Anda di halaman 1dari 19

ABSES RUANG LEHER DALAM (DEEP NECK INFECTION)

Etiologi Sumber infeksi dan manifestasi klinis berbeda antara orang dewasa dan anak anak. Sebelum era antibiotik, 70% infeksi berasal dari faring dan tonsil yang menyebabkan perluasan ke ruang parafaringeal. Hal ini sering ditemui pada anak anak karena infeksi tonsil dan faring paling sering ditemui pada anak. Penggunaan antibiotik telah mengurangi insidens infeksi saluran napas atas sebagai sumber utama abses ruang leher dalam pada dewasa. Oleh karena itu, pada orang dewasa, infeksi odontogenik atau parotis merupakan sumber infeksi utama. Penyebab lain antara lain: trauma tembus, trauma pembedahan, retensi benda asing, dan perluasan dari infeksi superfisial. Kelainan kongenital seperti kista branchial dan fistula dapat memperbesar risiko infeksi ruang leher dalam. Dua puluh persen kasus tidak diketahi sumber infeksi. Pengguna obat terlarang melalui jarum suntik yang menyuntik ke vena jugularis berisiko mengalami infeksi pada carotid sheath. Dasar Anatomis Penyebaran Infeksi Ruang Leher Dalam Leher ditutupi seluruhnya oleh kulit. Kulit melekat pada fasia profunda melalui suatu lapisan jaringan fibrolipid, yaitu fasia superfisial (panniculus adiposus). Pada fasia superfisial ini, terdapat nervus, pembuluh darah, dan saluran limfe menuju dan dari kulit. Pada fasia superfisial juga terdapat lapisan otot tipis yang disebut panniculus carnosus, dimana salah satu ujungnya melekat pada kulit dan ujung lainnya melekat pada fasia atau tulang. Pada manusia, otot ini membentuk otot scalp dan wajah, termasuk platysma. Infeksi pada lapisan superfisial seperti erysipelas, disebut sebagai infeksi superfisial dan ummunya ditatalaksana dengan antibiotik dan drainase insisi. Fasia profunda (investing layer of deep cervical fascia ) terdiri dari jaringan fibrosa dengan ketebalan bervariasi. Lapisan ini tidak ditemui pada beberapa bagian leher. Meskipun pada beberapa bagian fasia profunda melekat pada periosteum dan tulang, otot dan organ di bawahnya bebas bergerak. Leher dibagi oleh partisi fasia profunda. Di antara partisi ini terdapat ruang ruang potensial yang berperan sebagai pertahanan lemah terhadap penyebaran infeksi. Fasia profunda dibagi menjadi:

Fasia profunda lapisan superfisial Fasia profunda lapisan tengah Fasia produnda lapisan dalam

Ketiga lapisan fasia profunda merupakan bagian dari carotid sheath. 1. Fasia profunda lapisan superfisial Disebut juga sebagai anterior layer, external layer, atau investing layer. Lapisan ini menutupi keseluruhan leher, meluas dari garis nuchal tengkorak sampai dada dan aksila. Rule of two dari lapisan ini: menutupi 2 otot (m. sternocleidomastoideus dan m. trapezius), menutupi 2 kelenjar (kelenjar parotis dan submandibula), serta membentuk 2 rongga (rongga segitiga posterior dan rongga suprasternal Burns). 2. Fasia profunda lapisan tengah Disebut juga prethyroid fascia atau pretracheal fascia. Lapisan ini terbagi menjadi divisi muskular dan divisi visceral. Divisi muskular melekat pada tulang hyoid dan tiroid di superior dan pada sternum, klavika dan skapula di inferior. Divisi muskular ini membungkus m. sternothyroid, m. sternohyoid, dan m. thyrohyoid. Divisi visceral (fasia bukofaringeal) mengelilingi trakea, esophagus, dan tiroid serta meluas sampai thorax membentuk kelanjutan dari pericardium fibrosa. 3. Fasia profunda lapisan dalam Dibagi menjadi fasia prevertebral pada bagian posterior dan fasia alar pada bagian anterior. Fasia prevertebral terletak di depan kolumna vertebrae dan meluas ke lateral melewati otot otot prevertebral dan kemudian berfusi dengan prosesus transverses dan ligamen penyertanya. Fasia ini meluas ke posterior, menyelimuti otot ekstensor leher dan melekat pada prosesus spinosus bagian tengah. Fasia ini merupakan dinding posterior dar rongga berbahaya (danger space) dan merupakan dinding anterior dari rongga prevertebral. Oleh karena itu, infeksi vertebrae yang meluas ke rongga prevertebral tidak meluas ke rongga berbahaya karea dipisahkan oleh fasia prevertebral. Fasia alar terletak di antara fasia prevertebral dan divisi visceral dari fasia profunda lapisan tengah. Fasia ini meluas dari prosesus transversus ke prosesus transversus kontralateral, dan meluas secara vertikal dari basis crania sampai vertebrae torakal kedua, dimana fasia ini berfusi dengan lapisan visceral dari fasia profunda lapisan tengah. Fasia

alar merupakan dinding anterior dari rongga berbahaya dan merupakan dinding posterolateral dari rongga retrofaringeal, sehingga ongga ini meluas dari mediastinum posterior sampai setinggi vertebrae torakal kedua. Urutan lapisan dari orofaring sampai vertebrae: fasia faringobasilar, m, konstriktor, fasia bukofaringeal, rongga retrofaringeal, fasia alar, rongga berbahaya, fasia prevertebra, rongga prevertebra, dan kolumna vertebrae.

Anatomi Rongga Leher Dalam (Deep Neck Spaces) dan Infeksi yang Menyertai (Deep Neck Infections)

Rongga potensial pada leher diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan os. hyoid. Rongga rongga ini bukan rongga yang kedap, namun sering saling berhubungan satu sama lain. Penyebaran infeksi mengikuti rongga dengan resistensi terendah. Berikut adalah rongga rongga leher menurut Hollingshead: A. Rongga yang meliputi keseluruhan panjang leher 1. Rongga retrofaringeal (= retroviseral, retroesofageal, visceral posterior) Batas. Batas rongga ini adalah: rongga bagian kiri dan kanan dipisahkan oleh midline raphe dimana m. konstriktor superior menempel pada divisi prevertebral fasia profunda lapisan dalam. Rongga ini berisi nodus dari masing masing sisi (nodus Rouviere). Abses retrofaringeal umumnya berasal dari supurasi nodus nodus ini dan menyebabkan abses yang tidak terletak pada garis tengah, namun lateral dari garis tengah. Klinis. Penyebab dominan abses retrofaringeal pada anak adalah infeksi bacterial dari sinus atau nasofaring. Pada anak, gejala yang ditemui adalah iritabilitas, drooling hebat, intake oral yang buruk, nyeri tenggorok, demam, torticolis, dan adenopati. Penyebab dominan pada dewasa adalah trauma dari instrumentasi dan perluasan dari infeksi rongga leher dalam yang berdekatan. Pada orang dewasa, gejala meliputi anoreksia, obstruksi nasal, mendengkur, nyeri leher, odinofagia, regurgitas nasal dan dispnea, disertai demam, takipnea, dan bulging dinding lateral dari orofaring posterior. 2. Rongga berbahaya (danger space) Batas. Rongga ini berada di antara rongga retrofaringeal dan rongga prevertebral dan terpisah dari kedua rongga tersebut melalui dua komponen dari fasia profunda lapisan dalam, yaitu fasia alar dan fasia prevertebral. Rongga ini disebut rongga berbahaya karena memiliki resistensi yang rendah terhadap penyebaran infeksi antara dasar tengkorak dan mediastinum posterior sampai setinggi diafragma. Klinis. Infeksi rongga ini umumnya berasal dari abses parafaringeal atau retrofaringeal. 3. Rongga prevertebral

Batas. Merupakan rongga yang terletak anterior dari corpus vertebrae dan posterior terhadap divisi prevertebral fasia profunda lapisan dalam, meluas ke inferior sampai ke coccyx. Klinis. Abses pada rongga ini terletak pada garis tengah karena kedua sisi lateral tidak dipisahkan satu sama lain. Infeksi pada rongga prevertebral dapat disebabkan oleh trauma pada faring atau spinalis. Infeksi dapat menyebar ke rongga ini dari retrofaringeal atau danger space. Inflamasi akut akut pada ketiga rongga di atas dapat menyebabkan hilangnya lordosis servikal normal akiba spasme otot flexor prevertebral. Selulitis dan abses retrofaringeal paling mungkin menyebabkan hal tersebut dan menyebabkan permbesaran bayangan jaringan lunak prevertebral pda radiografi lateral dan CT-scan. 4. Rongga visceral vaskular Merupakan rongga potensial di dalam selubung karotis (carotid sheath). Di dalam rongga ini terdapat a. karotis, v. jugularis interna, dan n. vagus. Fasia pada rongga ini memiliki sedikit jaringan areolar sehingga infeksi umumnya terlokalisasi. B. Rongga di atas os. hyoid 1. Rongga parafaringeal (= faringomaksilaris, faringeal lateral, perifaringeal) Batas. Rongga ini berbentuk piramida terbalik atau cone yang terletak pada masing masing sisi faring. Dasar rongga ini adalah dasar tengkorak dengan apeksnya berada pada cornu mayor os. hyoid. Pada bagian medial dibatasi oleh fasia profunda lapisan tengah dan pada bagian lateral dibatasi oleh fasia profunda lapisan superfisial. Bagian anterior dibatasi oleh raphe pterygomandiular dan bagian posterior oleh fasia prevertebral. Rongga ini berberhubungan dengan rongga retrofaringeal sehingga abses pada kedua daerah ini sulit dibedakan. Rongga ini dibagi menjadi rongga pre-styloid (anterior) dan post-styloid (posterior) dimana terjadi patologi yang berbeda pada kedua rongga tersebut. Klinis. Infeksi pada rongga pre-styloid ditandai dengan demam, menggigil, nyeri leher, odinofagia, trismus, dan pembengkakan di bawah sudut rahang, dan pergereseran dinding lateral faring ke media. Selain itu pasien cenderung mempertahankan posisi kepala sedikit fleksi dan rotasi ke arah berlawanan dari sisi yang sakit untuk mengurangi tegangan pada rongga.

Infeksi pada rongga post-styloid ditandai dengan sindrom sepsis dan nyeri atau trismus yang minimal. Karena kompartemen posterior terletak lebih dalam, pembengkakan tidak jelas tamapak, namun dapat ditemui sindrom Horner ipsilateral dan paresis nervus kranialis IX sampai XII. Sequale dari infeksi parafaringeal adalah obstruksi jalan napas akibat edema laring, trombosis vena jugular, dan rupture karotis. Infeksi pada rongga parafaringeal ditatalaksana dengan antibiotik intravena, drainase, dan trakeotomi profilaksis. 2. Rongga submandibula dan submental Batas. Rongga submandibula terletak di antara mukosa dasar mulut dan fasia profunda lapisan superfisial pada bagian bawah. Os. hyoid membatasi bagian inferior, dimana os. mandibula membentuk batas anterior dan lateral. Pada bagian posterior dibatasi oleh otot otot lidah. Rongga ini dibagi secara tidak komplit oleh os. mylohyoid menjadi rongga sublingual pada bagian atas dan rongga submandibular dan submental pada bagian bawah. Area submandibula dan submental dipisahkan oleh bagian anterior m. digastrikus namun kedua subdivisi ini saling berhubungan secara bebas satu sama lainnya. Rongga submental dibatasi oleh os. hyoid pada bagian inferior, mandibula pda bagian superior, dan ramus anterior m. digastrikus pada kedua sisi lateral. Rongga submental berisi v. jugularis anterior, nodus limfatikus submental, m. dan n. mylohyoid, a. fasialis cabang submental, dan v. fasialis. Jumlah nodus limfatikus pada submental tidak banyak namun pentting secara klinis karena merupakan tempat drainase dari mukosa bukal, dasar mulut, bagian anterior hidung, gusi, dan bibir. Kelenjar liur submandibula terletak pada batas posterior m. mylohyioid dan terletak di dalam rongga submandibula dan sublingual. Oleh karena itu, infeksi pada rongga sublingual dapat menyebar ke rongga submandibular dan sebaliknya. Struktur lain yang terletak di dalam rongga sublingual adalah duktus Wharton, kelenjar liur sublingual dan n. hipoglosus. Hal ini menjelaskan alasan adanya elevasi dasar mulut dan pembengkakan pada submandibula dan submental pada angina Ludwig. Garis oblik pada mandibula (penempelan os. mylohyoid) juga penting sebagai batasan infeksi odontogenik yang menyebar lebih jauh dari akar gigi. Infeksi dari akar gigi yang terletak superior dari garis ini (insisivus sampai molar pertama) umumnya menimbulkan gejala pertama kali pada rongga sublingual, sedangkan infeksi dari akar molar umumnya menimbulkan gejala pada submandibula.

Klinis. rongga

Infeksi

submandibula umumnya berasal dari molar mandibula kedua dan ketiga, namun juga bisa akibat trauma. Infeksi rongga submandibula harus dibedakan dengan infeksi kelenjar liur submandibula atau nodus limfatikus. Pada infeksi rongga submandibula, mandibula membengkak dan nyeri, namun trismus minimal atau tidak ada akrena otot mastikator tidak terlibat. Tatalaksana meliputi drainase ekstra-oral, antibiotik, dan ekstraksi gigi jika penyebabnya odontogenik. Infeksi rongga sublingual umumnya berasal dari gigi insisivus mandibula dengan gejala eritema dan nyeri pada dasar mulut yang dimulai dekat mandibula dan menyebar ke medial. Terkadang dapat menyebabkan elevasi lidah. Drainase bedah perlu dilakuan intra-oral dari insisi pararel ke duktus Wharton. Proses infeksi, neoplasma, dan kelainan kongenital pada rongga submental jarang terjadi sehingga lesi pada rongga ini belum dipelajari dengan baik. Infeksi rongga submental umumnya berasal dari gigi mandibula anterior atau merupakan penyebaran dari rongga sublingual atau submandibula. Secara klinis, abses submental tampak sebagai edema yang nyeri, terdapat indurasi dan fluktuasi. Jika rongga sublingual, submental, dan submandibular terinfeksi, disebut sebagai angina Ludwig yang umumnya disebabkan oleh infeksi dentogen

3. Rongga parotis Batas. Fasia profunda lapisan superfisial memisahkan glandula parotis dan KGB berkaitan, n. fasialis, a. karotis eksterna, dan v. fasialis posterior (disebut juga parotideomeesteric fascia). Lapisan ini hanya sedikit menutupi bagian posterior lobus parotis profunda sehingga berhubungan dengan rongga parafaringeal. Pada bagian lateral glandula parotis, fasia ini membentuk suatu membran kuat yang terasa sangat nyeri jika terjadi inflamasi pada parotis. Klinis. Infeksi pada rongga ini berasal dari rongga parafaring atau peluasan retrograde sepanjang duktus parotis. Secara klinis infeksi pada rongga ini tidak menyebabkan trismus, menyebabkan elevasi lobulus aurikula, dan adanya pus yang keluar dari duktus parotis jika parotis ditekan. 4. Rongga mastikator Batas. Fasia profunda lapisan superfisial berpisah disekitar mandibula untuk membentuk rongga ini dan menyelimuti otot otot pengunyah. Rongga ini berisi m. masseter, m. pterygoideus medial dan lateral, ramus dan corpus manddibula, tendon temporalis, nervus dan pembuluh darah alveolar inferior. Rongga ini terletak di anterior dan lateral dari rongga parafaring dan inferior dari rongga temporal. Klinis. Infeksi rongga ini umumnya odontogenik dan berasal dari molar mandibularis atau maksilaris, ditandai dengan trismus, pembengkakan dan nyeri pada mandibular atau preaurikular. 5. Rongga peritonsiler Batas. Rongga ini terletak lateral dari kapsul tonsil dan medial dari m. konstriktor superior. Arkus palatoglosus dan palatofaringeus membentuk batas anterio dan posterior rongga ini. Pada bagian inferior dibatasi oleh 1/3 bagian posterior lidah. Inflamasi pada bagian ini menyebabkan peritonsilitis dan dengan perkembangan purulensi dapat menyebabkan abses atau quinsy. Pus dapat menyebar sampa ke rongga parafaringeal. Klinis. Infeksi peritonsiler umumnya berasal dari tonsilitis. Awalnya kripta magna tonsil terinfeksi dan terutupi eksudat, membentuk suatu abses intratonsiler yang kemudian pecah melalui kapsul tonsilar dan menyebar ke sekitarnya. Manifestasi abses peritonsiler antara lain demam, nyeri tenggorokan hebat (umumnya

unilateral), odinofagia, hot potato voice, foul breath, trismus akibat spasme m. pterygoideus yang berdekatan dengan m. konstriktor superior, dan bulging kutub superior dari pilar tonsil yang berdekatan dengan palatum molle dengan deviasi uvula menjauhi abses. Dari pemeriksaan fisik ditemukan tonsil, pilar, dan palatum molle mengalami kongesti dan membengkak; uvula membengkak, edematous, dan terdeorong ke kontralateral, pallatum molle dan pilar anterior di atas tonsil bulging, mukopus menutupi daerah tonsil, limfadenopati servikal (umumnya jugulodigastrik), dan torticolis (neck tilted to the side of abcess).

6. Rongga temporal Batas. Rongga ini terletak di antara fasia temporalis pada bagian lateral dan periosteum bagian squamosa os. temporal pada bagian medial. M. temporalis memisahkan rongga ini menjadi rongga superfisial dan profunda, dimana di dalamnya terdapat a. maksilaris interna. Klinis. Infeksi pada rongga ini umumnya berasal dari molar mandibularis dan ditandai dengan pembengkakan dan nyeri pada sudut mandibula, namun tidak disertai trismus. Gejala dan tanda sistemik umumnya jelas ditemui. Infeksi pada rongga ini dapat menyebar ke rongga parafaringeal, carotid sheath, dan rongga retrofaringeal. C. Rongga di bawah os. hyoid Rongga pretrakeal (rongga visceral anterior) Batas. Terletak pada leher anterior, dari kartilago tiroid kea rah bawah sampai mediastinum superior setinggi vertebrae torakal keempat, dekat dengan arkus aorta. Rongga ini mengelilingi trakea dan didalamnya terdapat kelenjar tiroid dan paratiroid. Klnis. Infeksi pada rongga ini disebabkan oleh infeksi tiroid atau trauma penetrasi, termasuk bedah. Gejala meliputi suara serak, dyspnea, dan odinofagia.

Pemeriksaan fisik ditemukan eritema, edema, nyeri tekan dan krepitasi pada leher anterior. Rongga suprasternal Rongga ini terletak superior terhadap sterna notch di antara kaput klavikula dimana fasia profunda lapisan superfisial berpisah dan membatasi rongga ini. Rongga ini berisi nodus kecil dan pembuluh darah yang menghubungkan v. jugularis anterior.

Drainase Limfatik Kelenjar Getah Bening Leher

Klasifikasi A. Horizontal atas 1. Submental 2. Submandibular 3. Parotis 4. Post-aurikular 5. Oksipital B. Lateral 1. Kelompok jugularis eksterna superfisial 2. Kelompok profunda a. Jugularis interna b. Spinal aksesorius c. Transversus (supraklavikula) C. Anterior 1. Jugularis anterior 2. Rantai Juxtaviseral (prelaringeal, pretrakeal, dan paratrakeal)

Klasifikasi Berdasarkan Level Level IA Submental Terletak pada segitiga submental, yaitu diantara ramus anterior m. digastrikus Level IB dan os. hyoid. Submandibula Terletak di antara ramus anterior dan posterior m. digastrikus dan os. Level II mandibula. Jugular superior

Terletak pada 1/3 atas vena jugularis, yaitu antara tulang tengkorak pada Level III bagian atas dan os. hyoid pada bagian bawah. Jugular media Terletak pada 1/3 media vena jugularis, yaitu antara os. hyoid pada bagian atas Level IV dan batas atas kartilago krikoid. Jugular inferior Terletak pada 1/3 bawah vena jugularis, yaitu dari batas atas kartilago krikoid Level V sampai klavikula. Kelompok segitiga posterior (spinal aksesorius dan transersus) Terletak pada segitiga posterior, yaitu antara batas posterior m. sternocleidomastoideus (anterior), batas anterior m. trapezius (posterior), dan klavikula (inferior). Termasuk nodus limfatikus spinal aksesorius, transversus Level VI dan supraklavikula. Prelaringeal, pretrakeal, dan paratrakeal Terletak di antara batas medial m. sternocleidomastoideus pada masing masing sisi, os. hyoid pada bagian superior, dan suprasternal notch pada Level VII bagian inferior. Mediastinum superior Terletak di bawah suprasternal notch.

Drainase Aferen dan Eferen KGB Leher Submental Aferen Dagu, bagian media bibir bawah, gusi anterior, dasar mulut Eferen Submandibula dan jugularis interna

Submandibula

Parotis

Post-aurikular (mastoid) Oksipital Jugularis eksternal superfisial Jugularis interna

anterior, dan ujung lidah. Bagian lateral bibir bawah, bibir atas, pipi, vestibulum nasal, bagian anterior cavum nasi, gusi bagian medial, pallatum molle, arkus anterior, bagian anterior lidah, kelenjar liur submandibula dan sublingual. Kulit kepala, pinna, kanalis auditoi eksternus, mukosa bukal wajah. Kulit kepala, pinna posterior, dan kulit mastoid. Kulit kepala dan leher bagian atas

Jugularis interna

Jugularis interna dan eskterna

Jugularis interna Spinal aksesorius Jugularis interna dan transversus

Spinal aksesorius

Transversus (supraklavikula)

Jugularis anterior Prelaringeal Pretrakeal

Paratrakeal

Bagian atas (jugulodigastrik): kavum oral, orofaring, nasofaring, hipofaring, laring, parotis. Bagian tengah: hipofaring, laring, tiroid, kavum oral, orofaring. Bagian bawah: laring, tiroid, dan esophagus servikal. Kulit kepala, kulit leher, Transversus nasofraing, nodus oksipital dan postaurikular. Spinal aksesorius dan organ organ infraklavikula (payudara, paru, lambung, kolon, ovarium, testis). Kulit leher anterior Subglotik dan sinus piriformis Glandula tiroid dan trakea Paratrakea, jugularis interna bawah, dan mendiastinum anterior Lobus tiroid, subglotik, trakea, dan esophagus servikal.

Bakteriologi Sebagian besar abses terdiri dari polimikroba. Sumber masuknya mikroba berbeda beda antar rongga, sehingga spesies yang dominan juga berbeda beda. Di antara organism aerobik, Streptococcus (terutama Streptococcus viridas dan Streptococcus beta-hemolitik) dan Staphylococci mendominasi. Organisme lain antara lain diphteroid, Neisseria, Klebsiella,

dan Haemophilus. Organisme anaerobik lebih sulit dikultur. Adaanya sekret yang berbau busuk mengindikasikan adanya keterlibatan bakteri anaerobic, namun ketiadaan bau ini tidak mengeksklusi adanya anaerobik. Sebagian besar abses odontogenik meliputi bakteri anaerobik, terutama terdiri dari Bacteroides (B. melaninogenicus dan B. peptostreptococcus). Perlu diingat bahwa E. corrodens sering resisten terhadap clindamycin, yang sering dipakai untuk infeksi jenis ini. Pada bayi kurang dari 9 bulan, Staphylococcus aureus adalah organisme predominan pada abses di segitiga anterior dan posterior leher. Diagnosis Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Dengan penggunaan antibiotik, gejala sistemik dan lokal seringkali tidak jelas sehingga sering terjadi misdiagnosis atau diagnosis yang terlambat. Tergantung pada pregresivitas penyakit, gejala dapat bervariasi dari nyeri tenggorokan, disfagia, odinofagia sampai masalah serius seperti gangguan napas, syok sepsis, dan mediastinitis. Demam, nyeri, dan pembengkakan adalah gejala yang paling sering ditemui. Durasi gejala bervaiasi dari 12 jam sampai 28 hari (rata rata 5 hari). Sebagian besar pasien mengalami gejala dehidrasi akibat disfagia, odinofagia, dan trismus. Jika terdapat suspek keterlibatan rongga vaskular visceral atau parafaringeal, perlu dicari tanda sindrom Horner (ptosis ipsilateral, anhidrosis fasial, dan miosis) karena dekat dengan persarafan simpatis. Pada bayi dan anak anak, gangguan napas yang cepat dan progresif umumnya ditemui bersamaan dengan demam dan massa pada leher. Khususnya pada bayi, kecurigaan perlu ditingkatkan karena keluhan seperti nyeri tenggorokan, perubahan suara, dan odinofagia tidak sejelas anak atau dewasa. Anamnesis meliputi durasi dan progresivitas gejala, nyeri gigi, lesi oral, infeksi saluran pernapasan atas, trama pada kepala dan leher, posedur dental, dan penggunaan obat melalui jarum suntik. Pemeriksaan fisik difokuskan pada gigi, tonsil, dan jalan napas. Demam dan nyeri fokal serta edema adalah gejala khas pada infeksi leher dalam.

Pemeriksaan Penujang Laboratorium Umumnya ditemui leukositosis. Pemeriksaan leukositosis serial adalah cara monitor respons antibiotik yang baik. Radiografi Foto rontgen polos anteroposterior dan lateral berguna untuk diagnosis infkesi ruang leher dalam, terutama untuk melihat jaringan lunak retrofaringeal dan dinding posterior hipofaring. Adanya benda asing radio-opak, deviasi trakea, udara subkutan, cairan dalam jaringan lunak, limfadenopati, dan pembesaran mediastinum seperti pada mediastinitis, edema pulmonary, dan pneumomediastinum merupakan indikator adanya abses. Radiografi dental diindikasikan jika dicurigai terdapat infeksi dental. CT-scan CT-scan dengan kontras lebih sensitif dalam mengevaluasi infeksi ruang leher, karena dapat membedakan seluliti dengan abses. Dengan CT dapat dilihat dengan jelas rongga

rongga yang mengalami kelainan dan perluasan ke superior-inferior. Karakteristik abses pada CT: low attenuation (Hounsfield unit rendah), enhancement kontras pada dinding abses, edema jaringan di sekitar abses, dan penampakan kistik atau multilokular. Abses dan phlegmon sulit dibedakah sehingga terkadang perlu dilakukan aspirasi atau drainase untuk menentukan. Pada anak, CT memiliki sensitivitas 90% dan sensitivitas 60% dalam mengevaluasi infeksi rongga leher. USG Digunakan untuk pemandu aspirasi jarum dan repons terhadap terapi. Jarang digunakan untuk diagnosis. Komplikasi

Tatalaksana Algoritma Tatalaksana Infeksi Leher Dalam

DAFTAR PUSTAKA

Baile BJ, Johnson JT. Head and Neck Surgery Otolarungology, 4th Ed. USA: Lippincot Williams & Wilkins. 2006. Cummings CW, et al. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery, 4th Ed. USA: Elsevier Mosby. 2005. Ludman H, Bradley PJ. ABC of ENT, 5th Ed. USA: Blackwell Publishing. 2007. Ural A. Neck Masses confined to the submental space. ENT-EAR, Nose & Thoat Journal. Nov 2011. Ben-Yaakov A, Weinberger J, Gross M. Intratonsillar abscess in children: management with needle aspiration. Intl J Ped Oto (2006) 1, 253 255.