ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

Oleh NORA MERYANI A 14105693

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN NORA MERYANI. Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di bawah bimbingan RAHMAT YANUAR. Peranan sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia, sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai perkapita pertahun mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1996-2005, rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.3 juta ton pertahun. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Kecamatan Ciranjang merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Kenaikan harga kedelai impor memberikan dampak yang positif terhadap budidaya kedelai di dalam negeri. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat pendapatan usahatani kedelai, mengkaji saluran tataniaga, struktur pasar dan permasalahan yang ada di setiap pelaku pasar dan menganalisis tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Hasil analisis usahatani dan tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani, sebagai pengambil keputusan. Karakteristik petani mencakup umur, tingkat pendidikan, luas dan status penguasaan lahan, dan kepemilikan alat pertanian serta ternak. Umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun, mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.57 tahun dengan rataan pendidikan 4.3 tahun. Rata-rata luas sawah yang diusahakan sebesar 0.778 hektar per petani dan mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.00 persen). Petani yang memiliki hand sprayer (36.67 persen), biaya sewa hand sprayer Rp 5 000 per hektar, sewa pompa air Rp 20 000 per hektar, dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000 per tiga kuintal kedelai. Petani yang memiliki usaha sampingan hewan ternak sebesar 10 persen. Di Kecamatan Ciranjang, rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1.37 ton per hektar, sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit, pupuk dan pestisida, upah tenaga kerja, sewa alat dan pajak. Biaya usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua

iii

(Rp 3 312 778.73 per hektar). Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Berdasarkan analisis usahatani kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda, total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.84 dan total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.73. R/C rasio yang diperoleh petani yang panen polong tua (1.35) dan petani yang panen polong muda (1.27). Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.27 untuk polong muda. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, ada dua saluran tataniaga yaitu saluran tataniaga kedelai polong muda dan saluran tataniaga kedelai polong tua. Saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai tujuan yang sama, yaitu dari petani kedelai dibawa ke pedagang pengumpul, kemudian kedelai tersebut dibawa ke pedagang pasar induk parung. Di pedagang pasar induk, kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan konsumen akhir. Di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga polong tua yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Struktur yang dihadapi antara petani dan pedagang pengumpul, petani dan pedagang kecamatan, serta antara petani dan pedagang besar adalah persaingan dan oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah persaingan dan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang kecamatan/kabupaten adalah oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi antara pedagang besar (kecamatan dan kabupaten) dan pedagang propinsi, dan antara pedagang besar dan pedagang pengecer mengarah ke pasar oligopoli dan persaingan. Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai, saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.22 persen) dengan volume kedelai 26.67 persen. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.30 per kilogram. Alternatif saluran tataniaga yang dianggap juga efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua dengan volume kedelai 73.33 persen. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masing-masing sebesar Rp 9.35 dan Rp 8.54 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.50 persen dan farmer s share sebesar 75.50 persen.

KABUPATEN CIANJUR.ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. JAWA BARAT Nora Meryani A 14105693 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Manajemen Agribisnis PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Ir Didy Sopandie. Kabupaten Cianjur. MSi NIP. : Nora Meryani : A 14105693 Menyetujui Dosen Pembimbing Rahmat Yanuar. M. 131 124 019 Tanggal Kelulusan: . SP. Dr.Judul Penelitian Nama Mahasiswa Nomor Pokok : Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.Agr NIP. 132 321 442 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Jawa Barat.

KABUPATEN CIANJUR.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. JAWA BARAT INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. September 2008 Nora Meryani A 14105693 . Bogor.

K’Dayat. Ria. RT Siregar. SP. Ungky. dorongan dan masukan-masukan yang diberikan selama penelitian dan penulisan. love you all. 4. 2. Arief Karyadi Uswandi. 7. Fida. Are The. Ir Yayah K Wagiono. Rahmat Yanuar. Tanti Novianty. 6.UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini: 1. Bapak Dadi. . SP selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi. Y’Ayon. MSi selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan. saran dan persahabatan yang indah. Ewie dan Ucie yang telah memberikan kritik. dan D’Anda yang sudah memberikan do’a dan dorongan. dukungan dan kasih sayang yang tiada habisnya yang diberikan kepada penulis selama ini. Bapak Asep Usman dan Teh Rina dan yang lainnya. 5. Mini. atas bantuannya dalam memperoleh data primer dan data sekunder. Bapak Usep. MSi selaku dosen evaluator yang telah memberikan kritik dan masukan. Y’Merry. M’Andi R. Papa dan Mama atas segala do’a. Bapak Rosidi. Lala. MEc selaku dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi ini. Mirror. Bapak Acep. 8. 3. sehingga skripsi ini dapat selesai. SP. Bapak Asep.

amien. Dian. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Wildan dan teman seperjuangan lainnya atas persahabatan dan dukungan kepada penulis selama ini. Arfan. 10. Santi. Aputz. September 2008 Nora Meryani . Edy. Ola. Zibril.viii 9. Indra. Mira. Bogor. Sandra. Fajar. Penulis mendo’akan semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya dan senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya.

......... Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai ..... Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah ................ Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar ............... Luas Panen..................... Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007....ix DAFTAR TABEL No 1..... 8............ 14............................................ 9............................. 17. 5... Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 . Luas Tanam............ Luas Tanam......................... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian 15... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006................... Biaya Pupuk.. 11........ 10.... Propinsi Jawa Barat......................................... Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006................................... Luas Panen.. Luas Tanam... Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 ............... Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai............ Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten.. 12.. Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah ...... 6. Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak... 2.... Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli ...... 7............................... Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur .............. Pestisida................ Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu .. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai............................................. Luas Panen.... 13.... Tahun 2006 ............................ 18.... 4..... Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan ........................................... 16....................... Halaman 2 3 4 4 5 20 26 36 42 47 48 48 49 49 50 53 55 61 ........... 3......

.....x 19........ 22........................ Tahun 2008. 20............. Total Biaya.. 23..... Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam......... Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga......... Dua.... Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang . Tahun 2008 .. 72 76 78 79 80 82 ............. Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang......................... Total Marjin....... Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang ........ Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.... Tiga................................. Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang...................................... Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga ....... 24...... 21................

.................................................................... 3.......... Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua......................................... 2... Halaman 27 33 58 60 DAFTAR LAMPIRAN No 1....................... Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda.......................xi DAFTAR GAMBAR No 1.. 2.................. Margin Tataniaga .................................... Kuisioner Analisis Tataniaga Kedelai . Halaman 89 96 ................................................................. Kuisioner Analisis Usahatani Kedelai ..................................... Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai ....... 4.............

2007. http://www. kacang tanah.1 I PENDAHULUAN 1.4 persen terhadap pertanian secara keseluruhan. Sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. 7 Mei 2008. Peranan tersebut terlihat dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 41. Tanaman pangan meliputi padi. 1 2 Bank Indonesia. lemak.8 persen pada tahun 2007. Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengan.go.balitbangjateng. Kedelai merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya. 17 Mei 2008.bi. http://www. mengandung zat anti oksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Subsektor tanaman pangan mempunyai peranan sekitar 49. Mekanisme Pengadaan Pangan dan Pupuk di Propinsi Jawa Tengah. kacang tunggak dan kacang koro).id. serelia. 2008.id. Produk Domestik Bruto. Tanaman pangan merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan makro manusia terhadap karbohidrat. ubi-ubian dan kacangkacangan (kedelai.2 persen maupun dalam perekonomian. . dan protein yang berasal dari bahan pangan nabati. sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. jagung.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan regional. seperti yang tercermin pada peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDB sekitar 13. kacang hijau.go.1 Sektor pertanian yang mempunyai peranan yang strategis dan penting adalah sektor tanaman pangan.2 Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung.

7 persen per tahun. . 2008 Setiap tahun rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.3 Konsumsi kedelai per tahun cenderung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Tabel 1 Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Produksi* (ton) 723 480 808 350 746 610 592 381 Pertumbuhan (%) 11. sedangkan volume ekspor tumbuh rendah yaitu 1. Sementara kondisi produksi kedelai nasional berfluktuasi (Tabel 1). oncom. Pada tahun 2005 meningkat 9.2 persen. Negara yang menjadi tujuan ekspor kedelai terbesar adalah Australia. minyak.2 Konsumsi penduduk Indonesia terhadap kedelai berupa hasil olahan (seperti tempe. kecap. dan bahan baku pakan ternak. susu kedelai.go.2 8.id.4 Sumber : *BPS.deptan.4 dan 7. India. tahu.3 juta ton pada periode tahun 1996-2005 (Tabel 2).9 persen per tahun. keripik). 2008 **Badan Litbang Pertanian. selanjutnya konsumsi meningkat rata-rata 8.litbang. Pada tahun 2007 penurunan produksi sampai 20. http://www.7 persen dari tahun sebelumnya. 31 Januari 2008. Jepang. 2002. Deptan. Kedelai.7 Konsumsi Total** (Ton) 2 015 000 2 122 000 2 179 000 2 234 000 Pertumbuhan(%) 9. sehingga mengalami peningkatan nilai tambah tinggi. Volume dan nilai impor kedelai masingmasing tumbuh sebesar 8.6 -20. Hal ini mengindikasikan peningkatan ketergantungan terhadap kedelai impor. yogurt. Tetapi nilai ekspor tumbuh tinggi sebesar delapan persen per tahun. mentega. Hal ini menunjukkan kedelai yang diekspor berupa produk olahan.2 persen per tahun. sehingga pada tahun 2007 mencapai 2 000 000 ton. 3 Departemen Pertanian. tauco.0 8. Saudi Arabia. Netherland dan Singapore.7 -7.

Sumedang. (b) Perluasan areal tanam. Cianjur. 2008. 4 Februari 2008. http://ditjentan. Ekspor Kedelai Pernegara Tujuan. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi non farm atau petani yang beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. dan (d) Penguatan kelembagaan dan dukungan pembiayaan. Sukabumi.3 Tabel 2 Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Volume (ton) 1 705 583 1 532 112 1 033 802 2 227 321 2 568 565 2 728 358 2 716 641 2 773 668 2 881 735 2 982 986 3 121 334 Impor Nilai (000 USD) 530 582 518 860 273 776 475 158 558 737 611 140 591 121 706 753 967 957 801 779 838 390 Ekspor Volume (ton) Nilai (000 USD) 7 596 12 013 21 987 13 812 13 474 17 109 8 279 8 789 3 606 4 490 5 808 6 569 6 018 6 211 6 080 8 406 Sumber : Deptan.deptan. 2008. Tasikmalaya. Ciamis. Team TP. (c) Pengamanan produksi. Indramayu. 1 September 2008. yaitu (a) Peningkatan produktivitas. Daerah yang berpotensi untuk pengembangan kedelai di Jawa Barat adalah Garut. . 2006). walaupun produksi yang dihasilkan cenderung mengalami penurunan (Tabel 3). seperti jagung dan sayuran.id/bdspweb.deptan. Kuningan dan Majalengka (Dinas Pertanian Jawa Barat. http://database.go. 20074 Program Peningkatan Kedelai Nasional Tahun 2008 untuk mendorong peningkatan produksi kedelai nasional dilakukan melalui beberapa strategi. 5 Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia. 4 5 Departemen Pertanian. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai.go.id.

19 11. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No 1 2 3 4 Keterangan Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2001 6 451 6 672 7 952 1.14 2006 4 518 4 460 6 086 1.4 Tabel 3 Luas Tanam.09 2002 5 844 5 812 6 788 1. Luas tanam. luas panen. Selain itu.10 2003 1 434 1 563 1 020 1. 2006 (diolah) Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut.60 13.25 2005 4 591 5 016 6 710 1. Tabel 4 Luas Tanam.40 15. 2007 (diolah) . harga gabah dan harga beras di pasar mengalami peningkatan akibatnya banyak petani yang melakukan pola tanam padi-padi-padi.80 Sumber: Dinas Pertanian Jawa Barat. Propinsi Jawa Barat.34 12.45 14.93 14.36 12. Luas Panen. tetapi pada tahun 2003 mengalami penurunan.14 2004 6 926 6 617 10 125 1. tahu dan tempe).95 13. Luas Panen. Produksi kedelai di Kabupaten Cianjur cenderung mengalami peningkatan. Kabupaten Cianjur memiliki prospek pengembangan kedelai. Hal ini terjadi karena pada tahun 2003. produksi dan produktivitas kedelai di Kabupaten Cianjur periode tahun 2001 – 2006 cenderung berfluktuatif (Tabel 4).25 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. baik sebagai produk primer maupun sebagai produk sekunder (olahan) yang telah lama dikembangkan di Kabupaten Cianjur (seperti tauco. Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Garut Cianjur Ciamis Sukabumi Indramayu Tasikmalaya Sumedang Kuningan Majalengka Luas Tanam (Ha) 5 979 4 499 2 750 1 419 1 156 1 128 937 837 657 Luas Panen (Ha) 5 891 3 034 2 395 927 1 095 895 903 761 614 Produksi (Ton) 7 925 4 431 3 336 1 335 1 682 1 159 1 191 863 786 Produktivitas (Kw/Ha) 13.

50 119. Sentra produksi di wilayah selatan adalah Kecamatan Sindang Barang.173 1.5 Luas tanam kedelai pada tahun 2007 adalah 4 429 ha.381 1.83 995.176 1.157 1. Demikian pula luas panen kedelai tahun 2007 adalah 1 506 ha. Sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur terdapat di beberapa kecamatan di wilayah utara dan wilayah selatan (Tabel 5). Sukaluyu dan Bojong Picung. Penurunan ini disebabkan pada periode tanam kedelai tahun 2007 terjadi kekeringan (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.67 101.50 Luas Panen (Ha) 1 237.32 ton per hektar. sedangkan kontribusi dari wilayah tengah terutama Kecamatan Tanggeung dan Kadupandak tidak terlalu besar (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.00 201.00 Produksi (Ton) 1 736.67 165.33 1 145.97 persen dibanding tahun 2006.17 881. sehingga ada penurunan luas panen sebesar 66.372 1.17 349.67 1 272. Produksi kedelai tahun 2007 sebesar 1992 ton sehingga terjadi penurunan sebesar 67. 2007 (diolah) .83 1 482.83 103.50 184. Tabel 5 Luas Tanam.141 1.00 297.33 178. Cidaun dan Leles.60 1 072. Kecamatan di wilayah utara.83 224.23 persen dari tahun 2006.180 1 2 3 4 5 6 7 8 Ciranjang Sukaluyu Bojong Picung Tanggeung Kadupandak Sindang Barang Cidaun Leles Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.00 276. namun pada tahun 2007 Kecamatan Sukaluyu produksi kedelai mengalami penurunan. sentra produksi kedelai periode tahun 2001-2006 adalah Kecamatan Ciranjang.27 persen. Luas Panen.50 Produktivitas (Ton/Ha) 1. sedangkan produktivitas hasil tahun 2007 sebesar 1.33 261.338 1. 2007). Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No Kecamatan Luas Tanam (Ha) 1 164. 2007).50 194. sehingga terjadi penurunan luas areal tanam sebesar 1.83 202.17 218.

yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai melakukan pengurangan jumlah produksi dan ukuran produknya karena tingginya biaya produksi. di dalam negeri harga kedelai eceran mencapai Rp 3 450/Kg dan terus naik mencapai Rp 7 500/Kg. sedangkan bagi petani hal ini menjadi pendorong untuk kembali menanam kedelai.2 Perumusan Masalah Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. sehingga konsumen sulit .6 Budidaya kedelai di Kabupaten Cianjur merupakan tanaman cash crop yang umumnya diusahakan pada lahan sawah irigasi dan sebagian kecil diusahakan pada sawah tadah hujan dan lahan kering. (c) adanya pihak atau institusi atau organisasi yang menangani dengan baik karena mendapat insentif yang besar. Awal Januari 2007. (b) peraturan yang memperbolehkan hal tersebut. Kedelai impor dapat membanjiri pasar kedelai dalam negeri disebabkan hal-hal sebagai berikut: (a) adanya pasar yang besar sampai ke tingkat desa. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk. Dampaknya produsen tahu. dan (d) kedelai dari petani sampai ke pasar atau konsumen belum tertangani dengan baik tetapi berjalan sendiri secara alami. Bagi konsumen akhir dampaknya adalah semakin mahalnya harga produl-produk olahan berbahan baku kedelai. 1.

teknologi yang telah dihasilkan. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai.deptan. 2004). Faktor utama turunnya produksi kedelai nasional adalah tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai.id. pada tahun 2000 harga kedelai impor naik menjadi Rp 1 827. Departemen Pertanian.litbang.go.5 per kilogram. Pada tahun 2006 harga kedelai dalam negeri mencapai Rp 4 977. keberlanjutan pasokan kedelai impor lebih terjamin dibanding kedelai nasional.7 mencarinya dan harganya menjadi tinggi.85 per kilogram. serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan kedelai dalam negeri menjadi tertekan dan terdesak oleh kedelai impor.deptan. Tahun 1992.go. 4 Februari 2008. Kedelai. http://ditjentan.7 Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik. iklim yang cocok. . 2002. dan belum diaturnya tataniaga kedelai sehingga petani dalam negeri sulit bersaing dengan petani luar negeri (Departemen Pertanian.5 per kilogram dan kedelai dalam negeri menjadi Rp 2 844 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 1 016.6 Hal tersebut yang menyebabkan tataniaga kedelai di tingkat petani di Indonesia belum tertangani dengan baik. 2008.id. Perbedaaan harga tersebut terus meningkat. http://www. harga kedelai impor sebesar Rp 544 per kilogram sedangkan harga kedelai dalam negeri lebih mahal dari kedelai impor yaitu sebesar Rp 847 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 303 per kilogram. 6 7 Team TP. 31 Januari 2008. Harga kedelai impor jauh lebih murah dari produksi dalam negeri karena tidak ada tarif impor untuk kedelai. Berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa harga kedelai lokal dari tahun ke tahun lebih mahal dari kedelai impor.

seperti padi. Hal ini disebabkan oleh petani yang semula menanam kedelai beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. Di Kabupaten Cianjur.8 Selain itu. Di Kabupaten Cianjur terdapat beberapa daerah yang merupakan sentra produksi kedelai. dilihat dari banyaknya konsumsi kedelai di Indonesia. pasar komoditas kedelai masih terbuka lebar.8 juta ton. kondisi pada saat itu juga didukung oleh analisa usahatani kedelai yang cukup menguntungkan. sejak tahun 1993 produksi dalam negeri terus mengalami penurunan terlihat dari penurunan luas areal tanam. tetapi harga jual yang diterima petani masih rendah. Selain itu. Namun.17 hektar pada tahun 2006. Perkembangan produksi kedelai dalam negeri sampai tahun 1992 sangat baik yaitu mencapai 1. kebijakan tataniaga kedelai yang bebas dilakukan oleh pengusaha importir dan penetapan tarif impor tahun 1998 jauh di bawah bound tariff menyebabkan masuknya kedelai impor dengan harga murah. Akibatnya petani dalam negeri sulit bersaing dengan kedelai impor. Hal ini disebabkan oleh penetapan kebijakan harga sejak tahun 1992 ditiadakan. terlihat dari penurunan luas tanam menjadi 10 hektar dari 995. Namun pada tahun 2007. terjadi penurunan luas tanam di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sukaluyu mengalami penurunan produksi sangat tajam. Sukaluyu dan Bojong Picung. jagung dan sayursayuran. Hal ini terlihat dari perkembangan luas areal tanam kedelai di sebagian daerah. antara lain Ciranjang. petani dalam memasarkan produknya mempunyai kebebasan untuk memilih saluran tataniaga yang dapat memberikan keuntungan dari hasil usahataninya. Pada umumnya petani langsung menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul atau .

Kabupaten Cianjur? 1. 8 Antara.co. Hal ini karena petani membutuhkan uang saat panen sehingga harga jual sangat ditentukan oleh tengkulak. 15 Januari 2008. maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah : 1. walaupun terjadi tawar-menawar antara petani dan pedagang pengumpul keputusan akhirnya tetap ditentukan oleh pedagang pengumpul. Produksi Kedelai Mesti Ditingkatkan. masih sangat terbatas petani menjual secara berkelompok. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan. Lembaga tataniaga cenderung menuntut biaya tataniaga dan keuntungan besar dari jasa tataniaga yang dilakukan.antara. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan? 2. 2008.9 tengkulak secara perorangan. Analisis tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Bagaimana tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. untuk mengetahui tingkat pendapatan petani dan posisi tawar petani pada tataniaga kedelai di Kabupaten Cianjur maka perlu dilakukan penelitian mengenai usahatani dan tataniaga kedelai. Lemahnya posisi tawar petani menyebabkan petani tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan harga berdasarkan biaya produksi yang telah dikeluarkan. akibatnya tingkat pendapatan petani menjadi rendah.8 Oleh sebab itu.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas.id. http://www. Bagaimana saluran tataniaga dan struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. .

Kabupaten Cianjur. . Jawa Barat ini dikhususkan membahas mengenai komoditi kedelai yang dipanen polong tua.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian mengenai tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan.5 Ruang Lingkup Penelitian Batasan dari penelitian yang berjudul Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. diantaranya Dinas Pertanian. Pembahasan tataniaga untuk analisis kualitatif dilakukan pada semua saluran tataniaga yang terlibat.10 2. Dinas Perindustrian dan Perdagangan. sedangkan untuk analisis data kuantitatif hanya menggunakan data dari saluran tataniaga dengan jalur tataniaga dari Kecamatan Ciranjang ke Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. Dampaknya dapat meningkatkan pendapatan petani kedelai di lokasi penelitian. Mengkaji saluran tataniaga. penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam upaya peningkatan hasil dan perbaikan kinerja tataniaga kedelai. 1. 1. Kabupaten Cianjur. struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang.

11

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keragaan Kedelai Kedelai (Glicine max) adalah tanaman semusim yang termasuk family Leguminosae diduga berasal dari Cina dan dikembangkan ke berbagai negara seperti Amerika, Amerika Latin dan Asia. Kedelai dapat dibudidayakan di daerah subtropis dan tropis dengan teknis budidaya yang sederhana. Di Indonesia kedelai pertama kali ditanam di pulau Jawa dan Bali pada tahun 1750. Daerah sentra tanaman kedelai mula-mula terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali, kemudian meluas hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Kedelai mempunyai kegunaan yang luas dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akarakarnya dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium sp., sehingga unsur Nitrogen bagi tanaman tersedia dalam tanah. Kedelai di Indonesia bernilai tinggi karena tiga alasan: (1) produksinya di dalam negeri dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, (2) merupakan bahan pangan berkadar protein yang dapat memperbaiki gizi masyarakat, dan (3) merupakan tanaman komersil bagi petani lahan kering. Di Indonesia kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl). Varietas yang ditanam awalnya berasal dari luar negeri (introduksi), diantaranya dari Jepang, Taiwan, Kolumbia, Amerika Serikat dan Filipina. Di sentra pertanaman kedelai umumnya kondisi iklim yang cocok adalah suhu antara 25–27 0C.

12

Tanaman kedelai mempunyai daya adaptasi yang luas terhadap berbagai jenis tanah. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian, maka tanaman kedelai cocok ditanam pada jenis tanah Aluvial, Regosol, Grumosol, Latosol dan Andosol. Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lahan pertanaman kedelai adalah tataair (drainase) dan tataudara (aerase) tanah yang baik, bebas dari kandungan atau wabah Nematoda, dan keasaman (pH) tanah (Rukmana dan Yuyun, 2006).

2.2 Kebijakan Pengembangan Kedelai Peranan pemerintah sebagai fasilitator, dinamisator dan penciptaan lingkungan yang kondusif dalam pengembangan suatu komoditas secara teknis, sosial dan ekonomis adalah sangat penting dan strategis. Cakupan kebijaksanaan dalam program aksi pengembangan adalah sangat kompleks yang meliputi pengadaan dan distribusi sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan kredit usaha tani), penyuluhan dan tataniaga hasil melalui sistem kelembagaan dan pembinaan dari tigkat pusat sampai ke tingkat desa. Kebijakan dalam bidang penelitian, peningkatan produksi, dan perdagangan (harga) adalah saling berhubungan satu dengan yang lain. Proteksi harga akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani bila didukung oleh potensi teknologi dan sistem tataniaga yang efisien. Kebijakan diversifikasi konsumsi melalui penetapan pola pangan harapan (PPH) dapat dikatakan sebagai acuan penting dalam penetapan target peningkatan produksi setiap komoditas pangan termasuk kedelai. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani (Rachman et al. 1996).

13

Kebijakan Proteksi dan Harga Dasar. Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah selama ini dengan sasaran utama mendorong adopsi teknologi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani adalah kebijakan proteksi harga dan penetapan harga dasar. Kebijakan proteksi bertujuan untuk mengendalikan harga kedelai dalam negeri agar tetap lebih tinggi dan terisolasi dari fluktuasi harga kedelai di pasar dunia. Hal ini dilakukan melalui pengaturan volume impor dan penetapan harga kedelai ekspor-impor serta penyalurannya kepada industri pengolah di dalam negeri. Kebijakan proteksi harga ini cukup berhasil mencapai sasarannya dan berdampak positif dalam mendorong produksi kedelai domestik. Pada periode 1985 – 1994 produsen kedelai mendapatkan rata-rata proteksi harga sebesar 136.56 persen dengan laju peningkatan proteksi 4.80 persen pertahun (Rachman, et al. 1996). Di satu sisi penetapan harga dasar secara umum belum mencapai sasaran yang diharapkan. Pada periode 1984 – 1991 harga kedelai di tingkat petani sekitar 76.27 persen lebih tinggi dari penetapan harga dasar. Hal ini menjelaskan bahwa penetapan harga dasar maupun harga pembelian pemerintah untuk kedelai adalah sangat rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku, sehingga kebijakan harga dasar menjadi tidak efektif. Kemudian sejak tahun 1992,

pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar lagi. Perkembangan produksi kedelai tahun 1992 merupakan puncak produksi kedelai yaitu mencapai 1.8 juta ton. Setelah pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar, maka tahun 1993 produksi kedelai terus menurun sampai tahun 2003 menjadi 671 600 ton. Hal ini disebabkan semangat petani untuk membudidayakan kedelai turun sebagai akibat dari masuknya kedelai impor

1996). namun sangat lambat yaitu 723 483 ton (2004). Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. 808 353 ton (2005) dan 746 611 (2006). Rusastra.id. Upaya pemerintah memenuhi kebutuhan bahan baku industri merupakan awal munculnya kebijakan impor kedelai di Indonesia.14 dengan harga lebih rendah dari kedelai dalam negeri. et al. et al. 4 Februari 2008 . 9 Team TP. 2. http://ditjentan.9 Kebijakan Tarif dan Impor Kedelai.deptan. Puspodewi (2004). Namun dengan kenaikan harga kedelai di pasar dunia akhir tahun 2007 mengakibatkan harga kedelai impor tinggi. termasuk kedelai (Rachman.go. Pada dasawarsa 1980-an perbandingan antara impor dan produksi kedelai dalam negeri mencapai rata-rata 45 persen pertahun yang merupakan angka tertinggi dibanding dengan dasawarsa 1970-an dan 1990-an. Elizabeth (2007) dan Nuryanti dan Kustiari (2007). Sesuai aturan WTO dimana setiap negara diperkenankan menerapkan applied tariff maksimal sama dengan bound tariff dalam schedule yang didaftarkan. (1992). Tahun 2007 produksi turun kembali 20 persen dari tahun 2006 menjadi 608 000 ton. Saptana (1993). untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri maka Pemerintah menurunkan tarif impor sampai 0 persen. maka tahun 1998 Pemerintah Indonesia menerapkan tarif impor jauh di bawah bound tariff (0 – 5 persen). Namun dengan pertimbangan antara lain daya beli masyarakat Indonesia. 2008. Tahun 2004 sampai 2006 produksi mengalami peningkatan.3 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai tanaman kedelai telah dilakukan oleh Nurmanaf (1987).

Tingkat pendapatan usahatani kedelai dengan mempertimbangkan basis agroekosistem pengembangan tahun 1990. baik biaya angkutan dari satuan pemukiman transmigrasi ke pasar. menunjukkan usahatani kedelai di lahan sawah lebih menguntungkan dibandingkan di lahan kering (Rp 366 900 vs Rp 298 400 per hektar). Tujuan penelitian ini mengungkap keragaan dan permasalahan aspek produksi. Harga yang diterima petani di tiga satuan pemukiman masing-masing sebesar 60. areal panen dan produktivitas kedelai dari tahun 1984-1990 masingmasing sebesar 2. Pamenang I sebesar Rp 200/kg dan Kuamang Kuning sebesar Rp 225/kg. Dilihat dari efisiensi pemanfaatan modal tidak terdapat .9 persen per tahun.8. 3. Produksi kedelai di Jawa Timur setiap tahun mengalami peningkatan. yaitu Singkut III sebesar Rp 275/kg. Hal ini terlihat dari tingginya margin tataniaga di tiga satuan pemukiman transmigrasi.7. (1992) melakukan penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur. usahatani dan tataniaga kedelai di Jawa Timur sebagai daerah sentra produksi secara nasional. hal ini terlihat dari laju pertumbuhan produksi. rantai tataniaga dan tingkat harga.5 persen.2 dan 62. et al. Tingginya margin tataniaga kedelai terutama disebabkan tingginya biaya angkutan hasil. Rusastra. 69. antar pasar maupun biaya angkut antar daerah. biaya angkut.15 Penelitian terhadap jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi yang dilakukan Nurmanaf (1987) bertujuan menganalisis sistem tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi. margin tataniaga dan bagian harga yang diterima petani.1 dan 5. meliputi jalur tataniaga. Nurmanaf (1987) menyatakan bahwa tataniaga kedelai di satuan pemukiman transmigrasi Jambi belum efisien.

Beberapa indikator makro tataniaga seperti pangsa harga yang diterima petani dan kestabilan harga bulanan di tingkat produsen dan konsumen menunjukkan mantapnya sistem tataniaga kedelai di Jawa Timur. R/C kedelai di lahan sawah 1. Hal ini terlihat dari pangsa harga petani mencapai 89.9 persen dibandingkan dengan non kerjasama.43 persen (1991).4 persen dengan margin tataniaga 10.6 persen.6 persen dibandingkan sebelum kerjasama dan 15. Bertujuan untuk mengungkap seberapa jauh dampak penerapan teknologi baru terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani.4 dan di lahan kering sedikit lebih baik yaitu 1. (3) Masalah birokrasi dan keterlambatan penyediaan dana.16 perbedaan yang berarti. penerapan teknologi baru juga bisa diterima dari segi efisiensi pemanfaatan modal dengan . Penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) dilakukan oleh Saptana (1993). et al menunjukkan bahwa hasil usahatani kedelai dengan pola kerjasama dengan pihak swasta lebih tinggi yaitu 17. Permasalahan pada sistem kerjasama yang perlu diperhatikan adalah (1) Penyampaian informasi yang sempurna kepada petani. Permasalahan dalam tataniaga adalah rendahnya kualitas kedelai di tingkat pedagang dan konsumen. serta (4) Keterbatasan tenaga lapang.43. Selain itu. Hasil penelitian yang dilakukan Rusastra. keragaan dan permasalahan aspek produksi dan tataniaga kedelai di Wonogiri.6 persen (1990) dan 174. (2) Peningkatan sistem pembinaan dikaitkan dengan sistem pengadaan dan penyaluran saprodi. Dampak penerapan teknologi baru telah mampu meningkatkan pendapatan sebesar 76.

4 persen. Jawa Tengah (kasus desa Bade) dengan analisisn PAM. Dilihat dari keuntungan privat dan sosial yang diperoleh maka Desa Bade Kabupaten Boyolali mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif.04 per kilogram dan nilai PCR kurang dari satu.25 untuk pola petani (1991). Puspodewi (2004) meneliti analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali.85 sedangkan untuk pola petani 1.80 (1990).88. karena nilai tambah keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi dari seharusnya. Efisiensi tataniaga kedelai di Wonogiri. pengangkutan dan biaya penyusutan.17 nilai R/C ratio untuk pola rekomendasi 1. dan 1. sehingga pengusahaan kedelai layak untuk dikembangkan.66 per kilogram dan nilai DRC 0. Dampak kebijakan input dan output terhadap petani produsen kedelai sangat intensif. masalah kualitas ini menjadi lebih serius karena ada faktor kesengajaan dari pedagang pengumpul dan PB kecamatan yang melakukan pencampuran tanah yang diwarnai mirip kedelai.38 untuk pola rekomendasi serta 1. .6 persen dengan margin tataniaga 10. Jawa Tengah terlihat dari pangsa harga petani sebesar 89. Menurut Saptana. secara ekonomi juga menguntungkan sebesar Rp 281. permasalahan utama tataniaga adalah kualitas kedelai. yaitu pengumpulan. Selain itu. Nilai DRC yang lebih besar dari nilai PCR terjadi karena adanya intervensi pemerintah. Pengusahaan kedelai di desa Bade menguntungkan dan efisien secara finansial terlihat dari keuntungan sebesar Rp 361. Margin tataniaga yang relatif rendah ini dikarenakan fungsi tataniaga yang dilakukan sangat sederhana.

konsumen dan penerimaan pemerintah. Analisa tingkat makro menggunakan “partial welfare analysis” untuk memahami dampak penerapan tarif optimal terhadap harga komoditas di pasar domestik. Analisa mikro dengan menggunakan data I-O diturunkan dari data struktur ongkos rata-rata Indonesia 2006. Analisa dalam penelitian ini dilakukan pada tingkat usahatani (mikro) dan makro. tingkat tarif optimal dengan tingkat keuntungan usahatani 25 persen. Kondisi ini sangat sulit. petani kedelai nasional harus mencapai harga jual Rp 4 479/kg. permintaan. tarif bea masuk kedelai saat ini 5 persen. masih ada peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan menjamin keuntungan usahatani 25 persen dengan menetapkan tarif impor baru . penawaran dan impor. MFN) harus dinaikkan menjadi 22. serta dampaknya terhadap kesejahteraaan produsen. produksi.3 persen (ad valorem) atau Rp 625. Artinya. Tarif yang diikat untuk kedelai adalah 27 persen. karena harga kedelai domestik menjadi tidak dapat bersaing dengan kedelai impor.18 Penelitian Nuryanti dan Kustiari (2007) berjudul Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usahatani kedelai pada tingkat tarif saat ini.5/kg (specific tariff). Berdasarkan asumsi harga pokok produksi Rp 3 359/kg. untuk memperoleh keuntungan usahatani 25 persen tarif bea masuk yang diterapkan (Most Favoured Nation. dan dampak keseimbangan pasar domestik atas kenaikan tarif impor kedelai optimal. Satu-satunya solusi untuk memberi insentif produksi kedelai domestik adalah jaminan harga jual kedelai dengan tingkat keuntungan pasti. Berdasarkan perhitungan besaran keuntungan usahatani optimal 25 persen.

dan melemahnya kelembagaan lokal karena tekanan dari luar. meliputi: (1) Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifitas lahan. dan sebagainya). Penelitian tentang Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai oleh Elizabeth (2007). kelembagaan output. yang tercermin pada masih rendah interaksi antar kelembagaan. kecilnya akses terhadap kelembagaan modern. seperti: kelompok tani. lembaga tenaga kerja.4/kg) masih lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi kedelai lokal (Rp 3 359/kg). dan kelembagaan permodalan. dan (3) Program memperkuat prasarana kelembagaan dan ketrampilan mengelola kebutuhan perdesaan. Lemahnya kinerja ekonomi perdesaan terutama disebabkan rendahnya kapasitas kelembagaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan perspektif penguatan dan pemberdayaan kelembagaan yang terkait dengan petani di perdesaan dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis kedelai. Harga kedelai impor saat ini (Rp 2 806. Fluktuasi harga produk pangan dan sarana produksi usahatani di pasar global akan ditransmisikan ke semua tingkat harga. kelembagaan penyedia input. gizi dan kesehatan. perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di perdesaan. Elizabeth (2007) menyatakan bahwa beberapa kelembagaan pendukung keberhasilan agribisnis kedelai. Namun tidak semua sistem dan saluran tataniaga komoditas pangan di pasar domestik bersaing sempurna. (2) Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan. termasuk produsen lokal.3 persen. .19 sebesar 22.

pola kerjasama dengan pihak swasta. Jawa Tengah (kasus desa Bade) Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Tabel 6 menginformasikan perbedaaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. dan adanya penerapan teknologi baru. Jawa Barat Metode Marjin tataniaga Farmer s Share Efisiensi usahatani Marjin tataniaga R/C rasio Marjin tataniaga PAM Elizabeth 2007 Nuryanti Kustiari Meryani dan 2007 2008 Mikro : I – O Makro : Partial Welfare Analysis Pendapatan usahatani Marjin tataniaga. Pencapaian keberhasilan agribisnis kedelai diperlukan suatu kelembagaan pendukung dari tingkat desa sampai di luar desa. Tabel 6 Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu Nama Nurmanaf Rusastra. merupakan bagian penting pembangunan pertanian dan perdesaan. Permasalahan di tataniaga kedelai meliputi kualitas kedelai. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan tingkat pendapatan usahatani lebih menguntungkan bila diusahakan di lahan sawah. Saptana Puspodewi Tahun 1987 1992 1993 2004 Judul Penelitian Jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. farmer s share. dengan tarif bea masuk kedelai 5 persen harga kedelai domestik masih lebih tinggi dari harga kedelai impor. B/C rasio . Kabupaten Cianjur. margin tataniaga kedelai yang tinggi disebabkan biaya angkut. serta intervensi dari pemerintah.20 Pengembangan kelembagaan untuk menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA (marginal sustainability yield) dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan. et al.

efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatannya meningkat.1. Struktur Biaya Usahatani. Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor tidak tunai. pupuk. Biaya tunai merupakan biaya .1. 3. tenaga kerja. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani kedelai. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa penerimaan usahatani adalah ukuran hasil total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani. dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output). Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani) dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. seperti hasil panen kedelai yang dikonsumsi dan digunakan untuk bibit.21 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Usahatani Rahim dan Diah (2007) menyatakan bahwa usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah. benih dan pestisida) dengan efektif. sedangkan pendapatan kotor tidak tunai merupakan pendapatan yang bukan dalam bentuk uang.2 Pendapatan Usahatani Struktur Penerimaan Usahatani. modal.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki sebaik-baiknya. teknologi.

untuk mengukur imbalan yang diperoleh petani akibat penggunaan faktor-faktor produksi. pupuk. dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jika menginginkan produksi yang tinggi maka faktor-faktor produksi (tenaga kerja. dan sebagainya) perlu ditambah.22 yang dikeluarkan dalam bentuk uang oleh petani sendiri. tetapi diperhitungkan dalah perhitungan usaha tani. Biaya ini digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika sewa lahan dan nilai tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan. Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya. penyusutan alat-alat petanian dan biaya imbangan sewa lahan. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai. pajak. Biaya tidak tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Artinya besarnya biaya tetap tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang diperoleh. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua yaitu: (a) Biaya tetap (fixed cost) dan (b) Biaya tidak tetap (variable cost). Contohnya biaya untuk sarana produksi. Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang digunakan. Biaya tetap antara lain sewa tanah. Pendapatan Usahatani. alat pertanian dan iuran irigasi. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dibebankan kepada usahatani untuk penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. Untuk menilai . Dapat disimpulkan biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang akan dicapai.

mendefinisikan tataniaga sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang dibutuhkan melalui pertukaran dengan pihak lain. Apabila diperoleh nilai lebih dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan efisien. R/C Ratio . (6) standarisasi. Ukuran ini diperoleh dari hasil pengurangan antara pendapatan bersih dengan bunga yang dibayarkan kepada modal pinjaman. Boyd. 3. Secara keseluruhan tataniaga merupakan rangkaian kegiatan mengalirkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Walker and Larreche (2000). jarak dan bentuk.23 penampilan usahatani kecil adalah dengan penghasilan bersih usahatani. serta keuntungan bagi produsen. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa fungsi dari tataniaga yaitu: (1) pembelian. dan menegosiasikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen. dan (9) pengetahuan pasar. biaya yang diperhitungkan dan penyusutan. (3) penyimpanan. (5) pengolahan.3 Tataniaga Tataniaga merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen. (7) keuangan. (2) penjualan. . mengkomunikasikan. Analisis efisiensi R/C ratio atau rasio penerimaan atas biaya dihitung dengan cara membandingkan penerimaan total dengan biaya total.1. (4) transportasi. (8) pengambilan risiko. tetapi bila diperoleh nilai kurang dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan belum efisien. Tujuan dari tataniaga adalah mengidentifikasi. Aktivitas pasar dan tataniaga diklasifikasikan menurut waktu.

sarana transportasi. Saluran tataniaga terdiri dari beberapa pedagang perantara. (3) Saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan calon konsumen. Lembaga yang terlibat dalam saluran ini diantaranya distributor. pengecer dan agen.4 Saluran Tataniaga Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga sehingga barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. . lembaga keuangan dan perusahaan asuransi yang memberikan kemudahan dalam transaksi. 1983).1. (3) Skala produksi dan (4) Keuangan produsen (Hanafinah dan Saefuddin. 3. waktu dan pemilikan. Panjang pendeknya saluran tataniaga dipengaruhi beberapa faktor yaitu: (1) Jarak antara produsen ke konsumen. Kotler (2005) menyatakan bahwa saluran tataniaga didefinisikan sebagai sarana untuk mencapai pasar sasaran.24 Hanafiah dan Saefuddin (1983) menyatakan bahwa tataniaga adalah kegiatan yang berkaitan dengan penciptaan atau penambahan kegunaan dari barang dan jasa maka tataniaga termasuk tindakan atau usaha yang produktif. sehingga tataniaga dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan barang dan jasa dari produsen sampai dengan konsumen. Kegunaan dalam kegiatan tataniaga adalah kegunaan tempat. (2) Ketahanan produk. Ada tiga jenis saluran tataniaga yang digunakan meliputi: (1) saluran komunikasi yang digunakan untuk memberi dan menerima informasi dari konsumen sasaran. (2) Saluran distribusi digunakan untuk manyampaikan produk atau jasa dari produsen kepada konsumen. grosir. Saluran ini mencakup pergudangan.

25

Saluran tataniaga atau saluran distribusi merupakan lembaga atau perantara berganda yang berfungsi mendistribusikan barang untuk mendukung transaksi dengan konsumen potensial. Setiap lembaga berspesialisasi dalam satu fungsi dan kegiatan penting pendistribusian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi transaksional dan efisiensi fungsional. Saluran tataniaga terdiri dari empat komponen utama yaitu: produk, pelaku pasar, aktivitas dan input (Boyd, Walker and Larreche, 2000). Bentuk distribusi ada dua yaitu distribusi langsung dan distribusi tidak langsung. Distribusi langsung yaitu produsen melakukan penjualan langsung

produknya kepada konsumen, sedangkan distribusi tidak langsung yaitu produsen melakukan penjualan barang kepada konsumen melalui perantara seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang grosir dan pedagang pengecer (Boyd, Walker and Larreche, 2000). 3.1.5 Struktur Pasar Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa ada empat karakteristik yang menentukan struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan, (2) sifat produk, (3) kemudahan untuk keluar masuk pasar dan (4) tingkat informasi harga, biaya serta kondisi pasar yang dihadapi pelaku tataniaga. Struktur pasar mengacu pada semua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja perusahaan di suatu pasar, seperti jumlah perusahaan dan jenis produk (Lipsey, et al. 1997). Karakteristik struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 6. Kotler (2005) menyatakan bahwa struktur pasar berdasarkan sifat dan bentuknya dibedakan menjadi dua yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar bersaing tidak sempurna. Pasar termasuk ke dalam pasar bersaing sempurna

26

dengan ciri-ciri banyaknya jumlah penjual dan pembeli, barang yang ditawarkan bersifat homogen, penjual dan pembeli berperan sebagai price taker, dan bebas keluar masuk pasar. Pasar bersaing tidak sempurna dibagi menjadi pasar

monopolistik, pasar ologopolistik dan monopoli. Tabel 7 Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli No Karakteristik Jumlah Jumlah Sifat Penjual Pembeli Produk Banyak Banyak Homogen Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Satu Pasar Banyak Sedikit Satu Struktur Pasar Sudut Penjual Sudut Pembeli Persaingan Sempurna Oligopsoni Persaingan Monopolistik Oligopsoni Diferensiasi Monopsoni banyak penjual yang

1 2 3 4 5

Persaingan Sempurna Diferensiasi Persaingan Monopolistik Homogen Oligopoli

Diferensiasi Oligopoli Diferensiasi Unik Monopoli yaitu pasar dimana

Sumber: Dahl and Hammond (1977), Lipsey, et al. (1997)

monopolistik

mendiferensiasikan produk baik secara keseluruhan atau sebagian, sehingga produk dapat dibedakan berdasarkan kualitas, gaya dan service yang diberikan penjual. Akibatnya banyak penjual dan pembeli yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga bukan pada satu tingkat harga pasar. Penjual melakukan penawaran yang berbeda untuk segmen pembeli yang berbeda, sehingga pembeli bersedia membayar lebih untuk produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Pasar oligopolistik yaitu pasar yang terdiri dari beberapa penjual yang menghasilkan produk mulai dari produk yang terdiferensiasi hinggga produk homogen. Penjual sangat peka terhadap strategi tataniaga dan penetapan harga pesaing lainnya. Jumlah penjual yang sedikit disebabkan hambatan untuk masuk pasar tinggi, strategi penetapan harga yang tepat dan memusatkan perhatian pada

27

kepuasan pelanggan untuk menarik pelanggan. Pasar monopoli murni yaitu pasar yang hanya ada satu penjual yang menguasai pasar suatu produk tertentu. Penjual berperan sebagai price maker, hambatan masuk dan keluar pasar tinggi karena alasan teknis atau alasan undang-undang untuk monopoli yang teregulasi. 3.1.6 Efisiensi Tataniaga Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tataniaga adalah tingkat efisiensi dari tataniaga, karena tataniaga yang efisien dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat dalam tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa terdapat dua ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi harga (ekonomi). Efisiensi operasional menggambarkan keadaan dimana biaya input dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan. Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi operasional pada proses tataniaga produk yaitu dilihat dari keragaaan pasar (analisis margin tataniaga, farmer s share dan rasio keuntungan terhadap biaya). Efisiensi harga tercermin dari tiga kondisi yaitu (1) ada alternatif pilihan bagi konsumen, (2) perbedaan harga yang mencerminkan adanya biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat perlakuan terhadap komoditi dalam sistem tataniaga, dan (3) terjadi aktivitas pembelian dan penjualan yang cocok antara petani, lembaga tataniaga dan konsumen yang berdampak pada kepuasan pada setiap pelaku tataniaga. Tingkat efisiensi tataniaga dapat dilihat dengan

mengunakan dua pendekatan sekaligus atau salah satu dari pendekatan tersebut. Marjin tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga tingkat

Marjin tataniaga hanya merepresentasikan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen . Price VMM (Pr – Pf) Qrf Sr Sf Pr Marjin Tataniaga (Pr – Pf) Pf Dr Df Qr. Df merupakan demand dasar. Nilai marjin tataniaga adalah perbedaan harga di kedua tingkat sistim tataniaga dikalikan dengan kuantitas produk yang dipasarkan. Pr merupakan harga retail. f Quantity Gambar 1 Marjin Tataniaga. Dr merupakan demand turunan.28 pengecer (Pr). Cara perhitungan ini sama dengan konsep nilai tambah (value added). Sumber: Dahl and Hammond (1977) Pengertian ekonomi nilai marjin tataniaga adalah harga dari sekumpulan jasa tataniaga yang merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk–produk tersebut. dan Pf merupakan harga petani (Gambar 1). Sf menunjukkan supply dasar. Sr menunjukkan supply turunan. Oleh karena itu nilai marjin tataniaga dibedakan menjadi dua yaitu marketing costs dan marketing charges. Perbedaan nilai ini juga direpresentasikan sebagai jarak vertikal dan jarak antara kurva permintaan atau antara kurva penawaran (Gambar 1).

Rasio B/C. 3. pengangkutan. tetapi tidak menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. Marjin tataniaga terjadi karena adanya faktor-faktor biaya tataniaga (pengumpulan. di dalam negeri harga kedelai impor meningkat sangat tajam karena harga kedelai di pasar dunia meningkat. sehingga jumlah produk di tingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengecer. Akibatnya produsen tahu. Secara teknis sistem tataniaga akan semakin efisien jika rasio keuntungan terhadap biaya merata di setiap lembaga tataniaga. pengolahan. Keuntungan tataniaga adalah pengurangan marjin tataniaga dengan biaya-biaya tataniaga. dan lain-lain) dan keuntungan. Farmer s share. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai . 2007). Rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga merupakan perbandingan antara keuntungan yang diambil lembaga tataniaga terhadap biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk tersebut. 1977). yang akhirnya akan mempengaruhi pembentukan harga jual produk itu sendiri antara petani dan pedagang (Elizabeth. penyimpanan. Azzaino (1982) menyatakan bagian yang diterima petani (farmer s share) merupakan harga yang diterima petani sebagai imbalan kegiatan usahataninya dalam menghasilkan kondisi tertentu.2 Kerangka Pemikiran Operasional Pada awal tahun 2007. Farmer s share juga menyatakan perbandingan harga yang diterima oleh petani dengan harga di tingkat lembaga pemasaran yang dinyatakan dalam persentase.29 dengan harga yang diterima petani. Marjin tataniaga merupakan penjumlahan antara biaya tataniaga dan marjin keuntungan (Dahl and Hammond.

1983). Pendapatan usahatani merupakan hasil akhir yang akan diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya. bentuk. Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri cenderung mengalami penurunan. Fungsi-fungsi tataniaga terdiri dari fungsi pertukaran. dan pengecer). sehingga konsumen akan merasa puas (Hanafiah dan Saefuddin. Semakin besar nilai R/C ratio maka usahatani yang dilakukan akan semakin baik. Fungsi tataniaga dilakukan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai guna waktu. tempat dan kepemilikan. . sehingga harus efisien dalam menggunakan sumberdaya. pengumpul. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Efisiensi usahatani kedelai dapat dilihat dari hasil analisis R/C ratio yang menunjukkan berapa penerimaan yang diperoleh petani dari setiap input yang dikeluarkan. Selain itu R/C ratio digunakan untuk melihat apakah usahatani yang dilakukan menguntungkan secara ekonomi atau tidak bagi petani. sehingga jumlah pelaku pasar yang terlibat dalam proses tataniaga akan menentukan panjang pendeknya saluran tataniaga. Sementara konsumsi kedelai semakin meningkat sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk. karena gairah petani untuk menanam kedelai cenderung menurun. Tataniaga komoditi pertanian adalah kegiatan atau proses pengaliran komoditas pertanian dari produsen sampai ke konsumen atau pedagang perantara (tengkulak.30 mengalami penurunan produksi. pedagang besar. Harga kedelai impor yang tinggi memberikan peluang bagi petani dalam negeri untuk meningkatkan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia. Semua fungsi tataniaga dilakukan oleh lembaga atau pelaku pasar yang terlibat.

Alur pemikiran tersebut dapat digambarkan seperti diagram di bawah ini: . Efisiensi tataniaga tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya saluran tataniaga. Tataniaga akan efisien bila semua pelaku pasar atau lembaga yang terlibat merasa puas dengan apa yang diperolehnya. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. B/C ratio dan farmer s share. Analisis struktur pasar ini dilakukan untuk mengetahui pasar kedelai yang terbentuk sesuai dengan karakteristiknya. Hasil dari analisis tersebut akan dibuat perumusan langkah-langkah perbaikan yang akan diberikan atau diinformasikan kepada petani dan para pelaku tataniaga. meskipun saluran tataniaga yang pendek lebih efektif dalam menyampaikan produk hingga diterima oleh konsumen. seperti biaya. apakah sudah efisien secara operasional. Analisis kuantitatif untuk mengetahui bagaimana keragaan usahatani dan tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang jika dilihat dari analisis pendapatan usahatani. (2) keadaan atau kondisi produk. (3) mudah atau sukar untuk keluarmasuk pasar. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. margin tataniaga. Perilaku pasar yang dibentuk tersebut dilihat dari dua sisi yaitu sisi penjual dan sisi pembeli. R/C ratio.31 Sementara untuk manganalisis struktur pasar kedelai dilakukan berdasarkan pada empat karakteristik struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan.

Analisis Tataniaga Saluran Tataniaga Sruktur Pasar Margin Tataniaga Farmer s Share Rasio B/C Efisiensi Tataniaga Rekomendasi Gambar 2 Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai. Rasio R/C 1. Pedagang Pengumpul 2. 2.7 juta ton per tahun Supply Respon Petani Kedelai Analisis Usahatani Lembaga Tataniaga: 1. 4. Pendapatan Usahatani 2. Pedagang Besar 3. Supplier 4. .Produksi kedelai dalam negeri rata-rata 0. 5.Harga kedelai impor tinggi . Pedagang Pengecer Analisis Kuantitatif: 1.Konsumsi rata-rata 2.7 juta ton per tahun . 3.32 .

karena Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Barat. ekspor-impor kedelai. Kecamatan Ciranjang sendiri merupakan salah satu sentra produksi di Kabupaten Cianjur. pedagang pengumpul. luas panen dan produksi.3 Metode Penarikan Contoh Metode penarikan contoh yang digunakan pada penelitian ini adalah random sampling yaitu pengambilan contoh dilakukan secara acak. Kecamatan Ciranjang terbagi menjadi 12 desa dan terdiri dari 80 kelompok tani dengan rata- . Data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS). Lembaga Penelitian dan pihak yang terkait lainnya.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber. pedagang besar dan pedagang pengecer. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2008.33 IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Ciranjang. Informasi yang dikumpulkan antara lain perkembangan luas tanam. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). perkembangan harga dan kebijakan pengembangan kedelai. 4. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Kabupaten Cianjur. 4. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur kepada petani kedelai.

Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara . (1997) menyatakan bahwa pendapatan usahatani dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan. Pedagang pengumpul tiga orang berdasarkan informasi pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang. komputer dan disajikan dalam bentuk deskriptif. 4.34 rata satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang petani. pedagang besar dua orang yang berada di Kecamatan Ciranjang. yaitu usahatani kedelai polong tua dan usahatani kedelai polong muda. Analisis usahatani digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani dan produksi yang dihasilkan oleh petani. Pengambilan contoh untuk pelaku pasar pada tiap tingkat lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengikuti arus barang dalam proses penyaluran barang dari produsen sampai ke konsumen. Lipsey.1 Analisis Usahatani Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Data dan informasi yang telah dikumpulkan diolah dengan bantuan kalkulator. gambar dan tabulasi untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang ada dalam melakukan analisis data. Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk. Penentuan responden berdasarkan petani yang menanam kedelai di Kecamatan Ciranjang sebanyak 30 orang petani kedelai dengan cara mengambil nama kelompok tani dan memilih petani secara acak untuk diwawancara. dan pedagang pengecer tiga orang yang berada di Kabupaten Cianjur dan Bandung.4. 4. et al. pedagang propinsi satu orang berdasarkan informasi dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang.

yang merupakan jumlah dari biata tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC). Rumus yang digunakan yaitu: TC = FC + VC Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya. maka rumus tersebut dapat berubah menjadi: TR = ∑ YxPy i =1 n Biaya tetap dapat dihitung dengan rumus: FC = ∑ X Px i =1 i n i dimana: Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap Pxi = Harga Xi (input) Rumus tersebut dapat digunakan untuk menghitung biaya total (total cost).TC dimana: Pd = Pendapatan usahatani TR = Total penerimaan (total revenue) TC = Total biaya (total cost) .35 produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi. tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: TR = Y x Py dimana: TR = Total penerimaan Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani Py = Harga Y Pernyataan Jika komoditas tanaman yang diusahakan lebih dari satu. 1995). Rumus yang digunakan yaitu: Pd = TR .

Upah tenaga kerja di luar keluarga c.Benih .PPC/ZPT b. Tabel 8 Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai A B C D Penerimaan Tunai Penerimaan yang diperhitungkan Total Penerimaan Biaya Tunai Harga x Hasil panen yang dijual (Kg) Harga x Hasil panen yang dikonsumsi (Kg) A+B a. Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: a= Py. Upah tenaga kerja dalam keluarga b. Sewa lahan D+E C–D C–F H – bunga pinjaman (jika ada pinjaman) C/F E Biaya yang diperhitungkan F Total Biaya G Pendapatan atas biaya tunai H Pendapatan atas biaya total I Pendapatan Bersih J R/C ratio Sumber : Rahim dan Diah.36 Analisis (R/C) ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya.Y FC + VC dimana: a = R/C ratio Py = Harga output Y = Output Kriteria keputusan yang digunakan untuk melihat hasil analisis R/C ratio sebagai berikut : R/C ratio > 1 : usahatani menguntungkan R/C ratio < 1 : usahatani rugi R/C ratio = 1 : usahatani impas Secara sederhana. Sewa alat bajak d.Pupuk . pajak a. Biaya sarana produksi: .Pestisida . Sewa lahan e. Penyusutan c. Benih d. 2007 . perhitungan analisis pendapatan dan R/C ratio dapat disajikan seperti pada Tabel 7.

Secara matematis biaya penyusutan dapat dirumuskan sebagai berikut : Nb − Ns n Biaya Penyusutan = dimana : Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Nilai sisa (Rp) N = Umur ekonomi alat (tahun) 4.3 Analisis Struktur Pasar Struktur pasar dapat dianalisis melalui beberapa indikator. yaitu: (1) jumlah pedagang di setiap level tataniaga.4. Analisis ini dapat menggambarkan secara keseluruhan pola saluran tataniaga kedelai yang terjadi pada daerah penelitian. (2) keadaan atau kondisi produk. data harga yang digunakan adalah harga di tingkat petani dan harga di tingkat lembaga tataniaga.4. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. 4.4 Analisis Marjin Tataniaga Marjin tataniaga merupakan perbedaan harga yang diterima petani (produsen) dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen. secara matematis rumus . seperti biaya. 4.37 Biaya penyusutan alat dihitung dengan cara membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dibagi usia ekonomi dari alat tersebut. Untuk menganalisis marjin tataniaga dalam penelitian ini. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga.2 Analisis Saluran Tataniaga Kedelai Analisis saluran tataniaga digunakan untuk menelusuri saluran tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir.4. (3) mudah atau sukar untuk keluar-masuk pasar.

dapat dirumuskan sebagai berikut: Mmi = Ps – Pb dimana: Mmi Ps Pb Marjin = Marjin tataniaga pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga jual pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga beli pada setiap lembaga tataniaga tataniaga mengandung komponen biaya dan komponen keuntungan. yaitu: Mm = Pr – Pf dimana: Mm Pr Pf = Marjin tataniaga di tingkat petani = Harga di tingkat kelembagaan tataniaga dari petani = Harga di tingkat petani Berdasarkan rumus di atas. maka: Mm = c + dimana: c = biaya tataniaga = Keuntungan lembaga tataniaga Berdasarkan analisis marjin tataniaga di atas. Saluran tataniaga yang . marjin pada setiap tingkat lembaga tataniaga dapat dihitung dengan menghitung selisih antar harga jual dengan harga beli pada setiap tingkat lembaga tataniaga. maka untuk setiap saluran tataniaga dapat dilihat persentase pangsa marjin setiap pelaku pasar dengan menggunakan rumus: PangsaMarjin = MarjinPemasaran x100% TotalMarjin Pangsa pasar digunakan untuk melihat berapa besar marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga yang ada.38 yang digunakan dalam perhitungan marjin tataniaga (Dahl and Hammond. 1977).

4. Besarnya persentase net marjin yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masingmasing saluran tataniaga digunakan rumus: NetMarjin = KeuntunganPelakuPasar x100% TotalKeuntungan Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan pada setiap pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga.4.4.39 efisien ditunjukan oleh perolehan marjin setiap pelaku pasar yang merata.6 p p f r x100 % Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Distribusi margin tataniaga dapat dilihat dengan persentase keuntungan terhadap biaya (rasio B/C) yang dikeluarkan pada masing-masing saluran tataniaga. rumus yang digunakan yaitu: B / CRatio = πi x100% Ci dimana: = Keuntungan lembaga tataniaga ke-i ci = Biaya lembaga tataniaga ke-i i .5 Analisis Bagian Harga yang Diterima Petani Farmer s share berhubungan dengan margin tataniaga. artinya semakin tinggi margin tataniaga maka bagian yang akan diperoleh petani semakin rendah. Farmer s share dapat dirumuskan sebagai berikut: Fs= dimana: Fs = Farmer s share 4.

4. Pupuk adalah zat tambahan yang digunakan petani untuk meningkatkan kesuburan tanaman kedelai (Urea. 8. Pestisida adalah zat kimia yang digunakan oleh petani untuk menanggulangi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kedelai. . supplier dan pasar lokal. Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual kedelai kepada konsumen terakhir di pasar lokal ataupun industri makanan dan pedagang ini membeli kedelai dari supplier. 2. 3. 5. 6. pedagang besar ataupun pedagang pengumpul. Kedelai polong tua adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 90 hari dan dikeringkan. SP36. PPC (Pupuk Pelengkap Cair) adalah pupuk yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan polong.5 Definisi Operasional 1. Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang yang aktif membeli dan mengumpulkan kedelai dari produsen (petani) di daerah produksi dan menjualnya kepada pedagang besar dan pasar lokal. Kedelai polong muda adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 40 hari. Pedagang besar adalah pedagang yang aktif di pasar-pasar pusat dan memperoleh barang dari pedagang pengumpul maupun dari petani langsung dan dijual kembali ke pasar induk (baik satu propinsi atau luar propinsi).40 4. 7. KCl dan pupuk organik).

45 persen) lahan sawah dan 287 269 ha (69. dan kemiringan lahan 0 – 40 persen. Jumlah curah hujan tahunan relatif beragam antar wilayah dengan kisaran 1 716 milimeter di wilayah Penyusuhan hinga 4 465 milimeter di wilayah Kadupandak/Cimanggu. Sebelah Barat d. Sebelah Selatan c. . memanjang dari utara ke selatan dengan batas-batas wilayah secara administrasi. Sebelah Utara b. Wilayah Kabupaten cianjur terdiri dari 30 Kecamatan. Iklim di wilayah Kabupaten Cianjur termasuk iklim tipe Af (sangat basah). 6 Kelurahan dan 348 Desa.41 V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.7° 25” Lintang Selatan (LS) dan 106º 42” . Topografi wilayah didominasi perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian 0 – 2 962 meter di atas permukaan air laut (dpl). kecuali sebagian wilayah Kecamatan Cidaun dengan iklim tipe Am dan wilayah gunung Gede dengan iklim tipe Cf.1.55 persen) lahan kering (Tabel 8). Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Cianjur berada di bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Barat. Kabupaten Cianjur terletak antara 6º 21” . Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Purwakarta : Samudera Indonesia : Kabupaten Sukabumi : Kabupaten Bandung dan Garut Luas wilayah Kabupaten Cianjur adalah 413 127 ha yang terbagi atas 62 879 ha (30. Topografi. Letak Geografis.107º 25” Bujur Timur (BT). sebagai berikut: a. Curah Hujan dan Jenis Tanah Secara geografis.

75 1.18 5. Tegal/Kebun 3. Cilaku.10 0.95 0. Lain-lain Jumlah Jumlah Keseluruhan Sumber: Diperta Kabupaten Cianjur (2006) Luas (Ha) 15 207 6 236 9 687 17 584 14 165 62 879 22 294 52 054 39 092 700 136 1 046 1 673 29 723 61 453 56 170 22 803 287 269 413 027 Persen (%) 4. Tanggeung. Tambak/Kolam/Empang 7.76 6. Pengembalaan 5. Hutan Negara 10.56 0. Campakamulya. Perkebunan 11.46 7.84 15.42 Tabel 9 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006 Pengguanaan Lahan Lahan Sawah 1.54 100. Bangunan/Pekarangan 2. Irigasi Teknis 2. Ladang/Huma 4. Berdasarkan kondisi sumberdaya alam (tofografi. penggunaan tanah. (4) tanah latosol yang tersebar di Kecamatan Sukanagara. jenis tanah.10 4.74 15.93 69. iklim. Irigasi Setengah Teknis 3.03 30. Naringgul dan Cianjur. (3) tanah brown forest yang tersebar di Kecamatan Campaka. Sukaresmi. Cugenang. Cikalongkulon dan Mande.30 0.58 16. Kadupandak. Irigasi Sederhana PU 4. Rawa 6.40 11. Hutan Rakyat 9. Tidak diusahakan 8.46 7. Sukanagara dan Cugenang. dan lain-lain) dan sumberdaya manusia.00 Jenis tanah di Kabupaten Cianjur terdiri atas 5 jenis yaitu: (1) tanah aluvial yang tersebar di Kecamatan Pacet. dan (5) tanah podsolik merah kuning yang tersebar di Kecamatan Cibinong. Sindangbarang. Takokak. Agrabinta. Naringgul dan Warungkondang. (2) tanah andosol yang tersebar di Kecamatan Pagelaran dan Tanggeung.32 1. Irigasi Sederhana Non PU 5. Tadah hujan Jumlah Lahan Kering 1. Kabupaten Cianjur .

Kecamatan yang termasuk WPT mencakup Tanggeung. Cugenang. Ciranjang. Wilayah Pembangunan Tengah (WPT) WPT merupakan daerah dengan topografi berbukit hingga bergunung dengan struktur tanahnya labil sehingga sangat peka terhadap erosi dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Naringgul. Campaka dan Campakamulya.43 terbagi atas tiga wilayah pembangunan dengan masing-masing karakteristik (Diperta Kabupaten Cianjur. . Sindangbarang. Warungkondang. Sukanagara. Penggunaan lahannya didominasi lahan kering dan terdapat perkebunan dan lahan sawah dengan luasan yang kecil. Gekbrong dan Cipanas. 2007). Cibinong. tanaman hortikultura dan lahan sawah. Pagelaran. 3. Cikalongkulon. Takokak. Bojongpicung. Kecamatan yang termasuk WPS mencakup Agrabinta. Mande. Cidaku dan Cijati. Leles. Wilayah Pembangunan Utara (WPU) WPU merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede dengan topografi didominasi bergunung dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Cibeber. Tanah di WPS memiliki struktur yang labil dan peka terhadap erosi. Cidaun. tanaman hortikultura dan lahan sawah. sebagai berikut: 1. Sukaresmi. 2. Sukaluyu. Pacet. Kecamatan yang termasuk WPU mencakup Cianjur. Wilayah Pembangunan Selatan (WPS) WPS merupakan dataran rendah dengan topografi umumnya bergelombang hingga berbukit yang diselingi oleh pegunungan yang melebar hingga ke daerah pantai Samudera Indonesia. Kadupandak. Karangtengah. Cilaku.

sedangkan penduduk dengan pekerjaan utama adalah pertanian sebesar 61.96 persen) dan 1 029 236 orang perempuan (49. Kepala keluarga miskin tergolong tinggi yaitu mencapai 35.0 persen dari total pendudk berusia produktif.16 persen.2 Sosial Ekonomi Penduduk Kabupaten Cianjur pada tahun 2006 berjumlah 2 098 644 orang (546 119 Kepala Keluarga/KK) teriri atas 1 069 408 orang laki-laki (50. beranggotakan petani perkelompok lima sampai enam orang petani dan dipimpin oleh seorang ketua kelompok. . Tujuan dari adanya kelompok ini untuk memberikan kemudahan bagi petani apabila ada masalah dalam kegiatan usahataninya.60 persen. Petugas Penyuluh Lapang akan menyampaikan informasi kepada masing-masing kelompok tani. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur yang tergolong usia produktif sebesar 39. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42.99 persen.80 persen.9 persen dari seluruh KK. Kabupaten Cianjur ini berjumlah 80 kelompok tani. Selain itu memberikan kemudahan bagi Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dalam menyampaikan informasi teknologi kepada petani.6 persen. kemudian diikuti sektor perdagangan sekitar 24. Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur adalah sektor pertanian yaitu sekitar 62. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 14.44 5.04 persen). dan kemudian ketua kelompok tani akan menyampaikan informasi yang diperoleh dari PPL kepada masing-masing anggota kelompok taninya. Kelompok tani kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. serta kemudahan akses pasar bagi petani.

3 Lembaga Tataniaga Kedelai a. Pedagang besar dalam memasarkan kedelai sudah memiliki pelanggan tetap. Majalengka). dan pengrajin tahu/tempe lokal serta di Cianjur. Garut. Pedagang besar kabupaten memasarkan kedelai ke pedagang propinsi di Bandung. Jumlah pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang tidak pasti karena umumnya pedagang pengumpul ini berasal dari luar Kecamatan Ciranjang. Sumedang. pedagang besar propinsi dan pengrajin tahu dan tempe. pedagang pengecer (Cianjur.45 5. Pedagang besar kecamatan memasarkan kedelai hanya ke pengrajin tahu lokal dan ke pedagang propinsi di Bandung. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang kecil yang membeli hasil panen kedelai dari petani dan untuk dijual kembali kepada pedagang besar. Pedagang pengumpul yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah pedagang pengumpul yang berada di Kecamatan Ciranjang dan berjumlah tiga orang. Pedagang Besar Pedagang besar adalah pedagang yang menghimpun (mengumpulkan) kedelai baik dari pedagang-pedagang pengumpul maupun langsung dari petani yang kemudian dijual kembali ke pedagang pengecer. dan menjual kedelai tersebut ke pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang. . Pedagang pengumpul ini memperoleh kedelai dari Kecamatan Ciranjang dan luar Kecamatan. b. Jumlah pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang yaitu dua orang.

Jakarta. Jawa Timur. Pedagang propinsi memperoleh kedelai dari pedagang besar di Jawa Barat termasuk Kecamatan Ciranjang. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersial. artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh lembaga tataniaga sangat tergantung dari aktivitas pedagang pengecer dalam menjual produk kepada konsumen. Pedagang Propinsi Pedagang propinsi merupakan pedagang yang menyalurkan kedelai dari pedagang besar kecamatan dan kabupaten ke pedagang pengecer di Bandung. d.46 c. Pedagang pengecer mendapatkan barang dari para pedagang besar yang ada di wilayah pedagang pengecer berdomisili. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual secara langsung kepada konsumen akhir. serta dapat melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir. pengrajin tahu/tempe lokal. Jawa Tengah. Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. .

58 59 .00 Tabel 10 menginformasikan bahwa umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun.3 tahun. Pendidikan petani paling banyak berkisar antara 1 sampai 6 tahun atau Sekolah Dasar (43. Karakteristik Petani dan Usahatani Kedelai 6.33 3. dan kepemilikan alat pertanian serta ternak.47 48 .33 40.00 23. Tabel 10 Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur Kelompok Umur (Tahun) 26 . Petani paling banyak termasuk kelompok umur 48 sampai 58 tahun (40.57 tahun.36 37 .33 100.0 persen).47 VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.33 persen). Hal ini menunjukkan regenerasi petani sangat rendah. Karakteristik petani tersebut mencakup umur.69 > 69 Total Jumlah Petani (Orang) 3 7 12 7 1 30 Persentase (%) 10.1. sebagai pengambil keputusan terbaik dari berbagai alternatif kegiatan usahatani yang harus diambil.1 Karakteristik Petani Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani. diikuti antara 7 sampai 9 tahun atau . dan paling sedikit berada dikelompok umur lebih dari 69 tahun. luas dan status penguasaan lahan.1.00 23. Pendidikan petani (Tabel 11) berkisar antara sekolah dasar sampai perguruan tinggi dengan rataan pendidikan 4. tingkat pendidikan. mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.

00 36.01 .33 persen. diikuti oleh sawah berstatus milik sendiri dan sewa (26.1.10 sampai 3.00 43.00 2.00 1.3.67 20.48 Sekolah Lanjutan Pertama (36.0.33 100.33 36.00 Total Jumlah Petani (Orang) 12 11 6 1 30 Persentase (%) 40.10 .67 20.67 persen).00 hektar dengan rata-rata luas kepemilikan sebesar 0.00 persen).55 hektar (40.56 . sedangkan kepemilikan sawah paling luas yaitu 2.2.55 0.00 3. Tabel 11 Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan (Tahun) Tidak Sekolah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menegah Atas Perguruan Tinggi Total Jumlah Petani (Orang) 0 13 11 6 0 30 Persentase (%) 0. berstatus milik (10 persen).10 sampai 3. Tabel 12 Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah Luas Sawah (Ha) 0.00 hektar paling sedikit hanya 3. Luas kepemilikan sawah petani kedelai paling banyak berada pada kelompok 0.00 Status kepemilikan sawah (Tabel 13) petani kedelai mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.10 sampai 0.00 Tabel 12 menginformasikan bahwa luas kepemilikan sawah petani kedelai berkisar antara 0. dan sisanya antara 10 sampai 12 tahun atau Sekolah Menengah Atas (20 persen).33 persen). Di Kecamatan Ciranjang sewa lahan hanya diambil untuk . dan sisanya berstatus milik dan gadai (3.00 0.00 100.00 persen).67 persen).778 hektar perpetani.10 .

Tabel 14 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian Kepemilikan Alat Hand Sprayer Pompa Air Lantai Jemur Hand Sprayer dan Lantai Jemur Perontok Kedelai Tidak Memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 5 8 0 14 30 Persentase (%) 10.00 26. Tabel 13 Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah Status Kepemilikan Milik Sewa/Sakap Gadai Milik dan Sewa Milik dan Gadai Total Jumlah Petani (Orang) 3 18 0 8 1 30 Persentase (%) 10.67 persen).00 16. Pada umumnya petani sudah memiliki berbagai peralatan tersebut. tetapi khusus alat pengendalian HPT kepemilikannya masih beragam.00 46.00 Petani yang tidak memiliki alat pengendalian HPT biasanya menyewa dari petani lain atau menyewa dari kelompok tani. Biaya sewa . pompa air.00 60.00 0. sedangkan pompa air disewa dari kelompok tani. dan alat perontok kedelai petani menyewa dari luar.67 0. parang.67 26.67 persen) lebih sedikit bila dibandingkan dengan petani yang tidak memiliki hand sprayer (46. Tabel 14 memberikan informasi petani yang memiliki hand sprayer (36. arit. alat pengendalian Hama Penyakit Tanaman (HPT).67 100.00 Alat-alat yang dibutuhkan petani kedelai dalam melaksanakan kegiatan usahataninya yaitu cangkul. lantai jemur dan alat perontok kedelai.00 0.67 3.33 100.49 tanaman padi sedangkan tanaman palawija sewa sawahnya tidak diambil oleh petani pemilik sawah.

kedelai banyak ditanam pada bulan Juni . Pemeliharaan ternak disamping memberikan tambahan pendapatan keluarga.33 persen) dengan rataan penguasaan 50 ekor. sewa pompa air Rp 20 000 per hektar. sapi dan ayam. Usahatani Kedelai Di Kabupaten Cianjur pola tanam yang diterapkan adalah padi-padipalawija/kedelai.33 86.1. sedangkan paling banyak (86. pupuk kandang juga dapat memperbaiki struktur tanah. 6.00 Tabel 15 menginformasikan bahwa beberapa petani sudah memelihara ternak kambing (10 persen) dengan rataan penguasaan antara 6 sampai 14 ekor. memungkinkan cara kerja yang sederhana sehingga lebih hemat .Juli setelah panen padi kedua. per tiga kuintal kedelai.00 0.00 3. Salah satu usaha sampingan petani yaitu memelihara ternak kambing.2. petani juga dapat menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk kandang. dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000. Kedelai musim utama ditanam mengikuti padi sawah musim hujan karena musim itulah yang terbaik untuk kedelai.00 0.50 hand sprayer Rp 5 000 per hektar. memelihara ternak ayam (3. Penanaman di lahan sawah lebih banyak diminati petani karena lebih tinggi hasilnya dan karena penanaman kedelai setelah padi. Tabel 15 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak Kepemilikan Ternak Kambing Sapi Kambing dan Sapi Ayam Tidak memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 0 1 26 30 Persentase (%) 10.67 100. Selain sebagai penyedia unsur hara mikro.67 persen) petani tidak memelihara ternak.

Pengendalian gulma hanya dilakukan satu kali. Tanah yang semasa padi sawah digenangi serta berlumpur tersebut. Penyiapan lahan untuk bertanam cukup hanya dengan pembuatan parit dangkal seurut galangan dan tanpa pengolahan lahan. Pola penugalan kira-kira bujur sangkar. Bahkan penyiangan pun dilakukan secara minim. Kekeringan yang terjadi setelah biji kedelai ditanam dapat menghambat perkecambahan. Hal yang sama terjadi bila .51 tenaga dan biaya dibanding penanaman di lahan tegal. pengolahan tanah sebelum tanam itu juga berakibat memundurkan waktu tanam kedelai sehingga dapat mengurangi hasil. kebanyakan tanpa pengolahan tanah. varietas kedelai dapat digolongkan menjadi tiga kelompok umur. Pada umumnya petani di Kecamatan Ciranjang bertanam kedelai di lahan bekas padi sawah tanpa didahului pengolahan tanah. (2) umur sedang (80 – 85 hari). yaitu (1) umur genjah (kurang dari 80 hari). sewaktu kering ternyata cukup baik strukturnya untuk mendukung pertumbuhan kedelai tanpa pengolahan tanah sebelum tanam. Selain kurang berguna. dan (3) umur dalam (lebih dari 85 hari). Gulma yang lain telah cukup dikendalikan dengan membakar jerami yang dihamparkan menutup lahan yang baru ditugali benih kedelai. Penanaman dengan cara tugal lebih baik karena jumlah tanamannya lebih besar dan tersebar lebih merata. dengan jarak 20 x 20 sentimeter sampai 25 x 25 sentimeter mengikuti jarak tugal jerami. Berdasarkan lamanya periode waktu tumbuh dari sejak tanam sampai kematangan polong. penanaman kedelai dilakukan dengan cara penugalan benih pada lahan sawah yang sudah dibabat jeraminya. Di Kabupaten Cianjur.

dan zat perangsang biji (30 persen) dengan takaran 1 liter per hektar. Selain itu. Kedelai merupakan tanaman semusim sehingga kebutuhan N. Di Kecamatan Ciranjang. pada periode penanaman kedelai di Kecamatan Ciranjang terjadi kekeringan sehingga menurunkan hasil. Umumnya petani tidak melakukan kegiatan pemupukan sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan. NPK 150 kilogram. petani juga melakukan kegiatan pengendalian HPT. KCl 50 kilogram. Penggunaan pupuk per hektar yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur yaitu urea 50 kilogram. P dan K relatif besar. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah ulat grayak (pemakan daun) dan penggerek polong.33 persen). ada juga petani yang meggunakan pupuk NPK (20 persen) dengan takaran 20 kilogram per hektar. dan poska (3. Penggunaan dosis pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan hara tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai menjadi terganggu. Paling banyak petani mengaplikasikan pupuk urea (80 persen) dengan takaran 53 kilogram per hektar. rata-rata penyemprotan dilakukan dua sampai tiga kali per tahun menggunakan pestisida kimia (80 . zat perangsang biji 2 liter. Selain kegiatan pemupukan. Di Kecamatan Ciranjang. dapat menghambat pembentukan polong akibatnya dapat menurunkan hasil. Selain itu.52 biji yang telah ditanam tergenang air. kegiatan pemupukan antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi (Tabel 16). Kedelai yang ditanam dalam pola bergiliran dapat memanfaatkan sisa pupuk yang tidak digunakan tanaman sebelumnya. pengendalian HPT antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi. SP36/TSP 100 kilogram. Tahun 2007. Umumnya petani melakukan penyemprotan sesuai dengan intensitas serangan.

74 45.30 2 100. dan sebagian daun sudah kering dan rontok. Ciri-ciri umum tanaman kedelai sudah saatnya dipanen adalah polong secara merata sudah berwarna kuning-kecoklatan. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai No 1 2 Jenis Kegiatan Bibit + Furadan (Kg) Takaran Pupuk (Kg) Urea SP36/TSP KCl ZA NPK Zat Perangsang Biji (l) 3 4 Pestisida (ml) Tenaga Kerja (HOK) Penanaman Penyiangan Pemupukan Pengendalian HPT Pengairan Panen/angkut Pengeringan dan Perontokan 30 11 24 24 10 20 20 100. sehingga waktu panennya harus menyesuaikan dengan umur tanaman.26 344.5 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 24 8 4 0 6 9 24 80.5 3.33 66. batang-batangnya sudah kering.00 Jumlah (sat/Ha) 42.62 mililiter per hektar.00 30. Tabel 16 Biaya Pupuk. sedangkan beberapa petani (20 persen) tidak melakukan pengendalian HPT (Tabel 16).62 1 501. Setiap varietas kedelai memiliki umur yang berbeda.00 80.67 13. Pestisida.67 Jumlah Petani yang melakukan 30 Persentase (%) 100.00 26.52 Harga Ratarata (Rp/unit) 6 643.33 0.62 Saat panen ditentukan berdasarkan umur tanaman. Pangkal batang dan akar-akar tanaman kedelai .00 34.31 21 966.94 35 692.00 80.96 25.00 2 080.61 79.53 persen) dengan takaran 344.67 80.00 33.42 6 929. ciri-ciri penampakan luar.85 0.00 20. Di Kecamatan Ciranjang varietas yang ditanaman umumnya adalah varietas Dapros (90 hari).67 20 2 2 2 2 3.00 36.67 66. Cara panen kedelai dilakukan dengan memotong pangkal tanaman dengan menggunakan sabit atau parang. dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat penanaman.

37 ton per hektar. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit. Keterlambatan dapat menyebabkan polong menjadi basah kembali dan menyulitkan dalam pembijian (pengelupasan biji dari polong). tapi ada juga beberapa petani yang menggunakan alat perontok kedelai.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1. pupuk dan pestisida. selain panen tua untuk dikeringkan (66. tapi pada cuaca baik dapat dilakukan sekitar 1 . Pengeringan dilakukan dengan menjemur brangkasan kedelai di bawah terik matahari dengan cara dihamparkan di atas lantai jemur atau menggunakan anyaman bambu. sisa-sisa polong ataupun kotoran yang lain. Di Kecamatan Ciranjang. upah tenaga kerja. Di Kecamatan Ciranjang. Perontokan atau pengupasan polong kedelai harus segera dilakukan setelah pengeringan.33 persen) untuk tujuan konsumsi polong yang direbus. kegiatan selanjutnya adalah pengeringan tujuannya untuk menurunkan kadar air dari biji sampai batas aman untuk disimpan atau memudahkan penanganan selanjutnya. Umumnya petani di Kecamatan Ciranjang melakukan perontokan dengan cara manual yaitu dipukul-pukul dengan kayu. Setelah panen.67 persen).54 bermanfaat sebagai sumber Nitrogen dan penyubur tanah untuk tanaman musim berikutnya. sehingga petani akan memperoleh penerimaan yang tinggi. Tabel 16 memberikan informasi bahwa biaya . ada juga petani yang panen polong hijau (33. Lamanya penjemuran rata-rata tujuh hari. sewa alat dan pajak. sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370. Tujuan utama dari budidaya kedelai adalah memperoleh kedelai yang memiliki kadar air rendah. Setelah dirontokan dilakukan pemisahan biji kedelai dari daun.3 hari.

96 75 701.30 350 000. Penerimaan Tunai B.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua (Rp 3 312 778.00 1. pestisida dan pajak.73 282 486. benih.73 2 042 511. Biaya Diperhitungkan Tenaga Kerja Keluarga Sewa Lahan Benih Penyusutan Total Biaya Diperhitungkan F. Biaya tunai yang paling besar digunakan untuk upah tenaga kerja luar keluarga.54 9 280.00 1 096 367.84 282 486.68 581 315.00 74 106.50 200 00.00 107 471.05 3 132 778.84 1 871 269. R/C Rasio Polong Muda (Rp/ha) 1 871 269.35 .00 882 796.00 10 000.30 240 214. Sumberdaya yang digunakan dalam usahatani kedelai meliputi tenaga kerja.05 350 000.24 1.73 per hektar).63 10 000. Pendapatan Bersih J.55 usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.00 100 00. Tabel 17 Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar Jenis Biaya dan Penerimaan A. hal ini disebabkan tenaga kerja dalam keluarga sangat minim. Pendapatan atas biaya tunai H. Total Biaya (D+E) G.73 4 243 974.27 Polong Tua (Rp/ha) 4 243 974.60 988 473.10 1 111 196.72 494 260.77 426 393.00 114 247.00 1 111 196. Pendapatan atas biaya total I.30 1 473 010. Penerimaan Tidak Diperhitungkan C.99 37 850.24 398 256.00 931 315.72 51 959.54 398 259. Biaya Tunai Benih Pupuk Pestisida PPC/ZPT Tenaga Kerja Luar Keluarga Sewa Alat Handsprayer Sewa Alat Perontok Sewa Pompa Pajak Total Biaya Tunai E. sewa alat. Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. pupuk. Total Penerimaan (A+B) D.33 2 201463.00 590 214.

nilai R/C rasionya tidak berbeda jauh tetapi pendapatan bersih polong tua lebih tinggi dari pendapatan bersih polong muda. Total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.24. seperti jadwal penanaman yang terlambat.27). Besarnya pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani polong tua karena hasil yang diperoleh lebih banyak dan harga jual biji kedelai lebih tinggi dari pada kedelai hijau (muda). Melihat perbandingan jumlah R/C rasio yang diperoleh. Petani yang melakukan panen polong muda disebabkan beberapa hal. total penerimaan mencapai Rp 1 871 269. Jadwal penanaman yang terlambat juga mengharuskan petani untuk melakukan panen kedelai polong muda. Nilai R/C rasio yang diperoleh pada usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang tidak berbeda jauh dengan nilai R/C rasio usahatani kedelai pada penelitian Rusastra et al (1992) yaitu 1. petani yang panen polong tua (1.00. Selain itu.27 untuk polong muda. Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.84 dan pendapatan atas total biaya Rp 398 256.35) tidak berbeda jauh dari pada petani yang panen polong muda (1. Walaupun. Berdasarkan analisis usahatani (Tabel 17) kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda. waktu pengolahan lama dan keterbatasan modal.4. ada juga petani . sehingga kegiatan pemeliharaan tidak dilakukan dengan optimal.73 dan pendapatan atas total biaya Rp 1 111 196.56 Suatu usahatani akan dikatakan berhasil atau menguntungkan jika selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif. Petani yang memiliki keterbatasan modal telah merencanakan menanam kedelai untuk dipanen muda.

berbeda dengan polong tua yang bisa disimpan apabila petani tidak bisa menjual semua hasil panennya. Sebagian besar petani di Kecamatan Ciranjang melakukan penjualan kedelai langsung kepada tengkulak. Kabupaten Cianjur. selain cara penjualan yang demikian ada pula petani yang membawa sendiri dan menjualnya pada pedagang besar kabupaten yang berada di pasar. Hal ini disebabkan oleh lokasi petani yang jauh dari pedagang besar kecamatan sehingga penjualan ke pasar akan menambah biaya dan keterbatasan waktu. pedagang besar propinsi.2. penyerapan pasar untuk kedelai polong tua masih sangat terbuka luas karena kedelai polong tua dibutuhkan industri-industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai. sedangkan untuk membayar tenaga kerja mereka memiliki keterbatasan modal. dan pedagang pengecer.57 memanen polong muda karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. pedagang besar kecamatan. Pada saat panen banyak pedagang pengumpul yang datang ke tempat petani sehingga petani dapat menjual kedelai di rumah atau di sawah tanpa harus mengangkut ke tempat pembeli. Pemanenan kedelai polong muda tidak dapat dilakukan terus menerus karena penyerapan pasar untuk polong muda sangat terbatas.1 Saluran Tataniaga Pemasaran kedelai di lokasi penelitian dari petani sampai konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pemasaran yaitu pedagang pengumpul (tengkulak).. 6. Selain itu. ada dua saluran tataniaga yaitu . Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang.2 Saluran dan Lembaga Tataniaga 6. pedagang besar kabupaten. Tetapi di Desa Ciranjang.

80 persen kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan 20 persen langsung diserap oleh konsumen akhir.33%) ke pedagang pengumpul. yaitu dari petani kedelai (100 persen) dibawa ke pedagang pengumpul.58 saluran tataniaga kedelai polong muda (Gambar 3) dan saluran tataniaga kedelai polong tua (Gambar 4). Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda.72%) melalui saluran kedua. Pada saluran kesatu sampai kelima petani menjual kedelai (73. lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (5. Saluran kesatu dari pedagang pengumpul kedelai dijual ke pedagang kecamatan (42.69%). Saluran kedua dan ketiga kedelai dari pedagang pengumpul dijual ke pedagang kabupaten (30. 8.77%) lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (10.58 persen kedelai dari pedagang kabupaten . Di pedagang pasar induk. 100 % Petani Pedagang Pengumpul Ciranjang 100 % Pedagang Pasar Induk Parung 20 % 80 % Pedagang Pegecer Konsumen Gambar 3. Gambar 4 menginformasikan bahwa di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. kemudian kedelai tersebut (100 persen) dibawa ke pedagang Pasar Induk Parung. Gambar 3 menginformasikan bahwa saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai dua tujuan.56%).

33 persen) karena banyaknya jumlah pedagang pengumpul lokal yang mendatangi petani. kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang propinsi (4. tetapi dari pedagang kecamatan (42. sedangkan saluran ketujuh dan kedelapan. Volume kedelai banyak melalui saluran tiga (57.08%) lalu diserap pengrajin tahu/tempe (6.67 persen) yang berdekatan dengan pasar Ciranjang seperti Desa Ciranjang dan Desa Cibiuk. penjualan kedelai ke saluran 1. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden. 2 dan saluran 3 lebih banyak dipilih (73. Pada dasarnya petani memiliki kebebasan untuk menentukan saluran mana yang akan dipilih.23%) melalui saluran kedelapan untuk dijual ke konsumen akhir.67%). Saluran keempat dan kelima sama seperti saluran kesatu.23 persen) karena petani tidak mau mengambil resiko kerugian biaya transportasi. Pada saluran keenam kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang pengecer (8.59 diserap oleh pedagang pengecer kemudian dijual ke konsumen akhir melalui saluran ketiga.58%) lalu ke konsumen akhir. Saluran keenam sampai kedelapan petani menjual kedelai langsung ke pedagang kabupaten (26. sehingga tidak ada alternatif lain bagi petani untuk menjual hasil panennya. Kedelai diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (6. .23 persen diserap pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir melalui saluran kelima. Saluran 6-8 hanya dipergunakan oleh petani responden (26. 10.77%) kedelai dijual langsung ke pedagang propinsi (32.58%). lokasi petani yang jauh dari pedagang kabupaten.14%) melalui saluran ketujuh dan diserap oleh pedagang pengecer (10.14%) melalui saluran keempat.

56 % Pedagang Besar Kabupaten 34.34% 5.69 % 42.56% Luar Jawa Barat 10.58 % Pedagang Pengecer 8.33 % Pedagang Pengumpul Kecamatan Ciranjang 30.14 % Pengrajin Tahu Tahu /Tempe Tempe Ket: tidak dianalisis Gambar 4 Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua.72 % 10.67 % Petani 73. Umumnya fungsi-fungsi tataniaga kedelai yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga .23 % Konsumen 6.2.60 26.2 Lembaga Tataniaga Kegiatan yang dilakukan lembaga tataniaga untuk memperlancar arus kedelai dari produsen ke konsumen dinamakan fungsi tataniaga.58 % Konsumen 32.77 % Pedagang Besar Kecamatan Garut Majalengka Sumedang Sukabumi Pengrajin Tahu Tempe 8.58 % 8.23 % Pengecer 10. 6.08 % Bandung Bandung Pedagang Besar Propinsi 24.

61 tataniaga adalah fungsi pertukaran. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan dan pengangkutan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. Pemilihan rantai tataniaga . Petani memasarkan kedelai dalam dua bentuk yaitu polong muda dan polong tua. Petani Seluruh petani responden kedelai di Kecamatan Ciranjang umumnya tidak menemui kesulitan dalam memasarkan kedelainya karena pedagang pengumpul selalu ada untuk mengambil produksi kedelai saat musim panen. tetapi ada beberapa petani yang menjual langsung ke pedagang besar di pasar. dan pedagang pengecer. pembiayaan. pedagang kecamatan. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Umumnya petani menjual ke pedagang pengumpul yang mendatangi rumah atau sawah petani dengan penawaran harga tertinggi. pedagang besar propinsi. pedagang pengumpul. pedagang besar kabupaten. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. pembiayaan. Setiap lembaga yang terlibat dalam tataniaga kedelai mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir mempunyai fungsi yang berbeda-beda. pembiayaan. Tabel 18 menginformasikan bahwa ada enam lembaga tataniaga yang terlibat yaitu petani. informasi pasar a. Tabel 18 Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai Lembaga Tataniaga Petani Pedagang Pengumpul Fungsi Tataniaga Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi fasilitas Aktivitas Pedagang Kecamatan Pedagang Kabupaten Pedagang Propinsi Pedagang Pengecer Penjualan Pengangkutan Pembelian dan penjualan Pengumpulan dan pengangkutan Penanggungan resiko.

serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko .62 pedagang pengumpul oleh petani dengan pertimbangan tidak ada biaya transportasi dan lokasi petani ke pasar tujuan cukup jauh. b. Cara pembelian yang dilakukan pedagang pengumpul dari petani untuk polong tua dengan ditimbang di rumah petani. Sistem pembayaran umumnya secara tunai. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang umumnya pedagang pengumpul dari luar Kecamatan. khusus polong muda umumnya secara borongan di sawah yang didatangi pedagang pengumpul.33 persen dari keseluruhan hasil produksi kedelai di Kecamatan Ciranjang. tetapi ada beberapa pedagang yang merupakan penduduk Kecamatan Ciranjang. sedangkan kedelai polong tua dibawa ke pedagang kecamatan dan pedagang besar kabupaten dengan menggunakan transportasi mobil. fungsi fisik yaitu pengumpulan dan pengangkutan. Sistem ini memberikan kemudahan bagi petani. Kedelai yang dijual ke pedagang pengumpul sebanyak 73. tetapi ada juga yang pembayarannya menunggu hasil penjualan ke pedagang besar atas dasar kepercayaan. sedangkan yang polong muda umumnya tebasan langsung di sawah petani. Kedelai ini selanjutnya dibawa ke pasar tujuan untuk kedelai polong muda. Cara petani menjual kedelai ke pedagang pengumpul adalah cara langsung dari rumah atau sawah. Akibatnya cara tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah. tetapi informasi pasar dan harga dikuasai oleh pedagang pengumpul sehingga harga jual ditentukan oleh pedagang pengumpul. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah pembelian dan penjualan.

c. Pedagang ini menerima kedelai dari pedagang pengumpul dari desadesa yang berdekatan dengan pedagang kecamatan. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. sedangkan pembelian kedelai dari petani dibayar tunai. fungsi fisik berupa penyimpanan dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Umumnya pedagang pengumpul yang menjual kedelai ke pedagang kecamatan merupakan pedagang yang menerima bantuan modal dari pedagang kecamatan. sebagian dijual langsung ke pedagang besar propinsi di Bandung. Pedagang kecamatan mempunyai informasi pasar yang akurat tentang harga yang terjadi karena berhubungan langsung dengan pedagang besar propinsi. pembiayaan (transportasi. . Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan.63 penyusutan. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh pedagang kecamatan adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. misalnya tidak pada saat musim tanam kedelai sehingga terjadi kekurangan pasokan. Cara pembayaran kepada pedagang pengumpul dengan mengurangi langsung modal yang dipinjam pedagang pengumpul dari penjualan kedelai. Pedagang Kecamatan Pedagang kecamatan merupakan pengrajin tahu skala besar di Kecamatan Haurwangi. Selain itu banyaknya kedelai yang harus disiapkan oleh pedagang pengumpul. selain itu menerima kedelai langsung dari petani. tenaga kerja dan pengemasan) dan informasi pasar (harga). Jawa Barat. Kedelai yang diperoleh selain untuk bahan baku pabrik tahu miliknya.

Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar selalu tunai. Pedagang Besar Kabupaten Pedagang besar kabupaten yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. sehingga posisi tawar-menawar pedagang pengumpul lemah jika dibandingkan dengan pedagang besar. e. Sumedang. pembiayaan dan informasi pasar. Penyerahan kedelai dilakukan di tempat pedagang besar sehingga pembelian tersebut berlangsung di gudang pedagang besar. Tasik. fungsi fisik berupa penyimpanan. Pedagang Besar Propinsi Pedagang besar propinsi yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai dari produsen di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. selain itu pedagang ini menerima pasokan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur melibatkan pedagang kebupaten lainnya.64 d. dan . Kedelai tersebut dijual baik langsung ke pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur maupun ke pedagang pengecer di Kabupaten Cianjur dan pedagang pengecer luar daerah yang telah menjadi langganan sepeti Garut. Karawang. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang pengumpul dan petani yang berdekatan dengan pasar. Majalengka. Subang. Jawa Barat. Sukabumi Selatan. Fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Sukabumi dan Bandung. Garut. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Pedagang ini memiliki skala usaha dagang yang besar di Bandung. Majalengka. dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Pedagang besar umumnya mempunyai informasi harga yang akurat. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang besar kabupaten Cianjur (di Kecamatan Ciranjang).

Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar adalah nota dan tunai. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. maupun pengiriman ke luar propinsi Jawa Barat. tetapi ada juga pengecer yang menjual kedelai untuk benih. fungsi fisik yaitu penyimpanan dan pengangkutan dari pedagang besar ke pedagang pengecer. Selain itu menerima kedelai langsung dari petani di wilayah Bandung. . serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. Pedagang besar melakukan kegiatan penjualan kedelai baik secara langsung ke pengrajin tahu/tempe dan pedagang pengecer di daerah Bandung. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. serta dari Jawa Tengah. Umumnya pedagang pengecer menjual kedelai untuk konsumsi. Informasi harga yang dimiliki pedagang besar merupakan informasi terbaru. Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar propinsi adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang menerima pasokan kedelai dari pedagang besar untuk dijual langsung kepada konsumen akhir. fungsi fisik yaitu penyimpanan. f. Banyaknya kedelai yang dibeli disesuaikan dengan skala usaha dagang yang dimiliki pedagang pengecer. karena pedagang besar berhubungan langsung dengan penentu harga pasar yaitu pedagang pengecer. pembiayaan transportasi dan informasi pasar.65 Banjar. Jawa Timur. Pedagang pengecer melakukan fungsi-fungsi tataniaga adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer dengan cara tunai.

Dilihat dari struktur pasar yang dihadapai pedagang pengumpul memiliki posisi tawar yang lebih baik dari petani. Sumber informasi tentang harga dibawa oleh pedagang sehingga penentu harga dilakukan oleh pihak pedagang.3 Struktur dan Perilaku Pasar 6.3. Petani dan Pedagang Pengumpul. pedagang kecamatan dan pedagang besar. Akibatnya petani hanya berperan sebagai price taker dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam penentuan harga. Pedagang Kecamatan serta Pedagang Kabupaten Petani berperan sebagai penjual dan yang berperan sebagai pembeli adalah pedagang pengumpul. . sedangkan pedagang kecamatan/kabupaten posisi tawarnya lebih baik dari pedagang pengumpul. sifat produk yang diperjualbelikan dan informasi pasar yang diperoleh.66 6.1 Struktur Pasar Struktur pasar dapat diidentifikasi dengan melihat jumlah lembaga tataniaga. Hambatan yang dihadapi pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten adalah harus memiliki modal yang kuat dan memiliki relasi yang luas agar dalam pemasaran kedelai berjalan dengan lancar. sedangkan pedagang pengumpul menghadapi hambatan pada waktu bukan musim tanam kedelai dan keterbatasan modal. Struktur pasar yang dihadapi oleh para pelaku pasar dalam tataniaga kedelai adalah sebagai berikut: a. kebebasan untuk keluar masuk pasar yang dialami oleh para pelaku pasar. Petani dalam memasarkan hasilnya tidak menghadapi hambatan karena petani dengan mudah menjual kedelai kepada pembeli. Kedelai yang diperjualbelikan umumnya homogen yaitu kedelai varietas Dapros.

Pedagang Besar Propinsi dan Pedagang Pengecer Pedagang propinsi memiliki level penjualan yang lebih tinggi dari pedagang kecamatan/kabupaten. c. sehingga posisi tawarnya lebih baik dari pedagang kecamatan/kabupaten. Jumlah pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang tidak diketahui dengan pasti. Posis tawar pedagang kecamatan/kabupaten lebih baik dari pedagang pengumpul karena yang menentukan harga adalah konsumen akhir. mereka memasarkan kedelai hanya kepada pedagang besar. pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten bersifat homogen. karena umumnya pedagang pengumpul mendapat pinjaman dari pedagang besar.67 b. Komoditi yang diperjualbelikan di tingkat pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul dalam menentukan harga sangat lemah. Pedagang Besar. Pedagang Pengumpul dan Pedagang Besar Di lokasi penelitian jumlah pedagang pengumpul lebih sedikit dari jumlah petani tapi lebih banyak dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. Namun ada juga pedagang pengumpul yang bekerja sendiri. Hal ini karena pedagang pengumpul memiliki keterbatasan modal untuk membayar petani. Informasi ini diperoleh dari pedagang pengumpul lainnya dan pedagang besar itu sendiri. Posisi tawar pedagang pengecer lebih baik dari pedagang propinsi karena berhubungan langsung dengan konsumen akhir. jika tiba musim panen kedelai pedagang pengumpul banyak berdatangan dari luar Kecamatan. Informasi yang dimiliki pedagang pengumpul mengenai keberadaan kedelai dan harga jual yang berlaku lebih baik jika dibandingkan petani. pedagang besar juga harus memiliki komunikasi dan kepercayaan yang baik dengan lembaga tataniaga yang lain. Selain harus mempunyai modal yang kuat. .

hal ini dicirikan dengan banyak pedagang pengecer sebagai penjual dengan banyak konsumen akhir sebagai pembeli. Pedagang pengecer dengan konsumen menghadapi struktur pasar persaingan.68 Sistem pembayaran antara pedagang besar dengan pedagang pengumpul secara tunai. sedangkan pedagang besar melakukan pembelian di tempat penjual. Pedagang Pengecer dengan Konsumen Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir. . sistem pembayaran dan kerjasama yang terjadi antara lembaga tataniaga. Cara pembayaran untuk setiap lembaga tataniaga dilakukan secara tunai. 6.3. Praktik Pembelian dan Penjualan Setiap lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga kedelai melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. dan komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen. Komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu kedelai. kecuali polong muda penundaan pembayaran bisa terjadi karena keterbatasan modal yang dimiliki pedagang pengumpul. d. kecuali petani yang hanya melakukan kegiatan penjualan. Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer terhadap pedagang besar dan konsumen adalah tunai. a.2 Perilaku Pasar Perilaku pasar dapat diidentifikasi dengan mengamati kegiatan tataniaga kedelai dalam proses pembelian dan penjualan. Pembelian kedelai oleh pedagang pengumpul dilakukan dengan cara pedagang pengumpul langsung mendatangi petani. sistem penentuan harga.

Efisiensi tataniaga merupakan suatu kegiatan perubahan yang dapat meminimalkan biaya input tanpa harus mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa. farmer s share dan analisis rasio keuntungan dan biaya. 6. 1977). biaya dan jumlah komoditi yang akhirnya memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem tataniaga (Dahl and Hammond.4.69 b. c. 6. Bentuk kerjasama yang terjadi adalah pedagang besar menyediakan benih kedelai dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dengan mutu benih kedelai yang sama. Penguasaan informasi harga sangat didominasi oleh pedagang pengumpul. sehingga petani dapat menekan biaya usahatani kedelainya.4 Analisis Keragaan Pasar Struktur pasar dan perilaku pasar akan menentukan keragaan pasar yang dapat diukur melalui harga. walaupun terjadi tawar-menawar penetapan harga tetap lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul. Kerjasama Antar Lembaga Kerjasama antar lembaga tataniaga kedelai baru terjadi antara petani dan pedagang besar kecamatan dan kabupaten di kecamatan Ciranjang. Informasi harga dibawa oleh pedagang pengumpul saat akan membeli kedelai di tempat atau sawah petani. Proses penentuan harga antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar lebih banyak dipengaruhi oleh harga kedelai di pasar. Analisis efisiensi tataniaga mencakup analisis marjin tataniaga.1 Marjin Tataniaga Marjin tataniaga diartikan melalui selisih harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat pedagang pengecer yang diperoleh dengan satuan rupiah per . Sistem Penentuan Harga Posisi petani adalah sebagai penerima harga.

Saluran tataniaga kedelai yang melalui pedagang pengumpul yaitu saluran satu sampai saluran lima (Tabel 19) dan saluran tataniaga yang melalui pedagang besar kabupaten yaitu saluran enam sampai saluran delapan (Tabel 20). Kabupaten Cianjur terdiri dari delapan saluaran tataniaga. . Penghitungan marjin meliputi biaya tataniaga dan keuntungan lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tersebut. Saluran ke-3 sama seperti saluran ke-2 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. tenaga kerja. Secara umum petani menyalurkan kedelai melalui dua lembaga saluran tataniaga.70 kilogram kedelai. yaitu saluran ke-1 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kecamatan dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Biaya tataniaga tersebut meliputi biaya transportasi. Saluran ke-2 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kabupaten dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar kabupaten. Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah komoditi yang dipasarkan. Marjin tataniaga dalam penelitian ini dihitung berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang terbentuk. pengemasan dan retribusi. Biaya tataniaga merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam memasarkan kedelai dari petani sampai ke konsumen akhir. Keuntungan pemasaran merupakan selisih antara harga jual dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan. Sistem tataniaga yang terjadi di Kecamatan Ciranjang. Pembahasan mengenai sebaran marjin tataniaga dibagi menjadi sebaran marjin melalui pedagang pengumpul dan sebaran marjin melalui pedagang besar kabupaten.

Total keuntungan Rp 907. tenaga kerja dan pengemasan Rp 25 dan penyusutan Rp 7 per kilogram.71 Saluran 4 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu dibawa ke pedagang kecamatan lalu ke pedagang propinsi dan diserap pengrajin tahu/tempe (Bandung). Saluran ke-5 sama seperti saluran ke-4 hanya tujuannya ke pedagang pengecer lalu ke konsumen akhir. per kilogram (Tabel 18).33 dan pedagang pengumpul Rp 356.33 dan Rp 48.67. paling banyak berasal dari pedagang kecamatan yaitu Rp 600 dan pedagang pengumpul Rp 404. Pada tingkat pedagang kecamatan biaya yang dikeluarkan untuk transportasi sebesar Rp 16.07 per kilogram. paling besar berasal dari pedagang kecamatan sebesar Rp 551. Pada saluran tataniaga 1 dengan tujuan akhir pengrajin tahu/tempe.33 per kilogram dan biaya tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 15 per kilogram.40. . Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengecer dan pedagang kecamatan yaitu masing-masing sebesar Rp 48. Saluran ke-7 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang propinsi dan diserap oleh pengrajin tahu/tempe.67 per kilogram. total biaya tataniaga yang dikeluarkan sebesar Rp 97. Saluran ke-6 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen (Kabupaten Cianjur). Total perolehan marjin Rp 1 004.40 per kilogram.40 per kilogram. Saluran ke-8 sama seperti saluran ke-7 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengumpul meliputi biaya transportasi untuk mencari kedelai sebesar Rp 33.

52 3 095.00 72.09 5.11 1.60 3 095.00 500. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.00 5 000.00 118.52 3 095.00 600.00 55.60 48.60 48.33 600.58 44.86 85.24 14.74 5.60 9.00 118.85 53.00 77.45 14.07 404.33 356.92 32.52 3 095.08 810. Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 1.50 75.67 1 381.91 8.25 23.64 11.37 50.86 85. Tiga.00 57.78 1.07 404.68 9.60 48.43 71.00 5 000.00 4 100.08 810.00 1.63 100.99 77.07 7.33 356.50 1.37 80.77 75.50 75.43 .08 810.60 48.00 4 100.33 356.78 35.68 9.52 3 095.08 76.00 3500.40 3 500.07 404.01 68.33 1 500.86 0. Pedagang Kecamatan Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.50 1.07 404.08 810.83 21.62 46.40 3 500.85 1.60 3 095.69 5.16 12.40 3 500.89 % Saluran 5 Harga (Rp/kg) 2 285.77 75.00 3 500.00 1.00 48.60 48.72 Tabel 19 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.00 428. Pedagang Pengumpul Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.67 1.73 19.07 404.19 13.48 6.40 3 500.78 50.00 543.70 19.51 11.47 47.08 810.33 1 500. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 2 285.39 13.60 3 095.73 21.33 356.00 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) 2 285.00 % Saluran 4 Harga (Rp/kg) 2 285.00 3 500.00 3 500.22 53.60 3 095. Dua.15 0.73 19.52 3 095.11 88.00 92.00 3 500.60 3 095.00 % 55.67 551.79 66.22 42.18 8.40 3 500.00 4 000.00 % Saluran 3 Harga (Rp/kg) 2 285.33 356.78 18.63 100.00 50.67 1 381.18 8.

00 112.54 75. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 6.62 4.89 1.58 68.00 165. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 8.08 100.00 600.36 17.10 7.67 11.08 52.00 5 000.12 27.55 44.00 1 235.00 4 500.00 500.73 Tabel 19 Lanjutan Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 5.47 8.00 907.92 1.00 4 500.50 2.40 9.50 105.00 3 125.11 100.00 5.40 3 404.50 2.40 11.00 77.00 97.00 100.72 21.79 100.00 1 400.00 4.78 . Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 7.00 71.40 8.93 24.33 899.00 6 400.00 6 400.57 100. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share 4 100.00 100.00 7 000.00 1 500.40 8.40 1 004.00 6 500.35 75.57 21.50 279.43 2.13 24.40 3 904.44 9.22 100.00 523.64 20.00 435.35 23.43 4 000.00 100.00 92.00 76.00 185.00 3 495.00 6500.00 88.84 49.40 6.00 91.37 22.21 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) % Saluran 3 Harga (Rp/kg) % Saluran 4 Harga (Rp/kg) % Saluran 5 Harga (Rp/kg) % 5 000.00 4 100.29 48.07 1 404.00 65.33 1 219.93 55.86 1.09 31.00 1 388.00 409.20 47.38 7 000.07 1 004.

penyusutan Rp 7 dan biaya tenaga kerja Rp 25 per kilogram.07 per kilogram. Total marjin yang diperoleh sebesar Rp 3 404.40 per kilogram.07 paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 543 dan pedagang pengecer sebesar Rp 365.74 Saluran tataniaga 2 sama dengan saluran tataniaga 1. pemasaran kedelai sampai ke konsumen akhir melalui pedagang pengecer. tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 10. Pada saluran tataniaga 3. paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 600 dan pedagang pengecer Rp 404.40. pedagang pengecer Rp 435 dan pedagang kabupaten Rp 428 per kilogram. hal ini dikarenakan biaya tataniaga yang dikeluarkan sangat besar yaitu Rp 72 yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp 40.40 dengan sebaran marjin di pedagang kabupaten dan pedagang pengecer yaitu masing-masing Rp 500 per kilogram dan pedagang pengumpul Rp 404. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk tujuan pengrajin tahu/tempe yaitu biaya transportasi Rp 30. Total keuntungan Rp 899. Saluran tataniaga 4 merupakan saluran dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung melalui pedagang besar propinsi. Pedagang kabupaten memperoleh keuntungan sedikit.40 paling besar berasal dari pedagang .33 dan pedagang pengecer sebesar Rp 65 per kilogram. Total keuntungan tataniaga sebesar Rp 1 219. hanya pada saluran 2 dari pedagang pengumpul kedelai dibawa ke pedagang kabupaten.07. Biaya tataniaga paling kecil dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 48. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 1 404. biaya pengemasan Rp 5 dan penyusutan Rp 7 per kilogram.07 paling besar berasal dari pedagang pengumpul Rp 356. Total marjin tataniaga saluran 2 sebesar Rp 1 004 sama dengan saluran 1.

Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang kecamatan. Marjin terbesar berasal dari pedagang kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing sebesar Rp 1 500 dan Rp 1 400 per kilogram.07 sampai Rp 1 381.33 per kilogram.67. Pada saluran tataniaga 5 merupakan saluran yang sama dengan saluran 4 hanya tujuan tataniaga kedelai adalah konsumen akhir di daerah Bandung.33 sampai Rp 118. Biaya tataniaga yang dikeluarkan berkisar antara Rp 48. Total keuntungan saluran tataniaga in sebesar Rp 863 dengan pembagian keuntungan pada pedagang kabupaten sebesar Rp 426 dan pedagang pengecer sebesar Rp 435 per kilogram.75 kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing Rp 1 500 per kilogram. Keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 356. tenaga kerja bongkar muat Rp 20 dan pengemasan Rp 5 per kilogram. hanya pada penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang propinsi sebesar Rp 165 per kilogram dan biaya tataniaga terendah pada pedagang pengecer. Total marjin tataniaga yang diperoleh dari lembaga tataniaga sebesar Rp 4 904.40 per kilogram. Total keuntungan sebesar Rp 3 125. Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang kabupaten merupakan biaya terbesar yaitu Rp 72 .67 per kilogram. penyusutan Rp 7. Saluran tataniaga 6 (Tabel 20) merupakan saluran yang tujuannya sama dengan saluran tataniaga 3.40 paling besar keuntungan yang diperoleh pedagang propinsi sebesar Rp 1 388 per kilogram. biaya tersebut terdiri dari biaya transportasi Rp 86. Total marjin tataniaga Rp 1 000 dengan pembagian yang merata pada pedagang kabupaten dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 perkilogram (Tabel 19).

50 1 500.14 100. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 5.00 435.00 93.71 1.00 65. tenaga kerja Rp 25 dan penyusutan sebesar Rp 7 per kilogram.00 423.00 .00 72.67 2.92 3 500.75 1 198.00 5 000.76 dengan alokasi terbesar untuk biaya transporatsi Rp 40.43 71.00 3 500.00 43.00 137.75 1 198.09 3 000.00 48.00 4 000.85 Saluran 8 Harga % (Rp/kg) 2 301.61 21.85 Saluran tataniaga 7 merupakan saluran yang sama dengan saluran 6 hanya tujuan penyaluran kedelai adalah pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung.00 4 500. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang Uraian 1.75 1 198.50 1 395.33 1.00 6 500.67 11.00 70.44 9.12 50.00 500.78 100. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.62 23.00 77.00 35.00 4.48 1.00 22.25 3 500.89 3 500.00 90.50 1 405.45 21.41 18.43 50.04 863.00 4 500.43 5 000. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.15 16.00 51.00 154.00 500.00 50.00 5 000.50 1 500.11 100.00 500.00 66.78 Saluran 7 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 6 400.08 21.32 1.00 104.00 6 500.50 1 400.18 1 000.08 76.00 91.00 53.60 9.00 428.35 20.51 11.00 75.57 9.08 53.00 100. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.06 2 801.00 326.00 7 000.00 1.4.08 100.41 17.25 3 500.47 23.50 1 500.15 14.00 46.43 53.00 32.50 1 245.50 1 405.30 77.63 77. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share Saluran 6 Harga % (Rp/kg) 2 301.00 3. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 3 000 dengan pembagian yang merata .22 6.42 1.10 6.11 88.00 43.25 3 500.43 4 000.00 199.00 5 000.00 3. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 6.00 100.00 94. Tabel 20 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam.88 17.00 7 000.79 20.86 3 074.00 19.00 6 500.04 7.91 3 400.

6.5 dan pedagang pengecer sebesar Rp 423 per kilogram. Total biaya tataniaga sebesar Rp 326 per kilogram dengan biaya terbesar pada pedagang propinsi. Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang kabupaten sebesar Rp 1 405. maka dapat dilihat persentase pangsa marjin (Tabel 21) dan persentase net marjin (Tabel 22) yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masing-masing saluran tataniaga. Total marjin tataniaga yang diperoleh Rp 3 400 dengan alokasi terbesar pada pedagang kabupaten sebesar Rp 1 500. Secara keseluruhan marjin tataniaga di setiap saluran tataniaga di kabupaten Cianjur cenderung tinggi. Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan . Saluran tataniaga 8 merupakan saluran yang tujuan pemasaran kedelai sama dengan saluran tataniaga 5.5 pada pedagang kabupaten. Pangsa Marjin Berdasarkan sebaran marjin tataniaga kedelapan saluran tataniaga di atas.5 per kilogram dengan alokasi terbesar untuk biaya transportasi dan penyusutan. Keuntungan terbesar sebesar Rp 1 405.2 Pangsa Marjin dan Net Marjin a.4. Biaya tataniaga berkisar antara Rp 94. pada pedagang propinsi Rp 1 245. pangsa marjin diperoleh dari marjin tataniaga masing-masing lembaga dibagi total marjin tataniaga dalam bentuk persen. Pangsa marjin digunakan untuk melihat besarnya marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. pedagang propinsi sebesar Rp 1 400 dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 per kilogram.77 pada pedagang propinsi dan pedagang kabupaten masing-masing sebesar Rp 1 500 per kilogram. hanya penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul.5 per kilogram.5 sampai Rp 104.5 dan pedagang propinsi sebesar Rp 1 395.

00 100. Tabel 21 menginformasikan pangsa marjin terbesar terdapat pada saluran tataniaga satu dan saluran tataniaga dua dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur yang diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten yaitu masing-masing sebesar 59.00 100.26 28.00 100.00 50.42 persen.60 50. Pada saluran tataniaga ini merupakan pangsa marjin terbesar dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas dan diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten. pedagang kecamatan sebesar 38.42 59.06 38.36 persen.78 pada setiap pelaku pasar.12 44.79 11. Sebaran pangsa marjin pada saluran ini cenderung belum merata yaitu pedagang pengumpul sebesar 10.36 Pangsa Marjin (%) Pedagang Pedagang Pedagang Kecamatan Kabupaten Propinsi 59.00 100.08 35.00 100.00 100.88 10.26 40. net marjin dihitung dari keuntungan tiap lembaga tataniaga dibagi total keuntungan tataniaga dalam bentuk persen.37 50.00 14.00 41.00 100.00 44.745 persen.60 15.74 35. Tabel 21 Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 40. Pada saluran tataniaga satu dan dua terdapat dua pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul dan pedagang kecamatan/kabupaten.71 Total Pangsa Marjin 100.18 Pedagang Pengecer 35.74 44. .00 Saluran tataniaga lima merupakan saluran terpanjang dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas yaitu melibatkan empat pelaku pasar. Saluran tataniaga yang efisien ditunjukkan oleh perolehan marjin yang merata di setiap pelaku pasar.86 50.

24 39.39 35.96 50.79 pedagang propinsi sebesar 35.60 29.41 35.29 Pedagang Kabupaten 60.33 49.29 persen. Sebaran net marjin pada saluran tiga. Tabel 22 Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Net Marjin (%) Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 39.00 100.00 100.68 14.00 100.37 persen..82 40.52 Pedagang Pengecer 35.00 100. Saluran tataniaga lima yang merupakan saluran terpanjang. net marjin terendah diperoleh pedagang pengumpul sebesar 10. Pelaku pasar yang telibat pada saluran tataniaga enam adalah pedagang kabupaten dan pedagang pengecer dengan tujuan tataniaga kedelai konsumen di Kabupaten Cianjur.19 persen.19 Pedagang Kecamatan 60.59 50.24 persen dan pedagang kecamatan 60. Net Marjin Tabel 22 menginformasikan sebaran net marjin pada saluran tataniaga satu dan dua cenderung belum merata.86 persen dan pedagang pengumpul sebesar 15.00 .41 13.00 100. Tinggi marjin pada setiap pelaku tataniaga karena tingginya biaya tataniaga yang dikeluarkan.00 100. enam dan tujuh cenderung sudah merata.00 100.11 49.76 persen pada saluran satu.76 44.18 45. terlihat dari pedagang pengumpul memperoleh 39. b. dan tertinggi pedagang kecamatan dan pedagang propinsi sebesar 43.72 Pedagang Propinsi 44.19 43. Saluran tataniaga tujuh melibatkan pedagang kabupaten dan pedagang propinsi dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung. dan melibatkan dua pelaku pasar dengan penyebaran pangsa marjin yang sudah merata yaitu masing-masing sebesar 50 persen.21 11.39 10. Saluran tataniaga enam dan tujuh merupakan saluran tataniaga tanpa melalui pedagang pengumpul.76 Total Pangsa Marjin 100.

00 B 85.00 91.08 3 495.50 1 004. Tabel 23 Total Marjin.93 863.22 3 000.78 53.40 24.00 D E F Ket: .00 19.00 C 100.09 3 125.40 48.91 A 75. pelaku pasar yang memperoleh pangsa marjin dan net marjin yang nilainya cenderung merata adalah pedagang kecamatan.00 88.09 3 074.37 85.80 Pada setiap saluran tataniaga. Kecamatan . Farmer s Share berhubungan negatif dengan marjin tataniaga.40 22.00 3.78 1 000.40 24.40 31. Pengumpul.37 77. artinya semakin tinggi marjin tataniaga maka bagian yang akan diterima petani semakin rendah.57 185.40 55.00 2. maka dapat diketahui tingkat Farmer s Share yang diterima petani (Tabel 23). 6.22 77.43 100. pedagang kabupaten dan pedagang propinsi.00 100.07 21.00 100.00 43. Tahun 2008 Saluran 1 Rp 2 3 4 5 6 7 8 % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Total Marjin 1 004.21 3 404. perolehan net marjin berbeda-beda tergantung kepada siapa mereka menjual kedelainya.50 68.29 409.93 1 219.62 44.40 52.92 71.3 Farmer s Share Farmer s Share digunakan untuk membandingkan harga yang dibayarkan konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase.40 49.78 53.Persentase share pelaku pasar berdasarkan harga jual di tingkat pelaku pasar dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen . Berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang dibahas. Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang. C = Share P. Berbeda dengan pedagang pengumpul dan pengecer.37 105.57 Total Biaya 97.12 279.85 50.00 46.86 Total Keuntungan 907.3 899.33 2.43 100.43 88.92 71.89 100.06 326.15 3 400.00 76.07 27.79 47.84 137.00 5.A = Share Petani. Total Biaya. B = Share P.00 22.00 43.89 72.00 4.38 3 904.04 199.33 4.18 2 801.00 3.4.00 91.00 4.00 48. Hal ini karena tujuan pemasaran dari ketiga pedagang tersebut sudah ada.85 50.43 100.50 75.50 1 404.

Hal ini menunjukkan posisi tawar petani masih lemah dibanding dengan pelaku tataniaga lainnya.D = Share P. Pengecer Nilai Farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada berkisar antara 44.78 persen.22 sampai 77. Kabupaten. Dilihat dari nilai Farmer s share yang diperoleh pada setiap saluran tataniaga dapat diketahui bahwa saluran tataniaga yang efisien adalah saluran tataniaga enam karena dilihat dari total marjin tataniaga yang dikeluarkan rendah. nilai yang tinggi artinya keuntungan yang diperoleh semakin tinggi . .81 . Farmer s share terbesar terjadi pada saluran tataniaga enam yaitu sebesar 77.78 persen. Propinsi. Bagian terkecil terjadi pada saluran tataniaga lima yang merupakan saluran tataniaga terpanjang dalam tataniaga kedelai dari Kecamatan Ciranjang ke konsumen akhir.49. Nilai rasio dapat dilihat pada Tabel 24. Nilai rasio ini memberikan arti bahwa setiap satu rupiah perkilogram biaya tataniaga yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 14. Rasio keuntungan terendah terdapat pada saluran tataniaga tiga pada tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 5. Berdasarkan Tabel 23 diketahui nilai farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada terlihat masih rendah dibanding dengan bagian yang diterima pelaku tataniaga. F = Share P. 6.4. E = Share P.4 Rasio Keuntungan dan Biaya Tingkat efisiensi tataniaga dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga paling tinggi terdapat pada saluran tataniaga tujuh dan delapan pada lembaga pedagang kabupaten yaitu sebesar 14.87 per kilogram.87.

36 1 381.00 (1.44) 6.64 543.25) 118.94 1 405.00 (9.00 (13.35 1 245.09) 48.60) 5.79 435.393 1 235.50 (1.08) 94.10) 6.50 (1.07 (5. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki .47) 104.00 (1.00 (21. saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.68) Biaya (Rp) 48.74) 7.33 (0. Tahun 2008 Lembaga Tataniaga Saluran Tataniaga 1 2 356.64) 165.18) Rasio /C Pedagang Kecamatan Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 551.36 1 381.67) 65.50 (2.67 (1.41) 8.19) Rasio /C 11.67 persen.07 (8.36 3 356.70) 11.07) 7.00 (7.00 (9.61) 13.3 (19.4.07 (7.36 4 356.33 Pedagang Kabupaten Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 7.33 (1.49 9.82 Tabel 24 Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.60) 5.48) 48.00 (1.24) 57.83) 11.36 6.36) 7.35) 112.00 (9.50 (20.87 1 405.45) 48.50 (17.44) 6.45) 14.69 1 388.50 (21.00 (1.26) 94.67) 65.64 428.00 (1.48 523.22 persen) dengan volume barang 26.87 6 7 8 Pedagang Pengumpul Keuntungan 356.39) Rasio /C Pedagang Propinsi Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C Pedagang Pengecer Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C 435.68) 48.91) 48.5 Alternatif Saluran Tataniaga Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai.69 1 395.07 (5.69) 7.04) 77.53 428.79) 154.07 (Rp) (8.00 (6.3 (21.50 (21.00 (17.50 (1.33 (1.67 (1.67 (1.00 (2.33 (1.73) 118.51) 72.00 (1.51) 72 (1.00 (9.33 (13.35) 14.72) 12.94 5 356.06 423.00 (1.33 (0.10) 5.18) 7.47) 77.

Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masingmasing sebesar Rp 9. . Alternatif saluran tataniaga yang juga dianggap efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua. Saluran tataniaga satu dan dua akan efisien jika petani berlokasi jauh dari pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten karena tidak mengeluarkan biaya angkut.33 persen.50 persen dan farmer s share sebesar 75.35 dan Rp 8.50 persen.54 per kilogram dengan volume kedelai 73. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.78 persen.83 farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.30 per kilogram.

Proses tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul. Biaya usahatani kedelai paling besar dialokasikan untuk benih dan pupuk.28 artinya setiap masukan untuk usahatani kedelai memberikan penerimaan sebesar Rp 1. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Posisi tawar yang miliki petani masih rendah dibanding pelaku tataniaga.1 Kesimpulan 1. pedagang kabupaten. Saluran tataniaga yang terbentuk ada delapan saluran tataniaga kedelai dengan setiap pelaku pasar melakukan fungsi tataniaga seperti fungsi pertukaran. Usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang pada saat kebijakan tarif impor ditiadakan secara ekonomis masih menunjukkan kelayakan untuk dikembangkan karena memberikan nilai R/C rasio sebesar 1.37 ton per hektar.28.84 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. sedangkan di tingkat pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten harga ditentukan oleh pedagang besar propinsi. sehingga keuntungan lebih besar pada level pelaku pasar yang lebih tinggi. pedagang propinsi dan pedagang pengecer. Produktivitas kedelai di kecamatan Ciranjang 1. 3. Penentuan harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul ditentukan oleh pedagang besar. pedagang kecamatan. Sistem pembayaran . Di Kecamatan Ciranjang kegiatan budidaya kedelai masih belum dilakukan dengan intensif 2. Petani hanya melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fisik.

2. 7. .78 persen dan B/C ratio sebesar 6.30.85 yang terjadi umumnya nota dan tunai. Kerjasama antara pelaku pasar umumnya dalam bentuk pinjaman modal.67 persen. Selain itu.2 Saran 1. agar pendapatan petani dapat meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Petani dalam memasarkan hasilnya sebaiknya berkelompok sehingga dapat dijual langsung ke pedagang kabupaten dengan harga yang lebih tinggi dan biaya transportasi dapat ditanggung bersama. saluran tataniaga ini juga memperlihatkan pangsa marjin dan net marjin yang cenderung sudah merata di setiap tingkat lembaga tataniaga. 4. Petani dalam melakukan budidaya kedelai sebaiknya membuat perencanaan penanaman sehingga musim tanam berikutnya tidak terganggu dan panen polong muda dapat dihindari. Pengusahaan budidaya kedelai yang belum dilakukan dengan intensif oleh petani sehingga hasil yang diperoleh masih rendah memerlukan pembinaan lebih lanjut oleh petugas penyuluh pertanian. Saluran tataniaga kedelai yang memberikan keuntungan adalah saluran tataniaga enam dengan volume 26. Hal ini terlihat dari perolehan total marjin yang paling rendah yaitu Rp 1 000. farmer s share paling tinggi sebesar 77.

Manajemen Pemasaran. 2007. 1982. R. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Binapura Aksara. 2007. Nuryanti. Rachman. Pengantar Tataniaga Pertanian. Ed 2. Laporan Tahunan 2001-2006. Teori dan Kasus). H. S dan R Kustiari. D. Inc. 1977. Boyd. 1987. Elizabeth. Penebar Swadaya. Nurmanaf. Rohim. IPB Press. 2000. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Inc. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Manajemen Pemasaran. 2004. Puspodewi. et al. Z. Skripsi. Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. . 1996. 1997. Larreche J C. Bogor. Jawa Tengah. Pengantar Mikroekonomi Jilid 2. Ekonomi Pertanian ( Pengantar. McGraw-Hill Book Company. A R. 1983. Universitas Indonesia. 2005. Penguatan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Mendukung Pengembangan Agribisnis Kedelai. Lipsey. Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Pemerintah Kabupaten Cianjur. New Jersey. H W. Jakarta. Hanafiah dan Saefuddin. Jakarta Barat. Prentice Hall. Institut Pertanian Bogor. Dahl C D and Hammond J W. Tataniaga Hasil Perikanan. Jakarta. Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kedelai dengan Kebijakan Tarif Optimal. Bogor. 2007. Jambi. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif serta Dampak Kebijakan Pemerintah Pada Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Boyolali. Bogor. Market and Price Analysis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Ed 11. A M. et al. Erlangga. FAE Vol 5. Hal 45-53. Fakultas Pertanian.86 DAFTAR PUSTAKA Azzaino. Kedelai dalam Kebijaksanaan Pangan Nasional dalam Ekonomi Kedelai. Jalur Pemasaran Kedelai di Daerah Transmigrasi. Departemen Pertanian. The Agricultural Industries. Kotler. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. A dan Diah R. Bogor. 2007. P. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Walker O C. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. R. Jakarta.

Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Analisis Usahatani. Yogyakarta. Permintaan Impor Kedelai Indonesia dari Amerika Serikat dan Aliran Impor Kedelai ke Indonesia. Aspek Produksi dan Tataniaga Kedelai di Jawa Timur. Rusastra. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Aspek Produksi dan Pemasaran Kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri). Kanisius. 1995. Hal 67-77. UI Press. 2004. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.87 Rukmana. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Hal 8-18. Jakarta. Kedelai. 1992. 1993. Surifanni. R dan Yuyun Y. Institut Pertanian Bogor. Departemen Pertanian. Departemen Pertanian. Budidaya dan Pascapanen. Soekartawi. et al . Pusat Analisis Sosial Ekonomi Pertanian. D M. FAE Vol 10 dan 11. Skripsi. 2006. . Saptana. Fakultas Pertanian.

.

90 ANALISIS USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN CIANJUR. JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PETANI KEDELAI Nama Petani : _______________________________ Desa : _______________________________ Kecamatan : _______________________________ Kabupaten/Kota : CIANJUR .JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Jumlah anggota keluarga (di luar KK) : _________ Orang f. Anggota keluarga yang membantu usahatani : _________ Orang 1.91 I. Penguasaan aset lahan Luas (ha) Status Penguasaan Sawah Tegal Kebun Pekarangan Kolam Lainnya Total (ha) 1. GADAI 5.Hand sprayer .Sapi/kerbau . Penguasaan alat pertanian.Kendaraan roda 4 ._________________ 3. Pekerjaan sampingan : __________________________ e. Sarana Transportasi . Pendidikan : ________ tahun c.Pompa Air .2.Lantai Penjemuran .MILIK 2.Perontok kedelai . Ternak ._________________ 2.1) b. SEWA 4.LAINNYA TOTAL . Penguasaan Aset Pertanian a.Kambing/domba . Pekerjaan utama : __________________________ d.Sepeda . transportasi dan ternak Jenis asset yang dimiliki 1. SAKAP 3._________________ Ket : 1) Status kepemilikan Jumlah (unit) Kapasitas pakai Ket. Umur : ________ tahun b. KARAKTERISTIK PETANI 1. Alat Pertanian . Identitas Kepala Keluarga a.1.Sepeda motor .

Pupuk Kandang . Cara tanam b. Pupuk ._________________ . Jumlah tenaga kerja -Tenaga Ternak . Benih/Bibit 1) 2.ZA .UREA . Jarak tanam kedele: : ________________________ Masukan usahatani kedelai Jenis Sarana Produksi Jumlah (Kg/Lt) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 1.___________________ . rodentisida.92 II. Penanaman a. Pengolahan tanah a.3. MASUKAN DAN PENGELUARAN USAHATANI KEDELAI 2. Jenis Varietas kedele : ________________________ 2._________________ 1) Termasuk insektisida. Pestisida . dll.___________________ 3. fungisida.2.4.1.Manusia 2.___________________ 4. Pola tanam per tahun : ________________________ 2.KCL . 2. Luas persil yang dianalisis : _______ ha Pilih persil yang ditanam kedele 2.Manusia Keluarga Nilai HOK (rp) Luar keluarga Nilai Borongan (rp) (rp) HOK -P -W -P -W .TSP/SP-36 .5.NPK . Lainnya . Cara/frekuensi b. Masukan tenaga kerja usahatani kedelai Jenis Kegiatan 1. Jumlah tenaga kerja .

Cara/frekuensi b.Manusia Ket : 1) Keluarga Nilai HOK (Rp) HOK Luar keluarga Nilai Borongan (Rp) (Rp) -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W Pupuk kandang dan pupuk buatan 2.5. Jumlah tenaga kerja . Iuran kelompok tani 3. Lainnya: _________________ Nilai (Rp) . Jumlah tenaga kerja . Jumlah tenaga kerja . Pemupukan1) a. Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja . Pengeringan a. Pengendalian HPT a. (Masukan tenaga kerja usahatani kedelai) Jenis Kegiatan 3. Iuran desa 4.93 Lanjutan Tabel 2. Jumlah tenaga kerja . Penyiangan/dangir a.Manusia 4. Cara/frekuensi b.Manusia 6.Manusia 5. Pajak lahan yang dianalisis 6. Jumlah tenaga kerja . Cara/frekuensi b. Sewa pompa 2. Panen/angkut a. Cara/frekuensi b. Biaya lain-lain untuk usahatani kedelai (Rp/musim) Uraian 1. Jumlah tenaga kerja .6. Pengairan a. Perontokan a.Manusia 7.Manusia 3. Cara/frekuensi b. Cara/frekuensi b.Manusia 8.

Sendiri. Pupuk . Sebutkan jenis-jenis sarana produksi (Benih. Bayar tunai. Benih 2. Pestisida ______________ ______________ 4. Lainnya: _______________ _______________ Sumber1) Cara2) mendapatkan Harga (Rp/satuan) Bunga (%/th) Volume (Kg/Ikat) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Ket : 1) Sumber: 1. Kredit/pinjam. Lainnya Total III. 4.2. Pengadaan sarana produksi: ___________________________________________________________________ b. Sebutkan permasalahan utama yang dihadapi bapak dalam usahatani kedelai dari aspek: a.UREA .ZA . Pedagang hasil. pupuk dan pestisida) yang dibutuhkan tetapi sulit diperoleh:: ___________________________________________________________________ _____________________________________________________ 3. Kios saprotan.NPK . 2. 3.KCL . OCE kering b.TSP/SP-36 . 2. INFORMASI USAHATANI KEDELAI Sumber dan cara perolehan sarana produksi Jenis Sarana produksi 1.1. 5.Pupuk Kandang 3.3. Iklim (kekeringan) . 3. Total produksi dan nilai produksi Bentuk produksi a.7.Lainnya: ________ 2) Cara perolehan: 1. 3. Polong basah c.94 2. Petani lain. Yarnen. Lainnya: _________ 3. 4.

Lainnya: ___________________________________________________________________ . Gangguan HPT (Hama Penyakit Tanbaman) ___________________________________________________________________ d. Pemasaran (harga jual) ___________________________________________________________________ e.95 ___________________________________________________________________ c.

Bayar kemudian. 2.Lainnya 7.Lainnya: ____________ 2) Lokasi : 1 =Di kebun. Karung.96 IV. 2 =Di tempat penjual.wadah. Bayar dimuka. Volume dan nilai penjualan (rataan satu bulan) Uraian 1. 2. Lainya: __________ . 3. Di tempat pembeli. TK. TK Bongkar-muat 6. OCE kering d. 4 =Lainnya: __________ 3) Cara transaksi: 1. 4. 5=Pedagang pengecer. Biaya angkutan 3. Lainnya: _________ 4) Cara pembayaran: 1. 3. 4. Penjualan: a. Retribusi 5. 3=pedagang pasar induk/tradisional.1. Lainnya Total (a+b+c+d): 2.dsb. 3 =Di tempat pembeli. 2=supplier. 6.Bayar tunai. 1) Satuan Jenis pembeli 1) Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi2) transaksi Cara 3) transaksi Cara4) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Ket : Jenis pembeli: 1=pedagang besar.Barang diterima di tempat penjual. PEMASARAN KEDELAI 4.

dari mana sumber informasi tersebut: 1. Lainnya: ________ 5. apakah Bapak memperoleh informasi harga? 1.4. Apakah dalam penjualan hasil. Ya 2.97 V. Pedagang 3.Ya 2.1.5. Apa kendala petani untuk dapat akses kepada pelaku pemasaran tertentu: a. jelaskan cara kerja sama tersebut: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ . Bagaimana upaya Bapak agar selalu memperoleh harga jual yang menguntungkan? _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. INFORMASI PEMASARAN 5. eksportir) ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ c.3.2. Tidak Bila ya. Sebelum melakukan penjualan hasil.Tidak Jelaskan: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. Apakah ada kerjasama antara petani dengan pihak lain termasuk pedagang dalam hal pemasaran hasil : 1. Tidak Jika ya. Ya 2. Menjual ke Pedagang Besar: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ b. Menjual langsung Supermarket: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ d Menjual ke pasar pengecer: _________________________________________________________________ _____________________________________________________ 5. petani dapat memilih kemana saja sesuai keinginan: 1. Menjual ke Supplier (Supermarket. Petani lain 2. Kelompok tani 4.

Tidak Bila ya. isikan: Sumber modal/ Musim Tanam 1.Kios saprotan .Pegadaian .Bank . Kredit Formal .Famili Jumlah (Rp) Bunga (%/th) Lama pinjaman (bln) Total pengembalian (Rp) . Apakah bapak melakukan pinjaman untuk kebutuhan modal usahatani: 1. Ya.98 5.Pelepas uang .Kredit Program 2.6. Kredit Informal .Pedagang hasil . 2.

JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PEDAGANG KEDELAI Jenis Pedagang Pilih yang tepat 1. Pedagang Pengumpul Desa 2. Pedagang Pengumpul Luar Desa 3. Supplier 5. Pedagang Besar 4. Pedagang Pengecer 6. Lainnya: ________________________ Nama Pedagang Bentuk Usaha Desa/Lokasi Kecamatan Kabupaten/Kota : _______________________ : _______________________ : _______________________ : _______________________ : CIANJUR – JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .99 ANALISIS TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. KABUPATEN CIANJUR.

4 Jenis produk lain yang diperdagangkan selain kedelai: _________________________________________________________________ 1. Kendaraan roda empat 7. IDENTITAS PEDAGANG 1.100 I. Pendidikan : _________ Tahun : _________ Tahun 1. Kendaraan roda dua 6. Kendaraan barang 8. Alat timbang 5. Sepeda motor __________________ __________________ __________________ __________________ Jumlah (unit) Total Total Nilai (Rp) .5. Mulai kegiatan dagang : Tahun __________ 1.1. Umur responden 1. Gudang simpan 2.2.3. Fasilitas yang dimiliki pedagang: Jenis Fasilitas 1.

Bantuan modal _______ ____________________ b. Karung/wadah. TK lainnya (Rp) 7. Biaya angkut (Rp)2) 4.Harga (Rp/ku) .Volume (Ku) . 3.Volume (Ku) . Besar Kab/Prop Pasar Induk Lainnya a. Lainnya: _____________ _______ ____________________ .4. Pengemasan (Rp) 8. TK bongkar-muat (Rp) 6. dsb.101 2. Lainnya: __________ 2) Termasuk pungutan/retribusi di jalan/di tempat penjualan 2.Nilai (Rp) 2. Kelancaran pembayaran _______ ____________________ d.Di tempat pembeli. Lainnya . OCE kering .3.(Rp) 5. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok pedagang (rataan per tahun) Sumber/pemasok komoditas Pembelian bahan baku Pengumpul Desa Pengumpul luar desa. 2. Retribusi&lainnya (Rp) 9.Nilai (Rp) b. Pdg. Hadiah _______ ____________________ c. Bagaimana usaha responden untuk membina kelangsungan hubungan kerja dengan petani pemasok bahan baku: Jenis pembinaan Ya/Tidak Penjelasan a. Ada kakitangan di lapangan _______ ____________________ e.Harga (Rp/ku) . Tempat penerimaan barang 1) 3. Biaya lain (Rp) Total biaya (3 s/d9): Ket : 1) Isikan: 1 = Di temapat penjual.Nilai (Rp) Total Pembelian (a s/d d): .Harga (Rp/ku) .Volume (Ku) .

Total perolehan: ________ Ku/tahun b. Sumber perolehan : Sendiri = _______ %. 3. 4. 3 = di jalan. Di tempat pembeli. TK Bongkar-muat 5. ASPEK PENGADAAN/PEMBELIAN BAHAN BAKU KOMODITI KEDELAI 2.1. TK. Lainya: _________ 3) Cara pembayaran: 1. 2. Petani: _______ %. 4 = di rumah pedagang 2) Cara transaksi: 1. 2 = di rumah petani. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok petani (rataan per bulan) Uraian 1. Bayar dimuka. 3. Volume dan sumber perolehan bahan baku rataan per bulan a.wadah. 2. 2.102 II.2. 1) Satuan Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi1) transaksi Cara 2) transaksi Cara3) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Rp xxx xxx xxx Lokasi : 1 = di kebun. Lainnya = _______ %. Pembelian: a. 4. Biaya angkutan 3.Bayar kemudian. Lainya: __________ . Retribusi 5. Bentuk OCE b.Bayar tunai.Barang diterima di tempat penjual.dsb.Lainnya 7. Pedagang = _______ %. Lainnya Total (a+b+c+d): 2. Karung.

Sortasi. Produk Pembelian 1) Kelas OCE Lainnya Volume (Ku) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 2. 5. 2.Labeling. Tenaga Kerja xxx xxx b. Biaya penanganan hasil (Rp): xxx xxx a. Hasil penanganan (siap jual) 2) OCE Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 3.1. Penyusutan xxx xxx _________________ xxx xxx _________________ xxx xxx Total (4): xxx xxx Ket : 1) Sesuai volume pembelian (rataan per bulan) 3) Perubahan volume karena kegitanan penanganan hasil (sesuai permintaan pasar) 3) Kegiatan pengolahan: 1. Grading. Wadah/Paking xxx xxx c. Lainnya: _______ . BIAYA PENANGANAN HASIL SAMPAI SIAP JUAL 3. 4. Jenis penanganan hasil 3) xxx xxx 4.103 III. Paking. 3. Biaya penanganan hasil Jenis kegiatan 1.

4.Lainnya ________________ 4) Waktu jual _______ HSP = Hari setelah panen 5) Cara bayar: 1. 3.Lainnya_____________ 3) Cara jual: 1. karung. Pengumpul luar desa 3.Basah. 3=Ikatan pinjaman kredit. 2= langganan. 4. Cara pemasaran hasil Jenis Pembeli 1. Pedagang besar 6. 7) Alasan memilih pembeli: 1=Hubungan kemitraan.Lainnya____________________ Bentuk hasil 1) Volume (kw) Tempat penyerahan 2 Cara jual3) Waktu jual 4) (HSP) Cara Bayar5) Biaya penjualan6) Alasan memilih pembeli 7) .Pengumpul desa 2. 3.Di tempat pembeli. 4=Hubungan kekeluargaan. 5. tenaga kerja. 2.104 IV.Lainnya________________ 6) Biaya penjualan: mencakup ongkos angkut.Panjar.Lainnya: _________ 2) Tempat penyerahan barang: 1.Tunai. 2.Di pasar.Di sawah. 2. 3. PEMASARAN KEDELAI 4. retribusi. dsb. Kelompok tani/kemitraan 7.Di rumah petani. 3.Ditimbang. 5=Harga beli paling mahal.Tebasan. Lainnya: _____________ Keterangan: 1) Kualitas: 1.Byar kemudian. bongkar muat. 4. 2. 6.1.OCE.Ijon.

105 V. Angkutan/transportasi: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ 5. PERMASALAHAN PEDAGANG 5. Permasalahan dalam pengadaan/pembelian kedelai: a.2. Kualitas hasil: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ d. Kontinyuitas suplai: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Kecukupan jumlah: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ b.1. Saran Kebijakan responden agar pemasaran kedelai akan lebih baik: _____________________________________________________________ ________________________________________________________ .