ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

Oleh NORA MERYANI A 14105693

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

RINGKASAN NORA MERYANI. Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di bawah bimbingan RAHMAT YANUAR. Peranan sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia, sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. Konsumsi kedelai perkapita pertahun mengalami fluktuasi. Pada periode tahun 1996-2005, rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.3 juta ton pertahun. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut. Kecamatan Ciranjang merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk, yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Kenaikan harga kedelai impor memberikan dampak yang positif terhadap budidaya kedelai di dalam negeri. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat pendapatan usahatani kedelai, mengkaji saluran tataniaga, struktur pasar dan permasalahan yang ada di setiap pelaku pasar dan menganalisis tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Hasil analisis usahatani dan tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani, sebagai pengambil keputusan. Karakteristik petani mencakup umur, tingkat pendidikan, luas dan status penguasaan lahan, dan kepemilikan alat pertanian serta ternak. Umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun, mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.57 tahun dengan rataan pendidikan 4.3 tahun. Rata-rata luas sawah yang diusahakan sebesar 0.778 hektar per petani dan mayoritas berstatus sewa atau sakap (60.00 persen). Petani yang memiliki hand sprayer (36.67 persen), biaya sewa hand sprayer Rp 5 000 per hektar, sewa pompa air Rp 20 000 per hektar, dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000 per tiga kuintal kedelai. Petani yang memiliki usaha sampingan hewan ternak sebesar 10 persen. Di Kecamatan Ciranjang, rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1.37 ton per hektar, sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095.60 per kilogram. Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit, pupuk dan pestisida, upah tenaga kerja, sewa alat dan pajak. Biaya usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua

iii

(Rp 3 312 778.73 per hektar). Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Berdasarkan analisis usahatani kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda, total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.84 dan total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974.73. R/C rasio yang diperoleh petani yang panen polong tua (1.35) dan petani yang panen polong muda (1.27). Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1.27 untuk polong muda. Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, ada dua saluran tataniaga yaitu saluran tataniaga kedelai polong muda dan saluran tataniaga kedelai polong tua. Saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai tujuan yang sama, yaitu dari petani kedelai dibawa ke pedagang pengumpul, kemudian kedelai tersebut dibawa ke pedagang pasar induk parung. Di pedagang pasar induk, kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan konsumen akhir. Di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga polong tua yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Struktur yang dihadapi antara petani dan pedagang pengumpul, petani dan pedagang kecamatan, serta antara petani dan pedagang besar adalah persaingan dan oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah persaingan dan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang kecamatan/kabupaten adalah oligopsoni. Struktur pasar yang dihadapi antara pedagang besar (kecamatan dan kabupaten) dan pedagang propinsi, dan antara pedagang besar dan pedagang pengecer mengarah ke pasar oligopoli dan persaingan. Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai, saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.22 persen) dengan volume kedelai 26.67 persen. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.78 persen. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.30 per kilogram. Alternatif saluran tataniaga yang dianggap juga efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua dengan volume kedelai 73.33 persen. Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masing-masing sebesar Rp 9.35 dan Rp 8.54 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.50 persen dan farmer s share sebesar 75.50 persen.

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. KABUPATEN CIANJUR. JAWA BARAT Nora Meryani A 14105693 Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Manajemen Agribisnis PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

SP. : Nora Meryani : A 14105693 Menyetujui Dosen Pembimbing Rahmat Yanuar.Judul Penelitian Nama Mahasiswa Nomor Pokok : Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. M.Ir Didy Sopandie. MSi NIP. 131 124 019 Tanggal Kelulusan: . Kabupaten Cianjur. 132 321 442 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr.Agr NIP. Jawa Barat.

JAWA BARAT INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. September 2008 Nora Meryani A 14105693 .PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. Bogor. KABUPATEN CIANJUR.

5. Bapak Dadi. Y’Ayon. Mini. RT Siregar. K’Dayat. 6. SP selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi. 2. Y’Merry. Bapak Asep. . MSi selaku dosen evaluator yang telah memberikan kritik dan masukan. 7. saran dan persahabatan yang indah. Ir Yayah K Wagiono. 4. 3. M’Andi R. SP.UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini: 1. Papa dan Mama atas segala do’a. Lala. Mirror. Are The. Bapak Asep Usman dan Teh Rina dan yang lainnya. Bapak Usep. 8. SP. dan D’Anda yang sudah memberikan do’a dan dorongan. Fida. MSi selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan. Rahmat Yanuar. Bapak Rosidi. Ewie dan Ucie yang telah memberikan kritik. Arief Karyadi Uswandi. Tanti Novianty. Ungky. Ria. Bapak Acep. dorongan dan masukan-masukan yang diberikan selama penelitian dan penulisan. love you all. atas bantuannya dalam memperoleh data primer dan data sekunder. sehingga skripsi ini dapat selesai. MEc selaku dosen penguji utama yang telah memberikan kritik dan masukan dalam penulisan skripsi ini. dukungan dan kasih sayang yang tiada habisnya yang diberikan kepada penulis selama ini.

Sandra. Arfan. Dian. amien. 10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Wildan dan teman seperjuangan lainnya atas persahabatan dan dukungan kepada penulis selama ini. Ola. Edy. Bogor. Penulis mendo’akan semoga Allah SWT membalas semua kebaikannya dan senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Mira. September 2008 Nora Meryani . Zibril. Santi.viii 9. Fajar. Indra. Aputz.

............... Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 ... 11................. 12......... 7... Biaya Pupuk... Luas Tanam........................ 4... Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak................... 8.. 9. Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian 15...................... 5.................... Luas Tanam..... 2... Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai.............................. Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah ... Luas Panen................. 6................................. Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 ........... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006........ Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah ............. Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu ........... 14.. Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007....... 13........................................................ Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli ...... Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur .... Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar ............................. Halaman 2 3 4 4 5 20 26 36 42 47 48 48 49 49 50 53 55 61 ......... 16. Luas Panen..... Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan ................. Luas Tanam....... Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai... 3.................. 18......................... Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai ............. Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006........................ix DAFTAR TABEL No 1... Tahun 2006 .. Luas Panen.......... 17. Pestisida....................................... Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten........................ Propinsi Jawa Barat....... 10...................

........ 24. 23........ 72 76 78 79 80 82 ....... 21...... Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga................... Tiga......... 22.......... Dua............ Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang ........................................................ Tahun 2008 .....x 19... Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.. Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.......... Tahun 2008................... 20................ Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang ..... Total Marjin.......... Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang........ Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam................... Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga . Total Biaya......

...xi DAFTAR GAMBAR No 1......... Kuisioner Analisis Usahatani Kedelai ......... 2......................................................... Halaman 89 96 .................... Halaman 27 33 58 60 DAFTAR LAMPIRAN No 1.......................... Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai .......................................................................... Kuisioner Analisis Tataniaga Kedelai .............. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua............................. 4........................... Margin Tataniaga ......... 3....... 2........ Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda.......................................................

1 I PENDAHULUAN 1. lemak. mengandung zat anti oksidan yang tinggi sehingga sangat bermanfaat bagi kesehatan dan banyak dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. kacang hijau.1 Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan regional. 17 Mei 2008. jagung. 2008.id. 2007. Mekanisme Pengadaan Pangan dan Pupuk di Propinsi Jawa Tengah. Tanaman pangan meliputi padi. sehingga peranan ini tidak dapat disubstitusi secara penuh oleh sektor lain kecuali impor pangan. Kedelai merupakan bahan pangan yang mengandung protein nabati yang sangat tinggi nilai gizinya. Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengan. http://www. Peranan tersebut terlihat dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 41.8 persen pada tahun 2007.balitbangjateng. seperti yang tercermin pada peranan sektor pertanian dalam pembentukan PDB sekitar 13. 7 Mei 2008. Sektor tanaman pangan adalah sebagai penghasil bahan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. Produk Domestik Bruto.go. . dan protein yang berasal dari bahan pangan nabati.4 persen terhadap pertanian secara keseluruhan. kacang tanah. Tanaman pangan merupakan tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan makro manusia terhadap karbohidrat.2 persen maupun dalam perekonomian.go. 1 2 Bank Indonesia.2 Kedelai adalah salah satu komoditi pangan utama setelah padi dan jagung. http://www. ubi-ubian dan kacangkacangan (kedelai. serelia.id.bi. Subsektor tanaman pangan mempunyai peranan sekitar 49.1 Sektor pertanian yang mempunyai peranan yang strategis dan penting adalah sektor tanaman pangan. kacang tunggak dan kacang koro).

7 -7.litbang. Kedelai. 2008 Setiap tahun rata-rata Indonesia mengimpor kedelai sebanyak 2.2 Konsumsi penduduk Indonesia terhadap kedelai berupa hasil olahan (seperti tempe.3 juta ton pada periode tahun 1996-2005 (Tabel 2).7 persen dari tahun sebelumnya.2 persen.id.2 persen per tahun.7 Konsumsi Total** (Ton) 2 015 000 2 122 000 2 179 000 2 234 000 Pertumbuhan(%) 9. sedangkan volume ekspor tumbuh rendah yaitu 1. Volume dan nilai impor kedelai masingmasing tumbuh sebesar 8.4 dan 7. susu kedelai. Tabel 1 Produksi dan Konsumsi Kedelai Nasional Tahun 2004-2007 Tahun 2004 2005 2006 2007 Produksi* (ton) 723 480 808 350 746 610 592 381 Pertumbuhan (%) 11.0 8. 3 Departemen Pertanian.3 Konsumsi kedelai per tahun cenderung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.4 Sumber : *BPS. tauco. Hal ini menunjukkan kedelai yang diekspor berupa produk olahan. .6 -20. Negara yang menjadi tujuan ekspor kedelai terbesar adalah Australia. Pada tahun 2005 meningkat 9. selanjutnya konsumsi meningkat rata-rata 8. oncom. Deptan. sehingga mengalami peningkatan nilai tambah tinggi.go. Jepang. 2008 **Badan Litbang Pertanian. kecap. sehingga pada tahun 2007 mencapai 2 000 000 ton.7 persen per tahun. Hal ini mengindikasikan peningkatan ketergantungan terhadap kedelai impor. dan bahan baku pakan ternak. mentega. minyak. tahu. 2002. Netherland dan Singapore. Saudi Arabia.9 persen per tahun. Sementara kondisi produksi kedelai nasional berfluktuasi (Tabel 1).deptan. 31 Januari 2008. India. Tetapi nilai ekspor tumbuh tinggi sebesar delapan persen per tahun. http://www. keripik).2 8. Pada tahun 2007 penurunan produksi sampai 20. yogurt.

Tasikmalaya. Team TP. (b) Perluasan areal tanam. walaupun produksi yang dihasilkan cenderung mengalami penurunan (Tabel 3). 20074 Program Peningkatan Kedelai Nasional Tahun 2008 untuk mendorong peningkatan produksi kedelai nasional dilakukan melalui beberapa strategi. Daerah yang berpotensi untuk pengembangan kedelai di Jawa Barat adalah Garut. Cianjur. Sukabumi. Hal ini disebabkan oleh semakin banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi non farm atau petani yang beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. 2006). 4 Februari 2008.id/bdspweb. 1 September 2008. Ciamis.deptan. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. 4 5 Departemen Pertanian. http://database. 2008.go. Sumedang.go. (c) Pengamanan produksi. Ekspor Kedelai Pernegara Tujuan. dan (d) Penguatan kelembagaan dan dukungan pembiayaan. http://ditjentan.deptan. Indramayu. 2008. . seperti jagung dan sayuran.id. 5 Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia.3 Tabel 2 Volume dan Nilai Ekspor Impor Kedelai Indonesia Tahun 1996-2006 Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Volume (ton) 1 705 583 1 532 112 1 033 802 2 227 321 2 568 565 2 728 358 2 716 641 2 773 668 2 881 735 2 982 986 3 121 334 Impor Nilai (000 USD) 530 582 518 860 273 776 475 158 558 737 611 140 591 121 706 753 967 957 801 779 838 390 Ekspor Volume (ton) Nilai (000 USD) 7 596 12 013 21 987 13 812 13 474 17 109 8 279 8 789 3 606 4 490 5 808 6 569 6 018 6 211 6 080 8 406 Sumber : Deptan. Kuningan dan Majalengka (Dinas Pertanian Jawa Barat. yaitu (a) Peningkatan produktivitas.

19 11. Luas Panen.09 2002 5 844 5 812 6 788 1.25 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Produksi kedelai di Kabupaten Cianjur cenderung mengalami peningkatan.34 12. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No 1 2 3 4 Keterangan Luas Tanam (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha) 2001 6 451 6 672 7 952 1. tahu dan tempe). luas panen. 2007 (diolah) . Luas Panen. baik sebagai produk primer maupun sebagai produk sekunder (olahan) yang telah lama dikembangkan di Kabupaten Cianjur (seperti tauco.80 Sumber: Dinas Pertanian Jawa Barat. harga gabah dan harga beras di pasar mengalami peningkatan akibatnya banyak petani yang melakukan pola tanam padi-padi-padi. Tabel 4 Luas Tanam.25 2005 4 591 5 016 6 710 1.36 12.14 2006 4 518 4 460 6 086 1.60 13. Kabupaten Cianjur memiliki prospek pengembangan kedelai. Luas tanam. Produksi dan Produktivitas Kedelai di Kabupaten. 2006 (diolah) Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten kedua sebagai sentra produksi kedelai di Jawa Barat setelah Kabupaten Garut.95 13.45 14. Propinsi Jawa Barat.4 Tabel 3 Luas Tanam. Hal ini terjadi karena pada tahun 2003. produksi dan produktivitas kedelai di Kabupaten Cianjur periode tahun 2001 – 2006 cenderung berfluktuatif (Tabel 4). Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten Garut Cianjur Ciamis Sukabumi Indramayu Tasikmalaya Sumedang Kuningan Majalengka Luas Tanam (Ha) 5 979 4 499 2 750 1 419 1 156 1 128 937 837 657 Luas Panen (Ha) 5 891 3 034 2 395 927 1 095 895 903 761 614 Produksi (Ton) 7 925 4 431 3 336 1 335 1 682 1 159 1 191 863 786 Produktivitas (Kw/Ha) 13.10 2003 1 434 1 563 1 020 1.40 15.14 2004 6 926 6 617 10 125 1.93 14. Selain itu. tetapi pada tahun 2003 mengalami penurunan.

sehingga ada penurunan luas panen sebesar 66.50 194.180 1 2 3 4 5 6 7 8 Ciranjang Sukaluyu Bojong Picung Tanggeung Kadupandak Sindang Barang Cidaun Leles Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur.83 995. Produksi dan Produktivitas Rata-Rata Kedelai di Kabupaten Cianjur Tahun 2001-2006 No Kecamatan Luas Tanam (Ha) 1 164. sedangkan kontribusi dari wilayah tengah terutama Kecamatan Tanggeung dan Kadupandak tidak terlalu besar (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. 2007 (diolah) .97 persen dibanding tahun 2006.67 101.17 881.372 1. Kecamatan di wilayah utara. 2007). sentra produksi kedelai periode tahun 2001-2006 adalah Kecamatan Ciranjang.33 1 145.33 261.00 Produksi (Ton) 1 736. Sentra produksi kedelai di Kabupaten Cianjur terdapat di beberapa kecamatan di wilayah utara dan wilayah selatan (Tabel 5). Luas Panen.50 119.67 165.50 Produktivitas (Ton/Ha) 1.50 Luas Panen (Ha) 1 237.338 1.176 1.83 224.5 Luas tanam kedelai pada tahun 2007 adalah 4 429 ha.381 1. Tabel 5 Luas Tanam.33 178. Sentra produksi di wilayah selatan adalah Kecamatan Sindang Barang.173 1. namun pada tahun 2007 Kecamatan Sukaluyu produksi kedelai mengalami penurunan.50 184. Demikian pula luas panen kedelai tahun 2007 adalah 1 506 ha. Produksi kedelai tahun 2007 sebesar 1992 ton sehingga terjadi penurunan sebesar 67.17 349.60 1 072.67 1 272.141 1.00 276. Penurunan ini disebabkan pada periode tanam kedelai tahun 2007 terjadi kekeringan (Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Sukaluyu dan Bojong Picung.83 202.23 persen dari tahun 2006. sehingga terjadi penurunan luas areal tanam sebesar 1.27 persen.00 201.32 ton per hektar.00 297.83 103. sedangkan produktivitas hasil tahun 2007 sebesar 1.17 218. 2007). Cidaun dan Leles.157 1.83 1 482.

di dalam negeri harga kedelai eceran mencapai Rp 3 450/Kg dan terus naik mencapai Rp 7 500/Kg. (b) peraturan yang memperbolehkan hal tersebut. Bagi konsumen akhir dampaknya adalah semakin mahalnya harga produl-produk olahan berbahan baku kedelai. sedangkan bagi petani hal ini menjadi pendorong untuk kembali menanam kedelai. Kedelai impor dapat membanjiri pasar kedelai dalam negeri disebabkan hal-hal sebagai berikut: (a) adanya pasar yang besar sampai ke tingkat desa. sehingga konsumen sulit . dan (d) kedelai dari petani sampai ke pasar atau konsumen belum tertangani dengan baik tetapi berjalan sendiri secara alami. yaitu hasil panen kedelai dalam bentuk biji tua dan panen dalam bentuk polong muda. Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk.6 Budidaya kedelai di Kabupaten Cianjur merupakan tanaman cash crop yang umumnya diusahakan pada lahan sawah irigasi dan sebagian kecil diusahakan pada sawah tadah hujan dan lahan kering. (c) adanya pihak atau institusi atau organisasi yang menangani dengan baik karena mendapat insentif yang besar. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai melakukan pengurangan jumlah produksi dan ukuran produknya karena tingginya biaya produksi. Awal Januari 2007.2 Perumusan Masalah Harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap harga kedelai impor di dalam negeri juga meningkat. Dampaknya produsen tahu. 1.

deptan. 6 7 Team TP. pada tahun 2000 harga kedelai impor naik menjadi Rp 1 827.6 Hal tersebut yang menyebabkan tataniaga kedelai di tingkat petani di Indonesia belum tertangani dengan baik.id.85 per kilogram.5 per kilogram dan kedelai dalam negeri menjadi Rp 2 844 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 1 016. 2004). Berdasarkan data BPS menunjukkan bahwa harga kedelai lokal dari tahun ke tahun lebih mahal dari kedelai impor. Departemen Pertanian. Pada tahun 2006 harga kedelai dalam negeri mencapai Rp 4 977. Perbedaaan harga tersebut terus meningkat.id. Harga kedelai impor jauh lebih murah dari produksi dalam negeri karena tidak ada tarif impor untuk kedelai.go. http://www.go. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. Kondisi ini menyebabkan kedelai dalam negeri menjadi tertekan dan terdesak oleh kedelai impor. dan belum diaturnya tataniaga kedelai sehingga petani dalam negeri sulit bersaing dengan petani luar negeri (Departemen Pertanian.deptan. 2002. Kedelai. Faktor utama turunnya produksi kedelai nasional adalah tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai. 4 Februari 2008. 31 Januari 2008. keberlanjutan pasokan kedelai impor lebih terjamin dibanding kedelai nasional. Tahun 1992.litbang.7 mencarinya dan harganya menjadi tinggi.7 Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik.5 per kilogram. . teknologi yang telah dihasilkan. http://ditjentan. Ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas. serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam agribisnis dapat membantu dalam pengembangan kedelai dalam negeri. harga kedelai impor sebesar Rp 544 per kilogram sedangkan harga kedelai dalam negeri lebih mahal dari kedelai impor yaitu sebesar Rp 847 per kilogram sehingga terdapat selisih sebesar Rp 303 per kilogram. iklim yang cocok. 2008.

Sukaluyu dan Bojong Picung. Namun pada tahun 2007.8 Selain itu. dilihat dari banyaknya konsumsi kedelai di Indonesia.17 hektar pada tahun 2006. kebijakan tataniaga kedelai yang bebas dilakukan oleh pengusaha importir dan penetapan tarif impor tahun 1998 jauh di bawah bound tariff menyebabkan masuknya kedelai impor dengan harga murah. Hal ini disebabkan oleh penetapan kebijakan harga sejak tahun 1992 ditiadakan. Di Kabupaten Cianjur. Di Kabupaten Cianjur terdapat beberapa daerah yang merupakan sentra produksi kedelai. sejak tahun 1993 produksi dalam negeri terus mengalami penurunan terlihat dari penurunan luas areal tanam. Akibatnya petani dalam negeri sulit bersaing dengan kedelai impor. kondisi pada saat itu juga didukung oleh analisa usahatani kedelai yang cukup menguntungkan. Namun. jagung dan sayursayuran. seperti padi. Pada umumnya petani langsung menjual hasil panen kepada pedagang pengumpul atau . terlihat dari penurunan luas tanam menjadi 10 hektar dari 995.8 juta ton. terjadi penurunan luas tanam di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Sukaluyu mengalami penurunan produksi sangat tajam. Hal ini terlihat dari perkembangan luas areal tanam kedelai di sebagian daerah. tetapi harga jual yang diterima petani masih rendah. pasar komoditas kedelai masih terbuka lebar. Hal ini disebabkan oleh petani yang semula menanam kedelai beralih menanam komoditas lain yang lebih menguntungkan. petani dalam memasarkan produknya mempunyai kebebasan untuk memilih saluran tataniaga yang dapat memberikan keuntungan dari hasil usahataninya. Selain itu. Perkembangan produksi kedelai dalam negeri sampai tahun 1992 sangat baik yaitu mencapai 1. antara lain Ciranjang.

Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan? 2.co. Bagaimana saluran tataniaga dan struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. walaupun terjadi tawar-menawar antara petani dan pedagang pengumpul keputusan akhirnya tetap ditentukan oleh pedagang pengumpul.id. akibatnya tingkat pendapatan petani menjadi rendah.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas. Hal ini karena petani membutuhkan uang saat panen sehingga harga jual sangat ditentukan oleh tengkulak.9 tengkulak secara perorangan. maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. untuk mengetahui tingkat pendapatan petani dan posisi tawar petani pada tataniaga kedelai di Kabupaten Cianjur maka perlu dilakukan penelitian mengenai usahatani dan tataniaga kedelai. Kabupaten Cianjur setelah kebijakan tarif impor ditiadakan. http://www. 15 Januari 2008. 8 Antara. Kabupaten Cianjur? 1. masih sangat terbatas petani menjual secara berkelompok. Permasalahan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah : 1. Analisis tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Lemahnya posisi tawar petani menyebabkan petani tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan harga berdasarkan biaya produksi yang telah dikeluarkan. .antara. 2008. Bagaimana tingkat pendapatan usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Lembaga tataniaga cenderung menuntut biaya tataniaga dan keuntungan besar dari jasa tataniaga yang dilakukan. Produksi Kedelai Mesti Ditingkatkan.8 Oleh sebab itu.

Kabupaten Cianjur. Pembahasan tataniaga untuk analisis kualitatif dilakukan pada semua saluran tataniaga yang terlibat. 1. Jawa Barat ini dikhususkan membahas mengenai komoditi kedelai yang dipanen polong tua. Kabupaten Cianjur. 1.10 2. sedangkan untuk analisis data kuantitatif hanya menggunakan data dari saluran tataniaga dengan jalur tataniaga dari Kecamatan Ciranjang ke Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung. . Mengkaji saluran tataniaga. Dinas Perindustrian dan Perdagangan.5 Ruang Lingkup Penelitian Batasan dari penelitian yang berjudul Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Dampaknya dapat meningkatkan pendapatan petani kedelai di lokasi penelitian. diantaranya Dinas Pertanian.4 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian mengenai tataniaga kedelai ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk pihak-pihak pengambil kebijakan. struktur pasar dan tingkat efisiensi tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang. penyuluh pertanian dan kelompok tani dalam upaya peningkatan hasil dan perbaikan kinerja tataniaga kedelai.

11

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keragaan Kedelai Kedelai (Glicine max) adalah tanaman semusim yang termasuk family Leguminosae diduga berasal dari Cina dan dikembangkan ke berbagai negara seperti Amerika, Amerika Latin dan Asia. Kedelai dapat dibudidayakan di daerah subtropis dan tropis dengan teknis budidaya yang sederhana. Di Indonesia kedelai pertama kali ditanam di pulau Jawa dan Bali pada tahun 1750. Daerah sentra tanaman kedelai mula-mula terpusat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat dan Bali, kemudian meluas hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Kedelai mempunyai kegunaan yang luas dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akarakarnya dapat mengikat Nitrogen bebas dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium sp., sehingga unsur Nitrogen bagi tanaman tersedia dalam tanah. Kedelai di Indonesia bernilai tinggi karena tiga alasan: (1) produksinya di dalam negeri dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional, (2) merupakan bahan pangan berkadar protein yang dapat memperbaiki gizi masyarakat, dan (3) merupakan tanaman komersil bagi petani lahan kering. Di Indonesia kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai ketinggian 900 meter di atas permukaan laut (dpl). Varietas yang ditanam awalnya berasal dari luar negeri (introduksi), diantaranya dari Jepang, Taiwan, Kolumbia, Amerika Serikat dan Filipina. Di sentra pertanaman kedelai umumnya kondisi iklim yang cocok adalah suhu antara 25–27 0C.

12

Tanaman kedelai mempunyai daya adaptasi yang luas terhadap berbagai jenis tanah. Berdasarkan kesesuaian jenis tanah untuk pertanian, maka tanaman kedelai cocok ditanam pada jenis tanah Aluvial, Regosol, Grumosol, Latosol dan Andosol. Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lahan pertanaman kedelai adalah tataair (drainase) dan tataudara (aerase) tanah yang baik, bebas dari kandungan atau wabah Nematoda, dan keasaman (pH) tanah (Rukmana dan Yuyun, 2006).

2.2 Kebijakan Pengembangan Kedelai Peranan pemerintah sebagai fasilitator, dinamisator dan penciptaan lingkungan yang kondusif dalam pengembangan suatu komoditas secara teknis, sosial dan ekonomis adalah sangat penting dan strategis. Cakupan kebijaksanaan dalam program aksi pengembangan adalah sangat kompleks yang meliputi pengadaan dan distribusi sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan kredit usaha tani), penyuluhan dan tataniaga hasil melalui sistem kelembagaan dan pembinaan dari tigkat pusat sampai ke tingkat desa. Kebijakan dalam bidang penelitian, peningkatan produksi, dan perdagangan (harga) adalah saling berhubungan satu dengan yang lain. Proteksi harga akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani bila didukung oleh potensi teknologi dan sistem tataniaga yang efisien. Kebijakan diversifikasi konsumsi melalui penetapan pola pangan harapan (PPH) dapat dikatakan sebagai acuan penting dalam penetapan target peningkatan produksi setiap komoditas pangan termasuk kedelai. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani (Rachman et al. 1996).

13

Kebijakan Proteksi dan Harga Dasar. Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah selama ini dengan sasaran utama mendorong adopsi teknologi, meningkatkan produksi dan pendapatan petani adalah kebijakan proteksi harga dan penetapan harga dasar. Kebijakan proteksi bertujuan untuk mengendalikan harga kedelai dalam negeri agar tetap lebih tinggi dan terisolasi dari fluktuasi harga kedelai di pasar dunia. Hal ini dilakukan melalui pengaturan volume impor dan penetapan harga kedelai ekspor-impor serta penyalurannya kepada industri pengolah di dalam negeri. Kebijakan proteksi harga ini cukup berhasil mencapai sasarannya dan berdampak positif dalam mendorong produksi kedelai domestik. Pada periode 1985 – 1994 produsen kedelai mendapatkan rata-rata proteksi harga sebesar 136.56 persen dengan laju peningkatan proteksi 4.80 persen pertahun (Rachman, et al. 1996). Di satu sisi penetapan harga dasar secara umum belum mencapai sasaran yang diharapkan. Pada periode 1984 – 1991 harga kedelai di tingkat petani sekitar 76.27 persen lebih tinggi dari penetapan harga dasar. Hal ini menjelaskan bahwa penetapan harga dasar maupun harga pembelian pemerintah untuk kedelai adalah sangat rendah dibandingkan dengan harga pasar yang berlaku, sehingga kebijakan harga dasar menjadi tidak efektif. Kemudian sejak tahun 1992,

pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar lagi. Perkembangan produksi kedelai tahun 1992 merupakan puncak produksi kedelai yaitu mencapai 1.8 juta ton. Setelah pemerintah tidak melakukan penetapan harga dasar, maka tahun 1993 produksi kedelai terus menurun sampai tahun 2003 menjadi 671 600 ton. Hal ini disebabkan semangat petani untuk membudidayakan kedelai turun sebagai akibat dari masuknya kedelai impor

untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri maka Pemerintah menurunkan tarif impor sampai 0 persen. et al. Upaya pemerintah memenuhi kebutuhan bahan baku industri merupakan awal munculnya kebijakan impor kedelai di Indonesia. namun sangat lambat yaitu 723 483 ton (2004). http://ditjentan. 2. Saptana (1993). Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. Tahun 2004 sampai 2006 produksi mengalami peningkatan.deptan. et al. 2008. 4 Februari 2008 . Elizabeth (2007) dan Nuryanti dan Kustiari (2007). 9 Team TP. termasuk kedelai (Rachman. (1992). Sesuai aturan WTO dimana setiap negara diperkenankan menerapkan applied tariff maksimal sama dengan bound tariff dalam schedule yang didaftarkan. 1996).9 Kebijakan Tarif dan Impor Kedelai. Pada dasawarsa 1980-an perbandingan antara impor dan produksi kedelai dalam negeri mencapai rata-rata 45 persen pertahun yang merupakan angka tertinggi dibanding dengan dasawarsa 1970-an dan 1990-an. Puspodewi (2004).id. maka tahun 1998 Pemerintah Indonesia menerapkan tarif impor jauh di bawah bound tariff (0 – 5 persen). 808 353 ton (2005) dan 746 611 (2006).3 Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu mengenai tanaman kedelai telah dilakukan oleh Nurmanaf (1987). Namun dengan kenaikan harga kedelai di pasar dunia akhir tahun 2007 mengakibatkan harga kedelai impor tinggi.14 dengan harga lebih rendah dari kedelai dalam negeri. Namun dengan pertimbangan antara lain daya beli masyarakat Indonesia.go. Tahun 2007 produksi turun kembali 20 persen dari tahun 2006 menjadi 608 000 ton. Rusastra.

15 Penelitian terhadap jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi yang dilakukan Nurmanaf (1987) bertujuan menganalisis sistem tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi. antar pasar maupun biaya angkut antar daerah. Hal ini terlihat dari tingginya margin tataniaga di tiga satuan pemukiman transmigrasi. menunjukkan usahatani kedelai di lahan sawah lebih menguntungkan dibandingkan di lahan kering (Rp 366 900 vs Rp 298 400 per hektar). Produksi kedelai di Jawa Timur setiap tahun mengalami peningkatan. hal ini terlihat dari laju pertumbuhan produksi. 3. areal panen dan produktivitas kedelai dari tahun 1984-1990 masingmasing sebesar 2. yaitu Singkut III sebesar Rp 275/kg. biaya angkut.9 persen per tahun. Pamenang I sebesar Rp 200/kg dan Kuamang Kuning sebesar Rp 225/kg.8. meliputi jalur tataniaga. Nurmanaf (1987) menyatakan bahwa tataniaga kedelai di satuan pemukiman transmigrasi Jambi belum efisien.1 dan 5.7. Harga yang diterima petani di tiga satuan pemukiman masing-masing sebesar 60. Dilihat dari efisiensi pemanfaatan modal tidak terdapat . baik biaya angkutan dari satuan pemukiman transmigrasi ke pasar.2 dan 62. margin tataniaga dan bagian harga yang diterima petani. Tingginya margin tataniaga kedelai terutama disebabkan tingginya biaya angkutan hasil. et al. usahatani dan tataniaga kedelai di Jawa Timur sebagai daerah sentra produksi secara nasional. 69. Tujuan penelitian ini mengungkap keragaan dan permasalahan aspek produksi. (1992) melakukan penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur. Tingkat pendapatan usahatani kedelai dengan mempertimbangkan basis agroekosistem pengembangan tahun 1990.5 persen. rantai tataniaga dan tingkat harga. Rusastra.

Bertujuan untuk mengungkap seberapa jauh dampak penerapan teknologi baru terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani. Permasalahan dalam tataniaga adalah rendahnya kualitas kedelai di tingkat pedagang dan konsumen.9 persen dibandingkan dengan non kerjasama.43.43 persen (1991).6 persen dibandingkan sebelum kerjasama dan 15. Beberapa indikator makro tataniaga seperti pangsa harga yang diterima petani dan kestabilan harga bulanan di tingkat produsen dan konsumen menunjukkan mantapnya sistem tataniaga kedelai di Jawa Timur.4 dan di lahan kering sedikit lebih baik yaitu 1. Penelitian aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) dilakukan oleh Saptana (1993). Hal ini terlihat dari pangsa harga petani mencapai 89.6 persen. R/C kedelai di lahan sawah 1. Dampak penerapan teknologi baru telah mampu meningkatkan pendapatan sebesar 76. (3) Masalah birokrasi dan keterlambatan penyediaan dana. Permasalahan pada sistem kerjasama yang perlu diperhatikan adalah (1) Penyampaian informasi yang sempurna kepada petani. penerapan teknologi baru juga bisa diterima dari segi efisiensi pemanfaatan modal dengan . (2) Peningkatan sistem pembinaan dikaitkan dengan sistem pengadaan dan penyaluran saprodi.16 perbedaan yang berarti.6 persen (1990) dan 174. et al menunjukkan bahwa hasil usahatani kedelai dengan pola kerjasama dengan pihak swasta lebih tinggi yaitu 17. serta (4) Keterbatasan tenaga lapang. Selain itu. keragaan dan permasalahan aspek produksi dan tataniaga kedelai di Wonogiri. Hasil penelitian yang dilakukan Rusastra.4 persen dengan margin tataniaga 10.

dan 1. yaitu pengumpulan. pengangkutan dan biaya penyusutan.25 untuk pola petani (1991).17 nilai R/C ratio untuk pola rekomendasi 1. Margin tataniaga yang relatif rendah ini dikarenakan fungsi tataniaga yang dilakukan sangat sederhana. karena nilai tambah keuntungan yang diperoleh petani lebih tinggi dari seharusnya. masalah kualitas ini menjadi lebih serius karena ada faktor kesengajaan dari pedagang pengumpul dan PB kecamatan yang melakukan pencampuran tanah yang diwarnai mirip kedelai.66 per kilogram dan nilai DRC 0.85 sedangkan untuk pola petani 1. Pengusahaan kedelai di desa Bade menguntungkan dan efisien secara finansial terlihat dari keuntungan sebesar Rp 361.88. . permasalahan utama tataniaga adalah kualitas kedelai.6 persen dengan margin tataniaga 10. Nilai DRC yang lebih besar dari nilai PCR terjadi karena adanya intervensi pemerintah. Puspodewi (2004) meneliti analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. Selain itu. Jawa Tengah (kasus desa Bade) dengan analisisn PAM. sehingga pengusahaan kedelai layak untuk dikembangkan. secara ekonomi juga menguntungkan sebesar Rp 281.38 untuk pola rekomendasi serta 1.04 per kilogram dan nilai PCR kurang dari satu. Dampak kebijakan input dan output terhadap petani produsen kedelai sangat intensif.80 (1990). Efisiensi tataniaga kedelai di Wonogiri. Jawa Tengah terlihat dari pangsa harga petani sebesar 89. Dilihat dari keuntungan privat dan sosial yang diperoleh maka Desa Bade Kabupaten Boyolali mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif.4 persen. Menurut Saptana.

serta dampaknya terhadap kesejahteraaan produsen. tingkat tarif optimal dengan tingkat keuntungan usahatani 25 persen. MFN) harus dinaikkan menjadi 22. produksi. Berdasarkan perhitungan besaran keuntungan usahatani optimal 25 persen.18 Penelitian Nuryanti dan Kustiari (2007) berjudul Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal. Berdasarkan asumsi harga pokok produksi Rp 3 359/kg. karena harga kedelai domestik menjadi tidak dapat bersaing dengan kedelai impor. Satu-satunya solusi untuk memberi insentif produksi kedelai domestik adalah jaminan harga jual kedelai dengan tingkat keuntungan pasti. Kondisi ini sangat sulit. masih ada peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan menjamin keuntungan usahatani 25 persen dengan menetapkan tarif impor baru . Analisa dalam penelitian ini dilakukan pada tingkat usahatani (mikro) dan makro. dan dampak keseimbangan pasar domestik atas kenaikan tarif impor kedelai optimal. Artinya. Analisa mikro dengan menggunakan data I-O diturunkan dari data struktur ongkos rata-rata Indonesia 2006. konsumen dan penerimaan pemerintah. Bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usahatani kedelai pada tingkat tarif saat ini. permintaan.3 persen (ad valorem) atau Rp 625.5/kg (specific tariff). petani kedelai nasional harus mencapai harga jual Rp 4 479/kg. untuk memperoleh keuntungan usahatani 25 persen tarif bea masuk yang diterapkan (Most Favoured Nation. Analisa tingkat makro menggunakan “partial welfare analysis” untuk memahami dampak penerapan tarif optimal terhadap harga komoditas di pasar domestik. Tarif yang diikat untuk kedelai adalah 27 persen. tarif bea masuk kedelai saat ini 5 persen. penawaran dan impor.

19 sebesar 22. kecilnya akses terhadap kelembagaan modern.3 persen. dan melemahnya kelembagaan lokal karena tekanan dari luar. Fluktuasi harga produk pangan dan sarana produksi usahatani di pasar global akan ditransmisikan ke semua tingkat harga. Penelitian tentang Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai oleh Elizabeth (2007). termasuk produsen lokal. . kelembagaan output. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di perdesaan. dan (3) Program memperkuat prasarana kelembagaan dan ketrampilan mengelola kebutuhan perdesaan. lembaga tenaga kerja. perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan. dan kelembagaan permodalan. seperti: kelompok tani. Lemahnya kinerja ekonomi perdesaan terutama disebabkan rendahnya kapasitas kelembagaannya. Harga kedelai impor saat ini (Rp 2 806. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan perspektif penguatan dan pemberdayaan kelembagaan yang terkait dengan petani di perdesaan dalam rangka mendukung pengembangan agribisnis kedelai. gizi dan kesehatan. yang tercermin pada masih rendah interaksi antar kelembagaan. meliputi: (1) Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifitas lahan. Namun tidak semua sistem dan saluran tataniaga komoditas pangan di pasar domestik bersaing sempurna.4/kg) masih lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi kedelai lokal (Rp 3 359/kg). kelembagaan penyedia input. Elizabeth (2007) menyatakan bahwa beberapa kelembagaan pendukung keberhasilan agribisnis kedelai. (2) Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan. dan sebagainya).

dan adanya penerapan teknologi baru. Jawa Barat Metode Marjin tataniaga Farmer s Share Efisiensi usahatani Marjin tataniaga R/C rasio Marjin tataniaga PAM Elizabeth 2007 Nuryanti Kustiari Meryani dan 2007 2008 Mikro : I – O Makro : Partial Welfare Analysis Pendapatan usahatani Marjin tataniaga. Jawa Tengah (kasus desa Bade) Penguatan dan pemberdayaan kelembagaan petani mendukung pengembangan agribisnis kedelai Meningkatkan kesejahteraan petani kedelai dengan kebijakan tarif optimal Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang. Tabel 6 Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu Nama Nurmanaf Rusastra. Tabel 6 menginformasikan perbedaaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Kabupaten Cianjur. Pencapaian keberhasilan agribisnis kedelai diperlukan suatu kelembagaan pendukung dari tingkat desa sampai di luar desa. margin tataniaga kedelai yang tinggi disebabkan biaya angkut. dengan tarif bea masuk kedelai 5 persen harga kedelai domestik masih lebih tinggi dari harga kedelai impor. merupakan bagian penting pembangunan pertanian dan perdesaan. B/C rasio .20 Pengembangan kelembagaan untuk menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA (marginal sustainability yield) dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan. Saptana Puspodewi Tahun 1987 1992 1993 2004 Judul Penelitian Jalur tataniaga kedelai di daerah transmigrasi Jambi Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Timur Aspek produksi dan tataniaga kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri) Analisis keunggulan kompetitif dan komparatif serta dampak kebijakan pemerintah pada pengusahaan kedelai di Kabupaten Boyolali. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat disimpulkan tingkat pendapatan usahatani lebih menguntungkan bila diusahakan di lahan sawah. farmer s share. Permasalahan di tataniaga kedelai meliputi kualitas kedelai. serta intervensi dari pemerintah. pola kerjasama dengan pihak swasta. et al.

Struktur Biaya Usahatani.1 Usahatani Rahim dan Diah (2007) menyatakan bahwa usahatani merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah. modal. 3. Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor tidak tunai. Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani) dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki sebaik-baiknya. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani kedelai. tenaga kerja. pupuk. dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output).2 Pendapatan Usahatani Struktur Penerimaan Usahatani. teknologi.21 III KERANGKA PEMIKIRAN 3. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. efisien dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatannya meningkat. sedangkan pendapatan kotor tidak tunai merupakan pendapatan yang bukan dalam bentuk uang. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa penerimaan usahatani adalah ukuran hasil total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani. seperti hasil panen kedelai yang dikonsumsi dan digunakan untuk bibit. benih dan pestisida) dengan efektif. Biaya tunai merupakan biaya .1.1.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.

Jika menginginkan produksi yang tinggi maka faktor-faktor produksi (tenaga kerja. untuk mengukur imbalan yang diperoleh petani akibat penggunaan faktor-faktor produksi. pupuk. Pendapatan Usahatani. Artinya besarnya biaya tetap tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang diperoleh. penyusutan alat-alat petanian dan biaya imbangan sewa lahan. Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya yang digunakan. dan sebagainya) perlu ditambah. Contohnya biaya untuk sarana produksi. dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya ini digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika sewa lahan dan nilai tenaga kerja dalam keluarga diperhitungkan. Biaya tidak tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua yaitu: (a) Biaya tetap (fixed cost) dan (b) Biaya tidak tetap (variable cost). Untuk menilai . Biaya tetap antara lain sewa tanah. tetapi diperhitungkan dalah perhitungan usaha tani. Biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya. Dapat disimpulkan biaya ini sifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang akan dicapai. alat pertanian dan iuran irigasi. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dibebankan kepada usahatani untuk penggunaan tenaga kerja dalam keluarga. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai.22 yang dikeluarkan dalam bentuk uang oleh petani sendiri. pajak.

3 Tataniaga Tataniaga merupakan suatu kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau menyampaikan barang dari produsen ke konsumen.1. (2) penjualan. (3) penyimpanan. jarak dan bentuk. Apabila diperoleh nilai lebih dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan efisien. dan (9) pengetahuan pasar. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa fungsi dari tataniaga yaitu: (1) pembelian. tetapi bila diperoleh nilai kurang dari satu artinya usahatani kedelai yang dilakukan belum efisien. Analisis efisiensi R/C ratio atau rasio penerimaan atas biaya dihitung dengan cara membandingkan penerimaan total dengan biaya total. (6) standarisasi. serta keuntungan bagi produsen. (4) transportasi. Secara keseluruhan tataniaga merupakan rangkaian kegiatan mengalirkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Ukuran ini diperoleh dari hasil pengurangan antara pendapatan bersih dengan bunga yang dibayarkan kepada modal pinjaman. (5) pengolahan. biaya yang diperhitungkan dan penyusutan.23 penampilan usahatani kecil adalah dengan penghasilan bersih usahatani. . Boyd. dan menegosiasikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen. 3. Aktivitas pasar dan tataniaga diklasifikasikan menurut waktu. mendefinisikan tataniaga sebagai suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan individu dan organisasi mendapatkan apa yang dibutuhkan melalui pertukaran dengan pihak lain. mengkomunikasikan. R/C Ratio . (8) pengambilan risiko. (7) keuangan. Tujuan dari tataniaga adalah mengidentifikasi. Walker and Larreche (2000).

(3) Saluran jasa untuk melakukan transaksi dengan calon konsumen. lembaga keuangan dan perusahaan asuransi yang memberikan kemudahan dalam transaksi. Kegunaan dalam kegiatan tataniaga adalah kegunaan tempat. Ada tiga jenis saluran tataniaga yang digunakan meliputi: (1) saluran komunikasi yang digunakan untuk memberi dan menerima informasi dari konsumen sasaran.1. Panjang pendeknya saluran tataniaga dipengaruhi beberapa faktor yaitu: (1) Jarak antara produsen ke konsumen. Saluran ini mencakup pergudangan. 1983).24 Hanafiah dan Saefuddin (1983) menyatakan bahwa tataniaga adalah kegiatan yang berkaitan dengan penciptaan atau penambahan kegunaan dari barang dan jasa maka tataniaga termasuk tindakan atau usaha yang produktif. Kotler (2005) menyatakan bahwa saluran tataniaga didefinisikan sebagai sarana untuk mencapai pasar sasaran. pengecer dan agen. sehingga tataniaga dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan barang dan jasa dari produsen sampai dengan konsumen. Lembaga yang terlibat dalam saluran ini diantaranya distributor. grosir. Saluran tataniaga terdiri dari beberapa pedagang perantara.4 Saluran Tataniaga Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga sehingga barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. sarana transportasi. . (2) Saluran distribusi digunakan untuk manyampaikan produk atau jasa dari produsen kepada konsumen. (2) Ketahanan produk. 3. waktu dan pemilikan. (3) Skala produksi dan (4) Keuangan produsen (Hanafinah dan Saefuddin.

25

Saluran tataniaga atau saluran distribusi merupakan lembaga atau perantara berganda yang berfungsi mendistribusikan barang untuk mendukung transaksi dengan konsumen potensial. Setiap lembaga berspesialisasi dalam satu fungsi dan kegiatan penting pendistribusian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi transaksional dan efisiensi fungsional. Saluran tataniaga terdiri dari empat komponen utama yaitu: produk, pelaku pasar, aktivitas dan input (Boyd, Walker and Larreche, 2000). Bentuk distribusi ada dua yaitu distribusi langsung dan distribusi tidak langsung. Distribusi langsung yaitu produsen melakukan penjualan langsung

produknya kepada konsumen, sedangkan distribusi tidak langsung yaitu produsen melakukan penjualan barang kepada konsumen melalui perantara seperti pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang grosir dan pedagang pengecer (Boyd, Walker and Larreche, 2000). 3.1.5 Struktur Pasar Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa ada empat karakteristik yang menentukan struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan, (2) sifat produk, (3) kemudahan untuk keluar masuk pasar dan (4) tingkat informasi harga, biaya serta kondisi pasar yang dihadapi pelaku tataniaga. Struktur pasar mengacu pada semua aspek yang dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja perusahaan di suatu pasar, seperti jumlah perusahaan dan jenis produk (Lipsey, et al. 1997). Karakteristik struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 6. Kotler (2005) menyatakan bahwa struktur pasar berdasarkan sifat dan bentuknya dibedakan menjadi dua yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar bersaing tidak sempurna. Pasar termasuk ke dalam pasar bersaing sempurna

26

dengan ciri-ciri banyaknya jumlah penjual dan pembeli, barang yang ditawarkan bersifat homogen, penjual dan pembeli berperan sebagai price taker, dan bebas keluar masuk pasar. Pasar bersaing tidak sempurna dibagi menjadi pasar

monopolistik, pasar ologopolistik dan monopoli. Tabel 7 Karakteristik Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli No Karakteristik Jumlah Jumlah Sifat Penjual Pembeli Produk Banyak Banyak Homogen Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Satu Pasar Banyak Sedikit Satu Struktur Pasar Sudut Penjual Sudut Pembeli Persaingan Sempurna Oligopsoni Persaingan Monopolistik Oligopsoni Diferensiasi Monopsoni banyak penjual yang

1 2 3 4 5

Persaingan Sempurna Diferensiasi Persaingan Monopolistik Homogen Oligopoli

Diferensiasi Oligopoli Diferensiasi Unik Monopoli yaitu pasar dimana

Sumber: Dahl and Hammond (1977), Lipsey, et al. (1997)

monopolistik

mendiferensiasikan produk baik secara keseluruhan atau sebagian, sehingga produk dapat dibedakan berdasarkan kualitas, gaya dan service yang diberikan penjual. Akibatnya banyak penjual dan pembeli yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga bukan pada satu tingkat harga pasar. Penjual melakukan penawaran yang berbeda untuk segmen pembeli yang berbeda, sehingga pembeli bersedia membayar lebih untuk produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Pasar oligopolistik yaitu pasar yang terdiri dari beberapa penjual yang menghasilkan produk mulai dari produk yang terdiferensiasi hinggga produk homogen. Penjual sangat peka terhadap strategi tataniaga dan penetapan harga pesaing lainnya. Jumlah penjual yang sedikit disebabkan hambatan untuk masuk pasar tinggi, strategi penetapan harga yang tepat dan memusatkan perhatian pada

27

kepuasan pelanggan untuk menarik pelanggan. Pasar monopoli murni yaitu pasar yang hanya ada satu penjual yang menguasai pasar suatu produk tertentu. Penjual berperan sebagai price maker, hambatan masuk dan keluar pasar tinggi karena alasan teknis atau alasan undang-undang untuk monopoli yang teregulasi. 3.1.6 Efisiensi Tataniaga Hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan tataniaga adalah tingkat efisiensi dari tataniaga, karena tataniaga yang efisien dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak yang terlibat dalam tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa terdapat dua ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur tingkat efisiensi yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi harga (ekonomi). Efisiensi operasional menggambarkan keadaan dimana biaya input dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah output yang dihasilkan. Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan efisiensi operasional pada proses tataniaga produk yaitu dilihat dari keragaaan pasar (analisis margin tataniaga, farmer s share dan rasio keuntungan terhadap biaya). Efisiensi harga tercermin dari tiga kondisi yaitu (1) ada alternatif pilihan bagi konsumen, (2) perbedaan harga yang mencerminkan adanya biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai akibat perlakuan terhadap komoditi dalam sistem tataniaga, dan (3) terjadi aktivitas pembelian dan penjualan yang cocok antara petani, lembaga tataniaga dan konsumen yang berdampak pada kepuasan pada setiap pelaku tataniaga. Tingkat efisiensi tataniaga dapat dilihat dengan

mengunakan dua pendekatan sekaligus atau salah satu dari pendekatan tersebut. Marjin tataniaga. Dahl and Hammond (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga tingkat

28 pengecer (Pr). Sumber: Dahl and Hammond (1977) Pengertian ekonomi nilai marjin tataniaga adalah harga dari sekumpulan jasa tataniaga yang merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk–produk tersebut. dan Pf merupakan harga petani (Gambar 1). Marjin tataniaga hanya merepresentasikan perbedaan harga yang dibayarkan konsumen . Nilai marjin tataniaga adalah perbedaan harga di kedua tingkat sistim tataniaga dikalikan dengan kuantitas produk yang dipasarkan. Pr merupakan harga retail. Perbedaan nilai ini juga direpresentasikan sebagai jarak vertikal dan jarak antara kurva permintaan atau antara kurva penawaran (Gambar 1). Df merupakan demand dasar. Oleh karena itu nilai marjin tataniaga dibedakan menjadi dua yaitu marketing costs dan marketing charges. Price VMM (Pr – Pf) Qrf Sr Sf Pr Marjin Tataniaga (Pr – Pf) Pf Dr Df Qr. Sr menunjukkan supply turunan. Dr merupakan demand turunan. Cara perhitungan ini sama dengan konsep nilai tambah (value added). f Quantity Gambar 1 Marjin Tataniaga. Sf menunjukkan supply dasar.

pengolahan.2 Kerangka Pemikiran Operasional Pada awal tahun 2007. tetapi tidak menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. Akibatnya produsen tahu. Azzaino (1982) menyatakan bagian yang diterima petani (farmer s share) merupakan harga yang diterima petani sebagai imbalan kegiatan usahataninya dalam menghasilkan kondisi tertentu. 1977).29 dengan harga yang diterima petani. Farmer s share juga menyatakan perbandingan harga yang diterima oleh petani dengan harga di tingkat lembaga pemasaran yang dinyatakan dalam persentase. tempe dan industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai . dan lain-lain) dan keuntungan. yang akhirnya akan mempengaruhi pembentukan harga jual produk itu sendiri antara petani dan pedagang (Elizabeth. di dalam negeri harga kedelai impor meningkat sangat tajam karena harga kedelai di pasar dunia meningkat. 3. Keuntungan tataniaga adalah pengurangan marjin tataniaga dengan biaya-biaya tataniaga. pengangkutan. Rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga merupakan perbandingan antara keuntungan yang diambil lembaga tataniaga terhadap biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan produk tersebut. Marjin tataniaga merupakan penjumlahan antara biaya tataniaga dan marjin keuntungan (Dahl and Hammond. Rasio B/C. Marjin tataniaga terjadi karena adanya faktor-faktor biaya tataniaga (pengumpulan. Secara teknis sistem tataniaga akan semakin efisien jika rasio keuntungan terhadap biaya merata di setiap lembaga tataniaga. penyimpanan. sehingga jumlah produk di tingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengecer. 2007). Farmer s share.

karena gairah petani untuk menanam kedelai cenderung menurun. Harga kedelai impor yang tinggi memberikan peluang bagi petani dalam negeri untuk meningkatkan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia. Tataniaga komoditi pertanian adalah kegiatan atau proses pengaliran komoditas pertanian dari produsen sampai ke konsumen atau pedagang perantara (tengkulak. Pendapatan usahatani merupakan hasil akhir yang akan diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya. Semakin besar nilai R/C ratio maka usahatani yang dilakukan akan semakin baik. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. bentuk. Fungsi-fungsi tataniaga terdiri dari fungsi pertukaran. dan pengecer). Efisiensi usahatani kedelai dapat dilihat dari hasil analisis R/C ratio yang menunjukkan berapa penerimaan yang diperoleh petani dari setiap input yang dikeluarkan. Selain itu R/C ratio digunakan untuk melihat apakah usahatani yang dilakukan menguntungkan secara ekonomi atau tidak bagi petani. Fungsi tataniaga dilakukan untuk meningkatkan atau menciptakan nilai guna waktu. sehingga konsumen akan merasa puas (Hanafiah dan Saefuddin.30 mengalami penurunan produksi. pengumpul. Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri cenderung mengalami penurunan. . pedagang besar. Sementara konsumsi kedelai semakin meningkat sebagai akibat dari meningkatnya jumlah penduduk. Semua fungsi tataniaga dilakukan oleh lembaga atau pelaku pasar yang terlibat. 1983). sehingga jumlah pelaku pasar yang terlibat dalam proses tataniaga akan menentukan panjang pendeknya saluran tataniaga. sehingga harus efisien dalam menggunakan sumberdaya. tempat dan kepemilikan.

Analisis struktur pasar ini dilakukan untuk mengetahui pasar kedelai yang terbentuk sesuai dengan karakteristiknya. Perilaku pasar yang dibentuk tersebut dilihat dari dua sisi yaitu sisi penjual dan sisi pembeli. seperti biaya. Analisis kuantitatif untuk mengetahui bagaimana keragaan usahatani dan tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang jika dilihat dari analisis pendapatan usahatani. meskipun saluran tataniaga yang pendek lebih efektif dalam menyampaikan produk hingga diterima oleh konsumen. B/C ratio dan farmer s share. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. Hasil dari analisis tersebut akan dibuat perumusan langkah-langkah perbaikan yang akan diberikan atau diinformasikan kepada petani dan para pelaku tataniaga. apakah sudah efisien secara operasional. R/C ratio. Efisiensi tataniaga tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya saluran tataniaga. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. (3) mudah atau sukar untuk keluarmasuk pasar. Tataniaga akan efisien bila semua pelaku pasar atau lembaga yang terlibat merasa puas dengan apa yang diperolehnya. (2) keadaan atau kondisi produk. margin tataniaga. Alur pemikiran tersebut dapat digambarkan seperti diagram di bawah ini: .31 Sementara untuk manganalisis struktur pasar kedelai dilakukan berdasarkan pada empat karakteristik struktur pasar yaitu: (1) jumlah dan ukuran perusahaan.

Produksi kedelai dalam negeri rata-rata 0.32 . 2.7 juta ton per tahun . Pedagang Pengumpul 2. Pendapatan Usahatani 2.7 juta ton per tahun Supply Respon Petani Kedelai Analisis Usahatani Lembaga Tataniaga: 1. Supplier 4. Pedagang Pengecer Analisis Kuantitatif: 1.Konsumsi rata-rata 2. Rasio R/C 1. Pedagang Besar 3. 5. . 4. Analisis Tataniaga Saluran Tataniaga Sruktur Pasar Margin Tataniaga Farmer s Share Rasio B/C Efisiensi Tataniaga Rekomendasi Gambar 2 Bagan Kerangka Pemikiran Usahatani dan Tataniaga Kedelai.Harga kedelai impor tinggi . 3.

1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Ciranjang. Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan daftar pertanyaan terstruktur kepada petani kedelai. karena Kabupaten Cianjur merupakan salah satu sentra produksi kedelai di Jawa Barat. Lembaga Penelitian dan pihak yang terkait lainnya. luas panen dan produksi. ekspor-impor kedelai. 4. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Kecamatan Ciranjang terbagi menjadi 12 desa dan terdiri dari 80 kelompok tani dengan rata- . 4.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang dikumpulkan dari berbagai sumber.33 IV METODE PENELITIAN 4. perkembangan harga dan kebijakan pengembangan kedelai. Kabupaten Cianjur. Kecamatan Ciranjang sendiri merupakan salah satu sentra produksi di Kabupaten Cianjur. pedagang besar dan pedagang pengecer. Data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS).3 Metode Penarikan Contoh Metode penarikan contoh yang digunakan pada penelitian ini adalah random sampling yaitu pengambilan contoh dilakukan secara acak. pedagang pengumpul. Informasi yang dikumpulkan antara lain perkembangan luas tanam. Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2008.

Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara . Analisis usahatani digunakan untuk melihat seberapa besar pendapatan usahatani dan produksi yang dihasilkan oleh petani. gambar dan tabulasi untuk mengelompokkan dan mengklasifikasikan data yang ada dalam melakukan analisis data. Kabupaten Cianjur dibagi ke dalam dua bentuk.4. Pedagang pengumpul tiga orang berdasarkan informasi pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data Data dan informasi yang telah dikumpulkan diolah dengan bantuan kalkulator. 4. komputer dan disajikan dalam bentuk deskriptif. dan pedagang pengecer tiga orang yang berada di Kabupaten Cianjur dan Bandung.1 Analisis Usahatani Berdasarkan hasil panennya usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang. Lipsey.34 rata satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang petani. yaitu usahatani kedelai polong tua dan usahatani kedelai polong muda. pedagang besar dua orang yang berada di Kecamatan Ciranjang. et al. 4. Pengambilan contoh untuk pelaku pasar pada tiap tingkat lembaga pemasaran dilakukan dengan cara mengikuti arus barang dalam proses penyaluran barang dari produsen sampai ke konsumen. pedagang propinsi satu orang berdasarkan informasi dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. Penentuan responden berdasarkan petani yang menanam kedelai di Kecamatan Ciranjang sebanyak 30 orang petani kedelai dengan cara mengambil nama kelompok tani dan memilih petani secara acak untuk diwawancara. (1997) menyatakan bahwa pendapatan usahatani dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan.

yang merupakan jumlah dari biata tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC).TC dimana: Pd = Pendapatan usahatani TR = Total penerimaan (total revenue) TC = Total biaya (total cost) .35 produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi. Rumus yang digunakan yaitu: Pd = TR . tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: TR = Y x Py dimana: TR = Total penerimaan Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani Py = Harga Y Pernyataan Jika komoditas tanaman yang diusahakan lebih dari satu. Rumus yang digunakan yaitu: TC = FC + VC Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya. maka rumus tersebut dapat berubah menjadi: TR = ∑ YxPy i =1 n Biaya tetap dapat dihitung dengan rumus: FC = ∑ X Px i =1 i n i dimana: Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap Pxi = Harga Xi (input) Rumus tersebut dapat digunakan untuk menghitung biaya total (total cost). 1995).

PPC/ZPT b. perhitungan analisis pendapatan dan R/C ratio dapat disajikan seperti pada Tabel 7.Pestisida .Pupuk . Upah tenaga kerja di luar keluarga c. Sewa alat bajak d. 2007 . Benih d. Biaya sarana produksi: . Penyusutan c. pajak a. Sewa lahan D+E C–D C–F H – bunga pinjaman (jika ada pinjaman) C/F E Biaya yang diperhitungkan F Total Biaya G Pendapatan atas biaya tunai H Pendapatan atas biaya total I Pendapatan Bersih J R/C ratio Sumber : Rahim dan Diah.Y FC + VC dimana: a = R/C ratio Py = Harga output Y = Output Kriteria keputusan yang digunakan untuk melihat hasil analisis R/C ratio sebagai berikut : R/C ratio > 1 : usahatani menguntungkan R/C ratio < 1 : usahatani rugi R/C ratio = 1 : usahatani impas Secara sederhana.Benih . Sewa lahan e.36 Analisis (R/C) ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya. Tabel 8 Perhitungan Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai A B C D Penerimaan Tunai Penerimaan yang diperhitungkan Total Penerimaan Biaya Tunai Harga x Hasil panen yang dijual (Kg) Harga x Hasil panen yang dikonsumsi (Kg) A+B a. Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut: a= Py. Upah tenaga kerja dalam keluarga b.

2 Analisis Saluran Tataniaga Kedelai Analisis saluran tataniaga digunakan untuk menelusuri saluran tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir. yaitu: (1) jumlah pedagang di setiap level tataniaga.4. (3) mudah atau sukar untuk keluar-masuk pasar.4. Analisis ini dapat menggambarkan secara keseluruhan pola saluran tataniaga kedelai yang terjadi pada daerah penelitian. seperti biaya. secara matematis rumus .3 Analisis Struktur Pasar Struktur pasar dapat dianalisis melalui beberapa indikator. 4. (2) keadaan atau kondisi produk.37 Biaya penyusutan alat dihitung dengan cara membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dibagi usia ekonomi dari alat tersebut. 4. Secara matematis biaya penyusutan dapat dirumuskan sebagai berikut : Nb − Ns n Biaya Penyusutan = dimana : Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Nilai sisa (Rp) N = Umur ekonomi alat (tahun) 4. data harga yang digunakan adalah harga di tingkat petani dan harga di tingkat lembaga tataniaga. harga dan kondisi pasar diantara pelaku pasar. dan (4) tingkat informasi yang dimiliki oleh pelaku dalam tataniaga. Untuk menganalisis marjin tataniaga dalam penelitian ini.4.4 Analisis Marjin Tataniaga Marjin tataniaga merupakan perbedaan harga yang diterima petani (produsen) dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen.

38 yang digunakan dalam perhitungan marjin tataniaga (Dahl and Hammond. maka untuk setiap saluran tataniaga dapat dilihat persentase pangsa marjin setiap pelaku pasar dengan menggunakan rumus: PangsaMarjin = MarjinPemasaran x100% TotalMarjin Pangsa pasar digunakan untuk melihat berapa besar marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga yang ada. Saluran tataniaga yang . 1977). dapat dirumuskan sebagai berikut: Mmi = Ps – Pb dimana: Mmi Ps Pb Marjin = Marjin tataniaga pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga jual pada setiap tingkat lembaga tataniaga = Harga beli pada setiap lembaga tataniaga tataniaga mengandung komponen biaya dan komponen keuntungan. marjin pada setiap tingkat lembaga tataniaga dapat dihitung dengan menghitung selisih antar harga jual dengan harga beli pada setiap tingkat lembaga tataniaga. maka: Mm = c + dimana: c = biaya tataniaga = Keuntungan lembaga tataniaga Berdasarkan analisis marjin tataniaga di atas. yaitu: Mm = Pr – Pf dimana: Mm Pr Pf = Marjin tataniaga di tingkat petani = Harga di tingkat kelembagaan tataniaga dari petani = Harga di tingkat petani Berdasarkan rumus di atas.

5 Analisis Bagian Harga yang Diterima Petani Farmer s share berhubungan dengan margin tataniaga. rumus yang digunakan yaitu: B / CRatio = πi x100% Ci dimana: = Keuntungan lembaga tataniaga ke-i ci = Biaya lembaga tataniaga ke-i i . 4.6 p p f r x100 % Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya Distribusi margin tataniaga dapat dilihat dengan persentase keuntungan terhadap biaya (rasio B/C) yang dikeluarkan pada masing-masing saluran tataniaga.39 efisien ditunjukan oleh perolehan marjin setiap pelaku pasar yang merata.4. Farmer s share dapat dirumuskan sebagai berikut: Fs= dimana: Fs = Farmer s share 4. artinya semakin tinggi margin tataniaga maka bagian yang akan diperoleh petani semakin rendah.4. Besarnya persentase net marjin yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masingmasing saluran tataniaga digunakan rumus: NetMarjin = KeuntunganPelakuPasar x100% TotalKeuntungan Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan pada setiap pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga.

Kedelai polong muda adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 40 hari. Pestisida adalah zat kimia yang digunakan oleh petani untuk menanggulangi hama dan penyakit yang menyerang tanaman kedelai. 4. PPC (Pupuk Pelengkap Cair) adalah pupuk yang digunakan untuk merangsang pertumbuhan polong. Kedelai polong tua adalah kedelai yang dipanen pada saat tanaman kedelai berumur 90 hari dan dikeringkan. Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual kedelai kepada konsumen terakhir di pasar lokal ataupun industri makanan dan pedagang ini membeli kedelai dari supplier. . Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang yang aktif membeli dan mengumpulkan kedelai dari produsen (petani) di daerah produksi dan menjualnya kepada pedagang besar dan pasar lokal. pedagang besar ataupun pedagang pengumpul. SP36. Pupuk adalah zat tambahan yang digunakan petani untuk meningkatkan kesuburan tanaman kedelai (Urea. 3. Pedagang besar adalah pedagang yang aktif di pasar-pasar pusat dan memperoleh barang dari pedagang pengumpul maupun dari petani langsung dan dijual kembali ke pasar induk (baik satu propinsi atau luar propinsi).40 4. 8. 7.5 Definisi Operasional 1. 6. 5. KCl dan pupuk organik). 2. supplier dan pasar lokal.

Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Purwakarta : Samudera Indonesia : Kabupaten Sukabumi : Kabupaten Bandung dan Garut Luas wilayah Kabupaten Cianjur adalah 413 127 ha yang terbagi atas 62 879 ha (30. memanjang dari utara ke selatan dengan batas-batas wilayah secara administrasi. 6 Kelurahan dan 348 Desa. sebagai berikut: a. Topografi. Curah Hujan dan Jenis Tanah Secara geografis. Jumlah curah hujan tahunan relatif beragam antar wilayah dengan kisaran 1 716 milimeter di wilayah Penyusuhan hinga 4 465 milimeter di wilayah Kadupandak/Cimanggu. Sebelah Utara b.7° 25” Lintang Selatan (LS) dan 106º 42” .45 persen) lahan sawah dan 287 269 ha (69.1.107º 25” Bujur Timur (BT). kecuali sebagian wilayah Kecamatan Cidaun dengan iklim tipe Am dan wilayah gunung Gede dengan iklim tipe Cf. Letak Geografis. Sebelah Barat d. Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Cianjur berada di bagian tengah wilayah Propinsi Jawa Barat. Kabupaten Cianjur terletak antara 6º 21” . Sebelah Selatan c. Wilayah Kabupaten cianjur terdiri dari 30 Kecamatan. Topografi wilayah didominasi perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian 0 – 2 962 meter di atas permukaan air laut (dpl).41 V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. Iklim di wilayah Kabupaten Cianjur termasuk iklim tipe Af (sangat basah). dan kemiringan lahan 0 – 40 persen.55 persen) lahan kering (Tabel 8). .

Cugenang. Takokak. Perkebunan 11. dan lain-lain) dan sumberdaya manusia.42 Tabel 9 Luas Wilayah Berdasarkan Penggunaan Lahan di Kabupaten Cianjur Tahun 2006 Pengguanaan Lahan Lahan Sawah 1. Sindangbarang. Cilaku. (2) tanah andosol yang tersebar di Kecamatan Pagelaran dan Tanggeung. Kabupaten Cianjur . Irigasi Sederhana PU 4.00 Jenis tanah di Kabupaten Cianjur terdiri atas 5 jenis yaitu: (1) tanah aluvial yang tersebar di Kecamatan Pacet. Tegal/Kebun 3. Tidak diusahakan 8. Campakamulya. iklim.40 11.56 0. Kadupandak.30 0. Sukaresmi. Naringgul dan Cianjur. Hutan Rakyat 9.32 1.46 7. dan (5) tanah podsolik merah kuning yang tersebar di Kecamatan Cibinong. Naringgul dan Warungkondang. Sukanagara dan Cugenang.93 69.54 100.76 6.75 1.03 30.10 0. Tanggeung. penggunaan tanah. Cikalongkulon dan Mande. Tambak/Kolam/Empang 7.46 7. Lain-lain Jumlah Jumlah Keseluruhan Sumber: Diperta Kabupaten Cianjur (2006) Luas (Ha) 15 207 6 236 9 687 17 584 14 165 62 879 22 294 52 054 39 092 700 136 1 046 1 673 29 723 61 453 56 170 22 803 287 269 413 027 Persen (%) 4. Pengembalaan 5.84 15.74 15. Irigasi Teknis 2.18 5. Bangunan/Pekarangan 2. (3) tanah brown forest yang tersebar di Kecamatan Campaka.95 0. Agrabinta. Berdasarkan kondisi sumberdaya alam (tofografi. Hutan Negara 10. Ladang/Huma 4. Irigasi Sederhana Non PU 5.10 4. Tadah hujan Jumlah Lahan Kering 1. (4) tanah latosol yang tersebar di Kecamatan Sukanagara. Rawa 6. jenis tanah. Irigasi Setengah Teknis 3.58 16.

Penggunaan lahannya didominasi lahan kering dan terdapat perkebunan dan lahan sawah dengan luasan yang kecil. Bojongpicung. 2007). Campaka dan Campakamulya. 3. Sukaresmi. Cibinong. sebagai berikut: 1. Wilayah Pembangunan Tengah (WPT) WPT merupakan daerah dengan topografi berbukit hingga bergunung dengan struktur tanahnya labil sehingga sangat peka terhadap erosi dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Warungkondang. Kecamatan yang termasuk WPU mencakup Cianjur. Cidaun. Cugenang. Sindangbarang. Karangtengah. Naringgul. tanaman hortikultura dan lahan sawah. . Mande. 2. Wilayah Pembangunan Selatan (WPS) WPS merupakan dataran rendah dengan topografi umumnya bergelombang hingga berbukit yang diselingi oleh pegunungan yang melebar hingga ke daerah pantai Samudera Indonesia. Sukaluyu. Kecamatan yang termasuk WPT mencakup Tanggeung. Cidaku dan Cijati. Gekbrong dan Cipanas. Tanah di WPS memiliki struktur yang labil dan peka terhadap erosi. Sukanagara. Leles. Cibeber. Cikalongkulon. tanaman hortikultura dan lahan sawah. Cilaku. Ciranjang.43 terbagi atas tiga wilayah pembangunan dengan masing-masing karakteristik (Diperta Kabupaten Cianjur. Pacet. Kecamatan yang termasuk WPS mencakup Agrabinta. Wilayah Pembangunan Utara (WPU) WPU merupakan dataran tinggi yang terletak di kaki Gunung Gede dengan topografi didominasi bergunung dan penggunaan lahannya untuk perkebunan. Pagelaran. Takokak. Kadupandak.

dan kemudian ketua kelompok tani akan menyampaikan informasi yang diperoleh dari PPL kepada masing-masing anggota kelompok taninya. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur yang tergolong usia produktif sebesar 39.16 persen.04 persen).99 persen. Tujuan dari adanya kelompok ini untuk memberikan kemudahan bagi petani apabila ada masalah dalam kegiatan usahataninya.96 persen) dan 1 029 236 orang perempuan (49.0 persen dari total pendudk berusia produktif. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 14. Petugas Penyuluh Lapang akan menyampaikan informasi kepada masing-masing kelompok tani. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42. .44 5. Kabupaten Cianjur ini berjumlah 80 kelompok tani.6 persen.9 persen dari seluruh KK. Kepala keluarga miskin tergolong tinggi yaitu mencapai 35.80 persen. serta kemudahan akses pasar bagi petani. kemudian diikuti sektor perdagangan sekitar 24.60 persen. Selain itu memberikan kemudahan bagi Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dalam menyampaikan informasi teknologi kepada petani. beranggotakan petani perkelompok lima sampai enam orang petani dan dipimpin oleh seorang ketua kelompok. Kelompok tani kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur adalah sektor pertanian yaitu sekitar 62.2 Sosial Ekonomi Penduduk Kabupaten Cianjur pada tahun 2006 berjumlah 2 098 644 orang (546 119 Kepala Keluarga/KK) teriri atas 1 069 408 orang laki-laki (50. sedangkan penduduk dengan pekerjaan utama adalah pertanian sebesar 61.

Jumlah pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang tidak pasti karena umumnya pedagang pengumpul ini berasal dari luar Kecamatan Ciranjang.45 5. Pedagang pengumpul yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah pedagang pengumpul yang berada di Kecamatan Ciranjang dan berjumlah tiga orang. dan pengrajin tahu/tempe lokal serta di Cianjur. pedagang besar propinsi dan pengrajin tahu dan tempe. Pedagang besar kecamatan memasarkan kedelai hanya ke pengrajin tahu lokal dan ke pedagang propinsi di Bandung. . Sumedang. Jumlah pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang yaitu dua orang.3 Lembaga Tataniaga Kedelai a. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul (tengkulak) adalah pedagang kecil yang membeli hasil panen kedelai dari petani dan untuk dijual kembali kepada pedagang besar. b. pedagang pengecer (Cianjur. Pedagang besar kabupaten memasarkan kedelai ke pedagang propinsi di Bandung. Pedagang besar dalam memasarkan kedelai sudah memiliki pelanggan tetap. dan menjual kedelai tersebut ke pedagang besar yang ada di Kecamatan Ciranjang. Pedagang Besar Pedagang besar adalah pedagang yang menghimpun (mengumpulkan) kedelai baik dari pedagang-pedagang pengumpul maupun langsung dari petani yang kemudian dijual kembali ke pedagang pengecer. Garut. Majalengka). Pedagang pengumpul ini memperoleh kedelai dari Kecamatan Ciranjang dan luar Kecamatan.

Pedagang pengecer mendapatkan barang dari para pedagang besar yang ada di wilayah pedagang pengecer berdomisili. Jawa Timur. serta dapat melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir. pengrajin tahu/tempe lokal. Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. artinya kelanjutan proses produksi yang dilakukan oleh lembaga tataniaga sangat tergantung dari aktivitas pedagang pengecer dalam menjual produk kepada konsumen. d. Pedagang propinsi memperoleh kedelai dari pedagang besar di Jawa Barat termasuk Kecamatan Ciranjang. Pengecer merupakan ujung tombak dari suatu proses produksi yang bersifat komersial.46 c. Jakarta. . Jawa Tengah. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer adalah pedagang yang menjual secara langsung kepada konsumen akhir. Pedagang Propinsi Pedagang propinsi merupakan pedagang yang menyalurkan kedelai dari pedagang besar kecamatan dan kabupaten ke pedagang pengecer di Bandung.

mayoritas masih termasuk usia produktif dengan rata-rata berumur 51.58 59 .33 3. Karakteristik petani tersebut mencakup umur. sebagai pengambil keputusan terbaik dari berbagai alternatif kegiatan usahatani yang harus diambil.00 Tabel 10 menginformasikan bahwa umur petani kedelai berkisar antara 37 sampai 69 tahun. Petani paling banyak termasuk kelompok umur 48 sampai 58 tahun (40.47 48 .33 persen).1 Karakteristik Petani Keberhasilan suatu usahatani sangat ditentukan oleh karakteristik petani pelaku usahatani.3 tahun. luas dan status penguasaan lahan. diikuti antara 7 sampai 9 tahun atau .0 persen). tingkat pendidikan. Karakteristik Petani dan Usahatani Kedelai 6. Tabel 10 Persentase Petani Responden Menurut Kelompok Umur Kelompok Umur (Tahun) 26 .1. dan paling sedikit berada dikelompok umur lebih dari 69 tahun. Hal ini menunjukkan regenerasi petani sangat rendah. dan kepemilikan alat pertanian serta ternak.00 23.1.00 23.33 100. Pendidikan petani paling banyak berkisar antara 1 sampai 6 tahun atau Sekolah Dasar (43.47 VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.57 tahun.33 40.69 > 69 Total Jumlah Petani (Orang) 3 7 12 7 1 30 Persentase (%) 10. Pendidikan petani (Tabel 11) berkisar antara sekolah dasar sampai perguruan tinggi dengan rataan pendidikan 4.36 37 .

33 persen). Luas kepemilikan sawah petani kedelai paling banyak berada pada kelompok 0.00 persen).00 100. Tabel 11 Persentase Petani Responden Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan (Tahun) Tidak Sekolah Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menegah Atas Perguruan Tinggi Total Jumlah Petani (Orang) 0 13 11 6 0 30 Persentase (%) 0.48 Sekolah Lanjutan Pertama (36.00 hektar paling sedikit hanya 3.0.67 20.00 1. diikuti oleh sawah berstatus milik sendiri dan sewa (26.00 Status kepemilikan sawah (Tabel 13) petani kedelai mayoritas berstatus sewa atau sakap (60. sedangkan kepemilikan sawah paling luas yaitu 2.00 hektar dengan rata-rata luas kepemilikan sebesar 0.67 20. dan sisanya berstatus milik dan gadai (3.10 . dan sisanya antara 10 sampai 12 tahun atau Sekolah Menengah Atas (20 persen).33 100.33 36.00 0.33 persen.2.00 3.10 sampai 3.00 Tabel 12 menginformasikan bahwa luas kepemilikan sawah petani kedelai berkisar antara 0.01 .10 .10 sampai 0.00 36.56 .00 Total Jumlah Petani (Orang) 12 11 6 1 30 Persentase (%) 40. berstatus milik (10 persen). Tabel 12 Persentase Petani Responden Menurut Luas Kepemilikan Sawah Luas Sawah (Ha) 0.778 hektar perpetani.00 43.67 persen).67 persen).00 2.55 hektar (40.1.10 sampai 3.00 persen). Di Kecamatan Ciranjang sewa lahan hanya diambil untuk .3.55 0.

pompa air. Tabel 13 Persentase Petani Responden Menurut Status Kepemilikan Sawah Status Kepemilikan Milik Sewa/Sakap Gadai Milik dan Sewa Milik dan Gadai Total Jumlah Petani (Orang) 3 18 0 8 1 30 Persentase (%) 10.00 16.00 26.67 26.49 tanaman padi sedangkan tanaman palawija sewa sawahnya tidak diambil oleh petani pemilik sawah.00 Petani yang tidak memiliki alat pengendalian HPT biasanya menyewa dari petani lain atau menyewa dari kelompok tani.00 Alat-alat yang dibutuhkan petani kedelai dalam melaksanakan kegiatan usahataninya yaitu cangkul.67 100.00 60. sedangkan pompa air disewa dari kelompok tani. Tabel 14 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Alat Pertanian Kepemilikan Alat Hand Sprayer Pompa Air Lantai Jemur Hand Sprayer dan Lantai Jemur Perontok Kedelai Tidak Memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 5 8 0 14 30 Persentase (%) 10. tetapi khusus alat pengendalian HPT kepemilikannya masih beragam. Pada umumnya petani sudah memiliki berbagai peralatan tersebut. lantai jemur dan alat perontok kedelai.00 0. Tabel 14 memberikan informasi petani yang memiliki hand sprayer (36. arit.00 46.67 persen). alat pengendalian Hama Penyakit Tanaman (HPT). parang.67 3.33 100. Biaya sewa .67 0.67 persen) lebih sedikit bila dibandingkan dengan petani yang tidak memiliki hand sprayer (46. dan alat perontok kedelai petani menyewa dari luar.00 0.

sedangkan paling banyak (86. pupuk kandang juga dapat memperbaiki struktur tanah.Juli setelah panen padi kedua. memungkinkan cara kerja yang sederhana sehingga lebih hemat .67 100.00 3.33 86.67 persen) petani tidak memelihara ternak.1. petani juga dapat menggunakan kotoran ternak sebagai pupuk kandang. dan sewa alat perontok kedelai Rp 25 000.00 0. sapi dan ayam. Selain sebagai penyedia unsur hara mikro. Penanaman di lahan sawah lebih banyak diminati petani karena lebih tinggi hasilnya dan karena penanaman kedelai setelah padi.33 persen) dengan rataan penguasaan 50 ekor. Tabel 15 Persentase Petani Responden Menurut Kepemilikan Ternak Kepemilikan Ternak Kambing Sapi Kambing dan Sapi Ayam Tidak memiliki Total Jumlah Petani (Orang) 3 0 0 1 26 30 Persentase (%) 10. Usahatani Kedelai Di Kabupaten Cianjur pola tanam yang diterapkan adalah padi-padipalawija/kedelai.2. Kedelai musim utama ditanam mengikuti padi sawah musim hujan karena musim itulah yang terbaik untuk kedelai.00 0.00 Tabel 15 menginformasikan bahwa beberapa petani sudah memelihara ternak kambing (10 persen) dengan rataan penguasaan antara 6 sampai 14 ekor. sewa pompa air Rp 20 000 per hektar. Salah satu usaha sampingan petani yaitu memelihara ternak kambing. per tiga kuintal kedelai. memelihara ternak ayam (3. 6. kedelai banyak ditanam pada bulan Juni .50 hand sprayer Rp 5 000 per hektar. Pemeliharaan ternak disamping memberikan tambahan pendapatan keluarga.

Pada umumnya petani di Kecamatan Ciranjang bertanam kedelai di lahan bekas padi sawah tanpa didahului pengolahan tanah. dan (3) umur dalam (lebih dari 85 hari). dengan jarak 20 x 20 sentimeter sampai 25 x 25 sentimeter mengikuti jarak tugal jerami. Gulma yang lain telah cukup dikendalikan dengan membakar jerami yang dihamparkan menutup lahan yang baru ditugali benih kedelai. Di Kabupaten Cianjur. varietas kedelai dapat digolongkan menjadi tiga kelompok umur. Penanaman dengan cara tugal lebih baik karena jumlah tanamannya lebih besar dan tersebar lebih merata. penanaman kedelai dilakukan dengan cara penugalan benih pada lahan sawah yang sudah dibabat jeraminya. sewaktu kering ternyata cukup baik strukturnya untuk mendukung pertumbuhan kedelai tanpa pengolahan tanah sebelum tanam.51 tenaga dan biaya dibanding penanaman di lahan tegal. Kekeringan yang terjadi setelah biji kedelai ditanam dapat menghambat perkecambahan. Pengendalian gulma hanya dilakukan satu kali. yaitu (1) umur genjah (kurang dari 80 hari). Tanah yang semasa padi sawah digenangi serta berlumpur tersebut. Bahkan penyiangan pun dilakukan secara minim. Berdasarkan lamanya periode waktu tumbuh dari sejak tanam sampai kematangan polong. Pola penugalan kira-kira bujur sangkar. pengolahan tanah sebelum tanam itu juga berakibat memundurkan waktu tanam kedelai sehingga dapat mengurangi hasil. Hal yang sama terjadi bila . kebanyakan tanpa pengolahan tanah. (2) umur sedang (80 – 85 hari). Penyiapan lahan untuk bertanam cukup hanya dengan pembuatan parit dangkal seurut galangan dan tanpa pengolahan lahan. Selain kurang berguna.

Penggunaan pupuk per hektar yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur yaitu urea 50 kilogram. P dan K relatif besar. Kedelai yang ditanam dalam pola bergiliran dapat memanfaatkan sisa pupuk yang tidak digunakan tanaman sebelumnya. Paling banyak petani mengaplikasikan pupuk urea (80 persen) dengan takaran 53 kilogram per hektar.52 biji yang telah ditanam tergenang air. Kedelai merupakan tanaman semusim sehingga kebutuhan N. zat perangsang biji 2 liter. dan poska (3. dapat menghambat pembentukan polong akibatnya dapat menurunkan hasil. Selain itu. pada periode penanaman kedelai di Kecamatan Ciranjang terjadi kekeringan sehingga menurunkan hasil. Umumnya petani tidak melakukan kegiatan pemupukan sesuai dengan dosis yang telah dianjurkan. NPK 150 kilogram. Umumnya petani melakukan penyemprotan sesuai dengan intensitas serangan. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah ulat grayak (pemakan daun) dan penggerek polong. Selain kegiatan pemupukan. Di Kecamatan Ciranjang. dan zat perangsang biji (30 persen) dengan takaran 1 liter per hektar. rata-rata penyemprotan dilakukan dua sampai tiga kali per tahun menggunakan pestisida kimia (80 . Di Kecamatan Ciranjang. Tahun 2007. pengendalian HPT antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi. Penggunaan dosis pupuk yang tidak sesuai dengan kebutuhan hara tanaman akan menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai menjadi terganggu. kegiatan pemupukan antara satu petani dengan petani yang lain cukup bervariasi (Tabel 16). KCl 50 kilogram. Selain itu. SP36/TSP 100 kilogram.33 persen). ada juga petani yang meggunakan pupuk NPK (20 persen) dengan takaran 20 kilogram per hektar. petani juga melakukan kegiatan pengendalian HPT.

sehingga waktu panennya harus menyesuaikan dengan umur tanaman.00 26. Pestisida.00 34.5 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 15 000-20 000 24 8 4 0 6 9 24 80.00 20. batang-batangnya sudah kering.74 45.00 36.00 Jumlah (sat/Ha) 42.61 79.30 2 100. Di Kecamatan Ciranjang varietas yang ditanaman umumnya adalah varietas Dapros (90 hari).67 20 2 2 2 2 3.85 0.5 3.33 0.00 33.62 Saat panen ditentukan berdasarkan umur tanaman. Tabel 16 Biaya Pupuk.31 21 966.00 80.62 mililiter per hektar.33 66. Tenaga Kerja pada Usahatani Kedelai No 1 2 Jenis Kegiatan Bibit + Furadan (Kg) Takaran Pupuk (Kg) Urea SP36/TSP KCl ZA NPK Zat Perangsang Biji (l) 3 4 Pestisida (ml) Tenaga Kerja (HOK) Penanaman Penyiangan Pemupukan Pengendalian HPT Pengairan Panen/angkut Pengeringan dan Perontokan 30 11 24 24 10 20 20 100. ciri-ciri penampakan luar. Pangkal batang dan akar-akar tanaman kedelai .00 2 080.00 30.00 80.52 Harga Ratarata (Rp/unit) 6 643.53 persen) dengan takaran 344. sedangkan beberapa petani (20 persen) tidak melakukan pengendalian HPT (Tabel 16). dan sebagian daun sudah kering dan rontok. dan dipengaruhi oleh ketinggian tempat penanaman. Ciri-ciri umum tanaman kedelai sudah saatnya dipanen adalah polong secara merata sudah berwarna kuning-kecoklatan.67 66. Setiap varietas kedelai memiliki umur yang berbeda.96 25.67 80.67 13.94 35 692. Cara panen kedelai dilakukan dengan memotong pangkal tanaman dengan menggunakan sabit atau parang.67 Jumlah Petani yang melakukan 30 Persentase (%) 100.62 1 501.42 6 929.26 344.

Pengeringan dilakukan dengan menjemur brangkasan kedelai di bawah terik matahari dengan cara dihamparkan di atas lantai jemur atau menggunakan anyaman bambu. Perontokan atau pengupasan polong kedelai harus segera dilakukan setelah pengeringan.60 per kilogram. Setelah panen. Di Kecamatan Ciranjang.3 hari.97 kilogram dengan produktivitas kedelai yang diperoleh sebesar 1. Tabel 16 memberikan informasi bahwa biaya . Jenis pembiayaan usahatani kedelai terdiri atas pengadaan bibit. Setelah dirontokan dilakukan pemisahan biji kedelai dari daun. Tujuan utama dari budidaya kedelai adalah memperoleh kedelai yang memiliki kadar air rendah.33 persen) untuk tujuan konsumsi polong yang direbus. sehingga petani akan memperoleh penerimaan yang tinggi. sedangkan harga jual rata-rata Rp 3 095. upah tenaga kerja.67 persen). sisa-sisa polong ataupun kotoran yang lain. ada juga petani yang panen polong hijau (33. Di Kecamatan Ciranjang. tapi pada cuaca baik dapat dilakukan sekitar 1 . selain panen tua untuk dikeringkan (66. rata-rata produksi per hektar sebesar 1 370. sewa alat dan pajak. Lamanya penjemuran rata-rata tujuh hari. Keterlambatan dapat menyebabkan polong menjadi basah kembali dan menyulitkan dalam pembijian (pengelupasan biji dari polong). kegiatan selanjutnya adalah pengeringan tujuannya untuk menurunkan kadar air dari biji sampai batas aman untuk disimpan atau memudahkan penanganan selanjutnya. tapi ada juga beberapa petani yang menggunakan alat perontok kedelai.37 ton per hektar.54 bermanfaat sebagai sumber Nitrogen dan penyubur tanah untuk tanaman musim berikutnya. Umumnya petani di Kecamatan Ciranjang melakukan perontokan dengan cara manual yaitu dipukul-pukul dengan kayu. pupuk dan pestisida.

00 882 796. Biaya tunai yang paling besar digunakan untuk upah tenaga kerja luar keluarga.30 240 214.00 100 00. Tabel 17 Analisis Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Kedelai Polong Muda dan Polong Tua per Hektar Jenis Biaya dan Penerimaan A.50 200 00. Sumberdaya yang digunakan dalam usahatani kedelai meliputi tenaga kerja.54 9 280. R/C Rasio Polong Muda (Rp/ha) 1 871 269.60 988 473.30 350 000.00 114 247.00 1 111 196.27 Polong Tua (Rp/ha) 4 243 974.05 350 000.30 1 473 010.84 1 871 269.35 .99 37 850. Total Biaya (D+E) G.00 107 471.00 10 000.00 1 096 367. sewa alat.73 2 042 511. hal ini disebabkan tenaga kerja dalam keluarga sangat minim.73 282 486.05 3 132 778. pupuk.24 1.00 931 315.77 426 393. pestisida dan pajak. Besarnya biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani yang panen polong muda dan panen polong tua disebabkan petani banyak menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga.60 per hektar) lebih rendah dari biaya usahatani kedelai yang dipanen polong tua (Rp 3 312 778.68 581 315.24 398 256.54 398 259. benih.10 1 111 196.33 2 201463.00 590 214. Pendapatan atas biaya total I.96 75 701.00 1. Biaya Diperhitungkan Tenaga Kerja Keluarga Sewa Lahan Benih Penyusutan Total Biaya Diperhitungkan F. Pendapatan atas biaya tunai H.63 10 000.72 51 959.00 74 106.72 494 260. Penerimaan Tidak Diperhitungkan C. Pendapatan Bersih J.84 282 486. Penerimaan Tunai B.55 usahatani baik biaya tunai maupun biaya diperhitungkan untuk kedelai yang dipanen polong muda (Rp 1 563 010.73 per hektar). Total Penerimaan (A+B) D.73 4 243 974. Biaya Tunai Benih Pupuk Pestisida PPC/ZPT Tenaga Kerja Luar Keluarga Sewa Alat Handsprayer Sewa Alat Perontok Sewa Pompa Pajak Total Biaya Tunai E.

Angka ini memberikan arti bahwa dari setiap rupiah biaya yang dikeluarkan oleh petani kedelai akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1. Petani yang melakukan panen polong muda disebabkan beberapa hal. Total penerimaan untuk kedelai polong tua mencapai Rp 4 243 974. petani yang panen polong tua (1. Berdasarkan analisis usahatani (Tabel 17) kedelai per hektar untuk kedelai yang dipanen polong muda. Melihat perbandingan jumlah R/C rasio yang diperoleh.24. Jadwal penanaman yang terlambat juga mengharuskan petani untuk melakukan panen kedelai polong muda. ada juga petani . seperti jadwal penanaman yang terlambat.4.27 untuk polong muda.56 Suatu usahatani akan dikatakan berhasil atau menguntungkan jika selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif. Walaupun. nilai R/C rasionya tidak berbeda jauh tetapi pendapatan bersih polong tua lebih tinggi dari pendapatan bersih polong muda.27).84 dan pendapatan atas total biaya Rp 398 256.73 dan pendapatan atas total biaya Rp 1 111 196. Besarnya pendapatan atas biaya tunai yang diperoleh petani polong tua karena hasil yang diperoleh lebih banyak dan harga jual biji kedelai lebih tinggi dari pada kedelai hijau (muda). Selain itu. Petani yang memiliki keterbatasan modal telah merencanakan menanam kedelai untuk dipanen muda.35 untuk polong tua dan penerimaan sebesar Rp 1. waktu pengolahan lama dan keterbatasan modal.00.35) tidak berbeda jauh dari pada petani yang panen polong muda (1. sehingga kegiatan pemeliharaan tidak dilakukan dengan optimal. Nilai R/C rasio yang diperoleh pada usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang tidak berbeda jauh dengan nilai R/C rasio usahatani kedelai pada penelitian Rusastra et al (1992) yaitu 1. total penerimaan mencapai Rp 1 871 269.

Pemanenan kedelai polong muda tidak dapat dilakukan terus menerus karena penyerapan pasar untuk polong muda sangat terbatas. ada dua saluran tataniaga yaitu . Saluran tataniaga kedelai yang ada di Kecamatan Ciranjang. 6. sedangkan untuk membayar tenaga kerja mereka memiliki keterbatasan modal. selain cara penjualan yang demikian ada pula petani yang membawa sendiri dan menjualnya pada pedagang besar kabupaten yang berada di pasar.57 memanen polong muda karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. Hal ini disebabkan oleh lokasi petani yang jauh dari pedagang besar kecamatan sehingga penjualan ke pasar akan menambah biaya dan keterbatasan waktu. Pada saat panen banyak pedagang pengumpul yang datang ke tempat petani sehingga petani dapat menjual kedelai di rumah atau di sawah tanpa harus mengangkut ke tempat pembeli. Sebagian besar petani di Kecamatan Ciranjang melakukan penjualan kedelai langsung kepada tengkulak. Tetapi di Desa Ciranjang.. pedagang besar propinsi. berbeda dengan polong tua yang bisa disimpan apabila petani tidak bisa menjual semua hasil panennya.2. pedagang besar kecamatan. Selain itu.1 Saluran Tataniaga Pemasaran kedelai di lokasi penelitian dari petani sampai konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pemasaran yaitu pedagang pengumpul (tengkulak). penyerapan pasar untuk kedelai polong tua masih sangat terbuka luas karena kedelai polong tua dibutuhkan industri-industri makanan dan minuman berbahan baku kedelai. dan pedagang pengecer.2 Saluran dan Lembaga Tataniaga 6. pedagang besar kabupaten. Kabupaten Cianjur.

100 % Petani Pedagang Pengumpul Ciranjang 100 % Pedagang Pasar Induk Parung 20 % 80 % Pedagang Pegecer Konsumen Gambar 3.72%) melalui saluran kedua.56%). lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (5.33%) ke pedagang pengumpul. Gambar 3 menginformasikan bahwa saluran tataniaga kedelai polong muda mempunyai dua tujuan. Gambar 4 menginformasikan bahwa di Kecamatan Ciranjang terdapat delapan saluran tataniaga yang digunakan petani dalam menyampaikan barangnya ke konsumen. Saluran Tataniaga Kedelai Polong Muda. Saluran kesatu dari pedagang pengumpul kedelai dijual ke pedagang kecamatan (42. 8. Saluran kedua dan ketiga kedelai dari pedagang pengumpul dijual ke pedagang kabupaten (30. 80 persen kedelai diserap oleh pedagang pengecer dan 20 persen langsung diserap oleh konsumen akhir. kemudian kedelai tersebut (100 persen) dibawa ke pedagang Pasar Induk Parung.69%). Di pedagang pasar induk.58 saluran tataniaga kedelai polong muda (Gambar 3) dan saluran tataniaga kedelai polong tua (Gambar 4).58 persen kedelai dari pedagang kabupaten . yaitu dari petani kedelai (100 persen) dibawa ke pedagang pengumpul.77%) lalu diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (10. Pada saluran kesatu sampai kelima petani menjual kedelai (73.

Saluran 6-8 hanya dipergunakan oleh petani responden (26.23 persen diserap pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir melalui saluran kelima. Saluran keempat dan kelima sama seperti saluran kesatu.67 persen) yang berdekatan dengan pasar Ciranjang seperti Desa Ciranjang dan Desa Cibiuk. Saluran keenam sampai kedelapan petani menjual kedelai langsung ke pedagang kabupaten (26. kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang propinsi (4. Pada dasarnya petani memiliki kebebasan untuk menentukan saluran mana yang akan dipilih.67%). 10. Volume kedelai banyak melalui saluran tiga (57.14%) melalui saluran keempat.08%) lalu diserap pengrajin tahu/tempe (6.33 persen) karena banyaknya jumlah pedagang pengumpul lokal yang mendatangi petani.58%).23 persen) karena petani tidak mau mengambil resiko kerugian biaya transportasi. penjualan kedelai ke saluran 1.59 diserap oleh pedagang pengecer kemudian dijual ke konsumen akhir melalui saluran ketiga. Kedelai diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe (6. sedangkan saluran ketujuh dan kedelapan.14%) melalui saluran ketujuh dan diserap oleh pedagang pengecer (10. lokasi petani yang jauh dari pedagang kabupaten. 2 dan saluran 3 lebih banyak dipilih (73. Pada saluran keenam kedelai dari pedagang kebupaten dijual ke pedagang pengecer (8. .77%) kedelai dijual langsung ke pedagang propinsi (32. tetapi dari pedagang kecamatan (42.58%) lalu ke konsumen akhir. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden. sehingga tidak ada alternatif lain bagi petani untuk menjual hasil panennya.23%) melalui saluran kedelapan untuk dijual ke konsumen akhir.

6.77 % Pedagang Besar Kecamatan Garut Majalengka Sumedang Sukabumi Pengrajin Tahu Tempe 8.23 % Pengecer 10.33 % Pedagang Pengumpul Kecamatan Ciranjang 30.08 % Bandung Bandung Pedagang Besar Propinsi 24.58 % Konsumen 32.23 % Konsumen 6.58 % Pedagang Pengecer 8.67 % Petani 73.69 % 42.2. Umumnya fungsi-fungsi tataniaga kedelai yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga .34% 5.56 % Pedagang Besar Kabupaten 34.2 Lembaga Tataniaga Kegiatan yang dilakukan lembaga tataniaga untuk memperlancar arus kedelai dari produsen ke konsumen dinamakan fungsi tataniaga.58 % 8.72 % 10.56% Luar Jawa Barat 10.14 % Pengrajin Tahu Tahu /Tempe Tempe Ket: tidak dianalisis Gambar 4 Saluran Tataniaga Kedelai Polong Tua.60 26.

pedagang kecamatan. Pemilihan rantai tataniaga . dan pedagang pengecer. pembiayaan. pedagang pengumpul. Petani Seluruh petani responden kedelai di Kecamatan Ciranjang umumnya tidak menemui kesulitan dalam memasarkan kedelainya karena pedagang pengumpul selalu ada untuk mengambil produksi kedelai saat musim panen. informasi pasar a. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Setiap lembaga yang terlibat dalam tataniaga kedelai mulai dari produsen sampai ke konsumen akhir mempunyai fungsi yang berbeda-beda. pembiayaan. pedagang besar propinsi. tetapi ada beberapa petani yang menjual langsung ke pedagang besar di pasar. Umumnya petani menjual ke pedagang pengumpul yang mendatangi rumah atau sawah petani dengan penawaran harga tertinggi. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. Petani memasarkan kedelai dalam dua bentuk yaitu polong muda dan polong tua. pembiayaan. informasi pasar Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan Fungsi fisik Penyimpanan dan pengangkutan Fungsi fasilitas Penanggungan resiko. Tabel 18 menginformasikan bahwa ada enam lembaga tataniaga yang terlibat yaitu petani. pedagang besar kabupaten.61 tataniaga adalah fungsi pertukaran. Tabel 18 Pelaksanaan Fungsi Tataniaga di Beberapa Lembaga Tataniaga Kedelai Lembaga Tataniaga Petani Pedagang Pengumpul Fungsi Tataniaga Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi pertukaran Fungsi fisik Fungsi fasilitas Aktivitas Pedagang Kecamatan Pedagang Kabupaten Pedagang Propinsi Pedagang Pengecer Penjualan Pengangkutan Pembelian dan penjualan Pengumpulan dan pengangkutan Penanggungan resiko.

Akibatnya cara tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah. sedangkan yang polong muda umumnya tebasan langsung di sawah petani. fungsi fisik yaitu pengumpulan dan pengangkutan. Kedelai yang dijual ke pedagang pengumpul sebanyak 73. Pedagang Pengumpul Pedagang pengumpul di Kecamatan Ciranjang umumnya pedagang pengumpul dari luar Kecamatan. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko . b. tetapi informasi pasar dan harga dikuasai oleh pedagang pengumpul sehingga harga jual ditentukan oleh pedagang pengumpul.62 pedagang pengumpul oleh petani dengan pertimbangan tidak ada biaya transportasi dan lokasi petani ke pasar tujuan cukup jauh. khusus polong muda umumnya secara borongan di sawah yang didatangi pedagang pengumpul. Sistem pembayaran umumnya secara tunai. tetapi ada juga yang pembayarannya menunggu hasil penjualan ke pedagang besar atas dasar kepercayaan. sedangkan kedelai polong tua dibawa ke pedagang kecamatan dan pedagang besar kabupaten dengan menggunakan transportasi mobil. Kedelai ini selanjutnya dibawa ke pasar tujuan untuk kedelai polong muda.33 persen dari keseluruhan hasil produksi kedelai di Kecamatan Ciranjang. tetapi ada beberapa pedagang yang merupakan penduduk Kecamatan Ciranjang. Cara pembelian yang dilakukan pedagang pengumpul dari petani untuk polong tua dengan ditimbang di rumah petani. Cara petani menjual kedelai ke pedagang pengumpul adalah cara langsung dari rumah atau sawah. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah pembelian dan penjualan. Sistem ini memberikan kemudahan bagi petani.

pembiayaan (transportasi. Selain itu banyaknya kedelai yang harus disiapkan oleh pedagang pengumpul. selain itu menerima kedelai langsung dari petani.63 penyusutan. fungsi fisik berupa penyimpanan dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh pedagang kecamatan adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. . misalnya tidak pada saat musim tanam kedelai sehingga terjadi kekurangan pasokan. Kedelai yang diperoleh selain untuk bahan baku pabrik tahu miliknya. sebagian dijual langsung ke pedagang besar propinsi di Bandung. c. Pedagang kecamatan mempunyai informasi pasar yang akurat tentang harga yang terjadi karena berhubungan langsung dengan pedagang besar propinsi. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Jawa Barat. sedangkan pembelian kedelai dari petani dibayar tunai. Pedagang ini menerima kedelai dari pedagang pengumpul dari desadesa yang berdekatan dengan pedagang kecamatan. Pedagang Kecamatan Pedagang kecamatan merupakan pengrajin tahu skala besar di Kecamatan Haurwangi. Umumnya pedagang pengumpul yang menjual kedelai ke pedagang kecamatan merupakan pedagang yang menerima bantuan modal dari pedagang kecamatan. Cara pembayaran kepada pedagang pengumpul dengan mengurangi langsung modal yang dipinjam pedagang pengumpul dari penjualan kedelai. tenaga kerja dan pengemasan) dan informasi pasar (harga).

Garut. Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang besar kabupaten Cianjur (di Kecamatan Ciranjang). Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar selalu tunai. Pedagang besar umumnya mempunyai informasi harga yang akurat. Subang. sehingga posisi tawar-menawar pedagang pengumpul lemah jika dibandingkan dengan pedagang besar. Pedagang ini memiliki skala usaha dagang yang besar di Bandung. fungsi fisik berupa penyimpanan. Fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. dan fungsi fasilitas berupa penanggungan resiko penyusutan. pembiayaan dan informasi pasar. Sukabumi dan Bandung. Sukabumi Selatan. Pedagang Besar Propinsi Pedagang besar propinsi yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai dari produsen di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. dan . Pedagang ini menerima pasokan kedelai dari pedagang pengumpul dan petani yang berdekatan dengan pasar. Pedagang Besar Kabupaten Pedagang besar kabupaten yang terlibat dalam saluran tataniaga kedelai di Kecamatan Ciranjang berjumlah satu orang. Tasik. Majalengka. Jawa Barat. Penyerahan kedelai dilakukan di tempat pedagang besar sehingga pembelian tersebut berlangsung di gudang pedagang besar. e. Kegiatan yang dilakukan selain pembelian juga penjualan. Majalengka. Kedelai tersebut dijual baik langsung ke pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur maupun ke pedagang pengecer di Kabupaten Cianjur dan pedagang pengecer luar daerah yang telah menjadi langganan sepeti Garut. Karawang. Sumedang.64 d. selain itu pedagang ini menerima pasokan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur melibatkan pedagang kebupaten lainnya.

Jawa Timur. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. serta fungsi fasilitas yaitu penanggungan resiko penyusutan. Informasi harga yang dimiliki pedagang besar merupakan informasi terbaru. Pedagang pengecer melakukan fungsi-fungsi tataniaga adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Umumnya pedagang pengecer menjual kedelai untuk konsumsi. fungsi fisik yaitu penyimpanan. Selain itu menerima kedelai langsung dari petani di wilayah Bandung. fungsi fisik yaitu penyimpanan dan pengangkutan dari pedagang besar ke pedagang pengecer. Pembayaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer dengan cara tunai. Fungsi-fungsi tataniaga yang dilakukan pedagang besar propinsi adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan. Pedagang besar melakukan kegiatan penjualan kedelai baik secara langsung ke pengrajin tahu/tempe dan pedagang pengecer di daerah Bandung. Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi.65 Banjar. karena pedagang besar berhubungan langsung dengan penentu harga pasar yaitu pedagang pengecer. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. pembiayaan transportasi dan informasi pasar. tetapi ada juga pengecer yang menjual kedelai untuk benih. . serta dari Jawa Tengah. Cara pembayaran yang dilakukan pedagang besar adalah nota dan tunai. f. Banyaknya kedelai yang dibeli disesuaikan dengan skala usaha dagang yang dimiliki pedagang pengecer. maupun pengiriman ke luar propinsi Jawa Barat. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang menerima pasokan kedelai dari pedagang besar untuk dijual langsung kepada konsumen akhir.

66 6. . Petani dan Pedagang Pengumpul. Kedelai yang diperjualbelikan umumnya homogen yaitu kedelai varietas Dapros. sifat produk yang diperjualbelikan dan informasi pasar yang diperoleh. Hambatan yang dihadapi pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten adalah harus memiliki modal yang kuat dan memiliki relasi yang luas agar dalam pemasaran kedelai berjalan dengan lancar. kebebasan untuk keluar masuk pasar yang dialami oleh para pelaku pasar. sedangkan pedagang kecamatan/kabupaten posisi tawarnya lebih baik dari pedagang pengumpul. Pedagang Kecamatan serta Pedagang Kabupaten Petani berperan sebagai penjual dan yang berperan sebagai pembeli adalah pedagang pengumpul. Petani dalam memasarkan hasilnya tidak menghadapi hambatan karena petani dengan mudah menjual kedelai kepada pembeli.1 Struktur Pasar Struktur pasar dapat diidentifikasi dengan melihat jumlah lembaga tataniaga.3. Akibatnya petani hanya berperan sebagai price taker dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam penentuan harga. sedangkan pedagang pengumpul menghadapi hambatan pada waktu bukan musim tanam kedelai dan keterbatasan modal. pedagang kecamatan dan pedagang besar. Struktur pasar yang dihadapi oleh para pelaku pasar dalam tataniaga kedelai adalah sebagai berikut: a.3 Struktur dan Perilaku Pasar 6. Dilihat dari struktur pasar yang dihadapai pedagang pengumpul memiliki posisi tawar yang lebih baik dari petani. Sumber informasi tentang harga dibawa oleh pedagang sehingga penentu harga dilakukan oleh pihak pedagang.

Pedagang Pengumpul dan Pedagang Besar Di lokasi penelitian jumlah pedagang pengumpul lebih sedikit dari jumlah petani tapi lebih banyak dari pedagang besar di Kecamatan Ciranjang. Pedagang pengumpul dalam menentukan harga sangat lemah.67 b. Selain harus mempunyai modal yang kuat. c. jika tiba musim panen kedelai pedagang pengumpul banyak berdatangan dari luar Kecamatan. sehingga posisi tawarnya lebih baik dari pedagang kecamatan/kabupaten. pedagang besar juga harus memiliki komunikasi dan kepercayaan yang baik dengan lembaga tataniaga yang lain. karena umumnya pedagang pengumpul mendapat pinjaman dari pedagang besar. pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten bersifat homogen. Informasi ini diperoleh dari pedagang pengumpul lainnya dan pedagang besar itu sendiri. Namun ada juga pedagang pengumpul yang bekerja sendiri. Posis tawar pedagang kecamatan/kabupaten lebih baik dari pedagang pengumpul karena yang menentukan harga adalah konsumen akhir. Hal ini karena pedagang pengumpul memiliki keterbatasan modal untuk membayar petani. Pedagang Besar Propinsi dan Pedagang Pengecer Pedagang propinsi memiliki level penjualan yang lebih tinggi dari pedagang kecamatan/kabupaten. mereka memasarkan kedelai hanya kepada pedagang besar. Posisi tawar pedagang pengecer lebih baik dari pedagang propinsi karena berhubungan langsung dengan konsumen akhir. Jumlah pedagang pengumpul yang berdomisili di Kecamatan Ciranjang tidak diketahui dengan pasti. Informasi yang dimiliki pedagang pengumpul mengenai keberadaan kedelai dan harga jual yang berlaku lebih baik jika dibandingkan petani. Pedagang Besar. . Komoditi yang diperjualbelikan di tingkat pedagang pengumpul.

hal ini dicirikan dengan banyak pedagang pengecer sebagai penjual dengan banyak konsumen akhir sebagai pembeli. 6. sistem pembayaran dan kerjasama yang terjadi antara lembaga tataniaga.2 Perilaku Pasar Perilaku pasar dapat diidentifikasi dengan mengamati kegiatan tataniaga kedelai dalam proses pembelian dan penjualan.3. dan komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen. a. Komoditi yang diperjualbelikan bersifat homogen yaitu kedelai. Pembelian kedelai oleh pedagang pengumpul dilakukan dengan cara pedagang pengumpul langsung mendatangi petani.68 Sistem pembayaran antara pedagang besar dengan pedagang pengumpul secara tunai. d. kecuali polong muda penundaan pembayaran bisa terjadi karena keterbatasan modal yang dimiliki pedagang pengumpul. Praktik Pembelian dan Penjualan Setiap lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga kedelai melakukan kegiatan pembelian dan penjualan. Pedagang pengecer dengan konsumen menghadapi struktur pasar persaingan. sedangkan pedagang besar melakukan pembelian di tempat penjual. Cara pembayaran untuk setiap lembaga tataniaga dilakukan secara tunai. Pedagang Pengecer dengan Konsumen Pedagang pengecer merupakan lembaga tataniaga yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir. kecuali petani yang hanya melakukan kegiatan penjualan. . Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer terhadap pedagang besar dan konsumen adalah tunai. sistem penentuan harga.

Penguasaan informasi harga sangat didominasi oleh pedagang pengumpul. biaya dan jumlah komoditi yang akhirnya memberikan penilaian baik atau tidaknya suatu sistem tataniaga (Dahl and Hammond. 1977).4 Analisis Keragaan Pasar Struktur pasar dan perilaku pasar akan menentukan keragaan pasar yang dapat diukur melalui harga. 6. farmer s share dan analisis rasio keuntungan dan biaya. Analisis efisiensi tataniaga mencakup analisis marjin tataniaga.69 b.4. c. Sistem Penentuan Harga Posisi petani adalah sebagai penerima harga. Bentuk kerjasama yang terjadi adalah pedagang besar menyediakan benih kedelai dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasar dengan mutu benih kedelai yang sama. sehingga petani dapat menekan biaya usahatani kedelainya. Proses penentuan harga antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar lebih banyak dipengaruhi oleh harga kedelai di pasar. Efisiensi tataniaga merupakan suatu kegiatan perubahan yang dapat meminimalkan biaya input tanpa harus mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa. Kerjasama Antar Lembaga Kerjasama antar lembaga tataniaga kedelai baru terjadi antara petani dan pedagang besar kecamatan dan kabupaten di kecamatan Ciranjang.1 Marjin Tataniaga Marjin tataniaga diartikan melalui selisih harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat pedagang pengecer yang diperoleh dengan satuan rupiah per . walaupun terjadi tawar-menawar penetapan harga tetap lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul. 6. Informasi harga dibawa oleh pedagang pengumpul saat akan membeli kedelai di tempat atau sawah petani.

Sistem tataniaga yang terjadi di Kecamatan Ciranjang. Penghitungan marjin meliputi biaya tataniaga dan keuntungan lembaga yang terlibat dalam saluran tataniaga tersebut. Kabupaten Cianjur terdiri dari delapan saluaran tataniaga. tenaga kerja. Pembahasan mengenai sebaran marjin tataniaga dibagi menjadi sebaran marjin melalui pedagang pengumpul dan sebaran marjin melalui pedagang besar kabupaten. Saluran ke-3 sama seperti saluran ke-2 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. yaitu saluran ke-1 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kecamatan dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Secara umum petani menyalurkan kedelai melalui dua lembaga saluran tataniaga. Keuntungan pemasaran merupakan selisih antara harga jual dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan.70 kilogram kedelai. . Biaya tataniaga merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam memasarkan kedelai dari petani sampai ke konsumen akhir. Saluran ke-2 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu ke pedagang kabupaten dan diserap langsung oleh pengrajin tahu/tempe. Marjin tataniaga dalam penelitian ini dihitung berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang terbentuk. Saluran tataniaga kedelai yang melalui pedagang pengumpul yaitu saluran satu sampai saluran lima (Tabel 19) dan saluran tataniaga yang melalui pedagang besar kabupaten yaitu saluran enam sampai saluran delapan (Tabel 20). pengemasan dan retribusi. yaitu pedagang pengumpul dan pedagang besar kabupaten. Biaya tataniaga tersebut meliputi biaya transportasi. Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan mengenai jumlah komoditi yang dipasarkan.

total biaya tataniaga yang dikeluarkan sebesar Rp 97. Saluran ke-7 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang propinsi dan diserap oleh pengrajin tahu/tempe. Saluran ke-6 dari petani kedelai dibawa ke pedagang kabupaten lalu ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen (Kabupaten Cianjur). Pada tingkat pedagang kecamatan biaya yang dikeluarkan untuk transportasi sebesar Rp 16. paling banyak berasal dari pedagang kecamatan yaitu Rp 600 dan pedagang pengumpul Rp 404.67 per kilogram.71 Saluran 4 dari petani kedelai dijual ke pedagang pengumpul lalu dibawa ke pedagang kecamatan lalu ke pedagang propinsi dan diserap pengrajin tahu/tempe (Bandung). Saluran ke-5 sama seperti saluran ke-4 hanya tujuannya ke pedagang pengecer lalu ke konsumen akhir. Pada saluran tataniaga 1 dengan tujuan akhir pengrajin tahu/tempe. Total keuntungan Rp 907.33 per kilogram dan biaya tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 15 per kilogram. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengecer dan pedagang kecamatan yaitu masing-masing sebesar Rp 48. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengumpul meliputi biaya transportasi untuk mencari kedelai sebesar Rp 33.33 dan Rp 48. Total perolehan marjin Rp 1 004.33 dan pedagang pengumpul Rp 356.40 per kilogram. .40 per kilogram.07 per kilogram. paling besar berasal dari pedagang kecamatan sebesar Rp 551.67. per kilogram (Tabel 18). Saluran ke-8 sama seperti saluran ke-7 hanya tujuannya ke pedagang pengecer untuk dijual ke konsumen akhir. tenaga kerja dan pengemasan Rp 25 dan penyusutan Rp 7 per kilogram.40.

Pedagang Pengumpul Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.08 810.00 3 500.07 7.25 23.00 55.33 356.33 356.00 428.00 92.50 1.33 1 500.00 % Saluran 4 Harga (Rp/kg) 2 285.00 % Saluran 3 Harga (Rp/kg) 2 285.50 1.16 12.00 5 000.78 35.60 48.50 75.07 404.73 19.60 3 095.00 3 500.43 71.00 600.60 3 095.51 11.86 85.52 3 095.00 543.60 48.45 14.00 72.63 100.60 3 095.00 77.00 3 500.33 1 500.18 8.40 3 500. Pedagang Kecamatan Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.00 1.60 3 095.99 77.00 4 100.85 53.64 11.15 0.11 88.67 1.40 3 500.00 48.07 404.08 810.00 57.08 76.00 3500. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 2 285.07 404.73 19.33 356.74 5.00 % 55.00 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) 2 285.40 3 500.77 75.07 404.39 13.83 21.08 810.01 68.47 47.09 5.33 356. Empat dan Lima di Kecamatan Ciranjang Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 1.00 50.22 53.40 3 500.78 18.73 21.67 1 381.00 1. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.48 6.58 44.52 3 095.62 46.78 1.70 19.52 3 095.43 .85 1.78 50. Dua.60 9.00 5 000.68 9.00 500.22 42.60 48.08 810.00 4 100.67 551.18 8.00 118.60 48.00 3 500. Tiga.52 3 095.67 1 381.68 9.11 1.92 32.24 14.08 810.52 3 095.00 4 000.37 50.33 356.63 100.50 75.00 118.79 66.60 48.60 3 095.40 3 500.72 Tabel 19 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Satu.19 13.77 75.86 0.86 85.69 5.33 600.89 % Saluran 5 Harga (Rp/kg) 2 285.37 80.91 8.07 404.

57 100.00 6 500.89 1.00 907.00 92.50 105.00 6 400.29 48.33 1 219. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 8.93 24.00 1 500.00 1 388.36 17.00 100.00 76.35 23.43 2.00 7 000.00 4 500.54 75.00 100. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 6.40 1 004.00 3 495.00 4.00 4 500.40 11.00 165.00 65.00 100.00 523.00 88.00 600.84 49.13 24.00 71.00 185.40 6.00 97. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share 4 100.62 4.40 8.50 279.00 4 100. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 7.11 100.00 91.00 6 400.67 11.44 9.00 435.72 21.33 899.40 3 404.50 2.00 1 235.78 .55 44.57 21.08 100.37 22.47 8.08 52.86 1.21 % Saluran 2 Harga (Rp/kg) % Saluran 3 Harga (Rp/kg) % Saluran 4 Harga (Rp/kg) % Saluran 5 Harga (Rp/kg) % 5 000.09 31.12 27.35 75.00 5 000.07 1 004.00 409.00 500.40 8.92 1.07 1 404.00 1 400.50 2.73 Tabel 19 Lanjutan Uraian Saluaran 1 Harga (Rp/kg) 5.00 77.00 112.00 6500.38 7 000.00 3 125.00 5.10 7.79 100.58 68.64 20.22 100.40 3 904.43 4 000.20 47.93 55.40 9.

Pada saluran tataniaga 3.07 paling besar berasal dari pedagang pengumpul Rp 356. Biaya tataniaga paling kecil dikeluarkan oleh pedagang pengumpul sebesar Rp 48. hal ini dikarenakan biaya tataniaga yang dikeluarkan sangat besar yaitu Rp 72 yang terdiri dari biaya transportasi sebesar Rp 40.40 per kilogram. pemasaran kedelai sampai ke konsumen akhir melalui pedagang pengecer. biaya pengemasan Rp 5 dan penyusutan Rp 7 per kilogram.40 paling besar berasal dari pedagang . pedagang pengecer Rp 435 dan pedagang kabupaten Rp 428 per kilogram. tenaga kerja bongkar muat sebesar Rp 10. Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk tujuan pengrajin tahu/tempe yaitu biaya transportasi Rp 30. Total marjin yang diperoleh sebesar Rp 3 404.74 Saluran tataniaga 2 sama dengan saluran tataniaga 1. Total marjin tataniaga saluran 2 sebesar Rp 1 004 sama dengan saluran 1. Total keuntungan tataniaga sebesar Rp 1 219. Total keuntungan Rp 899.40.40 dengan sebaran marjin di pedagang kabupaten dan pedagang pengecer yaitu masing-masing Rp 500 per kilogram dan pedagang pengumpul Rp 404. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 1 404.07 paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 543 dan pedagang pengecer sebesar Rp 365.33 dan pedagang pengecer sebesar Rp 65 per kilogram. paling banyak berasal dari pedagang kabupaten sebesar Rp 600 dan pedagang pengecer Rp 404. Saluran tataniaga 4 merupakan saluran dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung melalui pedagang besar propinsi.07 per kilogram.07. penyusutan Rp 7 dan biaya tenaga kerja Rp 25 per kilogram. hanya pada saluran 2 dari pedagang pengumpul kedelai dibawa ke pedagang kabupaten. Pedagang kabupaten memperoleh keuntungan sedikit.

Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang propinsi sebesar Rp 165 per kilogram dan biaya tataniaga terendah pada pedagang pengecer.67.33 sampai Rp 118.40 paling besar keuntungan yang diperoleh pedagang propinsi sebesar Rp 1 388 per kilogram. Total keuntungan saluran tataniaga in sebesar Rp 863 dengan pembagian keuntungan pada pedagang kabupaten sebesar Rp 426 dan pedagang pengecer sebesar Rp 435 per kilogram. Total marjin tataniaga yang diperoleh dari lembaga tataniaga sebesar Rp 4 904. Keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 356.07 sampai Rp 1 381. penyusutan Rp 7.33 per kilogram. Pada saluran tataniaga 5 merupakan saluran yang sama dengan saluran 4 hanya tujuan tataniaga kedelai adalah konsumen akhir di daerah Bandung. hanya pada penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul. tenaga kerja bongkar muat Rp 20 dan pengemasan Rp 5 per kilogram. Total keuntungan sebesar Rp 3 125.75 kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing Rp 1 500 per kilogram. Saluran tataniaga 6 (Tabel 20) merupakan saluran yang tujuannya sama dengan saluran tataniaga 3.67 per kilogram. biaya tersebut terdiri dari biaya transportasi Rp 86. Biaya tataniaga yang dikeluarkan berkisar antara Rp 48. Total marjin tataniaga Rp 1 000 dengan pembagian yang merata pada pedagang kabupaten dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 perkilogram (Tabel 19). Biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh pedagang kabupaten merupakan biaya terbesar yaitu Rp 72 . Marjin terbesar berasal dari pedagang kecamatan dan pedagang propinsi masing-masing sebesar Rp 1 500 dan Rp 1 400 per kilogram. Biaya tataniaga terbesar dikeluarkan oleh pedagang kecamatan.40 per kilogram.

00 32.00 75. Tujuh dan Delapan di Kecamatan Ciranjang Uraian 1.00 77.60 9.50 1 395.00 4 500.00 70.25 3 500.00 3.00 19.85 Saluran 8 Harga % (Rp/kg) 2 301.43 4 000.00 104.08 76.41 17.92 3 500.15 14.00 500.71 1.00 94.11 100.00 72.00 93.08 53.50 1 405.00 100.47 23.48 1.43 71.32 1.67 2.00 6 400.18 1 000.25 3 500.00 65.00 428.76 dengan alokasi terbesar untuk biaya transporatsi Rp 40.00 4 500.50 1 500.00 66. Tabel 20 Marjin Tataniaga Kedelai Saluran Enam.85 Saluran tataniaga 7 merupakan saluran yang sama dengan saluran 6 hanya tujuan penyaluran kedelai adalah pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung. Pengrajin Tahu/Tempe Harga beli 6.86 3 074.67 11.78 100.12 50.61 21.04 7.10 6.50 1 500.22 6.00 154.00 137.00 326.50 1 405.43 53.00 199.00 51. Konsumen akhir Harga beli Total Biaya Tataniaga Total Keuntungan Total Marjin /C Farmer's Share Saluran 6 Harga % (Rp/kg) 2 301.30 77.33 1. Pedagang Kabupaten Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 3.14 100.09 3 000.00 35.00 46.00 500.00 6 500.00 90.08 100.00 7 000.00 435.57 9.44 9.00 6 500.11 88.43 50.00 4.00 6 500.00 3 500.41 18.50 1 400. Pedagang Pengecer Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 5.75 1 198.00 7 000.06 2 801.00 1.50 1 500.15 16.00 5 000. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar Rp 3 000 dengan pembagian yang merata .00 4 000.35 20. Petani Biaya Produksi Keuntungan Harga jual 2.62 23. Pedagang Propinsi Harga beli Biaya tataniaga Keuntungan Total Marjin Harga jual 4.91 3 400.4. tenaga kerja Rp 25 dan penyusutan sebesar Rp 7 per kilogram.42 1.75 1 198.89 3 500.00 .79 20.45 21.25 3 500.00 500.00 50.75 1 198.43 5 000.50 1 245.00 43.88 17.00 5 000.00 22.78 Saluran 7 Harga % (Rp/kg) 2 301.04 863.00 48.00 43.00 53.08 21.63 77.51 11.00 5 000.00 3.00 423.00 91.00 100.

Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang kabupaten sebesar Rp 1 405.5 sampai Rp 104. Total marjin tataniaga yang diperoleh Rp 3 400 dengan alokasi terbesar pada pedagang kabupaten sebesar Rp 1 500. Pangsa Marjin Berdasarkan sebaran marjin tataniaga kedelapan saluran tataniaga di atas.77 pada pedagang propinsi dan pedagang kabupaten masing-masing sebesar Rp 1 500 per kilogram. Total biaya tataniaga sebesar Rp 326 per kilogram dengan biaya terbesar pada pedagang propinsi.5 pada pedagang kabupaten. Pangsa marjin digunakan untuk melihat besarnya marjin yang diperoleh pelaku pasar untuk setiap saluran tataniaga. pedagang propinsi sebesar Rp 1 400 dan pedagang pengecer sebesar Rp 500 per kilogram.5 dan pedagang propinsi sebesar Rp 1 395. pangsa marjin diperoleh dari marjin tataniaga masing-masing lembaga dibagi total marjin tataniaga dalam bentuk persen.5 dan pedagang pengecer sebesar Rp 423 per kilogram. maka dapat dilihat persentase pangsa marjin (Tabel 21) dan persentase net marjin (Tabel 22) yang diperoleh setiap pelaku pasar untuk masing-masing saluran tataniaga.2 Pangsa Marjin dan Net Marjin a.5 per kilogram. Secara keseluruhan marjin tataniaga di setiap saluran tataniaga di kabupaten Cianjur cenderung tinggi.5 per kilogram dengan alokasi terbesar untuk biaya transportasi dan penyusutan. Biaya tataniaga berkisar antara Rp 94. Saluran tataniaga 8 merupakan saluran yang tujuan pemasaran kedelai sama dengan saluran tataniaga 5.4. Keuntungan terbesar sebesar Rp 1 405. Net marjin digunakan untuk mengetahui penyebaran marjin keuntungan . pada pedagang propinsi Rp 1 245. hanya penyaluran dari petani tidak melalui pedagang pengumpul. 6.

00 100.00 100.00 100.00 Saluran tataniaga lima merupakan saluran terpanjang dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas yaitu melibatkan empat pelaku pasar. net marjin dihitung dari keuntungan tiap lembaga tataniaga dibagi total keuntungan tataniaga dalam bentuk persen.60 15.26 40. Pada saluran tataniaga satu dan dua terdapat dua pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul dan pedagang kecamatan/kabupaten.26 28.86 50.79 11.12 44. Tabel 21 Persentase Pangsa Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 40. Saluran tataniaga yang efisien ditunjukkan oleh perolehan marjin yang merata di setiap pelaku pasar. pedagang kecamatan sebesar 38.00 100.00 44. Sebaran pangsa marjin pada saluran ini cenderung belum merata yaitu pedagang pengumpul sebesar 10.74 44.00 14.00 100.745 persen.00 100.74 35.71 Total Pangsa Marjin 100.88 10.18 Pedagang Pengecer 35. .36 persen.78 pada setiap pelaku pasar.42 59.60 50.37 50.36 Pangsa Marjin (%) Pedagang Pedagang Pedagang Kecamatan Kabupaten Propinsi 59.42 persen.08 35.00 41. Pada saluran tataniaga ini merupakan pangsa marjin terbesar dari kedelapan saluran tataniaga yang dibahas dan diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten.00 100.00 50. Tabel 21 menginformasikan pangsa marjin terbesar terdapat pada saluran tataniaga satu dan saluran tataniaga dua dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di Kabupaten Cianjur yang diperoleh pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten yaitu masing-masing sebesar 59.06 38.

Tinggi marjin pada setiap pelaku tataniaga karena tingginya biaya tataniaga yang dikeluarkan.00 100. net marjin terendah diperoleh pedagang pengumpul sebesar 10.76 44. Pelaku pasar yang telibat pada saluran tataniaga enam adalah pedagang kabupaten dan pedagang pengecer dengan tujuan tataniaga kedelai konsumen di Kabupaten Cianjur.39 10.59 50.41 13.37 persen. Saluran tataniaga tujuh melibatkan pedagang kabupaten dan pedagang propinsi dengan tujuan pengrajin tahu/tempe di daerah Bandung. enam dan tujuh cenderung sudah merata.00 100.11 49.72 Pedagang Propinsi 44.00 100.41 35.82 40.33 49.00 100. Sebaran net marjin pada saluran tiga.18 45. Net Marjin Tabel 22 menginformasikan sebaran net marjin pada saluran tataniaga satu dan dua cenderung belum merata. terlihat dari pedagang pengumpul memperoleh 39.24 persen dan pedagang kecamatan 60.00 100.60 29.00 100.29 Pedagang Kabupaten 60.79 pedagang propinsi sebesar 35.76 persen pada saluran satu.19 43. Tabel 22 Persentase Net Marjin Setiap Pelaku Tataniaga Net Marjin (%) Saluran 1 2 3 4 5 6 7 8 Pedagang Pengumpul 39.19 Pedagang Kecamatan 60. Saluran tataniaga lima yang merupakan saluran terpanjang.00 100. b.68 14.76 Total Pangsa Marjin 100. dan tertinggi pedagang kecamatan dan pedagang propinsi sebesar 43.24 39.21 11.39 35.19 persen.96 50. Saluran tataniaga enam dan tujuh merupakan saluran tataniaga tanpa melalui pedagang pengumpul.00 .86 persen dan pedagang pengumpul sebesar 15..52 Pedagang Pengecer 35. dan melibatkan dua pelaku pasar dengan penyebaran pangsa marjin yang sudah merata yaitu masing-masing sebesar 50 persen.29 persen.

40 55.00 5.37 85.40 52.93 863.43 100.00 C 100.93 1 219. pelaku pasar yang memperoleh pangsa marjin dan net marjin yang nilainya cenderung merata adalah pedagang kecamatan.00 4.A = Share Petani.92 71.40 24.12 279.33 4.00 76.89 100.33 2.4.00 88.78 53.09 3 125.00 91.40 48.43 100.40 24. pedagang kabupaten dan pedagang propinsi.15 3 400.22 77.00 46.29 409.18 2 801.78 1 000.00 19. Pengumpul. Tabel 23 Total Marjin.00 100.00 3.00 2.50 68.85 50.00 22.09 3 074.43 88. Total Biaya.40 31.00 100. 6.50 1 004.07 21.07 27.00 4.85 50.62 44. Farmer s Share berhubungan negatif dengan marjin tataniaga. artinya semakin tinggi marjin tataniaga maka bagian yang akan diterima petani semakin rendah.00 43.84 137.57 185.50 75.00 43.43 100.3 Farmer s Share Farmer s Share digunakan untuk membandingkan harga yang dibayarkan konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase.37 77.79 47.57 Total Biaya 97.00 D E F Ket: . Tahun 2008 Saluran 1 Rp 2 3 4 5 6 7 8 % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Total Marjin 1 004.22 3 000.50 1 404.40 22.06 326. Berbeda dengan pedagang pengumpul dan pengecer.21 3 404.80 Pada setiap saluran tataniaga.89 72.00 91.00 B 85. perolehan net marjin berbeda-beda tergantung kepada siapa mereka menjual kedelainya.92 71.04 199.37 105.38 3 904. maka dapat diketahui tingkat Farmer s Share yang diterima petani (Tabel 23). Total Keuntungan dan Share pada Setiap Lembaga tataniaga di Kecamatan Ciranjang. Kecamatan .08 3 495.00 48. Hal ini karena tujuan pemasaran dari ketiga pedagang tersebut sudah ada.Persentase share pelaku pasar berdasarkan harga jual di tingkat pelaku pasar dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen .3 899.86 Total Keuntungan 907.91 A 75.40 49. C = Share P. B = Share P.00 3. Berdasarkan kedelapan saluran tataniaga yang dibahas.78 53.

Farmer s share terbesar terjadi pada saluran tataniaga enam yaitu sebesar 77.78 persen. .78 persen.D = Share P.4 Rasio Keuntungan dan Biaya Tingkat efisiensi tataniaga dapat juga diukur melalui besarnya rasio keuntungan terhadap biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga.87. Rasio keuntungan dan biaya tataniaga paling tinggi terdapat pada saluran tataniaga tujuh dan delapan pada lembaga pedagang kabupaten yaitu sebesar 14. Bagian terkecil terjadi pada saluran tataniaga lima yang merupakan saluran tataniaga terpanjang dalam tataniaga kedelai dari Kecamatan Ciranjang ke konsumen akhir.22 sampai 77.81 . Hal ini menunjukkan posisi tawar petani masih lemah dibanding dengan pelaku tataniaga lainnya. F = Share P. Kabupaten.87 per kilogram. E = Share P. Propinsi. Dilihat dari nilai Farmer s share yang diperoleh pada setiap saluran tataniaga dapat diketahui bahwa saluran tataniaga yang efisien adalah saluran tataniaga enam karena dilihat dari total marjin tataniaga yang dikeluarkan rendah. nilai yang tinggi artinya keuntungan yang diperoleh semakin tinggi . Rasio keuntungan terendah terdapat pada saluran tataniaga tiga pada tingkat pedagang pengecer yaitu sebesar 5. 6.4. Nilai rasio ini memberikan arti bahwa setiap satu rupiah perkilogram biaya tataniaga yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 14. Pengecer Nilai Farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada berkisar antara 44. Berdasarkan Tabel 23 diketahui nilai farmer s share dari seluruh tataniaga yang ada terlihat masih rendah dibanding dengan bagian yang diterima pelaku tataniaga. Nilai rasio dapat dilihat pada Tabel 24.49.

48 523.69 1 388.3 (21.74) 7.50 (1.00 (6.67) 65.3 (19.69 1 395.5 Alternatif Saluran Tataniaga Berdasarkan perhitungan marjin tataniaga kedelai.00 (17.33 (1.00 (9.53 428.60) 5.47) 104.07 (7. Tahun 2008 Lembaga Tataniaga Saluran Tataniaga 1 2 356.07) 7.33 (0.36 4 356.44) 6.07 (5.22 persen) dengan volume barang 26.72) 12.50 (21.35) 112.69) 7.33 (1.68) Biaya (Rp) 48.07 (8.51) 72 (1.00 (1.36 1 381.4.09) 48.64 428.36 1 381.36 3 356.67 (1.67 (1.00 (1.00 (2.50 (2.61) 13. saluran tataniaga enam merupakan saluran tataniaga yang efisien karena memiliki total marjin tataniaga yang paling kecil yaitu sebesar Rp 1 000 per kilogram (22.00 (9.00 (21.33 Pedagang Kabupaten Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 7.33 (13.00 (1.00 (1.94 1 405.50 (1. Selain itu saluran tataniaga ini juga memiliki .18) Rasio /C Pedagang Kecamatan Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) 551.79) 154.87 1 405.00 (9.45) 14.10) 5.25) 118.06 423.07 (Rp) (8.64) 165.73) 118.10) 6.00 (1.50 (17.64 543.04) 77.08) 94.67 (1.67 persen.26) 94.24) 57.44) 6.35) 14.00 (7.36 6.36) 7.00 (1.33 (1.50 (1.70) 11.33 (0.07 (5.41) 8.50 (20.83) 11.48) 48.82 Tabel 24 Rasio Keuntungan dan Biaya Lembaga Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang.00 (1.19) Rasio /C 11.00 (9.18) 7.94 5 356.79 435.50 (21.60) 5.393 1 235.39) Rasio /C Pedagang Propinsi Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C Pedagang Pengecer Keuntungan (Rp) Biaya (Rp) Rasio /C 435.67) 65.00 (13.87 6 7 8 Pedagang Pengumpul Keuntungan 356.68) 48.91) 48.49 9.47) 77.35 1 245.51) 72.45) 48.

Rasio keuntungan dan biaya pada saluran tataniaga satu dan dua lebih tinggi dibandingkan dengan saluran tataniaga enam yaitu masingmasing sebesar Rp 9.50 persen dan farmer s share sebesar 75. Saluran tataniaga satu dan dua akan efisien jika petani berlokasi jauh dari pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten karena tidak mengeluarkan biaya angkut.54 per kilogram dengan volume kedelai 73.50 persen. Total marjin tataniaga yang diperoleh sebesar 24.35 dan Rp 8. Alternatif saluran tataniaga yang juga dianggap efisien adalah saluran tataniaga satu dan dua. Rasio keuntungan dan biaya yang diperoleh saluran tataniaga enam adalah Rp 6.83 farmer s share yang paling tinggi sebesar 77.33 persen. .78 persen.30 per kilogram.

84 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Biaya usahatani kedelai paling besar dialokasikan untuk benih dan pupuk. fungsi fisik dan fungsi fasilitas.37 ton per hektar. Produktivitas kedelai di kecamatan Ciranjang 1. Posisi tawar yang miliki petani masih rendah dibanding pelaku tataniaga.1 Kesimpulan 1. Proses tataniaga kedelai dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan beberapa pelaku pasar yaitu pedagang pengumpul. Di Kecamatan Ciranjang kegiatan budidaya kedelai masih belum dilakukan dengan intensif 2.28 artinya setiap masukan untuk usahatani kedelai memberikan penerimaan sebesar Rp 1. Saluran tataniaga yang terbentuk ada delapan saluran tataniaga kedelai dengan setiap pelaku pasar melakukan fungsi tataniaga seperti fungsi pertukaran. 3. pedagang kecamatan. sehingga keuntungan lebih besar pada level pelaku pasar yang lebih tinggi. Usahatani kedelai di Kecamatan Ciranjang pada saat kebijakan tarif impor ditiadakan secara ekonomis masih menunjukkan kelayakan untuk dikembangkan karena memberikan nilai R/C rasio sebesar 1. pedagang kabupaten.28. Penentuan harga di tingkat petani dan pedagang pengumpul ditentukan oleh pedagang besar. Petani hanya melakukan fungsi pertukaran dan fungsi fisik. sedangkan di tingkat pedagang kecamatan dan pedagang kabupaten harga ditentukan oleh pedagang besar propinsi. Sistem pembayaran . pedagang propinsi dan pedagang pengecer.

2. Petani dalam melakukan budidaya kedelai sebaiknya membuat perencanaan penanaman sehingga musim tanam berikutnya tidak terganggu dan panen polong muda dapat dihindari. saluran tataniaga ini juga memperlihatkan pangsa marjin dan net marjin yang cenderung sudah merata di setiap tingkat lembaga tataniaga. 7. . Hal ini terlihat dari perolehan total marjin yang paling rendah yaitu Rp 1 000. Selain itu.67 persen.2 Saran 1. Kerjasama antara pelaku pasar umumnya dalam bentuk pinjaman modal. Saluran tataniaga kedelai yang memberikan keuntungan adalah saluran tataniaga enam dengan volume 26.78 persen dan B/C ratio sebesar 6. agar pendapatan petani dapat meningkat yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.85 yang terjadi umumnya nota dan tunai. Pengusahaan budidaya kedelai yang belum dilakukan dengan intensif oleh petani sehingga hasil yang diperoleh masih rendah memerlukan pembinaan lebih lanjut oleh petugas penyuluh pertanian. 4. farmer s share paling tinggi sebesar 77. Petani dalam memasarkan hasilnya sebaiknya berkelompok sehingga dapat dijual langsung ke pedagang kabupaten dengan harga yang lebih tinggi dan biaya transportasi dapat ditanggung bersama.30.

Teori dan Kasus). Erlangga. Suatu Pendekatan Strategis dengan Orientasi Global. Puspodewi. Ed 2. Pengantar Tataniaga Pertanian. Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kedelai dengan Kebijakan Tarif Optimal. Inc. Penguatan dan Pemberdayaan Kelembagaan Petani Mendukung Pengembangan Agribisnis Kedelai. Larreche J C. R. 2007. 2007. Skripsi. Ed 11. Pengantar Mikroekonomi Jilid 2. Dahl C D and Hammond J W. Fakultas Pertanian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. A R. The Agricultural Industries. Departemen Pertanian. 2000. Fakultas Pertanian. 1983. Jakarta. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Ekonomi Pertanian ( Pengantar. Penebar Swadaya. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.86 DAFTAR PUSTAKA Azzaino. H. Institut Pertanian Bogor. 1977. Pemerintah Kabupaten Cianjur. Bogor. 1982. Tataniaga Hasil Perikanan. Jalur Pemasaran Kedelai di Daerah Transmigrasi. Jawa Tengah. Laporan Tahunan 2001-2006. Manajemen Pemasaran. Prentice Hall. Boyd. Bogor. S dan R Kustiari. Jakarta Barat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Market and Price Analysis. 2007. Hanafiah dan Saefuddin. Rachman. Nuryanti. 2007. Z. 1997. Nurmanaf. A M. 2004. Rohim. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. et al. Universitas Indonesia. Jakarta. Bogor. et al. FAE Vol 5. IPB Press. Binapura Aksara. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. . New Jersey. H W. D. Hal 45-53. 1987. Bogor. A dan Diah R. 2005. Walker O C. McGraw-Hill Book Company. R. Analisis Keunggulan Kompetitif dan Komparatif serta Dampak Kebijakan Pemerintah Pada Pengusahaan Kedelai di Kabupaten Boyolali. Elizabeth. Jakarta. Kedelai dalam Kebijaksanaan Pangan Nasional dalam Ekonomi Kedelai. Institut Pertanian Bogor. P. Lipsey. 1996. Inc. Jambi. Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur. Manajemen Pemasaran. Kotler.

. Institut Pertanian Bogor. Kanisius. et al . D M. Yogyakarta. Budidaya dan Pascapanen. 2006. Hal 67-77. Saptana. FAE Vol 10 dan 11. Aspek Produksi dan Pemasaran Kedelai di Jawa Tengah (studi kasus di Kabupaten Wonogiri). Surifanni. 2004. 1993. 1995. UI Press. Aspek Produksi dan Tataniaga Kedelai di Jawa Timur. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Kedelai. Hal 8-18. 1992. Jakarta. Pusat Analisis Sosial Ekonomi Pertanian. Rusastra. Soekartawi.87 Rukmana. Skripsi. Analisis Usahatani. Permintaan Impor Kedelai Indonesia dari Amerika Serikat dan Aliran Impor Kedelai ke Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Fakultas Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. R dan Yuyun Y.

.

JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PETANI KEDELAI Nama Petani : _______________________________ Desa : _______________________________ Kecamatan : _______________________________ Kabupaten/Kota : CIANJUR .90 ANALISIS USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN CIANJUR.

91 I. Sarana Transportasi . Jumlah anggota keluarga (di luar KK) : _________ Orang f.Hand sprayer .Sepeda .Kendaraan roda 4 . KARAKTERISTIK PETANI 1. Ternak . transportasi dan ternak Jenis asset yang dimiliki 1. GADAI 5. SEWA 4. Pekerjaan utama : __________________________ d.MILIK 2. Alat Pertanian .Perontok kedelai .2.Pompa Air .1._________________ 3. Pekerjaan sampingan : __________________________ e. Identitas Kepala Keluarga a.Kambing/domba . Penguasaan Aset Pertanian a.1) b._________________ 2.Sapi/kerbau . SAKAP 3.Lantai Penjemuran . Umur : ________ tahun b. Penguasaan alat pertanian._________________ Ket : 1) Status kepemilikan Jumlah (unit) Kapasitas pakai Ket. Pendidikan : ________ tahun c.Sepeda motor . Anggota keluarga yang membantu usahatani : _________ Orang 1.LAINNYA TOTAL . Penguasaan aset lahan Luas (ha) Status Penguasaan Sawah Tegal Kebun Pekarangan Kolam Lainnya Total (ha) 1.

___________________ .___________________ 3. MASUKAN DAN PENGELUARAN USAHATANI KEDELAI 2.TSP/SP-36 .2._________________ . Luas persil yang dianalisis : _______ ha Pilih persil yang ditanam kedele 2. 2. Jumlah tenaga kerja .UREA . Jarak tanam kedele: : ________________________ Masukan usahatani kedelai Jenis Sarana Produksi Jumlah (Kg/Lt) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 1. Pestisida .3. Jenis Varietas kedele : ________________________ 2.1.Manusia 2.NPK .___________________ 4. Masukan tenaga kerja usahatani kedelai Jenis Kegiatan 1. Pengolahan tanah a.ZA . dll. rodentisida. Jumlah tenaga kerja -Tenaga Ternak .92 II.Pupuk Kandang . Cara/frekuensi b.5. Lainnya . Penanaman a.Manusia Keluarga Nilai HOK (rp) Luar keluarga Nilai Borongan (rp) (rp) HOK -P -W -P -W . Benih/Bibit 1) 2. Pupuk . Cara tanam b.KCL . Pola tanam per tahun : ________________________ 2._________________ 1) Termasuk insektisida.4. fungisida.

Pengendalian HPT a. Cara/frekuensi b.Manusia Ket : 1) Keluarga Nilai HOK (Rp) HOK Luar keluarga Nilai Borongan (Rp) (Rp) -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W -P -W Pupuk kandang dan pupuk buatan 2. Pemupukan1) a. Cara/frekuensi b.Manusia 4. (Masukan tenaga kerja usahatani kedelai) Jenis Kegiatan 3.Manusia 5. Panen/angkut a. Jumlah tenaga kerja . Cara/frekuensi b. Jumlah tenaga kerja . Jumlah tenaga kerja . Pengeringan a.Manusia 3. Penyiangan/dangir a. Jumlah tenaga kerja . Cara/frekuensi b. Iuran kelompok tani 3. Cara/frekuensi b. Cara/frekuensi b.93 Lanjutan Tabel 2. Biaya lain-lain untuk usahatani kedelai (Rp/musim) Uraian 1.5. Jumlah tenaga kerja . Lainnya: _________________ Nilai (Rp) . Cara/frekuensi b. Perontokan a. Jumlah tenaga kerja .Manusia 7.Manusia 8. Pajak lahan yang dianalisis 6. Sewa pompa 2. Jumlah tenaga kerja . Pengairan a.Manusia 6.6. Iuran desa 4.

ZA .UREA .1.TSP/SP-36 .3. Lainnya: _______________ _______________ Sumber1) Cara2) mendapatkan Harga (Rp/satuan) Bunga (%/th) Volume (Kg/Ikat) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Ket : 1) Sumber: 1.KCL . 2. Pedagang hasil. Yarnen. 3.7. 2.2. Pengadaan sarana produksi: ___________________________________________________________________ b. 4. 5. 4. Sebutkan jenis-jenis sarana produksi (Benih.94 2. Pupuk . Lainnya: _________ 3. INFORMASI USAHATANI KEDELAI Sumber dan cara perolehan sarana produksi Jenis Sarana produksi 1. Total produksi dan nilai produksi Bentuk produksi a. pupuk dan pestisida) yang dibutuhkan tetapi sulit diperoleh:: ___________________________________________________________________ _____________________________________________________ 3.NPK . Kios saprotan. OCE kering b. 3. Pestisida ______________ ______________ 4. Bayar tunai. Benih 2. Iklim (kekeringan) . 3. Sendiri. Lainnya Total III.Lainnya: ________ 2) Cara perolehan: 1. Kredit/pinjam.Pupuk Kandang 3. Petani lain. Sebutkan permasalahan utama yang dihadapi bapak dalam usahatani kedelai dari aspek: a. Polong basah c.

Gangguan HPT (Hama Penyakit Tanbaman) ___________________________________________________________________ d. Pemasaran (harga jual) ___________________________________________________________________ e. Lainnya: ___________________________________________________________________ .95 ___________________________________________________________________ c.

Di tempat pembeli. 2=supplier. Bayar dimuka. 3=pedagang pasar induk/tradisional.Lainnya 7. 3. Retribusi 5. Lainya: __________ . Lainnya: _________ 4) Cara pembayaran: 1.1. 3 =Di tempat pembeli.dsb. TK. Biaya angkutan 3. TK Bongkar-muat 6.Lainnya: ____________ 2) Lokasi : 1 =Di kebun. 4. Volume dan nilai penjualan (rataan satu bulan) Uraian 1. 2 =Di tempat penjual. 2. Penjualan: a. 4 =Lainnya: __________ 3) Cara transaksi: 1. OCE kering d. Karung. 6. Lainnya Total (a+b+c+d): 2.Bayar kemudian. 4. 5=Pedagang pengecer. PEMASARAN KEDELAI 4.Bayar tunai. 1) Satuan Jenis pembeli 1) Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi2) transaksi Cara 3) transaksi Cara4) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Ket : Jenis pembeli: 1=pedagang besar.wadah.96 IV.Barang diterima di tempat penjual. 2. 3.

97 V. Petani lain 2. jelaskan cara kerja sama tersebut: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ . INFORMASI PEMASARAN 5. dari mana sumber informasi tersebut: 1. petani dapat memilih kemana saja sesuai keinginan: 1. Apa kendala petani untuk dapat akses kepada pelaku pemasaran tertentu: a. Pedagang 3. Ya 2.Ya 2. Ya 2. Tidak Bila ya. Apakah ada kerjasama antara petani dengan pihak lain termasuk pedagang dalam hal pemasaran hasil : 1. Bagaimana upaya Bapak agar selalu memperoleh harga jual yang menguntungkan? _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. Kelompok tani 4. Lainnya: ________ 5. Tidak Jika ya.2. Apakah dalam penjualan hasil.3.Tidak Jelaskan: _________________________________________________________________________ _______________________________________________ 5. eksportir) ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Menjual langsung Supermarket: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ d Menjual ke pasar pengecer: _________________________________________________________________ _____________________________________________________ 5. apakah Bapak memperoleh informasi harga? 1. Menjual ke Pedagang Besar: ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ b.4.5.1. Sebelum melakukan penjualan hasil. Menjual ke Supplier (Supermarket.

Pegadaian . Apakah bapak melakukan pinjaman untuk kebutuhan modal usahatani: 1.Kredit Program 2. Kredit Informal .Pelepas uang .Tidak Bila ya. isikan: Sumber modal/ Musim Tanam 1.Famili Jumlah (Rp) Bunga (%/th) Lama pinjaman (bln) Total pengembalian (Rp) . Kredit Formal . 2.Pedagang hasil .Bank .98 5.Kios saprotan . Ya.6.

Lainnya: ________________________ Nama Pedagang Bentuk Usaha Desa/Lokasi Kecamatan Kabupaten/Kota : _______________________ : _______________________ : _______________________ : _______________________ : CIANJUR – JAWA BARAT PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAGEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 . Supplier 5. Pedagang Pengecer 6. KABUPATEN CIANJUR. Pedagang Pengumpul Luar Desa 3.99 ANALISIS TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG. Pedagang Besar 4. Pedagang Pengumpul Desa 2. JAWA BARAT DAFTAR PERTANYAAN: PEDAGANG KEDELAI Jenis Pedagang Pilih yang tepat 1.

Kendaraan barang 8. Mulai kegiatan dagang : Tahun __________ 1.5. Alat timbang 5. Pendidikan : _________ Tahun : _________ Tahun 1.100 I. Umur responden 1. IDENTITAS PEDAGANG 1.3.2. Fasilitas yang dimiliki pedagang: Jenis Fasilitas 1. Sepeda motor __________________ __________________ __________________ __________________ Jumlah (unit) Total Total Nilai (Rp) .4 Jenis produk lain yang diperdagangkan selain kedelai: _________________________________________________________________ 1. Kendaraan roda dua 6.1. Kendaraan roda empat 7. Gudang simpan 2.

Lainnya: __________ 2) Termasuk pungutan/retribusi di jalan/di tempat penjualan 2. Besar Kab/Prop Pasar Induk Lainnya a. Karung/wadah. Bantuan modal _______ ____________________ b. OCE kering . Hadiah _______ ____________________ c.Harga (Rp/ku) . Biaya angkut (Rp)2) 4.Volume (Ku) . Ada kakitangan di lapangan _______ ____________________ e.Volume (Ku) .Di tempat pembeli.Nilai (Rp) 2. Pengemasan (Rp) 8. Biaya lain (Rp) Total biaya (3 s/d9): Ket : 1) Isikan: 1 = Di temapat penjual. dsb. Bagaimana usaha responden untuk membina kelangsungan hubungan kerja dengan petani pemasok bahan baku: Jenis pembinaan Ya/Tidak Penjelasan a.Nilai (Rp) b. 2. TK bongkar-muat (Rp) 6.Volume (Ku) .Harga (Rp/ku) .Nilai (Rp) Total Pembelian (a s/d d): . Lainnya .(Rp) 5. Retribusi&lainnya (Rp) 9. 3. TK lainnya (Rp) 7. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok pedagang (rataan per tahun) Sumber/pemasok komoditas Pembelian bahan baku Pengumpul Desa Pengumpul luar desa. Kelancaran pembayaran _______ ____________________ d. Pdg. Lainnya: _____________ _______ ____________________ .3.101 2.4.Harga (Rp/ku) . Tempat penerimaan barang 1) 3.

wadah. Lainya: _________ 3) Cara pembayaran: 1. 2 = di rumah petani. 2. 4.Lainnya 7.dsb. Pedagang = _______ %. TK Bongkar-muat 5. TK. 2. 2. Bayar dimuka.Barang diterima di tempat penjual. 4. Lainya: __________ . Lainnya = _______ %. Biaya angkutan 3. Retribusi 5. 4 = di rumah pedagang 2) Cara transaksi: 1. Volume dan sumber perolehan bahan baku rataan per bulan a. Karung. 3.Total perolehan: ________ Ku/tahun b. Bentuk OCE b. ASPEK PENGADAAN/PEMBELIAN BAHAN BAKU KOMODITI KEDELAI 2. Di tempat pembeli. 1) Satuan Volume Rataan harga (Rp/sat) Nilai (Rp) Lokasi1) transaksi Cara 2) transaksi Cara3) Bayar Ku Ku Ku Rp Rp Rp Rp Rp Rp xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx _____________ Total (2 s/d 7): Rp xxx xxx xxx Lokasi : 1 = di kebun.Bayar kemudian. Sumber perolehan : Sendiri = _______ %. Pembelian: a. Petani: _______ %. 3 = di jalan.102 II.2. Lainnya Total (a+b+c+d): 2.Bayar tunai.1. Untuk bahan baku yang dibeli dari pemasok petani (rataan per bulan) Uraian 1. 3.

Labeling. 3.103 III. Grading. Biaya penanganan hasil Jenis kegiatan 1. Paking. Wadah/Paking xxx xxx c. 4. Tenaga Kerja xxx xxx b. BIAYA PENANGANAN HASIL SAMPAI SIAP JUAL 3. 5. Produk Pembelian 1) Kelas OCE Lainnya Volume (Ku) Harga (Rp/sat) Nilai (Rp) 2. Jenis penanganan hasil 3) xxx xxx 4. Hasil penanganan (siap jual) 2) OCE Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 3. Biaya penanganan hasil (Rp): xxx xxx a.Sortasi. Lainnya: _______ .1. 2. Penyusutan xxx xxx _________________ xxx xxx _________________ xxx xxx Total (4): xxx xxx Ket : 1) Sesuai volume pembelian (rataan per bulan) 3) Perubahan volume karena kegitanan penanganan hasil (sesuai permintaan pasar) 3) Kegiatan pengolahan: 1.

Pengumpul desa 2. 3.Di pasar.Di rumah petani. 4. PEMASARAN KEDELAI 4. Kelompok tani/kemitraan 7. 3=Ikatan pinjaman kredit.1.Byar kemudian. 5=Harga beli paling mahal. 4.Tebasan.104 IV.Tunai.Di tempat pembeli.Lainnya_____________ 3) Cara jual: 1.Ijon. 7) Alasan memilih pembeli: 1=Hubungan kemitraan. 4. 2. 2.OCE.Di sawah. Cara pemasaran hasil Jenis Pembeli 1.Lainnya ________________ 4) Waktu jual _______ HSP = Hari setelah panen 5) Cara bayar: 1. retribusi. tenaga kerja.Lainnya____________________ Bentuk hasil 1) Volume (kw) Tempat penyerahan 2 Cara jual3) Waktu jual 4) (HSP) Cara Bayar5) Biaya penjualan6) Alasan memilih pembeli 7) . 2. 2= langganan.Panjar. 2. 4=Hubungan kekeluargaan. bongkar muat. Lainnya: _____________ Keterangan: 1) Kualitas: 1. 5.Lainnya________________ 6) Biaya penjualan: mencakup ongkos angkut. 6. 3. Pedagang besar 6.Ditimbang. karung.Basah. 3. Pengumpul luar desa 3. dsb.Lainnya: _________ 2) Tempat penyerahan barang: 1. 3.

105 V.1. PERMASALAHAN PEDAGANG 5.2. Saran Kebijakan responden agar pemasaran kedelai akan lebih baik: _____________________________________________________________ ________________________________________________________ . Angkutan/transportasi: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ 5. Kualitas hasil: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ d. Permasalahan dalam pengadaan/pembelian kedelai: a. Kontinyuitas suplai: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ c. Kecukupan jumlah: _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful