Anda di halaman 1dari 31

RESPONS IMUN INFEKSI HIV

ALERGI IMUNOLOGI ILMU PENYAKIT DALAM 1

Target utama: sel limfosit CD4 fg sentral sistem imun Penurunan jumlah CD4 Ggan hemostasis & fg sistem sel imun GK ok ggan imunitas seluler & humoral ggan sel T helper dlm aktivasi sel B

Patologi mll mekanisme: Defisinesi imun infx oportunistik Reaksi autoimun Reaksi hipersensitifitas Cenderung malignansi pd stad lanjut
2

Jalur transmisi utama:

1) Transmisi mll mukosa genital, 2) Transmisi langsung ke peredaran darah: jarum suntik 3) Transmisi vertikal dari ibu ke janin

Sel target:
Sel yg punya reseptor CD4 limfosit CD4+ (T helper) & monosit/makrofag Lainnya: megakariosit, epidermal langerhans, periferal dendritik, folikular dedritik, mukosa rectal, mukosa sal cerna, sel cerviks, mikroglia, astrosit, sel trofoblast, limfosit CD8, sel retina, epitel ginjal

PENGARUH HIV THD SISTEM IMUN Jumlah CD4 menurun fg menurun tu sistem imun seluler hampir seluruh sistem imun tubuh tdk normal

Abnormalitas imunitas seluler : CD4 mprod sitokin aktivasi makrofag & Cytotoxic T lymphocyte respon tubuh berupa Cel mediated Imunity (CMI) Natural Killer: Direct Non specifik: mbunuh sel tinf virus atau sel ganas Spesifik: mbunuh sel terbungkus ab mll mekanisme antibody dependent cell mediatied cytotoxicity (ADCC)
5

Sel Th: Jumlah & fg menurun CD4 100/uL Makrofag: Fagositosis & kemotaksis menurun Sel Tc (cytotoxic) Kemampuan hancurkan sel tinfeksi menurun tu pd lanjut Reaktivasi virus laten: herpes zoster, retinitis sitomegali Diferensiasi keganasan/malignansi Sel NK Kemampuan hancurkan antigen menurun diduga ok IL-2 berkuran & efek langsung HIV
6

Abnormalitas Imunitas Humoral CD4 berkurang sitokin menurun tidak ada pbentukan ab oleh sel plasma
Sitokin IL-2 B cell growth factors, B cell differentiation factors mrangsang limfosit B tumbuh jd sel plasma

Ab dpt meningkatkan daya fagositosis & daya bunuh makrofag, neutrofil mll opsonisasi HIV: stimulasi limfosit B poliklonal & non spesifik hipergamaglobulinemia tu IgG & IgA miss production Ig pd infeksi reaktivasi virus tdk direspon IgM; respon vaksinasi lemah oportunistik!
7

Reaksi Autoantibodi Cenderung pd fase awal infeksi sistem imun msh bgs Mekanisme: Aktivasi sel B disregulasi tjd poliklonal hipergammaglobulinema Ada molecul mimicry antara ag HIV dg prot tubuh Sindroma autoimun: Autoimun trombositopenik purpura (AITP); autoimun gastropati dg hipokhlorhidria, autoimun hemolitik anemia (AIHA) pruritic papulovesikular eruption (PPVE) Jumlah CD4 menentukan gejala klinik: Kadar 500-700: reaksi autoantibodi Kadar < 500: infeksi oportunistik & kanker oportunistik

Reaksi Hipersensitivitas pd AIDS


Umumnya berkaitan dg obat-obat insiden lbh tinggi dp infx non HIV Patogenesis diduga mll reaksi alergi imune mediated & Efek toksik (??) Tidak termasuk dlm klasifikasi Gell & Coomb Keadaan yg diduga berperan pd rx hipersentivitas: Disregulasi sistem imun Koinfeksi virus-virus lain Besar dosis & lama pengobatan Faktor lain: imunoglobulin spesifik utk obat tertentu; struktur obat & metab dlm tubuh 9

Malignansi atau tumor sekunder pd Infeksi HIV Degenerasi malignansi: diferensiasi & proliferasi sel abnormal & kerusakan genetik sel fenotif berbeda berkembang ke malignansi Peran sistem imun: Respon seluler hancurkan ag asing pd stimuli kronis thd proliferasi sel berlebihan: Proliferasi Sel B limfadenopati generalisata Mhancurkan fenotif potensi ganas
10

Pd HIV: defisiensi imun aktivasi virus laten keganasan sekunder: EBV: limfoma non Hodgkins; Human papiloma virus: ca leher rahin; Human herpes virus: sarkoma kaposis Faktor Pejamu & Virus yg mempengaruhi Infeksi HIV Respon imun spesifik thd HIV tdk dpt mkntrol atau mhambat ke arah kronik Penentu: Faktor genetik host, Mekanisme imunologis & 11 Fkt virus

Patogen penyebab infeksi oportunistik pd AIDS IO: infx ak/ adanya kesempatan utk timbul pd kondisi memungkinkan dpt ok organisme non patogen; flora normal tubuh; atau reaktivasi HIV: tubuh scr gradual penurunan imuntas ok jumlah fg CD4 menurun

Limfosit CD4 <200/ml: timbul gejala AIDS Semakin rendah CD4 semakin berat manifestasi IO; sulit diobati + Terapi anti retroviral: menekan replikasi virus CD4 stabil mcegah IO
12

13

Pola Infeksi Oportunistik di RS Ciptomangunkusumo Infeksi Oportunistik Kandidiasis (orofaring, esofagus) TBC paru Diare kronik Pneumonia bakteri Toksoplasma ensefalitis TBC ekstra paru Herpes Zoster
Pola infeksi IO di tiap negara berbeda AS: Pneumocystic carinii penumonia

% 40 37,1 27,1 16,7 12 11,8 6,3

14

Sindrom Imun Rekonstitusi dan Disfungsi Imun


Th/ anti retroviral: menekan HIV darah CD4 yg hancur berkurang meningkat kurangi resiko IO CD > 200/ml resiko IO rendah

Pemulihan sistem imum dpt timbulkan sindrom imun rekonstitusi: sindrom yg timbul ak/ tjd proses radang stlh kekebalan tubuh pulih berupa: Demam, pembengkakan kel limfe, batuk dg perburukan foto thoraks Sering pd pasien dg IO TBC atau lainnya
15

BB membaik Jumlah CD4 meningkat namun tjd IO ok inflamasi Manifestasi penyakit autoimun: Lupus, peny Graves, Perburukan hepatitis B atau C yg sdh ada atau peny infeksi lain Disfungsi imun: perbaikan klinis nyata namun CD4 tak meningkat atau lambat meningkat
Sindrom timbul 6-8 mgg th antiretroviral atau bbrp bulan Terapi diteruskan dg menambah kortikosteroid utk menekan peradangan
16

IMUNISASI DEWASA
ALERGI IMUNOLOGI ILMU PENYAKIT DALAM 1

17

IMUNISASI DEWASA
RESPON IMUN PADA VAKSINASI Respons humoral Limfosit B: mengenal & interaxi dg Ag Ag endositosis ke dlm sel interaxi dg limf T aktivasi sel B: differesiasi mjd sel plasma prod IgG, A, E)

18

Respons selular Utama limfosit T kelompok CD4+ dan CD8+ CD4+ bantu sel B mbtk ab Cell T helper (Th) CD8+ mengenal & hancurkan sel tinfeksi Cytotoxic T Lympocytes (CTLs)

19

Vaksin Tetanus Kolera H.Influenza B Pneumokok Meningokok Tifoid BCG Campak Parotitis Polio oral Polio inactivated

Jenis Toksoid Dimatikan Polisakarida Polisakarida Polisakarida Dimatikan Dilemahkan Dilemahkan Dilemahkan Dilemahkan Tidak aktif

Pemberian
IM IM/SK IM IM/SK SK Oral &IM ID/SK SK SK Oral SK

20

Vaksin Rubella Yellow fever Hepatitis B Hepatitis A Influenza Japanese B encephalitis Rabies

Jenis Dilemahkan Dilemahkan DNA rekombinan Tidak aktif Tidak aktif Tidak aktif Tidak aktif

Pemberian SC SC IM IM IM SK IM/ID

Dalam pengambangan: vaksin malaria, dengue, HIV, H.pylori, virus papilloma


21

INDIKASI VAKSINASI
Riwayat pajanan; Tetanus toksoid Resiko penularan: Influenza, Hep A, Tifoid, MMR Usila: Pneumokok, Influenza Imunokompromais: Pnuemokok, Influenza, Hep B, Hemophilus Resiko pekerjaan: hepatitis B, Rabies Rencana bepergian: Japanese B ensefalitis, Tifoid, Hepatitis A

22

VAKSINASI MASSAL Agar berdampak besar thd pemutusan rantai penularan penyakit Upaya utk meningkatkan jumah yg divaksinasi: Kepedulian petugas kesehatan Kemampuan yankes dlm menyediakan vaksin Vaksin murah & mudah dijangkau Pendanaan pemerintah atau asuransi Acara khusus: pekan peduli Imunisasi dewasa (AS) Memantau kinerja program imunisasi nasional Penelitian di bdg pelaksanaan imunisasi

1) 2) 3) 4) 5) 6) 7)

23

JADWAL IMUNISASI

24

JADWAL IMUNISASI
Tetanus Toksoid Vaskinasi lengkap (3 dosis seri DPT dg 2 dosis jarak 4 pkn; dosis III 6-12 bulan stlh ke-2) penguat setiap 10 tahun Bila blm pernah imunisasi: seri primer diikuti dosis penguat 10 tahun Macam: Toksoid; 90% efektif; IM MMR Lahir < 1957: imunitas alamiah Sesudahnya: 1 dosis vaksin MMR OD dg resiko terpapar: 2 dosis jarak minimal 4 pkn Vaksin hidup; 90-95% efektif; SC
25

Influenza Diberikan setiap tahun pada: Usia > 50th ; rumah jompo, biara, asrama; Usia muda dg peny kjtg, paru2 kronis, metabolik, disfg ginjal, Hb-pati, imunosupresi Perawat, petugas kesehatan Anjuran utk calon jemaah haji Vaksin split/subunit; 88-89% efektif; IM
Pneumokok Indikasi: Usia > 65 th Usia < 65 dg: penyakit kronik paru, diabetes, alkoholik, sirosis, HIV, leukemia, Hodgkin, multipel myeloma, keganasan, GGK, NS, imunosupresif
26

Rutin ulangan pd individu imunokompeten: > 5 thn dg: Resiko tinggi infx Pneumokok Tingkat ab cpt turun Vaksin: polisakarida; 90% efektif; IM/SC
Hepatitis A Indikasi: Resiko terpajan (penyaji mknan); Ingin imunitas Sering perjalanan/bekerja dg prevalensi hep A tinggi Homoseksual, narkoba, penyakit hati, laboran, pasien dg ggan fktr pembekuan darah Antigen virus inaktif; 94-95% efektif; IM 27 Dua dosis jarak 6-12 bln

Hepatitis B Indikasi: resiko tinggi infeksi Terpapar darah/produk; pasien hemodialisis, penerima fktr VII atau IX; Kontak sexual dg HBsAg (+) Rencana pergi ke tempat insidensi tinggi Pengguna obat injeksi, homoseksual/biseksual aktif, pasangan berganti2, post PMS; dll 3 dosis dg jadwal 0, 1, & 6 bln respon baik tak perlu booster Antigen virus aktif; 75-90% efektif; IM
28

Meningokok Wajib pd calon jemaah haji Dianjurkan: Pasien defisiensi fkt pbekuan drh, asplenia, pelancong ke daerah resiko Vaksin polisakarida tetravalen booster stlh 3 thn Polisakarida inaktif; 90% efektif; SC
Varisela Indikasi: Kontak erat pasien: petugas kesehatan, keluarga imunokompromais Guru, mahasiswa, WUS blm hamil, sering bepergian 2 dosis jarak 4-8 pekan Virus hidup dilemahkan; 86% efektif; SC

29

Demam Tifoid Anjuran: Pekerja jasa boga; wisatawan ke daerah endemis Dpt diulang tiap 3 thn Antigen virus aktif; 50-80% aktif; SC Yellow fever Wajib (WHO): wisatawan ke Afsel Booster 10 thn Virus dilemahkan; efektifitas tinggi; SC

30

Japanese Ensefalitis Anjuran: Wisatawan ke daerah endemis (Asia) Tinggal > 30 hari tu aktivitas di pedesaan Virus inaktif; efektif 91%; SC Rabies Anjuran: individu resiko tertular Dokter hewan, petugas lab, kebun binatang Wisatawan dg resiko kontak Individu tergigit binatang tersangka rabies Virus dilemahkan; 100% efektif; IM, SC

31