Anda di halaman 1dari 3

Struktur Flat Slab Ada beberapa jenis slab yaitu one way slab (pelat satu arah), two

way slab (slab dua arah), flat plate slab (lantai datar), grid slab, dan flat slab (lantai cendawan). Pada grid slab, untuk mengurangi beban mati dari kontruksi plat penuh dibentuk rongga-rongga dengan pola yang menyerupai garis lurus dengan jalan menyelibkan baja, kayu atau lembaran papan pada plat tersebut. Sebagai akibatnya dihasilkan sebuah kontruksi berusuk ganda. Seringkali didekat kolom selipan tersebut ditiadakan, sehingga terbentuk sebuah plat penuh supaya dapat memberikan perlawanan yang lebih baik terhadap momen dan geser yang terjadi disekitar daerah tersebut. Sedangkan untuk flat plate dan flat slab dicirikan oleh tidak adanya balok-balok sepanjang garis kolom dalam, namun balok-balok tepi pada tepi-tepi luar lantai boleh jadi ada atau tidak ada. Pada flat plate umumnya dipakai apabila panjang bentang tidak terlalu besar dan beban yang bekerja bukan merupakan beban yang berat. Flat slab berbeda dari flat plate dalam hal bahwa lantai flat slab mempunyai kekuatan yang cukup dengan adanya salah satu atau kedua hal berikut : a. Drop Panel yaitu pertambahan tebal plat didalam daerah kolom. b. Kepala kolom (column Capital) yaitu pelebaran mengecil dari ujung kolom atas. c. Secara historis, flat slab mendahului kedua pelat dua arah dengan balok-balok dan pelat lantai dasar. Flat slab pada awalnya dipatenkan oleh O. W. Norcross di Amerika Serikat pada tanggal 29 April 1902. Beberapa macam sistem tulangan telah dipatenkan sesudahnya yaitu : sistem empat arah, dua arah, tiga arah dan sistem melingkar. C. A. P Turner merupakan salah satu penganjur pertama dari sistem yang dikenal dengan sistem lantai cendawan. Sekitar tahun 1908 Flat Slab diakui sebagai suatu sistem lantai yang dapat digunakan ( Wang dan Salmon 1990). Banyak konstruksi pelat rata yang diuji dengan beban selama periode dari tahun 1910 sampai tahun 1920. Plat-plat ini menunjukkan hasil yang baik di bawah beban-beban uji (Ferguson dkk. 1991). Analisis perilaku slab terhadap lentur pada tahun 1940-an dan awal tahun 1950-an masih mengikuti teori elastisitas klasik, khususnya di Amerika Serikat. Teori defleksi kecil pada plat, dengan anggapan materialnya homogen dan isotropis, merupakan dasar-dasar peraturan ACI yang dinyatakan sebagai tabeltabel momen. Riset, khususnya oleh Westergaard, yang secara empiris memungkinkan adanya redistribusi momen secara terbatas, memberikan peetunjuk kepada penulis-penulis peraturan. Pada tahun 1943, Johansen menerbitkan teori garis leleh untuk mencari kapasitas collapse pada slab. Sejak saat itu, banyak dilakukan riset mengenai perilaku akhir pada beton bertulang. Plat rata, yang merupakan bagian-bagian konstruksi tipis, tidak ekonomis dalam hal baja tulangannya, tetapi ekonomis

dalam hal bekistingnya. Karena bekisting mewakili lebih dari separo biaya beton bertulang, maka bekisting yang ekonomis sering berarti ekonomis secara keseluruhan. Sejak tahun 1950-an lantai plat rata telah terbukti ekonomis pada konstruksi gedung apartemen yang tinggi ( Ferguson dkk. 1991). Analisa Struktur Flat Slab Analisa suatu konstuksi flat slab dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan metode desain langsung (direct design methode) dan metode potal ekivalen. Metode Desain Langsung Pada metode desain langsung, yang diperoleh adalah pendekatan momen dan geser dengan menggunakan koefisien-koefisien yang disederhanakan. Dalam metode desain langsung terdapat pembatasan-pembatasan dalam penggunaaanya,antara lain : a. Pada masing-masing arah minimum ada tiga bentang menerus. b. Perbandingan antara bentang yang panjang dengan yang pendek pada satu panel tidak boleh melebihi 2,0. c. Panjang bentang yang bersebelahan dalam masing-masing arah tidak boleh berbeda lebih dari sepertiga bentang yang panjang. d. Kolom dapat mempunyai offset maksimum 10 % dari bentang dalam arah offset dari kedua sumbu antara garis pusat kolom yang bersebelahan. e. Semua beban hanya akibat beban gravitasi dan terbagi merata di seluruh panel. f. Beban hidup tidak boleh melebihi tiga kali beban mati. g. Apabila panel tersebut ditumpu oleh balok pada semua sisinya,maka kekakuan balok dalam dua arah yang saling tegak lurus tidak boleh kurang dari 0,2 dan tidak boleh lebih besar dari 5,0 (Nawy 1998). Apabila pembatasan-pembatasan ini tidak dipenuhi, maka diperlukan suatu metode yang bersifat lebih umum. Salah satu dari metode ini diusulkan oleh Peabody dalam tahun 1948 sebagai perencanaan dengan analisa elastis. Metode Portal Ekivalen Pada metode portal (rangka) ekivalen menganggap portal idealisasi ini serupa dengan portal aktual sehingga hasilnya akan lebih eksak dan mempunyai batasan penggunaan yang lebih sedikit dibandingkan dengan metode desain langsung. Pada dasarnya metode portal ekivalen memerlukan distribusi momen beberapa kali, sedangkan metode desain langsung hanya beberapa pendekatan dengan satu kali distribusi momen (Nawy 1998).

Di dalam analisis dengan metode portal ekivalen, struktur dibagi menjadi rangka-rangka menerus yang berpusat pada garis kolom dan melebar baik dalam arah longitudinal maupun dalam arah transversal. Tiap-tiap rangka terdiri dari sebaris kolom dan sebuah gelagar (balok) yang lebar. Dimana gelagar (balok) tersebut mencakup bagian dari pelat yang dibatasi oleh garis-garis pusat panel pada kedua sisi dari kolom, bersama-sama balok (jika ada) atau panel yang direndahkan (jika ada). Untuk pembebanan vertikal, tiap-tiap lantai dengan kolom-kolomnya dapat dianalisa secara terpisah, kolom-kolom tersebut dianggap terjepit pada lantai, baik yang terletak dibawah maupun di atasnya.