Anda di halaman 1dari 80

Kompatiologi

logika komunikasi empati

Penulis: Vincent Liong & Cornelia Istiani

Blog: http://kompatiologi-vincentliong.blogspot.com
Maillist: http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati
Subscribe Free Newsletter: http://groups.yahoo.com/group/kompatiologi

Contact Person Kompatiologi:


* Vincent Liong 021-5482193,5348567/46(Home) 021-70006775(CDMA Flexi) 021-
98806892(CDMA Esia) 08881333410(CDMA Fren)
* Juswan Setyawan 08159162193(Hp)
* Cornelia Istiani 021-68358037(CDMA Flexi) 081585228174(Hp)
* Ondo Untung 021-92217939(CDMA Esia)
* Andy Ferdiansyah 021-94293810(CDMA Esia)
* Arioputro Nugroho Hp: 08161312939 & 08176770201
* Anton Widjojo 08164827424(Hp)
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

DAFTAR ISI
Kata Pengantar (ditulis oleh: Vincent Liong) 4
Rahasia Cara Membaca Buku Ini 6

Pendahuluan (ditulis oleh: Anton Widjodjo) 7

Bagian Pertama
KOMPATIOLOGI
ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian

I. Sejarah Kompatiologi 10
Mengapa Kompatiologi Bisa Lahir ? 10
Tentang Manusia menurut Vincent Liong 11
Kehilangan Kebebasan Setelah Menjadi Indigo 15
Ide Dasar Kompatiologi Menggunakan Minuman bukan Kata-Kata 17

II. Penyelesaian Masalah 19


Anjing yang berIman 19
Antitesis dari Budaya Judgement dan Punishment 20

III. Tentang Kompatiologi 25


Apa sich Kompatiologi itu? 25
Asal-Muasal Nama Kompatiologi 26
Kompatiologi ilmu Mengalami bukan Pemikiran dan Pengkonsepan 28
Posisi Kompatiologi dalam ranah Sumberdaya Manusia 30
Evolusi dari Manusia Purba, Manusia Moderen sampai Kompatiologi 32

IV. Metode Penelitian 35


Kronologis Proses Penelitian dalam Kompatiologi 35
Kompatiologi dan Grounded Theory 36
Dilema: Pragmatis VS Teoritis 38

V. ’Dekon’–Kompatiologi (Dekonstruksi) 40
Pengalaman Sebagai Pendekon-Kompatiologi... 40
Dekonstruksi ala Kompatiologi dengan menggunakan Minuman Botol 43

VI. Setelah Dekon-Kompatiologi 47

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 2 / dari 2 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Keberhasilan Dekon-Kompatiologi 48
Kegagalan Dekon-Kompatiologi 49

Bagian Kedua
PENDIDIKAN ALA KOMPATIOLOGI
ditulis oleh: Cornelia Istiani

I. Pendahuluan 53

II. Metode Kompati dalam Pendidikan 57

III. Tujuan Pendidikan 60

IV. Perkembangan Masa Hidup Manusia 63

V. Penutup 67

Daftar Pustaka 69

LAMPIRAN

Kuesioner Kompatiologi ver21102007 72

Biodata Penulis 77

Info 'Pendekon' (Pengajar) Kompatiologi 78

Komentar Singkat Pembaca 80

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 3 / dari 3 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Kata Pengantar
Ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian (pendiri kompatiologi)

Buku ini “Kompatiologi : logika komunikasi empati” ditulis sebagai perkenalan tentang apa inti
dari kompatiologi. Buku ini ditulis dengan gaya yang teknis dan minimalis untuk memberikan inti
dari kompatiologi yang sering disalahartikan karena sifat yang khas dari kompatiologi itu sendiri.

Bicara kompatiologi tidak lepas dari produk dasarnya yaitu ‘dekon-kompatiologi’ (ritual minum
teh). Secara kasat mata dekon-kompatiologi tidak lebih dari permainan campur-mencampur
minuman yang tampak sederhana dan sepele. Meski tampak demikian, tidak semua orang mampu
memilih dan menyusun botol minuman secara tepat, yang disesuaikan dengan latarbelakang peserta
dekon-kompatiologi untuk menghasilkan efek pasca-dekon seperti yang terjadi pasca-dekon-
kompatiologi. Meskipun dekon-kompatiologi keliahatan sepele, para ‘pengajar’ (pendekon-
kompatiologi) sendiri yang sudah ahli sekalipun tidak semua merasa mampu-benar menjadi
pendekon-kompatiologi-independent, rata-rata para pengajar kompatiologi malah mengundurkan
diri dari posisi sebagai pengajar kompatiologi setelah setahun mengikuti (sebagai murid dan guru)
dekon-kompatiologi, karena lebih tertarik untuk fokus menerapkan kompatiologi di hidupnya
sendiri untuk minat, tujuan dan kepentingan masadepannya sendiri. Padahal bayaran menjadi
pendekon-kompatiologi itu tinggi dan Vincent Liong sampai hari ini tidak pernah menuntut bayaran
royalty.

Bilamana pada ilmu kebanyakan peningkatan/perkembangan ilmu seseorang itu dihasilkan dari
pertambahan jumlah teori yang dikuasai, melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, dan lain
sebagainya; Dalam kompatiologi ilmu yang tinggi itu tampak dari kebebasan seorang mantan
pengguna kompatiologi secara lues memainkan ketidakpastian hidupnya sendiri, banyak yang
mengundurkan diri dari pekerjaan dan memilih berwiraswasta, ada pula yang gemar berpetualang
merantau ke negeri yang jauh, tentunya dengan tetap bertanggungjawab mencari nafkah untuk
keluarganya yang boleh bertambah jangan sampai berkurang. Beberapa pendekon-kompatiologi
yang telah mengundurkan diri dari kompatiologi, memilih untuk tidak terikat dengan kurikulum
dekon-kompatiologi yang standar, malah suka kreatif membuat rumusan dekon-kompatiologi
dengan media yang berbeda seperti permen misalnya, atau malah tidak menggunakan apa-apa
sesuai tingkat kelihaiannya masing-masing. Prilaku ini membuat mereka sering dianggap sebagai
orang sakti di lingkungan tempat tinggalnya, biasanya mereka yang semacam ini sudah tidak
menyebut-nyebut kompatiologi samasekali, meskipun tetap berhubungan dengan Vincent Liong
dan pengajar kompatiologi yang lain sebagai saudara yang tidak sedarah.

Perbedaan paling utama antara kompatiologi dan ilmu-ilmu lain yang ada adalah pada point ‘free
choice’. Pada kebanyakan ilmu, yang dimaksud sebagai ilmunya adalah pendapat dari sang
filsufnya yang bersifat tunggal, yang kemudian bisa diadopsi oleh pengikut atau orang-orang yang
ingin menggunakannya. Seorang pengikut tidak akan menjadi seorang filsuf setingkat panutannya;
seperti sedikit jumlah seniman menghasilkan sebuah karya seni, yang kemudian ditiru oleh banyak
pengerajin seni yang mampu membuat banyak karya seni, mereka tetap bukan seniman yang
tunggal.

Dalam kompatiologi yang dianggap sebagai ilmunya adalah sebuah metode minum teh yang dibuat
melalui proses penelitian berbentuk eksperimen oleh Vincent Liong. Ketika orang-orang
menggunakan metode minum teh (dekon-kompatiologi) tersebut, maka orang-orang tersebut
biasanya akan memiliki suatu sistem pengukuran yang independent dalam diri sendiri dengan
kepentingan dan minat ala diri sendiri, sehingga mereka tidak mengikuti pendapat sang filsuf yang
tunggal seperti pada ilmu kebanyakan. Kebanyakan mereka yang mendalami dekon-kompatiologi
menjadi seperti filsuf untuk dirinya sendiri, dengan sudut-pandang, pendapat dan tujuan ala diri

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 4 / dari 4 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

sendiri, yang tentu saja berbeda dengan Vincent Liong pembuat metode dekon-kompatiologi.
Mereka juga tidak akan tertarik untuk bertanya atau mengikuti pendapat Vincent Liong karena
sudah independent, memiliki free choice untuk membangun dirinya sendiri dengan versi sendiri
dengan resiko-resiko yang disadari oleh diri sendiri.

Vincent Liong pernah mencoba untuk membiarkan para pengguna kompatiologi menulis bukunya
masing-masing, yang terjadi adalah; mereka tidak menulis mengenai ilmu kompatiologi, yang
terjadi adalah mereka menulis filosofi hidup mereka masing-masing yang tumbuh secara mandiri
dari diri mereka, setelah mengikuti dekon kompatiologi, yang jelas berbeda total antara satu dengan
yang lain. Yang muncul pada akhirnya adalah; Kompatiologinya bapak Juswan Setyawan,
Kompatiologinya Cornelia Istiani, Kompatiologinya Bimo Wikantiyoso, Kompatiologinya Andy
Ferdiansyah, dan lain sebagainya ; bahkan Vincent Liong pun sebagai pembuat kompatiologi
memiliki versi pendapat tentang kompatiologi versi Vincent Liong sendiri yang diusahakan agar
tidak ditulis dalam buku ini. Masing-masing e-book mengenai kompatiologi ditulis dengan sangat
privat dan mendalam, bahkan sampai berratus-ratus halaman.

Jadi setelah kemunculan berbagai e-book mengenai kompatiologi yang ditulis secara mandiri
dengan niat dan tujuan sendiri-sendiri, tatabahasa, definisi, dan lain sebagainya yang serba sendiri-
sendiri; masyarakat non pengguna kompatiologi malahan bertambah bingung tentang apa itu
sebenarnya kompatiologi. Kalau dibilang kompatiologi itu ada dan berbentuk, lalu mengapa
sudutpandangnya begitu banyak, kok tidak ada sudutpandang yang tunggal?! Kalau dibilang
kompatiologi itu tidak ada nilainya, maka mengapa banyak orang yang rela menulis teorinya
sendiri-sendiri dengan minat, gaya-bahasa dan tujuannya sendiri dan semua bicara tentang
pengalaman dan pemikiran setelah mengikuti dekon-kompatiologi, tanpa ada yang menyuruh atau
membayar?! Diterbitkan sukur, tidak diterbitkanpun tidak mengapa…
(note: pembaca disarankan membaca buku ini sebelum membaca berbagai e-book karya para
mantan pengguna kompatiologi agar tidak menjadi bingung)

Banyak konflik, polemik hingga terror yang timbul pasca lahirnya kompatiologi, yang disebabkan
oleh banyaknya versi e-book dan penjelasan tentang kompatiologi yang tampak seperti;
“sekumpulan filsuf dengan filsafat ala masing-masing, yang berbeda-beda dan saling berdiskusi
satu sama lain dengan gaya-gaya masing-masing di ruang diskusi yang namanya kompatiologi.”

Vincent Liong yang sebenarnya hanya memfasilitasi alat berupa metode dekon-kompatiologi yang
mengakibatkan mereka memiliki free choice-nya masing-masing untuk menjadi dirinya sendiri,
tentunya tidak mampu bertanggungjawab atas pendapat, sudutpandang dan karya pemikiran dari
berbagai macam orang pengguna kompatiologi, hanya masing-masing filsuf tersebut yang mampu
konsisten, mengerti, memahami dan bertanggungjawab terhadap pendapatnya sendiri. Mereka rata-
rata menjadi orang yang amat konsisten terhadap gaya dan warna diri mereka sendiri.

Jadi dalam menulis buku mengenai kompatiologi bagi Vincent Liong sendiri amat sangat susah.
Pertama-tama Vincent Liong harus membuang segala asumsi versi Vincent Liong dan hanya
menulis kesimpulan yang diperoleh melalui kegiatan eksperimen laboratorium. Dalam buku ini,
Vincent sudah berusaha keras menyaring agar asumsi-asumsi Vincent Liong tidak ditulis di buku
ini, sebagai manusia tentu masih ada hal-hal ala Vincent Liong yang tidak sengaja masuk terbawa
ke dalam buku ini. Yang ditulis di buku ini hanya hal-hal teknis yang berlaku umum terhadap para
peserta dekon-kompatiologi saja yang didapatkan Vincent Liong melalui pengamatan terhadap hal-
hal yang terjadi pada mantan peserta dekon-kompatiologi pasca dekon-kompatiologi. Maka dari itu
buku ini ditulis secara minimalis seperti manual guide sebuah mesin saja.

Hal-hal yang ditulis di buku ini adalah hasil proses perjalanan penelitian kompatiologi yang melalui
tahap-tahap sbb: (lihat: ‘Kronologis Proses Penelitian dalam Kompatiologi’)
* Melakukan eksperimen untuk mencari pola kerja (Januari 2005 – Juli 2006)
Dipimpin oleh Vincent Liong dibantu oleh beberapa sukarelawan.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 5 / dari 5 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

* Mengkorelasikan dengan ilmu yang sudah ada (Juli 2006 – Desember 2007)
Dilakukan oleh para pengguna kompatiologi yang memiliki sudutpandang, minat dan tujuannya
masing-masing. Vincent Liong tidak berkomentar, hanya mengamati saja.
* Membuat penjelasan yang tunggal yang merangkum semuanya (Januari 2008 – sekarang)
Penulisan buku “Kompatiologi : logika komunikasi empati” oleh Vincent Liong

Selamat menonton apa itu inti dari kompatiologi. Kompatiologi-nya sendiri bisa anda alami bila
anda mengikuti ritual minum teh dekon-kompatiologi. Lalu seperti para mantan peserta dekon-
kompatiologi yang lain, anda akan membicara sesuai filosofi ala diri anda masing-masing yang
terkait dengan diri anda sendiri yang belum tentu berkaitan dengan apa itu inti dari dekon-
kompatiologi. Lalu, bilamana mendapat kesempatan untuk mengalami sebagai filsuf yang tunggal,
seperti apa filosofi ala anda?!

Jakarta, Selasa, 11 Maret 2008

Penulis,

Liong Vincent Christian / Vincent Liong

Rahasia Cara Membaca Buku Ini


Untuk membaca buku ini pertama-tama perlu niat yang kuat, niat saja tidak cukup. Bilamana orang
tsb sudah memiliki praduga, prasangka, pola pikir, teori tertentu sebelum membaca buku ini; maka
tidak akan memperoleh pengertian apapun dengan membaca buku ini, atau terjadi kebingungan
karena semua yang terjadi setelah membaca buku ini di luar apa yang telah ia ketahui sepanjang
hidupnya. Perlu semacam kepasrahan di dalam membaca buku ini.

Buku ini akan lebih mudah dibaca oleh mereka yang memiliki sedikit pengetahuan dan sedikit
prasangka terhadap kehidupan. Jika orang yang sudah memiliki praduga, prasangka, pola pikir,
teori tertentu rela mengambil sikap pasrah dalam membaca buku ini; maka akan menghasilkan
sesuatu yang lebih.

“Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga.”
(Matius 5:3)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 6 / dari 6 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Pendahuluan
Ditulis oleh: Anton Widjojo (Pengamat Budaya)

Ketika budaya sampai pada diri kita, kita tidak pernah memikirkan asalnya dan juga tidak
menyadari bahwa budaya sudah terbelenggu di balik terali besi.

Sampai pada suatu saat Vincent Liong secara tidak sengaja menemukan bahwa budaya sudah
menjadikan manusia merana karena dengan berbudaya berarti manusia ikut terbelenggu di balik
terali besi.

Dengan susah payah Vincent Liong mempertahankan hak asasiya sebagai manusia untuk tidak
dilabelkan Indigo secara sembarangan oleh masyarakat. Hilang sudah kebebasannya. Bayangkan
hanya dengan sebuah "kata" Indigo ternyata tidak hanya merampas kebebasannya tetapi juga sikap
tidak bersahabat, vonis pengucilan, penekanan mental dan teror.

Terlihat disini "kata" yang adalah bagian dari budaya itu menjadi mengerikan, sehingga Ide yang
murni tidaklah mungkin muncul karena "kata", dari "kata" hanya dapat melihat fenomena, sehingga
data mentah hanya dapat ditemukan jika tidak memakai "kata".

Sebuah dawai telah memiliki nada, jika dia tidak dipetik bukan berarti dia tak bernada, hanya kita
tak dapat mendengar nadanya. Nada yang terdengar adalah hasil dari petikan, dan mempunyai
kemungkinan tak ada batasnya.

Menarik jika diperhatikan lebih lanjut penemuan Vincent Liong tentang tehnik zat cair yang masuk
ke dalam tubuh kita, dalam hal ini dengan cara diminum dengan aturan dan cara Vincent Liong
ternyata dapat mempunyai relasi terhadap hal hal yang tidak pernah terpikir, akan membawa efek
memunculkan data mentah pada tiap individu, yang sebenarnya sudah ada, tetapi tenggelam,
menuju ke permukaan. Sehingga setiap individu menjadi suatu individu "baru" yang memiliki
kemampuan lebih dari sebelumnya. Kemampuan manusia yang sudah lama terkubur karena tidak
pernah diperhatikan dan sudah terdesak oleh kemajuan jaman, menjadi tersadari atau lebih tepatnya
menjadi bagian penting dalam manusia membuat pertimbangan untuk mengambil keputusan.

Tidaklah berarti dia menjadi manusia super, tetapi suatu pribadi yang lebih utuh. Yang sebelumnya
dia mengira apa yang menjadi pilihan dalam hidupnya sudah
benar dan mungkin juga sudah tidak ada pilihan lain, ternyata menjadi melihat ada pilihan pilihan
baru yang yang dihasilkan dari dasyatnya kehendak bebas (free will) dan jika dia memilih tanpa
pertimbangan yang matang akan membuat kehendak bebas yang tadinya bernilai positif berubah
menjadi kutukan.

Perlahan tapi pasti dari efeknya akan membuat dia menjadi mahir dalam bidang strategi,
kewaspadaan dan kesadaran diri meningkat, sehingga tidak ada lagi tindakan konyol yang akan
dilakukannya, seandainya ada orang yang melihat dia konyol sebenarnya tindakan yang tampaknya
konyol itu dilakukan dengan sadar dan sudah menjadi pilihannya dan rencananya.

Strategi dan kesadaran diri adalah sebagian hal yang membedakan manusia dari binatang. Kekuatan
badan dan akal saja tidak akan membawa manusia menjadi unggul dan menjadi penguasa bumi.
Manusia purba tidak mungkin berkembang menjadi manusia masa kini jika tidak memiliki kedua
unsur tersebut. Di dalam perkembangannya ada masanya manusia lebih mengunggulkan kekuatan
badan, kekuatan kelompok, dan pada masa kini manusia lebih mengunggulkan kekuatan akal.

Akal yang diharapkan akan menghasilkan hal yang lebih baik dan bermoral, ternyata malah

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 7 / dari 7 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

menghasilkan kekacauan dan kesengsaraan bagi manusia dan hanya menghasilkan keuntungan bagi
kelompok atau dirinya dan tidak pernah mempertimbangkan kerugian dipihak lain. Sedangkan
strategi bertujuan meminimalkan kerugian dari semua pihak.

Semenjak manusia sadar bahwa dia memiliki kesadaran diri, dan kesadaran diri adalah sesuatu yang
pasti, maka manusia menganggap semua ilmu pengetahuan harus
dibangun atas dasar kepastian. Sehingga semua pengetahuan yang didapat dari pengalaman dan dan
ketidak pastian tidak dapat dipandang sebagai ilmu.

Tetapi jangan lupa kesadaran diri dan pengalaman tidaklah ada hubungannya. Pengalaman akan
menghasilkan pemahaman yang berbeda bagi tiap individu.

Jadi pengetahuan yang didapat dari pengalaman tidak dapat dengan begitu saja dikatakan benar
atau salah dengan memakai metode kepastian.
Kini tiba pada pengertian baru, bahwa pengalaman tidak dapat menjadi tolok ukur, tetapi
menghasilkan jangkauan variasi yang berskala. Ini sebenarnya sudah kita ketahui sejak dulu, tetapi
tidak pernah kita sadari, seperti waktu, tidak kita sadari adalah suatu dimensi sampai Einstein
mengenalkan pada kita bahwa waktu adalah dimensi. Setelah kita menyadari waktu adalah dimensi,
banyak pengetahuan yang dahulu terasa benar, akhirnya kebenarannya hanya di dalam lingkup dan
kondisi yang sangat sempit dan tertentu.

Anda mempunyai kesadaran akan adanya pilihan. Pilihan ada ditangan anda. Tetap tinggal di
kepastian, atau berani mengalami realita baru dalam hidup anda.

Jakarta, Sabtu, 15 Maret 2008

Anton Widjojo (Pengamat Budaya)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 8 / dari 8 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Bagian Pertama

KOMPATIOLOGI

ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian


(Founder of Kompatiologi)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 9 / dari 9 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

I. Sejarah Kompatiologi

Mengapa Kompatiologi Bisa Lahir ?


Sejarah munculnya kompatiologi adalah perjalanan yang tidak disengaja dari seorang Vincent
Liong, menghadapi konsekwensi baik dan buruk dari budaya berpikir, berteori, pengkonsepan,
berasumsi, justifikasi dan punishment (hukuman).

Ranah yang saat ini dipelajari dan diteliti oleh Vincent Liong dan peneliti kompatiologi lainnya
adalah ranah yang masih jarang peminatnya; karena tanpa terjebak untuk berhadapan langsung
dengan konsekwensi baik dan buruk dari budaya berpikir, berteori, pengkonsepan, berasumsi,
justifikasi dan punishment (hukuman) hinggga melampaui klimaksnya, maka Vincent Liong tidak
pernah menemukan bahwa di balik budaya tersebut ada ranah keilmuan yang samasekali belum
terjamah; yaitu budaya untuk mengukur data mentah yang bisa saja dijustifikasi, dikonsepkan,
dipikirkan, diteorikan, bisa juga tidak.

Peneliti dengan budaya berpikir, berteori, pengkonsepan, berasumsi, dan lain sebagainya juga tidak
pernah ada yang mendapat ide untuk secara serius masuk ke ranah baru ini karena bahan/data jadi
(teori, konsep, asumsi, dan lain sebagainya) tidak bisa diproses mundur menjadi data mentah. Tidak
mungkin seorang yang berbudaya ingin mencari kebenaran yang meyakini konsep, asumsi, dan
judgement akan berinisiatif memundurkan proses kepada data mentah yang bisa saja dikonsepkan,
diasumsikan dan dijustifikasi atau bisa juga tidak diapa-apakan. Penelitian terhadap budaya untuk
mengukur data mentah ini dilakukan Vincent Liong sebagai usaha untuk melindungi diri sendiri
yang terlanjur terjebak sebagai object justifikasi yang berkonsekwensi mendapat punishment
(hukuman) karena dilabel Indigo. Vincent Liong sendiri mampu melakukan penelitian ke budaya
data mentah ini karena Vincent Liong tidak suka membaca sehingga pikirannya tidak rumit karena
tidak banyak keyakinan akan konsep, teori, asumsi dan judgement yang memper-rumit pikirannya.

Umumnya gambaran sebuah penelitian yang diawali dengan berasumsi, lalu dilanjutkan dengan
eksperimen untuk membuktikan apakah asumsi itu benar atau salah. Berbeda dengan penelitian
untuk menemukan metode yang berkaitan dengan proses ‘data mentah’ (sebelum judgement) yang
mau tidak mau harus meninggalkan cara ini; Penelitian diawali dengan diri yang diusahakan murni
tanpa asumsi, tanpa baca buku, tanpa baca teori. Eksperimen dilakukan untuk mencari apa yang
bisa diperkirakan pola kerjanya, lalu diuji secara empiris sampai dimana bisa diulangi, sampai
dimana tingkat konsistensi sebuah pola kerja teknis mekanistiknya tidak diragukan lagi, maka saat
itulah ditemukannya sebuah ilmu. Penciptaan bukanlah sebuah kegiatan mencontek,
mengumpulkan informasi, melainkan harus murni membuat dari nol. Setelah suatu pola kerja telah
ditemukan, selanjutnya ada tahap penelitian untuk mencari cara yang tepat untuk menjelaskan,
menyajikannya kepada masyarakat umum ; hanya setelah sampai pada tahap inilah kegiatan
membaca, membandingkan dengan teori yang telah ada boleh dilakukan karena sudah tidak lagi
mengganggu kemurnian sebuah penelitian. Hanya ada sedikit seniman, tetapi ada banyak
pengerajin yang bisa menghasilkan karya seni.

Ini alasannya mengapa penelitian kompatiologi dari sejak awal hingga jadi metode dekon-
kompatiologi-nya samasekali tidak mengharuskan keberadaan sponsor dan lembaga resmi yang
menunjang penelitian; semua biaya penelitian dibayar dari uang jajan Vincent Liong sendiri.
Sukarelawan kelinci percobaannya direkrut dari penggemar tulisan Vincent Liong dengan pola
hubungan kepercayaan antar teman. Penelitiannya menggunakan metode empiris-pragmatis,
eksperimental, bukan teoritis yang membutuhkan perbandingan sejarah teori, karena memang tidak
ada bukunya, karena ranah kelimuan jenis ini hampir belum pernah ada yang meneliti. Sampai hari
ini kompatiologi tidak mengikat komitment dengan lembaga apapun, semua biaya penelitian

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 10 / dari 10 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

ditanggung masing-masing peneliti, bahkan ketika kami mendapat sponsor yang mau membelikan
buku apapun yang ingin kami beli sebesar US$ 100-300 per bulan, sponsor itu jarang sekali kami
gunakan, karena Vincent Liong suka membeli buku untuk dikoleksi tetapi tidak suka membaca.

Tanpa kebetulan-kebetulan berurutan di atas maka anda tidak akan menemukan kompatiologi yang
ada saat ini ...

Tentang Manusia menurut Vincent Liong


Sebelum kita membahas sejarah penemuan kompatiologi, akan lebih jelas bilamana kita membaca
dulu pemahaman Vincent Liong tentang manusia menurut versinya yang tampak jelas di tulisan
“Tentang Manusia dalam Bumi Manusia”, selesai ditulis pada tanggal 2 Oktober 2003. Tulisan ini
dibuat sebelum Vincent Liong mendapat label indigo pada tanggal 27 Juni 2004.

Tulisan ini awalnya ditulis untuk diikutsertakan pada Lomba Analisa Karya Sastra Tingkat SMU
Pekan Bahasa , 28 Oktober 2003 di Sekolah Pelita Harapan. Vincent Liong mewakili The Gandhi
Memorial International School, Ancol – Jakarta tempat ia bersekolah, saat itu Vincent Liong duduk
di ‘kelas 11’ (setingkat kelas 2 SMU). Tulisan ini memenangkan juara pertama dalam lomba
tersebut dan sempat dibukukan di buku;”Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra”
halaman 1-10, diterbitkan oleh penerbit Malka (Kerjasama Pramoedya Institute & Penerbit Malka),
Cetakan I, Juni 2004.

Dengan membaca tulisan ini diharapkan pembaca akan memahami bagaimana pemikiran Vincent
Liong yang awalnya hanyalah sekedar konsep, dapat berkembang hingga bisa menjadi konsumsi
massal, tidak hanya untuk dibaca melainkan untuk dialami oleh masing-masing penggunanya di
pengalaman-pengalaman pribadi dengan kondisi, sudutpandang dan kepentingannya masing, dalam
bentuk produk metode dekon-kompatiologi.

Tentang Manusia dalam Bumi Manusia*

“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan
persoalannya.”(2002:135)

Pengantar

Studi mengenai manusia telah menjadi studi yang tidak ada habisnya. Ia terus menjadi
topik yang menarik di muka bumi. Sepanjang segala abad, manusia diajak untuk bertanya mengenai
siapakah dirinya. Filsafatlah yang sering menjadi jembatan atas pertanyaan itu. Namun hal ini pun
tidak pernah memuaskan. Antara aliran satu dengan yang lain seringkali tidak pernah melengkapi,
bahkan punya kecenderungan untuk saling mereduksi. Manusia menurut Nietszche tidaklah sama
dengan manusia menurut Sartre atau Foucault, sebagai contoh. Meskipun begitu, hal ini tidak
berarti bahwa manusia tidak pernah dapat dipahami.
Salah satu medium yang dapat memberikan alternatif untuk memahami manusia adalah
karya sastra. Mengapa karya sastra? Secara de facto, tidak dapat dipungkiri bahwa karya sastra
merupakan dokumen sosial yang bersifat historis. Ia berbicara tentang manusia dan waktu. Tentu
saja, perihal waktu demikian mengacu pada masa lalu. Masa lalu yang bagaimana? Apa hubungan
antara masa lalu dengan kehidupan manusia sekarang? Apakah karya sastra mampu memberikan
perspektif yang lebih jelas tentang gerak manusia dan waktu?

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 11 / dari 11 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam tulisan kecil ini, saya menyajikan beberapa
panorama yang berhubungan dengan eksistensi manusia melalui Bumi Manusia karya Pramoedya
Ananta Toer.

1. Minke: Figur Si Manusia Bumi


Cerita si manusia bumi diawali dengan perkenalannya kepada kita para pembaca dengan,

”Orang memanggil aku: Minke!”(2002:1).

Kata Minke(dibaca Mingke) merupakan plesetan dari kata monkey yang berarti monyet. Di
awal cerita ini, tokoh Minke telah dipersamakan dengan arti monyet, dan ia menganggapnya
sebagai suatu kewajaran. Minke sebagai seorang berdarah jawa, berkulit cokelat yang bersekolah di
sekolah dengan guru dan murid yang berkulit putih. Bahkan, untuk menatap wajah seorang bule
Jawa pun ia belum berani. Menggunakan atau belajar ilmu dan tehknologi barat pun ia
merasakannya sebagai sebuah kelainan, menyalahi wujud sebagai orang Jawa. Hingga pada suatu
saat ia pun berinisiatif mencatatnya sebagai hal-hal baru yang menarik hati. Begitulah, berpikir
seperti monyet yang menonton manusia. Ironis dan sangat menyakitkan memang. Dari sini, tampak
ketidakpuasan dan keputusasaan yang telah ditanamkan penjajah pada pri-Bumi di Bumi nya
sendiri, Bumi Manusia.
Pemandangan di Bumi Manusia dalam kacamata Minke yang masih merasa monkey
diawali dari berbagai peristiwa. Minke mulai membuka diri, untuk mulai berdamai dengan
lingkungan yang baru mulai ia tonton. Karena ini Bumi Manusia, tentu saja pemandangan itu terdiri
dari struktur manusia, baik komunitas maupun individu. Dalam proses membuat kesimpulan
mengenai sebuah manusia, Minke sebagai seorang manusia memiliki kesempatan untuk
menyimpulkannya melalui beberapa tahap.
Tahap Pertama, saya sebut sebagai konsep Sinecdoce totem pro parte, Sinecdoce pars pro
toto.(Sebagian melambangkan keseluruhan, keseluruhan melambangkan sebagian) yang saya lihat
ada di diri seorang Minke di bagian awal cerita. Tahap ini sangat penting dalam memandang
bagaimana Minke mengenal identitasnya. Sama seperti manusia pada umumnya, tahap ini dilalui
Minke ketika pertama kali ia berada di lingkungan sekolah yang mayoritas, atau bahkan
keseluruhan dari populasi adalah kelompok yang sama yaitu bangsa Eropa, sedangkan ia sendiri
adalah seorang Jawa, ia sendiri dan kesepian. Sehingga jika terjadi suatu konflik kecil saja, seorang
Minke sebagai seorang individu akan menyamaratakan semuanya dalam persepsinya bahwa
semuanya adalah sama. Trauma kesendirian ini akan melekat terus selama ia merasa sendirian.
Ketika trauma kesendirian itu telah melekat dalam diri Minke, event apapun yang
memungkinkan terjadinya keadaan kesendirian itu akan dianggapnya sebagai suatu hal yang akan
menindasnya. Seperti kalimat yang ada di pikiran Minke, ketika pertama kali mengunjungi rumah
tuan Mallema,”

Sekarang aku semakin mengerti: memang sudah jadi maksudnya untuk menghinakan aku
di rumah orang. Dan sekarang aku hanya dapat menunggu meledaknya
pengusiran.”(2002: 15).

Bukan hanya sampai di situ. Ketika Minke pertama kali bertemu dengan Annelies, anak
Herman Mallema. Saat itu Minke masih belum berani menatap wajah Annelies hanya karena
Annelies yang berkulit putih, halus dan berwajah Eropa. Yang ada di kepalanya hanya,

”Tidakkah dia jijik padaku sudah tanpa nama keluarga dan pribumi pula?”(2002:14).

Dalam kepalanya Minke sudah menyamaratakan bahwa semua orang Eropa akan
merendahkannya. Pada bagian ini dapat dikatakan bahwa sebagai seorang individu, ia belum
menyadari Bumi Manusia sebagai kumpulan yang terdiri dari individu-individu yang memiliki
perbedaan satu sama lain.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 12 / dari 12 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Tahap Kedua lebih mengacu pada proses pencarian jati diri Minke sebagai seorang pribadi.
Ini yang paling seru! Sebagian besar halaman dari buku ini mengangkat proses pencarian jati diri
Minke, bukan kesimpulan, bukan pula ending dari perjalanan itu. Disadari atau tidak, dalam tahap
ini seorang Minke mengalami bagaimana ia mudah menjadi kagum pada satu hal baru. Setelah itu,
kekaguman itu dapat pindah ke hal lain. Ia selalu berpikir untuk mencoba-coba untuk mengenal
dunia yang ia hadapi dan sekaligus mencari identitas sebenarnya. Di dalam proses ini beruntunglah
Minke karena memiliki orang-orang yang mendukungnya, membuatnya memiliki konsep yang
benar untuk dapat berhasil, sehingga ia tidak mudah pasang dan surut terlalu ekstrim pada konsep
yang ia buat sendiri. Semua mengarah pada peningkatan kemampuannya untuk menghargai orang
berdasarkan individu itu sendiri. Meskipun demikian, di buku ini belum diceritakan hingga tuntas
akhir dari perjalanan mencari jati diri yang dilakukan Minke.

2. Bumi Manusia: Sebuah Narasi Pribadi Kolektif


Perasaan merasa dibutuhkan tampaknya menjadi manipulasi manusia pada umumnya.
Minke secara khusus pun perlu untuk merasa dibutuhkan agar ia dapat menjalankan kehidupannya
dengan optimis. Sebut saja Annelies berperan sebagai seorang kekasih yang amat
membutuhkannya, yang akan sakit jika tidak bersamanya, yang bersedia mendengarkan
dongengnya atau mungkin hanya sekedar berpura-pura mendengar untuk membuatnya senang.
Peran Nyai Ontosoroh sebagai mama angkat yang melebihi peran ibunya sendiri. Juffrouw Magda
Peters yang suka memberikan pujian akan tulisannya, satu-satunya teman yang tidak menjauhinya
ketika ia dijauhi. Jean Marais mantan serdadu yang cacat dan kini tekun melukis bersama puterinya
May, yang mengharapkan kunjungannya untuk bertamu ke rumah mereka.
Pengalaman orang lain yang diadopsi menjadi pengalaman sendiri sehingga membangun
konsep yang benar mengenai manusia dan manusia lain. Yang ia dapat dari Annelies saat
mempekenalkannya akan hubungan manusia dan binatang peliharaan, seperti kuda misalnya.
Annelies sempat mengatakan,

”Kau harus berterimakasih pada segala yang memberimu kehidupan, kata Mama,
sekalipun dia hanya seekor kuda.”(2002: 32).

Sketsa karya Jean Marais yang melukiskan seorang serdadu kompeni sedang menginjakan
kaki pada perut seorang pejuang Aceh. Serdadu itu menyorongkan bayonet pada korbannya.
Hendak membunuh dan hendak dibunuh.(bdk.2002: 53) Konsep berpikir Maiko seorang pelacur
Jepang masa itu untuk mengumpulkan uang di negeri orang dan akan pulang untuk menikahi
kekasihnya Nakatani.(bdk. 2002:188). Yang tidak kalah penting cerita Nyai Ontosoroh mengenai
bagaimana Herman Mallema dengan sabar mengubah Nyai Ontosoroh hingga menjadi Nyai yang
berpendidikan tanpa melalui bangku sekolah.
Pengalamannya bersama the others membuat Minke menyadari bahwa problem setiap
manusia itu sama. Ia tidak lagi menjadi orang Jawa yang gumunan atas teknologi Eropa. Di Bumi
Manusia, juga ada Annelies yang bercita-cita menjadi bangsa ibunya, kaum bumiputera. Robert
Mallema yang ingin menjadi bangsa Eropa murni, bukan Indo. Maurits Mallema yang dendam pada
keluarga ibu tirinya, karena merasa ditelantarkan ayahnya. Iri pada keluarga bumiputera yang
dipandangnya rendah.(bdk. 2002: 373, 384). Semua itu membuat cara berpikir Minke menjadi
matang untuk ukuran jaman itu.
Apa yang dipaparkan ini adalah bentuk yang saya sebut sebagai Narasi Pribadi Kolektif.
Narasi ini menjadi bentuk pengalaman pribadi yang dipergunakan sebagai pertemuan dari
pengalaman bersama. Dengan begitu, pengalaman-pengalaman itu membuat orang semakin kuat
tanpa harus melalui semua pengalaman itu dalam hidupnya sendiri. Hal ini menjadi alasan mengapa
Minke tidak perlu mengalami semua peristiwa yang dialami orang-orang di luar dirinya. Melalui
pertemuan-pertemuannya dengan beberapa tokoh yang singgah dalam hidupnya, ia justru diisi
sehingga eksistensinya semakin berisi. Bahkan hal ini pun tidak terjadi secara sepihak saja. Kita
tahu bahwa Annelies pun misalnya, memiliki harapan akan masa depan melalui pertemuannya

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 13 / dari 13 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

dengan Minke. Kedua-duanya saling mengisi dan menjadi sebuah narasi yang tidak dapat terbelah
begitu saja.

3. Refleksi Bumi Manusia dan Pertanyaan tentang Manusia


Kepada saya, Bumi Manusia berbicara tentang sebuah ajakan untuk menjadi Minke.
Bagaimanakah dalam dunia Minke kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di Bumi Manusia
yang sesungguhnya. Hal demikian dapat dipahami karena bagaimanapun juga karya sastra yang
bersifat fiktif selalu menjadi nyata ketika proses kehidupan mulai direnungkan. Tentu saja dalam
hal ini akan berbeda cara mengapresiasikannya antara pribadi satu dengan yang lain. Pertanyaan
terbesar dari sang Bumi Manusia yang dapat saya tangkap adalah, “Bagaimanakah hubungan antara
Manusia dan Manusia lain yang sama-sama anak Bumi ketika salah satu dari mereka harus
disudutkan oleh batas-batas yang seringkali tidak dapat ditoleransi oleh kemanusiaan itu sendiri?”
Bukankah, telah disabdakan bahwa pada dasarnya setiap manusia ingin menjadi baik dan semakin
baik?. Apabila dalam perannya seseorang merasa bersalah, ia benar-benar berniat kembali
melakukan hal baik, diberi kesempatan, dan belum tentu ia menjadi baik. Namun, bila seseorang
berpikir bahwa dirinya mempunyai konsep sendiri untuk menjadi baik, beri ia kesempatan. Yang
ada hanya kemungkinan keberhasilan yang lebih. Tetapi tidak ada yang tahu apakah ia akan
berhasil.
Setelah mendapatkan konsep yang benar, hal berikutnya yang dibutuhkan manusia adalah
faktor lingkungan. Setiap manusia hanya berharap lingkungannya bersedia menerima perubahannya
secara perlahan. Tidak ada manusia yang sengaja menyembunyikan perbuatannya. Seperti saat kita
malu, tidak ingin orang lain tahu masalah keluarga kita. Setiap manusia hanya melindungi dirinya
sendiri dengan tidak mengatakannya kepada orang lain. Pertanyaan bagi kita? ”Apakah kita akan
mentoleransi batas-batas kebenaran yang dimiliki orang lain?” Sebuah arti yang sama dengan
berpikir positif bahwa dalam diri orang lain juga ada kemungkinan bahwa ia akan mentoleransi
batas-batas kebenaran kita. Mungkinkah di Bumi Manusia saat ini,”Masa depan alternatiflah yang
telah menjadi sejarah sebenarnya.” Apakah masa depan merupakan sebuah jalan cerita yang dimana
selalu terdapat jalan cerita alternatif, yang sebenarnya adalah sejarah yang sesungguhnya? Apakah
sejarah sesungguhnya yang lebih baik, impian akan baik yang kita buang sendiri?
Ketika kita memperkirakan sebuah penilaian mengenai benar atau salah, bukankah yang
diuji sebenarnya adalah bagimana cara pandang kita terhadap batas-batas kebenaran orang lain.
Pertanyaan yang terus timbul,”Mungkin saja dalam tindakan yang dilakukan orang lain tersebut,
batas-batas kita akan dilecehkan, dilanggar.” Pertanyaan ini menghantui kita dan menghasilkan
jawaban,"Pasti" di dalam kepala kita. Ketika mencapai posisi demikian, lupalah kita bahwa
komposisi pikiran di Bumi Manusia itu sama, di dalam diri orang yang kita anggap sebagai musuh
kita, orang tersebut pun akan berpikir,"Apakah dia akan menghargai batas-batas yang saya anut,
atau ia akan melanggar, menghancurkannya." Minke sendiri pun mencoba untuk memahami dan
mentoleransi batas-batas di luar dirinya. Dengan cara seperti itu ia menjadi tidak eksklusif. Ia
membuka dirinya pada dunia. Ini juga berarti bahwa ia mau menerima segala konsekuensi atas
eksistensi dirinya dan menghargai eksistensi yang lain.
Memang, ada istilah,”Menyerang adalah pertahanan terbaik” ini memang berlaku di semua
mahkluk di Bumi Manusia, tetapi bukankah kitalah sebenarnya yang melanggar batas-batas orang
lain, kitalah yang menjadi penjahat yang melakukan kejahatan di diri orang lain. Sekarang,
bagaimanakah jika kita mencoba berpikir sebagai pihak yang melakukan kejahatan? Dalam proses
melakukan sesuatu selalu proses yang sama yang berawal dari konflik di dalam diri si manusia,
lahirnya niat, lalu perencanaan (baik jangka panjang maupun jangka pendek), lalu ada moment
sebelum melakukan hal yang dapat dianggap kejahatan tersebut, sampai akhirnya event dimana
kejahatan tersebut terjadi. Bukankah dalam setiap bagian proses mulai dari konflik di dalam
dirinya sendiri, niat, perencanaan, hingga moment sebelum terjadi, manusia selalu memiliki pilihan
untuk memilih?
Kembali ke saat kita mengkhayalkan sebuah kemungkinan yang dapat saja merugikan kita
di masa mendatang. Kita melakukan sebuah tindakan pencegahan. Bisa saja ada kemungkinan
bahwa kejahatan itu terjadi karena kejahatan baru yang sebenarnya kita lakukan untuk melindungi

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 14 / dari 14 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

diri kita. Dimana tanpa adanya tindakan pencegahan yang kita lakukan, kejahatan yang merugikan
kita sebenarnya tidak perlu terjadi. Siapa tahu masa depan yang sebenarnya adalah apa yang kita
impikan saat ini. Masa depan yang menjadi tempat bagi manusia untuk tidak sulit berbuat baik.
Mari bertoleransi, sebagai Sang Manusia di Bumi Manusia. Tak peduli, baik menang atau
kalah dalam sejarah yang memiliki daya menggilas, melindas. Paling tidak kita telah mampu
bertahan untuk tetap menolak pada penggusuran batas-batas yang kita anut. Bukankah kemenangan
yang sesungguhnya adalah kemenangan untuk mengalahkan kekalahan kita sendiri? Rendah hati,
mengatasi ketakutan, ketidakpuasan, kesombongan untuk tidak menang seperti Minke yang merasa
dirinya bukan monyet.. Selamat menjadi Minke.

Jakarta, 2 Oktober 2003


Vincent C. Liong

Kehilangan Kebebasan Setelah Menjadi Indigo


Sejarah Kompatiologi diawali dari pelabelan indigo terhadap Vincent Liong pada bulan Juni 2004
yang mengakhiri kebebasan Vincent Liong sebagai manusia biasa yang saat itu seorang penulis,
yang menulis catatan hariannya secara rutin di maillist dan dibaca oleh para pembaca tetapnya.

Sebelum menjadi indigo Vincent Liong samasekali tidak pernah berurusan dengan dunia psikologi,
metafisika dan spiritual. Apapun yang Vincent Liong tulis diterima oleh pembacanya sebagai karya
sastra biasa untuk dicerna dengan kacamata masing-masing pembaca bukan suatu data pribadi yang
bisa dicerna untuk judgement psikologis dan punishment sebagai bentuk penyembuhan dengan
alasan-alasan yang dianggap legal ala psikologi.

Awalnya Vincent Liong menerima kondisi di cap Indigo dengan euforia pada keadaan barunya,
hingga membuka praktik sebagai ahli kundalini sampai akhir tahun 2004. Pada akhir tahun 2004
Vincent Liong mulai sadar, bahwa kehidupan semacam ini bukanlah yang diinginkannya. Di
kehidupan yang baru ini ’menjadi anak indigo’ Vincent Liong dikultuskan dengan dianggap sebagai
anak indigo, orang sakti, utusan Tuhan, penyelamat, dan lain sebagainya yang dianggap dan
diperlakukan berbeda dari orang kebanyakan; di sisi lain judgement-judgement psikologi yang
sifatnya suka memvonis orang lain sakit jiwa, dan memberikan hukuman entah dengan
pengkucilan, penekanan mental, hinggga berbagai teror terhadap anggota keluarga dan teman-
teman Vincent Liong. Yang paling parahnya setelah lahirnya kompatiologi tahun Agustus 2005 s/d
Desember 2007 dengan bahasa halusnya sebagai terapi agar sembuh.

Bila Vincent Liong diam saja maka sejarah Vincent Liong sebelum diberi label indigo lenyap
begitu saja digantikan sejarah Vincent Liong versi para ahli psikologi, metafisika dan spiritual yang
tidak pernah mengenal pribadi Vincent Liong, yang memiliki kepentingan akan berkembangnya
fenomena yang menghebohkan; issue anak indigo.
Bila Vincent Liong membela diri dengan berusaha melawan pelabelan tersebut maka data-data sifat
anak indigo yang dipropagandakan oleh para ahli tersebut bisa menjadi alasan bahwa Vincent
Liong benar-benar indigo. Misalnya kalau Vincent Liong berusaha memperbaiki issue yang ada
tentang kehidupan sehari-harinya, maka para ahli indigo akan mengatakan kalau Vincent Liong
sebagai anak indigo memang agresif, tidak mau diatur, dan lain sebagainya sehingga membenarkan
keberlanjutan kegiatan pelabelan tersebut. Jadi diam salah, melawan juga salah; Vincent Liong
yang tadinya tidak tahu mengenai dunia psikologi, metafisika dan spiritual menjadi terjebak oleh
label-label didalamnya.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 15 / dari 15 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Mulai awal tahun 2005 setelah berhenti mengajar kundalini, Vincent Liong akhirnya mulai mencari
bagaimana cara untuk mendapatkan kembali dirinya yang bebas dari legalisasi pelabelan sebagai
anak indigo, dengan konsekwensi judgement dan hukuman-hukuman yang dilegalkan ala psikologi
akibat menjadi anak indigo. Pencaharian ini dimulai awal tahun 2005 dan berakhir sekitar
pertengahan tahun 2006. Selama pencarian cara tersebut Vincent Liong menemukan bahwa
masalah ini tidak hanya ditemui seorang Vincent Liong dalam menghadapi fenomena anak indigo
yang ditempelkan kepada dirinya, banyak orang dalam kasus berbeda menemui masalah serupa;
hubungan yang terputus antara konsep dengan kenyataan yang dialami di kehidupan kita sehari-
hari.

Kita hidup pada jaman dimana jenis logika yang sedang mode adalah jenis logika yang bersifat
objektif; memandang, menilai, mengkonsepkan suatu hal dari luar arena sehingga sulit bersentuhan
dengan hal itu sendiri secara langsung di dalam arena. Menonton ilmu dengan membaca,
mendengar ceramah, menghafalkannya dan lulus ujian teori tidak membuat seseorang mampu
mempraktikkan ilmu itu sendiri tetapi dapat secara legal dianggap ahli. Menonton indigo, menonton
spiritual & hal keagamaan, menonton konsep-konsep pengembangan diri, bisa membuat orang
tampaknya lulus dalam hal-hal tersebut, tetapi secara praktikal di kehidupan sehari-hari hal itu tidak
membantu pencapaian apa yang dituju. Mengerti, paham konsepnya bukan berarti mampu dan telah
menjalani.

Karena persamaan kebutuhan dalam pencarian jalan keluar ini, maka banyak bermunculan orang-
orang yang bersedia menjadi sukarelawan yang berusaha membantu dengan caranya masing-
masing tanpa mendapat imbalan uang, malah justru mengeluarkan biaya sendiri untuk penelitian
dan rela berkorban dengan ikut mengalami tekanan teror-teror yang terjadi bersama dengan Vincent
Liong dalam pencarian kompatiologi. Penelitian dalam kompatiologi adalah budaya pencarian yang
dilakukan tanpa pamrih, bukankah sebuah tugas yang dilakukan demi mendapat ijasah, mendapat
gelar dan ketenaran, bukan meneliti kalau dibayar saja.

Pencarian Vincent Liong dari mulai di cap sebagai anak indigo dengan konsekwensi menghadapi
akibat-akibatnya karena menjadi sang terhukum adalah kontemplasi tentang budaya ‘judgement’
(pelabelan). Dalam perjalanan tersebut ada saatnya dimana kontemplasi itu sudah melampaui ranah
budaya judgement itu sendiri hingga sampai pada ranah data mentah yang sudah terlupakan oleh
manusia kebanyakan, sehingga sangat jarang sekali ilmu dan penelitinya.

Walaupun demikian, bila Vincent Liong diberi pilihan untuk mengulanginya lagi atau tidak,
mungkin saya akan memilih tidak, sayangnya saat itu Vincent Liong tidak diberi kesempatan untuk
memilih. Semoga saja Vincent Liong yang lain (anak yang dicap indigo, autis, ADHD, dan lain
sebagainya yang lain) bisa memilih di masa yang akan datang. Untuk itu perjuangan melawan
budaya judgement dengan vonis dan konsekwensi hukuman pengkucilan dan penindasan di ruang
publik ala psikologi tetap perlu dilakukan, bukan untuk membasmi melainkan untuk terus
mengingatkan.

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi
suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan
meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur
dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam
kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku,
supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam
siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku
lemah, maka aku kuat.
(2 Korintus 12:7-10)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 16 / dari 16 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Ide Dasar Kompatiologi Menggunakan Minuman bukan Kata-Kata


Ketika saya mulai di cap sebagai anak indigo, maka hilanglah semua cerita masa lalu saya di luar
definisi arti kata anak indigo tersebut. Jadi indigo enaknya jadi tenar, tidak enaknya cerita tentang
saya digantikan oleh teori anak indigo, yang ditulis oleh orang yang kenal saya saja tidak. Jadi ada
sekelompok orang yang tahu Vincent Liong yang bersifat indigo saja, dan sekelompok orang lain
yang hanya tahu bahwa Vincent Liong adalah orang biasa dan mentertawakan cerita anak indigo
tersebut.

Kalau saya bilang bahwa anda itu baik, maka saya harus menghapus cerita masa lalu anda yang
jahat. Kalau saya bilang bahwa anda itu jahat, maka saya harus menghapus cerita masa lalu anda
yang baik. Tentunya saya tidak bisa bilang bahwa anda itu baik dan jahat dalam satu kalimat, atau
anda 51% baik dan 49% jahat juga sulit mengatakannya. Kalau saya bilang bahwa anda itu baik
lalu di kalimat berikutnya saya bilang bahwa anda jahat, maka saya orang yang plin-plan dan tidak
bisa dipegang kata-katanya. Saya juga tidak bisa bilang bahwa anda orang yang rendah hati tetapi
tinggi hati. Apapun yang disampaikan dengan kata-kata, mau tidak mau harus memilih informasi
mana yang didukung dianggap benar-benar ada, dan informasi mana yang dianggap tidak ada
meskipun kita tahu bahwa pada kenyataannya itu juga ada. Ketika saya bilang bahwa anda jahat
maka saya sebenarnya sadar benar dan tahu benar bahwa anda juga punya sisi baik, tetapi saya
tetap akan mengatakan anda jahat atau anda baik, tidak keduanya.

Jadi bagaimana saya bisa tetap menjadi Vincent Liong yang indigo sehingga tetap bisa mendapat
manfaatnya menjadi tenar, ajaib, dan lain sebagainya, sekaligus tetap menjadi Vincent Liong yang
orang biasa sehingga tidak kehilangan kehidupan sehari-hari saya. Saya akhirnya menemukan
jawabannya pada segelas minuman. Ketika saya, dan beberapa orang lain minum dari segelas
minuman yang sama, maka sangat mungkin akan ada yang berpendapat bahwa minuman itu manis,
asin, pahit, asam atau pedas; tetapi dijamin 100% bahwa informasi utuh (data mentah) yang
didapatkan tentang minuman tersebut 100% sama. Seorang Vincent Liong juga tetap Vincent Liong
yang sama, meskipun sebagian orang menganggap Vincent Liong indigo dan sebagian lagi
menganggap Vincent Liong orang biasa. Vincent Liong sebagai manusia seutuhnya seperti halnya
segelas minuman tersebut sebelum dibicarakan dengan versi penilaian yang berbeda-beda adalah
sebuah data mentah, ketika dibicarakan (judgement) maka jadilah satu pendapat dengan yang lain
saling bertentangan. Maka dari itu orang yang mampu memahami keseluruhan informasi dari suatu
masalah secara data mentah biasanya lebih memilih diam samasekali daripada berpendapat,
berkata-kata itu sulit.

Jadi adakah suatu metode, ilmu, atau apapun bentuknya yang bisa membuat Vincent Liong dan
segelas minuman tersebut sebelum dibicarakan? Yang ada di ranah data mentah, bukan pendapat
kata-kata... Inilah yang dikerjakan dalam penelitian kompatiologi, hal yang dijual dalam produk
dekon-kompatiologi yang menggunakan minuman yang diminum, bukan teori yang dikatakan
sebagai produk utamanya.

Melihat peta masalah secara menyeluruh di luar benar-salah yang bersifat sepihak dan subjektif
dengan melihat berbagai kemungkinan yang ada, tetap tidak bisa meninggalkan kenyataan bahwa
saat kita menentukan sebuah keputusan dan bertindak, kita tidak bisa lepas dari menentukan benar
salah yang sepihak yang kita pilih sesuai dengan subjectivitas diri kita. Sebab kita memiliki sebuah
peran spesifik di dalam arena, bukan sekedar pengamat yang tidak perlu mengambil keputusan.
Lalu guna dari melihat masalah secara keseluruhan adalah; agar kita bisa jeli dan tidak mudah
terprofokasi oleh sudut-pandang dan keberpihakan pihak lain, yang seolah-olah kita rasakan
sebagai pendapat diri kita sendiri.

Dalam perenungan, pencernaan permasalahan di dalam tiap manusia bisa ada dua kemungkinan;
permasalahan tersebut masih merupakan data mentah yang benar-salahnya masih bersifat relatif,

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 17 / dari 17 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

atau permasalahan tersebut sudah berbentuk judgement benar atau salah yang pasti, sehingga proses
pengambilan keputusan yang memberikan kesempatan si manusia untuk memilih sebenarnya sudah
tidak ada.

Manusia, bahkan hewan sekalipun (seperti anjing saya Blacky) secara alamiahnya masih memiliki
kesempatan untuk memilih, menentukan keputusannya, menentukan benar salahnya secara
subjektif, dari perenungan dan pencernaan data mentah yang benar-salahnya masih bersifat relatif.
Sistem pendidikan yang ilmunya pun sudah berbentuk judgement, tidak memberikan kesempatan
memilih alamiah yang adalah hak setiap manusia dan hewan. Sehingga derajat kemanusiaan
seorang manusia sebagai makhluk yang mampu berpikir, merenungkan dan mencerna
permasalahannya secara subjektif, direndahkan lebih rendah dari binatang. Manusia itu tidak lebih
dari sekedar robot, yang hanya mampu melakukan copy & paste, menyalurkan dan menjalankan
data yang diinputkan saja tanpa punya hak untuk berperan aktif sebagai pengambil keputusan
menentukan benar-salahnya sendiri.

Demokrasi yang sesungguhnya bagi manusia dan hewan menurut saya, adalah hak untuk berpikir,
merenungkan dan mencerna permasalahannya sendiri, secara mandiri memproses data mulai dari
data mentah hingga menjadi judgement subjektif dengan benar-salah versi masing-masing.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 18 / dari 18 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

II. Penyelesaian Masalah


Jadi bagaimana mencari cara keluar dari pelabelan indigo dan sekaligus menemukan cara
menyelesaikan masalah-masalah yang diakibatkan budaya logika objektif yang tidak dilengkapi
dengan budaya subjektif membuat orang terpisah dengan realita kehidupannya masing-masing?

Untuk menggambarkannya dengan lebih sederhana saya coba bercerita tentang anjing kesayangan
saya Blacky yang sejak kecil tidur sekamar dengan saya.

Anjing yang ber-Iman


Di rumahku, aku memelihara tiga ekor anjing. Yang tidur sekamar denganku namanya Blacky
seekor anjing tekel jantan berwarna hitam. Yang dua ekor lagi aku belum memberi nama mereka
yang seekor mini pincer jantan yang seekor lagi tekel betina, keduanya berwarna coklat.

Blacky aku beli di Mega Mall Pluit sekitar awal tahun 2000, dia lahiran akhir tahun 1999, jadi saat
ini (tahun 2007) blacky sudah berumur tujuh tahun. Sedangkan yang due akor lagi kubeli satu tahun
kemudian jadi selisih umurnya kira-kira satu tahun.

Sejak kubeli Blacky kuperlakukan seperti manusia, kuberi dia lemari kayu untuk bersembunyi tidur
siang, dan kursi malas kulit sapi asli untuk tidur malam di kamarku. Selain makan makanan
dogfood, Blacky juga selalu kuberikan sebagian dari apapun yang aku makan. Awalnya aku pikir
Blacky bisa bersahabat dengan dua anjing baru yang saya beli untuk menemani Blacky agar tidak
sendirian. Tetapi rupanya Blacky tidak terima kalau rumahnya didatangi dua anjing baru tersebut,
sehingga dua ekor anjing itu lebih banyak saya kurung di kandang. Blacky terlanjur menganggap
dirinya memang layak diperlakukan sebagai manusia dan dua anjing baru itu hanyalah anjing.

Pada awal tahun 2007 Blacky sempat menderita sakit prostat disusul kelumpuhan separuh badan
mulai dari belakang kaki depan hingga ekor; jadi hanya kaki depan dan kepala blacky yang masih
tidak lumpuh. Kontrol diri Blacky terhadap penis dan duburnya untuk mengatur buang air kecil dan
besar juga tidak terkontrol lagi. Ketika dibawa ke dokter, dokter bilang bahwa penyakit ini tidak
bisa diobati sehingga harus disuntik mati, saya selalu menolak.

Alasannya, setelah diteliti lagi rupanya penyakit prostat yang diderita Blacky diakibatkan kebiasaan
menahan kencing kalau tidur di kamarku. Kalau pintu ditutup ia hanya diam menahan kencing
semalaman bila ingin kencing agar tidak merepotkan orang-orang serumah. Bahkan setelah lumpuh
kalau dia ingin buang air kecil atau besar Blacky selalu berusaha menyeret badannya ke halaman
kerikil hingga tubuh bagian bawahnya luka-luka; usaha itupun usaha yang percuma karena ketika ia
berpikir ingin buang air besar kelumpuhan sepatuh badannya membuat dia tidak tahu bahwa saat ia
berpikir ‘ingin’ saja, sebenarnya ia sudah buang air saat itu juga. Jadi di lantai rumah tampak alur
jejak kencing danh tahi Blacky dalam usahanya untuk menjadi anjing yang baik yang buang air
pada tempatnya. Jadi tiap hari ayah dan pembantu saya menceboki Blakcy setiap habis buang air.
Blacky untuk sementara dikandangi dulu agar tidak merepotkan orang serumah yang harus
mengepel bilamana ia buang air.

Jadi sakit blacky diakibatkan oleh keIman-an blacky untuk tetap berusaha benar dengan buang air
pada tempat yang benar, baik di saat badan sehat maupun setelah badan lumpuh akibat ‘iman’ itu
sendiri (akibat terbiasa menahan keinginan buang air ketika terkunci di dalam kamar).

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 19 / dari 19 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Dalam diri mamalia jenis apapun selalu ada kegiatan mengukur ‘data mentah’ (instingtif) yang
diperoleh dari alat pengindraan itu sifatnya seperti alat ukur subjektif yang terdiri dari penggaris
ukur mulai dari minimum, skala-skala hingga maksimum. Misalnya bicara tentang panas-dingin,
terang-gelap, keras-lemah dan tinggi-rendah suara, manis-asam-asin-pahit, berbagai macam bau,
suka-tidak suka, dan lain sebagainya ; semuanya bersifat kira-kira kurang atau lebih dengan
toleransi ketidaktepatan tertentu. Pengalaman bertemu dengan perasaan tuannya yang sedang marah
atau kesal kalau Blacky buang air sembarangan membuat Blacky memiliki memori tidak
menyenangkan bila buang air sembarangan sehingga membentuk ‘judgement’ (konsep / intuisi)
bahwa buang air sebarangan itu salah.

Konsep ‘iman’ seekor Blacky untuk tidak buang air sembarangan adalah ranah konseptualnya,
judgement terhadap data mentah yang bisa diistilahkan dengan intuisi; dengan ranah instingtif yang
berisi data mentah yang bisa dijudgement dan bisa juga tidak.

Ranah Konseptual dengan Judgementnya memiliki konsekwensi terhadap pelanggaran atau


ketaatan pada judgement. Pada suatu hari yang saya melepaskan (dua ekor anjing selain Blacky)
tersebut untuk bermain di halaman, Blacky yang melihat tersebut bersikat tidak bersahabat kepada
saya. Blacky tidak mau saya elus-elus, kalau saya sentuh sengaja batuk, sok tidak mau dekat, ketika
saya tidur Blacky mendekatkan kepalanya, melihat ke arah saya dengan wajah yang bertanya
sambil memaksakan sesuatu.

Bicara tentang kebenaran yang paling penting adalah kebenaran yang paling mendasar (absolut),
hal ini tidak selalu bisa dipahami dengan kebenaran logika. Tanpa perlu diajarkan tiap makhluk
hidup belajar kebenaran-kebenaran mendasar melalui pengalaman indrawinya sejak keluar dari
kandungan ibunya, berhadapkan pada permasalahan-permasalahan yang membuat dirinya mau
berkompromi menimbang-nimbang pilihan paket konsekwensi yang ada. Seperti ketika melakukan
kesalahan (misalnya buang air sembarangan), maka seekor Blacky merasa tidak enak. Blacky bisa
memutuskan memilih perasaan yang enak karena pernah mengalami variasi range pengalaman dari
paling enak sampai paling tidak enak. Sedangkan logika selalu bicara tentang kesepakatan
sekelompok individu dengan hukuman bila melanggarnya tanpa kompromi antara diri sendiri
dengan diri sendiri.

Judul tulisan ini ‘Anjing yang berIman’ dicetuskan pertama kali oleh Parakitri T. Simbolon yang
kemarin siang makan bersama saya di resto Taichan Pondok Indah Mall 2. Saat ini Blacky sudah
sembuh total setelah mendapat perawatan akupuntur dan masih tidur sekamar dengan saya.
Mungkin karena saya sering melakukan observasi terhadap anjing saya Blacky, maka banyak
oknum psikologi yang mengesahkan bahwa saya (Vincent Liong) harus diperlakukan sebagai
anjing, dan tidak pantas diperlakukan sebagai manusia. Jujur saja saya banyak sekali belajar dari
prilaku seorang Blacky (eh salah... seekor blacky).

Antitesis dari Budaya Judgement dan Punishment


Dari pengamatan Vincent Liong terhadap hal-hal di sekitarnya (termasuk juga anjingnya yang
berIman) dan merenungkan apa yang terjadi selama proses labelisasi terhadap dirinya. Dalam
kondisi terputusnya hubungan antara kegiatan pengkonsepan dan kenyataan yang dialami, ada
beberapa point yang harus diperhatikan dalam mencari penyelesaian dibalik permasalahan ini.
Misalnya tentang;

1* Budaya baca, ceramah dan menghafal.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 20 / dari 20 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Ketika kita membaca, mendengar ceramah, menghafal, dan lain sebagainya maka kita cenderung
menjadi pentonton. Penonton itu punya kecenderungan menonton secara pasif apa yang terjadi
dalam arena, bisa membicarakan kejadian yang ditonton, berkomentar memberi penilaian. Tetapi
karena tidak di dalam arena maka tidak mendapat kesempatan untuk mempengaruhi apa yang
terjadi di dalam arena.

Mengalami berbeda dengan menonton, kalau anda mengalami sesuatu maka anda tidak mendapat
ceritanya dari orang lain. Pengalaman itu cuma perubahan-perubahan pada apa yang kita rasakan
yang ‘bisa naik atau turun’ (binair) pada masing-masing alat indera kita seiring dengan perjalanan
waktu. Antara ekstrim maksimum dan minimum ada ruang abu-abu yang berisi banyak skala-skala
yang tidak terhingga banyaknya.

Dalam menghadapi hal di luar diri kita, kita harus memilih satu diantara dua hal ini; Kalau kita
sudah mendengarkan cerita, teori, dan lain sebagainya tentang sesuatu maka walaupun kita
berhadapan langsung dengan sesuatu itu, kita tidak bisa lagi mengalaminya secara apa adanya.
Sebab cerita, teori, dan lain sebagainya telah mengisi pikiran kita sehingga kita memiliki asumsi
atas sesuatu yang kita alami tersebut. Apa yang kita anggap sebagai pengalaman kita hanyalah
sugesti diri kita sendiri atas asumsi, yang sudah kita terima sebelumnya yang mengalahkan sensasi
yang sebenarnya.

Kalau kita mengalami sesuatu terlebih dahulu, maka ketika berhadapan dengan cerita, teori, dan
lain sebagainya tentang sesuatu itu, maka pemahaman kita akan menjadi amat sangat sederhana
dibanding cerita, teori, dan lain sebagainya yang dibaca, diceramahkan dan dihafalkan sehingga
kita menjadi malas bercerita dan berteori.

Data mentah seperti misalnya pengalaman indrawi yang apa adanya bisa diproses menjadi konsep,
teori, asumsi, dan lain sebagainya ;tetapi bisa juga tidak. Data matang (konsep, teori, asumsi, dan
lain sebagainya) tidak bisa diproses kembali menjadi data mentah.

Binair adalah bilangan berbasis dua yaitu; nol dan satu. Ide binair berasal dari alat mekanik yang
memiliki yang memiliki fungsi menghubungkan arus listrik (satu) atau memutuskan arus listrik
(nol). Dalam penggunaannya bilangan berbasis dua dapat berkembang ke kelompok empat,
delapan, enam belas, tiga puluh dua, enam puluh empat, seratus dua puluh delapan, dua ratus lima
puluh enam, lima ratus dua belas, dan lain sebagainya. Semakin besar pengelompokannya maka
resolusinya semakin tinggi dan toleransi kesalahan semakin kecil. Seperti pada alat musik yang
menggunkan bilangan yang disepakati berbasis tujuh yaitu; do, re, mi, fa, sol, la, si. Maka ada
toleransi ketidaktepatan antara nada yang satu ke nada berikutnya. Ketika manusia bersuara, atau
alat musik gesek seperti biola bersuara; maka tidak terjadi toleransi ketidaktepatan antara nada yang
satu ke nada berikutnya, juga tidak ada ketepatan bahwa nada do misalnya, akan selalu tepat do
seperti pada alat musik piano.

Dalam setiap alat pemerosesan informasi misalnya komputer dan manusia; hal-hal yang ada di
dalam pemerosesan informasi tersebut bisa bersifat data mentah yang ‘bisa naik atau turun’ (binair)
atau data matang. Tetapi ketika data pada komputer dimasukkan melalui input device seperti
misalnya keyboard, atau dikeluarkan melalui output device seperti misalnya layar monitor maka
data tersebut mau-tidak-mau bersifat data matang. Ketika data dalam manusia berproses dalam diri
si manusia sendiri maka bisa bersifat data mentah maupun data matang. Tetapi ketika si manusia
berbicara, bertindak, menetukan keputusan, dan lain sebagainya di dunia nyata, maka data tersebut
mau-tidak-mau bersifat data matang.

Hal-hal yang berada di luar diri komputer dan manusia mau tidak mau bersifat data matang bukan
data mentah, karena dalam berkomunikasi dibutuhkan kesepakatan dan kesepahaman bahasa antara
satu dengan yang lain.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 21 / dari 21 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

2* Menggunakan kata-kata

Alat penyampaian yang paling banyak digunakan adalah kata-kata. Untuk menjelaskan sesuatu
dengan konsep, teori, dan lain sebagainya kata-kata memang alat yang paling mudah. Yang menjadi
masalah kata-kata itu memiliki ruang pemaknaan yang terbatas. Bilamana kata-kata memiliki ruang
pemaknaan nol dimensi, maka ada garis yang memiliki ruang pemaknaan satu dimensi (titik
minimum sampai titik maksimum), gambar yang memiliki ruang pemaknaan dua dimensi (panjang
dan lebar), bangunan ruang tiga dimensi yang memiliki ruang pemaknaan tiga dimensi (panjang,
lebar dan tinggi), juga hal-hal yang ruang pemaknaannya memiliki dimensi yang lebih besar dari
tiga dimensi (lebih kompleks) seperti misalnya rasa dan perasaan.

Semakin luas dimensi pemaknaannya, maka semakin dalam (subjektif) kita mengalami sesuatu,
semakin sempit dimensi pemaknaannya maka semakin terkonsep, terkotak-kotakkan (objektif)
sesuatu yang kita amati. Seorang yang mengamati sesuatu dari luar bisa banyak bercerita tentang
sesuatu dengan kata-kata, tetapi tetap saja tidak mengalaminya. Seseorang yang mengalami sesuatu,
akan sulit menceritakan sesuatu tersebut dengan kata-kata tetapi paham benar tentang sesuatu dan
mampu melakukannya.

3* Budaya Objektif

Berbagai dimensi ruang pemaknaan yang ada misalnya kata-kata, angka, gambar, hingga bagunan
tiga dimensi memberikan informasi yang sifatnya objektif. Bila kita menonton sebuah film,
ceramah dengan kata-kata, dan lain sebagainya kita dibiasakan untuk menonton dengan sudah
dihadirkan pemain utama, good cop, bad cop, dan lain sebagainya hingga tokoh-tokoh figuran yang
paling tidak penting, dengan pola hirarki dari yang paling penting hingga yang paling tidak penting
dengan sangat jelas. Begitu juga dengan gambar dan bangunan tiga dimensi menyuguhkan
informasi bagi kita dari yang paling jelas terlihat hingga yang paling tidak terlihat. Untuk bisa
mendapat kebebasan memilih object utama secara bebas, terhadap object utama lain yang juga bisa
dipilih dengan bebas, maka data harus ditampilkan dengan format data mentah. Yang bisa
dibandingkan posisi subject data yang satu terhadap subject data yang lain, tidak selalu harus
memiliki titik nol yang bersifat ‘universal’ (berlaku umum). Ini yang sering Vincent Liong
istilahkan dengan pengukuran subjektif.

Dalam kerangka logika matematikanya;


Budaya objektif cenderung melihat suatu hal dari luar hal tersebut, sehingga matematikanya
bersifat bilangan bulat karena bila melihat dari luar maka yang tampak adalah jumlah benda
tersebut mulai dari 0, 1, 2, dst tidak ada batasnya. Operasi matematikanya misalnya; penambahan,
pengurangan, yang berkembang menjadi perkalian dan pembagian yang dapat berkembang lagi
menjadi pangkat dan akar.
Budaya subjektif cenderung melihat suatu hal dari dalam dirinya, karena terbatas dalam satu
individu diri sendiri maka matematikanya bersifat bilangan persentase yaitu 0% sampai 100%, atau
minimum nol dan maksimum satu. Operasi matematikanya tidak dapat berkembang seperti ‘budaya
objektif’ (dengan penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, akar dan pangkat), melainkan
jumlah dimensi pararelnya yang bisa bertambah, misalnya; satu dimensi (X), dua dimensi (X&Y),
tiga dimensi (X,Y,Z), dst tidak ada batasnya.

4* Tidak adanya ‘Kalibrasi’ (penyesuaian individual)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 22 / dari 22 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Menyamaratakan posisi sudutpandang masing-masing manusia dengan mengabaikan posisi subject


data/manusia satu dengan yang lain adalah cara paling mudah untuk menjadi pengajar karena bisa
dibuat materi pengajaran yang amat sangat standar dengan kesimpulan dan alasan-alasan yang
standar sehingga sulit sekali untuk dikritisi. Permasalahannnya, manusia sebagai makhluk yang
subjektif dan individual dalam kenyataannya memiliki posisisi subjectivitas/individualitasnya
masing-masing satu terhadap yang lain.

5* Derajat guru dan murid

Salah satu hal yang membuat adanya jarak antara mengerti dan mengalami adalah karena ada jarak
hirarki yang jelas antara guru dan murid. Yang satu mengkondisikan diri aktif sebagai subject
pelaku, dan yang satu lagi harus mengkondisikan diri pasif sebagai object penderita. Seorang
pemain utama dan seorang pemain figuran. Kondisi mengalami di dunia nyata hanya bisa terjadi
bilamana keduabelah pihak dapat memiliki pilihan untuk berinisiatif menjadi; aktif sebagai subject
pelaku, maupun pasif sebagai object penderita.

6* Sistem pendidikan No Noise

Ketika kita masuk ke dalam ruang kelas sejak TK hingga di bangku kuliah, juga pada program-
program pengembangan diri entah berbau psikologi, metafisika atau spiritual kita masuk pada suatu
ruang yang dikondisikan ‘no noise’ (tanpa gangguan). Kalau seseorang mau belajar maka
membutuhkan tempat yang sepi, kalau perlu di kondisi sendirian di dalam kamar. Kalau di ruang
kelas pun harus ada satu guru/orang saja yang berbicara, sisanya mendengarkan. Kalau lebih dari
satu orang yang berbicara dalam waktu yang sama maka dianggap mengganggu proses belajar.
Timbul kecenderungan untuk satu pendapat, bilamana ada pendapat yang berbeda maka dianggap
gangguan yang harus dibasmi.

Kalau proses pembelajaran dilakukan di ruang full of noise (kondisi dimana gangguan alami tidak
dihilangkan) seperti pada dekon-kompatiologi, maka banyak factor yang hilang pada kondisi
pembelajaran no noise dapat muncul di sini. Kondisi alamiah itu selalu tidak pernah ideal, selalu
ada paket baik-sekaligus-buruk pada pilihan satu dengan yang lain, segalanya serba abu-abu.
Bilamana ekstrim baik atau buruk hanyalah dua titik ekstrim, ruang abu-abu ini begitu luas dengan
banyak kemungkinan yang ada di posisi-posisi, skala-skala di dalamnya. Kenyataan itu bukan baik
atau buruk melainkan keluasan kemungkinan di ruang abu-abu. Sejarah ditentukan oleh siapa yang
ada di dalam arena.

7* Terpelajar dan Belum Terpelajar

Orang yang terpelajar itu menyimpan segala ilmu, konsep, teori, pendapat, judgement dengan sudut
pandang tertentu atas hal-hal di sekitarnya di dalam pikirannya sehingga dirinya dapat merasa
terpelajar. Seperti gelas yang diisi dengan segala macam cairan sehingga cepat menjadi penuh.
Permasalahannya, semakin banyak terisi maka semakin penuh, setiap gelas memiliki batas
maksimum isinya, semakin mendekati penuh maka semakin rumit dan kompleks kerja pikirannya.

Kompatiologi mencoba mencari jalan keluar dengan membuat yang terpelajar menjadi belum
terpelajar. Bagaimana caranya? Orang tepelajar menyimpan di ingatannya berbagai macam ‘data
matang’ (judgement, teori, ilmu, pendapat, dan lain sebagainya) sehingga lama-lama menjadi jago
berkonsep, tetapi sulit mengimplementasikannya karena terlalu rumit karena terlampau banyak
pertimbangan sehinggga bimbang dan pada akhirnya hanya bisa bicara saja tidak melakukan apa-
apa. Pengguna Kompatiologi tidak menyimpan konsep, pemikiran apa-apa di dalam pikirannya,

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 23 / dari 23 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

yang disimpan hanya ingatan-ingatan pengalaman ‘data mentah’ (panas-dingin, senang-sedih,


percaya-tidak percaya, nyaman-tidak nyaman, tenang-gelisah, dan lain sebagainya) yang dapat
digunakan sewaktu-waktu bila dibutuhkan. Ketika dibutuhkan maka memori data-data mentah itu
bisa menghasilkan konsep, cara yang praktis, dan lain sebagainya untuk penyelesaian masalah saat
itu juga, setelah tidak diperlukan lagi maka konsep tersebut tidak perlu membebani pikiran lagi.

"It is not the critic who counts: not the man who points out how the strong man stumbles or where the doer of
deeds could have done better. The credit belongs to the man who is actually in the arena, whose face is
marred by dust and sweat and blood, who strives valiantly, who errs and comes up short again and again,
because there is no effort without error or shortcoming, but who knows the great enthusiasms, the great
devotions, who spends himself for a worthy cause; who, at the best, knows, in the end, the triumph of high
achievement, and who, at the worst, if he fails, at least he fails while daring greatly, so that his place shall
never be with those cold and timid souls who knew neither victory nor defeat."
(Theodore Roosevelt "Citizenship in a Republic" Pidato di Sorbonne, Paris, 23 April 1910 dalam tema the
"man in the arena" atau "not the critic")

Apa yang dialami di dalam arena tetap tidak mampu diwakilkan di ruang kelas atau di pikiran satu
orang manusia yang individual dan terfokus di satu kemungkinan posisi sudutpandang saja.

Permasalahan-permasalahan di atas adalah point-point yang berusaha saya jawab dalam


kontemplasi saya hingga akhirnya saya menemukan yang saat ini saya namakan kompatiologi,
dengan metode dekon-kompatiologi-nya.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 24 / dari 24 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

III. Tentang Kompatiologi


Bicara tentang ilmu kita biasa menemukan penjelasan dan kesimpulan akhir yang tertulis di
berbagai buku atau dipresentasikan melalui pengajaran dengan metode percaya, yakin dan hafalkan.
Paradigma ilmu itu sendiri, terutama ilmu ilmiah tidak lepas dari dilema antara kepercayaan
(idealisme untuk terus mencari), keyakinan (believe system / kebenaran yang dipertahankan dan
dikejar / intuisi) dan skeptisisme (pengukuran subjektif maupun objektif) yang silih-berganti.

Tidak ada ilmu ilmiah yang bisa tumbuh hanya dengan kepercayaan dan keyakinan saja tanpa
skeptisisme, sebab tanpa skeptisisme ilmu hanyalah sebuah ‘keyakinan’ (tanpa perlu pembuktian);
agama yang diwariskan turun temurun tanpa pengujian ulang sepanjang keberadaan sebuah ilmu.
Bila ini terjadi maka ilmu yang ada hanyalah ilmiah semu yang berisi urutan kegiatan; sebagai
murid, kelulusan dan lalu menjadi pengajar tanpa perlu pengujian di luar dunia akademis (ruang
penelitian yang dibuat, dikondisikan dan diteliti oleh pendukung materi teori keilmian), bukan pasar
pengguna / masyarakat awam yang tidak ideal.

Sebaliknya, tidak ada ilmu ilmiah yang bisa tumbuh hanya dengan skeptisisme saja. Tanpa
kepercayaan, setidaknya keterbukaan untuk mengujicoba, atau membuka kemungkinan pada hal
baru di luar materi teori keyakinan ilmiah ;yang mungkin saja di masa yang akan datang akan
menjadi kebenaran ilmiah. Bila hal ini terjadi, maka ilmu yang ada hanyalah ilmiah semu. Sebab
alasan ilmu ilmiah dibuat, sekedar untuk mempertahankan konstruksi kekuasaan (menara gading)
diri sendiri dan kelompok dengan menggunakan materi teori atas apa yang telah dianggap
kebenaran ilmiah.

Kompatiologi sebagai ilmu di luar lembaga pendidikan resmi (menara gading) sempat menghadapi
masalah-masalah semacam ini yang lahir dari para ilmuan semu bergelar dan berijasah mulai dari
S1, S2, S3, dan lain sebagainya yang dengan segala cara melegalkan teror pribadi tidak terkecuali
rencana pembunuhan kepada para praktisi kompatiologi dan keluarganya, selama setengah tahun
terakhir mulai 20 Mei 2007 sampai awal Desember 2007 (+/- setengah tahun) demi menutup
‘kemungkinan lain’ di luar menara gading yang telah dibangun secara turun-temurun selama
berpuluh-puluh tahun.

Apa sich Kompatiologi itu?


Bicara tentang ilmu apapun maka selalu ada dua point yang perlu disimak; Keyakinan (believe
sistem) dan Pengukuran (subjektif maupun objektif). Keyakinan seperti materi teori yang selalu
melampirkan kesimpulan akhir entah itu di ilmupengetahuan ilmiah, metafisika, agama dan
spiritual.

Pengukuran seperti;
* Pengukuran objektif yang menghasilkan kesimpulan akhir seperti yang kita pelajari di pelajaran
matematika yang lalu diterapkan di berbagai ilmu ilmiah. Proses pencarian kebenarannya
(berfilsafatnya) menggunakan kegiatan Tanya-jawab.
* Pengukuran subjektif yang menghasilkan data saat ini (yang terus berubah seiring berjalannya
waktu) seperti alat ukur mekanis yang memiliki; ‘sampler’ (alat pengambilan sample data) berupa
gradasi, kadar (0 – 100%) yang memiliki range dari minimum, berbagai skala, sampai maksimum.
Dengan konteks (translater) yaitu nama masing-masing kegiatan pengukuran seperti misalnya di
mobil ada; speedometer, pengukur putaran mesin, pengukur panas mesin, pengukur tekanan oli
mesin, pengukur isi tangki bahan bakar, dan lain sebagainya yang semuanya sama-sama meteran

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 25 / dari 25 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

dari minimum, berbagai skala, sampai maksimum. Proses pencarian kebenarannya (berfilsafatnya)
dengan cara mempetakan posisi titik koordinat dalam hubungan antara satu hal dengan yang lain.

Kompatiologi melalui ritual dekon-kompatiologi adalah kegiatan menginstalasi mekanisme


pengukuran subjektif pada manusia, sehingga manusia tersebut mampu memiliki kemampuan
pengukuran subjektif; seperti berbagai alat ukur mekanis yang memiliki sampler berupa alat ukur
biologis (minimum, skala-skala, maksimum) dengan nama masing-masing kegiatan pengukuran
yang bersifat asosiatif sehingga ada hubungan dua arah antara pemrosesan informasi instingtif
(pengukuran indrawi) dan intuitif (perjalanan mengejar kebenaran yang dianut).

Pada manusia yang menggunakan kompatiologi hubungan dua arah antara proses instingtif dan
intuitif menyebabkan timbulnya adaptasi antara kedua fungsi ini sehingga bisa saling menyesuaikan
satu sama lain seiring perjalanan waktu dengan keadaan yang terus berubah-ubah; Seperti ketika
mengendarai mobil, antara informasi yang diterima melalui alat ukur mekanis dan pilihan bebas
manusianya untuk bertindak saling mempengaruhi.
Setiap hewan (termasuk manusia) memiliki mekanisme pengukuran materi-materi di sekitar tempat
hidupnya yang mempengaruhi kehidupannya. Informasi itu dipetakan polanya sehingga
menghasilkan suatu konsep pencapaian tujuan / kebenaran yang dianut si hewan itu sendiri.
Kemudian hewan itu mengejar kebenaran sesuai konsep yang ia petakan sendiri.

Pada akhirnya ilmu itu tidak ada, yang ada hanyalah titik koordinat pemposisian diri dari suatu
kegiatan yang memiliki pola yang khas.

Asal-Muasal Nama Kompatiologi

Logika Komunikasi Empati

Awalnya saya dituntut menentukan nama yang tepat bagi hal yang saya teliti karena kami dituntut
untuk mengejar deadline. Saat itu kami diberi kesempatan untuk memberikan presentasi soal hal ini
ke sejumlah dosen di fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Bila mempresentasikan suatu
hal maka setidaknya harus ada namanya. Pada akhirnya ditentukan namanya kompatiologi
(komunikasi + empati + o + logi); karena ada hubungan antara satu subjek dengan subjek yang lain,
ada kemampuan membaca/mengempatikan penggaris data (range and scale), dan ada jenis logika
yang khas yang berbeda dengan logika yang umum.

Definisi Komunikasi berarti hubungan antara satu pihak dengan pihak yang lain.
Definisi Empati berarti memahami perasaan / kondisi pihak lain, tanpa terbawa untuk mengikuti
kepentingan pihak lain dan konsekwensi mengabaikan kepentingan diri sendiri.
Contoh empati: Ketika hujan saya memperlambat kecepatan mobil yang saya kendarai agar tidak
ada pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang terkena cipratan air dan lumpur yang
mengenang di permukaan jalan.
Definisi Simpati adalah terbawa untuk berpihak ke kondisi yang dialami pihak lain.
Contoh simpati: Saya memberi sedekah kepada pengemis itu karena kasihan pada penderitaan yang
ia alami.

Definisi Komunikasi Empati berarti hubungan antara satu pihak dengan pihak lain, dimana pihak-
pihak yang berkomunikasi mampu memahami perasaan / kondisi pihak lain tanpa terbawa untuk
mengikuti kepentingan pihak lain dan mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 26 / dari 26 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Dalam penerapannya Komunikasi Empati sering diselewengkan dengan disamakan dengan


Komunikasi Simpati olah pihak yang bersifat normatif. Pemaknaan Komunikasi Simpati sendiri
berarti hubungan antara satu pihak dengan pihak lain, dimana pihak-pihak yang berkomunikasi
mampu memahami perasaan / kondisi pihak lain dan terbawa untuk berpihak ke kondisi tersebut.

Jadi penyelewengan makna Komunikasi Empati menjadi Simpati memiliki resiko individu tersebut
lupa, bahwa dalam berkomunikasi pihak-pihak yang terlibat memiliki kepentingan dan sudut
pandang masing-masing yang individual, yang bilamana salah satu pihak berpihak ke kepentingan
pihak lain, maka beresiko kehilangan penguasaan terhadap kepentingan diri sendiri atau malah
dimanfaatkan secara tidak mutualistis.

Kompatiologi

Kompatiologi adalah ilmu yang sifatnya memberi kemampuan pengukuran pada individu, bahwa
dalam bidang apapun, suatu pemrosesan informasi selalu terdiri dari dua kegiatan; penyerapan /
abstraksi data dan penerjemahan data ke dalam bahasa-bahasa dengan range & scale yang lebih
spesifik pada masing-masing individu.

Ketika data di tahap kegiatan abstraksi, maka data disimpan dalam bentuk sampling sebagai suatu
pemposisan diri tertentu terhadap skala dan range yang mencakupinya. Suatu data yang sifatnya
abstrak bisa ditranslate menjadi range bahasa yang satu dan bisa juga ke range bahasa yang lain
sesuai dengan konteks yang dihadapi.

Misalnya;
* Karakteristik rasa makanan memiliki range yang memiliki titik referensi manis, asin, asam, pahit
dan pedas. Setiap sample data tentang satu jenis karakteristik makanan disimpan sebagai satu
pemposisian diri terhadap titik referensi manis, asin, asam, pahit dan pedas ;dan menjadi bagian
dari range rasa makanan.
* Intensitas cahaya memiliki range dari skala interval sample intensitas yang paling terang ke
paling gelap. Tiap sample intensitas memiliki posisi diri terhadap range dan skala intensitas cahaya.
* Range tubuh fisik manusia terdiri dari skala berupa anggota-anggota tubuh dari kaki sampai
kepala. Setiap satu anggota tubuh dari yang besar sampai yang kecil memiliki pemposisian diri
yang spesifik dalam range tubuh fisik manusia. Misalnya kalau kita bicara tentang hidung maka
bila kita bahas dalam range dan skala: range tubuh fisik manusia -> Kepala -> kepala bagian depan
/ muka -> hidung.
* Range perasaan binatang terdiri dari titik referensi: approve >< defense dan send >< recieve.
Setiap sample projeksi perasaan binatang memiliki pemposisian diri yang spesifik terhadap range
perasaan binatang tersebut.
* Range komunitas keluarga terdiri dari skala ayah, ibu, anak sulung, anak tengah, anak bungsu,
dan lain sebagainya. Tiap anggota keluarga memiliki pemposisian diri yang spesifik terhadap skala-
skala / tiap anggota keluarga.

Tanpa perlu belajar teori secara khusus definisi, bahasa, norma, dan lain sebagainya ;tiap manusia
dan binatang mampu secara alamiah membedakan posisi sample data, skala, titik referensi ;sebagai
bagian dari range dengan bahasa spesifik. Suatu pemposisian diri sampla data terhadap range bisa
ditranslate ke dalam bahasa yang berbeda-beda misalnya: Sample dengan pemposisian diri rasa X
pada range rasa makanan, memiliki pemposisian diri warna X pada range intensitas cahaya,
memiliki pemposisian diri bagian tubuh X pada range tubuh fisik, dan memiliki pemposisian diri
perasaan X pada range perasaan.

Contoh kasus:
* Menginstalasi kemampuan seperti Anak Indigo pada orang dewasa normal.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 27 / dari 27 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Peta logika sistem mekanis pemetaan data yang digunakan, sbb:

1. Bisa Mentranslate Language (Range, Skala, dan lain sebagainya) yang satu ke language yang
lain.
1.1. Mampu Mengobati (Mampu mentranslate range makro satu badan dari kepala sampai kaki
dengan penggaris skala tujuh cakra atau lima organ penting simbolisasi logika lima elemen, ke
range mikro pergelangan tangan atau sebagian dari seluruh anggota tubuh yang lain.)

1.2. Mampu melihat Roh (Mampu mentranslate bahasa range dan skala dari kondisi fisik (lembab,
panas, gerah, dan lain sebagainya) ke bahasa range dan skala kondisi metafisika (setan, jin, roh, dan
lain sebagainya.)

2. Mampu beradaptasi dengan bijak, mencari celah diantara norma yang berlaku. (mampu
melakukan analisa, untuk kemudian datanya digunakan membuat untuk norma at the present time
yang sifatnya flexible untuk mampu terus beradaptasi).
2.1. Mampu memetakan pemposisian tiap individu termasuk diri sendiri dalam struktur sosial. (Pola
hubungan antar individu struktur sosial berdasarkan kemiripan karakteristik (jarak skala) :
kelompok dominant (mayoritas) dan kelompok subdominant (minoritas), sehubungan darah tetapi
tidak memiliki sudutpandang pemikiran yang sama, memiliki kecocokan sudutpandang tetapi tidak
memiliki hubungan darah yang dekat, dan lain sebagainya ;lalu ditranslate ke bahasa range tertentu
sesuai kepentingannya.)

Oleh karena itu Kompatiologi mau tidak mau akan selalu berbenturan dengan ilmu-ilmu berbasis
penormaan, pelabelan, believe sistem, keyakinan akan cara yang dianggap paling benar. Ini
ditujukan untuk mengingatkan para pengguna ilmu tersebut; bahwa sebuah norma yang menasehati
orang untuk mengambil satu pilihan tindakan yang linier baik benarnya (dianggap satu-satunya
yang benar), hanyalah satu pilihan sempit diantara banyak variasi pilihan yang bisa diambil oleh
manusia yang sifatnya relatif.

Mengikuti norma mentah-mentah tanpa kebebasan membuat keputusan , membuat manusia tidak
menghargai kemampuan dirinya untuk melakukan pemetaan atas keadaan, dan melakukan analisa
sendiri yang bebas dalam mengambil keputusan. Dengan sertamerta mengambil keputusan
mengikuti norma semata, maka kita kehilangan kemampuan kita untuk memetakan keadaan secara
subjektif, dan mengambil pilihan berbasis analisa sendiri yang membuka peluang-peluang yang
lebih luas daripada pilihan yang disediakan bila sekedar berpikir linier.

Kompatiologi ilmu Mengalami bukan Pemikiran dan Pengkonsepan


Kemarin teman saya bercerita bahwa konon sebelum Panembahan Senopati pendiri kerajaan
Mataram menjadi seorang pemimpin, dirinya hanyalah seorang yang dianggap nakal, bahkan gila.
Bisa berhari-hari dia berendam di air panas lalu beberapa hari berendam di air dingin. Pernah
sampai empat puluh hari, lalu kemudian dia keluar meninggalkan prilaku anehnya begitu saja dan
tiba-tiba menjadi seorang pemimpin yang disegani masyarakat.

Kegiatan berendam itu menghasilkan suatu ketrangka teknis dalam diri si Panembahan Senopati
bahwa antara panas sekali dan dingin sekali terdapat begitu banyak skala yang dialami. Dari situ
muncul pemahaman tentang range & scale, pengaris ukur dengan maksimum dan minimum yang
diantara kedua ujungnya terdapat skala-skala.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 28 / dari 28 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Bicara tentang konsep pemikiran dan mengalami; Jika kita berpikir yang muncul adalah konsep
dengan gambaran, imajinasi utuh. Jika dialami yang muncul adalah posisi pada skala-skala indrawi
kurang atau lebih, kira-kira. Dalam hal skala ukur indrawi ada bermacam-macam misalnya;
pengelihatan, pendengaran, sentuhan, pengecapan, dan lain sebagainya. Pengelihatan, pendengaran,
sentuhan adalah input dari luar ; rasa/pengecapan adalah input yang terjadi di dalam diri, itu
mengapa pengecapan yang paling penting sehingga dekon-kompatiologi memilih menggunakan
pengecapan.

Permainan dekonstruksi yang sifatnya indrawi (beda dengan dekonstruksi yang bermain di
pemikiran dan kata-kata seperti Derrida) adalah suatu simulasi yang lebih sederhana dibanding
kehidupan itu sendiri yang lebih kompleks. Maka dari itu biasanya seseorang yang ikut
dekonstruksi misalnya dekon-kompatiologi; setelah bisa membaca skala-skala antara minimum dan
maksimum, maka ada jangka waktu tertentu hingga dekonstruksi dan rekonstruksi yang
sesungguhnya muncul di kehidupan sehari-hari yang real. Jadi fungsi dekonstruksi yang di ranah
indrawi adalah; untuk mensimulasikan seluruh jenis pengalaman dalam hidup yang amat bervariasi,
untuk dialami dalam waktu yang sangat singkat, sehingga ini bisa menjadi percepatan dalam proses
learning yang dialami si manusia, selanjutnya sehingga proses pendewasaan, pematangan dan
kemampuan adaptasi menjadi jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Plus point dekon-kompatiologi dari jenis dekonstruksi indrawi lain yang sudah ada adalah:
* Di jaman moderen ini kita bisa menemui berbagai macam jenis minuman di supermarket terdekat
sehingga tidak hanya sekedar dekonstruksi yang bersifat standar untuk semua orang misalnya
sekedar merasakan manis, asin, asam dan pahit; bisa dibuat rumus susunan botol minuman tertentu
untuk orang tertentu sesuai dengan memori latarbelakang orang tersebut. Kalibrasi (alat
penyesuaian) ini membuat dekon kompatiologi tidak hanya sampai menguasai penggaris ukur,
skala-skala yang ada; lebih jauh lagi memahami memori latarbelakang diri sendiri yang membuat
pengertian tidak hanya terhadap di luar diri dan kondisi dalam diri yang dikondisikan, juga pada
sejarah pengalaman diri yang membentuk diri kita sampai sekarang.
* Jaman yang moderen juga memungkinkan orang dari latarbelakang apapun pergi secara bebas ke
tokobuku. Variasi buku membantu pendekon-kompatiologi (pengajar) dalam mengamati pola
pemerosesan data semacam apa yang terjadi dalam diri si terdekon (murid).
* Banyaknya mall yang memiliki foodcourt memberikan kondisi tempat yang heterogen, banyak
macam orang dengan kondisi berbeda-beda ada di sana, banyak macam resto yang menjual
makanan berbeda memberikan kesannya masing-masing. Ini membuat dekon-kompatiologi tidak
sekedar membaca data di dalam diri dari pengalaman mencicipi minuman, lebih jauh lagi pada
kemampuan merasakan skala-skala di dalam diri dan di luar diri secara bersamaan; seperti kondisi
kehidupan sehari-hari yang bebas dari pengkondisian. Maka dari itu dekon di ruang yang no-noise
sangat beda hasilnya dengan di ruang yang full-of-noise.

Dekon-kompatiologi membuka ranah penelitian sistem pendidikan alternatif yang bisa


menggabungkan berbagai kemampuan dasar yang sifatnya indrawi sekaligus. Ranah dekon indrawi
terutama yang berkaitan dengan pencicipan ini amat luas sehingga masih bisa dikembangkan ke
banyak hal berbeda.

Bilamana ranah ilmu pemikiran dan konseptual sudah begitu sesak variasinya karena terlalu banyak
ahli dan pelakunya; ranah mengalami(eksperiencial) ini masih sedikit ahlinya, karena ahli
penelitian jenis ini harus bebas, tidak boleh terpengaruh banyak teori. Dalam cara penelitiannya
ranah mengalami(eksperiencial) memiliki prasyarat aturan penelitian yang cenderung mirip dengan
ilmu teknis seperti elektro, tekhnik mesin, kimia, biologi, dan lain sebagainya (pragmatis).
Pengalaman itu sifatnya posisi pada skala-skala indrawi; kurang atau lebih, kira-kira ; bukan konsep
pemikiran yang fleksible karena bisa disugestikan dan diimajinasikan.

Dalam menjelaskan secara tertulis dan menceritakan kepada non-user mau-tidak-mau pemikiran
dan konsep digunakan, tetapi dalam pelaksanaan dekon-kompatiologinya konsep dan pemikiran

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 29 / dari 29 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

sebisa mungkin dihindari atau dibuat sangat amat teknis bahasanya, sehingga
pembaca/pendengarnya tidak terbawa untuk berimajinasi / mensugesti diri sehingga kehilangan
kegiatan mengalami karena berpikir dan berkonsep.

Seperti ketika si Thomas Alfa Edison menemukan lampu pijar. Dari hasil fakta bahwa hubungan
antara dua kutub arus listrik menghasilkan panas, maka bilamana ditemukan bahan yang bisa
membara, tetapi tidak hancur karena meleleh ;maka akan menghasilkan cahaya yang terang.
Thomas Alfa Edison mencoba satu demi satu bahan hingga ditemukan bahan yang cocok. Nah,
penelitian semacam ini tidak memungkinkan model penelitian ilmiah ala ilmupengetahuan sosial
yang ada perbandingan teori antar buku, kalau tidak ada runtutannya maka salah, tidak ilmiah.

Dalam penelitian teknis pragmatis asalkan bermanfaat maka ilmiah, manfaat tidak diukur dari teori-
teori tetapi dari fakta, misalnya; Apakah lampu pijar yang ditemukan Edison bisa menyala untuk
waktu yang lama sehingga cukup efisien untuk digunakan. Latarbelakang teori dalam penelitian
teknis pragmatis bisa diteliti belakangan bahkan tidak wajib, bisa menyusul setelah fakta
kebergunaannya membuat suatu temuan menjadi ilmiah.

Dalam kompatiologi diusahakan agar pendekon-kompatiologi (pengajar) tidak menanamkan konsep


pemikiran tertentu kepada terdekon-kompatiologi (murid) selain rumus teknisnya saja. Setelah
dekon dilakukan, maka bisa diamati dari hasil pascadekon pada tiap user apakah dekon-
kompatiologi bermanfaat secara empiris (bisa diulangi ke banyak orang). Kalau pihak-pihak
berlatarbelakang ilmiah ala ilmu sosial ingin menanamkan asumsi bahwa hal tersebut tidak ilmiah,
sangat amat mungkin karena penelitian kompatiologi menggunakan metode penelitian teknis-
empiris-pragmatis, bukan teoritis dengan perbandingan antar teori.

Dalam kompatiologi seperti membahas lampunya Edison yang harus standar adalah rumus
dasarnya yang teknis, penjelasan teorinya bisa dibuat belakangan versi penggunanya sendiri-
sendiri.

Posisi Kompatiologi dalam ranah Sumberdaya Manusia


Berbicara tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sumberdaya manusia ada dua sudut-pandang
yang bertolak-belakang tentang cara belajar seorang manusia;
* Kelompok pertama (sudutpandang pengukuran objektif) beranggapan bahwa manusia harus
meningkatkan kualitas dirinya dengan belajar hal-hal dari luar dirinya, termasuk dari manusia lain.
Untuk menjadi manusia yang sempurna seorang manusia harus meningkatkan kualitas dirinya.
Sudutpandang ini banyak dianut oleh ilmu-ilmu sumberdaya manusia di pendidikan berbudaya
barat (moderen).
* Kelompok kedua (sudutpandang pengukuran subjektif) beranggapan bahwa manusia harus belajar
ke dalam dirinya sendiri (bukan orang lain), karena setiap manusia sudah memiliki segala
kemampuan dalam dirinya sendiri, pendalaman terhadap diri sendiri bisa membantu manusia itu
untuk mempelajari dirinya sendiri dan lingkungan di luar dirinya. Sudutpandang ini misalnya
seperti ilmu kompatiologi yang menggunakan mekanisme teknis; bukan ceramah, seminar &
pembelajaran di ruang kelas.

Dalam praktiknya dua sudutpandang ini mengambil titik start dan finish yang berbeda meskipun
pada akhirnya keseluruhan pengalaman yang diperoleh bisa saja sama. Menjadi baik atau buruk
hasilnya kembali lagi pada pilihan bebas manusianya masing-masing;

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 30 / dari 30 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

* Manusia kelompok pertama (sudutpandang pengukuran objektif) akan mulai dengan mempelajari
sebanyak mungkin ilmu dan kemampuan, agar pada tiap ilmu dan kemampuan yang dipelajari bisa
dicapai kualitas titik maksimum. Misalnya dengan sekolah, mengikuti trainning dan seminar untuk
meningkatkan Motivasi, Emotional Intelligence, Spiritual Intelligence, Positive Thinking, ilmu
intuisi, spiritual, dan lain sebagainya. Pada akhirnya meskipun begitu banyak ilmu bisa diikuti
pelajarannya (kelas, ceramah, seminar, training, workshop, dan lain sebagainya) tantangannya
adalah, apakah si manusia tersebut setelah mengikuti kelas pada berbagai ilmu tersebut benar-benar
berusaha menerapkan konsep yang dipelajari setelah keluar dari ruang kelas di dunia nyata, atau
sekedar semangat dan komitment omong-kosong selama di ruang kelas saja.

1+?=2
[keadaan awal + tindakan yang bisa dilakukan atau tidak = hasil yang diharapkan]

* Manusia kelompok kedua (sudutpandang pengukuran subjektif) akan memulai dengan


mempelajari penggunaan praktis dari mekanisme otomatis pengukuran subjektif itu sendiri. Setelah
digunakan maka dalam kehidupan sehari-hari si individu akan sadar bahwa tiap pilihan yang dipilih
adalah paket untung-rugi (membeli & membayar) dengan konsekwensinya masing-masing. Tidak
ada pilihan yang baik atau buruk. Pelajaran moralnya adalah; kita berusaha baik karena mengetahui
konsekuensi tidak baik dari memilih bertindak tidak baik.

1+1=?
[keadaan awal + pilihan tindakan yang sudah diperkirakan untung-ruginya = hasil sesuai untung-
rugi yang dipilih.]

Manusia kelompok kedua (sudutpandang pengukuran subjektif) yang menerapkan pengukuran


dengan data mentah (data yang belum diberi judgement/dogma), setelah membuat
sudutpandangnya sendiri bisa saja menceritakan judgementnya ke orang lain sama seperti yang
dilakukan manusia kelompok pertama (sudutpandang pengukuran objektif); sharing pengalaman
atau bersifat mengajar dogma kepada yang dianggap kurang menguasai suatu hal.
Manusia kelompok kedua bisa juga memilih untuk tidak menceritakan judgementnya kepada orang
lain, hanya penggunaan praktis dari mekanisme otomatis pengukuran subjektif itu saja yang
diajarkan ;misalnya melalui dekon-kompatiologi kepada orang lain yang bersifat teknis bukan
menggunakan ceramah, seminar, dan lain sebagainya.
Manusia kelompok pertama (sudutpandang pengukuran objektif) yang berpikir dengan data matang
(judgement/dogma) tidak bisa memproses data matang tersebut kembali menjadi data mentah; yang
bisa dilakukan adalah meyakini sesuatu dan tidak meyakini yang lain.

Bila mau dicari benar salahnya dengan diskusi antar dua sudutpandang ini seperti membicarakan
‘lebih dulu ada telur atau ayam’ tentunya kedua pihak yang berdiskusi akan bertengkar tanpa ada
habisnya.

* Manusia kelompok pertama (pengukuran objektif) akan mengatakan bahwa pilihan yang diambil
manusia kelompok kedua salah, karena manusia itu tidak memiliki kemampuan untuk memilih
pilihan yang benar (cenderung liar seperti binatang/ instingtif & naluriah) bilamana dibiarkan bebas
dari dogma, ajaran Tuhan, ajaran norma, etika, dan lain sebagainya.

* Manusia kelompok kedua (pengukuran subjektif) akan mengatakan bahwa pilihan yang diambil
manusia kelompok pertama untuk mengikat diri pada dogma salah karena; membuat manusia itu
tidak mampu kontrol diri misalnya dalam hal bermoral bilamana suatu saat di kondisi tidak terikat
pada dogma. Manusia jenis ini dianggap bisa bicara yang baik-baik, tetapi belum tentu mampu
melakukan di kehidupan sehari-hari di luar dogma, karena tidak mengerti benar dogma warisan
pihak lain yang bukan hasil pertimbangan pengukurannya sendiri. Bilamana mendapat pengajar

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 31 / dari 31 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

dogma yang tidak berniat baik, maka manusia kelompok pertama akan mudah dibelokkan ke hal-
hal yang tidak baik. Manusia kelompok pertama juga akan tidak bebas bergaul karena berusaha
membenarkan dogmanya sendiri dan menyalahkan dogma orang lain.

“Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu
pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang
yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan
dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada
Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu
berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!"
Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka:
"Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib
kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat
heran mendengar Dia.“
(Markus 12:13-17, lihat juga di Matius 22:15-22, Lukas 20:20-26)

Pada awalnya saya sempat berpikir bahwa dekon-kompatiologi dapat mengakibatkan orang
kehilangan agama, keyakinan, kepercayaan dan segala label-labelnya. Saya sempat kahwatir
tentang masalah-masalah yang bisa saja timbul bila terjadi demikian. Ketika saya masuk ke
pengamatan terhadap kondisi terdekon pasca dekon-kompatiologi, rupanya yang terjadi berbeda
dengan yang saya perkirakan. Pasca dekon-kompatiologi, para terdekon justru berusaha mendalami
agama, keyakinan & kepercayaan-nya sendiri-sendiri dengan lebih mendalam; tidak bisa
dipengaruhi dan juga tidak ingin mempengaruhi orang lain dalam hal agama, keyakinan &
kepercayaan tersebut; Sebab mereka menganggap agama, keyakinan & kepercayaan sebagai proses
pendalaman identitas diri sendiri, seperti orang membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi dan
membutuhkan budaya untuk memiliki identitas dalam bermasyarakat.

Evolusi dari Manusia Purba, Manusia Moderen sampai Kompatiologi


Meski teknologi terus berkembang, manusia dan permasalahannya pada dasarnya tidak berubah
yaitu perjuangan untuk bertahan hidup (kemampuan survive), dan hubungan antara satu manusia
dengan manusia lain. Yang berubah adalah asesoris, pernak-pernik yang ada di sekitar kehidupan
manusia, entah itu yang berwujud fisik seperti teknologi yang semakin canggih atau yang berwujud
non fisik seperti misalnya paradigma kita entah itu yang sifatnya ilmu-pengetahuan yang dianggap
science atau yang dianggap non-science.

Zaman dengan segala asesorisnya adalah siklus berputar-putar yang tidak pernah selesai, terus saja
berulang. Bila waktu kita runtut dari jaman manusia purba yang dekat sifatnya dengan binatang
hingga manusia saat ini, maka telah terjadi perubahan mode tentang cara manusia itu menilai
dirinya entah itu dalam hal ilmu bumi (ilmupengetahuan alam), ilmu manusia (ilmupengetahuan
sosial) dan ilmu langit (ilmu ketuhanan), entah yang dianggap science atau dianggap metafisika.

Menurut versi pemikiran kompatiologi, pada awalnya manusia tidak berbeda jauh dengan binatang.
Mungkin orang menyebut zaman tersebut sebagai zaman sebelum zaman animisme. Orang zaman
sekarang mengatakan bahwa orang di zaman animisme menyembah pohon, menyembah laut,
gunung, menyembah sungai, menyembah batu, dan lain sebagainya. Anggapan ini muncul karena
manusia di zaman itu memandang segala benda hidup atau mati di sekitarnya dengan memberikan
perhatian yang egaliter (sederajat / senilai) dengan menyamakannya sebagai data. Data tentang
manusia diperlakukan sama dengan data tentang benda hidup dan benda mati yang lain dalam hal
pemposisian dirinya terhadap penggaris ukur internal (range dan skala), yang membedakan adalah
konteks dan bahasa yang terikat dengan data tersebut. Maka dari itu anjing dan binatang lainnya

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 32 / dari 32 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

tidak perlu sekolah sudah mengerti bagaimana cara menjaga dirinya. Bisa tanpa perlu diajari karena
kemampuan membaca pemposisian diri tiap data berbeda terhadap range dan skala yang ada dalam
konteks dan bahasa tertentu.

Zaman animisme mengakibatkan persaingan ala hukum hutan rimba yang dimana dalam kegiatan
menganalisa dan menentukan strategi yang sifatnya untuk survive saat ini saja, setiap individu
berusaha memperluas range cakupan kekuasaannya; seperti binatang berusaha menentukan ruang-
ruang kekuasaannya di hutan yang tidak dibatasi tembok-tembok. Maka klimaks dari jaman
animisme adalah chaos seperti diceritakan di kitab-kitab Hindu dimana antar manusia saling
bertarung untuk berkuasa. Situasi chaos ala hukum hutan rimba itu berakhir dengan datangnya
jaman Hindu dimana mulai dibuat tembok-tembok pemisah yang mengatur, mulai dari sistem
keyakinan dengan dewa-dewa yang punya range kekuasaan sendiri-sendiri dengan urusan
tanggungjawab wilayah kontekstual sendiri-sendiri sampai aturan kasta yang membagi masyakarat
dalam ruang-ruang range hak dan kewajiban yang tidak 100% adil tetapi dapat menyelesaikan
situasi chaos yang diakibatkan oleh pemahaman egaliter ala animisme.

Zaman hindu pun memiliki titik klimaks soal pengelompokkan yang semakin tidak adil hingga
akhirnya muncul pemahaman budhisme untuk menyeimbangkannya, dengan menekankan proses
hidup dari lahir sampai mati lahir kembali. Budhisme berhasil menyeimbangkan antara sisi hindu
yang menekankan pada kedewaan dan budhisme yang menekankan pada ketiadaan dan ada akhir
dari reinkarnasi untuk menuju suatu kondisi nirwana.

Lalu dari akar yang lain muncullah monotheisme. Hindu-Budha dan monotheisme bertemu di abad
saat ini.

Saat ini system pendidikan yang berasal dari dunia barat sangat terpengaruh oleh monotheisme.
Dalam monotheisme digunakan labeling untuk pengelompokkan ruang seperti di zaman hindu yang
telah saya jelaskan di atas, sekaligus sistem sebab akibat sehingga dibutuhkan beberapa peran yang
berlawanan yang saling mengkambinghitamkan. Untuk mengadaptasi keduanya menjadi satu, maka
pemposisian antara manusia dengan penciptanya dibuat berjarak secara objektif dimana manusia
mampu menyentuh hal-hal fisik dan hal ketuhanan dikategorikan metafisika yang tidak logis yang
tidak tersentuh secara langsung oleh manusia.

Di zaman monotheisme ada labeling yang dianggap bersifat science dan ada yang dianggap
metafisika, dua-duanya sama-sama bersifat labeling dan sama-sama saling mengkambinghitamkan.
Dalam masing-masing peran baik peran science atau peran metafisika memiliki sistem hirarki
sendiri-sendiri yang tidak egaliter. Dalam peran yang dianggap science membuat tingkatan gelar
yang dilabelkan telah secara sah memiliki pengetahuan sampai tingkat tertentu dengan adanya
ijasah D3, S1, S2, S3, dan lain sebagainya. Dalam peran science juga mengelompokkan diri dalam
kelompok kecil-kecil dengan konteks sendiri-sendiri yang saling tidak bersentuhan seperti ada
ilmupengetahuan alam dan ilmupengetahuan sosial, lalu misalnya lmupengetahuan sosial memiliki
bagian lagi seperti komunikasi, sosiologi, antropologi, psikologi, politik, hukum, dan lain
sebagainya dengan bagian lagi yang lebih kecil, ;ini juga terjadi di ilmupengetahuan alam. Dalam
peran metafisika juga membuat aliran-aliran kesektean entah berlabel agama, spiritual, ilmu
tertentu, dan lain sebagainya dengan aturan tingkat hirarki sesepuh, guru & murid versi sendiri-
sendiri.

Nah, di mana peran kompatiologi? Kompatiologi adalah penggalian kembali system survival skill
alami manusia purba, sebelum zaman animisme yang telah terkubur sangat dalam di dalam diri kita
masing-masing.

Pada dasarnya manusia membutuhkan semua bagian dari dirinya, tidak bisa dipilih-pilih mana yang
diistimewakan dan mana yang diabaikan. Di jaman moderen ini ada manusia yang berfokus pada
survival skill dengan memperkuat tubuh fisik agar sehat, kuat dan mampu bersaing secara fisik

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 33 / dari 33 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

(berkelahi) dengan manusia lain. Ada pula yang mementingkan survival skill otak untuk mampu
lebih pandai dalam bersaing dengan manusia lain. Ada pula yang mementingkan spiritual sebagai
alat survival skill untuk mendapatkan banyak pendukung sekeyakinan, menggunakan kekuatan
kelompok, dan perasaan aman karena banyak teman.

Pemfokusan secara sepihak pada kekuatan fisik saja, otak saja dan spiritual saja tidak mampu
menggantikan survival skill alami yang sangat mendasar yang telah hilang seiring dengan
perkembangan manusia; survival skill yang pada jaman manusia primitif telah berhasil membuat
spesies manusia tetap survive hingga akhirnya menjadi penguasa dunia diantara makhluk-makhluk
hidup yang ada di dunia ini. Manusia yang berkulit tipis, hampir tidak memiliki alat bantu
pertahanan hidup apapun tetapi mampu memenangkan pertarungan untuk tetap survive dan
menguasai dunia.

Kompatiologi bukan salahsatu bagian dari ilmupengetahuan alam, ilmupengetahuan sosial, ilmu
metafisika, ilmu agama, dan lain sebagainya. Kompatiologi adalah klimaks dari ketidakpuasan
manusia terhadap sistem yang digunakan saat ini, dimana bangunan hirarki dan pengelompokkan
tidak lagi mampu mewakili bidangnya masing-masing dengan baik. Apakah dengan
pengelompokan ilmu dapat menjawab permasalahan di dalam masyarakat?

Dalam kompatiologi semua pribadi termasuk saya Vincent Liong pendirinya hanyalah data, maka
dari itu tidak ada pematenan. Yang telah menguasai kompatiologi bisa saja berjualan ilmu
kompatiologi dengan tarif yang ditentukan sendiri, semua murid termasuk murid saya sendiri bisa
saja menyaingi gurunya. Semua pengguna kompatiologi bisa mengembangkan ke bidang sendiri
dengan kepentingan sendiri-sendiri.

Manusia yang telah terjangkit kompatiologi secara mental tidak tergantung pada keberadaan
pendidikan formal, atau mendapat pelajaran moral dari penuntun spiritualnya. Dia tahu bagaimana
caranya agar hari ini dia masih bertahan hidup, mendapat makan & tempat tinggal, mendapat kasih
sayang & perhatian dari keluarga, teman atau rekan kerjanya. Yang penting tahu pemposisian diri
dalam peta keadaan sekitar saat ini dan bagaimana bisa hidup dengan kualitas hidup yang sama atau
lebih dari yang sudah ada saat ini, hingga akhirnya dia mati juga.

Tentunya kompatiologi pun akan punah seiring dengan berjalannya waktu ketika ilmu kompatiologi
tidak lagi menjawab konteks permasalahan yang ada di “saat ini“ versi sekian waktu yang akan
datang; seperti zaman manusia purba, zaman animisme, jaman hindu-budha, jaman monotheisme,
dan lain sebagainya yang terus bersiklus sepanjang sejarah kehidupan manusia dengan nama yang
berubah-ubah untuk menjaga keseimbangan alam.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 34 / dari 34 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

IV. Metode Penelitian

Kronologis Proses Penelitian dalam Kompatiologi

Seperti sudah diceritakan di bab-bab sebelumnya, penelitian kompatiologi (sebelum pencetusan


nama kompatiologi itu sendiri) didasari oleh sifat defensif Vincent Liong untuk menghadapi
judgement-judgement teori psikologi yang membuat cerita yang berbeda dengan sejarah hidupnya
sebelum di-cap anak Indigo.

Masalahnya, tidak ada satupun buku yang bisa memberikan jawaban tentang ranah kegiatan
sebelum judgement dan punishment. Ada buku yang menanyakan hal tersebut tetapi tidak mampu
memberikan penyelesaian masalahnya. Hal ini membuat satu-satunya pilihan untuk menemukan
penyelesaian masalah adalah dengan penelitian dari nol, tidak ada buku yang bisa dijadikan sumber
bahan, tidak ada ahli yang bisa dijadikan narasumber dan bersedia diajak diskusi. Sebab, orang
yang sudah terpancing oleh budaya judgement tidak akan berjalan mundur mencari ada apa
sebelum judgement, secara tampak luarnya judgement lebih menarik daripada yang sebelum
judgement. Dalam judgement ada keyakinan, idealisme, perasaan bangga merasa menguasai atau
mengerti judgement tersebut.

Ada tiga tahap penelitian kompatiologi;

* Melakukan Eksperimen untuk mencari Pola kerja (Januari 2005 – Juli 2006)
Seperti yang dilakukan oleh para ahli kimia di laboratorium dalam mencari rumusan reaksi kimia
yang baru, untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di ranah sebelum judgement dan
punishment maka Vincent Liong harus mencari pola kerja, pola sebab akibat yang berlaku
hukumnya di ranah tersebut. Vincent Liong sendiri harus mengosongkan diri, menghindari
membaca buku dan hal-hal lainnya yang dapat memberikan input luar kepada dirinya, jadi
dikondisikan agar input hasil eksperimen saja yang mempengaruhi pikirannya.
Awalnya Vincent Liong merekrut para penggemar tulisannya untuk menjadi sukarelawan
percobaan dan mereka yang memiliki kepercayaan terhadap Vincent Liong. Berbagai kegiatan
eksperimen mulai dari mengamati reaksi orang tersebut dalam melakukan pengamatan terhadap
rumah, toko, makanan, barang-barang, suara, hingga campuran minuman.
Selama tahap ini yang berjalan mulai awal tahun 2005 – pertengahan tahun 2006 Vincent Liong
memilih bahan-bahan yang dianggapnya paling tepat yaitu minuman dalam botol kemasan. Jenis-
jenis minuman bisa dicari yang resikonya paling kecil seperti teh, minuman buah-buahan, harus
menghindari minuman beralkohol dan bersoda, mengurangi kopi dan susu. Vincent Liong juga
menyelidiki rumusan apa yang paling efisien dan tepat sasaran untuk menghasilkan kemampuan
yang diharapkan pada pesertanya.

* Mengkorelasikan dengan ilmu yang sudah ada (Juli 2006 – Desember 2007)
Pada tahap kedua penelitian ini setelah metode dekon-kompatiologi selesai dibuat, Vincent Liong
merekrut peneliti-peneliti dengan keahlian yang berbeda dengan dirinya. Pada tahap ini peneliti
yang direkrut adalah para ahli teori di bidangnya masing-masing yang mengikuti dekon-
kompatiologi lalu kemudian menulis buku-bukunya versi masing-masing mengenai apa yang
dialami di pengalamannya masing-masing pasca dekon-kompatiologi, dan teori-teori tentang
dekon-kompatiologi itu sendiri. Setelah tulisan-tulisan tersebut selesai dibuat, para pengguna yang
membuat penelitian teori tersebut menjelaskannya kepada Vincent Liong, yang sebelumnya telah
membatasi diri untuk sesedikit mungkin membaca buku.

* Membuat penjelasan yang tunggal yang merangkum semuanya (Januari 2008 – sekarang)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 35 / dari 35 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Dari berbagai sudutpandang tentang dekon-kompatiologi dan pola umum yang tampak secara
empiris terjadi pasca dekon-kompatiologi pada para peserta dekon, Vincent Liong menulis
penjelasan yang lebih singkat dan sistematis tentang dekon-kompatiologi.

Kompatiologi dan Grounded Theory

Sekitar setengah tahun yang lalu Cornelia Istiani penanggungjawab penelitian kompatiologi yang
berbackground Matematika dan Psikometri sempat mau meneliti kompatiologi dengan pendekatan
penelitian kuantitatif, lalu tiba-tiba berubah arah ingin menelitinya dengan metode yang mirip
dengan Grounded Theory.

Mengapa kompatiologi tidak bisa diteliti dengan metode ilmiah yang umum seperti misalnya
kuantitatif dan kuantitatif yang umum, lalu harus mirip dengan Grounded Theory yang bersifat
agak kualitatif, yang masih menjadi persengketaan apakah ini pendekatan penelitian kualitatif atau
model baru… Kita perlu membahas dulu apa perbedaan antara kuantitatif dan kualitatif, baru
memudian kita membahas Grounded Theory.

METODE PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Kalau kita membahas metode penelitian ilmiah dengan metode KUANTITATIF maka ada urutan
tahapan penelitian sbb: 1*Memformulasikan permasalahan yang akan diteliti. 2* Membuat konsep
disain penelitian. 3*Membuat instrumen untuk mengumpulkan data. 4*Memilih / menentukan
sample. 5*Menulis proposal penelitian. 6*Mengumpulkan data. 7*Memproses data. 8*Menulis
laporan penelitian.
Proses ini memiliki informasi yang pasti; mulai dari memformulasikan permasalahan sampai
menulis laporan penelitian dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap tahapan penelitian
; semua sudah bisa dikonsepkan sejak awal sebelum penelitian dimulai. Seorang peneliti
kwantitative bisa membuat banyak sekali penelitian dalam seumur hidupnya, penelitian ini
membutuhkan peneliti yang benar-benar mengerti aturan birokrasi tentang metodologi semacam
apa yang berlaku dan hasil apa yang diharapkan. Jadi kerja peneliti sama seperti kerja tukang atau
robot yang sekedar mengikuti prosedur yang berlaku sesuai aturan yang sudah dibakukan.

Lain lagi pada penelitian ilmiah dengan metode KUALITATIF yang umum. Pada metode kualitatif
yang umum, yang dipastikan sejak awal sebelum penelitian hanya tahapan penelitian:
1*Memformulasikan permasalahan yang akan diteliti. dan 8*Menulis laporan penelitian. Tahap
lainnya (tahap 2-7) bisa disesuaikan sendiri oleh penelitinya, tergantung pada subject atau object
yang diamati. Sama seperti metode kuantitatif, penelitian kualitatif yang umum juga berpedoman
pada teori yang sudah ada di buku literature, hanya prosedural dalam melaksanakannya-nya lebih
bebas daripada penelitian kuantitatif.

Penelitian baik bersifat kuantitatif maupun kualitatif memiliki tujuannya masing-masing:


Kuantitatif bertujuan untuk membuat kesimpulan yang berlaku umum. Kualitatif secara umum
bertujuan untuk membuat kesimpulan yang berlaku spesifik. Keduanya memiliki persamaan yaitu
bertujuan mengakhiri penelitian dengan kesimpulan.

KOMPATIOLOGI DAN GROUNDED THEORY

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 36 / dari 36 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Bagaimana dengan Kompatiologi yang menurut Cornelia Istiani lebih mirip dengan Grounded
Theory? Pada Grounded Theory masalah, teori dan eksperimen diformulasikan secara berkala,
tergantung pada jumlah data yang terkumpul. Penelitian dengan metode Grounded Theory tidak
memiliki kepastian tentang jumlah waktu yang dibutuhkan, arah perkembangan teori di masa yang
akan datang, bahkan tujuan akhir dari penelitian itu sendiri tidak diketahui.

Seperti metode penelitian Grounded Theory, yang ada pada seorang peneliti dengan kompatiologi
hanyalah semangat, konsistensi yang tinggi, tidak perlu orang pintar. Peneliti tidak mengharapkan
penelitiannya berakhir dengan kesimpulan yang dibakukan. Penelitian dijalankan seumur hidup si
peneliti, kalau belum selesai maka dilanjutkan oleh penerus yang biasanya murid pewaris si
peneliti, inipun bisa berlangsung sekian turunan.

Penelitian kompatiologi yang mirip dengan metode Grounded Theory itu seperti seorang nabi
dengan kitab sucinya. Anda tidak akan memahami ilmu hanya dengan membaca salahsatu tulisan
atau karya warisan si peneliti, atau membaca definisi seperti yang dilakukan ilmu kualitatif dan
kuantitatife yang begitu terobsesi untuk mengakhiri penelitian dan memberi kesimpulan atau
definisi akhir yang berlaku mutlak pada penelitiannya. Kalau anda mau memahami ilmu yang
dibuat dengan penelitian dengan metode Grounded Theory maka anda harus mengikuti
perkembangan penelitian si peneliti seumur hidup atau membaca riwayat karya si peneliti mulai
dari awal perjalanan kariernya hingga update terakhir, atau minimal membaca riwayatnya dua
sampai tiga tahun terakhir. Grounded Theory lebih mirip dengan pencarian jatidiri bagi tiap
penelitinya sendiri.

Dalam Grounded Theory karena bersifat seperti pencarian jatidiri, maka tidak ada jarak antara
peneliti dan yang diteliti. Bahkan pihak yang diteliti turut menjadi peneliti. Jadi peran pemimpin
penelitian hanyalah sebagai pengumpul data dari masing-masing pengguna yang menjalankan
budaya pencarian seperti mencari jati diri, yang berlangsung seumur hidup yang dilaporkan
kembali ke pemimpin penelitian atau dibicarakan antar pengguna untuk dimanfaatkan data
perkembangan terbarunya bersama dengan pengguna yang lain.

Dalam kompatiologi penelitian tidak dimulai dengan mencari jawaban akan apa yang sekarang
disebut sebagai kompatiologi. Awalnya Vincent Liong hanya menuliskan hasratnya untuk mencari
diri sendiri dalam buku “Berlindung di Bawah Payung” (Grasindo:2001) yang bersifat pengamatan
objektif terhadap apa yang ada di luar diri Vincent, lalu berlanjut ke buku Menjadi Diri Sendiri
(Sydney 2002) yang bersifat pengalaman diri sendiri yang dibahas secara subjektif, ketika sekolah
setingkat SMU di Sydney Australia. Lalu menulis kumpulan tulisan yang diberi judul “Saat Kiamat
dalam ruang Individu” (Jakarta, 2003) yang lebih mencari pengertian-pengertian ke dalam diri
sendiri. Sempat tidak naik kelas lalu pindah profesi sebagai pengajar ilmu kundalini sekaligus anak
Indigo di ranah metafisika (Jakarta, Juni 2004). Lalu berbalik lagi, berhenti mengajar kundalini
menjadi anti metafisika dan sok ilmiah dengan memulai eksperimen dengan manusia, untuk
mencari pola-pola yang saat ini disebut kompatiologi (mulai Januari 2005). Itu berjalan selama 1 ½
tahun hingga pertengahan tahun 2006 ketika mulai mempersiapkan penulis-penulis kitab
kompatiologi yang suka membahas bentuk eksternal, prilaku pasca-dekon dari pengguna
kompatiologi, yang berambisi menjadikan kompatiologi seperti ilmu sekolahan. Hingga akhirnya
melihat bahwa jalan untuk kompatiologi tidak cocok melalui jalan pendidikan resmi, maka pindah
haluan ke kalangan pelaku usaha (praktisi non sekolahan) pada awal tahun 2007. Lalu kembali ke
pembahasan “survival for the fittest” yang sangat dipengaruhi oleh emosi Vincent Liong ketika
meninggalkan sekolah dan harus belajar untuk survive sendiri di bulan April 2007. Sempat
membahas hal teknis-mekanistik dari kompatiologi, lalu semakin agak metafisika dan spiritual lagi
dengan terbawa membahas intuisi dan insting sekitar Juni 2007, lalu lari lagi ke pembahasan
feeling secara umum (bukan insting atau intuisi secara terpisah) di bulan Agustus 2007, hingga ke
pencerahan matematika yang mulai kemarin saya bahas (September 2007).

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 37 / dari 37 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Sebenarnya ilmunya itu-itu saja, tetapi pencarian teorinya terus bergerak tergantung data yang
tersedia dan sudutpandang yang sedang diminati oleh Vincent Liong dan pengguna merangkap
peneliti yang lain. Penelitian dengan metode Grounded Theory lebih mirip pada pengumpulan
puzzle-puzzle diri sendiri untuk melengkapinya hingga menjadi gambaran diri yang lebih utuh.

KESIMPULAN ATAU EFEKTIFITAS & EFISIENSI

Pada kompatiologi pengumpulan data berupa pengalaman-pengalaman dari ‘pengguna’ (yang


merangkap peneliti) dan kepala penelitiannya berkembang dengan tujuan akhir yang berbeda dari
tujuan penelitian metode penelitian ilmiah yang umum baik kuantitatif dan kualitatif. Kalau
kuantitatif dan kualitatif tujuan akhirnya adalah menemukan kesimpulan, maka kompatiologi
tujuannya adalah menemukan system yang lebih efektif dan efisien dalam melakukan transfer
pengalaman. Seperti perkembangan teknologi komputer dimulai dari komputer yang lambat dengan
ukuran sebesar sebuah kamar tidur, hingga laptop kecil yang ringan dan praktis untuk dibawa ke
mananapun kita pergi, yang berkali-kali lipat lebih cepat dibanding komputer yang sebesar kamar
tersebut; Kompatiologi tahap akhir hanya membutuhkan kegiatan sampling pencicipan minuman
untuk transfer pengalaman dengan berbagai variasi rumus yang diteliti selama sekian tahun
mengerjakan penelitian kompatiologi.

Rumus sirkuit kompatiologinya sendiri awalnya suka berubah-ubah media dengan sirkuit yang agak
terlalu tetap karena ada patokan dua dimensi asin-manis (sumbu X) dan pahit-asam (sumbu Y).
Lalu setelah ditemukan media yang paling efisien, maka yang agak berkembang menjadi fleksibel
adalah variasi rumus penyusunan samplingnya, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi rumus-
rumus dalam penerapan lain oleh masing-masing penggunanya.

Pada akhirnya menjalani hidup itu sendiri bagi setiap orang adalah perjalanan pencarian yang tidak
berujung. Tidak ada kata lulus untuk belajar dari pengalaman...

Dilema: Pragmatis VS Teoritis


Ilmu yang saya kembangkan (kompatiologi) sifatnya pragmatis, praktis, bukan teoritis. Ciri khas
ilmu prakmatis adalah segala sesuatu diukur berdasarkan kebergunaannya di dunia nyata / fisikal.
Contoh ilmu pragmatis: ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu elektro, ilmu tekhnik, dan lain sebagainya.

Dalam ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu elektro, ilmu tekhnik, dan lain sebagainya tidak ada istilahnya
konseling, ceramah, pengajaran dogma, dan lain sebagainya yang dianggap ilmiah, sebab object
berupa mesin tersebut tidak bisa diajak berpikir dan berfilsafat. Sesuatu bisa dikatakan ilmiah dan
empiris ala pragmatis bilamana memiliki kerangka kerja teknis mekanistik yang pasti / cukup
konsisten sebab-akibatnya. Tidak pernah bisa dan tidak etis seseorang memaksa seorang ahli ilmu
fisika, ilmu biologi, ilmu elektro, ilmu tekhnik, dan lain sebagainya untuk menguji suatu rumus,
asumsi, dan lain sebagainya yang ilmiah empiris ala pragmatis dengan cara membandingkan
dengan teori-teori para filsuf ala ilmu filsafat, lalu bila tidak sesuai maka dikatakan tidak ilmiah.
Sebaliknya seorang pragmatis tidak akan bisa dan tidak etis pula memaksa seorang teoritisi untuk
membuktikan kebenaran ilmiahnya dengan kerangka pembuktian ala orang pragmatis yang harus
melalui eksperimen fisikal / di dunia nyata.

Kalau ilmu teoritis pemikiran adalah ilmunya, dalam ilmu prakmatis samasekali harus mengabaikan
suatu asumsi yang sifatnya pemikiran, suatu pemikiran akan terbukti ilmiah dan empiris ala
pragmatis setelah melalui eksperimen laboratorium yang sifatnya fisikal bukan melalui permainan
logika dan perbandingan teori ala teoritisi. Seperti pada kompatiologi melalui kerangka prosedur

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 38 / dari 38 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

eksperimen dekon-kompatiologi bisa ditemukan apakah mekanisme tersebut berguna, bila berguna
maka ilmiah dan empiris ala pragmatis.

Salah satu point yang paling penting dari ilmiah dan empiris ala pragmatis yang membedakannya
dengan ala teoritisi adalah; bahwa seseorang yang tidak perlu pintar di pemikirannya harus mampu
membuktikan kebenaran produk ilmiah empiris ala pragmatis tersebut. Misalnya: Seorang yang
cukup mengerti membaca dan menulis harus bisa menggunakan kalkulator untuk menghitung,
tanpa perlu mempelajari pemikiran dan teori-teori berkaitan dengan konstruksi teknis kalkulator
tersebut. Dalam ’dekon’-kompatiologi (dekonstruksi) seseorang yang pernah mengikuti dekon-
kompatiologi 1-2x saja tanpa perlu membaca buku-buku berkaitan dengan kompatiologi,
standarnya sudah bisa merancang rumus minuman dekon-kompatiologi tanpa bimbingan pengajar
(pendekon independent), meskipun tetap di bawah pengawasan pendekon independent agar tidak
terjadi salah prosedur.

Semoga sebagai peneliti di ranah yang berbeda (pragmatis VS teoritis) kita tidak saling melanggar
batas masing-masing di kemudian hari.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 39 / dari 39 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

V. ’Dekon’–Kompatiologi (Dekonstruksi)
Mungkin akan lebih mudah mendapat gambaran mengenai proses acara dekon-kompatiologi
bilamana saya mencoba menceritakan contoh real sebuah sesi dekon-kompatiologi dari kacamata
orang yang turut terlibat dalam acara dekon-kompatiologi di hari tersebut daripada ditulis dengan
bahasa yang lebih formal.

Pengalaman Sebagai Pendekon-Kompatiologi...

PENDAHULUAN

Pendekon (Pen-Dekonstruksi) adalah sebutan bagi pengajar ilmu Kompatiologi. Ada dua macam
tipe pendekon kompatiologi:
* Pendekon-Tandem yang sekedar sebagai asisten membantu pendekon independent dalam
melakukan tugasnya menjual jasa dekon-kompatiologi kepada ’terdekon’ (murid atau peserta
dekon-kompatiologi) tanpa mendapatkan imbalan dan penggantian biaya akomodasi (transport dan
uang makan).
* Pendekon-Independent yang menjual jasa dekon-kompatiologi dan bertanggungjawab pada
program tersebut.

Fenomena yang menarik pada akhir-akhir ini adalah pertambahan jumlah pendekon-tandem yang
amat pesat, dengan jumlah pendekon independent yang hampir tidak berubah dalam beberapa bulan
terakhir, dan jumlah terdekon yang menurun karena adanya banyak gangguan; dari konflik dan
konspirasi untuk menggulingkan kompatiologi. Kadang-kadang untuk mendekon seorang terdekon
saja bisa datang antara lima sampai sepuluh sukarelawan pendekon-tandem yang bekerja tanpa
mendapat upah atau penggantian biaya akomodasi, malah ada yang secara khusus menelepon
pendekon independentnya untuk bertanya;“Kapan ada dekon lagi? Sudah rindu jadi pendekon-
tandem.“

Bayangkanlah... Seorang pendekon tandem rela naik taxi dari rumahnya ke mall tempat dilakukan
dekon-kompatiologi, rela membayar biaya makannya sendiri dalam tiap acara dekon tersebut, tidak
kenal pula siapa terdekon yang datang pada hari tersebut; ini semua dilakukan dengan inisiatif
sendiri tanpa meminta uang pengganti pengeluaran-pengeluaran tersebut, beberapa yang bekerja
sebagai karyawan mengambil cuti atau men-cancel segala kegiatannya hanya untuk datang ke acara
dekon. Mulai dari yang tinggal di Jakarta, sampai yang tinggal dan bekerja di Bandung ;secara rutin
pergi-pulang ke Jakarta sekedar untuk menjadi pendekon-tandem dengan biaya sendiri. Malah ada
yang cukup ekstrim sampai secara rutin setiap minggu (selama beberapa minggu berturut-turut)
menginap tiga hari di rumah Vincent Liong untuk menjadi pendekon dan menemani Vincent Liong
jalan-jalan.

Tidak sedikit yang kalau ditanya, telah menjadi pendekon tandem sebanyak sepuluh sampai
duapuluh kali dan tidak memulai menjadi pendekon independent yang dapat mencari nafkah dari
kegiatan dekon kompatiologi yang biasanya dihargai antara Rp.300.000,- sampai Rp.500.000,- per
peserta tanpa harus menyetor uang franchise ke pendiri kompatiologi Vincent Liong. Meski
Vincent Liong menawarkan secara gratis solusi yang lebih murah bahkan bisa menghasilkan nafkah
tambahan dengan menjadi pendekon, kok malah ngotot mau jadi pendekon-tandem saja.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 40 / dari 40 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Apa sich yang terjadi dengan mereka sehingga mereka tergila-gila untuk menjadi pendekon-tandem
(asisten dari pendekon independent yang tidak mendapatkan gaji yang biaya pengganti akomodasi)
?

PERJALANAN KERJA PENDEKON TANDEM

Pendekon-Tandem memulai perjalanannya dengan datang tepat waktu di foodcourt di sebuah mall,
dimana pendekon-independent dan kliennya telah menunggu. Baik pendekon independent dan
pendekon tandem diwajibkan untuk datang tepat waktu.

Setelah semua ‘peserta’ telah datang (terdekon, pendekon-independent dan pendekon-tandem),


biasanya pendekon-independent dan pendekon-tandem pergi ke supermarket untuk berbelanja
minuman yang dibutuhkan untuk acara dekon hari tersebut, termasuk membeli gelas kosong plastik
untuk satu kali pakai dan sedotan. Sesampainya di lorong bagian minuman di supermarket terdekat,
pendekon-ndependent selaku penanggungjawab memberikan instruksi singkat sbb:
“Pilih minuman yang dibutuhkan sesuai dengan karakteristik individu terdekon. Hindari minuman
yang: bersoda, beralkohol, berkafein tinggi (kecuali kopi) dan susu. Cara memilihnya, lihat
minuman yang ada di rak minuman, pilih dan ambil yang menurut feeling anda diperlukan, jangan
dilogikalan atau diteorikan. Pilih sejumlah yang menurut feeling anda mencukupi untuk digunakan
sebagai sirkuit untuk mendekon si terdekon, biasanya antara 10 sampai 20 macam minuman. Saat
memilih bila menurut anda kurang lengkap jumlah karakteristik miniman (jenis minuman) maka
anda bisa tambah, tetapi bila cukup maka jangan ditambah lagi. Selamat memilih bahan minuman
untuk membuat sirkuit yang digunakan dalam dekon.“

Biasanya pendekon-independent lalu meninggalkan para pendekon-tandem tersebut dengan


berjalan ke rak lain di supermarket tersebut, agar secara leluasa bisa memilih bahan-bahan yang
dibutuhkan tanpa perasaan minder terhadap pendekon-independent. Setelah selesai maka pendekon-
independent melihat minuman-minuman yang dipilih dan meminta pendekon-tandem mengganti
dengan minuman yang lain bila dianggap beresiko terhadap kesehatan tubuh fisik peserta dekon.
Pendekon-independent juga menentukan berapa jumlah botol minuman untuk setiap jenis minuman
yang dipilih berdasarkan perkiraan berapa jumlah ’peserta’ (terdekon, pendekon-independent dan
pendekon-tandem) yang ikut di hari tersebut.

Yang menarik dalam tahap ini adalah ada suatu hukum keseimbangan (yin-yang) yang cukup
bersifat pasti yang berlaku dalam hukum keseimbangan pada pemilihan dan penyusunan sirkuit
berbagai jenis minuman dalam sebuah acara dekon-kompatiologi. Contoh: Ketika ’tadi siang’
(Selasa, 11 September 2007) saya memimpin sebuah acara dekon, saya sempat menegur Mr.R
salahsatu pendekon-tandem yang terlibat memilih jenis minuman yang akan digunakan dengan
mengatakan;“Mengapa jenis minuman X yang digunakan adalah yang rasa orange, bukanlah lebih
tepat menggunakan yang rasa lemon“ Dalam dekon memang tidak ada ilmu pasti yang menjelaskan
jenis minuman apa yang harus dipilih sebab tiap manusia mempunyai ilmu yang lebih canggih dan
tepat yaitu felling yang ada hukum keseimbangannya yang bersifat pasti. Lalu Mr.R menjawab;
“Awalnya saya memilih yang berwarna kuning (lemon) tetapi karena sudah banyak botol yang
berwarna kuning jadi logika saya akhirnya memilih yang orange.“ Lalu saya menjawab;“Saya tidak
mengatakan bahwa semua rasa harus lengkap; pilih yang perlu saja, kadang-kadang tidak selalu
lengkap dan seimbang jumlah minuman yang dominant manis, asam, asin dan pahit. Ini tergantung
karakteristik terdekon hari ini yang anda baca dengan feeling anda.“ Lalu Mr.R kembali mengganti
botol minuman X yang rasa orange ke yang rasa lemon yang adalah sesuai feeling-nya. Hal ini
bukan terbaca karena saya sakti.

Kegiatan berlanjut ke proses penyusunan sirkuit botol ketika sekembalinya ke meja makan di
foodcourt, saat dimulainya dekon-kompatiologi dengan minuman botol; saya menyuruh para

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 41 / dari 41 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

pendekon-tandem untuk bekerjasama menyusun sirkuit posisi botol di atas sebuah baki berbentuk
persegi panjang. Yang menarik adalah selalu ada kesepakatan diam-diam yang abstrak, sulit
dijelaskan; bila salahsatu pendekon-tandem menyusun sirkuit tidak sesuai dengan pola terdekon
yang terbaca oleh feelingnya, maka pendekon-tandem yang lain akan merasa ada yang salah dan
berkomentar, lalu membuat suatu koreksi sambil didiskusikan alasannya dengan pendekon-tandem
dengan tercampuraduk antara logika formal dan felling tersebut.

Kesepakatan diam-diam itu bersifat absolut seperti kalau ada sekumpulan orang meminum segelas
kopi dari gelas yang sama, pada kenyataannya rasa kopi yang dialami oleh tiap orang adalah sama
tetapi cara menceritakan rasa tersebut selalu bersifat individual. Maka dari itu permasalahan dari
proses penulisan teori (pencatatan atas pengalaman) adalah: Pembaca tidak mampu mengalami rasa
yang sama dengan pengalaman tersebut; Karena yang bisa ditulis adalah sudutpandang akan rasa
yang bersifat individual, yang ketika dibaca ulang akan menghasilkan perkiraan akan rasa yang
hasilnya berbeda dari rasa yang dialami si pelaku.

Dekon-kompatiologi dengan menggunakan minuman botol, lalu berjalan seperti prosedur biasa
dengan urutan:

1* Memetakan (Pengelompokan/klasifikasi jenis dan rasa minuman / menyusun sirkuit di atas baki
dengan memposisikan botol-botol dalam barisan dua dimensi (panjang dan lebar), dilakukan oleh
Pendekon- tandem atau independent.)

2* Mengenal (diikuti oleh pendekon maupun terdekon)


2.1* Merasakan masing-masing minuman dengan urutan tertentu.
2.2* Mendeskripsikan karakterisitk data (rasa pada sample pertama sampai ketiga dan
mendeskripsikan efek ke tubuh setelah sample ketiga) yang timbul setelah minum, setiap selesai
meminum sample masing-masing minuman. Harus dideskripsikan dengan sudutpandang versi
masing-masing bukan disamaratakan.
> Ini dilakukan satu putaran saja.

Pada tahap ini, umum terjadi perasaan pusing dan agak mabuk pada perserta dekon-kompatiologi
terutama pada terdekon. Pusing tersebut hampir sama dengan kondisi ketika seseorang sedang
mabuk minuman beralkohol, perbedaannya; Kalau seseorang meminum minuman alkohol maka
perasaan pusing dan mabuk terjadi akibat penurunan kemampuan otak untuk memproses data yang
jumlah data-nya sama seperti pada kondisi normal. Kalau di dekon-kompatiologi perasaan pusing
dan mabuk terjadi akibat pertambahan jumlah data yang diterima dalam waktu yang sama (jumlah
data tidak seperti kondisi normal) sedangkan kemampuan otak untuk memproses data pada kondisi
normal. Jadi kemiripan perasaan pusing dan agak mabuk seperti yang terjadi pada saat seseorang
sedang mabuk minuman beralkohol terjadi karena kemampuan otak untuk memproses data tidak
sebanding dengan jumlah data yang diterima.

3* Menerima (diikuti oleh pendekon maupun terdekon)


3.1* Melakukan kombinasi beberapa minuman dengan komposisi bebas.
3.2* Memprediksi karakterstik (efek ke tubuh dan efek ke perasaan yang dapat timbul setelah
campuran tersebut di minum), prediksi dilakukan sebelum merasakan minuman hasil campuran
tersebut.
3.3* Setelah minum hasil campuran dan merasakannya maka mendeskripsikan efek ke tubuh dan
efek ke perasaan yang timbul. Harus dideskripsikan dengan sudutpandang versi masing-masing
bukan disamaratakan.
3.4* Membandingkan hasil prediksi sebelum dengan fakta sesudah minum.
> Ini dilakukan dua putaran.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 42 / dari 42 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Pada pertengahan tahap ini, mayoritas peserta (terdekon dan pendekon) biasanya masuk pada
kondisi agak fokus. Manusia, minuman, juga benda mati di sekitarnya terasa seperti individu-
invidiu yang memberikan informasinya masing-masing secara agak fokus. Efek lain yang biasa
terjadi pada tahap ini adalah hilangnya superego pada para peserta dekon-kompatiologi sehingga
pembicaraan dan tingkah-laku yang muncul sangat jelas menunjukkan sifat asli masing-masing
individu tanpa ditutup-tutupi, tidak dibuat-buat, tidak munafik, tidak gengsi dan jaga image;
berprilaku apa adanya dan bersedia berkomunikasi satu sama lain tanpa ada jarak.

4* Menciptakan (diikuti oleh pendekon maupun terdekon)


4.1* Membuat perencanaan efek ke tubuh atau efek ke perasaan apa yang diharapkan muncul tanpa
diketahui oleh peserta lain, ditulis di handphone masing-masing.
4.2* Membuat campuran minuman dengan bebas disesuaikan dengan harapan tersebut tanpa
melihat ingredients masing-masing minuman.
4.3* Campuran minuman dibagikan dan di minum oleh masing-masing peserta.
4.4* Membuat deskripsi efek ke tubuh atau efek ke perasaan yang dirasakan. Harus dideskripsikan
dengan sudutpandang versi masing-masing bukan disamaratakan.
4.5* Membuat perbandingan antara harapan dan fakta.
4.6* Membuat kesimpulan.
> Ini dilakukan satu putaran saja.

Hukum keseimbangan (yin-yang) yang cukup bersifat pasti ini tidak hanya sampai pada tahap
pemilihan jenis minuman dan penyusunan sirkuit minuman tersebut. Biasanya sejak awal dekon-
kompatiologi pendekon-tandem sudah mulai bisa mendiskusikan perkiraan grafik pola pergerakan
mental terdekon selama proses dekon-kompatiologi tersebut secara cukup tepat. Sebagai ilmu yang
teknis-mekanistik dan bukan sekedar mengkultuskan atau manut pada guru yang ditinggikan;
proses kompatiologi memungkinkan terjadinya pergerakan grafik perubahan kondisi mental
terdekon dan pendekon selama acara dekon-kompatiologi yang tidak dibatasi oleh rasa takut
terhadap kekuasaan guru.

PENUTUP

Oleh karena itu dekon-kompatiologi yang selama ini dibahas oleh berbagai penulis kitab
kompatiologi hanyalah setengah bagian dari ilmu kompatiologi. Pengalaman sebagai terdekon di
acara dekon-kompatiologi membuat orang mampu membaca dan memetakan data. Lebih jauh lagi,
pengalaman sebagai pendekon-tandem maupun pendekon-independent membuat orang mampu
menguasai secara sadar dan cukup pasti hukum keseimbangan (yin-yang) yang secara alamiah
sudah ada di setiap makhluk hidup sehingga secara teknis-mekanistik mampu menyetir dan
memanipulasi (bukan dengan menanamkan sugesti) hubungan sebab-akibat yang ada di alam
sekitarnya sebagai hukum yang alamiah karena mengalami pola hukum sebab akibatnya.

Mainan ini mainan yang tidak berkesudahan, seorang pendekon menghadapi terdekon seperti
seorang penggemar permainan logika matematika (bukan matematika yang hanya mengerjakan soal
berhitung ala pertukangan saja yang bisa digantikan oleh kalkulator) yang tidak ada habisnya
mengubah hukum sebab-akibat alamiah yang bersifat pasti, dalam sebuah rumus yang satu yang
bisa bertransformasi menjadi rumus yang lain.

Memang seorang pendekon berlatih pada susunan jenis minuman dan para individu terdekon; lebih
jauh lagi permainan logika matematika sesungguhnya adalah asosiasi lain dari permainan rumus
minuman dan eksperimen terhadap terdekon, yang menciptakan rumus-rumus bentuk lain, sesuai
kebutuhan pada sutuasi dan kondisi yang costumize, sesuai kebutuhan sehari-hari (lingkungan
kerja, pergaulan dan keluarga) masing-masing individu pendekon sendiri.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 43 / dari 43 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Kapan saja, dimana saja, apa saja bentuknya ; data dalam konteks yang satu bisa diasosiasikan ke
konteks yang lain. Tidak ada ilmu yang bisa dipatentkan, hanya bentuk rumus yang satu yang bisa
bertransformasi ke bentuk rumus yang lain. Sebab ilmu apapun hanyalah sebuah posisi yang satu
terhadap posisi yang lain.

Dekonstruksi ala Kompatiologi dengan menggunakan Minuman Botol


‘Standar Operation Prosedure’(SOP) Dekonstruksi ala Kompatiologi jenis ‘non
verbal : non verbal’(N:N).

No. Keterangan Kegiatan / Gambar

1. Pengelompokan/klasifikasi jenis dan rasa minuman. Jenis minuman di bawah ini contoh
saja, bisa berubah tergantung kalibrasi.
* Minuman
Minuman Teh Minuman Teh Isotonik
Hijau Hitam

1 2 3 4 5 6 7 8

Pahit Manis

2. 2.1. Merasakan masing-masing minuman dengan urutan tertentu (secara urutberdasarkan


susunan botol yang disusun oleh pendekon).
2.2. Mendeskripsikan karakterisitk data (efek ke tubuh dan perasaan) yang timbul setelah
minum.
**
1 2 3 4 5 6 7 8

‘?’
Karakteristik Data
(efek & perasaan)

3. 3.1. Melakukan kombinasi beberapa minuman dengan komposisi bebas.


3.2. Memprediksi karakterstik (efek & perasaan yang mungkin timbul setelah campuran
tersebut di minum), prediksi dilakukan sebelum merasakan minuman hasil
campuran tersebut.
3.3. Setelah minum hasil campuran dan merasakannya maka mendeskripsikan efek dan

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 44 / dari 44 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

perasaan yang timbul.


3.4. Membandingkan hasil prediksi sebelum dengan fakta sesudah minum.
3.5. Dekonstruksi mulai berjalan.
***
Praktikum 3a Praktikum 3b Praktikum 3c

2
1 2 6 8
8 5
5 8 3 4 7

‘?’ ‘?’ ‘?’


Karakteristik Data Karakteristik Data Karakteristik Data
(efek & rasa) (efek & rasa) (efek & rasa)

4. 4.1. Membuat perencanaan efek dan perasaan apa yang diharapkan muncul dengan tanpa
diketahui oleh peserta lain.
4.2. Membuat campuran minuman dengan bebas disesuaikan dengan harapan tersebut
tanpa melihat ingredients masing-masing minuman.
4.3. Campuran minuman dibagikan dan di minum oleh masing-masing peserta.
4.4. Membuat deskripsi efek dan rasa yang dirasakan.
4.5. Membuat perbandingan antara harapan dan fakta.
4.6. Membuat kesimpulan.
****
Praktikum 4a Praktikum 4b Praktikum 4c

Input Kesimpulan Input Kesimpulan Input Kesimpulan


Karakteristik Data Karakteristik Data Karakteristik Data
(efek & rasa) yang (efek & rasa) yang (efek & rasa) yang
diharapkan muncul diharapkan muncul diharapkan muncul

?
? ? ? ?
? ?
? ? ? ? ?

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh ter-dekon dan pen-dekon (dekonstruksi ala
kompatiologi):

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 45 / dari 45 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

1. Pendekon harus telah menjalani dekonstruksi ala Kompatiologi terhadap dirinya sendiri yang
dibimbing oleh orang yang menguasai Kompatiologi dan kemudian telah lolos test uji sebagai
pendekon independent.

2. Banyak pihak yang mengaku-aku menguasai Kompatiologi tetapi samasekali tidak tahu-menau
soal Kompatiologi. Bisa saja meniru SOP tersebut di atas berdasarkan urutan kerjanya, tetapi tanpa
kemampuan pemetaan standar ala Kompatiologi maka akan menghadapi masalah ketika
menghadapi ter-dekon yang didekonstruksi. Vincent Liong tidak bertanggung jawab atas
penyalahgunaan Kompatiologi oleh para tukang jiplak ini dan efek samping apapun yang timbul.

3. Buat para pen-dekon disarankan memberi tahu sebelumnya resiko-resiko & akibat-akibat yang
dihadapi kondisi mental ter-dekon (saat dilakukan dekonstruksi dan pasca dekonstruksi). Wajib
meminta persetujuan ter-dekon prihal kegiatan dekonstruksi yang akan diikutinya.

4. Buat para pen-dekon wajib mentanyakan kepada para peserta dekon-kompatiologi sebelum acara
prihal penyakit yang diderita yang bisa saja berbahaya bila mengikuti dekon kompatiologi. Pilihlah
minuman yang tidak terlalu ber-resiko seperti misalnya berbagai minuman, teh, jus buah, dan
beberapa minuman isotonik yang tidak terlalu keras; hindari minuman beralkohol, minuman
bersoda dan minuman isotonik yang agak keras, boleh sedikit kopi dan susu kalau bisa jangan
terlalu banyak.

5 Buat para pendekon, jangan meremehkan proses / kegiatan No 1 dan 2 tersebut di atas yang
kelihatannya paling sepele. Bilamana pengurutan karakteristik data tidak diperhatian maka ada
resiko dekonstruksinya tidak rapi, dapat mempengaruhi mental subject / ter-dekon sehingga tidak
terkontrol dalam ber-relasi dengan lingkungan sekitarnya. Perhatikan juga range jenis minuman
yang digunakan yang berpengaruh pada kekuatan efek dekonstruksi yang perlu disesuaikan secara
costumize per kasus dekonsktruksi.

6. Biasanya setelah proses / kegiatan No 3 terhadap ter-dekon sudah mulai tampak reaksi-reaksi
fisik (misal: sakit kepala, demam, muka memerah, dan lain sebagainya) dan emosional (misal:
terlalu spontat sehingga kurang kontrol diri). Dalam dekonstruksi kompatiologi hal ini normal
terjadi akibat perubahan sistem pengambilan keputusan di otak manusia; yang tunggal (linier saja)
menjadi bioptional (fuzzy dan linier).

7. Kemampuan yang diperoleh akibat proses dekonstruksi hanya bertahan untuk waktu yang lama
bilamana mengunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara praktis dan costumize. Bila hanya
dipandang hanya sebagai wacana yang perlu diketahui secara objektif saja, maka kehidupan dalam
lingkungan yang menggunakan logika formal / linear akan membawa diri pengguna untuk hanya
menggunakan logika linier saja seperti sebelum di-dekonstruksi.

8. Jangan mencampur aduk SOP / prosedur kompatiologi dengan prosedur kegiatan lain yang
sejenis agar tidak terjadi hal-hal resiko yang tidak terduga. Pengawasan & pelayanan pasca-
dekonstruksi hanya diberikan oleh pen-dekon yang mendekonstruksi ter-dekon, tidak oleh pihak
lain atau pen-dekon lain. Bilamana ini terjadi maka pen-dekon berhak untuk tidak memberikan
bantuan / pertolongan kepada ter-dekon.

9. Minuman merupakan salah satu contoh dan sangat mungkin untuk diganti atau ditambahi dengan
sesuatu yang lain misalnya buku, musik, dan lain sebagainya, tentunya ada penyesuaian tertentu
tergantung kreatifitas pendekon.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 46 / dari 46 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

VI. Setelah Dekon-Kompatiologi


Pengukuran persentase tingkat keberhasilan terhadap suatu program yang diberlakukan terhadap
manusia yang keberhasilannya berkaitan dengan free choice manusia itu sendiri, tidak dapat diukur
dengan mudah pada saat program selesai dijalankan. Mau tidak mau penilaian akan suatu tingkat
keberhasilan harus dikaitkan dengan jangka waktu tertentu setelah selesai mengikuti program.

Dalam terapi rehabilitasi ketergantungan narkoba misalnya; biasanya diawali dengan program
rehabilitasi secara intensif selama setengah tahun yang kemudian tingkat ‘keberhasilannya’ (istilah
umumnya ‘pulih’) diukur setelah sebulan, tiga bulan, enam bulan, setahun, lima tahun, sepuluh
tahun setelah keluar dari sebuah program terapi intensif. Bisa saja seorang pasien kembali
menggunakan narkoba hanya sehari setelah pulang ke rumah, atau bisa juga lima atau enam tahun
setelah keluar dari program terapi intensif tsb, hal ini sangat berkaitan dengan free choice dan
kondisi dari si pasien sendiri. Tentunya pengukuran persentase tingkat keberhasilan akan menurun
seiring dengan semakin lama jarak antara waktu pengukuran dengan waktu si pasien keluar dari
program terapi.

Persentase tingkat keberhasilan terapi, misalkan; sebulan: 90%, tiga bulan: 80%, enam bulan: 75%,
setahun: 60%, lima tahun: 50%, sepuluh tahun: 30%. Jadi dalam contoh ini tingkat keberhasilan
suatu lembaga rehabilitasi ketergantungan narkoba adalah 30% dalam jangka waktu sepuluh tahun
pasca terapi.

Dalam konteks pengukuran persentase keberhasilan pasca dekon-kompatiologi, terdapat kesamaan


masalah dengan pengukuran persentase tingkat keberhasilan di rehabilitasi ketergantungan narkoba.
Meskipun kompatiologi bukan terapi penyembuhan, tetapi adalah free choice dari pengguna
kompatiologi sendiri untuk menggunakan sistem yang diperoleh dari kegiatan dekon-kompatiologi
atau kembali ke sistem sebelum mengikuti kompatiologi. Ada pengguna kompatiologi yang
samasekali tidak merasa nyaman menggunakan sistem kompatiologi sehingga setelah dekon-
kompatiologi selesai dilakukan tidak memberikan hasil apa-apa. Ada pula yang setelah
menggunakan sistem kompatiologi selama setahun memutuskan kembali menggunakan sistem
sebelum mengikuti dekon-kompatiologi.

Dalam sistem pendidikan berbasis ceramah yang cenderung mengajarkan budaya berpikir objektif
dan generalisasi; sebagian besar pengguna akan menerima dan sebagian kecil tidak menerima
karena merasa tidak cocok dengan diri mereka, sehingga akhirnya akan menjadi pemberontak yang
tidak mau mengikuti sistem. Kelompok pengguna yang tidak mau menerima sistem tidak
diperhitungkan sebagai kegagalan, sebab sistem yang disampaikan sudah dianggap sebagai
kebenaran yang harus ditaati tanpa ada kesempatan untuk memilih; menerima atau tidak menerima
sistem tersebut.

Dalam sistem pendidikan berbasis pengukuran yang dialami oleh diri sendiri (subjektif) seperti
kompatiologi; sebagian besar pengguna akan merasa tidak cocok karena sebagian besar masyarakat
lebih suka berada di perasaan aman dan terjamin yang disajikan dalam doktrin-doktrin sistem
pendidikan berbasis ceramah. Kemampuan untuk mengukur data di dalam dan di luar diri membuat
pengguna kompatiologi mau tidak mau harus menyadari konsekwensi kebaikan dan keburukan dari
setiap pilihan yang ada di kehidupannya yang menimbulkan sejenis perasaan galau dan resah yang
perlu disikapi dengan kepasrahan dalam menjalani kehidupan.

Kesadaran adalah anugerah yang harus dibayar dengan konsekwensi tanggungjawab yang mahal.
Kesadaran itu tidak terbatas untuk orang tertentu saja, tetapi tidak untuk semua orang.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 47 / dari 47 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Keberhasilan Dekon-Kompatiologi
Bicara tentang dekon-kompatiologi, orang suka bertanya apa yang biasa terjadi setelah seseorang
mengalami dekon-kompatiologi. Karena dekon-kompatiologi bukanlah suatu paham, keyakinan
dengan konsep yang standar; maka tingkat keberhasilan dekon-kompatiologi tidak bisa dengan
mudah diperbandingkan dengan konsep yang standar. Beberapa diantara pengguna kompatiologi
menulis buku mengenai kompatiologi dengan versi pengalamannya masing-masing, sehingga
makin membuat bingung pembaca non-user tentang apa sebenarnya kompatiologi tersebut.

Secara umum ada beberapa point yang bisa dijadikan patokan sebagai keberhasilan suatu dekon-
kompatiologi.

* Tepat sasaran dan efisiensi waktu penyelesaian masalah.


Dekon-kompatiologi memberikan kemampuan pengukuran bagi penggunanya untuk mengukur
pemposisian dirinya sendiri terhadap hal-hal di luar dirinya demi mencapai tujuan versi dirinya
sendiri. Biasanya orang menerima suatu teori atau konsep yang dijadikan tujuan hidup mentah-
mentah dari orang lain, sehingga orang tersebut ketika akan mempraktekkannya tidak kenal benar
dengan konsep yang mau diikutinya. Dalam dekon kompatiologi orang bisa dengan cepat
melakukan hal-hal yang menurut pengukurannya sendiri harus dilakukan tanpa mengulur-ulur
waktu, karena dirinya sendiri yang mengetahui dari diri sendiri tentang peta sebab-akibat
permasalahan yang dialaminya. Pada bangun tidur hari pertama setelah pertama kali ikut ritual
minum teh dekon-kompatiologi, dalam beberapa kasus terdekon mengalami semacam shock akibat
banyak data yang diterima secara bersamaan yang jauh melebihi kondisi normal, biasanya kondisi
kembali normal setelah diri si terdekon terbiasa dengan kondisi tersebut antara sehari hingga
seminggu. Dekonstruksi dalam skala kecil terjadi ketika pertama kali terdekon ikut dekon-
kompatiologi, rekonstruksi terjadi dalam kehidupan sehari-hari pasca dekon-kompatiologi, memori
(ingatan) si terdekon seperti diputar ulang untuk dikaji ulang satu demi satu secara sadar atau tidak
sadar. Dekonstruksi dan rekonstruksi dalam skala besar terjadi secara bersamaan ketika proses
peninjauan ulang ini selesai, biasanya beberapa bulan sampai satu tahun kemudian. Si terdekon
sudah mampu melihat gambaran utuh dari dirinya dan posisi dirinya terhadap lingkungan tempat ia
hidup, maka ia sudah mampu menentukan pilihan-pilihan hidupnya versi diri sendiri. Hidup kita ini
dibatasi oleh umur yang terbatas, kemampuan untuk mengenal benar masalah-masalah yang kita
hadapi bukan dari nasehat, teori, pendapat pihak lain yang tidak terlibat langsung sebagai pelaku
dalam masalah membuat proses kehidupan lebih cepat, ‘tepat sasaran’ (masalah diselesaikan sesuai
keinginan diri sendiri bukan keinginan pihak lain yang dipaksakan menjadi keinginan diri sendiri)
dan efisien.

* Memahami masalah dengan lebih sederhana.


Dekon-kompatiologi mengajak orang untuk mengukur masalah secara subjektif bukan objektif.
Pengukuran objektif seperti menonton sebuah film, ceramah dengan kata-kata, dan lain sebagainya
kita dibiasakan untuk menonton dengan sudah dihadirkan pemain utama, good cop, bad cop, dan
lain sebagainya hingga tokoh-tokoh figuran yang paling tidak penting dengan pola hirarki dari yang
paling penting hingga yang paling tidak penting dengan sangat jelas. Begitu juga dengan gambar
dan bangunan tiga dimensi menyuguhkan informasi bagi kita dari yang paling terlihat hingga yang
paling tidak terlihat. Pada pengukuran subjektif pelaku bisa mendapat kebebasan memilih subject
utama secara bebas terhadap subject utama lain yang juga bisa dipilih dengan bebas. Data
ditampilkan dengan format data mentah yang bisa dibandingkan posisi subject data yang satu
terhadap subject data yang lain tidak selalu harus memiliki titik nol yang bersifat mutlak. Akibatnya
tidak banyak teori yang rumit dan sulit dimengerti yang tidak berhubungan dengan masalah yang
sedang terjadi yang mempersulit penyelesaian masalah. Hanya hal yang berkaitan saja, yang bisa
secara langsung diperbandingkan antara satu subject permasalahan dengan subject yang lain.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 48 / dari 48 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

* Tampak Alami, apa adanya, tidak dibuat-buat.


Dekon-Kompatiologi membuat relasi yang berhubungan antara kegiatan mengalami yang subjektif
dengan teori-teori kebenaran bikinan diri sendiri yang adalah hasil dari kontemplasi pengalaman
mengalami hidup sendiri, tanpa intervensi dari pendapat, nasehat pihak lain yang tidak memiliki
relasi langsung dengan diri si pelaku. Hal ini membuat pelaku mengenal benar setiap tindakannya,
cenderung tampak otomatis dan ‘tidak dibuat-buat’ (agar sesuai dengan teori yang bukan buatan
diri sendiri sehingga kurang dikenal dengan baik oleh diri sendiri).

Kegagalan Dekon-Kompatiologi
Perbedaan utama antara kompatiologi dengan cerita-cerita kebanyakan adalah; Bahwa dalam cerita
kebanyakan Morpheus-lah yang memilih ‘Neo’ (masyarakatlah yang memilih sang tokoh utama
suatu mitos), sedangkan dalam dekon-kompatiologi individu-individu siapa saja orangnya bisa
memutuskan sendiri untuk mendatangi ‘Morpheus’ (diambil dari nama dewa tidur dan mimpi
Yunani) untuk minta difasilitasi agar mendapat kesempatan mengalami menjadi Neo. Lalu masing-
masing Neo bisa menjalani ceritanya masing-masing sesuai keinginan diri sendiri yang disadari tiap
konsekwensinya oleh diri sendiri, tanpa minta dinasehati dan tidak biasa dinasehati oleh orang lain,
juga tidak ingin menasehati orang lain.

Tiap masing-masing Neo juga mendapat kesempatan untuk memilih meminum pil merah untuk
mengetahui apa itu Matrix (yang berakibat membawa si individu keluar dari matrix) atau pil biru
untuk menjalankan hidup seperti sebelumnya, yang ditawarkan oleh Morpheus.

Morpheus opens a container which holds two pills : a blue one, and a red one. He puts one in each hand, and
holds them out to Neo.
Morpheus : This is your _last chance_. After this, there is no turning back.....You take the blue pill, the story
ends. You wake up and believe...whatever you want to believe. You take the red pill.....you stay in
wonderland...and I show you just how deep the rabbit hole goes.
Neo pauses for an instant, then reaches for the red pill. He swallows it down with a glass of water, and looks
at Morpheus.
Morpheus : Remember...all I'm offering you is the truth : nothing more.
(Dikutip dari dialog film The Matrix)

Bila pil merah diminum maka dia akan terbawa keluar dari realita yang umum berlaku di
masyarakat, masuk ke realita diri sendiri (subjektif) dan mampu mengukur pemposisian dirinya di
tengah masyarakat dengan pencapaian-pencapaian versi dirinya sendiri. Penilaian diri sendiri yang
dibuat oleh masyarakat tidak begitu berpengaruh terhadap penilaian diri sendiri terhadap diri
sendiri.

Bila pil biru yang satu diminum, maka yang akan terjadi adalah orang tersebut akan melupakan dan
mengabaikan pengalaman ketika mengikuti ritual dekon-kompatiologi, kembali ke masyarakat
menjalankan rutinitasnya sehari-hari di masyarakat dengan meyakini realita yang umum berlaku di
masyarakat sebagai bagian dari masyarakat (objektif), penilaian tentang diri yang dibuat oleh
masyarakat sangat berpengaruh terhadap penilaian diri sendiri terhadap diri sendiri.

Bila seseorang memilih hanya salahsatu diantara pilihan pil merah dan pil biru maka dirinya akan
menganggap aneh dan dianggap aneh orang-orang yang memilih pilihan realita yang lain, dirinya
juga akan mendapat kesulitan ketika berusaha menggunakan hal-hal yang bersumber dari realita
yang lain, misalnya;

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 49 / dari 49 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Penilaian orang asia kebanyakan terhadap dirinya sendiri sangat dipengaruhi oleh penilaian
keluarga, komunitas, dan lain sebagainya terhadap dirinya. Penilaian orang barat kebanyakan
terhadap dirinya sendiri terpisah atau tidak begitu dipengaruhi oleh penilaian masyarakat terhadap
dirinya sendiri. Ketika ilmu, teori, pendapat ala orang barat berusaha diadopsi oleh orang asia,
maka ada perbedaan cara pandang ala orang barat dan orang asia terhadap ilmu, teori, pendapat
buatan orang barat tersebut. Orang barat dalam mempelajari ilmu, teori, pendapat, dan lain
sebagainya tetap memisahkan ruang pribadinya dengan ilmu, teori, pendapat, dan lain sebagainya
tersebut, proses pembelajaran bersifat objektif dan diri sendiri yang terpisah dengan teori adalah sisi
subjektifnya. Orang asia yang penilaian terhadap dirinya sendiri sangat dipengaruhi oleh penilaian
keluarga, komunitas, dan lain sebagainya terhadap dirinya; akan memposisikan ilmu, teori,
pendapat, dan lain sebagainya yang diadopsi dari luar dirinya sebagai penilaian ala dirinya sendiri.
Ini menyebabkan kemungkinan orang asia untuk menjadi fanatik terhadap suatu ilmu, teori,
pendapat, dan lain sebagainya lebih tinggi dari orang barat. Bilamana seorang asia mendapatkan
nilai akademis yang rendah, maka hal itu akan mempengaruhi anggapan tentang dirinya sendiri
yang juga merasa rendah, hal ini berbeda dengan orang barat yang tidak semerta-merta
menghubungkan konsep pencapaian nilai akademis dengan penilaian terhadap diri sendiri.

Masih ada pilihan ketiga dengan mengalami dua realita tersebut (pil merah dan pil biru) secara
bersamaan tetapi terpisah ruangnya satu sama lain sehingga tidak saling mereduksi, pada dasarnya
secara alamiah masing-masing neo memiliki kemampuan hidup di dua realita berbeda tersebut
secara bersamaan.

Dekon-kompatiologi adalah suatu ritual sederhana yang difasilitasi oleh para pendekon-
kompatiologi seperti morpheus memberikan pengalaman-pengalaman kepada neo (terdekon-
kompatiologi) untuk memahami adanya dua realita tersebut (subjektif & objektif / pil merah & pil
biru). Dari tahap awal hingga tahap akhir ritual dekon-kompatiologi, setiap terdekon (peserta
dekon-kompatiologi yang masih pertama kali ikut) mendapatkan pengalaman lengkap dari dua
realita tersebut, sehingga setelah selesai bisa menentukan apakah mau memilih menelan pil merah,
pil biru atau keduanya bila mampu.

Kegiatan dekon-kompatiologi adalah ritual yang susah-susah-gampang bagi tiap pengajarnya.


Seperti pembahasan Plato tentang mitos gua, ada kemungkinan seorang manusia akan marah atau
bahkan bisa sampai membunuh orang lain yang berusaha memperkenalkan realita lain yang tidak
sama dengan realita yang dianggapnya sebagai satu-satunya yang paling benar.

“…Manusia dapat dibandingkan - demikian katanya – dengan orang-orang tahanan yang sejak lahirnya
terbelenggu dalam gua; mukanya tidak dapat bergerak dan selalu terarah pada dinding gua. Di belakang
mereka ada api bernyala. Beberapa orang budak belian mondar mandir di depan api itu, sambil memikul
bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan rupa-rupa bayangan dipantulkan pada dinding gua.
Karenanya orang-orang tahanan itu menyangka bahwa bayang-bayang itu merupakan realitas yang
sebenarnya dan bahwa tidak ada realitas yang lain. Namun, sesudah beberapa waktu seorang tahanan
dilepaskan. Ia melihat sebelah belakang gua dan api yang ada di situ. Ia sudah mulai memperkirakan bahwa
bayang-bayang tidak merupakan realitas yang sebenarnya. Lalu ia dihantar keluar gua dan melihat
matahari yang menyilaukan matanya. Mula-mula ia berpikir ia sudah meninggalkan realitas. Tetapi
berangsur-angsur ia menginssafi bahwa itulah realitas sebenarnya dan bahwa dahulu ia belum pernah
memandangnya. Pada akhirnya, ia kembali ke dalam gua dan bercerita kepada teman-temannya bahwa apa
yang mereka lihat bukanlah realitas sebenarnya melainkan hanya bayang-bayang saja. Namun mereka tidak
mempercayai orang itu dan seandainya mereka tidak terbelenggu, maka mereka pasti akan membunuh tiap
orang yang mau melepaskan mereka dari gua…”
(Dikutip dari buku ‘Sejarah Filsafat Yunani’ karya Prof.Dr. Kees Bertens, diterbitkan oleh Penerbit Kanisius
tahun 1999, halaman 135, pembahasan mengenai mitos tentang gua, dialog Politeia karya Plato)

Keberhasilan atau kegagalan dekon-kompatiologi sangat ditentukan oleh pilihan bebas terdekon itu
sendiri. Bilamana ia memilih pil biru, pilihan untuk melupakan pengalaman individual-nya bermain

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 50 / dari 50 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

dekon-kompatiologi, kembali ke masyarakat menjalankan rutinitasnya sehari-hari di masyarakat


dengan meyakini realita yang umum berlaku di masyarakat sebagai bagian dari masyarakat tentu.
Tentunya ia akan menganggap ritual dekon-kompatiologi yang dialaminya gagal.

Pada akhirnya kebebasan setiap manusia untuk memilih realita yang berlaku pada dirinya sendiri.
Peran Pendekon (pengajar kompatiologi) seperti halnya peran Morpheus hanyalah fasilitator
belaka, terdekon (pengguna kompatiologi) seperti Neo sendirilah yang bisa menentukan pilihan
untuk dirinya sendiri.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 51 / dari 51 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Bagian Kedua

PENDIDIKAN ALA KOMPATIOLOGI

ditulis oleh: Cornelia Istiani

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 52 / dari 52 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

I. PENDAHULUAN
“Di Negara kita pendidikan masih menjadi beban berat dan bahkan menjadi sebuah kegelisahan
sepanjang zaman”--Sindhunata1--

Kalimat Sindhunata diatas seolah mewakili kondisi pendidikan bangsa ini. Pendidikan yang
seharusnya menjadi solusi bagi banyak hal dalam kehidupan telah menjadi bagian dari masalah
kehidupan itu sendiri. Begitu banyak keluhan seputar pendidikan di negara ini yang menarik
banyak orang untuk memperbincangkannya. Dari kalangan masyarakat awam, praktisi
pendidikan, dan oleh para pembuat kebijakan itu sendiri. Sudah begitu banyak pernyataan dan
keluhan tentang rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Rendahnya
kualitas SDM ini dihubungkan dengan kualitas hasil pendidikan oleh sistem pendidikan
nasional (Kompas, 9 Oktober 2004). Kualitas SDM Indonesia masih rendah dan belum
mempunyai daya saing sehingga tidak mampu tampil bersaing di pentas global. Menurut hasil
survei PERC, keunggulan dan daya saing pendidikan dikaitkan dengan produktifitas tenaga
kerja lulusan pendidikan-Indonesia menempati posisi 12 dari 12 negara Asia sebagai peserta2.
Begitu pula hasil dari survei PISA 2003 memperlihatkan hasil yang rendah, yaitu dari 41
negara peserta Indonesia berada pada posisi 38 untuk bidang IPA, dan posisi 39 untuk bidang
matematika dan kemampuan membaca3. Hasil survei internasional tahun 2003 tersebut
memperlihatkan rendahnya kualitas dan kemampuan siswa Indonesia di antara negara-negara
peserta. Salah satu karakteristik dari survei tersebut adalah yang di ukur tidak saja kemampuan
siswa yang mengacu pada kurikulum tapi juga kaitannya dengan dunia nyata sehari-hari. Aspek
lain yang menjadi pertimbangan adalah informasi tentang latar belakang siswa, kondisi
kemampuan guru, kepala sekolah, dan kondisi sekolah itu sendiri. Pendidikan menyumbang
cukup signifikan terhadap peningkatan jumlah pengangguran karena tidak terpenuhinya
kualifikasi yang diharapkan oleh dunia industri. Permasalahan ini di tegaskan lagi dalam ulasan
tajuk rencana Kompas, 16 Februari 2008, tentang “mismacth” dunia Perguruan Tinggi dengan
dunia kerja.

Permasalahan dunia pendidikan tidak hanya masalah prestasi siswa pada bidang studi tersebut
di atas, tapi juga menyentuh pada aspek karakter dan budi pekerti, dan masalah yang berkaitan
dengan esensi dari pendidikan itu sendiri dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan. Ketika

1
Sindhunata…Judul dan tahun??
2
Hasil survei internasional PERC, 2001 ini disampaikan pada seminar sehari Hasil Studi Internasional;
Prestasi Siswa Indonesia dalam bidang Matematika, Sains, dan Membaca. Pada Kamis, 7 September 2006
di Depdiknas. Isu PERC adalah menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan kualitas dan
produktivitas tenaga kerja, karena kualitas pendidikan dan kualitas tenaga kerja sebagai salah satu factor
ekonomi berkorelasi. Pemeringkatan ini menilai sistem pendidikan Indonesia kurang relevan dengan
kebutuhan pembangunan.
3
Hasil studi PISA dan TIMSS ini disampaikan pada seminar sehari Hasil Studi Internasional; Prestasi Siswa
Indonesia dalam bidang Matematika, Sains, dan Membaca. Pada Kamis, 7 September 2006 di Depdiknas.
PISA merupakan Programme for International Student Assessment yang dilakukan oleh Organization for
Economic Co-operation and Development (OECD) mempunyai tujuan meneliti kemampuan siswa usia 15
tahun dalam hal membaca, matematika dan Sains secara berkala. Hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai informasi yang berkesinambungan tentang prestasi belajar siswa pendidikan dasar Indonesia di
lingkup Internasional. PISA mengukur kemampuan siswa untuk mengetahui kesiapan siswa menghadapi
tantangan masyarakat-pengetahuan dewasa ini. Penilaian PISA berorientasi ke masa depan, yaitu menguji
kemampuan siswa untuk menggunakan ketrampilan dan pengetahuan mereka dalam menghadapi tantangan
kehidupan nyata, tidak semata-mata mengukur yang tercantum dalam kurikulum sekolah. Studi lain yang
sama pentingnya adalah Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) yang dilakukan
oleh The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA). TIMSS ini
merupakan survey berskala international yang diikuti oleh kurang lebih 50 negara, pada survey tahun 2003
pesertanya sebanyak 46 negara. Tujuan penelitian ini adalah mengukur pengetahuan dan kemampuan
matematika dan sains siswa berusia 13 tahun serta informasi lainnya tentang siswa, guru, dan kepala
sekolah.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 53 / dari 53 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

terjadi tawuran pelajar yang disertai dengan kekerasan, penyalahgunaan narkoba, geng motor
yang ekstrim dan mengarah pada tindak kriminal, kenakalan remaja yang juga mengarah pada
tindakan kriminal, demonstrasi dengan kekerasan yang terjadi di pendidikan tinggi, mahalnya
biaya pendidikan, dst maka pendidikan yang akan menjadi sasaran limpahan tuntutan terhadap
fungsi dan tujuan dari sistem pendidikan nasional. Sudah sewajarnya masyarakat mulai
mempertanyakan sistem pendidikan nasional secara khusus dan merasa tidak puas.

Banyak pendapat dan penilaian dari masyarakat, dan para ahli terhadap kondisi ini. Sebagian
menilai bahwa rendahnya kualitas pendidikan di negara ini karena kurikulum. Sebagian
mengatakan bahwa kurikulumnya terlalu sempit, ramping, atau ringan, tapi sebagian yang lain
mengatakan terlalu luas, gemuk, atau berat. Setiap ada masalah yang timbul, pasti dikatakan
karena belum masuk dalam kurikulum, atau karena waktu yang dialokasikan masih kurang
banyak. Tidak adanya koordinasi antar bidang yang seharusnya terkait dalam penyusunan
kurikulum juga menyebabkan kurikulum Indonesia berubah tanpa arah dan fokus yang jelas.
Suatu sistem pendidikan yang berorientasi pada kurikulum biasanya memang tidak pernah
memuaskan masyarakat, karena itu hal yang paling mudah adalah menjadikan kurikulum
sebagai “kambing hitam” penyebab terjadinya kegagalan dalam pendidikan formal.

Pendapat lain lebih mengarah pada rendahnya kualitas pendidik dan proses pembelajaran.
Pernyataan di dukung oleh penelitian terbaru tentang efektifitas sekolah dan efek guru terhadap
siswa4. Hal ini di dukung fakta bahwa sekolah merupakan tempat pendidik menjadi harapan
satu satunya buat siswa untuk belajar. Pendidik menjadi ujung tombak dalam sistem pendidikan
dan keseluruhan proses belajar mengajar. Jika harapan tersebut dipenuhi maka akan
meningkatkan kepuasan siswa yang akhirnya meningkat pula kualitasnya, jika tidak terpenuhi
maka kekecewaan yang dirasakan oleh siswa, yang sangat mungkin berujung pada melemahnya
kualitas hasil pendidikan. Dan sedikit yang mempermasalahkan esensi dan philosophy
pendidikan.

Berbagai usaha secara teoritis dan praktis telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan
kualitas pendidikan secara umum. Sudah banyak masukan kritis yang dimaksudkan untuk
membenahi sistem pendidikan formal mulai dari masalah administrasi, dana pendidikan,
peningkatan kualitas guru, pembentukan dewan sekolah, bahkan sampai ke philosophy
pendidikan itu sendiri, tapi sementara ini-sampai hari ini masih terlalu sedikit perubahan yang
berarti. Usaha terbaru pemerintah saat ini adalah memacu para penyelenggara dan satuan
pendidikan untuk meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang
berkualitas. Pemerintah telah menetapkan standar nasional pendidikan yang memuat kriteria
minimal dari delapan komponen pendidikan. Dengan menggunakan standar nasional
pendidikan sebagai acuan setiap satuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan
pendidikannya secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya. Untuk itu,
Pemerintah membentuk Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)5 yang bertanggung jawab

4
John Macbeath dan Peter Mortimore (2001). Improving school effectiveness. Diterjemahkan oleh Nin Bakdi
Soemanto. Grasindo( 2005). Perbandingan antara dua orang atau lebih guru, selama satu periode panjang
akan menawarkan satu ukuran dari dua faktor kunci dalam penelitian efektivitas—konsistensi dan
stabilitas. Pada titik tertentu, prestasi berbeda antara murid guru A dan guru murid guru B, akan mengukur
konsistensi, sementara derajat varians atas waktu akan memberi satu satu ukuran stabilitas. Dalam praktik,
ukuran konsistensi sekaligus ukuran stabilitas diperlukan jika mau memahami kekuatan efektifitas seorang
guru. Hal 16.
5
BSNP ini merupakan lembaga mandiri, profesional, dan independen yang mengemban misi untuk
mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi pelaksanaan standar nasional pendidikan.
BSNP bertugas membantu Menteri Pendidikan Nasional dan memiliki kewenangan untuk mengembangkan
Standar Nasional Pendidikan; menyelenggarakan ujian nasional; memberikan rekomendasi kepada
Pemerintah dan pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan; merumuskan
kriteria kelulusan pada satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah; Menilai kelayakan isi,

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 54 / dari 54 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

kepada Menteri Pendidikan Nasional. Usaha pemerintah bersama BSNP ini bertujuan untuk
meningkatkan efektifitas sekolah dalam kontribusinya dalam mewujudkan tujuan dan fungsi
pendidikan nasional.

Dalam perspektif penelitian efektifitas sekolah, dan mengacu pada penelitian Gillbon dan
Gipps (1998), yang memberikan sebuah gambaran komprehensif tentang interaksi antara
pengalaman individu dan kehidupan sekolah; hasil penelitian Judith Harris (1998)-mendukung
pendapat ini dengan melakukan penelitian dan menghasilkan kesimpulan (hal 21. Macbeath. J
dan Mortimore, P, 2001)6 sebagai berikut:

“identitas seorang anak sebagai seorang pribadi, kapasistasnya sebagai seorang yang
belajar, dan motivasinya sebagai seorang siswa muncul dari cara dimana ia menegaskan
dirinya sendiri, di dalam kelompok teman sebaya yang paling dekat. Jender, ras,
kemampuan, kelas, akademik atau nonakademik, antisekolah atau prosekolah, mungkin
merupakan satu karakteristik penting dari identitas seseorang, tetapi hanya ketika struktur
sekolah dan sifat campuran sosial sekolah mendorong karakteristik itu ke dalam arti
penting sekolah.”

Hal ini mengindikasikan bahwa permasalahan rendahnya kualitas pendidikan tidak hanya
berkaitan dengan masalah kurikulum, kualitas guru-tapi dengan perspektif sekolah sebagai
komunitas sosial, dimana siswa mengalami sebagian kehidupannya di sekolah. Lingkungan ini
menjadi bagian dari pertumbuhan dan perkembangan dirinya termasuk pengaruhnya terhadap
pembentukan konsep diri anak-baik konsep diri akademis maupun nonakademis.

Hasil penelitian Marsh dan Yeung (1998) memperlihatkan bahwa antara konsep diri umum
dengan pencapaian akademis tidak menunjukkan adanya hubungan. Hal ini mungkin saja
terjadi karena konsep diri umum tidak mencakup tentang perbedaan sekolah dan kurikulum
yang digunakan, sementara itu pencapaian akademis tidak hanya berdasarkan konsep diri saja-
ada pengaruh faktor lain di luar konsep diri. Sedangkan antara konsep diri akademis dengan
pencapaian akademis memperlihatkan adanya hubungan tapi kurang kuat. Hal ini terjadi karena
pengukuran akademis yang tidak spesifik. Misalnya untuk kemampuan matematika, berkaitan
dengan kemampuan lain, misalnya konsep diri kemampuan verbal, kestabilan emosi,
kemampuan literacy, dan konsep diri lainnya. Sedangkan dari hasil analisis butir alat ukur self
description questionaire (SDQ) yang dikembangkan oleh Marsh dalam penelitian Amaryllia
(2004)7 memperlihatkan respon yang diperoleh lebih rendah dari respon sampel referensi. Tapi

bahasa, penyajian, dan kegrafikaan buku teks pelajaran. Standar yang dikembangkan oleh BSNP berlaku
efektif dan mengikat semua satuan pendidikan secara nasional.
6
John Macbeath dan Peter Mortimore (2001). Improving school effectiveness. Penerjemah Nin Bakdi
Soemanto. Grasindo(2005).
7
Amarrylia Puspasari (2004). Analisis Model Konsep Pelajar Sekolah Menengah Pertama Jakarta Selatan
dan Bogor. Fakultas Psikologi UI-Program Pasca Sarjana, Program Magister Psikologi Terapan Psikometri.
Salah satu penyebab rendahnya respon sample terhadap pengukuran konsep diri adalah ikatan keluarga.
Combs, Richards, dan Richards (1976) dalam penelitian sebelumnya memberikan kesimpulan bahwa
keluarga memberikan pengalaman pertama terhadap pengalaman yang muncul pada individu dengan (1)
perasaan kesesuaian dan ketidaksesuaian (2) perasaan untuk diterima atau ditolak (3) peluang untuk
identifikasi dan (4) harapan terhadap pencapaian, nilai maupun perilaku. Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Zakrajsek (1966), mengungkapkan bahwa penelitian yang dilakukan pada kelas 7 dan kelas 8,
menunjukkan bahwa sampel yang telah terlepas dari pengaruh inferioritas keluarganya mengalami tingkat
aktualisasi dirinya dan mengalami peningkatan konsep diri. Hal ini yang membedakan antara sampel
penelitian dan sampel referensi. Dimana pada sampel penelitian, pengaruh keluarga begitu kuat dalam
penentuan dan pengembangan dirinya, namun di lain pihak sesuai dengan perkembangannya, tuntutan dari
kelompok individu sendiri juga semakin besar. Akibat yang muncul adalah semakin banyaknya peran yang
harus dimiliki oleh seorang siswa. Sehingga akan menyulitkan perkembangan individu dan menyebabkan
konsep diri menjadi relatif lebih rendah dibandingkan dengan sampel referensi.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 55 / dari 55 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

untuk skala konsep diri matematika, terlihat bahwa respon dari sampel penelitian ini
memberikan respon yang lebih tinggi dibandingkan dengan respon sampel referensi secara rata-
rata. Kondisi ini disebabkan oleh jawaban responden sebagian besar pada pilihan netral atau
moderat dibandingkan dengan responden dari sampel referensi yang memilih untuk
memberikan respon sesuai dengan kondisi konsep diri terhadap matematika yang rendah. Hal
ini sangat mungkin terjadi karena perbedaan kontekstual kedua negara. Indonesia, seperti
negara Asia lainnya memiliki ikatan kekeluargaan yang sangat kuat dan mempengaruhi
perkembangan individu. Dimana keluarga dan masyarakat merupakan sentral dari kehidupan
dan perkembangan kepribadian seseorang. Misalnya jika si anak memperoleh prestasi rendah
maka hal ini akan mempengaruhi si anak dalam memandang dirinya sendiri juga rendah. Hal
ini dapat terlihat pada bagaimana perilaku para orang tua ketika mendapatkan prestasi anaknya
rendah dengan serta merta perilaku membandingkan akan muncul. Perbandingan dengan teman
sebaya yang mempunyai prestasi tinggi disertai dengan penekanan pada rasa malu karena
prestasi rendah. Dalam analisis butir pernyataan, ada satu hal yang menarik pada salah satu
dimensi yang mengukur Emotional stability, yaitu pernyataan yang bersifat asumtif
menghasilkan korelasi rendah. Hal ini mengindikasikan rasa rendah diri siswa. Misalnya untuk
butir penyataan “Jika saya belajar dengan tekun, maka saya dapat menjadi salah satu anak
terpandai di angkatan saya”. Dan butir pernyataan “Saya tidak pernah berminat untuk
mengambil les tambahan matematika” mempunyai korelasi rendah disebabkan pada kelompok
dengan konsep diri matematika yang tinggi masih merasa membutuhkan les tambahan untuk
bidang matematika.

Hasil studi Akubuiro & Joshua (dalam RR. Herliani8), memperlihatkan bahwa self-concept dan
sikap mempunyai pengaruh pada prestasi belajar akademik dalam Sains di Sekolah Menengah
Pertama di Nigeria. Mereka menggunakan 530 sampel siswa untuk di tes dengan tes objektif
40 butir soal dalam Fisika dan kimia serta 60 butir soal kuesioner mengukur sikap dan self-
concept. Hasil yang didapat adalah bahwa prestasi belajar akademik siswa dalam Sains secara
signifikan dapat diramalkan dari sikap mereka, self-concept academic dan science self concept.
Sedangkan hasil penelitian RR. Herliani (2005) sendiri memperlihatkan hal lain yaitu mengenai
sikap terhadap mata pelajaran tertentu dan memperlihatkan hubungan positif untuk sains dalam
kaitannya dengan prestasi belajarnya.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, konsep diri, harga diri, identitas, dan sikap saling
berkaitan. Konsep diri merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri yang dibentuk
melalui pengalaman penting dari lingkungan atau orang lain dan mengacu pada evaluasi bidang
spesifik dari diri sendiri. Atau pandangan anak terhadap diri sendiri berkaitan dengan harapan,
angan-angan, perasaan, pemikiran, dan usaha. Anak-anak dapat melakukan sendiri evaluasi
tersebut dalam banyak bidang kehidupan, diantaranya adalah akademis. Misalnya dalam hal
kemampuan akademis, anak mempunyai kemampuan menilai diri nya sendiri secara spesifik
tentang kemampuan akademis itu dikaitkan dengan nilai diri sendiri. Apakah si anak merasa
“in” dengan bidang akademis tertentu atau tidak. Sama sekali tidak berkaitan dengan prestasi
rendah atau tinggi, yang ada adalah bagaimana si anak mempersepsikan dirinya sendiri dalam
hal kemampuan akademis.

8
RR. Herliani (2005). Hubungan Antara Sikap Terhadap Sains Dan Prestasi Belajar Sains Pada Siswa
Sekolah Menengah Pertama Di Indonesia Berdasarkan Data TIMSS 2003. Hasil analisis dengan metode
LISREL pada measurement model menunjukkan hasil yang tidak fit antara model dengan data pada
variabel laten Sikap Terhadap Biologi, Ilmu Bumi dan Fisika, namun pada Sikap Terhadap Sekolah model
fit dengan data. Hasil analisis structural model melalui 7 model konseptual , didapatkan 4 model fit
dengan data sedangkan tiga lainnya tidak fit. Model yang fit adalah model dengan variabel Sikap berupa
jumlah skor, sedangkan variabel Prestasi Belajar Sains berupa gabungan materi Sains maupun pembagian 3
materi Sains. Pengujian model struktural antar gender menunjukkan adanya pengaruh gender pada Sikap
Terhadap Sains dan kaitannya dengan Prestasi Belajar Sains.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 56 / dari 56 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana membenahi pendidikan itu sendiri agar dapat
berperan meningkatkan kualitas manusia Indonesia di tengah era teknologi informasi saat ini.
Dari pembahasan hasil penelitian diatas maka dapat dibuat suatu kesimpulan bahwa usaha
dengan kesadaran nyata yang dilakukan orang-orang di sekitar si anak dapat membangun self-
image anak terhadap segala aspek kehidupan tidak saja terhadap aspek konsep diri akademis
tapi juga setiap aspek dalam kehidupan dan dalam rangka menjadi manusia itu sendiri (being
human). Hal ini memperlihatkan perlunya perubahan pola pikir politis menajdi pola pikir
strategis.
Mereka yang berpikir politis adalah tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai
tujuan yang ingin dicapai. Dalam sistem pendidikan saat ini yang penting adalah nilai
akademis, berbagai hal yang lain tidaklah penting. Berpikir politis non strategi membuat orang
sangat disipilin pada etika yang tampak kasat mata seperti sopan-santun, tutur kata yang baik,
ramah, dan lain sebagainya demi mendapatkan tujuan yang ingin dicapai; tetapi belum tentu
mentaati aturan moral yang mendasar seperti tidak berbohong, tidak mencelakakan orang lain,
tidak obral janji, dan lain sebagainya. Orang yang berpikir politik non strategis adalah orang-
orang yang mencari jalan pintas.

Mereka yang berpikir strategis adalah tipe orang yang harus bertanggungjawab pada tiap
pilihan yang dipilihnya dengan menerima hal-hal baik dan menanggung semua resiko dari
pilihannya. Tipe orang strategis selalu berpikir untuk meminimalisir kerugian, karena ia sadar
bahwa dalam pilihan apapun juga tetap ada sisi kerugian yang harus dibayar demi mendapatkan
sisi keuntungannya. Berpikir strategis mewajibkan seseorang untuk berdisiplin pada aturan
perannya sendiri yang dibuat dan dilaksanakan secara konsisten oleh diri sendiri. Oleh karena
itu orang yang berpikir strategis cenderung tampak keras kepala, unik, eksentrik, belum tentu
memiliki sopan-santun, tutur kata yang baik, ramah, dan lain sebagainya, tetapi tidak mudah
untuk melanggar aturan moral yang mendasar seperti tidak berbohong, tidak mencelakakan
orang lain, tidak obral janji, dan lain sebagainya. Dengan kata lain orang berpikir politik
strategis adalah orang-orang dengan perencanaan dan perhitungan jangka panjang.

Perubahan dilakukan dari orang-orang disekitar si anak terutama dalam sistem pendidikan yang
di ikuti anak. Sehingga dengan begitu “petualangan” anak terhadap lingkungannya dan dirinya
akan membukakan wawasan dan membantu mereka menciptakan esensinya sendiri dalam
proses menentukan diri sendiri. Permasalahan berikutnya adalah bagaimana sistem pendidikan
mampu mengakomodasi hal tersebut sehingga keluaran dari sistem pendidikan bukan hanya
manusia pandai dalam hal akademis tapi juga manusia yang mampu mandiri yaitu mempunyai
kebebasan, bertanggungjawab terhadap kebebasan tersebut dan tujuan hidupnya.

II. METODE KOMPATI DALAM PENDIDIKAN


“Mens sana in corpore sano”
“Didalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat”

Sering terdengar nasehat “makan dan istirahatlah yang cukup sebagai persiapan untuk tes
keesokan harinya”. Makan dan istirahat, kedua kata ini ditujukan pada badan, yaitu badan
sebagai tempat dalam melaksanakan pengalaman fisikal dan pengaruhnya pada kegiatan tes.
Jika badan cukup makan dan istirahat maka si individu tersebut akan mampu berkonsentrasi
dan berpikir. Sehingga ada perkataan “wah! Tes ini menguras energi dan melelahkan”. Lelah
menunjuk pada kondisi badan yang staminanya menurun, sehingga akan mempengaruhi kondisi
jiwa (yang diwakili oleh semangat) yang terlihat menurun juga dari gerak langkah, tatapan

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 57 / dari 57 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

mata, interaksi dengan orang lain, dan sebagainya. Melalui badanlah manusia mempunyai
pengalaman fisikal yang mempengaruhi jiwa (aspek perasaan dan pikiran). Badan dan jiwa, dua
hal yang akrab dalam kehidupan manusia, merupakan aspek jasmani dan rohani manusia.
Badan merupakan hal paling mudah diterima dan dimengerti oleh manusia itu sendiri, karena
badan bisa disentuh, jika dicubit akan terasa sakit jika tidak dirawat maka akan keliatan “jelek”,
dan sebagainya. Badan mempunyai peran penting dalam kehidupan dan keberadaan manusia,
melalui badan manusia dapat melakukan segala macam kegiatan, termasuk kegiatan rohani-
berdoa. Seluruh bagian badan ikut bergerak dalam kegiatan tersebut, tidak saja tangan dan
sikap badan, tapi mata dan bibir pun ikut bergerak dalam irama tertentu. Begitu pentingnya
badan bagi manusia dalam menjalankan dirinya sendiri dan dalam keberadaannya, cukup
mudah dipahami bahwa jika badan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka seluruh
kegiatan manusia juga akan terganggu, meski ada kasus-kasus tertentu. Itulah pentingnya badan
yang sehat, dalam yang sehat manusia mampu menyelenggarakan hidupnya. Maka semboyan
tersebut mempunyai makna yang dalam, bahwa badan mempunyai peran yang cukup bermakna
dan tak terpisahkan terhadap keberadaan (aku) manusia. Bagaimana badan berfungsi dalam
manusia dan membantu manusia mengerti akan diri sendiri dan menjalankan dirinya sendiri9.
Pendek kata badan menjadi orientasi manusia dalam bentuk fisiknya dan menjadi penuh dalam
kerohaniannya. Sehingga kesehatanpun (biasanya menunjuk pada badan) menjadi penting,
pengalaman fisikal melalui badanlah maka manusia pun menjelmakan pengalaman perasaan
dan pikiran.

Masih dalam stamina dan semangat, dalam iklan penambah tenaga tersebut disebutkan bahwa
dengan menambah stamina badan maka akan menumbuhkan semangat yang luar biasa. Hal ini
menunjukan bahwa pengalaman fisikal mempengaruhi pengalaman perasaan dan pikiran, badan
yang sehat menjadi stimulasi bagi meningkatnya kondisi jiwa. Pengalaman fisikal inilah yang
seringkali terlupakan dalam keseharian entah karena kesibukan atau karena sudah biasa dan
rutin maka dianggap jadi kebiasaan, sehingga manusia tidak memiliki sensitifitas lagi dalam
pengalaman fisikal tersebut. Perbincangan atau pembahasan sehari-hari melalui berbagai
media, termasuk ceramah dalam seminar dan training, adalah bagaimana mencapai ketenangan
jiwa dengan hidup seimbang. Dan bagaimana pemposisian diri antara pembincara dan peserta
akan terlihat bahwa pengalaman perasaan dan pikiran lah yang menjadi fokus utama. Misalnya
seorang motivator, dia berfungsi langsung pada pengalaman perasaan dan pikiran. Kemudian
muncul istilah “kipas dan kompor” itulah fungsi motivator, kapan “kipas” digunakan dan kapan
“kompor” digunakan tergantung pada kondisi jiwa seseorang.

Pembahasan sejenis motivator ini sudah banyak dan populer di masyarakat, berbeda dengan
pembahasan tentang pengalaman fisikal yang masih sangat jarang. Pengalaman fisikal yang
dimaksud adalah suatu pengalaman tentang keadaan fisikal yang nyata dan dirasakan jelas
keberadaannya, misalnya rasa sakit atau sehat, rasa suka atau tidak suka, rasa sedih atau
senang, dan sebagainya. Suatu pengalaman badan, pengalaman fisik yang mempunyai
kemampuan membawa manusia pada kesadarannya sebagai manusia dengan segala perasaan
dan pikirannya. Pengalaman fisikal ini menjadi intermedium dalam realisasinya bagi
pengalaman perasaan dan pikiran, serta menjadi bentuk komunikasi dalam rangka hidup
bersama dirinya, yang akhirnya hidup bersama manusia/pribadi lain.

9
A.Sudiarja, SJ; G. Budi Subanar, SJ; St. Sunardi; T. Sarkim (2006). Karya lengkap Driyarkara. Yang jelas
semua orang ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang berbadan. Lihat saja bagaimana manusia itu
menjadi sadar. Karena badannya. Badannya bersatu dengan realitas sekitarnya; dan dengan demikian,
manusia bangkit, berada dalam suatu “cahaya”, dia “melihat” dirinya dan barang-barang, dia menempatkan
diri, mengerti sini dan sana (semua ini terhadap badan), dia bisa berjalan, bertindak, dan lain sebagianya.
Lihatlah, cacat dalam badan juga mengurangi kesadarannya. Jika cacat itu merusak seluruh keindraan,
manusia juga tidak bisa mengerti dunia. Jadi berkat badannyalah dia bisa menjalankan dirinya. Hal 181.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 58 / dari 58 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Kompatiologi melalui “mabuk teh” telah memberikan pengalaman fisikal tersebut. Hasilnya
memperlihatkan adanya perubahan dalam diri seseorang yang mengikutinya. Perubahan awal
yang biasa terjadi adalah euforia dengan perasaan-perasaan yang selama ini ada, baik yang
sudah lama terpendam ataupun yang sedang dialami. Pada awal perubahan ini banyak
menimbulkan sensasi yang bisa saja tidak biasanya dari perilaku sehari-hari meski masih dalam
koridor masing-masing. Setelah masa tersebut yang terjadi adalah kesadaran akan perasaan diri
sendiri di pengalaman sehari-hari, yang akhirnya mempengaruhi pola berpikir. Semua ini dalam
rangka menjadi diri sendiri dan berpartisipasi aktif dalam penciptaan diri sendiri. Hasil dari
‘dekon’ kompatiologi diantaranya adalah pemposisian diri sendiri terhadap kondisi lingkungan
sekitar dengan membaca data apa adanya. Data ini menjadi sumber informasi dalam mebuat
keputusan dengan mempertimbangkan alternatif-alternatif pilihan dan risikonya dalam
membuat keputusan. Intinya adalah kebebasan dalam menentukan pilihan-pilihan dan
bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Hal ini senada dengan esensi dari eksistensialisme
seperti dalam kutipan berikut:

“...........individu memiliki kebebasan untuk menentukan arah hidupnya melalui pilihan-pilihan


yang saling berganti dan berkesinambungan, namun kebebasan tersebut juga memberikan
tanggung jawab kepada individu atas hasil-hasil keputusan pribadinya sehingga kebebasan
merupakan sumber penderitaan dan kecemasan”10.

Kebebasan menjadi sumber penderitaan dan kecemasan yang dimaksud adalah setelah tahu
semua pilihan dan efek-efek yang akan ditimbulkan oleh pilihan tersebut, maka kesadaran
orang tersebut akan konsekuensi baik dan buruk yang ada di setiap pilihannya menimbulkan
suatu kegalauan, penderitaan, kecemasan karena tidak ada pilihan yang seratus persen baik
tanpa sisi kerugian yang harus ‘dibayar’. Hal ini menimbulkan ketakutan dan kecemasan dalam
tingkat tertentu bahwa setiap tindakan yang dipilih selalu ada sisi baik dan buruk yang harus
‘dibayar’, hal ini mengakibatkan orang tersebut menjadi disiplin terhadap aturan moral dasar.

Dalam perkembangannnya setiap orang akan mengalami yang namanya belajar, ketika masih
berada pada tahap awal perkembangan sangat tergantung pada orang-orang terdekatnya dan
mempengaruhinya bagaimana harus menjalani kehidupannya dan belajar dari mereka dan
lingkungan sekitarnya. Pada awal perkembangan ini selalu diarahkan dari luar karena dianggap
belum mampu membuat keputusan sendiri dan bertanggungjawab. Sebenarnya masa anak-anak
pada tahap awal adalah masa dimana jika diberikan stimulus dengan tepat untuk merangsang
berkembangnya daya imajinasi maka akan berkembanglah si anak dengan kemampuan dalam
kekhasannya. Misalnya dengan memperlakukan anak sesuai dengan kondisi anak tersebut,
bukan sebaliknya yaitu sesuai dengan keinginan orang tua atau lingkungan sekitarnya, ketika si
anak mendapatkan nilai jelek pada matapelajaran matematika, maka dengan serta merta orang
tua akan kecewa dan memaksa anak untuk belajar tambahan di tempat les belajar matematika
tanpa mau meneliti dulu apa masalahanya. Pada dasarnya anak-anak mempunyai kemampuan
natural yang luar biasa. Mereka mempunyai kemampuan adaptasi terhadap kondisi di luar
dirinya sendiri yang hebat, mereka mempunyai cukup toleransi terhadap orang lain, dan mampu
belajar banyak hal dengan serius. Kemampuan kognitif, sosial-emosional, dan psikomotorik
berkembang dengan sendirinya secara natural hanya perlu stimulus yang tepat untuk
berkembang optimal bukan celaan ketika mengalami ‘jatuh’, tapi pengertian dalam kasih
sayang. Atau ketika jatuh tersandung batu ketika berjalan dan menangis maka orang yang
menjaganya akan mengatakan bahwa batunya yang salah, dsb. Dalam kenyataannya dalam
setiap kehidupan anak tergantung pada harapan orang tua dan masyarakat sekitarnya. Anak-
anak menjalani kehidupannya dalam harapan sosial masyarakat yang sering kali bertolak
belakang dengan harapan dan kenyataan si anak sendiri. Karena itu banyak permasalahan yang
muncul dalam perkembangannya dalam bentuk kenakalan remaja, pelanggaran aturan moral
dasar, kekerasan terhadap orang lain, tawuran antar pelajar, mahasiswa, bahkan perang antar

10
James F. Brennan (2006). Sejarah dan sistem psikologi. Ed 6. Rajawali Pers. Jakarta

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 59 / dari 59 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

suku. Mereka tumbuh dengan kondisi yang dipaksakan atau dibiarkan liar tak terurus, yang
akhirnya tumbuh menjadi manusia tanpa tanggungjawab dan serba menuntut, selalu
menyalahkan orang lain jika terjadi sesuatu atas dirinya sendiri atau dengan kata lain setiap
tugas perkembangan di setiap tahapan perkembangan belum seruluhnya diselesaikan dengan
tuntas. Pada tahap awal perkembangan anak-anak mempunyai kemampuan objektif dan
subjektif sekaligus.

Ketika sudah berada pada tahap perkembangan dimana tanggungjawab adalah milik sendiri
sepenuhnya dan ketidakmampuan dalam menentukan pilihan, maka permasalahan mulai
bermunculan. Sementara kemampuan natural yang semestinya dimiliki dari masa awal
perkembangan sudah menurun drastis nyaris hilang, dan kemungkinan besar hanya kemampuan
objektif saja yang masih bertahan dan berkembang. Hasil dari penelitian terhadap orang-orang
yang sudah menggunakan metode ‘mabuk teh’ dekon kompatiologi memberi gambaran bahwa
kemampuan subjektif melalui pengalaman fisikal akan muncul kembali dengan kecepatan
sesuai dengan harapan dan niat masing-masing orang. Kemampuan subjektif akan mulai
muncul dengan mempelajari penggunaan praktis dari mekanisme otomatis pengukuran subjectif
itu sendiri. Setelah digunakan maka kesadaran akan pilihan-pilihan dalam kehidupan sehari-
hari disertai dengan konsekuensi dari setiap pilihan baik yang menguntungkan maupun
kerugiannya (sisi plus dan minusnya dari setiap pilihan) dalam menentukan tindakan. Tidak ada
pilihan yang baik atau buruk. Misalnya usaha perilaku tidak mencuri karena mengetahui
konsekuensi dari tindakan merugikan orang lain atau mengambil hak orang lain adalah bisa saja
kalau ketahuan masuk penjara.

Hasil lanjutan dari metode Kompatiologi adalah membuat perubahan pada pola berpikir
menjadi lebih strategis. Kemampuan ini yang diperlukan oleh setiap orang dalam menjalani
kehidupannya dan menjadi filsuf bagi dirinya sendiri yang sangat mungkin satu sama lain tidak
saling berhubungan dalam tema maupun kepentingan, karena setiap orang mempunyai
kesadaran pada posisi masing-masing. Strategi di sini dalam rangka menjadi manusia dan
sebagai cara mewujudkan diri menjadi manusia atau dengan kata lain dalam pandangan kaum
eksistensialisme adalah bagaimana cara menjadi manusia, bagaimana manusia berada. Dalam
istilah Driyarkara adalah menjadi manusia autentik11.

III. TUJUAN PENDIDIKAN


“Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan
persoalannya.”
P.A.T.(2002:135)

Semakin disadari bahwa manusia lebih dari sekedar sumberdaya, kemampuan perusahaan
untuk beradaptasi terhadap kecepatan perubahan dan dinamika kondisi diluar perusahaan
sangat tergantung pada karyawannya yang notabene adalah manusia. Yang mampu menjadi
pesaing kecanggihan teknologi informasi adalah manusia. Perubahan pola pikir dalam hal
tanggungjawab sosial perusahaan dari charity based (istilah dalam community development
selama ini) menuju ke participatory management systems (paradigma dalam Corporate Social
Responsibilty) yaitu suatu usaha perusahaan sebagai tanggungjawab sosial dengan program-
program intervensi sosial yang dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat

11
A.Sudiarja, SJ; G. Budi Subanar, SJ; St. Sunardi; T. Sarkim (2006). Karya lengkap Driyarkara. Menurut
Heidegger, pada umumnya Das Sein, manusia itu sudah menjadi vervallen dan menjadi Das Man. Artinya
menyeleweng karena diliputi, dijajah, ditentukan sama sekali oleh “kata orang”, “pendapat orang”, “cara-
cara yang lazim”, dan lain sebagainya. Manusia seakan-akan sudah tumpul atau mabuk karena kemauannya
itu. Ia tidak menghayati realitas yang sebenarnya, ia selalu ada dalam impian atau khayalan. Hal 282.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 60 / dari 60 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

masyarakat. Posisi sentral dari manusia ini makin disadari keberadaannya, dan perubahan pola
pikir dunia usaha tercermin dalam pembahasan mengenai pentingnya posisi manusia dalam
kemajuan suatu dunia usaha dan industri. Bahwa manusia tidak bisa lagi dipandang hanya
sebagai sumberdaya sama seperti sumberdaya lainnya misalnya aset yang bergerak maupun
tidak bergerak. Manusia sudah mulai ditempatkan sebagai central dalam rencana perkembangan
dan kemajuan perusahaan, dengan memperhatikan kualitas hidup karyawan sebagai manusia,
yaitu keseimbangan kerja dengan kehidupan pribadi. Dalam seleksi karyawan juga mulai
terjadi pergeseran dalam kriteria penerimaannya, yaitu masuknya unsur kesesuaian value
organisasi dengan karakteristik manusia sebagai individu, dalam promosi jabatan tertentu salah
satu value adalah integritas menjadi pertimbangan. Dalam seleksi karyawan sudah tidak
mencukupi lagi hanya mempertimbangkan kesesuaian dengan jabatan tertentu. Hal ini berarti
bahwa ada semacam tuntutan bahwa untuk bekerjapun manusia tidak cukup hanya mempunyai
kecerdasan dan kemampuan tapi tidak kalah pentingnya adalah karakter pribadi. Terhadap
masyarakat sekitar perusahaan, manusia sudah mulai ditempatkan dalam posisinya sebagai
manusia sehingga program-program CSR pun diarahkan pada peningkatan kualitas hidup
manusianya tidak lagi sekedar artifisial sekedar membantu hanya sebagai syarat kebaikan hati
perusahaan. Sehingga pengembangan sumberdaya manusia melalui pendidikan merupakan
suatu usaha terarah antar pribadi dalam rangka membantu manusia menuju otentisitasnya
secara menyeluruh. Otentisitas manusia ini berkaitan dengan identity, yaitu suatu kesadaran
akan diri sendiri dengan segala kelebihan dan kelemahan yang melekat apa adanya. Inilah
manusia yang hidup dalam bumi manusia dengan segala persoalannya.

Memperlakukan manusia hanya sekedar sebagai sumberdaya merupakan suatu reduksi terhadap
eksistensia manusia, terhadap seluruh potensi manusia itu sendiri. Pendidikan dalam pengertian
luas merupakan usaha yang terencana dan terarah dalam rangka membantu manusia
mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya dan menjadi manusia sepenuhnya (human
being) dalam arti terbentuknya “aku” yang menjadi “trade mark” bagi dirinya. Dalam hal ini
aktifitas yang mendidik mengarahkan manusia untuk menyadari ke-subjek-an dirinya sendiri.
Menjadi subjek berarti bahwa manusia mempunyai kemandirian dalam menentukan arah
hidupnya dengan menyadari semua alternatif pilihan yang ada, saling berganti, dan
berkesinambungan, tetapi kemandirian yang disertai dengan tanggungjawab atas hasil-hasil
keputusan pribadinya tersebut. Menjadi subjek dalam arti baik menjadi leader ataupun
follower, keduanya sama pentingnya.

Sebagian besar hal-hal yang muncul dari orang-orang yang mengalami dekon kompatiologi
adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan “aku”. Pengalaman masa lalu yang
berkontribusi dalam pembentukan “aku” tersebut sangat bervariasi dan sebagian berasal dari
sistem pendidikan formal. Pengalaman yang berkaitan dengan masalah pilihan dan mengambil
keputusan dengan segala risikonya atas pilihan tersebut, serta kemampuan adaptasi yang
lemah-yang mampu menimbulkan perasaan minder. Setelah masa dimana semua masalah-
masalah yang selama ini ditahan dan coba ditekan karena alasan tertentu-biasanya alasan sosial
masyarakat yang menjadi tekanan, akhirnya muncul dan “meledak” sampai titik klimaks
tertentu. Permasalahan ini kalau ditelusur berakar pada pola pengalaman dalam pendidikan
yang disengaja maupun tidak, dari lingkungan keluarga maupun dari lingkungan sosial
sekitarnya, dengan kata lain adalah permasalahan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan.
Hal ini terlihat dari hasil atau keluaran dari sistem pendidikan variasinya terlalu besar dalam hal
kualitas dan kemampuan survive-nya (life skills) yang rendah. Dan makin memperkuat bahwa
pendidikan dasar yang menjadi fondasi penting yang perlu medapatkan perhatian, di masa
inilah dimulai pembentukan identitas dan konsep diri masing-masing anak.

Sistem pendidikan belum menjawab akan pemenuhan kebutuhan mendasar manusia yaitu
terbentuknya identitas diri pada anak didik. Identitas diri anak didik ini dapat dibentuk dengan
pengkondidisian dalam belajar. Identitas ini juga akan terbentuk melalui interaksi dengan
orang-orang disekitarnya. Identitas ini diperlukan dalam pemenuhan kebutuhan akan

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 61 / dari 61 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

kemampuan untuk bertahan hidup (life skills), kemampuan untuk berhubungan dengan sesama
dan sekitarnya, dan kebutuhan akan intimacy (keduanya masalah komunikasi). Manusia sejak
lahir sudah memperlihatkan kemampuan survival dalam pergaulannya dengan sekitarnya,
ketika lapar maka seorang bayi akan menangis minta makan, mencoba berkomunikasi dengan
orang di sekitarnya, dan kebutuhan akan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.
Kebutuhan-kebutuhan ini akan berlangsung terus sampai manusia itu sampai pada tahap
kematian. Dalam perkembangannya si manusia kecil ini akan tumbuh dan berkembang bersama
dengan lingkungan sekitarnya dan orang-orang disekitarnya. Sebagian akan memberikan
pengalaman pada si manuia kecil bagaimana kehidupan di luar keluarganya, misalnya
pengalaman tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain, belajar kebiasaan-kebiasaan di
masyarakat. Secara alami ia membutuhkan bantuan dari orang dewasa disekitarnya untuk
mencapai kemampuan tertentu yang sesuai dengan kebutuhannya untuk hidup. Bantuan ini bisa
berasal dari keluarga dan orang lain. Bantuan dari orang dewasa tersebut tidak saja
ketrampilan-ketrampilan fisik tertentu tapi juga bagaimana cara hidup sehingga si manusia
kecil makin hari makin memperlihatkan kemanusiaannya. Misalnya untuk mampu membaca,
menulis, sopan santun, sampai bagaimana cara mendapatkan uang untuk keperluan hidup.
Pengalaman dari kegiatan ini sebagian disebut sebagai pengalaman yang mendidik, yaitu suatu
kegiatan bersama yang disengaja, direncanakan, dan mempunyai tujuan tertentu.

Pengalaman yang mendidik mempunyai ciri khusus yaitu berlangsung dalam kurun waktu
tertentu secara terus menerus seperti sang ibu mengajari bicara pertama kali. Setiap kali ada
kesempatan bersama bayi maka si ibu secara otomatis akan mengajari anaknya untuk bicara
dengan cara mengajak si bayi bicara setiap ada kesempatan. Dalam pertumbuhan dan
perkembangannya, si manusia kecil ini makin besar kebutuhannya dan keluarga sebagian
kurang mampu lagi memberikan pengalaman sesuai dengan kebutuhan si manusia kecil
tersebut, karena pertumbuhan dan perkembangan tidak saja menyangkut fisik saja tapi
inteletualitas dan moral. Maka kegiatan yang mendidik tersebut akan dibantu dan diteruskan
oleh orang lain dan lingkungan sekitarnya untuk menjadi pelengkap. Menyadari kebutuhan-
kebutuhan tersebut maka dibentuklah suatu komunitas khusus untuk mendidik si manusia kecil
tersebut dalam sistem tertentu, yaitu sistem pendidikan formal.

Jika dikembalikan pada tujuan pendidikan sesuai Undang Undang No. 20 Bab I pasal 1 ayat (1)
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara12, maka dalam pelaksanaanya ada sesuatu yang kurang
efektif. Dan tujuan pendidikan dasar di Indonesia adalah membekali murid dengan
keterampilan dasar untuk mengembangkan diri mereka sendiri sebagai seorang individu,
anggota masyarakat, warga negara dan anggota dari umat manusia, dan juga mempersiapkan
mereka untuk mengarahkan pendidikan ke jenjang sekolah lanjutan.

Melihat tujuan yang tertera di UU SPN menimbulkan pertanyaan, di mana bagian aman ada
yang kurang tepat sehingga hasil dari sistem pendidikan memperlihatkan rendahnya kualitas
dan menghasilkan anak-anak yang kurang percaya diri karena bimbangnya akan konsep diri.
Contoh menarik adalah dari Taman Siswa yang diprakarsai oleh KI Hajar Dewantara, yaitu
pendidikan dipandang sebagai suatu tindakan strategis dan politis sekaligus. Belajar dari
pemikiran Ki Hajar Dewantara pada jaman penjajahan waktu itu, pendidikan merupakan suatu
gerakan politis dan strategis sekaligus dalam menghadapi kolonialisme pada jaman itu, yaitu
dengan pendidikan menjadi sarana untuk menciptakan manusia mandiri yang mempunyai
kemampuan menghadapi kolonialisme secara politis, dan sebagai strategi jangka panjang
adalah mendidik manusia dalam kaitannya dengan kehidupan berbangsa.

12
http://www.depdiknas.go.id

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 62 / dari 62 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah pengakuan terhadap hak si anak atas
kemerdekaannya untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat dan pembawaannya, lebih
terkenal dengan kalimat,”Tut wuri handayani” yang berarti adalah mengikuti si anak dari
belakang sambil membimbingnya. Si anak aktif dan pendidik berfungsi sebagai fasilitator13.
Prinsipnya adalah Tricon, yaitu concentris, continue, dan convergent. Prinsip ini berlaku untuk
seluruh budaya yang ada di Indonesia. Penekanan prinsip ini adalah pada interaksi si anak
dengan lingkungan setempat yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Pada juli
1922, beliau mendirikan sekolah taman kanak-kanak yang diberi nama Taman Indrya-menjadi
cikal bakal Taman Siswa. Salah satu ciri dari lulusan sekolah yang di dirikan oleh Ki Hajar
Dewantara adalah adanya jiwa bebas dan kemampuan berdiri diatas kaki sendiri. Pancadarma
Tamansiswa14 dalam H.A.R Tilaar (2005) adalah asas kebangsaan, kebudayaan, kemerdekaan,
kemanusiaan, dan kodrat alam. Taman Indrya ini menghasilkan lulusan yang berkualitas karena
sejalan dengan prinsip perkembangan masa hidup manusia, yaitu pembentukan konsep diri
pada masa anak-anak paling krusial. Jika pada masa ini terlewatkan maka lewat juga meski
bukan berarti tidak bisa tapi sudah kurang efektif lagi dan akan menimbulkan permasalahan
pada diri anak didik sampai dewasa.

Jalur pendidikan yang biasa ditempuh bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah
pendidikan formal. Karena pendidikan di Sekolah Dasar merupakan tahap pertama untuk
melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya, maka pendidikan dasar banyak mendapat
perhatian. Menurut YB. Mangunwijaya SJ pendidikan dasar merupakan variabel penting yang
mesti dipersiapkan mana kala berbicara tentang masa depan. SD adalah fondasi sistem
pendidikan yang sering dilupakan orang (Kompas, 28 Juni 2003). Pengalaman dengan dekon
kompatiologi ini makin menyadarkan akan pentingnya pendidikan dasar ini dan bagaimana
pendidikan itu dilaksanankan baik sebagai strategi dan politik sekaligus.

Salah satu lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa yang membawahi bidang pendidikan,
kebudayaan, dan masalah-masalah sosial yaitu UNESCO (United Nation of Education, Social,
and Cultural Organization) mengemukakan pendidikan sebagai penanaman kecakapan hidup
(life skills) yang meliputi kecakapan untuk berpikir atau mengetahui (learning how to think),
kecakapan untuk bertindak (learning how to do), kecakapan individual untuk hidup (learning
how to be), kecakapan untuk belajar (learning how to learn), dan kecakapan untuk hidup
bersama (learning how to live together). Pendek kata adalah manusia yang mempunyai
kesadaran bahwa hidupnya adalah di bumi manusia dengan segala persoalannya dan mampu
mengatasi hal tersebut dengan pola pikir strategis, meminimalisasi kerugian di banyak hal. Dan
pendidikan menjadi salah satu indikator yang digunakan dalam mengukur kualitas hidup
masyarakat. Semakin jelas bahwa kenapa pendidikan dasar penting hal ini akan makin terlihat
dalam proses perkembangan manusia.

IV. PERKEMBANGAN MASA HIDUP MANUSIA


Sejarah kehidupan manusia menurut sejumlah ahli yang mempunyai pendapat bahwa
kehidupan manusia di mulai sejak terbentuknya sel tunggal kemudian menjadi individu yang
sempurna di dalam rahim seorang manusia dewasa. Selanjutnya akan terjadi perkembangan
yang pesat disertai pertumbuhannya. Dalam pandangan para ahli15 yang berorientasi pada

13
MIF Baihaqi (2007). Ensiklopedi tokoh pendidikan. Dari Abendanon hingga K.H. Imam Zarkasyi.
14
H.A.R. Tilaar (2005). Manifesto pendidikan nasional. Tinjauan dari perspektif postmodernisme dan studi
cultural. Penerbit buku kompas-Jakarta.
15
Santrock, john.W. (1995). Life-Span Development. E5.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 63 / dari 63 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

pendekatan masa hidup dalam memahami perkembangan manusia menekankan bahwa


perubahan perkembangan terjadi seumur hidup dan di setiap periode usia mental manusia.
Dalam perspektif masa hidup mencakup tujuh unsur dasar, yaitu:
1. Perkembangan adalah seumur hidup
Setiap masa perkembangan sama pentingnya dan unik bagi masing-masing individu, tidak
ada periode usia mendominasi perkembangan. Bahkan setiap perkembangan merupakan
kerugian dan keuntungan sekaligus, yang berinteraksi dalam cara yang dinamis sepanjang
siklus kehidupan. Misalnya ketika seorang anak belajar berjalan dan sering terjatuh, maka
anak dapat mendapatkan keuntungan dan kerugian sekaligus dalam masa
perkembangannya ini. Anak belajar dari mengalami bahwa terjatuh pun ada keuntungan
yang bisa diperoleh yaitu menjadi tahu bagaimana mengendalikan keseimbangan tubuh
dalam bersepeda dengan kerugiannya bagian tubuh ada yang terasa sakit karena jatuh. Pada
anak-anak pun sudah terdapat kesadaran akan faktor plus minus dari suatu kegiatan yang
dilakukan dan ini akan mempunyai pengaruh pada sistem pengambilan keputusan yang
dipelajarinya dari pengalaman.

2. Perkembangan adalah multidimensional


Perkembangan meliputi dimensi biologis, kognitif, dan social. Dalam belajar naik sepeda
tadi si anak mengembangkan seluruh fungsi-fungsi mental yang ada padanya. Dari dimensi
biologis maka kekuatan fisik si anak terbentuk dan makin kuat, dari sisi kognitif maka si
anak belajar bagaimana mengendalikan sepeda dan menjaga keseimbangan, dari sisi sosial-
jika si anak berhasil naik sepeda maka akan terbangun rasa percaya diri dalam interaksi
dengan teman sebaya dan orang lain.

3. Perkembangan adalah multidireksional


Unsur dari suatu dimensi dapat meningkat dalam pertumbuhan, sementara unsur lain
menurun. Misalnya kemampuan naik sepeda pada anak-anak, maka dalam dimensi biologis
akan terlihat bahwa unsur fisik dari kekuatan tangan dan kaki akan mengalami kenaikan,
sedangkan unsur lain misal kecepatan berlari belum tentu berkembang, dan jika tinggi
badan naik maka berat badan akan turun misalnya.

4. Perkembangan adalah lentur


Perkembangan dapat mengambil banyak jalan,karena tergantung pada kondisi kehidupan
individu sehingga setiap orang mempunyai pengalaman ayng berbeda-beda meski pada
tahap perkembangan yang sama. Perkembangan tidak menuntut kondisi-kondisi tertentu
tapi akan menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi yang ada pada masing-masing
manusia.

5. Perkembangan adalah melekat secara kesejarahan


Pengalaman masing-masing individu mempunyai pengaruh pada perkembangannya dan
saling berbeda. Hal ini jelas memperlihatkan bahwa pengalaman mempunyai peran penting
dalam proses perkembangan sehingga bagaimana memanfaatkan pengalaman tersebut
menjadi informasi yang bermakna bagi hasil dari perkembangan pada tahap tertentu.
Pengalaman yang mendidik yang tentu saja diharapakan dan bisa dikondisikan.

6. Perkembangan dapat dipelajari oleh sejumlah disiplin ilmu


Perkembangan hidup manusia dapat dipelajari oleh berbagai disiplin ilmu. Sudah pasti
bahwa banyak cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang manusia dan
kehidupannya di bumi manusia ini. Hasil dari berbagai disiplin ilmu saling mnelengkapi
seperti layaknya puzzle dalam membangun suatu konsep diri manusia itu sendiri.

7. Perkembangan adalah kontekstual


Individu secara terus menerus merespon dan bertindak berdasarkan konteks, yang meliputi
aspek biologis, lingkungan fisik, serta konteks sosial, kesejarahan, dan kebudayaan

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 64 / dari 64 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

seseorang. Individu sedang berubah di dalam dunia yang berubah pula, sehingga
kemampuan adaptasi mutlak diperlukan.

Kontekstualisme

Salah satu perspektif masa hidup adalah kontekstualisme, yang perlu mendapatkan perhatian
lebih. Dalam pandangan kontekstualisme, perkembangan dipahami sebagai hasil interaksi
antara sistem tingkat usia normatif, tingkat sejarah normatif, dan peristiwa-peristiwa kehidupan
non-normatif. Penjelasan singkatnya sebagai berikut:
Pengaruh tingkat usia normatif adalah pengaruh biologis dan lingkungan yang sama
bagi orang-orang dalam suatu kelompok usia tertentu. Pengaruh ini misalnya pubertas,
menopause, dan dampaknya pada proses-proses sosiokultural, lingkungan, misalnya
masuk sekolah pada usia 6 tahun, memilki SIM minimal usia 17 tahun, pensiun pada
usia 50-an atau 60-an tahun.

Pengaruh tingkat sejarah normatif adalah pengaruh biologis dan lingkungan yang
diasosiasikan dengan sejarah. Pengaruh ini biasanya pada generasi tertentu. Misalnya
pada tahun 98-an setelah lengsernya Soeharto, dan disebut sebagai masa reformasi.
Tahun 40-an sebagai masa perang dunia II, dst...

Pengaruh peristiwa-peristiwa kehidupan non-normatif adalah peristiwa tidak biasa,


tetapi memilki pengaruh penting bagi kehidupan manusia. Peristiwa, pola, dan urutan
peristiwa ini tidak berlaku bagi banyak individu. Misalnya ketika bencana alam terjadi
mendadak, kecelakaaan, dst..Semua peristiwa ini mempunyai pengaruh pada individu
yang mengalaminya. Peristiwa non-normatif juga mungkin saja bersifat positif,
misalnya ketika menang lotere. Aspek penting dalam memahami peristiwa non-
normatif adalah bagaimana individu tersebut mampu menyesuaikan diri dengan
peristiwa tersebut.

Memahami Perkembangan

Perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai dari pembuahan dan terus
berlanjut sepanjang siklus kehidupan manusia. Pada umumnya perkembangan meliputi
pertumbuhan, degenerasi / kemundurandan dan pembusukan (kematian misalnya). Pola gerakan
yang kompleks dalam perkembangan dikarenakan merupakan produk dari proses biologis,
kognitif, dan sosioemosional, yaitu:
Proses biologis meliputi perubahan pada sifat fisik individu. Plasma membawa sifat
keturunan yang diwarisi dari orangtua, perkembangan otak, pertambahan berat dan
tinggi badan, perubahan pada ketrampilan motorik, dst..

Proses kognitif meliputi perubahan pada pemikiran, inteligensi, dan bahasa individu.
Proses ini dipengaruhi pada aspek aspek pengalaman yang memperkuat atau
memperlemah.

Proses sosioemosional meliputi perubahan pada relasi individu dengan orang lain,
perubahan pada emosi, dan perubahan pada kepribadian.

Periode Perkembangan

Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan adalah:


1. Periode pra-kelahiran

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 65 / dari 65 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Periode dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa kritis dari
pertumbuhan awal individu, dari satu sel tunggal menjadi individu sempurna dengan
kemampuan otak dan perilaku. Masa ini berlangsung kurang lebih 9 bulan. Selama dalam
perkembangan ini individu sangat tergantung pada kemampuan si calon Ibu-dimana dia
berada. pengaruh sangat besar dari luar seperti makanan, perasaan sang Ibu, suara-suara
terhadap perilaku dan karakter dasar si individu sebelum pengaruh lain masuk dalam
kehidupan individu.

2. Masa Bayi
Periode perkembangan yang di mulai dari kelahiran sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini
adalah suatu masa yang sangat tergantung pada orang dewasa.. Pada periode ini fungsi-
fungsi sensorimotor mulai berkembang disertai dengan perkembangan sosial. Si anak sudah
mulai mengenal orang-orang di sekitarnya, mengenal ibu, bapak, dan orang lain yang
sering di lihatnya. Kemampuan motorik berkembang pesat, dari belajar memegang pensil
sampai belajar naik sepeda. Belajar mengungkapkan keinginannya sampai belajar bicara
dan bahasa. Pada masa ini si anak mengeksplorasi dunia di luar diri sendiri, maka segala
hal akan dicoba dan di alami dengan segala hasil yang didapatkan, atau disebut sebagai
masa eksperimen. Pengalaman di masa ini mempunyai dampak yang cukup besar buat
perkembangan selanjutnya. Misalnya ketika pada eksperimen ini dan respon orang lain
terhadap hal tersebut negatif, maka yang akan didapatkan adalah suatu kondisi yang bisa
sangat mungkin menakutkan. Ketika memanjat dan di larang dengan alasan takut jatuh,
maka si anak akan merasa takut beneran jika memanjat. Atau ketika bermain dan kotor,
maka respon orang lain tidak mendukung dengan mengatakn bahwa tidak boleh karena
kotor dan jorok, maka hal ini sangat mungkin bahwa si anak akan takut kotor, dan ketika
hal ini tidak dipahami oleh orang di luar anak seperti pengasuhnya maka efek negatif yang
akan di dapatkan oleh si anak.

3. Masa awal anak-anak


Periode perkembangan ini dimulai dari akhir masa bayi hingga usia kira-kira 5 atau 6
tahun. Periode ini kadang-kadang disebut sebagai ”tahun-tahun prasekolah”. Anak-anak
pada masa ini belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan
ketrampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, identifikasi huruf, dst), mulai
mengenal teman lebih dekat, dan meluangkan waktu berjam-jam untuk bermain dengan
teman sebaya. Kelas satu secara umum menandai berakhirnya masa awal anak-anak.

4. Masa Pertengahan dan akhir anak-anak


Periode perkembangan yang terentang dari usia kira-kira 6 hingga 11 tahun, kira-kira setara
dengan tahun-tahun sekolah dasar; periode ini kadang disebut sebagai ‘tahun-tahun sekolah
dasar’. Ketrampilan-ketrampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung
telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan
kebudayaannya. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian
diri mulai meningkat.

5. Masa Remaja
Periode perkembangan transisi dari masa anak-anak hingga masa awal dewasa, yang
dimasuki kira-kira pada usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 atau 22 tahun.
Masa remaja bermula dengan perubahan fisik yang sangat cepat-perubahan berat dan tinggi
badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, perkembangan karakteristik seksual seperti
pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada
masa ini pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol; pemikiran semakin logis,
abstrak, dan idealistis; dan semakin banyak waktu diluangkan di luar keluarga.

6. Masa awal dewasa

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 66 / dari 66 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Periode perkembangan yang bermuda pada akhir usia belasan tahun atau awal usia
duapuluhan tahun dan berakhir pada usia tigapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan
kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa
memilih pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga dan
mengasuh anak-anak.

7. Masa pertengahan dewasa


Periode perkembangan yang bermuda pada usia Kira-kira 35 tahun hingga 45 tahun dan
terentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini merupakan masa untuk memperluas
keterlibatan dan tanggungjawab pribadi dan sosial; membantu generasi berikutnya menjadi
individu yang berkompeten, dewasa; dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam
karir seseorang.

8. Masa akhir dewasa


Periode perkembangan yang bermuda pada usia enampuluhan atau tujuhpuluhan dan
berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan
kesehatan, menatap kembali kehidupan pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran-peran
sosial baru.

V. PENUTUP

These creatures require our absence to survive, not our help. And if we could only step aside
and trust in nature, life will find a way16.

John Hammond

Pendidikan sudah terlanjur dipercaya menjadi salah satu langkah strategis dalam mengubah
kehidupan manusia, dan pendidikan dasar menjadi awal yang menentukan langkah selanjutnya
untuk menjadi siapa, apa, dan bagaimana kelak. Pendidikan formal telah menjadi tempat
pengembanan pengalaman anak-anak, dalam arti pengalaman yang mendidik bagi anak-anak
didik. Memcermati hasil studi internasional dan reaksi-reaksi dari permasalahan yang muncul
pada orang-orang yang mengalami dekon kompatiologi, satu hal yang perlu mendapatkan
perhatian khusus adalah berkaitan dengan konsep diri pada anak-anak, tidak saja konsep diri
akademis tapi juga non akademis mesti berkembang paralel sehingga akan membentuk konsep
diri secara umum dalam diri anak-anak, dan membentuk anak-anak mempunyai karakter kuat.

Sebagai salah satu negara yang sedang berkembang, Indonesia berusaha untuk memperbaiki
mutu pendidikan, yang tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain. Pendidikan
dasar 9 tahun merupakan salah satu gerakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk
menumbuhkan pandangan pada masyarakat bahwa pendidikan merupakan aspek yang penting
dijalani oleh generasi muda untuk dapat memajukan bangsa. Hal ini didasarkan pada Peraturan
Pemerintah No. 28 Tahun 1990 mengenai adanya Pendidikan Dasar, yaitu pendidikan umum
yang lamanya sembilan tahun, diselenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar dan tiga
tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan pendidikan yang sederajat.

16
John Hammond dalam The Lost World: Jurassic Park (1997) “It is absolutely imperative that we work with
the Costa Rican Department of Biological Preserves to establish a set of rules for the preservation and
isolation of that island. These creatures require our absence to survive, not our help. And if we could only
step aside and trust in nature, life will find a way”

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 67 / dari 67 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Bukan masalah penting dan tidak pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa, masyarakat
sudah menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka, bahwa dengan menjalani
pendidikan formal maka anak-anak ini diharapkan kelak akan menjadi orang yang berguna dan
mengalami peningkatan kualitas hidup-paling tidak secara ekonomi materi cukup. Masalah
yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak yang berada di pendidikan formal ini mampu
menjadi manusia yang tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang tidak saja cerdas, pinter
tapi juga berkarakter kuat dalam pribadi. Bagaimana pendidikan formal ini mampu
memfasilitasi anak-anak dengan berbagai pengalaman yang mendidik dalam rangka
pembentukan konsep dan identitas diri, sehingga akan menjadi anak-anak yang bahagia dalam
hidupnya dan mampu beradaptasi dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Mencermati analisis terhadap item yang mengukur konsep diri umum dan konsep diri
akademis, terlihat bahwa konsep diri anak-anak Indonesia masih sangat tergantung pada
keluarga besar dan masyarakat sekitarnya, dalam hal ini adalah pendidikan formal. Dengan kata
lain bahwa konsep diri ini sangat mungkin merupakan hasil sebuah konstruksi, misalnya bahwa
nilai matapelajaran matematika menunjukkan tingkat kepandaian anak. Pandangan ini
terbentuk dan mempengaruhi konsep diri akademis anak, sehingga mereka pun atas dukungan
orangtua memerlukan les di lembaga bimbingan belajar demi nilai tinggi dan dianggap sebagai
anak pandai. Dalam perspektif teori representasi sosial hal ini terjelaskan bagaimana konsep
diri akademis ini terbentuk dalam diri anak-anak, karena sudah menjadi memori kolektif bahwa
matematika mempunyai korelasi tinggi dengan kepandaian, dan semua orang tua dan
masyarakat mengharapkan anak-anak menjadi pandai. Representasi sosial merupakan suatu
teori yang merupakan konsep, penjelasan, dan pernyataan yang berasal dari kehidupan manusia
sehari-hari mengenai lingkungannya-yang berfungsi sebagai sarana komunikasi antar individu
dalam kelompok, sehingga apa yang belum dikenali oleh individu lain akan dikenali, atau
dengan kata lain adalah “menyamakan bahasa” dalam berkomunikasi, sehingga individu dalam
kelompok tersebut mempunyai acuan dalam merepresentasikan objek yang dimaksud. Proses
representasi sosial melalui yang namanya “menyambung” dengan memperjelas objek misalnya
dengan memberi nama dan proses “fokus pada target” yaitu dari konsep yang abstrak menjadi
lebih nyata-mudah dipahami secara kelompok. Misalnya dari satu kata matematika yang
diasosiasikan dengan kepandaian, kemudian diperjelas dengan nilai tinggi di matapelajaran
matematika merupakan anak yang pandai sehingga membutuhkan pelajaran tambahan di
lembaga bimbingan belajar.

Metode dekon kompati efektif digunakan pada orang dewasa, dan tidak bisa dilakukan pada
anak-anak. Mungkin dengan perspektif teori representasi sosial masalah pembentukan identitas
anak-anak dapat dilakukan tanpa paksaan dan ini memerlukan studi lebih mendalam, karena
pada dasarnya anak-anak mempunyai dunia sendiri yang kadang-kadang intervensi dari orang
dewasa malah merusaknya.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 68 / dari 68 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Daftar Pustaka

Bagian Pertama
KOMPATIOLOGI
ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian

(Juni 2004) Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Karya Sastra , Bandung: Penerbit Malka.
Tulisan: Tentang Manusia dalam Bumi manusia, halaman 1-10.

Toer, Pramoedya Ananta (2002) Bumi Manusia , Jakarta: Hasta Mitra. halaman: 1, 14, 15, 32, 53,
135, 188, 373, 384.

Bertens, Kees (1999) Sejarah Filsafat Yunani , Yogyakarta: Penerbit Kanisius. halaman 135
pembahasan mengenai mitos tentang gua, dialog politeia karya Plato.

Kutipan-kutipan:

* Kutipan pidato Theodore Roosevelt dalam tema The "man in the arena" or "not the critic"
http://www.theodoreroosevelt.org/life/Quotes.htm

* Sumber ayat Alkitab: Matius 5:3, 2 Korintus 12:7-10, Markus 12:13-17,

* Dialog film: The Matrix

Bagian Kedua
PENDIDIKAN ALA KOMPATIOLOGI
ditulis oleh: Cornelia Istiani
Sindhunata…Judul dan tahun??

Survei internasional ‘Political and Economic Risk Consultancy’ (PERC), 2001. Seminar sehari
hasil studi internasional; Prestasi Siswa Indonesia dalam bidang Matematika, Sains, dan
Membaca. Kamis, 7 September 2006. Depdiknas.

Dokumen hasil studi PISA dan TIMSS. Seminar sehari hasil studi internasional; Prestasi Siswa
Indonesia dalam bidang Matematika, Sains, dan Membaca. Kamis, 7 September 2006.
Depdiknas.

John Macbeath dan Peter Mortimore (2001). Improving school effectiveness. Penerjemah Nin Bakdi
Soemanto. Grasindo (2005).

Amarrylia Puspasari (2004). Analisis Model Konsep Pelajar Sekolah Menengah Pertama Jakarta
Selatan dan Bogor. Fakultas Psikologi UI-Program Pasca Sarjana, Program Magister
Psikologi Terapan Psikometri.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 69 / dari 69 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

RR. Herliani (2005). Hubungan Antara Sikap Terhadap Sains Dan Prestasi Belajar Sains Pada
Siswa Sekolah Menengah Pertama Di Indonesia Berdasarkan Data TIMSS 2003. Fakultas
Psikologi UI-Program Pasca Sarjana, Program Magister Psikologi Terapan Psikometri.

James F. Brennan (2006). Sejarah dan Sistem Psikologi. Ed 6. Rajawali Pers. Jakarta

A.Sudiarja, SJ; G. Budi Subanar, SJ; St. Sunardi; T. Sarkim (2006). Karya lengkap Driyarkara.

MIF Baihaqi (2007). Ensiklopedi tokoh pendidikan. Dari Abendanon hingga K.H. Imam Zarkasyi.

H.A.R. Tilaar (2005). Manifesto pendidikan nasional. Tinjauan dari perspektif postmodernisme
dan studi cultural. Penerbit buku kompas-Jakarta.

Santrock, John.W. (1995). Life-Span Development. E5.

(1997) The Lost World: Jurassic Park kutipan dialog John Hammond.

http://www.depdiknas.go.id

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 70 / dari 70 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

LAMPIRAN

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 71 / dari 71 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Kuesioner Kompatiologi ver21102007


Penulis sekaligus Peneliti: Cornelia Istiani dan Vincent Liong.
Tempat, Hari& Tanggal Penulisan: Jakarta, Minggu, 21 Oktober 2007.

0. CARA MENJAWAB KUESIONER

1. Pertanyaan yang harus dijawab;


* Terdekon wajib menjawab pertanyaan untuk Terdekon.
* Pendekon-Tandem (mantan terdekon) wajib menjawab pertanyaan untuk Terdekon dan
pertanyaan untuk Pendekon-Tandem.
* Pendekon-Independent (mantan terdekon dan mantan pendekon-tandem) wajib menjawab
pertanyaan untuk Terdekon, Pendekon-Tandem dan Pendekon Independent.

2. Harap diceritakan secara terbuka pengalaman dan pendapat sendiri bukan sekedar menulis ulang
teori yang diceritakan oleh pengajar sesuai pertanyaan.

3. Data pribadi harap diisi secara lengkap. Bilamana dibutuhkan peneliti kami akan menghubungi
anda untuk wawancara.

4. Kalau anda bersedia meluangkan waktu, mohon ditulis karangan singkat mengenai pendapat
anda pribadi tentang dekon-kompatiologi di luar pertanyaan yang tersedia dengan bahasa anda
sendiri.

5. Pengiriman balasan email ini;


Email jawaban ditulis di bawah tiap pertanyaan secara mendetail, berurutan, dan dikirim ke email:
To: istiani_c@yahoo.com, juswan@cbn.net.id, nalaratih@yahoo.com, sbudhi8888@yahoo.com,
x69xx96x@yahoo.com
Subject: Kuesioner Kompatiologi ver21102007 [Nama Lengkap]
contoh:
“Subject: Kuesioner Kompatiologi ver21102007 Cornelia Istiani“

I. DATA PRIBADI PENJAWAB KUESIONER

01. Nama Lengkap :


02. Nama Panggilan:
03. Jenis Kelamin : (Male / Female)
04. Umur : ( ? tahun)
05. Kota tempat tinggal saat ini :
06. Jenis Pekerjaan saat ini :
07. Jabatan di Tempat Kerja :
08. Telp :
09. Hp & CDMA :

10. Pelatihan apa saja yang pernah anda ikuti di luar kompatiologi sebelum anda mengikuti dekon?

11. Status : (Terdekon / Pendekon-Tandem / Pendekon-Independent)


12. Didekon oleh : (Nama Pendekon-Independent / penanggungjawab)
13. Tanggal pertama kali di-Dekon : (bulan & tahun)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 72 / dari 72 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

14. Apakah pernah menjadi Pendekon-Tandem? (ya / tidak)


15. Bila menjawab Ya; Pernah berapa kali menjadi Pendekon-Tandem?
16. Nama Pendekon-Independent yang pernah anda bantu?

17. Apakah pernah menjadi Pendekon-Independent? (ya / tidak)


18. Bila menjawab Ya; Berapa orang sampai hari ini pernah anda dekon di bawah tanggungjawab
anda (pendekon-independent)?
19. Di kota atau daerah mana saja anda pernah melakukan dekon-kompatiologi?
20. Di kondisi situasi seperti apa anda pernah melakukan dekon-kompatiologi? Ceritakan.

I I. PERTANYAAN UNTUK TERDEKON – KOMPATIOLOGI

1.Sebelum di Dekon:

a. Dari mana Anda tahu tentang Kompatiologi ini?


b. Menurut Anda, apa itu kompatiologi?
c. Apa motivasi diri anda hingga alhirnya Anda membuat janji dekon?
d. Dalam waktu antara janji dan pelaksanaan dekon, apakah ada pengalaman khusus berkaitan
dengan dekon tersebut?
e. Apa yang Anda harapkan dari Kompatiologi ini?
f. Persiapan apa saja yang Anda lakukan untuk melakukan dekon?
g. Silakan ceritakan apa saja pengalaman Anda berkaitan dengan kondisi mental Anda sebelum
dekon…

2. Pada awal Dekon:

a. Ceritakan kesan Anda ketika pertama kali bertemu dengan pendekon?


b. Apa yang Anda rasakan ketika ”ritual” dekon ini dimulai dengan makan bersama terlebih
dahulu?
c. Ketika memilih minuman, apakah Anda diajak serta dalam proses pemilihan minuman?
d. Jika ya, bagaimana pendapat Anda tentang pemilihan minuman tersebut?
e. Ketika penataan minuman, Apakah anda dijelaskan tentang penataan minuman tersebut?
f. Jika ya, bagaimana pendapat Anda tentang penataan minuman tersebut?
g. Tentang pengaturan posisi tempat, apakah Anda memahami posisi tempat duduk anda? (posisi
antara pendekon, posisi antara sesama terdekon)

3. Pada saat Dekon:

a. Langkah pertama:
Pengelompokan/klasifikasi jenis dan rasa minuman.
* Bagaimana pemahaman Anda tentang proses ini?

b. Langkah kedua:
2.1. Merasakan masing-masing minuman dengan urutan tertentu sesuai sirkuit susunan botol yang
dirancang oleh pendekon.
2.2. Mendeskripsikan karakterisitk data (rasa dan atau efek) yang timbul setelah minum. *
Bagaimana pemahaman Anda tentang proses ini? Ceritakan.
* Bagian tubuh mana yang terkena efek dan ketika minum jenis minuman yang mana?

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 73 / dari 73 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

c. Langkah ketiga:
3.1. Melakukan kombinasi beberapa minuman dengan komposisi bebas.
3.2. Menprediksi karakteristik (efek dan perasaan yang mungkin timbul setelah campuran tersebut
di minum), prediksi dilakukan sebelum merasakan minuman hasil campuran tersebut.
3.3. Setelah minum hasil campuran dan merasakannya, maka mendeskripsikan efek dan perasaan
yang timbul.
3.4. Membandingkan hasil prediksi sebelum minum (objektif), dengan fakta sesudah minum
(subjektif).
3.5. Dekonstruksi mulai berjalan.
* Bagaimana pemahaman Anda tentang proses ini? Ceritakan.

d. Langkah ke empat:
4.1. Membuat perencanaan efek dan perasaan apa yang diharapkan muncul dengan tanpa diketahui
oleh peserta lain.
4.2. Membuat campuran minuman dengan bebas disesuaikan dengan harapan tersebut tanpa melihat
ingredients masing-masing minuman.
4.3. Campuran minuman dibagikan dan di minum oleh masing-masing peserta.
4.4. Masing-masing peserta menjelaskan deskripsi efek dan perasaan yang dirasakan.
4.5. Membuat perbandingan antara harapan dan fakta.
4.6. Membuat kesimpulan.
* Bagaimana pemahaman Anda tentang proses ini? Ceritakan.

e. Langkah ke lima: menebak buku di toko buku


* Bagaimana pemahaman Anda tentang proses ini? Ceritakan.

4. Setelah Dekon:

a. Bagaimana efek yang Anda rasakan dalam kehidupan sehari hari setelah mengikuti Dekon ini?
(ceritakan dalam jangka waktu 1 hari, 14 hari dan 30 hari)
b. Butuh waktu berapa lama setelah mengikuti acara dekon, anda merasakan sistem itu berjalan
dalam diri anda?
c. Perubahan apa saja yang Anda rasakan? (postif dan negatif harap diceritakan semua)
d. Apakah dekon ini memenuhi harapan Anda sebelumnya?
e. Reaksi apa saja yang terjadi setelah dekon?
f. Bagaimana kesan Anda tentang Kompatiologi setelah mengikuti dekon?

I I. PERTANYAAN UNTUK PENDEKON – KOMPATIOLOGI

1. Sebelum dekon:

a. Menurut Anda, apa itu kompatiologi?


b. Bagaimana Anda menjelaskan Dekon ini pada calon terdekon?
c. Mengapa Anda mau menjadi pendekon kompatiologi?
d. Apa saja yang Anda tanyakan ke terdekon? (misalnya kondisi fisik kesehatan,..)
e. Apa yang Anda harapkan setiap kali melakukan dekon Kompatiologi ini?
f. Persiapan apa saja yang anda lakukan untuk melakukan dekon?
g. Silakan ceritakan apa saja pengalaman Anda berkaitan dengan kondisi mental Anda sebelum
dekon.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 74 / dari 74 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

h. Jika kegiatan dekon ini dilakukan secara tandem, bagaimana pemposisian diri masing masing
pendekon? Siapa yang memilih minuman, siapa yang menata minuman, siapa yang bertanggung
jawab dalam pelaksanaan dekon, dst...

2. Pada awal Dekon:

a. Ceritakan kesan Anda ketika pertama kali bertemu dengan terdekon?


b. Apa yang Anda rasakan ketika ”ritual” dekon ini dimulai dengan makan bersama terlebih
dahulu?
c. Bagaimana cara anda memilih minuman yang sesuai dengan terdekon?
d. Ketika memilih minuman, apakah Anda mengajak terdekon dan menjelaskannya?
e. Bagaimana cara anda menata posisi minuman dalam sirkuit susunan botol?
f. Ketika penataan minuman, Apa dan bagaimana Anda menjelaskan kepada terdekon?
g. Tentang pengaturan posisi tempat, bagaimana Anda melakukan hal tersebut dan apa alasannya?
h. Bagaimana Anda menjelaskan tentang tempat pelaksanaan dekon di ‘tempat ramai’ (seperti:
foodcourt, pasar, dan lain sebagainya) ini?

3. Pada saat Dekon:

a. Langkah pertama:
Pengelompokan/klasifikasi jenis dan rasa minuman.

b. Langkah kedua:
2.1. Merasakan masing-masing minuman dengan urutan tertentu sesuai sirkuit susunan botol yang
dirancang oleh pendekon.
2.2. Mendeskripsikan karakterisitk data (rasa dan atau efek) yang timbul setelah minum.

c. Langkah ketiga:
3.1. Melakukan kombinasi beberapa minuman dengan komposisi bebas.
3.2. Menprediksi karakteristik (efek dan perasaan yang mungkin timbul setelah campuran tersebut
di minum), prediksi dilakukan sebelum merasakan minuman hasil campuran tersebut.
3.3. Setelah minum hasil campuran dan merasakannya, maka mendeskripsikan efek dan perasaan
yang timbul.
3.4. Membandingkan hasil prediksi sebelum minum (objektif), dengan fakta sesudah minum
(subjektif).
3.5. Dekonstruksi mulai berjalan.

d. Langkah ke empat:
4.1. Membuat perencanaan efek dan perasaan apa yang diharapkan muncul dengan tanpa diketahui
oleh peserta lain.
4.2. Membuat campuran minuman dengan bebas disesuaikan dengan harapan tersebut tanpa melihat
ingredients masing-masing minuman.
4.3. Campuran minuman dibagikan dan di minum oleh masing-masing peserta.
4.4. Masing-masing peserta menjelaskan deskripsi efek dan perasaan yang dirasakan.
4.5. Membuat perbandingan antara harapan dan fakta.
4.6. Membuat kesimpulan.

* Bagaimana pemahaman Anda tentang semua proses ini? Ceritakan secara urut.
* Bagaimana Anda menjelaskannya pada terdekon?

e. Langkah ke lima: menebak buku di toko buku


* Bagaimana pemahaman Anda tentang proses ini? Ceritakan.

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 75 / dari 75 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

* Bagaimana Anda menjelaskannya pada terdekon?

4. Setelah Dekon:

a. Bagaimana kesan Anda pada dekon saat itu?


b. Apakah Anda melakukan komunikasi secara kontinu dengan terdekon sesudah nya?
c. Perubahan apa saja yang Anda rasakan dari terdekon? (postif dan negatif harap diceritakan
semua)
d. Apakah dekon saat ini memenuhi harapan Anda sebelumnya?
e. Jelaskan bagaimana anda bisa menganggap bahwa instalasi kompatiologi sudah tertanam dengan
baik pada diri terdekon?
f. Berapa orang terdekon yang Anda mampu tangani dalam setiap kali dekon?

-----0o0-----

Terbuka kemungkinan untuk penelitian lain yang berkaitan dengan ranah kerja Kompatiologi.

Contact Person Peneliti yang bisa dihubungi:


* Cornelia Istiani
email : <istiani_c@yahoo.com>
CDMA flexi : 021-68358037 & Hp mentari : 081585228174
(note: per telepon saja, tidak melayani sms dan misscall.)

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 76 / dari 76 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Biodata Penulis
‘Vincent Liong’ (VL) / Liong Vincent Christian adalah penggagas dari metode
dekon-kompatiologi. Lahir di Jakarta, Senin, 20 Mei 1985 dari pasangan orangtua
Liong Jun Hok dan Inna Wongso.

Buku / E-book yang pernah ditulis Vincent Liong:


* Berlindung di Bawah Payung, Grasindo 2001.
* Menjadi Diri Sendiri, ditulis tahun 2002 (belum diterbitkan).
* Konsep Saat Kiamat dalam ruang Individu, ditulis tahun 2003 (belum diterbitkan).
* Kompatiologi : logika komunikasi empati, ditulis tahun 2008.

Riwayat pendidikan Vincent Liong:


* TK Tirtha Martha, Pondok Indah, Jakarta Selatan.
* SD dan SLTP Pangudi Luhur, Jakarta Selatan.
* SMU St. Laurentia, Alam Sutera, Tangerang (hanya setengah tahun).
* The Meridian International School, Sydney, AUS.
* The Gandhi Memorial International School, Ancol, Jakarta Utara.
* Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta (mengundurkan diri di semester ke-4).

Contact Person:
Telp: 021-5482193,5348567 , Fax: 021-5348546.
CDMA: 021-70006775(Flexi) 021-98806892(Esia) 08881333410(Fren).
Alamat: Jl. Ametis IV , blok.G , No.22 , Permata Hijau, Jakarta 12210 – INDONESIA.
E-mail: vincentliong@yahoo.co.nz, vincentliong@hotmail.com, vincentliong@cbn.net.id
Bank Account: Bank Central Asia , KCP Permata Hijau
A/N: Liong Vincent Christian , A/C: 178-117-9600

Cornelia Istiani lahir di Kediri, 28 Maret 1971.


Riwayat pendidikan Cornelia Istiani:
* SD St. Gabriel, Kediri.
* SMP Katolik Putera, Kediri.
* SMU Negeri 1, Kediri.
* Universitas Sanata Darma, fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program studi Pendidikan
Matematika.
* Magister Psikologi Terapan, kekhususan program Psikometri di fakultas Psikologi Universitas
Indonesia.

Pekerjaan:
* Freelence Researcher.

Contact Person:
* Hp: 081585228174, CDMA flexi: 021-68358037
* email: <istiani_c@yahoo.com>

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 77 / dari 77 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Info 'Pendekon' (Pengajar) Kompatiologi


Blog: http://kompatiologi-vincentliong.blogspot.com
Maillist 1: http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati
Maillist 2: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong
Maillist 3: http://groups.google.com/group/komunikasi_empati/about
Subscribe Free Newsletter: http://groups.yahoo.com/group/kompatiologi

YANG PERLU DIPERHATIKAN:


* By appointment only. Tempat dan waktu sesuai perjanjian. Biaya dekon-kompatiologi per peserta
ditentukan oleh masing-masing pendekon-independent-kompatiologi dan dapat berubah
tanpapemberitahuan.
* Wajib konformasi sehari sebelum hari appointment dan hari yang sama sebelum dekon.
* Tidak melayani tanya-jawab via sms dan misscall.
* Biasanya acara dekon berlangsung selama empat jam. Dilarang meninggalkan acara sebelum
acara selesai.
* Order proyek luar kota, seminar, wawancara pers, dan lain sebagainya hubungi & deal langsung
dengan masing-masing praktisi.
* Disarankan (tidak wajib) terdekon membawa teman yang tinggal satu area / lingkungan pergaulan
dengannya agar memiliki teman sharing tentang penerapan kompatiologi pasca dekon-
kompatiologi, agar perkembangan pasca dekon lebih cepat dan terkontrol.
* Tiap pendekon bekerja dan bertanggungjawab secara independent. Tanggungjawab kepada klien
adalah pada masing-masing praktisi yang menjadi pendekon pilihan klien.
* Praktisi kompatiologi tidak memberikan jaminan apapun terhadap klien. Segala resiko dari proses
dekonstruksi ditanggung oleh klien sendiri.
* Biasanya pendekon membawa pendekon dari cabang lain bilamana jumlah terdekon di luar
kemampuan pendekon dengan tujuan untuk menjaga standar kualitas hasil dekon.
* Kompatiologi juga membuka diri untuk donasi / sumbangan biaya penelitian yang sifatnya
pribadi bukan ke kas kompatiologi dalam bentuk organisasi, karena dilakukan oleh masing-masing
pendekon atas kemauan & usaha sendiri. Sumbangan berupa uang dapat ditransfer ke bank account
atau secara tunai(cash). Bilamana suatu hari dibuat kas kompatiologi dalam bentuk organisasi maka
akan ada pemberitahuan tertulis dari Vincent Liong.
* Untuk informasi yang belum disebutkan di atas dapat menanyakan langsung kepada pendekon.

PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

* VINCENT LIONG (Pendiri & Penemu ilmu Kompatiologi)


Vincent adalah pendiri & penemu Kompatiologi, secara pribadi berminat pada masalah eksistensi
& adaptasi diri terhadap lingkungan.
Lokasi dekon: Plaza Senayan & Senayan City. Jadwal by appointment.
CDMA: 021-70006775(Flexi) 021-98806892(Esia) 08881333410(Fren).
Telp: 021-5482193, 5348567 Fax: 021-5348546
Bank Account: Bank BCA cabang Permata Hijau.
A/c: 178-117-9600 A/n: Liong Vincent Christian.

* ANDY FERDIANSYAH (penulis e-book Catatan Harian Seorang ‘Pendekon’ (Pengajar)


Kompatiologi Tinta_Negatif@yahoo.com)
Andi memfokuskan diri pada karaktristik sensasi untuk pengekspresian diri.
Lokasi dekon: Plaza Senayan. Jadwal by Appointment only.
CDMA esia: 021-94293810 & email: tinta_negatif@yahoo.com

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 78 / dari 78 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

* ONDO UNTUNG
Ondo adalah pribadi yang lihai dalam menganalisa fenomena sosial-politik kontemporer.
Jadwal by appointment. CDMA: 021-92217939

* DADE (M. PRABOWO)


Dade adalah pribadi yang banyak mendalami aliran yang bersifat sufistik / tasawuf.
Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Semanggi & Mall Kelapa Gading.
Jadwal by appointment. CDMA esia: 021-98805716 & Hp: 081808862171.

* FARIS FREDY PUTRANTO


Fredy adalah pribadi yang work hard & play hard. Mahasiswa fakultas Sistem Informasi universitas
Bina Nusantara kampus Anggrek, Slipi, Jakarta Barat (Nim:1100040264 / angkatan 2007).
Spesialisasi: ahli logika dan penerapan kompatiologi, sudah belajar sejak tahun 2006 awal.
Lokasi dekon: Mall Taman Anggrek, Plaza Senayan, Senayan City & Plaza Semanggi.
Jadwal by appointment. Hp: 085697868012.

* ONNY LEWIS
Onny adalah seorang yang mendalami penerapan kompatiologi dalam hubungan dengan alam
sekitar seperti misalnya cuaca; arah angin, awan, tekanan udara, kelembaban udara, dan lain
sebagainya.
Lokasi dekon: (belum ditentukan) Hp: 081319780747 & 08158204530.

* ARRY RAHMAN
Arry adalah seorang yang tidak terlalu meributkan definisi, handal dalam instuisi yang bahkan bagi
dirinya tidak terlalu peduli pada pendefinisian.
Lokasi dekon: Plaza Senayan. Jadwal by Appointment. CDMA flexi: 021-68661220

PENGAJAR KOMPATIOLOGI CABANG BANDUNG


Bimo Wikantiyoso ; Bimo sementara ini mengkhususkan diri untuk melayani mereka yang ingin
menjadi adaptif dalam hal-hal spiritualitas dan pengendalian hal-hal keduniawian.
Jadwal by appointment. CDMA fren: 08888405843 & Hp: 0816746770.

PENASEHAT KOMPATIOLOGI CABANG JAKARTA

CORNELIA ISTIANI
Istiani mengkhususkan diri pada bidang Psikometri dan Pendidikan dalam hubungannya dengan
ilmu Kompatiologi.
Hp: 081585228174, CDMA flexi: 021-68358037 email: <istiani_c@yahoo.com>

ANTON WIDJOJO
Hp: 08164827424, email: <antonw@hotmail.com>

JUSWAN SETYAWAN
Juswan adalah penulis & edukator piawai dalam bidang kedokteran populer.
Hp: 08159162193 , email: <juswan@cbn.net.id>

TONY SETIABUDHI
Psikiater dan Lektor Kepala pada Fak. Kedokteran Universitas Trisakti.

ARYOPUTRO NUGROHO, SH.


Aryo mengkhususkan diri pada pembahasan social possisioning.
Hp: 08161312939 & 08176770201

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 79 / dari 79 halaman
Original Final Version / Last Update: Senin, 7 April 2008
copyright@VincentLiong

Komentar Singkat Pembaca


“Melalui Perjalanan Hidupnya; Vincent telah berhasil membuka CAKRAWALA BARU dalam Ranah Budaya
Indonesia dalam mencari PENCERAHAN ULTIMA.”
Tony Setiabudhi;
Psikiater dan Lektor Kepala pada Fak. Kedokteran Universitas Trisakti

"Penulis cukup tangguh dengan konsep pengembangan manusia-konstruktif nya. Cukup jujur dalam
beberapa hal, tapi masih ada ketertutupan dalam beberapa hal lain mengenai konsep manusia sehingga
mengurangi nilai konstruktif tsb. Ada pengalihan obyek analisa untuk menghindar dari obyek analisa yang
lebih mendekati nilai kejujuran bagi pikir dan nurani".
Sjamsuddin Odex

“Perjalanan pemikiran dan pengalaman penulis buku ini adalah suatu refleksi keindahan dan keunikan alam
semesta yang patut disyukuri, namun tetap untuk disadari sebagai bentuk amanah kebesaran Sang Pencipta
sehingga membutuhkan tanggung jawab demi terjaganya keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan
bersama.”
“Yasmine Yessy Gusman, S.H., MBA.” (Ibu Rumah Tangga)

“Maaf, jalan menuju khilafah sedang diperbaiki, sementara anda dialihkan kejalan pembelajaran,
perjuangan dan pengorbanan. Hati-hatilah....”
“Abu Ibrahim” (Hizbut Tahrir Sydney, AUS)
---
tidak ada kemulyaan tanpa Islam
tidak ada Islam tanpa syariah
tidak ada syariah tanpa khilafah

Kompatiologi
logika komunikasi empati
Penulis: Vincent Liong dan Cornelia Istiani halaman 80 / dari 80 halaman