dari rumah atau sawah. Kedelai yang dijual ke pedagang pengumpul sebanyak 73. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah pembelian dan penjualan. sedangkan kedelai polong tua dibawa ke pedagang kecamatan dan pedagang besar kabupaten dengan menggunakan transportasi mobil. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko .33 persen dari keseluruhan hasil produksi kedelai di Kecamatan Ciranjang. Cara pembelian yang dilakukan pedagang pengumpul dari petani untuk polong tua dengan ditimbang di rumah petani. Kedelai ini selanjutnya dibawa ke pasar tujuan untuk kedelai polong muda. Sistem ini memberikan kemudahan bagi petani. khusus polong muda umumnya secara borongan di sawah yang didatangi pedagang pengumpul. tetapi informasi pasar dan harga dikuasai oleh pedagang pengumpul sehingga harga jual ditentukan oleh pedagang pengumpul. b. tetapi ada juga yang pembayarannya menunggu hasil penjualan ke pedagang besar atas dasar kepercayaan. Akibatnya cara tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah. fungsi fisik yaitu pengumpulan dan pengangkutan. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang umumnya pedagang pengumpul dari luar Kecamatan. sedangkan yang polong muda umumnya tebasan langsung di sawah petani. Sistem pembayaran umumnya secara tunai.

misalnya tidak pada saat musim tanam kedelai sehingga terjadi kekurangan pasokan. tenaga kerja dan pengemasan) dan informasi pasar (harga). selain itu menerima kedelai langsung dari petani. Pedagang kecamatan mempunyai informasi pasar yang akurat tentang harga yang terjadi karena berhubungan langsung dengan pedagang besar propinsi. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh pedagang kecamatan adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Pedagang Kecamatan Pedagang kecamatan merupakan pengrajin tahu skala besar di Kecamatan Haurwangi. sedangkan pembelian kedelai dari petani dibayar tunai. Umumnya pedagang pengumpul yang menjual kedelai ke pedagang kecamatan merupakan pedagang yang menerima bantuan modal dari pedagang kecamatan. pembiayaan transportasi dan informasi pasar.63 penyusutan. Cara pembayaran kepada pedagang pengumpul dengan mengurangi langsung modal yang dipinjam pedagang pengumpul dari penjualan kedelai. pembiayaan (transportasi. . Selain itu banyaknya kedelai yang harus disiapkan oleh pedagang pengumpul. sebagian dijual langsung ke pedagang besar propinsi di Bandung. c. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. fungsi fisik berupa penyimpanan dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Pedagang ini menerima kedelai dari pedagang pengumpul dari desadesa yang berdekatan dengan pedagang kecamatan. Kedelai yang diperoleh selain untuk bahan baku pabrik tahu miliknya. Jawa Barat.

Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang besar kabupaten Cianjur (di Kecamatan Ciranjang). pembiayaan dan informasi pasar. sehingga posisi tawar-menawar pedagang pengumpul lemah jika dibandingkan dengan pedagang besar. Garut. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Pedagang Besar Kabupaten Pedagang besar kabupaten yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang.64 d. Penyerahan kedelai dilakukan di tempat pedagang besar sehingga pembelian tersebut berlangsung di gudang pedagang besar. Sukabumi dan Bandung. dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Kedelai tersebut dijual baik langsung ke pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur maupun ke pedagang pengecer di Kabupaten Cianjur dan pedagang pengecer luar daerah yang telah menjadi langganan sepeti Garut. Tasik. selain itu pedagang ini menerima pasokan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur melibatkan pedagang kebupaten lainnya. Sukabumi Selatan. Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar selalu tunai. Fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Pedagang Besar Propinsi Pedagang besar propinsi yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai dari produsen di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. Jawa Barat. Subang. Sumedang. dan . fungsi fisik berupa penyimpanan. Majalengka. Majalengka. Pedagang ini memiliki skala usaha dagang yang besar di Bandung. Karawang. Pedagang besar umumnya mempunyai informasi harga yang akurat. e. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang pengumpul dan petani yang berdekatan dengan pasar.

. Jawa Timur. Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar propinsi adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang menerima pasokan kedelai dari pedagang besar untuk dijual langsung kepada konsumen akhir. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar adalah nota dan tunai. karena pedagang besar berhubungan langsung dengan penentu harga pasar yaitu pedagang pengecer. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. fungsi fisik yaitu penyimpanan. serta dari Jawa Tengah. Umumnya pedagang pengecer menjual kedelai untuk konsumsi. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. f. Selain itu menerima kedelai langsung dari petani di wilayah Bandung. Pedagang besar melakukan kegiatan penjualan kedelai baik secara langsung ke pengrajin tahu/tempe dan pedagang pengecer di daerah Bandung. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. Informasi harga yang dimiliki pedagang besar merupakan informasi terbaru. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan.65 Banjar. maupun pengiriman ke luar propinsi Jawa Barat. Pedagang pengecer melakukan fungsi-fungsi tataniaga adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer dengan cara tunai. Banyaknya kedelai yang dibeli disesuaikan dengan skala usaha dagang yang dimiliki pedagang pengecer. fungsi fisik yaitu penyimpanan dan pengangkutan dari pedagang besar ke pedagang pengecer. tetapi ada juga pengecer yang menjual kedelai untuk benih.

Kedelai yang diperjualbelikan umumnya homogen yaitu kedelai varietas Dapros. sedangkan pedagang pengumpul menghadapi hambatan pada waktu bukan musim tanam kedelai dan keterbatasan modal. pedagang kecamatan dan pedagang besar. Akibatnya petani hanya berperan sebagai price taker dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam penentuan harga.66 6. kebebasan untuk keluar masuk pasar yang dialami oleh para pelaku pasar.3 Struktur dan Perilaku Pasar 6. Sumber informasi tentang harga dibawa oleh pedagang sehingga penentu harga dilakukan oleh pihak pedagang. Petani dan Pedagang Pengumpul. Dilihat dari struktur pasar yang dihadapai pedagang pengumpul memiliki posisi tawar yang lebih baik dari petani. Struktur pasar yang dihadapi oleh para pelaku pasar dalam tataniaga kedelai adalah sebagai berikut: a. Hambatan yang dihadapi pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten adalah harus memiliki modal yang kuat dan memiliki relasi yang luas agar dalam pemasaran kedelai berjalan dengan lancar.3. Pedagang Kecamatan serta Pedagang Kabupaten Petani berperan sebagai penjual dan yang berperan sebagai pembeli adalah pedagang pengumpul. . Petani dalam memasarkan hasilnya tidak menghadapi hambatan karena petani dengan mudah menjual kedelai kepada pembeli. sedangkan pedagang kecamatan/kabupaten posisi tawarnya lebih baik dari pedagang pengumpul. sifat produk yang diperjualbelikan dan informasi pasar yang diperoleh.1 Struktur Pasar Struktur pasar dapat diidentifikasi dengan melihat jumlah lembaga tataniaga.

sehingga posisi tawarnya lebih baik dari pedagang kecamatan/kabupaten. Informasi ini diperoleh dari pedagang pengumpul lainnya dan pedagang besar itu sendiri. mereka memasarkan kedelai hanya kepada pedagang besar. pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten bersifat homogen.67 b. Posis tawar pedagang kecamatan/kabupaten lebih baik dari pedagang pengumpul karena yang menentukan harga adalah konsumen akhir. Jumlah pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang tidak diketahui dengan pasti. Pedagang Pengumpul dan Pedagang Besar Di lokasi penelitian jumlah pedagang pengumpul lebih sedikit dari jumlah petani tapi lebih banyak dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. jika tiba musim panen kedelai pedagang pengumpul banyak berdatangan dari luar Kecamatan. pedagang besar juga harus memiliki komunikasi dan kepercayaan yang baik dengan lembaga tataniaga yang lain. karena umumnya pedagang pengumpul mendapat pinjaman dari pedagang besar. Pedagang Besar. Informasi yang dimiliki pedagang pengumpul mengenai keberadaan kedelai dan harga jual yang berlaku lebih baik jika dibandingkan petani. Selain harus mempunyai modal yang kuat. Pedagang Besar Propinsi dan Pedagang Pengecer Pedagang propinsi memiliki level penjualan yang lebih tinggi dari pedagang kecamatan/kabupaten. Posisi tawar pedagang pengecer lebih baik dari pedagang propinsi karena berhubungan langsung dengan konsumen akhir. c. . Namun ada juga pedagang pengumpul yang bekerja sendiri. Hal ini karena pedagang pengumpul memiliki keterbatasan modal untuk membayar petani. Komoditi yang diperjualbelikan di tingkat pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul dalam menentukan harga sangat lemah.

68 Sistem pembayaran antara pedagang besar dengan pedagang pengumpul secara tunai. Praktik Pembelian dan Penjualan Setiap lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga kedelai melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. Cara pembayaran untuk setiap lembaga tataniaga dilakukan secara tunai. sedangkan pedagang besar melakukan pembelian di tempat penjual. . hal ini dicirikan dengan banyak pedagang pengecer sebagai penjual dengan banyak konsumen akhir sebagai pembeli. Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer terhadap pedagang besar dan konsumen adalah tunai. Pedagang pengecer dengan konsumen menghadapi struktur pasar persaingan.3. 6.2 Perilaku Pasar Perilaku pasar dapat diidentifikasi dengan mengamati kegiatan tataniaga kedelai dalam proses pembelian dan penjualan. dan komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen. d. Pembelian kedelai oleh pedagang pengumpul dilakukan dengan cara pedagang pengumpul langsung mendatangi petani. sistem pembayaran dan kerjasama yang terjadi antara lembaga tataniaga. kecuali petani yang hanya melakukan kegiatan penjualan. Komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu kedelai. sistem penentuan harga. Pedagang Pengecer dengan Konsumen Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir. kecuali polong muda penundaan pembayaran bisa terjadi karena keterbatasan modal yang dimiliki pedagang pengumpul. a.

4 Analisis Keragaan Pasar Struktur pasar dan perilaku pasar akan menentukan keragaan pasar yang dapat diukur melalui harga. 6. Informasi harga dibawa oleh pedagang pengumpul saat akan membeli kedelai di tempat atau sawah petani. sehingga petani dapat menekan biaya usahatani kedelainya. Proses penentuan harga antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar lebih banyak dipengaruhi oleh harga kedelai di pasar. 1977).4. Kerjasama Antar Lembaga Kerjasama antar lembaga tataniaga kedelai baru terjadi antara petani dan pedagang besar kecamatan dan kabupaten di kecamatan Ciranjang. 6. c. Analisis efisiensi tataniaga mencakup analisis marjin tataniaga.69 b. biaya dan jumlah komoditi yang akhirnya memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem tataniaga (Dahl and Hammond. Bentuk kerjasama yang terjadi adalah pedagang besar menyediakan benih kedelai dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dengan mutu benih kedelai yang sama. Penguasaan informasi harga sangat didominasi oleh pedagang pengumpul.1 Marjin Tataniaga Marjin tataniaga diartikan melalui selisih harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat pedagang pengecer yang diperoleh dengan satuan rupiah per . farmer s share dan analisis rasio keuntungan dan biaya. Sistem Penentuan Harga Posisi petani adalah sebagai penerima harga. Efisiensi tataniaga merupakan suatu kegiatan perubahan yang dapat meminimalkan biaya input tanpa harus mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa. walaupun terjadi tawar-menawar penetapan harga tetap lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul.

tenaga kerja. Saluran ke-2 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kabupaten dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe.70 kilogram kedelai. Kabupaten Cianjur terdiri dari delapan saluaran tataniaga. pengemasan dan retribusi. Saluran tataniaga kedelai yang melalui pedagang pengumpul yaitu saluran satu sampai saluran lima (Tabel 19) dan saluran tataniaga yang melalui pedagang besar kabupaten yaitu saluran enam sampai saluran delapan (Tabel 20). Biaya tataniaga tersebut meliputi biaya transportasi. Secara umum petani menyalurkan kedelai melalui dua lembaga saluran tataniaga. Keuntungan pemasaran merupakan selisih antara harga jual dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan. Sistem tataniaga yang terjadi di Kecamatan Ciranjang. Pembahasan mengenai sebaran marjin tataniaga dibagi menjadi sebaran marjin melalui pedagang pengumpul dan sebaran marjin melalui pedagang besar kabupaten. yaitu saluran ke-1 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kecamatan dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Biaya tataniaga merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam memasarkan kedelai dari petani sampai ke konsumen akhir. Penghitungan marjin meliputi biaya tataniaga dan keuntungan lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tersebut. Marjin tataniaga dalam penelitian ini dihitung berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang terbentuk. . Saluran ke-3 sama seperti saluran ke-2 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah komoditi yang dipasarkan. yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar kabupaten.

33 dan Rp 48.40 per kilogram.71 Saluran 4 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu dibawa ke pedagang kecamatan lalu ke pedagang propinsi dan diserap pengrajin tahu/tempe (Bandung). per kilogram (Tabel 18). paling banyak berasal dari pedagang kecamatan yaitu Rp 600 dan pedagang pengumpul Rp 404. Saluran ke-8 sama seperti saluran ke-7 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. total biaya tataniaga yang dikeluarkan sebesar Rp 97. paling besar berasal dari pedagang kecamatan sebesar Rp 551.33 per kilogram dan biaya tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 15 per kilogram. Pada saluran tataniaga 1 dengan tujuan akhir pengrajin tahu/tempe.33 dan pedagang pengumpul Rp 356.40 per kilogram. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengumpul meliputi biaya transportasi untuk mencari kedelai sebesar Rp 33. Pada tingkat pedagang kecamatan biaya yang dikeluarkan untuk transportasi sebesar Rp 16.67 per kilogram.67. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengecer dan pedagang kecamatan yaitu masing-masing sebesar Rp 48.40. tenaga kerja dan pengemasan Rp 25 dan penyusutan Rp 7 per kilogram.07 per kilogram. . Total keuntungan Rp 907. Saluran ke-5 sama seperti saluran ke-4 hanya tujuannya ke pedagang pengecer lalu ke konsumen akhir. Saluran ke-6 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen (Kabupaten Cianjur). Total perolehan marjin Rp 1 004. Saluran ke-7 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang propinsi dan diserap oleh pengrajin tahu/tempe.

Dua.92 32.24 14.78 1.40 3 500.33 356.00 118.60 9.00 48.07 7.00 57.99 77.89 % Saluran 5 Harga (Rp/kg) 2 285.40 3 500.00 4 100.85 53.73 19.60 48.00 55.09 5.07 404.77 75.63 100.25 23.08 810. Pedagang Pengumpul Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.00 3 500.37 50.60 3 095.62 46.08 810.00 1.50 75.85 1.08 810.33 600.07 404.33 356.73 21.72 Tabel 19 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.67 551.00 1.50 1.00 3 500.37 80.45 14.08 810.33 356.22 53.86 0.67 1 381.19 13.67 1.67 1 381.68 9.00 428.00 72.33 1 500. Tiga.60 3 095.00 500.00 77. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 2 285.91 8.00 5 000.60 48.33 1 500.86 85.60 48.00 3 500.08 76.52 3 095.50 75.43 .08 810.00 4 000.15 0.40 3 500.60 48.33 356.18 8.16 12.33 356.78 18.69 5.86 85.73 19.68 9.47 47.07 404.52 3 095.00 92.07 404.00 4 100.74 5.11 1.18 8.78 35.00 50.78 50.00 % 55.00 118.40 3 500.00 3 500.58 44.52 3 095.77 75.43 71.00 5 000.07 404.79 66.00 3500.22 42.50 1.64 11.40 3 500.00 600. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.52 3 095.60 3 095.63 100.52 3 095.60 3 095.70 19.01 68. Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 1.39 13.11 88.60 3 095.00 % Saluran 3 Harga (Rp/kg) 2 285. Pedagang Kecamatan Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.48 6.83 21.51 11.60 48.00 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) 2 285.00 543.00 % Saluran 4 Harga (Rp/kg) 2 285.

00 1 235.93 55.92 1.00 92.55 44.86 1.72 21.40 3 904.00 76.00 5.29 48.50 279. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 8.00 97.00 100.00 3 125.08 52.84 49.12 27.40 8.00 1 388.10 7.00 4 500.93 24.47 8. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share 4 100.21 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) % Saluran 3 Harga (Rp/kg) % Saluran 4 Harga (Rp/kg) % Saluran 5 Harga (Rp/kg) % 5 000.20 47.00 71.44 9.00 100.64 20. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 6.43 2.50 105.22 100.13 24.00 1 400.40 6.40 9.38 7 000.79 100.00 4 100.00 7 000.07 1 404.54 75.09 31.40 1 004.50 2.33 899.00 500.36 17.00 523.00 112.00 6500.00 6 400.67 11.57 100.50 2.62 4.00 600.00 185.58 68.00 88.40 8.00 6 400.00 4 500.40 3 404.00 5 000.00 907.35 75.00 77.73 Tabel 19 Lanjutan Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 5.43 4 000.37 22.78 .00 4.00 91.08 100.40 11.35 23.00 165.00 3 495.00 100.00 1 500.33 1 219.00 409.89 1.00 435.07 1 004.00 65.00 6 500.11 100.57 21. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 7.

07 paling besar berasal dari pedagang pengumpul Rp 356. Total keuntungan Rp 899.40 paling besar berasal dari pedagang .07 per kilogram. hanya pada saluran 2 dari pedagang pengumpul kedelai dibawa ke pedagang kabupaten. Total marjin yang diperoleh sebesar Rp 3 404. pemasaran kedelai sampai ke konsumen akhir melalui pedagang pengecer.07 paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 543 dan pedagang pengecer sebesar Rp 365.33 dan pedagang pengecer sebesar Rp 65 per kilogram. hal ini dikarenakan biaya tataniaga yang dikeluarkan sangat besar yaitu Rp 72 yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp 40.07. Biaya tataniaga paling kecil dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 48. tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 10. Saluran tataniaga 4 merupakan saluran dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung melalui pedagang besar propinsi. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 1 404. biaya pengemasan Rp 5 dan penyusutan Rp 7 per kilogram.74 Saluran tataniaga 2 sama dengan saluran tataniaga 1. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk tujuan pengrajin tahu/tempe yaitu biaya transportasi Rp 30. penyusutan Rp 7 dan biaya tenaga kerja Rp 25 per kilogram. Total keuntungan tataniaga sebesar Rp 1 219.40.40 per kilogram. Pedagang kabupaten memperoleh keuntungan sedikit. pedagang pengecer Rp 435 dan pedagang kabupaten Rp 428 per kilogram. Pada saluran tataniaga 3. paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 600 dan pedagang pengecer Rp 404.40 dengan sebaran marjin di pedagang kabupaten dan pedagang pengecer yaitu masing-masing Rp 500 per kilogram dan pedagang pengumpul Rp 404. Total marjin tataniaga saluran 2 sebesar Rp 1 004 sama dengan saluran 1.

Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang propinsi sebesar Rp 165 per kilogram dan biaya tataniaga terendah pada pedagang pengecer. Saluran tataniaga 6 (Tabel 20) merupakan saluran yang tujuannya sama dengan saluran tataniaga 3.07 sampai Rp 1 381. Marjin terbesar berasal dari pedagang kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing sebesar Rp 1 500 dan Rp 1 400 per kilogram.67 per kilogram.67.40 paling besar keuntungan yang diperoleh pedagang propinsi sebesar Rp 1 388 per kilogram. penyusutan Rp 7. Total keuntungan saluran tataniaga in sebesar Rp 863 dengan pembagian keuntungan pada pedagang kabupaten sebesar Rp 426 dan pedagang pengecer sebesar Rp 435 per kilogram. tenaga kerja bongkar muat Rp 20 dan pengemasan Rp 5 per kilogram. Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang kabupaten merupakan biaya terbesar yaitu Rp 72 . Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang kecamatan.33 sampai Rp 118. hanya pada penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul.40 per kilogram. Total marjin tataniaga Rp 1 000 dengan pembagian yang merata pada pedagang kabupaten dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 perkilogram (Tabel 19).33 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh dari lembaga tataniaga sebesar Rp 4 904. Keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 356. Biaya tataniaga yang dikeluarkan berkisar antara Rp 48.75 kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing Rp 1 500 per kilogram. Total keuntungan sebesar Rp 3 125. Pada saluran tataniaga 5 merupakan saluran yang sama dengan saluran 4 hanya tujuan tataniaga kedelai adalah konsumen akhir di daerah Bandung. biaya tersebut terdiri dari biaya transportasi Rp 86.

00 100.76 dengan alokasi terbesar untuk biaya transporatsi Rp 40.00 90.00 3.51 11.00 154.4.42 1.00 326.00 4 500.85 Saluran 8 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 43.00 77.43 71. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.50 1 405.08 100.30 77.00 500.00 48.71 1.00 5 000.00 6 500. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 3 000 dengan pembagian yang merata .35 20.00 7 000.50 1 400.45 21.50 1 500.41 17.08 53.00 423.50 1 405.00 51.00 7 000.00 4.00 46.33 1.43 4 000.89 3 500.60 9.78 Saluran 7 Harga % (Rp/kg) 2 301. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 5.00 6 500.15 14. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang Uraian 1.00 94.12 50.92 3 500.86 3 074.00 43.44 9.08 21.04 7.79 20.00 50.75 1 198.00 32.00 .00 6 500.50 1 500.88 17.14 100.09 3 000.00 19.00 5 000.78 100.00 70. Tabel 20 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 6. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share Saluran 6 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 35.00 3 500.57 9.00 1.00 435.48 1.00 500.25 3 500.00 100.06 2 801.00 3.50 1 245. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.00 91.00 104.62 23.47 23.75 1 198.43 5 000.43 50.00 65.00 75.50 1 500.61 21.00 428.00 4 000.00 72.00 500.00 66.85 Saluran tataniaga 7 merupakan saluran yang sama dengan saluran 6 hanya tujuan penyaluran kedelai adalah pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.67 11.00 22.41 18.00 137.04 863.00 93.25 3 500.67 2.18 1 000.25 3 500. tenaga kerja Rp 25 dan penyusutan sebesar Rp 7 per kilogram. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.08 76.50 1 395.00 4 500.00 53.75 1 198.63 77.00 5 000.22 6.00 6 400.00 199.11 100.43 53.91 3 400.15 16.32 1.11 88.10 6.

Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan . pada pedagang propinsi Rp 1 245. Biaya tataniaga berkisar antara Rp 94. Total marjin tataniaga yang diperoleh Rp 3 400 dengan alokasi terbesar pada pedagang kabupaten sebesar Rp 1 500. hanya penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul. pedagang propinsi sebesar Rp 1 400 dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 per kilogram. Saluran tataniaga 8 merupakan saluran yang tujuan pemasaran kedelai sama dengan saluran tataniaga 5. Pangsa Marjin Berdasarkan sebaran marjin tataniaga kedelapan saluran tataniaga di atas. maka dapat dilihat persentase pangsa marjin (Tabel 21) dan persentase net marjin (Tabel 22) yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masing-masing saluran tataniaga.5 pada pedagang kabupaten.2 Pangsa Marjin dan Net Marjin a.77 pada pedagang propinsi dan pedagang kabupaten masing-masing sebesar Rp 1 500 per kilogram. pangsa marjin diperoleh dari marjin tataniaga masing-masing lembaga dibagi total marjin tataniaga dalam bentuk persen. Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang kabupaten sebesar Rp 1 405.5 per kilogram dengan alokasi terbesar untuk biaya transportasi dan penyusutan. Total biaya tataniaga sebesar Rp 326 per kilogram dengan biaya terbesar pada pedagang propinsi.5 per kilogram.5 sampai Rp 104. Keuntungan terbesar sebesar Rp 1 405. Pangsa marjin digunakan untuk melihat besarnya marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga.5 dan pedagang propinsi sebesar Rp 1 395. Secara keseluruhan marjin tataniaga di setiap saluran tataniaga di kabupaten Cianjur cenderung tinggi. 6.4.5 dan pedagang pengecer sebesar Rp 423 per kilogram.

00 41.37 50.71 Total Pangsa Marjin 100.00 44. net marjin dihitung dari keuntungan tiap lembaga tataniaga dibagi total keuntungan tataniaga dalam bentuk persen.60 15.08 35.00 100. . Pada saluran tataniaga satu dan dua terdapat dua pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul dan pedagang kecamatan/kabupaten. Sebaran pangsa marjin pada saluran ini cenderung belum merata yaitu pedagang pengumpul sebesar 10.00 100.00 100.42 persen.74 44.00 100.745 persen.79 11.26 28.00 14.00 50. Pada saluran tataniaga ini merupakan pangsa marjin terbesar dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas dan diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten.42 59.00 100.78 pada setiap pelaku pasar. Tabel 21 menginformasikan pangsa marjin terbesar terdapat pada saluran tataniaga satu dan saluran tataniaga dua dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur yang diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten yaitu masing-masing sebesar 59.12 44.36 persen.18 Pedagang Pengecer 35.00 100.74 35.36 Pangsa Marjin (%) Pedagang Pedagang Pedagang Kecamatan Kabupaten Propinsi 59. Tabel 21 Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 40.86 50.60 50.26 40.06 38. Saluran tataniaga yang efisien ditunjukkan oleh perolehan marjin yang merata di setiap pelaku pasar. pedagang kecamatan sebesar 38.00 Saluran tataniaga lima merupakan saluran terpanjang dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas yaitu melibatkan empat pelaku pasar.00 100.88 10.

00 100.41 13. Net Marjin Tabel 22 menginformasikan sebaran net marjin pada saluran tataniaga satu dan dua cenderung belum merata. Saluran tataniaga enam dan tujuh merupakan saluran tataniaga tanpa melalui pedagang pengumpul. dan melibatkan dua pelaku pasar dengan penyebaran pangsa marjin yang sudah merata yaitu masing-masing sebesar 50 persen..59 50.00 .41 35. b.29 persen. dan tertinggi pedagang kecamatan dan pedagang propinsi sebesar 43.24 persen dan pedagang kecamatan 60. net marjin terendah diperoleh pedagang pengumpul sebesar 10.24 39. Saluran tataniaga lima yang merupakan saluran terpanjang.18 45.39 35.86 persen dan pedagang pengumpul sebesar 15.00 100.33 49.82 40. Sebaran net marjin pada saluran tiga. Tinggi marjin pada setiap pelaku tataniaga karena tingginya biaya tataniaga yang dikeluarkan.52 Pedagang Pengecer 35.00 100.11 49. Saluran tataniaga tujuh melibatkan pedagang kabupaten dan pedagang propinsi dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.29 Pedagang Kabupaten 60.76 Total Pangsa Marjin 100.72 Pedagang Propinsi 44.37 persen.00 100.60 29.39 10.00 100. enam dan tujuh cenderung sudah merata.96 50.00 100.19 43.00 100. terlihat dari pedagang pengumpul memperoleh 39. Pelaku pasar yang telibat pada saluran tataniaga enam adalah pedagang kabupaten dan pedagang pengecer dengan tujuan tataniaga kedelai konsumen di Kabupaten Cianjur.76 44.79 pedagang propinsi sebesar 35. Tabel 22 Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Net Marjin (%) Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 39.19 persen.19 Pedagang Kecamatan 60.68 14.21 11.76 persen pada saluran satu.

37 85.91 A 75.00 3. Tabel 23 Total Marjin. pedagang kabupaten dan pedagang propinsi.50 1 404.40 55.00 D E F Ket: .86 Total Keuntungan 907.50 75.43 88.00 76.00 22.33 4.40 48.40 52.93 863. pelaku pasar yang memperoleh pangsa marjin dan net marjin yang nilainya cenderung merata adalah pedagang kecamatan.85 50.00 100.57 185.00 4.00 88.00 46.00 43.4.07 27.3 Farmer s Share Farmer s Share digunakan untuk membandingkan harga yang dibayarkan konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase.09 3 125. Farmer s Share berhubungan negatif dengan marjin tataniaga.00 3.40 24. Berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang dibahas.40 24.00 43.00 2.08 3 495.50 1 004.85 50. Total Biaya.92 71.89 72.92 71.40 49. B = Share P.57 Total Biaya 97.00 48.43 100.89 100. Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang.78 1 000.00 91.29 409.06 326.50 68. perolehan net marjin berbeda-beda tergantung kepada siapa mereka menjual kedelainya.15 3 400. artinya semakin tinggi marjin tataniaga maka bagian yang akan diterima petani semakin rendah.62 44.78 53.00 B 85.00 100.43 100.Persentase share pelaku pasar berdasarkan harga jual di tingkat pelaku pasar dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen .3 899.37 77. Kecamatan .21 3 404. maka dapat diketahui tingkat Farmer s Share yang diterima petani (Tabel 23).43 100.22 3 000. Berbeda dengan pedagang pengumpul dan pengecer.00 4.78 53.93 1 219.09 3 074.04 199.A = Share Petani.00 5.37 105.00 19.40 31.00 91.84 137.40 22. Tahun 2008 Saluran 1 Rp 2 3 4 5 6 7 8 % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Total Marjin 1 004.80 Pada setiap saluran tataniaga.38 3 904. Hal ini karena tujuan pemasaran dari ketiga pedagang tersebut sudah ada. C = Share P.22 77.12 279.79 47.07 21. Pengumpul. 6.33 2.00 C 100.18 2 801.

Hal ini menunjukkan posisi tawar petani masih lemah dibanding dengan pelaku tataniaga lainnya.78 persen. E = Share P. 6.22 sampai 77. F = Share P.49. Nilai rasio ini memberikan arti bahwa setiap satu rupiah perkilogram biaya tataniaga yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 14.81 . . Dilihat dari nilai Farmer s share yang diperoleh pada setiap saluran tataniaga dapat diketahui bahwa saluran tataniaga yang efisien adalah saluran tataniaga enam karena dilihat dari total marjin tataniaga yang dikeluarkan rendah.87.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga paling tinggi terdapat pada saluran tataniaga tujuh dan delapan pada lembaga pedagang kabupaten yaitu sebesar 14. Propinsi.D = Share P.87 per kilogram. Pengecer Nilai Farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada berkisar antara 44. Bagian terkecil terjadi pada saluran tataniaga lima yang merupakan saluran tataniaga terpanjang dalam tataniaga kedelai dari Kecamatan Ciranjang ke konsumen akhir.4 Rasio Keuntungan dan Biaya Tingkat efisiensi tataniaga dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga. Nilai rasio dapat dilihat pada Tabel 24.4. Farmer s share terbesar terjadi pada saluran tataniaga enam yaitu sebesar 77. Kabupaten. nilai yang tinggi artinya keuntungan yang diperoleh semakin tinggi . Rasio keuntungan terendah terdapat pada saluran tataniaga tiga pada tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 5. Berdasarkan Tabel 23 diketahui nilai farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada terlihat masih rendah dibanding dengan bagian yang diterima pelaku tataniaga.

41) 8.22 persen) dengan volume barang 26.19) Rasio /C 11.33 (0.49 9.00 (6.51) 72 (1.50 (1.73) 118.35) 14.3 (19.48) 48.82 Tabel 24 Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Tahun 2008 Lembaga Tataniaga Saluran Tataniaga 1 2 356.50 (2.33 (13.00 (9.06 423.68) 48.33 (1.36 3 356.10) 6.18) 7.67) 65.70) 11.35) 112.08) 94.00 (17.00 (1.87 1 405.00 (13.94 1 405.18) Rasio /C Pedagang Kecamatan Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 551.00 (9.33 (1.36 1 381.50 (1.48 523.50 (17.94 5 356.4.45) 48.79) 154.67 (1.00 (1.47) 104.3 (21.33 (0.69 1 388.25) 118.10) 5.64 543.07 (8.67) 65.79 435.00 (1.00 (7.00 (21.44) 6.68) Biaya (Rp) 48.36 4 356.53 428.26) 94.36 6.00 (9.44) 6.50 (20.50 (21.91) 48.67 (1.39) Rasio /C Pedagang Propinsi Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C Pedagang Pengecer Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C 435.69) 7. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki .00 (2.07 (Rp) (8.00 (1.35 1 245.60) 5.50 (21.33 Pedagang Kabupaten Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 7.36 1 381.51) 72.69 1 395.64) 165.67 (1.5 Alternatif Saluran Tataniaga Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai.07 (5.33 (1.50 (1.67 persen.72) 12.61) 13.09) 48.04) 77.60) 5.393 1 235.00 (1.36) 7.24) 57.87 6 7 8 Pedagang Pengumpul Keuntungan 356.00 (9. saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.47) 77.07 (7.74) 7.45) 14.83) 11.64 428.00 (1.00 (1.07 (5.07) 7.

54 per kilogram dengan volume kedelai 73.30 per kilogram. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masingmasing sebesar Rp 9. .83 farmer s share yang paling tinggi sebesar 77. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.50 persen dan farmer s share sebesar 75. Saluran tataniaga satu dan dua akan efisien jika petani berlokasi jauh dari pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten karena tidak mengeluarkan biaya angkut. Alternatif saluran tataniaga yang juga dianggap efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua.33 persen.78 persen.50 persen.35 dan Rp 8. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.

pedagang kabupaten. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. sehingga keuntungan lebih besar pada level pelaku pasar yang lebih tinggi. Saluran tataniaga yang terbentuk ada delapan saluran tataniaga kedelai dengan setiap pelaku pasar melakukan fungsi tataniaga seperti fungsi pertukaran. Di Kecamatan Ciranjang kegiatan budidaya kedelai masih belum dilakukan dengan intensif 2. Usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang pada saat kebijakan tarif impor ditiadakan secara ekonomis masih menunjukkan kelayakan untuk dikembangkan karena memberikan nilai R/C rasio sebesar 1. Penentuan harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul ditentukan oleh pedagang besar. Petani hanya melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fisik. sedangkan di tingkat pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten harga ditentukan oleh pedagang besar propinsi. Posisi tawar yang miliki petani masih rendah dibanding pelaku tataniaga. Proses tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul.1 Kesimpulan 1. Sistem pembayaran .37 ton per hektar. 3. pedagang propinsi dan pedagang pengecer.84 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Biaya usahatani kedelai paling besar dialokasikan untuk benih dan pupuk. Produktivitas kedelai di kecamatan Ciranjang 1. pedagang kecamatan.28.28 artinya setiap masukan untuk usahatani kedelai memberikan penerimaan sebesar Rp 1.

7.78 persen dan B/C ratio sebesar 6.2 Saran 1.67 persen. Pengusahaan budidaya kedelai yang belum dilakukan dengan intensif oleh petani sehingga hasil yang diperoleh masih rendah memerlukan pembinaan lebih lanjut oleh petugas penyuluh pertanian. Saluran tataniaga kedelai yang memberikan keuntungan adalah saluran tataniaga enam dengan volume 26. 4.30. .85 yang terjadi umumnya nota dan tunai. farmer s share paling tinggi sebesar 77. Kerjasama antara pelaku pasar umumnya dalam bentuk pinjaman modal. saluran tataniaga ini juga memperlihatkan pangsa marjin dan net marjin yang cenderung sudah merata di setiap tingkat lembaga tataniaga. Petani dalam memasarkan hasilnya sebaiknya berkelompok sehingga dapat dijual langsung ke pedagang kabupaten dengan harga yang lebih tinggi dan biaya transportasi dapat ditanggung bersama. agar pendapatan petani dapat meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Hal ini terlihat dari perolehan total marjin yang paling rendah yaitu Rp 1 000. Selain itu. Petani dalam melakukan budidaya kedelai sebaiknya membuat perencanaan penanaman sehingga musim tanam berikutnya tidak terganggu dan panen polong muda dapat dihindari. 2.

Rachman. et al. Laporan Tahunan 2001-2006. Institut Pertanian Bogor. D. 2004. 1996.86 DAFTAR PUSTAKA Azzaino. Penguatan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Mendukung Pengembangan Agribisnis Kedelai. Skripsi. Bogor. Ed 11. The Agricultural Industries. A dan Diah R. Universitas Indonesia. Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Pengantar Tataniaga Pertanian. . Z. Pemerintah Kabupaten Cianjur. Prentice Hall. Lipsey. Elizabeth. Teori dan Kasus). Puspodewi. S dan R Kustiari. Jalur Pemasaran Kedelai di Daerah Transmigrasi. 1983. Institut Pertanian Bogor. 2007. Fakultas Pertanian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. 2007. 1987. Manajemen Pemasaran. Nurmanaf. Walker O C. Bogor. Hanafiah dan Saefuddin. 1982. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 2007. et al. 1997. A R. Ekonomi Pertanian ( Pengantar. Manajemen Pemasaran. Kotler. Market and Price Analysis. Jakarta. Penebar Swadaya. Bogor. P. Rohim. Ed 2. FAE Vol 5. R. H W. 2007. Inc. 2000. Jakarta. Jakarta Barat. Binapura Aksara. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Jakarta. Larreche J C. Dahl C D and Hammond J W. Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jambi. Pengantar Mikroekonomi Jilid 2. Tataniaga Hasil Perikanan. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. New Jersey. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif serta Dampak Kebijakan Pemerintah Pada Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Boyolali. Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kedelai dengan Kebijakan Tarif Optimal. Inc. 1977. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Jawa Tengah. H. 2005. Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. Fakultas Pertanian. Bogor. R. Boyd. Nuryanti. Hal 45-53. Kedelai dalam Kebijaksanaan Pangan Nasional dalam Ekonomi Kedelai. McGraw-Hill Book Company. A M. Erlangga. IPB Press.

1995. Kanisius. . Fakultas Pertanian. Departemen Pertanian. Departemen Pertanian. R dan Yuyun Y. Pusat Analisis Sosial Ekonomi Pertanian. Soekartawi. 1993. Institut Pertanian Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1992. Rusastra. Aspek Produksi dan Pemasaran Kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri). Yogyakarta. D M. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Hal 8-18. FAE Vol 10 dan 11. 2006. UI Press. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian.87 Rukmana. 2004. Permintaan Impor Kedelai Indonesia dari Amerika Serikat dan Aliran Impor Kedelai ke Indonesia. Surifanni. Analisis Usahatani. Aspek Produksi dan Tataniaga Kedelai di Jawa Timur. et al . Skripsi. Hal 67-77. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Budidaya dan Pascapanen. Kedelai. Jakarta. Saptana.

.

JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PETANI KEDELAI Nama Petani : _______________________________ Desa : _______________________________ Kecamatan : _______________________________ Kabupaten/Kota : CIANJUR .90 ANALISIS USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN CIANJUR.JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Hand sprayer .91 I. KARAKTERISTIK PETANI 1.1. Pekerjaan utama : __________________________ d.Sepeda .Kendaraan roda 4 . Anggota keluarga yang membantu usahatani : _________ Orang 1._________________ 3. SEWA 4. Penguasaan aset lahan Luas (ha) Status Penguasaan Sawah Tegal Kebun Pekarangan Kolam Lainnya Total (ha) 1. Identitas Kepala Keluarga a.LAINNYA TOTAL . SAKAP 3. Penguasaan alat pertanian.Lantai Penjemuran . Ternak . Penguasaan Aset Pertanian a.Pompa Air .2.1) b. Pekerjaan sampingan : __________________________ e. Umur : ________ tahun b.Kambing/domba .Perontok kedelai .MILIK 2. GADAI 5._________________ Ket : 1) Status kepemilikan Jumlah (unit) Kapasitas pakai Ket.Sapi/kerbau . Alat Pertanian ._________________ 2. Sarana Transportasi . transportasi dan ternak Jenis asset yang dimiliki 1.Sepeda motor . Jumlah anggota keluarga (di luar KK) : _________ Orang f. Pendidikan : ________ tahun c.

Jumlah tenaga kerja .Manusia 2.92 II.KCL . Cara/frekuensi b. Benih/Bibit 1) 2. MASUKAN DAN PENGELUARAN USAHATANI KEDELAI 2. Jumlah tenaga kerja -Tenaga Ternak . Jarak tanam kedele: : ________________________ Masukan usahatani kedelai Jenis Sarana Produksi Jumlah (Kg/Lt) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 1. Jenis Varietas kedele : ________________________ 2. fungisida.4. Pestisida .3. Masukan tenaga kerja usahatani kedelai Jenis Kegiatan 1.___________________ 4. dll. Cara tanam b.UREA . Pupuk .Manusia Keluarga Nilai HOK (rp) Luar keluarga Nilai Borongan (rp) (rp) HOK -P -W -P -W . Pola tanam per tahun : ________________________ 2. Pengolahan tanah a. 2.5._________________ .Pupuk Kandang . Luas persil yang dianalisis : _______ ha Pilih persil yang ditanam kedele 2.___________________ . rodentisida.2. Penanaman a.TSP/SP-36 .ZA ._________________ 1) Termasuk insektisida.1.NPK . Lainnya .___________________ 3.

93 Lanjutan Tabel 2. Jumlah tenaga kerja . Cara/frekuensi b. Panen/angkut a. Penyiangan/dangir a. Pengeringan a. Jumlah tenaga kerja . Pengendalian HPT a.6.5. Jumlah tenaga kerja . Jumlah tenaga kerja . Jumlah tenaga kerja . (Masukan tenaga kerja usahatani kedelai) Jenis Kegiatan 3. Iuran desa 4. Jumlah tenaga kerja . Biaya lain-lain untuk usahatani kedelai (Rp/musim) Uraian 1.Manusia 4.Manusia 6. Cara/frekuensi b.Manusia Ket : 1) Keluarga Nilai HOK (Rp) HOK Luar keluarga Nilai Borongan (Rp) (Rp) -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W Pupuk kandang dan pupuk buatan 2. Iuran kelompok tani 3. Cara/frekuensi b.Manusia 5. Cara/frekuensi b. Pengairan a. Cara/frekuensi b.Manusia 8. Cara/frekuensi b. Lainnya: _________________ Nilai (Rp) . Pajak lahan yang dianalisis 6. Perontokan a.Manusia 3.Manusia 7. Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja . Sewa pompa 2. Pemupukan1) a.

TSP/SP-36 . Pupuk . INFORMASI USAHATANI KEDELAI Sumber dan cara perolehan sarana produksi Jenis Sarana produksi 1. Sendiri. Petani lain.UREA . Yarnen.94 2.ZA . 3. Total produksi dan nilai produksi Bentuk produksi a. 3. Lainnya: _______________ _______________ Sumber1) Cara2) mendapatkan Harga (Rp/satuan) Bunga (%/th) Volume (Kg/Ikat) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Ket : 1) Sumber: 1. 4. OCE kering b. Polong basah c.2. Lainnya Total III. 2. Pestisida ______________ ______________ 4. Sebutkan permasalahan utama yang dihadapi bapak dalam usahatani kedelai dari aspek: a. 2.1.3. Pedagang hasil. Iklim (kekeringan) . Benih 2. Kredit/pinjam.7. pupuk dan pestisida) yang dibutuhkan tetapi sulit diperoleh:: ___________________________________________________________________ _____________________________________________________ 3.NPK .Lainnya: ________ 2) Cara perolehan: 1.KCL . Sebutkan jenis-jenis sarana produksi (Benih. 5. Kios saprotan. Lainnya: _________ 3. Bayar tunai.Pupuk Kandang 3. 3. 4. Pengadaan sarana produksi: ___________________________________________________________________ b.

Gangguan HPT (Hama Penyakit Tanbaman) ___________________________________________________________________ d.95 ___________________________________________________________________ c. Lainnya: ___________________________________________________________________ . Pemasaran (harga jual) ___________________________________________________________________ e.

3. 2.Bayar tunai. Lainnya Total (a+b+c+d): 2. 5=Pedagang pengecer.Bayar kemudian.96 IV. 4. 3 =Di tempat pembeli.1. Di tempat pembeli. Biaya angkutan 3. Volume dan nilai penjualan (rataan satu bulan) Uraian 1. TK Bongkar-muat 6. 2 =Di tempat penjual.dsb.Lainnya 7. PEMASARAN KEDELAI 4. TK. 3=pedagang pasar induk/tradisional. 3. Lainya: __________ .Lainnya: ____________ 2) Lokasi : 1 =Di kebun. Lainnya: _________ 4) Cara pembayaran: 1. 2. 1) Satuan Jenis pembeli 1) Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi2) transaksi Cara 3) transaksi Cara4) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Ket : Jenis pembeli: 1=pedagang besar. 4. Penjualan: a. Retribusi 5. Bayar dimuka.wadah. 6. 4 =Lainnya: __________ 3) Cara transaksi: 1. OCE kering d.Barang diterima di tempat penjual. Karung. 2=supplier.

dari mana sumber informasi tersebut: 1.97 V. Pedagang 3. Bagaimana upaya Bapak agar selalu memperoleh harga jual yang menguntungkan? _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. Petani lain 2.1. Lainnya: ________ 5. INFORMASI PEMASARAN 5. jelaskan cara kerja sama tersebut: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ . Tidak Jika ya. Tidak Bila ya.Ya 2. Menjual ke Pedagang Besar: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ b. Kelompok tani 4. Sebelum melakukan penjualan hasil.3. eksportir) ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ c.5. Ya 2.Tidak Jelaskan: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. Apa kendala petani untuk dapat akses kepada pelaku pemasaran tertentu: a. Apakah ada kerjasama antara petani dengan pihak lain termasuk pedagang dalam hal pemasaran hasil : 1. Menjual ke Supplier (Supermarket. Apakah dalam penjualan hasil. apakah Bapak memperoleh informasi harga? 1. Ya 2.4. petani dapat memilih kemana saja sesuai keinginan: 1. Menjual langsung Supermarket: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ d Menjual ke pasar pengecer: _________________________________________________________________ _____________________________________________________ 5.2.

isikan: Sumber modal/ Musim Tanam 1. Apakah bapak melakukan pinjaman untuk kebutuhan modal usahatani: 1.Famili Jumlah (Rp) Bunga (%/th) Lama pinjaman (bln) Total pengembalian (Rp) .Kredit Program 2. 2.6.Pelepas uang .Kios saprotan . Ya.Pegadaian .98 5.Bank . Kredit Informal . Kredit Formal .Pedagang hasil .Tidak Bila ya.

Pedagang Pengumpul Luar Desa 3.99 ANALISIS TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. Pedagang Pengecer 6. Lainnya: ________________________ Nama Pedagang Bentuk Usaha Desa/Lokasi Kecamatan Kabupaten/Kota : _______________________ : _______________________ : _______________________ : _______________________ : CIANJUR – JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . Pedagang Besar 4. JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PEDAGANG KEDELAI Jenis Pedagang Pilih yang tepat 1. Pedagang Pengumpul Desa 2. KABUPATEN CIANJUR. Supplier 5.

Sepeda motor __________________ __________________ __________________ __________________ Jumlah (unit) Total Total Nilai (Rp) . IDENTITAS PEDAGANG 1. Kendaraan roda dua 6. Kendaraan roda empat 7. Gudang simpan 2. Umur responden 1. Kendaraan barang 8.1.2.4 Jenis produk lain yang diperdagangkan selain kedelai: _________________________________________________________________ 1. Pendidikan : _________ Tahun : _________ Tahun 1.5.100 I. Alat timbang 5.3. Fasilitas yang dimiliki pedagang: Jenis Fasilitas 1. Mulai kegiatan dagang : Tahun __________ 1.

Volume (Ku) . Biaya lain (Rp) Total biaya (3 s/d9): Ket : 1) Isikan: 1 = Di temapat penjual.Nilai (Rp) Total Pembelian (a s/d d): . Ada kakitangan di lapangan _______ ____________________ e.Harga (Rp/ku) . Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok pedagang (rataan per tahun) Sumber/pemasok komoditas Pembelian bahan baku Pengumpul Desa Pengumpul luar desa.Volume (Ku) . TK lainnya (Rp) 7. TK bongkar-muat (Rp) 6. Retribusi&lainnya (Rp) 9. Kelancaran pembayaran _______ ____________________ d. OCE kering . Lainnya: __________ 2) Termasuk pungutan/retribusi di jalan/di tempat penjualan 2.Nilai (Rp) 2.Harga (Rp/ku) . Lainnya: _____________ _______ ____________________ .Volume (Ku) . Bagaimana usaha responden untuk membina kelangsungan hubungan kerja dengan petani pemasok bahan baku: Jenis pembinaan Ya/Tidak Penjelasan a. Hadiah _______ ____________________ c. Pdg. 3.101 2. Lainnya . 2. dsb.Harga (Rp/ku) .4. Tempat penerimaan barang 1) 3.Nilai (Rp) b.(Rp) 5. Pengemasan (Rp) 8. Biaya angkut (Rp)2) 4. Besar Kab/Prop Pasar Induk Lainnya a.Di tempat pembeli. Bantuan modal _______ ____________________ b. Karung/wadah.3.

Karung. 4. Bentuk OCE b. TK. Retribusi 5. Petani: _______ %.Total perolehan: ________ Ku/tahun b. 2. Lainnya = _______ %. ASPEK PENGADAAN/PEMBELIAN BAHAN BAKU KOMODITI KEDELAI 2.dsb. Volume dan sumber perolehan bahan baku rataan per bulan a. Pedagang = _______ %. Pembelian: a. 2.Barang diterima di tempat penjual. Di tempat pembeli. 3.Bayar tunai.Bayar kemudian. Biaya angkutan 3. Lainya: __________ .102 II. 3 = di jalan. TK Bongkar-muat 5. 3. Lainnya Total (a+b+c+d): 2.2. Sumber perolehan : Sendiri = _______ %. 2 = di rumah petani. Lainya: _________ 3) Cara pembayaran: 1. 4 = di rumah pedagang 2) Cara transaksi: 1. 2. 1) Satuan Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi1) transaksi Cara 2) transaksi Cara3) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Rp xxx xxx xxx Lokasi : 1 = di kebun. Bayar dimuka.wadah. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok petani (rataan per bulan) Uraian 1.1. 4.Lainnya 7.

103 III. 3. Grading.1. Biaya penanganan hasil Jenis kegiatan 1. Tenaga Kerja xxx xxx b. 5. 4. Biaya penanganan hasil (Rp): xxx xxx a. Produk Pembelian 1) Kelas OCE Lainnya Volume (Ku) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 2.Sortasi. Hasil penanganan (siap jual) 2) OCE Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 3.Labeling. Penyusutan xxx xxx _________________ xxx xxx _________________ xxx xxx Total (4): xxx xxx Ket : 1) Sesuai volume pembelian (rataan per bulan) 3) Perubahan volume karena kegitanan penanganan hasil (sesuai permintaan pasar) 3) Kegiatan pengolahan: 1. Jenis penanganan hasil 3) xxx xxx 4. 2. Lainnya: _______ . Paking. BIAYA PENANGANAN HASIL SAMPAI SIAP JUAL 3. Wadah/Paking xxx xxx c.

OCE.Tunai.Lainnya________________ 6) Biaya penjualan: mencakup ongkos angkut.Basah.Di sawah. Lainnya: _____________ Keterangan: 1) Kualitas: 1.Lainnya____________________ Bentuk hasil 1) Volume (kw) Tempat penyerahan 2 Cara jual3) Waktu jual 4) (HSP) Cara Bayar5) Biaya penjualan6) Alasan memilih pembeli 7) . 5=Harga beli paling mahal. 4. 2.Lainnya_____________ 3) Cara jual: 1. Cara pemasaran hasil Jenis Pembeli 1. 4. retribusi. 7) Alasan memilih pembeli: 1=Hubungan kemitraan. 3.Ijon. 2. karung.Di rumah petani. 2= langganan. bongkar muat. 4=Hubungan kekeluargaan.Panjar. 3. Pengumpul luar desa 3.Di pasar.Tebasan. 2.Lainnya ________________ 4) Waktu jual _______ HSP = Hari setelah panen 5) Cara bayar: 1. dsb.Di tempat pembeli. 3=Ikatan pinjaman kredit. tenaga kerja. PEMASARAN KEDELAI 4. 3.1. 4. 5.Ditimbang.104 IV. 2. Kelompok tani/kemitraan 7.Pengumpul desa 2. Pedagang besar 6. 3. 6.Lainnya: _________ 2) Tempat penyerahan barang: 1.Byar kemudian.

PERMASALAHAN PEDAGANG 5. Permasalahan dalam pengadaan/pembelian kedelai: a. Kualitas hasil: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ d. Kontinyuitas suplai: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Kecukupan jumlah: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ b. Saran Kebijakan responden agar pemasaran kedelai akan lebih baik: _____________________________________________________________ ________________________________________________________ .2. Angkutan/transportasi: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ 5.105 V.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful