ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

Oleh NORA MERYANI A 14105693

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN NORA MERYANI. Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di bawah bimbingan RAHMAT YANUAR. Peranan sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia, sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai perkapita pertahun mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1996-2005, rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.3 juta ton pertahun. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Kecamatan Ciranjang merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Kenaikan harga kedelai impor memberikan dampak yang positif terhadap budidaya kedelai di dalam negeri. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat pendapatan usahatani kedelai, mengkaji saluran tataniaga, struktur pasar dan permasalahan yang ada di setiap pelaku pasar dan menganalisis tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Hasil analisis usahatani dan tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani, sebagai pengambil keputusan. Karakteristik petani mencakup umur, tingkat pendidikan, luas dan status penguasaan lahan, dan kepemilikan alat pertanian serta ternak. Umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun, mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.57 tahun dengan rataan pendidikan 4.3 tahun. Rata-rata luas sawah yang diusahakan sebesar 0.778 hektar per petani dan mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.00 persen). Petani yang memiliki hand sprayer (36.67 persen), biaya sewa hand sprayer Rp 5 000 per hektar, sewa pompa air Rp 20 000 per hektar, dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000 per tiga kuintal kedelai. Petani yang memiliki usaha sampingan hewan ternak sebesar 10 persen. Di Kecamatan Ciranjang, rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1.37 ton per hektar, sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit, pupuk dan pestisida, upah tenaga kerja, sewa alat dan pajak. Biaya usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua

iii

(Rp 3 312 778.73 per hektar). Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Berdasarkan analisis usahatani kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda, total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.84 dan total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.73. R/C rasio yang diperoleh petani yang panen polong tua (1.35) dan petani yang panen polong muda (1.27). Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.27 untuk polong muda. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, ada dua saluran tataniaga yaitu saluran tataniaga kedelai polong muda dan saluran tataniaga kedelai polong tua. Saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai tujuan yang sama, yaitu dari petani kedelai dibawa ke pedagang pengumpul, kemudian kedelai tersebut dibawa ke pedagang pasar induk parung. Di pedagang pasar induk, kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan konsumen akhir. Di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga polong tua yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Struktur yang dihadapi antara petani dan pedagang pengumpul, petani dan pedagang kecamatan, serta antara petani dan pedagang besar adalah persaingan dan oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah persaingan dan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang kecamatan/kabupaten adalah oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi antara pedagang besar (kecamatan dan kabupaten) dan pedagang propinsi, dan antara pedagang besar dan pedagang pengecer mengarah ke pasar oligopoli dan persaingan. Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai, saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.22 persen) dengan volume kedelai 26.67 persen. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.30 per kilogram. Alternatif saluran tataniaga yang dianggap juga efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua dengan volume kedelai 73.33 persen. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masing-masing sebesar Rp 9.35 dan Rp 8.54 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.50 persen dan farmer s share sebesar 75.50 persen.

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. JAWA BARAT Nora Meryani A 14105693 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Manajemen Agribisnis PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . KABUPATEN CIANJUR.

132 321 442 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. MSi NIP. 131 124 019 Tanggal Kelulusan: . : Nora Meryani : A 14105693 Menyetujui Dosen Pembimbing Rahmat Yanuar. SP.Ir Didy Sopandie. Dr. M.Agr NIP. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat.Judul Penelitian Nama Mahasiswa Nomor Pokok : Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.

Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. KABUPATEN CIANJUR. September 2008 Nora Meryani A 14105693 . JAWA BARAT INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

MSi selaku dosen evaluator yang telah memberikan kritik dan masukan. Ewie dan Ucie yang telah memberikan kritik. Bapak Rosidi. Arief Karyadi Uswandi. 8. Are The. Bapak Asep Usman dan Teh Rina dan yang lainnya. MSi selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan. MEc selaku dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi ini. 7. Mini. dukungan dan kasih sayang yang tiada habisnya yang diberikan kepada penulis selama ini. Ria. M’Andi R. sehingga skripsi ini dapat selesai. Ungky. 4. 2. K’Dayat. saran dan persahabatan yang indah. 3. RT Siregar. 5. love you all. atas bantuannya dalam memperoleh data primer dan data sekunder. dan D’Anda yang sudah memberikan do’a dan dorongan. 6. Bapak Usep. SP selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi. Lala. Ir Yayah K Wagiono. Mirror. Bapak Asep. Bapak Dadi. Papa dan Mama atas segala do’a. Fida. SP. Y’Merry. Y’Ayon. . Bapak Acep.UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini: 1. Tanti Novianty. Rahmat Yanuar. SP. dorongan dan masukan-masukan yang diberikan selama penelitian dan penulisan.

10. Dian. Wildan dan teman seperjuangan lainnya atas persahabatan dan dukungan kepada penulis selama ini. Edy.viii 9. Bogor. Ola. Santi. amien. Arfan. Aputz. Zibril. Sandra. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. September 2008 Nora Meryani . Mira. Penulis mendo’akan semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya dan senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Fajar. Indra.

..................... Tahun 2006 ......... 16... Luas Panen................... 17........................ 6.............................. 4.. 10............................................ Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten......................... Propinsi Jawa Barat................ Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 .... Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar ................. Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli .......... 5.................................. Pestisida.... Luas Tanam...... Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah ...... Luas Tanam........ Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah ...... 2. 8............. Luas Panen........ Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 ......... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak........... Luas Tanam.......... 11................................................................................................................... Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan .. Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu ......... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian 15..... 13. Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai..... 9........... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006...... Biaya Pupuk...... 12.. Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai.... 3........... 7......... Luas Panen....ix DAFTAR TABEL No 1....... 18.............. Halaman 2 3 4 4 5 20 26 36 42 47 48 48 49 49 50 53 55 61 ..................... Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai ............... Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007............ 14.... Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur ..

.................................. Tahun 2008.... Tiga...... Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.......x 19.............. 22...................... 23........... Dua... Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang.... Tahun 2008 ........................... 24.......... 21....................... Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang .. Total Marjin... Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam........ 20........... Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga.. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang . Total Biaya.... Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang..................................... 72 76 78 79 80 82 .. Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga .....

........................................... Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai ...................... Kuisioner Analisis Usahatani Kedelai ............................ Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua.......... Halaman 27 33 58 60 DAFTAR LAMPIRAN No 1..........xi DAFTAR GAMBAR No 1.................. 2...................................... Kuisioner Analisis Tataniaga Kedelai ......... 3.................................. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda......... Margin Tataniaga ...................................................... Halaman 89 96 .............................................. 2................. 4.........

Sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. http://www. Subsektor tanaman pangan mempunyai peranan sekitar 49.2 Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. ubi-ubian dan kacangkacangan (kedelai. jagung.bi. 2008.4 persen terhadap pertanian secara keseluruhan.1 Sektor pertanian yang mempunyai peranan yang strategis dan penting adalah sektor tanaman pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengan.2 persen maupun dalam perekonomian.balitbangjateng. sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. http://www. serelia. kacang tunggak dan kacang koro). Tanaman pangan merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan makro manusia terhadap karbohidrat. 7 Mei 2008. 17 Mei 2008. lemak. Produk Domestik Bruto. mengandung zat anti oksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Peranan tersebut terlihat dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 41. kacang tanah.1 I PENDAHULUAN 1. kacang hijau.go. 1 2 Bank Indonesia.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan regional.id.go. seperti yang tercermin pada peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDB sekitar 13. Mekanisme Pengadaan Pangan dan Pupuk di Propinsi Jawa Tengah.id.8 persen pada tahun 2007. 2007. . Tanaman pangan meliputi padi. dan protein yang berasal dari bahan pangan nabati. Kedelai merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya.

kecap. http://www. India.id.0 8. oncom. 31 Januari 2008. tahu.7 Konsumsi Total** (Ton) 2 015 000 2 122 000 2 179 000 2 234 000 Pertumbuhan(%) 9. 2008 Setiap tahun rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2. Tetapi nilai ekspor tumbuh tinggi sebesar delapan persen per tahun.2 8. 2008 **Badan Litbang Pertanian. Kedelai. Tabel 1 Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Produksi* (ton) 723 480 808 350 746 610 592 381 Pertumbuhan (%) 11. sehingga pada tahun 2007 mencapai 2 000 000 ton.litbang. 2002. keripik).7 -7. Negara yang menjadi tujuan ekspor kedelai terbesar adalah Australia. selanjutnya konsumsi meningkat rata-rata 8. Saudi Arabia. Hal ini mengindikasikan peningkatan ketergantungan terhadap kedelai impor. . Pada tahun 2007 penurunan produksi sampai 20. susu kedelai.go. tauco. minyak. sedangkan volume ekspor tumbuh rendah yaitu 1. dan bahan baku pakan ternak.6 -20. 3 Departemen Pertanian.7 persen per tahun.2 persen.4 Sumber : *BPS.2 persen per tahun. Hal ini menunjukkan kedelai yang diekspor berupa produk olahan.2 Konsumsi penduduk Indonesia terhadap kedelai berupa hasil olahan (seperti tempe. mentega.deptan. Netherland dan Singapore. Jepang.7 persen dari tahun sebelumnya.4 dan 7. sehingga mengalami peningkatan nilai tambah tinggi. Sementara kondisi produksi kedelai nasional berfluktuasi (Tabel 1).3 Konsumsi kedelai per tahun cenderung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.3 juta ton pada periode tahun 1996-2005 (Tabel 2). yogurt. Deptan.9 persen per tahun. Volume dan nilai impor kedelai masingmasing tumbuh sebesar 8. Pada tahun 2005 meningkat 9.

id. dan (d) Penguatan kelembagaan dan dukungan pembiayaan. (b) Perluasan areal tanam. .deptan. walaupun produksi yang dihasilkan cenderung mengalami penurunan (Tabel 3). 1 September 2008. Sukabumi. 2006). Indramayu. yaitu (a) Peningkatan produktivitas.3 Tabel 2 Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Volume (ton) 1 705 583 1 532 112 1 033 802 2 227 321 2 568 565 2 728 358 2 716 641 2 773 668 2 881 735 2 982 986 3 121 334 Impor Nilai (000 USD) 530 582 518 860 273 776 475 158 558 737 611 140 591 121 706 753 967 957 801 779 838 390 Ekspor Volume (ton) Nilai (000 USD) 7 596 12 013 21 987 13 812 13 474 17 109 8 279 8 789 3 606 4 490 5 808 6 569 6 018 6 211 6 080 8 406 Sumber : Deptan. Team TP. 4 5 Departemen Pertanian. Kuningan dan Majalengka (Dinas Pertanian Jawa Barat.go. Ekspor Kedelai Pernegara Tujuan. 4 Februari 2008. Daerah yang berpotensi untuk pengembangan kedelai di Jawa Barat adalah Garut. Ciamis. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi non farm atau petani yang beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. 2008. 20074 Program Peningkatan Kedelai Nasional Tahun 2008 untuk mendorong peningkatan produksi kedelai nasional dilakukan melalui beberapa strategi. http://database. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. (c) Pengamanan produksi. 2008. 5 Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. http://ditjentan. Sumedang.id/bdspweb.go. Cianjur.deptan. seperti jagung dan sayuran. Tasikmalaya.

45 14. Kabupaten Cianjur memiliki prospek pengembangan kedelai. Luas Panen. Produksi kedelai di Kabupaten Cianjur cenderung mengalami peningkatan. Propinsi Jawa Barat. Luas Panen.14 2004 6 926 6 617 10 125 1.4 Tabel 3 Luas Tanam.10 2003 1 434 1 563 1 020 1.09 2002 5 844 5 812 6 788 1. tahu dan tempe).25 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.19 11.34 12.93 14. harga gabah dan harga beras di pasar mengalami peningkatan akibatnya banyak petani yang melakukan pola tanam padi-padi-padi. produksi dan produktivitas kedelai di Kabupaten Cianjur periode tahun 2001 – 2006 cenderung berfluktuatif (Tabel 4).14 2006 4 518 4 460 6 086 1. 2007 (diolah) .95 13. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten.60 13. Selain itu. baik sebagai produk primer maupun sebagai produk sekunder (olahan) yang telah lama dikembangkan di Kabupaten Cianjur (seperti tauco. Tabel 4 Luas Tanam. Hal ini terjadi karena pada tahun 2003.25 2005 4 591 5 016 6 710 1. Luas tanam. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No 1 2 3 4 Keterangan Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2001 6 451 6 672 7 952 1. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Garut Cianjur Ciamis Sukabumi Indramayu Tasikmalaya Sumedang Kuningan Majalengka Luas Tanam (Ha) 5 979 4 499 2 750 1 419 1 156 1 128 937 837 657 Luas Panen (Ha) 5 891 3 034 2 395 927 1 095 895 903 761 614 Produksi (Ton) 7 925 4 431 3 336 1 335 1 682 1 159 1 191 863 786 Produktivitas (Kw/Ha) 13.80 Sumber: Dinas Pertanian Jawa Barat.40 15.36 12. luas panen. tetapi pada tahun 2003 mengalami penurunan. 2006 (diolah) Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut.

372 1. Penurunan ini disebabkan pada periode tanam kedelai tahun 2007 terjadi kekeringan (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.157 1.50 Luas Panen (Ha) 1 237.00 297.17 349.97 persen dibanding tahun 2006.33 1 145.33 178.32 ton per hektar. Sukaluyu dan Bojong Picung.83 1 482.33 261.23 persen dari tahun 2006. 2007 (diolah) .00 276. sehingga terjadi penurunan luas areal tanam sebesar 1.381 1.50 194.173 1. Sentra produksi di wilayah selatan adalah Kecamatan Sindang Barang.83 995.338 1. sedangkan produktivitas hasil tahun 2007 sebesar 1. Sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur terdapat di beberapa kecamatan di wilayah utara dan wilayah selatan (Tabel 5). Kecamatan di wilayah utara.27 persen. Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No Kecamatan Luas Tanam (Ha) 1 164. Demikian pula luas panen kedelai tahun 2007 adalah 1 506 ha.50 184.00 201.50 119. sehingga ada penurunan luas panen sebesar 66. namun pada tahun 2007 Kecamatan Sukaluyu produksi kedelai mengalami penurunan.17 218.17 881.67 101. Cidaun dan Leles. Produksi kedelai tahun 2007 sebesar 1992 ton sehingga terjadi penurunan sebesar 67.00 Produksi (Ton) 1 736.60 1 072.83 202.176 1.50 Produktivitas (Ton/Ha) 1.83 103. Tabel 5 Luas Tanam. Luas Panen.141 1.83 224.67 1 272. sedangkan kontribusi dari wilayah tengah terutama Kecamatan Tanggeung dan Kadupandak tidak terlalu besar (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. sentra produksi kedelai periode tahun 2001-2006 adalah Kecamatan Ciranjang. 2007).67 165.5 Luas tanam kedelai pada tahun 2007 adalah 4 429 ha. 2007).180 1 2 3 4 5 6 7 8 Ciranjang Sukaluyu Bojong Picung Tanggeung Kadupandak Sindang Barang Cidaun Leles Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.

yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Bagi konsumen akhir dampaknya adalah semakin mahalnya harga produl-produk olahan berbahan baku kedelai. sedangkan bagi petani hal ini menjadi pendorong untuk kembali menanam kedelai. (b) peraturan yang memperbolehkan hal tersebut. sehingga konsumen sulit . tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai melakukan pengurangan jumlah produksi dan ukuran produknya karena tingginya biaya produksi. Kedelai impor dapat membanjiri pasar kedelai dalam negeri disebabkan hal-hal sebagai berikut: (a) adanya pasar yang besar sampai ke tingkat desa. Awal Januari 2007. di dalam negeri harga kedelai eceran mencapai Rp 3 450/Kg dan terus naik mencapai Rp 7 500/Kg. 1.6 Budidaya kedelai di Kabupaten Cianjur merupakan tanaman cash crop yang umumnya diusahakan pada lahan sawah irigasi dan sebagian kecil diusahakan pada sawah tadah hujan dan lahan kering. (c) adanya pihak atau institusi atau organisasi yang menangani dengan baik karena mendapat insentif yang besar. dan (d) kedelai dari petani sampai ke pasar atau konsumen belum tertangani dengan baik tetapi berjalan sendiri secara alami. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk.2 Perumusan Masalah Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Dampaknya produsen tahu.

31 Januari 2008. http://www. 4 Februari 2008.litbang.go.5 per kilogram.id.7 mencarinya dan harganya menjadi tinggi. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. iklim yang cocok. 2004).6 Hal tersebut yang menyebabkan tataniaga kedelai di tingkat petani di Indonesia belum tertangani dengan baik. Tahun 1992. keberlanjutan pasokan kedelai impor lebih terjamin dibanding kedelai nasional. Kondisi ini menyebabkan kedelai dalam negeri menjadi tertekan dan terdesak oleh kedelai impor.5 per kilogram dan kedelai dalam negeri menjadi Rp 2 844 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 1 016. teknologi yang telah dihasilkan. Harga kedelai impor jauh lebih murah dari produksi dalam negeri karena tidak ada tarif impor untuk kedelai. Pada tahun 2006 harga kedelai dalam negeri mencapai Rp 4 977.deptan. .go. Faktor utama turunnya produksi kedelai nasional adalah tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas.85 per kilogram. serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. harga kedelai impor sebesar Rp 544 per kilogram sedangkan harga kedelai dalam negeri lebih mahal dari kedelai impor yaitu sebesar Rp 847 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 303 per kilogram. Kedelai.id. Berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa harga kedelai lokal dari tahun ke tahun lebih mahal dari kedelai impor. Departemen Pertanian.deptan. dan belum diaturnya tataniaga kedelai sehingga petani dalam negeri sulit bersaing dengan petani luar negeri (Departemen Pertanian. Perbedaaan harga tersebut terus meningkat. http://ditjentan.7 Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik. 6 7 Team TP. 2002. 2008. pada tahun 2000 harga kedelai impor naik menjadi Rp 1 827.

sejak tahun 1993 produksi dalam negeri terus mengalami penurunan terlihat dari penurunan luas areal tanam. Namun pada tahun 2007. Pada umumnya petani langsung menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul atau . Di Kabupaten Cianjur. pasar komoditas kedelai masih terbuka lebar. Sukaluyu dan Bojong Picung. terlihat dari penurunan luas tanam menjadi 10 hektar dari 995. Di Kabupaten Cianjur terdapat beberapa daerah yang merupakan sentra produksi kedelai. jagung dan sayursayuran. Hal ini disebabkan oleh petani yang semula menanam kedelai beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. antara lain Ciranjang. Selain itu.8 juta ton. kondisi pada saat itu juga didukung oleh analisa usahatani kedelai yang cukup menguntungkan. dilihat dari banyaknya konsumsi kedelai di Indonesia. Akibatnya petani dalam negeri sulit bersaing dengan kedelai impor. Hal ini terlihat dari perkembangan luas areal tanam kedelai di sebagian daerah. Namun.8 Selain itu. seperti padi. petani dalam memasarkan produknya mempunyai kebebasan untuk memilih saluran tataniaga yang dapat memberikan keuntungan dari hasil usahataninya. Perkembangan produksi kedelai dalam negeri sampai tahun 1992 sangat baik yaitu mencapai 1. terjadi penurunan luas tanam di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sukaluyu mengalami penurunan produksi sangat tajam. tetapi harga jual yang diterima petani masih rendah. Hal ini disebabkan oleh penetapan kebijakan harga sejak tahun 1992 ditiadakan. kebijakan tataniaga kedelai yang bebas dilakukan oleh pengusaha importir dan penetapan tarif impor tahun 1998 jauh di bawah bound tariff menyebabkan masuknya kedelai impor dengan harga murah.17 hektar pada tahun 2006.

Lembaga tataniaga cenderung menuntut biaya tataniaga dan keuntungan besar dari jasa tataniaga yang dilakukan. .3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas. http://www. Lemahnya posisi tawar petani menyebabkan petani tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan harga berdasarkan biaya produksi yang telah dikeluarkan. Analisis tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana saluran tataniaga dan struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang.9 tengkulak secara perorangan.co. Produksi Kedelai Mesti Ditingkatkan. 2008. untuk mengetahui tingkat pendapatan petani dan posisi tawar petani pada tataniaga kedelai di Kabupaten Cianjur maka perlu dilakukan penelitian mengenai usahatani dan tataniaga kedelai. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan? 2. 15 Januari 2008. Bagaimana tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. akibatnya tingkat pendapatan petani menjadi rendah. maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1.id. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan. Hal ini karena petani membutuhkan uang saat panen sehingga harga jual sangat ditentukan oleh tengkulak.antara. walaupun terjadi tawar-menawar antara petani dan pedagang pengumpul keputusan akhirnya tetap ditentukan oleh pedagang pengumpul. 8 Antara. masih sangat terbatas petani menjual secara berkelompok.8 Oleh sebab itu. Kabupaten Cianjur? 1.

Mengkaji saluran tataniaga.10 2. Kabupaten Cianjur. Jawa Barat ini dikhususkan membahas mengenai komoditi kedelai yang dipanen polong tua. 1. Pembahasan tataniaga untuk analisis kualitatif dilakukan pada semua saluran tataniaga yang terlibat. penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam upaya peningkatan hasil dan perbaikan kinerja tataniaga kedelai. Kabupaten Cianjur.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian mengenai tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Dampaknya dapat meningkatkan pendapatan petani kedelai di lokasi penelitian. . sedangkan untuk analisis data kuantitatif hanya menggunakan data dari saluran tataniaga dengan jalur tataniaga dari Kecamatan Ciranjang ke Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. diantaranya Dinas Pertanian.5 Ruang Lingkup Penelitian Batasan dari penelitian yang berjudul Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. 1.

11

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keragaan Kedelai Kedelai (Glicine max) adalah tanaman semusim yang termasuk family Leguminosae diduga berasal dari Cina dan dikembangkan ke berbagai negara seperti Amerika, Amerika Latin dan Asia. Kedelai dapat dibudidayakan di daerah subtropis dan tropis dengan teknis budidaya yang sederhana. Di Indonesia kedelai pertama kali ditanam di pulau Jawa dan Bali pada tahun 1750. Daerah sentra tanaman kedelai mula-mula terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali, kemudian meluas hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Kedelai mempunyai kegunaan yang luas dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akarakarnya dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium sp., sehingga unsur Nitrogen bagi tanaman tersedia dalam tanah. Kedelai di Indonesia bernilai tinggi karena tiga alasan: (1) produksinya di dalam negeri dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, (2) merupakan bahan pangan berkadar protein yang dapat memperbaiki gizi masyarakat, dan (3) merupakan tanaman komersil bagi petani lahan kering. Di Indonesia kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl). Varietas yang ditanam awalnya berasal dari luar negeri (introduksi), diantaranya dari Jepang, Taiwan, Kolumbia, Amerika Serikat dan Filipina. Di sentra pertanaman kedelai umumnya kondisi iklim yang cocok adalah suhu antara 25–27 0C.

12

Tanaman kedelai mempunyai daya adaptasi yang luas terhadap berbagai jenis tanah. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian, maka tanaman kedelai cocok ditanam pada jenis tanah Aluvial, Regosol, Grumosol, Latosol dan Andosol. Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lahan pertanaman kedelai adalah tataair (drainase) dan tataudara (aerase) tanah yang baik, bebas dari kandungan atau wabah Nematoda, dan keasaman (pH) tanah (Rukmana dan Yuyun, 2006).

2.2 Kebijakan Pengembangan Kedelai Peranan pemerintah sebagai fasilitator, dinamisator dan penciptaan lingkungan yang kondusif dalam pengembangan suatu komoditas secara teknis, sosial dan ekonomis adalah sangat penting dan strategis. Cakupan kebijaksanaan dalam program aksi pengembangan adalah sangat kompleks yang meliputi pengadaan dan distribusi sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan kredit usaha tani), penyuluhan dan tataniaga hasil melalui sistem kelembagaan dan pembinaan dari tigkat pusat sampai ke tingkat desa. Kebijakan dalam bidang penelitian, peningkatan produksi, dan perdagangan (harga) adalah saling berhubungan satu dengan yang lain. Proteksi harga akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani bila didukung oleh potensi teknologi dan sistem tataniaga yang efisien. Kebijakan diversifikasi konsumsi melalui penetapan pola pangan harapan (PPH) dapat dikatakan sebagai acuan penting dalam penetapan target peningkatan produksi setiap komoditas pangan termasuk kedelai. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani (Rachman et al. 1996).

13

Kebijakan Proteksi dan Harga Dasar. Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah selama ini dengan sasaran utama mendorong adopsi teknologi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani adalah kebijakan proteksi harga dan penetapan harga dasar. Kebijakan proteksi bertujuan untuk mengendalikan harga kedelai dalam negeri agar tetap lebih tinggi dan terisolasi dari fluktuasi harga kedelai di pasar dunia. Hal ini dilakukan melalui pengaturan volume impor dan penetapan harga kedelai ekspor-impor serta penyalurannya kepada industri pengolah di dalam negeri. Kebijakan proteksi harga ini cukup berhasil mencapai sasarannya dan berdampak positif dalam mendorong produksi kedelai domestik. Pada periode 1985 – 1994 produsen kedelai mendapatkan rata-rata proteksi harga sebesar 136.56 persen dengan laju peningkatan proteksi 4.80 persen pertahun (Rachman, et al. 1996). Di satu sisi penetapan harga dasar secara umum belum mencapai sasaran yang diharapkan. Pada periode 1984 – 1991 harga kedelai di tingkat petani sekitar 76.27 persen lebih tinggi dari penetapan harga dasar. Hal ini menjelaskan bahwa penetapan harga dasar maupun harga pembelian pemerintah untuk kedelai adalah sangat rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku, sehingga kebijakan harga dasar menjadi tidak efektif. Kemudian sejak tahun 1992,

pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar lagi. Perkembangan produksi kedelai tahun 1992 merupakan puncak produksi kedelai yaitu mencapai 1.8 juta ton. Setelah pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar, maka tahun 1993 produksi kedelai terus menurun sampai tahun 2003 menjadi 671 600 ton. Hal ini disebabkan semangat petani untuk membudidayakan kedelai turun sebagai akibat dari masuknya kedelai impor

4 Februari 2008 .3 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai tanaman kedelai telah dilakukan oleh Nurmanaf (1987). Saptana (1993). Upaya pemerintah memenuhi kebutuhan bahan baku industri merupakan awal munculnya kebijakan impor kedelai di Indonesia. Puspodewi (2004). Tahun 2007 produksi turun kembali 20 persen dari tahun 2006 menjadi 608 000 ton. 808 353 ton (2005) dan 746 611 (2006). 1996). Rusastra. http://ditjentan.9 Kebijakan Tarif dan Impor Kedelai. et al. untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri maka Pemerintah menurunkan tarif impor sampai 0 persen. (1992). Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. 2. Pada dasawarsa 1980-an perbandingan antara impor dan produksi kedelai dalam negeri mencapai rata-rata 45 persen pertahun yang merupakan angka tertinggi dibanding dengan dasawarsa 1970-an dan 1990-an. Namun dengan pertimbangan antara lain daya beli masyarakat Indonesia. 2008. Elizabeth (2007) dan Nuryanti dan Kustiari (2007). Namun dengan kenaikan harga kedelai di pasar dunia akhir tahun 2007 mengakibatkan harga kedelai impor tinggi. namun sangat lambat yaitu 723 483 ton (2004).id. termasuk kedelai (Rachman. Tahun 2004 sampai 2006 produksi mengalami peningkatan.go. et al.14 dengan harga lebih rendah dari kedelai dalam negeri. 9 Team TP. maka tahun 1998 Pemerintah Indonesia menerapkan tarif impor jauh di bawah bound tariff (0 – 5 persen). Sesuai aturan WTO dimana setiap negara diperkenankan menerapkan applied tariff maksimal sama dengan bound tariff dalam schedule yang didaftarkan.deptan.

7. Produksi kedelai di Jawa Timur setiap tahun mengalami peningkatan.9 persen per tahun.8. meliputi jalur tataniaga. Tingkat pendapatan usahatani kedelai dengan mempertimbangkan basis agroekosistem pengembangan tahun 1990. baik biaya angkutan dari satuan pemukiman transmigrasi ke pasar. hal ini terlihat dari laju pertumbuhan produksi. Nurmanaf (1987) menyatakan bahwa tataniaga kedelai di satuan pemukiman transmigrasi Jambi belum efisien. Hal ini terlihat dari tingginya margin tataniaga di tiga satuan pemukiman transmigrasi.1 dan 5. Dilihat dari efisiensi pemanfaatan modal tidak terdapat .15 Penelitian terhadap jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi yang dilakukan Nurmanaf (1987) bertujuan menganalisis sistem tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi. margin tataniaga dan bagian harga yang diterima petani.5 persen. 69. Tujuan penelitian ini mengungkap keragaan dan permasalahan aspek produksi. rantai tataniaga dan tingkat harga. yaitu Singkut III sebesar Rp 275/kg. 3. areal panen dan produktivitas kedelai dari tahun 1984-1990 masingmasing sebesar 2. Tingginya margin tataniaga kedelai terutama disebabkan tingginya biaya angkutan hasil. Harga yang diterima petani di tiga satuan pemukiman masing-masing sebesar 60. Pamenang I sebesar Rp 200/kg dan Kuamang Kuning sebesar Rp 225/kg.2 dan 62. et al. (1992) melakukan penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur. Rusastra. biaya angkut. usahatani dan tataniaga kedelai di Jawa Timur sebagai daerah sentra produksi secara nasional. antar pasar maupun biaya angkut antar daerah. menunjukkan usahatani kedelai di lahan sawah lebih menguntungkan dibandingkan di lahan kering (Rp 366 900 vs Rp 298 400 per hektar).

16 perbedaan yang berarti.6 persen. Penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) dilakukan oleh Saptana (1993). (2) Peningkatan sistem pembinaan dikaitkan dengan sistem pengadaan dan penyaluran saprodi. R/C kedelai di lahan sawah 1. Hasil penelitian yang dilakukan Rusastra.43 persen (1991). keragaan dan permasalahan aspek produksi dan tataniaga kedelai di Wonogiri. Bertujuan untuk mengungkap seberapa jauh dampak penerapan teknologi baru terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani. Permasalahan dalam tataniaga adalah rendahnya kualitas kedelai di tingkat pedagang dan konsumen. Beberapa indikator makro tataniaga seperti pangsa harga yang diterima petani dan kestabilan harga bulanan di tingkat produsen dan konsumen menunjukkan mantapnya sistem tataniaga kedelai di Jawa Timur. (3) Masalah birokrasi dan keterlambatan penyediaan dana.43. Hal ini terlihat dari pangsa harga petani mencapai 89. et al menunjukkan bahwa hasil usahatani kedelai dengan pola kerjasama dengan pihak swasta lebih tinggi yaitu 17.6 persen (1990) dan 174. serta (4) Keterbatasan tenaga lapang. Permasalahan pada sistem kerjasama yang perlu diperhatikan adalah (1) Penyampaian informasi yang sempurna kepada petani. Dampak penerapan teknologi baru telah mampu meningkatkan pendapatan sebesar 76. penerapan teknologi baru juga bisa diterima dari segi efisiensi pemanfaatan modal dengan .4 dan di lahan kering sedikit lebih baik yaitu 1.9 persen dibandingkan dengan non kerjasama. Selain itu.6 persen dibandingkan sebelum kerjasama dan 15.4 persen dengan margin tataniaga 10.

Dampak kebijakan input dan output terhadap petani produsen kedelai sangat intensif.4 persen.38 untuk pola rekomendasi serta 1.88.80 (1990). Jawa Tengah (kasus desa Bade) dengan analisisn PAM.25 untuk pola petani (1991). Pengusahaan kedelai di desa Bade menguntungkan dan efisien secara finansial terlihat dari keuntungan sebesar Rp 361. Efisiensi tataniaga kedelai di Wonogiri. Margin tataniaga yang relatif rendah ini dikarenakan fungsi tataniaga yang dilakukan sangat sederhana. permasalahan utama tataniaga adalah kualitas kedelai. .6 persen dengan margin tataniaga 10. Puspodewi (2004) meneliti analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. sehingga pengusahaan kedelai layak untuk dikembangkan.04 per kilogram dan nilai PCR kurang dari satu. Menurut Saptana. yaitu pengumpulan. pengangkutan dan biaya penyusutan. karena nilai tambah keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi dari seharusnya.85 sedangkan untuk pola petani 1. dan 1. Nilai DRC yang lebih besar dari nilai PCR terjadi karena adanya intervensi pemerintah. Dilihat dari keuntungan privat dan sosial yang diperoleh maka Desa Bade Kabupaten Boyolali mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif. Selain itu. Jawa Tengah terlihat dari pangsa harga petani sebesar 89.17 nilai R/C ratio untuk pola rekomendasi 1. masalah kualitas ini menjadi lebih serius karena ada faktor kesengajaan dari pedagang pengumpul dan PB kecamatan yang melakukan pencampuran tanah yang diwarnai mirip kedelai. secara ekonomi juga menguntungkan sebesar Rp 281.66 per kilogram dan nilai DRC 0.

Analisa dalam penelitian ini dilakukan pada tingkat usahatani (mikro) dan makro. konsumen dan penerimaan pemerintah. Berdasarkan asumsi harga pokok produksi Rp 3 359/kg.3 persen (ad valorem) atau Rp 625. tingkat tarif optimal dengan tingkat keuntungan usahatani 25 persen. MFN) harus dinaikkan menjadi 22. untuk memperoleh keuntungan usahatani 25 persen tarif bea masuk yang diterapkan (Most Favoured Nation. Satu-satunya solusi untuk memberi insentif produksi kedelai domestik adalah jaminan harga jual kedelai dengan tingkat keuntungan pasti. Berdasarkan perhitungan besaran keuntungan usahatani optimal 25 persen. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usahatani kedelai pada tingkat tarif saat ini. permintaan. masih ada peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan menjamin keuntungan usahatani 25 persen dengan menetapkan tarif impor baru . tarif bea masuk kedelai saat ini 5 persen. petani kedelai nasional harus mencapai harga jual Rp 4 479/kg. produksi. Analisa mikro dengan menggunakan data I-O diturunkan dari data struktur ongkos rata-rata Indonesia 2006. karena harga kedelai domestik menjadi tidak dapat bersaing dengan kedelai impor. Analisa tingkat makro menggunakan “partial welfare analysis” untuk memahami dampak penerapan tarif optimal terhadap harga komoditas di pasar domestik. penawaran dan impor. Tarif yang diikat untuk kedelai adalah 27 persen. serta dampaknya terhadap kesejahteraaan produsen.18 Penelitian Nuryanti dan Kustiari (2007) berjudul Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal. Kondisi ini sangat sulit. dan dampak keseimbangan pasar domestik atas kenaikan tarif impor kedelai optimal.5/kg (specific tariff). Artinya.

(2) Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan. Elizabeth (2007) menyatakan bahwa beberapa kelembagaan pendukung keberhasilan agribisnis kedelai. lembaga tenaga kerja. kelembagaan penyedia input. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan perspektif penguatan dan pemberdayaan kelembagaan yang terkait dengan petani di perdesaan dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis kedelai. yang tercermin pada masih rendah interaksi antar kelembagaan. meliputi: (1) Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifitas lahan. perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan. Penelitian tentang Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai oleh Elizabeth (2007). gizi dan kesehatan. Namun tidak semua sistem dan saluran tataniaga komoditas pangan di pasar domestik bersaing sempurna. kecilnya akses terhadap kelembagaan modern. dan (3) Program memperkuat prasarana kelembagaan dan ketrampilan mengelola kebutuhan perdesaan. kelembagaan output.3 persen. Lemahnya kinerja ekonomi perdesaan terutama disebabkan rendahnya kapasitas kelembagaannya. Fluktuasi harga produk pangan dan sarana produksi usahatani di pasar global akan ditransmisikan ke semua tingkat harga. seperti: kelompok tani. dan kelembagaan permodalan. termasuk produsen lokal. .4/kg) masih lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi kedelai lokal (Rp 3 359/kg). dan melemahnya kelembagaan lokal karena tekanan dari luar.19 sebesar 22. Harga kedelai impor saat ini (Rp 2 806. dan sebagainya).

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan tingkat pendapatan usahatani lebih menguntungkan bila diusahakan di lahan sawah. Saptana Puspodewi Tahun 1987 1992 1993 2004 Judul Penelitian Jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. Permasalahan di tataniaga kedelai meliputi kualitas kedelai.20 Pengembangan kelembagaan untuk menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA (marginal sustainability yield) dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan. Pencapaian keberhasilan agribisnis kedelai diperlukan suatu kelembagaan pendukung dari tingkat desa sampai di luar desa. pola kerjasama dengan pihak swasta. Kabupaten Cianjur. Tabel 6 Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu Nama Nurmanaf Rusastra. B/C rasio . Jawa Tengah (kasus desa Bade) Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. margin tataniaga kedelai yang tinggi disebabkan biaya angkut. dan adanya penerapan teknologi baru. dengan tarif bea masuk kedelai 5 persen harga kedelai domestik masih lebih tinggi dari harga kedelai impor. merupakan bagian penting pembangunan pertanian dan perdesaan. Tabel 6 menginformasikan perbedaaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. serta intervensi dari pemerintah. farmer s share. et al. Jawa Barat Metode Marjin tataniaga Farmer s Share Efisiensi usahatani Marjin tataniaga R/C rasio Marjin tataniaga PAM Elizabeth 2007 Nuryanti Kustiari Meryani dan 2007 2008 Mikro : I – O Makro : Partial Welfare Analysis Pendapatan usahatani Marjin tataniaga.

pupuk. Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani) dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. 3.21 III KERANGKA PEMIKIRAN 3. Struktur Biaya Usahatani.1 Usahatani Rahim dan Diah (2007) menyatakan bahwa usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki sebaik-baiknya. seperti hasil panen kedelai yang dikonsumsi dan digunakan untuk bibit. teknologi.1. benih dan pestisida) dengan efektif. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa penerimaan usahatani adalah ukuran hasil total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani. modal. efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatannya meningkat.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3. sedangkan pendapatan kotor tidak tunai merupakan pendapatan yang bukan dalam bentuk uang. tenaga kerja.2 Pendapatan Usahatani Struktur Penerimaan Usahatani.1. Biaya tunai merupakan biaya . dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output). Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor tidak tunai. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani kedelai. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan.

pajak. Contohnya biaya untuk sarana produksi. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua yaitu: (a) Biaya tetap (fixed cost) dan (b) Biaya tidak tetap (variable cost). Biaya ini digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika sewa lahan dan nilai tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan. Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang digunakan. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai. penyusutan alat-alat petanian dan biaya imbangan sewa lahan. Dapat disimpulkan biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang akan dicapai. Artinya besarnya biaya tetap tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang diperoleh. tetapi diperhitungkan dalah perhitungan usaha tani.22 yang dikeluarkan dalam bentuk uang oleh petani sendiri. dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dibebankan kepada usahatani untuk penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. pupuk. alat pertanian dan iuran irigasi. Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya. Biaya tidak tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Biaya tetap antara lain sewa tanah. Pendapatan Usahatani. dan sebagainya) perlu ditambah. Untuk menilai . Jika menginginkan produksi yang tinggi maka faktor-faktor produksi (tenaga kerja. untuk mengukur imbalan yang diperoleh petani akibat penggunaan faktor-faktor produksi.

23 penampilan usahatani kecil adalah dengan penghasilan bersih usahatani. serta keuntungan bagi produsen. Apabila diperoleh nilai lebih dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan efisien. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa fungsi dari tataniaga yaitu: (1) pembelian. mendefinisikan tataniaga sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang dibutuhkan melalui pertukaran dengan pihak lain. (6) standarisasi. dan menegosiasikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen. Aktivitas pasar dan tataniaga diklasifikasikan menurut waktu. (8) pengambilan risiko. Ukuran ini diperoleh dari hasil pengurangan antara pendapatan bersih dengan bunga yang dibayarkan kepada modal pinjaman. Boyd. jarak dan bentuk.3 Tataniaga Tataniaga merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. Analisis efisiensi R/C ratio atau rasio penerimaan atas biaya dihitung dengan cara membandingkan penerimaan total dengan biaya total. Walker and Larreche (2000). 3. Secara keseluruhan tataniaga merupakan rangkaian kegiatan mengalirkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. biaya yang diperhitungkan dan penyusutan. mengkomunikasikan. tetapi bila diperoleh nilai kurang dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan belum efisien. R/C Ratio . (4) transportasi. (2) penjualan.1. (5) pengolahan. . (3) penyimpanan. Tujuan dari tataniaga adalah mengidentifikasi. (7) keuangan. dan (9) pengetahuan pasar.

1. Ada tiga jenis saluran tataniaga yang digunakan meliputi: (1) saluran komunikasi yang digunakan untuk memberi dan menerima informasi dari konsumen sasaran. 3. (2) Ketahanan produk. Saluran ini mencakup pergudangan. Kotler (2005) menyatakan bahwa saluran tataniaga didefinisikan sebagai sarana untuk mencapai pasar sasaran.24 Hanafiah dan Saefuddin (1983) menyatakan bahwa tataniaga adalah kegiatan yang berkaitan dengan penciptaan atau penambahan kegunaan dari barang dan jasa maka tataniaga termasuk tindakan atau usaha yang produktif. Panjang pendeknya saluran tataniaga dipengaruhi beberapa faktor yaitu: (1) Jarak antara produsen ke konsumen.4 Saluran Tataniaga Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga sehingga barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. waktu dan pemilikan. 1983). (3) Skala produksi dan (4) Keuangan produsen (Hanafinah dan Saefuddin. (3) Saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan calon konsumen. (2) Saluran distribusi digunakan untuk manyampaikan produk atau jasa dari produsen kepada konsumen. Saluran tataniaga terdiri dari beberapa pedagang perantara. pengecer dan agen. grosir. Lembaga yang terlibat dalam saluran ini diantaranya distributor. . sehingga tataniaga dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan barang dan jasa dari produsen sampai dengan konsumen. sarana transportasi. Kegunaan dalam kegiatan tataniaga adalah kegunaan tempat. lembaga keuangan dan perusahaan asuransi yang memberikan kemudahan dalam transaksi.

25

Saluran tataniaga atau saluran distribusi merupakan lembaga atau perantara berganda yang berfungsi mendistribusikan barang untuk mendukung transaksi dengan konsumen potensial. Setiap lembaga berspesialisasi dalam satu fungsi dan kegiatan penting pendistribusian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi transaksional dan efisiensi fungsional. Saluran tataniaga terdiri dari empat komponen utama yaitu: produk, pelaku pasar, aktivitas dan input (Boyd, Walker and Larreche, 2000). Bentuk distribusi ada dua yaitu distribusi langsung dan distribusi tidak langsung. Distribusi langsung yaitu produsen melakukan penjualan langsung

produknya kepada konsumen, sedangkan distribusi tidak langsung yaitu produsen melakukan penjualan barang kepada konsumen melalui perantara seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang grosir dan pedagang pengecer (Boyd, Walker and Larreche, 2000). 3.1.5 Struktur Pasar Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa ada empat karakteristik yang menentukan struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan, (2) sifat produk, (3) kemudahan untuk keluar masuk pasar dan (4) tingkat informasi harga, biaya serta kondisi pasar yang dihadapi pelaku tataniaga. Struktur pasar mengacu pada semua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja perusahaan di suatu pasar, seperti jumlah perusahaan dan jenis produk (Lipsey, et al. 1997). Karakteristik struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 6. Kotler (2005) menyatakan bahwa struktur pasar berdasarkan sifat dan bentuknya dibedakan menjadi dua yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar bersaing tidak sempurna. Pasar termasuk ke dalam pasar bersaing sempurna

26

dengan ciri-ciri banyaknya jumlah penjual dan pembeli, barang yang ditawarkan bersifat homogen, penjual dan pembeli berperan sebagai price taker, dan bebas keluar masuk pasar. Pasar bersaing tidak sempurna dibagi menjadi pasar

monopolistik, pasar ologopolistik dan monopoli. Tabel 7 Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli No Karakteristik Jumlah Jumlah Sifat Penjual Pembeli Produk Banyak Banyak Homogen Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Satu Pasar Banyak Sedikit Satu Struktur Pasar Sudut Penjual Sudut Pembeli Persaingan Sempurna Oligopsoni Persaingan Monopolistik Oligopsoni Diferensiasi Monopsoni banyak penjual yang

1 2 3 4 5

Persaingan Sempurna Diferensiasi Persaingan Monopolistik Homogen Oligopoli

Diferensiasi Oligopoli Diferensiasi Unik Monopoli yaitu pasar dimana

Sumber: Dahl and Hammond (1977), Lipsey, et al. (1997)

monopolistik

mendiferensiasikan produk baik secara keseluruhan atau sebagian, sehingga produk dapat dibedakan berdasarkan kualitas, gaya dan service yang diberikan penjual. Akibatnya banyak penjual dan pembeli yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga bukan pada satu tingkat harga pasar. Penjual melakukan penawaran yang berbeda untuk segmen pembeli yang berbeda, sehingga pembeli bersedia membayar lebih untuk produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Pasar oligopolistik yaitu pasar yang terdiri dari beberapa penjual yang menghasilkan produk mulai dari produk yang terdiferensiasi hinggga produk homogen. Penjual sangat peka terhadap strategi tataniaga dan penetapan harga pesaing lainnya. Jumlah penjual yang sedikit disebabkan hambatan untuk masuk pasar tinggi, strategi penetapan harga yang tepat dan memusatkan perhatian pada

27

kepuasan pelanggan untuk menarik pelanggan. Pasar monopoli murni yaitu pasar yang hanya ada satu penjual yang menguasai pasar suatu produk tertentu. Penjual berperan sebagai price maker, hambatan masuk dan keluar pasar tinggi karena alasan teknis atau alasan undang-undang untuk monopoli yang teregulasi. 3.1.6 Efisiensi Tataniaga Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tataniaga adalah tingkat efisiensi dari tataniaga, karena tataniaga yang efisien dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat dalam tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa terdapat dua ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi harga (ekonomi). Efisiensi operasional menggambarkan keadaan dimana biaya input dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan. Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi operasional pada proses tataniaga produk yaitu dilihat dari keragaaan pasar (analisis margin tataniaga, farmer s share dan rasio keuntungan terhadap biaya). Efisiensi harga tercermin dari tiga kondisi yaitu (1) ada alternatif pilihan bagi konsumen, (2) perbedaan harga yang mencerminkan adanya biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat perlakuan terhadap komoditi dalam sistem tataniaga, dan (3) terjadi aktivitas pembelian dan penjualan yang cocok antara petani, lembaga tataniaga dan konsumen yang berdampak pada kepuasan pada setiap pelaku tataniaga. Tingkat efisiensi tataniaga dapat dilihat dengan

mengunakan dua pendekatan sekaligus atau salah satu dari pendekatan tersebut. Marjin tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga tingkat

28 pengecer (Pr). Marjin tataniaga hanya merepresentasikan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen . Nilai marjin tataniaga adalah perbedaan harga di kedua tingkat sistim tataniaga dikalikan dengan kuantitas produk yang dipasarkan. Pr merupakan harga retail. f Quantity Gambar 1 Marjin Tataniaga. Perbedaan nilai ini juga direpresentasikan sebagai jarak vertikal dan jarak antara kurva permintaan atau antara kurva penawaran (Gambar 1). Sr menunjukkan supply turunan. dan Pf merupakan harga petani (Gambar 1). Df merupakan demand dasar. Sumber: Dahl and Hammond (1977) Pengertian ekonomi nilai marjin tataniaga adalah harga dari sekumpulan jasa tataniaga yang merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk–produk tersebut. Dr merupakan demand turunan. Oleh karena itu nilai marjin tataniaga dibedakan menjadi dua yaitu marketing costs dan marketing charges. Price VMM (Pr – Pf) Qrf Sr Sf Pr Marjin Tataniaga (Pr – Pf) Pf Dr Df Qr. Sf menunjukkan supply dasar. Cara perhitungan ini sama dengan konsep nilai tambah (value added).

tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai . pengangkutan. dan lain-lain) dan keuntungan. Marjin tataniaga merupakan penjumlahan antara biaya tataniaga dan marjin keuntungan (Dahl and Hammond. Keuntungan tataniaga adalah pengurangan marjin tataniaga dengan biaya-biaya tataniaga. sehingga jumlah produk di tingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengecer.29 dengan harga yang diterima petani. Farmer s share. penyimpanan. Farmer s share juga menyatakan perbandingan harga yang diterima oleh petani dengan harga di tingkat lembaga pemasaran yang dinyatakan dalam persentase. Azzaino (1982) menyatakan bagian yang diterima petani (farmer s share) merupakan harga yang diterima petani sebagai imbalan kegiatan usahataninya dalam menghasilkan kondisi tertentu. 1977). Marjin tataniaga terjadi karena adanya faktor-faktor biaya tataniaga (pengumpulan. Akibatnya produsen tahu. di dalam negeri harga kedelai impor meningkat sangat tajam karena harga kedelai di pasar dunia meningkat. Secara teknis sistem tataniaga akan semakin efisien jika rasio keuntungan terhadap biaya merata di setiap lembaga tataniaga.2 Kerangka Pemikiran Operasional Pada awal tahun 2007. pengolahan. Rasio B/C. 3. Rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga merupakan perbandingan antara keuntungan yang diambil lembaga tataniaga terhadap biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk tersebut. yang akhirnya akan mempengaruhi pembentukan harga jual produk itu sendiri antara petani dan pedagang (Elizabeth. tetapi tidak menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. 2007).

Tataniaga komoditi pertanian adalah kegiatan atau proses pengaliran komoditas pertanian dari produsen sampai ke konsumen atau pedagang perantara (tengkulak. sehingga jumlah pelaku pasar yang terlibat dalam proses tataniaga akan menentukan panjang pendeknya saluran tataniaga. Selain itu R/C ratio digunakan untuk melihat apakah usahatani yang dilakukan menguntungkan secara ekonomi atau tidak bagi petani. Sementara konsumsi kedelai semakin meningkat sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk. pengumpul. sehingga harus efisien dalam menggunakan sumberdaya. Fungsi tataniaga dilakukan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai guna waktu. Semua fungsi tataniaga dilakukan oleh lembaga atau pelaku pasar yang terlibat. tempat dan kepemilikan. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. pedagang besar.30 mengalami penurunan produksi. Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri cenderung mengalami penurunan. Efisiensi usahatani kedelai dapat dilihat dari hasil analisis R/C ratio yang menunjukkan berapa penerimaan yang diperoleh petani dari setiap input yang dikeluarkan. Semakin besar nilai R/C ratio maka usahatani yang dilakukan akan semakin baik. Harga kedelai impor yang tinggi memberikan peluang bagi petani dalam negeri untuk meningkatkan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia. Pendapatan usahatani merupakan hasil akhir yang akan diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya. dan pengecer). karena gairah petani untuk menanam kedelai cenderung menurun. . 1983). Fungsi-fungsi tataniaga terdiri dari fungsi pertukaran. sehingga konsumen akan merasa puas (Hanafiah dan Saefuddin. bentuk.

seperti biaya. Analisis struktur pasar ini dilakukan untuk mengetahui pasar kedelai yang terbentuk sesuai dengan karakteristiknya. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. margin tataniaga. Alur pemikiran tersebut dapat digambarkan seperti diagram di bawah ini: . (2) keadaan atau kondisi produk. Tataniaga akan efisien bila semua pelaku pasar atau lembaga yang terlibat merasa puas dengan apa yang diperolehnya. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. Efisiensi tataniaga tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya saluran tataniaga. Hasil dari analisis tersebut akan dibuat perumusan langkah-langkah perbaikan yang akan diberikan atau diinformasikan kepada petani dan para pelaku tataniaga. R/C ratio. apakah sudah efisien secara operasional. (3) mudah atau sukar untuk keluarmasuk pasar.31 Sementara untuk manganalisis struktur pasar kedelai dilakukan berdasarkan pada empat karakteristik struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan. Analisis kuantitatif untuk mengetahui bagaimana keragaan usahatani dan tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang jika dilihat dari analisis pendapatan usahatani. Perilaku pasar yang dibentuk tersebut dilihat dari dua sisi yaitu sisi penjual dan sisi pembeli. meskipun saluran tataniaga yang pendek lebih efektif dalam menyampaikan produk hingga diterima oleh konsumen. B/C ratio dan farmer s share.

Pedagang Pengumpul 2.7 juta ton per tahun Supply Respon Petani Kedelai Analisis Usahatani Lembaga Tataniaga: 1. Pedagang Besar 3.7 juta ton per tahun . 2. Pedagang Pengecer Analisis Kuantitatif: 1. Rasio R/C 1.Produksi kedelai dalam negeri rata-rata 0. 4. 3. . 5.32 . Supplier 4. Analisis Tataniaga Saluran Tataniaga Sruktur Pasar Margin Tataniaga Farmer s Share Rasio B/C Efisiensi Tataniaga Rekomendasi Gambar 2 Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai.Konsumsi rata-rata 2.Harga kedelai impor tinggi . Pendapatan Usahatani 2.

ekspor-impor kedelai. Data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS). pedagang pengumpul. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive).1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Ciranjang. Lembaga Penelitian dan pihak yang terkait lainnya. Kecamatan Ciranjang sendiri merupakan salah satu sentra produksi di Kabupaten Cianjur. karena Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Barat. perkembangan harga dan kebijakan pengembangan kedelai. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. luas panen dan produksi.33 IV METODE PENELITIAN 4. 4. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur kepada petani kedelai.3 Metode Penarikan Contoh Metode penarikan contoh yang digunakan pada penelitian ini adalah random sampling yaitu pengambilan contoh dilakukan secara acak.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber. pedagang besar dan pedagang pengecer. Kecamatan Ciranjang terbagi menjadi 12 desa dan terdiri dari 80 kelompok tani dengan rata- . Informasi yang dikumpulkan antara lain perkembangan luas tanam. Kabupaten Cianjur. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2008. 4.

Pengambilan contoh untuk pelaku pasar pada tiap tingkat lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengikuti arus barang dalam proses penyaluran barang dari produsen sampai ke konsumen. Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Data dan informasi yang telah dikumpulkan diolah dengan bantuan kalkulator. Analisis usahatani digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani dan produksi yang dihasilkan oleh petani. 4. Lipsey.34 rata satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang petani. yaitu usahatani kedelai polong tua dan usahatani kedelai polong muda. Pedagang pengumpul tiga orang berdasarkan informasi pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang. komputer dan disajikan dalam bentuk deskriptif.1 Analisis Usahatani Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. (1997) menyatakan bahwa pendapatan usahatani dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan. gambar dan tabulasi untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang ada dalam melakukan analisis data. pedagang besar dua orang yang berada di Kecamatan Ciranjang. dan pedagang pengecer tiga orang yang berada di Kabupaten Cianjur dan Bandung.4. Penentuan responden berdasarkan petani yang menanam kedelai di Kecamatan Ciranjang sebanyak 30 orang petani kedelai dengan cara mengambil nama kelompok tani dan memilih petani secara acak untuk diwawancara. Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara . 4. pedagang propinsi satu orang berdasarkan informasi dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. et al.

35 produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi. Rumus yang digunakan yaitu: Pd = TR .TC dimana: Pd = Pendapatan usahatani TR = Total penerimaan (total revenue) TC = Total biaya (total cost) . tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: TR = Y x Py dimana: TR = Total penerimaan Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani Py = Harga Y Pernyataan Jika komoditas tanaman yang diusahakan lebih dari satu. maka rumus tersebut dapat berubah menjadi: TR = ∑ YxPy i =1 n Biaya tetap dapat dihitung dengan rumus: FC = ∑ X Px i =1 i n i dimana: Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap Pxi = Harga Xi (input) Rumus tersebut dapat digunakan untuk menghitung biaya total (total cost). yang merupakan jumlah dari biata tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC). 1995). Rumus yang digunakan yaitu: TC = FC + VC Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya.

pajak a.36 Analisis (R/C) ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya. Upah tenaga kerja di luar keluarga c. Sewa lahan D+E C–D C–F H – bunga pinjaman (jika ada pinjaman) C/F E Biaya yang diperhitungkan F Total Biaya G Pendapatan atas biaya tunai H Pendapatan atas biaya total I Pendapatan Bersih J R/C ratio Sumber : Rahim dan Diah. 2007 .Pestisida . Sewa lahan e. Benih d. Tabel 8 Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai A B C D Penerimaan Tunai Penerimaan yang diperhitungkan Total Penerimaan Biaya Tunai Harga x Hasil panen yang dijual (Kg) Harga x Hasil panen yang dikonsumsi (Kg) A+B a. Biaya sarana produksi: . Upah tenaga kerja dalam keluarga b.Pupuk .PPC/ZPT b. Penyusutan c. Sewa alat bajak d.Benih .Y FC + VC dimana: a = R/C ratio Py = Harga output Y = Output Kriteria keputusan yang digunakan untuk melihat hasil analisis R/C ratio sebagai berikut : R/C ratio > 1 : usahatani menguntungkan R/C ratio < 1 : usahatani rugi R/C ratio = 1 : usahatani impas Secara sederhana. Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: a= Py. perhitungan analisis pendapatan dan R/C ratio dapat disajikan seperti pada Tabel 7.

4. seperti biaya. Untuk menganalisis marjin tataniaga dalam penelitian ini.37 Biaya penyusutan alat dihitung dengan cara membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dibagi usia ekonomi dari alat tersebut. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. Analisis ini dapat menggambarkan secara keseluruhan pola saluran tataniaga kedelai yang terjadi pada daerah penelitian. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar.4. Secara matematis biaya penyusutan dapat dirumuskan sebagai berikut : Nb − Ns n Biaya Penyusutan = dimana : Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Nilai sisa (Rp) N = Umur ekonomi alat (tahun) 4.2 Analisis Saluran Tataniaga Kedelai Analisis saluran tataniaga digunakan untuk menelusuri saluran tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir. data harga yang digunakan adalah harga di tingkat petani dan harga di tingkat lembaga tataniaga. (3) mudah atau sukar untuk keluar-masuk pasar. secara matematis rumus .3 Analisis Struktur Pasar Struktur pasar dapat dianalisis melalui beberapa indikator.4 Analisis Marjin Tataniaga Marjin tataniaga merupakan perbedaan harga yang diterima petani (produsen) dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen. 4.4. yaitu: (1) jumlah pedagang di setiap level tataniaga. (2) keadaan atau kondisi produk. 4.

dapat dirumuskan sebagai berikut: Mmi = Ps – Pb dimana: Mmi Ps Pb Marjin = Marjin tataniaga pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga jual pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga beli pada setiap lembaga tataniaga tataniaga mengandung komponen biaya dan komponen keuntungan. maka untuk setiap saluran tataniaga dapat dilihat persentase pangsa marjin setiap pelaku pasar dengan menggunakan rumus: PangsaMarjin = MarjinPemasaran x100% TotalMarjin Pangsa pasar digunakan untuk melihat berapa besar marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga yang ada. maka: Mm = c + dimana: c = biaya tataniaga = Keuntungan lembaga tataniaga Berdasarkan analisis marjin tataniaga di atas. yaitu: Mm = Pr – Pf dimana: Mm Pr Pf = Marjin tataniaga di tingkat petani = Harga di tingkat kelembagaan tataniaga dari petani = Harga di tingkat petani Berdasarkan rumus di atas. 1977). Saluran tataniaga yang . marjin pada setiap tingkat lembaga tataniaga dapat dihitung dengan menghitung selisih antar harga jual dengan harga beli pada setiap tingkat lembaga tataniaga.38 yang digunakan dalam perhitungan marjin tataniaga (Dahl and Hammond.

artinya semakin tinggi margin tataniaga maka bagian yang akan diperoleh petani semakin rendah. rumus yang digunakan yaitu: B / CRatio = πi x100% Ci dimana: = Keuntungan lembaga tataniaga ke-i ci = Biaya lembaga tataniaga ke-i i .5 Analisis Bagian Harga yang Diterima Petani Farmer s share berhubungan dengan margin tataniaga. Besarnya persentase net marjin yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masingmasing saluran tataniaga digunakan rumus: NetMarjin = KeuntunganPelakuPasar x100% TotalKeuntungan Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan pada setiap pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga.4.6 p p f r x100 % Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Distribusi margin tataniaga dapat dilihat dengan persentase keuntungan terhadap biaya (rasio B/C) yang dikeluarkan pada masing-masing saluran tataniaga.4. 4. Farmer s share dapat dirumuskan sebagai berikut: Fs= dimana: Fs = Farmer s share 4.39 efisien ditunjukan oleh perolehan marjin setiap pelaku pasar yang merata.

. Pedagang besar adalah pedagang yang aktif di pasar-pasar pusat dan memperoleh barang dari pedagang pengumpul maupun dari petani langsung dan dijual kembali ke pasar induk (baik satu propinsi atau luar propinsi). Pestisida adalah zat kimia yang digunakan oleh petani untuk menanggulangi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kedelai.5 Definisi Operasional 1. Pupuk adalah zat tambahan yang digunakan petani untuk meningkatkan kesuburan tanaman kedelai (Urea. supplier dan pasar lokal. 4. 2. Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual kedelai kepada konsumen terakhir di pasar lokal ataupun industri makanan dan pedagang ini membeli kedelai dari supplier. Kedelai polong tua adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 90 hari dan dikeringkan. pedagang besar ataupun pedagang pengumpul. 3. 7. 8. 5. KCl dan pupuk organik).40 4. PPC (Pupuk Pelengkap Cair) adalah pupuk yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan polong. Kedelai polong muda adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 40 hari. 6. SP36. Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang yang aktif membeli dan mengumpulkan kedelai dari produsen (petani) di daerah produksi dan menjualnya kepada pedagang besar dan pasar lokal.

Curah Hujan dan Jenis Tanah Secara geografis.7° 25” Lintang Selatan (LS) dan 106º 42” . Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Cianjur berada di bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Barat.55 persen) lahan kering (Tabel 8). Topografi. Letak Geografis. Jumlah curah hujan tahunan relatif beragam antar wilayah dengan kisaran 1 716 milimeter di wilayah Penyusuhan hinga 4 465 milimeter di wilayah Kadupandak/Cimanggu. kecuali sebagian wilayah Kecamatan Cidaun dengan iklim tipe Am dan wilayah gunung Gede dengan iklim tipe Cf. memanjang dari utara ke selatan dengan batas-batas wilayah secara administrasi. Sebelah Selatan c.41 V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. . Sebelah Utara b. Topografi wilayah didominasi perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian 0 – 2 962 meter di atas permukaan air laut (dpl). Wilayah Kabupaten cianjur terdiri dari 30 Kecamatan. Kabupaten Cianjur terletak antara 6º 21” . sebagai berikut: a. dan kemiringan lahan 0 – 40 persen. 6 Kelurahan dan 348 Desa.107º 25” Bujur Timur (BT). Sebelah Barat d.45 persen) lahan sawah dan 287 269 ha (69. Iklim di wilayah Kabupaten Cianjur termasuk iklim tipe Af (sangat basah). Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Purwakarta : Samudera Indonesia : Kabupaten Sukabumi : Kabupaten Bandung dan Garut Luas wilayah Kabupaten Cianjur adalah 413 127 ha yang terbagi atas 62 879 ha (30.1.

54 100. Sukaresmi.30 0. (3) tanah brown forest yang tersebar di Kecamatan Campaka.93 69. Kadupandak. Ladang/Huma 4.40 11. jenis tanah. Pengembalaan 5. Perkebunan 11. (4) tanah latosol yang tersebar di Kecamatan Sukanagara.10 4.95 0.76 6. Cugenang. (2) tanah andosol yang tersebar di Kecamatan Pagelaran dan Tanggeung.74 15. Irigasi Teknis 2.56 0. Tambak/Kolam/Empang 7.18 5.75 1. Campakamulya. Kabupaten Cianjur .03 30. Irigasi Sederhana Non PU 5. Naringgul dan Cianjur. Rawa 6. Tanggeung. Takokak. Lain-lain Jumlah Jumlah Keseluruhan Sumber: Diperta Kabupaten Cianjur (2006) Luas (Ha) 15 207 6 236 9 687 17 584 14 165 62 879 22 294 52 054 39 092 700 136 1 046 1 673 29 723 61 453 56 170 22 803 287 269 413 027 Persen (%) 4.42 Tabel 9 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006 Pengguanaan Lahan Lahan Sawah 1. Cikalongkulon dan Mande.84 15. Tidak diusahakan 8. Hutan Negara 10.00 Jenis tanah di Kabupaten Cianjur terdiri atas 5 jenis yaitu: (1) tanah aluvial yang tersebar di Kecamatan Pacet.58 16. Hutan Rakyat 9. Sukanagara dan Cugenang. Sindangbarang.10 0. penggunaan tanah. dan (5) tanah podsolik merah kuning yang tersebar di Kecamatan Cibinong. Agrabinta. Naringgul dan Warungkondang. dan lain-lain) dan sumberdaya manusia. iklim. Tadah hujan Jumlah Lahan Kering 1. Irigasi Sederhana PU 4. Irigasi Setengah Teknis 3.46 7. Cilaku.32 1. Berdasarkan kondisi sumberdaya alam (tofografi. Bangunan/Pekarangan 2. Tegal/Kebun 3.46 7.

Tanah di WPS memiliki struktur yang labil dan peka terhadap erosi. tanaman hortikultura dan lahan sawah. Gekbrong dan Cipanas. Sukaresmi. Cugenang. 2007). sebagai berikut: 1. Cidaun. Cidaku dan Cijati. Takokak. Ciranjang. Pacet. Karangtengah. Bojongpicung. 3. Pagelaran. tanaman hortikultura dan lahan sawah. Wilayah Pembangunan Utara (WPU) WPU merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede dengan topografi didominasi bergunung dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Sukanagara. . Cibeber. Naringgul. Kecamatan yang termasuk WPS mencakup Agrabinta. Sindangbarang. Wilayah Pembangunan Selatan (WPS) WPS merupakan dataran rendah dengan topografi umumnya bergelombang hingga berbukit yang diselingi oleh pegunungan yang melebar hingga ke daerah pantai Samudera Indonesia. Cibinong. Campaka dan Campakamulya. Kadupandak. Mande. Cikalongkulon. Kecamatan yang termasuk WPT mencakup Tanggeung. Wilayah Pembangunan Tengah (WPT) WPT merupakan daerah dengan topografi berbukit hingga bergunung dengan struktur tanahnya labil sehingga sangat peka terhadap erosi dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Penggunaan lahannya didominasi lahan kering dan terdapat perkebunan dan lahan sawah dengan luasan yang kecil. Leles.43 terbagi atas tiga wilayah pembangunan dengan masing-masing karakteristik (Diperta Kabupaten Cianjur. Warungkondang. Sukaluyu. Cilaku. Kecamatan yang termasuk WPU mencakup Cianjur. 2.

Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42.04 persen).16 persen. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur yang tergolong usia produktif sebesar 39. . kemudian diikuti sektor perdagangan sekitar 24. serta kemudahan akses pasar bagi petani. sedangkan penduduk dengan pekerjaan utama adalah pertanian sebesar 61. beranggotakan petani perkelompok lima sampai enam orang petani dan dipimpin oleh seorang ketua kelompok. Selain itu memberikan kemudahan bagi Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dalam menyampaikan informasi teknologi kepada petani.2 Sosial Ekonomi Penduduk Kabupaten Cianjur pada tahun 2006 berjumlah 2 098 644 orang (546 119 Kepala Keluarga/KK) teriri atas 1 069 408 orang laki-laki (50.60 persen.0 persen dari total pendudk berusia produktif.99 persen. Tujuan dari adanya kelompok ini untuk memberikan kemudahan bagi petani apabila ada masalah dalam kegiatan usahataninya. Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur adalah sektor pertanian yaitu sekitar 62.6 persen. dan kemudian ketua kelompok tani akan menyampaikan informasi yang diperoleh dari PPL kepada masing-masing anggota kelompok taninya.44 5. Kepala keluarga miskin tergolong tinggi yaitu mencapai 35. Kabupaten Cianjur ini berjumlah 80 kelompok tani.96 persen) dan 1 029 236 orang perempuan (49. Petugas Penyuluh Lapang akan menyampaikan informasi kepada masing-masing kelompok tani.9 persen dari seluruh KK. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 14. Kelompok tani kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang.80 persen.

Sumedang. Pedagang pengumpul ini memperoleh kedelai dari Kecamatan Ciranjang dan luar Kecamatan. Garut. Pedagang pengumpul yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah pedagang pengumpul yang berada di Kecamatan Ciranjang dan berjumlah tiga orang. . Pedagang besar kecamatan memasarkan kedelai hanya ke pengrajin tahu lokal dan ke pedagang propinsi di Bandung.3 Lembaga Tataniaga Kedelai a. Majalengka). Pedagang besar kabupaten memasarkan kedelai ke pedagang propinsi di Bandung. pedagang besar propinsi dan pengrajin tahu dan tempe. pedagang pengecer (Cianjur. Pedagang Besar Pedagang besar adalah pedagang yang menghimpun (mengumpulkan) kedelai baik dari pedagang-pedagang pengumpul maupun langsung dari petani yang kemudian dijual kembali ke pedagang pengecer. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang kecil yang membeli hasil panen kedelai dari petani dan untuk dijual kembali kepada pedagang besar. b. dan pengrajin tahu/tempe lokal serta di Cianjur. Jumlah pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang tidak pasti karena umumnya pedagang pengumpul ini berasal dari luar Kecamatan Ciranjang. dan menjual kedelai tersebut ke pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang. Jumlah pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang yaitu dua orang. Pedagang besar dalam memasarkan kedelai sudah memiliki pelanggan tetap.45 5.

Pedagang Pengecer Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual secara langsung kepada konsumen akhir. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersial. .46 c. Jakarta. Jawa Tengah. Pedagang Propinsi Pedagang propinsi merupakan pedagang yang menyalurkan kedelai dari pedagang besar kecamatan dan kabupaten ke pedagang pengecer di Bandung. pengrajin tahu/tempe lokal. serta dapat melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir. artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh lembaga tataniaga sangat tergantung dari aktivitas pedagang pengecer dalam menjual produk kepada konsumen. Jawa Timur. Pedagang pengecer mendapatkan barang dari para pedagang besar yang ada di wilayah pedagang pengecer berdomisili. Pedagang propinsi memperoleh kedelai dari pedagang besar di Jawa Barat termasuk Kecamatan Ciranjang. d. Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur.

3 tahun.00 23.1 Karakteristik Petani Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani. Tabel 10 Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur Kelompok Umur (Tahun) 26 . Hal ini menunjukkan regenerasi petani sangat rendah.36 37 .00 23.33 40.47 VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6. Petani paling banyak termasuk kelompok umur 48 sampai 58 tahun (40. Pendidikan petani (Tabel 11) berkisar antara sekolah dasar sampai perguruan tinggi dengan rataan pendidikan 4. tingkat pendidikan. mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51. Pendidikan petani paling banyak berkisar antara 1 sampai 6 tahun atau Sekolah Dasar (43.47 48 . luas dan status penguasaan lahan. dan paling sedikit berada dikelompok umur lebih dari 69 tahun.33 3.58 59 . sebagai pengambil keputusan terbaik dari berbagai alternatif kegiatan usahatani yang harus diambil.33 persen). dan kepemilikan alat pertanian serta ternak.00 Tabel 10 menginformasikan bahwa umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun. Karakteristik Petani dan Usahatani Kedelai 6.1.69 > 69 Total Jumlah Petani (Orang) 3 7 12 7 1 30 Persentase (%) 10.33 100.57 tahun. diikuti antara 7 sampai 9 tahun atau .1. Karakteristik petani tersebut mencakup umur.0 persen).

01 .00 Tabel 12 menginformasikan bahwa luas kepemilikan sawah petani kedelai berkisar antara 0.67 persen).00 43.67 20. sedangkan kepemilikan sawah paling luas yaitu 2.10 sampai 3.00 3.10 sampai 3.00 100.10 .1.778 hektar perpetani.00 0.00 persen).10 sampai 0.55 0.0. Tabel 11 Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan (Tahun) Tidak Sekolah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menegah Atas Perguruan Tinggi Total Jumlah Petani (Orang) 0 13 11 6 0 30 Persentase (%) 0. dan sisanya berstatus milik dan gadai (3.00 hektar dengan rata-rata luas kepemilikan sebesar 0.55 hektar (40.2.67 20.00 persen).67 persen).10 . dan sisanya antara 10 sampai 12 tahun atau Sekolah Menengah Atas (20 persen).00 36. Luas kepemilikan sawah petani kedelai paling banyak berada pada kelompok 0.33 persen.00 1. Tabel 12 Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah Luas Sawah (Ha) 0.33 36.00 Status kepemilikan sawah (Tabel 13) petani kedelai mayoritas berstatus sewa atau sakap (60. berstatus milik (10 persen).33 persen). Di Kecamatan Ciranjang sewa lahan hanya diambil untuk .00 2. diikuti oleh sawah berstatus milik sendiri dan sewa (26.48 Sekolah Lanjutan Pertama (36.33 100.00 hektar paling sedikit hanya 3.3.00 Total Jumlah Petani (Orang) 12 11 6 1 30 Persentase (%) 40.56 .

00 Petani yang tidak memiliki alat pengendalian HPT biasanya menyewa dari petani lain atau menyewa dari kelompok tani. arit.67 persen) lebih sedikit bila dibandingkan dengan petani yang tidak memiliki hand sprayer (46.49 tanaman padi sedangkan tanaman palawija sewa sawahnya tidak diambil oleh petani pemilik sawah. parang. sedangkan pompa air disewa dari kelompok tani.00 60. Pada umumnya petani sudah memiliki berbagai peralatan tersebut. Tabel 13 Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah Status Kepemilikan Milik Sewa/Sakap Gadai Milik dan Sewa Milik dan Gadai Total Jumlah Petani (Orang) 3 18 0 8 1 30 Persentase (%) 10.67 persen). Biaya sewa .00 Alat-alat yang dibutuhkan petani kedelai dalam melaksanakan kegiatan usahataninya yaitu cangkul. lantai jemur dan alat perontok kedelai.67 3. alat pengendalian Hama Penyakit Tanaman (HPT).00 0.33 100.67 100.00 16. dan alat perontok kedelai petani menyewa dari luar.67 26.67 0. tetapi khusus alat pengendalian HPT kepemilikannya masih beragam. Tabel 14 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian Kepemilikan Alat Hand Sprayer Pompa Air Lantai Jemur Hand Sprayer dan Lantai Jemur Perontok Kedelai Tidak Memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 5 8 0 14 30 Persentase (%) 10.00 46.00 0.00 26. Tabel 14 memberikan informasi petani yang memiliki hand sprayer (36. pompa air.

Kedelai musim utama ditanam mengikuti padi sawah musim hujan karena musim itulah yang terbaik untuk kedelai. per tiga kuintal kedelai.67 persen) petani tidak memelihara ternak.2.1. Tabel 15 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak Kepemilikan Ternak Kambing Sapi Kambing dan Sapi Ayam Tidak memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 0 1 26 30 Persentase (%) 10. Pemeliharaan ternak disamping memberikan tambahan pendapatan keluarga.Juli setelah panen padi kedua. petani juga dapat menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk kandang. kedelai banyak ditanam pada bulan Juni .33 86. dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000.00 Tabel 15 menginformasikan bahwa beberapa petani sudah memelihara ternak kambing (10 persen) dengan rataan penguasaan antara 6 sampai 14 ekor.67 100. Selain sebagai penyedia unsur hara mikro. memungkinkan cara kerja yang sederhana sehingga lebih hemat .00 0. Penanaman di lahan sawah lebih banyak diminati petani karena lebih tinggi hasilnya dan karena penanaman kedelai setelah padi. Salah satu usaha sampingan petani yaitu memelihara ternak kambing. 6.50 hand sprayer Rp 5 000 per hektar.00 0.33 persen) dengan rataan penguasaan 50 ekor. sapi dan ayam.00 3. pupuk kandang juga dapat memperbaiki struktur tanah. Usahatani Kedelai Di Kabupaten Cianjur pola tanam yang diterapkan adalah padi-padipalawija/kedelai. memelihara ternak ayam (3. sewa pompa air Rp 20 000 per hektar. sedangkan paling banyak (86.

Berdasarkan lamanya periode waktu tumbuh dari sejak tanam sampai kematangan polong. sewaktu kering ternyata cukup baik strukturnya untuk mendukung pertumbuhan kedelai tanpa pengolahan tanah sebelum tanam. varietas kedelai dapat digolongkan menjadi tiga kelompok umur. Penanaman dengan cara tugal lebih baik karena jumlah tanamannya lebih besar dan tersebar lebih merata. dengan jarak 20 x 20 sentimeter sampai 25 x 25 sentimeter mengikuti jarak tugal jerami. Di Kabupaten Cianjur. yaitu (1) umur genjah (kurang dari 80 hari). Pada umumnya petani di Kecamatan Ciranjang bertanam kedelai di lahan bekas padi sawah tanpa didahului pengolahan tanah. Selain kurang berguna. Tanah yang semasa padi sawah digenangi serta berlumpur tersebut.51 tenaga dan biaya dibanding penanaman di lahan tegal. penanaman kedelai dilakukan dengan cara penugalan benih pada lahan sawah yang sudah dibabat jeraminya. pengolahan tanah sebelum tanam itu juga berakibat memundurkan waktu tanam kedelai sehingga dapat mengurangi hasil. kebanyakan tanpa pengolahan tanah. Pola penugalan kira-kira bujur sangkar. (2) umur sedang (80 – 85 hari). Gulma yang lain telah cukup dikendalikan dengan membakar jerami yang dihamparkan menutup lahan yang baru ditugali benih kedelai. Hal yang sama terjadi bila . Bahkan penyiangan pun dilakukan secara minim. dan (3) umur dalam (lebih dari 85 hari). Pengendalian gulma hanya dilakukan satu kali. Kekeringan yang terjadi setelah biji kedelai ditanam dapat menghambat perkecambahan. Penyiapan lahan untuk bertanam cukup hanya dengan pembuatan parit dangkal seurut galangan dan tanpa pengolahan lahan.

SP36/TSP 100 kilogram. rata-rata penyemprotan dilakukan dua sampai tiga kali per tahun menggunakan pestisida kimia (80 . ada juga petani yang meggunakan pupuk NPK (20 persen) dengan takaran 20 kilogram per hektar. Di Kecamatan Ciranjang. Kedelai merupakan tanaman semusim sehingga kebutuhan N. Penggunaan pupuk per hektar yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur yaitu urea 50 kilogram. pada periode penanaman kedelai di Kecamatan Ciranjang terjadi kekeringan sehingga menurunkan hasil. Selain itu. dapat menghambat pembentukan polong akibatnya dapat menurunkan hasil. pengendalian HPT antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi. dan poska (3. zat perangsang biji 2 liter.52 biji yang telah ditanam tergenang air. kegiatan pemupukan antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi (Tabel 16).33 persen). Selain itu. NPK 150 kilogram. Selain kegiatan pemupukan. Di Kecamatan Ciranjang. Kedelai yang ditanam dalam pola bergiliran dapat memanfaatkan sisa pupuk yang tidak digunakan tanaman sebelumnya. Umumnya petani tidak melakukan kegiatan pemupukan sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah ulat grayak (pemakan daun) dan penggerek polong. Tahun 2007. Penggunaan dosis pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan hara tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai menjadi terganggu. P dan K relatif besar. dan zat perangsang biji (30 persen) dengan takaran 1 liter per hektar. petani juga melakukan kegiatan pengendalian HPT. Umumnya petani melakukan penyemprotan sesuai dengan intensitas serangan. Paling banyak petani mengaplikasikan pupuk urea (80 persen) dengan takaran 53 kilogram per hektar. KCl 50 kilogram.

33 0. batang-batangnya sudah kering.85 0.00 36.67 80.62 Saat panen ditentukan berdasarkan umur tanaman.00 30.67 66. Pangkal batang dan akar-akar tanaman kedelai .33 66.00 20.00 80.42 6 929. sehingga waktu panennya harus menyesuaikan dengan umur tanaman.62 1 501. Pestisida. Setiap varietas kedelai memiliki umur yang berbeda.31 21 966.00 2 080. dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat penanaman. ciri-ciri penampakan luar.96 25.5 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 24 8 4 0 6 9 24 80.00 26. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai No 1 2 Jenis Kegiatan Bibit + Furadan (Kg) Takaran Pupuk (Kg) Urea SP36/TSP KCl ZA NPK Zat Perangsang Biji (l) 3 4 Pestisida (ml) Tenaga Kerja (HOK) Penanaman Penyiangan Pemupukan Pengendalian HPT Pengairan Panen/angkut Pengeringan dan Perontokan 30 11 24 24 10 20 20 100.00 34. Di Kecamatan Ciranjang varietas yang ditanaman umumnya adalah varietas Dapros (90 hari).61 79.00 80.62 mililiter per hektar. Cara panen kedelai dilakukan dengan memotong pangkal tanaman dengan menggunakan sabit atau parang.67 Jumlah Petani yang melakukan 30 Persentase (%) 100.94 35 692. Tabel 16 Biaya Pupuk.53 persen) dengan takaran 344.00 33.74 45.67 20 2 2 2 2 3.52 Harga Ratarata (Rp/unit) 6 643. sedangkan beberapa petani (20 persen) tidak melakukan pengendalian HPT (Tabel 16).00 Jumlah (sat/Ha) 42.67 13. Ciri-ciri umum tanaman kedelai sudah saatnya dipanen adalah polong secara merata sudah berwarna kuning-kecoklatan. dan sebagian daun sudah kering dan rontok.26 344.5 3.30 2 100.

Tabel 16 memberikan informasi bahwa biaya .3 hari. sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.54 bermanfaat sebagai sumber Nitrogen dan penyubur tanah untuk tanaman musim berikutnya. sisa-sisa polong ataupun kotoran yang lain.33 persen) untuk tujuan konsumsi polong yang direbus.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1. tapi ada juga beberapa petani yang menggunakan alat perontok kedelai. Setelah dirontokan dilakukan pemisahan biji kedelai dari daun. Setelah panen. Lamanya penjemuran rata-rata tujuh hari. Di Kecamatan Ciranjang. Keterlambatan dapat menyebabkan polong menjadi basah kembali dan menyulitkan dalam pembijian (pengelupasan biji dari polong). sewa alat dan pajak. selain panen tua untuk dikeringkan (66. Pengeringan dilakukan dengan menjemur brangkasan kedelai di bawah terik matahari dengan cara dihamparkan di atas lantai jemur atau menggunakan anyaman bambu. rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370. ada juga petani yang panen polong hijau (33. Di Kecamatan Ciranjang.60 per kilogram. Umumnya petani di Kecamatan Ciranjang melakukan perontokan dengan cara manual yaitu dipukul-pukul dengan kayu. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit. upah tenaga kerja. Perontokan atau pengupasan polong kedelai harus segera dilakukan setelah pengeringan.37 ton per hektar. sehingga petani akan memperoleh penerimaan yang tinggi. tapi pada cuaca baik dapat dilakukan sekitar 1 . pupuk dan pestisida. Tujuan utama dari budidaya kedelai adalah memperoleh kedelai yang memiliki kadar air rendah. kegiatan selanjutnya adalah pengeringan tujuannya untuk menurunkan kadar air dari biji sampai batas aman untuk disimpan atau memudahkan penanganan selanjutnya.67 persen).

00 590 214. sewa alat. pestisida dan pajak.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua (Rp 3 312 778. Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. benih.00 1 096 367. Biaya Diperhitungkan Tenaga Kerja Keluarga Sewa Lahan Benih Penyusutan Total Biaya Diperhitungkan F. Pendapatan atas biaya total I.05 3 132 778.73 per hektar). Total Penerimaan (A+B) D.10 1 111 196.00 114 247.27 Polong Tua (Rp/ha) 4 243 974.77 426 393. Total Biaya (D+E) G.68 581 315.72 51 959.99 37 850.00 882 796.35 . Penerimaan Tunai B.55 usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.54 398 259. Pendapatan atas biaya tunai H. Sumberdaya yang digunakan dalam usahatani kedelai meliputi tenaga kerja.84 1 871 269. Pendapatan Bersih J.00 931 315.30 350 000. pupuk.30 240 214.00 74 106. hal ini disebabkan tenaga kerja dalam keluarga sangat minim. R/C Rasio Polong Muda (Rp/ha) 1 871 269. Biaya Tunai Benih Pupuk Pestisida PPC/ZPT Tenaga Kerja Luar Keluarga Sewa Alat Handsprayer Sewa Alat Perontok Sewa Pompa Pajak Total Biaya Tunai E.00 1.54 9 280.73 2 042 511.00 107 471.60 988 473. Penerimaan Tidak Diperhitungkan C.05 350 000. Biaya tunai yang paling besar digunakan untuk upah tenaga kerja luar keluarga.24 1.73 282 486.00 10 000.63 10 000.73 4 243 974.96 75 701.00 1 111 196.72 494 260.24 398 256.33 2 201463.30 1 473 010. Tabel 17 Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar Jenis Biaya dan Penerimaan A.84 282 486.00 100 00.50 200 00.

73 dan pendapatan atas total biaya Rp 1 111 196. Jadwal penanaman yang terlambat juga mengharuskan petani untuk melakukan panen kedelai polong muda. Nilai R/C rasio yang diperoleh pada usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang tidak berbeda jauh dengan nilai R/C rasio usahatani kedelai pada penelitian Rusastra et al (1992) yaitu 1. Walaupun. sehingga kegiatan pemeliharaan tidak dilakukan dengan optimal. ada juga petani . Besarnya pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani polong tua karena hasil yang diperoleh lebih banyak dan harga jual biji kedelai lebih tinggi dari pada kedelai hijau (muda).35) tidak berbeda jauh dari pada petani yang panen polong muda (1. Berdasarkan analisis usahatani (Tabel 17) kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda. Melihat perbandingan jumlah R/C rasio yang diperoleh.84 dan pendapatan atas total biaya Rp 398 256.56 Suatu usahatani akan dikatakan berhasil atau menguntungkan jika selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1. waktu pengolahan lama dan keterbatasan modal. Selain itu. Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.27). petani yang panen polong tua (1. total penerimaan mencapai Rp 1 871 269. nilai R/C rasionya tidak berbeda jauh tetapi pendapatan bersih polong tua lebih tinggi dari pendapatan bersih polong muda. Total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974. Petani yang memiliki keterbatasan modal telah merencanakan menanam kedelai untuk dipanen muda. seperti jadwal penanaman yang terlambat.24.00.4.27 untuk polong muda. Petani yang melakukan panen polong muda disebabkan beberapa hal.

pedagang besar kabupaten. Hal ini disebabkan oleh lokasi petani yang jauh dari pedagang besar kecamatan sehingga penjualan ke pasar akan menambah biaya dan keterbatasan waktu. selain cara penjualan yang demikian ada pula petani yang membawa sendiri dan menjualnya pada pedagang besar kabupaten yang berada di pasar.2. Pada saat panen banyak pedagang pengumpul yang datang ke tempat petani sehingga petani dapat menjual kedelai di rumah atau di sawah tanpa harus mengangkut ke tempat pembeli. Pemanenan kedelai polong muda tidak dapat dilakukan terus menerus karena penyerapan pasar untuk polong muda sangat terbatas. Kabupaten Cianjur. penyerapan pasar untuk kedelai polong tua masih sangat terbuka luas karena kedelai polong tua dibutuhkan industri-industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai.57 memanen polong muda karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. pedagang besar propinsi. Tetapi di Desa Ciranjang. Sebagian besar petani di Kecamatan Ciranjang melakukan penjualan kedelai langsung kepada tengkulak.. sedangkan untuk membayar tenaga kerja mereka memiliki keterbatasan modal.1 Saluran Tataniaga Pemasaran kedelai di lokasi penelitian dari petani sampai konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pemasaran yaitu pedagang pengumpul (tengkulak). Selain itu. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang.2 Saluran dan Lembaga Tataniaga 6. pedagang besar kecamatan. ada dua saluran tataniaga yaitu . berbeda dengan polong tua yang bisa disimpan apabila petani tidak bisa menjual semua hasil panennya. 6. dan pedagang pengecer.

100 % Petani Pedagang Pengumpul Ciranjang 100 % Pedagang Pasar Induk Parung 20 % 80 % Pedagang Pegecer Konsumen Gambar 3. 8. yaitu dari petani kedelai (100 persen) dibawa ke pedagang pengumpul. Gambar 3 menginformasikan bahwa saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai dua tujuan. kemudian kedelai tersebut (100 persen) dibawa ke pedagang Pasar Induk Parung. Gambar 4 menginformasikan bahwa di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen.77%) lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (10. lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (5.58 saluran tataniaga kedelai polong muda (Gambar 3) dan saluran tataniaga kedelai polong tua (Gambar 4). 80 persen kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan 20 persen langsung diserap oleh konsumen akhir.72%) melalui saluran kedua. Saluran kesatu dari pedagang pengumpul kedelai dijual ke pedagang kecamatan (42. Saluran kedua dan ketiga kedelai dari pedagang pengumpul dijual ke pedagang kabupaten (30.33%) ke pedagang pengumpul. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda.69%). Di pedagang pasar induk. Pada saluran kesatu sampai kelima petani menjual kedelai (73.58 persen kedelai dari pedagang kabupaten .56%).

23 persen diserap pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir melalui saluran kelima. sedangkan saluran ketujuh dan kedelapan.59 diserap oleh pedagang pengecer kemudian dijual ke konsumen akhir melalui saluran ketiga.77%) kedelai dijual langsung ke pedagang propinsi (32. tetapi dari pedagang kecamatan (42. penjualan kedelai ke saluran 1. lokasi petani yang jauh dari pedagang kabupaten. Saluran 6-8 hanya dipergunakan oleh petani responden (26. kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang propinsi (4. Saluran keempat dan kelima sama seperti saluran kesatu. .33 persen) karena banyaknya jumlah pedagang pengumpul lokal yang mendatangi petani. 10.14%) melalui saluran keempat. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden. Kedelai diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (6.67%). Pada saluran keenam kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang pengecer (8. Pada dasarnya petani memiliki kebebasan untuk menentukan saluran mana yang akan dipilih.58%).58%) lalu ke konsumen akhir. sehingga tidak ada alternatif lain bagi petani untuk menjual hasil panennya.14%) melalui saluran ketujuh dan diserap oleh pedagang pengecer (10.08%) lalu diserap pengrajin tahu/tempe (6. Saluran keenam sampai kedelapan petani menjual kedelai langsung ke pedagang kabupaten (26.23 persen) karena petani tidak mau mengambil resiko kerugian biaya transportasi. Volume kedelai banyak melalui saluran tiga (57.23%) melalui saluran kedelapan untuk dijual ke konsumen akhir.67 persen) yang berdekatan dengan pasar Ciranjang seperti Desa Ciranjang dan Desa Cibiuk. 2 dan saluran 3 lebih banyak dipilih (73.

23 % Konsumen 6.56 % Pedagang Besar Kabupaten 34.67 % Petani 73.34% 5.23 % Pengecer 10.60 26.72 % 10.77 % Pedagang Besar Kecamatan Garut Majalengka Sumedang Sukabumi Pengrajin Tahu Tempe 8.14 % Pengrajin Tahu Tahu /Tempe Tempe Ket: tidak dianalisis Gambar 4 Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua. 6.58 % Konsumen 32. Umumnya fungsi-fungsi tataniaga kedelai yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga .56% Luar Jawa Barat 10.58 % 8.2 Lembaga Tataniaga Kegiatan yang dilakukan lembaga tataniaga untuk memperlancar arus kedelai dari produsen ke konsumen dinamakan fungsi tataniaga.69 % 42.33 % Pedagang Pengumpul Kecamatan Ciranjang 30.58 % Pedagang Pengecer 8.2.08 % Bandung Bandung Pedagang Besar Propinsi 24.

Tabel 18 Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai Lembaga Tataniaga Petani Pedagang Pengumpul Fungsi Tataniaga Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi fasilitas Aktivitas Pedagang Kecamatan Pedagang Kabupaten Pedagang Propinsi Pedagang Pengecer Penjualan Pengangkutan Pembelian dan penjualan Pengumpulan dan pengangkutan Penanggungan resiko. pedagang besar kabupaten. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. Petani Seluruh petani responden kedelai di Kecamatan Ciranjang umumnya tidak menemui kesulitan dalam memasarkan kedelainya karena pedagang pengumpul selalu ada untuk mengambil produksi kedelai saat musim panen. pembiayaan. Tabel 18 menginformasikan bahwa ada enam lembaga tataniaga yang terlibat yaitu petani. dan pedagang pengecer.61 tataniaga adalah fungsi pertukaran. pedagang kecamatan. Umumnya petani menjual ke pedagang pengumpul yang mendatangi rumah atau sawah petani dengan penawaran harga tertinggi. Setiap lembaga yang terlibat dalam tataniaga kedelai mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir mempunyai fungsi yang berbeda-beda. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. informasi pasar a. Petani memasarkan kedelai dalam dua bentuk yaitu polong muda dan polong tua. pembiayaan. tetapi ada beberapa petani yang menjual langsung ke pedagang besar di pasar. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan dan pengangkutan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. Pemilihan rantai tataniaga . pedagang besar propinsi. pembiayaan. pedagang pengumpul.

Kedelai ini selanjutnya dibawa ke pasar tujuan untuk kedelai polong muda. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang umumnya pedagang pengumpul dari luar Kecamatan.33 persen dari keseluruhan hasil produksi kedelai di Kecamatan Ciranjang. Sistem ini memberikan kemudahan bagi petani. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah pembelian dan penjualan. Kedelai yang dijual ke pedagang pengumpul sebanyak 73. Cara pembelian yang dilakukan pedagang pengumpul dari petani untuk polong tua dengan ditimbang di rumah petani. b. Sistem pembayaran umumnya secara tunai. Cara petani menjual kedelai ke pedagang pengumpul adalah cara langsung dari rumah atau sawah. Akibatnya cara tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah. tetapi ada beberapa pedagang yang merupakan penduduk Kecamatan Ciranjang.62 pedagang pengumpul oleh petani dengan pertimbangan tidak ada biaya transportasi dan lokasi petani ke pasar tujuan cukup jauh. khusus polong muda umumnya secara borongan di sawah yang didatangi pedagang pengumpul. sedangkan kedelai polong tua dibawa ke pedagang kecamatan dan pedagang besar kabupaten dengan menggunakan transportasi mobil. tetapi informasi pasar dan harga dikuasai oleh pedagang pengumpul sehingga harga jual ditentukan oleh pedagang pengumpul. tetapi ada juga yang pembayarannya menunggu hasil penjualan ke pedagang besar atas dasar kepercayaan. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko . fungsi fisik yaitu pengumpulan dan pengangkutan. sedangkan yang polong muda umumnya tebasan langsung di sawah petani.

Pedagang kecamatan mempunyai informasi pasar yang akurat tentang harga yang terjadi karena berhubungan langsung dengan pedagang besar propinsi. pembiayaan (transportasi. misalnya tidak pada saat musim tanam kedelai sehingga terjadi kekurangan pasokan. . Umumnya pedagang pengumpul yang menjual kedelai ke pedagang kecamatan merupakan pedagang yang menerima bantuan modal dari pedagang kecamatan. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. fungsi fisik berupa penyimpanan dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. sedangkan pembelian kedelai dari petani dibayar tunai. tenaga kerja dan pengemasan) dan informasi pasar (harga). c.63 penyusutan. Selain itu banyaknya kedelai yang harus disiapkan oleh pedagang pengumpul. selain itu menerima kedelai langsung dari petani. Kedelai yang diperoleh selain untuk bahan baku pabrik tahu miliknya. Pedagang Kecamatan Pedagang kecamatan merupakan pengrajin tahu skala besar di Kecamatan Haurwangi. sebagian dijual langsung ke pedagang besar propinsi di Bandung. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Cara pembayaran kepada pedagang pengumpul dengan mengurangi langsung modal yang dipinjam pedagang pengumpul dari penjualan kedelai. Jawa Barat. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh pedagang kecamatan adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Pedagang ini menerima kedelai dari pedagang pengumpul dari desadesa yang berdekatan dengan pedagang kecamatan.

dan . fungsi fisik berupa penyimpanan. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang pengumpul dan petani yang berdekatan dengan pasar. dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar selalu tunai. Penyerahan kedelai dilakukan di tempat pedagang besar sehingga pembelian tersebut berlangsung di gudang pedagang besar. Pedagang ini memiliki skala usaha dagang yang besar di Bandung. e.64 d. Kedelai tersebut dijual baik langsung ke pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur maupun ke pedagang pengecer di Kabupaten Cianjur dan pedagang pengecer luar daerah yang telah menjadi langganan sepeti Garut. Jawa Barat. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang besar kabupaten Cianjur (di Kecamatan Ciranjang). Pedagang besar umumnya mempunyai informasi harga yang akurat. Pedagang Besar Kabupaten Pedagang besar kabupaten yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Sukabumi Selatan. Majalengka. Karawang. Garut. selain itu pedagang ini menerima pasokan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur melibatkan pedagang kebupaten lainnya. Sukabumi dan Bandung. sehingga posisi tawar-menawar pedagang pengumpul lemah jika dibandingkan dengan pedagang besar. Fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Sumedang. Tasik. Subang. Pedagang Besar Propinsi Pedagang besar propinsi yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai dari produsen di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. pembiayaan dan informasi pasar. Majalengka.

Pedagang besar melakukan kegiatan penjualan kedelai baik secara langsung ke pengrajin tahu/tempe dan pedagang pengecer di daerah Bandung. fungsi fisik yaitu penyimpanan. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang menerima pasokan kedelai dari pedagang besar untuk dijual langsung kepada konsumen akhir. Selain itu menerima kedelai langsung dari petani di wilayah Bandung. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. Pedagang pengecer melakukan fungsi-fungsi tataniaga adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. serta dari Jawa Tengah. Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar propinsi adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. karena pedagang besar berhubungan langsung dengan penentu harga pasar yaitu pedagang pengecer. f. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. Jawa Timur. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. Pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer dengan cara tunai. Banyaknya kedelai yang dibeli disesuaikan dengan skala usaha dagang yang dimiliki pedagang pengecer. Informasi harga yang dimiliki pedagang besar merupakan informasi terbaru. fungsi fisik yaitu penyimpanan dan pengangkutan dari pedagang besar ke pedagang pengecer. . maupun pengiriman ke luar propinsi Jawa Barat. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan.65 Banjar. Umumnya pedagang pengecer menjual kedelai untuk konsumsi. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar adalah nota dan tunai. tetapi ada juga pengecer yang menjual kedelai untuk benih.

sifat produk yang diperjualbelikan dan informasi pasar yang diperoleh. pedagang kecamatan dan pedagang besar. Sumber informasi tentang harga dibawa oleh pedagang sehingga penentu harga dilakukan oleh pihak pedagang. sedangkan pedagang pengumpul menghadapi hambatan pada waktu bukan musim tanam kedelai dan keterbatasan modal. Akibatnya petani hanya berperan sebagai price taker dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam penentuan harga.66 6.3.3 Struktur dan Perilaku Pasar 6. Petani dan Pedagang Pengumpul. Kedelai yang diperjualbelikan umumnya homogen yaitu kedelai varietas Dapros. Dilihat dari struktur pasar yang dihadapai pedagang pengumpul memiliki posisi tawar yang lebih baik dari petani. Pedagang Kecamatan serta Pedagang Kabupaten Petani berperan sebagai penjual dan yang berperan sebagai pembeli adalah pedagang pengumpul. . Hambatan yang dihadapi pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten adalah harus memiliki modal yang kuat dan memiliki relasi yang luas agar dalam pemasaran kedelai berjalan dengan lancar. Petani dalam memasarkan hasilnya tidak menghadapi hambatan karena petani dengan mudah menjual kedelai kepada pembeli. kebebasan untuk keluar masuk pasar yang dialami oleh para pelaku pasar. sedangkan pedagang kecamatan/kabupaten posisi tawarnya lebih baik dari pedagang pengumpul.1 Struktur Pasar Struktur pasar dapat diidentifikasi dengan melihat jumlah lembaga tataniaga. Struktur pasar yang dihadapi oleh para pelaku pasar dalam tataniaga kedelai adalah sebagai berikut: a.

67 b. Informasi ini diperoleh dari pedagang pengumpul lainnya dan pedagang besar itu sendiri. jika tiba musim panen kedelai pedagang pengumpul banyak berdatangan dari luar Kecamatan. c. Informasi yang dimiliki pedagang pengumpul mengenai keberadaan kedelai dan harga jual yang berlaku lebih baik jika dibandingkan petani. pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten bersifat homogen. Jumlah pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang tidak diketahui dengan pasti. Pedagang Besar. Selain harus mempunyai modal yang kuat. mereka memasarkan kedelai hanya kepada pedagang besar. Pedagang Besar Propinsi dan Pedagang Pengecer Pedagang propinsi memiliki level penjualan yang lebih tinggi dari pedagang kecamatan/kabupaten. . Namun ada juga pedagang pengumpul yang bekerja sendiri. Komoditi yang diperjualbelikan di tingkat pedagang pengumpul. Posis tawar pedagang kecamatan/kabupaten lebih baik dari pedagang pengumpul karena yang menentukan harga adalah konsumen akhir. karena umumnya pedagang pengumpul mendapat pinjaman dari pedagang besar. sehingga posisi tawarnya lebih baik dari pedagang kecamatan/kabupaten. Pedagang Pengumpul dan Pedagang Besar Di lokasi penelitian jumlah pedagang pengumpul lebih sedikit dari jumlah petani tapi lebih banyak dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. Posisi tawar pedagang pengecer lebih baik dari pedagang propinsi karena berhubungan langsung dengan konsumen akhir. Pedagang pengumpul dalam menentukan harga sangat lemah. pedagang besar juga harus memiliki komunikasi dan kepercayaan yang baik dengan lembaga tataniaga yang lain. Hal ini karena pedagang pengumpul memiliki keterbatasan modal untuk membayar petani.

d. dan komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen.2 Perilaku Pasar Perilaku pasar dapat diidentifikasi dengan mengamati kegiatan tataniaga kedelai dalam proses pembelian dan penjualan. Komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu kedelai. kecuali petani yang hanya melakukan kegiatan penjualan. 6. Pedagang Pengecer dengan Konsumen Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir. a.68 Sistem pembayaran antara pedagang besar dengan pedagang pengumpul secara tunai. . Praktik Pembelian dan Penjualan Setiap lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga kedelai melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. sistem penentuan harga.3. Pembelian kedelai oleh pedagang pengumpul dilakukan dengan cara pedagang pengumpul langsung mendatangi petani. Pedagang pengecer dengan konsumen menghadapi struktur pasar persaingan. Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer terhadap pedagang besar dan konsumen adalah tunai. kecuali polong muda penundaan pembayaran bisa terjadi karena keterbatasan modal yang dimiliki pedagang pengumpul. Cara pembayaran untuk setiap lembaga tataniaga dilakukan secara tunai. hal ini dicirikan dengan banyak pedagang pengecer sebagai penjual dengan banyak konsumen akhir sebagai pembeli. sistem pembayaran dan kerjasama yang terjadi antara lembaga tataniaga. sedangkan pedagang besar melakukan pembelian di tempat penjual.

Efisiensi tataniaga merupakan suatu kegiatan perubahan yang dapat meminimalkan biaya input tanpa harus mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa. Informasi harga dibawa oleh pedagang pengumpul saat akan membeli kedelai di tempat atau sawah petani. c. Penguasaan informasi harga sangat didominasi oleh pedagang pengumpul.1 Marjin Tataniaga Marjin tataniaga diartikan melalui selisih harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat pedagang pengecer yang diperoleh dengan satuan rupiah per .4 Analisis Keragaan Pasar Struktur pasar dan perilaku pasar akan menentukan keragaan pasar yang dapat diukur melalui harga. Proses penentuan harga antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar lebih banyak dipengaruhi oleh harga kedelai di pasar. farmer s share dan analisis rasio keuntungan dan biaya.69 b. Bentuk kerjasama yang terjadi adalah pedagang besar menyediakan benih kedelai dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dengan mutu benih kedelai yang sama. Analisis efisiensi tataniaga mencakup analisis marjin tataniaga. biaya dan jumlah komoditi yang akhirnya memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem tataniaga (Dahl and Hammond. sehingga petani dapat menekan biaya usahatani kedelainya. 6. 1977).4. walaupun terjadi tawar-menawar penetapan harga tetap lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul. 6. Sistem Penentuan Harga Posisi petani adalah sebagai penerima harga. Kerjasama Antar Lembaga Kerjasama antar lembaga tataniaga kedelai baru terjadi antara petani dan pedagang besar kecamatan dan kabupaten di kecamatan Ciranjang.

Biaya tataniaga tersebut meliputi biaya transportasi. Pembahasan mengenai sebaran marjin tataniaga dibagi menjadi sebaran marjin melalui pedagang pengumpul dan sebaran marjin melalui pedagang besar kabupaten. Sistem tataniaga yang terjadi di Kecamatan Ciranjang. Penghitungan marjin meliputi biaya tataniaga dan keuntungan lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tersebut. Keuntungan pemasaran merupakan selisih antara harga jual dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan. Secara umum petani menyalurkan kedelai melalui dua lembaga saluran tataniaga. yaitu saluran ke-1 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kecamatan dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar kabupaten. Saluran tataniaga kedelai yang melalui pedagang pengumpul yaitu saluran satu sampai saluran lima (Tabel 19) dan saluran tataniaga yang melalui pedagang besar kabupaten yaitu saluran enam sampai saluran delapan (Tabel 20). Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah komoditi yang dipasarkan. Kabupaten Cianjur terdiri dari delapan saluaran tataniaga. pengemasan dan retribusi.70 kilogram kedelai. Biaya tataniaga merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam memasarkan kedelai dari petani sampai ke konsumen akhir. Marjin tataniaga dalam penelitian ini dihitung berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang terbentuk. Saluran ke-3 sama seperti saluran ke-2 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. . Saluran ke-2 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kabupaten dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. tenaga kerja.

.71 Saluran 4 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu dibawa ke pedagang kecamatan lalu ke pedagang propinsi dan diserap pengrajin tahu/tempe (Bandung). Total perolehan marjin Rp 1 004. paling besar berasal dari pedagang kecamatan sebesar Rp 551.33 dan Rp 48. Total keuntungan Rp 907. total biaya tataniaga yang dikeluarkan sebesar Rp 97. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengumpul meliputi biaya transportasi untuk mencari kedelai sebesar Rp 33.40 per kilogram.33 dan pedagang pengumpul Rp 356.33 per kilogram dan biaya tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 15 per kilogram. tenaga kerja dan pengemasan Rp 25 dan penyusutan Rp 7 per kilogram. paling banyak berasal dari pedagang kecamatan yaitu Rp 600 dan pedagang pengumpul Rp 404.40 per kilogram.40. Saluran ke-7 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang propinsi dan diserap oleh pengrajin tahu/tempe. Saluran ke-6 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen (Kabupaten Cianjur). Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengecer dan pedagang kecamatan yaitu masing-masing sebesar Rp 48. Saluran ke-8 sama seperti saluran ke-7 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. per kilogram (Tabel 18).67. Pada saluran tataniaga 1 dengan tujuan akhir pengrajin tahu/tempe. Saluran ke-5 sama seperti saluran ke-4 hanya tujuannya ke pedagang pengecer lalu ke konsumen akhir.07 per kilogram. Pada tingkat pedagang kecamatan biaya yang dikeluarkan untuk transportasi sebesar Rp 16.67 per kilogram.

00 3500.79 66.00 3 500.11 88. Tiga.00 77.00 % Saluran 4 Harga (Rp/kg) 2 285.37 50.83 21.00 92.00 48.60 3 095.00 428.58 44.51 11.89 % Saluran 5 Harga (Rp/kg) 2 285.00 600.40 3 500.63 100.86 85.78 35.00 55.01 68.68 9.77 75.07 404.60 3 095.11 1.74 5.73 19.72 Tabel 19 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.50 75.91 8.00 57.07 404.24 14.00 1.60 3 095.64 11.47 47.39 13.22 53.00 4 100.86 0.52 3 095.60 3 095.00 5 000.09 5.37 80.00 50. Pedagang Kecamatan Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.33 1 500.60 48.40 3 500.77 75.63 100.52 3 095.60 48.50 1.52 3 095.07 7.00 3 500.43 .00 4 100.78 50.18 8.33 356.73 19.48 6.78 18. Pedagang Pengumpul Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.60 3 095.60 48.08 810.25 23.85 53.52 3 095.92 32.07 404.78 1.08 810.19 13.33 600. Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 1.08 810.43 71.40 3 500. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 2 285.50 75.62 46.67 1 381.45 14.86 85.69 5.08 810.16 12.60 9.15 0.18 8.07 404.00 4 000.68 9.00 5 000.00 72.33 356.00 % Saluran 3 Harga (Rp/kg) 2 285.07 404.52 3 095.00 500.33 356.99 77.40 3 500. Dua.67 1 381.73 21.00 543.70 19.00 118.60 48.00 3 500.60 48.50 1.85 1.33 1 500.33 356.08 810.40 3 500.08 76.67 1.00 3 500.22 42.67 551.33 356.00 % 55. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.00 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) 2 285.00 1.00 118.

40 8.50 2.00 5 000.00 435.00 112.55 44.00 1 388.40 1 004.08 100.07 1 004.50 279. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 8. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share 4 100.08 52.47 8.00 409.40 6.40 3 404.86 1.00 165.40 3 904.00 1 235.72 21.33 1 219.00 523.79 100.00 91.33 899.11 100.37 22.40 8.00 100.73 Tabel 19 Lanjutan Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 5.35 75.89 1.00 71.20 47.21 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) % Saluran 3 Harga (Rp/kg) % Saluran 4 Harga (Rp/kg) % Saluran 5 Harga (Rp/kg) % 5 000.10 7.07 1 404.00 65.00 185.22 100.00 88.00 100.57 21.00 4 500.92 1.00 76.00 600.57 100.00 92.50 105.00 5.29 48.00 6 400.62 4.84 49.93 55.38 7 000.44 9.00 4 100.78 .40 11.43 2.00 4 500.00 1 400.36 17.93 24.00 500.43 4 000.00 7 000.00 6500.00 6 500.64 20.13 24.00 97.40 9. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 7. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 6.50 2.09 31.00 6 400.12 27.58 68.00 1 500.00 907.00 3 495.35 23.00 77.00 3 125.00 100.54 75.00 4.67 11.

40 dengan sebaran marjin di pedagang kabupaten dan pedagang pengecer yaitu masing-masing Rp 500 per kilogram dan pedagang pengumpul Rp 404. Total marjin yang diperoleh sebesar Rp 3 404. Biaya tataniaga paling kecil dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 48. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk tujuan pengrajin tahu/tempe yaitu biaya transportasi Rp 30. pedagang pengecer Rp 435 dan pedagang kabupaten Rp 428 per kilogram.40 paling besar berasal dari pedagang . penyusutan Rp 7 dan biaya tenaga kerja Rp 25 per kilogram.74 Saluran tataniaga 2 sama dengan saluran tataniaga 1. tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 10. Pada saluran tataniaga 3. biaya pengemasan Rp 5 dan penyusutan Rp 7 per kilogram. paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 600 dan pedagang pengecer Rp 404.07 paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 543 dan pedagang pengecer sebesar Rp 365. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 1 404. Total keuntungan tataniaga sebesar Rp 1 219.40 per kilogram. Total keuntungan Rp 899.33 dan pedagang pengecer sebesar Rp 65 per kilogram.07 paling besar berasal dari pedagang pengumpul Rp 356. Total marjin tataniaga saluran 2 sebesar Rp 1 004 sama dengan saluran 1. hanya pada saluran 2 dari pedagang pengumpul kedelai dibawa ke pedagang kabupaten. pemasaran kedelai sampai ke konsumen akhir melalui pedagang pengecer. Pedagang kabupaten memperoleh keuntungan sedikit.40.07.07 per kilogram. hal ini dikarenakan biaya tataniaga yang dikeluarkan sangat besar yaitu Rp 72 yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp 40. Saluran tataniaga 4 merupakan saluran dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung melalui pedagang besar propinsi.

Saluran tataniaga 6 (Tabel 20) merupakan saluran yang tujuannya sama dengan saluran tataniaga 3.67. hanya pada penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul. tenaga kerja bongkar muat Rp 20 dan pengemasan Rp 5 per kilogram. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang kecamatan. penyusutan Rp 7. Biaya tataniaga yang dikeluarkan berkisar antara Rp 48.40 per kilogram. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang propinsi sebesar Rp 165 per kilogram dan biaya tataniaga terendah pada pedagang pengecer. biaya tersebut terdiri dari biaya transportasi Rp 86. Marjin terbesar berasal dari pedagang kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing sebesar Rp 1 500 dan Rp 1 400 per kilogram.67 per kilogram.33 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh dari lembaga tataniaga sebesar Rp 4 904.07 sampai Rp 1 381. Total keuntungan sebesar Rp 3 125. Total keuntungan saluran tataniaga in sebesar Rp 863 dengan pembagian keuntungan pada pedagang kabupaten sebesar Rp 426 dan pedagang pengecer sebesar Rp 435 per kilogram.33 sampai Rp 118.75 kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing Rp 1 500 per kilogram. Keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 356. Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang kabupaten merupakan biaya terbesar yaitu Rp 72 . Pada saluran tataniaga 5 merupakan saluran yang sama dengan saluran 4 hanya tujuan tataniaga kedelai adalah konsumen akhir di daerah Bandung.40 paling besar keuntungan yang diperoleh pedagang propinsi sebesar Rp 1 388 per kilogram. Total marjin tataniaga Rp 1 000 dengan pembagian yang merata pada pedagang kabupaten dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 perkilogram (Tabel 19).

00 1.00 48.86 3 074.15 16.04 863.33 1.00 100.00 435.76 dengan alokasi terbesar untuk biaya transporatsi Rp 40.00 46.00 100.08 76.89 3 500. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share Saluran 6 Harga % (Rp/kg) 2 301.67 11.43 4 000.00 3.42 1.11 100.43 53.00 94. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.78 Saluran 7 Harga % (Rp/kg) 2 301. Tabel 20 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam.00 6 500.00 53.32 1. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.00 4 500.57 9.41 18.11 88.00 91.00 154.50 1 400.00 72. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 3 000 dengan pembagian yang merata .25 3 500.00 428.44 9.00 3 500.00 70.4.25 3 500.88 17.43 71.30 77.00 4 500.50 1 500.00 43.75 1 198.79 20.85 Saluran tataniaga 7 merupakan saluran yang sama dengan saluran 6 hanya tujuan penyaluran kedelai adalah pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.50 1 395.78 100.50 1 500.00 500.00 6 500.08 100.00 6 400.00 199. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang Uraian 1.08 53.00 51.00 35.12 50. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 6.61 21.47 23.18 1 000.00 3.00 93.48 1.00 22.00 19.00 .00 500.08 21.04 7.00 75.00 104.75 1 198.43 50.14 100. tenaga kerja Rp 25 dan penyusutan sebesar Rp 7 per kilogram.10 6.63 77.00 326.00 423.09 3 000.50 1 245.00 6 500.00 43.06 2 801.00 5 000.35 20.00 5 000.62 23.00 66.60 9.15 14.00 65.00 77.00 50.00 5 000.50 1 500.85 Saluran 8 Harga % (Rp/kg) 2 301.41 17.67 2.92 3 500.45 21.50 1 405.91 3 400.00 32.00 7 000.00 137.00 4 000. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.00 4. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 5.00 500.75 1 198.50 1 405.71 1.25 3 500.51 11.43 5 000.00 7 000.22 6.00 90.

5 dan pedagang propinsi sebesar Rp 1 395. maka dapat dilihat persentase pangsa marjin (Tabel 21) dan persentase net marjin (Tabel 22) yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masing-masing saluran tataniaga. Pangsa marjin digunakan untuk melihat besarnya marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. pangsa marjin diperoleh dari marjin tataniaga masing-masing lembaga dibagi total marjin tataniaga dalam bentuk persen. Secara keseluruhan marjin tataniaga di setiap saluran tataniaga di kabupaten Cianjur cenderung tinggi. hanya penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul.77 pada pedagang propinsi dan pedagang kabupaten masing-masing sebesar Rp 1 500 per kilogram. pada pedagang propinsi Rp 1 245.5 dan pedagang pengecer sebesar Rp 423 per kilogram.5 per kilogram. Pangsa Marjin Berdasarkan sebaran marjin tataniaga kedelapan saluran tataniaga di atas.5 pada pedagang kabupaten.5 sampai Rp 104. 6.5 per kilogram dengan alokasi terbesar untuk biaya transportasi dan penyusutan. Keuntungan terbesar sebesar Rp 1 405. Saluran tataniaga 8 merupakan saluran yang tujuan pemasaran kedelai sama dengan saluran tataniaga 5.2 Pangsa Marjin dan Net Marjin a. pedagang propinsi sebesar Rp 1 400 dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 per kilogram. Biaya tataniaga berkisar antara Rp 94. Total biaya tataniaga sebesar Rp 326 per kilogram dengan biaya terbesar pada pedagang propinsi.4. Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang kabupaten sebesar Rp 1 405. Total marjin tataniaga yang diperoleh Rp 3 400 dengan alokasi terbesar pada pedagang kabupaten sebesar Rp 1 500. Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan .

12 44.37 50.00 Saluran tataniaga lima merupakan saluran terpanjang dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas yaitu melibatkan empat pelaku pasar.86 50. Tabel 21 Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 40.00 100. Sebaran pangsa marjin pada saluran ini cenderung belum merata yaitu pedagang pengumpul sebesar 10.00 50. pedagang kecamatan sebesar 38.74 35.36 Pangsa Marjin (%) Pedagang Pedagang Pedagang Kecamatan Kabupaten Propinsi 59.42 59.00 100.00 14.00 100.00 100.79 11.18 Pedagang Pengecer 35.60 15.60 50. . Saluran tataniaga yang efisien ditunjukkan oleh perolehan marjin yang merata di setiap pelaku pasar.00 100.78 pada setiap pelaku pasar.36 persen.00 100.42 persen.00 41. Pada saluran tataniaga ini merupakan pangsa marjin terbesar dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas dan diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten.88 10.71 Total Pangsa Marjin 100.26 40.74 44.00 100.00 44.08 35. net marjin dihitung dari keuntungan tiap lembaga tataniaga dibagi total keuntungan tataniaga dalam bentuk persen.06 38. Pada saluran tataniaga satu dan dua terdapat dua pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul dan pedagang kecamatan/kabupaten.26 28.745 persen. Tabel 21 menginformasikan pangsa marjin terbesar terdapat pada saluran tataniaga satu dan saluran tataniaga dua dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur yang diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten yaitu masing-masing sebesar 59.

68 14.41 35.82 40.29 persen.52 Pedagang Pengecer 35. b.19 persen. enam dan tujuh cenderung sudah merata.60 29. terlihat dari pedagang pengumpul memperoleh 39. Tabel 22 Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Net Marjin (%) Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 39.24 39.24 persen dan pedagang kecamatan 60.19 43.76 Total Pangsa Marjin 100. Saluran tataniaga tujuh melibatkan pedagang kabupaten dan pedagang propinsi dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.21 11.00 . Net Marjin Tabel 22 menginformasikan sebaran net marjin pada saluran tataniaga satu dan dua cenderung belum merata. Pelaku pasar yang telibat pada saluran tataniaga enam adalah pedagang kabupaten dan pedagang pengecer dengan tujuan tataniaga kedelai konsumen di Kabupaten Cianjur.39 35.39 10. Sebaran net marjin pada saluran tiga.86 persen dan pedagang pengumpul sebesar 15.18 45.00 100. Tinggi marjin pada setiap pelaku tataniaga karena tingginya biaya tataniaga yang dikeluarkan.72 Pedagang Propinsi 44.76 44.00 100.79 pedagang propinsi sebesar 35.11 49. Saluran tataniaga enam dan tujuh merupakan saluran tataniaga tanpa melalui pedagang pengumpul.59 50.00 100. Saluran tataniaga lima yang merupakan saluran terpanjang.00 100. dan melibatkan dua pelaku pasar dengan penyebaran pangsa marjin yang sudah merata yaitu masing-masing sebesar 50 persen..29 Pedagang Kabupaten 60.00 100.33 49.37 persen.19 Pedagang Kecamatan 60.00 100. dan tertinggi pedagang kecamatan dan pedagang propinsi sebesar 43.76 persen pada saluran satu.41 13.96 50.00 100. net marjin terendah diperoleh pedagang pengumpul sebesar 10.

09 3 125.37 85.78 53.40 48. Hal ini karena tujuan pemasaran dari ketiga pedagang tersebut sudah ada.33 2.00 43.40 31.78 1 000.00 4.00 88.40 49.Persentase share pelaku pasar berdasarkan harga jual di tingkat pelaku pasar dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen . C = Share P.57 185.07 27.04 199.00 2. Kecamatan . artinya semakin tinggi marjin tataniaga maka bagian yang akan diterima petani semakin rendah.22 77.3 899.85 50.00 5.50 75.38 3 904. Tahun 2008 Saluran 1 Rp 2 3 4 5 6 7 8 % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Total Marjin 1 004.40 24.91 A 75.00 4.85 50.00 76.4. Farmer s Share berhubungan negatif dengan marjin tataniaga.92 71.00 B 85.00 43. Berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang dibahas.00 100. Tabel 23 Total Marjin.43 100.40 55.50 68.15 3 400.40 22. Pengumpul.40 24. Berbeda dengan pedagang pengumpul dan pengecer.29 409.00 3.00 D E F Ket: .40 52.89 72.37 77.09 3 074.33 4.78 53.93 1 219.50 1 404.06 326.43 88.07 21.89 100. pedagang kabupaten dan pedagang propinsi. B = Share P.37 105.86 Total Keuntungan 907.84 137.57 Total Biaya 97.00 46.43 100.A = Share Petani.12 279.21 3 404.08 3 495.00 100.3 Farmer s Share Farmer s Share digunakan untuk membandingkan harga yang dibayarkan konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase. Total Biaya.79 47.92 71.22 3 000.43 100. 6. perolehan net marjin berbeda-beda tergantung kepada siapa mereka menjual kedelainya.80 Pada setiap saluran tataniaga.18 2 801.00 19.00 48.00 22. maka dapat diketahui tingkat Farmer s Share yang diterima petani (Tabel 23). pelaku pasar yang memperoleh pangsa marjin dan net marjin yang nilainya cenderung merata adalah pedagang kecamatan.50 1 004. Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang.00 C 100.93 863.00 3.00 91.62 44.00 91.

4. F = Share P. Bagian terkecil terjadi pada saluran tataniaga lima yang merupakan saluran tataniaga terpanjang dalam tataniaga kedelai dari Kecamatan Ciranjang ke konsumen akhir. nilai yang tinggi artinya keuntungan yang diperoleh semakin tinggi . Rasio keuntungan terendah terdapat pada saluran tataniaga tiga pada tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 5.78 persen. 6.49. Kabupaten. Propinsi.22 sampai 77. Nilai rasio dapat dilihat pada Tabel 24. Hal ini menunjukkan posisi tawar petani masih lemah dibanding dengan pelaku tataniaga lainnya.D = Share P. Pengecer Nilai Farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada berkisar antara 44.87 per kilogram. Berdasarkan Tabel 23 diketahui nilai farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada terlihat masih rendah dibanding dengan bagian yang diterima pelaku tataniaga. Farmer s share terbesar terjadi pada saluran tataniaga enam yaitu sebesar 77. Nilai rasio ini memberikan arti bahwa setiap satu rupiah perkilogram biaya tataniaga yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 14.4 Rasio Keuntungan dan Biaya Tingkat efisiensi tataniaga dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga.81 .78 persen. Dilihat dari nilai Farmer s share yang diperoleh pada setiap saluran tataniaga dapat diketahui bahwa saluran tataniaga yang efisien adalah saluran tataniaga enam karena dilihat dari total marjin tataniaga yang dikeluarkan rendah. . E = Share P.87. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga paling tinggi terdapat pada saluran tataniaga tujuh dan delapan pada lembaga pedagang kabupaten yaitu sebesar 14.

67 (1.10) 6.18) 7. Tahun 2008 Lembaga Tataniaga Saluran Tataniaga 1 2 356.3 (19.36 4 356.35 1 245.60) 5.36 6.22 persen) dengan volume barang 26.33 (0.68) 48.33 (1.72) 12.00 (9.61) 13.00 (1.35) 14.35) 112.08) 94.00 (1.69) 7.47) 77.00 (7.00 (17.67 (1.87 1 405.41) 8.44) 6.33 Pedagang Kabupaten Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 7.33 (0.44) 6.50 (1.3 (21.36 1 381.04) 77.33 (13.33 (1.00 (1.64) 165.45) 48.74) 7.87 6 7 8 Pedagang Pengumpul Keuntungan 356.36 1 381.50 (21.50 (1.24) 57.00 (9.50 (20.60) 5. saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.67) 65.09) 48.00 (1.36 3 356.79) 154.07 (Rp) (8.69 1 388.00 (1.48) 48.50 (1.53 428.33 (1.67 (1.64 428.07 (5.00 (9.10) 5.00 (13.07 (8.82 Tabel 24 Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.67) 65.07 (7.67 persen.50 (17.45) 14.94 1 405.69 1 395.51) 72.00 (21.83) 11.5 Alternatif Saluran Tataniaga Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai.00 (1.00 (6.94 5 356.68) Biaya (Rp) 48.00 (1.26) 94.07) 7.50 (2.19) Rasio /C 11.36) 7.18) Rasio /C Pedagang Kecamatan Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 551.91) 48.393 1 235.50 (21.00 (2.25) 118. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki .51) 72 (1.79 435.48 523.00 (9.64 543.06 423.73) 118.47) 104.70) 11.4.49 9.07 (5.39) Rasio /C Pedagang Propinsi Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C Pedagang Pengecer Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C 435.

Alternatif saluran tataniaga yang juga dianggap efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masingmasing sebesar Rp 9. .30 per kilogram.83 farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.50 persen dan farmer s share sebesar 75.33 persen.50 persen. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.78 persen.54 per kilogram dengan volume kedelai 73. Saluran tataniaga satu dan dua akan efisien jika petani berlokasi jauh dari pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten karena tidak mengeluarkan biaya angkut. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.35 dan Rp 8.

Petani hanya melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fisik. Proses tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul. pedagang kecamatan. pedagang propinsi dan pedagang pengecer. Di Kecamatan Ciranjang kegiatan budidaya kedelai masih belum dilakukan dengan intensif 2. Saluran tataniaga yang terbentuk ada delapan saluran tataniaga kedelai dengan setiap pelaku pasar melakukan fungsi tataniaga seperti fungsi pertukaran. pedagang kabupaten. Posisi tawar yang miliki petani masih rendah dibanding pelaku tataniaga.1 Kesimpulan 1. Produktivitas kedelai di kecamatan Ciranjang 1. sedangkan di tingkat pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten harga ditentukan oleh pedagang besar propinsi. sehingga keuntungan lebih besar pada level pelaku pasar yang lebih tinggi. fungsi fisik dan fungsi fasilitas.28. Usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang pada saat kebijakan tarif impor ditiadakan secara ekonomis masih menunjukkan kelayakan untuk dikembangkan karena memberikan nilai R/C rasio sebesar 1. Sistem pembayaran . Biaya usahatani kedelai paling besar dialokasikan untuk benih dan pupuk.84 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Penentuan harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul ditentukan oleh pedagang besar.28 artinya setiap masukan untuk usahatani kedelai memberikan penerimaan sebesar Rp 1.37 ton per hektar. 3.

Pengusahaan budidaya kedelai yang belum dilakukan dengan intensif oleh petani sehingga hasil yang diperoleh masih rendah memerlukan pembinaan lebih lanjut oleh petugas penyuluh pertanian. . Petani dalam melakukan budidaya kedelai sebaiknya membuat perencanaan penanaman sehingga musim tanam berikutnya tidak terganggu dan panen polong muda dapat dihindari. agar pendapatan petani dapat meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. 4. farmer s share paling tinggi sebesar 77. Hal ini terlihat dari perolehan total marjin yang paling rendah yaitu Rp 1 000. Petani dalam memasarkan hasilnya sebaiknya berkelompok sehingga dapat dijual langsung ke pedagang kabupaten dengan harga yang lebih tinggi dan biaya transportasi dapat ditanggung bersama.2 Saran 1.67 persen. 7.30. 2. Saluran tataniaga kedelai yang memberikan keuntungan adalah saluran tataniaga enam dengan volume 26.78 persen dan B/C ratio sebesar 6.85 yang terjadi umumnya nota dan tunai. Kerjasama antara pelaku pasar umumnya dalam bentuk pinjaman modal. saluran tataniaga ini juga memperlihatkan pangsa marjin dan net marjin yang cenderung sudah merata di setiap tingkat lembaga tataniaga. Selain itu.

Nurmanaf. Fakultas Pertanian. Binapura Aksara. Nuryanti. Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. Jalur Pemasaran Kedelai di Daerah Transmigrasi. Ed 11. Penebar Swadaya. Penguatan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Mendukung Pengembangan Agribisnis Kedelai. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Jakarta. 2000. 2007. Institut Pertanian Bogor. Manajemen Pemasaran. Puspodewi. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Jambi. et al. A M. Market and Price Analysis. et al. Dahl C D and Hammond J W. R. 1987. 1983. Pengantar Tataniaga Pertanian. Pengantar Mikroekonomi Jilid 2. Inc. Tataniaga Hasil Perikanan. A R. Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kedelai dengan Kebijakan Tarif Optimal. . Boyd. Manajemen Pemasaran. 1982. P. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. FAE Vol 5. 2007. H W. Walker O C. Rachman. IPB Press. Ekonomi Pertanian ( Pengantar. Departemen Pertanian. Jakarta Barat. 1977. Ed 2. Pemerintah Kabupaten Cianjur. Jakarta. McGraw-Hill Book Company. Larreche J C. 2007. Jakarta. 2004. Inc. Prentice Hall. S dan R Kustiari. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif serta Dampak Kebijakan Pemerintah Pada Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Boyolali. Bogor. Jawa Tengah.86 DAFTAR PUSTAKA Azzaino. Fakultas Pertanian. A dan Diah R. 2005. 1996. R. Teori dan Kasus). Lipsey. Laporan Tahunan 2001-2006. Kedelai dalam Kebijaksanaan Pangan Nasional dalam Ekonomi Kedelai. H. Bogor. 1997. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Institut Pertanian Bogor. The Agricultural Industries. Erlangga. Hal 45-53. Elizabeth. Z. New Jersey. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Rohim. Bogor. 2007. D. Universitas Indonesia. Hanafiah dan Saefuddin. Kotler. Skripsi. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

1992. UI Press. Aspek Produksi dan Tataniaga Kedelai di Jawa Timur. Soekartawi. Fakultas Pertanian. 1993. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Hal 8-18. Jakarta. Departemen Pertanian. Rusastra. Kedelai. 2004. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Budidaya dan Pascapanen. et al . Saptana. 1995. 2006. Permintaan Impor Kedelai Indonesia dari Amerika Serikat dan Aliran Impor Kedelai ke Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi Pertanian. Skripsi.87 Rukmana. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Yogyakarta. Hal 67-77. Departemen Pertanian. R dan Yuyun Y. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Analisis Usahatani. Surifanni. Aspek Produksi dan Pemasaran Kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri). FAE Vol 10 dan 11. D M. Kanisius. .

.

90 ANALISIS USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN CIANJUR. JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PETANI KEDELAI Nama Petani : _______________________________ Desa : _______________________________ Kecamatan : _______________________________ Kabupaten/Kota : CIANJUR .JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Sepeda .Hand sprayer .1. Penguasaan Aset Pertanian a.2.LAINNYA TOTAL . KARAKTERISTIK PETANI 1.Sepeda motor ._________________ 2. Pekerjaan utama : __________________________ d. GADAI 5. SAKAP 3. Pekerjaan sampingan : __________________________ e. SEWA 4._________________ Ket : 1) Status kepemilikan Jumlah (unit) Kapasitas pakai Ket. Ternak ._________________ 3. Identitas Kepala Keluarga a.Pompa Air .Kambing/domba .Lantai Penjemuran .Sapi/kerbau . Umur : ________ tahun b. Alat Pertanian . Jumlah anggota keluarga (di luar KK) : _________ Orang f. Penguasaan aset lahan Luas (ha) Status Penguasaan Sawah Tegal Kebun Pekarangan Kolam Lainnya Total (ha) 1. Penguasaan alat pertanian. Pendidikan : ________ tahun c. Sarana Transportasi .91 I.1) b. Anggota keluarga yang membantu usahatani : _________ Orang 1.Kendaraan roda 4 . transportasi dan ternak Jenis asset yang dimiliki 1.Perontok kedelai .MILIK 2.

UREA .3. Masukan tenaga kerja usahatani kedelai Jenis Kegiatan 1. Penanaman a.4.5. Pola tanam per tahun : ________________________ 2.92 II. Jenis Varietas kedele : ________________________ 2.1. Pengolahan tanah a.Pupuk Kandang . Jumlah tenaga kerja -Tenaga Ternak . Cara tanam b. Pestisida .NPK . Cara/frekuensi b. fungisida._________________ . Luas persil yang dianalisis : _______ ha Pilih persil yang ditanam kedele 2.___________________ 3.KCL .Manusia Keluarga Nilai HOK (rp) Luar keluarga Nilai Borongan (rp) (rp) HOK -P -W -P -W . Jarak tanam kedele: : ________________________ Masukan usahatani kedelai Jenis Sarana Produksi Jumlah (Kg/Lt) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 1. rodentisida._________________ 1) Termasuk insektisida.Manusia 2.___________________ 4. dll. 2.___________________ . Benih/Bibit 1) 2.2.TSP/SP-36 . Jumlah tenaga kerja .ZA . Lainnya . Pupuk . MASUKAN DAN PENGELUARAN USAHATANI KEDELAI 2.

Manusia 4. Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja .6. Cara/frekuensi b.Manusia Ket : 1) Keluarga Nilai HOK (Rp) HOK Luar keluarga Nilai Borongan (Rp) (Rp) -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W Pupuk kandang dan pupuk buatan 2. Penyiangan/dangir a. Sewa pompa 2. Pengendalian HPT a. Jumlah tenaga kerja .93 Lanjutan Tabel 2. Pajak lahan yang dianalisis 6. Jumlah tenaga kerja . Cara/frekuensi b. Panen/angkut a.Manusia 3. Iuran desa 4. (Masukan tenaga kerja usahatani kedelai) Jenis Kegiatan 3.Manusia 5. Cara/frekuensi b. Cara/frekuensi b. Pemupukan1) a. Lainnya: _________________ Nilai (Rp) . Jumlah tenaga kerja .Manusia 6. Jumlah tenaga kerja . Pengeringan a.Manusia 8. Pengairan a. Cara/frekuensi b. Perontokan a.5. Iuran kelompok tani 3. Jumlah tenaga kerja . Biaya lain-lain untuk usahatani kedelai (Rp/musim) Uraian 1. Cara/frekuensi b.Manusia 7. Jumlah tenaga kerja .

1. 5.NPK . OCE kering b. Polong basah c. 2. Pengadaan sarana produksi: ___________________________________________________________________ b. pupuk dan pestisida) yang dibutuhkan tetapi sulit diperoleh:: ___________________________________________________________________ _____________________________________________________ 3. 3.Lainnya: ________ 2) Cara perolehan: 1. Sebutkan permasalahan utama yang dihadapi bapak dalam usahatani kedelai dari aspek: a. Lainnya: _________ 3. 2. 4. Pupuk . 3.7. Total produksi dan nilai produksi Bentuk produksi a.ZA . 3. Sebutkan jenis-jenis sarana produksi (Benih.94 2. Lainnya Total III. Lainnya: _______________ _______________ Sumber1) Cara2) mendapatkan Harga (Rp/satuan) Bunga (%/th) Volume (Kg/Ikat) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Ket : 1) Sumber: 1.2. INFORMASI USAHATANI KEDELAI Sumber dan cara perolehan sarana produksi Jenis Sarana produksi 1.TSP/SP-36 . Benih 2.Pupuk Kandang 3. 4. Pestisida ______________ ______________ 4.3. Bayar tunai.UREA . Yarnen. Pedagang hasil. Kredit/pinjam.KCL . Iklim (kekeringan) . Sendiri. Kios saprotan. Petani lain.

Lainnya: ___________________________________________________________________ . Pemasaran (harga jual) ___________________________________________________________________ e.95 ___________________________________________________________________ c. Gangguan HPT (Hama Penyakit Tanbaman) ___________________________________________________________________ d.

Barang diterima di tempat penjual. 2.1. Lainnya Total (a+b+c+d): 2. 2=supplier. Lainnya: _________ 4) Cara pembayaran: 1. 3 =Di tempat pembeli. 3. 4 =Lainnya: __________ 3) Cara transaksi: 1. OCE kering d. 6. Biaya angkutan 3.96 IV. 1) Satuan Jenis pembeli 1) Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi2) transaksi Cara 3) transaksi Cara4) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Ket : Jenis pembeli: 1=pedagang besar. Lainya: __________ . 3=pedagang pasar induk/tradisional. 2.Lainnya: ____________ 2) Lokasi : 1 =Di kebun. TK.dsb. Retribusi 5. Volume dan nilai penjualan (rataan satu bulan) Uraian 1. 4. 4. PEMASARAN KEDELAI 4. Penjualan: a. Karung. 3.Bayar tunai.wadah. Bayar dimuka. TK Bongkar-muat 6. 2 =Di tempat penjual.Bayar kemudian. 5=Pedagang pengecer.Lainnya 7. Di tempat pembeli.

Bagaimana upaya Bapak agar selalu memperoleh harga jual yang menguntungkan? _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5.1. Sebelum melakukan penjualan hasil. petani dapat memilih kemana saja sesuai keinginan: 1.3. Kelompok tani 4. Petani lain 2. Apakah dalam penjualan hasil. eksportir) ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Ya 2. Apakah ada kerjasama antara petani dengan pihak lain termasuk pedagang dalam hal pemasaran hasil : 1. Lainnya: ________ 5. Ya 2. Pedagang 3. Menjual langsung Supermarket: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ d Menjual ke pasar pengecer: _________________________________________________________________ _____________________________________________________ 5.97 V.2.5. Tidak Bila ya. jelaskan cara kerja sama tersebut: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ .Ya 2.Tidak Jelaskan: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5.4. Apa kendala petani untuk dapat akses kepada pelaku pemasaran tertentu: a. Menjual ke Supplier (Supermarket. apakah Bapak memperoleh informasi harga? 1. dari mana sumber informasi tersebut: 1. Menjual ke Pedagang Besar: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ b. INFORMASI PEMASARAN 5. Tidak Jika ya.

Apakah bapak melakukan pinjaman untuk kebutuhan modal usahatani: 1.98 5.Kios saprotan . isikan: Sumber modal/ Musim Tanam 1. Kredit Formal . Ya.Pelepas uang .Pedagang hasil .Famili Jumlah (Rp) Bunga (%/th) Lama pinjaman (bln) Total pengembalian (Rp) .Pegadaian .Kredit Program 2. Kredit Informal .Bank . 2.6.Tidak Bila ya.

KABUPATEN CIANJUR. Lainnya: ________________________ Nama Pedagang Bentuk Usaha Desa/Lokasi Kecamatan Kabupaten/Kota : _______________________ : _______________________ : _______________________ : _______________________ : CIANJUR – JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . Pedagang Besar 4. JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PEDAGANG KEDELAI Jenis Pedagang Pilih yang tepat 1. Supplier 5.99 ANALISIS TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. Pedagang Pengecer 6. Pedagang Pengumpul Luar Desa 3. Pedagang Pengumpul Desa 2.

Alat timbang 5. Umur responden 1. Fasilitas yang dimiliki pedagang: Jenis Fasilitas 1. Mulai kegiatan dagang : Tahun __________ 1. Sepeda motor __________________ __________________ __________________ __________________ Jumlah (unit) Total Total Nilai (Rp) .100 I. Gudang simpan 2.1.3.4 Jenis produk lain yang diperdagangkan selain kedelai: _________________________________________________________________ 1. Pendidikan : _________ Tahun : _________ Tahun 1.2. Kendaraan barang 8.5. Kendaraan roda dua 6. Kendaraan roda empat 7. IDENTITAS PEDAGANG 1.

Biaya lain (Rp) Total biaya (3 s/d9): Ket : 1) Isikan: 1 = Di temapat penjual. Bantuan modal _______ ____________________ b. Lainnya: _____________ _______ ____________________ .Volume (Ku) .4. Pengemasan (Rp) 8. TK lainnya (Rp) 7. Retribusi&lainnya (Rp) 9. TK bongkar-muat (Rp) 6. Besar Kab/Prop Pasar Induk Lainnya a.Volume (Ku) .Nilai (Rp) b.Harga (Rp/ku) .Volume (Ku) . Bagaimana usaha responden untuk membina kelangsungan hubungan kerja dengan petani pemasok bahan baku: Jenis pembinaan Ya/Tidak Penjelasan a.Harga (Rp/ku) . Lainnya .3.Di tempat pembeli.Nilai (Rp) 2. Biaya angkut (Rp)2) 4. 2.Harga (Rp/ku) . 3. Kelancaran pembayaran _______ ____________________ d. Ada kakitangan di lapangan _______ ____________________ e. Hadiah _______ ____________________ c.(Rp) 5. dsb. Lainnya: __________ 2) Termasuk pungutan/retribusi di jalan/di tempat penjualan 2. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok pedagang (rataan per tahun) Sumber/pemasok komoditas Pembelian bahan baku Pengumpul Desa Pengumpul luar desa.101 2. OCE kering . Karung/wadah. Tempat penerimaan barang 1) 3. Pdg.Nilai (Rp) Total Pembelian (a s/d d): .

Petani: _______ %. Retribusi 5.Barang diterima di tempat penjual. Lainnya = _______ %. Lainya: __________ . 4. Volume dan sumber perolehan bahan baku rataan per bulan a. Pedagang = _______ %. Lainya: _________ 3) Cara pembayaran: 1.Lainnya 7. ASPEK PENGADAAN/PEMBELIAN BAHAN BAKU KOMODITI KEDELAI 2. Karung. 3 = di jalan. 2. Pembelian: a.Bayar kemudian.wadah. 4. Bayar dimuka.Bayar tunai. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok petani (rataan per bulan) Uraian 1. 2.102 II. 2 = di rumah petani. Bentuk OCE b. 2.Total perolehan: ________ Ku/tahun b. Lainnya Total (a+b+c+d): 2. TK. Sumber perolehan : Sendiri = _______ %.1. Di tempat pembeli. 1) Satuan Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi1) transaksi Cara 2) transaksi Cara3) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Rp xxx xxx xxx Lokasi : 1 = di kebun. 3.dsb. TK Bongkar-muat 5.2. Biaya angkutan 3. 3. 4 = di rumah pedagang 2) Cara transaksi: 1.

Paking. Jenis penanganan hasil 3) xxx xxx 4. Biaya penanganan hasil Jenis kegiatan 1. 2.103 III. Tenaga Kerja xxx xxx b. Penyusutan xxx xxx _________________ xxx xxx _________________ xxx xxx Total (4): xxx xxx Ket : 1) Sesuai volume pembelian (rataan per bulan) 3) Perubahan volume karena kegitanan penanganan hasil (sesuai permintaan pasar) 3) Kegiatan pengolahan: 1. Produk Pembelian 1) Kelas OCE Lainnya Volume (Ku) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 2. 3.1. Grading. Biaya penanganan hasil (Rp): xxx xxx a. BIAYA PENANGANAN HASIL SAMPAI SIAP JUAL 3. Lainnya: _______ . 5. 4.Sortasi. Hasil penanganan (siap jual) 2) OCE Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 3.Labeling. Wadah/Paking xxx xxx c.

3. 5.Panjar. 4=Hubungan kekeluargaan. Kelompok tani/kemitraan 7.Lainnya____________________ Bentuk hasil 1) Volume (kw) Tempat penyerahan 2 Cara jual3) Waktu jual 4) (HSP) Cara Bayar5) Biaya penjualan6) Alasan memilih pembeli 7) . 2.Byar kemudian. Cara pemasaran hasil Jenis Pembeli 1.Ditimbang. dsb.Lainnya ________________ 4) Waktu jual _______ HSP = Hari setelah panen 5) Cara bayar: 1. bongkar muat. 4. 2. karung.Lainnya: _________ 2) Tempat penyerahan barang: 1.Ijon. Pedagang besar 6.Di sawah. 7) Alasan memilih pembeli: 1=Hubungan kemitraan. PEMASARAN KEDELAI 4. 3. Pengumpul luar desa 3.Pengumpul desa 2. 3.1. 3.Tebasan. 3=Ikatan pinjaman kredit.Di rumah petani.Lainnya________________ 6) Biaya penjualan: mencakup ongkos angkut. 4.Lainnya_____________ 3) Cara jual: 1. 2.Di pasar. Lainnya: _____________ Keterangan: 1) Kualitas: 1. 6. 2.OCE.104 IV. 2= langganan. 5=Harga beli paling mahal.Basah. retribusi.Di tempat pembeli. tenaga kerja.Tunai. 4.

PERMASALAHAN PEDAGANG 5. Angkutan/transportasi: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ 5. Permasalahan dalam pengadaan/pembelian kedelai: a. Kecukupan jumlah: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ b. Saran Kebijakan responden agar pemasaran kedelai akan lebih baik: _____________________________________________________________ ________________________________________________________ . Kualitas hasil: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ d.105 V.2.1. Kontinyuitas suplai: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ c.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful