Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang TB (tuberkulosis) merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang organ paru (Depkes RI, 2002). Selain menyerang paru, TB dapat menyerang organ lain (ekstra pulmonal) (Dinkes Kab. Malang, 2011). Penyakit TB masih menjadi permasalahan dunia. Berdasarkan data WHO, diperkirakan telah terjadi 8,8 juta kasus baru pada tahun 2010 (berkisar antara 8,5 9,9 juta) dengan rasio 128 kasus tiap 100.000 penduduk. Diperkirakan, angka prevalensi TB paru berjumlah 12 juta kasus (berkisar antara 11 juta sampai 14 juta) (WHO, 2010). Salah satu poin yang terdapat dalam misi MDGs ( Millenium Development Goals) adalah penanggulangan HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lain termasuk TB. Salah satu tolak ukur keberhasilan program penanggulangan TB adalah angka penemuan kasus baru, atau yang disebut dengan CDR (Case Detection Rate) (PDPI, 2011).

Gambar 1. Case Detection Rate (CDR) Jawa Timur 2009 - 2011 (P2) Penyakit TB Paru di Indonesia menempati urutan ketiga penyebab kematian umum. Di Indonesia, penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program

pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi, serta sering mengakibatkan kematian (Dinkes Kab. Malang, 2011). Berdasarkan Program Penanggulangan TB Nasional, Indonesia menetapkan target CDR sebesar 70%. Namun, target tersebut masih belum bisa dicapai di seluruh cakupan daerah Indonesia. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 di Jawa Timur, prevalensi TB sebanyak 0,2% dan prevalensi di Kabupaten Malang sebesar 0,4% (RISKESDAS, 2007). Hasil penemuan penderita TB paru melalui pemeriksaan dahak tahun 2007, BTA (+) sebesar 725 penderita, diobati sebanyak 1.138 orang, dengan penderita sembuh sebanyak 510 orang (77,16%). Pada tahun 2011, temuan kasus dengan BTA (+) semakin meningkat sebesar 1.167 penderita yang terdiri dari 653 (55,96%), dengan tingkat kesembuhan 698 penderita (87,36%) (Dinkes Kab. Malang, 2011). Untuk mendukung jalannya program nasional tersebut, maka diperlukan upayaupaya khusus, untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran, dan peran serta masyarakat dengan tujuan utama pemberantasan TB. Penelitian ini didasari oleh didapatkannya data dari Puskesmas Dau mengenai pencapaian angka CDR yang sebesar 20,8%. Angka ini masih jauh dari target nasional yang sebesar 70%. Ditambah lagi, ditemukannya 2 kasus baru TB dengan BTA (+) di, dusun Rambaan, desa Landungsari pada tahun 2012. Kedua hal ini mendasari peneliti untuk melakukan penelitan ini. Sehubungan dengan masalah tersebut, penulis ingin meneliti lebih lanjut mengenai faktor yang berhubungan dengan rendahnya CDR TB dengan hasil BTA (+), diantaranya status pendidikan, perekonomian dan tingkat pengetahuan masyarakat tentang TB. Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan jumlah kasus baru TB dengan BTA (+), sehingga dapat dilakukan tindakan pengobatan yang tepat sasaran serta pencegahan yang sesuai pada lingkungan yang terkena untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas akibat TB.

1.2 Analisis Situasi

Gambar 2. Peta Desa Landungsari (Sumber: Data Kantor Desa Landungsari) Desa Landungsari merupakan desa yang secara administratif berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Secara astronomis Desa Landungsari 721'-731' Lintang Selatan dan 11010'-11140' Bujur Timur. Lokasinya lebih kurang 35 km dari ibukota kabupaten dan 2 km dengan ibukota kecamatan terdekat. Adapun batas-batas Desa Landungsari adalah sebagai berikut: Sebelah Barat Sebelah Selatan Sebelah Utara Sebelah Timur : Desa Tegalwaru dan Desa Mulyoagung, Kabupaten Malang : Kelurahan Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang : Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang : Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kota Malang

Desa Landungsari terdiri dari 3 dusun, yaitu Dusun Rambaan, Dusun Bendungan, dan Dusun Klandungan, 12 RW yang masing-masing memiliki 2 hingga 4 RT. Dusun Rambaan terdiri dari 3 RW yang masing-masing memiliki 2 hingga 3 RT. Masing-masing RT terdiri atas beberapa kepala keluarga (KK). Pada RT 01 terdapat 78 KK, RT 02 terdapat 74, dan pada RT 03 terdapat 80 KK.

Gambar 3. Peta Desa Landungsari, Dusun Rambaan (Sumber: Data Kantor Desa Landungsari) Desa Landungsari memiliki fasilitas kesehatan, berupa 1 POSKESDES (Pos Kesehatan Desa) yang dipimpin oleh seorang bidan desa, 9 POSYANDU yang masingmasing dipimpin oleh kader, dan 4 Pos LANSIA. 1.3 Perumusan Masalah 1. Bagaimana cara meningkatkan angka CDR (Case Detection Rate) pada desa Landungsari? 2. Bagaimanakah pengetahuan dan ketrampilan kader mengenai pentingnya deteksi dini pada TB Paru? 3. Bagaimanakah pengetahuan masyarakat Dusun Rambaan tentang TB Paru dan pencegahannya? 4. Bagaimana pemberdayaan warga Dusun Rambaan dalam pendeteksian kasus baru TB dengan BTA (+)? 1.4 Tujuan Kegiatan 1.4.1 Tujuan Umum Meningkatkan temuan kasus TB paru dengan BTA (+) agar tercapai target sebanyak 70% sampai dengan akhir tahun 2012. 1.4.2 Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang TB paru. 4

1.5

Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini TB. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam menanggulangi TB.

Manfaat Kegiatan 1. Memberikan wawasan tentang Tuberkulosis kepada masyarakat. 2. Meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat Desa Landungsari pada umumnya dan Dusun Rambaan pada khususnya.

BAB II RUMUSAN DIAGNOSIS KOMUNITAS

2.1 Menemukan Prioritas Masalah Kesehatan RW 03 Dusun Rambaan Desa Landungsari Untuk menemukan prioritas masalah kesehatan, terlebih dahulu dilakukan skoring terhadap 5 besar permasalahan kesehatan yang ada di Dusun Rambaan Desa Landungsari pada periode Januari - September 2012. Data permasalahan kesehatan diambil dari data sekunder yaitu SPM Puskesmas Dau, laporan kepala Desa Landungsari, laporan bidan Desa Landungsari, kasun Dusun Rambaan, dan ketua RW 03, yang dikoordinasikan dengan laporan yang masuk ke Puskesmas Dau. Skoring dilakukan dengan metode NGT ( Nominal Group Technique). Dengan mempertimbangkan data sekunder tersebut diatas, diambil 10 orang yang terdiri dari 4 orang wakil puskesmas (bidang penyakit menular, dokter fungsional), 4 orang wakil dari kantor desa, dan 2 orang wakil dokter muda. Berikut tabelnya: Tabel 1.Skoring Permasalahan Kesehatan di Puskesmas Dau dalam Kurun Waktu Januari 2012 September 2012
No Problem I II III IV V VI VII VIII IX X Ratarata 1. Pelayanan pasien kesehatan target dasar 100% 6 6 7 5 4 5 7 7 5 6 5,8 3 SKOR

miskin

tercakup 22,69% 2. Jumlah kunjungan ibu hamil (K4) target 95% tercakup 60,4% 3. Penemuan hanya kasus TB 14 baru kasus 8 10 9 10 9 9 8 7 7 8 8,5 1 5 5 6 8 5 7 5 5 5 4 5,5 5

dengan target 67 kasus (70%), tercakup (20,80%). 4. Hipertensi menempati peringkat kedua dari 15 penyakit terbanyak di Puskesmas Dau 5. ISPA pertama menempati dari 15 peringkat penyakit 7 8 6 8 4 5 6 6 8 8 6,6 2 5 5 5 5 6 5 6 6 6 7 5,6 4

terbanyak di Puskesmas Dau

Dari skoring tersebut, didapatkan bahwa prioritas permasalahan pertama yaitu penemuan kasus TBC baru dengan hasil BTA (+) dengan target ditemukan 67 kasus target yang telah dicapai sebanyak 14 kasus (20,80 %).

BAB III METODE PENGUMPULAN DATA

Dalam melaksanakan penelitian terlebih dahulu dibutuhkan data primer dan data sekunder. Data sekunder diperlukan di awal, saat menentukan prioritas masalah kesehatan. Data sekunder yang diambil berupa data dari Puskesmas, profil desa dari kantor desa, data yang tercatat di bidan setempat, kepala dusun, kepala RW dan kepala RT. Sedangkan data primer, diperoleh melalui survei pada warga yang dilakukan untuk menganalisis kemungkinan akar permasalahan yang terjadi di dusun tersebut. Survei dilakukan dengan cara melakukan wawancara langsung berdasarkan kuesioner terhadap penduduk RW. 03. RW 03, Dusun Rambaan, Desa Landungsari dipilih atas dasar ditemukannya dua kasus pada Dusun Rambaan. Mengingat keterbatasan waktu, keterbatasan biaya pengambilan sampel hanya dilakukan pada RW 03.. Penelitian survei merupakan bentuk penelitian deskriptif, dimana bila populasinya sekitar 100, sampel yang diambil paling sedikit 30%. Nilai 30 ini juga dapat dibuktikan pada tabel-tabel pengujian dalam statistika, dimana sampel diatas 30, nilai signifikansinya tidak jauh berbeda dengan nilai untuk 40 sampel, 60 sampel, dan seterusnya, untuk populasi 100 (Sekaran, 2006). Teknik pengambilan sampel yang digunakan terbagi menjadi 2, yakni probability sampling, dan non probability sampling. Desain pengambilan sampel dengan cara probabilitas dilakukan jika representasi sampel penting untuk menggeneralisasikan hasil penelitian secara luas (Sekaran, 2006). Dalam penelitian ini dilakukan probability sampling dengan metode simple random sampling. Teknik ini merupakan teknik yang paling sederhana, dimana sampel diambil secara acak tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi. Pengacakan sampel dilakukan dengan menggunakan tabel random sampel. (Trochim, 2006). Berdasarkan hasil survei, maka dapat dibuat Fish bone yang terperinci, mengenai faktor resiko yang dimiliki warga setempat. Fish bone merupakan diagram tulang-tulang ikan yang menjelaskan bagaimana suatu permasalahan (misalnya TB pada kasus ini) bisa terjadi. Fish bone yang ada, dibuat dengan mempertimbangkan faktor 5M (man, money, material, method, machine), environment, dan time yang selalu menjadi akar permasalahan kesehatan pada umumnya. Fish bone akan berperan untuk menunjukkan presentase warga yang mempunyai faktor-faktor resiko tersebut. Ini akan mempermudah dalam penentuan intervensi yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Berikut adalah fish bone untuk permasalahan TB: 8

Selanjutnya, dengan mempertimbangkan Fish bone dari prioritas permasalahan tersebut, dilakukan inventarisasi akar penyebab masalah dan dilakukan skoring dengan menggunakan metode NGT (Nominal Group Technique) untuk menentukan prioritasnya, sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut. Tabel 2. Inventarisasi Akar Penyebab Masalah No Akar Permasalahan MAN 1. 68% warga 1 merupakan kelompok usia produktif (21-50 tahun) 30% warga tidak 5 memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan 20% warga 4 menganggap imunisasi BCG kurang penting 2 2 1 1 2 1 3 3 3 19 1,9 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata- Prioritas rata

2.

8 7 7

58

5,8

3.

6 3 6

47

4,7

4.

100% kader 10 9 kurang berperan dalam kegiatan 17% warga tidak 6 memeriksakan dahak secara sukarela bila ada yang terdiagnosis TB 80% warga 9 kurang pengetahuan TB 7% warga 3 menganggap bahwa jika ada penderita TBC 8

10 9 9 8

10 8

91

9,1

5.

8 7 7

70

7,0

6.

10 10 9 9 9

10 9

92

9,2

7.

3 5 3

33

3,3

15

10

harus di isolasi 8. 93% warga tidak 7 mengetahui cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar METHOD 9. 82% warga tidak 8 mengikuti penyuluhan 7 5 8 7 8 8 9 9 8 77 7,7 4 9 9 6 8 8 9 9 8 8 81 8,1 3

10. 50% warga 3 menganggap tidak ada tindak lanjut dari petugas kesehatan setelah diadakan penyuluhan MACHINE 11 . 83% warga tidak 3 memakai masker pada saat batuk atau sakit. 70% warga 2 menganggap tabung untuk menampung dahak sukar didapatkan

3 4 5

39

3,9

11

2 4 5

37

3,7

12

12 .

3 4 5

35

3,5

13

13. 13% warga 5 mendapatkan informasi kesehatan melalui leaflet MONEY 14 . 50% warga 2 memiliki penghasilan

7 6 6

60

6,0

3 4 5

34

3,4

14

11

rendah. ENVIRONMENT 15 . 80% warga 1 merupakan warga asli (penduduk tetap) 40% warga tidak 4 memiliki rumah ideal (kepadatan tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal, jumlah ventilasi, lingkungan rumah) TIME 17 . 85% waktu 6 penyuluhan kurang tepat 7 6 8 7 9 8 7 8 8 74 7,4 5 2 1 1 1 1 1 2 3 3 16 1,6 17

16 .

3 4 5

41

4,1

10

Setelah dilakukan skoring, didapatkan prioritas akar penyebab masalah, ditentukan inventarisasi solusi akar penyebab masalah, sebagaimana yang ditunjukkan dalam tabel berikut. Tabel 3. Inventarisasi Solusi Akar Penyebab Masalah
No 1. Prioritas Masalah 80% warga kurang pengetahuan TB. Solusi Jangka Pendek Memberikan penyuluhan tentang penyakit TB disertai dengan pemutaran video singkat agar warga lebih tertarik dan 2. 100% warga menganggap kader kurang berperan dalam kegiatan lebih mengerti Mengaktifkan kembali kader kesehatan di masyarakat, dengan memberikan pelatihan dan edukasi kepada Jangka Panjang Memberikan penyuluhan secara berkala dengan sasaran terutama warga yang beresiko terinfeksi Evaluasi secara berkala kepada para kader untuk meyakinkan bahwa

12

kader agar dapat secara rutin memberikan penyuluhan kepada warga Meningkatkan peran kader kesehatan yang ada di masyarakat dengan cara mengikutsertakan dalam tiap program yang dilaksanakan Pembagian pin dan pocket-book kepada kader Advokasi kepada puskesmas untuk dapat menindaklanjuti programa yang telah dengan cara mewajibkan kader TB untuk melakukan pelaporan skrining TB 3. 93% warga tidak mengetahui cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar secara berkala Memberikan penyuluhan dan peragaan mengenai cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar dengan bahasa yang mudah dimengerti dan menarik Pembuatan stiker ilustrasi mengenai cara pengeluaran dan pembuangan dahak yang benar untuk ditempel di rumah warga

kader memberikan informasi yang dibutuhkan oleh warga Advokasi kepada perangkat desa, dinas kesehatan untuk lebih memperhatikan kinerja kader, dan memastikan kader yang ada telah berperan secara maksimal

Memberikan penyuluhan secara berkala dengan sasaran terutama warga dengan gejala batuk

13

Pelatihan senam paru untuk mendukung pengeluaran dahak 4. 82% warga tidak mengikuti penyuluhan Mengadakan penyuluhan dengan bahasa yang awam di masyarakat, yang mengedepankan interaksi 2 arah (role play), sehingga warga yang menjadi sasaran lebih tertarik Memfasilitasi kader agar dapat memberikan penyuluhan secara langsung kepada warga 5. 85% waktu penyuluhan kurang tepat Melaksanakan penyuluhan pada saat diadakannya acara rutin warga Melibatkan kader dalam sosialisasi acara Membuat perencanaan acara (rundown acara) yang terperinci serta sosialisasi jauh sebelum acara 6. 17% warga tidak memeriksakan dahak secara sukarela bila ada yang terdiagnosis TB dilaksanakan Memberikan penyuluhan mengenai prosedur pemeriksaan dan pelaporan jika terdapat kasus TB baru Advokasi kepada kader setempat dan posyandu setempat untuk edukasi berkala mengenai prosedur pemeriksaan dan pelaporan jika terdapat 7. 13% warga mendapatkan informasi kesehatan melalui leaflet Memberikan leaflet mengenai informasiinformasi TB yang harus diketahui kasus TB baru Advokasi kepada pihak puskesmas untuk memperbanyak leaflet dan membagikan kepada warga saat Dokumentasi rundown acara yang akan diberikan kepada kader setempat untuk di sosialisasikan kepada penyuluh selanjutnya Melakukan dokumentasi seluruh acara penyuluhan sebagai referensi kelompok penyuluhan selanjutnya atau tenaga kesehatan lain

14

penyuluhan 8. 30% warga tidak memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan Memberikan sosialisasi mengenai prosedur pemeriksaan di pelayanan kesehatan terdekat selanjutnya Advokasi kepada kader setempat dan posyandu setempat untuk sering mengingatkan warga agar segera berobat 9. 20% warga menganggap imunisasi BCG kurang penting Memberikan penyuluhan mengenai imunisasi BCG, akibat yang akan timbul dan manfaatnya bagi tubuh jika sakit Advokasi kepada kader setempat dan posyandu setempat untuk edukasi berkala mengenai pentingnya imunisasi, khususnya 10. 40% warga tidak memiliki rumah ideal (kepadatan tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal, jumlah ventilasi, lingkungan rumah) Memberikan penyuluhan kepada warga mengenai syarat rumah sehat dan bagaimana cara mencapai rumah sehat. BCG Advokasi kepada dinas kesehatan dan peumahan rakyat untuk melakukan screening berkala pada warga tentang rumah sehat

Setelah dilakukan inventarisasi solusi akar penyebab masalah, kembali dilakukan 15skoring dengan menggunakan metode NGT untuk menentukan prioritas solusi yang dapat dilakukan.

Tabel 4. Prioritas Solusi Akar Penyebab Masalah


No Solusi Memberikan penyuluhan tentang penyakit TB disertai 1 dengan pemutaran video singkat agar warga lebih tertarik dan lebih mengerti 2 Memberikan penyuluhan secara 5 5 5 5 6 7 7 40 5,7 20 10 10 9 9 10 9 9 66 9,4 1 1 2 3 4 5 6 7 Total Ratarata Skor

15

berkala dengan sasaran terutama warga yang beresiko terinfeksi Mengaktifkan kembali kader kesehatan di masyarakat, dengan memberikan pelatihan 3 dan edukasi kepada kader agar dapat secara rutin memberikan penyuluhan kepada warga Meningkatkan ada 4 di peran 10 10 9 9 8 8 9 63 9 3

kader kesehatan yang masyarakat 10 10 9 9 9 9 8 64 9,1 2 dalam tiap yang dan 9 8 7 8 7 8 7 54 7,7 6 dengan cara mengikut sertakan program dilaksanakan Pembagian pin 5 pocket-book

kepada

kader Evaluasi secara berkala kepada para kader untuk meyakinkan 6 bahwa kader memberikan informasi yang dibutuhkan oleh warga Advokasi kepada perangkat desa, dinas kesehatan untuk lebih 7 memperhatikan kinerja kader, dan memastikan kader yang ada telah berperan secara 8 maksimal Memberikan penyuluhan dan 8 7 7 7 6 7 7 49 7 11 6 6 5 5 6 6 7 39 5,5 22 5 4 5 5 6 7 7 39 5,5 21

16

peragaan mengenai cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar dengan bahasa yang mudah dimengerti dan menarik Pembuatan pengeluaran 9 pembuangan yang ditempel warga Pelatihan senam paru 10 untuk mendukung 5 6 6 6 7 7 6 43 6,1 15 pengeluaran dahak Memberikan penyuluhan 11 berkala sasaran batuk Mengadakan penyuluhan masyarakat, 12 mengedepankan interaksi 2 arah (role play), sehingga warga yang menjadi sasaran lebih tertarik Memfasilitasi 13 penyuluhan kader secara 8 7 7 8 7 8 7 52 7,4 7 dengan yang 7 7 7 7 7 7 7 49 7 12 bahasa yang awam di secara dengan terutama 5 5 6 5 6 6 7 40 5,7 19 benar di stiker dan dahak untuk rumah 8 8 7 7 7 7 8 52 7,4 8

ilustrasi mengenai cara

warga dengan gejala

agar dapat memberikan langsung kepada warga Melakukan dokumentasi acara sebagai kelompok seluruh referensi penyuluhan penyuluhan

14

41

5,8

18

selanjutnya atau tenaga

17

kesehatan lain Melaksanakan 15 penyuluhan pada saat diadakannya acara rutin warga Melibatkan kader dalam sosialisasi acara Membuat perencanaan acara (rundown acara) 17 yang terperinci serta jauh acara sosialisasi sebelum 9 8 7 7 6 7 6 50 7,1 10 6 6 5 6 6 7 6 42 6 16

16

54

7,7

dilaksanakan Dokumentasi rundown acara 18 setempat yang untuk akan di 5 5 5 5 6 5 6 36 5,1 29 diberikan kepada kader sosialisasikan kepada

penyuluh selanjutnya Memberikan penyuluhan 19 dan mengenai 7 7 6 7 7 7 6 47 6,7 14 jika prosedur pemeriksaan pelaporan terdapat kasus TB baru Advokasi kepada kader setempat posyandu 20 mengenai pemeriksaan kasus TB baru Memberikan 21 mengenai informasi TB dan setempat prosedur dan 6 5 5 6 5 6 7 38 5,4 23

untuk edukasi berkala

pelaporan jika terdapat leaflet yang 8 8 8 7 8 8 8 55 7,8 4

informasi-

harus diketahui Advokasi kepada pihak puskesmas 22 memperbanyak dan kepada 23 warga untuk leaflet saat 8 8 6 7 7 7 8 51 7,2 9 5 6 6 5 6 5 5 37 5,2 26

membagikan

penyuluhan selanjutnya Memberikan sosialisasi

18

mengenai pemeriksaan pelayanan

prosedur di kesehatan

terdekat Advokasi kepada kader setempat posyandu 24 untuk mengingatkan agar segera jika sakit Memberikan penyuluhan 25 mengenai 7 7 6 8 7 7 6 48 6,8 13 imunisasi BCG, akibat yang akan timbul dan manfaatnya bagi tubuh Advokasi kepada kader setempat dan posyandu setempat 26 untuk edukasi berkala mengenai pentingnya imunisasi, khususnya BCG Memberikan penyuluhan 27 rumah sehat kepada dan cara 6 6 5 5 6 5 5 37 5,2 27 warga mengenai syarat bagaimana 6 6 5 5 6 6 5 38 5,4 25 dan setempat sering warga berobat 5 6 5 6 5 6 6 38 5,4 24

mencapai rumah sehat Advokasi kepada dinas kesehatan 28 melakukan berkala 29 dan screening warga 6 5 6 6 6 5 7 41 5,8 17 5 6 5 5 5 6 5 36 5,1 28 peumahan rakyat untuk pada

tentang rumah sehat Advokasi kepada petugas untuk menindaklanjuti program dengan yang telah cara puskesmas dapat

mewajibkan kader TB

19

untuk

melakukan

pelaporan skrining TB secara berkala

Berdasarkan skoring di atas, dipilih 17 prioritas intervensi jangka pendek yang akan dilakukan pada Dusun Rambaan, Desa Landungsari yaitu sebagai berikut: Tabel 5. Prioritas Intervensi Jangka Pendek
No 1 Prioritas Memberikan penyuluhan tentang penyakit TB disertai dengan pemutaran video singkat agar warga lebih tertarik dan lebih mengerti. 2 3 Meningkatkan peran kader kesehatan yang ada di masyarakat dengan cara mengikut sertakan dalam tiap program yang dilaksanakan. Mengaktifkan kembali kader kesehatan di masyarakat, dengan memberikan pelatihan dan edukasi kepada kader agar dapat secara rutin memberikan penyuluhan kepada 4 5 6 7 8 9 10 warga. Memberikan leaflet mengenai informasi-informasi TB yang harus diketahui. Melibatkan kader dalam sosialisasi acara. Pembagian pin dan pocket-book kepada kader. Memfasilitasi kader agar dapat memberikan penyuluhan secara langsung kepada warga. Pembuatan stiker ilustrasi mengenai cara pengeluaran dan pembuangan dahak yang benar untuk ditempel di rumah warga. Memberikan sosialisasi mengenai prosedur pemeriksaan di pelayanan kesehatan terdekat. Membuat perencanaan acara (rundown acara) yang terperinci serta sosialisasi jauh sebelum acara dilaksanakan. 11 Memberikan penyuluhan dan peragaan mengenai cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar dengan bahasa yang mudah dimengerti dan menarik. 12 Mengadakan penyuluhan dengan bahasa yang awam di masyarakat, yang mengedepankan interaksi 2 arah (role play), sehingga warga yang menjadi sasaran lebih tertarik. 13 Memberikan penyuluhan mengenai imunisasi BCG, akibat yang akan timbul dan manfaatnya bagi tubuh. 14 Memberikan penyuluhan mengenai prosedur pemeriksaan dan pelaporan jika terdapat kasus TB baru. 15 16 17 Pelatihan senam paru untuk mendukung pengeluaran dahak. Melaksanakan penyuluhan pada saat diadakannya acara rutin warga. Advokasi kepada petugas puskesmas untuk dapat menindaklanjuti program yang telah dengan

20

cara mewajibkan kader TB untuk melakukan pelaporan skrining TB secara berkala.

Dari prioritas intervensi masalah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa rencana intervensi yang dipilih untuk dilakukan kepada warga Dusun Rambaan, Desa Landungsari adalah berupa: Penyuluhan yang mencakup materi mengenai: penyakit TB cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar imunisasi BCG prosedur pelayanan kesehatan

Pelatihan: pelatihan kader dengan tujuan untuk mengaktifkan kembali kader kesehatan cara mengeluarkan dan membuang dahak yang benar senam paru untuk mendukung pengeluaran dahak

Pembuatan media, berupa: pocket book berisi informasi dasar tentang TB pin untuk kader stiker mengenai cara batuk dan mengeluarkan dahak yang benar leaflet mengenai penyakit TB form skrining TB

Pembuatan dan pemutaran video: penyakit TB testimoni penderita TB senam paru

21

BAB IV RENCANA KEGIATAN

4.1 Rencana Kegiatan Dalam merencanakan program intervensi pada warga Dusun Rambaan diperlukan penentuan permasalahan utama yang menjadi dasar untuk menentukan tujuan umum kegiatan, sebagaimana ditulis dalam tabel berikut: Tabel 6. Health Problem dan Goal Health Problem Penemuan kasus TBC baru Goal Meningkatkan temuan kasus TB paru dengan BTA (+) agar tercapai target sebanyak 70% sampai dengan akhir tahun 2012.

dengan target 67 kasus baru, hanya tercakup target 14 kasus (20,80%).

Selain menentukan health problem dan goal untuk program intervensi, perlu ditentukan juga kelompok yang akan menjadi sasaran kegiatan. Kelompok sasaran dibagi menjadi tigakelompok, yaitu kelompok sasaran primer, sekunder, dan tersier. Kelompok sasaran pada penelitian ini, akan terinci pada Tabel 7. Tabel 7. Kelompok Sasaran dari Health Problem Target Group Primer Sekunder Warga RW. 03, Dusun Rambaan, Desa Landungsari Kader kesehatan Pelayan kesehatan (bidan desa, POSYANDU) Tersier Puskesmas Dau Pengurus Desa Landungsari

22

Selain menentukan goal dari intervensi yang akan dilakukan, perlu ditentukan juga objective dari program intervensi warga. Objective ini dibuat berdasarkan faktor-faktor resiko yang menyebabkan munculnya health problem di warga Dusun Rambaan. Hal ini akan ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 8. Faktor Resiko dan Objective Risk Factor (Man) Objective

100% warga menganggap Mengaktifkan kembali kader kesehatan kegiatan yang dilakukan kader melalui kegiatan kesehatan yang dilakukan kurang berperan. sebanyak 100% 80% warga yang mempunyai Meningkatkan pengetahuan warga

pengetahuan

kurang mengenai penyakit TB sebanyak 100% pada akhir program. pengetahuan imunisasi warga BCG

mengenai penyakit TB. 20% warga

menganggap Meningkatkan mengenai

imunisasi BCG kurang penting.

pentingnya

sampai 100% pada akhir program 17% warga tidak memeriksakan Meningkatkan jumlah warga yang akan dahak secara sukarela bila ada memeriksakan dahak secara sukarela bila yang terdiagnosis TB. ada yang terdiagnosis TB sebanyak 100% pada akhir program. 93% warga tidak mengetahui cara Meningkatkan yang benar pengetahuan warga

batuk dan mengeluarkan dahak mengenai batuk dan mengeluarkan dahak yang benar sebanyak 100% pada akhir program. 30% warga tidak memeriksakan Meningkatkan diri ke pelayanan kesehatan. kesadaran warga untuk

memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan senbanyak 100% pada akhir program.

Risk Factor (Machine) 13% warga mendapatkan informasi kesehatan melalui leaflet.

Objective Meningkatkan kesadaran warga untuk

mendapatkan informasi kesehatan melalui

23

leaflet sebanyak 90% pada akhir program Risk Factor (Method) 82% warga tidak mengikuti penyuluhan. Risk Factor (Time) 85% waktu penyuluhan tidak tepat. Risk Factor (Environment) 40% warga tidak memiliki rumah sehat yang ideal. Objective Meningkatkan partisipasi warga untuk

mengikuti penyuluhan sebanyak 90% Objective Memberikan penyuluhan sesuai dengan jadwal kegiatan kader dan warga. Objective Meningkatkan sebanyak 100% pengetahuan warga

mengenai ciri-ciri rumah sehat yang ideal

Tujuan khusus ini perlu dirinci secara lebih detail untuk menentukan sub objective. Sub objective diperoleh dari contributing risk factor yang menyebabkan risk factor muncul. Hal ini akan ditunjukkan pada tabel berikut.

24

Tabel 9. Contributing Risk Factor dan Sub Objective Risk Factor (Man) 100% warga menganggap kegiatan yang dilakukan kader kurang berperan. Contributing RF 75% warga menganggap kader kesehatan yang ada kurang berperan Sub objective Meningkatkan pelatihan dan edukasi terhadap kader sebanyak 80% pada akhir program. Meningkatkan kesadaran kader akan peran serta dirinya di masyarakat sebanyak 70% pada akhir 80% warga mempunyai 95% warga kurang mendapat penyuluhan tentangTB 100% warga merasa penyuluhan mengenai BCG kurang. warga sukarela bila tidak dahak ada 80% warga kurang mengetahui tentang prosedur pemeriksaan TB. program. Meningkatkan jumlah penyuluhan tentang TB untuk warga sebanyak 50% pada akhir program. Meningkatkan pengetahuan warga mengenai imunisasi BCG sebanyak 100% pada akhir program. Meningkatkan pengetahuan warga mengenai prosedur pemeriksaan TB sebanyak 100% pada akhir program. 80% warga kurang mendapat media informasi mengenai cara batuk & mengeluarkan dahak. Meningkatkan jumlah media informasi mengenai cara batuk dan mengeluarkan dahak dengan benar sebanyak 80% pada akhir 30% warga diri tidak ke 14% tingkat awareness/kesadaran yang rendah untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. program dengan penyuluhan. Meningkatkan kesadaran warga untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan sebanyak 100% pada akhir program. Risk Factor (Machine) 13% warga mendapatkan informasi kesehatan melalui Contributing RF 97% warga merasa kurang mendapat penyuluhan 25 Sub objective Meningkatkan pengetahuan kesehatan warga dengan

pengetahuan yang kurang mengenai penyakit TB. 20% warga menganggap BCG kurang

imunisasi penting. 17% secara

memeriksakan yang terdiagnosis TB.

93% warga tidak mengetahui cara benar batuk dan mengeluarkan dahak yang

memeriksakan

pelayanan kesehatan.

leaflet.

penyuluhan menggunakan leaflet sebanyak 100% pada akhir program Sub objective Meningkatkan ketertarikan warga terhadap materi penyuluhan sebanyak 100% pada akhir program. Sub objective Meningkatkan sosialisasi acara antar warga sebanyak 80% pada akhir program. Sub objective Meningkatkan pengetahuan warga mengenai rumah sehat sebanyak 100% pada akhir program.

Risk Factor (Method) 82% warga tidak mengikuti penyuluhan.

Contributing RF 96% warga menganggap penyuluhan yang diberikan kurang menarik.

Risk Factor (Time) 85% warga merasakan bahwa waktu penyuluhan tidak tepat. Risk Factor (Environment) 40% warga tidak memiliki rumah sehat yang ideal.

Contributing RF 53% warga merasa bahwa sosialisasi acara antar warga kurang. Contributing RF 90% warga mempunyai pengetahuan yang kurang mengenai rumah sehat.

4.2 Metode Kegiatan Metode kegiatan yang dipilih didasarkan pada prioritas intervensi yang akan dilakukan pada warga yang telah disusun dan dijelaskan pada BAB III. Metode kegiatan yang digunakan berupa penyuluhan dan pelatihan kader kesehatan yang diharapkan akan menjadi kader TB. Metodenya adalah dengan menyuluh beberapa kader yang sudah ada ditambah dengan beberapa pengurus RT. Diharapkan dengan diadakannya Penyuluhan dan Pelatihan Kader Anti-Tuberkulosis (PEKAT), akan menambah kesadaran warga Landungsari khususnya warga Dusun Rambaan untuk memeriksakan diri apabila ada kecurigaan terkena TB. Dengan meningkatnya kesadaran warga, maka akan meningkatkan angka CDR TB di wilayah Puskesmas Dau. 4.3 Strategi Kegiatan Strategi yang digunakan dalam rangka memenuhi promosi kesehatan, dibagi menjadi 3 yaitu strategi untuk warga, kader dan Puskesmas. Strategi untuk warga berupa, intervensi saat kegiatan rutin (setelah acara PKK). Strategi kedua, melakukan penyuluhan yang menarik dan informatif dengan menampilkan video, role play atraktif serta mempraktikkan senam paru. Kemudian memberikan stiker dan leaflet, serta doorprize berupa souvenir untuk warga yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan penyuluhan,. 26

Sedangkan untuk kader, akan dilakukan penyuluhan terlebih dahulu dengan menampilkan video dan memberikan pocketbook mengenai pengetahuan tentang TB yang lebih lengkap dan pembagian pin yang menandakan terpilihnya sebagai kader TB. 4.4 Media Kegiatan Media yang digunakan dalam intervensi ini berupa slide presentasi yang berwarna dengan banyak ilustrasi gambar dan dengan bahasa yang mudah diterima oleh warga, serta kami tampilkan testimoni dari penderita TB yang telah sembuh. Selain itu dibuat juga stiker yang berisi cara batuk dan cara mengeluarkan dahak yang benar, yang bisa ditempel di rumah warga, dan leaflet mengenai pengetahuan TB secara umum, serta pocket book mengenai pengetahuan tentang TB yang lebih lengkap untuk kader. Kemudian juga diberikan video inovasi mengenai senam paru untuk warga dan kader agar dapat diterapkan sendiri oleh warga. 4.5 Jadwal Kegiatan Kegiatan direncanakan dilakukan selama 3 kali. Karena keterbatasan waktu, keterbatasan biaya, dan dengan mempertimbangkan lokasi tempat kejadian tuberkulosis maka dipilih 3 lokasi kegiatan dan dengan mempertimbangkan keaktifan kader di Dusun Landungsari tersebut, diadakan kegiatan tambahan berupa penyuluhan dan pelatihan kader.

Tabel 10. Jadwal Kegiatan No. 1. 2. 3. Waktu Kamis, 25 Oktober 2012 Minggu, 28 Oktober 2012 Selasa, 30 Oktober 2012 Kegiatan Penyuluhan dan pelatihan kader Penyuluhan dan pelatihan warga RT 01 Penyuluhan dan pelatihan warga RT 02 dan RT 03

4.6 Tantangan Terdapat beberapa tantangan yang didapatkan selama kegiatan antara lain terbatasnya waktu dan dana dalam melaksanakan program secara holistik meliputi seluruh faktor resiko. Ketiga,. 4.7 Sistem Evaluasi Berbagai kegiatan yang akan dilakukan di Dusun Landungsari terdiri atas penyuluhan TB, cara batuk dan cara mengeluarkan dahak yang benar, pelatihan senam paru, dan role play. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dilaksanakan sesuai rencana kegiatan yang telah 27

ditentukan berdasar metode dan strategi yang telah dijelaskan sebelumnya. Berikut pada tabel akan dijelaskan sistem evaluasi pada masing masing kegiatan intervensi warga

28

Tabel 11. Sistem Evaluasi Kegiatan Intervensi


KEGIATAN Penyuluhan tentang TB serta cara batuk dan mengeluarkan dahak yang benar TOLAK UKUR Pretest dan posttest Diskusi (tanya jawab) Jumlah kehadiran dalam setiap kegiatan

Pelatihan tentang senam paru

Antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan Jumlah kehadiran dalam setiap kegiatan

Penayangan video testimoni dari penderita TB yang sudah sembuh

Antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan Jumlah kehadiran dalam setiap kegiatan

Role play

Antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan Diskusi (tanya jawab) Jumlah kehadiran dalam setiap kegiatan

29