ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

Oleh NORA MERYANI A 14105693

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN NORA MERYANI. Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di bawah bimbingan RAHMAT YANUAR. Peranan sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia, sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai perkapita pertahun mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1996-2005, rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.3 juta ton pertahun. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Kecamatan Ciranjang merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Kenaikan harga kedelai impor memberikan dampak yang positif terhadap budidaya kedelai di dalam negeri. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat pendapatan usahatani kedelai, mengkaji saluran tataniaga, struktur pasar dan permasalahan yang ada di setiap pelaku pasar dan menganalisis tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Hasil analisis usahatani dan tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani, sebagai pengambil keputusan. Karakteristik petani mencakup umur, tingkat pendidikan, luas dan status penguasaan lahan, dan kepemilikan alat pertanian serta ternak. Umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun, mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.57 tahun dengan rataan pendidikan 4.3 tahun. Rata-rata luas sawah yang diusahakan sebesar 0.778 hektar per petani dan mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.00 persen). Petani yang memiliki hand sprayer (36.67 persen), biaya sewa hand sprayer Rp 5 000 per hektar, sewa pompa air Rp 20 000 per hektar, dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000 per tiga kuintal kedelai. Petani yang memiliki usaha sampingan hewan ternak sebesar 10 persen. Di Kecamatan Ciranjang, rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1.37 ton per hektar, sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit, pupuk dan pestisida, upah tenaga kerja, sewa alat dan pajak. Biaya usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua

iii

(Rp 3 312 778.73 per hektar). Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Berdasarkan analisis usahatani kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda, total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.84 dan total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.73. R/C rasio yang diperoleh petani yang panen polong tua (1.35) dan petani yang panen polong muda (1.27). Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.27 untuk polong muda. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, ada dua saluran tataniaga yaitu saluran tataniaga kedelai polong muda dan saluran tataniaga kedelai polong tua. Saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai tujuan yang sama, yaitu dari petani kedelai dibawa ke pedagang pengumpul, kemudian kedelai tersebut dibawa ke pedagang pasar induk parung. Di pedagang pasar induk, kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan konsumen akhir. Di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga polong tua yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Struktur yang dihadapi antara petani dan pedagang pengumpul, petani dan pedagang kecamatan, serta antara petani dan pedagang besar adalah persaingan dan oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah persaingan dan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang kecamatan/kabupaten adalah oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi antara pedagang besar (kecamatan dan kabupaten) dan pedagang propinsi, dan antara pedagang besar dan pedagang pengecer mengarah ke pasar oligopoli dan persaingan. Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai, saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.22 persen) dengan volume kedelai 26.67 persen. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.30 per kilogram. Alternatif saluran tataniaga yang dianggap juga efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua dengan volume kedelai 73.33 persen. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masing-masing sebesar Rp 9.35 dan Rp 8.54 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.50 persen dan farmer s share sebesar 75.50 persen.

KABUPATEN CIANJUR. JAWA BARAT Nora Meryani A 14105693 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Manajemen Agribisnis PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG.

131 124 019 Tanggal Kelulusan: .Ir Didy Sopandie. : Nora Meryani : A 14105693 Menyetujui Dosen Pembimbing Rahmat Yanuar. 132 321 442 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. SP. Jawa Barat.Judul Penelitian Nama Mahasiswa Nomor Pokok : Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.Agr NIP. Kabupaten Cianjur. Dr. MSi NIP. M.

JAWA BARAT INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. KABUPATEN CIANJUR. Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. September 2008 Nora Meryani A 14105693 .

Arief Karyadi Uswandi. K’Dayat. SP. MSi selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan. 4. Y’Ayon. Bapak Asep Usman dan Teh Rina dan yang lainnya. Bapak Usep. Tanti Novianty. . 2. dukungan dan kasih sayang yang tiada habisnya yang diberikan kepada penulis selama ini. Y’Merry. Papa dan Mama atas segala do’a. sehingga skripsi ini dapat selesai. Mirror. 7. 5. Ungky. dorongan dan masukan-masukan yang diberikan selama penelitian dan penulisan. Ewie dan Ucie yang telah memberikan kritik. Mini. SP selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi. Bapak Rosidi. Bapak Acep. 3. Bapak Dadi. Ria. MSi selaku dosen evaluator yang telah memberikan kritik dan masukan. RT Siregar. SP.UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini: 1. Rahmat Yanuar. saran dan persahabatan yang indah. M’Andi R. 8. 6. MEc selaku dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi ini. love you all. dan D’Anda yang sudah memberikan do’a dan dorongan. Ir Yayah K Wagiono. Fida. Lala. Bapak Asep. atas bantuannya dalam memperoleh data primer dan data sekunder. Are The.

amien. Aputz. Bogor. Edy. Mira. Arfan. Santi. Zibril. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Sandra. Penulis mendo’akan semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya dan senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Fajar. 10.viii 9. Ola. Indra. September 2008 Nora Meryani . Wildan dan teman seperjuangan lainnya atas persahabatan dan dukungan kepada penulis selama ini. Dian.

......ix DAFTAR TABEL No 1. Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli .............. Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 ........................ Luas Tanam........ Luas Tanam...... Halaman 2 3 4 4 5 20 26 36 42 47 48 48 49 49 50 53 55 61 ................ 4..... Luas Panen......... Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai... 18..... 7... Luas Tanam.... 12.............. 9........................ Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah ......................... Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007.............. 5......................... Tahun 2006 ............ 11..................................................... Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan .................... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006............................. 10....... Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006.... Luas Panen............................... 17....... 6..... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten............... Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah .. 2.................... Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar ... Biaya Pupuk.............. 8.. Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu ............. Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian 15............... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak...... Luas Panen............... 13. Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 ............... Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur . Pestisida..... Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai ......................... 3................ 14............................. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai........ 16....................... Propinsi Jawa Barat....

22.............................. Tahun 2008 ...... Total Biaya.. Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga ... Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang ..... Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang ...... 21............. Tiga.................................... 20...... 23...... Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.......................... Tahun 2008....... Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang.......... Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga................ 72 76 78 79 80 82 ........... Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.........x 19....... Dua...... 24.. Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam.............................. Total Marjin...

....... Halaman 89 96 .......... Kuisioner Analisis Usahatani Kedelai ..................... Halaman 27 33 58 60 DAFTAR LAMPIRAN No 1................................................. Kuisioner Analisis Tataniaga Kedelai .......................... Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua............xi DAFTAR GAMBAR No 1........................................... 4...... 2............... 3................................................................................... 2....................... Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai ............................. Margin Tataniaga ......................

kacang tunggak dan kacang koro). . Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengan. kacang tanah. jagung. http://www.balitbangjateng. Peranan tersebut terlihat dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 41.8 persen pada tahun 2007. 17 Mei 2008. Produk Domestik Bruto.bi. kacang hijau. Sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. Tanaman pangan merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan makro manusia terhadap karbohidrat. 1 2 Bank Indonesia. sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. seperti yang tercermin pada peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDB sekitar 13. http://www. 7 Mei 2008. 2008. Subsektor tanaman pangan mempunyai peranan sekitar 49.2 persen maupun dalam perekonomian. 2007.4 persen terhadap pertanian secara keseluruhan.1 Sektor pertanian yang mempunyai peranan yang strategis dan penting adalah sektor tanaman pangan.go.id. lemak.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan regional. ubi-ubian dan kacangkacangan (kedelai. Mekanisme Pengadaan Pangan dan Pupuk di Propinsi Jawa Tengah.1 I PENDAHULUAN 1.go. mengandung zat anti oksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. dan protein yang berasal dari bahan pangan nabati.id.2 Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Kedelai merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya. Tanaman pangan meliputi padi. serelia.

Negara yang menjadi tujuan ekspor kedelai terbesar adalah Australia. Tabel 1 Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Produksi* (ton) 723 480 808 350 746 610 592 381 Pertumbuhan (%) 11.7 -7.4 dan 7. mentega.3 juta ton pada periode tahun 1996-2005 (Tabel 2). keripik).2 persen per tahun.6 -20. Sementara kondisi produksi kedelai nasional berfluktuasi (Tabel 1). Pada tahun 2007 penurunan produksi sampai 20. Volume dan nilai impor kedelai masingmasing tumbuh sebesar 8.7 Konsumsi Total** (Ton) 2 015 000 2 122 000 2 179 000 2 234 000 Pertumbuhan(%) 9.go.litbang.3 Konsumsi kedelai per tahun cenderung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. http://www. minyak. Kedelai.2 Konsumsi penduduk Indonesia terhadap kedelai berupa hasil olahan (seperti tempe.7 persen dari tahun sebelumnya. Tetapi nilai ekspor tumbuh tinggi sebesar delapan persen per tahun. 2008 Setiap tahun rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2. sehingga pada tahun 2007 mencapai 2 000 000 ton. tahu. Hal ini mengindikasikan peningkatan ketergantungan terhadap kedelai impor. . dan bahan baku pakan ternak.2 8. tauco. Pada tahun 2005 meningkat 9. 2008 **Badan Litbang Pertanian. oncom. 2002.deptan. Netherland dan Singapore. Jepang.0 8. 3 Departemen Pertanian.id. India. sehingga mengalami peningkatan nilai tambah tinggi. kecap. Saudi Arabia.7 persen per tahun. selanjutnya konsumsi meningkat rata-rata 8.9 persen per tahun. yogurt. sedangkan volume ekspor tumbuh rendah yaitu 1. Deptan. susu kedelai. 31 Januari 2008.2 persen. Hal ini menunjukkan kedelai yang diekspor berupa produk olahan.4 Sumber : *BPS.

Kuningan dan Majalengka (Dinas Pertanian Jawa Barat.go. Sumedang. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi non farm atau petani yang beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. Tasikmalaya. Daerah yang berpotensi untuk pengembangan kedelai di Jawa Barat adalah Garut. 5 Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. 2008.id/bdspweb. yaitu (a) Peningkatan produktivitas. http://ditjentan. walaupun produksi yang dihasilkan cenderung mengalami penurunan (Tabel 3). Ekspor Kedelai Pernegara Tujuan. Team TP. Cianjur.go. seperti jagung dan sayuran. . 4 5 Departemen Pertanian. 2008.deptan.deptan. (c) Pengamanan produksi.id. Sukabumi. 20074 Program Peningkatan Kedelai Nasional Tahun 2008 untuk mendorong peningkatan produksi kedelai nasional dilakukan melalui beberapa strategi. http://database. 1 September 2008. (b) Perluasan areal tanam. Ciamis. 4 Februari 2008. Indramayu. dan (d) Penguatan kelembagaan dan dukungan pembiayaan.3 Tabel 2 Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Volume (ton) 1 705 583 1 532 112 1 033 802 2 227 321 2 568 565 2 728 358 2 716 641 2 773 668 2 881 735 2 982 986 3 121 334 Impor Nilai (000 USD) 530 582 518 860 273 776 475 158 558 737 611 140 591 121 706 753 967 957 801 779 838 390 Ekspor Volume (ton) Nilai (000 USD) 7 596 12 013 21 987 13 812 13 474 17 109 8 279 8 789 3 606 4 490 5 808 6 569 6 018 6 211 6 080 8 406 Sumber : Deptan. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. 2006).

2007 (diolah) . tahu dan tempe).10 2003 1 434 1 563 1 020 1.14 2004 6 926 6 617 10 125 1.14 2006 4 518 4 460 6 086 1.25 2005 4 591 5 016 6 710 1. Tabel 4 Luas Tanam. luas panen. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Garut Cianjur Ciamis Sukabumi Indramayu Tasikmalaya Sumedang Kuningan Majalengka Luas Tanam (Ha) 5 979 4 499 2 750 1 419 1 156 1 128 937 837 657 Luas Panen (Ha) 5 891 3 034 2 395 927 1 095 895 903 761 614 Produksi (Ton) 7 925 4 431 3 336 1 335 1 682 1 159 1 191 863 786 Produktivitas (Kw/Ha) 13. Selain itu.19 11.45 14. Propinsi Jawa Barat. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No 1 2 3 4 Keterangan Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2001 6 451 6 672 7 952 1. Luas Panen. Produksi kedelai di Kabupaten Cianjur cenderung mengalami peningkatan.36 12. Luas tanam.60 13.95 13. 2006 (diolah) Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut.93 14.4 Tabel 3 Luas Tanam.40 15. baik sebagai produk primer maupun sebagai produk sekunder (olahan) yang telah lama dikembangkan di Kabupaten Cianjur (seperti tauco. Hal ini terjadi karena pada tahun 2003.25 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten.34 12. Kabupaten Cianjur memiliki prospek pengembangan kedelai. produksi dan produktivitas kedelai di Kabupaten Cianjur periode tahun 2001 – 2006 cenderung berfluktuatif (Tabel 4).80 Sumber: Dinas Pertanian Jawa Barat. Luas Panen. tetapi pada tahun 2003 mengalami penurunan.09 2002 5 844 5 812 6 788 1. harga gabah dan harga beras di pasar mengalami peningkatan akibatnya banyak petani yang melakukan pola tanam padi-padi-padi.

17 218.17 881.32 ton per hektar.141 1.83 995. Demikian pula luas panen kedelai tahun 2007 adalah 1 506 ha.23 persen dari tahun 2006.17 349.00 Produksi (Ton) 1 736.50 194.50 184.173 1.00 201. Penurunan ini disebabkan pada periode tanam kedelai tahun 2007 terjadi kekeringan (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.00 276. sehingga terjadi penurunan luas areal tanam sebesar 1.60 1 072.83 202. Sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur terdapat di beberapa kecamatan di wilayah utara dan wilayah selatan (Tabel 5).157 1.338 1.97 persen dibanding tahun 2006.33 261. 2007).50 Luas Panen (Ha) 1 237.83 103. 2007). Sentra produksi di wilayah selatan adalah Kecamatan Sindang Barang. sedangkan produktivitas hasil tahun 2007 sebesar 1.33 1 145. 2007 (diolah) .5 Luas tanam kedelai pada tahun 2007 adalah 4 429 ha. Kecamatan di wilayah utara. Tabel 5 Luas Tanam.372 1. sehingga ada penurunan luas panen sebesar 66.83 1 482.176 1.83 224. Produksi kedelai tahun 2007 sebesar 1992 ton sehingga terjadi penurunan sebesar 67.00 297.50 119. sedangkan kontribusi dari wilayah tengah terutama Kecamatan Tanggeung dan Kadupandak tidak terlalu besar (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No Kecamatan Luas Tanam (Ha) 1 164.67 165.381 1. Luas Panen.67 101. Sukaluyu dan Bojong Picung. namun pada tahun 2007 Kecamatan Sukaluyu produksi kedelai mengalami penurunan.67 1 272.50 Produktivitas (Ton/Ha) 1. sentra produksi kedelai periode tahun 2001-2006 adalah Kecamatan Ciranjang.180 1 2 3 4 5 6 7 8 Ciranjang Sukaluyu Bojong Picung Tanggeung Kadupandak Sindang Barang Cidaun Leles Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Cidaun dan Leles.33 178.27 persen.

2 Perumusan Masalah Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk. yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. di dalam negeri harga kedelai eceran mencapai Rp 3 450/Kg dan terus naik mencapai Rp 7 500/Kg. sedangkan bagi petani hal ini menjadi pendorong untuk kembali menanam kedelai. Kedelai impor dapat membanjiri pasar kedelai dalam negeri disebabkan hal-hal sebagai berikut: (a) adanya pasar yang besar sampai ke tingkat desa. sehingga konsumen sulit . Awal Januari 2007. 1. dan (d) kedelai dari petani sampai ke pasar atau konsumen belum tertangani dengan baik tetapi berjalan sendiri secara alami. Bagi konsumen akhir dampaknya adalah semakin mahalnya harga produl-produk olahan berbahan baku kedelai.6 Budidaya kedelai di Kabupaten Cianjur merupakan tanaman cash crop yang umumnya diusahakan pada lahan sawah irigasi dan sebagian kecil diusahakan pada sawah tadah hujan dan lahan kering. (c) adanya pihak atau institusi atau organisasi yang menangani dengan baik karena mendapat insentif yang besar. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai melakukan pengurangan jumlah produksi dan ukuran produknya karena tingginya biaya produksi. (b) peraturan yang memperbolehkan hal tersebut. Dampaknya produsen tahu.

go. serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri.85 per kilogram.litbang. Berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa harga kedelai lokal dari tahun ke tahun lebih mahal dari kedelai impor. http://www. iklim yang cocok.7 Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik. Tahun 1992. Kondisi ini menyebabkan kedelai dalam negeri menjadi tertekan dan terdesak oleh kedelai impor. Faktor utama turunnya produksi kedelai nasional adalah tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai. Departemen Pertanian. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas. .deptan.5 per kilogram. Pada tahun 2006 harga kedelai dalam negeri mencapai Rp 4 977. pada tahun 2000 harga kedelai impor naik menjadi Rp 1 827. 2004). Kedelai.7 mencarinya dan harganya menjadi tinggi.5 per kilogram dan kedelai dalam negeri menjadi Rp 2 844 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 1 016. Harga kedelai impor jauh lebih murah dari produksi dalam negeri karena tidak ada tarif impor untuk kedelai. keberlanjutan pasokan kedelai impor lebih terjamin dibanding kedelai nasional.deptan. 2008.6 Hal tersebut yang menyebabkan tataniaga kedelai di tingkat petani di Indonesia belum tertangani dengan baik. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai.go. dan belum diaturnya tataniaga kedelai sehingga petani dalam negeri sulit bersaing dengan petani luar negeri (Departemen Pertanian. 6 7 Team TP.id.id. 31 Januari 2008. Perbedaaan harga tersebut terus meningkat. http://ditjentan. 4 Februari 2008. teknologi yang telah dihasilkan. 2002. harga kedelai impor sebesar Rp 544 per kilogram sedangkan harga kedelai dalam negeri lebih mahal dari kedelai impor yaitu sebesar Rp 847 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 303 per kilogram.

Di Kabupaten Cianjur terdapat beberapa daerah yang merupakan sentra produksi kedelai. Perkembangan produksi kedelai dalam negeri sampai tahun 1992 sangat baik yaitu mencapai 1. Hal ini terlihat dari perkembangan luas areal tanam kedelai di sebagian daerah. kondisi pada saat itu juga didukung oleh analisa usahatani kedelai yang cukup menguntungkan. tetapi harga jual yang diterima petani masih rendah. jagung dan sayursayuran. Sukaluyu dan Bojong Picung. antara lain Ciranjang. Pada umumnya petani langsung menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul atau . Selain itu. terjadi penurunan luas tanam di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sukaluyu mengalami penurunan produksi sangat tajam. seperti padi.8 juta ton. Di Kabupaten Cianjur. Akibatnya petani dalam negeri sulit bersaing dengan kedelai impor.8 Selain itu. Namun pada tahun 2007. sejak tahun 1993 produksi dalam negeri terus mengalami penurunan terlihat dari penurunan luas areal tanam. kebijakan tataniaga kedelai yang bebas dilakukan oleh pengusaha importir dan penetapan tarif impor tahun 1998 jauh di bawah bound tariff menyebabkan masuknya kedelai impor dengan harga murah. Namun. Hal ini disebabkan oleh petani yang semula menanam kedelai beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan.17 hektar pada tahun 2006. Hal ini disebabkan oleh penetapan kebijakan harga sejak tahun 1992 ditiadakan. petani dalam memasarkan produknya mempunyai kebebasan untuk memilih saluran tataniaga yang dapat memberikan keuntungan dari hasil usahataninya. terlihat dari penurunan luas tanam menjadi 10 hektar dari 995. pasar komoditas kedelai masih terbuka lebar. dilihat dari banyaknya konsumsi kedelai di Indonesia.

untuk mengetahui tingkat pendapatan petani dan posisi tawar petani pada tataniaga kedelai di Kabupaten Cianjur maka perlu dilakukan penelitian mengenai usahatani dan tataniaga kedelai. masih sangat terbatas petani menjual secara berkelompok. Bagaimana tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. 2008. Hal ini karena petani membutuhkan uang saat panen sehingga harga jual sangat ditentukan oleh tengkulak.co. maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Lemahnya posisi tawar petani menyebabkan petani tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan harga berdasarkan biaya produksi yang telah dikeluarkan.9 tengkulak secara perorangan. http://www. Bagaimana saluran tataniaga dan struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. Lembaga tataniaga cenderung menuntut biaya tataniaga dan keuntungan besar dari jasa tataniaga yang dilakukan. . akibatnya tingkat pendapatan petani menjadi rendah. 8 Antara. walaupun terjadi tawar-menawar antara petani dan pedagang pengumpul keputusan akhirnya tetap ditentukan oleh pedagang pengumpul.8 Oleh sebab itu.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas. Kabupaten Cianjur? 1. Produksi Kedelai Mesti Ditingkatkan. Analisis tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah : 1.id.antara. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan? 2. 15 Januari 2008. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan.

1. 1. . Dampaknya dapat meningkatkan pendapatan petani kedelai di lokasi penelitian. Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Pembahasan tataniaga untuk analisis kualitatif dilakukan pada semua saluran tataniaga yang terlibat. Mengkaji saluran tataniaga. struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. Jawa Barat ini dikhususkan membahas mengenai komoditi kedelai yang dipanen polong tua. penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam upaya peningkatan hasil dan perbaikan kinerja tataniaga kedelai.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian mengenai tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan.10 2. Kabupaten Cianjur. diantaranya Dinas Pertanian.5 Ruang Lingkup Penelitian Batasan dari penelitian yang berjudul Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Kabupaten Cianjur. sedangkan untuk analisis data kuantitatif hanya menggunakan data dari saluran tataniaga dengan jalur tataniaga dari Kecamatan Ciranjang ke Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung.

11

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keragaan Kedelai Kedelai (Glicine max) adalah tanaman semusim yang termasuk family Leguminosae diduga berasal dari Cina dan dikembangkan ke berbagai negara seperti Amerika, Amerika Latin dan Asia. Kedelai dapat dibudidayakan di daerah subtropis dan tropis dengan teknis budidaya yang sederhana. Di Indonesia kedelai pertama kali ditanam di pulau Jawa dan Bali pada tahun 1750. Daerah sentra tanaman kedelai mula-mula terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali, kemudian meluas hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Kedelai mempunyai kegunaan yang luas dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akarakarnya dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium sp., sehingga unsur Nitrogen bagi tanaman tersedia dalam tanah. Kedelai di Indonesia bernilai tinggi karena tiga alasan: (1) produksinya di dalam negeri dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, (2) merupakan bahan pangan berkadar protein yang dapat memperbaiki gizi masyarakat, dan (3) merupakan tanaman komersil bagi petani lahan kering. Di Indonesia kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl). Varietas yang ditanam awalnya berasal dari luar negeri (introduksi), diantaranya dari Jepang, Taiwan, Kolumbia, Amerika Serikat dan Filipina. Di sentra pertanaman kedelai umumnya kondisi iklim yang cocok adalah suhu antara 25–27 0C.

12

Tanaman kedelai mempunyai daya adaptasi yang luas terhadap berbagai jenis tanah. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian, maka tanaman kedelai cocok ditanam pada jenis tanah Aluvial, Regosol, Grumosol, Latosol dan Andosol. Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lahan pertanaman kedelai adalah tataair (drainase) dan tataudara (aerase) tanah yang baik, bebas dari kandungan atau wabah Nematoda, dan keasaman (pH) tanah (Rukmana dan Yuyun, 2006).

2.2 Kebijakan Pengembangan Kedelai Peranan pemerintah sebagai fasilitator, dinamisator dan penciptaan lingkungan yang kondusif dalam pengembangan suatu komoditas secara teknis, sosial dan ekonomis adalah sangat penting dan strategis. Cakupan kebijaksanaan dalam program aksi pengembangan adalah sangat kompleks yang meliputi pengadaan dan distribusi sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan kredit usaha tani), penyuluhan dan tataniaga hasil melalui sistem kelembagaan dan pembinaan dari tigkat pusat sampai ke tingkat desa. Kebijakan dalam bidang penelitian, peningkatan produksi, dan perdagangan (harga) adalah saling berhubungan satu dengan yang lain. Proteksi harga akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani bila didukung oleh potensi teknologi dan sistem tataniaga yang efisien. Kebijakan diversifikasi konsumsi melalui penetapan pola pangan harapan (PPH) dapat dikatakan sebagai acuan penting dalam penetapan target peningkatan produksi setiap komoditas pangan termasuk kedelai. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani (Rachman et al. 1996).

13

Kebijakan Proteksi dan Harga Dasar. Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah selama ini dengan sasaran utama mendorong adopsi teknologi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani adalah kebijakan proteksi harga dan penetapan harga dasar. Kebijakan proteksi bertujuan untuk mengendalikan harga kedelai dalam negeri agar tetap lebih tinggi dan terisolasi dari fluktuasi harga kedelai di pasar dunia. Hal ini dilakukan melalui pengaturan volume impor dan penetapan harga kedelai ekspor-impor serta penyalurannya kepada industri pengolah di dalam negeri. Kebijakan proteksi harga ini cukup berhasil mencapai sasarannya dan berdampak positif dalam mendorong produksi kedelai domestik. Pada periode 1985 – 1994 produsen kedelai mendapatkan rata-rata proteksi harga sebesar 136.56 persen dengan laju peningkatan proteksi 4.80 persen pertahun (Rachman, et al. 1996). Di satu sisi penetapan harga dasar secara umum belum mencapai sasaran yang diharapkan. Pada periode 1984 – 1991 harga kedelai di tingkat petani sekitar 76.27 persen lebih tinggi dari penetapan harga dasar. Hal ini menjelaskan bahwa penetapan harga dasar maupun harga pembelian pemerintah untuk kedelai adalah sangat rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku, sehingga kebijakan harga dasar menjadi tidak efektif. Kemudian sejak tahun 1992,

pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar lagi. Perkembangan produksi kedelai tahun 1992 merupakan puncak produksi kedelai yaitu mencapai 1.8 juta ton. Setelah pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar, maka tahun 1993 produksi kedelai terus menurun sampai tahun 2003 menjadi 671 600 ton. Hal ini disebabkan semangat petani untuk membudidayakan kedelai turun sebagai akibat dari masuknya kedelai impor

Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. et al. 1996).id. 808 353 ton (2005) dan 746 611 (2006). untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri maka Pemerintah menurunkan tarif impor sampai 0 persen.deptan. Saptana (1993). namun sangat lambat yaitu 723 483 ton (2004). 9 Team TP.14 dengan harga lebih rendah dari kedelai dalam negeri. (1992). http://ditjentan. Elizabeth (2007) dan Nuryanti dan Kustiari (2007).3 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai tanaman kedelai telah dilakukan oleh Nurmanaf (1987). et al.9 Kebijakan Tarif dan Impor Kedelai. 2008. termasuk kedelai (Rachman. Puspodewi (2004). 4 Februari 2008 . Tahun 2007 produksi turun kembali 20 persen dari tahun 2006 menjadi 608 000 ton. Tahun 2004 sampai 2006 produksi mengalami peningkatan. 2. Namun dengan kenaikan harga kedelai di pasar dunia akhir tahun 2007 mengakibatkan harga kedelai impor tinggi. maka tahun 1998 Pemerintah Indonesia menerapkan tarif impor jauh di bawah bound tariff (0 – 5 persen). Upaya pemerintah memenuhi kebutuhan bahan baku industri merupakan awal munculnya kebijakan impor kedelai di Indonesia. Namun dengan pertimbangan antara lain daya beli masyarakat Indonesia. Rusastra.go. Pada dasawarsa 1980-an perbandingan antara impor dan produksi kedelai dalam negeri mencapai rata-rata 45 persen pertahun yang merupakan angka tertinggi dibanding dengan dasawarsa 1970-an dan 1990-an. Sesuai aturan WTO dimana setiap negara diperkenankan menerapkan applied tariff maksimal sama dengan bound tariff dalam schedule yang didaftarkan.

meliputi jalur tataniaga. margin tataniaga dan bagian harga yang diterima petani. Rusastra. Dilihat dari efisiensi pemanfaatan modal tidak terdapat . et al.9 persen per tahun. Produksi kedelai di Jawa Timur setiap tahun mengalami peningkatan. rantai tataniaga dan tingkat harga. Hal ini terlihat dari tingginya margin tataniaga di tiga satuan pemukiman transmigrasi. yaitu Singkut III sebesar Rp 275/kg.2 dan 62. hal ini terlihat dari laju pertumbuhan produksi. Tingginya margin tataniaga kedelai terutama disebabkan tingginya biaya angkutan hasil.15 Penelitian terhadap jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi yang dilakukan Nurmanaf (1987) bertujuan menganalisis sistem tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi.8. Harga yang diterima petani di tiga satuan pemukiman masing-masing sebesar 60. areal panen dan produktivitas kedelai dari tahun 1984-1990 masingmasing sebesar 2. antar pasar maupun biaya angkut antar daerah.5 persen. (1992) melakukan penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur. menunjukkan usahatani kedelai di lahan sawah lebih menguntungkan dibandingkan di lahan kering (Rp 366 900 vs Rp 298 400 per hektar).1 dan 5. Tingkat pendapatan usahatani kedelai dengan mempertimbangkan basis agroekosistem pengembangan tahun 1990. Tujuan penelitian ini mengungkap keragaan dan permasalahan aspek produksi. Pamenang I sebesar Rp 200/kg dan Kuamang Kuning sebesar Rp 225/kg. baik biaya angkutan dari satuan pemukiman transmigrasi ke pasar.7. Nurmanaf (1987) menyatakan bahwa tataniaga kedelai di satuan pemukiman transmigrasi Jambi belum efisien. biaya angkut. 3. usahatani dan tataniaga kedelai di Jawa Timur sebagai daerah sentra produksi secara nasional. 69.

43. Dampak penerapan teknologi baru telah mampu meningkatkan pendapatan sebesar 76.43 persen (1991). Permasalahan dalam tataniaga adalah rendahnya kualitas kedelai di tingkat pedagang dan konsumen. Beberapa indikator makro tataniaga seperti pangsa harga yang diterima petani dan kestabilan harga bulanan di tingkat produsen dan konsumen menunjukkan mantapnya sistem tataniaga kedelai di Jawa Timur. Hasil penelitian yang dilakukan Rusastra. (3) Masalah birokrasi dan keterlambatan penyediaan dana.9 persen dibandingkan dengan non kerjasama.4 persen dengan margin tataniaga 10. (2) Peningkatan sistem pembinaan dikaitkan dengan sistem pengadaan dan penyaluran saprodi. penerapan teknologi baru juga bisa diterima dari segi efisiensi pemanfaatan modal dengan .6 persen. Selain itu. Penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) dilakukan oleh Saptana (1993). et al menunjukkan bahwa hasil usahatani kedelai dengan pola kerjasama dengan pihak swasta lebih tinggi yaitu 17. Permasalahan pada sistem kerjasama yang perlu diperhatikan adalah (1) Penyampaian informasi yang sempurna kepada petani. R/C kedelai di lahan sawah 1. Bertujuan untuk mengungkap seberapa jauh dampak penerapan teknologi baru terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani.16 perbedaan yang berarti. serta (4) Keterbatasan tenaga lapang.6 persen dibandingkan sebelum kerjasama dan 15. Hal ini terlihat dari pangsa harga petani mencapai 89.4 dan di lahan kering sedikit lebih baik yaitu 1.6 persen (1990) dan 174. keragaan dan permasalahan aspek produksi dan tataniaga kedelai di Wonogiri.

Margin tataniaga yang relatif rendah ini dikarenakan fungsi tataniaga yang dilakukan sangat sederhana. pengangkutan dan biaya penyusutan. Pengusahaan kedelai di desa Bade menguntungkan dan efisien secara finansial terlihat dari keuntungan sebesar Rp 361.25 untuk pola petani (1991). yaitu pengumpulan.88. permasalahan utama tataniaga adalah kualitas kedelai. Menurut Saptana.80 (1990). Efisiensi tataniaga kedelai di Wonogiri.04 per kilogram dan nilai PCR kurang dari satu. karena nilai tambah keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi dari seharusnya.4 persen.38 untuk pola rekomendasi serta 1. Jawa Tengah terlihat dari pangsa harga petani sebesar 89. Dampak kebijakan input dan output terhadap petani produsen kedelai sangat intensif. secara ekonomi juga menguntungkan sebesar Rp 281. masalah kualitas ini menjadi lebih serius karena ada faktor kesengajaan dari pedagang pengumpul dan PB kecamatan yang melakukan pencampuran tanah yang diwarnai mirip kedelai. Dilihat dari keuntungan privat dan sosial yang diperoleh maka Desa Bade Kabupaten Boyolali mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif. Nilai DRC yang lebih besar dari nilai PCR terjadi karena adanya intervensi pemerintah. Selain itu. sehingga pengusahaan kedelai layak untuk dikembangkan.66 per kilogram dan nilai DRC 0. Puspodewi (2004) meneliti analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali.6 persen dengan margin tataniaga 10. .17 nilai R/C ratio untuk pola rekomendasi 1. Jawa Tengah (kasus desa Bade) dengan analisisn PAM. dan 1.85 sedangkan untuk pola petani 1.

Artinya. Berdasarkan perhitungan besaran keuntungan usahatani optimal 25 persen. penawaran dan impor.3 persen (ad valorem) atau Rp 625. Analisa tingkat makro menggunakan “partial welfare analysis” untuk memahami dampak penerapan tarif optimal terhadap harga komoditas di pasar domestik. tarif bea masuk kedelai saat ini 5 persen. untuk memperoleh keuntungan usahatani 25 persen tarif bea masuk yang diterapkan (Most Favoured Nation. produksi. serta dampaknya terhadap kesejahteraaan produsen. Satu-satunya solusi untuk memberi insentif produksi kedelai domestik adalah jaminan harga jual kedelai dengan tingkat keuntungan pasti. Kondisi ini sangat sulit. MFN) harus dinaikkan menjadi 22.18 Penelitian Nuryanti dan Kustiari (2007) berjudul Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal. tingkat tarif optimal dengan tingkat keuntungan usahatani 25 persen. Berdasarkan asumsi harga pokok produksi Rp 3 359/kg. dan dampak keseimbangan pasar domestik atas kenaikan tarif impor kedelai optimal.5/kg (specific tariff). Analisa mikro dengan menggunakan data I-O diturunkan dari data struktur ongkos rata-rata Indonesia 2006. petani kedelai nasional harus mencapai harga jual Rp 4 479/kg. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usahatani kedelai pada tingkat tarif saat ini. masih ada peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan menjamin keuntungan usahatani 25 persen dengan menetapkan tarif impor baru . karena harga kedelai domestik menjadi tidak dapat bersaing dengan kedelai impor. konsumen dan penerimaan pemerintah. Tarif yang diikat untuk kedelai adalah 27 persen. permintaan. Analisa dalam penelitian ini dilakukan pada tingkat usahatani (mikro) dan makro.

(2) Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan. termasuk produsen lokal. . kelembagaan output. lembaga tenaga kerja.3 persen. Lemahnya kinerja ekonomi perdesaan terutama disebabkan rendahnya kapasitas kelembagaannya. Harga kedelai impor saat ini (Rp 2 806. gizi dan kesehatan. Namun tidak semua sistem dan saluran tataniaga komoditas pangan di pasar domestik bersaing sempurna.19 sebesar 22. dan (3) Program memperkuat prasarana kelembagaan dan ketrampilan mengelola kebutuhan perdesaan. kelembagaan penyedia input. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di perdesaan. Fluktuasi harga produk pangan dan sarana produksi usahatani di pasar global akan ditransmisikan ke semua tingkat harga. dan kelembagaan permodalan. kecilnya akses terhadap kelembagaan modern. dan sebagainya). Penelitian tentang Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai oleh Elizabeth (2007). meliputi: (1) Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifitas lahan.4/kg) masih lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi kedelai lokal (Rp 3 359/kg). seperti: kelompok tani. dan melemahnya kelembagaan lokal karena tekanan dari luar. Elizabeth (2007) menyatakan bahwa beberapa kelembagaan pendukung keberhasilan agribisnis kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan perspektif penguatan dan pemberdayaan kelembagaan yang terkait dengan petani di perdesaan dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis kedelai. perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan. yang tercermin pada masih rendah interaksi antar kelembagaan.

Kabupaten Cianjur. Tabel 6 menginformasikan perbedaaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Pencapaian keberhasilan agribisnis kedelai diperlukan suatu kelembagaan pendukung dari tingkat desa sampai di luar desa. et al. Tabel 6 Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu Nama Nurmanaf Rusastra. serta intervensi dari pemerintah. B/C rasio . Permasalahan di tataniaga kedelai meliputi kualitas kedelai. farmer s share. Saptana Puspodewi Tahun 1987 1992 1993 2004 Judul Penelitian Jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. Jawa Barat Metode Marjin tataniaga Farmer s Share Efisiensi usahatani Marjin tataniaga R/C rasio Marjin tataniaga PAM Elizabeth 2007 Nuryanti Kustiari Meryani dan 2007 2008 Mikro : I – O Makro : Partial Welfare Analysis Pendapatan usahatani Marjin tataniaga. dengan tarif bea masuk kedelai 5 persen harga kedelai domestik masih lebih tinggi dari harga kedelai impor. pola kerjasama dengan pihak swasta. dan adanya penerapan teknologi baru.20 Pengembangan kelembagaan untuk menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA (marginal sustainability yield) dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan. Jawa Tengah (kasus desa Bade) Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan tingkat pendapatan usahatani lebih menguntungkan bila diusahakan di lahan sawah. merupakan bagian penting pembangunan pertanian dan perdesaan. margin tataniaga kedelai yang tinggi disebabkan biaya angkut.

Struktur Biaya Usahatani. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa penerimaan usahatani adalah ukuran hasil total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani. benih dan pestisida) dengan efektif. Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor tidak tunai. efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatannya meningkat. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani kedelai. Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani) dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal.1 Usahatani Rahim dan Diah (2007) menyatakan bahwa usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah. teknologi. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.1. Biaya tunai merupakan biaya .21 III KERANGKA PEMIKIRAN 3. modal.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3. 3. seperti hasil panen kedelai yang dikonsumsi dan digunakan untuk bibit.2 Pendapatan Usahatani Struktur Penerimaan Usahatani.1. dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output). tenaga kerja. sedangkan pendapatan kotor tidak tunai merupakan pendapatan yang bukan dalam bentuk uang. pupuk. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki sebaik-baiknya.

Dapat disimpulkan biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang akan dicapai. Contohnya biaya untuk sarana produksi. untuk mengukur imbalan yang diperoleh petani akibat penggunaan faktor-faktor produksi. tetapi diperhitungkan dalah perhitungan usaha tani. Biaya tidak tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dibebankan kepada usahatani untuk penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. alat pertanian dan iuran irigasi.22 yang dikeluarkan dalam bentuk uang oleh petani sendiri. Jika menginginkan produksi yang tinggi maka faktor-faktor produksi (tenaga kerja. Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang digunakan. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai. Pendapatan Usahatani. Biaya tetap antara lain sewa tanah. Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya. pupuk. Untuk menilai . Biaya ini digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika sewa lahan dan nilai tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua yaitu: (a) Biaya tetap (fixed cost) dan (b) Biaya tidak tetap (variable cost). penyusutan alat-alat petanian dan biaya imbangan sewa lahan. dan sebagainya) perlu ditambah. Artinya besarnya biaya tetap tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang diperoleh. pajak. dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit.

Analisis efisiensi R/C ratio atau rasio penerimaan atas biaya dihitung dengan cara membandingkan penerimaan total dengan biaya total. Aktivitas pasar dan tataniaga diklasifikasikan menurut waktu. Ukuran ini diperoleh dari hasil pengurangan antara pendapatan bersih dengan bunga yang dibayarkan kepada modal pinjaman. serta keuntungan bagi produsen. dan menegosiasikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen. R/C Ratio . mengkomunikasikan. (3) penyimpanan. mendefinisikan tataniaga sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang dibutuhkan melalui pertukaran dengan pihak lain.23 penampilan usahatani kecil adalah dengan penghasilan bersih usahatani. (5) pengolahan. (6) standarisasi. dan (9) pengetahuan pasar. Tujuan dari tataniaga adalah mengidentifikasi. (4) transportasi. (8) pengambilan risiko. tetapi bila diperoleh nilai kurang dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan belum efisien. biaya yang diperhitungkan dan penyusutan. (7) keuangan. Secara keseluruhan tataniaga merupakan rangkaian kegiatan mengalirkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. . Boyd. 3. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa fungsi dari tataniaga yaitu: (1) pembelian.3 Tataniaga Tataniaga merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Apabila diperoleh nilai lebih dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan efisien. jarak dan bentuk. (2) penjualan. Walker and Larreche (2000).1.

Panjang pendeknya saluran tataniaga dipengaruhi beberapa faktor yaitu: (1) Jarak antara produsen ke konsumen. . waktu dan pemilikan. lembaga keuangan dan perusahaan asuransi yang memberikan kemudahan dalam transaksi. grosir.4 Saluran Tataniaga Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga sehingga barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. sarana transportasi.24 Hanafiah dan Saefuddin (1983) menyatakan bahwa tataniaga adalah kegiatan yang berkaitan dengan penciptaan atau penambahan kegunaan dari barang dan jasa maka tataniaga termasuk tindakan atau usaha yang produktif. pengecer dan agen. Saluran tataniaga terdiri dari beberapa pedagang perantara. Saluran ini mencakup pergudangan. Lembaga yang terlibat dalam saluran ini diantaranya distributor. (3) Saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan calon konsumen. (2) Saluran distribusi digunakan untuk manyampaikan produk atau jasa dari produsen kepada konsumen.1. Kotler (2005) menyatakan bahwa saluran tataniaga didefinisikan sebagai sarana untuk mencapai pasar sasaran. Ada tiga jenis saluran tataniaga yang digunakan meliputi: (1) saluran komunikasi yang digunakan untuk memberi dan menerima informasi dari konsumen sasaran. 3. Kegunaan dalam kegiatan tataniaga adalah kegunaan tempat. 1983). (3) Skala produksi dan (4) Keuangan produsen (Hanafinah dan Saefuddin. sehingga tataniaga dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan barang dan jasa dari produsen sampai dengan konsumen. (2) Ketahanan produk.

25

Saluran tataniaga atau saluran distribusi merupakan lembaga atau perantara berganda yang berfungsi mendistribusikan barang untuk mendukung transaksi dengan konsumen potensial. Setiap lembaga berspesialisasi dalam satu fungsi dan kegiatan penting pendistribusian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi transaksional dan efisiensi fungsional. Saluran tataniaga terdiri dari empat komponen utama yaitu: produk, pelaku pasar, aktivitas dan input (Boyd, Walker and Larreche, 2000). Bentuk distribusi ada dua yaitu distribusi langsung dan distribusi tidak langsung. Distribusi langsung yaitu produsen melakukan penjualan langsung

produknya kepada konsumen, sedangkan distribusi tidak langsung yaitu produsen melakukan penjualan barang kepada konsumen melalui perantara seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang grosir dan pedagang pengecer (Boyd, Walker and Larreche, 2000). 3.1.5 Struktur Pasar Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa ada empat karakteristik yang menentukan struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan, (2) sifat produk, (3) kemudahan untuk keluar masuk pasar dan (4) tingkat informasi harga, biaya serta kondisi pasar yang dihadapi pelaku tataniaga. Struktur pasar mengacu pada semua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja perusahaan di suatu pasar, seperti jumlah perusahaan dan jenis produk (Lipsey, et al. 1997). Karakteristik struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 6. Kotler (2005) menyatakan bahwa struktur pasar berdasarkan sifat dan bentuknya dibedakan menjadi dua yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar bersaing tidak sempurna. Pasar termasuk ke dalam pasar bersaing sempurna

26

dengan ciri-ciri banyaknya jumlah penjual dan pembeli, barang yang ditawarkan bersifat homogen, penjual dan pembeli berperan sebagai price taker, dan bebas keluar masuk pasar. Pasar bersaing tidak sempurna dibagi menjadi pasar

monopolistik, pasar ologopolistik dan monopoli. Tabel 7 Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli No Karakteristik Jumlah Jumlah Sifat Penjual Pembeli Produk Banyak Banyak Homogen Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Satu Pasar Banyak Sedikit Satu Struktur Pasar Sudut Penjual Sudut Pembeli Persaingan Sempurna Oligopsoni Persaingan Monopolistik Oligopsoni Diferensiasi Monopsoni banyak penjual yang

1 2 3 4 5

Persaingan Sempurna Diferensiasi Persaingan Monopolistik Homogen Oligopoli

Diferensiasi Oligopoli Diferensiasi Unik Monopoli yaitu pasar dimana

Sumber: Dahl and Hammond (1977), Lipsey, et al. (1997)

monopolistik

mendiferensiasikan produk baik secara keseluruhan atau sebagian, sehingga produk dapat dibedakan berdasarkan kualitas, gaya dan service yang diberikan penjual. Akibatnya banyak penjual dan pembeli yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga bukan pada satu tingkat harga pasar. Penjual melakukan penawaran yang berbeda untuk segmen pembeli yang berbeda, sehingga pembeli bersedia membayar lebih untuk produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Pasar oligopolistik yaitu pasar yang terdiri dari beberapa penjual yang menghasilkan produk mulai dari produk yang terdiferensiasi hinggga produk homogen. Penjual sangat peka terhadap strategi tataniaga dan penetapan harga pesaing lainnya. Jumlah penjual yang sedikit disebabkan hambatan untuk masuk pasar tinggi, strategi penetapan harga yang tepat dan memusatkan perhatian pada

27

kepuasan pelanggan untuk menarik pelanggan. Pasar monopoli murni yaitu pasar yang hanya ada satu penjual yang menguasai pasar suatu produk tertentu. Penjual berperan sebagai price maker, hambatan masuk dan keluar pasar tinggi karena alasan teknis atau alasan undang-undang untuk monopoli yang teregulasi. 3.1.6 Efisiensi Tataniaga Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tataniaga adalah tingkat efisiensi dari tataniaga, karena tataniaga yang efisien dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat dalam tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa terdapat dua ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi harga (ekonomi). Efisiensi operasional menggambarkan keadaan dimana biaya input dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan. Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi operasional pada proses tataniaga produk yaitu dilihat dari keragaaan pasar (analisis margin tataniaga, farmer s share dan rasio keuntungan terhadap biaya). Efisiensi harga tercermin dari tiga kondisi yaitu (1) ada alternatif pilihan bagi konsumen, (2) perbedaan harga yang mencerminkan adanya biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat perlakuan terhadap komoditi dalam sistem tataniaga, dan (3) terjadi aktivitas pembelian dan penjualan yang cocok antara petani, lembaga tataniaga dan konsumen yang berdampak pada kepuasan pada setiap pelaku tataniaga. Tingkat efisiensi tataniaga dapat dilihat dengan

mengunakan dua pendekatan sekaligus atau salah satu dari pendekatan tersebut. Marjin tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga tingkat

Oleh karena itu nilai marjin tataniaga dibedakan menjadi dua yaitu marketing costs dan marketing charges. Price VMM (Pr – Pf) Qrf Sr Sf Pr Marjin Tataniaga (Pr – Pf) Pf Dr Df Qr. Marjin tataniaga hanya merepresentasikan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen . Perbedaan nilai ini juga direpresentasikan sebagai jarak vertikal dan jarak antara kurva permintaan atau antara kurva penawaran (Gambar 1). Sf menunjukkan supply dasar. Df merupakan demand dasar. Nilai marjin tataniaga adalah perbedaan harga di kedua tingkat sistim tataniaga dikalikan dengan kuantitas produk yang dipasarkan.28 pengecer (Pr). dan Pf merupakan harga petani (Gambar 1). Pr merupakan harga retail. Dr merupakan demand turunan. Sr menunjukkan supply turunan. Cara perhitungan ini sama dengan konsep nilai tambah (value added). f Quantity Gambar 1 Marjin Tataniaga. Sumber: Dahl and Hammond (1977) Pengertian ekonomi nilai marjin tataniaga adalah harga dari sekumpulan jasa tataniaga yang merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk–produk tersebut.

dan lain-lain) dan keuntungan. pengangkutan. yang akhirnya akan mempengaruhi pembentukan harga jual produk itu sendiri antara petani dan pedagang (Elizabeth. 1977). Farmer s share. pengolahan. penyimpanan. tetapi tidak menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. di dalam negeri harga kedelai impor meningkat sangat tajam karena harga kedelai di pasar dunia meningkat.29 dengan harga yang diterima petani. Azzaino (1982) menyatakan bagian yang diterima petani (farmer s share) merupakan harga yang diterima petani sebagai imbalan kegiatan usahataninya dalam menghasilkan kondisi tertentu.2 Kerangka Pemikiran Operasional Pada awal tahun 2007. Rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga merupakan perbandingan antara keuntungan yang diambil lembaga tataniaga terhadap biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk tersebut. Farmer s share juga menyatakan perbandingan harga yang diterima oleh petani dengan harga di tingkat lembaga pemasaran yang dinyatakan dalam persentase. Marjin tataniaga terjadi karena adanya faktor-faktor biaya tataniaga (pengumpulan. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai . Akibatnya produsen tahu. Marjin tataniaga merupakan penjumlahan antara biaya tataniaga dan marjin keuntungan (Dahl and Hammond. Keuntungan tataniaga adalah pengurangan marjin tataniaga dengan biaya-biaya tataniaga. 2007). 3. Secara teknis sistem tataniaga akan semakin efisien jika rasio keuntungan terhadap biaya merata di setiap lembaga tataniaga. sehingga jumlah produk di tingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengecer. Rasio B/C.

sehingga harus efisien dalam menggunakan sumberdaya. .30 mengalami penurunan produksi. pedagang besar. dan pengecer). 1983). Fungsi-fungsi tataniaga terdiri dari fungsi pertukaran. Semua fungsi tataniaga dilakukan oleh lembaga atau pelaku pasar yang terlibat. sehingga konsumen akan merasa puas (Hanafiah dan Saefuddin. Fungsi tataniaga dilakukan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai guna waktu. karena gairah petani untuk menanam kedelai cenderung menurun. Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri cenderung mengalami penurunan. Tataniaga komoditi pertanian adalah kegiatan atau proses pengaliran komoditas pertanian dari produsen sampai ke konsumen atau pedagang perantara (tengkulak. Pendapatan usahatani merupakan hasil akhir yang akan diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. bentuk. Efisiensi usahatani kedelai dapat dilihat dari hasil analisis R/C ratio yang menunjukkan berapa penerimaan yang diperoleh petani dari setiap input yang dikeluarkan. Harga kedelai impor yang tinggi memberikan peluang bagi petani dalam negeri untuk meningkatkan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia. Selain itu R/C ratio digunakan untuk melihat apakah usahatani yang dilakukan menguntungkan secara ekonomi atau tidak bagi petani. sehingga jumlah pelaku pasar yang terlibat dalam proses tataniaga akan menentukan panjang pendeknya saluran tataniaga. Semakin besar nilai R/C ratio maka usahatani yang dilakukan akan semakin baik. pengumpul. Sementara konsumsi kedelai semakin meningkat sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk. tempat dan kepemilikan.

harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. Efisiensi tataniaga tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya saluran tataniaga. apakah sudah efisien secara operasional. Tataniaga akan efisien bila semua pelaku pasar atau lembaga yang terlibat merasa puas dengan apa yang diperolehnya. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. B/C ratio dan farmer s share. Analisis kuantitatif untuk mengetahui bagaimana keragaan usahatani dan tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang jika dilihat dari analisis pendapatan usahatani. R/C ratio. (2) keadaan atau kondisi produk. margin tataniaga. Perilaku pasar yang dibentuk tersebut dilihat dari dua sisi yaitu sisi penjual dan sisi pembeli.31 Sementara untuk manganalisis struktur pasar kedelai dilakukan berdasarkan pada empat karakteristik struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan. Hasil dari analisis tersebut akan dibuat perumusan langkah-langkah perbaikan yang akan diberikan atau diinformasikan kepada petani dan para pelaku tataniaga. (3) mudah atau sukar untuk keluarmasuk pasar. meskipun saluran tataniaga yang pendek lebih efektif dalam menyampaikan produk hingga diterima oleh konsumen. seperti biaya. Analisis struktur pasar ini dilakukan untuk mengetahui pasar kedelai yang terbentuk sesuai dengan karakteristiknya. Alur pemikiran tersebut dapat digambarkan seperti diagram di bawah ini: .

2. Pedagang Besar 3. Analisis Tataniaga Saluran Tataniaga Sruktur Pasar Margin Tataniaga Farmer s Share Rasio B/C Efisiensi Tataniaga Rekomendasi Gambar 2 Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai. Rasio R/C 1.7 juta ton per tahun .Konsumsi rata-rata 2.Harga kedelai impor tinggi . Pedagang Pengecer Analisis Kuantitatif: 1.7 juta ton per tahun Supply Respon Petani Kedelai Analisis Usahatani Lembaga Tataniaga: 1. 4. 3.Produksi kedelai dalam negeri rata-rata 0. Supplier 4.32 . . Pendapatan Usahatani 2. 5. Pedagang Pengumpul 2.

Informasi yang dikumpulkan antara lain perkembangan luas tanam. perkembangan harga dan kebijakan pengembangan kedelai. Data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Kecamatan Ciranjang sendiri merupakan salah satu sentra produksi di Kabupaten Cianjur.33 IV METODE PENELITIAN 4. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2008. 4. Kabupaten Cianjur.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Ciranjang. pedagang pengumpul. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. luas panen dan produksi.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber.3 Metode Penarikan Contoh Metode penarikan contoh yang digunakan pada penelitian ini adalah random sampling yaitu pengambilan contoh dilakukan secara acak. Lembaga Penelitian dan pihak yang terkait lainnya. Kecamatan Ciranjang terbagi menjadi 12 desa dan terdiri dari 80 kelompok tani dengan rata- . pedagang besar dan pedagang pengecer. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur kepada petani kedelai. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). 4. ekspor-impor kedelai. karena Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Barat.

4.34 rata satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang petani.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Data dan informasi yang telah dikumpulkan diolah dengan bantuan kalkulator. Analisis usahatani digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani dan produksi yang dihasilkan oleh petani. dan pedagang pengecer tiga orang yang berada di Kabupaten Cianjur dan Bandung. pedagang besar dua orang yang berada di Kecamatan Ciranjang. komputer dan disajikan dalam bentuk deskriptif.4. yaitu usahatani kedelai polong tua dan usahatani kedelai polong muda.1 Analisis Usahatani Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Pedagang pengumpul tiga orang berdasarkan informasi pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang. Penentuan responden berdasarkan petani yang menanam kedelai di Kecamatan Ciranjang sebanyak 30 orang petani kedelai dengan cara mengambil nama kelompok tani dan memilih petani secara acak untuk diwawancara. Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara . (1997) menyatakan bahwa pendapatan usahatani dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan. Pengambilan contoh untuk pelaku pasar pada tiap tingkat lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengikuti arus barang dalam proses penyaluran barang dari produsen sampai ke konsumen. et al. 4. Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk. pedagang propinsi satu orang berdasarkan informasi dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. gambar dan tabulasi untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang ada dalam melakukan analisis data. Lipsey.

Rumus yang digunakan yaitu: TC = FC + VC Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya. 1995). tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: TR = Y x Py dimana: TR = Total penerimaan Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani Py = Harga Y Pernyataan Jika komoditas tanaman yang diusahakan lebih dari satu.TC dimana: Pd = Pendapatan usahatani TR = Total penerimaan (total revenue) TC = Total biaya (total cost) . yang merupakan jumlah dari biata tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC).35 produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi. Rumus yang digunakan yaitu: Pd = TR . maka rumus tersebut dapat berubah menjadi: TR = ∑ YxPy i =1 n Biaya tetap dapat dihitung dengan rumus: FC = ∑ X Px i =1 i n i dimana: Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap Pxi = Harga Xi (input) Rumus tersebut dapat digunakan untuk menghitung biaya total (total cost).

Sewa lahan D+E C–D C–F H – bunga pinjaman (jika ada pinjaman) C/F E Biaya yang diperhitungkan F Total Biaya G Pendapatan atas biaya tunai H Pendapatan atas biaya total I Pendapatan Bersih J R/C ratio Sumber : Rahim dan Diah. Benih d. Sewa lahan e. Sewa alat bajak d. perhitungan analisis pendapatan dan R/C ratio dapat disajikan seperti pada Tabel 7. Upah tenaga kerja dalam keluarga b.PPC/ZPT b.36 Analisis (R/C) ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya. Upah tenaga kerja di luar keluarga c. 2007 .Benih . pajak a.Pupuk . Tabel 8 Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai A B C D Penerimaan Tunai Penerimaan yang diperhitungkan Total Penerimaan Biaya Tunai Harga x Hasil panen yang dijual (Kg) Harga x Hasil panen yang dikonsumsi (Kg) A+B a. Biaya sarana produksi: .Pestisida .Y FC + VC dimana: a = R/C ratio Py = Harga output Y = Output Kriteria keputusan yang digunakan untuk melihat hasil analisis R/C ratio sebagai berikut : R/C ratio > 1 : usahatani menguntungkan R/C ratio < 1 : usahatani rugi R/C ratio = 1 : usahatani impas Secara sederhana. Penyusutan c. Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: a= Py.

3 Analisis Struktur Pasar Struktur pasar dapat dianalisis melalui beberapa indikator. secara matematis rumus . Secara matematis biaya penyusutan dapat dirumuskan sebagai berikut : Nb − Ns n Biaya Penyusutan = dimana : Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Nilai sisa (Rp) N = Umur ekonomi alat (tahun) 4. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. data harga yang digunakan adalah harga di tingkat petani dan harga di tingkat lembaga tataniaga.4. 4. (3) mudah atau sukar untuk keluar-masuk pasar.4.4 Analisis Marjin Tataniaga Marjin tataniaga merupakan perbedaan harga yang diterima petani (produsen) dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen. seperti biaya.37 Biaya penyusutan alat dihitung dengan cara membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dibagi usia ekonomi dari alat tersebut. yaitu: (1) jumlah pedagang di setiap level tataniaga. Analisis ini dapat menggambarkan secara keseluruhan pola saluran tataniaga kedelai yang terjadi pada daerah penelitian. (2) keadaan atau kondisi produk. 4.4. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga.2 Analisis Saluran Tataniaga Kedelai Analisis saluran tataniaga digunakan untuk menelusuri saluran tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir. Untuk menganalisis marjin tataniaga dalam penelitian ini.

marjin pada setiap tingkat lembaga tataniaga dapat dihitung dengan menghitung selisih antar harga jual dengan harga beli pada setiap tingkat lembaga tataniaga. Saluran tataniaga yang . maka untuk setiap saluran tataniaga dapat dilihat persentase pangsa marjin setiap pelaku pasar dengan menggunakan rumus: PangsaMarjin = MarjinPemasaran x100% TotalMarjin Pangsa pasar digunakan untuk melihat berapa besar marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga yang ada. 1977). maka: Mm = c + dimana: c = biaya tataniaga = Keuntungan lembaga tataniaga Berdasarkan analisis marjin tataniaga di atas.38 yang digunakan dalam perhitungan marjin tataniaga (Dahl and Hammond. dapat dirumuskan sebagai berikut: Mmi = Ps – Pb dimana: Mmi Ps Pb Marjin = Marjin tataniaga pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga jual pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga beli pada setiap lembaga tataniaga tataniaga mengandung komponen biaya dan komponen keuntungan. yaitu: Mm = Pr – Pf dimana: Mm Pr Pf = Marjin tataniaga di tingkat petani = Harga di tingkat kelembagaan tataniaga dari petani = Harga di tingkat petani Berdasarkan rumus di atas.

5 Analisis Bagian Harga yang Diterima Petani Farmer s share berhubungan dengan margin tataniaga.4.6 p p f r x100 % Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Distribusi margin tataniaga dapat dilihat dengan persentase keuntungan terhadap biaya (rasio B/C) yang dikeluarkan pada masing-masing saluran tataniaga.4. Farmer s share dapat dirumuskan sebagai berikut: Fs= dimana: Fs = Farmer s share 4. Besarnya persentase net marjin yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masingmasing saluran tataniaga digunakan rumus: NetMarjin = KeuntunganPelakuPasar x100% TotalKeuntungan Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan pada setiap pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. 4. rumus yang digunakan yaitu: B / CRatio = πi x100% Ci dimana: = Keuntungan lembaga tataniaga ke-i ci = Biaya lembaga tataniaga ke-i i .39 efisien ditunjukan oleh perolehan marjin setiap pelaku pasar yang merata. artinya semakin tinggi margin tataniaga maka bagian yang akan diperoleh petani semakin rendah.

Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang yang aktif membeli dan mengumpulkan kedelai dari produsen (petani) di daerah produksi dan menjualnya kepada pedagang besar dan pasar lokal. KCl dan pupuk organik). pedagang besar ataupun pedagang pengumpul. 2. supplier dan pasar lokal. 7. Kedelai polong tua adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 90 hari dan dikeringkan. Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual kedelai kepada konsumen terakhir di pasar lokal ataupun industri makanan dan pedagang ini membeli kedelai dari supplier. . SP36. Kedelai polong muda adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 40 hari.5 Definisi Operasional 1. Pupuk adalah zat tambahan yang digunakan petani untuk meningkatkan kesuburan tanaman kedelai (Urea. 6. Pestisida adalah zat kimia yang digunakan oleh petani untuk menanggulangi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kedelai. 3. PPC (Pupuk Pelengkap Cair) adalah pupuk yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan polong.40 4. 4. 5. Pedagang besar adalah pedagang yang aktif di pasar-pasar pusat dan memperoleh barang dari pedagang pengumpul maupun dari petani langsung dan dijual kembali ke pasar induk (baik satu propinsi atau luar propinsi). 8.

Topografi.55 persen) lahan kering (Tabel 8). dan kemiringan lahan 0 – 40 persen. Curah Hujan dan Jenis Tanah Secara geografis.107º 25” Bujur Timur (BT). Sebelah Utara b. Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Purwakarta : Samudera Indonesia : Kabupaten Sukabumi : Kabupaten Bandung dan Garut Luas wilayah Kabupaten Cianjur adalah 413 127 ha yang terbagi atas 62 879 ha (30.7° 25” Lintang Selatan (LS) dan 106º 42” . Topografi wilayah didominasi perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian 0 – 2 962 meter di atas permukaan air laut (dpl). Jumlah curah hujan tahunan relatif beragam antar wilayah dengan kisaran 1 716 milimeter di wilayah Penyusuhan hinga 4 465 milimeter di wilayah Kadupandak/Cimanggu. Kabupaten Cianjur terletak antara 6º 21” .1.41 V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. kecuali sebagian wilayah Kecamatan Cidaun dengan iklim tipe Am dan wilayah gunung Gede dengan iklim tipe Cf.45 persen) lahan sawah dan 287 269 ha (69. 6 Kelurahan dan 348 Desa. Sebelah Barat d. Wilayah Kabupaten cianjur terdiri dari 30 Kecamatan. Letak Geografis. Iklim di wilayah Kabupaten Cianjur termasuk iklim tipe Af (sangat basah). Sebelah Selatan c. . sebagai berikut: a. memanjang dari utara ke selatan dengan batas-batas wilayah secara administrasi. Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Cianjur berada di bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Barat.

42 Tabel 9 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006 Pengguanaan Lahan Lahan Sawah 1. Sindangbarang.74 15. Irigasi Sederhana PU 4.03 30. Campakamulya. Rawa 6.30 0. Takokak. iklim.10 4.46 7. Sukaresmi. Hutan Negara 10. Pengembalaan 5. (4) tanah latosol yang tersebar di Kecamatan Sukanagara. Perkebunan 11.46 7. Cikalongkulon dan Mande. Naringgul dan Cianjur. Cugenang.32 1.93 69. jenis tanah.56 0.75 1. Tegal/Kebun 3. Sukanagara dan Cugenang. Ladang/Huma 4.00 Jenis tanah di Kabupaten Cianjur terdiri atas 5 jenis yaitu: (1) tanah aluvial yang tersebar di Kecamatan Pacet. Agrabinta.10 0. Kadupandak. penggunaan tanah. Irigasi Teknis 2.54 100. Tambak/Kolam/Empang 7. (2) tanah andosol yang tersebar di Kecamatan Pagelaran dan Tanggeung.58 16.95 0. Irigasi Sederhana Non PU 5. Cilaku. Hutan Rakyat 9. Tidak diusahakan 8. Naringgul dan Warungkondang.76 6. Tadah hujan Jumlah Lahan Kering 1.84 15. Tanggeung.18 5. dan lain-lain) dan sumberdaya manusia. dan (5) tanah podsolik merah kuning yang tersebar di Kecamatan Cibinong. Lain-lain Jumlah Jumlah Keseluruhan Sumber: Diperta Kabupaten Cianjur (2006) Luas (Ha) 15 207 6 236 9 687 17 584 14 165 62 879 22 294 52 054 39 092 700 136 1 046 1 673 29 723 61 453 56 170 22 803 287 269 413 027 Persen (%) 4. Kabupaten Cianjur .40 11. Irigasi Setengah Teknis 3. Bangunan/Pekarangan 2. (3) tanah brown forest yang tersebar di Kecamatan Campaka. Berdasarkan kondisi sumberdaya alam (tofografi.

Penggunaan lahannya didominasi lahan kering dan terdapat perkebunan dan lahan sawah dengan luasan yang kecil. Cikalongkulon. . Sindangbarang. Karangtengah. Ciranjang. Cibeber. 3. tanaman hortikultura dan lahan sawah.43 terbagi atas tiga wilayah pembangunan dengan masing-masing karakteristik (Diperta Kabupaten Cianjur. Wilayah Pembangunan Tengah (WPT) WPT merupakan daerah dengan topografi berbukit hingga bergunung dengan struktur tanahnya labil sehingga sangat peka terhadap erosi dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Leles. Gekbrong dan Cipanas. Wilayah Pembangunan Selatan (WPS) WPS merupakan dataran rendah dengan topografi umumnya bergelombang hingga berbukit yang diselingi oleh pegunungan yang melebar hingga ke daerah pantai Samudera Indonesia. Tanah di WPS memiliki struktur yang labil dan peka terhadap erosi. 2. Wilayah Pembangunan Utara (WPU) WPU merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede dengan topografi didominasi bergunung dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Cidaun. Kecamatan yang termasuk WPT mencakup Tanggeung. Campaka dan Campakamulya. Kadupandak. Bojongpicung. Pagelaran. Sukanagara. tanaman hortikultura dan lahan sawah. Pacet. Takokak. sebagai berikut: 1. Naringgul. Cidaku dan Cijati. Cilaku. Mande. Sukaluyu. Sukaresmi. 2007). Cugenang. Warungkondang. Cibinong. Kecamatan yang termasuk WPS mencakup Agrabinta. Kecamatan yang termasuk WPU mencakup Cianjur.

Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur yang tergolong usia produktif sebesar 39. serta kemudahan akses pasar bagi petani. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42. Selain itu memberikan kemudahan bagi Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dalam menyampaikan informasi teknologi kepada petani.0 persen dari total pendudk berusia produktif. Petugas Penyuluh Lapang akan menyampaikan informasi kepada masing-masing kelompok tani. Kelompok tani kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur adalah sektor pertanian yaitu sekitar 62.96 persen) dan 1 029 236 orang perempuan (49.2 Sosial Ekonomi Penduduk Kabupaten Cianjur pada tahun 2006 berjumlah 2 098 644 orang (546 119 Kepala Keluarga/KK) teriri atas 1 069 408 orang laki-laki (50. Kabupaten Cianjur ini berjumlah 80 kelompok tani. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 14. Kepala keluarga miskin tergolong tinggi yaitu mencapai 35. kemudian diikuti sektor perdagangan sekitar 24.80 persen.16 persen. Tujuan dari adanya kelompok ini untuk memberikan kemudahan bagi petani apabila ada masalah dalam kegiatan usahataninya.9 persen dari seluruh KK. .60 persen.6 persen.04 persen).44 5. beranggotakan petani perkelompok lima sampai enam orang petani dan dipimpin oleh seorang ketua kelompok. sedangkan penduduk dengan pekerjaan utama adalah pertanian sebesar 61. dan kemudian ketua kelompok tani akan menyampaikan informasi yang diperoleh dari PPL kepada masing-masing anggota kelompok taninya.99 persen.

dan pengrajin tahu/tempe lokal serta di Cianjur. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang kecil yang membeli hasil panen kedelai dari petani dan untuk dijual kembali kepada pedagang besar. pedagang besar propinsi dan pengrajin tahu dan tempe. Garut. . Majalengka). b.3 Lembaga Tataniaga Kedelai a. Pedagang besar kecamatan memasarkan kedelai hanya ke pengrajin tahu lokal dan ke pedagang propinsi di Bandung. Sumedang. pedagang pengecer (Cianjur. Pedagang Besar Pedagang besar adalah pedagang yang menghimpun (mengumpulkan) kedelai baik dari pedagang-pedagang pengumpul maupun langsung dari petani yang kemudian dijual kembali ke pedagang pengecer. dan menjual kedelai tersebut ke pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang. Pedagang pengumpul ini memperoleh kedelai dari Kecamatan Ciranjang dan luar Kecamatan. Jumlah pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang yaitu dua orang. Pedagang besar dalam memasarkan kedelai sudah memiliki pelanggan tetap.45 5. Pedagang pengumpul yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah pedagang pengumpul yang berada di Kecamatan Ciranjang dan berjumlah tiga orang. Pedagang besar kabupaten memasarkan kedelai ke pedagang propinsi di Bandung. Jumlah pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang tidak pasti karena umumnya pedagang pengumpul ini berasal dari luar Kecamatan Ciranjang.

Jakarta. Jawa Tengah. Jawa Timur. Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. pengrajin tahu/tempe lokal. . d. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual secara langsung kepada konsumen akhir. serta dapat melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir. Pedagang Propinsi Pedagang propinsi merupakan pedagang yang menyalurkan kedelai dari pedagang besar kecamatan dan kabupaten ke pedagang pengecer di Bandung.46 c. artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh lembaga tataniaga sangat tergantung dari aktivitas pedagang pengecer dalam menjual produk kepada konsumen. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersial. Pedagang pengecer mendapatkan barang dari para pedagang besar yang ada di wilayah pedagang pengecer berdomisili. Pedagang propinsi memperoleh kedelai dari pedagang besar di Jawa Barat termasuk Kecamatan Ciranjang.

Karakteristik petani tersebut mencakup umur. dan kepemilikan alat pertanian serta ternak. Pendidikan petani (Tabel 11) berkisar antara sekolah dasar sampai perguruan tinggi dengan rataan pendidikan 4.57 tahun.00 23. sebagai pengambil keputusan terbaik dari berbagai alternatif kegiatan usahatani yang harus diambil.1.33 3.47 48 .58 59 .0 persen).69 > 69 Total Jumlah Petani (Orang) 3 7 12 7 1 30 Persentase (%) 10. luas dan status penguasaan lahan. Hal ini menunjukkan regenerasi petani sangat rendah. Petani paling banyak termasuk kelompok umur 48 sampai 58 tahun (40.36 37 . Tabel 10 Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur Kelompok Umur (Tahun) 26 .33 100. tingkat pendidikan. Karakteristik Petani dan Usahatani Kedelai 6.33 persen).47 VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6. Pendidikan petani paling banyak berkisar antara 1 sampai 6 tahun atau Sekolah Dasar (43.00 Tabel 10 menginformasikan bahwa umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun. dan paling sedikit berada dikelompok umur lebih dari 69 tahun. mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.1 Karakteristik Petani Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani.00 23.3 tahun. diikuti antara 7 sampai 9 tahun atau .33 40.1.

67 persen).00 hektar paling sedikit hanya 3.55 0.3. berstatus milik (10 persen).00 persen).48 Sekolah Lanjutan Pertama (36.67 20. dan sisanya antara 10 sampai 12 tahun atau Sekolah Menengah Atas (20 persen).10 .10 sampai 3.33 persen.10 sampai 3.33 persen).00 2.00 Tabel 12 menginformasikan bahwa luas kepemilikan sawah petani kedelai berkisar antara 0.00 persen).00 43.00 Total Jumlah Petani (Orang) 12 11 6 1 30 Persentase (%) 40.0.1.00 3.33 36. Tabel 12 Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah Luas Sawah (Ha) 0.33 100.00 0.67 20.10 . dan sisanya berstatus milik dan gadai (3. sedangkan kepemilikan sawah paling luas yaitu 2.778 hektar perpetani.67 persen). diikuti oleh sawah berstatus milik sendiri dan sewa (26.00 1.00 Status kepemilikan sawah (Tabel 13) petani kedelai mayoritas berstatus sewa atau sakap (60. Luas kepemilikan sawah petani kedelai paling banyak berada pada kelompok 0.01 .56 .00 hektar dengan rata-rata luas kepemilikan sebesar 0.00 36.00 100.10 sampai 0.55 hektar (40.2. Tabel 11 Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan (Tahun) Tidak Sekolah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menegah Atas Perguruan Tinggi Total Jumlah Petani (Orang) 0 13 11 6 0 30 Persentase (%) 0. Di Kecamatan Ciranjang sewa lahan hanya diambil untuk .

sedangkan pompa air disewa dari kelompok tani.00 Alat-alat yang dibutuhkan petani kedelai dalam melaksanakan kegiatan usahataninya yaitu cangkul. Pada umumnya petani sudah memiliki berbagai peralatan tersebut.67 3. Tabel 13 Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah Status Kepemilikan Milik Sewa/Sakap Gadai Milik dan Sewa Milik dan Gadai Total Jumlah Petani (Orang) 3 18 0 8 1 30 Persentase (%) 10.00 46.33 100.67 100. pompa air. lantai jemur dan alat perontok kedelai. arit.00 26. Biaya sewa .00 16.00 0. Tabel 14 memberikan informasi petani yang memiliki hand sprayer (36. tetapi khusus alat pengendalian HPT kepemilikannya masih beragam. Tabel 14 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian Kepemilikan Alat Hand Sprayer Pompa Air Lantai Jemur Hand Sprayer dan Lantai Jemur Perontok Kedelai Tidak Memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 5 8 0 14 30 Persentase (%) 10. parang.67 persen).00 0. alat pengendalian Hama Penyakit Tanaman (HPT).67 persen) lebih sedikit bila dibandingkan dengan petani yang tidak memiliki hand sprayer (46.00 60.49 tanaman padi sedangkan tanaman palawija sewa sawahnya tidak diambil oleh petani pemilik sawah.00 Petani yang tidak memiliki alat pengendalian HPT biasanya menyewa dari petani lain atau menyewa dari kelompok tani. dan alat perontok kedelai petani menyewa dari luar.67 26.67 0.

50 hand sprayer Rp 5 000 per hektar.00 3. 6. sapi dan ayam. Salah satu usaha sampingan petani yaitu memelihara ternak kambing. Kedelai musim utama ditanam mengikuti padi sawah musim hujan karena musim itulah yang terbaik untuk kedelai. kedelai banyak ditanam pada bulan Juni . petani juga dapat menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk kandang.67 persen) petani tidak memelihara ternak. per tiga kuintal kedelai. memungkinkan cara kerja yang sederhana sehingga lebih hemat .00 0.67 100.00 Tabel 15 menginformasikan bahwa beberapa petani sudah memelihara ternak kambing (10 persen) dengan rataan penguasaan antara 6 sampai 14 ekor.33 86.Juli setelah panen padi kedua. Tabel 15 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak Kepemilikan Ternak Kambing Sapi Kambing dan Sapi Ayam Tidak memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 0 1 26 30 Persentase (%) 10. dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000. memelihara ternak ayam (3. sewa pompa air Rp 20 000 per hektar.1. pupuk kandang juga dapat memperbaiki struktur tanah. Penanaman di lahan sawah lebih banyak diminati petani karena lebih tinggi hasilnya dan karena penanaman kedelai setelah padi. sedangkan paling banyak (86.00 0.2.33 persen) dengan rataan penguasaan 50 ekor. Pemeliharaan ternak disamping memberikan tambahan pendapatan keluarga. Usahatani Kedelai Di Kabupaten Cianjur pola tanam yang diterapkan adalah padi-padipalawija/kedelai. Selain sebagai penyedia unsur hara mikro.

dengan jarak 20 x 20 sentimeter sampai 25 x 25 sentimeter mengikuti jarak tugal jerami. pengolahan tanah sebelum tanam itu juga berakibat memundurkan waktu tanam kedelai sehingga dapat mengurangi hasil.51 tenaga dan biaya dibanding penanaman di lahan tegal. dan (3) umur dalam (lebih dari 85 hari). Tanah yang semasa padi sawah digenangi serta berlumpur tersebut. Penyiapan lahan untuk bertanam cukup hanya dengan pembuatan parit dangkal seurut galangan dan tanpa pengolahan lahan. Selain kurang berguna. kebanyakan tanpa pengolahan tanah. Penanaman dengan cara tugal lebih baik karena jumlah tanamannya lebih besar dan tersebar lebih merata. sewaktu kering ternyata cukup baik strukturnya untuk mendukung pertumbuhan kedelai tanpa pengolahan tanah sebelum tanam. Pada umumnya petani di Kecamatan Ciranjang bertanam kedelai di lahan bekas padi sawah tanpa didahului pengolahan tanah. Di Kabupaten Cianjur. Hal yang sama terjadi bila . Pola penugalan kira-kira bujur sangkar. Pengendalian gulma hanya dilakukan satu kali. (2) umur sedang (80 – 85 hari). Gulma yang lain telah cukup dikendalikan dengan membakar jerami yang dihamparkan menutup lahan yang baru ditugali benih kedelai. yaitu (1) umur genjah (kurang dari 80 hari). Kekeringan yang terjadi setelah biji kedelai ditanam dapat menghambat perkecambahan. penanaman kedelai dilakukan dengan cara penugalan benih pada lahan sawah yang sudah dibabat jeraminya. Bahkan penyiangan pun dilakukan secara minim. Berdasarkan lamanya periode waktu tumbuh dari sejak tanam sampai kematangan polong. varietas kedelai dapat digolongkan menjadi tiga kelompok umur.

Kedelai yang ditanam dalam pola bergiliran dapat memanfaatkan sisa pupuk yang tidak digunakan tanaman sebelumnya. pengendalian HPT antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi. P dan K relatif besar. kegiatan pemupukan antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi (Tabel 16). ada juga petani yang meggunakan pupuk NPK (20 persen) dengan takaran 20 kilogram per hektar. petani juga melakukan kegiatan pengendalian HPT. Umumnya petani tidak melakukan kegiatan pemupukan sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan. Di Kecamatan Ciranjang. Paling banyak petani mengaplikasikan pupuk urea (80 persen) dengan takaran 53 kilogram per hektar. Kedelai merupakan tanaman semusim sehingga kebutuhan N. Selain kegiatan pemupukan.33 persen). Penggunaan dosis pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan hara tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai menjadi terganggu. pada periode penanaman kedelai di Kecamatan Ciranjang terjadi kekeringan sehingga menurunkan hasil. rata-rata penyemprotan dilakukan dua sampai tiga kali per tahun menggunakan pestisida kimia (80 . NPK 150 kilogram. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah ulat grayak (pemakan daun) dan penggerek polong. Selain itu. dapat menghambat pembentukan polong akibatnya dapat menurunkan hasil. Penggunaan pupuk per hektar yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur yaitu urea 50 kilogram. dan zat perangsang biji (30 persen) dengan takaran 1 liter per hektar. Di Kecamatan Ciranjang. dan poska (3. KCl 50 kilogram. Tahun 2007. zat perangsang biji 2 liter.52 biji yang telah ditanam tergenang air. Selain itu. Umumnya petani melakukan penyemprotan sesuai dengan intensitas serangan. SP36/TSP 100 kilogram.

00 20. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai No 1 2 Jenis Kegiatan Bibit + Furadan (Kg) Takaran Pupuk (Kg) Urea SP36/TSP KCl ZA NPK Zat Perangsang Biji (l) 3 4 Pestisida (ml) Tenaga Kerja (HOK) Penanaman Penyiangan Pemupukan Pengendalian HPT Pengairan Panen/angkut Pengeringan dan Perontokan 30 11 24 24 10 20 20 100. Tabel 16 Biaya Pupuk.00 30.52 Harga Ratarata (Rp/unit) 6 643.33 66.96 25.67 66.67 80.00 33. Di Kecamatan Ciranjang varietas yang ditanaman umumnya adalah varietas Dapros (90 hari).30 2 100.61 79.85 0. dan sebagian daun sudah kering dan rontok.31 21 966. Pangkal batang dan akar-akar tanaman kedelai . sedangkan beberapa petani (20 persen) tidak melakukan pengendalian HPT (Tabel 16).62 Saat panen ditentukan berdasarkan umur tanaman. dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat penanaman.5 3.62 1 501.62 mililiter per hektar.33 0.00 80.00 Jumlah (sat/Ha) 42.00 80.5 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 24 8 4 0 6 9 24 80. ciri-ciri penampakan luar.00 36.74 45.00 26.00 34.00 2 080. Ciri-ciri umum tanaman kedelai sudah saatnya dipanen adalah polong secara merata sudah berwarna kuning-kecoklatan.26 344. Cara panen kedelai dilakukan dengan memotong pangkal tanaman dengan menggunakan sabit atau parang. Setiap varietas kedelai memiliki umur yang berbeda. sehingga waktu panennya harus menyesuaikan dengan umur tanaman.94 35 692.67 Jumlah Petani yang melakukan 30 Persentase (%) 100. batang-batangnya sudah kering.67 20 2 2 2 2 3. Pestisida.42 6 929.67 13.53 persen) dengan takaran 344.

Tabel 16 memberikan informasi bahwa biaya . Keterlambatan dapat menyebabkan polong menjadi basah kembali dan menyulitkan dalam pembijian (pengelupasan biji dari polong). ada juga petani yang panen polong hijau (33. selain panen tua untuk dikeringkan (66. Pengeringan dilakukan dengan menjemur brangkasan kedelai di bawah terik matahari dengan cara dihamparkan di atas lantai jemur atau menggunakan anyaman bambu. tapi ada juga beberapa petani yang menggunakan alat perontok kedelai. Di Kecamatan Ciranjang. Perontokan atau pengupasan polong kedelai harus segera dilakukan setelah pengeringan. Setelah panen. rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit.67 persen). Setelah dirontokan dilakukan pemisahan biji kedelai dari daun.33 persen) untuk tujuan konsumsi polong yang direbus. sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. upah tenaga kerja. sehingga petani akan memperoleh penerimaan yang tinggi.37 ton per hektar.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1. sisa-sisa polong ataupun kotoran yang lain.54 bermanfaat sebagai sumber Nitrogen dan penyubur tanah untuk tanaman musim berikutnya. Tujuan utama dari budidaya kedelai adalah memperoleh kedelai yang memiliki kadar air rendah. sewa alat dan pajak.3 hari. pupuk dan pestisida. Di Kecamatan Ciranjang. kegiatan selanjutnya adalah pengeringan tujuannya untuk menurunkan kadar air dari biji sampai batas aman untuk disimpan atau memudahkan penanganan selanjutnya. tapi pada cuaca baik dapat dilakukan sekitar 1 . Lamanya penjemuran rata-rata tujuh hari. Umumnya petani di Kecamatan Ciranjang melakukan perontokan dengan cara manual yaitu dipukul-pukul dengan kayu.

55 usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010. Pendapatan atas biaya tunai H. Pendapatan Bersih J. pestisida dan pajak.63 10 000.00 100 00.00 1 096 367. R/C Rasio Polong Muda (Rp/ha) 1 871 269. Total Biaya (D+E) G.99 37 850. Total Penerimaan (A+B) D. Biaya Diperhitungkan Tenaga Kerja Keluarga Sewa Lahan Benih Penyusutan Total Biaya Diperhitungkan F.77 426 393.35 .27 Polong Tua (Rp/ha) 4 243 974.00 931 315.05 350 000. benih. Biaya Tunai Benih Pupuk Pestisida PPC/ZPT Tenaga Kerja Luar Keluarga Sewa Alat Handsprayer Sewa Alat Perontok Sewa Pompa Pajak Total Biaya Tunai E.30 350 000.10 1 111 196.00 1. Penerimaan Tunai B.00 114 247.73 per hektar).00 10 000. hal ini disebabkan tenaga kerja dalam keluarga sangat minim.00 1 111 196.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua (Rp 3 312 778.00 882 796. sewa alat.00 107 471.54 9 280.30 240 214.73 4 243 974. Penerimaan Tidak Diperhitungkan C. Tabel 17 Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar Jenis Biaya dan Penerimaan A.84 282 486.54 398 259.68 581 315.96 75 701. Pendapatan atas biaya total I. Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga.24 1.00 74 106.33 2 201463.60 988 473. Biaya tunai yang paling besar digunakan untuk upah tenaga kerja luar keluarga.73 2 042 511.72 494 260. Sumberdaya yang digunakan dalam usahatani kedelai meliputi tenaga kerja.72 51 959.00 590 214.24 398 256.50 200 00.73 282 486.30 1 473 010.84 1 871 269.05 3 132 778. pupuk.

35) tidak berbeda jauh dari pada petani yang panen polong muda (1. Selain itu. Melihat perbandingan jumlah R/C rasio yang diperoleh. sehingga kegiatan pemeliharaan tidak dilakukan dengan optimal. Besarnya pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani polong tua karena hasil yang diperoleh lebih banyak dan harga jual biji kedelai lebih tinggi dari pada kedelai hijau (muda). Walaupun.56 Suatu usahatani akan dikatakan berhasil atau menguntungkan jika selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif.27). Petani yang melakukan panen polong muda disebabkan beberapa hal. Jadwal penanaman yang terlambat juga mengharuskan petani untuk melakukan panen kedelai polong muda.4. total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1. nilai R/C rasionya tidak berbeda jauh tetapi pendapatan bersih polong tua lebih tinggi dari pendapatan bersih polong muda.73 dan pendapatan atas total biaya Rp 1 111 196. ada juga petani .00. petani yang panen polong tua (1.84 dan pendapatan atas total biaya Rp 398 256.24. Total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.27 untuk polong muda. Petani yang memiliki keterbatasan modal telah merencanakan menanam kedelai untuk dipanen muda. Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1. waktu pengolahan lama dan keterbatasan modal. Berdasarkan analisis usahatani (Tabel 17) kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda. seperti jadwal penanaman yang terlambat. Nilai R/C rasio yang diperoleh pada usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang tidak berbeda jauh dengan nilai R/C rasio usahatani kedelai pada penelitian Rusastra et al (1992) yaitu 1.

sedangkan untuk membayar tenaga kerja mereka memiliki keterbatasan modal. Tetapi di Desa Ciranjang. pedagang besar propinsi.1 Saluran Tataniaga Pemasaran kedelai di lokasi penelitian dari petani sampai konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pemasaran yaitu pedagang pengumpul (tengkulak). dan pedagang pengecer. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. Hal ini disebabkan oleh lokasi petani yang jauh dari pedagang besar kecamatan sehingga penjualan ke pasar akan menambah biaya dan keterbatasan waktu. pedagang besar kabupaten. Selain itu. penyerapan pasar untuk kedelai polong tua masih sangat terbuka luas karena kedelai polong tua dibutuhkan industri-industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai. Pada saat panen banyak pedagang pengumpul yang datang ke tempat petani sehingga petani dapat menjual kedelai di rumah atau di sawah tanpa harus mengangkut ke tempat pembeli. selain cara penjualan yang demikian ada pula petani yang membawa sendiri dan menjualnya pada pedagang besar kabupaten yang berada di pasar. Sebagian besar petani di Kecamatan Ciranjang melakukan penjualan kedelai langsung kepada tengkulak.2 Saluran dan Lembaga Tataniaga 6. 6.57 memanen polong muda karena keterbatasan waktu yang dimilikinya.. pedagang besar kecamatan. ada dua saluran tataniaga yaitu .2. Pemanenan kedelai polong muda tidak dapat dilakukan terus menerus karena penyerapan pasar untuk polong muda sangat terbatas. Kabupaten Cianjur. berbeda dengan polong tua yang bisa disimpan apabila petani tidak bisa menjual semua hasil panennya.

Gambar 4 menginformasikan bahwa di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (5.58 persen kedelai dari pedagang kabupaten . yaitu dari petani kedelai (100 persen) dibawa ke pedagang pengumpul. 80 persen kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan 20 persen langsung diserap oleh konsumen akhir. Pada saluran kesatu sampai kelima petani menjual kedelai (73. 100 % Petani Pedagang Pengumpul Ciranjang 100 % Pedagang Pasar Induk Parung 20 % 80 % Pedagang Pegecer Konsumen Gambar 3. Di pedagang pasar induk.77%) lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (10. 8. Saluran kesatu dari pedagang pengumpul kedelai dijual ke pedagang kecamatan (42.58 saluran tataniaga kedelai polong muda (Gambar 3) dan saluran tataniaga kedelai polong tua (Gambar 4).69%). Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda.33%) ke pedagang pengumpul.56%). Saluran kedua dan ketiga kedelai dari pedagang pengumpul dijual ke pedagang kabupaten (30. kemudian kedelai tersebut (100 persen) dibawa ke pedagang Pasar Induk Parung.72%) melalui saluran kedua. Gambar 3 menginformasikan bahwa saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai dua tujuan.

kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang propinsi (4. Saluran keempat dan kelima sama seperti saluran kesatu.67 persen) yang berdekatan dengan pasar Ciranjang seperti Desa Ciranjang dan Desa Cibiuk. sedangkan saluran ketujuh dan kedelapan.23 persen diserap pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir melalui saluran kelima.14%) melalui saluran keempat. 2 dan saluran 3 lebih banyak dipilih (73. Pada dasarnya petani memiliki kebebasan untuk menentukan saluran mana yang akan dipilih.67%).77%) kedelai dijual langsung ke pedagang propinsi (32. 10.08%) lalu diserap pengrajin tahu/tempe (6.59 diserap oleh pedagang pengecer kemudian dijual ke konsumen akhir melalui saluran ketiga. Saluran keenam sampai kedelapan petani menjual kedelai langsung ke pedagang kabupaten (26. sehingga tidak ada alternatif lain bagi petani untuk menjual hasil panennya.58%). penjualan kedelai ke saluran 1. tetapi dari pedagang kecamatan (42.58%) lalu ke konsumen akhir.23 persen) karena petani tidak mau mengambil resiko kerugian biaya transportasi. Kedelai diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (6. lokasi petani yang jauh dari pedagang kabupaten. Pada saluran keenam kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang pengecer (8. .23%) melalui saluran kedelapan untuk dijual ke konsumen akhir. Volume kedelai banyak melalui saluran tiga (57.33 persen) karena banyaknya jumlah pedagang pengumpul lokal yang mendatangi petani. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden.14%) melalui saluran ketujuh dan diserap oleh pedagang pengecer (10. Saluran 6-8 hanya dipergunakan oleh petani responden (26.

56% Luar Jawa Barat 10.77 % Pedagang Besar Kecamatan Garut Majalengka Sumedang Sukabumi Pengrajin Tahu Tempe 8.33 % Pedagang Pengumpul Kecamatan Ciranjang 30. Umumnya fungsi-fungsi tataniaga kedelai yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga .2. 6.60 26.58 % Konsumen 32.58 % Pedagang Pengecer 8.23 % Konsumen 6.08 % Bandung Bandung Pedagang Besar Propinsi 24.72 % 10.69 % 42.34% 5.58 % 8.23 % Pengecer 10.14 % Pengrajin Tahu Tahu /Tempe Tempe Ket: tidak dianalisis Gambar 4 Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua.2 Lembaga Tataniaga Kegiatan yang dilakukan lembaga tataniaga untuk memperlancar arus kedelai dari produsen ke konsumen dinamakan fungsi tataniaga.67 % Petani 73.56 % Pedagang Besar Kabupaten 34.

informasi pasar a. pedagang kecamatan. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan dan pengangkutan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. Petani memasarkan kedelai dalam dua bentuk yaitu polong muda dan polong tua. Pemilihan rantai tataniaga . tetapi ada beberapa petani yang menjual langsung ke pedagang besar di pasar. Tabel 18 menginformasikan bahwa ada enam lembaga tataniaga yang terlibat yaitu petani. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. pembiayaan. Umumnya petani menjual ke pedagang pengumpul yang mendatangi rumah atau sawah petani dengan penawaran harga tertinggi. Setiap lembaga yang terlibat dalam tataniaga kedelai mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir mempunyai fungsi yang berbeda-beda. pembiayaan. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Tabel 18 Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai Lembaga Tataniaga Petani Pedagang Pengumpul Fungsi Tataniaga Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi fasilitas Aktivitas Pedagang Kecamatan Pedagang Kabupaten Pedagang Propinsi Pedagang Pengecer Penjualan Pengangkutan Pembelian dan penjualan Pengumpulan dan pengangkutan Penanggungan resiko. Petani Seluruh petani responden kedelai di Kecamatan Ciranjang umumnya tidak menemui kesulitan dalam memasarkan kedelainya karena pedagang pengumpul selalu ada untuk mengambil produksi kedelai saat musim panen. pedagang pengumpul. pedagang besar propinsi. pedagang besar kabupaten.61 tataniaga adalah fungsi pertukaran. dan pedagang pengecer. pembiayaan.

serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko . Sistem pembayaran umumnya secara tunai. Akibatnya cara tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah. b. sedangkan kedelai polong tua dibawa ke pedagang kecamatan dan pedagang besar kabupaten dengan menggunakan transportasi mobil. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah pembelian dan penjualan. Cara petani menjual kedelai ke pedagang pengumpul adalah cara langsung dari rumah atau sawah. fungsi fisik yaitu pengumpulan dan pengangkutan. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang umumnya pedagang pengumpul dari luar Kecamatan. tetapi ada juga yang pembayarannya menunggu hasil penjualan ke pedagang besar atas dasar kepercayaan. Kedelai ini selanjutnya dibawa ke pasar tujuan untuk kedelai polong muda. Kedelai yang dijual ke pedagang pengumpul sebanyak 73.62 pedagang pengumpul oleh petani dengan pertimbangan tidak ada biaya transportasi dan lokasi petani ke pasar tujuan cukup jauh. tetapi informasi pasar dan harga dikuasai oleh pedagang pengumpul sehingga harga jual ditentukan oleh pedagang pengumpul.33 persen dari keseluruhan hasil produksi kedelai di Kecamatan Ciranjang. Cara pembelian yang dilakukan pedagang pengumpul dari petani untuk polong tua dengan ditimbang di rumah petani. Sistem ini memberikan kemudahan bagi petani. sedangkan yang polong muda umumnya tebasan langsung di sawah petani. khusus polong muda umumnya secara borongan di sawah yang didatangi pedagang pengumpul. tetapi ada beberapa pedagang yang merupakan penduduk Kecamatan Ciranjang.

Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. pembiayaan (transportasi. Selain itu banyaknya kedelai yang harus disiapkan oleh pedagang pengumpul. sedangkan pembelian kedelai dari petani dibayar tunai. selain itu menerima kedelai langsung dari petani. Pedagang kecamatan mempunyai informasi pasar yang akurat tentang harga yang terjadi karena berhubungan langsung dengan pedagang besar propinsi. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. Pedagang Kecamatan Pedagang kecamatan merupakan pengrajin tahu skala besar di Kecamatan Haurwangi. Cara pembayaran kepada pedagang pengumpul dengan mengurangi langsung modal yang dipinjam pedagang pengumpul dari penjualan kedelai.63 penyusutan. . Kedelai yang diperoleh selain untuk bahan baku pabrik tahu miliknya. tenaga kerja dan pengemasan) dan informasi pasar (harga). Umumnya pedagang pengumpul yang menjual kedelai ke pedagang kecamatan merupakan pedagang yang menerima bantuan modal dari pedagang kecamatan. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh pedagang kecamatan adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. c. misalnya tidak pada saat musim tanam kedelai sehingga terjadi kekurangan pasokan. sebagian dijual langsung ke pedagang besar propinsi di Bandung. fungsi fisik berupa penyimpanan dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Pedagang ini menerima kedelai dari pedagang pengumpul dari desadesa yang berdekatan dengan pedagang kecamatan. Jawa Barat.

Kedelai tersebut dijual baik langsung ke pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur maupun ke pedagang pengecer di Kabupaten Cianjur dan pedagang pengecer luar daerah yang telah menjadi langganan sepeti Garut. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Garut. Majalengka. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang besar kabupaten Cianjur (di Kecamatan Ciranjang). Subang. Pedagang Besar Propinsi Pedagang besar propinsi yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai dari produsen di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. fungsi fisik berupa penyimpanan. Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar selalu tunai. Sumedang.64 d. Pedagang ini memiliki skala usaha dagang yang besar di Bandung. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang pengumpul dan petani yang berdekatan dengan pasar. dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. pembiayaan dan informasi pasar. Karawang. Penyerahan kedelai dilakukan di tempat pedagang besar sehingga pembelian tersebut berlangsung di gudang pedagang besar. Sukabumi dan Bandung. selain itu pedagang ini menerima pasokan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur melibatkan pedagang kebupaten lainnya. sehingga posisi tawar-menawar pedagang pengumpul lemah jika dibandingkan dengan pedagang besar. dan . Majalengka. Tasik. e. Sukabumi Selatan. Pedagang Besar Kabupaten Pedagang besar kabupaten yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. Jawa Barat. Pedagang besar umumnya mempunyai informasi harga yang akurat.

Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar adalah nota dan tunai.65 Banjar. tetapi ada juga pengecer yang menjual kedelai untuk benih. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. Pedagang besar melakukan kegiatan penjualan kedelai baik secara langsung ke pengrajin tahu/tempe dan pedagang pengecer di daerah Bandung. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. . f. Jawa Timur. fungsi fisik yaitu penyimpanan. Pedagang pengecer melakukan fungsi-fungsi tataniaga adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Banyaknya kedelai yang dibeli disesuaikan dengan skala usaha dagang yang dimiliki pedagang pengecer. Pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer dengan cara tunai. Informasi harga yang dimiliki pedagang besar merupakan informasi terbaru. fungsi fisik yaitu penyimpanan dan pengangkutan dari pedagang besar ke pedagang pengecer. maupun pengiriman ke luar propinsi Jawa Barat. Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar propinsi adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. serta dari Jawa Tengah. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang menerima pasokan kedelai dari pedagang besar untuk dijual langsung kepada konsumen akhir. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. Umumnya pedagang pengecer menjual kedelai untuk konsumsi. Selain itu menerima kedelai langsung dari petani di wilayah Bandung. karena pedagang besar berhubungan langsung dengan penentu harga pasar yaitu pedagang pengecer.

Hambatan yang dihadapi pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten adalah harus memiliki modal yang kuat dan memiliki relasi yang luas agar dalam pemasaran kedelai berjalan dengan lancar. Dilihat dari struktur pasar yang dihadapai pedagang pengumpul memiliki posisi tawar yang lebih baik dari petani.66 6. sedangkan pedagang kecamatan/kabupaten posisi tawarnya lebih baik dari pedagang pengumpul. Pedagang Kecamatan serta Pedagang Kabupaten Petani berperan sebagai penjual dan yang berperan sebagai pembeli adalah pedagang pengumpul.3. . kebebasan untuk keluar masuk pasar yang dialami oleh para pelaku pasar. sedangkan pedagang pengumpul menghadapi hambatan pada waktu bukan musim tanam kedelai dan keterbatasan modal. Sumber informasi tentang harga dibawa oleh pedagang sehingga penentu harga dilakukan oleh pihak pedagang. Akibatnya petani hanya berperan sebagai price taker dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam penentuan harga. Kedelai yang diperjualbelikan umumnya homogen yaitu kedelai varietas Dapros. Struktur pasar yang dihadapi oleh para pelaku pasar dalam tataniaga kedelai adalah sebagai berikut: a. Petani dalam memasarkan hasilnya tidak menghadapi hambatan karena petani dengan mudah menjual kedelai kepada pembeli. Petani dan Pedagang Pengumpul.1 Struktur Pasar Struktur pasar dapat diidentifikasi dengan melihat jumlah lembaga tataniaga. pedagang kecamatan dan pedagang besar. sifat produk yang diperjualbelikan dan informasi pasar yang diperoleh.3 Struktur dan Perilaku Pasar 6.

pedagang besar juga harus memiliki komunikasi dan kepercayaan yang baik dengan lembaga tataniaga yang lain. Posis tawar pedagang kecamatan/kabupaten lebih baik dari pedagang pengumpul karena yang menentukan harga adalah konsumen akhir. Pedagang pengumpul dalam menentukan harga sangat lemah. Informasi yang dimiliki pedagang pengumpul mengenai keberadaan kedelai dan harga jual yang berlaku lebih baik jika dibandingkan petani. Pedagang Pengumpul dan Pedagang Besar Di lokasi penelitian jumlah pedagang pengumpul lebih sedikit dari jumlah petani tapi lebih banyak dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. Hal ini karena pedagang pengumpul memiliki keterbatasan modal untuk membayar petani. mereka memasarkan kedelai hanya kepada pedagang besar. Posisi tawar pedagang pengecer lebih baik dari pedagang propinsi karena berhubungan langsung dengan konsumen akhir. Selain harus mempunyai modal yang kuat.67 b. Pedagang Besar. c. Komoditi yang diperjualbelikan di tingkat pedagang pengumpul. Namun ada juga pedagang pengumpul yang bekerja sendiri. . Jumlah pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang tidak diketahui dengan pasti. karena umumnya pedagang pengumpul mendapat pinjaman dari pedagang besar. jika tiba musim panen kedelai pedagang pengumpul banyak berdatangan dari luar Kecamatan. Informasi ini diperoleh dari pedagang pengumpul lainnya dan pedagang besar itu sendiri. sehingga posisi tawarnya lebih baik dari pedagang kecamatan/kabupaten. pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten bersifat homogen. Pedagang Besar Propinsi dan Pedagang Pengecer Pedagang propinsi memiliki level penjualan yang lebih tinggi dari pedagang kecamatan/kabupaten.

kecuali petani yang hanya melakukan kegiatan penjualan. Pedagang Pengecer dengan Konsumen Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir. Pembelian kedelai oleh pedagang pengumpul dilakukan dengan cara pedagang pengumpul langsung mendatangi petani. . sistem pembayaran dan kerjasama yang terjadi antara lembaga tataniaga. Praktik Pembelian dan Penjualan Setiap lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga kedelai melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer terhadap pedagang besar dan konsumen adalah tunai. a. 6.3.2 Perilaku Pasar Perilaku pasar dapat diidentifikasi dengan mengamati kegiatan tataniaga kedelai dalam proses pembelian dan penjualan. sistem penentuan harga.68 Sistem pembayaran antara pedagang besar dengan pedagang pengumpul secara tunai. kecuali polong muda penundaan pembayaran bisa terjadi karena keterbatasan modal yang dimiliki pedagang pengumpul. Pedagang pengecer dengan konsumen menghadapi struktur pasar persaingan. Komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu kedelai. d. sedangkan pedagang besar melakukan pembelian di tempat penjual. dan komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen. Cara pembayaran untuk setiap lembaga tataniaga dilakukan secara tunai. hal ini dicirikan dengan banyak pedagang pengecer sebagai penjual dengan banyak konsumen akhir sebagai pembeli.

farmer s share dan analisis rasio keuntungan dan biaya. 6. Penguasaan informasi harga sangat didominasi oleh pedagang pengumpul.69 b. walaupun terjadi tawar-menawar penetapan harga tetap lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul. Analisis efisiensi tataniaga mencakup analisis marjin tataniaga. 1977).1 Marjin Tataniaga Marjin tataniaga diartikan melalui selisih harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat pedagang pengecer yang diperoleh dengan satuan rupiah per .4 Analisis Keragaan Pasar Struktur pasar dan perilaku pasar akan menentukan keragaan pasar yang dapat diukur melalui harga. biaya dan jumlah komoditi yang akhirnya memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem tataniaga (Dahl and Hammond. Efisiensi tataniaga merupakan suatu kegiatan perubahan yang dapat meminimalkan biaya input tanpa harus mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa. Bentuk kerjasama yang terjadi adalah pedagang besar menyediakan benih kedelai dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dengan mutu benih kedelai yang sama. 6. Informasi harga dibawa oleh pedagang pengumpul saat akan membeli kedelai di tempat atau sawah petani. c. Kerjasama Antar Lembaga Kerjasama antar lembaga tataniaga kedelai baru terjadi antara petani dan pedagang besar kecamatan dan kabupaten di kecamatan Ciranjang.4. Sistem Penentuan Harga Posisi petani adalah sebagai penerima harga. Proses penentuan harga antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar lebih banyak dipengaruhi oleh harga kedelai di pasar. sehingga petani dapat menekan biaya usahatani kedelainya.

Kabupaten Cianjur terdiri dari delapan saluaran tataniaga. Sistem tataniaga yang terjadi di Kecamatan Ciranjang. Pembahasan mengenai sebaran marjin tataniaga dibagi menjadi sebaran marjin melalui pedagang pengumpul dan sebaran marjin melalui pedagang besar kabupaten. . Saluran ke-2 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kabupaten dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Saluran ke-3 sama seperti saluran ke-2 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir.70 kilogram kedelai. Keuntungan pemasaran merupakan selisih antara harga jual dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan. yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar kabupaten. tenaga kerja. Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah komoditi yang dipasarkan. Biaya tataniaga tersebut meliputi biaya transportasi. Saluran tataniaga kedelai yang melalui pedagang pengumpul yaitu saluran satu sampai saluran lima (Tabel 19) dan saluran tataniaga yang melalui pedagang besar kabupaten yaitu saluran enam sampai saluran delapan (Tabel 20). Biaya tataniaga merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam memasarkan kedelai dari petani sampai ke konsumen akhir. yaitu saluran ke-1 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kecamatan dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Marjin tataniaga dalam penelitian ini dihitung berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang terbentuk. Secara umum petani menyalurkan kedelai melalui dua lembaga saluran tataniaga. pengemasan dan retribusi. Penghitungan marjin meliputi biaya tataniaga dan keuntungan lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tersebut.

Total perolehan marjin Rp 1 004. Saluran ke-5 sama seperti saluran ke-4 hanya tujuannya ke pedagang pengecer lalu ke konsumen akhir.40.67. .40 per kilogram.07 per kilogram. Saluran ke-7 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang propinsi dan diserap oleh pengrajin tahu/tempe.67 per kilogram. Saluran ke-6 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen (Kabupaten Cianjur). per kilogram (Tabel 18). Pada tingkat pedagang kecamatan biaya yang dikeluarkan untuk transportasi sebesar Rp 16. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengumpul meliputi biaya transportasi untuk mencari kedelai sebesar Rp 33. tenaga kerja dan pengemasan Rp 25 dan penyusutan Rp 7 per kilogram. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengecer dan pedagang kecamatan yaitu masing-masing sebesar Rp 48.33 dan pedagang pengumpul Rp 356. Pada saluran tataniaga 1 dengan tujuan akhir pengrajin tahu/tempe. total biaya tataniaga yang dikeluarkan sebesar Rp 97. Total keuntungan Rp 907. paling besar berasal dari pedagang kecamatan sebesar Rp 551.33 dan Rp 48.71 Saluran 4 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu dibawa ke pedagang kecamatan lalu ke pedagang propinsi dan diserap pengrajin tahu/tempe (Bandung). Saluran ke-8 sama seperti saluran ke-7 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir.33 per kilogram dan biaya tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 15 per kilogram.40 per kilogram. paling banyak berasal dari pedagang kecamatan yaitu Rp 600 dan pedagang pengumpul Rp 404.

43 71.86 0.74 5.09 5.48 6.52 3 095.15 0.00 77.33 1 500.00 543.08 810.60 48.37 50.60 3 095.07 404.52 3 095. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.08 810.00 3500.07 404.73 21.00 % Saluran 4 Harga (Rp/kg) 2 285.86 85.40 3 500.00 % 55.00 4 100.50 1.00 % Saluran 3 Harga (Rp/kg) 2 285.11 1.69 5.67 551.60 3 095.60 48.00 500. Pedagang Pengumpul Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.43 .52 3 095.78 1.33 1 500.40 3 500.25 23.67 1 381.07 404.60 9. Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 1.07 404.50 75.16 12.60 3 095.62 46.77 75.00 92.00 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) 2 285.83 21.00 4 100.77 75.08 810.00 3 500.99 77.00 48.89 % Saluran 5 Harga (Rp/kg) 2 285.40 3 500.92 32.79 66.00 50.08 810.33 356.68 9.47 47.86 85.60 48.08 810.78 50.72 Tabel 19 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.85 53.73 19.18 8.91 8.11 88.40 3 500.22 42.60 3 095.70 19.67 1 381.07 7.33 356.00 1.78 35.68 9.01 68.63 100.50 75.07 404.60 48.00 4 000.51 11.58 44.85 1.22 53.00 72.60 48.64 11.39 13.24 14.52 3 095.00 5 000.19 13.00 600.00 118.40 3 500.00 55.73 19.37 80.33 356.00 3 500.60 3 095.00 5 000. Dua. Pedagang Kecamatan Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.00 3 500.67 1.00 428. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 2 285. Tiga.33 356.33 600.33 356.18 8.00 1.00 57.50 1.63 100.52 3 095.00 3 500.08 76.45 14.78 18.00 118.

00 97.00 71.86 1.00 5 000.00 600.00 4.40 9.00 6 500.73 Tabel 19 Lanjutan Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 5.57 100.54 75.00 1 235.62 4.37 22.00 6 400.07 1 404.57 21.72 21.33 899.92 1.00 100.00 500.38 7 000.13 24.40 6.00 165.35 23.00 100.35 75.78 .08 100. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 6.89 1.00 65. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 8.00 91.10 7.00 7 000.00 523.50 2.50 2.36 17.64 20.50 279.00 4 500.00 4 500.29 48.11 100.40 8.40 11.50 105.84 49.08 52.93 55.21 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) % Saluran 3 Harga (Rp/kg) % Saluran 4 Harga (Rp/kg) % Saluran 5 Harga (Rp/kg) % 5 000.40 3 904.00 5.55 44.00 435.40 8.58 68.33 1 219.00 6 400.12 27.00 76.40 3 404.00 6500.93 24.47 8.07 1 004.00 92.43 4 000.43 2.00 4 100. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 7.44 9. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share 4 100.79 100.00 1 400.40 1 004.09 31.00 100.00 88.00 112.00 907.20 47.00 1 500.00 3 495.22 100.00 77.00 409.67 11.00 1 388.00 3 125.00 185.

tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 10. hal ini dikarenakan biaya tataniaga yang dikeluarkan sangat besar yaitu Rp 72 yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp 40.07 paling besar berasal dari pedagang pengumpul Rp 356. pemasaran kedelai sampai ke konsumen akhir melalui pedagang pengecer.40 dengan sebaran marjin di pedagang kabupaten dan pedagang pengecer yaitu masing-masing Rp 500 per kilogram dan pedagang pengumpul Rp 404.07 paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 543 dan pedagang pengecer sebesar Rp 365. Total marjin tataniaga saluran 2 sebesar Rp 1 004 sama dengan saluran 1. Total keuntungan Rp 899.40 per kilogram.07. pedagang pengecer Rp 435 dan pedagang kabupaten Rp 428 per kilogram. Pedagang kabupaten memperoleh keuntungan sedikit. Total keuntungan tataniaga sebesar Rp 1 219.40. Saluran tataniaga 4 merupakan saluran dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung melalui pedagang besar propinsi. biaya pengemasan Rp 5 dan penyusutan Rp 7 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 1 404. paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 600 dan pedagang pengecer Rp 404.07 per kilogram.74 Saluran tataniaga 2 sama dengan saluran tataniaga 1. Total marjin yang diperoleh sebesar Rp 3 404. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk tujuan pengrajin tahu/tempe yaitu biaya transportasi Rp 30. hanya pada saluran 2 dari pedagang pengumpul kedelai dibawa ke pedagang kabupaten.40 paling besar berasal dari pedagang . Pada saluran tataniaga 3.33 dan pedagang pengecer sebesar Rp 65 per kilogram. penyusutan Rp 7 dan biaya tenaga kerja Rp 25 per kilogram. Biaya tataniaga paling kecil dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 48.

tenaga kerja bongkar muat Rp 20 dan pengemasan Rp 5 per kilogram.07 sampai Rp 1 381. Keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 356. Biaya tataniaga yang dikeluarkan berkisar antara Rp 48. Total keuntungan sebesar Rp 3 125. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang propinsi sebesar Rp 165 per kilogram dan biaya tataniaga terendah pada pedagang pengecer.40 per kilogram.67 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh dari lembaga tataniaga sebesar Rp 4 904. Total marjin tataniaga Rp 1 000 dengan pembagian yang merata pada pedagang kabupaten dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 perkilogram (Tabel 19). penyusutan Rp 7. Pada saluran tataniaga 5 merupakan saluran yang sama dengan saluran 4 hanya tujuan tataniaga kedelai adalah konsumen akhir di daerah Bandung.67. biaya tersebut terdiri dari biaya transportasi Rp 86. Marjin terbesar berasal dari pedagang kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing sebesar Rp 1 500 dan Rp 1 400 per kilogram. Total keuntungan saluran tataniaga in sebesar Rp 863 dengan pembagian keuntungan pada pedagang kabupaten sebesar Rp 426 dan pedagang pengecer sebesar Rp 435 per kilogram. hanya pada penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul.33 sampai Rp 118. Saluran tataniaga 6 (Tabel 20) merupakan saluran yang tujuannya sama dengan saluran tataniaga 3.33 per kilogram. Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang kabupaten merupakan biaya terbesar yaitu Rp 72 .75 kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing Rp 1 500 per kilogram.40 paling besar keuntungan yang diperoleh pedagang propinsi sebesar Rp 1 388 per kilogram. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang kecamatan.

00 5 000.48 1.04 863.00 75.15 14. tenaga kerja Rp 25 dan penyusutan sebesar Rp 7 per kilogram.00 4 500.00 500.50 1 245.92 3 500.75 1 198.45 21.43 4 000.09 3 000.14 100.00 326.60 9.00 1.32 1.62 23. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.00 6 500. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 5.75 1 198. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 6.00 6 500.00 19.33 1.18 1 000.00 100.89 3 500.85 Saluran 8 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 154.43 5 000.50 1 395.00 91.00 100.00 500.08 21.00 53.00 435.76 dengan alokasi terbesar untuk biaya transporatsi Rp 40.00 199.08 53.00 66.50 1 400.43 50.61 21.75 1 198.11 100. Tabel 20 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam.00 70.25 3 500.00 90.00 3.30 77.91 3 400.86 3 074.00 428.50 1 405. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share Saluran 6 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 4 500.00 500. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.85 Saluran tataniaga 7 merupakan saluran yang sama dengan saluran 6 hanya tujuan penyaluran kedelai adalah pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.00 43.00 51.00 .43 71.67 11.78 100.00 6 400.41 18.47 23.12 50.00 104.50 1 500.00 65.00 43.25 3 500.25 3 500.00 5 000.67 2.42 1. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.11 88.00 93.63 77.00 4.88 17. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang Uraian 1.00 137.44 9.00 22.4.00 5 000.22 6.51 11.00 77.08 76.10 6.50 1 500.78 Saluran 7 Harga % (Rp/kg) 2 301.08 100.00 32.35 20.00 50.50 1 500.00 6 500.43 53.00 3.00 94.00 7 000.00 48.00 4 000.15 16.57 9.00 35.00 423.00 7 000.50 1 405.00 72.00 46.71 1.41 17.06 2 801.79 20.04 7. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 3 000 dengan pembagian yang merata .00 3 500.

5 sampai Rp 104.5 dan pedagang pengecer sebesar Rp 423 per kilogram.5 pada pedagang kabupaten.77 pada pedagang propinsi dan pedagang kabupaten masing-masing sebesar Rp 1 500 per kilogram.4. Pangsa marjin digunakan untuk melihat besarnya marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. Saluran tataniaga 8 merupakan saluran yang tujuan pemasaran kedelai sama dengan saluran tataniaga 5. pangsa marjin diperoleh dari marjin tataniaga masing-masing lembaga dibagi total marjin tataniaga dalam bentuk persen.5 dan pedagang propinsi sebesar Rp 1 395. hanya penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul. Secara keseluruhan marjin tataniaga di setiap saluran tataniaga di kabupaten Cianjur cenderung tinggi. Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang kabupaten sebesar Rp 1 405. Total biaya tataniaga sebesar Rp 326 per kilogram dengan biaya terbesar pada pedagang propinsi.5 per kilogram.5 per kilogram dengan alokasi terbesar untuk biaya transportasi dan penyusutan. Total marjin tataniaga yang diperoleh Rp 3 400 dengan alokasi terbesar pada pedagang kabupaten sebesar Rp 1 500. Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan . Pangsa Marjin Berdasarkan sebaran marjin tataniaga kedelapan saluran tataniaga di atas. Keuntungan terbesar sebesar Rp 1 405. pedagang propinsi sebesar Rp 1 400 dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 per kilogram. pada pedagang propinsi Rp 1 245. 6. Biaya tataniaga berkisar antara Rp 94.2 Pangsa Marjin dan Net Marjin a. maka dapat dilihat persentase pangsa marjin (Tabel 21) dan persentase net marjin (Tabel 22) yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masing-masing saluran tataniaga.

08 35. Pada saluran tataniaga satu dan dua terdapat dua pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul dan pedagang kecamatan/kabupaten.74 44. Pada saluran tataniaga ini merupakan pangsa marjin terbesar dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas dan diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten.88 10.37 50. Tabel 21 Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 40.86 50. Saluran tataniaga yang efisien ditunjukkan oleh perolehan marjin yang merata di setiap pelaku pasar.60 50.00 14.00 44.79 11.00 100.36 persen. net marjin dihitung dari keuntungan tiap lembaga tataniaga dibagi total keuntungan tataniaga dalam bentuk persen.00 50.00 100. Tabel 21 menginformasikan pangsa marjin terbesar terdapat pada saluran tataniaga satu dan saluran tataniaga dua dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur yang diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten yaitu masing-masing sebesar 59.36 Pangsa Marjin (%) Pedagang Pedagang Pedagang Kecamatan Kabupaten Propinsi 59. .00 100.26 40.60 15. Sebaran pangsa marjin pada saluran ini cenderung belum merata yaitu pedagang pengumpul sebesar 10.42 59.74 35.00 100.71 Total Pangsa Marjin 100.745 persen.06 38.18 Pedagang Pengecer 35.00 41.00 100.78 pada setiap pelaku pasar.00 100.42 persen.00 100.00 Saluran tataniaga lima merupakan saluran terpanjang dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas yaitu melibatkan empat pelaku pasar. pedagang kecamatan sebesar 38.26 28.12 44.

72 Pedagang Propinsi 44.41 13. Tinggi marjin pada setiap pelaku tataniaga karena tingginya biaya tataniaga yang dikeluarkan.00 100.76 Total Pangsa Marjin 100.. dan tertinggi pedagang kecamatan dan pedagang propinsi sebesar 43.39 35.19 Pedagang Kecamatan 60.60 29. net marjin terendah diperoleh pedagang pengumpul sebesar 10.24 39. Net Marjin Tabel 22 menginformasikan sebaran net marjin pada saluran tataniaga satu dan dua cenderung belum merata.24 persen dan pedagang kecamatan 60.96 50.11 49.18 45.19 persen.00 100. b.00 100. dan melibatkan dua pelaku pasar dengan penyebaran pangsa marjin yang sudah merata yaitu masing-masing sebesar 50 persen. Saluran tataniaga lima yang merupakan saluran terpanjang.29 Pedagang Kabupaten 60.00 100.00 100. Sebaran net marjin pada saluran tiga.79 pedagang propinsi sebesar 35.21 11.86 persen dan pedagang pengumpul sebesar 15.59 50.00 .29 persen. Saluran tataniaga enam dan tujuh merupakan saluran tataniaga tanpa melalui pedagang pengumpul.76 persen pada saluran satu. terlihat dari pedagang pengumpul memperoleh 39. Pelaku pasar yang telibat pada saluran tataniaga enam adalah pedagang kabupaten dan pedagang pengecer dengan tujuan tataniaga kedelai konsumen di Kabupaten Cianjur. Saluran tataniaga tujuh melibatkan pedagang kabupaten dan pedagang propinsi dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.37 persen.00 100.19 43.52 Pedagang Pengecer 35.00 100.33 49. Tabel 22 Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Net Marjin (%) Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 39. enam dan tujuh cenderung sudah merata.68 14.76 44.82 40.41 35.39 10.

pedagang kabupaten dan pedagang propinsi.08 3 495.57 185.4.40 31.18 2 801.79 47.00 4.89 72.86 Total Keuntungan 907.00 91. maka dapat diketahui tingkat Farmer s Share yang diterima petani (Tabel 23).00 48. Tahun 2008 Saluran 1 Rp 2 3 4 5 6 7 8 % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Total Marjin 1 004.22 3 000.40 24.78 53.22 77.06 326.07 21.40 49.00 88.37 77.00 76.85 50.43 100.00 3.93 1 219.40 48.89 100.85 50.3 Farmer s Share Farmer s Share digunakan untuk membandingkan harga yang dibayarkan konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase.78 53.09 3 125.00 100.80 Pada setiap saluran tataniaga.84 137.40 22.92 71.00 4.00 3. Kecamatan . Berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang dibahas. perolehan net marjin berbeda-beda tergantung kepada siapa mereka menjual kedelainya.07 27.43 88.12 279.04 199. B = Share P.37 85.00 22. Berbeda dengan pedagang pengumpul dan pengecer.40 24.00 C 100.29 409. Tabel 23 Total Marjin.15 3 400.50 75.00 100. Farmer s Share berhubungan negatif dengan marjin tataniaga.A = Share Petani.43 100.78 1 000.00 D E F Ket: .21 3 404. Hal ini karena tujuan pemasaran dari ketiga pedagang tersebut sudah ada.38 3 904.00 43.50 1 004.00 5. pelaku pasar yang memperoleh pangsa marjin dan net marjin yang nilainya cenderung merata adalah pedagang kecamatan. artinya semakin tinggi marjin tataniaga maka bagian yang akan diterima petani semakin rendah.33 2.00 19.62 44.3 899. Pengumpul.09 3 074. 6.Persentase share pelaku pasar berdasarkan harga jual di tingkat pelaku pasar dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen .50 1 404.33 4.50 68.40 55.40 52.00 43. Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang.92 71.00 46. C = Share P.00 B 85.93 863.37 105.43 100.00 2.57 Total Biaya 97. Total Biaya.91 A 75.00 91.

78 persen. Dilihat dari nilai Farmer s share yang diperoleh pada setiap saluran tataniaga dapat diketahui bahwa saluran tataniaga yang efisien adalah saluran tataniaga enam karena dilihat dari total marjin tataniaga yang dikeluarkan rendah. Rasio keuntungan terendah terdapat pada saluran tataniaga tiga pada tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 5. 6. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga paling tinggi terdapat pada saluran tataniaga tujuh dan delapan pada lembaga pedagang kabupaten yaitu sebesar 14. Propinsi.49. Farmer s share terbesar terjadi pada saluran tataniaga enam yaitu sebesar 77. Nilai rasio dapat dilihat pada Tabel 24.87 per kilogram.4 Rasio Keuntungan dan Biaya Tingkat efisiensi tataniaga dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga. Pengecer Nilai Farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada berkisar antara 44. nilai yang tinggi artinya keuntungan yang diperoleh semakin tinggi . Berdasarkan Tabel 23 diketahui nilai farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada terlihat masih rendah dibanding dengan bagian yang diterima pelaku tataniaga. Nilai rasio ini memberikan arti bahwa setiap satu rupiah perkilogram biaya tataniaga yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 14. . Hal ini menunjukkan posisi tawar petani masih lemah dibanding dengan pelaku tataniaga lainnya.22 sampai 77.D = Share P.4. F = Share P.87. Kabupaten. Bagian terkecil terjadi pada saluran tataniaga lima yang merupakan saluran tataniaga terpanjang dalam tataniaga kedelai dari Kecamatan Ciranjang ke konsumen akhir. E = Share P.78 persen.81 .

3 (21.67 (1.26) 94.45) 48. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki .5 Alternatif Saluran Tataniaga Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai.67 persen.00 (1.50 (1.36 6.74) 7.00 (9.4.3 (19.18) Rasio /C Pedagang Kecamatan Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 551.22 persen) dengan volume barang 26.33 (1.47) 77.00 (1.19) Rasio /C 11.83) 11.47) 104.36 4 356.06 423.53 428.07 (5.82 Tabel 24 Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.33 (1.64 543.68) 48.87 6 7 8 Pedagang Pengumpul Keuntungan 356.48) 48.94 5 356.67) 65.24) 57.00 (17.50 (1.36 3 356.36 1 381. Tahun 2008 Lembaga Tataniaga Saluran Tataniaga 1 2 356.44) 6.00 (7.07) 7.70) 11.25) 118.94 1 405. saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.48 523.64 428.67 (1.87 1 405.69 1 388.07 (8.00 (21.60) 5.51) 72 (1.61) 13.08) 94.50 (17.72) 12.07 (5.33 (0.00 (1.10) 6.00 (1.64) 165.51) 72.49 9.50 (20.45) 14.50 (21.33 Pedagang Kabupaten Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 7.60) 5.36) 7.07 (Rp) (8.09) 48.00 (9.33 (0.79 435.00 (13.00 (9.00 (1.36 1 381.00 (2.91) 48.39) Rasio /C Pedagang Propinsi Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C Pedagang Pengecer Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C 435.00 (1.33 (1.33 (13.35) 112.41) 8.68) Biaya (Rp) 48.18) 7.73) 118.00 (1.00 (6.44) 6.69) 7.07 (7.50 (21.79) 154.69 1 395.35 1 245.00 (9.35) 14.393 1 235.04) 77.50 (2.10) 5.67 (1.50 (1.67) 65.

Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.35 dan Rp 8. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masingmasing sebesar Rp 9.54 per kilogram dengan volume kedelai 73.30 per kilogram. . Saluran tataniaga satu dan dua akan efisien jika petani berlokasi jauh dari pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten karena tidak mengeluarkan biaya angkut.83 farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.50 persen dan farmer s share sebesar 75.33 persen.50 persen. Alternatif saluran tataniaga yang juga dianggap efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua.78 persen.

3. Usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang pada saat kebijakan tarif impor ditiadakan secara ekonomis masih menunjukkan kelayakan untuk dikembangkan karena memberikan nilai R/C rasio sebesar 1.28 artinya setiap masukan untuk usahatani kedelai memberikan penerimaan sebesar Rp 1. Petani hanya melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fisik.1 Kesimpulan 1. Di Kecamatan Ciranjang kegiatan budidaya kedelai masih belum dilakukan dengan intensif 2. sehingga keuntungan lebih besar pada level pelaku pasar yang lebih tinggi. Produktivitas kedelai di kecamatan Ciranjang 1. Sistem pembayaran . sedangkan di tingkat pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten harga ditentukan oleh pedagang besar propinsi. Saluran tataniaga yang terbentuk ada delapan saluran tataniaga kedelai dengan setiap pelaku pasar melakukan fungsi tataniaga seperti fungsi pertukaran.84 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Posisi tawar yang miliki petani masih rendah dibanding pelaku tataniaga. Biaya usahatani kedelai paling besar dialokasikan untuk benih dan pupuk.28. pedagang kabupaten. Proses tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul.37 ton per hektar. pedagang propinsi dan pedagang pengecer. pedagang kecamatan. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Penentuan harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul ditentukan oleh pedagang besar.

Pengusahaan budidaya kedelai yang belum dilakukan dengan intensif oleh petani sehingga hasil yang diperoleh masih rendah memerlukan pembinaan lebih lanjut oleh petugas penyuluh pertanian. Petani dalam melakukan budidaya kedelai sebaiknya membuat perencanaan penanaman sehingga musim tanam berikutnya tidak terganggu dan panen polong muda dapat dihindari.30. Kerjasama antara pelaku pasar umumnya dalam bentuk pinjaman modal. . farmer s share paling tinggi sebesar 77.67 persen. Petani dalam memasarkan hasilnya sebaiknya berkelompok sehingga dapat dijual langsung ke pedagang kabupaten dengan harga yang lebih tinggi dan biaya transportasi dapat ditanggung bersama. saluran tataniaga ini juga memperlihatkan pangsa marjin dan net marjin yang cenderung sudah merata di setiap tingkat lembaga tataniaga. 4. 7.78 persen dan B/C ratio sebesar 6. 2.2 Saran 1. Saluran tataniaga kedelai yang memberikan keuntungan adalah saluran tataniaga enam dengan volume 26. Hal ini terlihat dari perolehan total marjin yang paling rendah yaitu Rp 1 000.85 yang terjadi umumnya nota dan tunai. Selain itu. agar pendapatan petani dapat meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

1987. et al. A dan Diah R. Jakarta. 2005. 2007. H W. Fakultas Pertanian. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Pemerintah Kabupaten Cianjur. Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kedelai dengan Kebijakan Tarif Optimal. Penguatan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Mendukung Pengembangan Agribisnis Kedelai. Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Z. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Walker O C. Jawa Tengah. Jakarta.86 DAFTAR PUSTAKA Azzaino. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif serta Dampak Kebijakan Pemerintah Pada Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Boyolali. Fakultas Pertanian. 2007. A R. Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. Nurmanaf. Laporan Tahunan 2001-2006. 2007. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Elizabeth. H. R. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Pengantar Tataniaga Pertanian. The Agricultural Industries. Teori dan Kasus). D. Ed 2. 1996. . Jakarta Barat. Larreche J C. Bogor. Kedelai dalam Kebijaksanaan Pangan Nasional dalam Ekonomi Kedelai. Inc. S dan R Kustiari. Penebar Swadaya. FAE Vol 5. Bogor. Market and Price Analysis. Pengantar Mikroekonomi Jilid 2. Tataniaga Hasil Perikanan. 2000. P. Bogor. Puspodewi. A M. Manajemen Pemasaran. Lipsey. Dahl C D and Hammond J W. Binapura Aksara. 2004. Manajemen Pemasaran. 1982. Rachman. 1997. Ed 11. Hanafiah dan Saefuddin. Hal 45-53. 2007. IPB Press. Jambi. Ekonomi Pertanian ( Pengantar. et al. 1977. Universitas Indonesia. Erlangga. Nuryanti. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Rohim. Jakarta. 1983. Departemen Pertanian. R. Bogor. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Prentice Hall. Inc. Boyd. Jalur Pemasaran Kedelai di Daerah Transmigrasi. New Jersey. Kotler. Skripsi. McGraw-Hill Book Company.

Hal 67-77. Saptana. 1993. . Soekartawi. Analisis Usahatani. Skripsi. Departemen Pertanian. R dan Yuyun Y. Aspek Produksi dan Tataniaga Kedelai di Jawa Timur. Surifanni. Kanisius. Budidaya dan Pascapanen. Rusastra. UI Press. D M. Jakarta. 1992. FAE Vol 10 dan 11. Aspek Produksi dan Pemasaran Kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri). Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi Pertanian. Permintaan Impor Kedelai Indonesia dari Amerika Serikat dan Aliran Impor Kedelai ke Indonesia. Institut Pertanian Bogor.87 Rukmana. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kedelai. et al . Hal 8-18. 2006. Fakultas Pertanian. 1995. Yogyakarta. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Departemen Pertanian. 2004.

.

JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PETANI KEDELAI Nama Petani : _______________________________ Desa : _______________________________ Kecamatan : _______________________________ Kabupaten/Kota : CIANJUR .90 ANALISIS USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN CIANJUR.JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Ternak ._________________ 2.Sepeda . SAKAP 3. Pekerjaan utama : __________________________ d._________________ Ket : 1) Status kepemilikan Jumlah (unit) Kapasitas pakai Ket.Pompa Air . Umur : ________ tahun b._________________ 3.1.91 I. Sarana Transportasi .Kambing/domba . Pendidikan : ________ tahun c. Penguasaan alat pertanian.Sepeda motor .Sapi/kerbau .Hand sprayer . Penguasaan aset lahan Luas (ha) Status Penguasaan Sawah Tegal Kebun Pekarangan Kolam Lainnya Total (ha) 1.Perontok kedelai . KARAKTERISTIK PETANI 1.Kendaraan roda 4 .2. GADAI 5. Identitas Kepala Keluarga a. Alat Pertanian .1) b.LAINNYA TOTAL . Anggota keluarga yang membantu usahatani : _________ Orang 1.Lantai Penjemuran . Penguasaan Aset Pertanian a. Pekerjaan sampingan : __________________________ e. SEWA 4. Jumlah anggota keluarga (di luar KK) : _________ Orang f. transportasi dan ternak Jenis asset yang dimiliki 1.MILIK 2.

5. rodentisida.1. MASUKAN DAN PENGELUARAN USAHATANI KEDELAI 2. Jarak tanam kedele: : ________________________ Masukan usahatani kedelai Jenis Sarana Produksi Jumlah (Kg/Lt) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 1.92 II. Cara/frekuensi b. Pupuk . fungisida.___________________ 4. Jumlah tenaga kerja ._________________ . Pola tanam per tahun : ________________________ 2.NPK .ZA .4.Pupuk Kandang . Pestisida .___________________ 3.TSP/SP-36 .Manusia 2. Pengolahan tanah a. Masukan tenaga kerja usahatani kedelai Jenis Kegiatan 1. Jumlah tenaga kerja -Tenaga Ternak . 2.UREA .3. Luas persil yang dianalisis : _______ ha Pilih persil yang ditanam kedele 2. Benih/Bibit 1) 2. Cara tanam b. Jenis Varietas kedele : ________________________ 2.2.___________________ . dll. Lainnya .KCL ._________________ 1) Termasuk insektisida. Penanaman a.Manusia Keluarga Nilai HOK (rp) Luar keluarga Nilai Borongan (rp) (rp) HOK -P -W -P -W .

Manusia 6. Biaya lain-lain untuk usahatani kedelai (Rp/musim) Uraian 1.6. Cara/frekuensi b. Perontokan a. Jumlah tenaga kerja .Manusia Ket : 1) Keluarga Nilai HOK (Rp) HOK Luar keluarga Nilai Borongan (Rp) (Rp) -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W Pupuk kandang dan pupuk buatan 2. Iuran kelompok tani 3. Cara/frekuensi b.5. Sewa pompa 2. Penyiangan/dangir a. Pengairan a.Manusia 7. Cara/frekuensi b. Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja . Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja . Pengeringan a. Jumlah tenaga kerja . Pengendalian HPT a.Manusia 5. Lainnya: _________________ Nilai (Rp) . Panen/angkut a. Pajak lahan yang dianalisis 6.93 Lanjutan Tabel 2. (Masukan tenaga kerja usahatani kedelai) Jenis Kegiatan 3. Jumlah tenaga kerja . Pemupukan1) a.Manusia 3. Cara/frekuensi b. Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja .Manusia 4. Iuran desa 4.Manusia 8. Jumlah tenaga kerja .

Iklim (kekeringan) . Benih 2.KCL . INFORMASI USAHATANI KEDELAI Sumber dan cara perolehan sarana produksi Jenis Sarana produksi 1. Lainnya: _________ 3. Sebutkan permasalahan utama yang dihadapi bapak dalam usahatani kedelai dari aspek: a. Polong basah c. Pedagang hasil.94 2. 3. 4. 4.UREA .3. OCE kering b. Total produksi dan nilai produksi Bentuk produksi a.Lainnya: ________ 2) Cara perolehan: 1. Petani lain. Sendiri. Sebutkan jenis-jenis sarana produksi (Benih.Pupuk Kandang 3.TSP/SP-36 . pupuk dan pestisida) yang dibutuhkan tetapi sulit diperoleh:: ___________________________________________________________________ _____________________________________________________ 3. Pestisida ______________ ______________ 4. 3. Lainnya: _______________ _______________ Sumber1) Cara2) mendapatkan Harga (Rp/satuan) Bunga (%/th) Volume (Kg/Ikat) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Ket : 1) Sumber: 1.ZA . Kredit/pinjam.NPK . Yarnen. 3. Pupuk . Kios saprotan.2.7. 2.1. Pengadaan sarana produksi: ___________________________________________________________________ b. 2. Bayar tunai. 5. Lainnya Total III.

Gangguan HPT (Hama Penyakit Tanbaman) ___________________________________________________________________ d. Pemasaran (harga jual) ___________________________________________________________________ e.95 ___________________________________________________________________ c. Lainnya: ___________________________________________________________________ .

Di tempat pembeli. 2=supplier. PEMASARAN KEDELAI 4.1. Lainnya: _________ 4) Cara pembayaran: 1. Bayar dimuka. Penjualan: a.Bayar tunai. 3.wadah. 2 =Di tempat penjual. Biaya angkutan 3.96 IV. Volume dan nilai penjualan (rataan satu bulan) Uraian 1. Karung.Lainnya: ____________ 2) Lokasi : 1 =Di kebun. OCE kering d.Lainnya 7. 2. 5=Pedagang pengecer. 2. Lainnya Total (a+b+c+d): 2. Retribusi 5.Barang diterima di tempat penjual. TK Bongkar-muat 6. TK. 3 =Di tempat pembeli. 6. 4.dsb. 3=pedagang pasar induk/tradisional. 3. 4 =Lainnya: __________ 3) Cara transaksi: 1. 4. Lainya: __________ . 1) Satuan Jenis pembeli 1) Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi2) transaksi Cara 3) transaksi Cara4) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Ket : Jenis pembeli: 1=pedagang besar.Bayar kemudian.

3. Apakah ada kerjasama antara petani dengan pihak lain termasuk pedagang dalam hal pemasaran hasil : 1. Tidak Bila ya. Pedagang 3. Sebelum melakukan penjualan hasil. Menjual ke Supplier (Supermarket. Ya 2.97 V. INFORMASI PEMASARAN 5. petani dapat memilih kemana saja sesuai keinginan: 1. Bagaimana upaya Bapak agar selalu memperoleh harga jual yang menguntungkan? _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. jelaskan cara kerja sama tersebut: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ .Tidak Jelaskan: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. Menjual ke Pedagang Besar: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ b. Apa kendala petani untuk dapat akses kepada pelaku pemasaran tertentu: a.5. Kelompok tani 4. Menjual langsung Supermarket: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ d Menjual ke pasar pengecer: _________________________________________________________________ _____________________________________________________ 5. Ya 2. Tidak Jika ya.Ya 2. Lainnya: ________ 5.2.1. eksportir) ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Petani lain 2. apakah Bapak memperoleh informasi harga? 1. Apakah dalam penjualan hasil. dari mana sumber informasi tersebut: 1.4.

Kredit Informal .Kios saprotan .Pegadaian .Pedagang hasil . isikan: Sumber modal/ Musim Tanam 1. 2.Bank .98 5.Pelepas uang .Kredit Program 2.Famili Jumlah (Rp) Bunga (%/th) Lama pinjaman (bln) Total pengembalian (Rp) . Ya.Tidak Bila ya.6. Apakah bapak melakukan pinjaman untuk kebutuhan modal usahatani: 1. Kredit Formal .

Supplier 5. Lainnya: ________________________ Nama Pedagang Bentuk Usaha Desa/Lokasi Kecamatan Kabupaten/Kota : _______________________ : _______________________ : _______________________ : _______________________ : CIANJUR – JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . Pedagang Pengecer 6. JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PEDAGANG KEDELAI Jenis Pedagang Pilih yang tepat 1. Pedagang Pengumpul Desa 2. Pedagang Besar 4. Pedagang Pengumpul Luar Desa 3.99 ANALISIS TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. KABUPATEN CIANJUR.

100 I. Kendaraan barang 8. Fasilitas yang dimiliki pedagang: Jenis Fasilitas 1. Mulai kegiatan dagang : Tahun __________ 1. Pendidikan : _________ Tahun : _________ Tahun 1. Alat timbang 5.4 Jenis produk lain yang diperdagangkan selain kedelai: _________________________________________________________________ 1. Gudang simpan 2. Sepeda motor __________________ __________________ __________________ __________________ Jumlah (unit) Total Total Nilai (Rp) .1. Kendaraan roda dua 6. Umur responden 1.3.5. IDENTITAS PEDAGANG 1.2. Kendaraan roda empat 7.

(Rp) 5. TK lainnya (Rp) 7.Volume (Ku) . Bantuan modal _______ ____________________ b. Lainnya: _____________ _______ ____________________ .3. Kelancaran pembayaran _______ ____________________ d. Ada kakitangan di lapangan _______ ____________________ e. Besar Kab/Prop Pasar Induk Lainnya a.Harga (Rp/ku) .Nilai (Rp) b. Lainnya: __________ 2) Termasuk pungutan/retribusi di jalan/di tempat penjualan 2. Karung/wadah.Nilai (Rp) 2.Nilai (Rp) Total Pembelian (a s/d d): .Harga (Rp/ku) .Harga (Rp/ku) .4.Volume (Ku) . dsb.Volume (Ku) . Lainnya . Pdg. Retribusi&lainnya (Rp) 9. Hadiah _______ ____________________ c.Di tempat pembeli. Bagaimana usaha responden untuk membina kelangsungan hubungan kerja dengan petani pemasok bahan baku: Jenis pembinaan Ya/Tidak Penjelasan a. Pengemasan (Rp) 8.101 2. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok pedagang (rataan per tahun) Sumber/pemasok komoditas Pembelian bahan baku Pengumpul Desa Pengumpul luar desa. 2. TK bongkar-muat (Rp) 6. Biaya angkut (Rp)2) 4. 3. OCE kering . Tempat penerimaan barang 1) 3. Biaya lain (Rp) Total biaya (3 s/d9): Ket : 1) Isikan: 1 = Di temapat penjual.

4.Lainnya 7. Di tempat pembeli. Sumber perolehan : Sendiri = _______ %. Biaya angkutan 3. Volume dan sumber perolehan bahan baku rataan per bulan a. TK Bongkar-muat 5. Lainya: __________ . Bayar dimuka.dsb. TK. Pedagang = _______ %. 2 = di rumah petani. 1) Satuan Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi1) transaksi Cara 2) transaksi Cara3) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Rp xxx xxx xxx Lokasi : 1 = di kebun. Retribusi 5. Pembelian: a. 3. Lainnya = _______ %. 2. Lainya: _________ 3) Cara pembayaran: 1. Karung. ASPEK PENGADAAN/PEMBELIAN BAHAN BAKU KOMODITI KEDELAI 2. 4 = di rumah pedagang 2) Cara transaksi: 1. 3.Bayar tunai. 2. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok petani (rataan per bulan) Uraian 1. 3 = di jalan.102 II.2.Total perolehan: ________ Ku/tahun b. Petani: _______ %.1.Bayar kemudian.Barang diterima di tempat penjual. Bentuk OCE b. 2. 4. Lainnya Total (a+b+c+d): 2.wadah.

5. Wadah/Paking xxx xxx c. Biaya penanganan hasil Jenis kegiatan 1.1. Lainnya: _______ .103 III. Tenaga Kerja xxx xxx b. 3. Biaya penanganan hasil (Rp): xxx xxx a. 2. Penyusutan xxx xxx _________________ xxx xxx _________________ xxx xxx Total (4): xxx xxx Ket : 1) Sesuai volume pembelian (rataan per bulan) 3) Perubahan volume karena kegitanan penanganan hasil (sesuai permintaan pasar) 3) Kegiatan pengolahan: 1.Labeling. Paking. BIAYA PENANGANAN HASIL SAMPAI SIAP JUAL 3. 4. Produk Pembelian 1) Kelas OCE Lainnya Volume (Ku) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 2. Hasil penanganan (siap jual) 2) OCE Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 3.Sortasi. Jenis penanganan hasil 3) xxx xxx 4. Grading.

Lainnya ________________ 4) Waktu jual _______ HSP = Hari setelah panen 5) Cara bayar: 1. tenaga kerja. Lainnya: _____________ Keterangan: 1) Kualitas: 1.1.Di rumah petani. 3. 2. PEMASARAN KEDELAI 4.Tunai. Cara pemasaran hasil Jenis Pembeli 1.104 IV. retribusi. 3. Pedagang besar 6.Ijon. dsb. 3. 2= langganan.Di tempat pembeli. 2. Pengumpul luar desa 3.Lainnya_____________ 3) Cara jual: 1. 3. 4.Byar kemudian.Ditimbang.OCE. Kelompok tani/kemitraan 7. 4. 4. 3=Ikatan pinjaman kredit. 4=Hubungan kekeluargaan.Di pasar. 2. 5.Lainnya________________ 6) Biaya penjualan: mencakup ongkos angkut. bongkar muat. 7) Alasan memilih pembeli: 1=Hubungan kemitraan.Pengumpul desa 2. 2.Di sawah.Panjar. 5=Harga beli paling mahal.Lainnya: _________ 2) Tempat penyerahan barang: 1.Tebasan. 6.Lainnya____________________ Bentuk hasil 1) Volume (kw) Tempat penyerahan 2 Cara jual3) Waktu jual 4) (HSP) Cara Bayar5) Biaya penjualan6) Alasan memilih pembeli 7) . karung.Basah.

105 V. PERMASALAHAN PEDAGANG 5. Kecukupan jumlah: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ b.2. Permasalahan dalam pengadaan/pembelian kedelai: a. Kontinyuitas suplai: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Saran Kebijakan responden agar pemasaran kedelai akan lebih baik: _____________________________________________________________ ________________________________________________________ .1. Angkutan/transportasi: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ 5. Kualitas hasil: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ d.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful