Anda di halaman 1dari 35

Definisi Ansietas Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatik

yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari susunan saraf autonomic (SSA). Ansietas merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi. Sedangkan depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri. Keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivasi system syaraf autonom dalam berespons terhadap ancaman tidak jelas, non spesifik (Ashadi, 2008). Cemas atau ansietas merupakan reaksi emosional terhadap penilaian dari stimulus. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif, yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Ansietas berbneda dengan takut. Takut adalah penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan obyeknya jelas. Individu tersebut dapat menggambarkan sumber dari rasa takut. Ansietas dapat merupakan suatu sumber kekuatan dan energinya dapat menghasilkan suatu tindakan yang destruktif atau konstruktif (Wahid, 2008). Ansietas adalah suatu ketegangan yang tidak menyenangkan, rasa takut, gelisah rasa takut yang mungkin timbul dari penyebab yang tidak diketahui. Keadan ansietas ini merupakan gangguan mental yang sering dijumpai. Gejala ansietas berat serupa dengan takut (seoerti takikardi, berkeringat, gemetar, palpitasi) dan aktivitas simpatik. Episode ansietas ringan merupakan pengelaman hidup yang biasa dan tidak memerlukan pengobatan. Tetapi bila gejala ansietas cukup berat, kronis, mengganggu aktivitas sehari-hari, perlu diobati dengan obat anti-ansietas (kadangkadang disebut ansiolotik atau tranquilizer minor), dan/atau bentuk lain terapi psikologik/tingkah laku. Karena semua obat ansietas menyebabkan sedasi, obat yang sama dalam klinik sering berguna sebagai ansiolotik dan hipnotik (menyebabkan tidur). Terdapat 5 varian ansietas yang sering ditemukan, yaitu: 1. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, yaitu Generalized Anxiety Disorder (GAD) 2. Panic Disorder (PD) 3. Social Anxiety Disorder (SAD) 4. Obsessive Compulsive Disorder (OCD) 5. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) (Harkness, 1989). Ansietas terutama berguna untuk pengobatan simtomatik penyakit psikoneurosis dan berguna sebagai obat tambahan pada terapi penyakit somatik yang didasari penyakit ansietas (perasaan cemas) dan ketegangan mental. Penggunaan ansietas dosis tinggi jangka lama, dapatmenimbulkan ketergantungan fisik dan psikis. Dibanding dengan sedatif yang sudah lama dikenal, ansietas tidak begitu banyak menimbulkan kantuk (Harkness, 1989). Faktor-faktor Penyebab Ansietas Ada beberapa penyebab ansietas, yang pertama adalah faktor biologis, termasuk faktor genetik, dan yang kedua adalah faktor psiko-sosial. Faktor biologis misalnya karena sakit, pengaruh hormonal atau depresi pasca-melahirkan. Sedangkan faktor psiko-sosial misalnya konflik pribadi atau interpersonal, masalah eksistensi atau masalah keluarga. Ansietas berupa gangguan perasaan cemas berlebih sering dianggap sebagai masalah pribadi dan bukan sebagai penyakit. a) Faktor Pikiran Orang yang selalu berfikir apa yang buruk nanti, padahal itu belum tentu dan bahkan biasanya tidak akan terjadi namun mereka mengurung diri mereka di bawah pengaruh ansietas atau kecemasan. Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan, krisis, ketakutan yang terus menerus yang disebabkan oleh kesusahan dan kegagalan yang bertubi-tubi, adanya kecenderungan-kecenderungan harga diri yang terhalang, represi terhadap macam-macam

masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna(incomplete repress), atau dorongan-dorongan seksual yang tidak mendapat kepuasan dan terhambat, sehingga mengakibatkan banyak konflik batin (Fatimah, 2009). b) Faktor TFR Tidak semua ansietas yang mungkin dialami muncul dari pikiran yang buruk mengenai kemungkinan kelemahan-kelemahan pribadi atau kegagalan-kegagalan yang terungkap secara luas. Namun bisa saja terjadi TFR atau Toleransi Frustasi yang Rendah. Ide dasar dari TFR adalah sebagai berikut: Hidup harus gampang dan berjalan sesuai dengan yang saya inginkan tanpa terlalu banyak kesulitan atau kekesalan; dan jika itu tidak terjadi, adalah mengerikan dan saya tidak tahan. Jika memegang gagasan ini, maka kita berada dalam jebakan nyaman. Variasi yang tipikal dari gagasan ini adalah, Saya harus merasa baik, Saya tidak boleh cemas, Saya harus selalu sabar, tenang, dan terkendali. Jika kita menganut pikiran ini, sudah terbukti bahwa kita akan mulai merasa tidak enak segera setelah memikirkan hal tersebut, dan hampir dapat dipastikan bahwa serangan ansietas akan terjadi, bahkan kita mencemaskan tentang keadaan cemas itu (Fatimah, 2009). c) Faktor Lingkungan Seorang anak yang ibunya menderita ansietas maka anaknya cenderung meengalaminya pula, karena sang anak dapat mengenali dan merasakan apa yang dialami oleh sang ibu dan tentunya mempengarahi prilaku dan cara berpikir anak tersebut (Fatimah, 2009). d) Faktor Biologis Faktor biologis ansietas merupakan akibat dari reaksi syaraf otonom yang berlebihan (tonus syaraf simpatis meningkat) dan terjadi pelepasan katekholamine., sebagai contoh PMS atau Pre Menstrual Syndrome, disamping dapat terjadi gangguan fisik ternyata PMS juga dapat memunculkan ansietas, berupa gangguan mental seperti mudah tersinggung dan sensitif (Fatimah, 2009). Dilihat dari aspek psikoanalisis kecemasan dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar (seks, agresi, dan ancaman ) yang masuk ke alam sadar. Mekanisme pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang, displacement dapat mengakibatkan reaksi fobia, reaksi formasi, dan undoing dapat mengakibatkan gangguan obsesi kompulsif. Sedangkan ketidakberhasilan represi mengakibatkan gangguan panik. Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan atau krisis (Hidayat, 2007). e) Faktor Psikologis Sedangkan dari aspek psikoanalisis, ansietas dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar (seks, agresi, dan ancaman) yang masuk ke alam sadar, atau mekanisme pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil, dapat menimbulkan ansietas yakni reaksi fobia (Fatimah, 2009). f) Faktor Penyakit Ansietas juga timbul sebagai efek sekunder dari suatu penyakit, misalnya pasien yang menderita penyakit kanker ternyata juga sering menderita gangguan psikis seperti depresi, ansietas dan gangguan lainnya, ketakutan pasien akan penyakit yang dideritanya atau pun kesakitan fisik yang dialaminya dari suatu penyakit itulah yang menjadi penyebab timbulnya ansietas (Fatimah, 2009). g) Faktor Penyalahgunaan Obat Penyalahgunaan atau penggunaan obat/zat tertentu yang berlebihan juga merupakan salah satu penyebab utama ansietas. Seperti alkoholisme, intoksikasi kafein, hipertiroidisme, dan feokromositoma harus disingkirkan dalam mengatasi gejala ansietas ini (Brust, 2007). Karena sebagian besar orang akan berlari ke hal-hal tadi untuk menghadapi ansietas yang timbul pada dirinya. Beberapa zat yang dapat menyebabkan ansietas anatara lain : 1. Anti kompulsan (Carbamazepine, ethosuximide)

2. Antihistamin 3. Antimicrobials (Cephalosporins, ofloxacin, aciclovir, isoniazid) 4. Bronchodilators (Theophyllines) 5. Digitalis (pada level toksik) 6. Oestrogen 7. Levodopa 8. Corticosteroids 9. Tiroksin 10. Non-steroidal anti-inflammatory drugs(Indomethacin) (Fatimah, 2009). Berbagai studi berupaya mencari hubungan antara gangguan psikiatrik (cemas) dan penyalahgunaan zat. Itu terbukti antara keduanya ada hubungan yang kuat. Mayoritas peneliti setuju bahwa penyalahgunaan zat lebih pada mengikuti daripada mendahului onset gangguan psikiatrik (kecuali perilaku ). 60 80% remaja penyalahguna zat memiliki beberapa psikopatologi yang lain. Lebih kurang 20% remaja mengalami gangguan mental dan emosional yang memungkinkan mereka terlibat inisiasi dan penyalahgunaan zat (Hidayat, 2007). h) Faktor Keturunan Ansietas juga dapat disebabkan karena adanya pengaruh faktor genetik dari keluarga. Penelitian telah melaporkan bahwa duapertiga sampai tigaperempat pasien yang terkena ansietas memiliki sekurang-kurangnya satu sanak saudara derajat pertama dengan ansietas spesifik tipe spesifik yang sama (Brust, 2007). Meskipun demikian masih banyak penyebab ansietas yang harus selalu dicari, untuk itu diperlukan analisis yang lengkap seperti asal timbulnya gejala dan matriks interpersonal dan social bermulanya gejala. Sama halnya dengan mekanisme depresi yang kompleks, penyebab gangguan ini hingga kini juga masih belum dapat ditentukan. Sejauh ini penyebabnya diduga berasal dari faktor biologi (keturunan), penyakit (gangguan) neurologi, efek samping pengobatan jangka panjang (pada reserpine atau beta blocker), penyalahgunaan obat seperti amphetamine serta adanya penyakit kronis dan stress psikososial (Fatimah, 2009). Selain faktor-faktor di atas, ada beberapa faktor yang dikemukakan para ahli, yaitu: a) Faktor predisposisi Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas adalah : 1. Teori psikoanalitik Menurut Sigmund Freud struktur kepribadian terdiri dari tiga elemen, yaitu id, ego, dan superego. Id melambangkan dorongan insting dan impuls primitif. Superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang, sedangkan ego atau aku digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id dan superego. Menurut teori psikoanalitik, ansietas merupakan konflik emosional yang terjadi antara id dan superego, yang berfungsi memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu diatasi (Wahid, 2008). 1. Teori interpersonal Ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma masa pertumbuhan seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami ansietas yang berat (Wahid, 2008). 1. Teori prilaku Ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli prilaku menganggap ansietas merupakan sesuatu

dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan untuk menghindarkan rasa sakit. Teori ini meyakini bahwa individu yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada rasa takut berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas berat pada kehidupan masa dewasanya (Wahid, 2008). 1. Kajian keluarga Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga (Wahid, 2008). 1. Kajian biologis Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin. Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas. Selain itu kesehatan umum seseorang mempunyai predisposisi terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor (Wahid, 2008). b) Faktor presipitasi Faktor presipitasi ansietas dapat diklasifikasikan dalam dua jenis : 1. Ancaman terhadap integritas biologik Merupakan ancaman terhadap kebutuhan dasar manusia, seperti kebutuhan akan makanan, minuman, dan perumahan. Hal ini merupakan faktor umum penyebab ansietas. 1. Ancaman terhadap rasa aman Hal ini sulit digolongkan karena manusia unik. Ancaman keamanan diri meliputi ; (1) tidak tercapainya harapan, (2) tidak terpenuhinya kebutuhan akan status, (3) rasa bersalah atau pertentangan antara keyakinan diri dan prilaku, (4) tidak mampu untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain (Wahid, 2008). c) Pengkajian pada ansietas juga dilakukan pada tiga aspek yaitu : 1. Aspek Fisiologis Observasi status fisiologi klien dilakukan dengan mengidentifikasi respon sistem saraf otonom, khususnya saraf simpatik. Klien dengan ansietas mungkin terjadi peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, susah bernafas, rasa tercekik, mulut kering, rasa kembung pada perut dan nyeri, berkeringat pada telapak tangan dan tremor. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan fungsi adrenal, peningkatan glukosa dan menurunnya fungsi paratiroid, tingkat oksigen dan kalsium (Wahid, 2008). 1. Aspek kognitif Pengkajian pada fungsi kognitif mungkin didapatkan : susah untuk berkonsentrasi, menurunnya lapang persepsi, kurang perhatian terhadap hal yang kecil atau susah untuk memfokuskan fikiran. Pada tingkat ansietas ditentukan oleh luasnya gangguan pada fungsi kognitif (Wahid, 2008). 1. Aspek emosi atau prilaku Gangguan pada aspek emosi atau prilaku antara lain : mudah tersinggung, marah, menarik diri, merasa tidak berdaya, dan mudah menangis. Pengkajian pada reaksi afektif didapatkan dari keluhan klien. Klien mungkin menceritakan bahwa dirinya merasa gugup yang luar biasa, tegang, ketakutan, dan bingung (Wahid, 2008). Gejala-gejala Ansietas Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stres tergantung pada kondisi masingmasing individu, beberapa simtom yang muncul tidaklah sama. Kadang beberapa diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa individu, lainnya sangat mengganggu. Gejala muncul biasanya disebabkan interaksi dari aspek-aspek biopsikososial termasuk genetik dengan beberapa situasi, stres atau trauma yang merupakan stressor munculnya gejala ini. Di sistem saraf

pusat beberapa mediator utama dari gejala ini adalah. norepinephrine dan serotonin. Sebenarnya ansietas diperantarai oleh suatu sistem kompleks yang melibatkan sistem limbic, thalamus, korteks frontal secara anatomis dan norepinefrin, serotonin dan GABA pada sistem neurokimia, yang mana hingga saat ini belum diketahui jelas bagaimana kerja bagian-bagian tersebut menimbulkan ansietas (Ashadi, 2008). Ansietas dan gangguannya dapat menampilkan diri dalam berbagai tanda dan gejala fisik dan psikologik seperti gemetar, renjatan, rasa goyah, nyeri punggung dan kepala, ketegangan otot, napas pendek, mudah lelah, sering kaget, hiperaktivitas autonomik seperti wajah merah dan pucat, takikardi, palpitasi, berkeringat, tangan rasa dingin, diare, mulut kering, sering kencing. Rasa takut, sulit konsentrasi, insomnia, libido turun, rasa mengganjal di tenggorok, rasa mual di perut dan sebagainya (Ashadi, 2008). Beberapa teori membagi ansietas kedalam empat tingkat sesuai dengan rentang respon ansietas yaitu : 1. Ansietas ringan Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lapang persepsi meningkat dan individu akan berhati-hati dan waspada. Pada tingkat ini individu terdorong untuk belajar dan akan menghasilkan pertumbuhan dan ktreativitas. Respon Fisiologis - Sesekali nafas pendek - Nada dan tekanan darah naik - Gejala ringan pada lambung - Muka berkerut dan bibir bergetar Respon Kognitif - Mampu menerima rangsang yang kompleks - Konsentrasi pada masalah - Menyelesaikan masalah secara efektif Respon Perilaku dan Emosi - Tidak dapat duduk tenang - Tremor halus pada tangan - Suara kadang kadang meninggi (Anonim2, 2009). 2. Ansietas sedang Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain. Respon fisiologik - Sering nafas pendek - Nadi dan tekanan darah naik - Mulut kering - Anorexia - Diare / konstipasi - Gelisah Respon kognitif - Lapang persepsi menyempit - Rangsang luar tidak mampu diterima - Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya Respon perilaku dan emosi - Gerakan tersentak sentak / meremas tangan - Bicara banyak dan lebih cepat

- Susah tidur - Perasaan tidak aman (Anonim2, 2009). 3. Ansietas berat Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderumng memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan (Wahid, 2008). 4. Ansietas panik Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan (Wahid, 2008). Respon fisiologik - Palpitasi - Jantung berdenyut keras - Berkeringat - Gemetar/menggigil - Sensasi sesak nafas - Merasa tersedak - Nyeri dada - Mual,pusing, pening Respon kognitif - Merasa tidak nyata (derealisas) - Merasa terasing pada diri sendiri (depersonalisasi) - Takut kehilangan kendali (menjadi gila dan mati) Respon perilaku dan emosi - Parentesia (sensasi kebas/kesemutan) - Merasa tidak tegap - Perasaan tidak nyaman (Anonim2, 2009). Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori : 1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidak mampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari hari. 2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang (Anonim2, 2009). Antidepresan Obat yang digunakan untuk pengobatan ansietas ialah sedatif atau obat-obatan yang secara umum memiliki sifat yang sama dengan sedatif. Antiansietas yang terutama ialah golongan benzodiazepin. Banyak golongan depresan SSP yang lain telah digunakan untuk sedasi siang hari pada pengobatan ansietas, namun penggunaannya saat ini telah ditinggalkan. Alasannya ialah obat-obat tersebut antara lain golongan barbiturat dan memprobamat, lebih toksik pada takar lajak (Defartik, 2007). Antiansietas terbagi dua kelas: hipnosedatif dan sedatif otonomik. Hipnosedatif dapat digunakan pada dosis yang lebih tinggi sebagai pil tidur dan dosis yang lebih rendah untuk menghilangkan kecemasan. Semuanya dapat menyebabkan ketergantungan. Obat yang lebih tua, kecuali benzodiazepin, dapat digunakan untuk bunuh diri, lebih efektif sebagai antiansietas, dan bertahan lebih lama. Efek terapi dapat berlanjut beberapa jam setelah dosis tunggal, yang membuat obat ini berguna mengatasi gejala akibat penghentian konsumsi alkohol. Efek samping terutama adalah

sedasi dan lebih jarang berupa malkoordinasi dan atau ataksia. Seperti penggunaan alkohol, dapat mengganggu proses mengemudi kendaraan. Pada dosis rendah, hal ini tentunya bukanlah masalah. Kadang, obat ini dapat menyebabkan pasien neurosis menjadi agresif dan cepat marah. Hal ini hampir sama dengan efek penggunaan alkohol sekalipun pada praktisnya dianggap tidak terlalu menimbulkan masalah (Mahmudin, 2000). Sedatif otonomik lebih menyerupai antidepresan dan anti psikosis. Yang dapat mengurangi kecemasan jika diberikan dengan dosis rendah. Obat ini menyebabkan sedasi yang kurang menyenangkan dan sering menyebabkan penurunan aktivitas. Efek otonomik seperti mulut kering lebih sering muncul dan kadang kurang efektif dibandingkan dengan benzodiazepin (Mahmudin, 2000). Keputusan untuk meresepkan suatu obat pada pasien dengan gangguan kecemasan campuran anxietas dan depresi hams jarang dilakukan pada kunjungan pertama. Karena sifat gangguan yang berlangsung lama, suatu rencana pengobatan hares dengan cermat dijelaskan. Dua golongan obat utama yang dipakai dalam pengobatan gangguan anxietas adalah Benzodiazepine dan NonBenzodiazepine, dengan Benzodiazepine sebagai pilihan utama (Ashadi, 2008). Beberapa efek samping penggunaan obat antiansietas, yaitu: - Sedative (rasa mengantuk, kewaspadaan menurun, kerja psikomotorik menurun, dan kemampuan kognitif melemah) - Rasa lemas dan cepat lelah - Adiktif walaupun sifatnya lebih ringan dari narkotika. Ketergantungan obat biasanya terjadi pada individu peminum alkohol, pengguna narkoba (maksimum pemberian obat selama 3 bulan) Penghentian obat secara mendadak memberikan gejala putus obat (rebound phenomenon) seperti kegelisahan, keringat dingin, bingung, tremor, palpitasi atau insomnia (Anonim1, 2009). Golongan Benzodiazepin Benzodiazepine (Diazepam). Benzodiazepin telah merupakan obat terpilih untuk gangguan kecemasan umum. Benzodiazepin dapat diresepkan atas dasar jika diperlukan, sehingga pasien menggunakan benzodiazepin kerja cepat jika mereka merasakan kecemasan tertentu. Pendekatan alternatif adalah dengan meresepkan benzodiazepin untuk suatu periode terbatas, selama mans pendekatan terapetik psikososial diterapkan (Defartik, 2007). Benzodiazepin yang dianjurkan sebagai antiantisietas ialah: klordiazepoksid, diazepam, oksazepam, klorazepat, lorazepam, prazepam, alprazolam dan halozepam. Sedangkan klorazepam dianjurkan untuk pengobatan panic disorder (Defartik, 2007). Contoh Antiansietas : Alprazolam, Diazepam, Clobazam, Lorazepam a. Farmakodinamik. Klordiazepoksid dan diazepam merupakan prototip derivat benzodiazepin yang digunakan secara meluas sebagai antiansietas. b. Mekanisme kerja. Mekanisme kerja benzodiazepin merupakan potensial inhibisi neuron dengan GABA sebagai mediatornya. Efek farmakodinamik derivat benzodiazepin lebih luas daripada efek meprobamat dan barbiturat. Klordiazepoksid tidak saja bekerja sentral, tetapi juga perifer pada susunan saraf kolinergik, adrenergik dan triptaminergik (Defartik, 2007). Klordiazepoksid lebih berguna untuk mengatasi sifat agresif hewan coba (monyet) daripada penobarbital, meprobamat dan CPZ. Berbeda dengan CPZ, klordiazepoksid dan diazepam bersifat nonselektif dalam menghambat respon terkondisi. Setelah pemberian per oral, klordiazepoksid mencapai kadar tertinggi dalam 8 jam dan tetap tinggi sampai 24 jam. Ekskresi klordiazepoksid melalui ginjal lambat; setelah pemberian satu dosis, obat ini masih ditemukan dalam urin beberapa hari (Defartik, 2007). c. Efek Samping dan Kontraindikasi. Pada penggunaan dosis terapi jarang menimbulkan

kantuk; tetapi pada takar lajak benzodiazepin menimbulkan depresi SSP. Efek samping akibat depresi susunan saraf pusat berupa kantuk dan ataksia merupakan kelanjutan efek farmakodinamik obat-obat ini. Efek antiansietas diazepam dapat diharapkan terjadi bila kadar dalam darah mencapai 300-400 ng/mL; pada kadar yang sama terjadi pula efek sedasi dan gangguan psikomotor. Intoksikasi SSP yang menyeluruh terjadi pada kadar di atas 900-1.000 ng/mL. Kadar terapi klordiazepoksid mendekati 750-1.000 ng/mL (Defartik, 2007). Peningkatan hostilitas dan iritabilitas dan mimpi-mimpi hidup (vivid dreams) dan mengganggu kadang-kadang dikaitkan dengan pemberian benzodiazepin, mungkin dengan kekecualian oksazepam. Hal yang ganjil adalah sesekali terjadi peningkatan ansietas. Respon semacam ini ruparupanya terjadi pada pasien yang merasa ketakutan dan terjadi penumpulan daya pikir akibat efek samping sedasi antiansietas. Dapat ditambahkan bahwa salah satu penyebab yang paling sering dari keadaan bingung yang reversibel pada orang-orang tua dalah pemakaian yang berlebihan berbagai jenis sedatif, termasuk apa yang biasanya disebut sebagai benzidiazepin dosis kecil. Efek yang unik adalah perangsangan nafsu makan, yang mugkin ditimbulkan oleh derivat benzodiazepin secara mental (Defartik, 2007). Umumnya, toksisitas klinik benzodiazepin rendah. Bertambahnya berat badan, yang mungkin disebabkan perbaikan nafsu makan terjdi pada beberapa pasien. Banyak efek samping yang dilaporkan untuk obat ini tumpang tindih dengan gejala ansietas, oleh karena itu perlu anamnesis yang cermat untuk mengetahui apakah yang dilaporkan adalah benar sustu efek samping atau gejala ansietas. Diantara reaksi toksik klordiazepoksid yang dijumpai adalah rash, mual, nyeri kepala, gangguan fungsi seksual, vertigo, dan kepala rasa ringan. Agranulositosis dan reaksi hepatik telah dilaporkan, namun jarang. Ketidakteraturan menstruasi dilaporkan terjadi dan wanita yang sedang menggunakan benzodiazepin dapat mengalami kegagalan ovulasi (Defartik, 2007). Obat ini sering digunakan untuk percobaan bunuh diri oleh pasien dengan mental yang labil, tetapi intoksikasi benzodiazepin biasanya tidak berat dan tidak memerlukan terapi khusus. Beberapa kematian pernah dilaporkan dengan dosis di atas 700 mg klordiazepoksid atau diazepam. Tidak jelas apakah hanya karena obat ini, kombinasi dengan antidepresi lainnya atau kondisi tertentu pasien. Derivat benzodiazepin sebaiknya jangan diberikan bersama alkohol, barbiturat atau fenotfazin. Kombinasi ini mungkin menimbulkan efek depresi yang berlebihan. Pada pasien gangguan pernafasan benzodiazepin dapat memperberat gejala sesak nafas (Defartik, 2007) d. Indikasi dan sediaan. Derivat benzodiazepin digunakan untuk menimbulkan sedasi, menghilangkan rasa cemas dan keadaan psikosomatik yang ada hubungan dengan rasa cemas. Selain sebagai ansietas, derivat benzodiazepin digunakan juga sebagai hipnotik, antikonvulsi, pelemas otot dan induksi anestesi umum. Sebagai ansietas, klordiazepoksid dapat diberikan secara oral atau bila sangat diperlukan suntikkan, suntikan dapat diulang 2-4 jam dengan dosis 25-100 mg sehari dalam 2 atau 4 pemberian. Dosis diazepam adalam 2-20 mg sehari; pemberian suntikan dapat diulang 3-4 jam. Klorazepat diberikan sebagai oral 30 mg sehari dalam dosis terbagi. Klordiazepoksid tersedia sebagai tablet 5 dan 10 mg. Diazepam berbentuk tablet 2 dan 5 mg. Diazepam tersedia sebagai larutan untuk pemberian rektal pada anak dengan kejang demam (Departik, 2007). Untuk pengobatan kecemasan, biasanya memulai dengan obat pada rentang rendah terapetiknya dan meningkatkan dosis untuk mencapai respon terapetik. Pemakaian benzodiazepin dengan waktu paruh sedang (8 sampai 15 jam) kemungkinan menghindari beberapa efek merugikan yang berhubungan dengan penggunaan benzodiazepin dengan waktu paruh panjang. Pemakaian dosis terbagi mencegah perkembangan efek merugikan yang berhubungan dengan kadar plasma puncak yang tinggi. Perbaikan yang didapatkan dengan benzodiazepin mungkin lebih dan sekedar efek antikecemasan. Sebagai contohnya, obat dapat menyebabkan pasien memandang berbagai kejadian dalam pandangan yang positif. Obat juga dapat memiliki kerja disinhibisi ringah, serupa dengan yang dilihat setelah sejumlah kecil alkohol. Untuk diazepam sediaan tab. 2-5mg, ampul 10 mg/2cc dosis anjuran l0-30mg/hari 2-3xsehari, i.v./i.m 2-10mg /3-4 jam (Ashadi, 2008).

Non-Benzodiazepine (Buspiron) Buspiron merupakan contoh dari golongan azaspirodekandion yang potensial berguna dalam pengobatan ansietas. Semua golongan obat ini dikembangkan sebagai antipsikosis. Buspiron memperlihatkan farmakodinamik yang berbeda dengan benzodiazepine, yaitu tidak memperlihatkan aktivitas GABA-ergik dan antikonvulsan, interaksi dengan antidepresi susunan saraf pusat minimal. Buspiron merupakan antagonis selektif reseptor serotonin (5-HTIA); potensi antagonis dopaminergiknya rendah, sehingga resiko menimbulkan efek samping ekstrapiramidal pada dosis pengobatan ansietas kecil (Departik, 2007). Studi klinik menunjukkan, buspiron merupakan ansietas efektif yang efek sedatifnya relatif ringan. Diduga resiko timbulnya toleransi dan ketergantungan juga kecil. Obat ini tidak efektif pada panic disorder. Efek antiansietas baru timbul setelah 10-15 hari dan bukan antiansietas untuk penggunaan akut. Tidak ada toleransi silang antara buspiron dengan benzodiazepin sehingga kedua obat tidak dapat saling menggantikan (Departik, 2007). Buspiron kemungkinan besar efektif pada 60 sampai 80 persen pasien dengan gangguan cemas. Data menyatakan bahwa buspiron adalah lebih efektif dalam menurunkan gejala kognitif dari gangguan kecemasan umum dibandingkan dengan menurunkan gejala somatik. Bukti-bukti juga menyatakan bahwa pasien yang sebelumnya telah diobati dengan benzodiazepin kemungkinan tidak berespon dengan pengobatan buspiron. Tidak adanya respons tersebut mungkin disebabkan oleh tidak adanya efek nonansiolitik dari benzodiazepin (seperti relaksasi otot dan rasa kesehatan tambahan), yang terjadi pada terapi buspiron. Namun demikian, rasio manfaat-risiko yang lebih balk, tidak adanya efek kognitif dan psikomotor, dan tidak adanya gejala putus that menyebabkan buspiron merupakan obat lini pertama dalam pengobatan gangguan kecemasan umum. Kerugian utama dari buspiron adalah bahwa efeknya memerlukan dua sampai tiga minggu sebelum terlihat, berbeda dengan efek ansiolitik benzodiazepin yang hampir segera terlihat. Buspiron bukan merupakan terapi efektif untuk putus benzodiazepin. Sediaan tab. 10mg dosis anjuran 325mg/h (Ashadi, 2008). Interaksi Obat Ansietas Interaksi Obat pada Gelisah dan Cemas / Ansietas 1. Trankulansia (semua jenis) Depresan lain Trankulansia adalah depresan susunan saraf pusat. Obat akan menekan atau mengganggu fungsi seperti koordinasi dan kewaspadaan. Penekanan yang berlebihan dan gangguang fungsi dapat terjadi bila suatu trankulansia diberikan bersamaan dengan depresan susunan saraf lainnya. Akibatnya : mengantuk, pusing, hilang koordinasi otot dan kewaspadaan mental; dalam kasus berat terjadi gangguan peredaran darah dan fungsi pernapasan yang menyebabkan koma dan kematian (Harkness, 1989). Kelompok depresan yang berinteraksi dengan trankulansia adalah antikolinergik, antikonvulsan, antidepresan (jenis siklik), antihistamin, antipsikotika, fenfluramin, antihipertensi, pelemas otot, narkotika, propoksifien, sedative (Harkness, 1989). 2. Golongan benzodiazepin Obat asma (golongan Teofilin) Efek obat asma dapat berkurang. Obat asma digunakan untuk membuka jalan udara di paru-paru dan untuk mempermudah pernapasan penderita asma, sedangkan benzodiazepin melemaskan otot sehingga otot tidak dapat berfungsi dengan baik. Akibatnya asma tidak sembuh sempurna (Harkness, 1989). 3. Benzodiazepin pil KB Efek pil KB dapat berkurang. Akibatnya : resiko hamil meningkat kecuali jika digunakan cara kontrasepsi lain. Perdarahan sekonyong-konyong adalah gejala kemungkinan terjadi interaksi. Efek beberapa trankulansia dapat meningkat (klordiazepoksid, diazepam); efek trankulansi

benzodiazepine lainnya dapat berkurang (Harkness, 1989). 4. Benzodiazepin simetidin (Tagamat) Efek trankulansia dapat meningkat. Akibatnya timbul efek samping yang merugikan karena terlalu banyak trankulansia. Gejalanya berupa sedasi berlebihan, mengantuk, pusing, hilang koordinasi otot dan kewaspadaan mental; pada kasus berat terjadi gangguan perdarahan dan fungsi pernapasan yang menyebabkan koma dan kematian. Lorazepam dan oksazepam tidak berinteraksi (Harkness, 1989). 5. Benzodiazepin estrogen (hormone wanita) Efek estrogen dapat meningkat. Estrogen digunakan untuk mengatasi kekurangan estrogen selama haid dan sesudah histerektomi, untuk mencegah pembengkakan payudara yang nyeri sesudah melahirkan karena ibu tidak menyusui bayinya, dan untuk mengobati amenore. Akibatnya kondisi yang sedang diobati mungkin tidak terobati dengan baik. Efek beberapa trankulansia dapat meningkat (klordiazepoksid, diazepam); efek trankulansi benzodiazepine lainnya dapat berkurang (Harkness, 1989). 6. Benzodiazepine Levodopa Efek levodopa dapat berkurang karena levodopa digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson (antikolinergik). Akibatnya kondisi yang dialami mungkin tidak terkendali dengan baik. Interaksi yang terjadi hanyalah pada turunan diazepam, tetapi benzodiazepine lainnya mungkin menunjukkan interaksi yang sama (Harkness, 1989). 7. Benzodiazepin Rifampin Efek trankulansia dapat berkurang. Akibatnya kegelisahan dan kecemasan mungkin tidak hilang sebagaimana yang diharapkan. Trankulansia turunan lorazepam dan oksazepam mungkin tidak berinteraksi (Harkness, 1989). 8. Hidrokzin Antikolinergika Kombinasi ini menimbulkan efek samping antikolinergik yang berlebihan. Akibatnya penglihatan kabur, mulut kering, sembelit, palpitasi jantung, bicara tidak jelas, sulit kencing, rangsangan pada lambung, mungkin keracunan psikosis (agitasi, nanar, meracau). Beberapa antikolinergik menimbulkan efek samping yang berlebihan. Akibatnya mengantuk, pusing, hilang koordinasi otot dan kewaspadaan mental; pada kasus berat terjadi gangguan perdarahan darah dan fungsi pernapasan yang menyebabkan kematian dan koma (Harkness, 1989). Interaksi obat turunan benzodiazepine 1. Diazepam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral. c. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya. 2. Alprazolam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral. c. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya. 3. Bromazepam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral. c. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya.

4. Chlordiazepoksid 1. 2. 3. 4. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya. Kontrasepsi oral, alcohol, dan heparin menurunkan ikatan protein plasma pada chlordiazepoksid.

5. Clonazepam 1. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. 2. Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral. 3. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin, phenytoin, Phenobarbital, dan obat penginduksi enzim lainnya. 6. Clorazepat a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b.Pemberian bersama dengan antikonvulsi dan merokok mempercepat eliminasi. c. Pemberian bersama dengan antasida dan H2-Bloker menghambat reabsorbsi d. Pemberian bersama dengan cimetidin dapan menghambat pemecahannya. 7. Flunitrazepam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dipercepat bila ada induksi enzim 8. Lorazepam 1. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. 2. Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim. 3. Pada pemberian bersama dengan pyremethamin, dilaporkan terjadi tes fungsi hati yang patologik. 9. Lormetazepam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim 10.Midazolam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim 11.Nitrazepam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim 12.Oxazepam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim 13.Temazepam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim

14.Triazolam a. Peningkatan efek oleh obat obat penekan SSP lain dan alcohol. b. Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim (Harkness, 1989). Terapi Non farmakologi Terapi pertama yang disarankan untuk penderita AD adalah dengan terapi non-farmakologi (terapi tanpa menggunakan obat-obatan), pilihan terapi non-farmakologi yang dapat dilakukan antara lain: 1. Supportive/ Dinamic Psycotherapy Yaitu terapi berkomunikasi dengan pasien dengan memberikan perhatian langsung terhadap pasien 2. Terapi kognitif Pasien akan diajak memecahkan masalah-masalah menjadi beberapa bagian: - Masalah sebagaimana orang melihatnya - Pikiran seseorang mengenai masalah tersebut - Emosi seseorang yang mengelilingi masalah tersebut - Perasaan fisik seseorang pada saat itu - Tindakan seseorang sebelum, selama, dan setelah masalah muncul 3. Terapi Behavioral Konseling behavioral yang memfokuskan pada kegiatan (tindakan) yang dilakukan pasien. 4. Relaxation Training Meningkatkan pemahaman tentang variabilitas dan signifikasi klinis hasil reduksi kecemasan. Nah, setelah membaca penjelasan diatas, sudah mengertikan apa itu ansietas?? Teman-teman, kebanyakan dari kita bila merasa cemas, langsung khawatir jangan-jangan terkena ansietas nih.. jangan takut, kecemasan yang ada penyebabnya itu wajar, setiap manusia pasti pernah merasa cemas, jadi itu tidak bisa dikatakan terkena ansietas ya.. hehe.. Ansietas itu kecemasan yang tidak ada penyebabnya dan terjadi berulang-ulang kali, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari penderita.. Nah ini yang disebut mengalami ansietas.. bila sudah seperti itu segera ditangani ya..

Bipolar disorder adalah jenis penyakit psikologi, ditandai dengan perubahan mood (alam perasaan) yang sangat ekstrim, yaitu berupa depresi dan mania. Pengambilan istilah bipolar disorder mengacu pada suasana hati penderitanya yang dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim. Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi , seseorang yang menderita bipolar disorder memiliki mood swings yang ekstrim yaitu pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap bipolar disorder bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Namun, ketika mood-nya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri (depresi). Dahulu, penyakit ini disebut dengan "manicdepressive". Suasana hati meningkat secara klinis disebut sebagai mania atau, jika ringan, hypomania . Individu yang mengalami episode manik juga sering mengalami episode depresi, atau gejala, atau episode campuran dimana kedua fitur mania dan depresi hadir pada waktu yang sama. Episode ini biasanya dipisahkan oleh periode "normal" suasana hati (mood) , tetapi, dalam beberapa depresi, individu dan mania mungkin berganti dengan sangat cepat, yang dikenal sebagai rapid-cycle. Manic episode Ekstrim kadang-kadang dapat menyebabkan gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi .Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu sampai lima bulan. Sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama. Episode hipomanik mempunyai derajat yang lebih ringan daripada manik. Gangguan tersebut telah dibagi menjadi bipolar I , bipolar II, cyclothymia , dan jenis lainnya, berdasarkan sifat dan pengalaman tingkat keparahan episode mood; kisaran sering digambarkan sebagai spektrum bipolar. Bisa dikatakan bahwa insiden gangguan bipolar tidak tinggi antara 0,3-1,5 persen. Tapi angka tersebut belum termasuk yang misdiagnosis (biasa terdiagnosis sebagai skizofrenia). Gangguan jiwa bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di luar negeri. Di beberapa kota di Indonesia juga mulai dilaporkan penderita berusia remaja. Resiko kematian terus membayangi penderita bipolar dan itu lebih karena mereka mengambil jalan pintas. Episode pertama bisa timbul mulai dari masa kanak-kanak sampai tua. Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar, risiko penyakit akan lebih berat, berkepanjangan, bahkan sering kambuh. Sementara anak-anak berpotensi mengalami perkembangan gangguan ini ke dalam bentuk yang lebih parah dan sering bersamaan dengan gangguan hiperaktif defisit atensi. Orang yang berisiko mengalami gangguan bipolar adalah mereka yang mempunyai anggota keluarga mengidap penyakit bipolar. Tanda dan gejala Bipolar Disorder Bipolar disorder dapat terlihat sangat berbeda pada orang yang berbeda. Gejala bervariasi dalam pola mereka, keparahan, dan frekuensi. Beberapa orang lebih rentan terhadap baik mania atau depresi, sementara yang lain bergantian sama antara dua jenis episode. Beberapa gangguan mood sering, sementara yang lain hanya mengalami sedikit selama seumur hidup. Ada empat jenis mood episode dalam Bipolar Disorder: mania, hypomania, depresi, dan episode campuran. Setiap jenis mood episode bipolar disorder memiliki gejala yang unik. a.Tanda dan Gejala Mania Gejala-gejala dari tahap mania bipolar disorder adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Gembira berlebihan Mudah tersinggung sehingga mudah marah Merasa dirinya sangat penting Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain Penuh ide dan semangat baru Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya Seperti mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengar Nafsu seksual meningkat

9. Menyusun rencana yang tidak masuk akal 10. Sangat aktif dan bergerak sangat cepat 11. Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan 12. Menghamburkan uang 13. Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan 14. Merasa sangat mengenal orang lain 15. Mudah melempar kritik terhadap orang lain 16. Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari 17. Sulit tidur 18. Merasa sangat bersemangat, seakan-akan 1 hari tidak cukup 24 jam b.Tanda dan Gejala Hypomania Hypomania adalah bentuk kurang parah mania. Orang-orang dalam keadaan hypomanic merasa gembira, energik, dan produktif, tetapi mereka mampu meneruskan kehidupan mereka sehari-hari dan mereka tidak pernah kehilangan kontak dengan realitas. Untuk yang lain, mungkin tampak seolah-olah orang dengan hypomania hanyalah dalam suasana hati yang luar biasa baik. Namun, hypomania dapat menghasilkan keputusan yang buruk yang membahayakan hubungan, karier, dan reputasi. Selain itu, hypomania sering kali dapat "naik kelas" untuk mania penuh dan terkadang dapat diikuti oleh episode depresi besar. Tahap hipomania mirip dengan mania. Perbedaannya adalah penderita yang berada pada tahap ini merasa lebih tenang seakan-akan telah kembali normal serta tidak mengalami halusinasi dan delusi. Hipomania sulit untuk didiagnosis karena terlihat seperti kebahagiaan biasa, tapi membawa resiko yang sama dengan mania.Gejala-gejala dari tahap hipomania bipolar disorder adalah sebagai berikut: 1. Bersemangat dan penuh energi, muncul kreativitas. 2. Bersikap optimis, selalu tampak gembira, lebih aktif, dan cepat marah. 3. Penurunan kebutuhan untuk tidur. c. Tanda dan Gejala Depresi Bipolar Gejala-gejala dari tahap depresi bipolar disorder adalah sebagai berikut: 1. Suasana hati yang murung dan perasaan sedih yang berkepanjangan 2. Sering menangis atau ingin menangis tanpa alasan yang jelas 3. Kehilangan minat untuk melakukan sesuatu 4. Tidak mampu merasakan kegembiraan 5. Mudah letih, tak bergairah, tak bertenaga 6. Sulit konsentrasi 7. Merasa tak berguna dan putus asa 8. Merasa bersalah dan berdosa 9. Rendah diri dan kurang percaya diri 10. Beranggapan masa depan suram dan pesimistis 11. Berpikir untuk bunuh diri 12. Hilang nafsu makan atau makan berlebihan 13. Penurunan berat badan atau penambahan berat badan 14. Sulit tidur, bangun tidur lebih awal, atau tidur berlebihan 15. Mual, mulut kering, Susah BAB, dan terkadang diare 16. Kehilangan gairah seksual 17. Menghindari komunikasi dengan orang lain Hampir semua penderita bipolar disorder mempunyai pikiran tentang bunuh diri dan 30% diantaranya berusaha untuk merealisasikan niat tersebut dengan berbagai cara. d. Tanda dan Gejala Episode Campuran

Sebuah episode bipolar disorder campuran dari kedua fitur gejala mania atau hypomania dan depresi. Tanda-tanda umum episode campuran termasuk depresi dikombinasikan dengan agitasi, iritabilitas, kegelisahan, insomnia, distractibility, dan pikiran berlomba (Flight of idea). Kombinasi energi tinggi dan rendah membuat suasana hati (mood) penderita beresiko yang sangat tinggi untuk bunuh diri. Dalam konteks bipolar disorder, episode campuran (mixed state) adalah suatu kondisi dimana tahap mania dan depresi terjadi bersamaan. Pada saat tertentu, penderita mungkin bisa merasakan energi yang berlebihan, tidak bisa tidur, muncul ide-ide yang berlal-lalang di kepala, agresif, dan panik (mania). Akan tetapi, beberapa jam kemudian, keadaan itu berubah menjadi sebaliknya. Penderita merasa kelelahan, putus asa, dan berpikiran negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Hal itu terjadi bergantian dan berulang-ulang dalam waktu yang relatif cepat. Alkohol, narkoba, dan obat-obat antipedresan sering dikonsumsi oleh penderita saat berada pada epiode ini. Mixed state bisa menjadi episode yang paling membahayakan penderita bipolar disorder. Pada episode ini, penderita paling banyak memiliki keinginan untuk bunuh diri karena kelelahan, putus asa, delusion, dan hallucination. Gejala-gejala yang diperlihatkan jika penderita akan melakukan bunuh diri antara lain sebagai berikut. 1. Selalu berbicara tentang kematian dan keinginan untuk mati kepada orang-orang di sekitarnya. 2. Memiliki pandangan pribadi tentang kematian. 3. Mengkonsumsi obat-obatan secara berlebihan dan alkohol. 4. Terkadang lupa akan hutang atau tagihan seperti; tagihan listrik, telepon. Penderita yang mengalami gejala-gejala tersebut atau siapa saja yang mengetahuinya sebaiknya segera menelepon dokter atau ahli jiwa, jangan meninggalkan penderita sendirian, dan jauhkan benda-benda atau peralatan yang beresiko dapat membahayakan penderita atau orang-orang disekelilingnya. Faktor Penyebab Bipolar Disorder Genetik Gen bawaan adalah faktor umum penyebab bipolar disorder. Seseorang yang lahir dari orang tua yang salah satunya merupakan pengidap bipolar disorder memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15%-30% dan bila kedua orang tuanya mengidap bipolar disorder, maka 50%-75%. anak-anaknya beresiko mengidap bipolar disorder. Kembar identik dari seorang pengidap bipolar disorder memiliki resiko tertinggi kemungkinan berkembangnya penyakit ini daripada yang bukan kembar identik. Penelitian mengenai pengaruh faktor genetis pada bipolar disorder pernah dilakukan dengan melibatkan keluarga dan anak kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10-15% keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar disorder pernah mengalami satu episode gangguan mood. Fisiologis 1. Sistem Neurochemistry dan Mood Disorders Salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap bipolar disorder adalah terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak. Sebagai organ yang berfungsi menghantarkan rangsang, otak membutuhkan neurotransmitter (saraf pembawa pesan atau isyarat dari otak ke bagian tubuh lainnya) dalam menjalankan tugasnya. Norepinephrin, dopamine, dan serotonin adalah beberapa jenis neurotransmitter yang penting dalam penghantaran impuls syaraf. Pada penderita bipolar disorder, cairan-cairan kimia tersebut berada dalam keadaan yang tidak seimbang. Sebagai contoh, suatu ketika seorang pengidap bipolar disorder dengan kadar dopamine yang tinggi dalam otaknya akan merasa sangat bersemangat, agresif, dan percaya diri. Keadaan inilah yang

disebut fase mania. Sebaliknya dengan fase depresi. Fase ini terjadi ketika kadar cairan kimia utama otak itu menurun di bawah normal, sehingga penderita merasa tidak bersemangat, pesimis, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri yang besar. Seseorang yang menderita bipolar disorder menandakan adanya gangguan pada sistem motivasional yang disebut dengan behavioral activation system (BAS). BAS memfasilitasi kemampuan manusia untuk memperoleh reward (pencapaian tujuan) dari lingkungannya. Hal ini dikaitkan dengan positive emotional states, karakteristik kepribadian seperti ekstrovert(bersifat terbuka), peningkatan energi, dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Secara biologis, BAS diyakini terkait dengan jalur saraf dalam otak yang melibatkan dopamine dan perilaku untuk memperoleh reward. Peristiwa kehidupan yang melibatkan reward atau keinginan untuk mencapai tujuan diprediksi meningkatkan episode mania tetapi tidak ada kaitannya dengan episode depresi. Sedangkan peristiwa positif lainnya tidak terkait dengan perubahan pada episode mania. 2. Sistem Neuroendokrin Area limbik di otak berhubungan dengan emosi dan mempengaruhi hipotalamus.Hipotalamus berfungsi mengontrol kelenjar endokrin dan tingkat hormon yang dihasilkan. Hormon yang dihasilkan hipotalamus juga mempengaruhi kelenjar pituarity. Kelenjar ini terkait dengan gangguan depresi seperti gangguan tidur dan rangsangan selera. Berbagai temuan mendukung hal tersebut, bahwa orang yang depresi memiliki tingkat dari cortisol (hormon adrenocortical) yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh produksi yang berlebih dari pelepasan hormon rotropin oleh hipotalamus. Produksi yang berlebih dari cortisol pada orang yang depresi juga menyebabkan semakin banyaknya kelenjar adrenal. Banyaknya cortisol tersebut juga berhubungan dengan kerusakan pada hipoccampus dan penelitian juga telah membuktikan bahwa pada orang depresi menunjukkan hipoccampal yang tidak normal. Penelitian mengenai Cushings Syndrome juga dikaitkan dengan tingginya tingkat cortisol pada gangguan depresi Lingkungan Bipolar Disorder tidak memiliki penyebab tunggal. Tampaknya orang-orang tertentu secara genetik cenderung untuk bipolar disorder. Namun tidak semua orang dengan kerentanan mewarisi penyakit berkembang, menunjukkan bahwa gen bukanlah satu-satunya penyebab. Beberapa studi pencitraan otak menunjukkan perubahan fisik pada otak orang dengan bipolar disorder. Dalam penelitian lain disebutkan, poin ketidakseimbangan neurotransmitter, fungsi tiroid yang abnormal, gangguan ritme sirkadian, dan tingkat tinggi hormon stres kortisol. Faktor eksternal lingkungan dan psikologis juga diyakini terlibat dalam pengembangan bipolar disorder. Faktor-faktor eksternal yang disebut pemicu. Pemicu dapat memulai episode baru mania atau depresi atau membuat gejala yang ada buruk. Namun, banyak episode gangguan bipolar terjadi tanpa pemicu yang jelas. Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antar perseorangan atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (reward) dalam hidup. Contoh dari hubungan perseorangan antara lain jatuh cinta, putus cinta, dan kematian sahabat. Sedangkan peristiwa pencapaian tujuan antara lain kegagalan untuk lulus sekolah dan dipecat dari pekerjaan. Selain itu, seorang penderita bipolar disorder yang gejalanya mulai muncul saat masa ramaja kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan seperti mengalami banyak kegelisahan atau depresi. Selain penyebab diatas, alkohol, obat-obatan, dan penyakit lain yang diderita juga dapat memicu munculnya bipolar disorder. Di sisi lain, keadaan lingkungan di sekitarnya yang baik dapat mendukung penderita gangguan ini sehingga bisa menjalani kehidupan dengan normal. Berikut ini adalah faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya BD, antara lain: 1. Stress - peristiwa kehidupan Stres dapat memicu gangguan bipolar pada seseorang dengan

2.

3. 4. 5.

kerentanan genetik. Peristiwa ini cenderung melibatkan perubahan drastis atau tiba-tiba-baik atau buruk-seperti akan menikah, akan pergi ke perguruan tinggi, kehilangan orang yang dicintai, dipecat. Penyalahgunaan Zat - Meskipun penyalahgunaan zat tidak menyebabkan gangguan bipolar, itu dapat membawa pada sebuah episode dan memperburuk perjalanan penyakit. Obatobatan seperti kokain, ekstasi, dan amphetamine dapat memicu mania, sedangkan alkohol dan obat penenang dapat memicu depresi. Obat - obat tertentu, terutama obat-obatan antidepresan, bisa memicu mania. Obat lain yang dapat menyebabkan mania termasuk obat flu over-the-counter, penekan nafsu makan, kafein, kortikosteroid, dan obat tiroid. Perubahan Musiman - Episode mania dan depresi sering mengikuti pola musiman. Manic episode lebih sering terjadi selama musim panas, dan episode depresif lebih sering terjadi selama musim dingin, musim gugur, dan musim semi (untuk negara dengan 4 musim). Kurang Tidur - Rugi tidur-bahkan sesedikit melewatkan beberapa jam istirahat-bisa memicu episode mania

Self-help untuk bipolar disorder Sementara berurusan dengan bipolar disorder tidak selalu mudah, tidak harus menjalankan kehidupan Anda. Tetapi untuk sukses mengelola bipolar disorder, Anda harus membuat pilihan cerdas. gaya hidup Anda dan kebiasaan sehari-hari memiliki dampak yang signifikan terhadap suasana hati Anda. Baca terus untuk cara-cara untuk membantu diri Anda sendiri: 1. Dapatkan pendidikan tentang cara mengatasi gangguan. Pelajari sebanyak yang Anda bisa tentang bipolar. Semakin banyak Anda tahu, semakin baik Anda akan berada dalam membantu pemulihan Anda sendiri. 2. Jauhkan stress. Hindari stres tinggi dengan menjaga situasi keseimbangan antara pekerjaan dan hidup sehat, dan mencoba teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam. 3. Mencari dukungan Sangat penting untuk memiliki orang yang dapat Anda berpaling untuk meminta bantuan dan dorongan. Cobalah bergabung dengan kelompok pendukung atau berbicara dengan teman yang dipercaya. 4. Buatlah pilihan yang sehat. Sehat tidur, makan, dan berolahraga kebiasaan dapat membantu menstabilkan suasana hati Anda. Menjaga jadwal tidur yang teratur sangat penting. 5. Monitor suasana hati Anda. Melacak gejala Anda dan perhatikan tanda-tanda bahwa suasana hati Anda berayun di luar kendali sehingga Anda dapat menghentikan masalah sebelum dimulai.

LAPORAN KASUS SKIZOFRENIA PARANOID (F 20.0)

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Suku Agama Status perkawinan Warga negara Pendidikan Pekerjaan Alamat Tanggal masuk RS : Tn. AF : 27 tahun : Laki-laki : Bugis : Islam : Belum menikah : Indonesia : STM : Kuli bangunan : Desa Pana, Kec. Alla, Kab. Enrekang : 2 April 2010

LAPORAN PSIKIATRI Riwayat psikiatri diperoleh dari catatan medik, autoanamnesis pada tanggal 10 April 2010, dan alloanamnesis pada tanggal 2 April 2010 dari Ny. J, 56 tahun, pekerjaan IRT, pendidikan SD, ibu kandung pasien. I. A. B. o RIWAYAT PENYAKIT Keluhan utama Riwayat gangguan sekarang Keluhan dan gejala :

Mengamuk

Dialami sejak 1 tahun yang lalu tetapi tidak terus menerus dan memberat 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien sering keluar meninggalkan rumah tanpa tujuan yang jelas dan sering memukul orang. Pasien mengaku sering mendengar bisikan-bisikan dan kadang melihat bayangan naga. Pasien sering bicara sendiri. Pasien juga merasa sering mengeluh sakit kepala dan badan terasa panas. o Hendaya / disfungsi : Hendaya sosial (+) Hendaya pekerjaan (+)

o o C. a. o o o b. c.

Hendaya dalam penggunaan waktu senggang (+) Faktor stressor psikososial : Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit psikis sebelumnya : ada Riwayat gangguan sebelumnya Riwayat penyakit terdahulu: Trauma kapitis (-) Infeksi (+) malaria pada tahun 2008. Kejang (-) Riwayat penggunaan zat psikoaktif: Merokok (+) 1-2 bungkus sehari sejak kelas 3 SMP Alkohol (+) tidak sering, minum anggur atau tuak. Obat-obatan lainnya (-) Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya: Pasien pernah dirawat di RS. Dadi dengan keluhan yang sama sebanyak dua kali dan berobat

Tidak jelas

NAPZA

tidak teratur. Dirawat pertama kali pada tanggal 8 Agustus 11 Oktober 2009 dan didiagnosa skizofrenia paranoid. Kemudian dirawat yang kedua kali pada tanggal 25 Oktober 23 Desember 2009 dan di diagnosa kembali sebagai skizofrenia paranoid. D. o o o o o E. o o o o F. Riwayat kehidupan pribadi : Pasien lahir normal, dibantu oleh dukun Riwayat pertumbuhan fisik sesuai dengan anak lain seusianya. Pendidikan terakhir tamat STM Pasien sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan sejak tamat STM. Pasien agak pendiam tapi mudah bergaul. Riwayat kehidupan keluarga : Anak ke-5 dari 8 bersaudara [,,,,(),,,] Belum menikah Hubungan dengan keluarga baik. Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga tidak ada Situasi hidup sekarang

Pasien tinggal serumah bersama dengan ibu serta kedua adik laki-lakinya. Orang tua pasien sudah bercerai dan saudara-saudara pasien yang lain telah menikah dan tinggal bersama suami/istrinya

masing-masing. G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya Pasien merasa sakit dan membutuhkan pertolongan. AUTOANAMNESA (10 April 2010) DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P : Selamat siang pak. : Siang dok. : Perkenalkan nama saya Vindy, dokter muda yang bertugas disini. Nama bapak siapa? : Firman dok. : Firman tinggal dimana? : Di Enrekang dok. : Siapa yang antar Firman kesini? : Ibuku dok. : Tanggal berapa Firman lahir? : Kulupami jg dok. : Sekarang sudah umur berapa? : Kalo tidak salah sudah 27 tahun. : Kenapa Firman dibawa kesini ? : Mengamuk ka dok. : Apa yang membuat firman mengamuk? : Karena sakit sekali saya rasa dok. : Apanya yang sakit? : Sering sakit badanku baru panas sekali juga badanku. Biasa kalau ndak tahan ka pergi ka : Apa ada juga pengalamannya yang luar biasa? Yang sering dialami belakangan ini? : Ada. Biasa saya lihat bayangan. : Bayangan apa? : Naga. Biasa kalau dia muncul dia masuki saya. Kalau dia masuk langsung ka pingsan. : Jadi Firman tahu kalau dimasuki oleh naga? : Tahu dok, karena biasanya tidak sadar ka. : Apa rasanya kalau lagi dimasuki naga? : Tidak ada rasanya. Saya lawan saja tapi tidak mampu ka lawan ki, jadi langsung ka : Bagaimana bentuknya itu naga? : Besar, warna hijau, dan bintik-bintik.

mandi ke sungai.

pingsan.

DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM

: Apa hanya naga yang firman lihat? : Biasa macan juga. Ganti-ganti. : Apa ada lagi pengalaman yang lain? Atau mungkin ada suara-suara aneh yang firman : Iya. Sering ka dengar suara-suara aneh. : Apa dia bilang? : Dia ejek ka. : Kapan biasa muncul? : Biasa kalau sendiri ka muncul itu naga dan suara bisikan mengejek. Biasa juga kalau bawa : Bagaimana caranya itu naga mau menjatuhkan Firman? : Itu naga berusaha untuk jatuhkan ka. Biasanya dia coba untuk menghalang-halangi jalanku : Jadi kita pernah jatuh? : Tidak. : Apa yang membuat itu naga mau mencelakai Firman? : Tidak tau juga dok. Tidak tau juga kenapa dia mau celakai ka. Mungkin karena selalu ka : Ada keluhan lain? : Iya dok. Saya pernah kena malaria waktu kerja di Papua. : Kapan firman kena sakit malaria? : Waktu tahun 2008 dok. : Apa yang Firman lakukan di Papua? : Saya kerja. Saya jadi kuli bangunan disana. : Berapa tahun Firman kerja di Papua? : Sekitar 3 tahun ka disana dok. : Apa pendidikan terakhirnya? : STM dok : Berapa orang bersaudara? : Banyak saudaraku, ada 8 orang. : Firman anak keberapa? : Saya anak ke-5 dok. : Apa Firman tau artinya panjang tangan? : Suka mencuri dok. : Kalau tong kosong nyaring bunyinya?

dengar?

motor ka, sampai-sampai itu naga kayak mau kasih jatuh ka.

baru berusaha untuk tabrak ka supaya jatuh.

lawan ki kalau mau masuk kedalam badanku. Makanya dia marah.

P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P II. A. 1.

: hmm.....orang yang suka banyak bicaranya. : Bagaimana kalau bagai air di daun talas? : Tidak tetap pada pendiriannya dok. : Berapa 100-7? : 93. : Terus berapa 93-7? : Hmm...85 dok. Ehh..86. : Kalau 86-7? : 79. : Coba kita ulang angka yang saya sebut...7,3,4,8,2 : 7,3,4,8,2 : Kalau Firman ketemu dompet dijalan, apa yang akan dilakukan? : Saya ambil saja. Kan itu yang namanya rejeki. : Firman masih ingat namaku? : Dokter Vindy. : Apa firman sudah makan siang? : Belum dok : Sudah minum obatnya? : Sudah tadi. : Oke firman. Terima kasih atas waktunya. : Sama-sama dok STATUS MENTAL Deskripsi Umum Penampilan : Seorang laki-laki umur 27 tahun, wajah sesuai umur, menggunakan pakaian

berwarna ungu gelap dan celana panjang hitam. Rambut botak, kulit sawo matang, penampilan pasien cukup rapi. 2. 3. 4. 5. B. 1. 2. 3. Kesadaran : Berubah Perilaku dan aktivitas psikomotor : Cukup tenang. Pembicaraan : Spontan, intonasi dan volume suara biasa. Sikap terhadap pemeriksa : Cukup kooperratif. Keadaan Afektif, Perasaan, dan Empati: Afek Keserasian Empati : Terbatas. : Kurang serasi : Tidak dapat diraba-rasakan.

C. 1. 2. 3. o o o 4. o o o 5. 6. 7. D. 1. 2. 3. 4. E. 1. a. b. c. 2. a. b. F. G. 1.

Fungsi Intelektual (kognitif) Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : Sesuai dengan taraf pendidikan. Daya konsentrasi : Cukup. Orientasi : Waktu : Baik Tempat : Baik Orang : Baik

Daya ingat: Segera : Baik Jangka pendek : Baik Jangka panjang : Baik. Pikiran abstrak : Masih di observasi. Bakat kreatif : Tidak ditelusuri. Kemampuan menolong diri sendiri : Cukup. Gangguan Persepsi Halusinasi Ilusi Depersonalisasi Derealisasi Proses Berpikir Arus pikiran: Produktivitas Kontiniuitas Isi pikiran : Preokupasi : Tidak ada. motor) Gangguan isi pikiran: Waham kejaran (Selalu merasa dikejar oleh Pengendalian Impuls: Cukup (riwayat pengendalian impuls terganggu sebelum masuk RS) Daya Nilai Norma sosial : Cukup. : Cukup : Relevan dan koheren : Halusinasi auditorik berupa suara bisikan : Tidak ada : Ada (merasakan bayangan naga masuk kedalam : Tidak ada. badannya dan setelah itu pasien menjadi pingsan)

Halusinasi visual berupa melihat bayangan naga dan macan.

Hendaya berbahasa : tidak ada.

seekor naga sampai mau didorong jatuh dari

2. 3. I. III. o o o

Uji daya nilai Penilaian realitas

: Terganggu. : Terganggu.

H. Tilikan (insight) : Derajat 6 (Pasien sadar dirinya sakit dan perlu pengobatan) Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya. PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT Status internus N : 76 x/menit P : 22 x/menit S : 36,6C Anemi (-), ikterus (-), sianosis (-) Toraks : Inspeksi : simetris kiri = kanan Palpasi Perkusi : MT (-), NT (-) : sonor kiri = kanan

Pemeriksaan Fisik : T : 110/70 mmHg

Auskultasi : BP: pekak, rhonki -/-, wheezing -/-, Abdomen: Inspeksi : datar, ikut gerak napas. Auskultasi : peristaltik (+), kesan normal Palpasi Perkusi : hepar/lien tak ada pembesaran : tympani

BJ I/II murni reguler

Ekstermitas : dalam batas normal Pemeriksaan status neurologis GCS : E4M6V5 Rangsang menings : kaku kuduk (-), kernigs sign (-)/(-) Nervus cranialis : pupil bulat isokor 2,5mm / 2,5mm, refleks cahaya langsung (+)/(+), Nervus cranialis lainnya : dalam batas normal Sensibilitas : dalam batas normal Motorik: dalam batas normal SSO : dalam batas normal Anjuran pemeriksaan penunjang: Tes DDR

refleks cahaya tak langsung (+)/(+).

IV.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Seorang laki-laki, 27 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan mengamuk yang dialami sejak 1 tahun yang lalu tetapi tidak terus menerus dan memberat 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengaku sering mendengar bisikan-bisikan yang mengejek dirinya dan kadang melihat bayangan yang dideskripsikannya sebagai naga dan macan. Menurut pasien, bayangan itu sering memasuki dirinya dan terakhir pada saat di RS Dadi. Biasanya setelah naga atau macan masuk ke dalam tubuhnya, pasien mengaku pingsan. Pasien juga merasa sering mengeluh sakit kepala dan badan terasa panas. Menurut ibunya, pasien sering bicara sendiri dan keluar rumah tanpa tujuan pasti dan sering memukul orang. Pasien pernah bekerja di papua sebagai kuli bangunan dan menderita penyakit malaria pada tahun 2008. Pendidikan terakhir pasien STM. Pernah dirawat dua kali di RS Dadi, terakhir dirawat tanggal 25 Oktober - 23 Desember 2009 dengan keluhan sama. Riwayat minum obat tidak teratur. Pasien belum menikah dan tinggal bersama ibunya. Pasien jarang tidur pada malam hari dan cepat tersinggung. Pada saat wawancara dengan pasien didapatkan pasien cukup tenang. Pemeriksaan dengan pembicaraan spontan, volume dan intonasi biasa. Afek terbatas, taraf pendidikan sesuai dengan pengetahuan. Orientasi baik, terdapat gangguan persepsi halusinasi auditorik dan visual, terdapat juga gangguan depersonalisasi berupa merasakan bayangan naga yang masuk kedalam tubuhnya. Terdapat gangguan proses berpikir berupa waham kejaran. Sikap pasien cukup kooperatif. Pengendalian impuls cukup. Tilikan derajat 6 dan dalam taraf dapat dipercaya. V. o EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I

Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis didapatkan gejala klinis yang bermakna berupa mengamuk dan sering jalan keluar tinggalkan rumahnya tanpa tujuan jelas. Pasien sering mendengar suara-suara dan kadang-kadang melihat bayangan. Pasien sering bicara sendiri. Pasien pernah memukul orang. Gejala sudah dialami sejak 1 tahun yang lalu. Hal ini menimbulkan disabilitas dalam kehidupannya sehari-hari sehingga digolongkan dalam gangguan jiwa. Pada pasien didapatkan hendaya berat dalam menilai realita, disertai gangguan persepsi (terdapat halusinasi auditorik dan visual, dan depersonalisasi) sehingga dimasukkan dalam gangguan jiwa psikotik. Pada pasien tidak ditemukan kelainan organik sehingga digolongkan gangguan psikotik non-organik (fungsional). Adanya halusinasi auditorik dan waham sehingga digolongkan kedalam skisofrenia. Gejala yang menonjol dari pasien adalah halusinasi auditorik dan visual disertai waham kejar sehingga digolongkan skisofrenia paranoid (F20.0). Adanya keluhan berupa sering sakit kepala dan badan terasa panas disertai adanya riwayat penyakit malaria pada tahun 2008 serta

adanya depersonalisasi sehingga di didiagnosa banding dengan Gangguan Mental YTT akibat Kerusakan dan disfungsi Otak dan Penyakit Fisik (F06.9). o o o o Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V Ciri kepribadian tidak khas. Tidak ada diagnosis. Stressor psikososial tidak jelas GAF 50-41 (gejala berat(serious), disabilitas berat) VI. o o o DAFTAR PROBLEM Organobiologik: Terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter di otak sehingga Psikologis: Adanya hendaya berat dalam menilai realita sehingga memerlukan psikoterapi dan Sosial: Ditemukan adanya hendaya dalam bidang sosial, pekerjaan dan penggunaan waktu

membutuhkan farmakoterapi. farmakoterapi. senggang sehingga pasien membutuhkan psikoterapi dan farmakoterapi.

VII.

PROGNOSIS Adanya gejala positif yang lebih menonjol. Subtipe paranoid. Riwayat yang sama dalam keluarga tidak ada. Tidak ada kelainan neurologis.

Faktor pendukung :

Faktor penghambat : Riwayat premorbid sosial dan pekerjaan buruk. Pasien belum menikah. Faktor stressor tidak diketahui dengan jelas.

Dari faktor diatas maka prognosis dari pasien ini dubia et malam. VIII. PEMBAHASAN/TINJAUAN PUSTAKA

Skisofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab yang banyak belum diketahui. Perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul(blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Berdasarkan PPDGJ III, untuk mendiagnosa skisofrenia terdapat ketentuan sebagai berikut: 1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang bergema dan berulang dalam kepalanya dan isi

bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda. Thought insertion or withdrawal = isi pikiran asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal) Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain mengetahuinya. 2. Delution of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh sesuatu kekuatan dari luar. Delution of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan dari luar. Delution of perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat. Delution of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap kekuatan dari luar. 3. 4. Halusinasi auditorik: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus tentang perilaku pasien. Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar

dan sesuatu yang mustahil. 1. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang

mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan yang menetap, atau apabila terjadi setiap hati selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. 2. 3. Arus pikir yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau Perilaku katatonik. pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.

4.

Gejala-gejala negatif. Gejala harus berlangsung minimal 1 bulan. Harus ada perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa

aspek perilaku pribadi. Pada skisofrenia paranoid, halusinasi auditorik dan/atau waham yang harus menonjol. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak meninjol. IX. o o a) b) RENCANA TERAPI Farmakoterapi Psikoterapi Terhadap individu (psikoterapi supportif) berupa konseling dan bimbingan, yaitu memberikan Terhadap keluarga, yaitu memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat : Haloperidol 1,5 mg 3x1

pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya. pasien tentang keadaan pasien dan menciptakan lingkungan yang kondusif agar dapat membantu proses penyembukan pasien. X. FOLLOW UP

Menilai keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektifitas terapi dan efek samping dari obat yang diberikan.

Gangguan depresi adalah Penyakit suasana hati lebih dari sekedar kesedihan atau sekedar duka cita dan bertahan lama. Selain itu depresi juga berarti suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. Biasanya depresi mempunyai cirri-ciri yang berupa perasaan atau emosi yang disertai komponen sikologik: rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatic: anoreksia,konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari diam dan sedih, terutama pada pasien yang kecewa karena tidak berhasil dalam menyelesaikan masalahnya. BAB II SCENARIO 3 Seorang gadis usia 25 th, berhaasil diselamatkan seteah tadi pagi melakukan percobaan bunuh diri dengan minum obat serangga. Keluarga melaporkan bahwa beberapa bulan terakhir ini putrinya terlihat murung dan lebih suka menyendiri dikamar, saat pengkajian pasien mengatakan putus asa, merasa bingung apa yang harus dilakukan. Klien adalah mahasiswi tingkat akhir yang telah memasuki semester ke-10. Skripsi yang dikerjakannya mengalami kebuntuan bahkan sekarang klien merasa tidak ada semangat lagi untuk mengerjakan , selalin itu klien juga merasa malas untuk berativitas yang lain termasuk ke kampus , hingga merasa bahwa mengakhiri hidup adalah jalan yang lebih baik. STEP 1 KATA SULIT Putus asa: gampang menyerah sebelum mencapai tujuan Murung:tidak bahagia, sedih, susah, gundah gulana STEP 2 Pertanyaan: pengertian depresi,tanda dan gejala dari depresi Masalah: depresi STEP 3-STEP 4 Pengertian depresi: perasaan seseorang yang sedih dan pesimis karena dia tidak dapat memenuhi keinginannya. Tanda dan gejala: sedih, murung, gelisah, letih, tidak punya semangat hidup, cepat marah, frustasi. STEP 5 1. Konsep dasar depresi 2. Rentang respon 3. Factor predisposisi dan presipitasi 4. Klasifikasi depresi 5. Identifikasi terhadap stressor 6. Mekanisme dan sumber koping 7. Pemeriksaan status mental pasien 8. Tahap penanganan 9. Pemeriksaan diagnosis medis 10. Askep

STEP 6-STEP 7

1. KONSEP DASAR DEPRESI Pengertian Depresi: Penyakit suasana hati lebih dari sekedar kesedihan atau sekedar duka cita dan bertahan lama. Suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. Suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen sikologik: rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatic: anoreksia,konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun. Penyebab Peristiwa kehidupan sehari-hari atau perubahan kimia dalam otak Efek samping obat Penyakit fisik Faktor organobiologis karena ketidakseimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin Faktor psikologis karena tekanan beban psikis, dampsk pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial Faktor sosio-lingkungan misalnya karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, paska bencana, dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya Efek samping obat Beberapa penyakit fisik Tanda dan gejala Merasa sedih Kehilangan gairah untuk aktivitas Kelelahan atau merasa lamban dan lesu Kesulitan konsentrasi Masalah tidur Merasa bersalah, tidak berharga dan putus asa Nafsu makan berkurang dan berat badan turun Faktor resiko Keluarga dengan mempunyai riwayat penyakit jiwa Penggunaan alkohol yang berlebihan atau narkoba Kurang dukungan social Kegagalan terapi Belum mengungkapkan status HIV 2. RENTANG RESPON DEPRESI RENTANG RESPONS Respon adaftif Respon maladaftif Respon reaksi berduka supresi emosi penundaan depresi/mania emosional tak terkomplikasai reaksi berduka 1. Respon emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berpern aktif dalam dunia internal dan eksternal seseorang. Tersirat bahwa orang tersebut terbuka dan sadar akan perasaannya sendiri. 2. Reaksi berduka takterkomplikasi terjadi sebagai respon terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang menhadapi suatu kehilangan yang nyata serta terbenam dalam proses berdukanya. 3. Supresi emosi mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan sendiri, terlepas dari perasaan tersebut, atau internalisasi terhadap semua aspek dari dunia afektif seseorang. 4. Penundaan reaksi berduka adalah ketiadaan yang persistan respon emosional terhadap kehilangan. Ini dapat terjadi pada awal proses berkabung, dan menjadi nyata pada proses berduka, atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang terjadi bertahun-tahun.

5. Depresi atau melankolia adalah suatu kesedihan dan perasaan duka yang berkepanjangan atau abnormal. Dapat digunakn untuk menunjukkan berbagai fenomena, seperti tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi, penyakit, atau entitas klinis. 3. FAKTOR PREDISPOSISI Faktor genetik , transimisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis keturunan. Berbalik pada diri sendiri , perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri. (kehilangan obyek atau orang ) sehingga menyalahkan diri sendiri. Faktor perkembangan , individu tidak berdaya mengatasi kehilangan. Akibat gangguan perkembangan terhadap penilaian diri ( pesimis , tidak berharga , tidak ada harapan ) Modal belajar ketidakberdayaan adanya pengalaman kegagalan , menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah . Modal perilaku karena kurang penguatan positif selama bereaksi dengan lingkungan . Modal biologi , perubahan kimiawi , defisiensi katekolamin , tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol. FAKTOR PRESIPITASI Faktor biologis o Ketidak seimbangan metabolisme, kususnya obat anti hipertensi dan zat adiktif Faktor Psikologis o Kehilangan kasih sayang (kehilangan cinta, harga diri ) o Faktor sosiokultural o Kejadian penting dalam kehidupan o Banyak peran dan konflik peran 4. KLASIFIKASI F32 Episode Depresif Gejala utama: Afek depresif Kehilangan minat dan kegembiraan Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keaadaan mudah lelah Gejala lainnya: Konsentrasi dan perhatian berkurang Harga diri dan kepercayaan diri berkurang Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri Tidur terganggu Nafsu makan berkurang F32.0 Episode Depresif Ringan Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti tersebut diatas Di tambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa dilakukan F32.1 Episode Depresif Sedang Sekurang-kurangnya ada 2 dari 3 gjala utama depresi seperti pada episode depresi ringan Ditambah sekurang-kurangnya 3 dari gejala lainnya Lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2 minggu Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik

Semua 3 gejala utama depresi harus ada Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gjala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat Bila ada gejala penting yang mencolok, mka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegagkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu Sangat tidak mingkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga,kecuali pada taraf yang sangat terbatas F32.3 Episode Depresif Berat denagan Gejala Psikotik Episode depresi berat yang memenuhi kriteria F32.2 Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau alfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat manuju pada stupor, jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan efek (mood congruent)

5. PENILAIAN TERHADAP STRESOR Stressor kognitif afektif fisiologi Perilaku sosial diagnosa Biologi 1.cacat -mencela diri -pesimis -pikiran yang destruktif tentang diri -putus asa -harga diri rendah -rasa tidak berharga -gangguan pencernaan -anorexia -perubahan berat badan -insomnia -mudah tersinggung -kebersihan diri kurang -menangis -perubahan tingkat aktifitas -imobilitas -isolasi sosial -menarik diri

Resirga diri resiko bunuh diri b.d harga diri Psikologis -konsep diri -trauma -tidak ada -tidak ada coping -kehilangan sesuatu yang di sayang -pesimis -kebingungan -tidak mampu konsentrasi -kehilangan minat dan motifasi

-menyalahkan diri sendiri -kemarahan -Rasa bersalah -kesepian -kesedihan -gangguan pencernaan -anorexia -perubahan berat badan -insomnia -menangis -perubahan tingkat aktifitas -isolasi sosial -menarik diri Sosial budaya -beban hidup (bikin skripsi) -persaingan -tidak mampu konsen -kehilangan minat dan motifasi -pikiran yang destruktif tentang diri -kebingungan -putus asa -ketidak berdayaan -murung -gangguan pencernaan -anorexia -perubahan berat badan -insomnia 6. MEKANISME KOPING Diagnose Kemampuan personal Aset materi Baksos Keyakinan positif Resiko bunuh diri -putus asa -Tidak ada motofasi untuk melanjutkan aktifitas -ada biaya -keluarga - tenaga kesahatan Tidak ada 7. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL : a. deskripsi umum 1. penampilan: seorang wanita 25 tahun 2. kesadaran normal 3. perilaku dan aktifitas psikomotor: tidak ada 4. pembicaraan: bisa di ajak komunikasi dengan baik 5. sikap terhadap pemeriksa: kooperatif b. keadaan afektif 1. mood: sulit dinilai 2. afek: tumpul 3. empati: tidak dapat dirabarasakan c. fungsi intelektual kognitif 1. taraf pendidikan, pengetahuan umum, kecerdasan: sesuai dengan tingkat pendidikan umum 2. daya konsentrasi: baik 3. orientasi (waktu,tempat,orang): baik 4. daya ingat: baik 5. pikiran abstrak: buruk 6. bakat kreatif: tidak ditelusuri d. gangguan persepsi 1. halusinasi: tidak ada 2. ilusi: tidak ada

3. depersonalisasi dan derealisasi: tidak ada e. proses berfikir 1. arus pikiran produktifitas: ada 2. isi pikiran gangguan pikiran: putus asa 8. PENANGANAN CBT (cognitive behavioral therapy ) o Digunakan untuk memperbaiki distorsi cognitive dalam memandang diri dan masa depan sehingga akan memunculkan suatu kekuatan diri dalam dirinya bahwa dirinya mampu untuk mengatasi masalah tersebut. Psyhodinamic psychotherapy o Membantu remaja memahami, mengidentifikasi perasaan, meningkatkan rasa PD , meningkatkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengatasi konflik yang sedang dialami. Interpersonal pshycoteraphy o Untuk mengatasi depresi yang disebabkan oleh peristiwa peristiwa yang menyebabkan kesedihan / trauma , kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain . Terapi suportik o Untuk mengurangi taraf depresi. 9. DIAGNOSA MEDIS Gangguan depresi menurut PPDGJ III dibagi menjadi : F.32.0 episode depresi ringan F.32.1 episode depresif sedang F.32.2 episode depresi berat tanpa gejala psikotik F.32.3 episode depresif berat dengan gejala psikotik 10. ASKEP PENGKAJIAN A. Data subjektif o Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara o .Sering mengemukakan keluhan somatik. o Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri B. Data obyektif: o Gerakan tubuh yang terhambat, o tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, o ekspresi wajah murung, o gaya jalan yang lambat dengan langkah yang diseret.Kadang kadang dapat terjadi stupor o . Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis o .Proses berpikir terlambat, seolah olah pikirannya kosong, konsentrasi terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), PERENCANAAN NO DX TUJUAN INTERVENSI 1 Resiko mencederai diri b.d depresi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam klien tidak mencederai diri Kriteria hasil : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya 2. Klien dapat menggunakan koping adaftif 3. Klien terlindung dari perilaku mencederai diri

4. Klien dapat meningkatkan harga diri 5. Klien dapat menggunakan dukungan social 6. Klien dapat menggunakan obat dengan baik dan benar 1. Perkenalkan diri dengan klien 2. Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati 3. Dengarkan pernyataan pasien dengan sikap sabar empati 4. Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginan 5. Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti 6. Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien 7. Tanyakan pada pasien cara yang biasadilakukan mengatasi perasaan sedih atau menyakitkan 8. Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan 9. Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping 10. Beri dorongan pada klien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima 11. Beri dorongan pada klien untuk mencoba koping yang telah dipilih 12. Pantau dengan seksama resiko bunuh diri atau melukai diri sendiri 13. jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan oleh pasien untuk mencederai dirinya atau orang lain, ditempat yang aman dan terkunci 14. jauhkan alat yang membahayakan pasien 15. awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah di pantau oleh petugas 16. bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputus asaannya 17. kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu 18. bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan ( misal : hubungan antar sesama, keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan ) 19. kaji dan manfaatkan sumber-sumber eksternal individu ( orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan) 20. kaji sistem pendukung keyakinan ( nilai, pengalamn masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama) 21. lakukan rujukan sesuai indikasi ( konseling pemuka agama) 22. diskusikan tentang obat ( namam dosis, frekuensi, efek dan efek smping minum obat) 23. bantu dengan menggunakan obat dengan prinsip 5 benar ( benar pasien, obat, dosis, cara, waktu) 24. anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan 25. beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar BAB III KESIMPULAN Gangguan depresi adalah Gangguan depresi adalah Penyakit suasana hati lebih dari sekedar kesedihan atau sekedar duka cita dan bertahan lama. Selain itu depresi juga berarti suatu perasaan sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam. Biasanya depresi mempunyai ciri-ciri yang berupa perasaan atau emosi yang disertai komponen sikologik: rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatic: anoreksia,konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari diam dan sedih, terutama pada pasien yang kecewa karena tidak berhasil dalam menyelesaikan masalahnya. Manifestasi klinis gangguan ini adalah lebih suka menyendiri , putus asa , merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan , malas untuk beraktivitas . Gangguan Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi :episode depresi ringan , episode depresi sedang , episode depresi berat tanpa psikotik dan episode depresi berat dengan gejala psikotik.